Kiss and hugs author untuk semua silent readers, special untuk semua yang bersedia review. Gomen, nggak balas satu persatu TT-TT
Untuk jadwal update, author nggak punya jadwal tetap. Semuanya dikembalikan ke mood author, karena itulah jadwal update-nya sering molor. Kayak sekarang, author lagi ketik chap lanjutan BW, tapi, moodnya berubah, jadi malah ketik lanjutan UC.
Here We Go...
Disclaimers : Naruto belong Kishimoto sensei
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T (Next chapt, rencananya akan dirubah ke M, bukan karena lime atau lemon (fict ini nggak akan ada lemon), tapi lebih karena bahasa kasar dan pertarungan berdarah di chap-chap mendatang)
Warning : OOC, gaje, alur kecepetan, typo(s), gender bender, and etc
Under Cover
Chapter 4 : I'm Worried About You
By : Fuyutsuki Hikari
Don't Like, Don't Read!
Untuk beberapa saat, Naruto bergeming melihat ketiganya yang masih berdiri berjajar di depan pintu kamarnya. Naruto menghela napas panjang, sebelum akhirnya dengan berat hati, mempersilahkan ketiganya untuk masuk ke dalam.
"Maaf, jika kami mengganggumu," tukas salah satu siswi berambut merah panjang, dengan sebuah kacamata minus bertengger manis di hidung mancungnya. "Ah, perkenalkan, namaku Karin, ini temanku, namanya Hinata dan Ino," tambahnya lagi seraya menunjuk seorang gadis berambut indigo dan berambut pirang pucat bergantian. Kini keempatnya sudah duduk dengan nyaman di atas karpet tebal, yang sengaja digelar Naruto untuk menggantikan sofa, yang menurutnya terlalu memakan tempat.
Baik Hinata maupun Ino, hanya mengangguk kecil dan tersenyum ke arah Naruto. "Namikaze Naruto, yoroshiku," balas Naruto datar. "Aku tidak pernah melihat kalian sebelumnya, kalian dari kelas mana?" tanya Naruto saat dia menyuguhkan teh hijau panas dan beberapa makanan ringan di atas meja.
"Kami bertiga duduk di kelas 3-3," jawab Ino seraya mengambil sebuah biskuit coklat dari dalam toples. Sementara Hinata menyeruput teh hijau miliknya begitu nikmat.
Mata Naruto terus mengamati wajah ketiganya dengan seksama, sementara tangannya meletakkan kembali cangkir teh miliknya ke atas meja. "Pantas, aku jarang melihat kalian," balas Naruto tersenyum kecil. "Jadi... apa yang bisa aku bantu untuk kalian?"
Ketiga siswi di hadapan Naruto, saling melirik satu sama lain, sekilas ada raut ragu di wajah ketiganya. Beberapa detik telah berlalu, namun masih belum ada jawaban yang terlontar dari bibir ketiganya.
"Jadi?" tanya Naruto lagi. Sebenarnya dia sangat lelah, dia ingin sekali berendam lama di dalam air hangat, untuk menghilangkan rasa pegal pada tubuhnya. Naruto, mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja, kesabarannya semakin menipis. Diliriknya satu per satu wajah ketiga siswi itu, namun, ketiganya masih tidak buka suara.
"Yang ingin kami sampaikan saat ini sangat penting!" sahut Karin sungguh-sungguh.
"Kalau memang penting, cepat katakan!" pinta Naruto, dengan nada sehalus mungkin.
Karin meraih kedua tangan Naruto, dan menatap matanya dengan serius. Naruto sedikit kaget karenanya. Apa ini ada hubungannya dengan kematian siswi itu? Tanya Naruto dalam hati.
"Kami bertiga sudah memutuskan," tukas Karin dengan sedikit jeda.
"Memutuskan apa?" tanya Naruto semakin tidak mengerti.
"Kami putuskan, jika Namikaze-san menjadi anggota kehormatan kelompok kami." Sahut Ino tenang, sesekali dia menyesap teh hijaunya, sementara Hinata tersenyum lembut pada Naruto.
"Kelompok?" Naruto mengernyit, semakin bingung.
Karin mengangguk dengan antusias. "Selamat datang di kelompok kami, Namikaze-san. Kami menamakan kelompok kami dengan nama Black Rose."
"Kelompok apa itu? Lagipula, aku belum setuju," tukas Naruto seraya melepaskan genggaman tangan Karin pada kedua tangannya.
Karin meletakkan kedua tangannya di atas paha, sementara matanya menyorot sedih. "Semua anggota kelompok ini, memiliki latar belakang yang sama," tukas Karin setengah berbisik.
Naruto mengangkat sebelah alisnya, bingung. "Latar belakang apa?" tanya Naruto sedikit penasaran.
"Kita semua, pe-pernah pa-patah hati." Sahut Hinata, yang disambut helaan napas kedua temannya yang lain, sementara Naruto berubah menjadi kaku, mendadak dia berharap jika bumi terbelah dua dan menelannya saat ini juga. Jadi, hal ini yang menurut mereka penting? Pikir Naruto kesal.
"Masih banyak siswi lain yang bernasib sama. Kenapa kalian memilihku?" tanya Naruto menekan kekesalannya.
"Karena selain patah hati, kita berempat juga memiliki kesamaan lainnya," sahut Ino seoktaf lebih tinggi, sementara tangannya menggenggam cangkir teh-nya semakin erat. "Kita menjadi olokan Sakura, dan Sasuke cs, karenanya." Lanjutnya lagi dengan kesal.
"Mereka bersenang-senang di atas penderitaan kita," sahut Karin sedikit geram.
"Be-benar," kata Hinata dengan wajah tertunduk.
"Jadi, kalian juga korban olokan mereka?" desis Naruto.
"Begitulah," jawab ketiganya dengan senyum canggung.
Pada dasarnya, Sakura dan Sasuke cs memang menyebalkan, pikir Naruto. "Baiklah, kalau begitu, aku setuju masuk ke dalam kelompok kalian. Dan panggil aku Naruto!"
"Ha'i, arigatou," jawab ketiganya dengan mata berbinar.
Ino kembali menyesap teh-nya, dan berkata lirih. "Kita harus saling menjaga, dan menghibur satu sama lain, jangan sampai kejadian pada Tayuya terulang la-"
"Jangan membahas itu Ino!" potong karin, sementara Hinata membekap mulut Ino dengan tangannya.
"Tayuya?" tanya Naruto penuh selidik. "Bukankah dia siswi yang meninggal karena over dosis?"
"Kamu tahu?" Karin bertanya dengan nada agak keras, kaget karena Naruto yang masih murid baru bisa mengetahui hal ini.
"Begitulah," sahut Naruto, mengangkat kedua bahunya, berpura-pura tidak tertarik. "Aku mendengarnya dari gosip beberapa siswi saat makan siang."
Karin mengangguk kecil mendengarnya, karena hal itu memang sudah menjadi rahasia umum diantara murid. "Dia mengakhiri hidupnya karena kecewa dan patah hati," tukas Karin serius.
