Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M+ (Mature Content!)
Genre : Romance, Drama
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
I'm Sorry, I Love You
Chapter 17 : Sebuah Janji
By : Fuyutsuki Hikari
Hari-hari makin terasa pendek. Udara semakin mendingin bersamaan dengan semakin dekatnya musim dingin. Hagane menunggu di balik kegelapan malam, mengintai gedung tua berlantai lima yang berdiri tidak jauh di hadapannya. Entah beruntung atau memang nasib baik tengah berpihak padanya, ia menemukan alat-alat untuk bercukur serta satu stel pakaian yang masih pantas dikenakannya hingga membuatnya terlihat lebih manusiawi saat ini.
Pria itu menggunakan toilet umum untuk membersihkan diri, merapikan penampilannya agar terlihat berbeda dari foto yang sudah disebarkan oleh pihak kepolisian untuk memburunya.
Hagane tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi yang menguning karena efek dari alkohol serta rokok yang dulu dikonsumsinya secara berlebihan. Ia hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam pada Uchiha Sasuke, pikirnya senang. Saat merassa kondisi aman, Hagane merapatkan jaket tebal yang dikenakannya, mengancingkannya hingga sebatas bahu lalu berjalan dengan langkah mantap menuju gedung tua tempatnya dulu tinggal.
Tidak memerlukan waktu lama hingga akhirnya ia berhasil masuk ke dalam gedung itu. Dengan langkah panjang-panjang Hagane berjalan menyusuri lorong panjang yang lantainya dilapisi oleh karpet lusuh, dimakan usia sementara cat tembok lorong itu terlihat sama menyedihkannya. Bau pengap dan jamur menjadi aroma khas saat ia menyusuri lorong berpenerangan temaram itu.
Brengsek! Jika bukan karena Uchiha Sasuke, aku pasti memiliki tempat tinggal yang layak daripada tempat terkutuk ini, umpatnya di dalam hati.
Hagane terus berjalan, menaiki satu demi satu anak tangga yang berderit tiap kali ia menginjaknya. Pencuri ulung itu pasti tengah tertidur setelah mabuk seharian penuh, pikirnya seolah bisa menebak apa yang dilakukan calon mangsanya kali ini. Korbannya tidak mungkin berani keluar rumah mengingat banyaknya polisi berlalu lalang di sekitar gedung untuk mencari keberadaan Hagane.
Pria itu tersenyum janggal, sementara satu tangannya merogoh saku jaketnya. Dengan tenang ia mengetuk pintu rumah yang diincarnya, menunggu dengan sabar hingga akhirnya telinganya mendengar umpatan keras dari dalam rumah itu.
Tidak lama kemudian pintu pun terbuka, memperlihatkan seorang pria bertubuh tinggi yang nyaris terjatuh karena pengaruh alkohol yang diteguknya sejak pagi. Pria bernama Raido itu menyempitkan mata, bersendawa keras, mencoba mengenali tamu tak diundang yang datang mengganggunya di malam buta. "Siapa kau—"
Hagane mendorong tubuh Raido untuk masuk kembali ke dalam ruangan pengap berpenerangan minim. Perbedaan kekuatan memudahkannya untuk melumpuhkan pria berusia tiga puluh dua tahun di hadapannya. Hanya dengan satu pukulan di tengkuk pria dengan parut luka di pipi kiri itu terkapar di atas lantai.
Raido merangkak di atas lantai, berusaha menggapai meja kopi terdekat untuk mengambil sebuah benda yang diincar oleh Hagane.
"Kau akan mati di tanganku!" desis Raido yang masih terus bergerak dengan susah payah di atas lantai untuk mengambil sebuah pistol. "Berani sekali kau menyerangku!" tambahnya dengan geraman kesal yang hanya membuat Hagane tersenyum semakin lebar karenanya.
Ah, jika saja pria itu tidak dalam keadaan mabuk, Hagane yakin jika ia akan kesulitan untuk melumpuhkannya, namun lagi-lagi nasib baik berpihak padanya, kondisi korbannya yang sudah mabuk berat membuat kekuatannya jauh berada di atas Raido.
Hagane melayangkan satu tendangan keras yang mendarat telak di pelipis kiri Raido, membuat tubuh pria itu terlentang di atas lantai. Raido mengumpat keras, meraung hingga Hagane memutuskan menaikkan volume suara televise untuk menyamarkan suara Raido. Sudah menjadi hal biasa jika Raido menyetel volume televisinya dengan sangat keras, dan tidak ada satu orang pun tetangga yang berani menegurnya. Ah, kecuali Hagane yang pada akhirnya harus puas mendapatkan beberapa pukulan hingga babak belur dari Raido.
"Mati!" desis Hagane sebelum menusuk nadi di leher Raido dengan sebuah pisau lipat.
.
.
.
