Hai... Terima kasih sudah bersedia mampir. Seperti saya katakan sebelumnya, saya tidak punya jadwal publish tetap. Begitulah. (:
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s), etc
Genre : Romance, Crime, Friendship, Hurt/Comfort
Selamat membaca!
Under Cover
Chapter 13 : Mimpi Buruk?
By : Fuyutsuki Hikari
Kakashi melihat orang-orang asing itu berjajar rapih di bawah sinar lampu yang temaram dalam ruangan sempit dan pengap, tempatnya berada saat ini. Tangan mereka kemudian terulur, menggapai-gapai di udara. Tubuh Kakashi membeku melihatnya, mulutnya tertutup rapat, kerongkongannya kering saat suara mengerikan itu tertangkap telinganya. Jeritan, tangisan, dan suara kesakitan bercampur menjadi satu, mengganggu pendengaran.
Pria itu ingin melarikan diri dari tempat ini, namun kakinya seolah dipaku di atas lantai, sama sekali tidak bisa bergerak. Pupil mata Kakashi membesar saat dilihatnya lantai keramik putih di bawahnya kini berwarna merah, begitu kental, mengotori telapak kakinya yang tak terbalut sepatu. Kakashi bahkan bisa mencium bau amis yang kuat di dalam ruangan itu. Menjijikan, benar-benar menjijikan!
Aku harus pergi, pikir Kakashi. Dia harus melarikan diri saat orang-orang di depannya berjalan pelan, dekat, dekat dan semakin dekat ke tempatnya berdiri saat ini.
Jangan mendekat! Jangan mendekat! Teriak Kakashi tertahan di tenggorokan. Suaranya menghilang entah kemana. Pria itu berdeham, mencoba meraih kembali suaranya, namun usahanya sia-sia. Suaranya hilang.
Tubuh pria itu merinding ngeri, jantungnya berdetak semakin cepat, wajah orang-orang yang berjalan ke arahnya kini terlihat jelas, beberapa diantaranya bahkan setengah hancur dengan darah yang terus mengalir dari otak mereka yang meleleh, merembes keluar dari tempurung kepala. Mereka, adalah para pengkhianat yang dibunuhnya atas perintah Zetsu. Tidak! Pergi kalian! raung Kakashi dalam hatinya, dia semakin putus asa. Dia merasa ketakutan?
Kakashi tersentak dan terduduk di atas tempat tidurnya. Keringat dingin mengalir deras, napasnya tersengal, matanya menatap liar ke sekelilingnya. Ya, Tuhan. Mimpi, mimpi itu lagi? Mimpi sama yang terus menghantuinya bulan-bulan terakhir ini.
Pria itu mengatur napas untuk menormalkan pernapasannya. "Aku memerlukan udara segar," bisik Kakashi setelah sedikit tenang. Dia menarik napas oanjang dan menghelanya perlahan, lalu bergerak cepat dan beranjak keluar dari dalam kamarnya menuju teras belakang rumah.
Kakashi merenung lama, tidak tahu sudah berapa orang yang dibunuhnya sejak dia menyusup ke dalam organisasi hitam ini. Dulu dia melakukannya karena terpaksa, sedangkan sekarang, apa yang dilakukannya merupakan perintah mutlak yang harus dipatuhi demi mendapat kepercayaan sang ketua.
Suara tembakan, genangan darah dan lolongan kesakitan orang-orang itu terus menghantui mimpi-mimpinya, membuatnya terjaga hingga pagi tiba. Kakashi tida bisa tidur nyenyak di malam hari karena mimpi-mimpi itu.
Aku bisa gila, batinnya protes. Tapi apa yang bisa dilakukannya sekarang? Semua itu dilakukannya demi tugas negara. Biarlah dirinya hancur, biarlah lolongan-lolongan itu terus menghantuinya setiap malam, yang diinginkannya hanya satu, organisasi hitam ini hancur hingga ke akar-akarnya.
"Tidak bisa tidur lagi?" tanya seorang pria membuyarkan lamunannya.
Kakashi menoleh, menatap seorang pria tinggi yang memiliki sebuah bekas luka memanjang di pipi kanan, pria itu berjalan pelan ke arahnya.
"Hm." Gumamnya tidak jelas. Kakashi kembali menatap langit malam di atasnya yang semakin gelap. Sebatang rokok terselip di jemarinya.
Pria berusia lima puluh tahun dengan bekas luka dipipi kanan itu berdiri tepat di samping Kakashi, tangannya merogoh ke dalam saku kemejanya, mengeluarkan bungkus rokok, mengambil satu batang dari dalamnya dan menyalakannya dengan pematik api. "Ck, dingin sekali." Angin awal musim dingin memang berhembus cukup kencang malam ini, menambah dinginnya malam yang nyaris membekukan tulang. Pria itu mengeluh panjang dan sesaat terdiam saat mulutnya menyesap nikmat rokok di tangannya.
Pria paruh baya itu melirik sekilas ke arah Kakashi yang masih menatap kosong langit hitam, diam bergeming. "Kau tahu tidak?" pria itu kembali bicara. "Aku sangat iri padamu," akunya terus terang.
Hening.
Kakashi menoleh, menatap pria itu dengan sebelah alis terangkat.
