Selamat membaca.
Disclaimer : Semua tokoh Naruto milik Kishimoto sensei
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M
Genre : Crime, romance, family, angst
Warnings : Gender switch, OOC
Under Cover
Chapter 2 : I Know What You Did
By : Fuyutsuki Hikari
Saat ini sinar rembulan mulai memudar, udara musim semi masih sedikit menusuk pada dini hari dan mulai berubah menjadi embun, namun tidak ada satu pun di antara para murid yang melanggar peraturan itu berpikir untuk beranjak pergi dan kembali ke asrama. Mereka terlalu larut dalam euforia, kegembiraan yang sebenarnya semu, mereka merayakan kemenangan Sasuke dalam merebut gelar raja jalanan malam ini. Hebat, keren, dan mengagumkan, itu pikir mereka saat Sasuke berhasil menyalip pada tikungan akhir dan memenangkan balap mobil liar melawan siswa Sunagakure malam ini.
"Sepertinya kita harus segera kembali, Sas. Sudah jam tiga pagi," tukas Shikamaru melirik jam tangan sport hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Cepat sekali," keluh Kiba. Sasuke segera memberikan kunci mobil Bugatti Veyron warna hitam metalik dengan list merah di sisi kanan dan kirinya pada seorang pria muda yang ia percaya menangani mobil sportnya itu. Memintanya untuk membawa kembali ke garasi pribadi milik Sasuke untuk disimpan dan diperiksa secara menyeluruh esok hari. Sasuke segera berbalik menghadap kawan-kawannya setelah sang mekanik membawa pergi mobil sport kesayangannya itu.
"Kumpulkan yang lain, kita kembali ke asrama," ujar Sasuke datar. Setelah itu, mereka semua segera berjalan melalui jalan yang sama untuk kembali ke asrama. Sesekali terdengar kikikan dari beberapa siswi yang masih saja membahas kemenangan Sasuke malam ini.
"Kenapa berhenti?" tanya Sasuke saat beberapa murid berhenti berjalan tepat di depan pintu teralis besi.
"Pintunya digembok dari luar," terang salah satu siswa dengan nada suara panik.
"Apa maksudmu?" tanya Neji seraya berjalan ke arahnya, ia mendorong pintu dan meneguk air ludah saat mendapati ada sebuah gembok yang tergantung pada pintu teralis itu. "Seseorang menggembok pintu ini, Sas." Kata Neji sambil melirik ke arah Sasuke.
Kiba menendang pintu teralis itu dengan keras dan mengumpat, "Brengsek!"
Udara disekitar mereka menjadi tegang seketika, raut wajah para murid itu berubah kaku dan pucat. Mereka terlalu ngeri saat memikirkan hukuman yang akan diberikan pada mereka jika tertangkap basah keluar asrama tanpa ijin, apalagi beberapa di antara mereka berbau alkohol karena minuman yang mereka tenggak.
Sasuke terdiam. Wajahnya terlihat tenang, tapi sorot matanya berkilat marah. Dengan rahang yang mengeras, ia berjalan mendekati Neji dan menatap gembok yang terpasang kokoh pada bagian luar pintu teralis. "Kita tidak mungkin memanjat melewati tembok luar, ada wanita bersama kita," kata Sasuke.
"Benar," Neji menyetujui. "Tembok itu terlalu tinggi untuk wanita, lagipula terlalu memakan banyak waktu untuk berjalan kesana. Aku takut jika pengawas menemukan kita."
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Kiba merinding ngeri.
"Aku perlu jepit rambut," kata Shikamaru tiba-tiba, mengagetkan semua orang yang berada di lorong saluran air itu.
"Untuk apa?" tanya Neji, ia mengernyit heran.
Shikamaru berdecak. Ia menunjuk ke arah pintu yang tergembok dan menjawab santai, "Membuka gembok itu tentu saja."
"Kamu bisa?" tanya Kiba serius dan penuh harap.
"Entahlah," jawab Shikamaru tidak yakin. "Setidaknya kita harus mencoba, aku pernah melihatnya di serial drama detective," ia menarik napas panjang. "Jadi, apa ada yang memakai jepit rambut?" tanya Shikamaru lagi.
Sakura berjalan mendekati Shikamaru dan menyodorkan jepit rambut berwarna hitam yang dipakainya. "Apa ini bisa dipakai?" tanyanya penuh harap.
Shikamaru menerima jepit rambut itu, menimang-nimang dan menjawab, "Sepertinya bisa," ia membengkokkan jepit rambut milik Sakura hingga menyerupai sebuah tusuk konde mini. "Aku memerlukan satu jepit lagi."
"Ini," Tenten memberikan jepit rambutnya.
Tanpa banyak bicara, Shikamaru segera bekerja. Memasukkan kedua jepit rambut itu dan mencoba membuka gembok pintu. Kesunyian menyergap seketika saat Shikamaru mengerjakan pekerjaannya. Mereka khawatir, cemas, dan terlalu takut saat ini. Sepuluh menit berlalu dengan cepat, tapi Shikamaru masih belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilan.
