Aloha, masih ada yang ingat fict ini? Special thank's untuk para angels yang sudah bersedia review, maaf tidak dibalas satu persatu. Diantara kalian ternyata sudah ada yg bisa menebak siapa penjahatnya, sugoiiii... Btw, author nggak punya fb, sudah lama author tutup akun (:

Ok deh, Here We Go...

Disclaimers : Naruto belong Kishimoto sensei

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M (but sorry no lemon)

Warning : OOC, gaje, alur kecepetan, typo(s), gender bender, alur cerita monoton, mudah ditebak, membosankan, and etc.

Genre : Romance, Crime, Friendship, Hurt/Comfort, Etc

Under Cover

Chapter 7 : Kurama

By : Fuyutsuki Hikari

Bel tanda berakhirnya pelajaran Asuma berbunyi sudah. Neji, sang ketua kelas berdiri dan memberi salam, yang segera diikuti oleh siswa lainnya. Asuma memberikan tatapan akhir pada Naruto dan Sasuke, yang dapat di artikan jika kedua murid itu harus mengikutinya ke ruang guru.

Naruto dan Sasuke berjalan menuju ruang guru tanpa berkata sepatah kata-pun. Keduanya memilih diam, dan menghitung setiap langkah yang mereka ambil selama perjalanan itu. Asuma menutup buku literatur miliknya saat kedua murid itu berdiri tepat di depan meja kerjanya.

"Mulai hari ini, seusai jam sekolah, bersihkan toilet yang ada di lantai tiga, rapihkan setiap buku yang ada di rak perpustakaan, dan pel lapangan basket hingga mengkilap selama satu minggu," ucap Asuma tegas.

"Itu bisa memakan waktu lama setiap harinya, sensei. Dapatkah anda meringankan hukuman untuk kami?" tanya Naruto dengan wajah memelas.

Asuma tersenyum kecil dan menjawab santai. "Baiklah, hukuman yang lain, membantu pekerjaan ibu kantin sekolah selama jam istirahat, juga ikut membantu pekerjaan di green house."

"Chotto-"

"Diam Dobe! Semakin banyak kamu bicara, semakin banyak dia akan menambah hukuman kita," desis Sasuke dingin, sementara Naruto menggigit bagian dalam bibirnya untuk menahan diri agar tidak bicara.

"Pintar," ujar Asuma pada Sasuke. "Aku akan memberikan surat khusus pada penjaga asrama, agar kalian tidak mendapat masalah jika pulang terlambat." Seperti biasa, Sasuke hanya menatap datar ke arah Asuma, sementara Naruto memicingkan mata tidak suka. Menyadari tatapan tajam Naruto, Asuma berdeham dan menopangkan dagu ke atas kedua tangannya. "Kembalilah ke kelas, dan kerjakan hukuman kalian dengan baik!"

Naruto dan Sasuke mengangguk kecil tanpa menjawab, setelah membungkuk untuk memberi hormat, keduanya berbalik, sebelum keduanya memutar knop pintu, Asuma kembali berkata dengan nada agak keras. "Jika aku mengetahui, ada orang lain yang membantu kalian, aku tidak akan segan-segan menambah hukuman kalian."

"Hn," balas Sasuke sambil berlalu pergi, sementara Naruto memutar kedua bola mata dengan mimik bosan dan mengikuti Sasuke kembali ke kelas. 'Aku benar-benar sial!' rutuk Naruto dalam hati.

.

.

.

Naruto tidak tahu, mana yang lebih mengesalkan, menghabiskan waktu bersama Sasuke atau menggosok lantai toilet pria, mungkin keduanya. "Jangan diam saja, cepat kerjakan tugasmu. Pekerjaan kita masih banyak," tukas Naruto tanpa menoleh ke arah Sasuke yang saat ini hanya berdiri di depan pintu bilik toilet dengan santai menatap pekerjaan Naruto. "Kamu sudah mengerjakannya dengan baik, untuk apa aku campur tangan?"

"Agar pekerjaan kita cepat selesai," balas Naruto tajam. "Ayolah... untuk satu minggu ini saja, bisakah kita bekerja sama?" Akhirnya Sasuke hanya mendengus kecil, tanpa banyak bicara dia mulai mengerjakan bagiannya. Sementara Naruto menyikat setiap sudut lantai, Sasuke membereskan sisanya dengan mengepel.

Naruto tersenyum kecil saat melihat hasil kerjanya dan Sasuke. Keringat yang muncul di pelipis Sasuke, spontan membuat Naruto menghapusnya dengan jemarinya, sedangkan Sasuke hanya menaikkan sebelah alis menatap Naruto heran. "Ini pertama kalinya untukmu?" tanya Naruto mendongakkan kepala dan menatap Sasuke lurus, sementara yang ditatap balas menatapnya bingung. "Maksudku mengerjakan ini," kata Naruto seraya mengangguk ke arah pel yang sudah tersimpan rapih di sudut pintu kanan toilet.

"Tugas kita masih banyak, jangan buang-buang waktu," ucap Sasuke tegas dan melangkah keluar toilet. Naruto menghela napas panjang, tanpa dijawab pun dia sudah tahu, jika ini kali pertama bagi Sasuke.

"Kamu mau kemana? Perpustakaan ada disebelah sana," Naruto berkata keras saat melihat Sasuke terus berjalan lurus, sementara perpustakaan ada di lorong sebelah kanan.

"Diam dan ikuti aku!" seru Sasuke dingin, membuat Naruto menahan kesal dan mau tidak mau mengikuti setiap langkah Uchiha bungsu itu. Sasuke terus berjalan menuju rumah kaca yang terletak di belakang gedung utama. Tanpa bicara sepatah katapun dia melangkah masuk ke dalam rumah kaca, sementara matanya menyisir setiap sudut mencari sosok seseorang.

"Kalian sudah datang rupanya," tukas seseorang tiba-tiba hingga membuat kedua murid itu terlonjak kaget. "Maaf... Apakah aku mengagetkan kalian?"

"Hn," jawab Sasuke dingin, sedangkan Naruto tidak menjawab dan melangkah maju hingga berdiri disamping Sasuke. "Apa yang anda lakukan disini Umino sensei?" tanya Naruto heran melihat Iruka berada di dalam green house.

Iruka tersenyum dan menjawab sopan. "Aku adalah penanggung jawab green house, Sarutobi sensei sudah bicara padaku siang tadi, jika akan ada dua orang murid yang akan membantu pekerjaanku selama satu minggu." Iruka memberi syarat agar keduanya berjalan mengikutinya dan mulai menjelaskan pekerjaan yang akan dikerjakan oleh Sasuke dan Naruto.

"Seperti yang kalian lihat, rumah kaca yang kita miliki hanya berisikan tanaman hias, dan harus kita jaga dengan baik. Rumah kaca pada prinsipnya adalah bangunan yang terbuat dari kaca atau plastik pada bagian atap maupun dinding kiri dan kanannya. Kebetulan, bangunan kita terbuat dari acrylic, dilengkapi dengan pengatur temperatur dan kelembaban udara serta distribusi air dan pupuk."

"Jika semuanya sudah diatur, lalu tugas kami apa?" Naruto bertanya bingung.

Iruka berhenti berjalan dan menunjuk ke suatu sudut. "Kalian lihat sudut kosong itu?" Naruto mengangguk sedangkan Sasuke menatapnya datar. "Tugas kalian adalah mengisi sudut itu dengan tanaman hias, aku sudah membeli bibitnya. Kalian hanya perlu menanam bibit-bibit itu dan menjaganya agar bisa tumbuh subur."

"Tapi sensei," potong Naruto. "Aku tidak tahu cara bercocok tanam," katanya jujur sedangkan Sasuke masih diam membisu.

"Tidak perlu khawatir, aku akan memantau kerja kalian." Naruto hanya bisa menghela napas pasrah.

"Jadi, hanya itu tugas kami?"

Iruka menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Sasuke. "Kalian lihat, tempat akar anggrek tumbuh yang tergantung itu?" Naruto dan Sasuke melihat ke sekeliling ruangan dan mengangguk. "Tugas kalian yang lain adalah menyiram setiap anggrek yang ada di rumah kaca ini."

"Bukankah sistem pengairannya sudah diatur?" tanya Naruto tidak mengerti.

"Benar, hal itu berlaku untuk tanaman hias yang lain. Sementara untuk anggrek, harus dilakukan secara manual. Karena kita hanya boleh menyiram anggrek jika tempat tumbuh akar anggrek sudah kering."

"Itu berarti kita harus memilahnya?" Naruto sudah membayangkan repotnya mengurus anggrek-anggrek ini nanti.

"Benar," jawab Iruka. "Dan kalian hanya boleh menyiram anggrek pada pagi hari, kalian juga harus membersihkan akar anggrek yang telah mati. Serta mengganti medium anggrek yang mungkin sudah habis vitaminnya. Dan juga, anggrek yang sudah terlalu besar, harus dipindahkan ke pot baru."

"Rumitnya," keluh Naruto.

"Anggrek memang tanaman yang cukup sulit perawatannya, tapi, hasilnya seimbang, bahkan lebih. Kalian pasti senang saat melihat anggrek yang kalian jaga berbunga dengan indah," tukas Iruka tersenyum lembut. "Lebih baik kalian mulai bekerja, sekarang kalian hanya perlu memindahkan bibit, menanamnya, beri pupuk dan siram. Bibitnya ada di gerobak sebelah sana," tunjuk Iruka pada gerobak kayu yang terletak di dekat pintu masuk. "Peralatan yang kalian perlukan ada di dalam box perkakas sebelah sana, aku akan melihat hasil kerja kalian nanti. Sekarang aku akan memilah akar anggrek yang sudah mati. Baiklah, kalau begitu selamat bekerja!"

.

.

"Cepat kerja, Dobe. Kita masih harus merapihkan perpustakaan dan mengepel lapangan basket," tukas Sasuke menarik gerobak kayu ke arah Naruto yang masih berdiri mematung.

"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan," jawab Naruto jujur.

"Mulailah dengan mengambil perkakas di dalam box itu," kata Sasuke tenang. Naruto mengangguk mengerti dan mulai mengambil beberapa perkakas. "Apa ada sarung tangan disana?" tanya Sasuke. "Ada, kenapa?" Naruto memberikan beberapa perkakas pada Sasuke. "Ambil dua pasang, kita memerlukannya." Lagi-lagi, Naruto hanya mengangguk dan mengambil sesuai perintah Sasuke.

"Tanaman apa ini? Bentuknya lucu." Naruto terkekeh geli, mengangkat pot tanaman kecil itu di depan hidungnya.

Sasuke mengambil pot yang ada ditangan Naruto, mengambil tanaman dari dalam pot dan menanamnya di lubang yang sudah dia gali. "Telinga domba," jawab Sasuke datar.

"Hah?"

"Tanaman ini namanya telinga domba," jelas Sasuke memutar kedua bola matanya bosan.

"Benarkah?"

"Hn."

"Lalu yang ini apa?" Naruto mengangkat sebuah pot lagi, Sasuke terdiam menatap tanaman yang berada di dalam pot itu dan menjawab mantap. "Dahlia lampion."

"Ini apa?"

"Adiantum atau suplir."

"Yang ini?"

"Berhenti bertanya dan bantu aku!"