Pria itu terkekeh pelan melihat ekspresi Kakashi. "Jangan heran!" ujarnya, kini dengan nada serius. "Asal kau tahu, perlu waktu sangat lama untukku agar diakui oleh Bos Zetsu. Sedangkan kau, kau hanya memerlukan waktu enam bulan untuk mendapat kepercayaannya." Pria itu menerawang jauh saat mengingatnya. Tangannya kembali terangkat ke mulut, disesapnya rokok ditangannya dengan nikmat sementara tangan kirinya yang bebas, memegang tengkuknya yang merinding karena udara yang semakin dingin.
"Apa aku harus bangga karenanya?" balas Kakashi terdengar dingin.
Pria di sampingnya menghela napas pendek dan kembali menjawab pendek. "Entahlah!"
Keheningan kembali menyelimuti teras belakang rumah milik Zetsu. Keduanya terdiam cukup lama, sibuk dalam pikirannya masing-masing.
"Aku cukup lama menjadi anak buah Bos," pria yang bernama Ken itu kembali bicara dengan nada tenang. "Aku hapal betul sifatnya, aku bahkan sangat heran saat dia menjadikanmu sebagai tangan kanannya dalam waktu singkat. Aneh, pikirku waktu itu."
Kakashi terdiam, mendengarkan setiap kalimat dengan baik.
"Tapi setelah melihat kemampuanmu, akhirnya aku tahu alasan kenapa Bos menyukaimu." Ken terdiam, mengetukkan rokoknya pelan, membuang abu rokok yang sudah cukup panjang. "Kau pembunuh berdarah dingin!"
"Aku hanya menjalankan perintah Bos," sahut Kakashi cepat dengan nada biasa. "Aku tidak akan membunuh tanpa perintahnya."
Ken tertawa kering, dan menepuk bahu Kakashi pelan. "Kau membunuh mereka tanpa berkedip, seolah terbiasa untuk membunuh. Apa masa lalumu yang membuatmu seperti itu?" selidik Ken penuh rasa ingin tahu.
Kakashi menarik napas dalam-dalam, menyisir rambutnya dengan jari. "Anggap saja begitu."
Ken terdiam mendengarnya, Kenngintahuannya menghilang mendengar nada putus asa dalam suara Kakashi. "Kakashi?" panggil Ken lagi dengan suara berat. Tatapannya mendadak kosong, wajahnya penuh penyesalan.
"Hmmm." Gumam Kakashi lagi tidak jelas.
"Apa Tuhan akan memaafkan dosa-dosaku?" tanya Ken mengejutkan Kakashi. Dia sama sekali tidak menyangka jika Ken akan bertanya mengenai hal ini. "Aku tidak tahu berapa banyak musuh yang kubunuh, tidak tahu berapa banyak remaja yang hancur karena obat terlarang yang kuedarkan. Dosaku sudah menumpuk, tinggi melebihi gunung, apakah Tuhan akan memaafkanku?"
"Dia pasti memaafkanmu," sahut Kakashi pelan.
Ken memikirkannya sejenak. Menimang-nimang sebelum akhirnya dia kembali bicara. "Istri dan putriku tidak pernah tahu apa profesiku yang sebenarnya. Mereka hanya tahu jika aku bekerja sebagai seorang sales peralatan rumah tangga. Aku beralasan ditugaskan keluar kota dan hanya bisa pulang saat hari libur." Ken terkikik pelan menceritakannya, pria itu lalu tersenyum, tersenyum pahit. "Putriku akan masuk universitas tahun depan, aku menabung agar dia bisa masuk ke universitas yang diinginkannya. Putriku harus menjadi seseorang yang berguna bagi masyarakat, tidak seperti ayahnya." Ucap Ken dengan tatapan menerawang jauh. "Ayahnya hanya sampah masyarakat," tambahnya terdengar menyedihkan.
"Kenapa kau tidak berhenti saja?" Kakashi balik bertanya. Asap rokok yang dihembuskannya mengepul sebelum akhirnya hilang bersama angin malam.
Ken mendelik ke arah Kakashi, seolah berkata 'Yang benar saja!'. "Mereka akan membunuhku dan keluargaku jika aku melakukan hal itu." Semburnya, ekspresinya berubah menjadi takut saat mengingatnya. "Aku menyembunyikan keluargaku dengan baik selama ini, jauh dari kota ini agar keberadaannya tidak tercium. Aku ingin keluargaku hidup normal, tanpa merasa ketakutan."
"Kau bisa melarikan diri ke luar negeri bersama keluargamu," usul Kakashi membuat Ken merenung mendengarnya.
"Tabunganku belum cukup untuk itu," sahut Ken setelah terdiam cukup lama, pria itu menunduk, sedih. "Tapi, seandainya aku mati. Tolong, bantu istri dan putriku untuk pergi dan menetap di luar negeri. Kau bisa, kan? Aku yakin jika bos membayarmu jauh lebih tinggi. Kau juga sering mendapat hadiah darinya."
Kakashi tertawa. "Jangan bicara seolah kau akan mati besok!" Kakashi menggelengkan kepalanya pelan.
Ken mengangkat bahu, "siapa yang tahu." Balasnya begitu tenang. "Mungkin saja aku mati di tanganmu besok, lusa atau minggu depan. Siapa yang tahu."
