Hai, author kembali #SoWhat? Nggak ada yang kangen juga... TT-TT
Hasil poling udah dapet, and ternyata lebih banyak yg memilih 'Naru' untuk pemanggilan chara Naruto (:
Ada beberapa readers yang menebak siapa yang akan ditemui oleh Naruto di sini. Untuk yang tebakannya benar, author kasih hadiah deh. Hadiahnya berupa kiss and special hugs dari Abang Orochimaru dan Neng Manda :D
#Nyanyi2LaguGwiyomi
Kiss and hugs author untuk semua silent readers, special untuk semua yang bersedia review.
Here We Go...
Disclaimers : Naruto belong Kishimoto sensei
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Warning : OOC, gaje, alur kecepetan, typo(s), gender bender, and etc
Under Cover
Chapter 3 : You Can Cry On My Shoulder
By : Fuyutsuki Hikari
Don't Like, Don't Read!
Sesaat Naruto menempelkan tangannya ke dada, mencoba mengatur detak jantung yang secara tiba-tiba berdetak lebih cepat, ketika sosok yang hampir dua puluh menit ditunggu olehnya itu menampakkan diri. Dengan langkah elegan, pria yang ditunggu olehnya membuka pintu kaca cafe dan berjalan masuk. Deidara, nama pria itu, menyisir setiap sudut ruangan dengan kedua matanya dan melempar senyum manis saat pandangannya menemukan apa yang dicarinya.
Naruto tersenyum, mulutnya bahkan nyaris kaku karenanya. Dia berusaha melukis citra manis dan feminim di hadapan pria yang memang sudah lama dia sukai, tepatnya sejak tahun kedua dia di akademi dulu.
"Maaf aku terlambat, lama menunggu Naru?" tanya Deidara sebelum dia duduk berhadapan dengan Naruto.
"Tidak apa-apa, aku juga baru sampai," jawab Naruto berbohong.
"Syukurlah kalau begitu, un," tukas Deidara lega. "Telpon genggamku kehabisan baterai, tadi ada kecelakaan di simpang jalan, jadi aku terlambat," jelas Deidara. "Kamu sudah pesan makanan, un?" tanya Deidara saat menatap meja mereka yang hanya berisi segelas es teh milik Naruto dan segelas air putih.
"Belum."
Deidara segera memanggil waiters terdekat dan memesan makanan dan minuman untuk tiga orang. Sang waiters dengan cepat mencatat semua pesanan dan beranjak pergi menuju counter untuk melanjutkan pesanan mereka ke bagian dapur.
"Apa akan ada yang datang lagi Dei-senpai? Kenapa memesan makanan untuk tiga orang?" tanya Naruto selepas kepergian waiters tersebut.
Deidara meneguk air putih yang memang disediakan disetiap meja dengan gratis, tersenyum kecil sebelum akhirnya menjawab. "Ya, akan ada yang datang dan aku ingin mengenalkannya padamu, un."
Jantung Naruto yang sudah berdetak normal, harus kembali berdetak dengan cepat. Bukan karena bahagia, namun karena cemas saat dia melihat binar bahagia di kedua bola mata Deidara.
Siapa yang ingin dikenalkan Dei-senpai padaku? tanya Naruto dalam hati cemas, namun dia tetap bersikap tenang dan mampu mengatur mimik wajahnya dengan baik.
Di sisi lain ruangan cafe, Sasuke cs terus berusaha mendengarkan pembicaraan Naruto dengan Deidara. Tidak ada satupun yang berbicara di antara mereka, semua seolah kompak untuk diam, dan memicingkan mata, menatap tidak suka pada sosok pria yang menurut mereka seorang pengganggu. Mereka menganggap Naruto sebagai mainan mereka yang harus diperjuangkan, dan tidak ada satu orang pun yang boleh mengambil kesenangan itu dari tangan mereka. Sayangnya suasana cafe cukup ramai hari ini, hingga menyulitkan mereka untuk mencuri dengar.
"Sial," desis Kiba untuk pertama kali, memecah keheningan di antara mereka berlima. "Shika, apa kamu sudah mendapat ide untuk merusak acara kencan mereka?" tanya Kiba, dia memakai dagunya untuk menunjuk ke arah Naruto, sangat kesal karena teman kencan Naruto terlihat dewasa dan menarik. "Apa sih yang Naruto lihat dari pria itu, lihat saja wajahnya, terlalu manis untuk ukuran seorang pria."
"Bagaimana kalau kita menyuruh seorang pengunjung untuk menumpahkan teh panas pada pria itu?" usul Neji memotong, yang juga mulai gerah melihat senyuman yang terus dilemparkan Naruto pada Deidara.
"Terlalu kejam, bagaimana kalau kulit pria itu melepuh?"
"Itu memang tujuanku Gaara," jawab Neji berdecak sebal.
"Shika, kenapa diam saja?"
"Aku sedang berpikir Kiba, jangan menggangguku." Tukas Shikamaru datar, namun ampuh untuk membungkam mulut ketiga sahabatnya.
Di antara kelimanya, hanya Sasuke yang masih belum angkat bicara. Sasuke menatap sinis ke arah Naruto, dia ingin sekali memasukkan Naruto ke dalam karung, membawanya pergi dan membuangnya ke laut. Berani sekali wanita itu bersikap sinis padaku, sementara kepada pria setengah jadi-jadian itu bisa bersikap begitu manis, pikir Sasuke iri.
Kelima pemuda itu menoleh ke satu titik secara bersamaan saat Deidara tersenyum dan berdiri menyambut seorang pria berambut merah, yang baru saja masuk ke dalam cafe, wajahnya terlihat begitu muda, dan sangat tampan. Moment selanjutnya bahkan sukses membuat kelimanya membulatkan mata, dan membeku di tempatnya. Dengan mesra pria berambut merah itu mengecup bibir Deidara. Deidara menunduk, tersipu malu, sesaat setelahnya, rona merah timbul menghiasi pipinya yang putih.
Lagi-lagi pandangan kelima pemuda itu menatap ke satu titik, menatap wajah Naruto yang terlihat pucat dengan mulut yang sedikit menganga. Jelas ada ekspresi terkejut disana, walau hanya sesaat tapi ekspresi itu tetap ada.
Kiba tertawa begitu keras karenanya, hingga beberapa pengunjung dan Naruto mendelik tidak suka karena merasa terganggu oleh tawa itu. Tawa Kiba segera dihentikan oleh Gaara yang membekap mulutnya dengan kencang. "Jangan tertawa terlalu keras!" kata Gaara penuh penekanan. Setelah yakin Kiba berhenti tertawa, Gaara pun segera melepaskan bekapannya dan kembali melirik ke arah Naruto yang sudah kembali berbicara dan tersenyum kaku pada kedua pria di hadapannya.
