#MicTest 1,2,3 #MicTest - Ok, sebelumnya author mau cuap-cuap dulu. Ada beberapa permintaan untuk menyisipkan lemon di fict ini. Maaf, author tidak bisa mengabulkan. Karena beberapa pertimbangan juga, 2 fict author lain yang mengandung lemon sudah author hapus. Maaf yah...
Thank's untuk semua readers and viewers semua. Untuk Achan, jawaban pertanyaanmu ada di sini yah Cu...#Tepuk2KepalaAchan
Here We Go...
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s), etc
Genre : Romance, Crime, Friendship, Hurt/Comfort
Selamat membaca!
Under Cover
Chapter 9 : New Team
By : Fuyutsuki Hikari
Naruto melangkahkan kaki di sepanjang lorong gelap yang terasa tak berujung. Suara tetesan air yang jatuh mengenai besi-besi berkarat itu, menemani setiap langkah kakinya. Membuat suasana bertambah seram dan menakutkan. Naruto ingin berlari kencang mencari setitik cahaya, agar dia bisa keluar dari kegelapan yang mencekam ini. Namun apa daya, kakinya serasa tidak mampu untuk bergerak lebih cepat.
Wanita muda itu terus berjalan, terus dan terus. Mengikuti naluri yang menjadi penuntun jalannya saat ini, dan akhirnya dia menemukan sebuah pintu besi besar, jauh di depannya. Pintu besi itu sudah berkarat hingga terdengar deritan keras saat ia membukanya. Ruangan yang ada di balik pintu cukup besar dan tidak segelap lorong yang ia lewati. Ada cahaya lilin yang menerangi ruangan itu. Perasaan takut menyelimutinya seketika, saat dia berdiri di pintu masuk. Dia benar-benar tidak suka berada di sana. Ruangan itu pengap dan berbau anyir. Naruto mengernyit, matanya menyisir ke seluruh ruangan. Matanya terpaku pada suatu titik, ada tubuh seseorang tergeletak di ujung kanan ruangan itu. Ia tidak bisa melihat jelas dari jarak itu, hingga dia berjalan mendekat. Sosok itu ternyata seorang pria, cahaya lilin yang menari-nari memperjelas raut wajah dan warna rambutnnya. Pria itu berambut perak dan wajahnya sangat tidak asing untuk wanita muda itu.
Naruto terkesiap, matanya membulat sempurnya. "Paman?" Naruto bergumam lirih dan syok.
Benar, pria yang tergeletak itu adalah Kakashi, pamannya sendiri. Naruto berlutut lalu mengguncang pelan tubuh yang tidak berdaya itu. Hatinya seakan mau pecah saat melihat darah menggenang di sekitar tubuh Kakashi. Tubuh Kakashi terluka parah dan nampak tak bernyawa. Naruto hanya bisa melihat Kakashi dengan mata nanar. Ia mencoba untuk memanggil nama pamannya, namun tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Dia memegang tenggorokannya, 'ada apa denganku?' tanyanya di dalam hati, tanpa menyadari jika air mata mulai turun begitu deras dari sudut-sudut matanya.
Wanita muda itu terkesiap saat kepala Kakashi bergerak, menoleh ke arahnya dan berkata, "tolong aku!" nada suara pria itu terdengar serak dan parau.
Naruto menahan napas dan terbangun. Ia mengeluarkan napas kasar. "Mimpi..." katanya tanpa sadar. Ternyata ia masih berada di atas ranjangnya saat ini. Tubuhnya terasa lemas, keringat dingin membasahi rambut juga pakaian tidurnya. Naruto mengalihkan pandangannya pada pintu kaca balkon, cahaya putih menyelinap dari balik gordyn. Ia mengelap keringat dan menarik napas dalam-dalam saat kesadarannya kembali pulih. Sejenak dia termenung, mimpi itu terasa begitu nyata. "Firasat apa ini?" ia berkata lirih. Ada perasaan tidak enak di hatinya kini. Ia mengumpulkan segenap tenaganya dan bangun dari tempat tidur untuk menyambar telepon genggam miliknya yang tergeletak di atas meja belajar. Ia mencari nama Kakashi di daftar kontak telepon dan segera menghubunginya, namun hanya ada suara mesin penjawab yang menerima panggilanya. Mengatakan jika nomor yang dia tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
"Paman..." ia kembali berkata lirih dan tertunduk dalam. Lagi-lagi dia termenung, dia sangat cemas akan keadaan Kakashi yang kembali tidak ada kabar sejak pria itu mengatakan letak markas Kabuto pada pihak kepolisian- satu minggu lalu. Naruto kembali mencari kontak seseorang pada telepon genggamnya, dia menunggu dengan tidak sabar saat sang pemilik tidak kunjung menjawab panggilan teleponnya.
"Halo?!" seseorang menjawab panggilan telepon Naruto, tedengar setengah berbisik.
"Yamato-san?"
"Ya, ada apa?" tanya Yamato dengan suara serak.
"Apa ada kabar dari paman Kakashi?" tanya Naruto langsung pada pokok masalah. Ia bisa mendengar suara helaan napas panjang Yamato di sana.
"Belum," jawab Yamato yang juga cemas. "Jangan khawatir, pamanmu pasti baik-baik saja."
"Aku tidak yakin," balas Naruto terdengar gusar.
"Pamanmu, bukan seseorang yang bisa dengan mudah dikalahkan, Naruto." Kata Yamato mencoba setenang mungkin. "Aku pasti akan memberitahumu jika ada kabar terbaru, jadi jangan cemas."
"Bagaimana dengan penyamaranmu, apa berjalan baik? Apa kau perlu bantuanku?" Naruto kembali bertanya cepat.
"Untuk saat ini posisiku juga masih belum aman. Mereka masih menaruh curiga pada setiap orang baru. Karena itu, aku harap kau bersabar. Jika kita gegabah, usahaku mungkin akan berantakan dan kita tidak bisa mengambil resiko itu," jelas Yamato.
"Aku tidak bisa duduk tenang menunggu kalian disini," balas Naruto. "Sementara kalian harus bertaruh nyawa di luar sana. Aku merasa sangat tidak berguna."
"Kau hanya perlu menyiapkan diri, Naruto. Mungkin markas akan memanggilmu tiba-tiba untuk serangan mendadak." Naruto bisa mendengar nada serius pada suara Yamato saat ini.
"Aku akan selalu siap," jawab Naruto begitu yakin.
"Baiklah, aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik!"
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu." Balas Naruto sedih. "Jaga dirimu baik-baik, Kapten Yamato!"
"Ya, aku mengerti." Yamato pun memutus hubungan telepon mereka.
Setelahnya, Naruto kembali menyimpan telepon genggamnya di atas meja belajar. Dengan langkah berat dia masuk ke dalam kamar mandi. Dia perlu mandi air dingin saat ini. Setidaknya dia berpikir jika air dingin mampu meregangkan otot-otot badannya yang letih agar kembali segar.
Yamato langsung menghapus sejarah percakapan di telepon genggamnya dan segera menonaktifkannya. Dia benar-benar ceroboh, bagaimana bisa dia menyalakan telepon genggamnya saat dia berada di markas musuh. Yamato berjalan dengan sikap setenang mungkin, beruntung keadaan markas masih sepi- pagi ini. Mereka terlalu mabuk untuk bisa bangun pagi. Hanya ada beberapa pengawal saja yang berjaga di depan pintu masuk markas untuk mengawasi keadaan.
"Aku dengar bos kecil terluka parah dan disembunyikan di suatu tempat oleh bos besar," langkah Yamato berhenti saat mendengar percakapan itu dan memutuskan untuk mencuri dengar.
"Kudengar juga begitu," balas penjaga kedua. "Hanya dokter dan orang-orang kepercayaan tuan besar saja yang bisa menjenguknya."
"Polisi sialan itu terus mengganggu operasi kita," umpat penjaga pertama. "Aku ingin sekali membunuh mereka, mengeluarkan isi perut mereka dan membuang mayat mereka ke laut."
"Aku sih malas berhubungan dengan polisi-polisi brengsek itu," sahut penjaga kedua seraya menghisap dalam rokok di mulutnya dan menghembuskan asapnya lama. "Aku dengar, mereka bekerjasama dengan inteligen negara untuk menghabisi kita."
"Tidak perlu khawatir, dengan kekuatan bos besar, kita pasti bisa menumpas mereka dengan sadis. Lihat saja nanti!" seru penjaga pertama begitu yakin.
Yamato bergerak mundur, berbalik secara perlahan. Ia berusaha untuk tidak menimbulkan suara yang bisa menyebabkan kecurigaan. Rupanya Kabuto disembunyikan oleh bos besar, Yamato berbicara dalam hati. Aku harus mencari tahu tentang dokter itu dan memberikan laporan pada jendral Sarutobi.
.
.
.
Sasuke merasa jika Naruto bersikap tidak biasa pagi ini. Wanita muda itu hanya mengulum senyum simpul saat bertemu dengan Karin dan Ino di lorong kelas, pagi tadi. Sasuke terus memperhatikan wanita muda itu, yang terlihat tidak konsentrasi sepanjang pelajaran berlangsung. Bahkan Naruto itu tidak membalas ejekan Kiba, ia hanya menarik napas dalam dan membuangnya cepat tanpa merasa terganggu. Sedangkan Kiba yang merasa jika Naruto sangat membosankan hari ini hanya merengut kesal dan kembali duduk ke tempat duduknya. "Aneh," gumam Sasuke melihat sikap Naruto.
Jam kedua merupakan kelas bahasa Inggris, hingga keduanya bisa duduk di meja yang sama di ruang bahasa. Sasuke menulis sesuatu di kertas dan menyodorkannya pada Naruto. Sasuke bahkan harus menyikut Naruto pelan karena wanita muda itu menghiraukannya dan memilih untuk menatap keluar jendela kelas.
"Apa?" Naruto berkata lirih dan melirik ke arah Sasuke. Pemuda itu kembali menyodorkan kertas catatannya, sementara Itachi menjelaskan pelajaran di depan kelas. Sudah satu minggu, Itachi mengajar bahasa Inggris sebagai guru pengganti Kakashi, hal ini menambah besar kecemasan Naruto akan Kakashi.
"Ada apa, kau sakit?" tulis Sasuke di kertas itu.
"Aku hanya bosan," tulis Naruto sebagai balasan.
"Jangan bohong! Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Tidak ada!" Naruto kembali membalas tulisan dengan cepat, menatap tajam Sasuke dan menopang dagunya dengan tangan kiri.
"Aku tidak akan memaksa jika kau tidak mau bicara," tulis Sasuke lagi. Naruto hanya menatap tulisan itu datar dan membuang muka. Sasuke kembali menulis dan menyikut kecil tangan Naruto untuk mengembalikan perhatian wanita muda itu padanya. "Kau masih berhutang satu ciuman padaku, seharusnya aku mendapatkan hadiahku kemarin. Kenapa kemarin kau melarikan diri dariku?" Sasuke menyodorkan buku catatannya dan menatap Naruto serius.
Sesaat mata Naruto membelalak dan akhirnya memilih untuk melayani permainan pemuda itu. Dengan cepat dia membalas tulisan Sasuke dan menatapnya dengan tatapan menantang. "Mau melakukannya di sini? Sekarang?"
Sasuke mengangkat sebelah alisnya saat membaca tulisan Naruto, sebuah seringai jail kembali terukir di bibirnya. "Kenapa tidak?" dia balas menantang. Membuat wanita muda itu mendengus kecil dan menutup mulutnya rapat. Jemarinya memainkan sebuah pensil untuk mengalihkan rasa kesalnya pada Sasuke.
Naruto menoleh ke arah Sasuke saat pria itu kembali menyodorkan buku catatannya. "Pulang sekolah tunggu aku di ruang musik! Jangan mengingkari janjimu, aku mau hadiahku."
"Aku tidak pernah mengingkari janjiku," Naruto menulis cepat juga mengerucutkan bibir karena kesal.
Yeahhhh…! cibir Sasuke berkata tanpa suara namun mampu dimengerti oleh Naruto dengan baik. Bersamaan dengan itu Itachi menyudahi pelajarannya. Nyaris lima menit sebelum bel berbunyi, dia memberikan waktu bagi murid untuk kembali ke kelas dan menyiapkan diri untuk jam pelajaran berikutnya.
.
Sementara itu, di sebuah gudang tua, Orochimaru yang bertindak sebagai ketua mafia, mengumpulkan anggota-anggota pentingnya siang ini. Aura hitam nampak menyelimuti ruang kedap suara itu. Setiap orang yang berada di sana saling menatap curiga. Rentetan kejadian di dalam organisasi mereka, cukup membuat mereka waspada bahkan pada anggota mereka sendiri.
"Kalian tahu mengapa aku memanggil kalian semua, hari ini?" Orochimaru membuka suara, menyebabkan kelima petinggi organisasi yang hadir terdiam. "Jawab!" tambahnya tenang namun mengancam.
"Apa mungkin hal ini berkaitan dengan Kabuto?" sahut salah seorang pria yang bernama Zabuza.
"Bukan hanya itu," jawab Orochimaru tenang. "Belakangan ini, kita merugi hingga ratusan juta yen. Transaksi kita gagal hingga berkali-kali. Karena itu, aku menginginkan kepala pengkhianat itu."
"Maksud Anda, ada mata-mata di dalam organisasi kita?"
Orochimaru mendesis. "Para polisi brengsek itu pasti sudah menyusupkan anggotanya ke dalam organisasi kita. Aku ingin kalian membawa mata-mata itu ke hadapanku."
"Kenapa anda tidak meminta bantuan dia?" Zetsu kini bertanya. "Pekerjaan kita akan jauh lebih mudah dengan informasi darinya."
"Dia tidak bisa bebas bergerak saat ini, karena itu kita tidak bisa terus mengandalkannya." Sahut Orochimaru tenang. "Tidak banyak yang tahu mengenai wajah, juga sosokku. Karena itu, jika sampai sosokku ini diketahui oleh musuh, itu berarti, musuhku selama ini ada di antara kalian." Ucapan Orochimaru begitu dingin, membuat suasana kembali tegang. Tatapan saling menuduh pun kembali dilemparkan pada satu sama lain. "Awasi kelompok kalian, jika ada anak buah kalian yang mencurigakan, segera ambil tindakan dan laporkan padaku. Tidak ada yang boleh kalian sembunyikan dariku, kecuali..." Orochimaru membiarkan perkataannya menggantung, sebelum akhirnya meneruskan dengan nada jahat. "Kecuali jika kalian menginginkan kematian yang menyakitkan."
Sebuah ketukan menghentikan pembicaraan di ruangan tersebut. Muu membungkuk pada Orochimaru dan berkata penuh hormat. "Saya membawanya pada Anda, Tuan Orochimaru."
"Benarkah?" Orochimaru tersenyum senang. "Kerja bagus, Muu." Pria ular itu menepuk pundak Muu bangga. "Bawa dia padaku!"
Muu kembali membungkuk hormat sebelum menyeret pria gempal berkepala botak ke hadapan Orochimaru. Pria botak itu bersujud di kaki Orochimaru dengan tubuh bergetar. Orochimaru memberi tanda pada Muu untuk keluar, sebelum mengalihkan pandangannya pada pria gempal yang masih bersujud di kakinya.
"Mana barangku?" tanya Orochimaru begitu tenang dan datar.
"Ma-mafkan saya, Tuan." Cicit pria itu ketakutan.
"Aku hanya menginginkan barangku, mana barangku?" ulang Orochimaru yang kini sudah kembali duduk nyaman di tempat duduk tingginya. Kelima orang lain yang ada di sana hanya duduk diam, tanpa mengatakan apapun. Mereka terlalu takut untuk bergerak saat ini.
