O genki desu ka, minna? Semoga semua dalam keadaan sehat. Yang lagi liburan angkat tangannya... Pada liburan kemana nih?

Well, thank you yah untuk yang masih bersedia baca, meluangkan waktu untuk review, and untuk silent readers, author juga ucapin makasih. Jujur, chap 4 kemaren, author rada nggak puas sama hasil kerja author. Entahlah, pokoknya nggak puas ):

Author mandek di pengembangan kasus, rasanya sulit aja. Gini nih, kalau kebanyakan baca novel-nya Barbara Cartland, jadi pembawaannya ke romance terus. Sepertinya, author kudu banyak baca novel-novel karya Agatha Christie, biar dapet pencerahan... #MalahCurhat

Nggak akan panjang lebar lagi, here we go...

Disclaimers : Naruto belong Kishimoto sensei

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M (For language and blood di chapter-chapter yang akan datang)

Warning : OOC, gaje, alur kecepetan, typo(s), gender bender, and etc

Genre : Romance, crime (nggak dapet feel-nya), mistery (juga nggak dapet feel-nya, malah jauh banget), angst?

Under Cover

Chapter 5 : Second Kiss

By : Fuyutsuki Hikari

Naruto terdiam, wajah Sasuke yang terlalu dekat membuatnya bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di wajahnya. Naruto mengerjapkan mata, tubuhnya mendadak kaku saat kedua iris mata mereka bertemu pandang. Dan saat jarak wajah mereka semakin dekat, Naruto pun menutup kedua matanya.

Sasuke yang melihatnya hanya tersenyum jail, dia menjentikkan jarinya pada kening Naruto hingga gadis itu kembali membuka kedua matanya yang terbelalak kaget. "Kau kira aku akan mencium-mu?" cibir Sasuke dengan intonasi datar dan menyentil hidung Naruto dengan telunjuknya pelan. "Bibirku bisa alergi jika mencium-mu, Dobe." Naruto membisu, mengumpat dalam hati, karena apa yang dikatakan oleh Sasuke itu memang benar, Naruto memang mengira jika Sasuke akan menciumnya beberapa saat yang lalu. Namun dia juga mengumpat kesal. Apa maksud-nya dengan alergi? Aku juga tidak mau dicium olehnya, iya kan? Batin Naruto mulai tidak yakin.

Naruto berdiri, salah tingkah. Dia berjalan mundur menjauhi Sasuke, dan berhenti saat bagian belakang tubuhnya menubruk kursi belajar di belakangnya, dengan sedikit gugup dia menjawab. "Ada debu masuk ke dalam mataku, Teme," katanya berdalih.

"Benarkah?" cibir Sasuke mengulas senyum tipis, jelas tidak percaya akan pernyataan Naruto.

"Terserah, kamu mau percaya atau tidak, aku tidak peduli," sahut Naruto setenang mungkin padahal jantungnya berdebar begitu cepat karena malu. "Lebih baik kamu kembali ke kamarmu!" pinta Naruto tegas.

"Setidaknya, kamu harus mengucapkan terima kasih padaku."

"Untuk apa?"

"Aku sudah susah payah mencari dan membeli salep itu untukmu," tukas Sasuke angkuh.

Naruto menggigit bibir bawahnya dan berkata dengan lirih. "Arigatou."

"Hn," sahut Sasuke menyeringai puas saat tangannya mengangkat sesuatu yang tergeletak begitu saja di dekat guling empuk Naruto.

"Kyaaaaaa!" teriak Naruto merebut paksa bra hitam berenda yang dipegang oleh Sasuke dan melemparkannya ke dalam lemari pakaian. "Jangan seenaknya menyentuh barang pribadiku Teme!"

"Salahmu sendiri, meletakkannya di sembarang tempat, 34B huh?" cibir Sasuke tersenyum tipis.

"Itu...!" Sangking kesal juga bercampur malu, Naruto sampai tidak mampu untuk berkata-kata.

"Kamu memakainya untuk menyamarkan ukuran dada-mu yang sebenarnya kan?" kata Sasuke seraya merebahkan diri di tempat tidur, sementara tatapannya terfokus pada dada Naruto yang tercetak jelas karena kaos ketat yang dikenakannya malam ini.

"Hentai!" teriak Naruto kencang, kedua tangannya menyilang di atas dada, sementara Sasuke tersenyum tipis dan menenggelamkan wajahnya pada bantal empuk milik Naruto. "Dasar mesum, jangan berbaring disana Teme, cepat pergi!" teriak Naruto keras.

Sasuke mendelik dan berdecak. "Jangan bicara terlalu keras Dobe, kamu mau membangunkan seluruh isi asrama?" Sasuke memandang Naruto. Sementara gadis itu balas menatapnya masam. "Sekarang jam pengawas untuk berkeliling, biarkan aku tidur sebentar disini, dan bangunkan aku tepat pukul 12 malam nanti."

Naruto hanya bisa menghela napas panjang, dia terlalu malas untuk berdebat dengan Sasuke saat ini. Sementara Sasuke memejamkan mata, Naruto malah duduk di kursi belajarnya, tidak ada satu pun yang bicara diantara mereka, hingga beberapa menit kemudian, Naruto bisa mendengar suara napas Sasuke yang teratur, dia tertidur.

Setelah merasa yakin jika Sasuke tidur, Naruto kembali membuka buku catatan kecil dari Kakashi. Dengan cepat dia membuka laptop miliknya, menyalakan dan mulai masuk ke dalam program sekolah untuk meretas data. Dia memerlukan data dari tiga orang siswa, yang kesemuanya adalah mantan kekasih Tayuya, dengan ahli dia mulai memindahkan dan menyimpan tiap data yang dia perlukan ke dalam memori laptopnya.

Naruto menghela napas lelah, perkembangan kasus ini bukan mengerucut, tapi malah semakin rumit. Dia sudah berpikir sepanjang hari, menganalisis dan berusaha keras menciptakan segala teori untuk menjawab semua pertanyaannya. Dia menoleh ke arah Sasuke, tersenyum kecil saat melihat wajah Sasuke yang tertidur begitu damai.

"Tampannya..." katanya lirih. "Tunggu dulu," Naruto menggelengkan kepala. "Kenapa aku berpikir kalau dia tampan, aishhh, dia hanya remaja tanggung yang sombong, keras kepala, menyebalkan, dan tidak sopan," katanya meracau. Lagi-lagi Naruto memijit keningnya, kepalanya kembali sakit saat ini. Dia benar-benar lelah, dia ingin tidur dan mengistirahatkan otaknya yang bekerja terlalu keras sepanjang hari.

Naruto kembali beralih ke buku kecil dengan sampul kulit berwarna coklat itu. Dibalikkannya halaman demi halaman, dan dibacanya laporan itu dengan cermat. Kepalanya kembali berdenyut, tapi Naruto mengabaikannya. Dia tidak bisa berbaring jika masih ada Sasuke yang tertidur di atas kasurnya yang nyaman.

Alis Naruto kembali berkerut, saat membaca halaman ke lima. Laporan itu mengatakan jika keadaan pintu dan jendela terkunci dari dalam saat kejadian berlangsung. Jika memang Tayuya dibunuh, itu berarti dia dibunuh oleh seseorang yang dia kenal, atau bisa saja memang murni bunuh diri.

Naruto menghela napas lelah. "Lalu, siapa laki-laki itu? Dia pasti mencari sesuatu yang penting, hingga berani membahayakan diri dengan masuk ke dalam asrama." Tukas Naruto setengah berbisik. "Jika apa yang dikatakan oleh Karin cs memang benar, tentang adanya suara-suara di kamar Tayuya, kurasa tidak mungkin hantu. Aku yakin, suara itu adalah penyusup yang masuk ke dalam kamar Tayuya. Dia mencari sesuatu, tapi apa?" tanya Naruto lagi pada dirinya sendiri.

Di langit, bulan menampakkan diri dari balik awan. Cahaya bulan menerpa jendela kamar Naruto, dan menyelusup melalui celah yang tidak tertutup oleh gordyn. Naruto menutup buku dan berjalan menuju jendela. Disibakkannya gordyn itu, hingga dia dapat menatap langit malam, yang terang oleh cahaya bulan.

Naruto terus berdiri menatap keluar jendela, hingga kakinya terasa lelah untuk berdiri. Dia melirik ke jam dindingnya, lima menit lagi sudah masuk tengah malam. Dengan langkah gontai dia berjalan menuju tempat tidurnya dan duduk di tepiannya. Matanya menatap lurus sosok pemuda raven yang tertidur nyenyak disana. Sejenak dia merasa ragu untuk membangunkan pemuda itu, tapi, rasa kantuk dan lelah mengalahkannya. Dengan ringan, dia menyentuh bahu Sasuke dan menggoyangkannya pelan.