"Cafe ini terlalu berisik," keluh Shikamaru. "Aku penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh ketiganya."
"Sepertinya Naruto mendapat undangan pernikahan. Lihat?" tukas Gaara menunjuk ke meja Naruto saat Deidara menyodorkan sebuah amplop berwarna putih mengkilap dengan beberapa hiasan bunga sakura di sudut kiri dan kanannya.
"Naruto menerimanya seperti terdakwa yang akan menghadapi hukuman mati, benar-benar menyedihkan," sahut Shikamaru iba.
"Aku berani bertaruh, Naruto pasti tidak tahu jika pria pirang itu gay," kata Neji menyeringai kecil.
"Itu sudah pasti," sahut Gaara sedikit geli. "Aku benar-benar ingin menghampiri dan mengucapkan rasa belasungkawa padanya."
Sementara itu di meja lain, Naruto yang masih belum sembuh dari kekagetannya saat Sasori mencium Deidara, harus kembali terkena serangan jantung mendadak karena mendapat undangan pernikahan keduanya.
"Aku ingin kamu datang Naru, jadi aku khusus menemuimu dan memberikannya undangan itu secara pribadi."
"Manis sekali Dei-senpai," sahut Naruto selembut mungkin dan mulai membuka undangan yang disodorkan oleh Deidara padanya. "Masih dua bulan lagi?" tanya Naruto yang mengalihkan pandangannya pada Deidara.
"Begitulah, kami hanya mengundang beberapa teman dekat saja. Kau tahu, hal seperti ini masih sedikit tabu di Konoha, un." Deidara tertunduk lesu, sementara Sasori memeluk pinggangnya untuk memberikan dukungan.
Sasori kembali menatap Naruto dan berkata dengan suara baritonenya. "Aku dengar, jika kamu adalah teman baik calon pendamping hidupku ini. Karena itu, kami benar-benar mengharapkan kedatanganmu nanti." Katanya penuh harap.
"Jangan khawatir, jika tidak bertugas, aku pasti datang," jawab Naruto mantap menyebabkan Deidara menghela napas lega, dan Sasori tersenyum bahagia.
Naruto terus melayani pembicaraan keduanya dengan santai, menyembunyikan perasaan dirinya yang sebenarnya. Sungguh, Naruto sama sekali tidak ingin tahu mengenai kapan dan dimana kedua pria itu pertama kali bertemu, siapa yang menyatakan cinta terlebih dahulu, atau siapa yang memutuskan untuk menentang semua adat masyarakat untuk menikah, sungguh, Naruto sama sekali tidak ingin tahu.
Sasuke cs kembali menikmati pesanan mereka, memakan semua makanan yang ada di atas meja dengan lahap. Sesekali mereka melirik ke arah Naruto yang masih berbicara, entah apa, karena kelimanya sama sekali tidak bisa mendengar isi dari pembicaraan itu. Shikamaru mendengus, sedikit kecewa. "Kita tidak perlu menggagalkan acara kencan Naruto, karena acara kencannya memang sudah hancur, membosankan."
"Sepertinya begitu, tanpa kita kacau-pun, mental Naruto sudah hancur. Lagipula bisa dikatakan ini bukan kencan," jawab Neji bosan, sementara tangannya sibuk mengaduk coffee latte miliknya.
"Aku tidak mengerti, kenapa pria itu tidak bisa melihat jika Naruto menyukainya?" tanya Kiba.
"Karena dia bodoh," sahut Sasuke yang akhirnya angkat bicara untuk pertama kali.
"Kalau begini, lebih baik aku kembali ke asrama dan tidur."
"Aku ikut denganmu Shika," sahut Gaara.
"Tapi aku masih ingin di sini dan menertawakan wanita galak itu." Kiba memprotes, enggan untuk beranjak dari tempat duduknya.
"Kita bisa melakukannya besok Kiba," tukas Neji santai. "Dan kita memiliki banyak waktu untuk melakukannya," lanjutnya dengan seringaian yang semakin lebar.
Shikamaru, Neji, Gaara dan Kiba segera berdiri untuk pergi, namun terhenti saat melihat Sasuke yang masih duduk diam, tanpa mengalihkan pandangannya dari Naruto.
"Tidak ikut pulang Sas?" tanya Kiba.
"Tidak," jawab Sasuke singkat.
"Jangan menertawakannya sekarang Sas, setidaknya untuk hari ini, biarkan dia sendiri," kata Neji yang sedikit bersimpati pada Naruto.
"Aku hanya harus menahannya di sini lebih lama," sahut Sasuke datar.
"Untuk apa?" tanya Gaara tidak mengerti.
"Mengulur waktu, anak buahku masih belum selesai memasang kamera pengintai di kamar Naruto." Keempat teman Sasuke hanya bisa menggelengkan kepala mendengarnya, mereka tidak menyangka jika Sasuke benar-benar merealisasikan keinginannya itu.
"Kalau begitu kami pergi," ujar Shikamaru memimpin ketiga temannya yang lain untuk keluar dari cafe.
.
Sudah hampir satu jam lamanya Sasuke duduk seorang diri di meja itu, sudah selama itu pula teman-temannya kembali ke asrama. Beberapa remaja wanita bahkan dengan terang-terangan melempar tatapan genit pada Sasuke, berusaha untuk menarik perhatian sang pemuda raven, namun sayangnya Sasuke bergeming, sama sekali tidak tertarik akan umpan-umpan yang mereka berikan.
Sasuke kembali menyeruput habis caffucino miliknya, sudah empat gelas caffucino dia habiskan siang itu. Baru saja dia berniat untuk memesan gelas kelima, namun urung saat dia melihat kedua pria yang duduk di depan Naruto berdiri, berjabat tangan, bahkan pria dengan rambut pirang itu sesaat memeluk Naruto dan mengecup keningnya lembut, hingga Sasuke menggertakkan gigi keras karena tidak suka. Sasuke segera membayar tagihannya dan beranjak keluar, menyusul Naruto yang sudah terlebih dulu keluar dari cafe.
Dia melihat Naruto berjalan menuju halte bis yang terletak tidak berapa jauh dari cafe, dengan hati-hati Sasuke terus membuntuti Naruto, berusaha agar keberadaannya saat ini tidak diketahui oleh wanita itu.
"Sampai kapan kamu mau mengikutiku?" tanya Naruto agak keras, berbalik dengan cepat dan menatap sosok Sasuke yang berjalan tidak jauh di belakangnya.
Langkah Sasuke berhenti seketika saat mendengar suara Naruto, dia bisa menangkap dengan jelas nada sinis pada suara itu. Sesaat kemudian Sasuke kembali berjalan, menarik topinya lebih dalam untuk menutupi sebagian wajahnya, berpura-pura tidak mendengar pertanyaan yang dilayangkan Naruto padanya.
