Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M+ (Mature Content!)

Genre : Romance, Drama

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

I'm Sorry, I Love You

Chapter 18 : That Magic Feeling

By : Fuyutsuki Hikari

Pengakuan yang diucapkan oleh Naruto benar-benar membuat Sasuke ragu akan rencananya yang sudah disusunnya rapi. Disatu sisi ia ingin membalas dendam pada pria penyebab kematian calon anaknya.

Dan bedebah itu pun nyaris membunuh tunangan berambut pirang yang kini terlelap di samping Sasuke dengan napas begitu teratur.

Ah, saat tidur, Naruto selalu terlihat begitu damai, layaknya seorang bayi kecil tanpa dosa.

Sasuke mendesah. Dikecupnya kening Naruto lama. Sebuah senyum terkembang di wajah tampannya saat hidungnya menghirup aroma vanilla yang menguar lembut dari tubuh wanita yang tengah dipeluknya saat ini.

Dalam ruangan minim cahaya itu ia melamun lama. Kedua kelopak matanya enggan untuk dipejamkan, padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.

"Karena jika sesuatu yang buruk terjadi padamu, maka aku pun tidak akan bisa bertahan di dunia ini."

Kalimat yang diucapkan oleh Naruto tadi kembali terngiang-ngiang di telinganya. Menetap dalam kepalanya, membuat tekad yang sudah mantap itu kembali goyah.

"Kau masih belum tidur?"

Sasuke mengerjapkan mata. Sedikit terkejut oleh pertanyaan yang dilontarkan dengan nada mengantuk itu. Ia merasa bersalah karena sepertinya Naruto bisa merasakan kegelisahan yang saat ini menyelimuti hatinya.

"Apa yang mengganggumu?" Naruto kembali bertanya saat Sasuke tidak kunjung bicara. Wanita itu mendesah berat. "Kau menyembunyikan sesuatu dariku."

Sasuke menekuk sudut bibirnya ke atas. Berusaha untuk mengelabui Naruto dengan senyumnya yang memikat. Senyum yang hanya diperlihatkannya pada orang-orang terdekatnya. "Tidak," dustanya dengan lihai.

Ia membawa kedua tangan Naruto ke mulutnya, lalu dengan lembut dikecupnya buku-buku jari wanita itu bergantian. "Tidak ada yang kusembunyikan darimu. Aku hanya merindukanmu," sambungnya. "Karenanya aku menikmati saat-saat seperti ini untuk menatap wajahmu."

Naruto memutar kedua bola matanya. "Kita bertemu setiap hari."

"Hal itu tidak cukup untuk mengobati kerinduanku padamu," desahnya. Ia memasang ekspresi serius saat berkata, "Mungkin aku harus bekerja di rumah agar memiliki lebih banyak waktu denganmu."

"Dan membuatmu menjadi bosan padaku?" balas Naruto dengan mulut mengerucut lucu. Ia memukul pelan dada pria yang kini terkekeh pelan lalu mengecupnya singkat.

"Aku tidak akan pernah bosan padamu," ujar Sasuke sungguh-sungguh. Ia menjeda. Sorot matanya menyendu saat ia kembali bicara, "Dua kali, Naruto. Dua kali aku nyaris kehilanganmu, dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika aku benar-benar kehilanganmu."

Hening.

Naruto menyipitkan mata. Ia sama sekali tidak tertipu oleh kalimat menyentuh tunangannya. "Kau mengalihkan pembicaraan," sungutnya terdengar kesal. "Aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku, Sasuke. Aku sangat yakin akan hal itu."

Sasuke menggelengkan kepala pelan. "Tidak ada yang kusembunyikan darimu," balasnya, kembali berbohong. Ia memasang ekspresi serius saat Naruto menyalakan lampu meja lalu menatapnya dengan pandangan penuh selidik.

"Tidurlah." Sasuke kembali bicara, memutus keheningan singkat diantara mereka. "Maaf, aku sudah membuatmu terbangun," ujarnya dengan nada bersalah yang terselip dalam suaranya.

Naruto tidak langsung menjawab.

"Aku akan sangat marah jika tahu kau memang menyembunyikan sesuatu dariku, Sasuke," ujarnya penuh penekanan. "Aku tidak suka jika kau berbohong walau alasannya untuk membuatku merasa tenang," lanjutnya.

Sasuke bergeming.

Naruto mendesah keras, matanya menyipit saat berkata, "Tidak akan ada seks, jika aku tahu kau membohongiku, Sasuke. Camkan itu!"

Sasuke berdecak lalu mengusap wajahnya.

Sial. Naruto sangat serius dengan ancamannya kali ini.

"Ayolah, aku tidak menyembunyikan apa pun darimu."

Hening.

"Apa kau akan tidur membelakangiku?" tanyanya gemas saat Naruto mengubah posisi tubuhnya.

Naruto tidak menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya. Kecemasan menyelimuti dirinya saat ini. Dalam hati wanita itu tahu jika Sasuke tengah berbohong. Pria itu pasti sedang merencanakan sesuatu yang berhubungan dengan Hagane.

Hagane sangat berbahaya. Dendam yang dimilikinya pada Sasuke membuat pria itu gelap mata. Naruto sangat yakin jika saat ini penjahat itu tengah mengincar Sasuke. Tapi apa yang bisa dilakukannya untuk melindungi Sasuke.

Naruto merasa tidak berguna, karenanya ia kembali menangis dalam diam.

Ia menangisi ketidakmampuannya untuk melindungi orang-orang yang disayanginya.

.

.

.

Satu minggu berlalu. Dan malam kembali merangkak naik, sementara itu—Hagane berdiri tenang di sebuah halte bus yang berada tidak jauh dari gedung perkantoran milik Sasuke. Penampilannya terlihat rapi dan bersih.