"Teme, bangun!" ucap Naruto entah untuk keberapa kali. Tapi, sosok yang dibangunkannya itu sama sekali tidak merespon. Dia masih tertidur pulas dan nyaman. "Teme?" kata Naruto lagi tepat di telinga Sasuke. Naruto menggoyangkan bahu Sasuke agak keras, berharap jika usahanya ini dapat membangunkan Sasuke dari tidurnya. "Jangan membuat kesabaranku habis, bocah," desis Naruto kesal. Tiba-tiba, kepala Naruto kembali berdenyut sakit, dunia seolah berputar, Naruto sangat lelah, hingga akhirnya dia menyerah, dan memilih untuk berbaring tepat disisi Sasuke dan tidur dengan membelakanginya.

.

Menjelang dini hari Sasuke terbangun, dan terkejut saat mendapati Naruto yang tertidur disisinya. Sasuke mengerjapkan mata dan melihat ke sekeliling ruangan, dia kembali mengerjap saat ingat dimana dia berada saat ini. Sasuke menahan kepalanya dengan tangan, posisi tubuhnya menyamping, matanya mengamati wajah Naruto yang terlelap begitu tenang.

Sasuke menyusuri lekuk wajah Naruto pelan, menikmati tekstur halus dari pahatan sempurna sang pencipta. Senyum itu terukir dibibir Sasuke saat jari telunjuknya sampai di bibir merah Naruto. Sasuke menyentuhnya ringan, kemudian pandangannya teralihkan pada bagian leher yang terekspos karena kepala Naruto berpaling, pindah posisi, menghadap ke arah berlawanan dengan Sasuke.

Pemuda itu mendekatkan hidungnya pada kulit leher Naruto, menghirup dengan rakus aroma citrus khas yang menguar dan menggelitik penciumannya. Sasuke semakin menunduk, mengeliminasi jarak diantaranya dan mengecup kulit putih itu ringan pada awalnya, namun ternyata hal itu tidak cukup untuknya. Sasuke kembali mengecup leher Naruto keras, memberi sedikit tekanan dan melukis sebuah tanda merah bukti kepemilikan disana.

Sasuke kembali tersenyum melihat hasil karyanya, menyentuhnya ringan dan dengan lembut dia membalikkan wajah Naruto agar menghadap ke arahnya. Sasuke kembali menunduk, dan untuk kedua kalinya dia mencuri sebuah ciuman dari bibir gadis pirang yang tengah tertidur nyenyak di sampingnya. "Oyasuminasai, hime," katanya, sekali lagi dia mencium bibir itu dengan mesra dan lama.

.

Naruto terbangun keesokan harinya dengan perasaan aneh, seolah ada puluhan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya, menggelitiknya, namun terasa menyenangkan. Dia menyentuh bibirnya, mimpinya terasa begitu nyata malam tadi. Dia bermimpi jika ada seorang pria tampan berambut raven mencium bibirnya dengan mesra. Naruto merengut sebal, karena tidak bisa mengingat dengan jelas wajah pria itu, yang jelas dia tampan, itulah yang dia ingat.

"Jam berapa dia pulang?" kata Naruto saat dia melihat sisi tempat tidur sebelahnya sudah kosong. Naruto mengangkat bahu tidak peduli, lalu diliriknya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam pagi. Naruto segera berdiri dan merapihkan tempat tidurnya, setelah selesai, dia segera masuk ke dalam kamar mandi, untuk mandi dan bersiap-siap untuk melatih judo pagi ini.

Naruto mengenakan celana jersey panjang berwarna merah dengan list putih memanjang di sisi kiri dan kanan, dipadankan dengan kaos polo berwarna putih, yang memeluk tubuhnya ketat. Seperti biasa, Naruto mengikat rambutnya menjadi ekor kuda. Mata gadis itu menyipit melihat refleksi dirinya pada permukaan cermin. Tangannya terangkat dan menyentuh bercak merah yang tercetak jelas pada kulit lehernya.

"Apa ini?" tanya Naruto heran. "Kenapa ada bercak merah? Apa bekas gigitan nyamuk? Tapi, kenapa tidak gatal?" katanya lagi sambil menggosok-gosok kasar bercak merah itu. Naruto membuka kotak P3K, meraih sebuah plester dan menutup bercak merah tersebut. Naruto mengamatinya sekali lagi, setelah memastikan bercak merah itu tertutup sempurna, dia pun beranjak.

Kakinya melangkah ke counter, yang merupakan dapur kecil di kamarnya. Dia membuat seceret kopi hitam untuk dirinya sendiri pagi ini. Setelah menunggu beberapa menit, aroma khas kopi pun tercium, menggoda penciumannya.

Dituangkannya air kopi itu ke dalam mug berukuran sedang dengan gambar rubah lucu pada bagian luarnya. Ditambahkannya dua sendok teh gula dan sedikit susu ke dalamnya, lalu diaduknya pelan beberapa kali. Setelah selesai, Naruto meletakkan mug berisi kopi panas itu ke atas meja, meraih dua buah roti dan mengolesinya dengan selai kacang. Naruto membuat tiga tangkup roti untuk mengganjal perutnya pagi ini, porsi yang menurutnya cukup untuk menjaga staminanya agar tetap fit hingga jam makan siang tiba.

Selesai sarapan, Naruto segera memakai sepatu lari dan menyambar jaket olahraga yang tergantung di dalam lemari pakaian, memakainya dan menarik risleting hingga bagian bawah dada.

Naruto berjalan dan tersenyum kecil saat melihat ketiga murid didiknya sudah menunggu kedatangannya di depan gerbang sekolah. Ketiganya mengenakan setelan pakaian olahraga pagi ini. Naruto mengangkat sebelah alisnya, terlalu takjub saat melihat Lee yang mengenakan terusan jersey ketat berwarna hijau yang mencolok mata. "Rasanya seperti melihat Guy sensei," gumam Naruto lirih.

"Kalian sudah siap?"

"Ha'i," jawab ketiganya kompak, mereka berdiri berjejer menghadap Naruto dengan tegap, sementara dagu mereka diangkat naik.

"Bagus," sahut Naruto bangga. "Ikuti aku," tukasnya ringan dan mulai berlari kecil keluar gerbang sekolah diikuti ketiganya yang mengekor di belakangnya.

Mereka terus berlari membelah kota Konoha pagi ini, terus berlari ke arah perbukitan, hampir satu jam mereka berlari, napas ketiga pemuda itu mulai terasa berat dan terputus-putus. Mata ketiganya membulat dengan sempurna saat melihat Naruto mulai berlari menaiki anak tangga, selebar tiga meter, yang begitu panjang. "Chotto ma-tte ku-dasai sensei," tukas Lee dengan terengah-engah, menghentikan langkah Naruto yang sudah menaiki sepuluh anak tangga.

"Ada apa?" tanya Naruto datar pada ketiganya yang masih berdiri di tangga paling bawah, kepala mereka menunduk, dengan kedua tangan berada di lutut. "A-apa kita ha-rus berlari menaiki ta-tangga ini?" tanya Shino masih dengan napas terengah.

Naruto menyeringai kecil dari tempatnya berdiri. "Tentu saja, dojo yang kita tuju berada di atas sana." Kata Naruto sambil menunjuk ke titik tertinggi tangga." "Aku berikan kalian waktu lima menit untuk mencapai puncak, jika gagal, kalian harus menerima hukuman dariku," tambahnya lagi ringan. Naruto kembali berbalik dan berlari kembali menaiki anak tangga itu satu persatu.

"Hm, kalian telat lima menit," tegur Naruto datar tanpa penekanan di dalamnya. Namun, hal itu justru membuat ketiga pemuda yang berdiri di hadapannya itu semakin merinding ngeri.

"Gomen, sensei," sahut ketiganya lirih.

"Baiklah, kali ini aku memaafkan kalian. Well, selamat datang di dojo," tukas Naruto seraya membuka pintu gerbang besar yang terbuat dari kayu jati. Lee, Choji dan Shino menatap takjub bangunan yang berdiri kokoh di balik gerbang kayu itu. Bangunan itu bergaya Jepang tradisional, dengan bahan kayu dan atap ditindih batu dengan gaya fasade. Lantai bangunan itu tinggi, dengan halaman khas Jepang terhampar luas di hadapannya, di penuhi oleh pohon bonsai, kolam dan air mancur bambu.

