Maaf untuk keterlambatan updatenya. Saya juga tidak balas review satu persatu. Tapi untuk yang kirim PM sudah saya balas yah.
Untuk saat ini, saya masih belum tahu akan membuat UC hingga berapa chapter atau apakah UC akan berakhir bahagia atau tidak, sampai sekarang saya masih galau maksimal. Kita lihat saja ke depannya. Terima kasih atas kesabaran readers, semoga chap ini tidak mengecewakan readers yang sudah lama menunggu.
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s), etc
Genre : Romance, Crime, Friendship, Hurt/Comfort
Selamat membaca!
Under Cover
Chapter 12 : Hold My Hand
By : Fuyutsuki Hikari
Suasana rumah sakit militer terlihat lebih sibuk daripada hari-hari biasanya. Dokter dan suster- semua hilir mudik merawat korban penyerangan di Konoha International High School siang tadi.
Naruto meringis pelan, sekilas ia menatap luka pada bagian pergelangan tangan kanan dan samping kiri perutnya yang sudah selesai diobati. Ia terkena serpihan kaca saat penyerbuan terjadi. Luka sepanjang sepuluh centimeter di perutnya pasti membutuhkan waktu agak lama untuk sembuh, keluh Naruto dalam hati. Tapi, atasannya tidak perlu tahu tentang ini-kan? Hah, dia hanya berharap bisa menyembunyikan hal ini agar bisa diijinkan kembali bertugas.
Sesaat pikirannya melayang, raut wajah Sasuke tadi terus mengganggu benaknya. Dia tidak ingin asal menebak, namun ekspresi yang diperlihatkan oleh Sasuke, adalah ekspresi terluka.
"Tebakanku pasti salah," kata Naruto, menggeleng pelan. Dia kembali meringis saat luka di perutnya kembali berdenyut sakit karena bergesekan dengan kain sifon kemeja militer yang dikenakannya. "Shit!" umpatnya kasar, kini dengan wajah ditekuk dalam. Naruto mengancingkan kemejanya dalam gerakan lambat, lalu menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku. Luka-luka di tangannya pun tidak kalah sakit dari luka di perutnya.
"Tidak baik seorang gadis mengumpat kasar!" tegur Sanbi pelan. Dia berjalan terpincang ke arah Naruto.
"Bagaimana lukamu?" tanya Naruto khawatir melihat kondisi Sanbi yang babak belur.
"Lumayan," jawab Sanbi santai. Dia mendudukkan diri di salah satu kursi dekat jendela, menggeser dan membuka lebar kaca jendela, mempersilahkan angin dingin akhir musim gugur berhembus masuk ke dalam ruangan.
Sanbi merogoh saku depan kemejanya, ia mengeluarkan sebungkus rokok dan sebuah pematik api dengan motif naga dari dalamnya.
"Ini rumah sakit, kamu tidak boleh merokok di sini!" tegur Naruto berkacak pinggang.
Sanbi sama sekali tidak peduli, ia nekat menyalakan sebatang rokok dan menyesapnya lama, menikmati rasa manis nikotin di bibirnya.
"Ada apa denganmu?" tanya Naruto sedikit khawatir melihat perilaku Sanbi yang tidak biasa saat ini.
Sanbi terdiam cukup lama, kepulan asap rokok dihembuskan begitu nikmat dari mulut dan lubang hidungnya. "Kukira kita akan mati tadi," katanya dengan nada berat.
"Bukankah kita sudah dilatih untuk itu?" balas Naruto tenang. Sanbi masih belum menoleh ke arahnya, pandangannya masih menerawang jauh keluar jendela.
Lagi-lagi asap rokok itu ditiupnya cepat ke udara. "Bagaimana jika mereka trauma?" tanya Sanbi. Tidak mendapat jawaban, dia pun akhirnya melirik ke arah Naruto dan menatap wanita muda itu lurus. "Bagaimana jika salah satu dari mereka menjadi korban?"
Naruto bergerak turun dari tempat tidur, menarik sebuah kursi untuk duduk di depan Sanbi. 'Jadi ini mengenai murid-murid itu,' pikir Naruto. "Masih punya rokok?" tanyanya kemudian. Sanbi mengangguk dan mengambil sebungkus rokok dari dalam sakunya, menyodorkannya pada Naruto. Gadis itu mengambil sebatang, meletakkan batang rokok itu di bibir, dan Sanbi menyalakan api rokok itu dengan pematik di tangannya.
"Nikmat sekali," kata Naruto tersenyum puas. "Aku sudah lama tidak menghisap benda terkutuk ini," katanya sambil mengacungkan rokok miliknya ke depan hidung Sanbi.
Tawa gadis itu lenyap seketika setelahnya. Untuk beberapa saat tidak ada satu orang pun bicara, menciptakan kesunyian yang menggantung di udara. "Aku pasti tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika salah satu dari mereka menjadi korban," ujar Naruto kemudian, lirih. Ia menunduk menatap lantai berkeramik putih di bawahnya. "Lebih baik aku mati daripada melihat salah satu murid, guru atau orang tua murid menjadi korban."
Sanbi mengangguk setuju. "Semua ini tidak akan terjadi jika kita sudah berhasil menangkap kelompok Hebi." Katanya dengan tangan kiri terkepal erat. Sanbi terlihat begitu marah, juga kecewa pada dirinya sendiri. "Dan sialnya aku diberi istirahat selama satu minggu ke depan."
"Kalau begitu aku masih cukup beruntung, aku ditugaskan untuk menjaga perdana menteri sepanjang minggu ini."
Sanbi mengangkat sebelah alisnya mendengar penuturan Naruto. "Itu berarti kamu akan tinggal lebih lama di kediaman Uchiha-sama?"
Naruto bisa menangkap nada tak percaya dari lawan bicaranya saat ini. "Begitulah," katanya mengangkat bahu ringan.
"Bodyguard, huh?" kata Sanbi pelan dengan ekspresi tidak terbaca. "Kamu benar, itu lebih baik daripada aku yang harus menganggur selama satu minggu.
"Mereka melakukan itu agar kamu cepat sembuh," hibur Naruto dengan senyum tipis. Dan pembicaraan mereka pun berhenti sampai di situ.
.
.
.
Yamato berjalan sedikit tergesa di lorong gelap yang dilewatinya. Berita yang dia dengar dari beberapa anggota mafia itu membuatnya cemas dan khawatir. Pria itu hanya bisa mengepalkan tangan dan menutup mulut rapat untuk menekan emosinya yang meluap-luap saat mendengar tawa penjahat yang merayakan penyerangan terhadap perdana menteri siang tadi.
"Ayo minum, Yamato!" teriak salah satu penjahat, setengah mabuk saat Yamato membuka pintu ruangan. Bau rokok, alkohol dan hentakan musik keras membaur menjadi satu, begitu mengganggu.
"Aku harus berjaga," tolak Yamato, berdalih. Matanya menyisir seluruh ruangan yang temaram.
"Minum sedikit saja," pria lain menimpali dengan berteriak, menyodorkan botol minuman murahan pada Yamato.
Yamato menahan napas, terganggu oleh bau alkohol yang menguar kuat dari pria di depannya. "Aku akan merayakannya nanti," katanya, bersikap setenang mungkin. "Kalian lanjutkan saja, aku yang akan berjaga malam ini. Bos bisa marah besar jika tahu kita semua mabuk saat ini."
"Bos tidak akan tahu," teriak seorang pria di sudut ruangan. Dia berdiri dengan kedua kakinya yang goyah, terhuyung saat berjalan menuju meja penuh dengan minuman keras di tengah ruangan. "Lagipula, dia pasti masih berada di lubang gelap dan menjijikan itu untuk bersembunyi. Kita aman." Katanya dengan tawa keras, disambut oleh gemuruh tawa penjahat lainnya.