"Ba-barang A-anda disita o-oleh polisi." Jawabnya terbata.
"Jadi, barangku disita oleh polisi?" Orochimaru bertanya dengan sebelah alis terangkat.
"Be-benar," sahut pria itu tanpa bisa menatap wajah Orochimaru.
"Jika barangku disita oleh polisi, kenapa kau bisa berada di sini?"
Pria itu menelan air ludah dengan susah payah sebelum menjawab takut. "Sa-saya berhasil me-melarikan diri dari kejaran polisi, sebelum kaki tangan anda menyeret saya dari tempat persembunyian saya." Jelas pria itu panjang lebar.
Tawa keras Orochimaru menggema ke seluruh ruangan. "Kau membiarkan barangku disita, sementara kau menyelamatkan dirimu sendiri?" Orochimaru berdiri, beranjak dari tempat duduknya dan menarik kerah kemeja pria itu, lalu berteriak keras. "Harga barang itu lebih mahal dari nyawamu, apa kau tahu hal itu?"
"M-ma-maafkan saya, Tu-tuan." Pria itu kembali mencicit ketakutan.
"Maaf?" Orochimaru melepaskan kerah kemeja pria itu dan kembali duduk dengan bertopang kaki. "Maaf saja tidak akan cukup untuk menghapus kesalahanmu, serta mengganti semua kerugianku." Teriak Orochimaru sambil menarik sebuah pemukul golf dari bawah meja. Tanpa aba-aba dia bergerak ke belakang tubuh pria itu dan tanpa merasa iba, dia memukul pria itu bertubi-tubi dengan alat yang ada di tangannya. Teriakan kesakitan terus keluar dari mulut pria itu, yang saat ini mencoba melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. Orochimaru tertawa begitu keras saat darah dari kepala pria itu menyembur ke segala arah akibat perbuatannya.
"Ini adalah balasan setimpal untuk kesalahanmu," raung Orochimaru puas. Orochimaru berhenti memukul saat pria gemuk itu berhenti bergerak dan mati. "Ini juga peringatan untuk kalian!" kata Orochimaru santai seraya mengelap noda darah pada pemukul golf itu dengan beberapa lembar tisu. "Jadi pikirkanlah baik-baik, sebelum kalian berniat untuk mengkhianatiku. Karena aku tidak akan segan-segan untuk membunuh kalian dengan kedua tanganku sendiri."
.
.
.
Sementara itu di sekolah, Naruto berjalan keluar ruangan seorang diri. Dia mempercepat langkahnya menuju loker untuk mengambil sebuah buku dan sebuah kamera polaroid, sebelum menuju kantin sekolah untuk makan siang.
Mentari bersinar sangat cerah siang ini, menghantarkan kehangatan pada isi dunia. Namun, Naruto tetap muram. Keadaannya masih belum kunjung baik, sejak dia bangun pagi ini. Hanya ada bayangan Kakashi yang berlumur darah dan terkapar mengenaskan di dalam pikirannya kini.
"Ada apa denganmu?" tanya Ino sedikit aneh saat melihat Naruto hanya menatap malas piring berisi makan siangnya. Meja paling pojok yang biasanya hanya berisi empat orang gadis, kini bertambah satu personil, yaitu Tenten. Sakura bahkan melirik penuh ancaman pada mereka saat melihat Tenten memilih untuk bergabung dengan musuh besar gadis berambut merah muda itu.
Naruto menggelengkan kepala, mencoba untuk kembali fokus dan menjawab pertanyaan itu dengan bisikkan. Dia mengisyaratkan pada keempat temannya untuk lebih mendekat. "Aku sudah tahu bagaimana mendapatkan sisa uang yang kita butuhkan," kata Naruto dengan nada serius.
"Benarkah?" Hinata terpekik senang. Naruto mengangguk dan tersenyum kecil. "Ya, tapi aku membutuhkan bantuan kalian." Tukas Naruto menyodorkan sebuah kamera polaroid yang dibawanya.
"Untuk apa ini?" Karin mengerjapkan mata, tidak mengerti.
"Tolong ambil foto kakakku saat dia tersenyum." Kata Naruto masih berbisik lirih, hingga hanya keempat wanita muda itu yang bisa mendengar suaranya. Tenten dan Karin terhenyak kasar sementara Ino dan Hinata menatap Naruto lurus, seolah mengatakan jika wanita muda itu gila. "Aku serius," kata Naruto menatap keempatnya. "Kita membutuhkan foto itu, untuk bisa menutupi kekurangan keuangan kita."
"Memangnya siapa yang menginginkan foto Namikaze-sensei?" Karin bertanya lemah seolah menyerah sebelum bertanding.
"Rahasia...!" jawab Naruto penuh misteri. "Yang jelas, dia berani membayar mahal untuk itu." Naruto kembali menghela napas dan mengeluarkannya kasar. "Selain itu, dia juga menginginkan foto itu ditandatangan oleh kakakku, juga diberi tanda kecupan di sana."
"Hohoho…!" Ino tertawa mengerikan. "Dia gila!" Ino mendesis dan bersidekap. "Dia hanya mempermainkanmu, Naruto." Katanya dengan nada satu oktaf lebih tinggi.
"Sttttstttt…!" tegur Naruto pelan.
Ino berdeham kecil. "Maaf. Hanya saja permintaannya tidak masuk akal," desis Ino. "Mengambil foto Namikaze-sensei yang sedang tersenyum bisa dibilang sulit. Sangat sulit. Belum lagi tambahan dua hal konyol lainnya." Ia menggelengkan kepalanya pelan setelahnya.
"Tapi, bayarannya sesuai." Naruto kembali mengingatkan dengan mimic serius.
"Sudahlah," Hinata menengahi. "Kapan batas waktunya?"
"Besok," jawab Naruto tanpa ekspresi, begitu cepat.
"Apa kubilang, orang itu gila." Ino mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Sudahlah," timpal Tenten tertunduk merasa bersalah. "Lupakan saja," lanjutnya tersenyum miris. "Seharusnya aku tidak menyulitkan kalian semua karena masalahku, biarkan aku mencari solusinya sendiri."
"Berhenti menyalahkan diri sendiri, Tenten." Tegur Naruto. "Yang harus kita lakukan saat ini hanya fokus. Kita harus mendapatkan foto itu secepat mungkin. Aku akan pergi ke meja kakakku dan mengajaknya bicara. Semoga saja aku bisa membuatnya tertawa. Dan tugas kalian adalah menangkap momen itu, mengerti?" Naruto melirik ke arah meja Kurama. Pria itu tengah menyantap makan siangnya seorang diri saat ini. Sementara Itachi, Mei dan Kurenai duduk tidak jauh dari meja Sakura yang berada di tengah ruangan.
"Aku mengerti." Jawab keempatnya begitu kompak.
"Doakan aku!" pinta Naruto begitu lirih sebelum berdiri dan berjalan menuju meja kakaknya dengan membawa sebuah buku dan sebuah tempat pensil di tangannya. Sedangkan keempat temannya mengekori di belakang wanita muda itu, untuk mencari posisi paling bagus untuk mendapatkan foto Kurama.
.
.
.
"Kenapa makan sendiri?" Naruto bertanya ketus dan mendudukkan diri di depan Kurama.
Pria itu mendongakkan kepala dan menjawab acuh. "Karena kau tidak mau makan bersamaku, karena itu aku makan sendiri."
"Alasan macam apa itu?" Naruto mendengus sebal.
Kurama menyimpan sendok juga garpu di atas piring dan menggeser piring itu ke samping kanannya. "Sudah mengerjakan tugas yang kuberikan?" tanya Kurama seraya mengelap mulut dengan serbet.
Naruto kembali berdecak kesal dan membuka buku yang ada di tangannya. "Aku sedang mengerjakannya," desisnya. Wanita muda itu merengut saat mencoretkan pensil di tangannya di atas buku untuk menjawab pertanyaan yang ada di sana. Kurama tersenyum dan mengacak rambut Naruto sayang. Beberapa siswi yang menjadi saksi mata kejadian langka itu hanya bisa menahan napas saat melihatnya. Perlahan, pipi mereka merona merah. Jangan salahkan Kurama jika mereka jatuh pada pesonanya saat ini. Pria itu seolah-olah sedang menyebar feromon dengan senyumannya. Begitu pun dengan keempat teman Naruto, mereka seolah tersihir hingga lupa akan tugas mereka. Keempatnya memiringkan kepala dan menatap Kurama dengan tatapan memuja.
"Apa ada soal yang tidak kau mengerti?" Kurama menggigit kudapan terakhirnya, sebuah apel merah.
"Belum ada," jawab Naruto cepat tanpa mengalihkan tatapannya dari buku yang ada di hadapannya saat ini.
"Bagus," Kurama kembali mengacak rambut Naruto sayang.
"Ck, jangan mengacak rambutku!" protes Naruto keras dan mendelik tajam ke arah kakaknya yang kini menyeringai puas. "Itu tanda sayang dariku," ujar Kurama mengulum senyum mautnya. Tanpa mereka sadari, udara di sekitar mereka sudah berubah drastis saat ini. Udara kosong itu kini dipenuhi oleh ilusi bunga-bunga mekar dan beberapa bentuk hati berwarna pink yang beterbangan dengan bebas. "Ya Tuhan," ujar Naruto menatap takjub Kurama sembari meletakkan pensilnya dengan keras ke atas meja. "Kak, tolong lakukan lagi!"
Kurama menatap heran. "Lakukan apa?"
"Senyum!"
"Apa?"
"Berikan aku senyuman lebar!" ujar Naruto tidak sabar. "Tersenyumlah, seperti yang baru saja Kakak lakukan. Kau benar-benar tampan saat tersenyum." Jelas Naruto, panjang lebar.
Kurama menyipitkan mata dan menatap lurus Naruto. "Apa yang sedang kau rencanakan?"
"Tidak ada," jawab Naruto cepat, menambah kecurigaan Kurama.
"Jangan pikir aku akan percaya begitu saja," Kurama mendekatkan wajahnya pada wajah Naruto. "Sekarang kerjakan tugasmu dengan baik dan berikan hasil kerjamu padaku di hari Jumat nanti, mengerti?"
"Kejam!" jerit Naruto tertahan.
"Memang," balas Kurama cuek dan meninggalkan Naruto dengan seringaian penuh kemenangan.
Naruto menengok ke belakang, menatap dan menjulurkan lidahnya ke punggung Kurama yang menjauh pergi. Benar-benar kekanakkan. Dia pun segera berdiri dan berjalan menghampiri meja keempat temannya. "Bagaimana?" tanyanya setelah duduk di samping Hinata.
"Bagaimana apanya?" Karin nampak bingung.
Naruto memutar kedua bola matanya malas. "Bagaimana dengan tugas kalian, apa berhasil mendapatkan foto kakakku?" keempatnya menggeleng pelan. Naruto mendecih dan menghela napas pendek. "Bagaimana bisa?" suara Naruto terdengar sedikit bergetar, kecewa.
"Kami terpesona," Hinata tertunduk dan menautkan jari-jarinya erat. Sementara ketiga temannya yang lain nampak gelisah dan gugup.
"Terpesona?" beo Naruto. "Kalian...!" Saking kesalnya Naruto tak mampu berkata-kata. "Bahkan kau juga, Hinata?" Naruto menggelengkan kepala tak percaya. Tubuhnya seolah menciut karena lemas.
"Namikaze-sensei sangat tampan saat tersenyum," jawab Ino dengan mata berbinar. "Ayo kita dirikan fanclub untuk Namikaze-sensei," lanjutnya semangat.
"Aku setuju," sahut Tenten senang. "Aku daftar sekarang juga," katanya menggebu.
"Hei, hei, hei," tegur Naruto. "Ada yang lebih penting sekarang, ingat?" cibirnya. "Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi," Ia menghela napas panjang.
"Maaf, Naruto!" lirih keempatnya bersamaan.
"Tenang... selepas istirahat, aku ada jam pelajaran Namikaze-sensei." Kata Karin buka suara setelah jeda yang cukup lama.
"Dia tidak mungkin tersenyum saat mengajar," jawab Naruto lirih. "Bagaimana ini?" Naruto meletakkan kepalanya di atas meja. Kelimanya kini terdiam dan menghela napas panjang dengan kompak.
"Ada apa denganmu?" suara berat itu terdengar lembut di telinga Naruto. Sasuke pun tersenyum dan duduk di samping Naruto. Suasana kantin yang ramai kembali mendadak hening, para siswi kembali terkesiap, mereka takjub. Mata mereka kembali dimanjakan, melihat sesuatu yang sangat jarang terjadi setelah Kurama tertawa dan tersenyum. Ya, mereka menjadi saksi mata akan seulas senyum pada wajah Sasuke yang memikat.
Tenten, Karin, Ino dan Hinata yang sudah pulih dari keterkejutannya mengerjapkan mata dan semakin gugup saat dipandangi intens oleh Sasuke. Seolah mengerti makna yang tersirat, keempatnya segera berdiri dengan tergesa. "Sebaiknya kami pergi untuk mengambil gambar yang kau inginkan, Naruto." Ucap Karin cepat. Naruto perlahan mengangkat kepalanya dan menatap mereka pasrah. "Semoga berhasil," katanya setengah berbisik. Sasuke yang kini duduk di sebelahnya mengalihkan pandangannya pada Naruto yang terlihat lesu. "Kau sangat aneh hari ini, ada apa?" tanyanya selepas kepergian teman-teman Naruto.
"Kau bilang tidak akan memaksaku bicara," wanita muda itu berdecak. "Dan jangan bicara padaku, aku sedang pusing. Kecuali kau bisa membantu." Dengus Naruto.
"Bagaimana bisa aku membantumu, jika kau tidak bicara." Balas Sasuke datar.
Naruto menatap Sasuke dengan bibir bergetar, matanya terlihat sayu dan lelah. "Jangan menatapku seperti itu, kau ingin aku menerkammu di sini, saat ini juga?" desis Sasuke dingin.
"Kau bisa bercanda disaat genting seperti ini?" Naruto berkata keras, terlihat marah. Sasuke membuang napas dan kembali menatap lurus Naruto. "Katakan saja apa masalahmu!"
"Aku memerlukan foto kakakku," kata Naruto pelan.
"Tinggal ambil saja, kau mau aku mengambilkan gambarnya untukmu?" Sasuke berkata cepat dan terdengar mengejek dengan senyum angkuh.
"Aku belum selesai bicara," sembur Naruto kesal. "Bukan foto biasa, aku perlu foto Kak saat tersenyum. Foto itu juga harus ditandatangani dan diberi tanda bibir miliknya." Sasuke terdiam mendengar penuturan Naruto. "Lihat, sekarang kau tidak bisa bicarakan!" cibir Naruto merasa menang.
"Hn."
"Kau sama sekali tidak membantu."
"Apa yang akan kudapatkan jika aku membantumu?" Sasuke bertanya datar.
"Kenapa kau selalu meminta imbalan?"
"Tidak ada yang gratis di dunia ini, Naruto." Balas Sasuke mengangkat kedua bahunya.
"Baiklah, apa maumu?"
"Kencan," jawab Sasuke singkat tanpa melepaskan pandangan dari wajah Naruto.
"Apa?"
"Aku ingin kencan denganmu hari Minggu nanti, bagaimana?"
"Baiklah, baiklah, baiklah." Jawab Naruto berulang-ulang saking kesalnya. "Sekarang katakan saja apa rencanamu!"
