Disclaimers : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M
Warning : OOC, OC, typo(s), gender switch, and etc
Genre : Action, romance, friendship
Selamat membaca!
Under Cover
Chapter 8 : Ikatan Baru
By : Fuyutsuki Hikari
Naruto menggelengkan kepala pasrah saat melihat sajian makanan yang sudah dipesan oleh Kurama saat ini. "Kakak, kau benar-benar ingin membuatku bangkrut, yah?" tanyanya dengan wajah keruh.
Saat ini keduanya duduk dengan nyaman di sebuah restoran mewah yang khusus menyajikan masakan barat.
Kurama menatapnya lurus, tersenyum penuh kemenangan dan menjawab dengan nada mengejek. "Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya, Adikku sayang!" katanya, memberikan penekanan di dua kata terakhirnya.
"Yeah... anggap saja aku menyesalinya saat ini," keluh Naruto dengan helaan napas keras. Dengan wajah memelas dia mengambil dompet dari dalam tas tangannya, membukanya lalu mengucapkan 'sayonara' pada isi dompetnya. "Kalian akan menghilang dalam sekejap mata," ucapnya lirih. Naruto kemudian mendongak, menatap sendu pada Kurama yang dengan lahap menyantap setiap hidangan yang tersaji di atas meja.
Dalam diam, Kurama terus mengamati tingkah lucu adiknya. "Jangan diam saja Naruto, ayo makan yang banyak!" ujarnya kemudian, bersikap seolah-olah dialah yang membayar semua hidangan yang tersaji di atas meja. "Ini wine nomor satu," tambahnya sembari mengangkat gelas anggurnya tinggi, membawanya ke bawah hidungnya untuk menghirup aromanya yang khas. "Benar-benar wangi..." Katanya riang, dengan ekspresi berlebihan.
"Tentu saja wangi, wine itu seharga seratus ribu yen," balas Naruto lirih. Kepalanya semakin menunduk, lesu. Ia terlihat hampir menangis saat ini.
Kurama kembali tersenyum dan menatap adiknya dengan binar jail di matanya yang berwarna ruby. "Aku hanya mengambil sesuatu yang kau tawarkan. Jadi, jangan pernah menyesalinya. Lebih baik kita nikmati saja, sudah lama kita tidak makan di luar berdua seperti ini."
Naruto merengut kesal. "Mudah untuk Kakak berkata seperti itu, karena bukan dompet Kakak yang akan terkuras habis."
Kurama tergelak, tawanya terdengar renyah dan bahagia. Sudah lama dia tidak menjaili adik yang paling disayanginya seperti ini. Rindu rasanya, anggap saja hal ini sebagai balasan untuk segala sesuatu yang dirahasiakan Naruto darinya.
"Jangan tertawa Kak, ini sama sekali tidak lucu!" ujar Naruto dengan ekspresi galak.
"Oh, ini lucu, percayalah! Wajahmu terlihat seperti anak kecil yang kehilangan permen saat ini. Benar-benar imut," ejek Kurama dengan seringai jail.
Naruto mendelik, menusuk-nusuk makanan miliknya dengan malas. Napsu makannya sudah menguap, hilang entah kemana. Ingin rasanya dia menelan bulat-bulat senyuman mengejek yang terus terukir di bibir kakaknya yang tampan. Mengerang kesal, ia akhirnya memilih meletakkan sendok garpunya di atas piring makannya. "Kak, boleh aku bertanya sesuatu?" tanyanya pada akhirnya, mengesampingkan perasaan dongkol yang menekannya keras.
"Tentu," jawab Kurama cepat. Ia kembali menyesap anggur miliknya dengan nikmat setelahnya.
"Wanita tadi-"
"Tanyakan hal lain," potong Kurama cepat. "Jangan menanyakan hal itu! Pertanyaan mengenainya hanya akan merubah moodku menjadi buruk," tambahnya dengan nada datar dipaksakan namun penuh penekanan.
"Begitu?"
"Hm..."
Naruto kembali diam, tampak berpikir. Rasanya aku pernah melihat wanita itu sebelumnya, tapi dimana? Ia kemudian memukul kepalanya ringan, mencoba mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu dengan wanita itu. "Ah..." katanya senang saat mulai mengingat sosok yang mengganggu pikirannya. "Kakak apakah wanita itu bermarga Uchiha?"
"Bagaimana kau tahu?" tanya Kurama dengan raut terkejut.
"Aku pernah melihatnya di pemakaman Sai dulu." Terang Naruto. "Tapi jika melihat mimik wajahnya tadi, aku rasa dia tidak mengenaliku. Pantas saja wajahnya terasa tidak asing." Ia mengangguk-angguk kecil sebelum akhirnya matanya membelalak ngeri. "Itu artinya, wanita itu adalah kakak perempuan Sasuke?" Naruto kemudian menjambak rambutnya frustasi sebelum menatap Kurama lelah. "Kakak, apakah mantan pacar Kakak itu tahu kalau Kakak memiliki adik berumur dua puluh dua tahun?"
Kurama mengelap mulutnya dengan serbet . "Tidak," jawabnya ringan. "Dia tahu aku memiliki adik, tapi hanya itu saja. Dia tidak tahu secara detail."
Naruto menyempitkan mata. "Yakin...?" tanyanya.
"Hubungan kami cukup singkat, kami tidak bertanya mengenai keluarga masing-masing. Karena kami saling menghormati privasi masing-masing."
"Pasangan yang aneh," desis Naruto tajam. "Bagaimana bisa kalian berhubungan tanpa tahu latar belakang keluarga masing-masing, benar-benar aneh."
Kurama tersenyum hambar dan mengangkat bahu acuh. "Kalau diingat-ingat memang aneh. Sudahlah, semua itu hanya bagian dari masa lalu. Ngomong-ngomong, pemuda bernama Sasuke itu, kau mengenalnya?"
Naruto mengangguk cepat dan menjawab. "Dia satu kelas denganku, sangat populer, juga menyebalkan. Bersikap seolah-olah dunia berada di bawah kakinya. Walau terkadang dia juga bisa bersikap manis dan menggemaskan. Sayangnya sifatnya yang menyebalkan lebih mendominasi." Jelasnya panjang lebar.
"Nampaknya kalian sangat akrab," tukas Kurama dengan tatapan menyelidik.
"Tidak!" jawab Naruto terlalu cepat. "Lebih tepat jika dikatakan kami ini musuh bebuyutan. Kami sering berselisih paham dan kami sering mendapat masalah karenanya. Hah... benar-benar melelahkan." Naruto menghela napas panjang, pikirannya menerawang jauh hingga tidak melihat senyum tipis yang terukir di mulut Kurama saat ini. "Ngomong-ngomong, Kakak akan mengajar di kelas berapa?"
"Kelas 3, aku akan mengajar matematika."
"Benarkah...?" tanya Naruto lemas. "Tuhan benar-benar membenciku, hingga Dia mengirimmu ke kelasku." Tambahnya lirih.
"Masalah dengan hal itu, Naruto?"
"Sebenarnya tidak," tukas Naruto lirih. "Hanya saja, entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak," katanya setengah berbisik. "Kakak, kapan Kakak mulai mengajar?"
"Senin depan," jawab Kurama.
"Kakak benar-benar akan tinggal di asrama?"
"Begitulah," jawab Kurama cepat. "Dan kapan kau akan kembali ke sekolah. Kulihat luka-lukamu sudah hampir sembuh."
"Jumat sore, aku akan kembali ke asrama. Karena hari Sabtu nanti aku harus melatih murid-muridku di dojo."
Kurama menatap Naruto dengan satu alis terangkat. "Murid?"
"Yeah... aku memiliki tiga orang murid yang berlatih judo, dua kali dalam seminggu. Dan biasanya kami berlatih di dojo Kakek setiap hari Sabtu," jelasnya.
"Kalau begitu, Kakak akan mengantarmu Jumat sore nanti. Hari Minggu kita akan berziarah ke makam Ayah dan Ibu. Setelah dari sana bantu aku membereskan rumah dinas yang akan aku tempati."
Mengangguk pelan, Naruto menjawab. "Ok. Tapi ingat, Kak. Kakak harus bisa menjaga rahasiaki. Jangan sampai mereka tahu jika usiaku sudah dua puluh dua tahun saat ini." Katanya, dengan suara mengancam.
"Tenang, rahasiamu aman!" tukas Kurama seraya mengisyaratkan mulut yang tergembok rapat. "Untuk kali ini, Kakak yang akan membayar makan siang kita. Jadi, makanlah yang banyak!"
"Sungguh?" tanya Naruto dengan mata berbinar riang.
Kurama hanya mengangguk kecil dan tersenyum lembut menatap Naruto. "Hanya untuk kali ini, lain kali kau yang harus membayar, Naruto."
"Baik, tapi dengan syarat," tukas Naruto agak keras. "Aku yang memilih tempat dan menu," katanya serius hingga Kurama lagi-lagi tergelak melihat tingkah adik semata wayangnya tersebut.
.
.
.
Semburat jingga sudah menghiasi langit yang tadinya berwarna biru saat mobil yang dikendarai oleh Kurama tiba di asrama. Kurama menekan pedal remnya pelan, dengan lihai menghentikan kendaraannya di halaman depan asrama putri. "Terima kasih sudah mengantarku," ucap Naruto sementara Kurama mendaratkan kecupan sayang tepat di kening gadis itu.
"Jangan membuat masalah selama di asrama, ok?" Kurama berkata tegas.
Naruto menghela napas dan menatap kakaknya tidak percaya. "Memangnya aku bisa berbuat apa?"
Kurama mengendikkan bahu. "Entahlah," katanya, santai. "Hanya kau dan Tuhan yang tahu," godanya dengan senyum tipis.
"Dasar menyebalkan!" gerutu Naruto, dengan delikan sebal. "Ah, jangan lupa, hari Minggu nanti jemput aku jam delapan tepat!"
"Kau sudah mengingatkannya untuk keseribu kali, tenang saja Kakak tidak akan lupa," ujar Kurama menepuk dadanya keras. "Pergilah, cepat masuk ke asrama. Sudah hampir jam malam."
"Hm... Sampai jumpa, Kak!" ucap Naruto seraya menutup pintu mobil milik Kurama pelan.
Kurama membuka kaca jendela dan membalas pelan. "Sampai jumpa, Naruto-chan!"
Naruto melambaikan tangan untuk sesaat hingga kendaraan Kurama pergi. Gadis itu lalu berbalik, dan berjalan cepat, masuk ke dalam asrama putri.
Dari kejauhan, Itachi memicingkan mata, meyakinkan diri jika yang dilihatnya adalah gadis yang sama, yang dia lihat tempo hari. "Aku tidak mungkin salah," ia berbisik lirih. "Yah, gadis itu adalah gadis yang datang bersama Kurama tempo hari." Itachi menutup mulutnya yang hendak berteriak kaget. "Dia masih SMA? Kurama berkencan dengan gadis SMA? Dan gadis itu murid KHS? Tapi kelas berapa? Kenapa aku tidak pernah melihatnya, apa aku ikuti saja?" Itachi meracau tidak jelas dengan raut wajah bimbang, dirinya bingung apa harus mengikuti Naruto ke dalam asrama putri. "Sudahlah Itachi, lupakan saja. Lagipula untuk apa aku mengikuti gadis itu," ujarnya kemudian sembari menghembuskan napas panjang dan memilih untuk berlalu pergi.
.
.
.
Naruto memutar kunci pintu kamar miliknya, membuka pintu dan melenggang masuk ke dalam dengan santai. Tangannya meraba ke bidang dinding dimana saklar lampu berada, kamarnya yang gelap menjadi terang saat lampu menyala. "Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanyanya kemudian, tanpa melirik sosok Sasuke yang saat ini berbaring dengan nyaman di atas tempat tidur miliknya.
Sasuke mendudukkan diri, satu alisnya terangkat saat berkata, "tidak terkejut aku berada di sini?" ia balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.
"Apa aku harus terkejut?" Naruto menyimpan jaket yang di kenakannya ke dalam lemari dan menaruh tas tangannya di atas meja belajar, sementara Sasuke kembali bergerak, merubah posisinya untuk duduk di tepian tempat tidur. "Kau dari mana? Kenapa telepon genggammu tidak aktif?" tanyanya berusaha untuk tetap bersikap tenang, padahal dalam pikirannya sudah berkecamuk seribu pertanyaan yang siap dilontarkan pada Naruto saat ini.
"Ada keperluan keluarga mendadak," jawab Naruto sekedarnya. "Kenapa Sasuke, merindukanku?" goda Naruto dengan binar mata jail.
Pemuda itu berdiri dan berjalan pelan mendekati Naruto. "Menurutmu?" ucapnya ketus. "Jangan terlalu percaya diri, Dobe. Aku hanya merasa sedikit bosan." Ia bersidekap. "Tidak ada yang bisa aku ganggu selama kau tidak ada," katanya beralasan.
"Ck, kau pikir aku ini apa? Bahan bully-an?" Naruto memberikan tatapan mematikan terbaiknya.
Hah, Sasuke tidak mungkin mengatakan jika dia begitu khawatir, sekaligus rindu pada Naruto. Tidak, harga dirinya yang tinggi tidak mengijinkannya untuk mengutarakan apa yang ada di pikirannya saat ini. "Setidaknya kau sudah kembali," kata Sasuke mengulum senyum dan berjalan semakin mendekat. Pemuda itu mengernyit, terkejut saat melihat bekas memar yang terlihat samar di pipi kanan Naruto. "Kau terluka?" tanyanya dengan nada khawatir sementara tangannya mengelus bekas memar itu lembut.
"Ah, hanya kecelakaan kecil." Jawab Naruto datar, mencoba menjauhkan diri dari jangkauan Sasuke. "Aku sudah lebih baik sekarang," tambahnya lagi. "Sasuke, aku mau istirahat. Lagipula ini sudah malam, lebih baik kau kembali ke kamarmu." Naruto beringsut masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu. Beberapa detik kemudian pintu kembali terbuka, kepala Naruto keluar dan menatap tajam ke arah Sasuke yang masih berdiri di tempatnya. "Tinggalkan kunci yang kau pakai untuk masuk ke dalam kamarku. Membuat duplikat kunci tanpa ijin itu tindakan kriminal!"
"Aku tidak peduli," Sasuke menjawab santai dan mengangkat kedua bahunya cuek. Pemuda itu berjalan keluar dari dalam kamar Naruto, meninggalkan Naruto yang kini nampak begitu kesal karena ucapan cueknya.
Setelah kepergian Sasuke, Naruto memilih untuk berendam air hangat, malam itu. Tubuhnya yang masih terasa pegal dan sakit di beberapa bagian menjadikannya alasan untuk berendam air hangat. Gadis itu beranjak ke dapur mini setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Makan siang tadi ternyata tidak cukup mengganjal perutnya hingga malam, karena kini perutnya kembali berbunyi minta diisi. Akhirnya ia membuat secangkir teh dan sepotong sandwich.
Gadis itu menggigit sandwich dan menyesap minumannya dengan cepat. Tangannya yang terampil mengetik sebuah email yang dikirim pada ketiga muridnya, mengatakan untuk berkumpul di gerbang sekolah pukul tujuh pagi, besok. Tidak memerlukan waktu lama untuk mendapat balasan email dari ketiganya. Naruto mengulum senyum saat membaca balasan email dari ketiganya yang mengatakan jika mereka dalam kondisi prima untuk berlatih besok dan tidak sabar untuk bertemu kembali dengan Naruto.