"Teme, ini apa?" tanya Naruto lagi tidak mengidahkan tatapan tajam Sasuke.

"Dieffenbachia," jawab Sasuke pada akhirnya.

"Kamu tahu banyak tentang tanaman rupanya, aku benar-benar tidak menyangka."

"Ibuku sangat suka bercocok tanam," jelas Sasuke yang saat ini sudah selesai memindahkan hampir setengah dari bibit tanaman yang ada. "Dieffenbachia dikenal sebagai daun atau bunga bahagia. Mampu menyerap racun di udara."

"Benarkah?" Naruto menatap daun tanaman itu takjub. "Hati-hati dengan getahnya," Sasuke mengambil tanaman itu dari tangan Naruto. "Bisa menyebabkan gatal-gatal pada bibir, lidah dan kerongkongan jika mengenainya. Bahkan bisa menyebabkan kematian jika mengganggu saluran pernafasan."

"Sugoi, pengetahuanmu tentang tanaman benar-benar hebat, Teme." Naruto menepuk bahu Sasuke keras. "Jangan banyak bicara dan bantu aku!" ujar Sasuke datar. "Jangan keluarkan dari pot!" kata Sasuke dengan nada tidak sabaran hingga Naruto mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan tanaman suplir dari pot tersebut.

"Bukankah ini juga perlu ditanam dalam tanah?" Naruto menatap suplir yang ada didalam pot.

"Suplir harus ditanam di dalam pot, mereka memerlukan tempat lembab, tapi tidak basah." Naruto mengangguk mengerti dan memberikan pot suplir pada Sasuke. "Ternyata kamu hanya tahu cara berkelahi saja, sementara otakmu benar-benar kosong," ejek Sasuke.

"Terserah," balas Naruto ringan terlalu malas untuk berdebat saat ini. "Jadi, apa yang harus kulakukan?"

"Keluarkan bibit tanaman yang lain, selain suplir." Naruto segera mengeluarkan tanaman-tanaman itu, memberikannya pada Sasuke yang dengan cekatan menanamnya. "Ambilkan pupuk," perintah Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari bibit tanaman yang dia tanam. "Ini," Naruto segera memberikan pupuk pada Sasuke. Dengan cermat, Sasuke memberikan pupuk pada setiap bibit yang sudah dia tanam, mengambil selang dan menyiram tanaman itu dengan cermat. "Selesai," ujar Sasuke menyimpan kembali selang air pada tempatnya.

"Wow, pekerjaan kalian benar-benar rapih," puji Iruka yang sudah berdiri tepat disamping Naruto. "Bukankah kamu bilang tidak bisa bercocok tanam?" Iruka melirik ke arah Naruto.

"Sebenarnya, ini hasil kerja Sasuke. Aku hanya sedikit membantu." Ujarnya tersipu malu.

"Benarkah?" Iruka menatap penuh minat pada Sasuke. "Sepertinya aku beruntung mendapat bantuan dari kalian," ujar Iruka. "Baiklah, besok pukul tujuh pagi, aku membutuhkan bantuan kembali disini. Sekarang kalian masih harus menyelesaikan hukuman yang lain kan?"

"Kalau begitu kami pamit, sensei," kata Naruto membungkuk sopan.

"Ha'i, jaa matta ashita," balas Iruka menatap kepergian kedua muridnya dengan senyum lebar.

"Kita ke perpustakaan atau ke lapangan basket?" tanya Naruto memutus kehengingan diantara keduanya. "Perpustakaan," jawab Sasuke singkat.

"Ok." Perjalanan mereka hanya memakan waktu sepuluh menit. Perpustakaan Konoha gakuen berada di gedung utara dan berada di lantai dua bangunan. Keadaan perpustakaan sudah sangat sepi, karena memang waktu sudah menunjukkan pukul enam sore saat ini. Keduanya segera menghampiri Mei yang sedang sibuk membereskan buku-buku yang sudah dikembalikan pada rak-nya semula.

"Terumi sensei, kami datang untuk membantu."

Mei segera membalikkan tubuhnya mencari asal suara Naruto, dan tersenyum cerah saat melihat kedua murid itu berdiri tidak jauh di belakangnya. "Sepertinya ini akan menjadi minggu keberuntunganku, karena bisa mendapat bantuan dari kalian, bukan begitu?"

"Entahlah," kata Naruto setengah berbisik.

"Memang wajar jika sepasang kekasih bertengkar, tapi tidak baik jika bertengkar di dalam kelas. Itu bisa mengganggu kenyamanan murid yang lain," tegur Mei.

"Tapi sensei," protes Naruto namun Mei memotong cepat. "Tidak apa-apa Naru-chan, aku juga pernah muda. Sarutobi sensei sudah menceritakan semuanya kepadaku, masa remaja memang sangat indah," Mei menghela napas panjang sementara pandangan matanya menerawang jauh.

"Apa yang dikatakan paman Asuma padanya?" gumam Naruto lirih sementara Sasuke masih bersikap cool seperti biasa. "Darimana kami harus mulai, sensei?" ucap Sasuke menyadarkan Mei dari lamunannya, dan menghentikan gerutuan tidak jelas Naruto.

"Gomen, aku malah melamun," Mei tersipu malu. "Kalian bisa mulai dengan merapihkan meja baca dan mengembalikan tumpukan buku yang ada di meja kerjaku ke rak sesuai dengan jenis dan abjad awal buku, apa kalian mengerti?"

"Hn," jawab Sasuke yang langsung mulai bekerja. Sedangkan untuk Naruto, dia masih diam ditempat karena Mei menggenggam tangannya dan memintanya untuk tetap tinggal. "Ada apa sensei?" tanya Naruto.

"Ano..." Mei berkata ragu.

"Ya?"

"Naru-chan, apa Kakashi sensei akan kembali mengajar?"

"Kakashi sensei?" Naruto mengangkat alisnya heran mendengar keakraban yang diperlihatkan Mei terhadap pamannya.

"Ah, gomen. Maksudku Hatake sensei," ralat Mei dengan pipi yang agak merona.

Naruto tersenyum kecil sebelum membalas. "Kenapa sensei bertanya padaku?"

"Itu...karena aku tahu jika Hatake sensei sebenarnya adalah paman-mu."

"Hah?"

"Aku pernah tidak sengaja mendengar-mu memanggil Hatake-san, dengan panggilan paman, dan aku tidak mengerti kenapa kalian merahasiakan hubungan kalian, karena tidak akan jadi masalah jika hubungan kalian diketahui oleh piha sekolah," aku Mei jujur. "Apa dia akan berhenti bekerja? Karena kudengar akan ada guru pengganti."

'Shit, aku benar-benar ceroboh!' umpat Naruto dalam hati, namun bersikap tenang saat menjawab pertanyaan Mei. "Kakashi sensei ada masalah keluarga, jadi tidak bisa mengajar untuk sementara waktu," jelas Naruto.

"Souka... Apa dia keluar negeri?"

"Begitulah," jawab Naruto berbohong. "Pantas, aku tidak bisa menghubunginya," kata Mei kecewa. "Sudahlah, lebih baik kita segera membantu Uchiha-san. Terima kasih, sudah menjawab pertanyaanku. Dan Naru, kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan memberitahu mengenai hubungan antara kamu dan Hatake sensei pada yang lain jika memang kamu tidak ingin orang lain tahu."

"Arigatou, sensei," ucap Naruto tulus. "Hm..." Balas Mei tersenyum lembut.

"Kenapa lama sekali?" desis Sasuke dingin saat Naruto mulai membantunya untuk merapihkan meja baca. "Biasa, pembicaraan antar wanita," jawab Naruto datar. "Kita harus membereskannya dengan cepat, aku ingin segera kembali ke asrama."

"Kalau begitu berhenti bicara, dan kerjakan dengan benat," balas Sasuke dingin. "Aku sudah bekerja sedari tadi, dan apa aku harus ingatkan, jika aku yang lebih banyak bekerja saat di rumah kaca tadi?"

"Aku memang tidak pandai bercocok tanam, puas?" kata Naruto dengan nada satu oktaf lebih tinggi, namun Sasuke memilih untuk diam dan melanjutkan pekerjaannya.

.

.

"Pekerjaan kalian benar-benar rapih," puji Mei pada keduanya. "Aku akan sangat senang jika kalian terus membantuku disini, walau hukuman kalian sudah berakhir nanti." Lanjut Mei penuh harap. "Terima kasih untuk bantuannya hari ini, jaa matta ashita!"

"Jaa matta ashita, sensei," balas Naruto sopan sedangkan Sasuke hanya mengangguk kecil sebelum berjalan mengikuti Naruto keluar dari perpustakaan.

Naruto dan Sasuke terus berjalan berdampingan, keluar dari gedung utara menuju gedung olahraga. Namun beberapa saat kemudian, Sasuke menarik tangan Naruto berbelok ke arah berlawanan dari tempat tujuannya. "Teme, gedung olah raga ada di sebelah sana? Jangan katakan jika kamu amnesia," Naruto berbicara dengan nada keras saat Sasuke terus menarik tangannya ke arah lain.

"Diam dan ikuti aku!" desis Sasuke dingin.

"Kita hanya tinggal mengepel lapangan basket, dan hukuman kita selesai untuk hari ini. Ayolah, lebih baik kita selesaikan dengan cepat!"

"Hari ini, jadwal latihan tim basket putra. Lebih baik kita tunggu mereka selesai berlatih," jelas Sasuke.

"Baiklah, tapi lepaskan tanganku. Dan kita mau kemana? Hei, bukankah ini gedung planetarium, untuk apa kita kesini?"

"Kita akan menunggu disini, mereka akan selesai pada pukul delapan nanti," kata Sasuke sekilas melirik ke jam tangannya yang masih menunjukkan pukul tujuh malam, dan mulai membuka ruang planetarium dengan sebuah kunci yang ada di genggamannya. "Kamu takut jika kutinggal sendiri disini?" tanya Sasuke saat berhasil membuka kunci pintu.

"Tidak, kenapa?" Naruto menggelengkan kepala dan balik bertanya.

"Tunggulah di dalam, saklar lampu ada di sebelah kanan pintu masuk, aku akan kembali sebentar lagi."

"Tapi, kamu mau kemana?"

"Jangan banyak bertanya dan lakukan saja perintahku!" dengus Sasuke sebelum akhirnya membalikkan badan, dan berjalan cepat sepanjang koridor.

"Ck, terserah," kata Naruto dengan bahu terangkat, melangkah masuk ke dalam planetarium mini, Naruto menutup pintu dan meraba dinding untuk mencari saklar lampu yang dimaksud oleh Sasuke. Keadaan ruangan yang gelap berubah saat Naruto berhasil menemukan saklar lampu, segera dia mencari tempat duduk nyaman dan meneliti seluruh ruangan sebelum akhirnya mata Naruto menatap lama bagian atas ruangan itu yang berbentuk kubah. "Apa sih yang tidak ada di sekolah ini?" ujar Naruto penuh rasa kagum. Naruto memeriksa telpon genggamnya, dan mendesah kecewa saat mendapati tidak ada email masuk dari Kakashi. Naruto mencoba untuk menghubungi pamannya itu, namun hasilnya masih sama, hanya suara mesin penjawab yang membalas panggilannya. "Paman benar-benar membuatku cemas," Naruto menghela napas panjang dan memasukkan kembali telpon genggamnya ke dalam tas sekolah miliknya.

