I Married You

A SK8 the Infinity Fanfiction by Virgo Takao14

Shindo Ainosuke/Adam x Kikuchi Tadashi/Snake

.

.

Enjoy!

.

.


"Ainosuke-kun, tunanganmu manis sekali," ucap salah satu dari tiga wanita yang duduk menghadap sepasang calon pengantin di depan mereka.

"Kau juga berpendidikan tinggi," wanita lainnya ikut berkomentar. "Kau pintar mencari istri, Ainosuke-kun."

Pria bernama lengkap Shindo Ainosuke itu tersenyum lebar. "Tentu saja, aku tidak bisa main-main dalam memilih pasangan hidupku," ucapnya sambil menatap wanita yang duduk di sebelahnya.

"Lalu, bagaimana dengan pernikahan kalian?" para wanita itu kembali bertanya.

"Kami akan segera melangsungkan upacara pernikahan," jawab Ainosuke pasti. Ia menoleh sekilas ke belakang. "Tadashi sudah mengurus semuanya, kami akan segera memberitahukan tanggalnya,"

"Bagus. Pastikan agar semunya berjalan lancar, Tadashi-kun." Para wanita itu serempak menoleh pada Tadashi yang hanya bisa mengangguk di belakang.

"Kau bisa pergi sekarang, bukankah ada banyak hal yang harus kauurus?" kata Ainosuke tanpa menoleh. "Aku harus mengobrol lebih banyak dengan calon istriku."

"Baik, Ainosuke-sama," Tadashi membungkuk sekilas dan segera meninggalkan ruangan.

"Apa yang mau aku urus?" tanya Tadashi sambil berjalan lesu. Ini pertama kalinya Tadashi benar-benar enggan menuruti perintah Tuannya.

Mungkin ini yang disebut dengan patah hati.

Siapa yang akan menyangka jika seorang Shindo Ainosuke sudah menemukan pendamping hidupnya? Tadashi berani bertaruh jika wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri Tuannya itu hanya salah satu dari jutaan orang yang merelakan semuanya demi uang. Satu hal lagi yang Tadashi tidak mengerti adalah, ia sama sekali belum pernah mendapati Ainosuke bertemu dengan wanita itu sebelumnya.

Tadashi masih ingat betul saat Ainosuke tiba-tiba memperkenalkan seorang wanita yang begitu asing padanya. Ainosuke tidak mempedulikan raut kebingungan Tadashi dan langsung menyuruhnya untuk mempersiapkan pernikahan mereka.

Tadashi benar-benar mengurus semuanya. Dari tempat hingga gaun pernikahan, ia yang mengurus. Hanya dalam mengisi dokumen-dukumen dan surat pernikahan saja Tadashi tidak ikut campur.

Ainosuke malah terlihat tidak terlalu peduli dengan apa yang akan terjadi di pernikahannya nanti dan calon istrinya pun sama saja. Jika biasanya pengantin wanita begitu sibuk mengurus konsep pernikahan mereka, Tadashi malah tidak pernah sekali pun melihat calon istri Tuannya itu ikut campur mengurus pernikahan mereka. Sungguh, Tadashi lebih memilih skating mengelilingi Jepang daripada mengurus pernikahan yang sungguh aneh ini.

.

"Ainosuke-sama," panggil Tadashi yang baru saja masuk ke ruangan Ainosuke.

"Hn," balas Ainosuke tanpa menoleh.

"Undangan pernikahannya sudah selesai di cetak, apakah akan dikirim sekarang?"

"Ya, lebih cepat lebih baik," jawab Ainosuke.

Tadashi mengangguk. "Baiklah," jawabnya, namun ia masih berdiri di tempatnya. Ia ragu untuk pergi, karena Tadashi memiliki sesuatu yang ingin ditanyakannya pada Ainosuke.

Ainosuke melirik sekilas. "Ada apa lagi?"