Kyuubi merinding ngeri saat membaca headline koran pagi ini. Demi Tuhan, lagi-lagi sebuah kasus pembunuhan dan terjadi di gedung tempat Naruto diculik dan disekap beberapa waktu yang lalu? Apa ini kebetulan? Ia menggelengkan kepala cepat, melihat gelagat Sasuke pagi ini ia merasa sangat yakin jika ini ada hubungannya dengan Hagane.
Tapi kenapa penjahat itu membunuh tetangganya sendiri? Tanyanya tidak mengerti. Polisi tidak mengatakan apa yang hilang dari dalam rumah korban, namun Kyuubi sangat yakin jika benar Hagane yang melakukan pembunuhan itu maka ia tengah mencari sesuatu yang hanya bisa didapatkannya dengan mudah di dalam rumah itu.
"Apa ada berita menarik?" tanya Naruto dari belakang punggung Kyuubi.
Dengan gerakan cepat Kyuubi segera menyembunyikan Koran yang tengah dibacanya dibalik bantal, lalu mengambil remote yang diletakkan di atas meja kopi, berpura-pura tertarik akan tayangan drama pagi ini. Ah… Kyuubi merasa tidak ada bedanya dengan ibu angkatnya yang setiap pagi selalu menyempatkan diri untuk menonton drama pagi favoritnya. "Seperti biasa, ekonomi global tengah terancam oleh resisi berkepanjangan," ujarnya terdengar tidak tertarik.
Naruto mengangguk pelan, lalu berjalan ke arah Kyuubi dengan dua cangkir kopi serta setoples kue kering untuk cemilan mereka pagi ini. "Sejak kapan kakak menonton drama?" tanyanya penasaran, seolah puas mendengar jawaban Kyuubi atas pertanyaan pertamanya.
Kyuubi menghela napas berat lalu melirik pada adiknya dengan ekspresi lucu, "Sejak aku menetap tinggal bersama orangtua kita," jawabnya membuat Naruto tertawa renyah. "Ibu tidak pernah melewatkan drama sialan ini," keluhnya membuat tawa Naruto semakin keras. "Kenapa kau terlihat begitu gembira saat mendengarku sengsara?"
Naruto mengangkat bahunya ringan, lalu menggigit kecil kudapannya sebelum menjawab dengan senyum yang masih tidak luntur dari wajahnya. "Ibu selalu senang membuatku merana, jadi tidak ada salahnya jika kau merasakan hal yang sama."
Kyuubi mendesis, lalu membuang wajah. Dalam hati ia tersenyum senang karena pagi ini ia bisa melihat senyum tulus dari wajah Naruto. Ah… hal itu memerinya sebuah kelegaan yang tak terkira.
"Ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan Kak Itachi?"
"Apa maksudmu?" Kyuubi menjawab dengan ekspresi terkejut yang nyata. "Hubungan apa?" tambahnya dengan nada jijik yang terselip di dalam suaranya. "Sejak kapan aku memiliki hubungan dengan keriput jelek itu?"
Naruto menyempitkan mata. "Hati-hati dengan ucapanmu, kau bisa berbalik menyukainya," ujarnya membuat Kyuubi tertawa keras, begitu cepat sebelum akhirnya ekspresinya berubah serius.
"Aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan si sulung Uchiha itu, Naruto," desisnya penuh ancaman namun Naruto sama sekali tidak gentar. Ia tersenyum lebar, membuat Kyuubi semakin kesal dibuatnya. "Aku tidak akan jatuh cinta pada pria playboy sepertinya," ujarnya berapi-api, namun Naruto masih tidak peduli.
Dengan nikmat Naruto menikmati kue kering serta kopi pahitnya. "Kak Itachi pria yang baik jika kau mengetahui dirinya yang sebenarnya."
Kyuubi memutar kedua bola matanya malas.
"Dia sangat perhatian, dan penyayang."
"Oh, tolong katakan itu secara langsung padanya!" sindir Kyuubi sembari melempar kedua tangannya ke udara. "Apa yang dia berikan hingga kau memberinya pujian setinggi langit?"
Naruto kembali terkekeh pelan. "Dia memberikan adik kesayangannya padaku."
Oh, bolehkah Kyuubi muntah di tempat saat ini? Pernyataan Naruto membuat perutnya mulas setengah mati. Dia memang senang karena kedua mata Naruto sudah kembali berbinar bahagia, namun hal itu tidak menyurutkan kekesalannya karena adik angkatnya itu secara terang-terangan memuji Itachi di depannya. "Itachi, pria itu hanya pria tua mesum yang kurang ajar!" maki Kyuubi sengit.
Sebuah helaan napas kasar terdengar dari mulut Naruto. Ok, kenapa Kyuubi mendapat perasaan tidak enak kali ini? "Seharusnya kau mengunci pintu kamar madi," ujar Naruto menasehati. "Bukan salah Kak Itachi jika dia tiba-tiba masuk ke dalam toilet dan ada kau di dalamnya."