Lee, Choji dan Shino semakin terbelalak saat masuk ke dalamnya. Toro berjejer dengan rapih di sepanjang jalan setapak menuju bangunan itu. Suasana dojo ini begitu tenang, hanya ada suara gemericik air yang mengalir dari air terjun mini di sudut taman, serta suara cicitan burung yang saling bersahut.

"Sensei, apa tidak menjadi masalah jika kita memakai dojo ini?" tanya Choji takut.

"Tentu tidak," jawab Naruto yakin. "Ini adalah dojo pribadi milik kakek angkatku, jadi tidak akan masalah. Kita bisa menggunakannya setiap Sabtu pagi."

"Anak tangga itu menuju kemana?" tanya Shino menunjuk ke arah anak tangga tidak jauh dari mereka, pohon-pohon tinggi mengapit anak tangga itu.

"Kediaman kakek, berada di ujung anak tangga itu," sahut Naruto. "Dojo ini adalah bagian belakang kediaman kakek, sisi lain dari kediaman ini adalah bukit yang curam."

"Maksud sensei, bukit ini adalah milik pribadi?" tanya Lee takjub.

"Begitulah," sahut Naruto datar.

"Wah, aku tidak mengira jika sensei itu kaya. Aku kira, sensei miskin," tukas Shino dibalas anggukan dari Lee dan Choji.

"Aku memang tidak kaya," kata Naruto santai. "Semua ini milik kakek angkatku, bukan milikku."

"Lalu keluarga sensei dimana?" tanya Lee mengalihkan pandangannya pada Naruto yang sudah sampai di depan dojo.

"Kedua orang tuaku sudah lama meninggal dunia, sedangkan kakak laki-lakiku menetap di Amerika."

"Kami turut berduka cita," sahut Shino sementara Choji menyikut perut Lee hingga pemuda berbaju hijau itu meringis.

"Tidak apa-apa Shino," kata Naruto dengan mengibaskan kedua tangan di depan mukanya. "Kejadiannya sudah sangat lama," tambahnya tenang. "Ayo masuk, jangan menyia-nyiakan waktu, ganti pakaian kalian dengan judogi, kalian hanya memiliki waktu lima menit untuk berganti pakaian." Naruto menggeser pintu kayu itu dan masuk ke dalam dojo, meninggalkan ketiganya yang masih berdiri di halaman dojo.

.

Lee, Choji dan Shino menunggu Naruto dengan duduk bersimpuh di atas tatami. Mata mereka kembali membulat saat melihat Naruto berjalan ke arah mereka dengan mengenakan judogi, tapi, bukan itu yang membuat ketiganya kaget. Sabuk hitam yang dikenakan Naruto-lah yang membuat ketiganya menelan ludah dengan susah payah. Garis putih memanjang pada sabuk hitam itu yang membuat ketiganya takjub.

"Sensei sudah tingkat teratas?" tanya Choji setengah berbisik, dia tahu, para Judoka wanita dengan tingkatan tertinggi memiliki ciri tersendiri yaitu garis putih memanjang pada bagian tengah sabuk hitamnya.

"Begitulah, ada masalah?" tanya Naruto dengan nada suara monoton.

"Tidak," jawab ketiganya puas. Mereka saling melirik satu sama lain, dan berbisik. "Kita tidak salah memilih guru," tukas ketiganya bangga.

Ketiga pemuda itu berdiri dan memberi hormat pada Naruto yang kini sudah berdiri di atas tatami. Naruto membungkukkan kepalanya, membalas hormat ketiganya.

"Pertama-tama, aku akan mengajari kalian cara duduk, memberi hormat dan kuda-kuda yang benar. Posisi tubuh yang benar merupakan bagian yang penting di dalam judo, hal pertama adalah posisi duduk. Duduk bersila atau seiza, dari posisi berdiri, kaki kiri kalian tarik ke belakang, lutut kiri letakkan di lantai, tepat di mana jari kiri kalian berada tadinya. Lakukan hal yang sama dengan kaki kanan, setelahnya kedua kaki harus bersangga pada jari kaki dan lutut." Naruto meluruskan jari kaki sejajar dengan lantai dengan pantat diletakkan di atas pangkal kaki. "Setelah itu, letakkan kedua tangan di atas paha pada masing-masing sisi. Untuk berdiri, lakukan tahapan yang sama, namun dengan cara terbalik. Mengerti?" ketiganya hanya mengangguk dan Naruto memerintahkan ketiganya untuk melakukan hal yang sama, terus berulang hingga prosedurnya benar.

"Kalian sudah bisa duduk dan berdiri dengan benar, yang kedua adalah memberi hormat, atau disebut juga dengan zarei. Saat dalam posisi bersila seperti saat ini, yang kalian lakukan adalah membungkukkan badan ke depan hingga kedua telapak tangan menyentuh lantai, jangan lupa jari tangan kalian harus menghadap ke depan." Jelas Naruto panjang lebar.

"Lain lagi jika kalian dalam posisi berdiri, dekatkan kedua pangkal kaki kalian, bungkukkan badan ke depan, kira-kira 30 derajat, setelah beberapa saat kembali ke posisi semula. Lalu yang paling penting adalah kuda-kuda. Yang pertama adalah shizen tai", Naruto membuka kakinya sekitar 30 cm dalam posisi natural, dan membagi berat badan di kedua kaki sama rata.

"Dan ini, adalah posisi bertahan atau jigo tai. Dari posisi sekarang, buka kaki kalian lebih lebar, dan tekuk lutut." Lee, Choji dan Shino lengsung mempraktekan apa yang diajarkan oleh Naruto, hingga wanita itu tersenyum karena ketiganya belajar dengan cepat. "Kalian benar-benar pandai," puji Naruto hingga ketiganya bersemu merah.

"Siapa diantara kalian yang mau menjadi teman berlatihku, aku akan mengajari kalian teknik bantingan."

Lee, Choji dan Shino hanya saling melirik satu sama lain, tidak ada satupun diantara mereka yang bersedia untuk menjadi sukarelawan. "Tidak ada?" desis Naruto tidak sabar. Akhirnya, ketiga pemuda itu mengundi, menurut mereka cara itu lebih terasa lebih adil. Lee dan Shino menghela napas lega, karena keduanya menang pada saat hompipa.

Choji maju dengan langkah berat, berdiri berhadapan dengan Naruto yang sudah siap dengan kuda-kudanya. "Tenang saja Choji, dibalik tatami ini sudah dipasang lantai palsu dengan pegas di dalamnya. Jadi, tubuhmu tidak akan terlalu sakit saat aku banting nanti." Entah kenapa, ucapan Naruto ini sama sekali tidak menenangkan hati Choji, yang ada, dia malah bertambah khawatir akan keselamatan dirinya saat ini.

"Pasang kuda-kudamu," perintah Naruto pada Choji, sementara kedua temannya yang lain hanya bisa menelan ludah, berdoa dalam hati untuk keselamatan Choji. "Yang pertama adalah teknik sapuan lutut," Naruto menyapu kaki Choji dengan lutunya hingga dia terjungkal dan meringis. "Berdiri," kata Naruto tegas, Choji segera berdiri dengan patuh. "Ini jegal belakang, lalu jegal depan, sedangkan ini adalah sapuan samping." Naruto mempraktekannya dengan tempo lambat.

Lee dan Shino ikut meringis saat melihat Choji terjungkal untuk kedua kalinya. "Apa kalian mengerti?" tanya Naruto tegas, ketiganya mengangguk dengan cepat. "Bagus," sahut Naruto santai. Setelah itu, Naruto pun mempraktekan cara bantingan, dimulai dari bantingan paha, ada yang memutar, mengangkat atau hanya sapuan. "Kali ini, aku hanya akan mengajari kalian cara membanting, pertemuan selanjutnya, aku akan mengajari kalian cara lemparan. Sekarang berdiri. Lee, kamu berhadapan dengan Shino, dan Choji, kamu berhadapan denganku. Sekarang praktekkan apa yang baru saja aku ajarkan pada kalian."

Mereka terus berlatih, Naruto tidak menghiraukan keringat yang mengucur dengan deras dari ketiga muridnya itu. Naruto bersidekap, menatap ketiganya yang saat ini masih memasang kuda-kuda dan belajar untuk memukul titik-titik vital manusia. Masing-masing dari mereka berlatih dengan menggunakan sand bag yang tergantung sebagai sasaran mereka.

"Cukup," tukas Naruto, menghentikan gerakan ketiga muridnya, mereka segera berbalik dan memberi hormat pada Naruto. "Kalian bisa menggunakan kamar mandi pria dekat ruang ganti, sebelum kembali ke asrama aku akan mentraktir kalian ramen, mau?" ketiganya langsung mengangguk dengan semangat, beranjak menuju ruang ganti untuk mandi dan berganti pakaian.