"Benar," sahut Ino. "Menurut rumor yang beredar, kekasihnya tidak mau bertanggung jawab, saat tahu Tayuya hamil. Hingga akhirnya Tayuya putus asa, dan memilih mengakhiri hidupnya."
"Ja-jangan membahas i-itu lagi!" tukas Hinata setangah berbisik. "I-ini sudah ma-malam, bulu kuduk-ku berdiri." Katanya seraya memperlihatkan bulu tangannya yang juga sudah berdiri. Karin dan Ino segera menutup mulutnya, mereka juga ikut merinding saat Hinata mengatakan hal itu.
Tapi, Naruto tidak mau berhenti sampai disitu, karena dia harus bisa mengorek informasi sekecil apapun. "Maksud kalian, arwah Tayuya masih bergentayangan?"
"Sstttt!" tukas Karin setengah berbisik. "Jangan bicara seperti itu, nanti dia datang!"
"Orang yang sudah meninggal, tidak mungkin hidup lagi," sahut Naruto santai.
"Ta-tapi itu benar, Naru-chan. Beberapa siswi, ba-bahkan mendengar su-suara dari dalam ka-kamarnya," jelas Hinata sedikit bergetar karena takut.
"Menurut kalian itu arwah Tayuya?" selidik Naruto lagi.
Ino merinding ngeri dan menjawab. "Tentu saja, kalau bukan hantu, lalu apa?"
"Entahlah, bisa saja itu pencuri. Benarkan?" sahut Naruto santai.
"Arghhh, sudahlah Naru. Jangan membahas itu lagi, aku semakin takut." Kata Ino yang duduk semakin dekat dengan Hinata. "Lebih baik jika kita kembali ke kamar, Naru juga pasti sudah lelah."
Ino menguap lebar dan menjawab. "Ha'i, aku juga sudah mengantuk."
"Oyasuminasai Naru-cah," tukas Hinata lembut. Ketiganya segera berdiri dan beranjak ke pintu kamar Naruto. Karin membuka pintu sedikit, dia menoleh ke kiri kanan lorong untuk mengecek keadaan, setelah merasa aman, mereka bertiga pun segera keluar, kembali ke kamarnya yang terletak di lantai empat, meninggalkan Naruto yang masih duduk tidak bergerak di tempatnya.
Naruto menghembuskan napas panjang, dan menempelkan pipi kanannya pada permukaan meja, sementara matanya terpejam begitu erat. "Sepertinya aku sudah gila," gumam Naruto tidak jelas. "Bagaimana mungkin aku setuju untuk masuk ke dalam kelompok mereka, hanya karena merasa senasib?" Mata Naruto kembali terbuka dengan sempurna, saat dia ingat akan apa yang dikatakan Ino beberapa saat lalu.
Dia segera beranjak ke meja belajar dan membuka laptop miliknya dan dengan cepat menekan tombol 'On'. Naruto menunggu dengan tidak sabar, dan segera memasukkan password untuk bisa mengakses program pada laptop-nya itu. Naruto membaca berkas laporan hasil visum kematian Tayuya beberapa kali. Dia harus yakin, jika tidak ada satupun yang lolos dari pengamatannya.
"Hasil visum ini jelas-jelas mengatakan jika Tayuya tidak hamil, lalu, kenapa Ino mengatakan jika Tayuya sedang hamil?" Naruto menyambar telpon genggamnya yang tergeletak di atas meja, dengan cepat dia mengetik pesan dan mengirimkannya pada Kakashi. Beberapa saat setelah mengirim pesan, telpon genggamnya pun berbunyi, pertanda ada panggilan masuk.
"Moshi-moshi?"
"..."
"Aku ingin laporannya secepat mungkin paman, ini benar-benar penting."
"..."
"Baiklah, kalau begitu, aku tunggu hasil penyelidikan paman."
"..."
"Ha'i, arigatou." Tukas Naruto menutup pembicaraannya dengan Kakashi. Naruto harus meminta Kakashi untuk menyelidiki laporan visum dan hasil otopsi pada jenazah Tayuya. Jika memang Tayuya hamil, maka sudah pasti ada seseorang yang meminta petugas otopsi untuk menghapus hal ini dari laporannya. Dan jika memang hasil pemeriksaan selama ini benar, berarti, Tayuya salah mengira jika dirinya sedang hamil, atau, dia berpura-pura hamil. "Aku pasti menemukan simpul dari benang kusut ini," tukas Naruto percaya diri. Dia mematikan laptop dan menutupnya kembali. Segera, dia beranjak ke kamar mandi. Dia perlu membersihkan diri, karena kulitnya terasa sangat lengket, belum lagi, ada pekerjaan rumah yang masih belum dia selesaikan.
Naruto menggunakan pengering rambut untuk mengeringkan rambut pirang sebahunya, dengan cepat dia menyelesaikan semua pekerjaan rumah dan beranjak tidur, tepat pada pukul satu dini hari. Sementara itu, di sisi lain asrama pria, Sasuke tersenyum lembut saat melihat Naruto masuk dan bergelung di dalam selimut. "Oyasuminasai, Dobe," katanya lirih seraya mematikan laptop miliknya dan beranjak ke tempat tidur.
.
.
.
Keesokan harinya, matahari sudah semakin tinggi. Langit begitu biru tak berawan. Naruto melayangkan pandangannya keluar jendela kelas. Suasana kelas cukup gaduh siang ini, dikarenakan absennya Kakashi dengan alasan sakit. Naruto hanya tersenyum kecil mendengarnya, karena hanya dia yang tahu alasan sebenarnya dari keabsenan Kakashi untuk mengajar hari ini.
Naruto juga bersyukur karena sepertinya Sasuke benar-benar menepati janji. Sejak pagi, tidak ada satu murid pun yang mengolok-oloknya. Begitupun dengan Sakura, gadis itu hanya melayangkan tatapan sinis pada Naruto, namun bibirnya terkatup rapat tanpa mengucapkan cibiran ataupun olokan lainnya.
.
Hingga siang, telinga Naruto terus menangkap bisikan para murid tentang pertandingan Sasuke nanti malam. Hal ini membuat Naruto bingung, bagaimana cara dia keluar untuk menjaga Sasuke, jika nanti malam ketiga siswi itu akan datang ke kamarnya. "Bagaimana caraku agar bisa melarikan diri dari ketiganya?" desis Naruto semakin gelisah, belum lagi, sampai jam makan siang, Kakashi masih belum memberinya kabar.
"Wajahmu semakin jelek jika kamu tekuk seperti itu."
Naruto mendongak, menatap Sasuke. "Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Naruto, sementara kedua matanya masih menatap Sasuke yang kini duduk di tepat hadapannya.
Sasuke membuka buku literatur dan menjawab dengan nada bosan. "Membaca buku."
"Sejak kapan kamu suka membaca buku di perpustakaan?" cibir Naruto mendengus kecil.
"Sejak lama." Sahut Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dia baca.
"Kamu sendirian?" tanya Naruto lagi, seraya menatap jauh ke belakang Sasuke.
"Hn."
"Mana teman-temanmu?"