"Ini!"

Naruto terlonjak kaget dari tempat duduknya saat tanpa suara Sasuke menyodorkan satu cup ramen yang masih mengepul dan sekotak susu coklat tepat di depan wajah Naruto. "Kamu mengagetkanku!" raung Naruto masih mencoba untuk menenangkan degup jantungnya yang tidak teratur.

"Cepat makan!" tukas Sasuke santai. "Kamu pergi untuk membeli ini?" tanya Naruto hampir tak percaya. "Hn."

"Aku tidak menyangka jika kamu bisa bersikap manis, Teme!" puji Naruto tersenyum kecil. Sementara Sasuke malah mendelik membalas pujian Naruto yang menurutnya lebih terasa seperti ejekan. "Terima kasih, aku memang sangat lapar," tukas Naruto sebelum menandaskan ramen itu hingga tak bersisa. "Kamu tidak makan?" Sasuke hanya memperlihatkan sepotong roti melon sebagai jawaban dari pertanyaan Naruto. "Besok aku akan membuatkanmu makan siang sebagai ucapan terima kasih," lanjut Naruto sedangkan Sasuke masih menatapnya datar seolah tidak peduli.

"Sudah selesai?"

"Ya, kenapa?"

"Aku akan mematikan lampu."

"Untuk apa?" Naruto mulai waswas, dan entah untuk keberapa kali Sasuke menatapnya dengan wajah bosan. "Kita tidak bisa menikmati planetarium dalam keadaan terang," jelas Sasuke datar dan mematikan lampu, hingga keadaan ruangan menjadi gelap gulita. Sasuke berjalan menuju tempat proyektor berada dengan bantuan cahaya dari sebuah senter yang sengaja dia pinjam dari kantin sekolah saat membeli makanan tadi. Dan beberapa detik kemudian, tempat yang gelap gulita itu menampilkan suguhan pemandangan yang menarik, kubahnya menampilkan citraan tebaran bintang yang begitu menakjubkan.

"Azayaka...demi Tuhan, ini benar-benar indah," tukas Naruto terpekik senang tanpa bisa mengalihkan tatapan mata dari pemandangan yang disuguhkan di depan matanya. "Itu Andromeda," kata Naruto menunjuk sebuah rasi di langit sebelah utara yang bentuknya menyerupai huruf 'V'. "Hn," jawab Sasuke yang sudah duduk disamping Naruto, sementara pandangannya mengikuti arah telunjuk gadis itu.

"Itu, Canis Major. Lihat, Sirius bersinar paling terang disana." Naruto berkata begitu semangat. "Dulu tou-san sering mengajakku berkemah. Melihat bintang adalah hal yang paling kusukai saat berkemah, karena saat itu, tou-san akan menunjuk langit dan memberitahu setiap rasi dan bintang yang terlihat malam itu." Tanpa Naruto sadari air mata menetes jatuh dari sudut-sudut matanya.

"Apa?" suara Naruto terdengar lirih, saat matanya menatap Sasuke yang menghapus jejak-jejak air mata di kedua pipi wanita itu dengan ibu jarinya. "Kamu pasti berpikir jika aku cengeng, iya kan?" Naruto berkata lirih.

"Hn."

"Aku hanya manusia dan wanita biasa, Teme. Aku juga bisa menangis jika hatiku sakit atau tersentuh. Kamu kira hatiku terbuat dari baja?"

"Kupikir begitu," jawab Sasuke jujur.

"Menyebalkan," desis Naruto. "Ngomong-ngomong, bagaimana bisa kamu memiliki kunci untuk masuk ke sini?"

"Rahasia," jawab Sasuke datar. "Sudah kuduga kamu akan menjawab seperti itu," Naruto mendengus kecil. "Kamu sering kesini, Suke?"

"Jika sedang bosan."

"Berapa banyak wanita yang pernah kamu bawa kesini?" tanya Naruto penuh selidik.

"Hn," Sasuke mengangkat bahu. "Dasar playboy," cibir Naruto tajam. "Itu, Canis Minor, cocok untukmu," ucap Sasuke menyeringai kecil.

"Kamu pikir aku anjing kecil?" protes Naruto keras. "Corvus, kurasa sangat cocok denganmu. Gagak hitam, sangat pas dengan kepribadianmu yang gelap," Naruto terkekeh geli membalas ejekan Sasuke. "Yang itu bintang Vega, yang itu Canopus dan yang itu Polaris, bintang paling terang di rasi Ursa Minor. Jika kamu tersesat, lihatlah langit bagian utara dan carilah bintang yang paling terang, Polaris." Naruto tersenyum lembut menatap bintang utara itu.

"Sepertinya kamu sangat menyukai Polaris?"

"Ya, aku sangat menyukai Polaris. Dulu, aku pernah terpisah dari tou-san dan tersesat di dalam hutan. Beruntung aku ingat akan apa yang diajarkan tou-san, aku mencari Polaris dan menjadikannya penunjuk jalan," jelas Naruto panjang lebar. "Sekarang jam berapa?"

"Jam setengah sembilan," jawab Sasuke.

"Kita harus cepat menyelesaikan hukuman kita, tapi, bisakah lain kali kita kesini lagi?" tanya Naruto penuh harap.

"Apa itu ajakan kencan?"

"Terserah, selama aku bisa kesini lagi, aku tidak peduli jika dihitung sebagai kencan denganmu," jawab Naruto acuh.

"Akan kupikirkan," kata Sasuke dingin.

Sasuke kembali bersikap dingin saat mereka mengerjakan hukuman terakhir. Membuat Naruto berpikir, apakah ada sesuatu yang membuat pemuda itu tersinggung. "Sasuke kamu marah? Mood-mu cepat sekali berubah, apa aku menyinggungmu?" Naruto mengatupkan bibirnya erat, menahan emosi yang kembali tersulut saat melihat Sasuke memilih untuk pura-pura tidak mendengar dan mengacuhkannya saat ini. "Sasuke, aku bicara padamu!" ujar Naruto dengan nada datar dipaksakan.

"Itu untuk kamu cari tahu, Dobe!" Sasuke membalas tajam ucapan Naruto dan melemparkan tatapan dingin pada gadis itu yang terlihat bingung. "Cepat kembali ke asrama, ini sudah malam!"

"Ha'i, jaa matta ashita. Ingat, jam tujuh pagi di green house."

"Hn," jawab Sasuke tanpa menoleh ke belakang. Meninggalkan Naruto yang masih terlihat bingung. "Remaja jaman sekarang cepat sekali berubah mood," Naruto bergumam lirih. "Padahal untuk sesaat aku berpikir jika dia tidak terlalu menyebalkan, dan hariku ternyata tidak sesial seperti yang kupikirkan," ujarnya menghela napas lelah dan berjalan menuju asrama puteri.

Naruto terus berjalan dengan langkah gontai menuju asrama, sesekali, dia menendang kerikil kecil yang menghalangi jalannya. Malam ini terasa lebih gelap, karena sang rembulan tertutup awan hitam. 'Mungkin akan turun hujan,' kata Naruto di dalam hati. Angin malam meniup tubuhnya, menghantarkan rasa dingin pada diri Naruto hingga dia semakin merapatkan jas sekolah yang dia kenakan. "Aku perlu berendam air hangat, minum segelas susu coklat panas dan tidur," ucap Naruto pada dirinya sendiri, sementara tangannya menggeliat, guna mengusir rasa lelah yang menumpuk.

Langkah kaki Naruto yang hampir memasuki perkarangan asrama puteri terhenti, saat telinganya menangkap suara debaman yang cukup keras dari arah samping gedung asrama. Naruto berjalan dengan langkah cepat menuju sumber suara.

"Apa yang kamu lakukan disini, Inuzuka?" desis Naruto dengan mata nyalang, sementara kedua tangannya dilipat di depan dada.

Kiba menepuk-nepuk bagian belakang celananya dan berdecak sebal, karena dari semua orang, kenapa justru Naruto yang memergokinya disini. "Kecilkan suara-mu, Namikaze. Kamu berniat membangunkan seisi asrama, huh?"

"Sebaiknya kamu memberikan alasan bagus, atau aku akan membangunkan seisi asrama dan menuduhmu sebagai tukang intip." Belum sempat Kiba menjawab, Naruto membekap mulut Kiba dan menariknya ke semak belukar. Kiba yang tidak mengerti, mencoba untuk membebaskan diri namun niatnya itu kembali diurungkan sesaat setelah mendapat tatapan serius dari Naruto.

Mengikuti arah pandangan Naruto, Kiba akhirnya mengerti jika saat ini ada orang lain selain mereka disini. Walaupun sepertinya, orang ketiga itu sama sekali tidak menyadari keberadaan Naruto dan Kiba. Naruto memicingkan mata, suasana gelap tidak banyak membantu untuk mengenali orang asing itu. Orang asing itu berjalan mengendap-endap, dengan topi ditarik ke bawah untuk menyembuntikan sebagian wajahnya.

"Diam disini!" bisik Naruto tepat di depan wajah Kiba. Pemuda itu mengangguk kecil, dan Naruto pun melepaskan bekapan tangannya pada mulut Kiba. "Kau mau kemana?" tanya Kiba lirih, menahan pergelangan tangan kanan Naruto.

"Jangan banyak bertanya, dan cepat kembali ke asrama!" perintah Naruto tegas. Sayangnya, bukan Kiba namanya jika dia mau patuh pada perintah seseorang. Dengan hati-hati, Kiba mengikuti langkah Naruto dari belakang hingga gadis itu menghilang di balik tembok asrama mengikuti sang penyusup yang memanjat keluar pagar asrama. "Sial, kenapa harus manjat tembok?" umpat Kiba, mengacak rambutnya kesal. "Lebih baik, aku beritahu Sasuke," katanya yang segera menghubungi no telpon genggam pemuda raven itu.

Diluar pagar asrama, Naruto masih menjaga jarak, berjalan dengan mengendap-endap di belakang sang penyusup. Sekarang, Naruto yakin jika penyusup ini adalah orang yang sama dengan penyusup yang masuk ke dalam kamar Tayuya tempo hari. Naruto mengeluarkan telpon genggam miliknya, dan mengambil beberapa foto dari sosok penyusup itu, juga mengambil foto kendaraan yang digunakannya. Naruto menyadari jika ternyata si penyusup itu tidak sendiri. Seseorang keluar dari dalam mobil dan terlihat berdebat dengan penyusup. Naruto menunggu beberapa saat disana hingga kendaraan itu menghilang pergi.

Dengan cepat, Naruto mengirim semua gambar pada Yamato, karena hingga saat ini dirinya masih belum bisa menghubungi Kakashi. "Semoga ini bisa menjadi titik terang," Naruto berkata lirih dan berjalan kembali untuk masuk ke dalam asrama. Naruto baru saja hendak memanjat naik tembok pagar asrama, saat ada seseorang meloncat turun dan mendarat mulus di hadapannya. Uchiha Sasuke yang kini berdiri di depannya menatap dengan raut wajah yang sama sekali tidak bisa Naruto baca.

"Apa yang kamu lakukan disini?"