"Jangan berpura-pura tidak mengenalku Teme," tukas Naruto masih dengan nada agak tinggi. Naruto menarik tangan Sasuke yang sedang berjalan melewatinya, hingga mereka bisa bertatap muka sekarang. "Kamu pikir, aku tidak bisa mengenalimu hanya karena topi dan kacamata hitam ini?" katanya lagi seraya melepas paksa topi dan kacamata hitam Sasuke.
"Untuk apa aku mengikutimu Dobe? Kamu pikir aku tidak punya pekerjaan lain?" cibir Sasuke berkilah.
"Kamu kira aku tidak tahu, jika kalian terus mengikutiku sejak dari asrama?" balas Naruto emosi.
Sial, kenapa dia bisa tahu jika kami mengikutinya? Sasuke merutuk dalam hati. "Untuk apa kami mengikutimu Dobe?"
"Entahlah, hanya kalian yang bisa menjawabnya," sahut Naruto semakin kesal.
"Jangan terlalu percaya diri, kami memang ingin berjalan-jalan keluar hari ini."
"Dan mengikutiku hingga cafe?" sindir Naruto.
"Itu cafe umum."
"Lalu kenapa Kiba tertawa begitu keras?"
"Sejak kapan tertawa dilarang?" balas Sasuke tidak kalah sengit.
"Dan kenapa kalian memakai topi dan kacamata hitam?"
"Menghindari fans girls kami," jawab Sasuke enteng.
"Lalu kenapa kamu tidak ikut pulang bersama temanmu yang lain?"
"Memangnya kamu siapa? Kamu tidak berhak mengaturku," sahut Sasuke sinis, hingga sukses membuat kepala Naruto semakin mendidih dibuatnya.
"Arghhh, aku membencimu!" teriak Naruto frustasi.
"Bagus, karena aku juga tidak menyukaimu!" balas Sasuke yang kembali berjalan menjauhi Naruto menuju halte bis. Naruto terdiam beberapa saat setelah mendengarnya, dalam hati dia bertanya-tanya, kenapa para pria tidak menyukainya? Perasaannya semakin gelisah, emosinya semakin kacau, sepertinya memang benar dengan apa yang dikatakan Sai padanya dulu, jika lelaki hanya menyukai gadis manis, bukan gadis yang pandai bela diri seperti dirinya.
Naruto berjalan dengan langkah sedikit gontai, menyebabkan Sasuke mengernyit heran padanya. Apa aku salah bicara? Pikir Sasuke. Kenapa Naruto kelihatan semakin sedih? Ada rasa bersalah pada diri Sasuke saat ini, sebenarnya dia sama sekali tidak berniat mengatakan kalimat itu pada Naruto, tapi emosinya langsung terpancing saat Naruto mengatakan benci padanya.
Mereka berdua berdiri di halte, ada jarak yang memisahkan keduanya saat ini. Baik Naruto maupun Sasuke masih sibuk dengan pergumulan di dalam hati mereka masing-masing. Naruto masih memikirkan kenapa tidak ada pria yang menyukainya, sementara Sasuke terus menyesali perkataannya pada Naruto. Ingin sekali Sasuke menarik kembali perkataannya, dan meminta maaf. Tapi, sayangnya ego seorang Uchiha terlalu besar untuk melakukannya.
Tidak lama berselang, hujan pun turun, udara di sekitar mereka berubah menjadi dingin. Naruto sedikit menggigil karenanya, Sasuke yang melihatnya segera membuka jaket yang dikenakannya dan menyampirkan di tubuh Naruto.
"Tidak perlu bersikap baik padaku!" desis Naruto, dengan kasar dia membuka jaket Sasuke dan menegembalikannya pada Sasuke.
"Pakai!"
"Tidak mau."
"Pakai!"
"Tidak."
"Pakai, dan kembalikan setelah kamu cuci dan menyetrikanya dengan rapih!"
"Katakan saja jika sebenarnya kamu perlu seseorang untuk mencucinya."
"Hn."
"Aku tidak mau memakainya Teme."
"Kalau begitu buang saja, aku tidak biasa memakai barang yang sudah dipakai orang lain tanpa dicuci terlebih dahulu."
"Tapi kamu yang memaksa memakaikannya padaku," protes Naruto keras.
"Kalau begitu pakai, jangan banyak bicara! Dan kembalikan setelah dicuci dan disetrika."
Akhirnya Naruto pun mengalah dan memakai kembali jaket yang dipinjamkan oleh Sasuke. Dia bahkan semakin merapatkan jaket, saat cuaca menjadi semakin dingin kerena hujan turun semakin deras. Sasuke tersenyum puas melihatnya, dia bahkan tidak peduli saat dirinya sedikit bergetar karena dingin.
Sasuke sedikit kaget saat Naruto berdiri semakin merapat padanya, diliriknya Naruto dengan ujung mata, Sasuke tetap diam tanpa mengatakan apapun, yang terdengar hanya suara Naruto yang berkata dengan lirih. "Kamu kedinginan Teme, dengan berdekatan seperti ini, tubuh kita bisa sedikit hangat."
"Hn." Hanya itu jawaban yang terlontar dari mulut Sasuke yang sekarang tersenyum kecil. Rasa dingin itu mendadak hilang, karena rasa hangat yang tiba-tiba membucah di hatinya. Sasuke sebenarnya ingin sekali melingkarkan tangannya pada pinggang Naruto dan merengkuh kehangatan yang ditawarkan oleh wanita itu. Tapi, niat itu diurungkan Sasuke, saat dia teringat akan korban Naruto beberapa hari yang lalu. Sasuke terlalu takut jika dirinya harus berakhir di rumah sakit karena pukulan dan tendangan Naruto.
Bis yang mereka tunggu pun akhirnya datang, Sasuke mempersilahkan Naruto untuk naik terlebih dahulu. Hanya ada beberapa penumpang di dalam bis, Naruto segera mengambil kursi ketiga dari belakang untuk duduk. Naruto menuliskan sesuatu di atas kaca jendela bis yang berembun, menuliskan nama dirinya, namun dengan cepat dia menghapus kembali tulisan itu. Sasuke yang duduk di seberang kursi Naruto bisa mendengar helaan berat napas gadis itu.
Sasuke sendiri tidak yakin akan perasaannya, di satu sisi dia senang melihat Naruto patah hati, tapi di sisi lain, dia tidak suka melihat sosok Naruto saat ini. Seolah-olah dadanya sesak saat melihat raut sedih pada wajah Naruto. Aku tidak mungkin menyukai wanita ini! Sanggah Sasuke dalam hati berulang kali, seolah-olah itu adalah sebuah mantra yang akan membangunkannya dari pengaruh sihir Naruto.
.