"Atau mungkin dia sudah mati," seru pria lain tidak kalah keras dan terdengar puas.
"Mungkin saja dia sudah sembuh," ujar Yamato. "Lagipula kita tidak tahu persis dia ada dimana sekarang. Mungkin saja dia bersembunyi di salah satu ruangan, di tempat ini."
"Tidak mungkin," sahut pria di depan Yamato sambil menggoyang-goyangkan botol minumannya. "Jika dia ada di sini, kita pasti sudah mati."
"Dan kalian akan benar-benar mati jika berani menentangku!" Kabuto muncul dari belakang Yamato. Para penjahat yang sudah setengah mabuk itu hanya bisa membelalakkan mata tak percaya. 'Bagaimana mungkin?' pikir mereka kompak. "Kenapa? Kalian pikir aku sudah mati?" tanya Kabuto penuh penekanan. Pria itu masih sedikit pucat, menandakan jika dia belum pulih sepenuhnya.
Kabuto melirik ke arah Yamato yang segera membungkuk memberi hormat. "Bagus, ternyata tidak semua anak buahku berotak kosong dan kurang ajar." Kabuto berujar dengan gigi gemertuk, marah. "Pergi, jaga di luar!" perintahnya dengan nada tinggi. Yamato kembali membungkuk, memberi hormat lalu berbalik pergi.
"Hukuman apa yang harus aku berikan pada pecundang seperti kalian?" desis Kabuto menyapu seluruh ruangan setelah Yamato pergi. Musik sudah berhenti, para penjahat yang ketakutan itu hanya bisa bersimpuh, menundukkan kepala dalam, untuk meminta pengampunan. "Aku tidak menyukai pecundang," desis Kabuto. Pria itu mengeluarkan pistol dari dalam saku jasnya dalam gerakan cepat, dan letusan keras itu-pun terdengar hingga beberapa kali malam itu.
.
.
.
Naruto pulang ke kediaman Uchiha lewat tengah malam, hari itu. Bee memaksanya ke rumah sakit dulu, lalu dia juga harus memberi kesaksian, menyusun laporan dan menghadiri rapat darurat yang baru selesai menjelang pukul sebelas malam.
Dia bisa tahu jika orang-orang di kediaman Uchiha dalam keadaan tegang saat dia datang. Mikoto yang pertama kali berdiri dan berucap syukur saat melihat Naruto baik-baik saja.
Naruto menekuk bibirnya ke atas, berusaha agar tidak meringis, perutnya yang terluka kembali berdenyut saat tanpa sengaja tubuh Mikoto menekannya saat wanita paruh baya itu memeluk Naruto. Gadis itu membalas pelukan hangat Mikoto dengan canggung. "Syukurlah kamu baik-baik saja," kata Mikoto parau. "Dan terima kasih, kamu sudah melindungi suami juga anak-anakku. Aku sangat berhutang padamu, Naruto." Wanita setengah baya itu menyeka matanya dengan tisu yang sudah basah dan kusut.
"Itu sudah menjadi tugas saya, Uchiha-san." Jawab Naruto, ia melirik ke arah Fugaku dengan penuh arti.
"Aku tahu, aku tahu." Kata Mikoto berulang, dia melihat Naruto dari atas hingga bawah. Napasnya sedikit berat saat melihat pergelangan tangan kanan gadis itu yang dililit kain kasa. "Tetap saja aku berhutang banyak. Padamu dan juga pada rekan tim-mu." Mikoto mengulas senyum kecil penuh terima kasih. Kedua obsidannya menatap lurus Naruto, lembut.
"Biarkan Namikaze istirahat," seru Fugaku kemudian. "Terima kasih untuk hari ini, kamu dan seluruh rekan tim-mu bekerja sangat baik, Namikaze. Sekarang, lebih baik kamu istirahat," Fugaku tersenyum tipis, terarah langsung pada Naruto. Pria paruh baya itu lalu mengamit tangan istrinya yang masih enggan untuk pergi. Pada akhirnya, Mikoto membiarkan Fugaku menggandengnya menuju kamar mereka.
Itachi yang sedari tadi duduk diam di sofa kini bergerak untuk memeluk Naruto hangat. "Maaf, kami benar-benar menyusahkan." Katanya penuh sesal. "Kamu terluka," tambahnya lagi pahit menatap nanar gadis pirang di hadapannya.
"Anda bicara apa, Itachi sensei?" Naruto menekuk wajahnya, tidak suka. "Ini pekerjaan saya. Sudah menjadi tugas saya untuk melindungi warga yang tidak berdosa."
"Arigatou," ucap Itachi lagi pelan dengan berkaca-kaca. "Lalu, bagaimana dengan Kurama?" tanyanya khawatir. "Ponselnya tidak bisa dihubungi sejak siang tadi."
"Nii-san sudah pulang ke rumah besar bersama paman Asuma tadi sore. Jangan khawatir." Jawab Naruto menenangkan.
Itachi mendesah pelan, menyelipkan rambut indahnya ke belakang telinga. "Syukurlah," katanya penuh kelegaan. "Tidurlah, selamat malam Naruto."
"Selamat malam," sahut Naruto. Gadis itu beranjak, berjalan setelah Itachi pergi meninggalkannya untuk kembali ke kamarnya di lantai dua.
Naruto mengubah arah langkahnya menuju dapur saat perutnya bernyanyi keras minta diisi. Ia mendapati Obito di sana, duduk dengan sencangkir kopi hitam yang masih mengepul. "Belum tidur, Kapten?" tanya Naruto berjalan mendekat.
Obito mendongak, melihat ke arah sumber suara. "Aku menunggumu, bagaimana keadaanmu?" tanya Obito sambil mengamati pergerakan Naruto. Gadis itu mengambil sebuah ramen instan dari dalam lemari penyimpanan, membuka tutupnya dan menyiram air panas ke dalamnya, lalu duduk tepat di depan Obito.
"Saya baik," jawab Naruto, melirik sambil tersenyum simpul.
"Bagaimana keadaan rekanmu yang lain, Sanbi dan Utakata?"
"Mereka juga baik." Jawab Naruto cepat. "Utakata tidak pulang, dia harus menyelesaikan laporannya malam ini di markas besar. Sedangkan Sanbi, dia harus menginap di rumah sakit karena luka di kaki dan punggungnya. Mungkin perlu beberapa hari dia di sana, luka akibat pecahan bomnya sangat dalam."
"Begitu?" sahut Obito akhirnya bisa bernapas sedikit lega. "Kalian benar-benar gila," ujar Obito kemudian. Pria itu terlihat kesal, bangga juga cemas pada saat bersamaan. "Kalian bisa saja mati tadi, kamu tahu?" Naruto mengangguk paham. "Tapi, itu juga membuatku bangga bisa memiliki kalian dalam timku. Ryu mungkin mati jika kalian tidak menariknya disaat yang tepat."
"Bagaimana kabar Ryu?" tanya Naruto kembali teringat akan pengawal Fugaku yang diselamatkan olehnya dan Sanbi.
"Dia sudah siuman, dokter memberiku kabar satu jam yang lalu."
"Syukurlah," kata Naruto lega sementara Obito menyesap kopi hitamnya nikmat.
"Aku akan berjaga malam ini, sebaiknya kamu cepat tidur." Ujar Obito penuh pengertian.
"Ha'i, wakatta."
"Oyasuminasai." Obito mengeser kursi yang didudukinya, berdiri dan berbalik pergi dengan membawa serta cangkir kopi bersamanya.