"Seharusnya aku yang bertanya begitu," balas Sasuke dingin. "Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Berkali-kali menantang bahaya, untuk apa?" wajah Sasuke semakin mengeras saat mengatakannya. "Ingin membuktikan jika dirimu hebat, hah? Tidak bisakah kamu bertingkah seperti gadis SMA normal?"

"Aku tidak mengerti," balas Naruto pelan. Sasuke mengguncang bahu Naruto keras dan berbicara dengan nada sedatar mungkin. "Apa kamu tidak merasa takut, tidak pernah berpikir jika perbuatanmu bisa membahayakan dirimu? Sekuat apapun, kamu hanya seorang wanita. Jadi, berhenti bertindak bodoh dan cobalah untuk meminta bantuan saat kamu memerlukannya. Jangan melakukan segala sesuatunya seorang diri."

Dengan kasar Naruto melepaskan genggaman tangan Sasuke pada bahunya yang kini meninggalkan rasa sakit. Tahu apa dia tentang rasa takut, pikir Naruto miris. "Tentu saja aku selalu merasa takut, aku juga manusia normal. Tapi, aku sudah terbiasa menghadapi rasa takut itu," Naruto berkata lirih. "Terima kasih untuk perhatianmu, sayangnya banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang aku. Dan aku tidak bisa menceritakannya padamu, maaf membuatmu cemas. Jika semuanya sudah berakhir, aku akan menjelaskannya padamu." Dan mungkin kamu akan membenciku untuk sisa hidupmu, lanjut Naruto dalam hati.

"Apa maksudmu? Apa yang tidak aku ketahui, katakan padaku!"

Naruto menggeleng lemah dan menjawab. "Belum saatnya, jika nanti saatnya tiba, kamu pasti tahu dengan sendirinya, bersabarlah. Jika kamu tetap memaksa, aku akan menghilang dari hidupmu untuk selamanya." Sasuke hanya terdiam, tidak menanggapi perkataan Naruto, matanya hanya menatap sendu sosok Naruto yang kini memanjat naik dan meloncat turun pagar tembok asrama. "Setidaknya untuk satu kali saja, panggil namaku saat kamu merasa takut," ucap Sasuke lirih yang hanya dijawab oleh desau angin malam.

"Kalian baik-baik saja?" tanya Kiba sesaat setelah Sasuke mendarat mulus beberapa meter darinya. "Naruto sudah kembali menuju asrama, sebenarnya apa yang dia kejar, Sas? Apa dia memberitahumu?" Kiba terus melancarkan pertanyaan demi pertanyaan yang bahkan tidak sanggup dijawab oleh Sasuke, karena dia sendiri tidak tahu motif dibalik tindakan Naruto saat ini.

"Entahlah Kiba, aku tidak tahu."

"Benarkah?" tanya Kiba sungguh-sungguh, mengusap dahi selama beberapa saat. "Aku hanya takut jika dia terluka, karena itu aku memanggilmu kesini," jelas Kiba tanpa menunggu jawaban dari pertanyaan yang pertama.

"Tindakanmu sudah tepat," Sasuke tersenyum kecut. 'Walau pada akhirnya dia tetap tidak membutuhkan kehadiran atau bantuanku,' tambah Sasuke dalam hati.

"Lebih baik kita kembali ke asrama," ajak Kiba terlihat gelisah karena saat ini sudah jauh diatas jam malam asrama. "Ngomong-ngomong, kalian berdua apa menyelesaikan pekerjaan kalian dengan baik?"

"Maksudmu?"

"Hukuman itu, maksudku."

"Hn."

"Ajaib," Kiba terkekeh kecil hingga Sasuke menaikkan sebelah alisnya bingung. "Tentu saja ajaib, kalian berdua bersama untuk waktu yang lama di tempat yang sama, tanpa menghancurkan sesuatu, itu sangat ajaib." Jelas Kiba.

Ada keheningan yang begitu lama, hingga Kiba pada akhirnya memilih untuk melirik ke arah Sasuke yang berjalan di sampingnya. Dia ingin melihat bagaimana reaksi pemuda raven itu, namun seperti biasa, hanya raut wajah datar yang sudah biasa dijumpainya.

.

.

.

"Jadi, dimana kamu pagi ini?"

Sasuke menatap Naruto acuh, tanpa menghiraukan nada ketus yang keluar dari mulut wanita itu. "Aku mengerjakan semuanya sendiri pagi ini, dan itu memakan waktu yang lama. Tidak bisakah kamu bertanggung jawab pada kewajibanmu?"

"Bukankah kau biasa melakukannya sendiri, super women?" timpal Sasuke dingin.

"Apa maksudmu?"

"Maksud Sasuke, dia tidak pantas mengerjakan pekerjaan kotor seperti itu," Gaara memotong tajam dan menopangkan tangan kanannya pada bahu Naruto. "Reputasinya bisa jatuh jika murid yang lain melihatnya melakukan pekerjaan kotor, bukan begitu Sas?" tambah Gaara sedangkan Sasuke hanya mengangkat bahu dan tersenyum sinis. Sedangkan Naruto memilih untuk mengakhiri percakapan mereka dan kembali ke tempat duduknya, dia sudah memutuskan jika pertikaian di pagi hari tidak bagus untuk kesehatan mentalnya, apalagi jika menyangkut dengan Sasuke yang memiliki pengikut setia yang selalu mendukung dan tidak bisa diabaikan keberadaannya.

Adakah yang lebih buruk dari saat ini, saat Naruto menjadi bahan cemoohan sebagian besar siswi yang menjadi fans dari Uchiha Sasuke. Naruto berdiri di belakang counter kantin, demi menyelesaikan hukuman yang diberikan Asuma kepadanya. Dan dimana Sasuke? Oh, entahlah. Pemuda itu sudah tidak kelihatan batang hidungnya selepas bel tanda istirahat berbunyi. Naruto memasang wajah datar saat melayani kebutuhan perut setiap murid yang mengantri siang ini di kantin sekolah. Mengacuhkan bisikan bahkan ejekan yang dilontarkan secara terang-terangan kepadanya.

"Naruto-san, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Ino setengah berbisik. Naruto tersenyum lemah dan mengangkat bahu kecil. "Menjalani hukumanku, apa lagi?" jawabnya tidak bersemangat.

"Seorang diri?"

"Seharusnya tidak, Karin. Hanya saja partnerku memilih untuk bersembunyi dan lari dari tanggung jawab," ujar Naruto mengepalkan kedua tangannya erat.

"Dasar menyebalkan," karin mendecih sebal. "Siapa partnermu?"

"Uchiha Sasuke," jawab Naruto pendek. Mulut Karin dan Ino menutup kembali saat mendengar nama partner yang seharusnya menemani Naruto saat ini. Kalau Uchiha Sasuke yang menjadi partner Naruto, maka mereka tidak bisa berbuat banyak untuk membantunya. "Kita tidak mungkin menyeret Uchiha-san untuk membantumu disini," keluh Karin menyesal.

"Uchiha-san terlalu menakutkan," timpal Hinata yang pada akhirnya memilih untuk ikut dalam percakapan. "Benar," potong Ino. "Belum lagi, teman-temannya yang tidak kalah menyebalkan." Menyisakan keheningan panjang setelahnya.

"Bisakah kalian mencari tempat lain untuk bergosip?" sindir Neji mengagetkan keempat siswi yang tengah tenggelam dalam lamunannya masing-masing. "Kalian mengganggu!" tambahnya lagi.

"Naruto, kapan kamu selesai?" tanya Ino mengacuhkan tatapan tajam Neji. "Aku memiliki waktu lima belas menit untuk makan siang," jawab Naruto cepat. "Bagus, kami akan menunggu disana, kita bisa mengobrol tanpa ada parasit yang mengganggu." Karin menimpali dengan senyum mengejek yang diarahkan ke Gaara.

"Baiklah, aku akan bergabung dengan kalian setelah ini selesai," ujar Naruto tersenyum lembut, mengabaikan empat orang pemuda yang geram karena merasa diabaikan keberadaannya. Hinata melambaikan tangan sebelum berjalan mengikuti Ino dan Karin yang telah duduk di kursi dekat jendela di pojok kanan ruangan itu.

"Berani sekali kalian mengabaikan kami!" desis Kiba tidak suka.

"Adik sepupuku terlalu banyak bergaul denganmu, hingga dia berani menentangku," timpal Neji begitu dingin. Shikamaru hanya menatap menu yang terpampang di atasnya dengan malas, sedangkan Gaara menatap Naruto tajam.

"Ah, para tuan muda rupanya," Naruto tersenyum ceria dengan nada riang dipaksakan. "Apa yang dapat saya bantu," katanya dengan sikap ramah yang dibuat-buat hingga keempat pemuda itu merinding jijik.

"Bersikaplah seperti biasa, Naruto. Kamu membuatku merinding." Gaara berdecak, mengusap bulu-bulu tangannya yang berdiri.

"Baiklah tuan muda, jadi menu apa yang kalian inginkan siang ini?" tanya Naruto masih dengan suara manis. "Saya akan dengan senang hati membantu anda semua."

"Tidak perlu," desih Shikamaru buka suara. "Lebih baik ibu kantin yang melayani kami. Sikapmu saat ini benar-benar menakutkan," katanya sambil berlalu pergi.

"Hah," Naruto membuang napas cepat. "Aku berusaha bersikap manis, mereka takut. Aku bersikap kasar, mereka terus mengganggu. Benar-benar remaja aneh." Bisik Naruto pelan, tidak menyadari jika di depannya saat ini sudah berdiri Lee, Chouji dan Shino yang menatapnya dengan tatapan aneh. "Oh Tuhan, kalian mengejutkanku."

"Senpai..."

"Kenapa Lee, tatapanmu aneh," tukas Naruto dengan sebelah alis terangkat.

"Nanti sore, kita latihan kan?" tanyanya penuh harap.

"Aku tidak tahu," jawab Naruto menghela napas panjang. "Satu minggu ini aku harus menyelesaikan hukuman dari Asuma sensei," katanya setengah mengeluh. "Apa kalian bisa berlatih sendiri untuk hari ini? Sabtu nanti aku akan kembali melatih kalian di dojo."

"Tidak menyenangkan, berlatih tanpa senpai," jawab Chouji menunduk. "Senpai selesai jam berapa hari ini?"

"Entahlah," Naruto mengangkat kedua bahunya. "Mungkin memerlukan waktu lebih lama, jika si Teme brengsek itu memilih untuk berleha-leha di kamarnya," ucapnya geram.

"Teme?" tanya Shino merengutkan wajah tidak mengerti.

"Partnerku," ralat Naruto cepat. "Untuk hari ini, berlatihlah sendiri. Ulangi tiap gerakan yang kuajarkan minggu lalu, dan Sabtu nanti aku mengetes kemampuan kalian masing-masing, mengerti?" Ketiga pemuda itu mengangguk cepat, membawa nampan makan siang mereka, membungkuk untuk memberi hormat sebelum akhirnya berlalu pergi menuju meja makan.

Naruto menghela napas lega saat ibu kantin mengatakan jika tugasnya sudah selesai untuk hari ini. Naruto melirik jam yang melingkar manis di pergelangan tangannya dan membawa bekal makan siang yang dibawanya pagi ini menuju meja Ino, dkk. Masih ada waktu lima belas menit untuknya menyantap makan siang.