Ia sengaja mencukur rambut, dan jenggot serta membeli pakaian layak juga mandi di kamar mandi umum untuk mengubah penampilannya.

Dengan penampilannya saat ini ia yakin jika pihak kepolisian yang tengah mencarinya tidak akan mengenalinya walaupun mereka beradu muka.

Hagane menundukkan kepala, terkekeh pelan. Raido benar-benar sangat berguna. Pria itu bukan hanya memiliki senjata namun juga sejumlah uang yang bisa dimanfaatkan Hagane untuk melancarkan aksi balas dendamnya pada Sasuke.

Dalam keheningan ia kembali menunggu. Sejak tunangannya keluar dari rumah sakit, Sasuke selalu keluar kantor tepat pukul tujuh malam, sementara supir pribadinya akan menunggu di depan gedung.

Hagane mendesah, menghembuskan napasnya yang berembun karena udara yang semakin dingin setiap harinya. Pria itu terdiam, sementara orang-orang di sekitarnya mulai bergerak saat sebuah bus berhenti tepat di depan halte. Mereka naik dengan teratur meninggalkan Hagane yang kembali berdiri seorang diri.

Sebentar lagi, pikir Hagane saat melihat sebuah menara jam disebuah gedung tinggi tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.

Ia menarik resleting jaketnya hingga dagu, berharap hal itu bisa menyamarkan penampilannya saat ia berjalan santai menuju komplek gedung perkantoran milik Sasuke.

Hagane memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Ia tersenyum senang saat melihat mobil sedan berwarna hitam milik Sasuke meluncur mulus dan berhenti tepat di depan gedung perkantoran berlantai lima belas itu.

Suasana sepi di sekitar gedung perkantoran membuat kesenangan Hagane semakin berlipat-lipat. Sepertinya Tuhan pun bersedia membantu rencana balas dendamku, batinnya senang. Dan benar saja, sesuai dengan perkiraan Hagane, Sasuke keluar dari gedung perkantoran miliknya seorang diri.

Hagane mempercepat langkahnya. Senyumnya melebar saat ia mengeluarkan senjata yang dibawanya dari dalam saku jaketnya.

"Uchiha Sasuke?!" teriaknya membuat Sasuke menoleh ke arah sumber suara dan suara letusan tembakan pun terdengar keras setelahnya.

Hagane terbelalak. Suara tembakan itu bukan berasal dari senjata miliknya. Ia mengumpat pelan saat menyadari jika dirinya tengah dijebak saat ini.

Aku tidak akan mati tanpa membawamu serta, Uchiha Sasuke, batinnya penuh tekad.

Senjatanya terarah lurus pada Sasuke. Tangannya sedikit gemetar. Hagane tahu jika ia bukan penembak jitu, namun dengan jarak sedekat ini, ia yakin jika tembakannya tidak akan meleset.

"Jatuhkan senjatamu!" teriak Obito dari balik mobil sedan milik Sasuke. Ia kembali melepaskan tembakan peringatan ke udara, tapi Hagane tetap bergeming. Pria itu menatap Sasuke lekat, penuh dendam.

Hagane terkekeh, dan tembakan pun dilepaskan.

Satu.

Dua.

Tiga.

Hagane tertawa, terdengar sangat puas saat sosok yang dibencinya itu rubuh ke atas lantai. Ia bahkan masih bisa melepaskan seringai puas walau dada kanan serta kedua pahanya menjadi sasaran empuk timah panas milik anggota kepolisian yang mengepungnya.

Tubuhnya seketika tumbang di atas aspal.

"Mati, kau, Uchiha Sasuke!" bisik Hagane bergetar sebelum menghembuskan napas terakhirnya.

.

.

.

"Sasuke, apa kau baik-baik saja?" Obito kembali menyarungkan pistolnya lalu berlari ke arah Sasuke yang masih terbaring di atas lantai dengan napas putus-putus menahan sakit.

Gedung perkantoran yang biasanya masih ramai oleh pekerja itu kini terlihat sangat sepi karena Sasuke sengaja memberikan perintah jika semua pegawai harus sudah pulang tepat pukul lima sore, dan tidak diizinkan untuk bekerja lembur hingga pengumuman selanjutnya.

Sasuke meringis. "Kabar baiknya aku tidak mati," ia terkekeh pelan saat merasakan panas pada tempurung kiri serta lengan kanannya, sementara di kejauhan suara sirine mobil polisi saling bersahutan.

"Itachi akan membunuhku jika tahu mengenai kondisimu," umpat Obito terdengar kesal akan kegagalannya melindungi Sasuke, sementara anak buahnya terlihat sibuk mengamankan lokasi kejadian.

Di sisi lain, dua orang pria—petugas forensik berseragam biru tuamulai mengambil sidik jari serta mengumpulkan bukti kejahatan Hagane.

Petugas kepolisian bergerak cepat, membentuk sebuah barisan untuk mencegah wartawan yang berkumpul seperti sekumpulan semut yang mendapatkan gula.

"Bukan salahmu," balas Sasuke menenangkan. Ia terengah, merasakan rasa sakit yang terus berdenyut hebat pada luka tembaknya saat Obito mengikat tempurung kiri dan tangan kanannya untuk mencegah pendarahan hebat. "Sayangnya rompi anti peluru yang kau pinjamkan sama sekali tidak berguna," kekehnya berusaha untuk mencairkan ketegangan di wajah Obito.

Obito menggelengkan kepala pelan. "Dia bisa saja menembak kepalamu." Ada nada ironi dalam suaranya. Ia sangat menyesal, kenapa dirinya bisa dengan mudah menyetujui rencana nekat Sasuke untuk memancing Hagane keluar dari tempat persembunyiannya. "Kau bisa saja mati."

Sasuke menghela napas panjang. "Tapi aku tidak mati."