"Berlebihan," ia bergumam kecil sembari memasukkan potongan terakhir sandwich ke dalam mulutnya. Gadis itu melakukan ritual kecil, mengompres seluruh wajahnya dengan es, dan setelah selesai dia beranjak untuk tidur.
.
.
.
Pagi pun datang dengan cepat setelahnya.
"Naruto?" suara cempreng itu memecah keheningan di asrama putri pagi ini. Naruto berbalik ke arah sumber suara setelah mengunci pintu kamarnya dengan suara klik pelan. "Kau sudah kembali," teriak Ino menimpali Karin. Hinata berjalan terburu-buru di belakang keduanya yang nampak begitu antusias saat melihat sosok Naruto pagi ini.
"Kau kemana saja?" Karin berkacak pinggang memasang wajah serius. "Kau membuat kami cemas, telepon genggammu bahkan tidak aktif sama sekali."
"Maaf," sahut Naruto yang saat ini sudah gaya dengan setelan baju trainingnya. "Ada keperluan keluarga mendadak, telepon genggamku rusak." Ia kembali berbohong, kedua jari telunjuk dan jari tengahnya disilang di belakang punggung.
"Kau benar-benar membuat kami cemas," tegur Ino agak keras. "Ngomong-ngomong kau mau kemana?" tanyanya lagi, menilai penampilan Naruto dari atas hingga bawah.
"Biasa, olahraga rutin." Jawab Naruto pendek.
"Setelah jam makan siang, kami akan berkumpul di cafe biasa, mau ikut?" tawar Hinata yang kini ikut buka suara.
Naruto nampak berpikir, menimbang-nimbang apa dia harus ikut ketiga temannya ini. "Ayolah, Naruto...!" mohon Karin. "Sudah lama kita tidak main bersama. Setelah dari cafe kita bisa jalan-jalan ke mall dan belanja. Please...!"
Naruto menghela napas panjang. "Baiklah," katanya kemudian, menyerah kalah. "Aku akan menemui kalian disana, selesai jam makan siang. Ok?"
Ketiganya tersenyum ceria dan menjawab kompak, "ok."
"Baiklah, sekarang aku harus pergi. Sampai nanti!" ujar Naruto seraya berjalan pergi sementara ketiga temannya melambaikan tangan mengantar kepergiannya.
.
.
.
Naruto berjalan cepat menuju gerbang sekolah. Ketiga calon muridnya sudah berdiri dan terlihat tidak sabar menunggu kedatangannya.
"Ojou!" sambut ketiga pemuda itu sembari membungkuk hormat untuk menyambut kedatangan Naruto.
Gadis itu berdecak lalu memukul kepala ketiganya dengan keras. "Sudah berapa kali aku bilang, jangan bersikap seperti ini! Kalian terlalu berlebihan," desisnya sembari menatap ketiganya nyalang," jika ada orang yang lihat, mereka akan berpikir jika aku ini putri seorang yakuza."
"Maaf," sahut ketiganya seraya mengelus kepala masing-masing yang berdenyut sakit akibat pukulan tangan Naruto.
Gadis itu menghela napas panjang dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Jadi, kalian sudah menyiapkan diri untuk latihan hari ini?"
"Ya!" jawab ketiganya kompak dengan punggung tegak.
Naruto tersenyum penuh misteri. "Bagus," katanya datar. "Karena aku juga sudah menyiapkan diri untuk menebus ketidakhadiranku," tambahnya dengan seringai mengerikan. Ketiga pemuda itu hanya bisa menatap horor pada Naruto. Tubuh ketiganya merinding, nyali mereka sedikit ciut saat mendengar nada mengancam dari sensei-nya itu. "Tunggu apa lagi, cepat lari!" kata Naruto tegas dan menggiring ketiganya untuk berlari menuju dojo tempat mereka berlatih hingga tengah hari nanti.
.
Benar saja, Naruto benar-benar membuktikan ucapannya pagi tadi. Dengan ekspresi mengejek dia berkata, "bukankah kalian bilang jika kalian sedang dalam stamina prima untuk berlatih hari ini?" ujarnya sembari melihat ketiga muridnya yang terkapar tidak berdaya diatas tatami.
Napas ketiga pemuda itu putus-putus, peluh membasahi tubuh ketiganya, mereka sudah tidak mampu bergerak. Naruto begitu ganas hari ini dan entah berapa kali, Naruto membanting tubuh ketiganya tanpa ada rasa sungkan ataupun belas kasih. "Sensei, Anda benar-benar kejam," Shino berkata pelan.
"Jika aku kejam, kalian pasti sudah mati saat ini." Balas Naruto tajam. "Diluar sana, musuh tidak akan memberi kalian belas kasihan. Mereka hanya akan berpikir bagaimana cara untuk menang. Jadi, berhenti merengek dan berjuanglah, hingga kalian bisa mengalahkanku nanti dan pada akhirnya kalian akan mampu untuk melindungi orang-orang yang kalian sayangi."
Ketiganya hanya terdiam, mencerna apa yang dikatakan oleh gurunya.
Gadis itu kembali menghela napas panjang dan menatap ketiga muridnya. "Tapi, aku tidak bisa memungkiri. Kalian murid yang hebat." Ketiga muridnya kembali mengulum senyum lebar mendengar pujian Naruto. "Aku senang karena kalian memiliki semangat untuk belajar dan pantang menyerah. Latihan hari ini cukup sampai disini. Cepat ganti pakaian dan segera kembali ke asrama, mengerti?"
"Bolehkah kami istirahat sebentar disini?" pinta Chouji yang bahkan tidak sanggup untuk bangun dan duduk.
"Terserah," kata Naruto. "Aku ada janji, aku pergi dulu. Dan ingat, setelah ini kembali ke asrama dan istirahat!"
"Baik..." Jawab ketiga pemuda itu tidak bertenaga.
Naruto tersenyum, sedikit menyesal karena dia terlalu keras terhadap ketiganya hari ini. Ia lalu berbalik pergi untuk berganti pakaian, meninggalkan ketiganya yang masih terkapar tidak berdaya.
.
.
.
Setelahnya ia pulang ke apartemen miliknya yang kosong untuk berganti pakaian. Ia memanggil Kurama beberapa kali, namun ternyata kakaknya itu tidak ada di apartemen, siang ini. "Kemana dia?" ia melirik ke arah jam dinding dan terkesiap kaget, jam sudah menunjukan pukul setengah satu. "Shit, aku terlambat!" umpatnya yang kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri dengan kilat dan menyambar pakaian ganti. Naruto memakai hotpants berbahan jeans belel dipadankan dengan tanktop putih dan blazer berwarna merah gelap yang terlihat trendi. Naruto mengenakan high-top sneaker berwarna senada dengan blazer untuk membungkus kaki jenjangnya.
Wanita muda itu lalu memeriksa penampilannya di depan cermin dan tersenyum puas, makeup tipis yang dikenakannya menambah segar penampilannya siang ini. "Aku seperti mau pergi kencan," dengusnya dengan gelengan kepala pelan. Mengambil napas pendek, ia menyambar sebuah kaca mata hitam bermerk Versace dan sebuah tas selempang yang juga berwarna hitam. Setelah merasa puas dengan penampilannya, ia pun segera pergi menuju cafe tempat dia berjanji untuk bertemu dengan Ino, dkk.
Perjalanan menuju cafe memerlukan waktu hampir setengah jam lamanya. "Maaf, aku terlambat." Ia membuka kaca mata hitamnya lalu menyampirkan pada bagian depan tanktop yang dikenakannya.
"Wow, Naruto, you're so hot right now in those hot pants," puji Karin nampak terpukau, Ino dan Hinata mengibaskan tangan di depan mereka saat melihat penampilan Naruto saat ini.
"Dengan penampilan seperti itu, kau bisa membuat semua laki-laki normal bertekuk lutut," timpal Ino.
"Kalian terlalu berlebihan," sahut Naruto yang sudah duduk di samping Karin. Naruto melambai ke arah pelayan dan memesan segelas espresso dan sepotong strawberry short cake.
"Kita tidak berlebihan, lihat!" Karin melirik ke sejumlah pengunjung pria yang kini menatap Naruto dengan pandangan kagum. "Seluruh perhatian pengunjung pria tertuju padamu," ucap Karin setengah berbisik dan tertawa geli saat seorang wanita menjewer telinga kekasihnya dan menariknya keluar cafe secara paksa. "Lihat, dia korban pertamamu."
"Oh, ayolah ini musim panas, jadi wajar jika aku memakai hotpants." Kata Naruto, dia mengangguk kecil, berterima kasih saat pelayan membawa pesanan yang dia minta.
"Aku menyukai kaki jenjangmu," kata Ino serius.
"Aku juga sama," timpal Karin, membuat Naruto sedikit tersipu dan salah tingkah karena merasa tersanjung. "Apa kau akan pergi berkencan setelah ini?"
"Tidak ada kencan," Naruto menjawab pertanyaan Hinata cepat. "Aku kesini karena undangan kalian, ingat?" Naruto menyesap espresso miliknya dengan nikmat.
Keempatnya sejenak berhenti bicara untuk menikmati pesanan mereka masing-masing hingga akhirnya Ino memasang ekspresi serius dan berkata, "ngomong-ngomong, apa kalian sudah dengar gosip terbaru?"
"Gosip apa lagi, Ino?" Karin nampak antusias sementara Hinata hanya mengaduk-aduk minuman dingin miliknya. "Aku dengar hubungan Sakura dan Tenten semakin memburuk." Ujar Ino.
"Ck, kalau tentang itu aku sudah tahu," sahut Karin terdengar bosan. Hinata mengangguk kecil sedangkan Naruto yang memang tidak tahu hanya bisa memiringkan kepala, tidak percaya. Bagaimana pun, Sakura dan Tenten tidak pernah terpisahkan. Dan rasanya mustahil jika hubungan persahabatan mereka kini retak.
"Tapi, apa kalian sudah tahu alasan keretakkan hubungan mereka?" tanya Ino mengulas senyum lebar. Ketiganya hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Ino. Gadis blonde itu meminta ketiganya mendekat dan berbisik pelan. "Aku dengar, perusahaan ayah Tenten bangkrut."
"Apa? Tenten bangkrut?" jerit Karin keras.
"Ssttt..." Ino membekap mulut Karin dengan cepat. "Jangan mengatakannya terlalu keras!" tegur Ino tajam.
"Maaf," sahut Karin setengah berbisik setelah Ino melepaskan bekapannya.
"Kau tahu dari mana?" tanya Naruto.
"Aku dijuluki ratu gosip bukan tanpa alasan," sahut Ino bangga. Demi Tuhan, siapa lagi yang bisa merasa bangga karena mendapat gelar seperti itu?
Setidaknya kau masih belum tahu jati diriku, Naruto berkata dalam hati dan menghela napas panjang.
"Karena hal itulah hubungan mereka berdua memburuk," Naruto kembali memfokuskan diri untuk mendengar sisa cerita Ino.
"Sakura itu memang menyebalkan," desis Karin. "Dia tidak mau berteman dengan golongan menengah, apalagi kelompok bea siswa."
"Sepertinya itu memang sudah menjadi sifatnya," timpal Hinata.
Ino kembali menatap ketiganya serius dan berbisik pelan. "Aku juga mendengar kabar tidak sedap lainnya," katanya seranya melirik ke arah kiri dan kanan, melihat keadaan, takut jika ada murid KHS lain disana. "Beberapa orang melihat Tenten sedang menggoda pria berumur di depan Love Motel." Lapornya pelan.
Karin dan Hinata terbelalak, tidak percaya dan menutup mulut mereka dengan telapak tangan.
"Jangan bercanda!" tegur Naruto.
"Sebenarnya aku juga tidak yakin dengan penglihatanku," jawab Ino pelan.
Naruto, Karin dan Hinata menekuk wajahnya. Menggeser posisi duduknya agar semakin dekat pada Ino. "Maksudmu, kau juga pernah melihatnya?" tanya Naruto.
Ino mengangguk kecil dan menghela napas panjang. "Tapi penampilannya berbeda," sahut Ino. "Dia memakai wig berwarna gelap dan pakaiannya seperti wanita nakal."
"Mungkin hanya mirip," sahut Hinata sembari melambaikan tangannya di depam wajahnya. "Aku mungkin tidak menyukai Tenten, tapi, rasanya tidak masuk akal jika dia sampai menjual diri."
"Aku setuju," timpal Karin dengan ekspresi serius.
Sementara itu, Naruto terlihat berpikir begitu serius. "Kapan dan dimana kau melihatnya, Ino?" tanyanua dengan nada serius.
"Kemarin malam, di sekitar daerah selatan." Jawab Ino. "Kenapa kau begitu tertarik?"
"Hanya sedikit penasaran," jawab Naruto ringan, menutup pembicaraan mengenai Tenten.
Setelah itu, mereka kembali bergosip tentang beberapa murid KHS. Merasa bosan, mereka memutuskan untuk pergi ke mall, menonton film horor di bioskop dan berkeliling mall untuk belanja hingga lupa waktu.
"Ya ampun, sudah jam sembilan." Seru Karin panik. "Kita harus cepat kembali," tambahnya lagi semakin panik.
"Tenang Karin, seperti baru pertama kali keluar saja," Ino memutar kedua bola matanya.
"Apa kau lupa saat terakhir kita keluar asrama? Kita hampir celaka," cicit Karin merinding ngeri.
"Tenang saja, ada Naruto bersama kita." Hinata mengulum senyum kecil dan melirik ke arah Naruto.
"Ya, anggap saja aku sebagai bodyguard kalian untuk malam ini," sahutnya datar, membuat ketiga temannya terkikik geli.
Mereka berempat berjalan dengan cepat keluar dari mall. Angin musim panas meniup tubuh mereka saat keempatnya keluar dari mall. Masing-masing membawa beberapa tas belanja di kedua tangannya.
"Aku lapar," tukas Karin tiba-tiba. "Bagaimana kalau kita mampir ke cafe dulu?"
"Ck, bukankah tadi kau bilang ingin cepat kembali?" Ino menjawab ketus.
"Tapi aku lapar," cicit karin lagi.
"Ada kedai ramen enak di dekat sini, bagaimana kalau kita mampir ke sana sebentar?" tawar Naruto yang dijawab anggukan setuju ketiganya. Mereka berempat mengisi perut di Ichiraku ramen dan keluar dari sana dengan perut terisi penuh. Mereka kembali berjalan pulang dengan diiringi obrolan ringan, sesekali tawa renyah terdengar dari mulut keempatnya. Namun obrolan dan tawa itu terhenti saat keempatnya melihat seorang gadis yang berlari ketakutan karena dikejar tiga orang pria. "Kalian pulanglah lebih dulu, aku akan mengejar gadis itu." Ucap Naruto menyerahkan tas belanjaannya pada Hinata.
"Sepertinya berbahaya, Naruto." Kata Hinata cemas.
"Gadis itu juga dalam keadaan bahaya," sahut Naruto. "Dia lari ke arah yang salah, disana hanya ada lorong buntu yang gelap. Dia bisa tertangkap," tambahnya lagi. Naruto berbalik dan menatap ketiganya. "Kalian masuk ke asrama melalui jalan biasa, ingat langsung kembali ke asrama. Aku akan menghubungi kalian jika aku sudah pulang. Mengerti?"