.

Selang satu jam kemudian, ketiganya sudah duduk di kursi paling pojok di kedai Ichiraku. "Enak?" tanya Naruto yang dijawab tidak jelas ketiganya karena mulut yang penuh oleh makanan. "Makan yang banyak, kalian boleh tambah jika mau," sahut Naruto baik hati. Mata ketiganya seketika berbinar bahagia setelah mendengar perkataan Naruto, mereka menyeruput kuah ramen di dalam mangkuk hingga tidak bersisa, dan memanggil waiters untuk memesan kembali satu mangkok ramen ukuran besar dengan rasa yang sama untuk masing-masingnya.

"Arigatou sensei," ucap ketiganya seraya menepuk-nepuk perutnya yang terlihat sedikit membuncit. "Kenyang sekali," tukas Choji riang.

"Ayo, kita kembali ke asrama. Sudah hampir jam dua siang," sahut Naruto seraya berdiri dari bangkunya dan beranjak menuju kasir untuk membayar semua pesanan yang mereka makan.

"Sensei?" panggil Lee saat keempatnya sudah berdiri di depan pintu masuk kedai.

"Ada apa?"

"Bolehkah kami kembali dengan menggunakan bis?" tanya Lee penuh harap.

Sejenak Naruto terlihat berpikir, membenarkan jika mereka tidak mungkin berlari ke asrama dengan keadaan perut yang penuh. "Baiklah, kita kembali dengan menggunakan bis," jawab Naruto yang disambut sorak sorai ketiga muridnya dengan gembira.

Ketiga murid Naruto berjalan dengan riang di depan Naruto. Mereka terus berbicara, bercanda, membahas semua hal yang tidak saling menyambung satu sama lain, namun Naruto tersenyum mendengarnya. Dia ikut senang bisa melihat kegembiraan yang terpancar dari ketiga muridnya.

Langkah Naruto terhenti saat dengan tidak sengaja pandangannya menangkap sosok Kimimaro yang berjalan dengan tergesa-gesa dengan arah berlawanan. Kimimaro yang merupakan salah satu mantan kekasih Tayuya menjadi incaran Naruto. Dia sudah memikirkan beberapa cara untuk mendekati remaja itu, dan sekarang mungkin saat yang tepat bagi Naruto untuk bertindak. "Kalian pulang duluan," kata Naruto tegas.

"Sensei mau kemana?" tanya Lee mengernyit penuh tanya.

"Aku masih ada urusan," jawab Naruto pendek. "Cepat kembali ke asrama. Jika aku mengetahui kalian pergi ke tempat lain, aku tidak akan segan menghukum kalian 10 kali lipat," desis Naruto penuh ancaman.

"Wakatta sensei," jawab ketiganya bersamaan. Tanpa banyak bicara, ketiganya berbalik dan berjalan menuju halte. Sementara Naruto mulai berlari untuk mengejar jejak Kimimaro.

Kimimaro terus berjalan hingga pinggiran kota yang sepi, berjalan turun menuju sebuah gudang tua yang terletak di dekat pelabuhan. Naruto mengerutkan kening. "Ada urusan apa dia kesini?" gumam Naruto setengah berbisik.

Dari pengamatan Naruto, sekilas gudang tua itu tidak mencurigakan, tidak banyak aktifitas di luarnya, hanya kawat-kawat berduri menjadi pagar pelindungnya. Namun, jika melihat lebih dekat, nampak beberapa pria berjas hitam rapih berdiri seakan menjaga sesuatu yang berharga di dalam gudang tersebut.

Mata Naruto memicing saat Kimimaro menghampiri salah satu penjaga, dan berjalan masuk ke dalam gudang. Naruto terus berjalan mengendap-endap, berusaha menyembunyikan dirinya dari perhatian penjaga. Naruto mengintip melalui jendela yang dengan sengaja dicat hitam pada bagian luarnya, beruntung ada sedikit bulatan kecil yang catnya memudar, sehingga memudahkan Naruto untuk mengintip ke dalam.

Naruto begitu terkejut saat melihat keadaan di dalam gudang. Gudang itu ternyata sebuah bar kecil, beberapa anak muda menghentak-hentakkan kaki, seperti mengikuti alunan musik, Naruto tidak yakin, karena dia sama sekali tidak bisa mendengar apapun dari luar. Di sebuah sofa ada seorang pria, yang Naruto yakin masih berusia sekitar 17 atau 18 tahun menyuntikkan sesuatu pada lengan kirinya, beberapa remaja bahkan tergeletak tidak sadarkan diri, dan di sudut paling kanan, nampak beberapa remaja sedang menghisap mariyuana. "Mereka pesta narkoba?" tukas Naruto tidak percaya.

Sikap Naruto berubah semakin waspada saat telinganya menangkap gerakan tidak jauh dari tempatnya bersembunyi saat ini. Untuk menyelamatkan diri, Naruto masuk ke dalam sebuah tong kosong yang terletak di depan jendela. Benar, ternyata beberapa pria berjalan mendekat ke arahnya dan berhenti tepat di depan tong tempat Naruto bersembunyi.

"Bos meraup untung besar akhir-akhir ini, lihat bocah-bocah itu, dengan mudah mereka masuk perangkap dan terjerat tanpa bisa melarikan diri," tukas salah satu pria dengan aksen aneh.

"Bos besar pasti sangat bangga pada bos kita, jika tiap hari penghasilan kita seperti sekarang, kita bisa meluaskan wilayah, dan merekrut anggota lebih banyak," jawab satu pria lagi dengan logat Kansai yang kental.

"Bos kita benar-benar hebat," puji pria kesatu. "Ngomong-ngomong, apakah kamu pernah bertemu dengan bos besar?"

"Tidak," jawab pria kedua lalu menghisap mariyuana di tangannya dalam. "Tidak ada yang tahu wajah asli bos besar, dia bekerja seperti bayangan."

"Lebih baik kita segera berkeliling, akhir-akhir ini banyak polisi patroli tidak jauh dari tempat ini."

"Ha'i," jawab pria pertama datar. Setelah beberapa saat Naruto bisa mendengar langkah keduanya yang berjalan semakin jauh. Naruto menghela napas lega, memutar otak untuk pergi dari tempat itu dengan aman.

Naruto menarik risleting jaketnya hingga dagu, mengintip keadaan sekitar di luar tong dengan waspada. Setelah merasa aman, Naruto pun keluar dari tong, berjalan mengendap-endap hingga akhirnya berhasil keluar dari area gudang dengan cara yang sama seperti saat dia masuk pertama kali, memanjat pagar kawat berduri. Naruto meringis, saat kulit punggung tangan kanannya terluka, tergores duri kawat, meninggalkan luka vertical sepanjang lima cm disana.

.

Satu jam kemudian, Naruto sudah berada di depan gerbang asrama. Dengan langkah cepat dia berjalan masuk, luka pada punggung tangan kanannya semakin parah. Darah segar terus mengalir tanpa bisa dia redam dengan telapak tangan kirinya. Naruto bahkan sudah mengikat luka itu dengan sapu tangan miliknya, namun darah masih saja merembes keluar.

"Kenapa tanganmu?" Naruto terus melangkah tanpa menghiraukan Sasuke yang saat ini berjalan mengekor di belakangnya. "Kenapa dengan tanganmu Dobe?" tanya Sasuke lagi dengan kasar. Tangan Sasuke meraih tangan kiri Naruto hingga gadis itu berhenti berjalan dan berbalik ke arahnya. "Jawab Dobe, kenapa dengan tanganmu?"

"Bukan urusanmu Teme!" sahut Naruto dingin dengan kasar dia menepis genggaman tangan Sasuke pada tangan kirinya, namun Sasuke kembali menggenggam tangan kiri Naruto dengan kasar, dan menyeretnya menuju rumah sakit sekolah.

"Mau apa kamu membawaku kemari?" tanya Naruto tidak suka.

"Kita harus mengobati lukamu!" jawab Sasuke kesal.

"Aku bisa mengurusnya sendiri," desis Naruto meluncur tajam, sementara Sasuke terus menyeretnya ke rumah sakit sekolah, tidak peduli pada bisikan para murid yang merasa aneh akan sikapnya.

"Shizune-san, tolong obati lukanya," pinta Sasuke pada dokter jaga.

Tanpa banyak bicara, Shizune meraih tangan kanan Naruto dan membuka balutan sapu tangan yang sudah berubah warna menjadi merah. "Lukamu cukup dalam," tukas Shizune tenang. "Kita harus menjahitnya, siapa namamu?"