"Kau hanya beruntung," balas Obito. Ia kembali menggelengkan kepala, lalu melirik ke belakang saat empat orang petugas kesehatan keluar dari dalam ambulans dengan membawa sebuah brankar dan peralatan medis bersama mereka.

"Satu peluru menyerempet tempurung kirinya sementara satu peluru bersemayam di lengan kanan," lapor Obito pada seorang petugas saat tubuh Sasuke diangkat ke atas brankar lalu di dorong masuk ke dalam mobil ambulans yang menunggu.

.

.

.

Naruto nyaris berteriak dan berlari keluar apartemennya saat mendengar kabar buruk mengenai Sasuke. Ia bahkan tidak bisa menahan air matanya saat Itachi memberinya dan Kyuubi tumpangan ke rumah sakit tempat Sasuke dirawat saat ini.

Ternyata firastnya benar. Selama ini Sasuke menyembunyikan sesuatu untuk membuatnya tenang. Naruto mengepalkan kedua tangannya erat. Walaupun Itachi mengatakan jika Sasuke tidak terluka parah, tapi tetap saja hal itu tidak membuat Naruto menjadi tenang, sebaliknya ia merasakan kemarahan luar biasa pada tunangannya itu.

"Jangan menekuk wajahmu seperti itu," bisik Kyuubi dengan nada membujuk. "Kau bisa membuat anak kecil yang melihatmu menangis karena takut," candanya, berusaha untuk mencairkan suasana hati Naruto yang memburuk.

Naruto tidak menjawab.

Keheningan di dalam mobil itu berlanjut, membuat Kyuubi merasa tegang sementara Itachi hanya bisa menghela napas panjang. Pria itu sama sekali tidak bisa menyalahkan Naruto jika dia marah besar. Tapi disisi lain, ia juka mengerti kenapa Sasuke merahasiakan hal ini dari Naruto.

"Sasuke membohongiku," balas Naruto serak setelah terdiam cukup lama. Ia mendelik ke arah Kyuubi yang balas menatapnya dengan satu alis terangkat. "Apa kalian mengetahui mengenai rencana gilanya ini?" tanyanya dengan nada menuduh yang terselip dalam suaranya.

Baik Kyuubi maupun Itachi, keduanya tidak menjawab. Mereka bingung. Membuat Naruto semakin marah adalah hal terakhir yang mereka inginkan.

Naruto menyipitkan mata. Kedua tangannya dilipat di depan dada. "Jadi selama ini kalian tahu dan memilih untuk berkonspirasi dengan Sasuke untuk menyembunyikan hal sepenting ini dariku?"

Keduanya masih tidak menjawab.

"Kenapa kalian tega membohongiku?" tanya Naruto terdengar terluka. "Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya?"

Ia terdiam sejenak untuk menghapus air matanya.

"Sasuke bisa sangat nekat, kalian tahu, kan?"

Hening.

"Aku benar-benar marah," lanjut Naruto saat Kyuubi dan Itachi tidak kunjung bicara. "Aku sangat marah pada Sasuke dan kalian berdua," lanjutnya penuh penekanan. "Jadi jangan bicara padaku!"

"Ini semua salahmu, Keriput!" bentak Kyuubi membuat Itachi terbelalak, dan suasana di dalam mobil pun semakin memanas, sementara Naruto memalingkan muka, terlihat tidak peduli.

"Seharusnya aku tidak mendengar ucapanmu dan memberitahu Naruto semua rencana Sasuke."

Itachi mendecih. "Sekarang kau menyalahkan aku?" balasnya tidak terima. Ia mengumpat pelan, amarahnya mulai tersulut. "Kenapa kau harus menyalahkan aku? Katakan saja jika kau tidak memiliki alasan lain untuk bertengkar denganku," cibirnya membuat Kyuubi mencondongkan tubuh lalu menampar keras kepala pria itu hingga mengaduh.

"Sialan, Kyuubi. Apa kau tidak sadar jika aku sedang menyetir?!"

"Persetan!" balas Kyuubi marah. Matanya melotot.

Wanita itu tidak terima jika Naruto marah padanya, dan jika hal itu terjadi maka Itachi-lah penyebabnya. Titik. "Jika Naruto tidak bicara padaku, maka kau harus bersiap menerima pembalasan dariku."

Itachi memutar kedua bola matanya. Duo Namikaze ini memang aneh, pikirnya. "Kenapa harus menyalahkanku?" tanyanya tidak terima. "Adikmu juga marah padaku," lanjut Itachi, mengingatkan.

Keduanya terus bicara, beradu argumen, saling menyalahkan hingga akhirnya teriakan Naruto menghentikan pertengkaran keduanya, "Diam atau kalian akan menyesal!" ucapnya membuat Kyuubi dan Itachi terdiam selama sisa perjalanan menuju rumah sakit sementara Naruto terus menggerutu di dalam hati.

Wanita berambut pirang itu mulai menyusun rencana-rencana menyenangkan untuk membalas kebohongan Sasuke padanya.

Naruto menyeringai, membuat Kyuubi yang duduk di sampingnya mengerjapkan mata lalu duduk merapat ke pintu. Dia berusaha menjaga jarak dengan adik angkatnya itu. Apa pun yang tengah dipikirkan oleh Naruto saat ini pasti bukan hal yang menyenangkan, pikir Kyuubi menelan kering, dan dia hanya bisa berdoa pada Tuhan, berharap jika Naruto tidak menyusun rencana untuk membalas kebohongannya dan Itachi.

.

.

.

"Aku bisa jelaskan." Hanya itu yang bisa dikatakan Sasuke saat Naruto menatapnya tajam. Pria itu menelan dengan susah payah. Diabaikannya rasa mual serta rasa sakit yang berdenyut pada luka bekas operasinya, karena ada yang jauh lebih penting untuk ditanganinya saat ini-kemarahan Naruto.

