Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M+ (Mature Content!)
Genre : Romance, Drama
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
I'm Sorry, I Love You
Chapter 19.2 : My Old Story
By : Fuyutsuki Hikari
There's a big difference between falling in love with someone and falling in love with someone and getting married. Usually, after you get married, you fall in love with the person even more.
Dave Grohl
.
.
.
Tidak ada yang bisa mengejutkan Fugaku selain kedatangan Sasuke siang ini ke kediamannya. Canggung begitu terasa saat ayah dan anak itu duduk bersebrangan di ruang keluarga hingga hening pun tercipta. Sasuke terlihat gugup, begitupun dengan sang ayah. Jujur saja, hubungan keduanya memang sudah sedikit membaik, tapi Fugaku tidak menyangka jika putra bungsunya akan pulang, sengaja menyempatkan waktu untuk mengunjungi pria tua itu di kediamannya.
"Bagaimana keadaanmu?" Pertanyaan Fugaku merobek keheningan yang tercipta diantara mereka. Sasuke tidak langsung menjawab. Yang lebih muda merubah posisi duduknya tepat saat dua orang pelayan wanita masuk ke dalam ruangan membawa minuman dingin dan makanan ringan untuk disuguhkan.
Sasuke memijat bagian belakang lehernya. Tersenyum kaku pria itu menjawab, "Baik."
Fugaku menganggukkan kepala. "Bagaimana hubunganmu dengan Naruto?" tanyanya, terlihat sangat serius saat ini. Sementara menunggu jawaban putra bungsunya, dia meraih cangkir teh dari atas meja lalu menyesap teh hangat pelan. "Apa ada masalah?" tanyanya lagi, meletakkan cangkir ke atas meja.
Sasuke mengembuskan napas panjang. Setelah berdebat dengan dirinya sendiri, pria itu berhasil mengumpulkan keberanian untuk meminta pertolongan sang ayah, "Boleh aku meminta sesuatu kepadamu?"
Fugaku menekuk kening dalam. Bukan kebiasaan Sasuke meminta sesuatu darinya. "Apa yang kau inginkan?" Dia balik bertanya dengan ekspresi serius. Kedua mata Fugaku dipicingkan sempurna, udara di sekitarnya seketika memberat, "Apa ada seseorang yang mengancammu? Kau ingin ayah menyingkirkannya? Katakan saja, siapa yang harus ayah singkirkan untukmu?"
Kekehan Sasuke membuat Fugaku semakin memicingkan mata. "Jadi bukan itu?" Gelengan kepala yang lebih muda menjawab pertanyaannya. "Lalu, apa yang kau inginkan? Katakan!"
Sasuke menelan dengan susah payah. Dari gerakan tubuhnya, Fugaku tahu jika putranya tengah bergelut dengan dirinya sendiri. "Ayah, tolong lamar Naruto untukku!"
"Ya Tuhan, Sasuke!" Fugaku mengangkat kedua tangannya ke udara. "Kau membuatku takut. Ayah kira ada seseorang yang mengancam nyawamu tadi. Jadi kau ingin ayah melamar Naruto?"
Sasuke menganggukkan kepala. "Jika tidak berhasil, aku tidak yakin bisa melanjutkan hidup."
"Kau ini bicara apa?" bentak Fugaku, kesal. "Ada jutaan orang yang terus berjuang untuk tetap hidup, jadi rasanya sangat tidak sopan jika kau menginginkan mati semudah itu!" tegurnya membuat Sasuke merenung, malu.
Fugaku terdiam sejenak. Diamatinya dalam yang lebih muda dalam keheningan. "Kenapa ayah berpikir jika orang tua Naruto mungkin menolak lamaranmu? Tolong katakan jika pemikiran pria tua ini salah."
Sasuke mengembuskan napas keras. Pria itu menengadahkan kepalanya tinggi. "Memang tidak salah," ucanya, tidak membantah. "Walau kedua orang tua Naruto sudah bersikap lebih baik, tapi aku tidak yakin masih bisa meyakinkan mereka untuk menerimaku sebagai menantu."
"Apa kau melakukan kesalahan?"
Sasuke meringis. Ia mengusap wajahnya, kasar. "Kesalahan besar, Ayah. Dan aku merasa sangat malu," jawabnya sebelum bercerita mengenai hubungannya dengan Naruto. Sasuke bahkan tidak menutupi kegilaannya itu dari ayahnya. Dia hanya ingin sang ayah bisa paham dengan jelas mengenai hubungannya dengan Naruto.
Embusan napas Fugaku terdengar keras setelah Sasuke selesai bercerita. Kedua netra tajamnya terlihat menyendu. "Semua ini salah ayah," ucapnya membuat Sasuke mengangkat wajah, dan menatapnya dengan ekspresi campur aduk. "Seharusnya ayah mendidikmu dengan lembut," sambungnya, "jika ada yang harus disalahkan, itu ayah. Orang tua ini bukan sosok ayah yang baik hingga putranya hanya bisa meniru perilaku jelek."