"Namikaze Naruto," jawabnya setengah berbisik.

"Apa yang kamu lakukan hingga terluka seperti ini, Namikaze-san?"

"Tergores kawat," jawab Naruto pendek sementara Shizune hanya menggelengkan kepala dan mulai membersihkan luka pada tangan Naruto. "Uchiha-san, tolong tunggu diluar!" Sasuke hanya mengangguk dan beranjak keluar dengan menutup pintu di belakangnya pelan.

"Arigatou, Shizune-san," kata Naruto saat Shizune selesai menjahit dan menutup luka Naruto dengan perban.

"Aku akan memberimu obat, minum jika badanmu demam, mengerti?" tanya Shizune sementara Naruto hanya mengangguk pelan. Naruto pun beranjak keluar dari ruang praktek Shizune setelah membungkuk untuk memberi hormat.

"Sudah selesai?" tanya Sasuke dengan nada serius.

"Menurutmu?" jawab Naruto ketus.

"Ada apa denganmu?"

"Memangnya aku kenapa?" Naruto balik bertanya.

"Sikapmu berbeda padaku."

"Aku memang tidak pernah bersikap baik padamu."

"Katakan, apa salahku?"

"Tidak ada," jawab Naruto datar, sementara kakinya terus melangkah di sepanjang koridor rumah sakit yang cukup panjang.

"Kamu masih marah karena aku tidak menciummu?" tanya Sasuke yang sukses menghentikan laju langkah Naruto. Naruto mendesis dan berbalik ke arah Sasuke hingga keduanya saling berhadapan saat ini. "Aku sudah katakan padamu, mataku kelilipan saat itu. Jangan besar kepala Teme, aku juga tidak sudi dicium olehmu," kata Naruto meluncur cepat dan tajam. Sasuke menatap Naruto tanpa ekspresi dan membalasnya dengan dingin. "Kalau begitu, berhenti merajuk seperti anak kecil."

"Aku tidak merajuk," protes Naruto dengan geram.

"Jangan terus terluka seperti ini Dobe," tukas Sasuke berbisik di telinga kiri Naruto. "Pantas saja tidak ada pria yang mau denganmu, siapa juga yang mau memiliki kekasih dengan banyak bekas luka?" tambahnya lagi, lalu melangkah meninggalkan Naruto yang masih berdiri kaku di belakangnya.

"Dasar Teme sialan!" teriak Naruto menggema sepanjang lorong rumah sakit. Namun, Sasuke tidak peduli, telinganya seakan tuli. Sasuke mengumpat dalam hati, menyesali akan apa yang baru saja dia katakan pada Naruto. Bukan itu yang ingin dia katakan, sebenarnya dia ingin katakan jika dia sangat cemas, namun, sikap Naruto yang terasa dingin juga ucapannya yang ketus membakar emosi Sasuke hingga akhirnya Sasuke mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan hatinya. "Dasar bodoh!" tukas Sasuke lirih entah ditujukan pada dirinya atau pada Naruto, hanya Sasuke yang tahu.

.

"Kamu dari mana Sas?" tanya Gaara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV flat 41 inch milik Sasuke. Sasuke sama sekali tidak menjawab, dia malah menghempaskan tubuhnya dengan keras di sofa. "Kenapa denganmu?" tanya Shikamaru yang duduk di samping Sasuke merasa terganggu.

"Aku punya gosip baru!" seru Kiba yang baru saja masuk ke dalam kamar Sasuke berteriak. "Sas, bukannya kamu bersama Naruto?" Kiba menghentikan langkahnya, heran saat melihat Sasuke duduk di sofa.

"Hn."

Kiba melirik ke arah Sasuke dan tersenyum lebar. "Sahabat kita ini, membawa Naruto ke rumah sakit sekolah, menunggunya hingga dia selesai mendapat perawatan. Bukankah itu sangat manis?" ejek Kiba.

"Benarkah?" tanya Neji menatap langsung pada Sasuke.

"Sepertinya sahabat kita ini menaruh hati pada Naruto," potong Shikamaru menepuk bahu kiri Sasuke.

"Aku masih menyukai wanita yang lebih tua," sahut Sasuke mengelak.

"Benarkah?" Gaara kembali bertanya dengan menyeringai kecil.

"Hn."

"Yakin?" sahut Kiba.

"Hn."

"Buktikan!"

"Caranya?" tanya Sasuke menoleh ke arah Shikamaru.

"Kita ke pub malam ini, kamu harus menghabiskan malam dengan seorang wanita yang sudah kami pilih."

"Tidak masalah," sahut Sasuke datar.

Dan disinilah mereka berempat berada, di sebuah pub malam yang sangat terkenal di Konoha. Suara musik menghentak-hentak memekakan telinga, gelak tawa wanita-wanita cantik terus terdengar, mereka bahkan tidak segan untuk mengumbar kemesraan di hadapan pengunjung lain. Mereka merasa sangat bangga bisa menggaet perhatian Sasuke cs malam ini, membuat para wanita lainnya menggigit jari karena cemburu.

Di sudut lain, Naruto hanya bisa memicingkan mata dan mengatupkan bibirnya erat, saat matanya melihat Sasuke mencium mesra seorang wanita cantik berambut hitam panjang. Naruto kembali menyesap minumannya, sex on the beach, yang merupakan wiski koktail dengan komposisi vodka, buah persik, jus jeruk dan jus cranberry. "Dasar bocah," desis Naruto yang entah kenapa hatinya menjadi panas melihat tiap adegan mesra yang dilakukan oleh Sasuke. "Kalau begini, lebih baik aku mendekati Kimimaro dan mengorek informasi darinya, aishh... dasar brengsek!" katanya lagi meletakkan gelas minuman miliknya ke atas meja bar dengan keras.

Naruto berdiri dan berjalan di belakang Sasuke saat melihat pria itu dengan mesra menggandeng tangan wanita di sampingnya dan beranjak naik ke lantai dua. Naruto mengepalkan tangan ketika Sasuke dan wanita itu masuk ke dalam sebuah kamar yang memang sengaja disewakan khusus untuk pengunjung VIP. Naruto bersembunyi di balik pilar saat melihat Shikamaru, Gaara, Neji dan Kiba mengendap-endap dan menempelkan telinga pada daun pintu kamar sewa Sasuke.

Sementara itu di dalam kamar, Sasuke melepaskan diri dari pelukan wanita yang menggelayut mesra padanya. "Ada apa?" tanya wanita itu heran saat melihat perubahan mood Sasuke yang memburuk.

"Berapa mereka membayarmu?"

"Maksudmu?" tanya wanita itu pura-pura tidak mengerti.

"Berapa mereka membayarmu agar kamu mau melayaniku?"

Wanita itu mengikir kuku-kunya yang terawat sempurna, tersenyum manis dan melirik genit ke arah Sasuke. "250 ribu yen," katanya datar.

"Aku akan membayarmu tiga kali lipat, asal kamu mau mengikuti perintahku."

"Bagaimana yah," sahut wanita itu pura-pura tidak peduli.

"Kamu hanya perlu keluarkan desahan erotis agar mereka yang menguping di daun pintu itu menganggap kita sedang bercinta."

"Aku tidak keberatan melakukannya denganmu," tukas wanita itu dengan pose menantang.

"Aku yang keberatan," sahut Sasuke dingin. Wanita itu mengangkat sebelah alis dan bertanya datar. "Kamu punya kekasih?"

"Hn."

"Kamu mencintainya?"

"Hn."

"Oh, manis sekali," sahut wanita itu terkikik. "Aku suka pria setia, baiklah, aku akan membantumu."

Diluar pintu, Shikamaru cs semakin menempelkan daun telinga mereka. "Kenapa sunyi sekali?" tanya Gaara tidak sabar. "Tunggu! Dengar itu," sahut Neji menyeringai kecil.

"Wow, desahannya benar-benar sexy," kata Kiba dengan muka memerah.

"Dia benar-benar melakukannya," tukas Shikamaru menggelengkan kepala.

"Lebih baik kita tunggu di bawah saja, aku takut tergoda jika terus berada disini," usul Neji beringsut dari tempatnya berdiri. Shikamaru, Gaara dan Kiba mengangguk setuju dan keempatnya beranjak turun menuju lantai bawah.

Naruto hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan luapan emosi yang tiba-tiba menyerang dirinya. Dia juga sedikit aneh dengan apa yang dirasakannya saat ini, hatinya sakit saat telinganya menangkap desahan erotis yang tidak terputus dari dalam kamar Sasuke. Ingin sekali dia mendobrak masuk dan menghajar Sasuke, tapi, dia kembali berpikir, siapa dia? Dia sama sekali tidak berhak untuk melakukannya. Naruto akhirnya menyerah, dia menelepone Kakashi untuk menggantikannya menjaga Sasuke malam ini.