Sasuke melirik gugup pada pintu kamar inapnya yang tertutup rapat. Ah, bolehkah ia berharap ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya dan menyelamatkannya dari kemarahan Naruto saat ini?

Naruto memicingkan mata. "Kau nyaris mati," desisnya penuh penekanan hingga membuat bulu kuduk Sasuke meremang penuh antisipasi. Kekasihnya bisa sangat menyeramkan saat marah, dan Sasuke baru mengetahuinya setelah mereka bersama belakangan ini.

Sasuke tersenyum gugup. "Tapi aku masih hidup," jawabnya berusaha untuk membela diri. Well, dia memang mendapatkan dua kali tembakan hingga harus menjalani operasi selama dua jam penuh. Namun yang lebih penting ia masih hidup, kan? Dan kabar baiknya, pembunuh gila itu kini sudah mati.

"Kenapa kau tidak mengidahkan peringatanku? Apa ucapanku kurang jelas?!" Naruto membentak galak.

Sasuke bergeming.

"Sasuke kau nyaris mati," sambung Naruto dengan suara melemah. Wanita itu menghela napas berat, memalingkan muka, berusaha untuk mengusir air mata yang berusaha turun dari sudut-sudut matanya. "Bukankah aku sudah memberimu peringatan? Apa kau menganggap permintaanku sebagai angin lalu?" tanyanya sembari memeluk tubuhnya sendiri.

Sasuke menjulurkan tangan kanannya, meminta wanita berambut pirang yang berdiri beberapa langkah dari ranjangnya untuk mendekat. Ia bisa melihat Naruto sejenak meragu, sebelum akhirnya dengan langkah pelan wanita itu mendekat dan menggenggam tangan milik Sasuke.

Naruto mendudukkan diri di kursi tunggu yang diletakkan di samping ranjang milik Sasuke, dan seketika tangisnya pecah. Ia sangat marah saat tahu Sasuke tidak mengidahkan peringatannya. Namun ia juga sangat cemas. Berbagai kemungkinan buruk terus melintas dalam benaknya. Naruto benar-benar takut jika Sasuke meninggal karena kenekatan serta dendamnya pada Hagane.

Sasuke memejamkan mata. Mendengar tangisan Naruto membuat rasa bersalah menguasai dirinya. Ia tidak berniat untuk melukai perasaan tunangannya. Namun pria itu berpikir jika rencana yang disusun olehnya serta pihak kepolisian adalah jalan terbaik untuk menangkap Hagane.

"Maafkan aku!" pinta Sasuke lirih. Ia balas menggenggam erat tangan Naruto yang terasa dingin. "Tolong jangan menangis seperti ini. Marahlah. Pukul aku, tapi tolong jangan menangis seperti ini!" pintanya dengan nada membujuk yang lembut. Sayangnya usahanya tidak berhasil. Malam itu Naruto terus menangis di sisi ranjang Sasuke hingga dia lelah dan tertidur di atas kursinya.

.

.

.

Di luar ruangan, Kyuubi menunggu dengan perasaan was-was. "Apa mereka baik-baik saja?" tanyanya cemas. Ia menoleh singkat pada Itachi yang sama terlihat khawatir. "Adikku bisa sangat mengerikan jika marah," terangnya membuat kening Uchiha sulung ditekuk dalam, terlihat tidak percaya.

"Mungkin sebaiknya kita melihat keadaan mereka di dalam," usul Itachi, merobek keheningan diantara keduanya dan dijawab desahan tidak setuju wanita berambut merah yang duduk di sampingnya.

"Dan menjadi pelampiasan kemarahan Naruto?" balas Kyuubi membuat Itachi mengerang dan mengusap wajahnya kasar. "Naruto menuduh kita membohonginya dan berkomplot mendukung ide gila Sasuke," sambungnya diakhiri sebuah ringisan ngeri.

Itachi meringis. "Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanyanya. Pria itu bergerak resah, lalu berdiri dan berjalan menuju pintu ruang inap yang ditempati Sasuke. Sejenak Itachi terlihat ragu sebelum akhirnya ia memantapkan diri untuk mengintip keadaan di dalam ruangan itu.

Lorong rumah sakit itu kembali senyap saat keduanya terdiam.

Aku harus memastikannya, pikir Itachi. Pria itu bergerak dari tempatnya, sementara Kyuubi memperhatikan gerak-gerik Itachi lewat ekor matanya.

Tiga detik dan Itachi kembali menutup pintu ruangan itu dengan suara pelan. Ia menoleh ke arah Kyuubi yang menatapnya bingung.

"Apa di dalam sangat gawat?" tanya Kyuubi dengan jantung berdebar was-was. Wanita itu menggigit kuku-kuku jarinya. Sebuah kebiasaan yang sering dilakukannya saat merasa gugup.

Itachi mendesah berat, lalu kembali mendudukkan diri di samping Kyuubi yang masih menunggu jawabannya dengan tidak sabar. "Adikmu menangis hebat," terang Itachi.

Kyuubi menghela napas. "Itu lebih buruk daripada dia marah dan histeris," sahutnya yang segera dijawab sebuah anggukan setuju oleh Itachi. Kyuubi menyandarkan kepalanya pada tembok rumah sakit di belakangnya. "Kita tidak bisa melakukan apa pun untuk menghiburnya," katanya, setengah berbisik. "Naruto pasti merasa sakit hati karena Sasuke dan kita menyembunyikan perihal ini darinya.,"

Itachi tidak menjawab. Tatapannya menerawang.

Kyuubi tertawa getir, sementara tangannya menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. Gerakan kecil itu menarik perhatian Itachi. Entah kenapa dia merasa hal aneh saat menatap Kyuubi saat ini.