Fugaku menggelengkan kepala. Penyesalan menari-nari di kedua matanya. "Tidak ada hal baik yang bisa ditiru dariku. Maafkan ayah, Sasuke!"
Sasuke tidak langsung menjawab. Kesedihan yang menyelimuti ruangan itu membuatnya tidak nyaman. "Aku akan memaafkan Ayah jika Ayah berhasil menjadikan Naruto sebagai istriku. Bagaimana?" tantangnya membuat yang lebih tua menjadi bersemangat. "Ayah, aku ingin menikah secepatnya dengan Naruto. Bagaimana ini?"
"Keinginanmu menjadi perintah untukku," kekeh Fugaku. "Tenang saja, Nak, ayahmu ini pasti berhasil menjadikan Naruto sebagai istrimu," janjinya membuat senyum tulus Sasuke terkembang, siang itu.
Dan seperti yang sudah dijanjikan oleh Fugaku, dengan persiapan matang dan cermat kepala keluarga Uchiha itu menyusun rencana untuk mendekati kedua orang tua Naruto. Beberapakali Fugaku menghubungi Minato, memperkenalkan diri sebagai ayah dari Sasuke dan secara blak-blakkan mengutarakan keinginannya untuk menjadikan Naruto sebagai menantu.
Pendekatan Fugaku dimulai dengan lancer karena ternyata kedua pria itu memiliki hobi yang sama hingga frekuensi obrolan mereka pun meningkat. Kadang Fugaku yang menghubungi terlebih dahulu, tapi tidak jarang Minato menghubungi terlebih dahulu karena Fugaku mengatakan jika setelah pension dari jabatannya, dia tidak memiliki kegiatan lain untuk dilakukan, hingga pertemuan keluarga pun dilakukan satu bulan kemudian.
Makan malam diadakan di salah satu restoran ternama hari itu. dengan pakaian formal kedua keluarga datang dan duduk nyaman serta berbincang hingga makanan selesai dihidangkan dan disantap. Gelak tawa menghiasi makan malam itu, walau ada sepasang kekasih yang terlihat sangat gugup di sana.
Fugaku mengelap ujung mulutnya dengan serbet sebelum meneguk air putih di dalam gelas. Kepala keluarga Uchiha itu menarik napas dalam sebelum akhirnya bicara dengan nada dan ekspresi serius, "Jadi bagaimana?" tanyanya kepada Minato dan Kushina. "Apa boleh jika aku meminang putri bungsu kalian untuk putra bungsuku?"
Minato tergelak. Sejak saling mengenal, sudah puluhan kali Fugaku bertanya mengenai hal itu kepadanya, dan kini kepala keluarga Uchiha kembali bertanya dengan sangat serius, "Tentu saja putra bungsumu harus menikahi putriku," sahut Minato yang tanpa sadar sudah membuat sepasang kekasih itu mengembuskan napas dengan penuh kelegaan.
Dia menjeda, melirik Sasuke dan Naruto bergantian. "Hubungan mereka sudah sangat jauh, dan keluargaku masih sangat kuno dalam hal ini, jadi tanpa kau meminta pun, aku akan meminta pertanggungjawaban putra bungsumu untuk menikahi putri bungsunku," tandasnya, tegas.
Minato meraih pergelangan tangan kanan Naruto ke dalam genggamannya. Sorot mata pria itu menyendu. "Putriku mungkin bukan wanita paling cantik di dunia, tapi hatinya sangat baik, dan sampai kapanpun dia akan menjadi permata hatiku," ujarnya, serak. Tatapan Minato beralih kepada Sasuke, "Boleh jika ayah meminta sesuatu darimu, Sasuke?"
"Tentu," Sasuke mejawab dengan serius.
"Jika suatu hari nanti hatimu berubah, tolong kembalikan dia kepada kami. Jangan menyakitinya lebih lama, kembalikan saja dia kepada kami karena kasih sayang kami kepadanya hanya bisa diputuskan oleh maut," ucap Minato, serak. Di sampingnya, Kushina menunduk, menghapus air mata yang jatuh dengan saputangan.
"Ayah, aku mungkin bukan pria sempurna," ucap Sasuke. "Namun, aku berjanji akan mencintai dan menjaga putrimu hingga embusan napas terakhirku," ucapnya. "Aku tidak bisa menjanjikan kehidupan kami akan sangat mulus ke depannya, tapi aku berjanji akan selalu mencintainya. Aku akan melindunginya walau tidak bisa sehebat Anda."
Minato menganggukkan kepala. Pria itu menoleh, tersenyum lembut saat menatap putri bungsunya. "Kau sudah yakin untuk menikah dengan Sasuke?" Dia bertanya kepada Naruto dengan lembut. "Ayah akan menerima lamaran ini hanya jika kau setuju," tambahnya membuat Naruto menangis dan terisak di dalam pelukannya.