Sasuke hanya mengangkat bahu menaggapinya. Naruto menggigit bagian dalam bibirnya, sedikit ragu untuk bertanya pada Sasuke. "Teme?"
"..."
"Kamu akan melayani tantangan Juugo malam ini?" tanya Naruto pada akhirnya.
"Hn."
"Kamu yakin?"
"Hn."
"Dia salah mengira, jika aku ini kekasihmu, jadi kamu tidak memiliki kewajiban untuk memenuhi tantangannya, karena aku bukan kekasihmu. Biar aku yang datang dan bicara padanya."
"Tidak usah ikut campur Dobe, ini urusan pria." Desis Sasuke tidak suka.
"Bagaimana jika kamu terluka?"
Sasuke mengangkat wajahnya untuk menatap Naruto dan tersenyum tipis. "Khawatir, Dobe?"
"Ti-tidak," jawab Naruto tergagap.
Sasuke membalik halaman buku dan menyeringai kecil mendengarnya. "Aku pasti menang, dan aku akan baik-baik saja. Dan kamu, tidak perlu datang ke race malam ini."
"Kamu tidak bisa mengaturku!"
"Aku serius Dobe, kamu tidak boleh datang ke race!" tukas Sasuke penuh penekanan. "Aku akan menghukum-mu jika tahu kamu datang."
"Mengancamku, Teme?"
"Menurutmu?"
Mata Naruto menyipit, Sasuke selalu berhasil mengaduk-aduk emosinya. "Aku tidak takut pada ancamanmu," balas Naruto dengan nada monoton.
Sasuke menutup buku yang sedang dibacanya dengan keras, dan menjawab. "Terserah," jawabnya masih dengan nada monoton yang sama. Setelah mengatakan itu, dia beranjak pergi meninggalkan Naruto yang masih menatap sinis padanya.
.
.
.
Tepat pukul delapan malam, Karin, Ino dan Hinata kembali datang ke kamar Naruto. Sasuke yang melihat hal ini dari layar laptopnya menaikan sebelah alis heran.
"Apa yang sedang kamu lihat Sas?" tanya Neji yang berjalan menghampiri Sasuke. "Wow, kamu benar-benar memasang kamera di kamar Naruto?"
Pernyataan Neji ini mampu membuat Shikamaru, Gaara dan Kiba penasaran. Mereka bertiga pun beranjak menghampiri Sasuke. "Kenapa Hinata, Ino dan Karin ada disana?" tanya Kiba heran saat layar laptop Sasuke menampilkan ketiga gadis itu duduk santai di dalam kamar Naruto. "Apa yang sedang mereka bicarakan? Sas, kamu memasang alat sadap juga-kan?"
"Tidak," jawab Sasuke singkat.
"Kalau begitu, kita tidak bisa mendengar pembicaraan mereka." Keluh Kiba kecewa.
"Hn."
"Sejak kapan mereka saling mengenal, dan sepertinya mereka akrab," tukas Gaara penasaran.
"Aku rasa juga begitu," sahut Shikamaru datar.
"Mereka pasti sedang merencanakan sesuatu," kata Kiba yakin.
"Aku akan mencari tahu, lebih baik sekarang kita pergi Sas. Sudah hampir jam sepuluh malam." Tukas Neji mengingatkan.
Sasuke melirik ke jam dinding yang tergantung di atas TV. Dengan cepat dia mengirim pesan melalui telpon genggamnya, dan menyeringai kecil saat menerima balasan. "Ayo pergi," seru Sasuke yang sudah beranjak keluar kamar, diikuti oleh keempat temannya yang lain.
Sementara itu, di kamar Naruto, gadis blonde itu menatap sebal layar telpon genggamnya, yang beberapa saat lalu menerima pesan masuk dari Sasuke. Pesannya singkat, tapi sanggup membuat panas ubun-ubun Naruto. Aku, akan mengambil hadiahku, saat aku kembali. Naruto langsung mengetik pesan balasan, yang berbunyi : Katakan itu saat kamu menang!
"Ada apa Naru? Kenapa dahimu berkerut seperti itu?"
"Tidak apa-apa Ino," jawab Naruto sedikit gugup.
"Bukankah hari ini Sasuke akan bertanding melawan siswa Iwagakure? Bagaimana kalau kita melihat pertandingannya?"
"A-aku tidak yakin Karin, ba-bagaimana jika nanti ki-kita tertangkap pe-pengawas asrama?"
"Jangan takut Hinata, aku yakin murid yang lain juga banyak yang menyelinap keluar asrama malam ini," sahut Ino.
Naruto mengangguk setuju, dalam hati dia berdoa agar tiga gadis di hadapannya ini mengurungkan niatnya. "Hinata benar, terlalu berbahaya jika kita keluar asrama. Lebih baik kalian kembali ke kamar dan tidur."
"Kamu juga sama Naru, penakut!" tukas Karin dengan mata menyipit menatap Naruto. "Sekali-kali, kita harus melakukan sesuatu diluar kebiasaan kita. Bukankah menyelinap keluar asrama itu menegangkan?"
"Dan berbahaya," kata Naruto lagi mengingatkan. "Bagaimana jika nanti kita bertemu penjahat, penculik atau lebih parahnya penjahat yang mabuk dan mesum?"
"Kamu berpikir terlalu jauh," sahut Ino terkikik kecil. "Kita pergi sekarang, dan kembali setelah race selesai. Kamu ikut Naru?"
Naruto menghembuskan napas dengan keras, tugasnya malam ini akan terasa sedikit berat, karena selain menjaga Sasuke, dia juga harus menjaga ketiga siswi yang duduk di hadapannya saat ini. "Ha'i, aku ikut," jawabnya tidak bersemangat.
.
.
Karin memimpin ketiganya saat mereka berjalan melewati saluran air, keadaan saat itu begitu sepi. Tidak ada satu murid pun yang terlihat keluar asrama, mungkin karena malam sudah terlalu larut. Jadi, kebanyakan diantara mereka sudah berada di luar asrama, dan akan kembali pada dini hari.
"Kita hanya perlu berjalan beberapa blok saja dari sini," tukas Karin saat keempatnya sudah keluar dari saluran air. Ino dan Hinata mengangguk kecil, sementara Naruto memandang sekeliling dengan waspada.
Mereka terus berjalan dalam keheningan, malam sudah begitu pekat, bahkan sang rembulan tidak menampakkan diri malam ini, tertutup oleh awan yang menggantung begitu gelap. "A-apa sebaiknya ki-kita kembali saja?" tukas Hinata lirih, beberapa kali dia merapatkan jaket yang dikenakannya untuk menghalangi udara dingin malam menembus kulitnya.
"Tempatnya sudah dekat Hinata, kita hanya akan melihatnya dari jauh, lalu pulang sebelum ada yang mengetahui keberadaan kita," sahut Karin sedikit menggigil.
"Ta-tapi, perasaanku ti-tidak enak, karin." Belum juga mulut Hinata kering setelah mengucapkan hal itu, dari arah depan, meluncur sebuah mobil Jeep hitam dengan kecepatan tinggi dan berhenti tepat di depan keempatnya.