Ketiganya hanya bisa mengangguk, tanpa bisa membantah ucapan Naruto yang begitu tegas. Tanpa menunggu lama, Naruto segera berlari ke arah gadis dan beberapa pria pengejarnya. Dan benar dugaan Naruto, gadis itu terpojok di ujung lorong buntu, hanya ada sinar bulan yang membantu penglihatan Naruto saat ini. Gadis itu terisak, tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan. Suara tawa puas melengking, terdengar begitu memuakkan. Kedua tangan Naruto mengepal, dia tahu akan apa yang akan terjadi selanjutnya jika tidak ada seseorang yang menolong gadis itu saat ini.
"Mau lari kemana, pelacur brengsek!" umpat salah satu pria itu kasar. Tubuh gadis itu beringsut, berusaha menjauh dari ketiga pria yang berdiri menjulang di hadapannya. "Kau pikir, kau bisa lari setelah membawa uangku, hah?!" tambahnya marah. "Kau harus memberikan tubuhmu sebelum meminta bayaran," pria lain menimpali dan tertawa keras. "Kami akan menghukum-mu," tambah pria satunya lagi menyeringai jahat.
"Jangan mengganggunya!" Naruto mengiterupsi.
Ketiga pria itu menoleh ke arah Naruto, menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas. "Sepertinya malam ini kita sedang beruntung," kata pria pertama seraya menjilat bibir keringnya. "Kita bisa menjual mereka, setelah memuaskan diri." Katanya jahat.
Naruto membuang muka dan menghela napas pendek. "Hentikan pikiran kotor kalian, atau kalian akan menyesal." Serunya penuh ancaman.
Namun ketiga pria itu malah tertawa keras, menganggap ucapan Naruto sebagai lelucon yang sangat lucu. "Jangan main-main gadis cantik, kemarilah, aku akan memberimu kenikmatan dunia." Katanya menyeringai mesum dan mencoba untuk menyentuh Naruto dengan tangannya yang kasar.
Naruto menepis tangan pria itu, memelintirnya ke belakang, dan menendang bagian belakang lutut pria itu hingga dia bertekuk lutut dan mengerang kesakitan. Sepertinya tulang kakinya patah, karena Naruto menendangnya begitu keras.
"Brengsek!" umpat pria kedua mencoba untuk menghajar Naruto dengan kepalan tangannya.
Naruto melepas kunciannya pada pria pertama lalu menendang punggung pria itu keras hingga pria itu terjerembab keras mencium tanah. Ia menangkis pukulan pria kedua dengan mudah, melayangkan tendangan telak pada daerah dagu. Saat pria itu terhuyung dan sedikit membungkuk, ia menjadikan punggung pria itu sebagai pijakan dan melayangkan tendangan tepat pada ulu hati pria ketiga.
Naruto kembali membanting tubuh pria kedua, saat pria itu menyerangnya dan mencoba mengunci lehernya dari belakang. Bunyi debaman keras terdengar saat tubuh pria itu mencium tanah. Erangan kesakitan kembali terdengar dari mulut pria kedua, memecah sunyi malam. Napas Naruto memburu, tubuhnya kembali memasang kuda-kuda. Matanya melihat dengan siaga, ketiga pria itu sudah tersungkur, babak belur, dengan kondisi parah. Ketiganya bahkan sudah tidak sanggup untuk berdiri. Naruto menghela napas panjang lalu menarik tangan gadis yang masih ketakutan itu untuk pergi dari lokasi.
Ia terus berjalan dengan langkah cepat, sementara suara isakan kecil terdengar dari mulut gadis yang dibawa olehnya.
.
.
.
Merasa cukup aman dan jauh dari lokasi kejadian, Naruto melepaskan genggamannya lalu menatap gadis itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Gadis yang ditolongnya itu pun mendongak untuk melihat dengan jelas siapa penyelamatnya.
"Tenten?" Naruto berseru kaget, ternyata yang diselamatkannya adalah Tenten. Pantas saja ia tidak mengenalinya sejak awal. Tenten memakai riasan tebal dan wig berwarna merah menyala saat ini. Pakaiannya begitu minim dan terlihat seperti pelacur murahan. "Apa yang kau lakukan dengan penampilan seperti ini?"
"Na-Naruto?" ucap Tenten terbata, dirinya juga tidak kalah kaget saat ini, tubuhnya kembali bergetar karena gugup bercampur takut. Penerangan yang temaram di lorong tadi tidak terlalu membantu penglihatannya. Dia juga menunduk sepanjang jalan, saat Naruto menariknya pergi menjauh dari lokasi itu.
"Oh, Tuhan." Naruto bergumam dengan gigi gemertak dan memijat keningnya pelan. "Kau tahu apa yang bisa terjadi jika aku tidak ada?" tanyanya. Tenten kembali menunduk dan mengangguk kecil. "Bagus, aku harap dengan pengalaman itu, kau bisa bertindak lebih hati-hati!" Naruto berdecak dan berkacak pinggang. "Dan lagi, apa-apaan penampilanmu itu. Kau seperti. Kau seperti-" Naruto tidak mampu melanjutkan perkataannya yang kasar.
"Pelacur?" sahut Tenten dengan suara bergetar menahan tangis.
"Maaf jika aku kasar, kau memang terlihat seperti itu saat ini." Tukas Naruto sedikit melunak.
Tenten menggelengkan kepala keras dan berkata lirih. "Tidak apa-apa, aku memang sedang berperan sebagai seorang pelacur saat ini," katanya tersenyum miris.
Naruto menghela napas panjang. "Kita harus mengganti pakaianmu sebelum kembali ke asrama, apa kau membawa pakaian ganti?" Tenten mengangguk pelan. "Bagus, sebaiknya kita mencari tempat untuk mengganti pakaianmu."
Dia pun mengantar Tenten ke sebuah cafe untuk meminjam toilet, dan menunggu dengan sabar di depan pintu toilet.
Tenten segera mengganti pakaiannya, membersihkan semua make up yang menempel pada wajahnya.
"Kau terlihat jauh lebih baik," kata Naruto saat Tenten keluar dari dalam toilet. Tenten tersenyum kecil, membuang pakaian dan wig yang dipakainya ke dalam tempat sampah sebelum mengekori Naruto keluar dari dalam cafe. Mereka bersyukur karena cafe sedikit sepi malam ini, hingga mereka tidak menjadi bahan sorotan karena penampilan awal Tenten tadi.
"Terima kasih, kau sudah menolongku tadi." Kata Tenten tulus, mereka berjalan berdampingan untuk pulang menuju asrama.
"Sama-sama," balas Naruto pendek.
Tenten melirik ke arah Naruto gugup. "Apa kau tidak ingin tahu kenapa aku dikejar mereka?" Naruto diam tidak menanggapi. "Perusahaan ayahku bangkrut," Tenten mulai bercerita tanpa diminta. "Bank dan kreditor bahkan sudah menyegel rumah dan isi rumah kami, karena itu aku terpaksa harus membiayai kebutuhanku sendiri."
"Dengan cara seperti ini?" Naruto bertanya dengan nada tenang. Tenten tersenyum dan mendongakkan kepala menatap langit malam. "Hanya ini yang bisa aku lakukan, aku menyamar menjadi pelacur, menggaet pria hidung belang, memberi obat tidur pada minuman mereka dan menguras isi dompet sebelum mereka sadar dan melakukan sesuatu padaku." Jelasnya panjang lebar.
"Kau benar-benar bodoh!" kata Naruto dingin.
"Aku tahu," sahut Tenten membenarkan. "Seperti hari ini, aku tidak ingat jika aku pernah menipunya. Dan ternyata kali ini dia menjebakku dengan membawa dua orang temannya. Padahal aku selalu berpindah tempat agar sulit dilacak oleh korban-korbanku. Tapi ternyata, hari ini adalah hari sialku."
"Hari ini kau bisa saja diperkosa dan mati menyedihkan, dibunuh oleh mereka." Kata Naruto dingin.
"Karena itulah aku sangat berterima kasih padamu," ucap Tenten. "Dari mana kau belajar bela diri, kau benar-benar hebat. Apa kau juga bisa menggunakan senjata untuk bertarung?" Tenten nampak tertarik.
"Kau baru saja mendapat musibah, tapi sepertinya kau sudah melupakannya dengan cepat."
Tenten mengangkat bahu acuh.
"Jangan bilang jika kau akan kembali mengerjakan pekerjaan seperti tadi, itu berbahaya!" kedua mata Naruto menyipit menatap Tenten.
"Aku tidak akan melakukannya lagi," sahut Tenten, berjanji. "Tapi mungkin aku harus keluar sekolah karenanya."
"Jangan putus asa seperti itu," hibur Naruto dengan nada satu oktaf lebih tinggi. "Aku akan mencari cara agar kau bisa bertahan di sekolah."
"Kau benar-benar baik. Padahal aku tidak pernah bersikap baik padamu." Ujar Tenten menyesal. "Ah, kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau bisa menggunakan senjata untuk bertarung?"
"Sedikit," jawab Naruto berdusta. "Kenapa?"
"Ayahku memiliki koleksi senjata untuk bertarung, jika bertemu, aku yakin kalian berdua bisa cocok."
"Kau tidak membenci ayahmu?"
"Untuk apa?" Tenten menatap Naruto lurus. "Kurasa ini takdir, siapa yang bisa melawan takdir Tuhan?"
"Benar," beo Naruto. "Siapa yang bisa melawan takdir Tuhan?" Keduanya berjalan dalam diam, hingga akhirnya mereka sampai di depan tembok pagar asrama. "Kenapa kita tidak masuk lewat jalan biasa?" tanya Tenten bingung saat keduanya sampai di depan pagar tembok KHS.
"Memakan waktu," jawab Naruto yang kemudian melirik ke jam tangan yang terpasang apik di pergelangan tangan kirinya. "Sebentar lagi pengawas akan berkeliling, kita tidak memiliki banyak waktu untuk memutar dan masuk melalui saluran air yang panjang."
"Tapi bagaimana cara kita masuk?" Tenten semakin bingung.
"Lompat!"
"Apa?!"
"Kita akan melompati tembok ini," Naruto menunjuk ke arah tembok.
Tenten tertawa renyah dan kembali menatap Naruto serius. "Jangan bercanda, tembok itu terlalu tinggi."
"Aku tidak bercanda," sahut Naruto. "Kau akan naik ke pundakku dan melompat naik."
"Lalu bagaimana caramu naik?"
"Dia akan melompat naik seperti monyet," sahut Kiba dari arah belakang Naruto. "Bukan begitu, Nona Namikaze?" sindir Kiba tajam.
"Ck, kenapa aku selalu bertemu kalian di saat-saat seperti ini?" Naruto menoleh ke belakang, mendesis sebal.
Gaara menyeringai menatap Naruto. "Sepertinya mataku sudah rusak, tapi, kau terlihat manis malam ini."
Naruto memutar kedua bola matanya dan menjawab ketus. "Aku memang selalu tampil manis, matamu memang sudah rusak dari awal."
Shikamaru yang berjalan di belakang Gaara angkat bicara. "Ini sudah malam, sebaiknya kita cepat masuk."
"Kenapa kau berpakaian seperti itu?" tanya Sasuke, mengabaikan ucapan Shikamaru. Pemuda itu menatap Naruto dengan dingin.
"Kencan," jawab Naruto asal.
"Hwaaaaa...?" teriak Shikamaru, Gaara, Neji dan Kiba bersamaan tanpa melihat wajah Sasuke yang mengeras dan kedua tangannya terkepal kuat.
"Siapa lelaki kurang beruntung itu?" tanya Kiba kurang ajar. "Dan bagaimana kalian bisa bersama?" sejenak Kiba mengalihkan pandangannya pada Tenten.
"Kami tidak sengaja bertemu saat pulang," jawab Naruto tidak menjelaskan secara detail.
"Kuberi tahu satu hal padamu, Tenten," Gaara terlihat serius. "Jangan berurusan dengan Naruto, hal itu bisa membuatmu sial. "Awwwww!" Gaara mengaduh sakit saat Naruto menginjak kakinya kencang.
"Sebenarnya, Naruto menyelamatkanku," kata Tenten tertunduk.
"Menyelamatkan-mu?" tanya Neji tertarik.
"Penguntit," Naruto memotong tajam. "Ada seorang pria yang menguntit Tenten," tambahnya lagi dan melayangkan tatapan penuh arti pada Tenten. "Sebaiknya kita berhenti bergosip dan lekas masuk. Sepuluh menit lagi penjaga akan berkeliling." Katanya mengingatkan. "Kiba jongkok!" perintah Naruto tegas.
"Untuk ap-" Kiba bahkan tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena Naruto menendang pelan bagian dalam lutut pemuda itu hingga dia jatuh berjongkok. "Naik!" Naruto menatap Tenten yang terlihat ragu dan sungkan. "Cepat naik!" kata Naruto lagi.
Tenten membungkuk ke arah Kiba dan berucap lirih. "Maaf!" katanya serak pada Kiba dan segera naik ke atas pundaknya.
"Ouchhh, kau berat sekali Tenten," keluh Kiba.
"Jangan berteriak!" desis Naruto.
Gaara hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah laku Naruto. Sementara Shikamaru dan Neji bersyukur dalam hati karena bukan mereka yang harus menjadi korban kesewenang-wenangan Naruto, sedangkan Sasuke masih menatap Naruto dengan sinis.
"Sekarang kau berdiri, Kiba! Pelan-pelan, Tenten bisa jatuh," tukas Naruto. Kiba hanya bisa pasrah dan menuruti permintaan Naruto dengan kesal. "Tenten, sekarang raih bagian atas tembok. Kami akan mendorongmu untuk naik. Setelah itu, panjat ranting pohon di belakang tembok untuk turun, mengerti?" Tenten segera mengangguk, mengerjakan perintah Naruto.
"Apa yang kalian tunggu, cepat naik!" kata Naruto setelah Tenten berhasil naik.
"Aku ingin melihat caramu memanjat tembok," sahut Kiba.
Naruto mengernyit dan mendengus sebal. Gadis itu mengambil ancang-ancang, berlari dan memanjat tembok dengan mudah. Kiba, Gaara, Neji dan Shikamaru hanya bisa menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Kiba menggelengkan kepala, mengembalikan kesadarannya dan berkata lantang. "Apa kubilang, dia pasti keturunan monyet."
"Hn," tanggap Sasuke yang segera mengikuti langkah Naruto. Disusul oleh Neji, Shikamaru, Gaara dan Kiba yang sedikit kesulitan untuk memanjat naik.
Naruto meletakkan jari telunjukknya di depan mulut dan memberikan tanda pada kelima pemuda itu untuk diam dan bersembunyi. Tidak jauh dari tempat mereka sembunyi, dua orang pengawas asrama berjalan dan mengarahkan lampu senter ke segala arah. Ketujuhnya terus bersembunyi, menutup mulut rapat hingga kedua pengawas itu pergi menjauh.
"Kita harus segera pergi dari sini," Naruto berbisik pelan. Ketujuhnya saat ini masih jongkok dengan posisi berjajar.
Sasuke yang berada disamping Naruto berkata pelan dan tajam. "Urusan kita belum selesai, Naruto."
"Sejak kapan urusan kita sudah selesai?" Naruto balas menantang. "Jangan coba-coba masuk ke kamarku, karena aku akan menguncinya dari dalam." Tambahnya pelan, Naruto segera berdiri setelahnya dan melangkah pergi, menarik Tenten bersamanya. Mereka terus mengendap-endap, hanya tinggal beberapa meter lagi, mereka akan masuk gedung asrama putri.