"Oyasuminasai," balas Naruto. Gadis itu tersenyum kecil, mengamati ramen instannya yang sudah matang. Ia makan dengan lahap, menghabiskan makanannya dalam waktu singkat. Ia sangat lapar, semua kejadian ini membuatnya stres dan lelah.
.
.
.
Ternyata masih ada satu orang lagi yang menunggu kepulangan Naruto malam ini. Ya, Sasuke sudah menunggunya di dalam kamar gadis itu. Naruto tidak memerlukan indera keenam untuk mengetahui jika pemuda itu sedang resah.
"Kamu sudah pulang," Sasuke berjalan cepat ke arah Naruto yang baru saja masuk dan menutup pintu di belakangnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Naruto tanpa menjawab pertanyaan Sasuke. Gadis itu hanya berdiri mematung di depan pintu masuk.
"Aku khawatir," sahut Sasuke jujur, menyunggingkan senyum getir.
Naruto membeku melihat kegetiran yang terlihat nyata di kedua mata milik Sasuke. Ia memberikan pelukan singkat sebagai ucapan terima kasih, juga pelukan penghiburan. "Aku sudah pulang, Sasuke. Dan aku baik-baik saja. Maaf sudah membuatmu cemas." Kalimat itu terdengar lemah, tidak yakin dan penuh penyesalan.
Pemuda itu untuk beberapa saat mengamati wajah Naruto. Alis matanya bertaut saat melihat kain kasa yang membebat pergelangan tangan kanan gadis yang dicintainya. "Aku baik-baik saja," Naruto berkata lagi hampir berbisik saat menangkap arah tatapan Sasuke.
Pemuda itu menghela napas panjang. "Aku tidak akan mengganggumu lagi. Selamat malam, Naruto." Sasuke tidak mampu untuk menekan emosinya. Dia harus pergi dari ruangan itu. Pemuda itu tahu jika Naruto hanya mengerjakan apa yang menjadi pekerjaannya. Gadis itu memiliki sifat patriot, dia tidak bisa meminta Naruto untuk berhenti dari pekerjaannya. Tidak, itu sama sekali tidak mungkin.
"Tunggu," kata Naruto pelan, tangan kirinya menahan tangan Sasuke. Pemuda itu menghentikan langkahnya dan berbalik, menatap Naruto. "Apa maksud perkataanmu siang tadi?"
Sasuke kembali tersenyum, senyum yang tidak menyentuh mata, pahit. "Lupakan saja, anggap aku tidak mengatakan apapun."
"Kamu... menyerah terhadapku?" tanya Naruto serak. Jantungnya mendadak berdetak sangat cepat.
"Tidak," sahut Sasuke dengan gelengan pelan. "Aku terlalu mencintaimu untuk menyerah, Naruto. Yang bisa aku lakukan mulai saat ini adalah berusaha untuk melewati tembok perbedaan itu, sedikit demi sedikit. Karena itu, tolong tunggu aku hingga saatnya tiba."
"Aku akan menunggumu, Sasuke. Dan aku akan melepasmu jika seandainya kamu berubah pikiran di tengah jalan dan mencintai gadis lain. Jika hal itu terjadi, aku akan dengan senang hati melepasmu pergi."
Sasuke menghela napas, tatapannya melembut menatap gadis yang mengisi hatinya. "Itu tidak akan terjadi," janjinya. Ia lalu merengkuh dan memeluk Naruto lembut, seolah takut jika dia akan menyakitinya. "Itu tidak akan terjadi." Ulangnya lagi terdengar sangat meyakinkan, pemuda itu mengecup ringan puncak kepala Naruto sebelum akhirnya kembali berbalik dan menutup pintu kamar di belakangnya pelan.
Naruto tetap berdiri di sana untuk beberapa saat setelah Sasuke pergi. Dalam hati dia menanyakan pada dirinya sendiri, benarkah dia bisa merelakan Sasuke untuk wanita lain? Apakah Naruto akan bahagia jika hal itu terjadi? Gadis itu tersenyum perih dengan mata yang mulai memanas karena air mata. Mulutnya mungkin bisa tersenyum jika hal itu terjadi, namun hatinya akan lebih jujur, hatinya mungkin memilih untuk menutup diri selamanya. Selamanya.
.
.
.
Malam semakin larut, namun Kurama masih belum bisa tidur. Semua yang terjadi dalam satu bulan terakhir ini membuatnya sedih, marah dan cemas, otaknya terus berpikir, matanya enggan untuk istirahat.
Dia mengambil sebungkus rokok dari atas meja, mengambil sebatang rokok dari kotak itu, mengetukkannya beberapa kali ke atas meja lalu menyulutnya. Kurama mengisapnya beberapa kali, kepalanya menengadah, menatap langit yang gelap.
"Kamu merokok?" seruan itu lebih terdengar seperti sebuah teguran.
Kurama tersenyum dengan batang rokok menyelip diantara mulutnya. Dia mengamit rokoknya dan melirik ke arah Asuma yang kini bergabung, duduk persis di sampingnya. "Lihat siapa yang bicara," cibir Kurama mengetuk abu rokok ke dalam asbak.
"Aneh melihatmu dengan rokok," ujar Asuma, ikut menyulut rokok di tangannya. "Aku sendiri memang sudah tidak mungkin untuk berhenti merokok," tambahnya dengan helaan napas pendek. "Apa yang kamu pikirkan?" tanya Asuma lagi. "Kejadian siang tadi?"
"Banyak hal, paman." Sahut Kurama, ia mematikkan rokok di tangannya yang sudah cukup pendek. "Kematian kakek, menghilangnya paman Kakashi, usaha pembunuhan pada Naruto dan kejadian hari ini," Kurama mengambil napas dan mengeluarkannya cepat. "Semua itu membuatku gila." Tambahnya, dia kembali mengambil sebatang rokok baru, menyulutnya dan mengisapnya dalam-dalam.
"Semua sudah ditakdirkan, Ku."
"Aku tahu," sahut Kurama cepat. "Hanya saja, semua ini membuatku berpikir jika selama ini kalian menyembunyikan sesuatu hal yang sangat penting dariku. Diluar pekerjaan Naruto dan paman Kakashi tentu saja." Kurama menundukkan kepalanya yang mendadak terasa berat. "Aku tidak pernah menyangka jika paman Kakashi dan Naruto anggota pasukan khusus," ujarnya miris dengan senyum kering. "Kalian menyembunyikannya dengan baik, kalian berhasil mengelabuiku, atau aku memang terlalu bodoh untuk menyadarinya?"
Asuma terdiam, membisu.
"Bagaimana dengan kedua orang tuaku?" lanjut Kurama lagi begitu tenang. "Apa kematian mereka murni kecelakaan, atau ada sesuatu lain yang juga kalian sembunyikan dariku? Tolong katakan, paman. Aku berhak tahu."
Asuma terdiam beberapa saat. Rokoknya yang tinggal sepotong masih menyelip di jari tangannya. Pria itu mematikkannya, merubah posisi duduknya agar lebih nyaman. "Kematian mereka murni kecelakaan. Setidaknya, itu yang aku tahu." Asuma menatap lurus wajah keponakannya. "Hanya saja-"
"Apa?" potong Kurama tidak sabar.
"Ayahmu bukan tentara biasa. Dia juga anggota pasukan khusus. Terbaik diantara yang terbaik."
Kurama tertawa keras, tawanya memecah keheningan malam. Tawa yang disusul oleh mengalirnya liquid dari kedua matanya. Pria itu menangisi kebodohannya. Menangisi semua rahasia yang sengaja disembunyikan darinya. Kenapa? Untuk apa semua itu disembunyikan darinya? Bukankah dia juga bagian dari keluarga? Lalu kenapa hanya dia yang tidak tahu mengenai profesi keluarganya?