Langit sudah kembali cerah saat mereka berdua turun dari bis dan berjalan masuk ke komplek sekolah. Sasuke berjalan sedikit di belakang Naruto, sesaat berdiri di pelataran asrama putri, memastikan Naruto masuk ke dalam gedung asrama putri, melewati pintu kaca dorong, dan menghilang ke dalamnya.
Sasuke merogoh ke dalam saku celana, mengambil telpon genggam dan membaca sebuah email masuk yang sebenarnya sudah dia terima sejak turun dari bis.
Pekerjaan selesai dengan baik, itu adalah isi email yang dia terima. Sasuke tersenyum kecil, mempercepat langkah kaki untuk kembali ke kamarnya, tidak sabar untuk melihat hasil kerja orang suruhannya.
.
Naruto beranjak menuju tempat tidurnya setelah memastikan tidak ada seseorang yang bersembunyi di toilet dan lemari pakaian dua pintunya. Dia yakin jika saat dia pergi, ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya tanpa ijin. Naruto meletakkan tas tangannya di atas kasur dan mengamati keadaan sekelilingnya. Semua nampak sama seperti saat dia tinggalkan, yang berbeda hanya letak kursi belajarnya yang bergeser beberapa cm dari tempatnya semula.
Matanya menyipit saat mendapati ada sedikit jejak sepatu pada jok kursi belajarnya. Seseorang naik ke kursi ini, pikir Naruto. Tapi untuk apa? Dengan seksama dia melayangkan pandangannya pada langit-langit kamar. Seseorang pasti meletakkan sesuatu di langit-langit kamar-ku, hingga dia memerlukan sebuah kursi untuk naik. Tukas Naruto dalam hati.
Benar saja, mata Naruto menangkap sebuah benda hitam kecil, yang ternyata sebuah kamera pengintai mini tanpa kabel, diletakkan di sudut sebelah kanan langit kamarnya. Mengikuti instingnya sebagai intel, Naruto akhirnya membuka kap penutup AC, dan benar, dia pun menemukan satu kamera pengintai lagi terpasang di dalamnya.
Naruto akhirnya menyisir setiap sudut kamar hingga kamar mandi, setelah merasa yakin tidak ada kamera lain yang terpasang, dia pun merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Apa penyamaranku sudah terbongkar?" Naruto berkata dengan lirih. Naruto akhirnya bangkit dan beranjak menuju kamar mandi. Dia tetap harus bersikap senormal mungkin, karena siapa pun orang yang sudah memasang kamera pengintai di kamarnya, jelas bermaksud untuk menyelidiki setiap tindak tanduknya.
.
Sasuke yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian segera menyalakan laptop, mengklik salah satu program, hingga layar laptopnya menampilkan kamar Naruto dari dua sisi yang berbeda. Sasuke bisa melihat Naruto yang baru saja keluar dari kamar mandi, dia mengenakan celana training parasit hitam dan kaos tanpa lengan berwarna putih, sementara rambut pirangnya diikat di tengkuk.
"Dia mau kemana?" tanya Sasuke saat melihat Naruto membuka pintu dan keluar kamar. Sasuke menunggu beberapa saat, namun Naruto tidak kunjung kembali, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mencari Naruto.
Pertama-tama, Sasuke mencari ke gedung olahraga, namun tidak ada siapapun di sana. Lalu ke ruang musik dan perpustakaan, namun di sana juga kosong. Sudah hampir satu jam Sasuke mencari, tapi hasilnya nihil, dia masih tidak bisa menemukan Naruto.
Sebenarnya Sasuke sudah menyerah dan berniat kembali ke kamar, namun matanya menangkap cahaya lampu yang berasal dari sebuah dojo tua yang sudah tidak terpakai. Dojo itu dulunya adalah tempat berlatih ekstrakulikuler Judo. Tapi, karena sudah ada ruangan baru yang lebih layak, akhirnya dojo Judo-pun dipindahkan.
Sasuke berjalan menuju dojo untuk memastikan jika memang Naruto yang ada di dalamnya. Benar saja, Naruto memang ada di dalam dojo itu, terlihat begitu serius dan fokus pada setiap pukulan yang dia layangkan pada sandbag yang tergantung di depan wajahnya.
Dia terlihat sexy, pikir Sasuke saat melihat tubuh Naruto yang mengkilat karena keringat, sementara beberapa helai anak rambut terlepas dari ikatan rambutnya. Sasuke mengernyit heran, bagaimana mungkin aku berpikir dia sexy? Sanggah Sasuke dalam hati, dengan segera dia mengenyahkan pikiran itu dari benaknya.
Sebenarnya Naruto tahu, jika ada seseorang yang berdiri di depan pintu dojo yang agak terbuka. Tapi dia enggan untuk bicara, dia terlalu malas untuk menanyakan kenapa orang itu berdiri di sana, dan terlalu malas untuk menyuruh orang itu pergi.
Walaupun hari sudah semakin larut, namun sepertinya Naruto masih enggan untuk meninggalkan dojo tua itu. Tangan dan kakinya masih ingin melayangkan pukulan dan tendangan pada sandbag yang tergantung tak berdaya. Namun dia tidak sendiri, Sasuke pun masih setia berdiri di depan pintu dojo.
Sasuke terus memandang Naruto dari kejauhan, heran karena wanita itu masih memiliki tenaga untuk melayangkan pukulan dan tendangan pada sandbag. Sasuke sedikit ngeri membayangkan bagaimana jika seandainya dia yang dijadikan sasaran amarah Naruto, bukan sandbag malang itu. Aku harus memperingatkan yang lain agar tidak menyulut emosi Naruto, salah-salah mereka akan bernasib sama seperti sandbag, pikir Sasuke.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Sasuke saat melihat tubuh Naruto ambruk.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Naruto balik bertanya dengan napas yang masih memburu.
"Aku bertanya lebih dulu Dobe?" sahut Sasuke yang saat ini berdiri menjulang, sementara Naruto duduk dengan menyandarkan punggungnya ke tembok.
"Mau apa kamu? Pergilah, tinggalkan aku sendiri. Aku terlalu lelah untuk bertengkar denganmu saat ini." Tukas Naruto lirih saat Sasuke duduk tepat di sebelah kanannya.
"Ini," sahut Sasuke menepuk bahu kanannya sendiri.
"Apa?" tanya Naruto tidak mengerti.
"Kupinjamkan bahuku untuk tempat mu menangis."
Naruto mendengus dan menjawab cepat. "Aku tidak lemah Teme, untuk apa aku menangis?"
"Aku tidak mengatakan kamu lemah!" sahut Sasuke tanpa menoleh ke arah Naruto.
"Aku tidak memerlukannya!"
"Hn."
Naruto tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, tiba-tiba saja dia sudah menempelkan keningnya pada bahu tegap Sasuke. Air mata yang sudah dia tahan semenjak tadi siang akhirnya tidak mampu untuk dia bendung lagi.