Dia tidak yakin, berapa lama dia bisa bertahan dengan kondisi saat ini. Setelah kedatangan Kakashi tiga puluh menit kemudian, Naruto pun beranjak pergi, keluar dari pub untuk menghirup udara segar. Naruto baru berjalan selama lima belas menit, saat telinganya mendengar erangan kesakitan dan suara pukulan dan tendangan tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.

Mata Naruto membulat saat melihat jika Kimimaro-lah yang sedang dipukuli oleh beberapa pria dewasa dengan membabi buta. Dengan cepat Naruto berlari dan menangkap tangan salah satu penyerang Kimimaro.

"Jangan ikut campur, dasar pelacur!" desis pria itu marah, Naruto bergeming menatap keempat pria yang berdiri di hadapannya tenang.

"Pergi! Atau kamu akan rasakan sakit yang teramat sangat," ancam pria lain pada Naruto.

Naruto melirik ke arah Kimimaro yang tergeletak tidak berdaya, dan menatap tajam keempat pria di hadapannya. "Kalian menyukai rasa sakit rupanya," balas Naruto tenang. "Kalau begitu, aku sendiri yang akan memberikan rasa sakit yang sebenarnya pada kalian."

Keempat pria itu menggeram marah dan mulai menyerang Naruto dengan brutal, salah satu diantaranya bahkan mengeluarkan pisau lipat mencoba untuk menusuk perut Naruto. Beruntung, Naruto bisa menghindarinya dengan cepat, menepis tangan pria itu dan mematahkan jari-jari tangan kanannya hingga dia berteriak kesakitan.

Naruto kembali menangkis tendangan pria kedua, mengangkat kaki kanan pria itu tinggi dan mematahkan lututnya dengan menggunakan siku tangan kanannya hingga menimbulkan suara krak yang mengerikan. Dua pria yang tersisa menatap horor kedua temannya yang tergeletak dan meringis kesakitan. Wajah mereka semakin memerah karena marah, pukulan, tendangan dan sapuan terus dilayangkan ke arah Naruto. Wanita itu terus bergerak, menangkis dan menghindar, dan beberapa saat kemudian, pukulan kerasnya berhasil mendarat sempurna di wajah pria ketiga, merontokkan beberapa gigi depannya dan dengan tendangan tepat pada ulu hati, pria itu pun pingsan.

Pria keempat berusaha melarikan diri saat melihat ketiga temannya terkapar bersimbah darah. Namun, Naruto menarik tangan kanannya, membantingnya keras ke atas tanah dan memberikan pukulan terakhir pada tengkuk pria itu hingga pingsan. Naruto mengambil napas dalam saat keempatnya sudah terkapar tidak berdaya, dia mengenali wajah salah satu pria ini yang merupakan penjaga gudang yang tadi siang diamatinya. Naruto berjongkok dan memeriksa pakaian dari keempat pria tersebut, salah satu diantara mereka membawa beberapa butir ekstasi dan ketiga lainnya membawa beberapa linting mariyuana.

Naruto merogoh ke dalam saku jaketnya, mengambil telpon genggam dan melakukan panggilan ke kantor polisi terdekat. Setelah memberikan laporan lewat telpon, Naruto pun menyeret tubuh Kimimaro menjauh dari tempat kejadian, menghentikan sebuah taxi, dan saat keduanya sudah berada di dalamnya, Naruto bisa mendengar suara sirine mobil polisi yang mendekat menuju tempat perkara.

"Ouch," ringis Naruto saat merasakan punggung tangannya yang terluka berdenyut nyeri. Naruto melihat darah segar merembes keluar dari kain kasa yang menutupinya. "Terbuka lagi," keluh Naruto yang yakin jika jahitan pada punggung tangannya itu kembali terbuka.

Taxi yang ditumpangi Naruto berhenti di sebuah klinik kecil di pinggiran kota. Dengan tidak sabar Naruto menekan bel pintu, dan beberapa saat kemudian pintu itu terbuka. "Kamu tahu jam berapa sekarang?" hardik pria itu kasar. "Naruto?" kata pria itu kaget saat mengetahui jika Naruto-lah yang berdiri di depan pintunya malam ini.

"Maaf mengganggu, senpai, tapi, aku memerlukan bantuan Konan-san," tukas Naruto merasa bersalah.

"Masuklah!" kata Nagato membantu Naruto membawa Kimimaro yang masih pingsan masuk ke dalam klinik. "Dia kenapa?"

"Beberapa preman menghajarnya," jelas Naruto.

"Sepertinya lukanya cukup parah," sahut seorang wanita yang sekarang sudah berada diantara mereka.

"Tolong obati dia," pinta Naruto memohon.

"Tentu saja," jawan Konan tersenyum. "Dan kamu juga harus mendapat pertolongan nona manis," lanjutnya seraya menunjuk punggung tangan Naruto.

Naruto dan Nagato meninggalkan Konan, Nagato mempersilahkan Naruto duduk dan menuangkan secangkir kopi hitam untuk masing-masing. "Kenapa kamu bisa terluka seperti itu Naru?"

"Tugas," jawab Naruto pendek.

Nagato mengernyit heran dan membalas. "Bukankah Jendral Sarutobi memindahkanmu ke bagian administrasi?"

"Benar," sahut Naruto datar. "Tapi, beliau kembali memberiku tugas beberapa minggu yang lalu." Jawabnya tidak spesifik.

"Souka," kata Nagato menghela napas lelah.

"Bukankah senpai dipindah tugaskan?"

"Ya, aku menjadi instruktur latih sekarang," sahut Nagato tersenyum kecil.

"Apa senpai tidak menyesal?"

"Tidak," jawab Nagato yakin. "Posisi instruktur memang tidak menegangkan seperti saat bekerja di lapangan. Namun, setidaknya, istriku tenang tiap kali aku berangkat kerja, tanpa harus was-was jika aku kembali tanpa nyawa," jelasnya tersenyum lembut, Naruto hanya bisa mengangguk mengerti.

"Jaga dirimu baik-baik Naru, aku tidak mau kehilangan kohai favorite-ku."

Naruto terkekeh kecil dan menyesap kopi hitamnya lagi. "Ha'i, aku akan menjaga diriku dengan baik. Arigatou senpai."

"Hm," jawab Nagato ringan.

Setelah selesai mengobati Kimimaro, Konan pun segera mengobati luka Naruto, dan menjahit ulang lukanya yang kembali terbuka. "Hati-hati Naru, jangan sampai terbuka lagi. Lukanya bisa membekas jika kamu tidak hati-hati merawatnya."

"Ha'i, wakatta. Arigatou Konan-san."

"Sebaiknya Nagato mengantar kalian pulang," seru Konan.

"Tidak perlu," tukas Naruto. "Sebentar lagi paman Kakashi akan menjemput kami berdua. Maaf, aku merepotkan kalian lagi."

"Tidak apa-apa, untuk kohai favorite, kami selalu siap membantu," sahut Konan tulus dan disetujui dengan anggukan kepala Nagato.

Selang beberapa menit kemudian, Kakashi datang untuk menjemput keduanya. Dengan dibantu oleh Nagato, dia memasukkan Kikimaro yang masih pingsan ke dalam mobil Jeep berwarna hitam miliknya. Setelah berpamitan, Kakashi pun menancap gas untuk kembali ke asrama.

"Bukankah dia salah satu mantan pacar Tayuya?" tanya Kakashi datar saat mereka dalam perjalanan pulang.

"Benar."

"Kenapa dia bisa bersamamu?"

"Aku menemukannya di jalan, saat beberapa pria tengah memukulinya."

"Begitu?" sahut Kakashi datar. "Yamato sedang mengawasi gudang di pelabuhan, sepertinya kita harus bersiap, mungkin akan ada perintah penyergapan."

Naruto mengangkat kedua alisnya tidak percaya. "Bukankah aku tidak boleh ikut campur?"

"Kepala kepolisian yang meminta bantuanmu secara pribadi pada Jendral Sarutobi, membuat jendral tidak bisa untuk menolak."

"Begitu," sahut Naruto suka cita.

"Tapi, kamu tetap berada di bawah perintahku Naru, jadi, jangan mengambil tindakan sendiri yang bisa membahayakan keselamatanmu."

"Ha'i, wakatta paman."

"Aku memiliki satu tugas lagi untuk-mu."

"Apa?"