"Mereka menyembunyikannya demi kenyamananmu dan demi keselamatanmu." Kata Asuma yang mampu menebak jalan pikiran Kurama. "Mereka ingin kamu fokus pada kehidupanmu. Mereka tidak ingin kamu khawatir. Mereka terlalu menyayangimu."
"Omong kosong!" bentak Kurama dengan emosi meluap-luap. "Kalian semua tidak memikirkan perasaanku. Aku juga berhak tahu. Setidaknya aku memiliki persiapan mental untuk menghadapi hal-hal seperti yang terjadi belakangan ini. Aku merasa sangat tidak berguna. Aku tidak bisa melindungi keluargaku sendiri. Kenapa kalian harus begitu egois?"
"Kami egois karena kami menyayangimu, kamu tahu itu." Sahut Asuma setenang angin yang berhembus lirih. "Tanyakan pada hati kecilmu, dia akan menjawabmu dengan jujur." Asuma menepuk bahu Kurama yang bergetar hebat hingga beberapa kali. "Cepat masuk, udara malam tidak baik untuk tubuh." Pria itu kembali menepuk bahu Kurama satu kali sebelum meninggalkan Kurama di taman belakang rumah bergaya Jepang itu seorang diri.
Kurama masih menundukkan kepala dalam setelah kepergian Asuma. Kedua tangannya menopang kepala beratnya. Air mata itu masih mengalir, isakannya sesekali terdengar pilu, dan jeritan keras itu pun terdengar, menyayat keheningan malam.
Jeritan yang mewakili amarah juga kekecewaannya melebur menjadi satu dengan kepekatan malam yang masih panjang.
.
.
.
Pagi datang dengan cepat, Itachi membuka pintu dapur, melangkah masuk. Aroma khas roti panggang dan kopi menguar kuat, menggelitik indera penciumannya. Perutnya yang kosong bernyanyi. Dia sangat lapar, kejadian kemarin membuatnya melewatkan makan siang dan makan malam.
"Ramai sekali." Ujar Itachi mendengar kegaduhan yang tidak biasa di kediamannya.
Naruto melihat ke belakang bahunya, Itachi berjalan anggun menuju kulkas, mengeluarkan sebotol susu dari dalamnya dan menuangkannya ke dalam gelas tinggi untuknya sendiri.
"Semua sibuk memasang sistem keamanan terbaru," sahut Naruto santai. Gadis itu menggigit kecil roti panggangnya dan mengunyahnya pelan.
"Kejadian kemarin sangat menakutkan," Itachi merinding ngeri. Otaknya memutar cepat kejadian kemarin. "Apa kamu sering mengalaminya?" tanyanya lagi penasaran. Tadi malam mereka tidak bicara banyak mengenai hal ini. Itachi mengambil dua lembar roti dan mengolesinya dengan selai coklat, lalu menangkupnya menjadi satu.
Naruto hanya tersenyum kecil, menjawab pertanyaan itu.
"Bagaimana caramu melaluinya?" tanya Itachi lagi, matanya berbinar kagum.
"Hal itu sudah menjadi bagian dari pekerjaan saya, Itachi sensei."
"Aku tahu, tapi... tetap saja aku tidak mampu membayangkan bagaimana kamu bertahan dan melawan penjahat-penjahat itu, setiap kali bertugas."
Naruto tertegun, sinar matanya meredup saat bicara. "Semua itu menegangkan, mendebarkan, juga menyedihkan." Ia kembali terdiam untuk sesaat. "Terkadang, kami harus kehilangan rekan setim dalam sebuah misi," Naruto tersenyum pahit. "Rasanya aneh, sepuluh menit sebelumnya orang itu bicara, bercanda dan kemudian dia pergi, mati. Dia kembali ke rumahnya dalam peti mati."
"Apa kamu pernah merasa takut?"
Naruto kembali tersenyum, kecil. "Tentu saja, bagaimana pun saya hanya manusia biasa. Rasa takut itu ada, namun bedanya, kami dilatih untuk melawan rasa takut itu." Ungkapnya jujur.
"Kamu pernah berpikir untuk berhenti?" selidik Itachi lagi. Wanita itu benar-benar seperti wartawan yang haus akan berita.
"Tidak," Naruto menggeleng pelan. "Dari awal, ini sudah jadi pilihan hidup. Dan saya tidak pernah berpikir untuk berhenti, setidaknya untuk saat ini."
Pembicaraan keduanya berhenti saat Obito masuk ke dalam dapur. Pria itu meminta Naruto untuk ikut mengawasi pemasangan alat keamanan terbaru bersamanya. Naruto meletakkan piring dan gelas kopinya ke dalam bak cuci piring, ia mengangguk samar pada Itachi sebelum mengikuti langkah Obito ke ruang pengawas.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Obito. Matanya tidak lepas dari layar komputer yang menampilkan beberapa sudut rumah keluarga Uchiha.
Naruto menggeser mouse hitam di tangannya, mengkliknya sekali, membuat layar itu menampilkan semua sisi rumah dalam satu tampilan. "Kurasa bagian belakang kolam renang juga harus dipasang kamera. Kita bisa memasangnya di plafond teras belakang, tempat itu cukup tersembunyi."
"Kalau begitu pasang," perintah Obito pada salah satu pria, anak buahnya.
Pria yang diperintahkan oleh Obito langsung berbalik pergi, mengerjakan apa yang diperintahkan padanya dengan cepat dan efisien.
Obito kembali berjalan berkililing, sekarang tujuannya taman belakang rumah bergaya Eropa klasik dengan Naruto berjalan disisinya. Setiap sudut taman dihiasi topiary-topiary berbagai bentuk dengan berbagai ukuran, khas taman Eropa. Rumput yang terpotong rapih menghampar luas. Sulur-sulur tanaman anggur tumbuh subur, melilit, meliuk mengikuti pola gazebo kayu yang berdiri kokoh di sudut taman. Sebuah air mancur berukuran raksasa dengan hiasan relief ukiran patung Neptunus (sang dewa laut) menaiki kereta perang yang ditarik empat ekor kuda laut, juga ikut menambah keindahan taman milik keluarga Uchiha.
Mereka terdiam cukup lama, seolah menikmati suasana, cerahnya cuaca dan birunya langit-siang ini.
"Sayang sekali, mulai minggu depan kamu akan kembali bertugas di markas utama." Obito memulai pembicaraan.
"Kenapa, Kapten? Tidak rela melepasku pergi?" goda Naruto santai.
Obito mengangkat bahu pelan dan menjawab sama santainya. "Aku memang tidak rela, tapi... aku juga tidak bisa melawan perintah atasan."
"Besok penggantiku dan Utakata akan datang. Mereka akan belajar untuk beradaptasi. Anda akan menyukai mereka." Sahut Naruto, terkekeh pelan.
"Aku tidak suka tawamu," ujar Obito menyipitkan mata mendengar Naruto yang masih terkekeh puas.
"Mereka sangat profesional, saya bisa menjamin itu. Hanya-"
"Hanya apa?" potong Obito.
"Hanya lebih bersemangat dan lebih gila daripada saya dan Utakata." Naruto kembali terkekeh.
"Wow, jadi mereka lebih gila?" tanya Obito memastikan. Pria itu melirik ke arah Naruto dan menekuk wajahnya dalam. Lebih gila, catatnya dalam hati.
Naruto mengangguk, "lulusan terbaik tahun ini. Beberapa kali melakukan misi berbahaya dan berhasil dengan gemilang. Anda akan menyukai mereka." Gadis itu terlihat bangga.