"Sudah selesai?" Naruto mengangguk menjawab pertanyaan Hinata dan duduk tepat di samping gadis itu. "Apa itu?" tunjuk Karin pada dua buah kotak yang dibawa oleh Naruto. "Bekal makan siangku," jawab Naruto seraya membuka sebuah kotak bekal yang dibawanya.

"Aku tidak menyangka jika selera makanmu begitu besar, sampai membawa dua kotak bekal makan siang," Ino menatap Naruto heran.

"Yang ini bukan untukku," kata Naruto. "Tadinya aku mau memberikannya pada orang itu, untuk ucapan terima kasih. Tapi sepertinya terlalu murah hati jika aku memberikannya untuk pria brengsek seperti dia," umpat Naruto keras. "Kalian mau?" tawar Naruto, menyodorkan kotak bekal makan siangnya yang lain.

.

.

.

Naruto beruntung, saat Lee, Chouji dan Shino membantunya untuk membersihkan toilet di lantai tiga. "Yang penting Sarutobi sensei tidak tahu kalau kami membantumu. Selama beliau tidak tahu, tidak akan jadi masalah kan," kata Lee dengan senyuman lebar.

Setelah selesai disana, Naruto beranjak ke perpustakaan. Saat sebelumnya melambaikan tangan pada ketiga pemuda itu yang akan berlatih sendiri tanpa Naruto. Dia terkejut saat mendapati Karin, Ino dan Hinata sudah berada disana dan membantu pekerjaan Mei. "Kami disini untuk membantu Terumi sensei, bukan membantumu," kilah Karin pandai. "Jadi, Sarutobi sensei tidak memiliki alasan untuk memberimu hukuman yang lain jika dia tahu mengenai hal ini." Naruto kembali tersenyum mendengar alasan Karin. Tepat pukul enam sore, Naruto beranjak ke green house, namun Iruka mengatakan jika Sasuke baru saja menyelesaikan semua pekerjaan yang ada. Jadi, sekarang Naruto hanya tinggal mengepel lapangan basket saja. Naruto terus berjalan menuju gedung olahraga. Pikirannya terus memikirkan Sasuke. "Kenapa dia mengerjakan pekerjaan di green house seorang diri? Hah, benar-benar pemuda yang rumit," Naruto berkata pelan, cukup pelan untuk tidak didengar oleh orang lain.

"Lama sekali!"

"Sasuke?" tanya Naruto bingung. "Apa yang kamu lakukan disini?" langkahnya terhenti tepat di depan pintu masuk gedung olahraga, sedangkan Sasuke masih bekerja mengepel sebagian besar tempat tersebut.

"Menurutmu?" cibir Sasuke dingin.

"Kukira kamu melarikan diri," sungut Naruto pedas, diraihnya pel yang terdapat di sudut lapangan dan mulai mengerjakan bagiannya. Berlari kecil seraya mendorong pel dari sudut kanan lapangan menuju sudut kiri, begitu seterusnya hingga selesai setengah lapangan.

Naruto menyandarkan diri pada tiang ring basket, napasnya tersengal lelah. Dilihatnya Sasuke yang masih mengerjakan bagiannya dengan santai. "Jadi, kemana kamu pagi ini?" tanya Naruto memecah keheningan yang menggantung diantara mereka. "Aku tidak tahu apa yang menjadi alasanmu untuk marah padaku, tapi bisakah kita mengesampingkan hal itu dan bekerja sama hingga hukuman kita berakhir?"

"Berhenti bertanya, lagipula aku sudah menebusnya sore ini dengan mengerjakan pekerjaan di green house seorang diri."

"Aku tidak memintamu melakukannya seorang diri," protes Naruto. "Kita bisa mengerjakannya bersama-sama. Hari ini aku beruntung karena ada bala bantuan yang membantuku untuk membersihkan toilet dan merapihkan perpustakaan. Selama itu, kamu dimana?"

"Kalau begitu katakan pada mereka untuk tidak membantumu, aku tidak mau mengerjakan tugas itu selama ada orang lain, selain kamu disana."

Naruto terkekeh dan akhirnya mengangguk mengerti. "Kamu malu jika ada orang lain melihatmu melakukan tugas itu?" Naruto menatap Sasuke dengan pandangan menyelidik, namun pemuda itu memilih untuk diam dan berjalan ke tempat penyimpanan alat-alat kebersihan. Memasukkan ember dan pel ke dalamnya serta menutup pintu penyimpanan dengan sedikit keras. "Baiklah aku mengerti, untuk pekerjaan di kantin biar aku yang mengerjakannya sendiri. Tapi, untuk pekerjaan yang lain kita akan melakukannya bersama. Kita akan mencari alasan yang tepat jika Asuma sensei bertanya tentang hal ini. Bagaimana?"

"Terserah," balas Sasuke datar dan mendudukkan diri dengan nyaman tepat di sebelah Naruto. "Dobe?"

"Ck, berhenti memanggilku dengan panggilan itu!" protes Naruto keras.

"Mana bekal yang kamu janjikan kemarin?"

"Eh?"

"Sudah kukira, kamu pasti lupa," decih Sasuke.

"Sebenarnya aku tidak lupa, tapi karena kesal, aku memberikan bagianmu pada Ino, Hinata dan Karin tadi siang." Jelas Naruto panjang lebar. "Hei, jangan salahkan aku." Lanjut Naruto saat mendapat tatapan tajam Sasuke. "Kamu membuatku kesal, lagipula aku tidak melihatmu saat jam istirahat. Jadi aku memberikannya pada mereka, daripada kubuang, benar kan?" Naruto mendengus saat melihat Sasuke yang hanya diam tanpa menanggapi ucapannya. Naruto mengetuk-ngetukkan jari-jarinya pada lantai dan akhirnya mengerang kalah. "Baiklah, aku akan membuatkanmu makan malam. Jadi, mau makan malam di tempatku?"

Naruto berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang tubuhnya dan mengulurkan tangan pada Sasuke untuk membantunya berdiri. Sasuke terdiam, sesaat menimang-nimang hingga akhirnya dia menerima uluran tangan Naruto dan berdiri tegak. "Hn," jawab Sasuke begitu pendek. Naruto hanya memutar kedua bola matanya bosan, mengambil satu langkah di depan Sasuke dan berlalu pergi dengan diikuti Sasuke di belakangnya.

.

.

Sasuke berjalan kembali menuju kamarnya dengan keadaan perut terisi penuh. Siapa kira jika wanita galak itu ternyata bisa masak. Mengejutkan, pikir Sasuke. Pemuda itu terus berjalan masuk, tanpa menyadari jika sedari tadi mulutnya bersiul-siul kecil.

"Senang sekali, darimana?"

Sasuke bersumpah, jika dia tidak mengingat jika dirinya seorang Uchiha, pasti saat ini dia sudah mengeluarkan sumpah serapah tepat di depan muka Shikamaru. Beraninya pemuda malas itu mengagetkannya, dan tanpa merasa berdosa dia bersandar di depan pintu kamar milik Sasuke, menatap malas pada Sasuke dan menggigit apel merah yang berada di tangannya dengan santai.

"Jadi?"

"Aku baru menyelesaikan hukumanku," jawab Sasuke, membuka pintu kamar dan melangkah masuk dengan Shikamaru yang mengikutinya kemudian.

"Kenapa tidak dijelaskan pada Naruto, jika pagi ini kamu harus pulang kerumah untuk menyerahkan beberapa berkas dari kepala sekolah untuk Itachi-san? Kakakmu akan mengajar disini kan?"

Sasuke mengangkat bahu. "Jadi, kamu menyukai Naruto?" tanya Shikamaru lebih pada penegasan daripada pertanyaan.

Sasuke mendelik ke arah Shikamaru yang balas menatapnya datar. "Apa?" tanya Shikamaru.

"Apa terlihat jelas?" tanya Sasuke yang sudah duduk nyaman di sebuah puff bulat berwarna putih.

"Begitulah," jawab Shikamaru jujur.

"Tapi, wanita bodoh itu masih belum sadar jika aku menyukainya," kata Sasuke muram.

"Atau pura-pura tidak sadar," ralat Shikamaru mengejutkan Sasuke.

"Entahlah Shika, sepertinya begitu. Tiap kali aku berusaha mendekat, dia seperti memasang tembok tinggi dan enggan untuk didekati," keluh Sasuke kesal.

"Wanita memang merepotkan," ujar Shikamaru. "Terlebih dia," katanya serius. "Lebih baik cari gadis lain saja, Sas. Naruto terlalu merepotkan untuk dijadikan kekasih. Dia tipe wanita galak seperti kakakmu, merepotkan."

"Kuharap semudah itu Shika. Lagipula, kukira kamu juga menyukainya." Jawab Sasuke terus terang.

Shikamaru menggeleng lemah dan menjawab. "Aku memang menyukainya, tapi dalam arti berbeda. Aku tidak suka memakai hati, merepotkan jika sudah berkaitan dengan hati. Suatu saat mungkin, tapi tidak untuk saat ini."

"Begitukah?"

"Ya, dan kurasa, Neji, Gaara dan Kiba juga berpikiran sama. Mereka tertarik oleh pesona Naruto yang bersinar bagaikan matahari. Terasa hangat, dan nyaman, berbanding terbalik dengan dunia kita yang gelap. Lagipula, kami tahu jika kamu menyukainya, jadi kami menarik batas agar tidak terlalu jatuh pada pesona sang mentari."

"Hantu apa yang merasukimu Shika? Perkataanmu tidak seperti biasanya." Sasuke tergelak di atas kursinya, sedapat mungkin menahan tawa keras saat mendengar penuturan kawannya yang terdengar tak biasa.

"Hah..." Desah Shikamaru panjang. "Entahlah Sas, entahlah," katanya berulang.

Sasuke terdiam dalam lamunannya, dia juga tidak pernah berpikir untuk bisa jatuh begitu dalam. Perasaannya terhadap Naruto, dia kira hanya sebagai cinta yang akan segera berlalu dengan cepat pada awalnya. Cinta tidak pernah ada di dalam kamus hariannya, karena dia menganggap jika cinta yang mendalam itu berbahaya, merusak peraturan dan mengaburkan logika.

'Wanita itu benar-benar mengacaukan kehidupan damaiku,' pikir Sasuke miris. 'Tapi, jika dia menghilang dari hidupku, aku bisa hancur. Karena bumi tidak bisa bertahan tanpa matahari.' Sasuke mengacak rambutnya frustasi, kesal karena acap kali dia berpikir dan bertindak diluar karakternya. Lalu, Sasuke tersenyum kecil ketika mengingat tingkah kawan-kawannya yang juga seringkali bersikap kekanakan jika berada di sekeliling Naruto. "Setidaknya, bukan hanya aku yang terpengaruh olehnya," katanya lirih merasa sedikit terhibur.

.

.

.

Tujuh hari berlalu dengan cepat, hukuman pun selesai sudah. Naruto sama sekali tidak menyangka jika pemuda paling dingin, ketus dan menyebalkan bisa berubah menjadi perhatian dan peduli. Sasuke masih bersikap dingin pada Naruto saat mereka bersama para murid lainnya. Bersikap tak acuh seperti biasa, namun berubah saat mereka berdua. Terkadang pemuda itu menarik diri, menjauh, namun datang mendekat kembali dengan alasan yang tidak jelas. Menjengkelkan, pikir Naruto kesal. Sikap Sasuke yang seperti ini jelas mengganggu Naruto, karena secara tidak sadar, Sasuke mulai menggerogoti pikiran Naruto sedikit demi sedikit.