"Aku juga tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu yang lebih buruk terjadi pada Sasuke." Ia menoleh singkat pada Itachi yang balas menatapnya tanpa ekspresi. "Menyakiti Naruto adalah hal terakhir yang ingin kulakukan di dunia ini."

.

.

.

Peristiwa penembakan yang menimpa Sasuke menjadi berita paling menggemparkan di Jepang dalam kurun waktu beberapa hari setelahnya. Berita itu pun pada akhirnya terdengar hingga telinga Kushina dan Minato. Keduanya bergegas memesan tiket pesawat paling pagi menuju ke Tokyo setelah mengkonfirmasi mengenai kebenaran berita itu pada Naruto.

Kushina memeluk tubuh putrinya yang terlihat lebih kurus sejak terakhir kali ia melihatnya. Kantung mata Naruto terlihat hitam karena lelah dan kurang tidur. "Apa kau baik-baik saja?" Kushina bertanya dengan nada cemas saat Minato memeluk tubuh Naruto dan menatapnya sedih, penuh penilaian.

Naruto tersenyum dan mengangguk lemah. "Aku baik-baik saja, Bu, hanya sedikit lelah," terangnya.

Kushina melirik pada Sasuke yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Pria itu tertidur pulas setelah diberi obat tidur dalam dosis kecil oleh dokter yang merawatnya. Dokter itu terlihat khawatir karena Sasuke bersikeras untuk terus terjaga hanya untuk memastikan Naruto baik-baik saja dalam pengawasannya.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Minato. Ia menarik pergelangan tangan putrinya dan memintanya untuk duduk di sampingnya. "Alasan mengenai penembakan itu masih begitu simpang siur," sambungnya dengan ekspresi serius.

Naruto tidak langsung menjawab. Ia menatap lekat jari-jari tangannya yang bertaut di atas pangkuannya. "Sebenarnya ada hal yang kami sembunyikan dari Ayah dan Ibu." Ia memulai dengan nada bersalah.

Naruto tahu begitu sakit perasaannya saat Sasuke membohonginya, dan ia pun melakukan hal yang sama pada kedua orangtuanya. Kebohongan yang dilakukannya pasti akan terbongkar cepat atau lambat, dan Naruto memilih untuk mengatakan kejujuran itu melalui mulutnya sendiri.

"Sebenarnya aku tidak dioperasi miom," akunya membuat ibu dan ayahnya terlihat bingung.

"Lalu apa hubungannya kasus yang dialami Sasuke dengan kebohonganmu itu, Naruto?" Minato berusaha mengendalikan nada bicaranya. Pria paruh baya itu memutuskan untuk menyimpan kekesalannya atas kebohongan Naruto untuk nanti. Mereka masih memiliki banyak waktu untuk membahas hal itu.

Naruto menelan kering. Air matanya jatuh. Ia merasa sangat bersalah karena telah memanfaatkan kepercayaan besar kedua orangtuanya. "Aku masuk rumah sakit untuk alasan yang lain," lanjutnya dengan air mata yang semakin menderas. Naruto menatap wajah kedua orangtuanya secara bergantian, dan sejenak memejamkan kedua matanya.

Ia akan menyakiti hati orangtuanya, jeritnya dalam hati. Tapi nasi sudah menjadi bubur.

"Pria yang menembak Sasuke adalah orang yang telah menculik dan berusaha membunuhku untuk membalas dendam pada Sasuke," terangnya membuat Kushina terkesiap kaget sementara Minanto merogoh ke dalam saku jasnya, mengeluarkan sebuah botol obat dari dalamnya dan meminum cepat beberapa butir obatnya saat jantungnya terasa sedikit nyeri karena terlalu kaget mendengar pernyataan Naruto tadi.

Naruto manatap ayahnya dengan cemas. Ia menyodorkan segelas air putih yang langsung diminum Minato dengan tegukan besar.

"Lanjutkan!" perintah Minato tegas.

"Aku beruntung karena Sasuke dan polisi bisa menemukan keberadaanku dengan cepat, tapi..."

"Tapi?" beo Kushina dengan perasaan was-was. Entah kenapa ia merasa jika Naruto baru melempar sebuah bom kecil, dan menunggu waktu tepat untuk melempar sebuah bom dengan kekuatan yang lebih besar.

"Tapi karena peristiwa itu aku kehilangan calon bayiku," terang Naruto tanpa bisa menatap wajah kedua orangtuanya.

Kushina dan Minato terdiam. Mereka terlalu syok untuk bicara. Demi Tuhan, putri yang mereka banggakan selama ini ternyata hamil di luar nikah?

"Tolong maafkan aku!" pinta Naruto terdengar memelas. "Aku tahu jika aku bersalah dan telah melakukan sebuah dosa besar. Tapi tolong maafkan aku! Tolong katakan sesuatu. Ayah, ibu tolong jangan diam seperti ini," mohonnya dengan suara bergetar.

"Ini salahku," ujar Minato kemudian. Pria itu menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. "Aku sudah salah mendidikmu, jadi ini salahku."

Naruto menggelengkan kepala dengan cepat. Ia menggenggam tangan ayahnya dengan erat. "Tidak. Ayah dan ibu tidak bersalah. Semua ini salahku. Aku yang tidak bisa menjaga diri hingga hamil di luar nikah. Aku yang bersalah," ujarnya.

Kushina menghela napas berat. "Jadi ini alasanmu untuk menikah dengan cepat?" tanyanya membuat Naruto tertohok oleh nada dingin yang dilontarkan oleh ibunya. "Kalian bersengkongkol untuk membohongi orangtua kalian sendiri?" bentaknya membuat Naruto tersentak.