Sasuke menyeringai dan menjawab pelan. "Katakan saja yang sejujurnya pada kakakmu-"
"Kau gila," potong Naruto tajam.
"Jangan potong ucapanku!" desis Sasuke. "Bumbui pengakuanmu dengan sedikit kebohongan, katakan saja jika kau sedang taruhan. Kakakmu pasti mau membantu jika dia tahu apa hadiah dari taruhan itu."
"Jika hanya karena itu, aku yakin oKak tidak akan mau membantu." Balas Naruto lemah.
"Dia akan membantu jika ciuman adiknya yang dipertaruhkan," Sasuke kembali menyeringai.
"Apa?"
"Katakan padanya, jika kau kalah, kau harus menciumku mesra di hadapan semua orang."
"Kau jenius!" pekik Naruto terlihat senang. "Dan kau benar-benar licik," lanjut Naruto sementara Sasuke mengangkat kedua bahunya acuh. "Tapi, aku yakin rencanamu akan berhasil, sangat berhasil malah. Kenapa aku tidak memikirkan hal ini?"
"Ingat saja akan janjimu, Naruto." Kata Sasuke berat. "Aku tunggu kau sepulang sekolah nanti di ruang musik. Kau masih memiliki hutang padaku." Katanya serius hingga Naruto harus menelan ludah karena gugup. "Jangan coba-coba kabur atau aku akan membocorkan masalah ini pada Namikaze sensei." Ancam Sasuke serius.
"Tidak perlu mengancamku, aku pasti datang." Balas Naruto. "Sasuke, ngomong-ngomong bagaimana keadaan Kiba?"
Mata Sasuke menyipit seketika mendengar pertanyaan Naruto. "Kenapa kau mengkhawatirkannya?" Sasuke terlihat tidak suka.
"Dia temanku, sahabatmu." Balas Naruto cuek. "Apa yang salah dari pertanyaanku."
"Kau mengkhawatirkan orang lain, apa kau pernah mengkhawatirkanku?"
"Apa yang harus aku khawatirkan darimu," jawab Naruto ketus. "Kau sekuat banteng dan secerdas burung hantu."
"Kau benar-benar tidak peka," desis Sasuke. "Tanyakan saja pada orangnya langsung jika kau merasa khawatir, jangan bertanya kepadaku!"
"Hei, aku belum selesai bicara." Kata Naruto mengikuti Sasuke yang sudah berdiri dan berjalan pergi meninggalkannya. "Aku hanya khawatir, seharusnya kau membantunya belajar agar bisa memperbaiki nilainya saat ujian di kelas matematika selanjutnya. Dia bisa malu jika terus menjadi siswa dengan nilai terendah di kelas matematika. Kakakku bisa bersikap sangat sadis, kau tahu?" Naruto terus bicara dan menyamakan langkah kakinya dengan Sasuke.
"Dia tidak akan mati hanya karena dihukum membersihkan kelas," jawab Sasuke dingin.
"Dia sahabatmu." Naruto kembali mengingatkan.
"Hn."
"Bagaimana kalau aku yang membantunya belajar?"
"Jangan macam-macam, Naruto!" Sasuke berhenti berjalan dan berdiri tepat di depan Naruto secara tiba-tiba. Menyebabkan wanita muda itu menabrak tubuh Sasuke karena tidak bisa mengerem langkahnya dengan cepat. "Dia sudah dewasa, Kiba bisa belajar sendiri, jadi pikirkan saja masalahmu. Bukankah ada hal penting yang harus kau kerjakan saat ini?"
"Ah, kau benar." Kata Naruto. "Lebih baik aku mencari Kak. Dia pasti ada di perpustakaan saat ini. Sampai jumpa, Sasuke."
"Hn." Balas Sasuke pendek, sementara Naruto berbalik pergi untuk mencari Kurama.
.
.
.
"Kenapa mengikutiku?" tanya Kurama tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dia baca.
"Jadi, Namikaze-sensei lebih suka diikuti oleh Uchiha-sensei?" goda Naruto menghasilkan tatapan tajam Kurama yang diarahkan lurus kepadanya. Wanita muda itu sengaja memanggil Kurama seperti itu untuk menggodanya. "Bercanda," kata Naruto cepat. "Sensei, sebenarnya saya membutuhkan bantuan anda saat ini." Naruto berkata sopan hingga Kurama mengangkat alisnya heran dan sedetik kemudian menutup buku bacaannya. "Ada apa? Sikapmu aneh," kata Kurama datar.
"Bagaimana yah bilangnya," kata Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Cepat katakan!" seru Kurama tajam.
"Ano... Kakak tahukan jika beberapa remaja suka mengadakan taruhan yang tidak masuk akal," tukas Naruto mulai bercerita. Tangannya mulai berkeringat karena gugup.
"Hm..." Jawab Kurama pendek.
"Aku juga melakukan hal yang sama, Kak." Kata Naruto berdusta. Dia menggigit bibir bawahnya dan menundukkan kepala, terlalu takut untuk menatap Kurama saat ini.
"Baka!" balas Kurama dingin. "Memangnya apa yang kalian taruhkan?" Kurama menutup keras buku bacaannya dan melempar tatapan tajam pada Naruto.
Wanita muda itu bergerak gelisah menerima tatapan tajam Kurama, berdeham kecil dan menjawab. "Sebenarnya taruhannya agak sulit," Naruto kini tersenyum dipaksakan. "Karena aku harus mengambil foto Kak yang sedang tersenyum, membubuhkan tandatangan Kak di sana, lalu..."
"Lalu apa?" potong Kurama.
"Aku juga harus mendapatkan tanda bibir Kak." Jawab Naruto setengah berbisik dan kembali menunduk.
"Selamat berjuang untuk mendapatkannya," desis Kurama tidak peduli.
"Kak, tolong bantu aku." Naruto sedikit merengek, berharap Kurama akan luluh jika melihat air mata buayanya.
"Tidak," jawab Kurama pendek dan tegas.
"Harga diriku dipertaruhkan di sini," Naruto kembali merengek. Kurama menghela napas panjang dan menatap Naruto lurus.
"Aku sudah pernah katakan padamu, jangan main-main dengan hal yang tidak sanggup kau kerjakan." Naruto menunduk semakin dalam mendengar perkataan Kurama yang begitu tajam. Melihat raut wajah Naruto yang menyedihkan, akhirnya membuat Kurama luluh dan menghela napas panjang. "Memangnya apa yang harus kau lakukan jika kalah?" nada suara Kurama kini sedikit menurun.
Naruto menautkan jari-jarinya dan menyimpannya di atas pangkuan, membiarkan pertanyaan Kurama menggantung untuk memberikan efek dramatis. "Aku harus mencium Sasuke di depan murid lain," kata Naruto lirih. "Dan bukan ciuman biasa, tapi French kiss." Tambahnya seraya memasang wajah memelas. Aktingnya saat ini benar-benar patut diacungi jempol.
"Kau benar-benar bodoh," kata Kurama dengan wajah mengeras marah. "Bagaimana bisa kau masuk perangkap pantat ayam itu? Lalu apa yang akan dia lakukan jika kalah?"
Naruto memutar otak dengan cepat dan menjawab. "Dia akan jadi pesuruhku selama satu minggu."
"Benar-benar kekanak-kanakkan," ejek Kurama melirik tajam adiknya.
"Jadi, apa Kak mau membantuku?" tanya Naruto penuh harap.
"Sepertinya dengan terpaksa aku harus membantumu," jawab Kurama tidak rela. "Sebelum jam makan malam, mampir ke rumahku. Kita akan ambil foto dan lainnya di sana."
"Benarkah?" tanya Naruto begitu semangat, Kurama mengangguk kecil. "Arigatou Kak." Kata Naruto dengan senyum manis, matanya berbinar bahagia, ucapan Kurama laksana oasis di padang pasir untuknya. Sementara Kurama hanya diam dan kembali membuka buku bacaannya yang sejenak terabaikan.
Tanpa keduanya sadari, sepasang mata onyx terus mengawasi gerakan mereka dari balik rak buku. Itachi menatap Kurama dari kejauhan, wajahnya yang tanpa ekspresi mampu menyembunyikan perasaan dirinya yang sebenarnya. 'Kenapa kau tidak percaya saat aku mengatakan jika aku benar-benar mencintaimu, Ku. Andai saja aku tidak mengikuti taruhan bodoh itu. Mungkin saat ini, akulah yang akan duduk di sampingmu dan tertawa untuk menggodamu. Walau aku tahu jika dia adalah adikmu, tapi hati ini tetap merasa cemburu.' Batin Itachi.
Dan senja pun mulai datang menyapa, kebanyakan murid sudah kembali ke asrama. Sementara sisanya masih bertahan di sekolah karena kegiatan eskul atau memilih untuk duduk dan belajar di perpustakaan sebelum jam makan malam. Naruto sendiri berjalan menuju ruang musik tanpa tergesa. Jika mengingat akan apa yang akan terjadi, nyaris membuat kaki Naruto berubah seolah menjadi jelly dan sangat sulit baginya untuk menyeret kakinya ke sana.
Wanita muda itu memutar pegangan pintu dengan perlahan. Tanpa suara dia beranjak masuk ke dalam ruang musik, membuang napas cepat saat melihat sosok Sasuke yang berdiri di depan jendela, menatap langit senja dan membelakangi Naruto saat ini. "Kau terlambat," tukas Sasuke berat. Naruto hanya mengangkat kedua bahunya dan menjawab acuh. "Kau tidak mengatakan jam, ingat?"
Sasuke segera berbalik dan menatap tajam Naruto. Namun pada akhirnya pemuda itu memilih untuk membuang muka dan menghela napas panjang. Dia berjalan pelan menuju piano dan duduk di kursinya. "Kemarilah," pinta Sasuke menepuk tempat kosong di sebelahnya. Dengan enggan Naruto berjalan dan duduk di samping pemuda itu. Sedangkan Sasuke mulai memainkan jemarinya di atas tuts, menghasilkan alunan suara piano yang lembut dan melody 'Moonlight Sonata' pun mengalun sempurna.
Naruto mulai kesal dengan kelakuan Sasuke, wanita muda itu melirik marah dan berkata tajam. "Cepat selesaikan Sasuke, aku masih ada pekerjaan lain."
Sasuke bersikap tenang, seolah tuli dia tidak menghiraukan perkataan Naruto dan memilih untuk terus menarikan jari-jarinya di atas tuts. "Sasuke?" Naruto memanggil dengan gigi gemertak.
"Hn," jawab Sasuke.
"Apa sekarang aku yang harus memulai, aku ingin hutangku padamu lunas saat ini juga. Cepat lakukan, aku harus menemui Kak Kurama setelah ini."
Jari-jari pemuda itu berhenti seketika, dengan tatapan tajam Sasuke menatap Naruto. "Jangan menghancurkan moodku yang sedang baik," desisnya. "Kenapa kau tidak bisa merasakan suasana saat ini, latar belakang senja, alunan musik klasik secara live, bukankah ini romantis. Biasanya perempuan menyukai hal-hal seperti ini."
"Aku bukan wanita kebanyakan," sahut Naruto kesal.
"Setidaknya hargai usahaku," kata Sasuke dingin. "Aku tidak pernah melakukan ini untuk gadis lain." Tambahnya serius.
Melihat keseriusan di sorot mata Sasuke, akhirnya membuat Naruto luluh. Wanita muda itu tersenyum dan membalas lembut. "Mainkan lagi untukku!" Sasuke mendengus dan mulai menarikan kembali jari-jarinya di atas tuts piano. Naruto menutup mata, menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu. 'Benar, tidak ada salahnya jika aku menikmati sisa-sisa waktuku untuk bersamanya. Biarkan semua ini jadi kenangan indah. Karena dengan mengingatmu, itu adalah caraku untuk mendoakanmu.' Batin Naruto.
"Sasuke?" panggil Naruto lirih tanpa membuka kedua matanya.
"Hn."
"Kenapa kau menyukaiku?"
"Cinta tidak bisa memilih, Dobe." Jawab Sasuke tenang.
"Banyak gadis lain yang lebih baik, jauh lebih cantik dan lebih sesuai untukmu. Kenapa malah memilihku?"
"Sudah kubilang, cinta tidak bisa memilih."
"Kau benar-benar bodoh," ejek Naruto pahit.
"Jika menyukaimu adalah hal bodoh, maka aku menyukai kebodohan itu." Jawab Sasuke dengan nada dalam.
Naruto mengangkat kepalanya, merubah posisi duduknya hingga menyamping dan menangkup wajah Sasuke dengan kedua tangannya. Menyebabkan pemuda itu berhenti bermain piano dan menatap lurus gadis yang ada di hadapannya. "Terima kasih karena sudah menyukaiku," ucap Naruto lirih sebelum mempertemukan kedua bibir mereka dalam ciuman lembut dan lama.
"Kenapa aku merasa jika kau akan pergi, Naruto?" tanya Sasuke setelah ciuman mereka berakhir.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak," sahut Naruto seraya menghapus jejak lip gloss miliknya yang tertinggal pada bibir Sasuke dengan ibu jarinya.
"Jangan pergi! Aku tidak bisa membiarkanmu pergi, karena aku sudah mulai terbiasa dengan keberadaan dirimu di sisiku." Sasuke berbisik lirih.
Naruto hanya tersenyum kecil menanggapi pernyataan Sasuke dan kembali menyandarkan kepalanya dengan nyaman pada bahu bidang pemuda itu. "Mainkan sebuah lagu lagi untukku," pinta Naruto lembut. Sasuke mengecup ringan puncak kepala Naruto sebelum akhirnya kembali memainkan jari-jarinya di atas tuts piano, memainkan lagu Fur Elise karya Beethoven.
.
Naruto berjalan menuju rumah dinas Kurama dengan langkah ringan. Dia tahu jika saat ini dia sudah tidak memiliki banyak waktu untuk tetap berada di sekolah ini. Karena itulah, banyak sekali PR yang harus dikerjakan wanita muda itu sebelum pergi. Pertama, membuat kenangan indah bersama Sasuke, yang mana sudah dia mulai sore ini. Kedua, jika Itachi sensei merupakan kebahagiaan Kurama, maka dia harus menyatukan keduanya kembali. Wanita muda itu menghela napas panjang. "Tapi apa yang bisa kulakukan untuk merekaa?" tanyanya pada langit yang semakin gelap. Dia juga harus menyelesaikan masalah Tenten, mungkin dia akan bicara dengan kakaknya juga Itachi perihal ini. Naruto juga harus menitipkan ketiga muridnya pada Kurama dan membujuk kakaknya agar bersedia menjadi pelatih pengganti dirinya.
Wanita muda itu mengetuk daun pintu di hadapannya dengan perlahan. Setelah beberapa saat, Kurama membukakan pintu dengan wajah sebal. "Pernah dengar bel pintu?" Kurama melirik ke arah bel pintu berada. Naruto terkekeh dan menjawab ringan. "Back to nature," katanya sambil beranjak masuk setelah diberi jalan oleh kakaknya. Kurama nampak santai sore ini, dia hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih dan celana pendek sebatas lutut berwarna khaky.
"Kau sudah membawa kamera?"
"Ehm... aku membawa kamera polaroid." Jawab Naruto tersenyum lebar. "Cara singkat untuk hasil yang sempurna," candanya hambar.
Kurama memutar kedua bola matanya dan bersidekap angkuh. "Cepat ambil gambarnya, kita selesaikan hal ini secepat mungkin."
"Aku menginginkan gambar yang terlihat natural, aku tidak mau Kak tersenyum paksa." Kata Naruto bersandar pada sisi meja nakas dengan santai.