"Bagaimana ini?" bisik beberapa murid yang mulai panik. Sasuke melirik jam tangannya, sudah hampir jam empat pagi. Itu berarti mereka hanya mempunyai kurang dari sepuluh menit untuk kembali masuk ke asrama. Karena tepat pukul empat pagi, para penjaga asrama akan berkeliling untuk memeriksa keadaan dan berganti shift setelahnya.
"Ah, berhasil!" seru Shikamaru. Perlahan, ia pun membuka pintu teralis yang berderit karena engselnya kurang minyak.
Para remaja itu terpekik senang. Namun, segera disadarkan oleh Gaara. "Cepat kita pergi dari sini! Sebentar lagi penjaga akan berkeliling," katanya penuh penekanan. Tanpa banyak bicara, mereka pun segera keluar dari saluran air itu menuju asrama untuk beristirahat sejenak di kamar masing-masing.
Kiba menjadi pengawas keadaan saat murid-murid yang lain mengendap-endap masuk ke dalam asrama. Matanya menatap tajam sekeliling, telinganya ia pasang untuk mendengar jika ada pergerakan yang mencurigakan. Setelah semua orang masuk, ia pun dengan cepat mengikuti langkah mereka masuk ke dalam asrama.
.
.
.
Keesokan harinya suasana kelas lebih ribut dari biasanya. Naruto berjalan memasuki kelas dengan tenang padahal hatinya bersorak gembira, bahkan jika saja bisa, niscaya ia sudah berguling-guling karena bahagia saat mendengar pembicaraan salah satu siswi yang menceritakan ketakutan para murid karena ada yang telah menggembok pintu teralis saluran air tadi malam.
"Coba bayangkan apa yang akan terjadi jika kami masih ada di dalam saluran air itu saat para penjaga berkeliling sekolah," ujar salah satu siswi dengan mimik wajah yang ketakutan.
"Kalian mungkin akan diskors, yang terparah mungkin akan dikeluarkan," sahut siswi satunya lagi.
Mereka benar-benar beruntung bisa keluar dari saluran air itu, batin Naruto yang saat ini sudah duduk manis dibangkunya, membuka buku pegangan jam pelajaran pertama dan berpura-pura membaca isinya. Padahal, telinganya ia pasang untuk mencuri dengar percakapan beberapa murid lain mengenai kejadian dini hari tadi.
Beberapa saat kemudian, telinga Naruto bisa menangkap dengan jelas teriakan-teriakan para siswi yang mengelu-elukan nama Sasuke. Apa bagusnya pantat ayam itu?batin Naruto tidak mengerti, sedangkan matanya masih terfokus pada buku Literatur Kuno. Sekolah-sekolah di Jepang memang dibebaskan untuk meramu sendiri kurikulum yang diterapkan. Namun, mereka tetap memiliki standar mata pelajaran yang sama, yaitu Matematika, Bahasa Jepang, Bahasa Inggris, Science, Sports, Penjas, Sejarah, Intergrated Course, Home Room, serta Kesenian dan Keterampilan.
Sasuke cs masuk ke dalam kelas dengan kepala tegak, melangkah dengan angkuh seolah-olah dunia berada di bawah kaki mereka. Sasuke terus melangkah dengan mantap, menulikan telinganya saat para siswi memanggil namanya dan menyapa dengan gerakan menggoda yang terlalu berlebihan. Tanpa banyak bicara, mereka pun duduk di kursi masing-masing.
Tidak lama berselang, bel jam pelajaran pertama pun berbunyi. Suasana kelas mendadak hening saat Asuma sensei masuk dengan membawa beberapa buku literatur kuno. "Ohayou," sapanya penuh wibawa.
"Ohayou," jawab para murid kompak.
Asuma meraih buku absen dan mulai mengabsen murid satu persatu. Matanya sedikit lama menatap Naruto dan ia pun tersenyum kecil ke gadis itu. Setelah selesai mengabsen, Asuma pun segera memulai pelajarannya.
.
.
.
Matahari semakin meninggi saat Asuma meninggalkan kelas, tepat beberapa detik setelah bel jam pelajaran pertama selesai. Para murid memiliki waktu selama lima belas menit, mempersiapkan segala sesuatu untuk jam pelajaran ke dua. Dan setelah itu, waktu terasa berjalan begitu cepat. Saat ini sudah masuk jam istirahat, Naruto memasukkan buku sciencenya ke dalam tas. Meregangkan otot-otot tangan dan leher yang terasa kaku.
"Sasuke-kun, tolong terima bento milikku!" teriak seorang siswi penuh harap yang menyebabkan suasana kelas kembali gaduh. Beberapa siswi berdesakkan di depan meja Sasuke, saling berebut agar bento mereka diterima oleh sang pujaan hati.
Naruto mendengus pelan. Remaja sekarang benar-benar berani. Bagaimana mungkin seorang wanita bisa dengan mudah mengungkapkan perhatiannya pada pria yang disukai? katanya dalam hati sambil merinding ngeri. Naruto menghela napas dan termenung dalam lamunannya. Apa itu rahasianya, bertindak agresif? Ah, mungkin aku harus agresif agar Dei-kun mau melihatku, batinnya penuh sesal.
"Belikan kami makan siang!" suara baritone itu membangunkan Naruto dari lamunanya. Suara dalam dengan nada memerintah yang begitu jelas. Naruto menengadah, menatap balik Gaara yang menjulang di hadapannya dengan berani.