"Apa kalian pikir setelah berbuat hal memalukan itu kalian hanya perlu meminta maaf pada kedua orang tua kalian?" tanya Kushina gemetar. Ia melayangkan sebuah tamparan keras pada Naruto yang menerimanya dengan pasrah. "Tamparan itu bahkan tidak ada bandingannya dengan rasa sakit yang kami rasakan saat ini!" desis Kushina sembari bergerak dari atas sofa putih nyaman yang didudukinya.

Kushina mendengus kasar. Kemarahannya menumpuk dalam dirinya. Ia merasa dikhianati oleh putri yang dicintainya setengah mati dan itu membuat rasa sakit dalam hatinya berlipat-lipat. "Kita pulang!" serunya pada Minato.

Naruto melap air mata dengan punggung tangannya. "Sebaiknya ayah dan ibu menginap. Kalian pasti lelah-"

"Dan semakin sakit hati karena melihat wajahmu?" potong Kushina membuat Naruto menangis semakin hebat.

"Kau sudah membohongi kami, Naruto. Itu yang paling membuatku kecewa," sambung wanita paruh baya itu sebelum berjalan keluar kamar, meninggalkan sosok putrinya yang menangis tanpa suara dalam ruangan nyaman tapi terasa sepi itu.

.

.

.

Sasuke tahu jika meminta Naruto untuk tenang sama sekali tidak akan membuat wanita itu menjadi merasa lebih baik.

Ia merasa dirinya sebagai pria paling brengsek di dunia. Bagaimana tidak? Alih-alih memberi Naruto kebahagiaan, yang diberikan olehnya justru kesedihan dan masalah berkepanjangan.

"Apa yang kaulakukan?"

Pertanyaan yang dilontarkan dengan nada tajam itu taklantas membuat Sasuke menghentikan apa yang sedang dilakukannya saat ini. Pria itu melepas jarum infus yang masih terpasang pada tangan kirinya lalu menyentak selimut biru tebal yang dikenakannya.

"Aku akan menemui orangtuamu sore ini juga," ujar Sasuke tanpa ekspresi. Ia mengernyit saat luka pada bahunya berdenyut sakit.

"Kau masih belum sembuh." Naruto berusaha mengingatkan. Ia berjalan cepat ke arah ranjang Sasuke dan menghentikan pergerakan pria itu dengan tangannya. "Apa yang kaupikirkan?" bentaknya dengan nada kesal. "Luka pada tempurung kakimu belum sembuh dan kau mau memaksa untuk berjalan?"

Sasuke mengumpat pelan. Ia benci dengan ketidakberdayaannya saat ini. "Maafkan aku!" desahnya seraya membaringkan kembali kepalanya di atas bantal. "Semua salahku. Aku benar-benar brengsek."

"Ya. Kau memang brengsek." Naruto membenarkan dengan nada kesal. "Tapi aku mencintai pria brengsek ini," sambungnya membuat Sasuke tersenyum pahit.

Naruto terdiam sejenak sementara tangannya menekan tombol bantuan untuk memanggil dokter. Ia membetulkan kembali selimut Sasuke sebelum duduk di sisi ranjang. "Kita akan menemui kedua orangtuaku setelah kau sehat," usulnya. "Tidak ada tapi, Sasuke," katanya cepat saat Sasuke terlihat akan membantah ucapannya.

"Kak Kyuubi sudah pulang dan menjelaskan sedikit yang dia tahu pada orangtuaku," lanjutnya menerangkan. "Dia akan memberitahu jika emosi orangtuaku sudah sedikit mereda."

Sasuke tidak menjawab.

"Aku bisa saja terus membohongi mereka." Naruto kembali bicara dengan nada tenang. Wanita itu melempar tatapan keluar jendela, jauh menatap langit biru dengan awan putih yang bergulung.

Ia menghela napas. "Tapi aku tahu bagaimana rasa sakitnya karena dibohongi, Sasuke, karenanya aku memilih untuk jujur pada mereka."

Sasuke masih tidak menjawab.

"Apa kau marah karena aku memilih untuk jujur pada mereka?" tanya Naruto menyelidik.

Sasuke mendesah. Ia kembali menutup mulutnya rapat saat satu orang dokter pria dan satu orang perawat masuk ke dalam ruangannya.

"Kenapa infusnya bisa terlepas?" Dokter berusia paruh baya itu menatap lekat Sasuke tajam.

"Sasuke tidak sengaja mengibaskan tangan kanannya hingga infusnya terlepas, Dok," jawab Naruto terdengar meyakinkan. Namun dari ekspresi sang dokter ia tahu jika pria paruh baya itu tidak mempercayai alasannya.

Untungnya dokter itu tidak bertanya lebih jauh dan hanya memerintahkan perawat yang datang bersamanya untuk kembali memasang infus di tangan Sasuke di titik yang berbeda dari sebelumnya.

"Jangan bergerak terlalu ekstrim." Dokter memberi peringatan dengan ekspresi serius. Kedua matanya menyipit tajam dan ia mengangguk kecil saat melihat hasil pekerjaan perawat paruh baya yang datang bersamanya.

"Terima kasih!" ucap Naruto tulus sembari mengantar keduanya keluar dari dalam kamar.

"Aku harus segera menemui kedua orangtuamu," ujar Sasuke setelah kepergian dokter dan perawat paruh baya itu. Ia menatap perban yang beberapa saat lalu diasang oleh perawat untuk menutup luka bekas jarum infus yang dilepasnya paksa tadi.

"Mereka akan berpikir aku pengecut jika aku tidak segera datang menemui keduanya," sambungnya serius.

"Mereka tahu mengenai kondisimu," balas Naruto beralasan. "Untuk kali ini tolong dengarkan aku, Sasuke. Kita akan menemui orangtuaku hanya setelah kau sehat. Titik!" serunya dengan nada takterbantahkan.

.

.

.

"Jangan membela adikmu lagi!" Suara Kushina terdengar menggema di dalam ruang dapur keluarga Namikaze yang nyaman.