"Uhm ..." Tadashi terdengar ragu, "tentang calon pengantin wanita. Saya menemukan jika identasnya palsu. Jadi, bukankah sebaiknya Anda ..."

"Aku tahu." Potong Ainosuke terdengar tidak peduli. "Sebaiknya kau tutup mulut. Sulit untuk membuat semua dokumen palsu itu terlihat benar-benar seperti asli."

Tadashi terdiam tidak percaya. Apa Ainosuke baru saja mengakui jika dia memalsukan identitas calon istrinya?

"Apa lagi yang kau lakukan di sini? Bukankah seharusnya kau mengurus undangan-undangan itu?" Ainosuke menatap Tadashi yang masih berdiri di tempatnya.

"Ah- ya, saya permisi," ucapnya dan segera keluar terburu-buru.

Tadashi tidak bisa mempertahankan raut wajahnya sekarang. Bingung, terkejut, khawatir, semuanya bercampur jadi satu.

"Masalah apa lagi yang ingin dibuat Ainosuke-sama?" desahnya lelah, "satu kesalahan saja, dan semuanya pasti hancur,"

Tadashi kembali diam. Ia merenung. "Tapi, setidaknya ini lebih baik daripada apa yang aku harapkan," ucapnya lirih. 'Lagipula aku memang tidak punya harapan.'

Dua minggu sebelum upacara pernikahan. Tadashi kini sedang mengantarkan Ainosuke dan calon istrinya mencoba baju pernikahan mereka yang sudah jadi.

Dari cermin mobil, Tadashi memperhatikan Ainosuke yang mengobrol ringan dengan wanita yang akan segera menjadi istrinya itu. 'Maa, Ainosuke-sama terlihat senang. Sebaiknya aku tidak mengganggu.' Lalu ia kembali fokus pada jalan di depannya.

"Ainosuke-sama, perlu saya bantu?" tanya Tadashi sambil membawakan pakaian Ainosuke ke kamar ganti.

"Tentu saja," jawab Ainosuke yang sudah berada di kamar ganti.

Pria bermata ruby itu segera membuka jasnya dan menyerahkannya pada Tadashi, bertukar dengan jas hitam lainnya yang dibawa sekretarisnya. Ainosuke melirik Tadashi yang hanya menundukkan kepalanya.

"Kau bilang ingin membantu, tapi kenapa kau hanya diam saja?" pertanyaannya membuat Tadashi mengangkat kepalanya karena terkejut.

"Ah, maaf," jawabnya dan segera membantu Ainosuke memakai setelan jas yang akan ia pakai saat pernikahannya.

Tadashi bisa merasakan jika tangannya gemetar. Jari-jarinya bahkan kesulitan hanya untuk mengikat dasi. Ia sudah melakukan ini berkali-kali, tapi kali ini rasanya berbeda. Terlintas begitu saja, Tadashi seketika merasa takut. Besok, mungkin akan menjadi terakhir kalinya ia memasang dasi Ainosuke.

.

"Besok akan menjadi hari yang melelahkan!" desah Ainosuke sambil merendam dirinya. Berendam di air panas setelah hari yang panjang adalah yang terbaik.

Tadashi yang membantu membilas rambut Ainosuke hanya diam tidak membalas. Ia tidak mau banyak bicara sekarang. Besok adalah waktunya. Tuannya akan berdiri berdampingan dengan wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya. Saat dimana ia tidak punya hak untuk menentang ini semua.

"Kenapa kau pendiam sekali akhir-akhir ini?" tanya Ainosuke yang akhirnya menoleh setelah Tadashi membilas rambutnya.

Tadashi menggeleng. "Bukan apa-apa,"

Ainosuke menatap Tadashi lama, memperhatikan setiap gerakannya. Ia terpaku pada wajah tanpa ekspresi Tadashi. Ah, bibir merah muda itu, bahkan saat tidak tersenyum pun begitu menggoda.

"Ainosuke-sama, Anda bisa berdiri sekarang," kata Tadashi sambil mengambil handuk.