"Kenapa kalian masih berada di luar asrama?" Naruto dan Tenten berdiri kaku saat mendengar suara galak dari arah belakang mereka. Naruto menggigit bibir bawahnya dan melirik ke arah Tenten yang sama gugupnya.
"Berbalik, sebutkan nama dan kelas kalian!"
"Anda tidak tahu siapa kami?" Naruto mengubah sedikit nada suaranya agar tidak dikenali.
"Jangan banyak bertanya dan berbalik agar aku bisa melihat kalian!"
Naruto melirik ke arah Tenten, seolah memberi sinyal dan saat Naruto menganggukkan kepala, keduanya pun berlari kencang, masuk ke dalam asrama. "Berhenti!" teriak Itachi kencang, sejenak tertegun saat keduanya berlari untuk melarikan diri. Itachi berusaha mengejar keduanya, namun langkahnya terhambat karena high heels yang masih dikenakannya saat ini. "Brengsek," umpat Itachi kasar saat dia kehilangan keduanya di tangga lantai dua.
"Ada apa?" tanya penjaga yang saat ini sedang bertugas. Itachi melirik ke arah keduanya dan menjawab. "Ada dua orang siswi melanggar peraturan asrama, mereka baru kembali."
"Apa Anda tahu siapa nama kedua murid itu?"
"Tidak, aku hanya melihat punggung mereka." Kata Itachi kesal.
"Kalau begitu akan sangat sulit untuk menemukan mereka, jika pun kita membangunkan seluruh asrama, akan percuma. Karena sebagian penghuni ada yang pulang dan kembali besok sore."
Itachi menggeram menahan marah. "Perketat penjagaan, aku tidak mau hal ini kembali terjadi di depan mataku." Kedua penjaga itu membungkuk memberi hormat, Itachi yang masih emosi menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri dan akhirnya kembali ke rumah dinas khusus untuk para guru yang letaknya tidak jauh dari asrama putri berada.
"Di sekolah ini, banyak sekali yang memiliki rambut pirang dan coklat atau hitam?" Itachi mengerang frustasi. Minimnya pencahayaan membuat Itachi kesulitan melihat warna rambut siswi yang satunya. Itachi yakin, siswi yang satu memiliki rambut pirang, sedangkan satunya lagi berwarna gelap, entah coklat atau hitam, Itachi tidak begitu yakin. "Aku pasti menemukan kalian, dasar bocah-bocah nakal!"
Sementara itu, Naruto yang sudah berada di dalam kamarnya segera berganti pakaian dan mencuci muka. Dia harus terlihat seperti bangun tidur, seandainya ada pemeriksaan kamar nanti. Namun yang ditakutkannya tidak terjadi, Saat ini ia merasa seperti buronan yang dikejar-kejar oleh polisi. Jantungnya berdetak sangat cepat. Dia bahkan berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya karena gugup. "Yang tadi itu apa seorang guru? Atau penjaga baru? Tapi, sekolah ini tidak memiliki penjaga wanita," Naruto terus bergumam. "Tapi suaranya terdengar asing," lanjutnya. "Aish, aku bisa stres karena hal ini." Katanya seraya merebahkan diri di atas tempat tidur.
Ia lalu mengambil telepon genggam miliknya yang tergeletak di atas meja di samping tempat tidurnya. Naruto mengirim email pada ketiga temannya, mengatakan jika dia sudah kembali ke asrama. Dengan cepat ia mendapat jawaban dari ketiganya dan segera menghapus semua isi email itu setelahnya. Dia tidak mau mengambil resiko, takut jika akan ada pemeriksaan telepon genggam karena peristiwa tadi.
Wanita muda itu baru saja akan memejamkan mata saat ada panggilan masuk pada telepon genggamnya. "Apa?!" katanya terdengar kesal.
"Sudah sampai?"
"Kami hampir saja ketahuan," kata Naruto mulai bercerita.
"Lalu bagaimana?" timpal Sasuke.
"Beruntung kami berhasil lolos," Naruto menghela napas lega.
"Syukurlah," ucap Sasuke pendek.
"Kau hanya ingin menanyakan hal itu, Sasuke?"
"Hn."
"Kalau begitu aku tutup, aku ngantuk." Kata Naruto.
"Tunggu!"
"Apa lagi?" Naruto mulai tidak sabar.
"Hari ini kau benar-benar pergi kencan?"
"Kenapa hal itu begitu penting untukmu?" Naruto berdecak sebal. "Aku pergi kencan dengan Hinata, Karin dan Ino. Puas?"
"Hn. Selamat malam, Dobe!"
Setelahnya Sasuke memutus hubungan telepon mereka. Naruto hanya bisa menatap layar telepon genggamnya tidak percaya. "Seharusnya aku yang menutup pembicaraan ini, bukan kau!" desisnya kesal dan melempar telepon genggamnya ke meja. "Menyebalkan!" umpat Naruto lagi, memeluk guling miliknya sebelum akhirnya menutup mata untuk istirahat.
.
.
Pagi ini, Naruto menunggu Kurama dengan pakaian rapi. Ia mengenakan dress longgar tanpa lengan berwarna hitam selutut. Sepatu flat yang dikenakannya juga berwarna senada, sementara rambutnya dikepang satu sisi ke samping, tidak rapi.
"Lama menunggu?" tanya Kurama dari dalam mobil setelah menurunkan kaca pintu jendela mobil depannya.
"Lumayan," jawab Naruto membuka pintu penumpang dan memasang sabuk pengaman setelah duduk nyaman di dalamnya.
"Maaf," kata Kurama, "jalanan agak macet pagi ini."
"Tidak masalah," kata Naruto. "Aku sendiri yang menunggu terlalu pagi dan Kakak hanya terlambat lima menit." Katanya lagi.
Kurama segera menyalakan dan membawa kendaraannya keluar dari komplek asrama. "Kita akan mampir ke toko bunya untuk membeli beberapa tangkai bunga." Kata Kurama saat berbelok dari pintu gerbang asrama menuju jalan raya.
"Lili casablanca," sahut Naruto berkata lirih. "Bunga kesukaan ibu," lanjutnya sambil menatap lurus ke arah depan.
"Benar, kita akan membeli beberapa tangkai lili casablanca untuk mereka, juga untuk Nenek dan Kakek." Kurama tersenyum sedih. "Kadang aku berdoa agar mereka datang dalam mimpiku, tapi mereka tidak pernah datang. Sepertinya Ayah dan Ibu tidak merindukanku, seperti aku merindukan mereka."
"Aku pun sama, aku sering berdoa agar mereka datang dalam mimpiku," sahut Naruto. "Mereka terkadang datang, namun langsung pergi tanpa mengatakan apapun." Katanya lirih.
Kurama mengacak sayang rambut Naruto dan tersenyum lembut. "Setidaknya mereka datang," hiburnya.
"Yah, aku cukup beruntung." Naruto melirik ke arah Kurama dan mengulum senyum kecil. Mereka terus bicara selama sisa perjalanan, membahas waktu-waktu saat mereka terpisah. Hingga akhirnya mereka berdua berdiri di depan pusara keempat orang yang mereka cintai.
Naruto meletakkan lili casablanka di setiap pusara, menundukkan kepala dan berdoa dengan khidmat, sedangkan Kurama menyapa keempatnya lirih. "Aku pulang," katanya. "Maaf karena aku jarang berkunjung, kalian pasti marah padaku hingga menolak untuk hadir di dalam mimpiku walau hanya satu kali. Aku memang bukan anak yang berbakti," lanjutnya sendu. "Aku ingin menceritakan sesuatu," kata Kurama lagi. "Naruto sekarang kembali menjadi murid SMA," Kurama tertawa kecil, namun segera berhenti saat mendapati Naruto meliriknya tajam. Kurama berdeham dan kembali bicara. "Aku akan bekerja di KHS mulai besok dan aku akan memastikan putri dan cucu kesayangan kalian ini belajar dengan benar."
"Aku selalu belajar dengan benar," Naruto membela diri.
Kurama menghela napas panjang dan kembali berkata lirih. "Aku merindukan kalian," katanya lalu menggelengkan kepala. "Tidak, kami merindukan kalian." Ralat Kurama seraya memeluk Naruto.
Gadis itu menyandarkan kepalanya ke bahu bidang Kurama dan menatap nanar keempat pusara di hadapannya. Mereka terus berdiri di sana tanpa mengatakan apapun setelahnya. Mereka merasa jika roh keempat orang yang dicintainya ada di sana saat ini, berdiri dan memeluk keduanya penuh kasih sayang.
.
.
.
Selesai dari pemakaman, keduanya mampir ke sebuah mini market untuk membeli bahan-bahan makanan sebelum kembali ke asrama.
Kurama ingin mereka berdua makan malam bersama hari ini. Sudah begitu lama sejak terakhir kali keduanya memasak bersama dan makan di atas meja makan yang sama. Sebenarnya anggapan dirinya terlalu berlebihan, karena mereka melakukannya beberapa hari yang lalu di apartemen Naruto. Mungkin lebih tepat jika dikatakan mereka ingin lebih sering melakukannya.
Keduanya kembali ke asrama tepat pada pukul dua siang setelah sebelumnya makan siang di Ichiraku Ramen. Tentu saja Naruto yang memilih tempat itu dan Kurama hanya bisa mengangguk setuju. "Kakak, aku akan berganti baju dulu. Kakak mau menunggu di sini atau di rumah dinas?"
"Lebih baik aku menunggu di sini," kata Kurama. "Jangan lama-lama, aku bisa mati bosan."
Naruto dan Kurama keluar dari dalam mobil. Naruto melempar senyum kecil sebelum masuk ke dalam gedung asrama putri, sedangkan Kurama bersandar nyaman pada mobilnya.
Beberapa siswi yang baru saja kembali ke asrama melirik ke arah Kurama. Diantara mereka bahkan melemparkan tatapan genit secara terang-terangan, Kurama yang melihat itu hanya mendengus dan bergumam pelan. "Dasar bocah!" katanya lalu melirik jam tangan miliknya. "Kenapa Naruto lama sekali?" Kurama kembali melemparkan pandangannya ke pintu masuk asrama putri, namun yang didapatnya malah kikikan centil beberapa siswi yang menatapnya penuh minat.
Kurama sedikit terkejut. Saat ini tidak jauh di depannya berdiri ada tiga orang siswa yang menatapnya sinis. "Anda siapa?" tanya Rock Lee ketus menghampiri Kurama. "Ini asrama putri, untuk apa Anda berdiri di situ? Mencoba tebar pesona?" Lee nampak terganggu.
Namun Kurama hanya menaikkan sebelah alisnya dan mengendikkan bahu. "Pertanyaan itu harusnya ditujukan pada kalian, untuk apa siswa berada di asrama putri?" ia membalas, kata-katanya menohok tepat sasaran.
"Kami mau bertemu Ojou," sahut Lee, dengan dagu terangkat, pongah.
"Ojou?" beo Kurama dengan kernyitan dalam.
"Lee jaga bicaramu!" Shino memperingatkan. "Senpai melarang kita untuk tidak memanggilnya seperti itu."
Lee tersenyum dan menggaruk bagian kepalanya yang tidak gatal. "Maaf," ucapnya lirih setelah itu dia kembali menatap tajam pada Kurama.
"Aku rasa dia penguntit," Chouji berbisik tepat di telinga kanan Lee.
"Apa Anda penguntit?" tanya Lee ingin mengetahui keakuratan pendapat Chouji. Sedangkan Shino menatap lurus ke arah Kurama, menunggu jawaban.
"Pertanyaanmu benar-benar bodoh!" sahut Kiba dari arah belakang yang datang mendekat dengan teman satu gengnya.
"Maksud senpai apa?" Lee terlihat ciut, bagaimana pun kelima pemuda itu merupakan senpai yang paling ditakuti di sini. "Mana ada maling yang mau ngaku," ujar Kiba memukul pelan kepala Lee.
"Dia bukan maling," sahut Lee polos. "Dia penguntit."
Gigi Kiba gemertak karena kesal. "Itu hanya perumpamaan saja, Lee." Tukas Kiba sebal.
"Ooooo..." Sahut Lee tanpa dosa.
"Paman ini mencurigakan," Kiba menatap Kurama dari atas hingga bawah. "Iya kan, Sasuke?"
Sasuke hanya menatap datar ke arah Kurama, menurutnya Kiba sama bodohnya dengan Lee saat ini. Untuk apa mengurusi hal yang tidak penting.
"Jangan banyak bicara, cepat panggil petugas keamanan!" Kiba nampak bersemangat.
"Kenapa kalian berkumpul di sini?" tegur Itachi mendekat. Kedelapan siswa itu membungkuk untuk memberi hormat pada Itachi. "Ini asrama putri, jangan membuat gaduh di sini. Cepat kembali ke asrama kalian!" tukas Itachi tegas. Itachi melirik ke arah pria yang masih berdiri nyaman dengan bersandar pada mobil Lexus hitam miliknya. Dia sedikit terkejut, namun seperti biasa, ia selalu mampu untuk mengontrol emosinya dengan baik. "Kurama?"
"Hiieeeeeee!?" Ketujuh murid minus Sasuke menatap ke arah Itachi, lalu kembali ke Kurama yang nampak begitu dingin menatap Itachi.
"Kalian saling kenal?" Neji buka suara. "Jadi, Anda kesini untuk menemui Uchiha Sensei?"
"Tidak." Jawab Kurama cepat. "Aku datang bukan untuk bertemu dengannya," lanjutnya datar. "Dan kenapa kalian harus tahu urusan pribadiku?" ia balik bertanya dengan aura menyeramkan.
"Sensei, teman Anda ini sangat mencurigakan. Dia berdiri di sini sedari tadi, kami curiga jika dia adalah penguntit yang acap kali mengintip kamar asrama putri." Jelas Lee semangat, sementara Kiba bergerak mundur, bersembunyi di belakang Shikamaru.
Mendengar penuturan Lee, Itachi menatap lurus pada Kurama. "Untuk apa kau ke sini?"
Kurama hanya diam, mengacuhkan pertanyaan Itachi dan membuang muka membuat Itachi mengepalkan kedua tangannya, menahan marah. Hingga akhirnya Itachi kembali ingat saat Kurama datang beberapa hari yang lalu bersama seorang wanita muda. "Jangan-jangan kau datang untuk bertemu kekasihmu?" Itachi mulai mengambil kesimpulan.
"Hieeeee!?" seru ketujuh siswa minus Sasuke itu lagi, menatap tidak percaya pada Kurama. Namun Kurama tidak mengatakan apapun, tetap diam dan bersikap cool.
"Kurama, berapa usiamu sekarang?" Itachi melipat kedua tangannya di depan dada. "Dua puluh tujuh tahun?" ejeknya. "Seharusnya kau mencari kekasih yang sebanding, bukan anak-anak." Ucapan Itachi itu ditimpali anggukan setuju oleh ketujuh siswa disekitarnya.
Lee dan Kiba mulai ribut, bertanya-tanya siapa kekasih dari pria ini sebenarnya. Kurama tetap diam, merogoh telepon genggamnya dan menghubungi seseorang. "Cepat turun, sebelum ada korban!" katanya datar namun terdengar mengancam. Kurama kembali memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku celana setelahnya. Dia terlalu marah saat ini bahkan untuk mengelak sekalipun.