"Korek keterangan dari pemuda ini sekecil apapun, itu bisa menjadi sesuatu yang penting untuk penyelidikan kita."

"Ok," jawab Naruto singkat. "Paman juga harus menginformasikan pada kepolisian, jika salah satu preman yang aku lumpuhkan malam ini adalah penjaga gudang itu."

"Itu akan menjadi tugas Yamato untuk mengorek informasi darinya, ah, kita sudah sampai," seru Kakashi saat mereka sampai di depan gerbang sekolah.

Gerbang sekolah pun terbuka beberapa saat kemudian, karena sebelumnya Kakashi sudah meminta bantuan pada Asuma yang bertugas menjadi pengawas asrama malam ini untuk membukakan pintu gerbang untuk dirinya. Bagaimanapun akan sulit jika mereka harus masuk lewat jalan saluran air atau memanjat benteng dengan beban Kimimaro yang masih tidak sadarkan diri.

Naruto membantu Kakashi membawa Kimimaro ke asrama siswa dan menidurkannya di tempat tidur. Naruto menatap sekeliling kamar, kamar ini begitu sederhana, tidak banyak perabotan di dalamnya, dindingnya pun dicat putih, yang menarik adalah sebuah lemari besar yang penuh oleh buku tebal. Naruto dan Kakashi menggunakan kesempatan itu untuk menggeledah kamar Kimimaro. Mencoba mencari sesuatu yang mungkin berkaitan dengan kematian Tayuya, namun hasilnya nihil. Mereka tidak menemukan apapun di dalam sana.

"Tayuya..." Kimimaro mengigau, Naruto duduk di tepian tempat tidur Kimimaro dan terlonjak kaget saat kelopak mata pemuda itu terbuka dan menatap lurus ke arahnya. "Si-siapa?" tanya Kimimaro, namun, pengaruh obat yang diberikan oleh Konan nampaknya masih berpengaruh kuat pada tubuh pemuda itu, hingga akhirnya pemuda itu pun jatuh tertidur kembali.

"Lebih baik kita pergi dari sini," usul Kakashi. Naruto segera berdiri dan berjalan di belakang Kakashi, serta menutup pintu kamar Kimimaro pelan.

.

.

.

Hari Senin tiba dengan cepat, tidak seperti biasanya, saat jam makan siang Naruto memilih untuk duduk di dalam kantin ditemani oleh Karin, Hinata dan Ino. Sedari tadi, Naruto sebenarnya sudah menyadari jika Kimimaro yang duduk di kursi paling ujung kanan kantin mencuri-curi pandang ke arahnya.

Dan ternyata bukan hanya Naruto yang menyadari hal itu, Sasuke cs juga menyadari hal yang sama. "Kenapa Kimimaro melihat Naruto seperti itu?" desis Kiba tidak suka. Neji, Gaara menatap tajam ke arah Kimimaro, sementara Shikamaru hanya menguap dan kembali tertidur dengan menyanggah kepala menggunakan tangan kanan. Lain lagi dengan Sasuke, dia hanya menatap datar ke arah Kimimaro.

"Aku mau ke perpustakaan, ada yang mau ikut?" tanya Naruto yang dijawab oleh gelengan kepala Karin, Hinata dan Ino. Setelah itu, Naruto pun segera beranjak keluar dari kantin. Dia harus memastikan satu hal, dan benar saja, Kimimaro mengikutinya, berbelok dan masuk ke dalam perpustakaan.

Naruto menyambar sembarang buku dan duduk di bangku sebelah jendela Prancis besar, dan berpura-pura membaca buku itu penuh minat. "Boleh aku duduk disini?" Naruto mendongakan kepala, dalam hati bersuka cita, karena Kimimaro yang datang menghampirinya sendiri.

"Tentu," jawab Naruto datar, tangannya membalikkan halaman buku yang tengah dibacanya asal.

"Terima kasih," ucap Kimimaro setengah berbisik.

"Untuk apa?" tanya Naruto pura-pura tidak mengerti.

"Kamu sudah menolongku tadi malam, kamu membawaku ke kamar, aku ingat wajahmu secara samar."

Naruto menghela napas dalam dan menutup buku di hadapannya. "Aku tidak sengaja menolongmu."

"Tetap saja kamu menolongku." Naruto hanya mengangkat bahu dan kembali membuka bukunya. "Tapi, apa yang kamu lakukan disana, bukankah berbahaya jika seorang wanita berkeliaran seorang diri?"

"Bukan urusanmu," sahut Naruto dingin.

"Maaf," tukas Kimimaro disambut keheningan panjang setelahnya.

"Dan kamu, apa yang kamu lakukan hingga berurusan dengan preman-preman itu?"

"Kamu tahu?" tanya Kimimaro syok.

"Aku melihat mereka berlari saat polisi datang, meninggalkanmu tergeletak disana," jawab Naruto berbohong.

"Aku mencuri dari mereka," sahut Kimimaro setengah berbisik.

Naruto memasang wajah datar, berpura-pura tidak tertarik. "Apa yang kamu curi?"

"Barang milik mereka," jawab Kimimaro dengan kepala tertunduk. "Aku ini pemakai, kau tahu?" Naruto hanya menggeleng, Kimimaro tersenyum. "Aku tidak bisa bertahan tanpa barang terkutuk itu, dan aku menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya."

"Termasuk mencuri?" Kimimaro mengangguk. "Kamu bisa mati," desis Naruto.

"Aku tahu," kata Kimimaro santai, seolah tidak ada beban. "Tapi, aku membutuhkannya."

"Kamu tidak mau sembuh?"

"Kadang, ya, kadang aku ingin sembuh. Tapi, aku sadar, aku sudah terperosok sangat dalam."

"Kamu menyerah sebelum berperang?"

Kimimaro kembali tersenyum. "Aku tahu, kamu pasti menganggapku pengecut." Naruto hanya mengangkat bahu. "Mantan kekasihku yang pertama kali mengenalkan barang itu padaku." Naruto masih terdiam tidak menanggapi. "Aku sangat mencintainya, hingga menuruti semua keinginannya."

"Termasuk mengkonsumsi barang itu?"

"Benar," sahut Kimimaro renyah. "Dan saat aku putus dari Tayuya, aku sama sekali tidak bisa putus dengan barang terkutuk itu."

"Tayuya?"

"Ya, dia meninggal beberapa bulan yang lalu."

"Apa penyebabnya?" korek Naruto dalam.

"Entahlah, ada yang mengatakan jika dia bunuh diri, ada juga rumor yang beredar jika dia dibunuh. Aku tidak tahu," kata Kimimaro.

"Untuk apa dia dibunuh?"

Kimimaro mengangkat bahu. "Tayuya sama denganku, dia menghalalkan banyak cara untuk mendapatkan barang terkutuk itu."

"Maksudmu?"

"Aku sudah bicara terlalu banyak, aku juga tidak mengerti, kenapa aku bisa berbicara banyak denganmu. Padahal kita belum mengenal nama satu sama lain. Namaku Kimimaro, namamu?" katanya seraya mengulurkan tangan kanannya. Naruto membalas jabatan tangan itu, dan menjawab. "Naruto," jawabnya dengan senyum kecil. Mereka terus berbincang, tanpa sadar ada lima pasang mata yang menatap ke arah mereka tidak suka.

"Apa yang mereka bicarakan?" desis Gaara.

"Kita hampiri saja, aku tidak suka jika Naruto dekat dengan Kimimaro. Dia bukan pria baik!"

"Benar, aku setuju dengan Neji, kita hampiri mereka saja, bagaimana Sas? Eh, mana Sasuke?" tanya Kiba saat menyadari jika Sasuke sudah tidak ada di sampingnya.

"Apa yang kamu lakukan disini Naru?" tanya Sasuke dengan mengecup puncak kepala Naruto lembut dan duduk dengan merangkul bahu Naruto, mengeliminasi jarak diantara keduanya. Kimimaro hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku pangeran es, tidak menyangka jika pria tanpa emosi itu bisa bersikap begitu protektif.

"Lepaskan tanganmu," desis Naruto menepis kasar tangan Sasuke yang masih memeluk bahunya kencang.

"Lebih baik aku pergi, jaa ne Naru," tukas Kimimaro sopan, meninggalkan Naruto dan Sasuke berdua.

"Jangan dekat-dekat dengannya Naru, dia bukan anak baik." Tukas Shikamaru tiba-tiba, sementara Gaara, Kiba dan Neji duduk di bangku depan Naruto.

"Kalian tidak berhak mengaturku," sahut Naruto dingin.

"Kamu bisa terluka jika dekat dengannya," ucap Gaara serius.