Tadashi menunggu hingga Ainosuke berdiri, namun Tuannya itu tidak beranjak dari tempatnya. Cukup lama dan Ainosuke masih tetap tidak berdiri. Tadashi mulai khawatir.

"Ainosuke-sama?" panggil Tadashi mendekati pemuda Shindo itu.

Tanpa ada peringatan sebelumnya, Tadashi tiba-tiba ditarik oleh Ainosuke. Ketika ia membuka matanya, Tadashi mendapati dirinya kini berada di atas Ainosuke. Matanya melebar karena terkejut.

"Ma-maafkan aku!" Tadashi mencoba untuk berdiri di tengah keterkejutannya. Namun sepasang lengan kekar menahannya, atau mungkin, menariknya kembali mendekat. Memeluk Tadashi erat seolah tidak ingin ia pergi.

"Aku butuh sedikit hiburan," ucap Ainosuke berbisik di telinga Tadashi yang sudah memerah. Makin menarik Tadashi mendekat, ia menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Tadashi. Menghirup aroma manis yang benar-benar tahu bagaimana cara menggodanya.

Tadashi terlalu terkejut untuk memproses apa yang sedang terjadi. "Ainosuke-sama ... k-kenapa ..."

"Shh ... diamlah, aku Tuannya di sini." Ainosuke masih belum menarik kepalanya dari leher Tadashi. Ingin mencicipi rasa manis itu, Ainosuke akhirnya menggigit leher putih Tadashi hingga meninggalkan bekas.

Tadashi terkejut begitu salah satu tangan Ainosuke menerobos masuk ke celananya. Tadashi menggigit bibir bawahnya hingga terlihat pucat saat tangan itu terus meremas bokongnya. Ia menutup matanya rapat-rapat saat merasakan jika kedua tangan Ainosuke kini sibuk membuka semua pakaiannya, hingga Tadashi tidak tahu sejak kapan dia menjadi telanjang sama seperti Tuannya.

"Jangan ditahan, aku ingin mendengar suara jalang itu memanggil namaku ..."

Tadashi benar-benar sudah dilatih untuk menuruti semua perintah Tuannya, jadi hanya perlu waktu setengah detik hingga suara desahan memenuhi kamar mandi. Tadashi terus memanggil nama Ainosuke di tengah napasnya yang memburu. Ia sudah gila dengan sentuhan yang diberikan Ainosuke padanya.

"Aku baru mulai, tapi kau sudah tegang?" Ainosuke mengangkat tubuh Tadashi untuk membuat pemuda itu duduk di depannya. "Ah ... lihat, kau berhasil membuatku tegang juga."

Tadashi mematung di tempatnya melihat Ainosuke yang menatapnya dengan tatapan lapar. Ia terperanjat ketika Ainosuke tiba-tiba menarik rambutnya dan memaksanya menunduk. Tadashi makin tidak bisa berpikir karena wajahnya berada tepat di depan penis Tuannya yang sama berdiri seperti miliknya.

"Apa lagi yang kau tunggu?" Ainosuke menaikkan nada suaranya karena Tadashi hanya diam di tempatnya. Apalagi, Tadashi hanya menatapnya bingung, Ainosuke kembali menarik rambut Tadashi hingga wajah Tadashi bersentuhan dengan miliknya. "Masukkan ke dalam mulutmu ..."

Sekali lagi, Tadashi itu sudah terlatih. Tubuhnya bergerak begitu saja sesuai perintah Tuannya. Ia langsung memasukkan milik Ainosuke yang menegang itu ke dalam mulutnya.

"Good boy ..." desah Ainosuke menikmati pekerjaan anjing kesayangannya.

Tidak mau diam saja, tangan Ainosuke kembali menikmati bokong kenyal Tadashi. Dua jarinya ingin mendapatkan lebih, sehingga ia sudah memasukkan kedua jari itu ke dalam lubang Tadashi yang begitu hangat.