Suara ketukan pada pintu kelas menghentikan pelajaran Asuma siang ini, perlahan pintu itu terbuka menampakkan sosok Anko yang berdiri tegak di ambang pintu. "Sarutobi sensei, boleh saya meminjam Namikaze-san sebentar? Ada tamu untuknya," tanya Anko begitu sopan.

Asuma mengerjap dan mengangguk kecil. "Tentu, tidak masalah. Namikaze-san, silahkan keluar dan kembali setelah selesai."

Naruto berdiri dan membungkuk hormat, beberapa pasang mata yang tertarik melirik ke arahnya, mengikuti tiap langkah Naruto hingga sosoknya menghilang keluar kelas.

"Ano... sensei, kalau boleh tahu, siapa yang mau bertemu dengan saya?"

"Kakek-mu," ujar Anko lembut.

"Jii-san?" tanya Naruto meyakinkan.

"Benar," ujar Anko tersenyum kecil.

"Tapi, untuk apa beliau datang kesini?"

"Itu, untuk kamu cari tahu."

Naruto menghela napas panjang sebelum masuk ke dalam ruangan yang ditunjuk oleh Anko. Mengangguk dan tersenyum kecil, Anko pun melangkah pergi, memberi privasi pada keduanya untuk bicara.

"Jii-san?"

Sarutobi yang berdiri memunggungi Naruto, perlahan berbalik dan tersenyum kecil. "Naruto, duduklah ada sesuatu yang ingin jii-san sampaikan," ucap Sarutobi dengan nada serius. Tanpa banyak bicara, Naruto segera duduk dan menyiapkan diri untuk mendengar berita yang akan disampaikan oleh kakek sekaligus atasannya tersebut.

"Hari ini, jii-san sudah meminta ijin pada kepala sekolah agar memberimu ijin tidak masuk sekolah untuk satu minggu ke depan."

"Kenapa?"

"Kami kehilangan kontak dengan Kakashi, kami tidak bisa melacak keberadaannya. Karena itu, kami memerlukanmu untuk menyamar masuk dan mencari tahu kondisi Kakashi disana."

"Bagaimana dengan Yamato-san?" tanya Naruto berusaha menyembunyikan kegelisahannya saat mendengar berita mengenai hilangnya Kakashi.

"Yamato tidak bisa bergerak bebas, karena itu kami memerlukan bantuanmu. Kami merencanakan penyergapan di awal minggu ini, namun, dengan ketidak-jelasan berita mengenai Kakashi, membuat kami memundurkan rencana, hingga waktu yang belum ditentukan."

"Kapan aku mulai bergerak?"

"Malam ini juga," jawab Sarutobi. "Nagato akan mengantarmu masuk, setelahnya kamu harus berusaha sendiri. Seperti kubilang, Yamato sulit bergerak, dan kita harus bergerak cepat, atau semua usaha Kakashi selama ini akan sia-sia."

"Aku mengerti, aku akan menjalankannya dengan baik."

Sarutobi mengambil napas panjang dan menghembuskannya pelan. "Maaf Naruto, lagi-lagi jii-san harus meminta bantuanmu."

"Jii-san bicara apa?" Naruto tersenyum kecil. "Aku memang cucu jii-san, tapi, aku juga seorang prajurit, ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawabku. Dan aku harus menyelamatkan paman Kakashi, jadi... jii-san jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Aku janji!" ucap Naruto sungguh-sungguh. Sarutobi hanya mampu untuk menghela napas panjang, dan menepuk kedua pundak Naruto, tersenyum miris, sebelum akhirnya merelakan Naruto untuk melakukan misi yang lagi-lagi berbahaya.

Karena hal itulah, Naruto berada disini. Di sebuah bar malam yang keberadaannya begitu tersembunyi. Menyamar dengan baju ketat pendek yang memeluk tubuhnya erat, dan rambut yang sengaja dia cat dengan warna pink pucat. Beberapa pengunjung sudah tergolek tak berdaya, entah karena mabuk, maupun karena pengaruh narkotika. Naruto duduk di sebuah kursi tinggi, matanya sesekali menyisir ruangan yang minim cahaya, telinganya sedikit sakit karena suara musik yang begitu keras. Asap rokok mengepul memenuhi ruangan, beberapa pasangan terlihat menari di lantai dansa, menikmati musik yang dimainkan sang DJ.

Naruto kembali menyesap segelas vodka perlahan, berpura-pura menikmati rasa dari minuman itu yang terasa membakar tenggorokannya. Naruto mengambil irisan buah lemon dan menggigitnya kecil, rasa asam menetralkan sisa rasa minuman itu di mulutnya.

Beberapa saat kemudian tubuh Naruto terdorong hingga menabrak meja bar yang ada di depannya, ketika dua orang pria mabuk berjalan terhuyung-huyung dan menabrak kursi tempatnya duduk. Pria pertama berhenti dan menatap Naruto dengan pandangan nanar. Menilai penampilan Naruto dari atas kepala hingga ujung kaki, dan membelalakan mata kaget.

"Ta...tayuya," raungnya ketakutan.

Naruto terkejut mendengar nama Tayuya disebut, penampilan Naruto saat ini mungkin mengingatkan pria mabuk ini akan sosok Tayuya. "Jangan asal bicara!" potong pria mabuk yang ke dua. "Tayuya sudah mati," katanya dengan bau alkohol yang menguar kuat dari napasnya membuat Naruto mengernyit jijik karenanya. "Ketua sudah membunuh Tayuya," desis pria mabuk itu, memukul kecil tubuh pria yang pertama hingga terhuyung dan menabrak meja bar. Pria kedua dengan tangan bergetar menarik tubuh pria pertama dan keduanya berjalan terhuyung-huyung keluar dari club.

Naruto menenggak minumannya hingga tandas, menyimpan beberapa lembar uang untuk membayar minumannya dan sedikit tips untuk bartender di atas meja bar. Dengan langkah mantap, Naruto mengikuti kedua pria itu keluar dari dalam club. Naruto melihat ke sekeliling, memberi sinyal pada rekannya yang bersembunyi untuk keluar dan membantunya. Tidak memerlukan waktu yang lama bagi Naruto dan Nagato untuk menggelandang kedua pria itu ke markas dan memasukkan keduanya ke dalam ruang interogasi.

"Andai saja penjahat yang harus kita tangkap selalu dalam keadaan mabuk seperti mereka. Mungkin tugas kita akan lebih ringan saat harus menangkap mereka," keluh Naruto panjang dan memijat tengkuknya lelah.

"Sisanya biar Yamato yang mengurus, kita masih harus mencari tahu kabar Kakashi," jawab Nagato dengan nada berat.

"Ya, paman Kakashi benar-benar membuatku cemas," aku Naruto lirih. "Ngomong-ngomong, apa Konan-san tahu jika Nagato-san kembali turun menangani kasus?"

"Ya, dia tahu," Nagato menjawab cepat dan tersenyum kecil. "Dia bilang, dia tidak akan memaafkanku jika sesuatu terjadi padaku dan padamu. Karena itu, aku harus berjanji untuk menjaga diri dan menjagamu hingga kasus ini selesai. Karena itu Naruto, mohon bantuanmu."

.

.

.

Empat hari berlalu sejak penangkapan kedua penjahat itu. Dari hasil penyelidikan Yamato, dan perbandingan dari foto yang diberikan Naruto beberapa waktu yang lalu, memberikan titik terang jika salah satu diantara kedua penjahat itu adalah orang yang sama yang masuk ke dalam kamar Tayuya di asrama, pria itu bahkan mengenal wanita itu dengan baik. Dari penjahat itu juga diketahui, jika Tayuya yang dekat dengan bos mereka, menulis daftar orang-orang penting di organisasi mereka dan menjadikannya surat ancaman agar bisa mendapat narkotika secara gratis dari ketua mereka. Merasa terancam, ketua mereka akhirnya memerintahkan bawahannya untuk membunuh Tayuya dengan cara menyuntikkan narkotika kedalam tubuh wanita itu, agar kematian Tayuya terkesan sebagai kecelakaan dan murni over dosis.

Karena itulah setelah kematian Tayuya, pria itu beberapa kali masuk ke dalam kamar Tayuya untuk mencari catatan yang menjadi sumber ancaman bagi organisasi mereka. Tapi, hingga saat ini catatan itu tidak diketemukan. Entah memang catatan itu disembunyikan dengan baik oleh Tayuya, atau memang sebenarnya catatan itu tidak pernah ada, dan Tayuya hanya menggertak sambal saja.

Naruto dan Nagato mulai menangkap satu persatu tersangka lain yang disebutkan oleh kedua penjahat yang sudah ditangkap terlebih dahulu. Mereka ditangkap di tempat yang berbeda. Masing-masing penjahat dikawal oleh dua orang polisi, mereka digiring ke markas dalam keadaan tangan terbogol dan wajah ditutupi. Mereka bukan hanya didakwa atas kejahatan narkotika, juga terancam pidana karena jual beli gadis dibawah umur untuk tujuan pelacuran.

"Nagato-san, Naruto-san," Yamato memanggil keduanya dengan napas terengah. "Kakashi-san baru saja memberi kabar," katanya cepat. Ketiganya berjalan tergesa, dan segera mengumpulkan semua pihak yang akan terjun dalam operasi kali ini.

"Kakashi-san mendapat informasi jika nanti malam akan ada transaksi besar di pelabuhan X. Bos kecil akan menangani langsung transaksi ini," jelas Yamato dengan raut wajah serius. "Transaksi ini akan melibatkan organisasi hitam dua negara, Jepang dan Hongkong. Jika kita bisa meringkus mereka, aku harap kita bisa mengintoregasi mereka dan melancarkan usaha kita untuk meringkus bos besar," jelas Yamato lagi.

"Dimana Kakashi-san?" tanya Naruto datar, namun tersirat kekhawatiran yang nyata pada raut wajahnya saat ini.

"Kakashi-san berhasil menyusup ke dalam lingkungan bos besar. Dia harus sangat berhati-hati, karena sampai sekarang, bos besar belum pernah menampakkan diri. Salah sedikit, Kakashi-san bisa mati."

Kelompok Naruto mempersiapkan diri dengan cepat, membuat rencana cermat agar dapat menyelesaikan misi dengan baik. Beberapa sniper ditempatkan di beberapa titik tempat pertemuan. Beberapa polisi bersembunyi di balik kapal-kapal yang berlabuh dengan senjata lengkap dan boat yang siap sedia mengejar jika mereka melarikan diri lewat jalan laut.

Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, namun masih belum ada tanda-tanda dari kedua pihak yang akan melakukan transaksi. Hingga akhirnya setengah jam kemudian, empat buah mobil sedan anti peluru berwarna hitam, masuk dengan diikuti empat buah mini van hitam di belakangnya. "Brengsek," umpat Nagato pelan. "Banyak sekali pengawalnya."

"Justru aneh jika mereka datang tanpa pengawalan," tukas Naruto setengah berbisik. "Kamu sudah siap paman tua?"