Kakashi kembali mengangkat sebelah alisnya, "kau mau mati di tanganku?"
"Apa kau akan membunuhku jika bos memintamu?
"Tentu," jawab Kakashi dingin.
Ken menghela napas panjang saat Kakashi kembali menyalakan sebatang rokok baru dan menyesapnya. "Sepertinya tidak buruk juga. Hanya saja, jangan lupa apa yang kuminta padamu. Tolong bantu keluargaku keluar dari negara ini."
"Kenapa kau memintanya padaku? Kita bahkan belum mengenal cukup lama."
Ken tersenyum, begitu tulus. "Karena hatiku mengatakan jika kau orang baik."
"Jangan bercanda!" ujar Kakashi.
Ken mengangkat bahunya, ringan. "Dalam dunia hitam ini kita harus berhati-hati mencari teman. Dan hatiku mengatakan jika kau bisa dipercaya, karena kau orang yang baik." Ken tersenyum menatap Kakashi. "Kau boleh menertawakanku, tapi hati kecilku tidak pernah salah. Ah, sudahlah! Sebaiknya kau kembali tidur, aku yang akan berjaga malam ini."
"Sebaiknya kau saja yang tidur," balas Kakashi serak. "Aku tidak bisa tidur."
"Mimpi buruk?" tanya Ken.
"Hm."
"Itu membuktikan jika hati kecilmu menyesal dan merasa bersalah, Kakashi. Itu bagus, itu menandakan jika kau belum kehilangan rasa kemanusianmu."
Kakashi terdiam.
"Kalau tidak bisa tidur, pergilah minum bersama yang lain. Malam belum terlalu larut, bersenang-senanglah. Biar pria tua ini yang berjaga," usulnya lagi.
"Kalau begitu aku pergi," sahut Kakashi.
"Pergilah!"
.
.
.
Pagi ini, murid-murid Konoha International School lebih ribut daripada hari biasanya. Bagaimana tidak? Pagi ini satu kompi pasukan militer berjaga penuh siaga di sekolah mereka. Diantara satu kompi pasukan itu, mereka bisa mengenali Naruto di dalamnya.
"Aku seperti sekolah di sekolah militer," keluh Ino pada Karin yang berdiri di sampingnya dengan wajah berkerut.
"Banyak orang tua murid takut dan setengah hati mempercayakan putra-putrinya untuk kembali sekolah di sini," jawab Karin. "Jadi, kurasa wajar jika kepala sekolah meminta bantuan untuk mengamankan situasi agar orang tua merasa tenang."
"Kupikir juga begitu," timpal Kiba tiba-tiba, mengagetkan kedua gadis remaja itu. "Eh, bukankah itu Naruto?" Kiba menatap Naruto tanpa berkedip.
Karin dan Ino mengangguk bersamaan, menjawab pertanyaan Kiba. Wajah keduanya masih ditekuk karena kesal.
"Heh, dia terlihat sangat keren dalam balutan seragam militer. Bukan begitu?" tanyanya lagi meminta dukungan. Ino dan Karin lagi-lagi mengangguk, namun dengan senyuman tulus. Keduanya setuju, sementara tatapan mereka tertuju lurus pada Naruto yang sedang memberikan breafing pada petugas yang akan berjaga pagi. "Ngomong-ngomong, dimana teman kalian yang satu itu?"
Karin mengernyit mendengar pertanyaan Kiba yang kurang jelas. "Yang mana?"
"Yang itu!" seru Kiba bersikukuh tidak mau menyebutkan nama.
Ino memutar kedua bola matanya, bosan. "Teman kami sangat banyak, kau harus menyebutkan siapa yang kau maksud," timpal Ino dengan galak, kedua tangannya dilipat di depan dada.
Kiba mendengus kasar, kesal. Kedua gadis remaja di depannya ini jelas tahu siapa yang dimaksud olehnya. Kenapa mereka malah membuatnya sulit? "Lupakan pertanyaanku juka kalian malas untuk menjawab," katanya dengan cepat sebelum berbalik pergi meninggalkan Ino dan Karin yang terkikik puas karenanya. "Siapa suruh dia mengagetkan kita!" seru Karin puas dan keduanya pun bergegas menuju kelas mereka masing-masing.
Jam-jam berikutnya berjalan seperti biasa. Naruto berkeliling, ikut mengawasi keadaan sekitar. Seluruh tim sudah berjaga di posnya masing-masing. Beberapa penembak jitu pun mengawasi di titik-titik penting yang strategis.
Setelah menyerahkan tugasnya ke Utakata, Naruto pun berjalan menuju asrama putri. Dengan sopan dia meminjam kunci kamar milik Tayuya pada penjaga asrama putri yang tentu dengan senang hati diserahkannya kunci itu pada Naruto.
Keduanya berbincang sejenak.
"Jangan memakai toilet di kamar itu," pinta wanita penjaga itu pada Naruto terdengar seperti sebuah perintah. Penjaga itu masih terlihat cantik diusianya yang hampir lima puluh tahun. Rahang wajahnya tegas, hidungnya mancung dan rambut hitamnya digelung di atas tengkuk.