Di dalam asrama, Naruto segera berlari keluar kamar setelah mendapat panggilan telepon dari Kurama. Gadis itu yakin jika mood kakaknya sedang tidak baik saat ini. Naruto terlalu malas jika harus berhadapan dengan Kurama yang sedang badmood. Kakaknya yang memang suka menjengkelkan bisa berubah menjadi sangat, sangat, dan sangat menyebalkan dan super menjengkelkan jika dalam keadaan badmood.
Gadis itu terus berlari, mengabaikan panggilan Karin dan Ino yang memanggilnya keras. Naruto terus berlari menuruni tangga dengan cepat dan hampir menabrak beberapa siswi yang sedang asyik berbincang di lorong asrama yang dilaluinya. Dengan gerakan mendadak ia berhenti berlari, napasnya memburu,
Naruto membungkuk dan meletakkan kedua tangannya di lutut, mencoba untuk menstabilkan kembali detak jantung dan napasnya. "Maaf, lama menunggu," tukasnya masih dengan napas terengah dan akhirnya kembali berdiri tegak. "Ehh, sedang apa kalian berkumpul di sini?" tanyanya heran, baru menyadari jika saat ini kakaknya di kepung oleh Sasuke cs juga Lee cs.
"Ojou?" sambut Lee bersemangat, matanya berbinar senang.
"Sudah kubilang jangan memanggilku dengan sebutan itu," Naruto berdesis marah.
"Ayo kita pergi," tukas Kurama dingin mengabaikan semua orang yang kembali menatapnya tidak suka. Langkah Kurama terhenti saat Neji dengan sengaja menghalangi akses jalannya untuk mengitari bagian depan mobil dan masuk ke tempat duduk pengemudi. "Naruto, apa kau mengenal pria ini?" Neji bertanya tanpa mengalihkan tatapannya pada Kurama. Sedangkan Sasuke, matanya berkilat-kilat, jengkel pada Naruto.
Oh, jadi namanya Naruto. Itachi berbicara dalam hati, matanya memperhatikan Naruto begitu intens. "Bukankah kau gadis yang bersama Kurama saat di rumah duka?" Itachi menginterupsi.
Kenapa suaranya begitu tidak asing? pikir Naruto, menengok ke arah belakang. Naruto mengernyit saat melihat Itachi yang berdiri di belakangnya saat ini. "Ah, kenapa Anda bisa berada disini? Kita pernah bertemu di rumah duka bukan?" Itachi mengangguk kecil, sekarang menatap tajam Kurama. Naruto terlihat bingung, lalu beralih menatap Kurama. "Sebenarnya ada apa ini?" ia semakin tidak mengerti.
"Namamu Naruto?" tanya Itachi, mengalihkan tatapannya pada gadis itu.
"Benar," sahut Naruto datar.
"Naruto, sebagai seorang guru, saya berkewajiban untuk menegurmu. Kau tahu 'kan jika dalam peraturan asrama disebutkan jika murid tidak boleh menerima kunjungan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak sekolah?"
"Saya tahu," Naruto menjawab cepat. Rupanya dia guru, kenapa aku tidak pernah melihatnya? batin Naruto. Dan kenapa suaranya begitu familiar? Dimana aku mendengarnya? Naruto terus sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Kalau begitu, seharusnya kau tahu jika kau tidak boleh membawa kekasihmu ke dalam komplek asrama." Itachi melirik dan menatap tajam pada Kurama.
Gaara menyeringai, senang karena Naruto diomeli. "Dasar gadis nakal," desisnya menimpali.
Naruto mengernyit, bingung. "Kekasihku?" ia terlalu bingung hingga hanya menangkap sebagian dari apa yang Itachi katakan padanya. Naruto menatap ke arah Kurama, pria itu hanya mengangkat bahu cuek. "Kekasih?" beo Naruto lagi senbari menekuk muka dalam. "Sebentar, sepertinya ada yang salah di sini." Katanya mulai mengerti duduk persoalan. "Maaf, aku terlambat memperkenalkannya. Kenalkan, Namikaze Kurama!" Naruto mengalungkan tangannya pada pergelangan tangan kiri Kurama.
"Namikaze?" beo Kiba dan Lee kompak.
"Ya, dia kakakku," jelas Naruto dengan senyum lebar.
"Hieeeeee...!?" ketujuh pemuda di hadapannya kembali terkejut, hanya Sasuke yang menyeringai kecil, merasa lega karena informasi yang baru saja didengarnya.
"Apa kubilang," Lee berkata keras. "Pria ini tidak terlalu mencurigakan, jadi tidak mungkin jika dia seorang penguntit dan ternyata dugaanku benar." Katanya untyk menutupi apa yang telah dia ucapkan sebelumnya.
"Siapa yang berani menuduh kakakku sebagai penguntit?" sembur Naruto dengan ekspresi menakutkan.
"Tenang, Ojou! Ini hanya salah paham." Shino menyahut, tampak ketakutan.
"Benar, ini hanya salah paham," Kiba menimpali dan tertawa gugup membuat Naruto semakin memicingkan mata.
Chouji mengangguk kecil, membenarkan ucapan Shino dan Kiba. Ia menyodorkan bungkus keripik kentang yang ada di tangannya pada Naruto, dengan maksud menyuap agar emosi gadis itu menguap, namun sayang, Naruto menampiknya dan masih terlihat murka.
"Hohoho, tentu saja dia kakakmu." Itachi tertawa dipaksakan. "Aku sudah menduga jika gadis ini adalah adikmu," tambah Itachi lagi yang terlihat kikuk melihat ke arah Kurama. "Aku harus pergi, masih ada pekerjan. Sampai nanti..." Katanya bergegas pergi tanpa melihat ke belakang, lebih tepat jika dikatakan melarikan diri.
"Melarikan diri, huh?" Kurama berkata ketus dan sontak menghentikan langkah Itachi.
Itachi menarik napas panjang dan menyahut lirih, "maaf."
"Jadi, hanya itu yang bisa kau katakan?" Kurama mendengus kecil. "Sudah kuduga," ejeknya tajam.
Itachi terdiam, menggigit bibir bawahnya dan mengepalkan tangan erat di sisi tubuhnya. Dia mencoba untuk tetap bersikap tenang dalam menghadapi sikap sinis Kurama saat ini.
Naruto bisa merasakan tensi yang antara kakak dan guru barunya ini semakin meningkat. Ia melirik sekilas ke arah Kurama yang masih menatap punggung Itachi datar. Pandangannya lalu beralih pada Itachi, kedua tangan wanita itu terlihat sedikit bergetar, menahan marah mungkin? Naruto juga tidak yakin.
Menggelengkan kepala pelan Naruto menginjak kaki Kurama sekuat tenaga, menghasilkan jeritan tertahan pemuda itu yang memberikan tatapan tajam serta desisan mengancam. "Apa?" Naruto balik menantang dengan berkacak pinggang. "Jangan melimpahkan kekesalan pada orang lain, di sini aku yang salah. Jadi, marahi aku saja. Jangan bersikap sinis pada orang lain, apalagi pada seorang wanita." Semburnya cepat.
Itachi yang melihat itu hanya bisa membelalakkan mata tidak percaya. Baru kali ini dia melihat sosok Kurama yang tidak bisa membalas kata-kata.
Kurama berdesis dan membuang muka, "kau tidak mengerti!"
"Apa yang tidak aku mengerti?" Naruto masih mengeluarkan aura ancaman. Kedelapan pemuda yang berada di sekelilingnya memutuskan untuk mundur perlahan, menjauhi Naruto. Gadis itu nampak seperti rubah ekor sembilan saat marah dan mereka tidak mau tertimpa sial hanya karena berada di tempat yang salah saat gadis itu marah. "Ibu pasti melakukan hal yang lebih gila, jika saat ini dia masih ada dan melihatmu bersikap tidak sopan pada wanita, dan dia guruku."
"Lalu?" Kurama membalas dingin. "Kenapa kau ada di pihaknya? Kau adikku!" tambahnya kemudian bergegas masuk ke dalam mobil, berlalu pergi meninggalkan Naruto yang masih terlihat begitu kesal.
"Dia pergi tanpa membawaku serta, aishhhh." Raung Naruto, menggertakkan gigi. "Maaf, kakakku memang menyebalkan jika sedang badmood." Katanya sembari membungkuk kecil pada Itachi.
"Aku juga salah," Itachi menghela napas. "Aku menuduhnya yang tidak-tidak," katanya penuh sesal. "Boleh aku minta nomor telepon genggam kakakmu? Aku harus minta maaf padanya." Tambah Itachi dengan maksud tersembunyi.
"Tentu," Naruto mengambil telepon genggam yang disodorkan Itachi kepadanya dan mengetik serta menyimpan nomor telepon Kurama di telepon genggam milik gurunya tersebut. "Saya rasa Anda akan sering bertemu dengan kakakku setelah ini," kata Naruto sambil mengembalikkan telepon genggam milik Itachi.
"Kenapa bisa?" Itachi terlihat bingung.
"Kak Kurama akan mulai mengajar di sini besok." Terang Naruto tenang.
"Hieeee...?"
Naruto kembali berbalik melihat ke arah tujuh pemuda yang nampak pucat di tempat mereka berdiri. Hanya Sasuke saja yang berhasil bersikap tenang dengan wajah datar andalannya. "Maksudmu, kakakmu guru baru di sini?" Kiba berkeringat dingin dan siap pingsan.
"Begitulah," jawab Naruto datar, membuat Kiba sukses pingsan di tempat. Shikamaru hanya menoleh ke arah Kiba, menendang pelan tangan Kiba tanpa berniat untuk membantunya. Neji dan Gaara bergumam pelan, "matilah aku!" sedangkan Sasuke mengumpat dalam hati. Lee, Shino dan Chouji nampak membeku dengan mulut terbuka lebar.
Naruto kembali melepas napas lelah. "Aku harus pergi, kakakku akan bertambah marah jika aku tidak membantunya merapikan tempat tinggal barunya. Ada yang mau membantu?" dia bertanya penuh harap, menatap ketujuh pemuda yang berdiri di depannya.
"Kakakmu tinggal dimana?"
"Kak Kurama akan menempati rumah dinas yang disiapkan sekolah," jawab Naruto pada Itachi.
"Rumah dinas belakang asrama?" Itachi kembali bertanya, hatinya bersorak senang.
"Benar," sahut Naruto pendek. "Jadi, apa ada yang mau membantu kami?" ketujuh pemuda itu menggelengkan kepala kompak, Kiba masih terkapar di atas tanah. Naruto mengangkat bahu dan berdecak kecewa. "Baiklah, sepertinya aku harus menghadapi Kak Kurama seorang diri. Aku pergi dulu. Sampai nanti!"
.
.
.
"Kita akan mati!" Kiba berkata lirih selepas Naruto pergi. Beberapa detik yang lalu, dia sudah sadar dari pingsan singkatnya, namun enggan untuk bangkit berdiri.
Shikamaru mengangkat kedua bahunya ringan. "Seingatku, hanya kau dan Lee yang paling vocal mengatakan jika kakak Naruto itu penguntit." Katanya santai.
"Kalian juga ikut serta," Kiba langsung berdiri, membela diri. "Neji, Gaara juga ikut bicara tadi," ujarnya berapi-api.
"Berdoa saja, semoga dia tidak mengajar di kelas tiga, tapi mengajar di kelas dua atau kelas satu." Shikamaru melirik ke arah Lee, Chouji dan Shino yang semakin bertambah pucat. "Mau kemana, Sasuke?" tanya Shikamaru saat melihat Sasuke melenggang pergi.
"Ruang rekreasi," jawab Sasuke pendek tanpa menoleh ke belakang.
"Bukankah dia tidak suka berada di sana?" Gaara nampak terkejut namun pada akhirnya mengikuti langkah Sasuke setelah sebelumnya membungkuk hormat pada Itachi. Begitu juga Shikamaru dan Neji. Kiba pun sama, hanya saja langkahnya terlihat lebih berat dan dipaksakan, sementara kepalanya menunduk dalam. Lee, Chouji dan Shino juga membungkuk hormat pada Itachi, Itachi mengangguk kecil menimpali dan melihat ketiganya beranjak pergi.
Itachi menghela napas panjang setelah semuanya pergi, tangan kanannya diletakkan di depan dada kiri. Jantungnya berdetak begitu cepat saat ini, perasaannya campur aduk. Mengetahui jika Kurama akan mengajar di sini, membuatnya senang juga takut. Itachi tidak yakin apa dia bisa bersikap biasa saat ada Kurama di sekitarnya. Itachi menutup mata dan menghembuskan napas panjang, berdoa dalam hati, agar dirinya diberi kekuatan untuk menjalani hari-hari selanjutnya.
.
Sementara itu di dalam rumah dinas milik Kurama. "Kak Kurama, kau masih marah? Wajahmu terlihat sangat jelek jika marah," Naruto terus mengekori kakaknya yang sedang sibuk memasukkan belanjaan yang dibelinya ke dalam kulkas.
Dari tadi Kurama terus diam, tidak mengatakan apapun sejak Naruto masuk ke dalam rumah. Kurama bahkan enggan untuk melirik adiknya tersebut, yang terus mengeluarkan jurus mautnya untuk meluluhkan hati kakaknya ini.
"Kak Kurama, maafkan aku," Naruto mengeluarkan jurus terakhirnya, puppy eyes no jutsu.
Kurama mendengus dan menatap tajam Naruto yang masih menatapnya begitu imut saat ini. "Jangan menatapku seperti itu, tidak akan berhasil." Ucap Kurama ketus dan segera membuang muka. Naruto tersenyum kecil, bisa membuat Kurama bicara saat sedang merajuk merupakan suatu prestasi besar. Itu berarti Naruto berhasil mendapatkan perhatiannya saat ini.
"Maafkan aku," ucap Naruto lembut.
Kurama mengacak rambutnya dan kembali menatap Naruto. "Kenapa tadi kau membelanya? Dia musuhku, dan kau adikku. Seharusnya kau ada dipihakku." Ujarnya jengkel. "Aku tidak suka kau lebih membela dia daripada aku, kakakmu sendiri." Tambahnya lagi ketus.
"Tapi dia wanita, tidak seharusnya Kak Kurama berkata seperti itu padanya." Naruto membela diri.
"Kau tidak tahu siapa dia," desis Kurama. "Dia siluman ular. Dia pantas mendapatkan perlakuan lebih kasar daripada itu." Kurama menggebrak meja makan di hadapannya dan menghela napas lelah. "Lebih baik kau kembali ke asrama, aku lelah, aku ingin istirahat."
"Tapi kita belum selesai membereskan rumah dan bagaimana dengan makan malamnya?"
"Aku akan membereskan sisanya nanti. Nafsu makanku sudah hilang. Lebih baik kau pulang ke asrama," Kurama beranjak masuk ke dalam kamar, menutup pintu pelan sedangkan Naruto menatap kepergian kakaknya itu dengan perasaan bersalah. Gadis itu akhirnya mengerjakan sisa pekerjaan untuk membereskan rumah seorang diri. Memasak makan malam sederhana untuk Kurama, sebelum akhirnya pulang ke asrama. Langkah Naruto berhenti, dia tidak ingin kembali ke kamar begitu cepat. Akhirnya Naruto membelokkan langkah kakinya ke ruang rekreasi yang gedungnya berada di tengah-tengah antara gedung asrama putri dan gedung asrama putra.