"Permintaanmu terlalu banyak, Naruto." Ujar Kurama berkedut kesal. "Aku sudah mau membantumu saja, sudah bagus."
"Ayolah, Kak..." Naruto memohon dan membuntuti Kurama hingga ke dapur. "Jangan setengah-setengah kalau mau menolong." Katanya dengan nada manja.
Kurama menghempaskan diri ke atas kursi meja makan dan menyeruput kopi hitamnya lama. Sebuah buku tergeletak di depannya, jari-jarinya kembali membuka halaman buku yang beberapa saat lalu dia tinggalkan untuk membuka pintu. Sementara itu, Naruto mendudukkan diri di seberang meja makan dan menatap Kurama lurus. Sebuah kamera polaroid, lipstik dan spidol permanen sudah dia siapkan di atas meja.
"Kak," panggil Naruto lirih. "Kak tahu kan jika aku tidak mungkin seterusnya berada di sekolah ini. Cepat atau lambat aku harus kembali ke kesatuanku dan bertugas sebagai prajurit yang baik." Kurama tidak bereaksi, Naruto mengambil napas dalam dan tersenyum kecil. "Kak, jika aku pergi bisakah aku menitipkan ketiga muridku padamu? Tolong angkat mereka menjadi muridmu dan latih mereka judo."
Kurama meletakkan cangkir kopinya dan menatap heran. "Kenapa kau bicara seolah kau akan pergi untuk selamanya? Jika kau memang ingin merasakan bagaimana rasanya lulus SMA, maka bertahanlah di sini. Yang kau harus lakukan hanya mengundurkan diri dari kesatuanmu dan hidup layaknya murid SMA normal."
"Aku tidak bisa," jawab Naruto setengah berbisik. "Aku terlalu mencintai pekerjaanku," tambahnya mantap. Kurama menggertakkan gigi dan membuang muka sebelum akhirnya kembali menatap Naruto dengan tatapan cemas. "Aku selalu mengkhawatirkanmu, Naruto. Hati kecilku selalu berteriak jika kau merahasiakan sesuatu dariku, aku mencoba meyakinkan diriku sendiri jika semua itu hanya khayalanku saja. Namun tetap saja aku sangat cemas, aku begitu takut saat tiba-tiba aku tidak bisa menghubungimu. Jantungku serasa hancur saat melihatmu terluka. Tolong mengertilah, aku menginginkan adikku. Adik perempuanku, bukan seorang prajurit."
"Maaf, aku sudah membuatmu cemas." Naruto mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Kurama yang berada di atas meja. "Aku akan mengatakan semuanya suatu hari nanti, aku janji. Pada saatnya aku akan berhenti, tapi untuk saat ini aku masih belum bisa melakukannya. Jadi, hingga saatnya tiba nanti, aku ingin berada di sampingmu, bermanja-manja pada kakak kesayanganku. Bolehkah?"
"Tidak ada yang melarangmu, baka!" jawab Kurama cepat. "Cepat lontarkan sebuah lelucon bodoh, agar aku bisa tersenyum dan kau bisa mengambil fotoku." Tambah Kurama mengalihkan pembicaraan. Naruto tersenyum mendengar penuturan Kurama yang terdengar ketus. Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk berbincang santai, waktu seperti ini begitu berharga bagi keduanya. Dan tidak butuh waktu lama bagi Naruto untuk melihat senyum tulus di bibir Kurama. Dengan cepat Naruto mengambil beberapa gambar Kurama yang tersenyum, mengibas-ngibaskan kertas hasil foto itu agar cepat kering. "Kak, kau benar-benar tampan saat tersenyum," ucap Naruto. "Di masa depan, seringlah tersenyum." Tambahnya menatap Kurama teduh.
"Jangan mulai lagi, Naruto. Ucapanmu semakin melantur, apa kau mabuk?" Tegur Kurama sedangkan Naruto kembali menggeleng pelan. "Mana hasil fotonya, biar kutandatangani." Kurama mengambil hasil foto Naruto dan membubuhkan tandatangannya di atas foto dengan cepat. "Kau yakin, aku harus membubuhkan tanda bibirku juga?" Kurama menyipitkan mata, Naruto mengangguk dan menyodorkan sebuah lipstik berwarna fuchia pada kakaknya itu dengan senyum manis. "Mau aku pakaikan, Kak?" tanya Naruto dengan nada sing a song.
"Tidak perlu," raut wajah Kurama semakin mengeras. "Aku akan memberi pelajaran pada Uchiha bungsu itu, jika bukan karena taruhan bodoh kalian, aku tidak akan pernah sudi melakukan ini semua." Dengusnya dan dengan enggan Kurama menerima lipstik tersebut, memakainya dengan asal dan menempelkan bibirnya di foto hingga tercetak cap bibirnya di sana. Naruto tergelak, tertawa keras seraya kembali mengambil foto Kurama yang masih mengenakan lipstik berwarna fuchia. "Untuk apa itu?" protes Kurama keras dan menghapus lipstik di bibirnya dengan punggung tangannya secara kasar.
"Untuk koleksi pribadiku," ujar Naruto masih terkekeh geli. Dia pun kembali mengibas-ngibaskan foto baru di tangannya agar cepat mengering. Naruto tersenyum melihat hasil jepretannya, membalikkan foto itu untuk dilihat Kurama dan berkata lirih. "Kawaiiiii..."
"Berikan foto itu!"
"Tidak," jawab Naruto cepat, memasukkan foto itu ke dalam saku celananya. "Sebaiknya aku cepat kembali ke asrama, sudah jam makan malam. Terima kasih untuk bantuannya, Kak." Ucap Naruto yang kini sudah membereskan barang-barangnya dan berjalan ke belakang Kurama serta memeluknya dari belakang. Kurama tertegun melihat kelakuan Naruto yang tidak biasa. "Aku menyayangi, Kak. Bagiku, Kak adalah kakak terbaik di dunia." Katanya mengecup pipi kanan Kurama penuh sayang. "Oyasuminasai, oKak." Kata Naruto lembut sebelum beranjak meninggalkan Kurama yang masih diam tidak bergerak di kursinya.
Naruto berjalan santai menuju kantin asrama untuk makan malam, sesampainya di sana, Karin juga Ino melambai-lambaikan tangan, memintanya untuk duduk bersama mereka. Naruto mengangguk kecil, mengambil nampan dan segera memilih menu untuk makan malamnya hari ini sebelum akhirnya duduk bersama keempat temannya yang lain.
"Aku ada kabar gembira," ujar Naruto beberapa saat kemudian sambil menyuapkan sesendok sup ke dalam mulutnya.
"Dan kami ada kabar buruk," ujar Hinata dengan kepala menunduk dalam. "Berita buruk?" beo Naruto.
"Ya, kami tidak berhasil mengambil foto Namikaze sensei," sahut Ino dengan suara sedikit bergetar karena merasa bersalah.
Naruto tersenyum lebar. "Jangan cemas, aku sudah berhasil mendapatkannya." Katanya bangga dan menepuk dada pelan.
"Benarkah?" tanya Tenten nyaris tidak percaya. Naruto mengangguk dan kembali menyuapkan sup ke dalam mulut. "Bukan hanya itu," ujar Naruto. "Aku juga berhasil mendapatkan tandatangan beserta cap bibirnya." Keempat teman Naruto terkesiap dan menatap Naruto takjub.
"Jangan bercanda," ujar Karin setengah berbisik tidak sadar jika garpu yang digenggamnya terlepas dan jatuh ke atas piring dengan suara keras.
"Aku tidak bercanda," jawab Naruto. "Besok aku akan melakukan transaksi, kau bisa tenang sekarang." Naruto menatap Tenten dengan senyum lembut.
"Arigatou, Naruto." Kata Tenten tulus.
"Welcome," jawab Naruto lalu melahap habis makan malamnya.
Sekembalinya ke kamar, Naruto segera mengetik sebuah email dan mengirimkannya pada Itachi. Mengatakan jika dia berhasil mendapatkan apa yang diinginkan oleh wanita itu. Tidak perlu waktu lama bagi Naruto untuk mendapatkan jawaban dari Itachi. "Kita bertemu di kantorku saat jam makan siang besok." Begitu isi balasan email dari Itachi. Naruto kembali mengetik email dan mengirimnya. "Ok," jawabnya begitu singkat.
Naruto berbaring di atas kasur dan kembali mengirimkan email ke alamat berbeda. "Teme, aku berhasil mendapatkannya. Idemu benar-benar cemerlang." Tulis Naruto yang kini menatap telepon genggam miliknya, menunggu balasan email dari Sasuke.
"Tentu saja, aku-kan jenius."
"Ck, angkuh seperi biasanya," gumam Naruto saat membaca balasan email dari Sasuke. Wanita muda itu kembali menulis email untuk Sasuke. "Bersiaplah, kakakku mungkin akan membalas dendam padamu karena ini."
"Tidak masalah," balas Sasuke.
"Kau yakin?"
"Hn... Ingat saja perjanjian kita," balas Sasuke yang kini tersenyum kecil menatap layar telepon genggam di dalam kamarnya. Dengan segera dia mengirim balasan email tersebut.
"Hari Minggu jam sepuluh pagi, kita kencan." Balas Naruto. Sasuke kembali tersenyum lebar membaca balasan email Naruto dan kembali mengetik singkat. "Ok," katanya. Sasuke meletakkan telepon genggam miliknya ke atas nakas dan akhirnya memilih untuk tidur lebih cepat hari ini.
.
.
.
Pagi datang dengan begitu cepat setelahnya, para murid segera masuk ke dalam kelas setelah bel pertama berbunyi. Benar saja pada jam pelajaran Kurama, Sasuke menjadi sasaran utama sang Namikaze sulung. Beruntung, Sasuke mampu menjawab setiap pertanyaan Kurama dengan baik. Hal ini tentu menambah kesal sang Namikaze sulung, padahal niat awalnya dia ingin memberikan hukuman pada Sasuke untuk balas dendam akan taruhan bodoh itu. Naruto mendesah lega saat Sasuke berhasil keluar dari perangkap Kurama berkali-kali. "Seandainya saja, Kak tahu yang sebenarnya," kata wanita muda itu lirih dan menggeleng pelan.
Pelajaran Kurama berganti dengan pelajaran Asuma. Seperti biasa, Shikamaru tertidur sepanjang jam pelajaran. Tapi, hari ini ada yang tidak biasa. Karena Kiba juga bergabung bersamanya, tidur sepanjang jam pelajaran literatur Jepang. Selepas pelajaran Asuma, Naruto segera keluar kelas dan melangkah mantap menuju ruang guru. Lalu berjalan mengendap-endap saat sampai di ruang guru, berdoa dalam hati agar tidak bertemu dengan Kurama. Naruto cukup beruntung, karena Itachi memiliki ruangan sendiri hingga Naruto bisa bebas untuk bertransaksi di sana dengannya. Perlahan, Naruto nengetuk pintu dan segera masuk setelah dipersilahkan oleh Itachi.
"Konichiwa, sensei." Sapa Naruto membungkuk kecil memberi hormat.
"Konichiwa," sahut Itachi tanpa beranjak dari kursi kerjanya. "Duduklah," katanya.
"Ha'i, arigatou." Ucap Naruto segera duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Itachi.
"Jadi, kau berhasil mendapatkan pesananku." Kata Itachi tanpa basa-basi.
"Begitulah," sahut Naruto sambil menyerahkan foto Kurama. Itachi menatap foto itu tidak percaya, sejenak mulutnya kelu untuk berbicara sebelum akhirnya dia menatap Naruto, meminta penjelasan. "Bagaimana bisa?"
"Yang penting saya berhasil mendapatkannya, bagaimana caranya itu tidak penting." Sahut Naruto.
"Bagaimana aku bisa yakin jika ini memang tanda bibir kakakmu?"
"Ah, saya sudah menduga anda akan berkata seperti itu." Naruto tersenyum lebar dan memperlihatkan sebuah foto lain saat Kurama memakai lipstik dan mencium foto di tangannya. Itachi membelalakkan mata tidak percaya melihatnya. "Sekarang anda percayakan?" Naruto tersenyum lebar.
Itachi berdeham dan tersenyum lembut. "Kau benar-benar pintar," katanya. "Dan ini uang yang kujanjikan," itachi menyerahkan sebuah amplop berisi uang pada Naruto. "Hitunglah dulu!"
"Tidak perlu," kata Naruto menggelengkan kepala. "Saya percaya pada anda," tambahnya. "Sebaiknya saya pergi untuk makan siang. Senang berbisnis dengan anda, Uchiha sensei." Kata Naruto kembali membungkuk hormat pada Itachi sebelum meninggalkan wanita itu di dalam ruangannya.
Itachi menatap foto yang ada di tangannya dengan tatapan rindu dan diusapnya foto itu lembut. "Senyuman ini begitu kurindukan." Katanya lirih. "Kau pasti kembali padaku, Namikaze Kurama." Tukasnya penuh tekad.
Sementara itu di dalam kantin, seperti biasa Naruto duduk bersama keempat temannya yang lain. Tenten terpekik, begitu gembira saat Naruto memberikan amplop berisi uang kepadanya. Untuk saat ini masalahnya telah selesai, dia hanya perlu memikirkan cara untuk bertahan ke depannya. Sakura yang duduk seorang diri di sudut ruangan melihat ke arah meja mereka dengan tatapan yang sulit diartikan, hingga akhirnya dia berdiri dan beranjak keluar dari kantin dengan mimik wajah sedih. Naruto yang melihat kepergian Sakura, seakan-akan mau berkata, namun dia kembali mengatupkan mulut, diam. Dia mengerti, jika jauh dalam lubuk hati gadis berambut pink itu juga merasakan hal yang sama, yaitu kesepian.
.
.
.
"Kelihatannya moodmu belum membaik, Kiba." Kata Neji sambil mengamati raut wajah Kiba. Gaara dan Shikamaru mengangkat wajah mereka dari buku yang tengah mereka baca, ikut mengamati wajah Kiba yang terlihat sangat kusut.
"Santai saja Kiba, aku yakin pada ujian matematika yang akan datang, nilaimu akan jauh lebih baik."
"Terima kasih, Gaara." Kata Kiba dengan nada tertahan. "Demi Tuhan, nilaiku tidak buruk. Aku mendapat nilai tujuh puluh lima pada ujian matematika kemarin." Teriak Kiba frustasi.
"Kecilkan suaramu," desis Shikamaru saat melihat beberapa murid yang juga berada di ruang rekreasi menatap penuh rasa ingin tahu ke arah mereka.
"Kau memang mendapat nilai lumayan," sahut Sasuke tenang. "Sayangnya, nilaimu paling rendah di antara yang lain."
"Terima kasih, Sasuke. Kau benar-benar membesarkan hatiku," desis Kiba kesal.
Sasuke menyeringai mendengarnya, sedangkan Gaara menggelengkan kepala dan menutup buku miliknya. "Mau belajar bersama?" tawarnya baik hati.
"Belajar?" keluh Kiba tidak bersemangat.
"Well, setidaknya belajar bersama akan terasa lebih menyenangkan, Kiba." Sahut Naruto tiba-tiba dari arah belakang dan kemudian duduk di samping Sasuke. "Kecuali jika kau mau terus menjadi siswa terbodoh di kelas matematika." Tambahnya dengan nada meremehkan. Sasuke kembali menyeringai dan menautkan kedua tangan mereka erat. Shikamaru, Neji dan Gaara yang melihat hal itu nampak terkejut. "Sudah sah?" seru Gaara kemudian.