Naruto mengernyit, bingung. "Saya tidak akan menggunakannya," sahutnya masih dengan nada sopan.
"Aku melarangmu karena kran penyiram toiletnya macet, dan aku belum memanggil tukang untuk memperbaikinya. Kau tahu-kan, kondisi saat ini masih belum memungkinkan untuk mengijinkan orang luar masuk ke dalam asrama dengan bebas."
Naruto mengangguk, mengerti. "Kalau begitu saya pamit, saya tidak akan lama mengecek kamar itu."
"Kau boleh memeriksanya sesukau, aku tidak akan melarang." Sahut penjaga wanita itu. "Tapi, kurasa kau tidak akan menemukan apapun di sana, Namikaze-san. Bukankah ruangan itu sudah diperiksa dengan teliti oleh polisi."
Naruto nampak tak terkejut mendengarnya. "Saya tahu," sahut Naruto dengan senyum tipis di wajahnya. "Saya hanya ingin memastikannya untuk terakhir kali."
Kali ini petugas wanita itu yang mengangguk pelan, mengerti dan akhirnya Naruto pamit untuk melaksanakan tugasnya.
Dengan cepat Naruto menyisir seluruh bagian di dalam kamar milik Tayuya. Benar kata penjaga wanita itu, tidak ada yang bisa ditemukannya di dalam ruangan ini. Semua barang yang bisa membantu penyelidikan sudah dibawa oleh pihak kepolisian, sementara barang-barang pribadi milik Tayuya setelah diperiksa dengan teliti, langsung dikembalikan pada keluarganya.
Merasa lelah, Naruto pun duduk di atas tempat tidur dingin, jelas sudah lama tidak ada yang menempatinya. Gadis itu menghela napas panjang, tatapannya menatap lurus langit-langit kamar. Semua tempat sudah diperiksa, kira-kira bagian mana yang terlewat? Pikirnya dalam hati.
Mata Naruto membulat sempurna saat teringat ucapan penjaga wanita itu. "Kran penyiram toiletnya macet? Mungkinkah?" jantung Naruto berdetak cepat, semoga saja perkiraannya kali ini tidak meleset.
Ia melesat cepat menuju kamar mandi, dibukanya penutup tangki air toilet duduk itu. Naruto mencoba kran penyiram, ya, kran itu memang macet.
Naruto membuka jas militernya dan menggulung tangan kemejanya hingga sebatas siku. Ia lalu memasukkan tangannya ke dalam tangki tempat penyimpanan air untuk menyiram toilet. Tangannya meraba-raba, mulai mencari-cari, cukup lama. "Kumohon, semoga perkiraanku tidak meleset." Bisiknya penuh harap.
Jatungnya seolah meloncat keluar saat tangannya menyentuh sesuatu, sebuah benda yang dibungkus oleh plastik. Naruto pun mengeluarkan benda itu dari dalam tangki. Sebuah kotak, dia menemukan sebuah kotak kecil berwarna hitam mirip kotak untuk cincin.
Pantas saja polisi tidak menemukannya, siapa yang menyangka jika Tayuya akan menyembunyikan sesuatu berukuran kecil di dalam tangki air toilet. Andai saja penjaga itu tidak memberitahu jika toilet rusak, Naruto pun pasti tidak akan berpikiran hingga kesana.
Naruto merobek plastik pembungkus kotak dan membuka kotak dengan tidak sabar. Dan ternyata, kotak itu berisi sebuah kunci. Sial, lagi-lagi sebuah petunjuk yang membingungkan. Umpat Naruto di dalam hati. Dia menggenggam erat kunci di tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Hah, Naruto tidak pernah merasa sekesal ini. Pasti ada petunjuk kedua, pikirnya.
Gadis itu kini membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang hanya dialasi oleh seprai katun berwarna putih, tidak ada selimut maupun bantal di atasnya. Naruto memejamkan mata, mengingat-ngingat segala sesuatu yang berhubungan dengan Tayuya.
"Tayuya gadis yang sangat manis, dia sangat suka membaca buku dongeng." Ucapan Kimimaro minggu lalu kembali terngiang di telinga Naruto. Dia tersentak, terduduk di atas tempat tidurnya. "Dia senang merajut di waktu luangnya dan menghabiskan waktu di perpustakaan." Gumam Naruto lirih.
Naruto kembali mengenakan jas militernya, dan bergegas keluar kamar lalu kembali mengunci kamar itu. Dengan langkah panjang dia berjalan menuju ruang pengawas asrama untuk mengembalikan kunci.
Setelah mengembalikan kunci, Naruto bergegas menuju perpustakaan. Dia sama sekali tidak sadar sudah menghabiskan waktu cukup lama di dalam kamar Tayuya, bahkan sekarang sudah waktunya jam makan siang.
Naruto berpapasan dengan beberapa murid yang mengenalnya, tak dihiraukannya sapaan hormat beberapa murid itu terhadapnya. Naruto hanya ingin cepat sampai di perpustakaan. Gadis itu bahkan tidak mendengar saat Kurama dan Itachi memanggilnya keras. "Sepertinya Naruto sangat tergesa-gesa," kata Itachi saat panggilannya tidak dijawab oleh Naruto.
"Sepertinya begitu," sahut Kurama pelan.