Mulut Kyuubi terbuka lebar. "Kau tahu masalah ini?" tanyanya tak percaya.
Naruto mengangkat bahunya ringan. "Kak Itachi menceritakannya padaku secara detail, termasuk saat kau menamparnya dengan sangat keras." Naruto menjeda, mendelik ke arah Kyuubi yang masih menatapnya dengan mulut terbuka lebar. "Kenapa kau memakai kekuatan penuh saat menamparnya?"
"Kau menyudutkanku?" pekik Kyuubi tidak terima. "Kau, adikku sendiri lebih memilih untuk membela calon kakak iparmu daripada kakakmu sendiri?"
Senyum secerah mentari itu kembali terkembang di wajah Naruto. "Jadi kau bersedia menikah dengan Kak Itachi?"
Kyuubi berdiri, giginya gemeretak. Ia menghentakkan kaki dengan kesal, "Kau akan menikah dengan Sasuke, bukankah itu berarti jika si keriput itu akan jadi kakak iparmu?"
Naruto mendengus. "Kukira kau berkata seperti itu karena berencana menikahi Kak Itachi."
"Dan kenapa kau terlihat kecewa?" bentak Kyuubi sebal. "Apa kau suka melihatku bersanding dengannya?"
Naruto tidak menjawab. Untuk terakhir kalinya ia memberi Kyuubi delikan tajam. "Aku akan melaporkanmu pada Ibu," ancamnya membuat Kyuubi melotot. "Aku akan mengatakan jika kau menghajar seorang pria baik hati yang sangat menyukaimu."
"Jangan macam-macam!" teriak Kyuubi saat melihat Naruto melenggang pergi. "Kembali, Naruto! Apa kau mau aku memukul pantatmu?" raungnya yang dijawab oleh suara debaman pintu yang ditutup dengan keras oleh adik angkat itu.
.
.
.
Obito mengetatkan rahangnya, menahan kekesalan yang mulai menjalar di setiap pembuluh darahnya. Ya Tuhan, bagaimana bisa Sasuke bersikap begitu tenangnya saat mendengar berita kematian Raido yang mungkin dilakukan oleh Hagane. Putra bungsu keluarga Uchiha itu seolah sudah bisa menebak apa yang tengah direncanakan oleh Hagane saat ini.
"Jangan mengambil inisiatif untuk menangkap Hagane seorang diri, Sasuke!" Obito kembali mengingatkan untuk kesekian kalinya, namun lagi-lagi Sasuke hanya menatapnya tanpa ekspresi. "Aku sungguh-sungguh, Uchiha!" tambahnya penuh penekanan. Oh, Obito ingin sekali emmukul wajah tanpa ekspresi pria yang duduk dengan tenang di sebrang meja kerjanya saat ini, dan berharap hal itu bisa mengembalikan kewarasan otak Sasuke. Ia menggebrak meja kerjanya keras, satu hal yang biasanya sangat ampuh untuk menghadapi anak buahnya, namun Sasuke bukan anak buahnya, pria itu sudah biasa bersikap dominan.
Obito mengusap wajah dengan telapak tangannya. "Hagane sangat berbahaya. Dia sakit jiwa," ujarnya dengan nada satu oktaf lebih rendah, berharap hal ini bisa mengubah otak bebal Sasuke.
Hening.
"Aku tahu," jawab Sasuke pada akhirnya, masih tanpa ekspresi. "Dan aku tidak peduli," tambahnya membuat Obito kembali menggertakkan giginya karena kesal. "Aku tetap akan memancingnya keluar dengan atau tanpa bantuan kalian."
"Kita tidak tahu apa yang dicurinya saat membunuh Raido—"
"Senjata," potong Sasuke tenang. "Dia pasti mencuri sebuah senjata untuk membunuhku."
Obito kembali terduduk di atas kursi kerjanya.
"Apa tebakanku benar?" Sasuke kembali bertanya dengan satu alis terangkat. "Ah, jadi benar rupanya," katanya saat Obito tidak menjawab pertanyaannya. Sasuke mencondongkan tubuhnya, "Yang harus kulakukan saat ini hanya menunggu hingga dia menunjukkan batang hidungnya." Ekspresinya mengeras saat ia kembali bicara, "Dan aku harus memastikan jika dia berada jauh dari orang-orang terdekatku."
"Lalu apa rencanamu?"
.
.
.
"Kau belum tidur?"
Naruto menoleh, menatap Sasuke yang berjalan pelan ke arahnya dengan jas yang tersampir di pergelangan tangan kanannya. "Aku menunggumu," sahutnya dengan senyum lembut.