Sasuke hanya melirik ke arah Naruto, sedangkan wanita muda itu hanya mengangkat bahunya acuh dan kembali menatap Kiba yang sekarang tertunduk lesu. "Hei, ini bukan akhir dunia, Kiba." Kata Naruto mencoba menyemangati. "Jika kau berhasil mendapat nilai di atas delapan puluh, kakakku pasti memberikan toleransi. Dia tidak akan menghukummu, percayalah."
"Benarkah?" tanya Kiba penuh harap. Kedua bola matanya berbinar-binar senang mendengar pernyataan Naruto.
"Kakakku juga manusia, dia tidak sejahat yang kalian pikirkan." Kata Naruto menatap wajah Shikamaru, Neji dan Gaara dengan mata menyipit. Raut wajah ketiga pemuda itu dengan jelas mengatakan jika Naruto sedang membual saat ini.
"Dia memang tidak jahat, hanya menakutkan dan sadis." Sahut Neji yang ditimpali anggukan setuju dari Shikamaru, Gaara dan Kiba. Sasuke tidak menimpali, karena Naruto sudah melemparkan tatapan tajam terlebih dahulu ke arahnya hingga dia memutuskan untuk bermain aman saat ini.
"Sasuke, antar aku pulang ke asrama." Pinta Naruto setengah memerintah. "Wow... mesranya." Ejek Kiba seolah lupa akan masalahnya beberapa detik yang lalu.
"Urusai! Pikirkan saja masalahmu, Kiba." Balas Naruto sengit. "Jika kau tidak berhasil mendapat nilai delapan puluh, kau pasti mati." Tambah Naruto berlebihan hingga Kiba menelan ludah dan kembali murung.
.
"Ucapanmu pada Kiba terlalu keras, Naruto." Tegur Sasuke saat keduanya berjalan keluar ruang rekreasi menuju asrama putri.
"Aku kesal," jawab Naruto cemberut. "Memangnya kenapa jika aku meminta diantar olehmu? Tidak boleh?"
"Dia hanya bercanda," sahut Sasuke meraih tangan Naruto ke dalam genggamannya.
"Tapi... yang kukatakan memang benar, jika Kiba tidak diberitahu dengan keras, aku yakin dia tidak akan berubah."
"Aku tahu," Sasuke menghentikan langkah Naruto. "Sudahlah, aku tidak mau kita bertengkar karena hal ini." Tambah Sasuke. "Kau mau pergi kemana untuk kencan kita hari minggu nanti?"
Naruto tampak berpikir sebelum akhirnya menjawab dengan antusias. "Aku mau pergi ke bioskop, lalu makan siang bersama, jalan-jalan ke taman dan membeli ice cream."
"Banyak sekali yang ingin kau lakukan," kata Sasuke tersenyum lembut.
"Kau tidak mau?" Naruto nampak kecewa.
"Tentu saja aku mau."
"Bagus," kata Naruto mengalungkan tangannya pada tangan kanan Sasuke. "Ngomong-ngomong, apa kau membawa kunci ruang planetarium?"
"Hn."
"Bisakah kita ke sana?"
"Sekarang?"
Naruto memutar kedua bola matanya. "Tentu saja sekarang," katanya cepat. "Apa harus menunggu hingga tahun depan?"
"Kalau begitu kita harus menyelinap, sebelum ada yang melihat." Kata Sasuke dengan binar jail. Naruto mengangguk kecil dan tersenyum. Keduanya melihat ke sekeliling sebelum berjalan cepat, mengendap-endap menuju gedung planetarium.
.
.
"Darimana kalian? Kalian tahu ini sudah lewat jam malam!" Itachi keluar dari tempat persembunyiannya. Sedari awal dia sudah mengawasi gerak-gerik kedua murid ini dan betapa terkejutnya dia saat mendapati jika kedua murid itu adalah Naruto dan Sasuke yang mengendap-endap untuk menuju asrama putri.
"Sudah kubilang, aku bisa pulang ke asrama sendiri." Bisik Naruto.
"Jangan banyak bicara," desis Sasuke. "Kita hadapi saja," katanya dingin.
"Jadi, Sasuke apa yang kau lakukan di sini?"
"Hn."
"Aku bertanya serius padamu," Itachi terdengar marah. "Dan Naruto, kenapa kau masih berkeliaran? Ini sudah malam!"
"Kami berkencan," potong Sasuke menantang. "Kau juga pernah muda, nee-san. Kenapa menanyakan hal yang sudah kau tahu jawabannya."
"Jangan kurang ajar, Sasuke! Di sini aku gurumu, bukan kakakmu." Itachi memperingatkan Sasuke dengan nada tajam.
"Hn," jawab Sasuke cuek.
Naruto menguatkan diri dan angkat bicara. "Sensei, maaf atas ketidaksopanan kami. Tapi, untuk kali ini dapatkah anda melepaskan kami?" tanya Naruto penuh harap.
Itachi mengabaikan Sasuke yang masih bersikap menantang dan melirik ke arah Naruto. Sejenak dia menimbang-nimbang, hingga akhirnya dia menjawab. "Aku akan melupakan ketidaksopanan kalian dan tindakan kalian saat ini. Tentu saja dengan syarat," katanya menggantung.
"Apa syaratnya?" Naruto tidak mampu menyembunyikan kegembiraannya saat ini. Sedangkang Sasuke mendengus dan membuang muka.
"Bantu aku untuk mendapatkan kakakmu kembali," jawab Itachi sangat serius hingga Naruto menahan napas mendengarnya.
"Konyol," sembur Sasuke.
"Bukan urusanmu!" desis Itachi. Saat ini dia sudah tidak peduli jika dia menurunkan harga dirinya di depan Naruto. Itachi hanya ingin mendapatkan Kurama kembali, tidak peduli bagaimanapun caranya.
Naruto menghela napas pendek dan menenangkan Sasuke yang berdiri kaku di sampingnya. "Jujur saja sensei, untuk urusan hati, aku tidak mau ikut campur."
"Tapi aku sangat mencintai kakakmu," sahut Itachi begitu sedih dan putus asa. "Dan aku yakin, jika sebenarnya Kurama-pun masih memiliki perasaan yang sama terhadapku."
"Sebaiknya kita mencari tempat untuk bicara, sensei." Kata Naruto tenang. "Tidak baik kita bicara di sini, aku takut jika nanti ada yang mendengar pembicaraan kita."
"Kalau begitu, kita bicara di tempatku saja." Tawar Itachi. "Dengan begitu, kalian akan ada alibi jika pengawas melihat kalian." Dan ketiganya pun berjalan menuju rumah dinas Itachi.
Rumah dinas Itachi hanya dipisahkan oleh tiga buah rumah dari rumah dinas Kurama. Ruangan Itachi tidak jauh berbeda dengan ruangan Kurama. Karena pada dasarnya, setiap rumah dinas memiliki ukuran dan model yang sama. Yang membedakan hanya furniture di dalamnya saja.
"Jadi, apa kalian mau membantuku?" Itachi kembali bertanya saat ketiganya sudah duduk nyaman di sofa yang ada di ruang tamu rumah Itachi.
"Sensei, maaf jika saya lancang. Kalau boleh tahu, mengapa kalian putus?"
Itachi menutup kedua matanya dan menarik napas dalam sebelum menjawab pertanyaan Naruto. "Kami putus karena kebodohanku," Itachi mulai bercerita. "Singkat cerita, aku bertaruh dengan teman-temanku. Bertaruh jika aku bisa menjadi kekasih sang dosen muda. Karena itu aku mengejarnya, terus menyatakan cinta tanpa merasa bosan hingga akhirnya kakakmu bersedia menerimaku."
"Kau benar-benar jahat," kata Sasuke tajam.
"Aku tahu," sahut Itachi tanpa membantah. "Dalam proses itu aku jatuh pada pesona kakakmu, aku mencintai kakakmu begitu dalam. Namun pada akhirnya kebenaran mengenai taruhan itupun diketahui oleh kakakmu. Dia memutuskanku tanpa mendengar penjelasanku, hingga akhirnya di pindah ke Washington dan memutuskan kontak denganku." Papar Itachi pahit. "Aku benar-benar menyedihkan, aku menyakitinya begitu dalam. Tapi, aku tidak bisa melepaskannya. Aku benar-benar egois, bukan?"
"Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan," sahut Naruto bijak. "Maafkanlah diri anda terlebih dahulu, itu sangat penting."
"Aku tidak yakin jika aku bisa memaafkan diriku sendiri," kata Itachi dalam, menciptakan keheningan setelahnya.
Merasa bosan, Sasuke berdeham keras dan duduk dengan bertopang kaki. "Maaf jika aku menyela pembicaraan sentimentil kalian," katanya ketus. "Bagaimana bisa kau membantu kakakku, Naruto?" Sasuke menatap Naruto lurus. "Kau sendiri tidak berpengalaman dalam masalah cinta. Sekarang aku tanya, berapa banyak mantan pacarmu?" Sasuke menyeringai kecil, mengejek secara nyata.
"Hal itu tidak ada hubungannya dengan masalah Uchiha sensei," elak Naruto. "Yang harus kita lakukan saat ini adalah mengalihkan perhatian Kak Kurama agar kembali tertuju pada Uchiha sensei."
"Ck, kau pikir mudah." Desis Sasuke yang langsung dihadiahi tatapan tajam Itachi padanya.
"Jadi, kau memilih untuk aku hukum, Sasuke?" mata Itachi menyipit tajam.
"Hn," desis Sasuke membuang muka.
"Bagaimana, apa kau sudah punya ide, Naruto?"
Naruto memasang pose berpikir dan menjawab santai. "Wanita sangat suka pujian, bukan begitu?"
"Wanita yang kukenal tidak seperti itu," potong Sasuke. Naruto menyikut perut Sasuke keras hingga pemuda itu mengaduh kesakitan. "Pria juga pasti menyukai pujian. Tugas pertama anda adalah memberi dia pujian, Uchiha sensei." Tukas Naruto dengan mata berbinar.
"Maksudmu, aku harus mengatakan jika dia sangat tampan? Oh, atau dia sangat pintar. Atau apa?"
Naruto mendadak lemas mendengar pernyataan Itachi yang berlebihan. "Coba dengan hal sederhana dulu, sensei. Contohnya, katakan padanya jika pekerjaannya sangat hebat."
"Ha'i, wakatta." Seru Itachi begitu antusias. "Lalu apa lagi?"
"Yang kedua, coba anda tarik perhatiannya dengan gerakan tubuh."
"Seperti ini?" Itachi membuat gerakan menggoda secara berlebihan, menjilat bibir bawahnya sensual dan menarik roknya lebih tinggi.
"Murahan," desis Sasuke jujur dengan wajah datar melihat Itachi.
"Lalu apa yang harus kulakukan?" Itachi nampak frustasi mendengar ucapan Sasuke.
"Cukup kibaskan rambut anda saja," kata Naruto berusaha bersikap tenang. "Tidak perlu berlebihan seperti yang anda lakukan barusan. Goda dia secara elegan, bukan agresif." Tambahnya cepat. "Jika kedua hal ini berhasil, kita akan melanjutkan ke tahap berikutnya."
"Kau bicara seolah-olah dirimu pakar cinta," cibir Sasuke menatap tajam Naruto.
"Diam, Sasuke." Sergah Naruto berapi-api. "Jangan pernah membuatku kesal, atau kau akan menyesal!" bisik Naruto tepat di telinga kiri pemuda itu hingga Sasuke terdiam membisu, mengatupkan mulutnya begitu rapat.
"Baiklah, aku mengerti," potong Itachi. "Aku akan melaksanakan rencana kita besok."
"Sebaiknya kita pulang ke asrama, Naruto." Sasuke melirik Naruto, wanita muda itu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan mengangguk kecil. "Sebaiknya begitu, sudah hampir jam sebelas malam. Kami pamit, Uchiha sensei."
"Aku akan menelepon pengawas asrama untuk mengijinkan kalian masuk, besok setelah makan siang, kita berkumpul di kantorku, bagaimana?"
"Baiklah," jawab Naruto singkat. Sedangkan Sasuke hanya mendengus seperti biasa dengan wajah datar.
.
.
Keesokan harinya, misi ketiganya pun dimulai. Itachi menyapa Kurama begitu lembut saat keduanya berpapasan di lorong sekolah pagi ini. Namun sayang, Kurama hanya membalasnya kaku layaknya teman seprofesi dan berjalan pergi tanpa menengok kembali. "Permainan baru saja dimulai, Ku." Tukas Itachi lirih pada punggung Kurama yang menjauh pergi. "Aku hanya perlu bersabar," lanjut Itachi kemudian mendekap buku yang dibawanya di depan dada dan beranjak pergi menuju kelas 3-3.
Pada saat jam makan siang, Itachi sengaja duduk di meja yang sama dengan Kurama. Pria itupun mengernyit heran, namun bersikap biasa seolah tidak terpengaruh akan keberadaan Itachi di hadapannya. Itachi mulai melancarkan aksinya, dia mengibaskan rambut indahnya dengan elegan. Kurama berdecak dan mendesis. "Bisakah kau tidak melakukan itu?" katanya setengah berbisik. "Kita sedang makan, bagaimana jika rambutmu jatuh dan mengenai makanan?"
"Tenang saja," sahut Itachi spontan. "Rambutku ini kuat, tidak mudah rontok." Katanya menebar pesona dengan senyumannya yang begitu memesona. Sayangnya aksi Itachi tidak berlangsung lama, karena beberapa guru wanita ikut duduk di meja mereka dan berebut untuk mendapatkan perhatian Kurama, yang nyaris saja membuat Itachi menarik rambut guru wanita itu hingga botak.
Naruto datang sebagai juru selamat, dia menarik Itachi pergi sebelum terjadi pertumpahan darah. "Uchiha sensei, tenanglah. Anda harus bisa meredam emosi anda," kata Naruto halus saat keduanya berada di luar kantin sekolah.
"Guru-guru wanita itu sangat centil," kutuk Itachi. "Andai saja aku bisa menjambak rambut mereka hingga botak," lanjutnya dengan napas memburu.
"Tenanglah sensei, sekarang tarik napas panjang dan buang perlahan." Pinta Naruto memberikan contoh pada Itachi. Uchiha sulung itu akhirnya memilih mengikuti nasehat Naruto hingga akhirnya dia tenang. "Sekarang, lebih baik kita tunggu Kak di perpustakaan saja. Biasanya dia akan pergi ke sana setelah makan siang."
"Benarkah?"
Naruto mengangguk pelan. "Kita akan melanjutkan aksi kita di sana. Sasuke juga sudah ada di sana saat ini untuk memberi anda dukungan."
"Tidak mungkin!" seru Itachi mengibaskan tangannya di depan muka. Nada suaranya jelas mengatakan jika dia tidak percaya jika adiknya berada di sana untuk memberinya dukungan. "Sasuke bukan tipe orang yang peduli akan sekitarnya."
"Anggap saja, jika sekarang dia sudah berubah," sahut Naruto sambil menyeret Itachi pergi secara paksa.
.
"Jadi, kenapa kita harus bersembunyi di sini?" tanya Kiba heran saat Naruto menyeret dirinya, Shikamaru, Neji dan Sasuke untuk bersembunyi di balik rak buku tinggi di jajaran buku berbahasa asing.
"Eh, mana Gaara?" mata Naruto mencari-cari sosok Gaara yang menghilang. Sesaat mengabaikan pertanyaan Kiba dan fokus mencari keberadaan Gaara yang menghilanh secepat kilat.
"Sepertinya dia ke toilet," kata Shikamaru kemudian menjawab keingintahuan Naruto. "Jadi, untuk apa kita bersembunyi di sini?" Shikamaru mengulang pertanyaan Kiba.