Itachi menepuk punggung Kurama, dia tahu jika Kurama sangat mencemaskan Naruto saat ini. "Dia sedang sibuk, sebaiknya kita jangan mengganggunya."
"Begitu?" Kurama kembali bergumam pelan, sementara matanya menatap lurus punggung Naruto yang semakin menjauh.
"Jangan cemas, Naruto baik-baik saja." Hibur Itachi lagi.
"Kau benar," Kurama menyetujui. "Setidaknya, aku masih bisa mengawasinya jika dia bertugas di sini."
"Ayo makan!" usul Itachi yang mendorong punggung Kurama agar bergerak, berjalan menuju ke arah kantin sekolah.
.
.
.
Perpustakaan siang ini tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa siswa dan siswi di sana. Naruto berjalan tergesa menuju meja penjaga perpustakaan. "Selamat siang, Terumi-san!" Sapa Naruto pada guru muda berambut merah indah itu.
Mei mendongak dari pekerjaannya, melihat ke arah Naruto. Guru muda itu jelas terlihat terkejut melihat Naruto berada di perpustakaan siang ini. "Naruto?" balasnya tak percaya. Terumi berdiri dan mengulurkan tangan kanannya menyambut uluran tangan Naruto untuk berjabat tangan. "Bagaimana kabarmu? Senang sekali kau mampir kesini." Tambahnya terdengar senang. Mei berjalan mengitari meja kerjanya, mempersilahkan Naruto untuk duduk di sebuah kursi tak jauh dari meja kerjanya.
"Aku baik, dan maaf aku belum sempat menyapa Terumi-san." Naruto membalasnya santun, dirapihkannya rok selutut miliknya sebelum duduk.
Mei menggeleng pelan, maklum. "Aku tahu kau sangat sibuk. Aku yang harus meminta maaf karena belum berterima kasih atas bantuanmu juga teman-temanmu saat penyerangan tempo hari. Terima kasih." Mei meremas tangan Naruto, dan menekuk tipis bibirnya ke atas.
"Itu sudah menjadi tanggung jawab kami, tidak perlu berterima kasih." Sahut Naruto rendah hati.
Mei tersenyum lembut, namun sorot matanya terlihat sedih. "Ada apa?" tanya Naruto.
Mei menggigit bibir bawahnya, sedikit ragu untuk bertanya.
"Apa ada yang ingin kau tanyakan?" selidik Naruto lagi, matanya menyelidik.
Mei menatap wajah Naruto lurus, terdiam cukup lama. "Sebenarnya," Mei kembali terdiam, sementara Naruto menunggunya dengan sabar. "Apa sudah ada kabar dari pamanmu?" tanya Mei pada akhirnya.
Naruto tersenyum, senyum yang dipaksakan. Dia tidak ingin Mei khawatir, Naruto menghitung di dalam hati, berusaha menormalkan nada suaranya. "Paman? Ah, dia baik-baik saja." Jawabnya kembali dengan senyum dipaksakan.
Mei menunduk, menatap jari-jari tangannya yang saling bertaut. Dia masih menggigit bibir bawahnya saat Naruto menggenggam tangannya untuk menenangkannya. "A-apa seburuk itu?" tanya Mei sedikit terbata.
Naruto masih berekspresi sama saat Mei menatapnya, meminta penjelasan. "Maksudmu apa?" tanya Naruto masih dengan nada normal.
Mei terlihat gelisah di kursinya, Naruto bahkan menyerapah dalam hati, mengumpat karena dirinya tidak mampu berakting dengan baik saat ini. Guru muda penjaga perpustakaan itu jelas mencium kebohongan pada ucapan Naruto.
"Terumi-san?" panggil Naruto lirih. Mei menoleh ke arahnya, terlihat semakin sedih. "Pamanku prajurit hebat, terbaik dari yang terbaik. Dia pasti bisa menjaga diri dengan baik. Jangan terlalu khawatir!" Naruto berusaha menguatkannya.
"Tapi?" desak Mei.
"Yakinlah!" seru Naruto. "Pamanku prajurit hebat, dan dia baik-baik saja." Naruto bertepuk tangan di dalam hati. Saat ini dia bersaha menguatkan orang lain, sementara dirinya pun sama khawatirnya. Benar, paman pasti baik-baik saja. Dia akan kembali dalam keadaan sehat dan kembali menggangguku. Itu pasti! Tukas Naruto dalam hati, menguatkan dirinya sendiri.
Mei menepuk pipinya sendiri, seolah berusaha menyadarkan dirinya sendiri. "Benar, kau benar. Aku harus percaya padanya, bukan begitu?"
"Ya," sahut Naruto pendek membuat Mei mengangguk pelan.
Mei kembali mengulum senyum setelahnya, "maaf, aku malah bertanya hal yang seharusnya tidak perlu kuragukan." Ujarnya meminta maaf. "Apa yang bisa kubantu? Kau tidak mungkin datang kesini tanpa ada sesuatu hal yang penting. Iya-kan?"
Naruto tersenyum lebar, wanita di sampingnya ini memang sangat cerdas. "Anda sangat pintar," pujinya membuat Mei memutar kedua bola matanya yang cantik. "Boleh aku meminjam komputer anda? Ada sesuatu yang harus saya cek." Kata Naruto tanpa basa-basi.