"Mundur!" tukas Naruto lirih, yang refleks berdiri di hadapan ketiga teman barunya dengan sikap siaga karena mencium bahaya.
Empat orang pria dewasa, berusia pertengahan tiga puluh tahun, turun dari Jeep hitam itu dan berjalan menuju Naruto cs. Karin, Ino dan Hinata bergetar ketakutan karenanya, namun Naruto bersikap tenang, sementara otaknya terus menyusun strategi untuk menyelamatkan ketiga temannya jika hal paling buruk terjadi.
"Sepertinya malam ini kita sangat beruntung, masing-masing dari kita bisa memiliki teman tidur gratis untuk malam ini," desis salah satu pria berperawakan tinggi, tegap. Naruto tidak bisa melihat warna kulitnya, karena memang tempatnya berdiri saat ini minim cahaya. Perkataannya itu disambut gelak tawa dari ketiga temannya yang lain.
"Tidak usah banyak bicara, cepat masukkan mereka ke dalam mobil!" sahut seorang pria yang lain.
Naruto bisa mencium bau alkohol dari tubuh keempat pria asing ini, yang Naruto takutkan hanya satu, dia takut jika ketiga temannya terluka. "Lari dan cari bantuan," perintah Naruto setengah berbisik, namun bisa ditangkap dengan jelas oleh Karin, Ino dan Hinata.
"Ta-tapi," sahut Hinata gemetar ketakutan.
"Kita harus saling melindungi," tukas Karin yang juga sama bergetarnya karena takut.
"Akan sulit untukku bergerak jika ada kalian," tukas Naruto jujur. "Aku bisa bela diri, aku akan mengalihkan perhatian mereka, cepat pergi dan cari bantuan!"
"Jangan coba-coba melarikan diri, gadis manis." Seru salah satu pria, menyeringai lebar, sementara ketiga temannya yang lain, berdiri berjejer, menghalangi jalan.
"Hitungan ketiga," tukas Naruto lirih. Karin, Ino dan Hinata hanya bisa menelan ludah dan mengambil ancang-ancang.
"Tiga!" teriak Naruto keras, dia menendang keras ulu hati pria paling kiri agar Karin, Ino dan Hinata bisa lari melewatinya. Pria itu terjatuh dan meringis kesakitan, sementara ketiga pria lainnya yang sedikit shock menatapnya tidak percaya, berdesis dan mulai menyerang Naruto secara bertubi-tubi.
Karin, Ino dan Hinata terus berlari dengan cepat, sesekali mereka menengok ke belakang, melihat ke arah Naruto. Mereka harus mencari bantuan untuk menolong Naruto, semakin cepat semakin baik. Napas ketiganya begitu memburu, keringat mengucur deras, mereka sangat takut, takut jika Naruto terluka. Mereka juga tidak mungkin tetap diam bersama Naruto, karena mereka hanya akan menjadi beban.
Naruto berputar 180 derajat dan melayangkan tendangan tepat ke arah dagu salah satu penjahat. Menangkis tendangan pria lainnya dengan kedua tangan, dan membanting salah satu pria yang menyerangnya dari arah belakang. Naruto meringis saat salah satu pria memukulnya tepat di wajah, hingga sudut kanan bibirnya sedikit robek dan mengeluarkan darah.
Mata Naruto memicing menatap keempat penjahat yang sudah terhuyung dan bergerak mundur, dengan cepat dia menghapus darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. "Maju!" tantang Naruto pada keempatnya tanpa rasa takut.
Salah satu penjahat itu bergerak maju, kembali melayangkan pukulan pada daerah vital Naruto, namun Naruto berhasil menangkap kedua tangannya, dengan gerak cepat kakinya menendang tepat pada bagian dagu pria itu. Nasib salah satu penjahat lainnya tidak jauh berbeda, Naruto menghantam dada pria itu dengan keras hingga dia terhempas jauh ke belakang. Dua orang penjahat yang tersisa akhirnya memilih mundur, membantu kedua temannya yang masih tersungkur di atas tanah dan segera melarikan diri.
Naruto duduk di tepian trotoar, mengatur napas yang masih menderu, dan berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak begitu cepat. Setelah napasnya kembali teratur, Naruto pun bangkit, menepuk-nepuk bagian belakang tubuhnya untuk menghilangkan debu yang menempel pada celana jeans miliknya. Dia baru saja berjalan beberapa meter, saat lima buah mobil sport melaju dan berhenti tepat di depannya. Naruto mulai menghitung jumlah pemuda yang mulai turun dari mobil sport itu, semuanya ada sepuluh orang. Naruto mengambil napas dalam, dan menghembuskannya dengan keras, mengutuk dalam hati, akan nasib sialnya malam ini.
"Lihat Hidan, bukankah dia kekasih Sasuke?" teriak seorang pemuda yang baru saja turun dari mobil sport berwarna hitam mengkilat.
"Sepertinya iya," sahut Hidan tersenyum penuh kemenangan.
"Kita culik saja, dengan begitu, Sasuke akan mengalah dan berlutut di hadapan kita." Seru seorang pemuda lainnya.
"Aku setuju, tangkap dia!" teriak Hidan lantang, dengan patuh empat pemuda diantaranya berjalan mendekati Naruto dengan tawa keras, memecah keheningan malam.
Di tempat lain, Karin, Ino dan Hinata berlari menerobos sekelompok remaja yang berdiri mengelilingi mobil Sasuke. "Apa yang kamu lakukan disini?" teriak Neji saat melihat Hinata berlari tergopoh-gopoh ke arahnya.
"Nii-san, to-tolong!" sahut Hinata tidak menggubris pertanyaan Neji. Dia menarik napas dalam, mencoba untuk menetralkan kembali napasnya yang memburu dengan cepat, dengan erat Hinata meremas jaket yang dikenakan oleh Neji.
"Ada apa denganmu?" tanya Neji khawatir saat melihat Hinata terisak dan menangis. Kiba dan Shikamaru berjalan mendekat, sementara Gaara dan Sasuke hanya menatapnya tanpa emosi.
"To-long Naruto," ucap Ino.
"Memangnya dia kenapa?" cibir Shikamaru pura-pura tidak peduli.
"Beberapa pria menyerang kami, dan Naruto masih disana untuk mengalihkan perhatian agar kami bertiga bisa kabur," jelas Karin panjang lebar.
"Dimana dia?" sahut Sasuke begitu dingin, sementara kedua tangannya terkepal begitu erat.
"Disana," tunjuk Ino. "Beberapa blok dari sini," katanya lagi.
"Masuk, dan tunjukan tempatnya padaku!" kata Sasuke. Ino segera masuk ke dalam mobil Sasuke, sementara Hinata, Karin dan Kiba ikut di mobil Neji, sedangkan Gaara ikut di mobil Shikamaru.
"Tunggu Sas, aku juga ikut," seru Juugo lantang.
"Kamu tunggu disini saja, lagi pula ini bukan urusanmu," potong Kiba.
"Ini juga urusanku, aku tidak mau hadiahku rusak."