"Maaf?" tanya Naruto dengan suara dingin dan datar.
"Aku tidak menyangka, selain bodoh, kamu juga bermasalah dengan pendengaran," ejek Gaara yang sukses membuat Naruto menggertakan gigi dengan keras. Gaara segera duduk di meja Naruto, mengangkat dagu gadis itu dan berbisik tepat di depan wajah Naruto. "Belikan kami makan siang!"
Naruto menepis tangan Gaara dengan keras, berdiri dan segera merapikan roknya. "Minggir!" usir Naruto agak keras, cukup untuk menarik perhatian tiap murid yang masih berada di dalam kelas ke arahnya. Para siswi yang berada di meja Sasuke saling berbisik dan menatap Naruto tidak suka.
"Ini daftar makanan yang harus kamu beli," kata Gaara sembari menyodorkan secarik kertas berisi daftar belanjaan kepada gadis itu. "Cepat kembali, aku sudah lapar!"
Naruto mengambil daftar belanjaan dan merobeknya menjadi potongan kecil tepat di hadapan Gaara. Naruto menyeringai, menarik dasi Gaara, dan merapikannya hingga Gaara terperanjat dibuatnya. "Tuhan memberikan kita sepasang kaki untuk berjalan, Sabaku-san. Dan sebaiknya anda menggunakannya dengan baik," desis Naruto begitu manis.
"Kamu berani melawan perintahku?"
Naruto memutar kedua bola matanya dan menggeleng pelan. "Kedua kaki Anda begitu sehat, dan saya rasa anda mampu untuk berjalan ke kantin seorang diri, tanpa harus meminta bantuan orang lain untuk membelikan semua kebutuhan anda. Bukan begitu?" balas Naruto dengan kesopanan yang dibuat-buat.
Gaara menggeram menahan marah dan menggebrak meja dengan keras. "Aku tidak meminta bantuan, aku memerintahmu!" katanya kasar.
"Dan siapa anda, berani sekali memerintahku?" sergah Naruto begitu tenang, menyebabkan amarah Gaara semakin meluap karenanya. Gaara yang merasa direndahkan oleh Naruto, akhirnya melayangkan sebuah tinju namun berhasil ditangkap dengan mudah, Naruto memelintir tangan kanan Gaara ke belakang hingga pria itu meringis kesakitan. "Sebaiknya tahan emosi anda, Sabaku-san. Sikap kasar bukan cara seorang gentleman!" bisik Naruto tepat di telinga kanan Gaara, dihentakkannya tubuh Gaara dengan keras hingga terjatuh. Lalu, Naruto melenggang pergi dengan santai, meninggalkan tatapan syok para murid yang menjadi saksi tindakan nekadnya yang sudah berani melawan Gaara.
"Bubar!" Sasuke memberikan perintah dengan tegas, dingin, dan tajam. Setiap murid terkecuali teman dekatnya segera membubarkan diri, menghambur keluar kelas, tanpa harus diperintah dua kali.
"Kamu nyaris memukul wanita, apa yang ada di pikiranmu?" tanya Neji yang berdiri di dekat Gaara.
"Dia bukan wanita, ia siluman rubah," desis Gaara tajam, sedangkan Kiba mengangguk-angguk setuju.
"Ia tetap wanita," bantah Shikamaru datar. "Bagaimana jika pukulanmu tadi mengenainya?"
"Tapi dia baik-baik saja, Shika. Naruto bahkan bisa membalas Gaara," bela Kiba yang merasa nasibnya sama seperti pria berambut merah itu. "Kalian ingat, saat Naruto menginjakku dengan keras kemarin? Rasanya bagai diinjak seekor gajah." komentar Kiba berlebihan. Membuat Sasuke, Shikamaru, dan Neji hanya bisa mendengus kecil, tanpa ada rasa simpati sedikit pun terhadap Kiba.
"Itu benar," kata Kiba lagi saat melihat kawan-kawannya itu berjalan meninggalkannya. "Kalian baru percaya jika sudah merasakannya sendiri."
"Hah, tapi dengan perlawanan seperti itu, membuat semuanya menjadi lebih menyenangkan. Bukan begitu?" tanya Shikamaru tenang. Sementara keempat lainnya hanya bisa tersenyum dan mengangguk kecil.
Gaara segera berjalan mengikuti Sasuke, tanpa bicara sepatah kata pun. Langkahnya terhenti saat Sasuke dengan tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik ke arahnya. "Aku ingin informasi tentang si blonde itu malam ini juga, Gaara."
Gaara mengangguk mengerti. "Aku akan mengusahakannya, Sas."
.
.
.
Di tempat lain, Naruto terus berjalan menyelusuri lorong sekolah dengan cepat menuju belakang gudang sekolah. Kakashi memintanya untuk menemuinya di sana saat jam istirahat. "Mana paman?" Naruto terus berjalan mondar-mandir menunggu Kakashi, sudah hampir dua puluh menit ia menunggu, tapi Kakashi sama sekali belum menampakkan batang hidungnya.
"Apa aku terlambat?"
"Pertanyaan bodoh, paman!" jawab Naruto ketus. Ia berdiri, berkacak pinggang, dan menatap tajam Kakashi yang berjalan tanpa beban ke arahnya.
"Aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu, Naruto, gomen ne," katanya seraya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Terserah, jadi paman dapat informasi apa?" tanya Naruto to the point.
"Ini," kata Kakashi menyerahkan sebuah agenda kecil bersampul kulit berwarna coklat kepada Naruto. "Di dalamnya tertulis lengkap kebiasaan dan teman-teman siswi itu."
"Sepertinya dia berteman dengan anak-anak nakal," tukas Naruto saat membaca isi dari buku agenda yang diberikan Kakashi. "Dan mereka bukan murid dari sekolah ini?" tanya Naruto, ia mendongak dan menatap heran Kakashi.
"Benar, akan sulit untuk kita memata-matai siswa dari sekolah lain itu," jawab Kakashi. "Aku rasa ini sudah diluar tanggung jawab kita. Aku akan laporkan ini pada Sarutobi-san. Jadi, kita akan fokus untuk menjaga Sasuke saja."
"Paman bercanda?" teriak Naruto. "Kita sudah sejauh ini, melepas kasus ini berarti menjadikan kita sebagai baby sitter pemuda brengsek itu?"
"Jaga ucapanmu, Naruto!"
"Itu memang benar, paman. Sasuke dan kawan-kawannya hanya sekelompok pemuda brengsek yang menyebalkan," cibir Naruto kesal. "Paman tahu apa yang mereka lakukan setiap tengah malam?"
"Apa?"
"Mereka keluar asrama, untuk balapan liar!" teriak Naruto lagi.
"Itu gejolak masa muda, biarkan saja. Yang penting mereka baik-baik saja, bukan begitu?" kata Kakashi dengan entengnya, membuat Naruto mendelik kesal dan menggeram marah.
"Itu bukan gejolak masa muda, paman. Itu sudah masuk kenakalan remaja!"
"Dan tugas kita untuk melindunginya, melindungi Sasuke."
"Aku tetap tidak bisa melepaskan kasus kematian siswi itu paman, dan tolong jangan katakan tentang laporan ini pada kakek. Beri aku waktu untuk menyelidiki lebih dalam, kumohon!" pintanya sambil menatap sendu.
"Jangan menatapku seperti itu," kata Kakashi yang mulai terpengaruh oleh tatapan sendu Naruto. "Baiklah, satu bulan, tidak lebih, dan jika terlalu beresiko, paman minta kamu segera menarik diri!"
"Siap laksanakan, komandan!"
"Pergilah, Naruto. Masih ada waktu lima belas menit untuk makan siang."
"Ok, jaa." Naruto melangkah pergi, perutnya sudah berbunyi karena lapar. Semoga masih ada roti melon! doanya dalam hati.
"Kamu berani melawanku, hah?"
Naruto menghentikan langkahnya saat mendengar suara tajam dan bunyi pukulan serta ringisan tidak jauh dari tempatnya berdiri. Naruto berlari mencari asal suara itu, dan menemukan lima orang siswa di sana. Tiga di antaranya duduk bersimpuh dengan raut muka takut.
"Apa yang kalian lakukan?" pertanyaan Naruto dengan nada tinggi membuat kelima siswa itu menoleh ke arahnya.
"Jangan ikut campur!" sahut salah satu siswa. Naruto berjalan semakin mendekat, dua orang siswa memasang ancang-ancang dan berteriak marah, "Pergi, atau kamu akan menyesal. Dasar cebol!"
Mulut Naruto terbuka seketika saat mendengarnya. Cebol? Dia mengataiku cebol? Dasar bocah tidak tahu diri! Naruto terus berjalan dengan aura hitam yang menguar di sekitarnya.
"Dengar, cebol, lebih baik kamu pergi dari sini! Sebelum kami melakukan hal yang sama padamu!"
Urat-urat kemarahan pada pelipis Naruto semakin menggurat nyata saat panggilan terlarang itu kembali dilayangkan padanya. "Apa katamu?"
Kedua siswa itu menyeringai. "Cebol!" seru mereka kompak.
Naruto menarik napas, mencoba menenangkan diri. Tidak lucu jika ia terpancing hasutan pemuda tanggung yang berdiri di hadapannya ini. Naruto melirik ke arah tiga siswa yang masih duduk, dengan kepala menunduk dalam dan diam membisu. "Apa yang kalian lakukan pada mereka?" tanya Naruto setenang mungkin, sedangkan jarinya menunjuk pada ketiga siswa itu.
"Bukan urusanmu, cebol! Dengar, kami tidak suka berurusan dengan wanita, tapi jika kau terus ikut campur, kami tidak akan segan untuk menghajarmu juga!"
Alis mata Naruto naik saat mendengar pernyataan siswa itu, akhirnya ia mendengus dan tertawa karenanya.
"Apa yang lucu?"
"Kalian yang lucu," jawab Naruto santai. "Lepaskan mereka, aku tidak mau ada kekerasan disini."
"Brengsek!" teriak salah satu siswa sembari melayangkan tinjunya ke arah Naruto. Dengan gesit Naruto menghindar dan memukul perut hingga siswa itu tersungkur pingsan.