"Boleh aku tahu hal apa yang harus kau cek?" tanya Mei menyelidik sementara Naruto menggelengkan kepalanya cepat. Mei menghela napas panjang, menekuk wajahnya dalam. "Baiklah kalau begitu, kau boleh meminjamnya. Aku akan membereskan buku di belakang."
"Terima kasih," ujar Naruto senang. Mei hanya mengangguk pelan lalu berdiri dan bergerak menuju rak belakang untuk membereskan buku.
Naruto tidak menyia-nyiakan waktu, dengan cepat dia berjalan menuju meja kerja Mei untuk memeriksa daftar buku yang dipinjam oleh murid. Naruto memasukkan nama Tayuya ke dalam mesin pencari, tidak menunggu lama, data yang ingin dilihat oleh Naruto pun muncul di layar komputer.
Gadis itu membaca catatan pinjaman buku milik Tayuya dalam hati. Naruto mencatat setiap judul buku yang dipinjam oleh Tayuya. Tayuya tidak pernah ke perpustakaan lagi selama hampir satu tahun dan kembali meminjam serta mengembalikannya tepat satu minggu sebelum kematiannya. Semua buku yang dipinjamnya merupakan buku dongeng. Apa ini hanya kebetulan? pikir Naruto.
Naruto kembali menutup file yang baru diaksesnya tadi, dan mengembalikannya ke posisi semula. Dia mendorong kursi dan berdiri dari tempat duduknya. Dia harus mencari buku itu, buku-buku yang sering dan terakhir kali dipinjam oleh Tayuya.
"Sudah mendapatkan apa yang kau cari?" Naruto tersentak kaget. Dia berbalik dan menatap pemuda yang berdiri di balik meja kerja Mei dengan mata memicing tajam. "Apa?" tanya Sasuke datar.
"Kau!" tunjuk Naruto galak. "Kau mengagetkanku!" desisnya sinis. "Kau mengikutiku?"
Demi apapun, pemuda itu tidak akan mengakui jika dirinya memang mengikuti Naruto ke perpustakaan setelah dia melihat gadis itu dari kejauhan. Egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya.
Sasuke mengangkat dagunya, congkak, nyaris membuat Naruto berteriak keras karena kesal. Sudah satu minggu mereka tidak bertemu, dan sifat Saske masih menyebalkan seperti biasanya. Naruto akhirnya melenguh keras, ada hal penting yang harus dilakukannya saat ini daripada meladeni Sasuke yang terkadang bersikap kekanakan.
"Jadi, apa yang kau cari?" tanya Sasuke sambil mengikuti Naruto dari belakang.
"Bukan urusanmu!" sahut Naruto ketus. Dia berjalan menuju rak buku paling belakang. Naruto berpapasan dengan Mei yang sepertinya sudah menyelesaikan pekerjaannya di belakang.
"Sudah menemukan apa yang kau cari?" Mei bertanya ramah. Guru muda itu mengangguk pelan saat Sasuke menunduk memberi hormat.
"Sudah," sahut Naruto. "Terima kasih untuk bantuannya."
Mei mengibaskan tangan di depan wajah dengan anggun. "Itu hanya bantuan kecil, semoga beruntung." Tambahnya mengedip penuh arti pada Naruto.
Mulut Naruto terbuka lebar karenanya, dia lalu mengalihkan tatapannya pada Sasuke yang hanya menatapnya datar. "Apa maksud Terumi-san? Kenapa dia mengedip seperti itu?" tanyanya tidak mengerti.
Sasuke tersenyum kecil, senyum angkuh dan menarik tangan Naruto menuju rak paling belakang. "Apalagi yang akan dilakukan pria dan wanita di rak perpustakaan paling belakang?" bisiknya seduktif di telinga kanan Naruto.
Naruto mendelik marah, lalu menyikut perut Sasuke keras. Sasuke meringis, membungkuk, perutnya berdenyut sakit akibat sikutan itu. "Arghhh..." Ringisnya sedikit berlebihan. Naruto berjalan mendekat, terlihat khawatir. "Kau baik-baik saja?" tanyanya pelan namun terdengar jelas jika dia khawatir.
"Aku akan baik-baik saja jika mendapat pelukan dan sebuah ciuman darimu." Sahut Sasuke membawa Naruto dalam pelukannya.
Naruto meronta, mencoba melepaskan diri dari pelukan Sasuke. "Ijinkan aku memelukmu, sebentar saja." Mohon Sasuke lirih, pemuda itu mengeratkan pelukannya, membuat Naruto berhenti meronta dan balas memeluknya. "Aku merindukanmu," kata Sasuke berupa gumaman, namun telinga Naruto masih bisa menangkapnya dengan jelas.
"Kau bisa meneleponku jika rindu," sahut Naruto. Sasuke menggeleng pelan, "mendengar suaramu saja tidak akan sanggup mengobati kerinduanku. Rasa rinduku akan semakin berlipat karenanya."
Naruto menjauhkan diri untuk menatap Sasuke, dia menelengkan kepala ke satu sisi. "Apa?" tanya Sasuke saat Naruto menatapnya dengan mata menyipit tajam. Pemuda itu ingin sekali tertawa keras melihat ekspresi Naruto saat ini, namun seperti biasa, ekspresinya selalu terlihat datar.