"Hadiah?" tanya Gaara. "Apa maksudnya?" imbuhnya lagi tidak mengerti. Namun Sasuke sama sekali tidak menanggapi pertanyaan itu, dia segera menyalakan mesin mobilnya dan dengan kecepatan tinggi menuju ke tempat yang diarahkan oleh Ino.
Sasuke dan yang lain, hanya memerlukan beberapa menit saja untuk sampai di lokasi. Suara gesekan ban dan aspal berdecit begitu keras, meninggalkan bekas di aspal hitam itu. Sasuke keluar dari dalam mobil dan menutup pintunya dengan keras. Dia semakin panik, saat melihat ada lima buah mobil sport terparkir di samping jalan.
Dia terus berjalan, setengah berlari, hatinya cemas, khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada Naruto. Namun sepertinya, perkiraannya itu meleset, karena Naruto masih berdiri, melipat kedua tangannya di atas dada, dan memasang wajah masam. Sasuke tersenyum tipis, saat melihat sepuluh remaja pria, duduk bersimpuh di hadapan Naruto, dan mengangkat kedua tangannya tinggi.
Setelah melihat hal itu, Sasuke pun berjalan dengan langkah santai mendekati Naruto. Naruto melirik ke arahnya dan mendengus. "Kamu baik-baik saja Dobe?"
"Menurutmu?" sahut Naruto sebal.
"Hn." Jawab Sasuke tidak jelas, dia lalu mengalihkan pandangannya pada kesepuluh pemuda itu. "Apa yang kamu lakukan pada mereka?"
"Memberi mereka sedikit pelajaran, mereka datang pada waktu yang tidak tepat," desis Naruto dingin, sementara Sasuke menyeringai kecil mendengarnya.
"Apa yang kalian lakukan disini?" teriak Juugo saat melihat kesepuluh temannya bersimpuh di hadapan Naruto. "Jadi, kalian yang mengganggu Naruto?" tanya Juugo marah.
"Ti-tidak, bukan begitu Juugo," jawab Hidan takut.
"Juugo-san, mereka tidak menggangguku," sahut Naruto tersenyum manis. "Mereka hanya ingin menculik-ku." Imbuhnya penuh penekanan.
"Apa?" Juugo menatap kesepuluh pemuda itu kesal. "Benar begitu?" tanyanya dingin, sementara kesepuluh pemuda itu mengangguk kecil. "Benar-benar memalukan!" teriak Juugo. "Kalian sudah membuat nona-nona ini takut!" sembur Juugo salah kira.
"Justru kami yang dibuat takut oleh wanita itu," sanggah Hidan membela diri dan menunjuk ke arah Naruto.
"Kamu masih membela diri?" bentak Juugo semakin kesal.
"Oh Tuhan, Juugo, apa kamu tidak lihat, jika disini, kami-lah yang babak belur?"
"Hanya seorang pengecut yang tidak mengakui kesalahannya, Hidan." Kata Juugo tajam. "Lagi pula, bagaimana mungkin seorang nona sepertinya, mampu mengalahkan kalian semua."
"Tapi, itu benar!" sembur Hidan tidak terima karena Juugo tidak mempercayainya.
"Sudah, jangan banyak bicara. Lebih baik kalian pulang!" tukas Juugo tegas, satu persatu teman-temannya itu berdiri dan berjalan, menuju ke mobilnya masing-masing dan beranjak pergi.
"Tolong, maafkan kelakuan mereka. Sebenarnya mereka anak yang baik."
"Dengan satu syarat," sahut Naruto datar.
"Apa?"
"Tidak akan pernah ada pertandingan diantara kalian, tidak malam ini, ataupun malam lainnya."
Juugo mengambil napas dalam dan menatap Sasuke. "Bagaimana Sas?"
"Terserah," jawab Sasuke datar.
"Baiklah, aku setuju," balas Juugo tenang. "Aku harap, kita bisa bertemu lagi." Katanya seraya tersenyum lebar pada Naruto. "Jaa," tukas Juugo dan beranjak pergi.
"Naruto, kamu baik-baik saja?" tanya Ino cemas. "Kemana keempat preman itu? Yang menyerang kita kan empat orang preman, bukan kesepuluh pemuda tadi."
"Aku baik-baik saja," jawab Naruto tenang. "Keempat preman itu sudah pergi, dan kesepuluh pemuda tadi, datang untuk menggangguku."
"Ta-tapi, kamu ba-baik-baik saja kan?"
"Aku baik-baik saja Hinata, arigatou."
"Bagaimana caramu mengusir preman-preman itu?" tanya Kiba tertarik.
"Hanya beruntung," jawab Naruto pendek.
"Lebih baik kita kembali ke asrama," tukas Shikamaru. "Lagi pula, race sudah dibatalkan, kita tidak memiliki alasan untuk tetap disini."
Gaara mengangguk setuju. "Shikamaru benar, lebih baik, kita kembali ke asrama saja."
Neji merogoh ke dalam saku celananya dan meraih telpon genggam miliknya. Dengan cepat, dia menulis pesan dan mengirimkannya. "Aku sudah mengirim pesan pada Sakura, agar semua murid kembali ke asrama."
Shikamaru tersenyum kecil dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Sepertinya Sakura sedang berteriak marah saat ini."
"Kurasa juga begitu," sahut Gaara santai. "Karena seharusnya kita berpesta sampai pagi, setelah race selesai."
"Sampai kapan kalian seperti ini?" potong Naruto dingin. "Menyelinap asrama hanya untuk bersenang-senang," cibirnya tajam. "Sementara di luar sana, banyak sekali murid yang harus membanting tulang agar bisa tetap sekolah. Kalian harusnya bersyukur dan belajar dengan benar."
"Tanpa belajar pun, kami tetap bisa meraih nilai tinggi. Kami sudah pintar dari lahir," sahut Neji.
Naruto tersenyum simpul. "Kalian memang pintar, tapi kalian tidak pintar menjaga amanat orang tua kalian!" sindir Naruto tajam.
"Apa maksudmu Naru?" desis Kiba. "Kamu sendiri, kenapa keluar asrama? Bukankah kamu sama saja dengan kami? Sebelum mengatakan hal buruk tentang orang lain, bercerminlah terlebih dahulu! Apa orang tuamu tidak mengajarkan hal itu padamu?"
"Benar, orang tuaku tidak mengajarkan hal itu padaku," sahut Naruto sedingin es, berbalik dan berjalan menuju ke asrama.
"Dia keluar bukan karena keinginannya Kiba, karena kami bertigalah yang memaksanya untuk ikut bersama kami," kata Karin tajam dan berjalan menyusul Naruto, disusul oleh Ino dan Hinata di belakangnya.
"Sudahlah, lebih baik kita menyimpan mobil kita dan segera kembali ke asrama," tukas Neji memecah keheningan setelah kepergian Naruto cs.
.
Naruto menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, tubuhnya sangat lelah, tapi, matanya tidak mau dipejamkan. Naruto meraih telpon genggam yang tersimpan di saku jaket hitamnya. Dan membuka pesan masuk. Hasil penyelidikan sudah aku email, itu adalah isi dari pesan Kakashi. Naruto segera bangkit dan beranjak menuju meja belajarnya, menghidupkan laptop dan membuka email pribadinya.