"Ah! Ainosuke-sama... ngh..." Tadashi tidak bisa menahan diri saat jari ketiga masuk. Ia membiarkan jari Ainosuke bermain di dalamnya.

Merasa sudah cukup, Ainosuke menarik kepala Tadashi menjauh dan segera membalikkan tubuhnya. Ainosuke menyeringai saat Tadashi sama sekali tidak menolak atau pun mendorongnya ketika ia mulai memasukkan penisnya ke dalam.

Tadashi menggigit bibir bawahnya, menahan rasa nikmat yang sungguh tidak bisa ia tolak. Saat Ainosuke bergarak, saat itulah ia tidak bisa lagi menahan desahannya. Ia terus memanggil nama Ainosuke dan meminta lebih.

Ainosuke tersenyum makin lebar. Ia membalik tubuh Tadashi agar dapat melihat jelas wajah manis yang sudah semerah tomat itu. Mencium tiap aroma yang keluar dari tubuh Tadashi dan tidak bisa untuk tidak meninggalkan tanda di kulit putihnya. Ainosuke sudah mengklaim Tadashi menjadi miliknya, dan itu mutlak.

"Ainosuk- khe ... sama ... ahn ..." Tadashi punya banyak pertanyaan sebenarnya. Kenapa ia melakukan hal seperti ini dengan Tuannya? Kenapa Ainosuke sekarang dengan liarnya bergerak di dalamnya? Bukankah ada sebuah pernikahan yang harus ia hadiri besok?

Mereka sudah keluar berkali-kali, sampai-sampai Tadashi merasa jika ia tidak bisa keluar lagi. Tidak tahu sudah berapa lama mereka melakukannya, kini Tadashi sudah tidak punya kekuatan lagi. Ia butuh istirahat. Matanya yang mulai terpejam sesekali mengintip ketika ia merasakan jika sekarang ia tidak lagi bersandar di dinding dingin kamar mandi yang basah. Tubuhnya terbaring nyaman di atas kasur yang empuk, terbungkus dalam selimut yang hangat.

Tepat ketika rasa kantuk menguasai dirinya, Tadashi bisa merasakan tangan yang lebih hangat dari apa pun mengelus pipinya lembut. Mencoba melawan rasa kantuk dengan membuka matanya, Tadashi dapat melihat jika Ainosuke tersenyum lembut padanya. 'Ah, sungguh mimpi yang indah ...'

Dan ia tertidur seketika.

Dengan berat, kedua matanya membuka. Tadashi bisa merasakan jika seluruh tubuhnya kesakitan saat ia berusaha duduk. Ia menoleh ke samping. Ainosuke masih tertidur lelap.

Bayangan kejadian semalam kembali terlintas di benaknya. Ia terdiam dan tertunduk. Pagi yang dimulai dengan air mata, sungguh ia membencinya.

Tadashi segera beranjak dari kasur, melihat jam yang masih menunjukkan pukul setengah lima pagi. Tentu saja, ia harus bangun pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan pernikahan Ainosuke. Pernikahan orang yang begitu dicintainya.

.

Tamu tak hentinya berdatangan. Mereka bergantian menyelamati pengantin yang tersenyum bahagia. Sedangkan Tadashi sibuk kesana-kemari memastikan semuanya berjalan lancar. Ia bahkan tidak sempat beristirahat, baru ingin duduk sebentar ia harus berdiri lagi. Namun, setidaknya dengan begini Tadashi tidak perlu sering-sering melihat pengantin berbahagia itu. Menyebalkan membayangkan rasa lelah bercampur dengan rasa sakit.

Bahkan setelah pesta mewah itu berakhir, Tadashi masih menjadi orang yang paling sibuk di antara semua orang. Ia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, ingin cepat sampai ke kamarnya, berbaring, terlelap dan berharap rasa sakitnya menghilang setelah bangun.