"Dan aku bisa gila jika terus berada dekat kalian," balas Naruto, menatap tajam satu persatu wajah lima pemuda itu dan beranjak pergi.

"Apa mungkin Naruto jatuh cinta pada Kimimaro?"

"Entahlah Neji, bukankah hanya cinta baru yang bisa menyembuhkan luka karena patah hati?" Shikamaru menguap lebar.

"Kita harus menjauhkan Naruto dari Kimimaro," usul Kiba. "Aku setuju," ucap Gaara sependapat.

"Kita harus terus menempel pada Naruto, jangan biarkan ada celah bagi Kimimaro untuk masuk."

"Setuju," sahut Kiba, Gaara dan Shikamaru. Sementara Sasuke masih saja diam, hatinya masih terasa panas, cemburu? Entahlah, Sasuke terlalu angkuh untuk mengakui.

.

.

Matahari semakin condong ke arah timur, semburat jingga mulai menghiasi langit, sore ini. Seperti biasa, Sasuke cs berjalan kembali ke asrama diiringi oleh teriakan dari para fans girl yang memekakan telinga. Mereka terus berjalan tanpa mengidahkan teriakan-teriakan itu, bahkan Sasuke hanya mendengus tidak suka ke arah Sakura yang secara terang-terangan menggodanya dengan genit.

"Sas, sepertinya Juugo sedang dalam masalah, mereka meminta bantuan kita." Shikamaru menyerahkan telpon genggam miliknya pada Sasuke, membiarkan Sasuke membaca email pribadinya.

"Kita pergi," tukas Sasuke dingin. "Aku perlu olah raga." Dan kelimanya pun kembali menyusup keluar asrama sore itu.

Di tempat lain, Naruto hanya bisa berdecak sebal saat tahu jika Sasuke kembali keluar asrama sore ini. Dengan terburu-buru dia berganti pakaian dan ikut menyelinap keluar asrama, mengikuti alat pelacak miliknya untuk menemukan Sasuke.

"Brengsek," umpat Naruto keras saat melihat Sasuke berdiri saling berhadapan dengan sekelompok siswa yang membawa tongkat bisbol di tangan mereka. Naruto juga melihat Juugo cs terkapar dengan luka memar di wajah mereka, bahkan tidak sedikit diantaranya yang tidak sadarkan diri. Dan beberapa saat kemudian pertarungan diantara kelompok Sasuke vs Suzuran pun dimulai.

Naruto hanya mengamati pertarungan itu, dia berdecak kagum saat melihat kemampuan bertarung Sasuke. Sasuke terus menghajar musuh tanpa ampun, begitu pun dengan Shikamaru, Neji, Kiba dan Gaara seperti tidak ada lelah, mereka memukul dan menendang setiap lawan di hadapan mereka. Tanpa Naruto sadari, dia menuruni bukit kecil itu dan duduk di pinggir lapangan rumput. Berteriak untuk memberi semangat pada kelimanya.

Salah satu musuh menyadari keberadaan Naruto, berusaha untuk mengalahkan Sasuke dengan cara menyandera Naruto. "Berhenti, atau aku akan mematahkan leher gadis cantik ini," teriaknya lantang, Sasuke cs menatap horor pada pemuda itu, bukan karena takut jika Naruto terluka namun, mereka berbela sungkawa atas apa yang mungkin akan terjadi pada pemuda itu.

Benar saja, tanpa bicara sepatah kata pun, Naruto membanting tubuh pemuda itu dengan keras. Menepuk kedua tangannya dan menatap pemuda yang kini tergeletak dan meringis kesakitan itu dengan tatapan meremehkan. "Maaf, tapi kamu salah mencari mangsa," tukas Naruto dingin dengan seringaian menakutkan.

"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Sasuke dengan nada tinggi saat semua lawannya sudah lari tunggang langgang. "Ini bukan tempat untuk bermain," lanjutnya dingin.

Naruto hanya memutar kedua bola matanya, mengulurkan tangan untuk membantu salah satu anak buah Juugo yang tercebur ke dalam sungai dangkai di sisi lapangan rumput itu. "Kau baik-baik saja?" tanya Naruto pada pemuda itu tanpa menjawab pertanyaan Sasuke, sementara pemuda yang ditolong oleh Naruto hanya mengangguk kecil.

"Aku bertanya padamu," tukas Sasuke tajam, meraih tangan kanan Naruto kasar hingga gadis itu berdiri berhadapan dengannya.

"Mencari angin segar," jawab Naruto dengan tatapan menantang.

"Kamu mengikutiku?" tanya Sasuke tepat sasaran.

"Bagaimana caraku melacak keberadaanmu? Kamu terlalu banyak menonton film detektif, Teme." Sanggah Naruto datar. "Kamu baik-baik saja Juugo?" tanya Naruto menghapus noda darah pada pelipis pemuda itu, dan sukses membuatnya merona malu. "A-aku baik-baik saja," jawabnya tersipu. Naruto tersenyum tipis tanpa menyadari tatapan sinis Sasuke padanya.

"Terima kasih, sudah mau membantu kami Sas."

"Hn."

"Siapa mereka?" tanya Shikamaru pada Juugo.

"Mereka kelompok dari sekolah putra Suzuran, mereka menantang untuk memperluas wilayah," jelas Juugo.

"Aku tidak menyangka jika mereka akan datang dengan senjata," aku Hidan menggeleng pelan. "Mereka belum tahu peraturan bermain, aku rasa mereka tidak akan kembali," sahut Neji.

"Entahlah Neji, aku tidak terlalu yakin," kata Juugo. "Menurut rumor, ketua kelompok mereka memiliki kakak seorang yakuza yang menguasai wilayah kota sebelah."

"Bagaimana jika mereka kembali membawa bala bantuan dan balas dendam?"

"Kuharap tidak Gaara, aku masih sayang pada semua nyawa anak buahku," sahut Juugo kelam.

.

"Kalian pikir kalian bisa melarikan diri?" teriak seorang pria bertubuh besar dari atas bukit kecil dengan tangan penuh tato bercorak naga. "Mereka yang memukulmu?" tanyanya pada seorang pemuda yang berdiri di sampingnya. "Benar," jawab pemuda itu angkuh.

"Pergi!" kata Naruto lirih, Juugo dan Sasuke cs menatapnya heran. "Bawa pergi semua yang terluka, mereka bukan lawan kalian." Katanya lagi, dia yakin jika kelima pria di hadapannya ini sangat berbahaya. Naruto takut, Sasuke dan yang lainnya terluka jika tetap tinggal di tempat ini.

"Kami bukan pengecut," sahut Hidan tajam.

"Kita tetap harus bersama Dobe."

"Aku tahu," tukas Naruto menatap lurus pada Sasuke. "Tapi, kita juga harus bisa memilah lawan," katanya bijak. "Pihak kita banyak yang terluka Suke, bagaimana jika mereka membawa senjata?" tanya Naruto mengalihkan pandangannya pada kelima pria bertato itu.

"Biarkan yang terluka pergi," tukas Naruto lantang.

"Aku tidak mau bicara dengan pelacur," sahut pria itu kasar dan tertawa keras setelahnya.

"Kuso!" umpat Sasuke marah.

"Tenang Suke," kata Naruto menggenggam erat tangan kiri Sasuke untuk menenangkannya. "Mereka sengaja membuat kita emosi," tambahnya lagi. Sasuke yang merasakan kehangatan tangan Naruto akhirnya tenang. "Hidan, bawa semua yang terluka pergi!" tukas Sasuke tegas, sementara Juugo mengangguk setuju.

Tanpa banyak bicara, Hidan dan beberapa yang tidak terluka parah bergegas meninggalkan tempat itu. Mereka tahu, yang terluka hanya akan menjadi beban dalam pertarungan.

"Jangan lari!" teriak pria itu keras dan berlari ke arah Naruto cs, berusaha untuk menangkap anggota Juugo yang lari menyelamatkan diri. Naruto bergerak maju, menghadang dan memperlambat pergerakan preman-preman itu. Perkelahian pun kembali terjadi, tujuh melawan lima. Naruto cs berhasil memukul mundur preman-preman itu, bahkan satu diantara preman itu mendapat luka robek pada bagian wajahnya karena terkena pukulan dan tergores cincin yang dikenakan oleh Naruto. Dan apa yang ditakutkan oleh Naruto pun terjadi, ketua preman itu menodongkan pistol semi otomatis tepat di pelipis kanannya.

Pria itu terkekeh jahat menatap Naruto, mengokang pistolnya dan berdesis. "Selamat tinggal, pelacur!"

TBC

Review?