"Sejak kapan kau pandai menggombal?" tanya Naruto terdengar ketus. "Banyak berlatih, huh?"
Sasuke menyentil hidung Naruto dan mengecup kening gadis itu singkat, sebelum kembali memeluknya erat. "Jika aku menjawabnya, apa aku akan mendapat sebuah ciuman panas?" godanya dengan nada nakal. Sasuke kembali meringis dan melepaskan pelukannya saat Naruto mencubit keras perutnya. Sasuke yakin, cubitan itu akan berbekas ungu. "Sakit!" protes Sasuke.
"Siapa suruh kau menggombal di depanku?" bentak Naruto. "Minggir! Aku ada pekerjaan!" Naruto kembali melayangkan perintah.
Sasuke memberikan jalan pada Naruto dengan gaya berlebihan, dan kembali mengikuti langkah gadis itu dari belakang. Gadis itu mulai melihat daftar buku yang dicarinya, dan mengumpulkannya satu per satu di satu tempat.
Naruto kembali mencari, tinggal satu buku lagi yang harus dicarinya. Ck, kenapa Sasuke mengganggunya disaat dia bekerja? "Ah, itu dia!" seru Naruto senang saat matanya menangkap objek terakhir yang dicarinya.
Gadis itu menghela napas panjang, kenapa buku itu diletakkan di rak paling atas? Batinnya sebal. Naruto melirik ke arah Sasuke yang menatapnya datar, terlihat santai dengan punggung menyender pada rak buku kokoh di belakangnya.
"Ambilkan buku itu!" perintah Naruto tegas sambil berkacak pinggang.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya, menatap Naruto dengan sikap menantang. "Kenapa aku harus mengambilnya?" tanyanya tidak kalah pongah.
"Karena aku tidak bisa mengambilnya," jawab Naruto dengan suara tertahan, menahan kesal. "Buku itu diletakkan sangat tinggi." Ujar Naruto. Sasuke menatapnya datar, membuat Naruto memutar kedua bola matanya karenanya. "Well, setidaknya terlalu tinggi untukku."
Sasuke menatap Naruto dari bawah hingga ujung kepala, dia menyeringai, meremehkan. "Cebol!"
Naruto menatap Sasuke dengan tatapan horor, cebol katanya? Naruto paling anti dipanggil pendek, apalagi cebol. Oh, Sasuke benar-benar menguji kesabarannya saat ini. "Ambilkan!" kata Naruto lagi dengan nada satu oktaf lebih tinggi. Rahangnya mengeras, matanya berkilat marah.
"Tolong ambilkan buku itu, Tuan Muda." Sahut Sasuke dengan wajah angkuh dan suara merdu yang dibuat-buat. "Katakan kalimat itu, dan aku akan membantumu."
Naruto berbalik, marah. Persetan! Makinya dalam hati. Dia akan mengambil buku itu sendiri tanpa bantuan Sasuke yang berdiri semakin angkuh. Naruto meloncat untuk mengambil buku yang diinginkannya, meloncat lagi, tangannya terulur untuk menggapai buku itu, namun gagal. "Brengsek!" umpatnya kesal setengah mati. Di belakangnya, Sasuke menyeringai senang. Kapan lagi dia bisa mengerjai Naruto seperti saat ini, pikir pemuda itu.
"Yakin tidak memerlukan batuanku?" tanya Sasuke lagi. Naruto menggeram, marah. "Jangan berharap aku mengatakan kalimat menjijikan itu!" desis Naruto. Sasuke mengendikkan sebelah bahunya, tak peduli.
Gadis itu melenggang pergi, dan kembali beberapa saat kemudian dengan sebuah kursi di tangannya. Diletakkannya kursi itu di depan rak, Naruto melepas sepatu hak tingginya sebelum naik ke atas kursi untuk mengambil buku itu. "Jangan mengintip!" ancam Naruto menakutkan saat Sasuke menghampirinya dan memegang punggung kursi agar stabil.
"Apa yang harus kulihat darimu?" sahut Sasuke datar. Namun berbanding terbalik dengan ucapannya, pemuda itu dengan jailnya membungkukkan badan dan pura-pura mengintip ke dalam rok pendek Naruto.
"Sasuke?!" raung Naruto marah dan dengan gerakan cepat dia meloncat turun dari atas kursi dengan sebuah buku di tangan kanannya.
Sasuke mengangkat bahunya, ringan. "Apa?" tanyanya tanpa ekspresi dan bergerak menjauhi kursi itu. "Putih?" ejek Sasuke dengan seringai puas.
"Arghhhhh!" Naruto berteriak dan membungkuk, menarik rok di atas lututnya. "Dasar mesum!" bentak Naruto kesal.
"Jadi, buku apa itu?" Sasuke menunjuk buku yang digenggam Naruto, dengan dagunya. Ah, pemuda itu berusaha mengalihkan pembicaraan rupanya. "Dongeng?" tanya Sasuke meremehkan. "Kau pikir berapa usiamu? Kenapa masih membaca buku dongeng di usiamu saat ini?" tanyanya lagi terdengar geli.