Dia membaca email hasil penyelidikan Kakashi, keningnya berkerut saat dia membaca jika Tayuya negatif hamil. "Lalu kenapa beredar gosip jika Tayuya bunuh diri karena hamil?" Naruto berkata lirih. "Aku harus masuk ke dalam kamar Tayuya, dan mencari petunjuk yang mungkin saja terlewat." Naruto membuka laci dan mengambil sebuah senter dari dalamnya. Setelah berganti pakaian, Naruto pun mengendap-endap keluar kamar menuju kamar Tayuya. Naruto terus berjalan menyusuri lorong dan turun ke lantai dua, hingga akhirnya dia sampai di kamar no 25.
Naruto memutar knop pintu kamar milik Tayuya, dan menghela napas lega saat mendapati jika kamar itu tidak terkunci. Naruto kemudian masuk, dan menutup pintunya dengan debaman pelan. Naruto segera memeriksa ke dalam kamar dan menyisir setiap sudut ruangan itu, namun, langkah Naruto terhenti saat telinganya mendengar derit jendela yang digeser. Hantu? Pikir Naruto.
Dengan cepat, Naruto menyembunyikan diri di sudut lemari pakaian. Matanya begitu tajam mengawasi ke arah jendela. Angin malam mengibarkan gordyn yang terpasang pada jendela. Dan sosok itu pun muncul, merangkak naik melalui jendela dan masuk ke dalam kamar.
Dilihat dari bayangannya, Naruto sangat yakin, jika yang masuk ke dalam kamar ini adalah seorang pria. Dengan tergesa-gesa, sosok itu mulai membuka laci meja belajar Tayuya, dan mengaduk-aduk isinya, seolah mencari sesuatu yang penting. "Dimana dia menyimpannya?" desis pria itu dengan nada suara berat. Naruto semakin yakin jika sosok itu seorang pria, karenanya.
Pria itu tersentak kaget, saat Naruto muncul dari belakang dan hendak memukulnya. Dengan tangkas pria itu mengelak, dan membalas Naruto dengan melayangkan tendangan ke arah dada Naruto. Beruntung bagi Naruto, karena dia berhasil menghindar. Merasa terancam, pria itu pun kembali meloncat keluar melalui jendela dan turun dengan menggunakan dahan pohon yang berdiri kokoh tepat di depan jendela kamar Tayuya.
"Sial," umpat Naruto keras, dan menyusul pria itu dengan meloncat keluar jendela. Naruto terus berlari mengejar, hingga sampai benteng belakang sekolah. Pria itu naik ke atas benteng dan meloncat turun, terus berlari menjauhi asrama. "Brengsek," umpat Naruto lagi, entah untuk keberapa kalinya hari ini.
"Apa yang kamu lakukan disitu, Dobe?"
Naruto berbalik dan menatap kesal kelima remaja pria yang berdiri tidak jauh darinya. "Aku mengejar pencuri!" jawab Naruto ketus.
"Ini sudah malam, lebih baik kamu kembali ke asrama," sahut Shikamaru tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Naruto.
"Aku tidak berbohong," desis Naruto kesal. "Ada seorang pencuri masuk, dan jika kalian tidak mengganggu, aku pasti sudah keluar dan menangkapnya."
"Tidak mungkin pencuri masuk ke dalam asrama, karena mereka semua terlalu takut padamu," cibir Kiba terkekeh, sementara Neji dan Gaara tersenyum kecil mendengarnya.
Naruto berdecak kesal, dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar, sementara Sasuke cs berjalan di kiri kanannya.
"Kamu itu seorang wanita Naruto, seharusnya kamu berteriak meminta tolong jika ada sesuatu yang membahayakan," tukas Shikamaru tegas.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri," kilah Naruto.
"Apa kamu tidak kapok dengan kejadian sebelumnya? Bagaimana jika seandainya kelompok Juugo tidak ada disana, kamu pasti sudah dibawa pergi oleh preman-preman itu," kata Neji datar.
"Preman-preman itu memang sudah pergi, saat Hidan dan yang lainnya datang," sanggah Naruto lagi.
"Jangan membantah Dobe, itu untuk kebaikanmu, lihat wajahmu sekarang. Wajahmu sudah jelek, tanpa harus ada luka disana," timpal Sasuke.
Naruto berhenti secara tiba-tiba dan menatap wajah kelima pemuda itu satu persatu. "Sejak kapan kalian peduli padaku?" dengus Naruto. "Jangan membuatku tertawa, lagi pula ini hanya luka kecil," cibir Naruto seraya menunjuk ke area sudut kanan mulutnya yang sobek dan mulai membiru di sekelilingnya.
"Wanita memang memusingkan," potong Shikamaru monoton saat Naruto pergi, menyebabkan lima pasang mata menatapnya penuh tanya. Shikamaru mengangkat kedua bahunya dan menjawab dengan santai. "Sebentar mereka tertawa, sesaat kemudian bersedih, lalu berubah menakutkan karena marah, contohnya dia," tukasnya seraya menunjuk ke arah Naruto.
"Kita belum tahu jika dia benar wanita atau bukan," sahut Gaara tersenyum mesum. "Sas, kamu sudah membuktikan atau belum, jika dia seorang wanita?" tanyanya tanpa menghiraukan tatapan tajam Naruto, yang menatap lurus ke arahnya.
"Hn."
"Cepat cari tahu Sas, bagaimana kalau ternyata dia seorang pria yang menyamar menjadi wanita?" tukas Neji dengan tatapan penuh selidik.
"Lihat saja, dadanya rata begitu!" kata Kiba menunjuk langsung ke arah dada Naruto, hingga secara otomatis, Naruto menyilangkan kedua tangannya di atas dada.
"Jaga bicaramu bocah," desis Naruto pada Kiba. "Dadaku sama sekali tidak rata, ukurannya 34B." Katanya dengan nada satu oktaf lebih tinggi. Naruto menggigit bibir bawahnya, menyesali akan apa yang baru saja dia katakan, karena hal itu berefek pada tatapan mesum kelima pemuda di hadapannya yang mengarah langsung pada dadanya. "Apa yang kalian lihat? Dasar mesum!" bentak Naruto jengkel, berbalik pergi untuk kembali ke kamarnya.
"Sas, apa benar, ukurannya 34B?" tanya Kiba memutus keheningan yang menyelimuti kelimanya setelah kepergian Naruto.
"Hn."
"Artinya ya atau tidak?" tukas Neji menatap Sasuke penuh rasa ingin tahu.
"Hn."
"Kamu pasti pernah melihatnya berganti pakaian kan?"
"Hn."
"Sudahlah," kata Shikamaru menjawab pertanyaan Gaara. "Jawabannya adalah tidak, benarkan Sas?"
"Hn," lagi-lagi Sasuke menjawab ambigu.
"Payah," sindir Kiba pada Sasuke.