"Kurang ajar, berani sekali kamu memukul temanku," teriak siswa lainnya, tidak terima Naruto memukul pingsan temannya. Ia memberikan tendangan yang diarahkan pada rahang kiri Naruto. Namun, Naruto mampu menangkis dengan ringan. Menahan kaki siswa itu beberapa saat di udara dan menghempaskannya keras.
Siswa itu kembali bangkit dan melayangkan pukulan ke arah wajah Naruto. Lagi-lagi Naruto berhasil menangkisnya, meraih bahu siswa itu, dan membantingnya hingga menyebabkan debaman keras. "Berhenti mengganggu mereka, atau kalian akan menyesal!" Naruto memberikan ancaman yang mampu membuat bulu kuduk merinding. Siswa itu segera berdiri dan membopong temannya yang masih terkapar tidak sadarkan diri.
Ketiga siswa yang menyaksikannya hanya bisa melihat dengan takjub. Ini kejadian langka saat seorang siswi bertubuh kecil, mampu merobohkan siswa yang memiliki tubuh jauh lebih besar dan lebih tinggi darinya.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Naruto saat melihat ketiganya hanya menatap kearahnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Ketiganya hanya bisa mengangguk kecil. Naruto berjongkok dan memeriksa wajah ketiganya. "Kalian harus segera mengobati luka kalian ini," katanya saat melihat lebam yang mulai membiru di wajah ketiga siswa itu.
"Maaf, boleh kami tahu namamu?" tanya seorang siswa yang berperawakan gemuk.
"Namaku Namikaze Naruto, yoroshiku!"
"Aku Chouji," jawab siswa gemuk itu. "Ini temanku, Rock Lee dan Shino. Terima kasih sudah membantu kami."
"Sama-sama," jawab Naruto tulus. Ia segera berdiri dan membersihkan debu dari lututnya.
"Naruto-san, kamu benar-benar keren," puji Lee. "Andai aku bisa berkelahi sepertimu, mungkin kami tidak akan menjadi sasaran pukulan mereka terus menerus."
"Apakah hal ini sering terjadi?"
Chouji, Lee, dan Shino mengangguk. "Mereka sering kali meminta uang pada kami, dan mereka akan memukuli kami jika kami menolak," jawab Choji lirih.
"Kalian tidak laporkan perbuatan mereka pada guru?"
"Mereka mengancam kami, perlakuan mereka hanya akan bertambah parah jika kami melaporkannya," sahut Shino.
"Bagaimana reaksi guru saat melihat lebam di wajah kalian?" Naruto menatap ketiganya heran.
"Kami menutupi lebam dengan make up," jawab Lee sambil menyeringai lebar.
"Ah, bagaimana kalau kamu mengajari kami bela diri," pinta Shino penuh harap. Choji dan Lee melirik ke arah Shino sebelum akhirnya menatap Naruto dengan tatapan memohon.
"Kalian bisa belajar bela diri di dojo. Kenapa harus padaku?"
"Kami mohon!" mohon ketiganya kompak.
"Maaf, aku tidak bisa. Lebih baik kalian mendaftar di dojo saja. Aku harus pergi dan cepatlah kalian kembali ke kelas, sebentar lagi jam istirahat selesai."
"Kami mohon, kaichou!" ratap ketiganya.
"Kaichou? Kalian pikir aku ketua gangster? Jangan memanggilku seperti itu!" protes Naruto.
"Kaichou, tolong ajari kami bela diri!" Mohon ketiganya lagi, dengan kedua telapak tangan yang menyatu di depan dada.
Naruto segera berpikir keras sebelum akhirnya menjawab, "Kalian kelas berapa?"
"Kelas 2."
"Baiklah, aku akan menjadi pelatih kalian. Tapi dengan syarat."
"Apapun akan kami lakukan," sahut ketiganya penuh semangat.
"Kalian harus merahasiakan hal ini dari siapapun, dan jika aku memerlukan bantuan kalian, kalian harus bersedia membantuku tanpa banyak bertanya. Mengerti?"
"Baik, kami mengerti. Kapan kita bisa mulai berlatih?"
"Besok temui aku di perpustakaan, kita akan membicarakannya di sana."
"Arigatou, kaichou," teriak ketiganya lagi. Naruto hanya bisa menggeleng pasrah mendengar panggilan baru untuknya.
"Ok, lebih baik kalian obati luka kalian, dan segera kembali ke kelas!" Naruto berbalik dan segera pergi dari tempat itu.
"Kaichou, huh?"
Naruto berdiri mematung saat mendengar suara familier itu. "Apa yang kamu lakukan disitu? Kau menguping?"
Sasuke mengangkat kedua bahunya dan menatap Naruto acuh. "Kalian bicara sangat keras, wajar jika aku mendengar pembicaraan kalian, bukan begitu?" balas Sasuke dengan sinis.
"Kau mengikutiku?"
"Jangan terlalu percaya diri nona!" cibir Sasuke tajam. "Untuk apa aku mengikutimu?"
"Entahlah, hanya kamu yang bisa menjawabnya," sahut Naruto tak kalah sinis.
"Tenang, rahasiamu itu akan aman. Tapi, tentu dengan syarat."
"Rahasia? Apa maksudmu rahasia?" Naruto berpura-pura tidak mengerti dan bersikap begitu tenang.