"Kalau begitu, mereka tidak buruk."
"Raikage-sama tidak akan mengirim pengganti yang buruk. Apalagi ini menyangkut keamanan keluarga Uchiha-sama."
"Ya, aku tahu. Hanya saja, setelah kejadian kemarin, aku memerlukan anggota tim yang sudah berpengalaman menghadapi hal yang terburuk. Kamu mengerti-kan?"
"Saya mengerti Kapten Obito." Sahut Naruto lirih. "Dan mereka sangat tepat untuk itu."
"Aku harap begitu," sahut Obito menaruh harapan tinggi.
Naruto melirik ke arah Obito. Pria itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, mengecek tiap sudut dengan teliti. "Ah, Kapten. Saya mau meminta ijin untuk pergi keluar siang ini."
Obito tidak langsung menjawab, perhatian pria itu tersita penuh pada kawat beraliran listrik yang terpasang pada bagian tembok atas pagar. "Ke markas?" tebak Obito tepat sasaran sementara Naruto mengangguk. "Tentu, kamu boleh pergi." Kata Obito kemudian.
"Arigatou," kata Naruto.
Mereka selesai berkeliling tepat menjelang jam makan siang. Keluarga Uchiha minus Fugaku sudah berkumpul untuk makan siang di ruang makan. "Fuga-nii tidak makan?" tanya Obito, matanya mengabsen tiap orang yang duduk di kursi makan. Naruto mengernyit, baru kali ini dia mendengar atasannya itu memanggil nama Fugaku tampa embel-embel formal.
"Masih di ruang kerja," jawab Mikoto. "Naruto, ayo duduk. Kita makan bersama." Tawar Mikoto ramah. "Kita bisa kelaparan jika menunggu Tuan Uchiha Fugaku keluar dari ruang kerjanya," canda Mikoto dengan tawa renyah. "Ayo duduk Naruto," tawar Mikoto lagi, sementara Obito sudah duduk nyaman di kursi kosong depan Mikoto.
"Terima kasih, Uchiha-san. Tapi, lebih baik saya makan dengan pengawal lain di dapur." Naruto menolak halus. Gadis itu membungkuk hormat, dan berjalan cepat menuju dapur tanpa menunggu persetujuan Mikoto.
.
.
.
Seperti biasa, markas besar sangat sibuk siang ini. Naruto menghela napas lega saat udara hangat dari pemanas ruangan menyentuh kulit tubuhnya saat ia membuka pintu kaca ganda markas angkatan darat. Cuaca diluar sangat tidak bersahabat, terlalu dingin untuk ukuran musim gugur.
"Mana Kapten dan Hangobi?" Naruto menatap ketiga rekan setimnya, Utakata, Fuu dan Goku, berjalan cepat menuju meja kerjanya. "Dan Sanbi, kenapa kamu bisa ada di sini? Bagaimana lukamu?"
"Aku baik-baik saja," jawab Sanbi, mengangkat bahu cuek. "Serius, aku baik-baik saja." Tambah Sanbi cepat setelah mendapat tatapan tajam dari Naruto.
"Dia bandel," gerutu Fuu kesal melihat Sanbi yang meringis merasakan luka pada punggungnya yang kembali berdenyut sakit. "Dokter belum mengijinkannya untuk keluar rumah sakit. Apalagi untuk bekerja." Sungutnya cepat.
"Jangan memanasi Kitsune, Fuu." Tegur Sanbi dengan tatapan menuduh membuat Fuu berdecak, memalingkan muka.
Naruto hanya bisa meggelengkan kepala, maklum. "Jadi, mana kapten dan Hangobi?"
"Kapten dan Hangobi dipanggil untuk menghadap komandan." Utakata angkat bicara, menjawab pertanyaan Naruto. "Kurasa sebentar lagi mereka akan kembali."
"Begitu," Naruto mengangguk pelan. Ia mulai menyibukkan diri membaca arsip laporan yang menumpuk di meja tengah ruangan itu. Warna merah pada salah satu map menarik perhatiannya. Naruto meletakkan map di tangannya dan mengambil map bergaris merah itu. "Tayuya?" Naruto berbisik lirih, membaca cover laporan tersebut.
Gadis itu menyandarkan punggungnya dengan nyaman pada sandaran punggung kursi. Jari-jari lentiknya membuka halaman pertama laporan itu. Ia terlalu serius membaca hingga tidak menyadari jika Bee dan Hangobi telah kembali, bergabung bersama mereka.
"Apa ada yang menarik?" tanya Bee membuat Naruto menoleh ke arahnya.
"Aku masih berpikir jika kematian Tayuya bukan murni kecelakaan atau bunuh diri. Aku yakin dia dibunuh." Naruto menyahut murung.
"Kita sudah memerika semua tempat dan tidak ada petunjuk mengenai hal itu. Semua keterangan yang kita kumpulkan juga samar, Naruto."
"Benar, karena itu aku sangat kesal." Dengus Naruto. "Aku dan paman Kakashi pasti melewatkan sesuatu yang bisa memberi kita petunjuk penting."
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Bee dengan nada serius.
"Jika diijinkan, aku akan kembali menyelidiki kematian Tayuya dari awal. Aku juga yakin jika kematiannya berhubungan dengan mafia yang meneror pihak militer akhir-akhir ini."
"Kamu akan mulai menyelidikinya dari mana?"
"Sekolah, aku akan mulai dari sana."
Bee mengangguk. "Kebetulan sekali, kepala sekolah meminta bantuan pada Komandan untuk menempatkan personil militer di sana hingga keadaan cukup aman. Kamu mau ikut serta?" tawar Bee.
"Tentu," sahut Naruto cepat.
"Besok, Hangobi dan Niibi akan ikut mengawasi sistem keamanan di sana. Mulai minggu depan sekolah akan kembali beraktifitas seperti biasa. Kamu bisa mulai hari itu."
"Itu bagus. Lagi pula, minggu depan aku akan kembali kerja di markas besar."
"Ya, komandan sudah mengatakannya padaku kemarin." Sahut Bee. "Kalian akan bergantian berjaga di sekolah itu di siang hari."
"Berapa lama kami di sana?" tanya Fuu.
"Paling lama lima hari hingga pasukan yang ditunjuk komadan secara langsung, menggantikan kalian."
"Kenapa harus kami yang menjaga sekolah?" Fuu berujar, seolah tidak rela. "Kita masih ada pekerjaan yang lebih penting." Dengusnya.
"Pasukan yang lain masih sibuk menjaga keamanan para petinggi negara. Kalian tahu sendiri, keadaan darurat memaksa pasukan elit militer untuk terjun langsung menjaga para petinggi negara." Jelas Bee panjang lebar. "Lagipula, ini hanya sementara. Dan Naruto bisa bebas mengumpulkan petunjuk mengenai kematian Tayuya."
"Masalahnya, aku dan Fuu masih harus memata-matai dokter itu. Jika kami harus berjaga siang di sekolah, kami akan kehilangan jejak untuk mengikutinya." Ujar Sanbi beralasan.
"Kalian tidak perlu mengikutinya lagi." Sahut Bee mendengus kesal.
"Kenapa?" Fuu mengernyit bingung. "Kita tidak akan tahu dimana tempat persembunyian Kabuto jika tidak mengikuti dokter itu."
"Kalian tidak bisa mengikutinya lagi, karena mayatnya ditemukan membusuk di dermaga pagi ini," jawab Bee berusaha untuk kembali bersikap tenang. "Dua peluru menembus kepalanya."
"Brengsek!" seru Fuu dan Sanbi kompak.
"Satu lagi," timpal Bee melajutkan. "Kabuto sudah kembali, dia masih hidup."