"Naruto?" panggil Kiba melambaikan tangan saat melihat gadis itu masuk ke dalam ruang rekreasi. Para murid wanita sontak ribut saat melihat Naruto berjalan mendekat dan menghempaskan diri dengan nyaman di samping Sasuke. Wajahnya nampak kusut dan lelah.
"Ada apa?" Sasuke bertanya dengan nada suara cemas namun masih dengan ekspresi datar.
"Kakakku benar-benar marah," jawabnya sembari menghela napas panjang dan menekuk wajahnya dalam. "Apa yang harus aku lakukan? Bahkan puppy eyes no jutsuku kurang berhasil saat ini," ujarnya lagi.
Sasuke berdeham kecil saat melihat raut wajah Naruto yang terlihat menggemaskan di matanya.
"Dia bahkan membatalkan makan malam denganku, itu artinya dia sangat marah. Benar-benar marah," tambah Naruto dengan nada suara yang terdengar merana.
"Kurasa kau terlalu berlebihan, mungkin kakakmu hanya lelah." Sasuke menenangkan, lalu membawa kepala Naruto untuk bersandar di bahunya. Dan ajaibnya gadis itu sama sekali tidak menolak. Dia malah menyamankan posisinya dan menutup mata sebelum akhirnya tertidur di bahu Sasuke dengan nyaman.
Para siswi yang melihat hal itu baru saja akan berteriak histeris, tidak terima melihat perlakuan istimewa Sasuke pada Naruto. Namun pandangan tajam Sasuke sukses membungkam semua teriakan histeris itu. Mengisyaratkan tanpa suara, jika tidak ada yang boleh mengganggu tidur Naruto saat ini.
"Sepertinya dia sangat lelah," kata Neji setengah berbisik.
"Lebih baik kau antar dia pulang ke asrama, di sini terlalu ribut." Shikamaru menimpali.
Kiba melihat sekeliling dan merinding ngeri. "Para siswi seperti mau memakan Naruto hidup-hidup, mereka terlihat sangat marah. Fangirls beratmu cemburu, Sasuke."
Sasuke menimpali dingin ucapan Kiba. Tanpa mengatakan apapun, dia merengkuh tubuh Naruto, menggendongnya bridal style dan perlahan membawanya kembali ke asrama putri.
"Sasuke menyukai Naruto," ujar Shikamaru selepas Sasuke pergi. "Itu pasti," tambahnya yakin.
"Orang buta pun bisa merasakan hal itu," timpal Neji. "Lihat saja, dia bahkan bisa bersikap begitu lembut."
"Hubungan mereka tidak akan berjalan mulus," tukas Gaara. Neji, Shikamaru dan Kiba menatapnya lurus. "Akan ada banyak orang yang akan berusaha memisahkan mereka, contohnya dia." Gaara menunjuk ke arah Sakura yang saat ini terlihat sangat marah dan kemudian berteriak histeris.
"Kalian ini bicara seolah mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih saja," kata Kiba cepat. "Jangan berpikir terlalu jauh, Sasuke saja masih belum berani menyatakannya secara langsung."
"Kau benar," ucap Shikamaru setuju. "Kita hanya bisa melihat gemas pada keduanya. Terkadang, Sasuke membuatku frustasi. Dia terlalu lambat bila menyangkut persoalan cinta."
"Yah, mirip sepertimu." Gaara menimpali dengan senyum mengejek.
"Seperti kau tidak saja," potong Neji kini membuat Gaara bungkam sedangkan Shikamaru tertawa puas karenanya.
.
.
Naruto mengerang dan membalikkan tubuhnya. Tubuhnya sedikit merinding saat merasakan hembusan napas hangat menerpa wajahnya. Perlahan Naruto membuka mata dan menghembuskan napas pendek saat melihat wajah Sasuke yang hanya berjarak beberapa centimeter dari wajahnya kini. "Sepertinya aku mulai terbiasa melihat wajahmu dari dekat," Naruto berkata lirih.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya dan mengulum senyum kecil. "Kukira aku akan mendapat tamparan bahkan pukulan keras karena ini," ia mengeratkan pelukannya pada Naruto.
"Apa aku harus melakukannya?" tanya Naruto setengah mengantuk. "Jam berapa sekarang?"
Sasuke melihat jam tangannya dan menjawab. "Delapan malam."
"Kau yang membawaku kesini?"
"Siapa lagi," jawab Sasuke pendek membelai lembut pipi Naruto.
"Hentikan Sasuke!" pinta Naruto tegas dan mulai meronta untuk melepaskan diri.
"Aku menyukaimu," kata Sasuke membuat Naruto terdiam dan kembali menghela napas lelah. "Kau tidak terkejut?"
"Aku tidak bodoh, Sasuke. Tentu saja aku tahu jika kau menyukaiku. Tapi a-"
"Jangan menjawabnya sekarang," Sasuke meletakkan telunjuknya di bibir Naruto. "Pikirkanlah lebih dulu, jangan langsung menolakku." Pintanya setengah berbisik, Sasuke mengecup kening Naruto lembut setelahnya.
"Sasuke?"
"Jangan bicara!" Sasuke menatap Naruto lembut. "Ijinkan aku untuk menciummu," pintanya setengah berbisik dan mendekatkan wajah keduanya. Sasuke mengecup bibir Naruto beberapa kali, namun Naruto diam, tidak memberikan tanggapan.
"Selamat tidur!" ucap Sasuke kemudian begitu lirih. Dia segera duduk dan berdiri di samping tempat tidur Naruto. Sasuke bahkan menarik selimut gadis itu, merapikannya, mematikan lampu dan meninggalkan Naruto sendirian setelahnya.
"Inilah yang aku takutkan," Naruto berkata lirih setelah Sasuke pergi. "Aku-pun menyukaimu bocah. Tidak," katanya dengan gelengan kepala pelan. "Aku tidak menyukaimu, aku sangat menyukaimu. Sayangnya kau hanya akan terluka karenanya, Sasuke. Jadi, apa yang harus aku lakukan? Hubungan kita hanya akan menyisakan luka."
.
.
.
Kurama berjalan penuh percaya diri, menyusuri lorong demi lorong menuju kelas 3-1. Mood Kurama masih belum baik pagi ini, apalagi dia harus kembali bertemu dengan Itachi di ruang guru tadi. Beberapa siswa dan siswi yang berpapasan dengannya melihatnya dengan tatapan ingin tahu. Kurama memang nampak menawan dalam balutan jas hitamnya, nampak profesional dan berkelas. Beberapa siswi bahkan nampak menatapnya kagum dan merona merah karenanya.
Para murid yang masih berkeliaran di lorong segera berlari masuk ke dalam kelas masing-masing setelah bel masuk berbunyi. Kurama membuka pintu kelas 3-1, keberadaannya menghentikan pembicaraan setiap murid di sana. Neji yang sudah pulih dari keterkejutannya segera memberi perintah untuk memberi salam. Hilang sudah senyum lebar di wajah Kiba, yang saat ini berubah pucat layaknya mayat. Nampaknya mimpi buruknya menjadi nyata pagi ini.
Kurama berjalan tegak, menulis nama lengkapnya di atas papan tulis dan kembali berbalik menghadapi murid-muridnya. Bisik-bisik beberapa murid kembali terdengar dan kali ini disertai lirikan penuh rasa ingin tahu pada Naruto juga Kurama.
"Perkenalkan, aku guru pengganti Anko-sensei," Kurama memulai. "Seperti kalian baca," Kurama menunjuk pada papan tulis. "Marga keluargaku sama dengan salah seorang murid di kelas ini. Kami memang satu keluarga. Tapi, aku tidak akan memberikan perlakuan istimewa pada siapa pun selama mengajar. Tidak peduli apakah itu adik, teman atau kerabat. Bagiku kalian semua sama, di sini status kita adalah guru dan murid." Kurama melayangkan pandangannya ke semua murid. "Masukkan semua buku kalian dan siapkan alat tulis. Aku akan memberikan kalian waktu selama satu jam untuk menjawab tiga puluh soal yang akan kuberikan." Perintah Kurama tegas. "Aku ingin tahu sampai mana kemampuan kalian sebelum aku mulai mengajar."
"Maaf, Sensei." Sakura mengangkat tangan kanannya tinggi. "Bukankah sebaiknya kami memperkenalkan diri kami pada Anda dulu?"
"Untuk apa?" Kurama menjawab penuh karisma. "Aku sudah mengetahui nama, tanggal lahir, alamat, hobi bahkan pekerjaan orang tua kalian semua." Jelas Kurama. "Apa aku harus membuktikannya satu-persatu, Haruno Sakura?"
Sakura menggelengkan kepalanya cepat. "Bagus," ucap Kurama cepat. "Berkat interupsi Haruno, waktu kalian untuk mengerjakan soal berkurang lima menit." Kurama tersenyum mengejek. "Apa ada lagi yang mau menginterupsi?" tantangnya. "Tidak ada?" ia menjawab sendiri pertanyaannya lalu melayangkan tatapannya pada semua muridnya. "Yakin? Padahal aku akan dengan senang hati menjawab pertanyaan kalian. Walau itu artinya, waktu kalian untuk mengerjakan soal harus kembali berkurang."
Hening.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Kurama mulai membagikan soal yang harus dikerjakan murid kelas 3-1, pagi ini.
Para murid mulai mengerjakan soal dengan serius, bahkan Shikamaru sanggup bertahan selama sisa pelajaran Kurama tanpa tertidur. Kiba nampak berpikir keras. Sasuke, Naruto, Neji dan Gaara terlihat tenang saat mengerjakan soal yang diberikan oleh Kurama.
Kurama berdiri di belakang kelas, begitu santai dengan sebuah buku di tangannya. "Kalian masih punya waktu lima belas menit," tukasnya santai tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dia baca, namun berefek dasyat, beberapa murid terlihat tegang dan berkeringat dingin termasuk Kiba. "Bagi yang sudah selesai, silahkan kumpulkan lembar jawaban kalian di mejaku dan tunggu di luar!"
Naruto segera berdiri, mengumpulkan lembar jawaban dan beranjak keluar. Sasuke mengekori di belakang, disusul Neji, Shikamaru dan Gaara. Beberapa murid menatap mereka iri, sementara Kurama beranjak menuju meja guru dan mulai memeriksa hasil jawaban yang sudah terkumpul. "Kau tidak tidur, Shika?" ejek Gaara.
"Siapa yang bisa tidur disaat seperti ini?" jawab Shikamaru datar. "Aku bahkan berusaha menjawab semua pertanyaan dengan benar." Tambahnya sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Kakakmu benar-benar menakutkan," Shikamaru melirik ke arah Naruto.
"Aku tahu," sahut Naruto. "Tapi, dia juga bisa sangat menggemaskan." Lanjutnya dengan mata berbinar. "Dia kakak terbaik di dunia." Tambahnya penuh rasa kagum.
"Kakak dan adik sama-sama gila," ujar Neji lancang.
Naruto menoleh ke arah Neji dan menatapnya garang. "Apa kau bilang?" ia mendesis marah. "Aku akan menghajar siapa saja yang berani menghina kakakku. Tidak ada yang boleh menghinanya, selain aku." Tukas Naruto penuh ancaman.
"Benarkan, dia gila." Neji berkata namun hanya berupa bisikan. Dia terlalu malas untuk menghadapi amukan Naruto saat ini, terlalu riskan, pikirnya.
"Naruto, apa pekerjaan kakakmu sebelumnya?" tanya Gaara.
"Dosen," jawab Naruto singkat.
"Dimana?" timpal Shikamaru.
"Washington."
"Tepatnya dimana? Washington sangat luas," Shikamaru berkata gemas.
"Boston University," jawab Naruto masih dengan nada datar, seolah bukan hal besar.
"Shit!" umpat Neji dan Sasuke bersamaan. "Kenapa kau tidak memberitahu kami sebelumnya?"
"Kalian tidak bertanya," jawab Naruto melirik tajam ke arah Sasuke. "Apalagi yang ingin kalian tahu tentang kakakku, hah?" tantangnya. "Pendidikan? Kakakku profesor sains lulusan Universitas Columbia. Pernah mengajar di Universitas Columbia sebelum akhirnya mengajar di Universitas Boston dan memutuskan untuk mengajar sebagai guru matematika di sini. Ada lagi?"
"Untuk apa dia melakukan itu?" Shikamaru nampak tertarik. "Kenapa dia memilih bekerja di sini?"
"Entahlah," Naruto mengangkat kedua bahunya acuh. "Mungkin untuk mengawasiku," tambahnya dengan helaan napas panjang. "Dia juga mantan kekasih kakakmu," tambah Naruto, menatap lurus Sasuke.
"Apa?" Sasuke sangat terkejut mendapati berita ini. "Jangan bercanda?"
"Untuk apa aku bercanda? Kakakku sendiri yang mengatakannya padaku beberapa hari yang lalu. Karena itulah pertemuan mereka kemarin sangat tidak bersahabat," jelasnya.
"Kakakku tidak pernah mengatakan apapun mengenai kehidupan pribadinya." Sasuke bergumam kecil. "Apa mereka bertemu di New York? Kakakku juga lulusan Universitas Columbia, jurusan pendidikan."
"Aku tidak tahu mereka bertemu dimana. Kakakku juga sama, dia sangat tertutup untuk hal pribadi. Hanya saja, kami tidak sengaja bertemu dengan kakakmu beberapa hari yang lalu di rumah duka. Saat itulah kakakku menceritakan mengenai kakakmu."
Neji memasang pose berpikir. "Pantas saja, aku merasakan aura yang tidak mengenakkan saat keduanya bertemu kemarin."
"Sepertinya perpisahan mereka kurang baik," Shikamaru menimpali, kedua tangannya disimpan dalam saku celananya.
"Entahlah," sahut Naruto menatap jauh keluar jendela. Menyisakan keheningan diantara kelimanya.
.
Kurama membereskan semua lembar jawaban murid dan memisahkan lembar yang sudah selesai dia periksa. "Aku akan mengumumkan hasilnya besok," tukasnya. "Dan aku lupa memberitahu kalian sesuatu. Untuk murid dengan hasil terendah, kalian akan mendapat kejutan spesial dariku."
Naruto dapat bersumpah jika saat ini dia melihat dua buah tanduk yang tumbuh di kepala kakaknya. Sisi devil kakaknya mulai kembali dan itu berarti berita buruk.
"Setiap minggu aku akan memberi kalian tes tertulis," Kurama memberikan jeda dan mengulum senyum sinis, "jadi bersiaplah!"
.
.
.
Beberapa murid melepaskan napas lega setelah Kurama pergi. Beberapa diantaranya bahkan hampir pingsan karena menahan napas lama, mereka terlalu takut untuk bergerak bahkan untuk bernapas sekalipun. "Aku bisa mati muda," Kiba meletakkan kepalanya di atas meja. "Jika terus seperti ini aku bisa gila," ratapnya berlebihan.
"Sudah kubilang, kau harus belajar, Kiba." Gaara mengingatkan. "Setidaknya dua jam setiap malam."
"Aku akan mati seketika jika melakukannya," sahut Kiba dengan mulut mengerucut.
"Kalu begitu, terima saja nasibmu." Cibir Naruto tajam.
"Kakakmu benar-benar kejam," tandas Kiba.
"Aku tahu," sahut Naruto datar, berjalan melewati meja Kiba.
.