"Dia selalu berganti pakaian di dalam kamar mandi," tukas Sasuke dengan wajah datar.
"Kamu tidak memasang kamera di kamar mandi?" tanya Gaara heran.
"Iie," jawab Sasuke singkat, disambut helaan napas panjang dari keempat temannya. "Aku bukan pria mesum," katanya lagi membela diri.
"Yeah..." ledek Neji. "Tidak mesum, hanya tukang intip," Neji mendengus hinnga menyebabkan Shikamaru, Gaara dan Kiba menahan tawa geli, sementara Sasuke melenggang pergi meninggalkan keempatnya yang masih tertawa tertahan di belakangnya.
.
.
.
Keesokan harinya, Naruto bergegas kembali ke asrama selepas bel pelajaran akhir berbunyi. Dia bahkan tidak sempat mandi, dia hanya membasuh wajahnya dan berganti pakaian dengan celana parasit hitam dan kaos polo yang juga berwarna hitam, mengikat rambutnya menjadi ekor kuda seraya melihat pantulan dirinya pada cermin untuk terakhir kali, dan segera keluar kamar, menuju dojo tempatnya berlatih. Naruto melongokkan kepalanya melalui celah pintu dan tersenyum tipis saat melihat ketiganya sudah berada di dalam dojo.
"Kalian sudah siap?" tanya Naruto pada ketiga murid barunya yang saat ini sudah mengenakan Judogi dan berlari-lari di tempat, untuk meregangkan otot. Lee, Choji dan Shino berhenti secara otomatis, saat mendengar suara Naruto. Mereka berdiri dengan tegap, berjajar ke samping, dan menjawab dengan mantap. "Siap, sensei."
"Bagus, kalau begitu, aku tidak akan sungkan," sahut Naruto menyeringai kecil. "Duduklah, sebelumnya aku ingin kalian mengetahui sesuatu." Lee, Choji dan Shino duduk dengan patuh. "Aku hanya mengembangkan dua hal dalam melatih, yaitu, latihan fisik dan pengembangan mental." Tukas Naruto pada ketiganya.
"Aku akan mengajari kalian cara bertahan, menggunakan pukulan, tendangan, dan mungkin cara menggunakan senjata pendek," Naruto mengambil napas dan menatap wajah ketiganya, satu per satu. "Kalian hanya boleh menggunakan kemampuan kalian pada saat kalian dalam bahaya, atau untuk melindungi seseorang yang kalian sayangi. Jika aku mendengar, kalian menggunakannya untuk mengadu kekuatan, aku sendiri yang akan mematahkan kedua kaki kalian!" tukas Naruto datar, tanpa emosi. Sementara ketiga orang muridnya menelan ludah, ban merinding takut mendengarnya.
"Sensei," potong Lee mengangkat tangan.
"Ya, Lee."
"Kenapa sensei tidak mengenakan Judogi?"
"Maaf, aku tidak membawa pakaianku, aku tidak pernah mengira, jika aku akan memiliki murid disini."
"Sensei?"
"Ya, Shino."
"Kapan, kita mulai berlatih menendang, memukul, membanting dan mengunci lawan?"
"Segera, tapi sebelumnya, aku harus menguji ketahanan fisik kalian," jawab Naruto dengan senyum tipis, yang entah kenapa, lagi-lagi membuat bulu kuduk Lee, Choji dan Shino meremang karenanya. "Berdiri!" perintah Naruto tegas, ketiganya kembali berdiri dengan patuh. "Kita akan lakukan pemanasan, pemanasan sangat penting, pemanasan yang benar bisa menghindarkan kita dari cidera," terang Naruto. "Taruh kedua tangan kalian di pinggang, tengokkan kepala ke kiri dan kanan, secara bergantian sebanyak delapan kali." Mereka berempat terus melakukan pemanasan, melemaskan otot-otot kepala, tangan dan kaki secara bergantian selama 30 menit.
"Pemanasan sudah cukup, sekarang, kalian lari di tempat selama 30 menit, push-up sebanyak 100 kali dan sit-up sebanyak 100 kali, serta loncat tali selama 30 menit, aku sendiri yang akan menghitung, jika kalian tidak kompak, aku, akan mengulangi hitungan dari awal."
.
Lee, Choji dan Shino terkapar di atas tatami setelah melakukan semua yang diperintahkan Naruto kepada mereka. Mereka terlalu lelah untuk bicara, keringat mereka mengucur deras, sementara napas mereka begitu memburu dan terputus-putus.
"Kurasa latihan hari ini sudah cukup," tukas Naruto santai. "Aku memberi kalian waktu untuk berpikir, jika kalian masih mau melanjutkan latihan, besok, temui aku pukul delapan pagi dengan pakaian olahraga di gerbang sekolah. Aku akan melatih kalian diluar, tapi jika tidak, aku tidak akan memaksa." Baik Lee, Choji, maupun Shino tidak ada satu pun dari mereka yang menimpali, mereka terlalu lelah saat ini. "Keputusan ada ditangan kalian, sekarang sebaiknya kalian kembali ke kamar dan beristirahat, oyasuminasai." Tukas Naruto berbalik pergi, meninggalkan ketiganya yang masih terkapar di atas tatami.
"Ternyata latihannya sangat berat." kata Shino selepas kepergian Naruto.
"Benar," sahut Choji mengangguk setuju. "Ini masih belum masuk latihan dasar, menurutmu, apa mungkin saat ini sensei sedang menguji mental kita?"
"Bisa saja," jawab Lee sambil mengangkat punggungnya dari atas tatami dan duduk dengan meluruskan kedua kakinya. "Kalian akan menyerah?"
"Enak saja," desis Shino. "Sudah kepalang tanggung Lee, aku tidak mau dikatakan pengecut, karena mundur sebelum berperang."
Choji tertawa dan memukul bahu Shino pelan. "Itu, baru namanya semangat. Dan kau, Lee?"
Lee pun tersenyum lebar, dan mengangkat jempol tangannya ke udara. "Aku juga tidak akan menyerah, aku ikut," katanya semangat.
"Ayo kita kembali ke asrama," ajak Choji yang dengan susah payah berusaha untuk bangkit dan berdiri. "Nanti, tolong bantu aku untuk memasang koyo," katanya memohon.
"Tidak masalah, aku akan pasangkan nanti," sahut Lee. Naruto tersenyum mendengar pembicaraan ketiganya dari balik tembok, dia sengaja berdiri lebih lama disana untuk mencuri dengar. Dan ternyata, hasilnya benar-benar di luar dugaannya. Naruto kira, ketiga siswa itu hanya ingin bermain-main dan akan menyerah setelah latihan pertama. Naruto akhirnya beranjak setelah mendengar langkah kaki ketiganya yang semakin mendekat.
Naruto terus berjalan melewati lorong sekolah yang minim pencahayaan, keadaan begitu sepi, karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Naruto tersontak kaget, saat ada seseorang yang menarik tangannya, dan memaksanya masuk ke dalam ruang musik.
"Jangan berisik Naru, ini aku."