Naruto bersiul. "Sepertinya dia memiliki banyak nyawa."
"Yamato akan segera memberi laporan jika ada kabar terbaru. Saat ini dia masih belum mendapat lokasi pasti persembunyian Kabuto. Menurutnya, Kabuto kembali menghilang setelah menampakkan diri tadi malam."
"Dia seperti hantu," cibir Nibi akhirnya ikut buka suara. Raut wajahnya jelas terlihat kesal. Bagaimana mungkin dia tidak kesal, buruan yang selama ini dia intai kini kembali menghilang.
"Bagaimana dengan penjahat yang kita tangkap kemarin? Apa dia sudah mau bicara?" tanya Naruto.
"Tidak, dia masih menutup rapat mulutnya." Jawab Bee kembali jengkel saat teringat tahanannya. Kelompok Hebi terkenal dengan keloyalan dan kekejamannya. Seorang ketua tidak segan membunuh anggota mereka yang dianggap tidak setia atau membahayakan organisasi hitam mereka.
Naruto menghela napas panjang mendengarnya. Ia juga ikut merasa kesal.
.
.
.
Ketujuhnya kini duduk melingkar di meja tengah. Masing-masing memasang raut wajah serius. "Ada dua hal yang harus aku sampaikan pada kalian, tentang perintah terbaru dari komandan." Bee memulai dengan nada berat. "Yang pertama sudah aku sampaikan. Kalian akan bertugas menjaga keamanan KIHS untuk sementara waktu. Sedangkan untuk hal kedua, berkaitan dengan laporan terbaru dari Kakashi." Bee terdiam sesaat, suasana ruangan itu semakin terasa berat. "Kakashi baik-baik saja, Naruto." Ujar Bee mengerti akan maksud tatapan penuh arti gadis itu padanya. "Penyamarannya masih berjalan mulus. Darinya kita tahu jika 'Bos Besar' memiliki rencana baru. Dia sengaja mengacaukan keamanan negara untuk membuat kita lengah."
"Maksud anda, teror yang terjadi belakangan ini memiliki maksud lain?" tebak Naruto dengan kernyitan dalam.
"Benar," tukas Bee. "Mereka menyibukkan kita, mencari celah untuk transaksi baru mereka. Bos besar kelompok Hebi mengadakan kontak dengan mafia Rusia kemarin malam." Tamnahnya. "Aku yakin kalian pasti bisa menebak tujuan pertemuan itu."
"Senjata," sahut Utakata. Rahangnya mengeras saat mengatakannya.
"Benar," ujar Bee. "Mereka akan kembali menyelundupkan senjata, menukarnya dengan obat terlarang. Kakashi belum tahu kapan tepatnya senjata itu akan dikirim. Karena itu kita harus selalu siap untuk hal yang terburuk. Komandan juga sudah menghubungi komandan tertinggi militer Rusia. Mereka juga akan ikut membantu kita dalam misi ini."
Keenam anggotanya hanya mengangguk, mengerti. "Transaksi kali ini sangat penting untuk kelompok Hebi. Mereka berniat untuk mempersenjatai diri dan tujuan akhirnya menguasai pasar narkoba Asia," terang Bee. "Kita harus berhasil dalam misi ini. Mengerti?"
Keenamnya kembali mengangguk paham. "Bagus, aku percaya pada kalian. Dan untukmu Fuu. Aku memiliki tugas lain."
"Tugas apa, Kapten?" Fuu agak mencondongkan tubuhnya, jelas tertarik.
"Seret Sanbi ke rumah sakit sekarang juga!" bentaknya jengkel. Sanbi mendengus, keras kepala. Sedangkan Fuu, ia menyeringai puas dan menyeret Sanbi keluar ruangan bersamanya.
Tanpa banyak bicara lagi, Bee mengakhiri rapat singkat mereka. Naruto segera pamit untuk pulang dengan membawa map laporan mengenai Tayuya di tangannya. Naruto akan memulai penyelidikan atas kematian Tayuya dari nol.
.
.
.
Dua hari kemudian, Sasuke duduk nyaman di kursi taman, belakang rumahnya. Dia duduk ditemani secangkir teh khas Inggris dan sepiring kue jahe, menikmati udara sore yang kini terasa sedikit hangat. Sebenarnya itu hanya alasannya saja, tujuan utamanya adalah mengawasi Naruto dan dua pengawal ayahnya yang baru datang kemarin untuk menggantikan posisi Naruto minggu depan nanti.
Naruto sangat ramah pada kedua pengawal baru itu. Yang membuatnya tidak suka adalah binar kagum yang terpancar dari kedua pria itu. Bukan hanya binar kagum biasa, kedua pria itu menunjukkan rasa tertarik pada Naruto-nya.
Sasuke menyipitkan mata, berdecak kesal saat salah satu pria itu berdiri terlalu dekat dengan gadis itu. Dan kenapa Naruto harus tertawa begitu manis pada mereka? "Cih," ujarnya gemertak kesal. Gadis itu sangat jarang melempar senyum pada Sasuke. Kenapa pada mereka dia berikan begitu mudah? Sasuke terus protes di dalam hati. "Kenapa juga harus dia yang mengajak mereka berkeliling?" kini suaranya terdengar sangat jelas.
"Karena mereka yang akan menggantikan tugas Naruto nanti," sahut Obito tiba-tiba. Sasuke mendelik, menatap tajam pamannya yang terkekeh dan mencomot kue jahe miliknya dari atas piring. "Kenapa, Sasuke? Cemburu, huh?" Obito jelas senang menggoda keponakannya yang sangat jarang mengeluarkan ekspresi di wajahnya.
"Bukan urusanmu, Paman!" balas Sasuke kesal. "Kenapa bukan paman saja yang menjelaskan pekerjaan Naruto pada mereka?"
Obito mengangkat bahu cuek, mulutnya sibuk mengunyah kue jahenya.
"Dan lagi, apa mereka cukup kompeten untuk menggantikan Naruto?"
"Mereka lulusan terbaik dari akademi militer tahun ini. Raikage-sama tidak akan mungkin mengirim personil yang tidak kompeten, apalagi hal itu menyangkut keselamatan ayahmu." Sahut Obito meniru ucapan Naruto dua hari yang lalu.
"Kuharap paman benar," Sasuke mendengus. Pemuda itu memilih untuk masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di dalam kamar, meninggalkan Obito yang tergelak keras.
"Naruto?" panggil Obito keras setelah berhenti tertawa.
"Ada apa kapten?" Naruto mendekatinya setengah berlari. Rambut sebahunya yang tergerai bergoyang tertiup angin.
"Biar aku yang membawa mereka berkeliling," Obito menepuk kedua lututnya sebelum berdiri. "Bukankah kamu mau pergi?" Naruto mengangguk. "Bisa kamu bawa Sasuke serta?" tanya Obito. "Sepertinya dia bosan terus berada di rumah."
"Oh, tentu saja." Sahut Naruto. Lagipula, dia hanya akan mengunjungi Kimimaro siang ini. "Anda tahu dia ada dimana sekarang?"
"Mungkin di kamarnya," jawab Obito tidak yakin.
"Kalau begitu, saya akan mengajaknya untuk ikut. Saya permisi, Kapten."
"Hm, pergilah."
.
.
.
Naruto mengetuk pintu kamar Sasuke pelan. Gadis itu kembali mengetuk, dan kemudian memanggil nama pemilik kamar itu. "Sasuke?" panggilnya agak keras. "Kamu di dalam?"
Pintu kamar itu pun dibuka tidak lama kemudian. "Apa?" bentak Sasuke. Pemuda itu jelas dalam mood yang tidak baik.