"Ayah?" Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Naruto saat ini. Memiliki keluarga yang sangat mencintainya merupakan sebuah anugerah besar untuk wanita itu. "Maaf jika aku sering mengecewakan Ayah dan ibu, tapi ya, aku sangat ingin menikah dengan Sasuke."
Minato tersenyum. Yang lebih tua menepuk-nepuk punggung putrinya dengan penuh kasih. "Ingat, pernikahan ini atas keinginan kalian berdua, jadi jika suatu hari nanti ada masalah datang, cobalah menyelesaikannya terlebih dahulu dengan kepala dingin. Apa kau mengerti?"
Naruto menganggukkan kepala di dada sang ayah.
"Pernikahan tidak selalu mudah," lanjut Minato, "tapi di dalamnya kau akan menemukan sesuatu yang tidak akan pernah kau temukan saat dirimu melajang. Menyatukan dua kepribadian yang berbeda tidak akan pernah mudah, tapi jika kalian bisa berkomunikasi dengan baik, maka hal itu tidak akan menjadi masalah yang berlarut-larut. Apa kau mengerti?"
Naruto kembali menganggukkan kepala.
"Baiklah, jadi kapan kita akan menggelar pesta pernikahan keduanya?" tanya Minato bersemangat hingga Kyuubi dan Itachi berteriak kegirangan di dalam ruangan itu.
Berhasil, pikir Kyuubi yang berharap segera mendapatkan keponakan dari Naruto.
Berhasil, pikir Itachi yang berharap bisa menjadi semakin dekat dengan Kyuubi.
Ah, pantas saja keduanya terlihat paling bersemangat, malam ini.
.
.
.
Pertengahan musim gugur, pernikahan keduanya pun digelar dengan sederhana. Hanya kerabat dekat yang diundang untuk menyaksikan janji suci yang diucapkan oleh kedua calon mempelai.
Gugup melanda Sasuke saat pria itu berdiri di depan altar, menunggu dengan tidak sabar sang mempelai wanita. Degup jantungnya bertalu heboh saat para pemain musik mengiringi kedatangan sang mempelai wanita yang berjalan melintasi jalur manuju altar bersama sang ayah.
Sasuke tersenyum, begitu tulus hingga tidak menyadari air matanya jatuh. Tuhan, benarkah wanita yang tengah berjalan mendekat ke arahnya itu Naruto?
Cantik, mempelainya benar-benar terlihat sangat cantik hingga Sasuke merasa sangat tidak pantas sekaligus beruntung karena Tuhan mengirim bidadari cantik itu untuknya.
Sasuke masih menangis saat Minato memberikan telapak tangan putri bungsunya kepada calon mempelai pria. Sasuke terkekeh saat pandangannya bertemu dengan Naruto. "Hei, Beautiful!"
Senyum Naruto terkembang. Satu tangan bebasnya menghapus jejak air mata di kedua pipi calon suaminya. "Hello, Darling?" balas Naruto, lembut. Keduanya kembali saling melempar senyum sebelum menghadap pendeta yang telah menunggu.
Upacara pemberkatan pun dimulai dengan khidmat. Hingga janji pernikahan pun diucapkan oleh kedua mempelai dengan sepenuh jiwa, "Namikaze Naruto, aku mengambil engkau menjadi seorang istriku, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus," ucap Sasuke yang segera dibalas dengan janji pernikahan oleh Naruto.
"Uchiha Sasuke, aku mengambil engkau menjadi seorang suamiku, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus,"
.
.
.
Hari ini keduanya mengikat janji sehidup semati, saling menjaga hingga maut memisahkan. Dan seperti orang tua mereka katakan, kehidupan rumah tangga tidak selalu mudah. Namun, keduanya berjanji akan bersama-sama, bahu membahu mengatasinya.
Komitmen keduanya sudah bulat. Komunikasi dijadikan landasan keduanya untuk menghadapi cobaan yang datang memberi salam.
Tidak mudah, benar tidak mudah. Namun, semuanya menjadi lebih indah saat permata pertama mereka lahir melengkapi keluarga kecil mereka di musim gugur tahun berikutnya. Uchiha Menma lahir menyemarakkan kehidupan keduanya.
Senyum merekah, walau tangis kadang datang menyapa. Namun, keduanya bertahan. Di depan Tuhan keduanya telah berjanji untuk saling menjaga hingga maut memisahkan, dan bagi keduanya, janji itu akan terus digenggam hingga embusan napas terakhir, dan malam ini, cerita keduanya pun berakhir dengan bahagia.
.
.
.
END
Hallo2! Akhirnya cerita ini mendapatkan akhir. T-T
Terima kasih untuk dukungan semua pembaca yang tidak ada lelahnya menunggu hingga akhirnya cerita ini berhasil saya selesaikan. Saya meminta maaf untuk segala kekurangannya. Semoga pembaca menyukai bagian akhir dari cerita ini. Sampai jumpa di cerita-cerita saya yang lain. (:
#WeDoCareAboutSFN