Sasuke membungkuk, mengecup pucuk kepala Naruto sebelum mendudukkan diri di samping wanita itu. Ia meraih remote di tangan kekasihnya itu, lalu mematikan televise yang tengah menampilkan acara opera sabun. "Seharusnya kau tidur, jangan menungguku pulang," tukas Sasuke lembut sementara Naruto memejamkan mata, lalu menyandarkan kepalanya di bahu tegap kekasihnya. "Kau masih belum pulih sepenuhnya," lanjut Sasuke masih dengan nada lembut yang sama. "Kau harus banyak istirahat," putusnya mutlak namun Naruto hanya terkekeh kecil menanggapinya. "Kenapa kau tertawa?" tanya Sasuke sengan kening ditekuk dalam.
Naruto mengangkat kepala untuk mengecup bibir Sasuke sekilas. "Kau. Kau yang membuatku tertawa," ujarnya membuat Sasuke menyempitkan mata. "Sejak kapan kau menjadi secerewet ini?"
"Sejak aku nyaris kehilanganmu, Naruto," jawabnya serak dengan nada getir yang terselip dalam nada suaranya. "Aku pernah gagal menjagamu dan konsekuensinya aku nyaris kehilanganmu, walau pada akhirnya aku harus kehilangan calon bayi kita."
Hening.
"Terkadang aku merasa jika dia mengawasiku dari atas langit, dan tersenyum begitu cantik."
Sasuke menghela napas berat. "Sebelumnya aku tidak pernah merasa begitu tidak berguna, Naruto. Dan saat ini aku merasa jika diriku sangat tidak berguna."
Naruto tersenyum, kedua telapak tangannya menangkup wajah Sasuke. Keduanya terdiam untuk waktu yang cukup lama, hanya saling menatap, tanpa kata seolah-olah keduanya tengah saling menghibur satu sama lain. "Kita akan memilikinya lagi. Percayalah!" bisik Naruto membuat Sasuke memejamkan mata, merasakan telapak tangan halus milik kekasihnya ini.
Bolehkah dia memohon kepada Tuhan untuk merasakan kedamaian seperti ini lebih lama? Tanyanya di dalam hati. Sasuke tidak tahu apa yang menantinya di masa depan saat ia berhadapan langsung dengan Hagane. Apakah Hagane akan mati di tangannya atau Hagane akan membawa dirinya untuk ikut masi bersamanya?
"Ada apa?"
Pertanyaan yang dilontarkan dengan nada lirih dan lembut itu membuat dada Sasuke terasa sangat sesak. Bukan keinginannya untuk menyembunyikan hal sebesar ini dari Naruto, namun di sisi lain ia tidak mau membuat Naruto khawatir hingga akhirnya jatuh sakit, karena bagaimanapun juga kondisi emosi Naruto masih belum stabil saat ini dan hal itu sangat mempengaruhi kesehatannya.
Naruto membelai pipi Sasuke dengan ibu jarinya. "Aku merasa kau tengah menyembunyikan sesuatu dariku," katanya dengan nada sendu yang sama. "Apa yang sedang kau sembunyikan, Sasuke?" tanyanya parau.
Sasuke bergeming, hingga akhirnya ia mengangkat tubuh Naruto ke dalam pelukannya lalu bergerak, berjalan pelan menuju kamarnya. "Tidak ada yang kusembunyikan," jawabnya dengan nada meyakinkan. "Apa yang bisa kusembunyikan dari kekasihku yang cantik?"
Naruto memeluk leher Sasuke. Dadanya bergemuruh. Ada perasaan takut dan cemas yang datang padanya walau ia sendiri tidak tahu alasannya mengapa ia harus merasa takut dan cemas? "Berjanjilah jika kau akan menjaga dirimu dengan baik, Sasuke!"
Sasuke tidak langsung menjawab.
"Berjanjilah jika kau akan menghindari hal-hal yang berbahaya!" pinta Naruto parau. "Karena jika sesuatu yang buruk terjadi padamu, maka aku pun tidak akan bisa bertahan di dunia ini," tambahnya membuat tubuh Sasuke membeku.
.
.
.
TBC
Hello! Lama juga ya fic ini tidak diupdate. Maafkan saya, teman-teman! #Nyengir
Oh iya, beberapa pembaca ada yang bertanya, apa saya akan berhenti dari dunia fanfiksi setelah saya mulai menulis dengan ori karakter saya sendiri? Hm… tidak, teman-teman, saya masih akan menulis fanfiksi dengan pair SFN, karena seperti yang kalian ketahui, hutang saya masih banyak untuk pair ini, dan saya sedang berusaha untuk menyelesaikannya satu per satu. (:
Maafkan untuk typo(s) yang merajalela, dan semoga terhibur dengan update-an kali ini, walau sangat super pendek. #Nangis
Sampai jumpa dichap selanjutnya ya, Teman-teman! (:
#WeDoCareAboutSFN