Naruto menghela napas, menahan diri agar tidak balas membentak pada Sasuke. "Aku hanya ingin mengajakmu keluar. Kamu mau ikut?"
Sasuke mengernyit sebelum menjawab cepat. "Ok."
"Bagus," kata Naruto tersenyum. "Pakai jaketmu, aku tunggu di bawah." Naruto berbalik, menuruni tangga dengan hati-hati dan berjalan keluar menuju garasi untuk menghidupkan dan memanaskan mesin mobilnya.
Naruto sudah memarkir mobilnya di pekarangan rumah saat Sasuke turun. Pemuda itu membuka pintu, duduk di kursi penumpang di sebelah Naruto tanpa bicara sepatah kata pun.
"Pakai sabuk pengaman-mu," kata Naruto. Gadis itu kembali menatap ke depan, memindahkan gigi, menekan pedal gas pelan, membawa mobilnya keluar dari kediaman Uchiha.
"Aku sudah meminta ijin ayahmu untuk membawamu keluar," kata Naruto. Sasuke masih diam, enggan untuk bicara. Salahkan saja pada rasa cemburu butanya. "Ada apa?" tanya Naruto.
Hening.
"Tidak mau bicara, huh." Naruto mengelengkan kepala pelan, ia membawa mobilnya lebih cepat.
Hening.
"Katakan padaku kenapa kamu marah!" bentak Naruto pada akhirnya. Dia yakin jika kemarahan Sasuke ada hubungan dengannya. "Sasuke?"
"Aku tidak suka kamu tertawa begitu cantik pada dua pengawal baru itu!" Sasuke balas membentak.
"Apa?" Naruto membelalak tidak percaya. Rasanya ingin sekali dia membenturkan kepalanya sendiri pada kepala Sasuke. Ya, Tuhan... Sasuke selalu membuatnya terkejut. Pemuda itu bisa bersikap begitu kekanakkan jika cemburu. Dan Naruto pun tertawa lepas, tertawa hingga luka di perutnya kembali berdenyut sakit. "Awwwww..." ia meringis pelan.
"Naruto?" Sasuke kini terlihat cemas. "Ada apa?"
"Tidak apa," sahut Naruto senormal mungkin. Gadis itu menghentikan kendaraannya di bahu jalan. Ia menarik napas pelan, tangan kanannya diletakkan tepat di atas sisi perutnya yang terluka.
"Perutmu terluka?" tebak Sasuke. Naruto mengerjapkan mata. Dia benar-benar sial, harusnya dia bisa menahan tawanya tadi. Dan kenapa rasa sakitnya tidak kunjung hilang? Sasuke melepas sabuk pengamannya, keluar dari mobil dan berjalan memutar ke sisi pengemudi. "Keluar, biar aku yang menyetir."
Naruto yang sudah pucat hanya bisa mengangguk lemah. Sasuke membantunya untuk berjalan memutar dan duduk di kursi penumpang. Tanpa banyak bicara, Sasuke memutar mobil yang dikendarainya menuju rumah sakit terdekat.
Naruto hanya tersenyum kering saat melihat Sasuke di koridor rumah sakit. Lukanya kembali terbuka karena kebodohannya sendiri. Dokter yang menanganinya hanya menggelengkan kepala pelan, menjahit luka itu dengan cekatan dan kembali menutup lukanya dengan kain kasa.
Ok, sekarang Sasuke mengetahui rahasianya. Wajah pemuda itu kembali gelap, jelas sangat marah. Sasuke masih tidak bicara saat keduanya sudah kembali berada di dalam mobil.
Suara Naruto sedikit gugup saat mengatakan tempat tujuan mereka pada Sasuke. Pemuda itu masih tidak menyahut, pandangannya terarah lurus pada jalan di depannya. Sasuke mengendarai mobil Jeep milik Naruto dengan cepat dan satu jam kemudian, mereka pun tiba di gedung pusat rehabilitasi narkoba Konoha.
Sasuke mengekori Naruto dalam diam. Pemuda itu hanya mengangguk sopan pada Kimimaro sebelum berbalik pergi meninggalkan Naruto dan Kimimaro, berdua di taman belakang gedung itu.
"Sepertinya, mood Sasuke sedang tidak baik." Kimimaro menatap Naruto geli. "Kalian bertengkar lagi?"
Naruto tersenyum tipis, mengangguk pelan. Gadis itu menyelipkan rambutnya yang tertiup angin ke belakang telinga. "Dia sangat marah karena aku menyembunyikan sesuatu darinya." Jelas Naruto. Kepalanya menunduk, jari-jarinya saling bertaut di atas pangkuannya.
"Dia berhak marah jika alasannya seperti itu," Kimimaro kembali tersenyum, pengertian.
"Aku melakukannya agar dia tidak cemas," sahut Naruto membela diri.
"Tetap saja kamu salah, Naruto." Tegurnya. "Kamu sudah meminta maaf?" Naruto menggeleng. "Kalau begitu, minta maaflah padanya. Sasuke pasti memaafkanmu. Dia marah karena menyayangimu. Kamu tahu, kan?"
Naruto kini mengangguk. Saat ini dia seperti anak kecil yang dimarahi karena bersikap nakal. "Ngomong-ngomong, sekarang kamu terlihat lebih baik. Kulitmu sudah tidak sepucat dulu. Kamu juga lebih gemuk sekarang."
"Semua berkat bantuanmu," Kimimaro melayangkan senyum penuh terima kasih. "Jika malam itu kamu tidak menolongku dan kita tidak pernah bertemu, mungkin aku sudah mati... seperti Tayuya." Kimimaro menghela napas, tatapannya berubah sedih.
"Semuanya sudah takdir Kimimaro." Ujar Naruto. "Dan semua ini berhasil berkat usaha kerasmu juga." Naruto menepuk bahu Kimimaro bangga.
"Andai saja Tayuya juga bertemu denganmu," Kimimaro mendongakkan kepala, menatap langit biru tanpa awan.
"Tayuya..." Ucap Naruto lirih. "Boleh aku bertanya sesuatu tentang Tayuya?" tanya Naruto hati-hati.
"Tentu saja," sahut Kimimaro bersemangat. "Apa yang ingin kamu tahu tentang Tayuya?"
"Bagaimana sikap Tayuya sebelum mengenal narkoba?"
Kimimaro mengambil napas, matanya menerawang, mengingat masa lalu. "Hidup Tayuya tidak seindah senyumannya." Kimimaro memulai. "Ayahnya sering memukul ibu dan Tayuya saat mabuk. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa bertahan selama itu. Tayuya gadis yang sangat manis, dia sangat suka membaca buku dongeng." Kimimaro tersenyum lebar, mengenangnya. "Ya, dia sangat suka dongeng." Lanjut Kimimaro menjawab kernyitan dalam Naruto.
"Aku seringkali menertawakannya saat itu. Bagaimana bisa seorang gadis remaja begitu mencintai dongeng?" Ia kembali melepas desahan panjang. "Dia sering merajut di waktu luangnya. Menghabiskan waktu di perpustakaan menjadi hobinya, hingga akhirnya dia mengenal obat terkutuk itu."
"Sejak saat itu dia berubah?"
"Ya," Kimimaro mengangguk sedih. "Tayuya yang lugu hilang, aku bahkan sulit mengenalinya lagi. Dia jadi... sangat berbeda."
"Obat terkutuk itu memang sanggup mengubah sosok manusia berhati malaikat menjadi setan." Sahut Naruto menanggapi. Gadis itu menepuk punggung Kimimaro yang tertunduk lesu, mencoba menenangkan. "Kamu hebat Kimimaro, aku yakin kamu bisa lepas dari obat terkutuk itu."