"Tidak lucu Naruto, aku belum tua." Desis Nagato. Naruto tersenyum lebar dan menepuk bahu Nagato pelan. "Pastikan saja jika paman bisa menjaga diri dengan baik, aku tidak mau Konan-san datang dan mengamuk jika sesuatu terjadi padamu," celotehnya cepat.

"Itu juga berlaku untukmu," balas Nagato sengit. "Yosh, Naruto. Semoga dewi keberuntungan menaungi kita malam ini."

"Semoga Tuhan, menjaga kita semua malam ini," ralat Naruto bijak melantunkan doa tulus untuk keselamatan regunya malam ini, karena hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi pada detik selanjutnya.

Dan bunyi tembakan pun terdengar. "Kuso," maki Naruto saat menyadari jika tembakan itu berasal dari anak buahnya. Para penjahat itu membentuk pagar hidup dan mulai menembak ke segala arah dengan senjata model AK-47. "Mereka pandai memilih senjata," umpat Naruto yang saat ini bersembunyi, menghindari desingan peluru yang berdesing ke segala penjuru. Naruto memberi kode pada para sniper yang bersembunyi, untuk melumpuhkan pengawal yang memegang senjata tersebut.

Suara tembakan memecah malam, berdesing silih berganti. Ledakan besar terdengar saat salah satu penjahat yang memegang sebuah bazooka menembakan senjata itu ke arah boat milik polisi, beruntung beberapa polisi yang berada di atasnya berhasil meloncat ke dalam air sebelum boat itu meledak dan hancur berkeping-keping. Beberapa penjahat sudah masuk ke dalam mobil dan mengamankan koper berisi narkoba dan uang ke dalam mobil anti peluru milik mereka.

Bazooka itu siap ditembakkan untuk kedua kalinya, beruntung salah satu sniper Naruto berhasil menembak tepat di kening pemegang Bazooka tersebut, akhirnya Bazooka meledakkan tanah yang dipijak sang pemilik, hingga menghasilkan serpihan daging manusia yang hancur akibat dari ledakan dasyat senjata tersebut, menyisakan genangan berwarna merah pekat disana.

Naruto dan Nagato terus bergerak, menembak, melumpuhkan beberapa penjahat yang bertugas untuk melindungi tuannya yang berusaha untuk melarikan diri. Naruto menyerahkan sisa penjahat yang ada pada Nagato, sementara dia naik ke dalam mobil polisi dan mengejar penjahat yang melarikan diri. Beberapa mobil polisi mengejar dengan kecepatan penuh. Salah satu petugas berhasil menembak ban dari mobil van hitam, menyebabkan mobil itu tergelincir keluar jalur, terbalik dan meledak bersama beberapa penjahat di dalamnya.

Beberapa helikopter yang mengejar, berusaha menggiring mobil yang melarikan diri itu keluar ke jalan sepi, agar tidak membahayakan pengguna jalan lain. Namun, sepertinya usaha mereka tidak berhasil, karena penjahat itu membelokkan kendaraannya ke dalam jalan tol yang masih ramai kendaraan. Menyulitkan polisi saat akan menembak dan melumpuhkan kendaraan tersebut, beberapa tembakan dikeluarkan penjahat itu untuk melindungi diri, menyebabkan dua mobil patroli dan satu mobil sipil bertabrakan keras karenanya.

"Kitsune, kami kesulitan untuk melumpuhkan dua buah mobil tersangka. Terlalu banyak kendaraan sipil."

"Blokir jalan masuk tol, jangan biarkan kendaraan sipil masuk, aku minta usaha terbaik kalian untuk mengosongkan jalan, aku sendiri yang akan memburu kedua mobil sialan itu," balas Naruto melalui radio pemancar.

"Kami mengerti, serahkan tugas itu pada kami. Sisanya kami serahkan padamu, ganti!" Naruto melirik ke partnernya saat ini yang berkonsentrasi penuh membawa kendaraan mereka dengan kecepatan penuh. "Hei, siapa namamu?"

"Kidomaru," jawab polisi itu pendek tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

"Kamu tahu, jika saat ini kita dihadapkan pada tiga pilihan."

"Hm?"

"Yang pertama, kita akan berakhir selamat. Kedua, kita akan terluka, dan kemungkinan terburuk dan yang ketiga, kita akan mati."

"Aku memilih kemungkinan pertama," jawab polisi itu penuh keyakinan.

"Aku juga begitu, karena itu mohon bantuanmu. Kejar mereka, dekatkan kendaraan ini pada mobil mereka, sedekat mungkin," pinta Naruto tegas. "Apa yang kamu lakukan?" teriak Kidomaru saat melihat Naruto membuka jendela mobil dan mengeluarkan setengah badannya. "Aku tidak bisa membidik dari dalam mobil," teriak Naruto kencang. Tangannya mengokang pistol di genggamannya, membidik ban mobil yang berjalan kencang beberapa meter di depannya. "Mereka punya AK-47," teriak Kidomaru tidak kalah keras. Namun Naruto tidak ambil pusing, saat ini dia berusaha untuk menstabilkan tubuhnya agar tidak terjatuh karena guncangan mobil yang dinaikinya.

Usaha Naruto tidak berakhir dengan sia-sia, tembakannya tepat mengenai sasaran. Mobil sedan itu oleng dan akhirnya menabrak pagar pembatas jalan dengan keras, menyebabkan bagian depan kendaraan itu hancur sedemikian rupa. Dengan tegas Naruto memerintahkan dua mobil patroli yang berada di belakangnya untuk membereskan tangkapannya. "Ok Kidomaru, tinggal satu mobil lagi," ujar Naruto semangat mengabaikan rasa sakit karena luka baru pada tubuhnya.

"Kitsune, kita dalam masalah," tutur Kidomaru lirih.

"Masalah apa yang bisa lebih buruk?" Naruto terkekeh kecil, namun senyuman itu langsung menghilang saat Naruto melihat apa yang dimaksud oleh Kidomaru. "Shit, kenapa mereka memilih untuk mengeluarkan senjata sialan itu disaat hanya kita yang mengejar?"

"Mungkin isi senjata mereka terbatas," Kidomaru tersenyum miris.

"Damn, Kidomaru ini tidak lucu! Kita akan menjadi serpihan daging menjijikan jika terkena Bazooka sialan itu," umpat Naruto keras hingga Kidomaru menelan ludah keras. "Kau membuatku takut," kata pemuda itu lirih. "Kau kira, aku tidak?" Naruto mengambil napas panjang dan berkata keras. "Kita pasti selamat, ayo Kidomaru kita habisi mereka!"

"Mudah untukmu berkata seperti itu," balas Kidomaru frustasi. Dan benar saja, sekejap kemudian isi dari senjata itu melayang lurus menuju kendaraan Naruto. "Kidomaru, loncat!" teriak Naruto kencang, tanpa berpikir dua kali, keduanya segera membuka pintu mobil dan meloncat turun dari kendaraan yang melaju kencang. Beberapa detik kemudian, kendaraan mereka meledak dengan bunyi keras. Menimbuklan kepulan asap dan api yang berkobar-kobar, menembus pekat malam.

Naruto berguling-guling di tanah, kedua tangannya berusaha untuk melindungi kepala dari cedera serius. Beberapa luka menganga pada tubuhnya terasa menyakitkan. "Kidomaru, kamu baik-baik saja?" teriak Naruto keras, sementara Kidomaru yang tergeletak di jalan tidak menjawab karena pingsan. Dan pengejaran itu pun berakhir disana, mobil van hitam yang mengangkut bos kecil berhasil melarikan diri. Membuat Naruto berteriak kesal setengah mati karenanya. Namun, penyergapan ini tidak gagal sepenuhnya. Karena barang bukti berupa kokain kelas A dan uang sejumlah seratus juta yen berhasil diamankan dari mobil sedan hitam yang berhasil dilumpuhkan oleh Naruto.

.

"Bagaimana keadaan Kidomaru?"

Nagato mengangkat sebelah alisnya sebelum menjawab. "Ah, maksudmu polisi yang ikut mengejar bos kecil itu dengan-mu?" Naruto mengangguk meng-iyakan. "Dia baik-baik saja, tidak ada luka dalam. Hanya kekurangan darah akibat luka disekujur tubuhnya. Meloncat dari kendaraan yang melaju kencang, kalian benar-benar gila!"

"Lebih gila jika kami tetap diam disana, mungkin kami sudah berubah menjadi omlet," ujar Naruto ketus. "Penjahat itu melarikan diri, benar-benar membuatku kesal," katanya dengan gigi gemertak. "Berapa banyak korban jatuh di pihak kita?"

"Kita beruntung, personil kita tidak ada yang meregang nyawa. Empat orang luka serius, lima orang luka ringan, dan ada dua orang warga sipil yang dirawat akibat tabrakan yang tidak bisa kita hindari."

"Mengesalkan," raung Naruto. "Dan penjahat itu?"

"Empat orang tidak bisa dikenali karena menjadi serpihan daging, enam orang luka tembak serius, empat orang meninggal di tempat karena mobil yang dikendarainya meledak juga menabrak pagar pembatas jalan. Tiga orang bunuh diri saat digiring ke markas, dan tiga orang lainnya melarikan diri termasuk Kabuto atau bos kecil," jawab Nagato panjang lebar.

Naruto mengangguk tidak puas dan memperhatikan keadaan Nagato yang nampak menyedihkan. "Bagaimana keadaanmu?"

"Ini hanya luka kecil," ujar Nagato santai. "Peluru itu hanya mengenai bagian kulit luar tangan kananku. Aku akan baik-baik saja, lebih baik kamu istirahat. Lukamu jauh lebih serius daripada diriku. Jendral Sarutobi memberikan waktu bagi kita untuk menyerahkan laporan besok sore. Aku pulang dulu, istriku pasti cemas."

"Baiklah, sampaikan salamku pada Konan-san. Aku akan menginap disini hingga besok, dan mengerjakan laporan tertulis besok siang," balas Naruto dengan nada kering.

"Hm, oyasuminasai Kitsune."

"Oyasuminasai," balas Naruto serak.

.

.

.

Dua hari berlalu dengan cepat setelahnya, Naruto diberikan cuti selama satu minggu untuk memulihkan diri. Naruto agak sedikit tenang, setelah Kakashi memberi kabar dan mengatakan jika dirinya baik-baik saja, namun dia harus sedikit bersabar agar tugas yang diemban oleh Kakashi saat ini berjalan mulus. Naruto sengaja mematikan telpon genggam yang biasa dia pakai di sekolah agar bisa beristirahat dengan nyaman.

Suara bel pintu apartemen Naruto mengusik ketenangan gadis itu siang ini. Naruto menyeret kakinya, yang dengan malas mengantarnya ke depan muka pintu dan membuka pintu itu dengan cepat. "Onii-san?" teriak Naruto saat melihat sosok bersurai jingga berdiri di hadapannya dengan raut khawatir.

"Naruto kamu baik-baik saja?" tanya Kurama begitu khawatir, tanpa sadar dia mengguncang bahu Naruto agak keras, hingga gadis dihadapannya meringis kesakitan. "Gomen," ujar Kurama saat melihat adiknya merintih sakit.