"Jangan pura-pura tidak mengerti, Kaichou!" kata Sasuke sambil memberi penekanan pada kata kaichou.
"Apa maumu?"
"Belum kupikirkan, tapi aku akan segera memberitahumu jika aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan."
"Dengar, jika keinginamu itu melanggar norma, maka a—"
"Sudah kubilang jangan terlalu percaya diri!" Sasuke memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya dan mendengus. "Aku hanya tertarik pada wanita yang lebih tua," tambahnya santai.
Perkataan Sasuke itu entah kenapa bagaikan bom yang meledak untuk Naruto. Gila, pikirnya ngeri. Aku kan memang lebih tua darinya. Bagaimana kalau dia tertarik padaku? Naruto mulai cemas dan gugup. Tenang Naruto, saat ini dia mengira jika aku seumuran dengannya. Karena itu, seharusnya semua ini aman.
"Aku harap persyaratanmu itu tidak aneh Sasuke, dan jika keinginanmu tidak masuk akal, aku tidak segan-segan untuk menghajarmu agar tutup mulut!"
Sasuke menyeringai kecil. "Kamu terlalu berani nona! Aku jadi penasaran dimana kamu meletakkan semua keberanianmu itu?" katanya takjub. "Mana telepon genggammu?"
"Untuk apa?"
"Aku akan menghubungimu jika aku sudah mendapat apa yang ingin kamu lakukan untukku."
Dengan enggan Naruto memberikan telepon genggamnya pada Sasuke. Sasuke memanggil nomor pribadinya lewat telepon genggam Naruto. "Aku sudah menyimpan no telpon genggammu, dan aku juga menyimpan nomor pribadiku pada telepon genggammu," Naruto menerima telepon genggamnya dengan memicingkan kedua matanya. "Jangan coba-coba untuk tidak mengangkat telepon dariku atau—"
"Aku mengerti," potong Naruto cepat. "Kalau sudah selesai, aku mau kembali ke kelas."
"Hn."
Naruto terus mengutuk dalam hati, kenapa harus Sasuke yang melihatnya tadi. Kenapa aku merasa jika kehidupanku yang tenang akan segera terusik?
Sementara itu, Sasuke yang mengekor di belakang Naruto hanya bisa mengamini keberuntungannya saat ini. Selepas jam makan siang, ia segera pergi untuk menghindari Sakura yang terus saja menempel padanya tanpa tahu malu. Hingga akhirnya, ia menemukan tempat yang tenang di dekat taman belakang sekolah. Tempat dimana pohon sakura terbesar berdiri begitu kokoh dan cantik karena sedang menggugurkan kelopak bunganya. Sasuke hendak kembali ke kelas saat ia tidak sengaja mendengar pertengkaran Naruto. Awalnya, ia mau membantu Naruto. Namun, matanya hanya bisa menatap tak percaya saat Naruto dengan mudah menumbangkan salah satu siswa dan membanting siswa lainnya.
Neji langsung bersiul saat melihat Sasuke berjalan tepat di belakang Naruto. "Wah, wah, wah, ada apa ini? Kenapa sang pangeran bisa berjalan hampir bersamaan dengan gunung es?"
"Pangeran kita juga gunung es, Neji," sahut Shikamaru mengingatkan. Setelah berbicara seperti itu, Shikamaru menguap lebar dan segera tertidur kembali dengan tangan terlipat di atas meja untuk dijadikan bantalan kepala.
"Kamu dari mana, Sas?" tanya Gaara.
"Hn."
"Itu bukan jawaban," tegur Gaara yang terkadang kesal dengan sikap Sasuke. "Sakura terus mencarimu."
"Itu urusan dia, Neji," sahut Sasuke datar.
"Sasuke-kun!" teriak Sakura keras. Ia baru saja masuk ke dalam kelas dengan Tenten yang berjalan di sampingnya. Tenten segera duduk di kursinya sedangkan Sakura terus berjalan ke meja Sasuke. "Kamu kemana saja, aku mencarimu dari tadi," kata Sakura setengah merengek, berpose imut untuk menarik perhatian Sasuke, tapi sayang karena sepertinya Sasuke sama sekali tidak tertarik melayaninya.
"Pergi ke tempatmu, Sakura. Jangan membuatku muak!"
Sakura membatu saat mendengar suara Sasuke yang begitu tajam dan dingin. Rasanya ia ingin bumi terbelah dan menelannya bulat-bulat karena malu. Perlahan Sakura mundur dan segera duduk di kursinya.
"Perkataanmu terlalu kasar, Sas!"
"Hn."
Neji lagi-lagi hanya bisa menggelengkan kepala dan menghembuskan napas panjang.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Kiba?"
"Lihat," Kiba memberikan catatannya pada Gaara dan tersenyum lebar.
"Apa ini?" tanya Gaara dengan dahi berkerut.
"Ini daftar untuk menjahili Naruto," jawab Kiba bangga.
"Sebanyak ini?"
Kiba mengangguk antusias dan mengangkat jempol kanannya tinggi. "Ini daftar pertamaku," secepat kilat Kiba melemparkan sebuah penghapus papan tulis ke arah belakang kepala Naruto. Namun sial, lemparannya meleset karena Naruto tidak sengaja menunduk untuk mengambil pensilnya yang terjatuh.