"Aku sudah menyukainya sejak lama Teme. Dulu aku bahkan memukul mendiang sahabatku, saat dia mengatakan jika pria yang aku sukai itu seorang gay. Kenapa aku harus menyukainya? Kenapa aku tidak mendengar perkataan sahabatku? Kenapa harus sesakit ini?" Naruto terus berbicara, perkataan itu meluncur begitu bebas dari mulutnya.
Sasuke hanya diam, dia bukan orang yang pandai menghibur orang lain. Bahkan, apa yang dilakukannya saat ini merupakan hal yang baru untuknya. Dia tidak pernah peduli pada perasaan seorang wanita, dia bahkan sudah kebal melihat wanita menangis, mengemis cintanya. Namun untuk Naruto, kenapa berbeda? Dia sendiri pun tidak tahu.
Naruto terus menangis hingga dia lelah dan tertidur di bahu Sasuke. Sasuke segera membawa Naruto kembali ke asrama dengan menggendongnya, mengendap-endap agar tidak ketahuan pengawas asrama, bagaimanapun sekarang sudah hampir tengah malam, dan akan berbahaya jika mereka tertangkap pengawas. Sasuke pun berhati-hati, takut jika ada siswi yang melihatnya masuk ke asrama putri dengan menggendong Naruto dalam pelukannya, karena itu akan menjadi masalah yang lebih besar.
Sasuke membuka pintu kamar Naruto, bersyukur saat mendapati pintu itu tidak dikunci. "Benar-benar ceroboh," gumam Sasuke. Dia membaringkan tubuh Naruto di atas kasur dan menarik selimut hingga sebatas dada. Sasuke menatap wajah Naruto yang tertidur pulas, dihapusnya jejak air mata yang masih membekas di pipi Naruto. "Halus," kata Sasuke lirih saat dia menyentuh kulit pipi Naruto. Jemari tangannya beralih ke hidung mancung Naruto, menyusuri lekuknya dan berakhir di bibir mungil gadis itu. Lagi-lagi Sasuke melakukan sesuatu di luar kebiasaannya, dia mencuri sebuah ciuman dari seorang gadis yang tengah tertidur.
.
.
Naruto meringis kesakitan saat dirinya terjatuh dari atas tempat tidur dengan suara debaman keras. Dia menyentuh bibirnya, dan mengernyit heran. "Kenapa aku harus bermimpi dicium si Teme?" tukas Naruto tidak rela jika ciuman pertamanya diambil Sasuke, walau hanya dalam mimpinya sekalipun. Naruto mengacak rambutnya keras karena kesal, menyerapah karena bisa mendapat mimpi buruk seperti itu.
Lain lagi dengan Sasuke yang sejak tadi sudah mengawasi Naruto lewat laptop pribadinya. Dia tergelak, saat melihat Naruto terjatuh dari tempat tidur dan mengacak rambutnya dengan keras. "Seharusnya aku juga meminta mereka untuk memasang alat penyadap suara di kamarnya, mungkin akan lebih menyenangkan," tukas Sasuke menyeringai licik. Setelah puas melihat Naruto, Sasuke pun menutup laptop miliknya, mengambil tas sekolah, dan bergegas menuju sekolah.
Naruto yang baru sadar jika waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, segera masuk ke dalam kamar mandi dan mandi dengan cepat. Dia hanya memiliki waktu beberapa menit saja untuk bersiap, karena jam pelajaran pertama akan dimulai tepat pukul delapan lebih tiga puluh menit.
"Semoga aku tidak terlambat," doa Naruto setengah berbisik. Dia terus berlari melalui lorong-lorong sekolah menuju kelasnya. Lorong kelas yang biasanya penuh dan berisik kini begitu sepi karena bel jam pelajaran pertama memang sudah berbunyi beberapa menit yang lalu.
Naruto berbelok dengan cepat, masuk ke dalam kelasnya dan melepas napas lega saat melihat Anko sensei masih belum datang. Naruto segera duduk, mengatur napas dan mengeluarkan buku untuk bahan pelajaran pertama. Naruto sama sekali tidak menyadari, jika saat ini suasana kelas begitu sepi, sementara pandangan tiap murid tertuju pada dirinya.
"Aku kira kamu akan terus mengurung diri di kamar, Naruto!" cibir Sakura dari seberang meja Naruto.
Naruto mengernyit, menengok ke arah Sakura. "Apa maksudmu?" tanyanya tidak mengerti.
"Well, bukankah kamu sedang patah hati?"
Naruto mencengkram buku biologinya agak keras, berusaha untuk mengontrol emosinya. "Aku masih tidak mengerti," tukas Naruto dengan nada suara senormal mungkin.
Sakura mendelik dan mengibaskan tangan di depan wajahnya. "Jangan repot-repot untuk menutupinya Naru, karena kami semua sudah tahu, jika kemarin kamu ditolak karena pria itu gay." Sahut Sakura senang. "Demi Tuhan, kamu kalah bersaing cinta dengan seorang pria?" Sakura tertawa keras, dan disambut oleh tawa dan kikikan beberapa murid yang lain.
Naruto semakin mengepalkan tangannya, berpikir bagaimana bisa mereka semua tahu akan hal ini? Karena dia hanya memberitahukan hal ini pada Sasuke saja. Naruto melirik tajam ke arah Sasuke, namun yang dilirik nampak tidak terganggu, ekspresinya masih saja dingin dan datar seperti biasa. Sementara Neji, juga Gaara menyeringai puas ke arahnya, sedangkan Kiba tertawa keras sambil memegangi perutnya, lain lagi dengan Shikamaru yang saat ini sudah kembali tidur dengan lelap.
Aku memang bodoh, batin Naruto kesal. Seharusnya tadi malam aku tidak terkecoh oleh sikap Sasuke yang tiba-tiba menjadi begitu baik. Aku bahkan berniat mengucapkan terima kasih, karena dia mau menemaniku, mendengarkan curhatanku, dan membawaku kembali ke kamar.
"Kalau kalah bersaing melawan wanita sih tidak masalah, tapi... jika kalah bersaing dengan pria?" teriak Kiba, memecah lamunan Naruto.
"Tentu saja dia kalah bersaing, karena pria itu jauh lebih manis daripada Naruto," balas Gaara menambah panas suasana kelas pagi ini.
Luka hati Naruto kembali terbuka mendengarnya, jika bukan karena tugas, sudah pasti akan terjadi pertumpahan darah pagi ini. Sakura pun tidak mau kalah, dia terus mencibir Naruto, memancing tawa murid-murid lain menjadi semakin keras karenanya. Tawa itu baru berhenti saat Anko masuk ke dalam kelas, dan pelajaran jam pertama pun dimulai.
.
.