"Aku baik-baik saja," kata Naruto lembut. "Kapan nii-san datang? Kenapa tidak memberitahuku?" tanyanya seraya mempersilahkan Kurama untuk masuk.

"Aku ingin memberimu kejutan, karena itu aku hanya memberitahu perihal kedatanganku pada jendral tua itu, karena aku tidak bisa menghubungi paman Kakashi. Kemana paman mesum itu? Benar-benar tidak bertanggung jawab, bagaimana bisa dia membiarkanmu sendirian saat kamu mengalami kecelakaan dan terluka?"

"Paman Kakashi sedang ada tugas, aku sudah hampir satu bulan tidak melihatnya, sejujurnya dia membuatku sangat cemas," kata Naruto menghempaskan diri di sebuah sofa dengan nyaman.

"Dia sudah pergi selama itu?" tanya Kurama yang dijawab anggukan Naruto. "Dia tahu jika kamu mengalami kecelakaan?"

"Dia tahu, tapi dia tidak bisa datang karena tugas."

Kurama mengambil napas lelah dan memijat keningnya pelan. "Aku seperti mendapat serangan jantung, saat jii-san memberitahu jika kamu mengalami kecelakaan mobil. Tadinya aku mau memberimu kejutan, tapi ternyata malah aku yang mendapat kejutan istimewa. Dan kenapa kamu tidak memberiku kabar tentang kecelakaan ini?"

"Ini kecelakaan kecil," kilah Naruto. "Aku tidak mau membuatmu cemas. Lagipula banyak orang yang merawatku disini, ini hanya luka kecil. Nii-san tidak perlu khawatir berlebihan."

Kurama menggelengkan kepala pasrah, saat mendengar jawaban dari Naruto dan memutuskan menutup pembicaraan mengenai kecelakaan itu. "Ngomong-ngomong, kudengar dari jii-san jika saat ini kamu kembali menjadi murid SMA?"

"Jii-san mengatakan hal itu juga pada nii-san?" Naruto bertanya dengan suara tinggi. "Jii-san benar-benar bermulut besar," omelnya tajam.

"Memangnya kenapa jika jii-san memberitahuku mengenai hal itu, masalah?"

Naruto mengatupkan mulutnya erat sebelum akhirnya menjawab cepat. "Sebenarnya tidak masalah, tapi, jii-san bermulut besar."

"Sudahlah, aku tidak akan menertawakanmu untuk hal ini. Menurutku baik untukmu untuk merasakan bagaimana suasana masa-masa SMA. Agar kamu bisa bersikap layaknya gadis normal."

"Nii-san pikir aku tidak normal?" raung Naruto protes keras sedangkan Kurama hanya mengangkat bahu acuh. "Aku lelah, untuk sementara aku akan tinggal disini. Tapi, mulai minggu depan aku akan menetap di asrama sekolah tempatku mengajar," ujar Kurama menguap lebar.

"Eh, nii-san akan mengajar disini?"

"Begitulah."

"Dimana?" tanya Naruto ingin tahu.

"Konoha gakuen, atau KHS," jawab Kurama dengan senyum mengembang berbanding terbalik dengan wajah horor yang diperlihatkan Naruto saat ini. "Heeeeee, kenapa KHS?" lagi-lagi Naruto harus mengerang frustasi.

"Untuk menjaga adikku yang bandel," ujar Kurama berbisik tepat di telinga Naruto. "Anak SMA seharusnya belajar dengan rajin, bukan malah keluar asrama, kebut-kebutan hingga kecelakaan."

"Chotto matte, nii-san tidak boleh percaya seratus persen ucapan jii-san, kejadiannya tidak seperti itu," ujar Naruto membela diri.

"Jadi, bagaimana kejadiannya?" Kurama bersidekap dengan sebelah alis terangkat naik.

"Kejadiannya..." ucapan Naruto terputus, tidak mungkin dia menceritakan kejadian yang sebenarnya. Aish, benar-benar membuatnya gila.

"Yup, tidak ada pembelaan diri lagi. Selama aku mengajar disana, aku pastikan untuk mengawasimu dua puluh empat jam. Karena itu Naruto, jangan harap kamu bisa melakukan kenakalan remaja untuk kedua kalinya. Satu hal lagi, ingat kamu sudah bukan remaja, jadi, bersikap dewasalah!"

Naruto meremas bantal sofa yang digenggamnya keras, mulutnya ingin sekali membalas ucapan Kurama, namun apa daya, dia tidak bisa. Membalas berarti menceritakan kebenaran, Naruto kembali menghela napas panjang dan mengerang lelah. 'Tuhan, cobaan apa lagi ini?' batinnya mengeluh kesal.

.

.

"Naruto kamu ada acara?"

"Tidak," jawab Naruto singkat tanpa mengalihkan tatapannya dari layar TV.

"Temani aku ke suatu tempat!"

"Kemana?" tanya Naruto malas.

"Tidak perlu banyak bertanya, ganti bajumu dengan warna hitam dan elegan."

"Hah?" Naruto bangkit dari sofa dan mendudukan diri menatap heran Kurama yang saat ini sudah memakai setelan jas hitamnya. "Tapi kita mau kemana?"

"Cepat ganti pakaianmu, kita tidak memiliki banyak waktu," ujar Kurama mendorong Naruto masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar Naruto keras. "Pastikan hitam dan elegan," teriak Kurama dari depan pintu kamar. "Ha'i, wakatta," jawab Naruto dari dalam kamar.

.

"Jadi, nii-san menyeretku untuk menghadiri pemakaman orang tua teman nii-san?" tanya Naruto dengan raut wajah datar namun juga kesal.

"Hm... aku memerlukan seseorang untuk menemaniku kesini. Disini terlalu banyak orang yang mengenalku, aku akan malu jika datang seorang diri," jawab Kurama tenang.

"Tapi, kenapa harus aku?" desis Naruto geram masih dengan mempertahankan raut wajah datarnya yang biasa.

"Aku baru saja kembali, aku mau membawa siapa? Coba pikir," Kurama menatap Naruto dengan tersenyum manis, namun dengan nada bicara yang meremehkan, nyaris membuat Naruto hilang kendali dan melayangkan sepatu yang dikenakannya pada wajah kakaknya yang tampan. Oh, betapa Naruto lupa, jika kakaknya bisa bersikap sangat menyebalkan.

Kurama mengandeng tangan Naruto erat, memaksanya untuk ikut memberikan penghormatan terakhir di depan altar duka, dan mengucapkan bela sungkawa pada keluarga yang ditinggalkan. "Terus berjalan dan jangan melirik ke sebelah kanan, mengerti!" bisik Kurama tepat di telinga Naruto. "Kenapa?" tanya Naruto tidak mengerti, dan tentu saja tanpa mengidahkan ucapan Kurama, Naruto melirik ke sebelah kanan dirinya dan mendapati seorang wanita cantik, berambut raven panjang menatap sosok kakaknya dengan tatapan mata yang sulit untuk dijelaskan.

Untuk sesaat tatapan mata mereka bertemu, wanita itu terlihat sedikit kaget saat melihat Naruto melemparkan senyum kecil ke arahnya. Wanita itu mengangguk kecil dan membalas senyuman yang dilemparkan Naruto padanya. "Nii-san mengenal wanita cantik itu?" Naruto berkata lirih, sedangkan Kurama mengatupkan mulutnya erat. "Bisakah untuk sekali saja kamu mendengarkan perintahku?"

"Jadi, nii-san kenal?"

"Begitulah," jawab Kurama pendek.

"Siapa dia?"

Kurama menggeram kecil sebelum akhirnya menjawab. "Itachi, mantan kekasihku."

Naruto menutup mulutnya agar tidak tertawa keras. "Kenapa tertawa?" desis Kurama tidak suka. "Aku tidak menyangka jika nii-san bisa memiliki kekasih. Dengan sikap nii-san yang menyebalkan, aku rasa tidak akan ada wanita yang mau menjadi kekasih nii-san," katanya jujur.

Kurama berdecak sebal dan mengacak rambutnya. "Aku ini populer, Naruto. P-O-P-U-L-E-R, catat itu! Dia hanya bagian dari masa laluku," tambahnya tenang.

"Kenapa kalian putus?"

"Bukan urusanmu."

"Kenapa?" desak Naruto lagi.

"Dunia kami berbeda," jawab Kurama pada akhirnya dengan luka yang sekejap terlihat diraut wajahnya, namun bisa ditangkap dengan baik oleh Naruto.

"Gomen," kata Naruto lirih dan menepuk tangan Kurama, menenangkannya. "Masih mau berkeliling dan menyapa, atau kita keluar dan makan siang? Kali ini, aku yang akan mentraktir nii-san." Katanya dengan senyum lembut.

Kurama menyentil hidung Naruto dan balas tersenyum. "Aku mau makan, dan bersiaplah untuk merogoh dompet dalam, Naruto. Karena aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."

"Siap," Naruto memberikan salute. "Kali ini saja, aku akan membiarkanmu untuk makan sepuasnya." Kurama dan Naruto meninggalkan rumah duka dengan tangan saling menggenggam, menulikan telinga akan bisikkan yang terdengar dari para pelayat yang sebagian besar penasaran akan jati diri Naruto yang nampak begitu mesra menggandeng tangan Kurama, sang profesor yang terkenal dengan sifat dinginnya.

"Itachi-san, bukankah itu Namikaze-san?" tanya Nanabi yang berdiri persis di sebelah kanan Itachi. "Ya, itu dia," jawab Itachi datar.

"Dia datang dengan siapa? Kukira dia masih di Amerika, kapan dia kembali? Gadis itu benar-benar cantik," pujinya tulus.

"Entahlah, aku tidak tahu siapa gadis itu," jawab Itachi dengan senyum dipaksakan.

"Mereka nampak akrab, apa gadis itu kekasihnya?" Nanabi memasang pose berpikir, tidak menyadari perubahan raut wajah Itachi saat ini. "Mungkin saja," jawab Itachi dingin.

"Ah... maaf Itachi-san, jika aku menyinggungmu."

"Tidak apa-apa, kisah kami hanya kenangan masa lalu. Kamu sama sekali tidak menyinggungku," balas Itachi dengan nada senormal mungkin. "Aku harus kembali ke sekolah, aku hanya ijin beberapa saat untuk kesini."

"Baiklah," jawab Nanabi sopan. "Lain kali, kita adakan reuni dan bersenang-senang, bagaimana?"

"Tentu saja," jawab Itachi cepat. "Aku permisi, jaa..."

"Jaa nee, Itachi-san," balas Nanabi dengan senyum lebar.

Itachi berjalan dengan cepat menuju tempat kendaraannya di parkir. Jantungnya seolah mau meloncat keluar saat dia melihat sosok Kurama tadi. Tidak bisa Itachi pungkiri, dirinya masih memiliki perasaan pada pria tersebut. "Kenapa hatiku begitu panas melihatnya menggenggam mesra tangan wanita lain?" Itachi menggeleng tak percaya. "Ingat Itachi, hubungan kalian sudah berakhir lama. Dan itu adalah keputusanmu, jadi terima saja jika dia memiliki wanita lain saat ini." Itachi memukul dadanya yang terasa sesak dan menyakitkan, tanpa dia sadari, air mata meluncur turun dengan deras setelahnya.

TBC

Review?