"Kita sedang menunggu target, dan aku memiliki tugas penting untuk kalian," jelas Naruto bossy. "Kalian harus mengusir setiap murid yang datang ke jajaran rak buku ini, apa kalian mengerti?"
"Untuk apa?" dengus Neji.
"Dia mau menjodohkan Uchiha sensei dengan Namikaze sensei," sahut Shikamaru tanpa mengalihkan pandangannya dari Itachi yang kini berdiri sedikit gugup di balik rak yang ada di depan kelimanya. Guru muda itu sesekali mengambil sebuah buku, membukanya sebentar dan meletakkannya kembali ke tempatnya semula, begitu seterusnya. Naruto mengerling ke arah Shikamaru, terkadang dia membenci kepandaian Shikamaru yang selalu bisa menebak jalan pikiran teman-temannya dengan baik.
"Kenapa kami harus membantumu?" Kiba terlihat tidak antusias. "Lagipula, aku tidak menyukai, Namikaze sensei. Dia membuat hari-hariku begitu menderita, ingat?"
"Kau berlebihan," kata Naruto cepat. "Dia melakukan hal itu demi kebaikanmu juga." Tambahnya membela Kurama.
"Kau mengatakan itu karena dia kakakmu," desis Kiba tidak mau kalah.
"Lebih baik kau ikuti keinginanku, Kiba. Atau aku akan membongkar rahasiamu."
"Sepertinya mengancam adalah hobi barumu," Kiba membalas ketus. "Kau selalu mengancamku dengan hal yang sama."
"Memangnya rahasia apa yang kau sembunyikan dari kami?" Shikamaru nampak tertarik.
"Bukan hal penting," sahut Kiba cepat dan tertawa kering.
"Tidak perlu segugup itu, Kiba." Seru Sasuke.
"A-aku tidak gugup," jawab Kiba mencoba tetap tenang namun gagal. "Sudahlah, lebih baik kita ikut membantu dalam misi Naruto. Tidak ada salahnya juga jika sesekali kita berbuat kebaikan, bukan begitu?"
"Hn."
Neji menggelengkan kepala lemah dan menatap Naruto. "Kau yakin, jika Namikaze sensei akan datang ke sekitar rak buku ini?" tanyanya dengan kedua tangan bersilang di depan dada.
Naruto tersenyum simpul sebelum menjawab yakin. "Dia pasti datang, aku tahu betul kebiasaan kakakku. Dia selalu membaca buku berbahasa asing saat jam istirahat." Naruto menunggu dengan sabar, sementara matanya menatap lurus pada pintu perpustakaan yang terbuka lebar. "Ah, itu dia datang," kata Naruto antusias. "Sekarang bubar dan ingat tugas kalian!" katanya dengan nada memerintah.
Keempat pemuda itu akhirnya membubarkan diri dan memposisikan diri di tempat-tempat strategis demi kelancaran rencana Naruto. Wanita muda itu bersiul pelan memanggil Itachi dan memberikan kode yang langsung dimengerti oleh guru muda itu. Itachi segera bersiap di tempatnya, beberapa saat menyembunyikan diri hingga nanti dia akan keluar jika Kurama sudah masuk ke dalam perangkap yang dia dan Naruto buat.
Sesuai rencana, keempat pemuda itu berhasil menyingkirkan setiap murid yang hendak mendekati rak itu. Tentunya dengan metode berbeda-beda. Sasuke dan Neji menebar aura hitam pada tiap murid yang hendak mendekat. Sedangkan Shikamaru, dia memblokir jalan dengan kakinya. Lain lagi dengan Kiba, dia memilih untuk menggoda tiap siswi yang mendekat serta mendesis pada tiap siswa hingga akhirnya mereka memilih untuk menjauh pergi.
Dan seperti perkiraan Naruto, Kurama berjalan masuk ke dalam perpustakaan dan berjalan cepat menuju deretan rak buku berbahasa asing. Kurama berjalan tanpa menaruh curiga, pria itu lalu mengambil sebuah buku dan mendesis saat ada sebuah tangan yang juga hendak mengambil buku yang dikehendaki olehnya.
"Ambil buku yang lain, aku mengingkan buku ini untuk kubaca sekarang," kata Kurama dingin.
"Ah, rupanya Namikaze sensei." Sahut Itachi dengan nada sing a song. "Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk saling bertemu, bukan begitu?" katanya tanpa melepaskan buku yang juga dipegang oleh Kurama saat ini.
"Lepaskan, aku mengambil buku ini lebih dulu." Desis Kurama tidak menghiraukan perkataan Itachi.
"Anda sangat tampan saat marah, Namikaze sensei." Goda Itachi tersenyum sensual.
Kurama nampak risih dengan tatapan mata Itachi saat ini. "Ada apa denganmu, sikapmu sangat aneh."
Itachi nampak terkejut dan memekik kecil karena senang. "Aku tidak menyangka, ternyata diam-diam anda masih memperhatikanku."
"Sebenarnya, apa maumu?"
"Aku menginginkanmu, itu sudah jelas." Itachi balik menatap Kurama dengan tatapan menantang. Itachi sudah melupakan nasihat Naruto yang mengatakan jika dia harus memikat Kurama dengan elegan. 'Persetan dengan itu,' batin Itachi.
Kurama bisa melihat kedua mata Itachi yang penuh tekad, namun di balik itu, Kurama kaget saat menemukan dalam kedua mata wanita muda itu jelas terlihat, jika Itachi ketakutan akan ditolak. "Aku tidak pernah berniat untuk kembali padamu."
"Benarkah?" Itachi tertawa renyah, namun matanya mengatakan dengan jelas jika dia terluka akan ucapan Kurama. "Kau tidak perlu khawatir, kau memiliki banyak waktu untuk berpikir. Karena aku pantang menyerah," katanya keras kepala.
"Cari saja pria lain, mengejarku hanya akan membuang waktumu."
"Aku tidak peduli," jawab Itachi mengangkat kedua bahunya dengan santai. "Aku rela menghabiskan waktu seumur hidupku hanya untuk mendapatkanmu kembali."
Kurama mengernyit dan membalas ketus. "Aku rasa ada yang salah dengan otakmu, lebih baik kau memeriksakan diri ke psikiater."
Itachi malah menyeringai puas mendengarnya. "Terima kasih, karena sudah mengkhawatirkanku." Katanya sinting.
"Aku tidak mengkhawatirkanmu," ralat Kurama cepat. "Jangan terlalu percaya diri, nona." Desis Kurama tepat di depan wajah Itachi. Saat itulah Naruto muncul, menabrak Kurama keras dari belakang hingga menyebabkan insiden itu terjadi. Kurama yang tidak siap, kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa tubuh Itachi dengan suara debaman cukup keras. Mata Naruto membulat sempurna, kedua tangannya menutup mulut yang terbuka lebar. Kejadian ini terjadi di luar rencananya. Mulut Kurama dan Itachi saling menempel, keduanya terlalu terkejut akan apa yang terjadi hingga mereka merespon kejadian itu lambat.
Pada akhirnya, Kuramalah yang pertama kali sadar akan apa yang terjadi. Dia segera melepaskan diri dan bangkit berdiri. "Ini murni kecelakaan," katanya cepat. "Aku tidak akan meminta maaf," ucap Kurama berdiri menjulang tinggi di atas Itachi yang masih berbaring di atas lantai. Kurama melirik ke arah Naruto yang masih sedikit syok. "Lupakan apa yang baru saja kau lihat, mengerti!" ancam Kurama hingga Naruto mengangguk kecil masih dengan tatapan kosong. "Bagus," desis Kurama dan berlalu pergi tanpa menoleh kembali ke arah Itachi.
"Anda baik-baik saja, Uchiha sensei?" tanya Naruto setelah sadar dari keterkejutannya dan mengulurkan tangan untuk membantu Itachi berdiri. Itachi menyambut uluran tangan Naruto, segera berdiri dan menepuk-nepuk pelan bagian belakang roknya untuk membersihkan kotoran yang menempel di sana. "Aku baik-baik saja," jawab Itachi kemudian, tersenyum simpul.
"Hei, aku melihat Namikaze sensei keluar dengan tergesa. Wajahnya merah padam, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Kiba berjalan cepat menghampiri keduanya.
"Tidak ada apa-apa," dusta Naruto.
Mereka kemudian mendengar suara langkah tergesa dari arah samping. "Suara apa tadi, seperti ada benda jatuh." Kata Sasuke yang kini berdiri tidak jauh di belakang Kiba.
"Hanya bunyi buku jatuh," sahut Itachi. Sasuke jelas tidak percaya akan jawaban Itachi, namun wajahnya masih datar seperti biasa.
"Naruto, apa ada hal lain yang harus aku lakukan?"
"Untuk sekarang tidak ada, Kiba." Jawab Naruto. "Terima kasih untuk bantuanmu hari ini," tambahnya.
"Baiklah," ujar Kiba lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragam sekolahnya. "Kalau begitu aku pergi," Kiba membungkuk hormat pada Itachi dan menepuk bahu kiri Sasuke pelan sebelum meninggalkan mereka bertiga di sana.
Itachi mengeluarkan napas yang sedari tadi dia tahan dengan cepat. "Jadi, Inuzuka tahu tentang masalah ini?"
"Bukan hanya dia," ralat Sasuke. "Neji dan Shikamaru juga tahu."
"Apa?" Itachi menutup wajah dengan tangan karena malu. "Memalukan," katanya lirih.
"Setidaknya Gaara belum tahu," ujar Sasuke datar dengan wajah polos. Naruto berdecak dan melirik tajam ke arah pemuda itu. Namun pemuda itu sama sekali tidak takut, dia malah membalas tatapan Naruto dengan binar jail
Naruto akhirnya memutuskan kontak mata keduanya dan kembali mengalihkan perhatian pada Itachi yang tegang. "Sensei tenang saja, mereka sangat bisa dipercaya." Hibur Naruto lembut. "Lagipula, kita akan memerlukan bantuan mereka untuk rencana selanjutnya."
"Rencana baru lagi?" Itachi mendongak, kedua tangannya terkulai lemas di samping tubuhnya.
"Yah," Naruto mengangguk semangat. "Kita akan membahas mengenai hal ini sepulang sekolah nanti, bagaimana menrut anda, sensei?"
"Baiklah," sahut Itachi mulai antusias kembali. "Kalau begitu, aku akan menunggu kalian di rumahku sore nanti, bagaimana?"
"Tentu," jawab Naruto mengulum senyum lebar. Sedangkan Sasuke tetap diam, mulutnya bungkam, jelas tidak tertarik.
.
.
.
Di tempat yang berbeda, Bee mengumpulkan beberapa personil terbaik dari Divisi Pasukan Khusus untuk berkumpul di ruang kerjanya siang ini. Kelompok itu berjumlah enam orang, masing-masing di antara mereka sudah saling mengenal dengan baik. Bagaimanapun, mereka selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik, sayangnya predikat itu masih dipegang oleh Naruto hingga saat ini.
"Aku tidak perlu mengenalkan diri kalian masing-masingkan?" Bee mulai membuka suara. "Aku yakin kalian sudah saling mengenal," katanya yang disambut beberapa dengusan bahkan sikap dingin dari keenam orang itu. "Perlu kalian ketahui, Jendral Sarutobi dan para petinggi kepolisian sudah menunjukku sebagai ketua tim ini. Jadi, jangan pernah mengabaikan ucapanku!"
"Jangan basa-basi, cepat katakan, apa alasan anda mengumpulkan kami semua di sini?" sahut Yugito yang biasa dipanggil 'Nibi' begitu dingin.
"Hah, kalian terlalu serius." Keluh Bee suram. "Baiklah, aku memiliki tugas penting dan rahasia untuk kalian."
"Level misi?" potong Utakata cepat.
"S," jawab Bee pendek. Namun jawabannya itu berhasil menarik minat keenam orang yang berada di sana. "Sebenarnya ada tiga orang lagi, mereka sudah mulai bertugas sejak beberapa bulan yang lalu. Dan sekarang, atasan kita memintaku untuk membentuk pasukan pembantu."
"Siapa ketiga orang itu?" tanya Gobi dengan suara berat.
"Kakashi, Yamato dan Kitsune." Jawab Bee datar.
"Shit, aku sudah menduga jika Kitsune pasti ikut dalam misi kali ini." Seru Fuu kesal. "Kenapa dia selalu satu langkah di depanku?"
"Karena dia yang terbaik," sahut Utakata menyeringai lebar. Fuu yang nampak terganggu dengan pernyataan Utakata, menggebrak meja keras dan meraung. "Aku tidak meminta pendapatmu!"
"Tutup mulutmu, bitch!" Gobi berdesis tajam, matanya berkilat marah, jelas tidak menyukai Fuu.
"Kau mengajakku bertarung, monyet?" ujar Fuu tidak mau kalah.
"Kau kira aku takut?" Gobi menendang keras meja di hadapannya dan berdiri menantang.
"Hentikan!" Bee berkata keras begitu mengancam. Fuu dan Gobi akhirnya kembali tenang, saat sebelumnya melempar tatapan membunuh pada satu sama lain dan kembali duduk. Utakata yang menjadi pemicu hanya menyeringai, mengamati keduanya dengan tenang dikursinya. Sementara Sanbi, Nibi dan Hangobie memutar kedua bola matanya bosan. Mereka sudah terlalu sering melihat keduanya bertengkar, hingga tidak terlalu ambil pusing akan kejadian yang baru saja terjadi.
"Sebaiknya kalian perbaiki sikap dan hubungan kalian. Atau aku akan menendang kalian dari misi ini dan memastikan agar kalian tetap bekerja di belakang meja hingga sisa masa tugas kalian." Ancam Bee.
"Bee, tolong katakan saja apa tugas kami." Kata Nibi berusaha untuk mencairkan suasana yang semakin berat.
Bee menghela napas dan kembali menjelaskan maksud awalnya. "Kalian pasti pernah mendengar kelompok Hebi?" keenamnya mengangguk. "Tugas kita adalah menangkap pemimpin utama mereka, atau yang sering disebut dengan nama 'Bos Besar'. Jelas Bee. "Kakashi sedang menyusup ke markas bos besar saat ini, sedangkan Yamato sedang menyelidiki tempat persembunyian Kabuto yang melarikan diri saat penyerangan markasnya oleh Kitsune satu minggu yang lalu."
"Lalu dimana Kitsune?" tanya Sanbi ingin tahu.
"Dia masih ada misi yang lain, tapi aku sudah mendapat ijin dari Jendral Sarutobi untuk memanggilnya kembali dan bergabung bersama kita. Karena itu-" Bee melirik ke arah Utakata. Pemuda yang ditatap oleh Bee hanya menaikkan alisnya bingung. "Aku akan menugaskanmu untuk memberikan informasi mengenai hal ini pada Kitsune, aku ingin dia mengetahui semua informasi yang akan kusampaikan pada kalian hari ini, segala informasi mengenai Hebi, juga mengenai Kabuto serta pengikut mereka yang sudah berhasil dikumpulkan oleh Yamato dan Kakashi dalam penyamaran mereka." Keenamnya menatap Bee serius, mereka diam dan mendengarkan dengan baik semua penjelasan Bee setelahnya.
.
.
.
Sepulang sekolah, Naruto mendatangi kediaman Itachi seorang diri. Sasuke beralasan jika sore ini dia sudah memiliki janji dengan Neji dan lainnya untuk bertanding basket. Wanita muda itu hanya bisa menghela napas pasrah dan akhirnya pergi seorang diri.