Namun lagi-lagi, siksaan ini tidak akan pernah berakhir hingga benar-benar berakhir. Baru saja ia ingin masuk ke kamarnya, Ainosuke memanggilnya dengan nada yang terdengar kesal.

"Kau dari mana saja? Lama sekali," ucapnya menghampiri Tadashi.

"Ainosuke-sama, ada yang bisa saya bantu?" tanya Tadashi bingung. Bukankah seharusnya Tuannya itu menikmati malam pertamanya dengan sang istri?

Ainosuke hanya menghela napas dan berbalik. "Ayo cepat, aku sudah menunggu dari tadi."

Tadashi mengernyit. Sama sekali tidak mengerti, tapi ia hanya menurut dan mengikuti Ainosuke. Ia makin bingung ketika Ainosuke memintanya untuk ikut masuk ke kamarnya.

Tadashi masuk dengan ragu. Tentu ia ragu, di dalam kamar itu juga ada istri Ainosuke, 'kan? Namun ketika masuk, Tadashi tidak mendapati wanita itu di dalam kamar. Benar-benar hanya ada dia dan Ainosuke.

"Ainosuke-sama, sebenarnya ada apa—"

Tadashi yang baru saja berbalik menghadap Ainosuke tiba-tiba terdorong membuatnya jatuh di atas kasur. Ia yang masih bingung dengan apa yang terjadi begitu terkejut ketika Ainosuke kini sudah berada di atasnya.

"Ainosuke-sama! A-apa yang Anda lakukan?" tanya Tadashi gugup ketika Ainosuke menatapnya begitu intens.

"Kemarin berakhir terlalu cepat," ucap Ainosuke sambil mengelus rambut Tadashi dengan lembut, "ayo kita lanjutkan lagi, sekarang sebagai pasangan suami-istri."

"Eh? Ha?" Tadashi masih belum bisa memahaminya. Ketika ia ingin kembali bertanya, Ainosuke sudah lebih dahulu membungkam mulutnya dengan ciuman yang begitu panas. Tadashi tidak bisa melawan, ia terlalu lelah.

Ainosuke tersenyum di sela ciuman mereka ketika Tadashi mulai membalas ciumannya. Membuatnya makin memperdalam ciuman mereka. Ainosuke melepaskan ciuman mereka ketika merasa Tadashi mulai kehabisan napas. Ia tersenyum penuh kemenangan melihat bibir merah Tadashi yang membengkak.

"Ah, lihat dirimu," bisik Ainosuke di telinga Tadashi, "menerima ciumanku begitu saja tanpa tahu apa yang terjadi. Kau tahu jika Tuanmu ini baru saja menikah, 'kan?"

Tadashi tersentak. "A-aku ... itu karena aku ..." Tadashi tidak bisa menjawabnya. Ia tidak mungkin memberitahu Ainosuke jika ia begitu menikmati ini karena ia menyukai Tuannya.

Ainosuke mendengus melihat Tadashi yang tergagap. "Kau ingin tahu dimana istriku?" tanya Ainosuke tiba-tiba, makin membuat Tadashi bingung. Ainosuke kini mengelus lembut pipi Tadashi. "Di sini, dia tepat berada di bawahku dan aku baru saja menciumnya,"

Tadashi berkedip beberapa kali, memahami perkataan Ainosuke. "E-eh?" Wajah Tadashi mendadak memerah.

Ainosuke terkekeh geli. "Kau suka kejutanku?"

"Kejutan?" Tadashi balik bertanya.

"Hm, kejutan." Ainosuke akhirnya membaringkan tubuhnya di samping Tadashi. Ia juga lelah sebenarnya. "Wanita itu—pengantin itu, aku tidak menikahinya. Aku menikahi seseorang, tapi bukan dia. Aku menikahimu," ucap Ainosuke masih mengelus lembut pipi Tadashi.

"Aku?" Tadashi masih belum mengerti.