"Paman Kakashi, kenapa paman masih ada disini?" tanya Naruto heran. "Paman tahu, aku hampir saja melayangkan pukulan dan tendangan ke arahmu, untung saja aku langsung bisa mengenali bau parfum paman."
"Aku terus mencarimu dari tadi," sahut Kakashi menyandarkan punggungnya pada daun pintu. "Kamu kemana saja? Kenapa tidak menjawab telpon?"
"Maaf, telpon genggamku tertinggal di kamar, memangnya ada apa?"
"Ini," tukas Kakashi seraya menyerahkan sebuah buku catatan kecil pada Naruto.
"Apa ini?"
"Daftar nama dan identitas lengkap semua mantan pacar Tayuya."
"Wow," Naruto bersiul pelan saat membacanya. "Sepertinya semua mantan pacarnya memiliki catatan hitam."
"Begitulah," sahut Kakashi datar.
"Banyak sekali mantan pacarnya, dan hampir sebagian, merupakan siswa dari sekolah lain?" tukas Naruto, membelalakan mata menatap Kakashi, sementara yang ditatap hanya menganggukkan kepala.
"Aku akan meminta bantuan untuk menyelidiki siswa yang berada di luar sekolah, tugasmu, adalah menyelidiki siswa yang berada di dalam sekolah."
"Ha'i, wakatta."
"Aku juga sudah menyelidiki kamar Tayuya seperti yang kamu minta, tapi, tidak ada sidik jari yang tertinggal disana. Sepertinya, orang yang masuk ke kamar Tayuya bukan pencuri biasa."
"Menurut paman, dia sedang mencari sesuatu?" tanya Naruto.
"Benar," sahut Kakashi dalam. "Bagaimana, jika seandainya, Tayuya berpura-pura hamil dan meminta pertanggung jawaban kekasihnya."
"Namun, kekasihnya itu menolak dan membunuhnya. Mungkin dia kembali untuk mencari barang bukti," tukas Naruto dalam. "Menurutku itu sedikit masuk akal, tidak akan ada asap jika tidak ada api. Aku rasa gosip mengenai kehamilan Tayuya memang disebar secara sengaja."
"Tujuannya?"
"Menjebak kekasihnya, mungkin saja Tayuya yang menyebarkan gosip itu."
"Kita tidak bisa mengambil kesimpulan tanpa bukti yang kuat, kamu istirahat saja. Malam ini, aku yang akan mengawasi Sasuke."
"Dia keluar?"
"Begitulah," jawab Kakashi singkat dan memperlihatkan monitor kecil yang memantau keberadaan Sasuke pada Naruto. Alat pelacak yang berbentuk chip itu, diletakkan Kakashi pada telpon genggam milik Sasuke tanpa sepengetahuan sang pemilik, hal ini dilakukan agar memudahkan tugas Kakashi dan Naruto saat mencari Sasuke.
Naruto menghela napas panjang. "Baiklah, kalau begitu, aku kembali ke asrama."
"Hm." Sahut Kakashi tenang, dan mereka berdua pun berpencar mengambil arah jalan yang berbeda, Naruto menuju asrama, sementara Kakashi menuju tempat parkir.
Dengan langkah cepat, Naruto kembali ke asrama. Setelah yakin aman, dia berlari menaiki tangga menuju kamarnya di lantai tiga. Naruto merebahkan diri di atas tempat tidur, nyaris saja Naruto tertidur, jika bukan karena suara telpon genggamnya yang berbunyi karena ada panggilan masuk.
Naruto beranjak menuju meja belajarnya dengan enggan. Diraihnya telpon genggam yang tergeletak di sama dengan malas. "Moshi-moshi?"
"Kamu dimana Dobe?"
Naruto mengernyit, menjauhkan telpon genggam itu dari telinganya dan menatap layar telpon genggamnya. "Sasuke?" katanya heran saat melihat no Sasuke tercetak jelas disana. Naruto berusaha untuk menetralkan suaranya kembali, dan menempelkan telpon genggamnya itu pada telinga kanannya. "Untuk apa mencariku?"
"Aku serius," bentak Sasuke. "Kamu dimana?"
Naruto mendengus dan menjawab kesal. "Di kamarku." Naruto bisa mendengar helaan napas lega di seberang sana. "Kenapa tidak menjawab telpon?" tanya Sasuke melunak.
"Aku baru saja kembali Teme, aku lupa membawa handpone milikku," jawab Naruto.
"Aku akan kesana dua jam lagi," sahut Sasuke.
"Untuk apa?"
"Jangan banyak bertanya!"
"Ini sudah malam Teme, untuk apa kamu ke kamar-" Naruto menggeram, menggenggam erat telpon genggamnya sesaat setelah Sasuke mematikan sambungan telpon itu secara sepihak. Dilemparnya telpon genggam itu ke atas meja belajar, dengan langkah berat, dia masuk ke dalam kamar mandi, dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Naruto kembali membuka buku catatan kecil yang diberikan Kakashi kepadanya. Dia memberi tanda pada nama tiap siswa yang harus dia selidiki. Naruto menghembuskan napas pelan, dan memijat keningnya pelan. "Kenapa semuanya malah bertambah pelik?" kata Naruto suram.
Sebuah ketukan membuyarkan lamunan Naruto, dengan langkah pelan dia berjalan untuk membuka pintu kamar. "Teme?"
"Hn," jawab Sasuke yang langsung merangsak masuk ke dalam kamar Naruto.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Naruto sedikit histeris, sementara Sasuke dengan lancang duduk di tepian tempat tidur Naruto dan melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. "Kemari!" tukas Sasuke, menepuk-nepuk tepian tempat tidur di sampingnya.
Naruto berdiri di hadapan Sasuke dan berkacak pinggang. "Kamu mau apa Teme?"
Sasuke merogoh ke dalam saku jaket dan mengeluarkan sebuah tempat salep kecil berbentuk oval dari dalam sana. Ditariknya tangan kanan Naruto, hingga wanita itu duduk di sampingnya dengan wajah terkejut. "Kamu mau apa?" teriak Naruto lagi.
"Ck, diam Dobe!" tukas Sasuke kalem, dengan lembut dia mengoleskan salep berwarna bening pada sudut kanan bibir Naruto.
"Auw..." rintih Naruto. "Sakit, Teme!" protes Naruto pelan.
Sasuke bergeming, dia terus mengoleskan salep itu pada Naruto. Setelah merasa cukup, Sasuke pun memberikan salep itu pada Naruto. "Gunakan tiap pagi dan malam. Itu bisa membantu meredakan sakit, dan menghilangkan bekas luka." Jelas Sasuke seraya memeriksa hasil kerjanya pada wajah Naruto. "Jangan membuatku khawatir, kamu ini perempuan. Apa jadinya jika wajahmu penuh bekas luka?"
Naruto terdiam, wajah Sasuke yang terlalu dekat membuatnya bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di wajahnya. Naruto mengerjapkan mata, tubuhnya mendadak kaku saat kedua iris mata mereka bertemu pandang. Dan saat jarak wajah mereka semakin dekat, Naruto pun menutup kedua matanya.
TBC
Review?