Kyuubi menggit bibir bawahnya. Ia menundukkan kepala dalam saat Kushina yang tengah memotong-motong sayuran mengangkat pisau yang digenggamnya ke udara saat bicara.

Tidak lucu jika seandainya ibu angkatnya itu melempar pisau yang digenggamnya ke dirinya, kan? Hanya dengan memikirkannya saja sudah mampu membuat Kyuubi merinding ngeri.

Kushina mendesah keras sembari melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena Kyuubi kembali memohon ampunan untuk adiknya-Naruto.

Kejadiannya sudah hampir dua minggu berlalu tapi hingga detik ini baik Minato maupun Kushina masih enggan untuk menerima telepon dari putri bungsunya.

Kushina memotong sayurannya dengan kekuatan penuh. Wanita itu mendesah berat. Kemarahannya pada Naruto masih menumpuk dalam hatinya.

"Dan bukan berarti kami juga sudah memaafkanmu, Namikaze Kyuubi," ujar Kushina terdengar tajam dan menakutkan.

Kyuubi tidak menjawab. Ia bahkan terlalu takut untuk menatap wajah ibunya angkatnya saat ini. Jika Kushina dan Minato merasa kecewa jika ia melakukan kesalahan yang bertentangan dengan norma, maka keduanya akan merasa terkhianati apabila Naruto yang melakukannya.

"Bu, bukankah Sasuke sudah melamar Naruto dan bersedia menikahinya?" Kyuubi kembali bicara setelah jeda panjang.

Tubuh wanita muda itu tersentak kaget saat Kushina memukul keras papan talenannya dengan bagian pisau yang tumpul.

"Kau masih membela mereka?" Kushina berjalan cepat menuju meja makan. Ia menggebrak meja dengan keras. "Kau bahkan berani membohongi kami dan menutupi kejadian yang sebenarnya!" bentaknya kembali mengulang alasan kemarahannya pada Kyuubi untuk yang kesekian kalinya.

Kushina menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu menarik sebuah kursi dan duduk diatasnya dengan wajah mendung, kecewa. "Naruto hamil diluar nikah dan lebih parahnya bayinya..."

Kushina larut dalam kesedihannya. Ia meletakkan wajah di atas kedua tangannya yang dilipat di atas meja makan. "Tuhan menghukumku karena aku tidak bisa membesarkan putriku dengan baik," bisiknya terdengar penuh penyesalan. "Dia mengambil kembali bayi dalam perut Naruto sebagai hukuman untukku."

"Bu?!" panggil Kyuubi lirih. Rasanya akan lebih baik melihat ibunya berteriak keras atau memukulnya daripada harus melihat wanita yang sudah membesarkannya itu menangis dan menyalahkan dirinya sendiri.

Inilah yang ditakutkan oleh Kyuubi saat ia memutuskan untuk berbohong dan menutupi kenyataan yang sebenarnya dari kedua orangtua angkatnya. Kyuubi hanya tidak mau melihat keduanya menjadi seperti saat ini.

Kushina mengelap air matanya dengan cepat. "Kita akan segera menikahkan Sasuke dan Naruto," putusnya masih dengan suara bergetar. "Kami memang kecewa pada keduanya tapi mereka tetap harus menikah setelah apa yang mereka lakukan."

Kyuubi tidak menjawab.

"Bagaimana kabar Sasuke?" tanyanya mengejutkan Kyuubi.

Kyuubi tidak menyangka jika Kushina akan bertanya mengenai kekasih adiknya itu.

"Sudah lebih baik, walau belum bisa berjalan normal," terang Kyuubi tenang.

Keheningan meraja. Kyuubi tahu jika jauh dalam hati Kushina, dia mengkhawatirkan keadaan Natuto. Karenanya Kyuubi menunggu dan akhirnya pertanyaan itu meluncur dari tenggorokan ibu angkatnya, "Bagaimana dengan Naruto?"

Kyuubi tidak langsung menjawab. Dalam hati ia tersenyum dan mendesah lega. "Naruto sudah kembali bekerja seperti biasa. Itachi terus memaksanya untuk makan dan istirahat teratur, Bu. Seperti Sasuke, Naruto juga sangat keras kepala, mereka menjadikan pekerjaan sebagai pelarian untuk melupakan masalah mereka saat ini."

"Tolol!" maki Kushina geram. Ia mengambil napas dalam. Sejenak meragu. "Besok pergilah ke Tokyo. Ambil bus paling pagi dan bawakan sup ginseng buatan ibu untuk mereka," ujar Kushina kaku. "Setelah kondisi Sasuke membaik, suruh mereka datang menemui kami!" perintahnya yang segera dijawab anggukan penuh semangat dari Kyuubi.

.

.

.

Setelah berkendara menggunakan bus selama lima jam lamanya menuju Tokyo, Kyuubi akhirnya bisa bernapas lega saat melihat gedung tinggi apartemen yang menjulang di hadapannya. Wanita itu sudah menghubungi adik angkatnya, bertanya dimana dia sekarang sebelum meluncur ke apartemen milik Sasuke ini.

Kyuubi bersenandung, sementara matanya melirik tas jinjing berwarna merah yang dibawanya. Senyumnya semakin lebar saat ingat isi dari tasnya-sebuah termos berukuran sedang berisi sup ginseng buatan Kushina. Kyuubi bahkan harus rela melakukan perjalanan darat hanya demi membawa sup ginseng itu.

Sepadan, pikir Kyuubi. Semua ini akan sepadan jika orangtua angkatnya bersedia memaafkan Naruto dan Sasuke, batinnya.