"Kau tidak mengurus dokumen pernikahannya, 'kan?" Ainosuke bertanya, Tadashi mengangguk sebagai jawaban. "Itu karena aku tidak mau kau menemukan namamu di sana."

Tadashi lama terdiam, memikirkan penjelasan Ainosuke. Makin ia memikirkannya, wajah Tadashi juga makin memerah. Saat itulah Ainosuke terkekeh, merasa jika Tadashi sudah mengerti sekarang.

"Kau sepertinya sudah mengerti," ucapnya masih mengelus pipi Tadashi. "Sebenarnya, aku lebih suka jika kau yang berdiri di sampingku di atas altar, tapi aku tidak mau membuat para wanita tua itu marah dan kemudian mengusirmu dari sisiku,"

Tadashi terdiam. Ini adalah pertama kalinya, setelah sekian lama Ainosuke menatapnya dengan begitu lembut. Nada suaranya pun terdengar begitu manis. Dinginnya malam ini juga berhasil dihangatkan oleh sentuhan-sentuhan Ainosuke padanya. Tadashi ingin meneriakkannya. Ia ingin memberitahu semua orang jika ia bahagia sekarang. Sangat bahagia.

"Tadashi," panggil Ainosuke yang kemudian kembali bangkit dan mengurung Tadashi dengan kedua lengannya. Ia menatap Tadashi intens. "Ayo kita lanjutkan yang kemarin," ucapnya seduktif.

Tadashi tidak bisa membalas dengan kata-kata. Ia hanya bisa mengangguk dengan wajahnya yang makin memerah. Ainosuke yang memperlakukannya dengan manis benar-benar tidak baik untuk jantungnya. Tadashi yakin jika Tuannya bisa mendengar debar jantungnya.

Ainosuke tersenyum dengan jawaban Tadashi dan kemudian segera menciumnya. Mencicipi rasa manis dari bibir Tadashi yang sungguh membuat candu.

Tadashi melingkarkan lengannya pada Ainosuke. Ciuman ini membuatnya mabuk. Ia tidak keberatan memberikan dirinya sepenuhnya pada Ainosuke malam ini. Lagipula, dari awal dia memang sudah menjadi milik Ainosuke, 'kan?

Ainosuke perlahan mulai membuka kemeja Tadashi. Ciumannya turun dan kini ia kembali menghirup aroma manis dari ceruk leher Tadashi. Apa lagi yang bisa membuat Ainosuke tergila-gila selain aroma manis Tadashi?

Ainosuke menggigit, menjilat dan memberikan tanda di leher putih itu. Ainosuke diam-diam tersenyum saat melihat tanda-tanda lainnya yang ia berikan kemarin malam.

Tidak mau berlama-lama, Ainosuke juga sudah membuka celana Tadashi dan memanjakan pantat yang sedari kemarin menggodanya. Tanpa aba-aba sebelumnya, Ainosuke segera memasukkan satu jarinya hingga membuat Tadashi menggigit bibir bawahnya. Mencoba menahan desahannya.

Ainosuke terkekeh melihatnya. "Hey, aku kan sudah bilang, aku suka mendengar suaramu memanggil-manggil namaku disela desahanmu."

Nada suara yang lembut dan hangat itu menyihir Tadashi. Dirinya sepenuhnya dikendalikan oleh Ainosuke sekarang.

Ainosuke mencium kening Tadashi dan menatap pemuda itu lembut. "Boleh aku masukkan sekarang?"

Tadashi bisa merasakan jika kedua pipinya memanas. Rasanya begitu berbeda dari kemarin malam. Kemarin Tadashi bahkan tidak diperbolehkan untuk menolak oleh Ainosuke. Namun, sekarang dengan wajah hangat yang sudah begitu lama Tadashi rindukan, Ainosuke memohon padanya.

Tadashi mengangguk. Ia begitu bahagia ketika melihat Ainosuke tersenyum puas. Tadashi makin mengeratkan pelukannya pada Ainosuke ketika mulai merasakan sesuatu memasuki lubangnya.