"Terima kasih untuk kepercayaanmu, Naruto. Aku akan terus berjuang untuk sembuh. Aku akan membuat orang tuaku dan diriku sendiri bangga."
"Aku yakin kamu bisa," sahut Naruto yakin. Naruto melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ah, sudah hampir sore, lebih baik aku pulang."
Pemuda itu mengangguk. "Sampaikan salamku pada Sasuke. Dan ingat, kamu harus minta maaf padanya."
"Iya, aku mengerti." Naruto memutar kedua bola matanya. Dasar, pria dan ikatan persaudaraannya. "Jaga dirimu, ok!"
"Hm... sampai jumpa Naruto. Jangan kapok untuk menjengukku lagi."
"Pasti," sahut Naruto mantap, melambai penuh semangat ke arah Kimimaro sebelum melangkah pergi menuju tempat mobilnya diparkir.
Naruto menggosok-gosokkan tangannya saat matanya bertemu dengan pandangan Sasuke yang dingin. Sasuke menunggunya di sana, berdiri bersandar pada body Jeep milik Naruto.
Masih tanpa bersuara, Sasuke naik ke dalam mobil, menunggu Naruto untuk naik dan dudk di kursi penumpang. "Kimimaro menitip salam untukmu," kata Naruto dengan nada biasa yang dipaksakan. Sasuke masih diam saat membawa mobilnya keluar dari tempat parkir menuju jalan raya. "Demi Tuhan, Sasuke. Bisa kamu berhenti bersikap kekanakkan? Aku minta maaf, ok!" ucap Naruto pada akhirnya.
Sasuke membanting setir kemudinya, memberhentikan Jeep di pinggir jalan. "Aku yang seharusnya marah disini, Nona Namikaze." Balas Sasuke dengan gigi gemertuk menahan marah.
Naruto meghela napas, sekuat tenaga untuk menekan emosinya. "Maaf karena aku merahasiakan hal ini darimu. Aku takut membuatmu cemas, aku takut membuat kalian cemas."
"Setidaknya aku bisa tahu kondisimu jika kamu bersikap jujur," ujar Sasuke terlihat putus asa. "Bisakah kamu bersikap lebih jujur? Tolong bagi sedikit saja beban yang kamu pikul pada kami. Mungkin aku tidak dapat banyak membantu, tapi setidaknya, aku bisa melakukan sesuatu untuk menghiburmu. Apa kami tidak berhak tahu? Apa salah jika kami mengkhawatirkanmu? Apa berdosa jika aku memintamu untuk bersikap terbuka?"
Dan itu adalah kalimat terpanjang yang Sasuke ucapkan pada Naruto. Gadis itu mengerjapkan mata, terharu juga sedih melihat ketulusan pada mata Sasuke. Tanpa terasa air matanya mengalir melihat ketulusan itu. Dadanya gemuruh, jantungnya berdetak keras, sesak. Naruto merasa sesak.
Naruto menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Tanpa pikir panjang, ia menyatukan kedua bibir mereka lama dan mesra. "Maaf," katanya pelan. Gadis itu kembali memagut bibir Sasuke, putus asa. Pada akhirnya, kebohongannya kembali menyakiti orang-orang yang dicintainya. Ia sangat menyesal, sungguh sangat menyesal.
Sasuke perlu beberapa waktu untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Otak jeniusnya mendadak tidak berguna saat ini. Yang dia tahu, Naruto menangis, mengatakan maaf dan menciumnya mesra.
Bagaimana bisa dia tidak memaafkan Naruto jika sikap gadis itu seperti saat ini. Begitu rapuh. Sasuke menangkup wajah Naruto, dan dengan erangan yang keluar dari tenggorokannya, Sasuke melumat bibir Naruto dalam satu ciuman panas.
.
.
.
"Jadi, apa yang membuatmu sangat gembira?" tanya Itachi heran melihat Sasuke yang bersiul, menaiki tangga menuju lantai dua dengan langkah cepat.
Sasuke berhenti di tengah tangga, menunduk melihat Itachi yang berdiri berkacak pinggang di anak tangga paling bawah. "Bukan urusanmu," kata Sasuke dengan seringai menyebalkan.
Itachi menyipitkan mata dan berdesis tajam. "Pasti ada hubungannya dengan Naruto. Iya kan?" tebaknya.
Sasuke mengangkat bahu cuek dan kembali melompati anak tangga menuju kamarnya. Meninggalkan Itachi yang masih berdiri penasaran. "Dia sangat menyebalkan jika seperti itu," Itachi mendesah kesal dan memutuskan untuk tidak melanjutkan rasa penasarannya.
.
.
.
Naruto masih membaca laporan mengenai kematian Tayuya malam ini. Keadaan keluarga yang berantakan sepertinya menjadi alasan bagi Tayuya untuk melarikan diri pada obat-obatan terlarang.
"Sayang sekali," kata Naruto lirih. Keadaan keluarga memang sangat berperan penting untuk pembentukan psikologi anak. "Kamu benar-benar gadis tidak beruntung, Tayuya. Seharusnya kamu memiliki keluarga yang mencintaimu. Seharusnya kamu bahagia dan meraih apa yang kamu cita-citakan."
Naruto mengerang panjang di atas tempat tidurnya. Hubungannya dengan Sasuke juga sudah membaik. Gadis itu tersenyum mengingat ciuman mereka di dalam mobil tempo hari. Wajah Naruto memerah sempurna, ia malu jika mengingatnya. Keputus-asaannya membuat gadis itu mengambil inisiatif yang terlalu berani. Tapi, jika boleh jujur, ia tidak menyesalinya. Dia senang sudah mengambil langkah inisiatif itu untuk memperbaiki hubungannya dengan Sasuke.
.
.
.
Sementara itu, di tempat lain, Yamato mengikuti beberapa pria berpakaian serba hitam hingga dermaga. Yamato memarkir mobilnya agak jauh, dan berlari, untuk kemudian berhenti, mengintai pergerakan para penjahat itu.
Yamato kira jika mobil yang diikutinya akan membawanya pada tempat persembunyian Kabuto. Ternyata dugaannya salah. Penjahat yang berjumlah empat orang itu menurunkan sesuatu dari dalam bagasi mobil. Yamato menyipitkan mata, napasnya sesaat berhenti saat tahu apa yang dikeluarkan oleh para penjahat itu dari dalam mobil.
Ia mulai menghitung, enam. Jumlah mayat yang dikeluarkan dari dalam bagasi berjumlah enam orang.
Yamato menghembuskan napas, perlahan berbalik untuk meninggalkan tempat persembunyiannya. Dia tahu siapa mayat-mayat itu. Keenam mayat itu adalah penjahat yang berpesta tiga hari yang lalu.
Pantas saja Yamato tidak pernah melihat keenamnya lagi beberapa hari ini. Dia kira, tembakan yang terdengar malam itu hanya sebagai gertakan Kabuto saja pada anak buahnya. Yamato tidak pernah mengira jika Kabuto benar-benar membunuh anak buahnya sendiri dengan begitu dingin.
Yamato kembali memutar otak. Dia harus bisa mendapat kepercayaan Kabuto. Tapi, mendapat kepercayaan pembunuh berdarah dingin bukanlah sesuatu yang mudah. "Apa yang harus aku lakukan?" tanya Yamato berbisik lirih.
.
.
.
TBC
Keterangan :
1. Topiary : tanaman berkayu dengan bentuk geometris atau pola.
2. Gazebo : paviliun taman dengan pemandangan yang baik.
Sampai jumpa dichap selanjutnya! ^^
#WeDoCareAboutSFN