"Arghhhh, sial," gerutu Kiba. "Ia seperti memiliki mata di belakang kepalanya."
"Itu tidak mungkin, Kiba." Neji terkekeh saat melihat kelakuan Kiba yang terlihat begitu putus asa saat ini. "Kurasa ia hanya beruntung."
Gaara menjentikkan jarinya di hadapan wajah Sasuke. "Sepertinya sang pangeran mulai terbius oleh pesona murid baru," Gaara tertawa mengejek. Sementara Sasuke hanya membisu.
"Tapi, Sasuke kan menyukai wanita yang lebih tua. Bukan begitu, Sas?"
"Setiap orang bisa berubah, Kiba. Termasuk teman kita ini," sahut Neji yang menepuk bahu kanan Sasuke dengan ringan.
Merasa mendapat tatapan dari arah belakang, Naruto pun menengok ke arah Sasuke cs, pandangan mata mereka bertemu untuk sekian detik, sebelum akhirnya Naruto mendelik dan membuang muka tidak suka.
"Lihat! Ia bahkan bisa tahu saat kita membicarakannya."
"Itu karena suaramu terlalu keras, Kiba," Gaara mencemooh dengan kedua tangannya disilangkan. Ia memiringkan kepalanya dan mengamati Naruto dari belakang penuh selidik.
.
.
.
Setelah selesai makan malam, Sasuke cs segera beranjak menuju kamar pribadi Sasuke yang luas. Gaara memberikan amplop manila coklat pada Sasuke dan segera duduk di samping Neji dengan santai.
Sasuke membuka amplop itu dan mengernyit heran. "Hanya ini?"
Gaara mengangguk. "Hanya itu, tidak ada informasi lain," katanya sedikit kecewa.
"Di sini tidak disebutkan asal sekolah Naruto sebelumnya, bagaimana bisa?" tanya Sasuke yang semakin heran.
"Jujur saja, Sas. Aku juga heran," sahut Gaara.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Neji penasaran.
Sasuke memberikan isi dari amplop manila itu pada Neji dan mulai menyeruput air teh hijau panasnya.
"Namikaze Naruto, delapan belas tahun, anak ke dua," Neji membaca laporan itu dengan lirih. "Kedua orang tuanya sudah meninggal?" kedua alisnya terangkat.
Sasuke, Shikamaru, Gaara dan Kiba langsung mendekati Neji saat dia membacakan laporan tentang orang tua Naruto. "Mana?" tanya Sasuke. "Aku tidak membacanya tadi," katanya lagi.
"Aku juga tidak membaca laporan itu sampai habis," aku Gaara.
"Jadi, Naruto yatim piatu," gumam Kiba pelan.
"Kenapa, Kiba? Menyesal sudah membuat list untuk menjahilinya?" kanya Gaara.
"Bu-bukan begitu," jawab Kiba agak terbata, didengar dari nada bicaranya saja sudah bisa dipastikan jika ia menyesal.
"Ia memiliki kakak laki-laki yang menetap di Washington," lanjut Neji terus membaca laporan itu penuh minat. "Gaara, apa hanya ini laporannya, tidak ada riwayat hidup?"
Gaara menggelengkan kepala. "Itu adalah laporan yang berhasil anak buahku retas dari arsip sekolah. Sepertinya tidak ada yang lainnya lagi."
"Naruto benar-benar misterius," sahut Shikamaru dengan mimik muka serius. "Menurutmu apa tidak aneh, pihak sekolah seolah-olah menutupi jati diri Naruto yang sebenarnya."
"Itu bisa terjadi, Shika. Jika murid itu termasuk ke dalam golongan penting," Gaara menimpali dengan tenang.
"Aku akan mengawasi pergerakannya," kata Sasuke santai.
"Maksudmu?" tanya keempatnya kompak.
"Aku akan memasang kamera di kamar Naruto."
"Hentai!" teriak keempatnya bersamaan. Sementara Sasuke hanya menyeringai kecil menanggapinya.
"Lalu, Sasuke. Mengenai orang yang sudah menggembok pintu saluran air itu bagaimana? Apa sudah ada titik terang?" tanya Kiba.
"Belum," Sasuke mendengus kesal. "Yang pasti, bukan pihak sekolah yang melakukannya."
"Kenapa kamu berpendapat seperti itu?" tanya Gaara.
"Karena pihak sekolah masih tenang, itu artinya mereka masih belum tahu mengenai saluran air itu."
Neji mennyipitkan matanya. "Menurutmu yang melakukannya adalah murid?"
"Entahlah, Neji, yang jelas aku tidak akan berhenti untuk menyelidikinya."
.
.
.
Keesokan harinya, tepat setelah jam istirahat berbunyi, Naruto segera bergegas ke kantin. Setelah mengisi perut, ia pun melangkahkan kaki menuju perpustakaan untuk memenuhi janjinya pada ketiga siswa yang kemarin ditolongnya. Ketiga siswa itu membungkuk, memberi hormat pada Naruto dan dengan kompak memanggilnya, "Kaichou!"
"Sst, pelankan suara kalian!" kata Naruto yang merasa risih diperlakukan secara berlebihan oleh ketiganya. "Dan jangan panggil aku kaichou!"
"Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapian, Lee!" potong Naruto tajam.
"Baiklah, sensei."
"Jangan panggil aku sensei, kecuali saat kita berlatih," desis Naruto. "Panggil aku senpai, karena aku satu tingkat di atas kalian."
Shino, Lee dan Kiba mengangguk dengan antusias.
"Sebelumnya, aku ingin mengingatkan kalian. Aku tidak akan memberi kelonggaran pada kalian, aku juga tidak akan segan-segan menghukum dengan keras jika kalian main-main, dan ingat, semua ini adalah rahasia kita!"
Ketiga siswa itu kembali mengangguk penuh semangat.
"Jujur saja, aku masih kebingungan untuk mencari tempat yang cocok untuk berlatih."
"Jangan khawatir, senpai! Aku yang akan mencarinya. Aku bisa mencari alasan, agar guru Gay memberikan ijin agar kita bisa memakai dojo yang sudah tidak dipakai."
"Baiklah, kalau begitu aku serahkan hal ini padamu, Lee. Dan cari aku, begitu kalian mendapat tempat!"
.
.
.
Hari-hari selanjutnya berlalu begitu cepat, di tengah malam Naruto harus mengikuti Sasuke secara diam-diam. Sudah dua hari ini Sasuke cs pergi keluar asrama untuk ke klub malam. Dan tugas Naruto adalah memastikan jika Sasuke selamat hingga kembali ke asrama.
"Bocah-bocah tengik itu sangat populer rupanya," Naruto berkata lirih saat melihat kelima pemuda itu duduk dengan nyaman pada satu bilik VIP dengan wanita cantik yang menggelayut mesra pada mereka. "Kenapa hanya aku yang begitu sulit mendapatkan kekasih?" tanya Naruto setengah berbisik. Benar, Naruto memang belum pernah merasakan memiliki seorang kekasih. Dulu, ia terlalu sibuk untuk menyelesaikan sekolahnya, terlalu serius untuk bisa menjadi intel handal. Naruto memang cantik, namun rekan-rekan laki-lakinya terlalu sungkan dan menghormatinya. Hingga akhirnya Naruto hanya bisa menggigit jari saat melihat wanita seusianya pergi keluar dengan menggandeng seorang pria.
"Tolong aku Tuhan, tolong segera pertemukan aku dengan cinta sejatiku," doa Naruto penuh harap. Ia terus duduk di sudut counter hingga tiga perempat malam, dengan wig hitam untuk menyamarkan penampilannya. Matanya dengan jeli terus mengawasi gerak-gerik Sasuke cs yang masih berada di ruang VIP tak bersekat itu.
Hari Jumat siangnya, jam pelajaran bahasa Inggris dimulai. Naruto hanya bisa bersungut-sungut saat Kakashi memasukkannya ke dalam kelompok Sasuke untuk tugas makalah. Setelah membagi kelompok dan memberi tugas, Kakashi pun keluar kelas dengan alasan yang tidak jelas.
"Apa?" tanya Naruto ketus saat kelima siswa populer itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Kiba hanya mengangkat bahu dan kembali membaca bukunya. Gaara mendelik dan mengarahkan pandangannya ke arah lain. Sementara Neji tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. Shikamaru kembali tertidur. Hanya tinggal Sasuke saja yang masih menatapnya lurus.
"Ada masalah dengan wajahku, Teme?" tanya Naruto tidak suka.
"Hn." jawab Sasuke singkat.
Ucapan Naruto terhenti di tenggorokan karena telepon genggamnya bergetar hebat di dalam saku roknya. Naruto mengambil telepon genggam itu, dan tersenyum manis saat membaca nama pada panggilan masuk. "Moshi-moshi?"
"..."
"Tidak, sama sekali tidak mengganggu," jawab Naruto lirih, mengabaikan pandangan lima siswa itu terhadapnya.
"..."
"Tentu, hari minggu ini aku pasti datang," Naruto menjawab dengan nada sedikit centil. Sementara tangan kanannya menyelipkan anak rambut pada bagian belakang telinganya.
"..."
"Ok, cafe biasa pukul dua siang."
"..."
"Wakatta, jaa," Naruto kembali memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku rok. Senyum kecil masih terukir di bibirnya. Naruto berdeham dan pamit untuk ke toilet saat kelima pemuda itu menatapnya penuh curiga.
"Menurut kalian, hari minggu nanti ia akan pergi kemana?" tanya Sasuke tanpa emosi setelah Naruto pergi dari hadapan mereka.
"Kurasa ia akan pergi kencan," jawab Shikamaru enteng.
"Kita harus mengikutinya," usul Kiba penuh semangat.
"Untuk apa?" tanya Neji.
Kiba memutar kedua bola matanya dan menjawab cepat, "Kita gagalkan acara kencannya."
"Aku setuju," sahut Gaara. "Bagaimana, Sas?"
"Hn." jawab Sasuke singkat, padahal dalam hati dia mengutuk siapapun laki-laki yang akan ditemui Naruto.
"Ok, sekarang kita harus bersikap biasa. Naruto sudah kembali," Kiba dengan cepat membuka buku bahasa Inggrisnya lagi dan berpura-pura serius membaca.
.
.
.
TBC