"Ainosuke-sama ... hn ..." Tadashi mendesah panjang ketika Ainosuke masuk sepenuhnya dan langsung bergerak di dalamnya. "Pelan-pelan, kumohon ... ahn!"

"Tapi kau menikmati ini, 'kan?" tanya Ainosuke berbisik di telinga Tadashi yang hanya membuat pemuda itu makin menariknya ke dalam. Ainosuke kembali tersenyum puas. "Hah ... kau benar-benar tidak bisa menolakku ya?"

Tadashi memandang manik ruby Ainosuke yang memandangnya lapar. "Tentu saja!"

Ainosuke yang puas dengan jawaban Tadashi langsung mencium ganas bibir merah itu. Ia ingin memabukkan bibir Tadashi dengan miliknya agar pemuda itu tidak akan pernah mau mencium orang lain selain dirinya.

Satu jam, dua jam, hingga berjam-jam. Keduanya merasa lelah dan menjatuhkan diri di atas ranjang, kini keduanya hanya bisa saling menatap dari balik selimut. Terlalu lelah untuk membersihkan diri.

Lama hanya terdiam, Tadashi kemudian memecah keheningan. "Lalu, bagaimana dengan wanita itu?" tanya Tadashi pelan. Dia sudah bertanya-tanya dari awal, sebenarnya.

"Ya, mendapatkan apa yang aku janjikan," jawab Ainosuke, "beberapa tumpuk uang dan sebuah perjalanan mewah ke luar negeri."

"Dan, bibi-bibimu? Kita tidak mungkin bisa membohongi mereka selamanya."

Ainosuke menghela napas lelah mendengar pertanyaan Tadashi. Tangannya terangkat untuk mengelus pipi Tadashi. Tentu saja, mereka pasti akan bertanya-tanya tentang cucu yang mereka impikan, dan juga bertanya-tanya kemana istriku yang luar biasa itu." Ainosuke berhenti bicara sebentar untuk memberi kecupan di bibir Tadashi. "Tapi itu nanti, sekarang kita nikmati saja apa yang terjadi."

Tadashi hanya bisa tertawa pelan. "Ini benar-benar akan menjadi sebuah bencana."

Ainosuke ikut tertawa. "Beritahu aku kau mau bulan madu ke mana dan kita akan berangkat."

"Benarkah?" tanya Tadashi terdengar riang.

Ainosuke mencubit pipinya karena gemas. "Hm, tentu saja."

Tadashi yang masih belum terbiasa dengan perlakuan manis Ainosuke lagi-lagi tersipu. Ia mencoba menyembunyikan rasa malunya dengan mendekatkan diri pada Ainosuke. Ainosuke yang sudah lebih dahulu melihat rona merah di pipi Tadashi tidak bisa menahan senyumnya dan membuka tangannya agar bisa memeluk Tadashi lebih dekat. Begitu dekat hingga kata nyaman saja tidak cukup untuk menjelaskan semuanya.

Siapa sangka jika hari yang dimulai dengan sakit hati akan berakhir dengan luapan kebahagiaan. Kebahagiaan yang keduanya yakin tidak akan pernah berakhir.

.

.

End

.

.


A/N

Hai hai hai semua... Sebelumnya, makasih buat yang udah baca cerita ini. Arigatou minna! Ini fanfic pertamaku di fandom SK8 the Infinity. Cerita ini udah lamaaaaaa banget di draft dan baru bisa aku publish sekarang karena males heheh :) ... Aku juga masih punya satu lagi cerita untuk Ainosuke x Tadashi, dan mungkin bakalan aku bikin ber-chapter. Juga aku punya beberapa ide untuk Langa x Reki... Tapi itu kalau aku gak males nulis sih heheh :) /plak!

Udah, sekian aja bacotku kali ini... sekali lagi, makasih buat yang udah mau mampir dan baca ceritaku! Thanks!

Bye bye!

Virgo