Naruto kira, guyonan tentang dirinya yang patah hati akan berhenti dengan berjalannya waktu, namun sepertinya dia salah. Ini sudah hari ketiga, tetapi berita itu bukannya mereda, berita itu malah semakin menyebar ke seluruh sekolah, dan sepertinya dia harus berterimakasih pada Sakura yang memiliki andil besar dalam hal ini.
Belum lagi, Neji, Kiba, Gaara dan Shikamaru yang sepertinya merasa puas dengan mengejeknya tiap kali bertemu. Bahkan Lee, Choji dan Shino menyempatkan diri mendatanginya dan bertanya langsung tentang hal ini kepadanya. "Apa tidak ada hal lain yang ingin kalian tanyakan, selain hal itu?" Naruto mendesis, membuat ketiganya merinding ketakutan.
"Ti..tidak ada senpai, maaf jika kami lancang," sahut Lee gemetar.
"Lebih baik kami kembali ke kelas, permisi senpai," kata Shino menyeret Lee dan Choji menjauh dari Naruto yang sudah mengeluarkan aura gelap dari dalam dirinya.
Naruto sudah tidak sanggup lagi untuk menahan emosinya, telinganya sudah sangat merah karena mendengar ejekan dan cibiran dari murid lain yang terus ditujukan padanya. Dengan kasar Naruto berdiri dan menggebrak meja makan, membuat suasana kantin yang pada awalnya gaduh menjadi hening seketika.
"Berani kalian berbicara tentang hal itu lagi, maka aku akan pastikan, kalian akan berakhir seperti sumpit ini," Naruto bicara dengan keras, mengangkat sumpit ke udara dan mematahkannya menjadi dua bagian. Para murid itu mengerjapkan mata beberapa kali, dan setelah beberapa saat, tawa pun kembali pecah menggema di kantin sekolah. Naruto hanya bisa mengusap wajahnya lelah, tidak percaya, karena ternyata gertakan yang dia lakukan hanya mempan saat dia berada di akademi saja.
.
"Tidak perlu dipikirkan Naru, mereka hanya anak kecil." Tukas Kakashi yang berpapasan dengan Naruto tepat di depan pintu perpustakaan. "Aku tidak menyangka jika sebenarnya kamu menyukai Deidara, kukira kamu menyukai Sai." Kakashi terkekeh geli, tanpa menyadari aura Naruto yang semakin menggelap.
"Bicara sepatah kata lagi, dan ucapkan selamat tinggal pada koleksi buku orange-mu itu, sensei."
Kakashi meneguk air ludahnya, merinding ngeri, dan takut saat mendengar nada dingin pada suara keponakannya ini. Naruto yang dalam mood tidak baik, akan menjadi lawan yang sangat tidak menyenangkan. Kakashi akhirnya memilih untuk berbalik, dan beranjak pergi tanpa menoleh kembali ke arah Naruto, meninggalkan Naruto yang masih menyipitkan mata, menatap marah pada punggung pamannya itu.
"Berani mengancam seorang sensei huh, Dobe?" cibir Sasuke yang berjalan mendekati Naruto.
"Aku sedang malas bertengkar, pergilah!" sahut Naruto datar.
"Kamu yakin? Padahal aku bisa membantumu untuk membungkam mulut semua murid disini."
"Membungkam?" Naruto memutar kedua bola matanya. "Untuk apa repot-repot membungkam mulut mereka?" desis Naruto.
"Jadi, kamu suka mendengar olokan mereka?"
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu," sahut Naruto marah. "Kamu suka melihat aku menjadi bahan olokan mereka, iya kan? Aku benar-benar menyesal harus bersikap lemah dan menceritakan semuanya kepadamu, aku kira kamu berbeda Teme. Ternyata kamu sama saja, kamu malah menjadikan sakit hatiku sebagai bahan olokan."
"Kamu lupa Dobe, bukan hanya aku yang berada di cafe saat itu, dan mereka bisa menarik kesimpulan sendiri tanpa harus mendengar cerita tambahan dariku." Sasuke mendesis, tidak terima jika Naruto menganggapnya pengkhianat, karena dia tidak pernah menceritakan pada siapapun mengenai percakapannya dengan Naruto beberapa malam yang lalu.
"Kamu pikir aku akan percaya?"
"Terserah," tukas Sasuke dingin.
Naruto menghembuskan napas, putus asa. Dia belum percaya seratus persen pada Sasuke, tapi dia juga yakin jika pemuda yang berdiri di hadapannya saat ini, adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya, lagi pula dia sudah jengah mendengar semua olokan para murid pada dirinya. "Jadi apa yang harus aku lakukan, agar kamu mau membantuku?"
"Kamu hanya perlu mengikutiku," sahut Sasuke datar.
"Semudah itu?"
"Hn."
"Baiklah, aku ikut denganmu," jawab Naruto setengah hati. Naruto akhirnya hanya bisa mengekor di belakang Sasuke, tanpa bicara sepatah kata-pun, karena Sasuke melarangnya bertanya kemana mereka akan pergi.
"Kenapa kita ada disini?" tanya Naruto saat keduanya tida di benteng belakang sekolah. Namun Sasuke tidak menjawab, dia malah memanjat sebuah pohon yang berdiri di depan benteng, dan menggunakan rantingnya yang kokoh untuk menyebrang ke puncak benteng.
"Cepat naik!"
"Untuk apa?"
"Bisakah kamu berhenti bertanya?" cibir Sasuke. Dirinya kini sudah berada di bagian puncak benteng yang memiliki tinggi tiga meter. Naruto berdecak sebal, dan mengikuti Sasuke untuk memanjat pohon. Setibanya Naruto di puncak benteng, Sasuke segera meloncat dan bicara dengan nada tegas. "Cepat loncat!"
"Tutup matamu Teme, aku mau loncat."
"Aku tidak bisa menangkapmu jika aku tutup mata, Dobe."
"Tidak perlu menangkapku, sekarang tutup matamu, paling tidak, balikan badanmu!" Setelah Sasuke membalikkan badan, Naruto pun segera meloncat turun. "Kalau mau keluar asrama, kenapa harus loncat benteng? Kenapa tidak lewat saluran air saja?"
Sasuke menaikkan sebelah alisnya. "Bagaimana kamu tahu tentang saluran air?" tanyanya penuh selidik.
Naruto mengumpat dalam hati, bagaimana bisa dia keceplosan tentang saluran air itu, bagaimana pun Naruto kan masih murid baru disini. "Saluran air itu sudah jadi rahasia umum, Teme." Naruto berkilah, dalam hati dia berdoa, agar Sasuke mempercayai alasannya.
"Benarkah?" sahut Sasuke dengan tatapan penuh tanya.
"Tentu saja benar," jawab Naruto mantap dan menantang.