Di tempat lain, di sebuah lorong gelap, Kabuto berteriak histeris saat seorang dokter kembali membersihkan luka-lukanya yang kini nampak hitam kehijauan dengan bau amis menguar begitu menusuk. Darah kental bercampur nanah keluar saat dokter itu membelek kulit perut bagian kirinya dengan pisau bedah, membuang daging busuk dan mengeluarkan darah kotor serta nanah. Luka itu adalah luka saat pengejaran satu minggu yang lalu. Luka sobek yang melintang di perut sebelah kiri itu tidak kunjung membaik karena buruknya perawatan yang diterima Kabuto.
Kabuto kembali menenggak vodka langsung dari botolnya. Mencoba untuk mengalihkan rasa sakit yang terus berdenyut. Salahkan saja bos besar yang menyuruhnya untuk bersembunyi di tempat menjijikan itu. Sebuah bunker yang dibangun jauh di bawah tanah. Hal itu dilakukan untuk menghindari pengejaran polisi dan para intel yang disebar setelah Kabuto berhasil melarikan diri.
"Kita tidak bisa membiarkan Anda terus di sini. Jika terus dibiarkan seperti ini, luka Anda yang busuk akan menyebar semakin luas."
"Kau pikir aku bodoh?" desis Kabuto marah. "Aku tahu mengenai kondisi tubuhku dengan baik. Aku mantan dokter, ingat?" Karena itu aku ingin kau membuang nanah dan bagian daging yang mulai membusuk, jangan banyak bicara dan lakukan saja tugasmu! Aku tidak akan mati hanya karena tidak ada obat bius," Kabuto kembali menenggak minumannya. "Aku pasti menemukan mata-mata itu, aku akan membakarnya hidup-hidup." Kabuto melempar botol vodka di genggamannya, napasnya terengah menahan sakit sementara sang dokter begitu telaten membersihkan lukanya dengan peralatan seadanya.
"Bos, Anda memanggil?" tanya seorang pria bertubuh tinggi tegap yang kini berdiri di depan Kabuto.
"Kau sudah menemukan mata-mata itu? Mereka pasti memasukkan mata-mata ke dalam organisasi kita." Desis Kabuto geram.
"Maaf," pria berjas hitam itu membungkuk takut. "Kami kehilangan jejak," jelasnya sedikit bergetar. "Belum ada petunjuk jelas mengenai mata-mata yang anda curigai di organisasi kita."
"Temukan dia dan seret ke hadapanku!" Kabuto berteriak keras. "Aku ingin dia ditangkap dalam keadaan hidup, aku sendiri yang akan menyiksanya perlahan hingga dia memohon untuk dibunuh. Pergi dan temukan dia!" Pria berjas itu kembali membungkuk, setengah berlari meninggalkan Kabuto dan dokter di ruang pengap itu.
.
.
Sementara itu di KHS.
"Naruto, kemari!" Kurama memanggil adiknya yang kebingungan mencari tempat kosong untuk makan siang. Namun Naruto hanya mendelik ke arah Kurama dan duduk tepat di samping Sasuke.
"Kakakmu memanggilmu," kata Sasuke sembari mengaduk-aduk makanannya malas.
Wanita muda itu menekuk wajahnya dalam dan menjawab ketus. "Aku tahu." Naruto mendelik ke arah Kurama yang menatapnya dengan satu alis terangkat. "Biarkan saja, aku sedang kesal." Lanjutnya seraya menyantap makanannya dengan lahap. "Dia memberiku sebuah buku dan aku harus menyelesaikan semua soal yang ada di dalamnya dalam jangka waktu tiga hari. Dasar gila!" adunya, sebal. Naruto terus bergumam, sementaea tangannya sibuk menusuk-nusukkan garpu ke dalam makanannya dengan kasar.
"Kenapa dia melakukan itu?"
"Andai saja aku tahu," Naruto menjawab pertanyaan Gaara ketus.
"Lalu, kenapa kau duduk di sini?" tanya Kiba tajam.
"Apa kursi ini ada namanya? Apa kursi ini milikmu? Kenapa aku tidak boleh duduk di sini?" Naruto membalas sewot.
Kiba berdeham dan tertawa gugup. "Aku hanya bertanya. Santai, Naruto! Kau boleh duduk dimana pun kau mau."
"Kalian para pria benar-benar membuatku sebal! Aku malas duduk bersama kalian." Naruto bangkit dan bergegas pergi dengan muka masam.
"Dasar wanita, sebentar dia ingin di sini, dan beberapa detik kemudian dia malas untuk duduk bersama kita. Benar-benar membingungkan." Shikamaru menggelengkan kepala.
"Kau menyinggungnya Kiba," tukas Gaara sembari memasukkan kacang polong ke dalam mulut lalu mengunyahnya pelan.
"A-aku hanya bertanya? Tidak ada yang salah dengan pertanyaanku," ujar Kiba sedikit gugup.
"Aku akan menyusulnya," Sasuke bangkit dari tempat duduk.
"Kenapa Sasuke menyusulnya?" Kiba kembali bertanya tidak mengerti saat Sasuke sudah meninggalkan meja.
"Cinta, Kiba... cinta." Shikamaru bergumam, melipat kedua tangan di atas meja lalu memejamkan mata.
.
Asuma menyeringai lebar dan duduk di samping Kurama. "Kurama... kau ditolak Naruto?"
Kurama mendelik tajam ke arah Asuma, menusuk-nusuk makanannya kesal. "Apa Naruto sangat akrab dengan Uchiha bungsu itu?" tanyanya, sementara matanya terus mengekori kemana Naruto dan Sasuke pergi hingga menghilang di balik pintu kantin.
"Begitulah," sahut Asuma. "Menurut desas-desus, mereka memiliki hubungan khusus." Jawab Asuma memperpanas keadaan.
"Apa?" Kurama tersedak. "Bagaimana bisa Naruto dan bocah itu pacaran. Naruto kan-"
"Kenapa memangnya?" potong Asuma masih dengan seringaian menyebalkan. "Jaman sekarang sudah lumrah, wanita mencari daun muda." Bisik Asuma sambil terkekeh.
"Naruto tidak boleh pacaran!" desis Kurama tidak suka. "Dia masih kecil."
"Dia sudah berusia-" Asuma berdeham, menelan kembali kalimat yang sudah di ujung lidah.
"Bagiku dia masih anak kecil, tidak peduli berapa pun usianya." Kurama berdecak dan kembali melayangkan tatapan tajam pada Asuma. Asuma tergelak, tertawa begitu puas. Namun tawanya segera berhenti setelah mendengar kalimat Kurama berikutnya. "Kau sudah tua Paman, sebaiknya segera mencari kekasih, menikah dan memiliki anak. Jangan membuat kami khawatir, ok? Bahkan jendral tua itu semakin terlihat tua karena terus memikirkan putranya yang tidak kunjung laku."
"Bocah sialan!" kini giliran Asuma yang berbalik kesal. Kurama hanya tersenyum mengejek meninggalkan Asuma seorang diri.
.
.
.
"Kenapa mengikutiku?" desis Naruto tidak suka.
"Sebagai kekasih yang baik, aku harus ada saat kekasihku membutuhkanku, bukan begitu?" goda Sasuke dengan suara dalam.
Naruto berbalik menghadap Sasuke. "Aku belum menerimamu," katanya kasar.
"Aku sudah tidak memerlukan persetujuanmu," jawab Sasuke ringan. "Aku sudah memutuskan, mulai hari ini kita resmi berkencan."
"Ck, jangan bercanda bocah!" desis Naruto kesal.
Sasuke memajukan wajahnya pada wajah Naruto. "Aku bukan bocah, apa kau perlu aku membuktikannya?" Sasuke tersenyum mesum dengan binar mata jail. Naruto bergerak mundur, mendadak gugup, dengan jantung berdetak semakin cepat. "Kenapa, Naruto? Jantungmu berdegup kencang?" ejek Sasuke tepat sasaran. "Apa aku harus menciummu mesra untuk membuktikan bahwa aku bukan seorang bocah? Seharusnya tadi malam aku memberimu lebih dari pada sekedar kecupan."
"Sssttttt!" Naruto membekap mulut Sasuke. "Jangan bicara sekeras itu, mereka akan bertanya-tanya kenapa kita bisa bertemu di malam hari!" kata Naruto lirih, beruntung keadaan lorong begitu sepi, karena sebagian besar murid memilih untuk berada di kantin ataupun taman belakang sekolah saat istirahat siang.
Sasuke menepis tangan Naruto yang membekap milutnya dan meletakkan kedua tangannya di depan dada. "Biarkan saja mereka tahu jika aku memang sering berada di kamarmu," tantangnya lagi dengan nada satu oktaf lebih tinggi. Sasuke kembali menyeringai. "Ah... Atau mungkin sekarang aku harus membawamu ke tempat sepi dan kita bisa melakukan... kau tahu?" katanya mengedipkan mata genit.
"Berhenti bercanda!" Naruto meninju perut Sasuke hingga pemuda itu membungkuk, meringis nyeri.
"Kenapa kau meninjuku?" Sasuke berkata keras di tengah ringisannya.
"Karena kau menyebalkan!" ujar Naruto tidak kalah keras, dengan wajah memerah dia bergegas pergi, meninggalkan Sasuke yang masih meringis kesakitan.
"Bocah sialan, mesum, menyebalkan," gerutunya sepanjang lorong. "Aku benar-benar akan menghajarnya jika dia kembali menyerangku secara seksual." Tambah Naruto geram. Langkah gadis itu terhenti saat melihat sosok Tenten keluar dari ruang tata usaha dengan wajah menunduk. "Tenten?!" panggil Naruto keras dan berlari menuju gadis itu, Tenten tersenyum lemah. "Ada apa?" tanyanya saat melihat wajah Tenten yang pucat. "Kau sakit? Wajahmu pucat."
Tenten menggelengkan kepala. "Tidak." Ia menghela napas panjang, memperlihatkan sebuah amplop putih berlogo KHS pada Naruto. "Pihak sekolah memberiku waktu satu minggu untuk melunasi pembayaran. Aku harus bagaimana, Naruto? Aku tidak mungkin memberikan ini pada Ayah."
"Berapa yang harus kau bayar?"
"Dua ratus lima puluh ribu yen," jawab Tenten tidak semangat.
"Kita pasti bisa membayarnya," tukas Naruto yakin. "Yang perlu kita lakukan adalah mencari cara untuk bisa mendapatkan uang secara cepat."
"Tapi apa yang bisa kita lakukan?" Naruto tidak menjawab pertanyaan Tenten, gadis itu nampak berpikir, memutar otak.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Karin berdiri di belakang kedua gadis itu, mengagetkan keduanya.
"Kau mengagetkanku, Karin!" Naruto tersentak kaget.
"Maaf," sahut Karin dan tersenyum bahagia. "Lihat apa yang aku punya," Karin memperlihatkan sebuah poster berukuran besar pada Naruto dan Tenten.
"Poster Arashi?" Naruto mengangkat sebelah alisnya menatap lurus poster yang dibawa Karin.
Karin menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajah Naruto. "Jangan salah, ini bukan poster biasa." Kata Karin. "Lihat bagian bawah poster ini, poster ini ditandatangani oleh semua personil Arashi." Katanya bangga. "Aku sangat sulit mendapatkannya, aku bahkan harus merogoh saku dalam untuk bisa memilikinya." Karin mendekap poster itu erat.
"Aku tahu," teriak Naruto tiba-tiba, saat sebuah ide melintas di pikirannya. Kini giliran Karin dan Tenten yang terkejut. "Kau jenius Karin." Naruto menggoyang-goyangkan bahu Karin keras.
"Eh?" Karin memiringkan kepalanya tidak mengerti.
"Aku sudah tahu bagaimana cara mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat," kata Naruto tersenyum lebar menatap Tenten. Karin dan Tenten masih menatapnya bingung. "Aku memerlukan bantuanmu Karin, Ino juga Hinata."
Karin menekuk dahinya dalam. "Bantuan untuk apa?"
"Aku akan menjelaskannya nanti. Di mana Ino dan Hinata?"
"Perpustakaan." Jawab Karin singkat.
"Kalau begitu kita ke sana sekarang," ujar Naruto bersemangat dan menyeret keduanya menuju perpustakaan.
.
"Jadi, kenapa kau membawa dia bersamamu?" Ino menatap galak pada Tenten yang terlihat gugup.
"Aku membutuhkan bantuan kalian," jawab Naruto. "Dan ini ada hubungannya dengan Tenten."
Ino memicingkan mata tidak suka, dan melirik ke arah Naruto. "Jelaskan!" katanya tajam.
"Sebentar, Naruto," Tenten memotong. "Sebelumnya aku minta maaf jika kehadiranku mengganggu."
"Memang," sahut Ino terdengar ketus. Hinata menyikut perut Ino pelan, hingga gadis itu mengerang dan menatap Hinata tajam.
Tenten tersenyum maklum menanggapi sikap Ino yang tidak bersahabat. "Maaf, selama ini aku selalu bersikap menyebalkan. Aku benar-benar menyesal, sungguh aku menyesal."
Karin meletakkan tangannya di atas kening Tenten, dan berkata. "Apa kau sakit?" katanya tidak percaya. "Kau pasti bukan Tenten, kau siapa?" Karin menatap Tenten, tubuhnya tiba-tiba merinding. "Jangan-jangan kau hantu yang sedang memasukki tubuh Tenten! Seorang Tenten tidak mungkin menyesal apalagi sampai meminta maaf."
"Kau terlalu berlebihan," tukas Naruto sembari memutar kedua bola matanya. "Masa lalu adalah masa lalu, kita harus saling memaafkan. Dan sekarang aku meminta bantuan kalian untuk menolong Tenten mengatasi masalah keuangannya."
"Apa yang bisa kami lakukan?" sahut Hinata. Ino terlihat masih belum ikhlas sedangkan Karin masih melihat Tenten dengan pandangan menyelidik.
"Aku memerlukan foto Sasuke, Neji, Shikamaru, Gaara dan Kiba." Kata Naruto santai.
"Untuk apa?" Ino mengernyit heran.
"Aku akan menjualnya," jelas Naruto.
"Foto-foto itu tidak akan laku," sahut Karin. "Para fangirls mereka mungkin sudah memiliki sejuta foto hasil jepretannya sendiri."
"Bagaimana dengan foto bertandatangan?" Naruto tersenyum licik.
"Ah, kau benar-benar pintar." Karin berdecak kagum. "Tapi juga bodoh, mana mungkin mereka mau memberikan tandatangan mereka." Tambah Karin keras dan mendengus.
"Benar, itu tidak akan mudah." Sahut Hinata.
"Serahkan itu padaku," kata Naruto yakin. "Aku hanya perlu merayu pimpinan mereka," Naruto kembali tersenyum licik. "Jadi, apa kalian bisa mengumpulkan foto mereka sore ini?"
"Tidak masalah," kata Karin. "Kami memiliki banyak stok, jangan lupa, aku dan Hinata anggota klub photography."
"Bagus," sahut Naruto. "Dan Ino, aku membutuhkan keahlianmu."
"Keahlian apa?" kata Ino tidak antusias.
"Sebarkan pada telinga para fangirls itu, bahwa besok akan diadakan lelang foto Sasuke cs."
"Kecil." Kata Ino ringan. "Dimana kita akan melelang foto-foto itu?"
Naruto kembali berpikir dan segera menjawab. "Ruang musik, besok kita bertemu di sana tepat pukul enam sore, bagaimana?"