"Kau sendirian?" tanya Itachi saat membukakan pintu untuk Naruto. Itachi menengok ke luar rumah, mengedarkan pandangannya ke segala arah, terlihah sedikit khawatir.
"Jangan khawatir, sensei. Kak masih di sekolah saat ini. Tadi saya melihatnya di ruang guru, saat saya menyerahkan laporan pada Iruka sensei." Jelas Naruto membuat Itachi bernapas lega. "Sasuke ada janji lain, jadi saya datang seorang diri." Itachi hanya tersenyum mendengar penuturan Naruto. Gadis pirang itu segera beranjak masuk setelah dipersilahkan oleh Itachi. Keduanya pun kini duduk nyaman di ruang tamu dengan segelas teh panas dan setoples cookies coklat buatan Itachi terhidang di atas meja.
"Jadi, apa rencanamu selanjutnya?" Itachi menggigit kecil cookies di tangannya dan mengunyahnya pelan.
"Kita akan membuat Kak Kurama berpikir jika dia berilusi, dengan melihat wajah anda di setiap sosok yang lain."
"Maksudmu?" kening Itachi berkerut bingung.
"Besok, anda akan tampil dengan gaya berbeda-beda. Kita buat Kak Kurama bertanya-tanya, mengapa semua gadis nampak seperti anda. Kita akan membuat dia meragukan penglihatannya sendiri."
"Aku mengerti," Itachi mengangguk. "Maksudmu kita akan membuat Ku bingung, bukan begitu?"
"Begitulah," jawab Naruto santai. "Setelahnya, kita amati bagaimana reaksi Kak Kurama terhadap anda." Tambah Naruto dengan senyum penuh arti.
"Jadi, apa saja yang harus aku siapkan?"
"Anda bisa meminjam seragam sekolah milik saya," kata Naruto. "Sepertinya ukuran kita sama, jadi tidak akan ada masalah. Lalu, saya akan meminjam beberapa rambut palsu ke anggota drama. Selain itu, kita hanya perlu beberapa aksesoris kecil, seperti kacamata misalnya."
"Apa tidak sulit meminjam property ke anak drama?"
"Anda tidak usah khawatir," ujar Naruto. "Saya akan meminjam dari Tenten, dia tidak akan banyak bertanya jika saya meminjam lewat dirinya."
"Ok," sahut Itachi. "Jadi, kapan kita beraksi?"
"Besok, dimulai dari jam makan siang." Ucap Naruto mantap.
"Bukankah sangat beresiko, sekolah akan sangat ramai pada jam istirahat. Para murid akan berkeliaran di luar kelas, ingat?
"Karena itulah, besok kita harus bergerak cepat. Tidak akan ada yang curiga jika kita berperan senatural mungkin, jadi tidak perlu cemas."
"Baiklah," sahut Itachi terdengar tidak terlalu yakin.
.
Pagi harinya, jauh sebelum bel masuk berbunyi, Naruto membawa semua perlengkapan yang dia butuhkan dan menyimpannya di salah satu loker yang tidak terpakai dekat kantin sekolah. Tenten sangat baik hati, tanpa banyak bertanya dia membawakan semua barang permintaan Naruto tadi malam, bahkan langsung mengantarnya ke kamar gadis pirang itu tadi malam.
"Tidak perlu berterima kasih, aku senang bisa membantumu." Hanya itu yang dikatakan Tenten pada Naruto. Tenten tidak perlu bertanya untuk apa semua barang yang dipinjam Naruto darinya. Karena bisa membantu seseorang yang berjasa bagi dirinya, merupakan suatu kehormatan bagi Tenten.
Dan sayangnya tidak semuanya berjalan mulus. Perlu waktu cukup lama bagi Naruto untuk meyakinkan keempat teman Sasuke agar mau membantunya lagi. Namun, pada akhirnya mereka luluh oleh pesona Naruto yang sulit untuk ditolak. "Tuhan akan membalas kebaikan kalian," seru Naruto senang. Sementara Sasuke hanya mendengus, dalam hati menertawakan keempat temannya yang ternyata bisa jatuh juga oleh perangkap Naruto.
.
Penyamaran Itachi dimulai siang ini, saat ini dia sudah bersembunyi bersama Naruto di toilet wanita. Tempat itu sangat sepi siang ini, dikarenakan sebagian besar murid sudah berada di kantin sekolah untuk makan siang.
Dia mengenakan seragam sekolah seperti Naruto, serta dilengkapi oleh rambut palsu berwarna dark blue sebahu. Sebuah kacamata trendi bertengger di atas hidung mancungnya. "Bagaimana, apa aku tidak terlihat aneh?" kening Itachi berkerut saat melihat bayangan dirinya pada sebuah kaca.
"Anda terlihat cantik," kata Naruto. "Kita harus segera bersiap. Sebentar lagi kakakku dan Kiba akan melewati lorong ini. Menurut informasi dari Neji, seharusnya mereka datang sekitar dua lima menit dari sekarang."
"Bagaimana jika Kiba gagal menyeret kakakmu untuk datang melewati tempat ini? Bagaimana jika mereka lewat tempat lain?"
"Saya percaya pada kemampuan Kiba, saya yakin seratus persen jika dia mampu untuk membawa kakakku lewat tempat ini." Naruto tersenyum dan merapihkan anak rambut Itachi yang menyelinap keluar dari rambut palsunya. "Ingat, yang Anda harus lakukan adalah menabrak tubuh kakakku-"
"Aku tahu," potong Itachi. "Tabrak dia, meminta maaf, tatap wajahnya untuk beberapa saat dan pergi dengan cepat."
"Pintar," seru Naruto senang. "Ayo, kita harus siap-siap di tempat, sensei." Kata Naruto menarik Itachi keluar dari toilet.
Aksi Itachi langsung dimulai saat sosok Kurama dan Kiba mendekat. Itachi menabrak tubuh Kurama, lalu membungkuk dan berkali-kali meminta maaf. Kurama yang melihatnya hanya mengerutkan dahi, terlalu bingung. Melihat hal itu, Itachi membungkuk untuk terakhir kali dan berlalu pergi. "Bukankah itu Uchiha?"
"Maksud Anda apa, Sensei?" Kiba pura-pura bingung.
"Lihat wanita muda itu, bukankah dia Uchiha-sensei?" Kurama menunjuk ke arah Itachi pergi.
Kiba tertawa renyah dan menggelengkan kepala. "Apa Anda mabuk? Jelas-jelas dia seorang murid, mungkin ada yang salah dengan mata Anda." Seru Kiba masih terkekeh geli.
"Lupakan tentang ini!" desis Kurama menatap tajam Kiba yang memegangi perutnya yang sakit akibat terlalu banyak tertawa. "Dan berhenti tertawa, atau aku akan menambah hukumanmu." Ancam Kurama langsung membuat Kiba diam dan mengumpat dalam hati. Kurama akhirnya pergi meninggalkan Kiba seorang diri di sana. Rasa laparnya sudah hilang, hingga akhirnya dia berbelok menuju perpustakaan sekolah.
Kiba yang melihat Kurama pergi, hanya bisa mendengus menahan kesal. Dia bahkan harus beramah tamah agar bisa mendekati Kurama tadi. Seperti dugaan Kiba, Kurama lemah akan Naruto. Walaupun pria itu nampak tidak antusias saat mendengar cerita Kiba mengenai Naruto, namun pria itu tetap mendengarkan dan tidak menyela tiap cerita Kiba, seolah itu adalah hal penting yang menyangkut adik kesayangannya. Setelah sosok Kurama menghilang, Kiba segera berlari untuk mencari Naruto. "Aku sudah melakukan pekerjaanku dengan baik," kata Kiba bangga.
"Kau memang pintar," sahut Naruto.
"Mana Itachi sensei?"
"Di dalam toilet." Jawab Naruto setengah berbisik.
"Kakakmu sepertinya tidak pergi ke kantin, aku tidak tahu dia pergi kemana." Kiba mngangkat bahunya.
"Aku tahu," sahut Naruto santai. "Sasuke sudah memberi laporan, kakakku menuju perpustakaan. Aku juga sudah menghubungi Neji dan Shikamaru untuk perubahan rencana."
"Begitu... baiklah kalau begitu aku pergi. Tugasku sudah selesaikan?"
"Ha'i, terima kasih untuk bantuannya Kiba."
"Hm... Mudah-mudahan rencanamu berakhir dengan baik," sahut Kiba seraya melambaikan tangan dan berbalik pergi.
Setelah Itachi selesai mengganti model rambut palsunya, keduanya bergegas menuju perpustakaan. Seperti yang Naruto kira, kakaknya sudah duduk manis di sana seorang diri. Keadaan perpustakaan terbilang agak sepi siang ini. Hanya ada beberapa murid yang asyik membaca di sana. Naruto memberikan kode pada Sasuke yang sudah ada terlebih dahulu di sana bersama Neji dan Shikamaru. Naruto dan Itachi pun berpisah, gadis pirang itu berjalan menuju Kurama. Sedangkan Itachi berjalan menuju meja Sasuke.
"Kak?" panggil Naruto agak berbisik. "Tidak makan siang?"
"Malas," jawab Kurama cuek tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dia baca. "Kau sendiri tidak makan?"
"Aku kesini untuk menjemput temanku," jawab Naruto bersandiwara. "Dia ada di sana, bersama Sasuke dan yang lain."
"Lalu kenapa kau tidak pergi?"
"Karena aku melihatmu di sini, aneh rasanya jika Kak datang kesini tanpa mengisi perut terlebih dahulu." Seru Naruto.
Kurama menutup buku dan menatap Naruto lurus. "Aku akan makan siang, nanti. Sekarang pergilah, bukankah temanmu sudah menungg-" Kurama nyaris menggigit lidahnya saat dia melirik ke arah meja Sasuke cs. Yang dia lihat di sana adalah sosok Itachi dengan rambut indigo panjang. "Itachi?"
"Mana?" Naruto mengedarkan tatapannya ke seluruh penjuru. "Mana Uchiha-sensei?"
"Itu," tunjuk Kurama ke arah meja Sasuke.
Naruto menoleh ke arah yang ditunjuk Kurama dan terkekeh kecil. "Dia hanya seorang siswi, Kak." Kata Naruto. "Ada apa denganmu, apa kau sakit? Kenapa Kak berilusi akan sosok Uchiha sensei?" Naruto menempelkan tangannya pada kening Kurama. "Tapi, suhu tubuhmu normal." Tambah Naruto pelan. "Sebaiknya Kak istirahat yang cukup, mungkin Kak kecapean hingga berhalusinasi." Tambah Naruto lagi, sedangkan Kurama masih diam. Matanya tidak beralih dari Itachi yang sekarang melempar senyum dan beriteraksi singkat dengan Sasuke cs.
"Kurasa, aku memang terlalu lelah." Beo Kurama menghela napas lelah. Dia menutup buku yang ada di tangannya dan kembali melirik ke arah meja Sasuke, sayangnya sosok yang dia cari sudah keluar perpustakaan bersama Naruto beberapa detik yang lalu.
"Menurutmu rencana kita berhasil?" tanya Itachi memasukkan rambut palsu yang baru saja dia kenakan ke dalam tas kertas yang disodorkan oleh Naruto.
"Sepertinya begitu," jawab Naruto. "Seharusnya Anda melihat ekspresi Kak Kurama tadi, benar-benar lucu." Naruto tertawa renyah. "Kita akan melakukannya sekali lagi, pulang sekolah nanti. Setelah itu aku yakin jika kakakku akan terus teringat akan
Anda. Dan terus bertanya kenapa dia berilusi mengenai sosok Anda pada orang lain."
"Aku berharap perkiraanmu benar-benar akan menjadi nyata," kata Itachi dengan helaan napas panjang. "Aku benar-benar berhutang padamu, Naruto."
"Sebenarnya, saya hanya bisa membantu hingga titik ini. Selanjutnya terserah Anda." Kata Naruto begitu tenang. "Dan jika pada akhirnya kalian kembali bersama, saya ingin meminta tolong pada Anda."
"Apa itu?"
"Tolong jaga kakakku, jangan menyakitinya. Kakakku memang terlihat kuat, tapi sebenarnya dia sangat rapuh." Ujar Naruto dengan keseriusan nyata di matanya.
Itachi tersenyum mendengar pernyataan Naruto, dan mengacak rambut pirang itu penuh sayang. "Aku janji, aku akan menjaga kakakmu dengan baik. Jangan khawatir, karena aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama."
Begitulah, ternyata rencana Naruto berjalan dengan baik. Kurama mulai mempertanyakan keberesan otaknya saat ini. Dia mengumpat kesal di dalam hati, kenapa dia bisa melihat Itachi pada sosok orang lain, hal ini benar-benar mengganggunya. Belum lagi sikap Itachi yang mendadak begitu perhatian pada dirinya membuat Kurama nyaris tidak bisa memejamkan mata saat malam hari karena memikirkan sang Uchiha sulung. Kurama juga mengutuk nasibnya, kenapa Naruto terlihat sangat dekat dengan Itachi beberapa hari ini. Hal ini menambah kegusaran Kurama, karena dia harus berada di satu ruangan yang sama dengan Itachi saat dia ingin mengobrol dengan Naruto. Hal ini karena Itachi memutuskan untuk pindah ruangan, menurutnya ruangan yang ditempatinya saat ini terlalu luas, sehingga dia memilih untuk bergabung bersama para guru lainnya. Selain itu, Itachi juga terus menempel pada Naruto selama jam istirahat. "Menjengkelkan," keluh Kurama frustasi.
.
.
.
Naruto menyisirkan jemarinya ke rambut setelah membaca salah satu email masuk malam ini. "Temui aku di taman kota besok, jam dua siang." Begitu isi email itu, tapi bukan itu yang membuat Naruto gelisah saat ini. Yang membuatnya gelisah adalah nama pengirim email tersebut. Yah, yang mengirim email itu adalah Utakata. "Semoga Utakata membawa kabar baik untukku," kata Naruto penuh harap. Dirinya berdiri di balkon kamarnya, menyernderkan tubuh pada tembok dan menatap langit malam yang bertabur bintang.
Keesokan harinya, seperti biasa Naruto membawa ketiga muridnya untuk berlatih judo. Setelah selesai, Naruto segera menuju tempat pertemuannya dengan Utakata. Wanita muda itu menunggu beberapa saat di sana, dan akhirnya bisa bernapas lega saat melihat sosok Utakata berjalan ke arahnya dengan membawa sebuah buku tebal di tangan kanannya. Naruto yang segera mengerti pun berjalan ke arah berlawanan, hingga akhirnya kedunya berpapasan di tengah jalan dan buku tebal itupun segera berpindah tangan.
Naruto menggenggam erat buku di tangannya tanpa memperlambat laju langkah kakinya. Setelah berada di tempat sepi, Naruto membuka buku tersebut dan menatap isinya tanpa ekspresi. Di dalam buku itu terdapat sebuah lubang dengan sebuah USB flash disk berada di dalamnya. Wanita muda itu menutup buku itu cepat dan memasukkannya ke dalam tas punggung yang dibawanya.
Wanita muda itu menghabiskan waktu hampir seperempat malam untuk mempelajari isi USB tersebut. Naruto terus mengumpat dalam hati, karena dia tertinggal begitu banyak akan informasi mengenai Hebi dan Kabuto. Berita baiknya, dia akan segera bergabung ke dalam pasukan Bee. Pria penyuka musik rap itu adalah senior Naruto saat masih di kamp pelatihan. Wanita muda itu tersenyum kecil, sepertinya kelompok barunya akan sangat menyenangkan. Apalagi saat dia melihat daftar anggota pasukan Bee yang lainnya.