"Hn." Sasuke akhirnya memilih untuk mempercayai Naruto. Sasuke terus berjalan menuju halte dan duduk di bangku untuk menunggu bis yang akan mengantar mereka ke tempat tujuan.
.
"Naik!"
Tanpa banyak bicara, Naruto segera naik ke dalam bis, disusul oleh Sasuke. Keadaan bis cukup padat sore ini, karena memang saat ini adalah jam pulang sekolah. Sehingga bis di dominasi oleh siswi dan siswa dari sekolah lain yang hendak pulang ke rumah, atau pun pergi ke tempat lainnya untuk berkumpul bersama teman-temannya yang lain dan bersenang-senang.
"Sebenarnya kita mau kemana Teme? Kita masih mengenakan seragam," Naruto kembali bertanya, gemas dengan Sasuke yang terus diam selama perjalanan mereka. Namun tidak ada satu jawaban pun terlontar dari mulut Sasuke.
Naruto hanya bisa menghela napas dan memutar kedua bola matanya, saat melihat beberapa siswi dari sekolah lain melayangkan godaan secara terbuka pada Sasuke. Naruto melirik ke arah Sasuke, yang berdiri di sampingnya.
"Jangan melihatku seperti itu Dobe, kamu bisa jatuh cinta kepadaku," tukas Sasuke saat dia memergoki Naruto yang melirik ke arahnya penuh minat.
"Jangan besar kepala Teme! Aku hanya heran, kenapa banyak gadis yang menyukaimu," sahut Naruto datar. "Lihat?" tambahnya lagi, dengan menunjuk ke arah siswi dengan dagunya. Para siswi itu masih terkikik centil, dan menatap penuh kagum ke arah Sasuke.
"Abaikan saja."
"Mereka cantik, apa tidak ada yang menarik perhatianmu Teme?" Naruto mulai menggoda Sasuke, sementara pria itu masih menatap datar ke arahnya.
"Hn."
Naruto kembali mendengus mendengar jawaban dari Sasuke, kesal karena sulit sekali untuk mengorek kehidupan pribadi pemuda di sampingnya ini.
"Mau sampai kapan melamun? Cepat turun!" seru Sasuke yang sudah berdiri di tangga turun bis. Tanpa banyak bicara, Naruto segera mengikuti Sasuke, berjalan agak di belakang pemuda itu. Mulut Naruto terbuka lebar, saat akhirnya dia mengetahui, kemana Sasuke membawanya.
"Taman bermain?"
"Hn."
"Buat apa kita kesini?"
Lagi-lagi, Sasuke tidak menjawab. Dia menarik tangan Naruto yang masih terlalu kaget untuk bereaksi, memaksanya untuk berjalan masuk ke dalam taman bermain. Dan saat sadar dari keterkejutannya, Naruto sudah duduk di bangku paling depan sebuah roller coaster.
"Teme, aku tidak mau naik ini!" protes Naruto keras.
"Takut, Dobe?" sindir Sasuke tajam.
"Si-siapa yang takut?" balas Naruto datar, mencoba untuk tetap tenang dan rileks, karena ini akan menjadi pengalaman pertama untuknya.
Sabuk pengaman mulai terpasang, Sasuke mengecek sabuk pengaman Naruto, hingga yakin jika Naruto sudah memakainya dengan baik. Setelah beberapa saat menunggu, roller coaster itu pun melaju, sedikit lambat pada awalnya, tapi, semakin jauh dari tempat start, roller coaster itu berjalan semakin kencang.
Roller coaster naik dengan perlahan hingga ketinggian 85 meter, mulai menanjak dengan sudut 45 derajat, perlu waktu satu menit untuk sampai di puncak. Setelah sampai di puncak, roller coaster itu menurun melewati turunan yang membentuk sudut 90 derajat, terus turun dengan kecepatan 155 km/jam, membuat Naruto yang duduk di bangku paling depan merasakan guncangan paling hebat, hingga dia histeris dibuatnya.
Setelah hampir 10 menit, roller coaster itu pun kembali ke titik awal start. Sasuke tersenyum kecil, saat melihat Naruto turun dengan wajah gembira. "Teme, aku mau naik itu!" Naruto menunjuk ke arah bianglala, dengan semangat, dia menyeret tangan Sasuke untuk berjalan cepat.
Mereka terus bermain, mencoba satu-persatu wahana permainan yang ada di taman bermain. Tidak terasa, malam mulai menggantikan sore, wahana bermain itu malah semakin ramai karenanya. "Aku senang sekali hari ini, arigatou Teme."
"Hn."
"Tapi, kenapa kamu mengajakku kesini?"
"..."
"Teme?"
"..."
"Kamu tidak mau menjawab?"
"..." Sasuke bukannya tidak mau menjawab, tapi egonya terlalu besar, dia tidak mungkin mengatakan alasannya membawa Naruto ke tempat ini. Alasannya terlalu pribadi, dia ingin melihat Naruto kembali bersemangat, itu saja, tidak lebih.
"Hah, baiklah, kamu tidak perlu jawab," tukas Naruto dengan senyum kecil. "Mau Teme?" tanya Naruto, seraya menyodorkan gula-gula kapas berwarna pink ke wajah Sasuke.
"Aku tidak suka manis," jawab Sasuke.
"Tapi ini enak sekali Teme, coba gigit sedikit saja." Tawar Naruto lagi. Sasuke yang menimang-nimang, akhirnya menggigit kecil gula-gula kapas yang disodorkan Naruto padanya, sementara matanya terus menatap wajah Naruto yang juga menggigit gula-gula kapas itu dari bagian lain.
"Terlalu manis," ejek Sasuke dengan wajah stoic seperti biasa.
"Tentu saja manis, namanya juga gula-gula kapas," dengus Naruto.
.
"Kamu lapar?" tanya Sasuke setelah Naruto menghabiskan gula-gula kapasnya. Naruto tersenyum dan mengangguk keras. Sasuke beranjak, dia membawa Naruto ke sebuah cafe terdekat, dan meminta Naruto memilih makanan juga minuman untuk mengganjal perut mereka. "Mau pesan apa?" tanya Sasuke saat mereka berdua bediri di depan meja waitress.
"Vanilla latte dan strawberry cheesecake," jawab Naruto mantap, sementara Sasuke memesan coffee latte dan lemon cake, itupun Naruto yang memilihkan untuknya.
Dengan tangan yang penuh oleh nampan berisi makanan dan minuman pesanan mereka berdua, Sasuke berjalan menuju sebuah meja yang terletak di baris paling ujung dekat jendela, sementara Naruto mengekorinya dari belakang, tersenyum melihat sikap gentleman Sasuke saat ini.
"Lain kali, aku yang akan mentraktirmu makan Teme," tukas Naruto setelah duduk di kursinya, sementara Sasuke meletakkan semua makanan dan minuman di atas nampan ke atas meja. "Aku mungkin tidak bisa membawamu ke restoran mewah, tapi, aku tahu tempat ramen paling enak di dunia, kamu pasti suka."