"Hai!" sapa Kyuubi saat Naruto membuka pintu apartemen Sasuke lebar. Kyuubi bisa melihat kantung mata adik angkatnya semakin tebal dan hitam. Wajah Naruto bahkan terlihat lebih pucat dari terakhir ia melihatnya. "Boleh aku masuk?" tanyanya terdengar basa-basi.

Naruto tersenyum lembut, tanpa suara ia mempersilahkan Kyuubi untuk masuk.

"Lihat apa yang kubawa," ujar Kyuubi seraya meletakkan tas jinjing merahnya di atas meja tamu. Wanita itu tersenyum penuh misterius lalu mengangkat tangan kanannya saat melihat Sasuke berjalan mendekat ke arahnya dengan bantuan sebuah tongkat. "Sup ginseng buatan ibu," sambungnya yang disambut oleh pekikan takpercaya Naruto.

"Terkejut?" tanyanya dengan senyum dan binar jail. "Ibu sengaja membuat sup ginseng ini untuk kalian," terangnya membuat Naruto menangis haru, sementara Sasuke memeluk tubuh tunangannya yang bergetar karena bahagia. "Ayah dan ibu memang marah..." Ia merenung. "Sangat marah," ralatnya cepat. "Tapi mereka sangat mencemaskan kalian," sambungnya tenang.

Naruto tidak menjawab. Dibawanya termos kecil berwarna perak itu ke dalam pelukannya. "Aku akan membawa mangkuk dan sendok," ujarnya sebelum beranjak pergi.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kyuubi pada Sasuke setelah kepergian Naruto.

"Lebih baik," jawab Sasuke pendek. Pria itu mendudukkan diri dengan susah payah di sofa., dan mendesah lega setelah berhasil melakukannya. "Apa yang kaukatakan tadi benar?" tanyanya. "Tentang kekhawatiran orangtua Naruto," sambungnya saat Kyuubi menatapnya dengan satu alis terangkat.

Kyuubi mengangguk pelan. "Untuk apa aku berbohong?"

"Syukurlah," ujar Sasuke lega. Ia tersenyum getir. "Rasanya jiwaku benar-benar mati saat melihat kesedihan di mata Naruto," terangnya membuat Kyuubi tersenyum maklum. "Aku tidak bisa menghiburnya karena aku tahu jika semua itu sia-sia."

"Setidaknya sekarang kalian memiliki harapan untuk mendapat restu dari orangtua kami," kata Kyuubi berusaha untuk menenangkan. Sasuke tersenyum kaku. "Yang perlu kaulakukan setelah ini adalah menjaga Naruto dengan jiwa dan ragamu. Apa kau mengerti?"

Sasuke tersenyum tipis. "Aku mengerti, kakak ipar," jawab dengan sebuah nada humor yang terselip dalam suaranya hingga membuat Kyuubi tertawa keras. Wanita itu tidak menyangka jika ternyata Sasuke bisa bercanda.

Hm... tidak buruk memiliki adik ipar seperti Sasuke, pikir Kyuubi puas.

.

.

.

Selama satu bulan berikutnya, kehidupan Naruto dan Sasuke terasa lebih baik. Keduanya saling menguatkan dan memberi dukungan satu sama lain, terlebih Naruto pada Sasuke yang tengah berjuang untuk bisa berjalan normal seperti biasanya.

Sasuke merasa lega karena tembakan pada tempurungnya tidak membuatnya cacat secara permanen.

Disisi lain, hubungan Sasuke dan Fugaku pun berangsur membaik, walau keduanya masih terlihat sangat canggung. Itachi dan Naruto bahkan sering berkomplot-meninggalkan keduanya untuk beberapa waktu agar mereka memiliki waktu untuk mendekatkan diri dan hasilnya... seringkali hasilnya hanya sebuah keheningan panjang yang nyaris membuat Itachi serta Naruto yang memantau dari kejauhan menjambak rambut karena frustrasi.

Setidaknya hubungan keduanya sudah ada kemajuan, pikir Naruto lelah. Setelah memikirkan kejadian sebulan kebelakang setelah kedatangan Kyuubi, ia memeluk lututnya sendiri. Besok waktu bagi dirinya dan Sasuke untuk menghadapi ibu dan ayah Naruto.

Perutnya terasa mulas saat bayangan kekecewaan ibu dan ayahnya kembali melintas dalam benaknya. Benar, batinnya. Kedua orangtuanya bukan hanya merasa kecewa, keduanya juga merasa dikhianati.

Penyesalan selalu datang terlambat, bukan? Naruto memejamkan mata. Ia tidak bisa memutar waktu dan mengubah semua yang telah terjadi. Yang ada untuknya saat ini adalah menghadapi dan bertanggung jawab untuk kesalahan yang telah dilakukannya.

"Apa kau sudah siap?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Sasuke membuat Naruto tersentak kaget.

Wanita itu menoleh ke belakang, dan mengulum sebuah senyum simpul. "Bagaimana jika ayah dan ibu tidak memaafkan kita?" tanyanya saat Sasuke duduk di sampingnya.

Naruto mendesah berat lalu menyandarkan kepalanya pada bahu bidang Sasuke.

"Bukankah kita sudah sepakat untuk menghadapinya?" tanya Sasuke dengan nada tenang. Pria itu mengecup kening Naruto lembut lalu membelai tangannya untuk menenangkan. "Jangan takut," sambungnya saat Naruto tidak kunjung membalas ucapannya. "Aku yakin jika mereka akan memaafkan kita, dan jika tidak..."

Sasuke menjeda.

"-jika tidak, maka kita akan terus memohon untuk pengampunan mereka," sambungnya dengan sebuah senyum hangat yang menular cepat.

.

.

.

TBC

Hai... harusnya ditamatin dichap ini. Tapi keburu lelah... ahahahaha... #Alesan

Harap bersabar aja yak untuk kelanjutannya. Xixixixi.. XD

#WeDoCareAboutSFN