"Setuju," sahut Karin, Ino dan Hinata bersamaan. "Kenapa kau menangis?" tanya Ino pada Tenten masih dengan sikap tidak bersahabat.
"Aku tidak menyangka jika kalian masih mau membantuku, aku benar-benar berterima kasih." Tenten menunduk dalam.
"Jangan terlalu senang, kita belum tentu berhasil." Ujar Ino lagi.
"Kalian mau membantu saja sudah membuatku senang," sahut Tenten menghapus air mata dengan punggung tangannya. "Hontou ni arigatou," ucap gadis itu setengah berbisik dan kembali terisak.
"Sudah, jangan menangis." Hinata membelai lembut punggung Tenten. "Sekarang kita lakukan tugas masing-masing. Kami akan memberikan foto yang kau minta sore ini, Naruto."
"Baiklah, antarkan saja ke kamarku. Sisanya biar aku yang urus."
.
.
.
Matahari sudah terbenam beberapa menit yang lalu saat Hinata dan Karin mengetuk pintu kamar Naruto pelan. Keduanya segera memberikan satu kotak kecil berisi lima puluh foto kelima pemuda itu pada Naruto. Naruto menerima kotak itu penuh terima kasih, dan menutup pintu kembali. "Tinggal menghubungi Sasuke," kata Naruto. Ia segera mengambil telepon genggamnya yang tergeletak di atas meja belajar dan mengirim email pada pemuda itu, yang isinya: datang ke kamarku, sekarang!
Naruto menyeringai kecil menatap layar telepon genggamnya. "Pertunjukkan akan segera dimulai."
Tidak perlu waktu yang lama bagi Naruto untuk menunggu kedatangan Sasuke. Pemuda itu segera bergegas, menyelinap masuk asrama putri sesaat setelah membaca email dari Naruto. Sasuke tersenyum, ini kali pertama Naruto memanggilnya untuk datang. "Kau gila, aku bisa tertangkap. Kenapa kau memintaku datang? Ini masih sore," Sasuke berpura-pura marah, sedangkan Naruto menutup dan mengunci pintu kamarnya setelah Sasuke masuk.
Naruto berjalan mendekati Sasuke, dan memerangkap tubuh pemuda itu diantara tubuhnya dan tembok. "Sasuke, aku membutuhkan bantuanmu." Kata Naruto lirih, tangannya bermain-main di kancing teratas kemeja Sasuke.
"Bantuan apa?" Sasuke membuang muka, tidak mampu untuk menatap lurus wajah Naruto yang terlihat seksi karena bahasa tubuhnya yang menggoda.
"Tolong minta teman-temanmu untuk menandatangani foto yang akan kuberikan. Tolong tandatangani milikmu juga, aku membutuhkannya besok," kata Naruto dengan suara seksi dan menunjuk sebuah kotak yang berisi foto kelima pemuda itu.
"Untuk apa semua itu?" kini Sasuke menatap Naruto, namun hanya sejenak. Karena pemuda itu kembali memalingkan wajah setelah melihat wajah Naruto yang menatapnya menggoda begitu dekat.
"Untuk menolong teman," Naruto menangkup wajah Sasuke dan memaksa pemuda itu untuk menatapnya lurus. "Bantu aku, yah. Katakan juga pada Kiba, aku akan membocorkan rahasinya jika dia tidak mau menandatangani foto dirinya." Naruto semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Sasuke. "Sasuke?" panggil Naruto dengan suara seksi. "Aku akan memberimu sebuah ciuman, lama, dalam dan menggebu jika kau berhasil mendapatkan tandatangan semua temanmu." Janji Naruto sensual.
"Aku menginginkannya sekarang," sahut Sasuke dalam.
"Tidak," Naruto menggelengkan kepala dan mengalungkan kedua tangannya di leher Sasuke. "Kau akan mendapat hadiahmu, hanya jika berhasil."
"Aku meminta bayaran dimuka," sahut Sasuke mengikuti permainan Naruto. "Aku akan bekerja jika sudah dibayar," tambahnya dengan seringaian. "Dan aku akan meminta pelunasan setelah pekerjaanku selesai. Bagaimana?"
Naruto nampak berpikir dan memaki dalam hati. Kenapa malah aku yang masuk perangkap sekarang?
"Bagaimana?" ulang Sasuke tepat di telinga Naruto.
"Baiklah," kata Naruto mengalah. "Tapi ka-" Naruto tidak bisa melanjutkan perkataannya karena saat ini Sasuke membalikkan keadaan mereka. Kini tubuh Naruto-lah yang terjebak diantara dinding dan tubuh atletis Sasuke. Pemuda itu mencium perlahan bibir Naruto yang menutup. "Balas ciumanku, Dobe!" Sasuke mendesis diantara ciumannya. "Atau perjanjian kita batal," ancam Sasuke dan kembali mencium bibir Naruto lembut.
Naruto memejamkan mata saat Sasuke menangkup wajah Naruto dan memiringkan kepalanya sendiri untuk mendapat posisi yang lebih baik. Sasuke menggigit kecil bibir bawah Naruto, meminta akses masuk ke dalam mulut gadis itu. Pemuda itu tidak menyia-nyiakan kesempatan saat Naruto membuka kecil mulutnya, memberi jalan bagi Sasuke untuk menerobos masuk. Lidah keduanya segera bertemu, pemuda itu menyapu, menghisap dan membelai lidah Naruto sensual. Menjaga ritme, berlama-lama agar keduanya merasakan sensasi yang sama. Tangan Sasuke turun ke pinggang Naruto, dan membelai punggung gadis itu mesra.
"Enggg..." Naruto kembali mendesah kecil. Sasuke tersenyum dan membelai ringan bibir Naruto dengan ibu jarinya setelah dia mengakhiri ciumannya. "Kau benar-benar manis," kata Sasuke, menjilat saliva yang tersisa di sudut kanan mulut Naruto yang masih terbuka.
Naruto perlahan membuka kedua matanya dan seketika wajahnya memerah saat pandangannya bertemu dengan pandangan Sasuke yang kini mengulum senyum puas. "Kurasa untuk hari ini cukup dan aku tinggal minta sisanya besok." Tukas Sasuke dengan nada baritone khas. Sasuke mengambil kotak yang berisi foto dari atas meja, dan segera keluar dari kamar Naruto yang sepertinya masih belum bisa bergerak. "Selamat malam!" desah pemuda itu menggoda dan memberikan sebuah kecupan cepat di bibir Naruto sebelum keluar kamar.
"Ya, Tuhan. Aku sudah membahayakan masa depanku di tangan Sasuke." Naruto bergumam pasrah, dan terduduk lama di sana setelahnya.
.
.
.
Sasuke dengan perlahan keluar dari kamar Naruto dan berjalan dengan mengendap-endap. Bibirnya mengulas senyum saat dia masuk ke asrama putra. "Ah, kebetulan kalian di sini. Tandatangani foto kalian yang ada di dalam kotak!" seru Sasuke melihat keempatnya duduk santai di dalam kamarnya.
"Untuk apa?" Gaara mengambil kotak dan mengeluarkan isinya. "Siapa yang mengambil foto-foto ini?" tanyanya terkejut.
Sasuke mengambil foto-foto itu dari tangan Gaara, memilah foto dirinya dan segera membubuhkan tandatangannya di atas foto dirinya.
"Sebenarnya untuk apa, Sasuke? Apa Naruto yang memintamu?" Neji bertanya dengan nada datar.
"Hn."
"Sudah kuduga," raung Kiba. "Apa kubilang, Sasuke benar-benar sudah takluk di tangan Naruto."
"Naruto juga bilang jika dia akan membocorkan rahasiamu, jika kau tidak mau bekerja sama." Ucapan Sasuke sontak membuat Kiba terdiam, lidahnya mendadak kelu, dia ingat jika Naruto pernah memerogokinya saat dia mengintip ke dalam kamar Hinata yang ada di lantai dua. "Memangnya apa rahasiamu, Kiba?" selidik Sasuke dengan tatapan menusuk.
Kiba berdeham kecil. "Aku pinjam spidol," katanya merebut spidol yang ada ditangan Sasuke dan mulai menandatangani foto dirinya dengan cepat.
"Sepertinya bukan hanya Sasuke yang takluk, Kiba juga takut pada Naruto," cibir Shikamaru menguap lelah. Shikamaru mengambil sebuah spidol dari atas meja belajar Sasuke dan ikut memumbuhkan tandatangannya di atas foto dirinya. "Aku malas berhadapan dengan Naruto, jadi aku ikuti saja kemauannya." Kata Shikamaru seolah menjawab pertanyaan tanpa kata Neji dan Gaara. Neji dan Gaara menghela napas panjang sebelum akhirnya mengikuti langkah Shikamaru.
Keesokan harinya, tepat pukul enam sore, Naruto masuk ke dalam ruang musik. Hinata dan Karin berjaga di luar pintu untuk mengawasi keadaan. Sementara Ino dan Tenten menemani Naruto di dalam. Ruang musik sudah penuh oleh fangirls kelima pemuda itu. Ruangan mendadak hening saat ketiga gadis itu masuk dan berdiri di depan.
"Apa tandatangan itu asli?" Sakura buka suara memecah sunyi.
"Tentu saja," jawab Naruto bangga.
"Bagaimana bisa?" sahut salah seorang siswi.
"Aku mendapatkannya dengan caraku, kalian tidak perlu tahu." Kata Naruto cepat. "Yang jelas, apa diantara kalian menginginkan foto bertandatangan ini?" Naruto mengangkat foto kelimanya. Para fangirls itu mengangguk semangat. "Ok, aku akan melelang foto-foto ini dengan harga pantas." Lanjutnya mengulas senyum penuh kemenangan.
Lelang pun berlangsung sedikit ricuh, Naruto hanya bisa membelalakkan mata saat para siswi mulai menjerit, berebut meneriakkan nominal untuk foto-foto tersebut agar bisa mereka miliki. Bahkan beberapa siswi menangis karena tidak mendapatkan foto idola mereka. Seperti sudah diduga sebelumnya, Sakura mendapat foto Sasuke dengan harga tertinggi dan nampak puas saat dirinya melenggang meninggalkan ruang lelang.
"Bagaimana?" Karin dan Hinata berjalan mendekati Naruto saat lelang berakhir. "Terkumpul dua ratus ribu yen." Sahut Naruto.
"Wow, fantastis." Ino bergumam kagum.
"Tapi masih kurang," Naruto tertunduk lesu.
"Tidak apa-apa, sisanya aku akan mencari pinjaman." Sahut Tenten tersenyum kecil
"Kau akan pinjam dari siapa?" tanya Naruto. "Sakura?" Naruto menggelengkan kepala. "Sisanya biar aku yang cari, kau jangan cemas. Aku pasti bisa mendapatkan sisanya."
"Maaf, lagi-lagi aku menyusahkanmu." Tenten tertunduk lesu.
"Sudahlah, jangan sungkan. Itu gunanya teman, bukan begitu?" Naruto tersenyum lembut. "Lebih baik kita segera kembali ke asrama," lanjut Naruto berjalan mendahului keempatnya keluar dari ruang musik. "Ck, aku mau ke toilet. Kalian duluan saja."
"Mau aku temani?" tawar Hinata.
"Tidak perlu, sebaiknya kalian cepat kembali. Aku akan segera menyusul."
"Baiklah," sahut Hinata. Sedangkan Karin, Ino dan Tenten hanya mengangguk.
Naruto sedang mencuci tangan di wastafel saat mendengar ada seseorang masuk ke dalam toilet dan bicara dengan nada datar. "Bagaimana, apa acara lelangmu berjalan lancar?"
Naruto menelan ludahnya cepat, kali ini dia ingat. Ini adalah suara yang sama, saat dia ketahuan menyelinap masuk ke dalam asrama beberapa hari yang lalu. Perlahan Naruto mendongakkan kepala, menatap refleksi wanita itu di cermin dengan perasaan takut. Wanita itu berdiri tepat di belakang Naruto dan menatapnya serius. Naruto pun berkata lirih. "Uchiha-sensei?"
"Tidak perlu takut Naruto, aku hanya bertanya." Itachi tersenyum kecil pada Naruto. "Jadi, apa yang kau lelang?"
"Hanya foto," jawab Naruto.
"Foto?" beo Itachi dengan satu alis terangkat.
Naruto mengangguk. "Aku melakukannya untuk membantu teman." Ia membela diri. "Dia memerlukan uang untuk melunasi tunggakan sekolahnya."
"Benarkah?" Itachi nampak tidak percaya.
"Benar," jawab Naruto mencoba meyakinkan. "Tapi dana yang kami kumpulkan masih kurang." Ujar Naruto sembari menyandarkan tubuhnya pada wastafel.
"Kurang berapa?" selidik Itachi.
"Empat puluh lima ribu yen," jawab Naruto.
"Banyak sekali," kata Itachi simpati. "Aku akan menutupi kekuranganmu, tapi dengan satu syarat." Itachi tersenyum licik.
"Apa?" Naruto mendongak menatap Itachi.
"Aku menginginkan sebuah foto terbaru kakakmu dengan wajah tersenyum, dilengkapi dengan tandatangan dan tanda bibir, bagaimana?"
"Aishhh, Anda aneh." Ujar Naruto spontan. Keinginan Itachi terlalu sulit namun pantas dengan harga jualnya.
"Orang akan bersikap aneh jika jatuh cinta," ujar Itachi kalem.
"Ehhh... Anda masih menyukai kakakku?"
"Jadi, Kurama memberitahumu tentang masa lalu kami?" Naruto mengangguk menjawab pertanyaan Itachi. "Baiklah, jadi bagaimana. Apa kau setuju untuk menjual foto yang kuminta?"
"Beri aku waktu dua hari," jawab Naruto tanpa berpikir. "Aku akan mendapatkan foto itu untuk Anda."
"Baiklah," Itachi kembali tersenyum. "Aku akan menunggu berita bagus darimu."
.
.
.
Naruto bergerak gelisah di atas tempat tidurnya. Memorinya terus memutar pembicaraan antara dia dan Itachi tadi. Naruto menjambak rambutnya sendiri, begitu frustasi. "Kenapa aku tidak berpikir dulu sebelum menjawab?" erangnya kesal. "Bagaimana caranya aku bisa mendapat foto Kak Kurama? Harus tersenyum pula, lalu kenapa harus ditandatangan dan harus ada tanda bibir? Aku bisa gilaaaaa... Kak Kurama tidak mungkin melakukannya dengan sukarela."
"Bagaimana ini?" Naruto membenamkan wajahnya pada bantal. "Tanda bibir? Berarti aku harus memakaikan Kak Kurama lipstik untuk bisa menempelkan tanda bibir pada foto itu. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku malah meminta waktu dua hari? Kenapa tidak meminta waktu selama tiga hari? Ahhh... Aku benar-benar bodoh!" erang Naruto pelan. "Tapi aku beruntung karena Uchiha-sensei tidak mengenaliku," Naruto bangkit dan duduk di atas tempat tidur. "Kalau ketahuan, aku bisa celaka. Bagaimana ini?" Naruto berkata lirih, menjatuhkan diri di atas tempat tidur dan terus bergumam, menyesali kebodohannya hingga dia lelah dan akhirnya tertidur pulas.
.
.
.
TBC
Sampai jumpa dichap selanjutnya! ^^
#WeDoCareAboutSFN