"Hn."
"Bagaimanapun, aku berterima kasih karena kamu mau membawaku kesini. Kamu tahu, ini adalah kali pertama aku pergi ke taman bermain. Hontou ni arigatou." Tukas Naruto lagi, dengan wajah berseri-seri menatap Sasuke.
"Aku tidak mengira jika kamu semiskin itu, hingga tidak mampu untuk masuk ke taman bermain," jawab Sasuke, seraya menyesap coffee lattenya.
"Bukan begitu Teme," Naruto berdecak sebal. "Aku hanya terlalu sibuk, hingga tidak ada waktu untuk bermain."
"Hn."
.
.
"Sudah malam Teme, sebaiknya kita kembali ke asrama."
Sasuke melirik ke jam tangannya, yang sudah menunjukkan pukul delapan malam, menyerapah dalam hati, karena waktu berlalu begitu cepat. Mereka berdua yang sudah keluar dari cafe, berjalan berdampingan, hening menyelimuti keduanya saat mereka berjalan menuju halte untuk menunggu bis yang akan mengantar mereka kembali ke sekolah.
Di tengah jalan menuju halte, Sasuke bertemu dengan kelompok siswa dari sekolah Iwagakure. Seorang pemuda, berperawakan tinggi, dengan rambut berwarna orange berdiri paling depan di antara kelompoknya. "Lama tidak bertemu Sasuke," tukas pemuda itu, sementara tatapannya terus tertuju pada Naruto.
"Sejak kapan kamu menyukai anak kecil?" cibir pemuda itu yang disambut tawa beberapa pemuda yang berdiri di belakangnya. "Tapi cantik juga," katanya dengan mengedip genit pada Naruto. "Lebih baik kamu tinggalkan dia cantik, dia hanya akan menyakiti perasaanmu," pinta Juugo pada Naruto dengan nada manis yang dibuat-buat.
"Jangan mengganggunya," desis Sasuke tidak suka saat Juugo berjalan mendekati Naruto.
"Kenapa Sasuke, cemburu?" tanya Juugo tepat di wajah Sasuke. "Bagaimana kalau kita bermain, dan menjadikan dia sebagai hadiahnya?"
"Dia bukan barang yang bisa dijadikan hadiah," tukas Sasuke dingin.
"Katakan saja jika kamu takut, tidak usah berkelit."
"Kita tetap akan bermain Juugo, hadiahnya adalah mobilku dan mobilmu."
"Wow, aku tidak menyangka jika gadis ini ternyata lebih berharga daripada mobil mewahmu," sahut Juugo. "Tapi aku tetap menginginkannya."
"Dia bukan barang!"
"Tapi aku menginginkannya, dan aku akan mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku bisa saja membuatmu babak belur dan membawa gadis cantik ini dengan paksa saat ini juga, tapi, aku ingin bermain dengan adil."
Dia bercanda jika berpikir bisa membawaku pergi, dan membuat Sasuke babak belur, kata Naruto dalam hati. Karena pada kenyataannya, dialah yang akan babak belur ditanganku. "Berhenti bicara, seolah-olah aku tidak ada disini!" potong Naruto kasar. "Seperti Sasuke bilang, aku bukan barang yang bisa dijadikan taruhan, dan aku bukan anak kecil, brengsek!"
Juugo menyeringai lebar mendengar cacian dari Naruto, dia menyukai gadis ini. "Aku suka caramu bicara sayang, jika kamu mau jadi kekasihku, aku janji, aku akan setia sampai mati," katanya gombal.
"Kita bertemu besok malam, di tempat biasa," tukas Sasuke yang mulai terganggu dengan sikap Juugo pada Naruto. Dengan cepat dia meraih tangan Naruto, menggandengnya dan beranjak meninggalkan Juugo yang masih menyeringai menatap kepergiannya.
"Sampai jumpa sayang, besok kamu akan menjadi kekasihku," teriak Juugo pada Naruto yang kini melemparkan tatapan sengit pada pria berambut orange itu.
"Besok kamu akan bertanding melawannya?"
"Hn."
"Boleh aku ikut?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Terlalu berbahaya Dobe."
"Kalau berbahaya, kenapa kamu menyanggupinya?"
"Untuk bersenang-senang," jawab Sasuke tanpa emosi. "Dan jangan bertanya lagi, hari ini kamu sudah cukup banyak bertanya."
Naruto mengatupkan mulutnya setelah mendengar Sasuke mengatakan hal itu, dalam perjalanan menuju asrama, Sasuke juga tidak bicara sepatah kata pun, menyebabkan keheningan yang menggantung diantara keduanya. Mereka kembali memanjat benteng sekolah untuk masuk ke dalam asrama, Naruto tidak berani bertanya kenapa Sasuke lebih memilih jalan ini daripada saluran air. Bukankah lebih mudah jika mereka melewati saluran air.
Seakan membaca isi pikiran Naruto, Sasuke menjelaskan hal itu dengan tenang. "Pada jam segini, banyak murid yang menggunakan saluran air untuk keluar asrama, aku tidak mau mereka tahu jika kita keluar bersama. Dan di sore hari, masih banyak kendaraan yang melintas di jalan raya, aku tidak mau menanggung resiko, jika kita terlindas ban mobil saat keluar dari lubang saluran air."
Naruto mengangguk, sedikit terkejut saat mendengar penjelasan dari Sasuke. Bagaimana dia bisa tahu apa yang sedang aku pikirkan? Tanya Naruto dalam hati. Mereka berpisah di pelataran asrama putri, setelah sebelumnya seorang petugas asrama menegur dan menanyakan kepada mereka kenapa baru kembali ke asrama, namun Sasuke segera menjawab, berbohong jika mereka mendapat hukuman untuk membereskan perpustakaan. Karena itu Sasuke mengantar Naruto hingga asrama putri, karena malam sudah semakin larut.
Langkah Naruto terasa berat, dia sangat lelah hari ini, tapi juga sangat gembira. Naruto mengernyit saat ingat, jika besok malam, Sasuke akan bertanding dengan pemuda berambut orange itu. Naruto menghela napas berat, karena itu artinya besok dia harus kembali begadang untuk menjaga Sasuke. Benar-benar merepotkan, pikir Naruto. Belum lagi, dia masih belum mendapat petunjuk lain mengenai siswi yang meninggal, membuatnya harus bekerja ekstra keras. Naruto memijit tengkuknya, yang terasa pegal. Keningnya ditekuk dalam, saat dia melihat ada tiga orang siswi yang tidak dia kenal berdiri tepat di depan pintu kamar asramanya.
"Boleh kami minta waktumu sebentar Namikaze-san?" tanya seorang siswi tersebut.
TBC
Review?