Besoknya, Naruto bangun kesiangan. Matahari sudah semakin tinggi saat dia bangun. Wanita muda itu segera berlari dengan kecepatan maksimum menuju kamar mandi, membersihkan diri dengan singkat dan berganti pakaian. Naruto tidak memiliki banyak waktu untuk memilih pakaian dan berdandan. Karena itu, hari ini dia mengenakan hot pants juga tank top berwarna hitam dan sebuah kemeja lengan panjang berwarna biru langit. Naruto menggulung lengan kemeja itu hingga sikut, mengenakan boot semata kaki dan sebuah topi komando berwarna hitam melengkapi penampilannya hari ini.
"Kau terlambat!" dengus Sasuke saat Naruto sudah ada di depannya.
"Gomen, aku terlambat bangun." Jawab Naruto ringan menambah urat kekesalan Sasuke semakin berkedut. "
"Sebaiknya kita cepat pergi, kita hanya akan membuang waktu percuma jika terus berdiri dan bertengkar di sini." Ujar Naruto dengan senyum manis, sedangkan Sasuke masih menatapnya dingin. "Ayolah, jangan marah lagi." Rayu Naruto.
"Hn."
"Kita jadi nonton-kan?"
"Hn."
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo pergi..." Naruto menyeret tangan Sasuke. Pemuda itu akhirnya mengalah dan mengikuti Naruto secara sukarela. "Suke, bukankah itu Sakura?" Naruto menunjuk ke arah Sakura yang saat ini berjalan menuju halte bis terdekat. "Eh... kenapa Karin, Hinata dan Ino berjalan mengendap-endap seperti itu? Apa mereka berniat membuntuti Sakura?"
"Aku tidak peduli," sahut Sasuke cuek.
"Suke, ayo kita ikuti mereka."
"Jangan bercanda! Kita akan pergi kencan, Dobe." Protes Sasuke keras.
"Hei, apa kau tidak penasaran mereka akan pergi kemana?"
"Tidak," jawab Sasuke ketus.
"Ayolah, kita ikuti saja." Mohon Naruto. "Kita bisa pergi kencan setelahnya." Sasuke menahan napas dan menatap tajam Naruto. Namun wanita muda itu tidak ambil pusing, wanita muda itu kembali menyeret Sasuke untuk kedua kalinya hari ini, menyeret pemuda itu untuk membuntuti, Sakura.
Dalam perjalanan, Naruto dan Sasuke bertemu dengan Neji, Kiba, Gaara dan Shikamaru. Naruto membekap mulut Kiba saat pemuda itu menggodanya dengan nada suara keras. "Jangan berisik," desis Naruto tajam.
"Sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan?" Gaara menatap Naruto lalu beralih ke Sasuke.
"Kami sedang membuntuti Ino, Karin dan Hinata." Jelas Naruto.
"Sepertinya mereka bertiga sedang membuntuti Sakura," sahut Neji.
"Merepotkan," kata Shikamaru yang entah kenapa mewakili pikiran Sasuke saat ini.
"Kalian mau bergabung?"
"Tentu," jawab Kiba semangat. "Aku penasaran, sebenarnya kemana mereka akan pergi."
Keenamnya terus mengikuti langkah Hinata, Karin dan Ino dari belakang. "Sepertinya mereka akan naik bus," seru Shikamaru.
"Sebaiknya dua orang diantara kita saja yang naik, sisanya memakai taksi. Terlalu beresiko jika semuanya naik." Kata Naruto. "Aku akan memberitahu posisi kami, lewat email pada salah satu di antara kalian."
"Kalau begitu, aku dan Naruto naik bis. Kalian naik taksi," usul Kiba.
"Kenapa harus kau yang naik bis dengan Naruto?"
Kiba mendengus dan menjawab ketus. "Karena hanya kami berdua yang memakai topi." Dan Sasuke pun mengambil paksa topi Kiba dan memakainya. "Itu topiku," seru Kiba.
"Aku pinjam," kata Sasuke cuek dan menarik Naruto untuk berlari dan segera masuk ke dalam bis. Karena Sakura dan ketiga gadis lainnya sudah naik beberapa saat yang lalu. Sakura duduk di belakang supir, matanya menatap keluar jendela hingga tidak menyadari jika dia dibuntuti oleh lima orang saat ini. Sedangkan Ino, Karin dan Hinata duduk di kursi tengah agar lebih mudah mengawasi gerak-gerik Sakura. Naruto dan Sasuke terus menunduk, menyembunyikan wajah mereka di balik topi dan mengambil tempat di kursi belakang bis yang kosong.
.
"Rumah siapa ini?" seru Naruto dari belakang, mengagetkan ketiga gadis yang berdiri di depannya.
"Oh, Tuhan!" pekik ketiganya bersamaan dan menoleh ke belakang. Mereka sangat terkejut saat melihat Naruto dan Sasuke cs sudah berdiri di belakang mereka saat ini. "Kenapa kalian ada di sini?" tanya Ino setelah pulih dari keterkejutannya.
"Kami mengikuti kalian," jawab Naruto santai. "Ini rumah siapa?" tanyanya lagi, takjub akan kemegahan rumah yang ada di depannya saat ini. "Rumah Sakura?"
"Bukan, ini rumah Tenten." Jawab Hinata.
"Hah?" kini Naruto yang nampak terkejut. "Sakura datang berkunjung ke rumah Tenten?"
"Sebaiknya kita pergi," kata Sasuke datar.
"Benar, kita sudah tahu kemana Sakura pergi. Lebih baik kita pulang saja." Sahut Neji, pemuda itu berbalik dan terlonjak kaget. "Anda mengagetkanku, paman."
"Siapa kalian?" tanya paman itu. "Apa kalian teman-teman Tenten?" Kesembilannya mengangguk kecil. "Senang sekali, kami bisa mendapatkan tamu sebanyak ini dalam satu hari. Mari masuk, biasanya putriku jarang membawa teman ke rumah. Di dalam, ada Sakura yang juga datang berkunjung, ayo mari masuk." Tawar paman itu sopan. Setengah enggan, akhirnya kesembilan murid itu masuk ke dalam rumah. Mereka menatap ke sekeliling rumah, berusaha untuk tetap bersikap tenang saat melihat semua perkakas yang ada di dalamnya sudah ditempeli kertas segel dari pengadilan. "Ah, itu Sakura dan Tenten."
Baik Sakura maupun Tenten sama-sama terkejut melihat kedatangan mereka semua. Tenten tersenyum dan menyambut mereka, serta meminta maaf karena tidak bisa menyuguhkan sesuatu yang layak untuk menjamu mereka semua. "Tidak masalah," kata Naruto.
Mereka terus mengobrol, ternyata kedatangan Sakura hari ini adalah untuk meminta maaf akan perbuatannya yang konyol pada Tenten dan begitu kekanakan. Gadis berambut pink itu menyadari jika dia begitu kesepian setelah Tenten menjauhinya dan bertekad untuk memperbaiki hubungan mereka yang renggang.
"Jadi, diantara kalian ada yang bermarga Hyuuga." Kata ayah Tenten tiba-tiba, memutus pembicaraan yang sedang berlangsung."
"Benar," jawab Neji sopan. Mata ayah Tenten berbinar senang saat mendengarnya. "Sebagai klan yang masih memegang tradisi, kalian pasti menyukai koleksi mainanku."
"Ayah, jangan mulai lagi." Keluh Tenten.
"Kenapa? Ayah yakin temanmu ini akan menyukai koleksi Ayah," katanya riang. "Ayo, ikuti aku. Paman akan menunjukan sesuatu yang bagus pada kalian." Mereka semua akhirnya mengikuti ayah Tenten menuju basement. Di sana ternyata ada sebuah ruang rahasia, tempat ayah Tenten menyimpan semua koleksi senjatanya. "Bagaimana, apa kalian menyukainya?"
Dan Narutolah yang pertama bereaksi. "Anda mengoleksi katana dan wakizashi?"
"Begitulah," jawab ayah Tenten bangga. "Aku memiliki seratus buah senjata di sini. Coba kau pegang yang ini!"
Naruto menerima sebuah katana dari tangan ayah Tenten, membuka dengan hati-hati sarung penutupnya dan mengayunkannya ahli. "Woah, kau bisa menggunakan katana rupanya. Ayunanmu seperti seorang pro." Kata ayah Tenten kagum.
"Saya masih belum ahli dalam menggunakan senjata seperti katana," dusta Naruto. Ia menyarungkan kembali katana itu dan menatap serius wajah pria itu saat mengembalikan pedang tersebut pada tempatnya. "Anda bahkan memiliki katana dari zaman Morimachi."
"Kau benar-benar hebat, tidak banyak orang yang mengetahui jika pedang ini berasal dari zaman Morimachi. Kau tahu, aku harus merogoh saku sangat dalam untuk membelinya."
"Saya percaya," sahut Naruto. "Jika saja anda bersedia menjual setengah dari koleksi ini, pasti finansial keluarga anda akan kembali sehat. Begitupun dengan perusahaan anda."
"Jangan bercanda," sahut ayah Tenten. "Aku tidak mau menjual mereka, koleksiku ini sudah seperti anak-anakku. Aku tidak peduli jika aku harus jatuh miskin demi mempertahankan mereka."
"Lalu bagaimana denganku?" potong Tenten dengan mata berkaca-kaca. "Aku juga putrimu, tapi Ayah lebih mencintai benda mati ini daripada putri kandungmu sendiri."
"Itu tidak benar," bantah pria setengah baya itu keras. "Ayah sangat menyayangimu."
"Tidak," bantah Tenten pelan, menggelengkan kepala. "Ayah lebih menyayangi pedang-pedang ini. Ayah bahkan tidak peduli saat aku harus berjuang keras demi membayar tunggakan sekolah. Beruntungnya aku, karena memiliki teman yang bersedia membantuku untuk melewati masa-masa sulit itu. Ayah tidak akan percaya akan apa yang kulakukan untuk mendapatkan uang. Ayah juga mungkin tidak akan melihatku dalam kondisi hidup saat ini, jika saja waktu itu Naruto tidak datang menyelamatkanku." Semua orang diam mendengarkan pernyataan Tenten yang begitu miris. Bagaimana bisa seorang ayah, lebih memilih untuk mempertahankan benda-benda kesayangannya daripada keluarganya sendiri.
"Apa maksudmu?"
"Aku melakukan itu karena Ayah memilih untuk lepas dari tanggung jawab dan mempertahankan semua benda mati ini." Raung Tenten lepas kendali. "Ayah sangat egois," tambah Tenten setengah berbisik.
"Anda hanya perlu melepaskan sebagian saja, paman." Kata Naruto kembali angkat bicara. "Pikirkan keluarga anda, pikirkan juga karyawan anda yang menggantungkan hidup di bawah perusahaan anda. Pikirkan nasib mereka." Kata Naruto bijak. Setelah itu, Naruto menggiring semua temannya termasuk Tenten keluar dari ruangan itu. Membiarkan ayah Tenten untuk berpikir dan meresapi kata-kata putrinya tadi. Akhirnya kencan Naruto dan Sasuke pun kembali gagal hari ini. Karena Naruto memutuskan untuk membawa semuanya ke taman bermain, bersenang-senang untuk menghibur Tenten. Semuanya begitu gembira hari ini, kecuali satu orang. Hanya Sasuke yang sama sekali tidak menikmatinya.
"Wajahmu masam sekali, Sasuke." Goda Naruto mencoba mencairkan suasana hati Sasuke, namun gagal. "Ayolah, ini demi kebahagiaan teman kita. Sekali-kali berkorban tidak apa-apakan?"
"..."
"Bagaimana kalau aku membelikanmu gula-gula?"
"..."
"Kau tidak suka?"
"..."
"Ayolah, sampai kapan kau akan diam seperti ini?" Naruto mulai frustasi. Wanita muda itu duduk merapat di samping Sasuke dan mengeluarkan telepon genggamnya. "Senyum, Teme. Aku akan mengambil foto kita berdua." Kata Naruto, "senyum!" Naruto pun mengambil foto dan berdecak sebal setelah melihat hasilnya. "Wajahmu masam sekali."
Sasuke mengeluarkan telepon genggamnya, menarik Naruto agar lebih merapat dan menekan tombol kamera untuk mengambil gambar keduanya. Sasuke bahkan mengulum senyum di sana dan memperlihatkan hasil fotonya pada Naruto dengan seringai mengejek. "Dasar curang, hasil fotomu lebih bagus dari milikku." Sasuke mengendikkan bahu cuek dan beranjak menuju kawan-kawannya yang lain. Mereka asyik bercanda, saling menggoda dan tertawa bersama. Sementara para gadis, memilih untuk menaiki ferris wheel.
Naruto tersenyum pahit saat melihat pemandangan di depannya. Kenangan ini akan dia ingat untuk seumur hidupnya. Kehidupan normal layaknya remaja biasa. Keseharian yang akan sulit didapatkan Naruto jika dia sudah kembali ke kesatuannya.
Setidaknya, aku sudah pernah mengalamin. Pikir Naruto menghibur diri dan menghambur bergabung bersama mereka, tertawa dan bercanda, seolah dia hanya remaja biasa yang tidak memiliki beban berat di pundaknya.
Naruto menjalani hari-hari setelahnya seperti biasa, dia masih menunggu. Yah, dia menunggu panggilan itu datang. Hingga akhirnya, sebuah ketukan menghentikan penjelasan Itachi dan Guy muncul dengan senyum lebarnya yang berlebihan.
"Maaf mengganggu kelas Anda, Uchiha sensei," kata Guy sopan. "Saya meminta ijin untuk membawa Namikaze."
Itachi berjalan mendekati Guy yang berdiri di depan pintu masuk, dan bertanya, "memangnya ada apa?"
"Kepala sekolah memanngilnya," jelas Guy.
Itachi mengangguk dan melayangkan pandang pada Naruto, sementara murid lainnya saling berbisik. Tidak biasanya kepala sekolah mereka memanggil seorang murid secara langsung. "Apa Naruto terlibat masalah?" celetuk Kiba. Sasuke diam, wajahnya datar seperti biasa. Namun entah kenapa hatinya bergejolak resah saat ini. Matanya seolah tidak rela saat melihat punggung Naruto semakin jauh dan menghilang bersama Guy sensei keluar kelas. Sasuke merasa jika Naruto akan pergi jauh darinya, perasaan itu membuatnya semakin resah dan tidak nyaman.
Naruto kini berdiri di depan dua orang pria tua. Kedua pria tua yang memiliki pahatan tegas di kedua wajah mereka. Walau keriput mulai memakan mereka, namun sikap tak terbantahkan itu jelas terlihat nyata. Naruto membungkuk memberi hormat pada keduanya dan berdiri tegak.
"Jangan terlalu kaku, Naruto." Kata Hanzou dengan suara dalam. "Aku tahu siapa dirimu sebenarnya," katanya membuat Naruto terkejut. "Tidak perlu terkejut, aku dan kakekmu ini adalah kawan lama." Sarutobi mengangguk di kursinya.
"Aku datang untuk menjemputmu, Naruto." Ucap Sarutobi. "Kau harus kembali ke markas, dan kembali bertugas dengan misi lain."
"Ya. Saya siap menerima perintah, Jendral." Jawab Naruto tegas. Inilah akhirnya, selamat tinggal! Maaf, karena sepertinya aku tidak bisa mengucapkan selamat tinggal secara langsung pada kalian semua. Batin Naruto penuh sesal.
.
.
.
TBC
Note : Scene di rumah Tenten diadaptasi dari manga Nodame Cantabile, dengan sedikit perubahan.
#WeDoCareAboutSFN