Naruto cemberut, wajahnya ditekuk dalam. Apa salahnya membaca buku dongeng? Pikir Naruto. Dia tidak terlalu tua untuk membacanya, iya-kan? Batinnya menggerutu. Lagi pula, tidak mungkin untuk Naruto mengatakan hal yang sebenarnya.
Sasuke terdiam, menunggu balasan pedas dari Naruto. Sayangnya Naruto menutup mulutnya rapat, sekuat tenaga tidak menanggapi ocehan Sasuke. "Ah, satu lagi!" ujar Sasuke saat Naruto masih membisu. "Kecilkan suaramu! Ini perpustakaan."
Naruto mendesis, gerah akan tingkah menyebalkan Sasuke. "Gurauanmu tidak lucu!"
"Aku tidak berniat melucu," balas Sasuke dingin.
Hening.
Hening lagi.
"Ah, sepertinya kita datang tidak tepat waktu." Seru Shikamaru memutus ketegangan diantara Naruto dan Sasuke.
Naruto melihat ke arah suara, sedangkan Sasuke melirik lewat bahunya. Di sana, Neji, Shikamaru dan Kiba berdiri menatap keduanya dengan tatapan aneh. "Sudah kubilang jangan mengganggu mereka." Sahut Neji dengan seringai jail.
Kiba mendengus dan memalingkan muka, mengalihkan pandangannya pada deretan buju-buku tebal di sampingnya. "Tapi, ini perpustakaan. Mereka tidak boleh berbuat mesum disini. Bagaimana jika ada seseorang yang memergoki keduanya?"
Naruto melotot ke arah ketiga pemuda itu, menatapnya tidak percaya. Memangnya apa yang sedang dilakukannya? Ya, Tuhan. Mereka pasti berpikir yang tidak-tidak, batin Naruto kesal.
"Suaramu terlalu keras, Naruto!" tegur Neji lagi. "Hei, Sasuke. Apa yang kau lakukan hingga Naruto berteriak seperti itu?"
"Hn," jawab Sasuke tidak jelas membuat ketiganya berpikiran semakin liar.
"Kami tidak melakukan apapun!" bentak Naruto keras. "Dan apa-apaan seringai kalian itu? Kami tidak melakukan hal yang kalian pikirkan!"
Kiba berjalan ke arah Naruto dan menyenggol tangan gadis itu. "Tidak apa-apa, kami mengerti, kok." Ujarnya santai, alisnya naik-turun, matanya menatap Naruto lurus.
"Kami mengerti," timpal Shikamaru setengah mengantuk. "Kalian pasti sedang melepas rindu. Santai saja, kami bisa berjaga jika kalian mau." Tawarnya baik hati membuat Naruto semakin dongkol dibuatnya.
"Kenapa diam saja?" protes Naruto pada Sasuke yang sedari tadi hanya diam di tempatnya. "Ck, kalian sangat mengesalkan. Dan kau," tunjuk Naruto pada Sasuke. "Sebaiknya kau menjelaskan apa yang terjadi pada teman-teman mesummu ini!" tegasnya dengan dagu terangkat, marah, dan berjalan pergi meninggalkan keempatnya di sana.
"Ternyata dia sangat pemalu," ujar Kiba dengan gelengan kepala pelan, pemuda itu jelas salah menelaah keadaan. "Pantas saja Terumi-sensei melarang kita untuk menggangu mereka." Tambah Kiba lagi dengan pose berpikir. "Hei, Sas, jangan bermain kasar, ok?"
Sasuke menanggapinya dengan santai, terlalu malas untuk meluruskan. Toh, ketiga temannya itu tidak akan percaya jika dia mengatakan kebenarannya. Sudahlah, biarkan mereka berpikir sesuai dengan Kennginannya. Pikir Sasuke tidak mau ambil pusing.
Mei mendongakkan kepala saat Naruto berjalan menghampiri meja kerjanya. Gadis muda berambut pirang itu menekuk wajah dalam, kesal. "Apa yang membuatmu kesal? Bukankah seharusnya kau senang?" goda Mei.
Naruto mendengus, "jangan berpikir yang aneh-aneh!" tegur Naruto. Dia meletakkan buku-buku itu di atas meja Mei.
"Kau mau meminjam semuanya?" tanya Mei seolah lupa pertanyaan yang dilontarkan sebelumnya.
"Bolehkah?" tanya Naruto memelas dan penuh harap.
"Sebenarnya tidak." Jawab Mei cepat. "Orang luar dilarang meminjam buku dari perpustakaan ini."
"Bagaimana jika aku meminjamnya atas nama kakakku?"
"Tidak bisa!" Mei bersikukuh.
"Aku akan bertanggung jawab jika buku-buku ini hilang."
Mei menyempitkan mata. "Kau harus mengembalikannya, utuh! Atau kau tidak boleh membawanya keluar dari sini."
"Aku berjanji akan mengembalikan buku-buku ini utuh!" ujar Naruto sungguh-sungguh.
Mei mengulum senyum simpul dibuatnya. "Baiklah, aku akan mendatanya dulu dan kau boleh membawanya pergi."
"Terima kasih," balas Naruto lembut.
Sore harinya, Naruto berdiri di ambang pintu rumah dinas kakaknya, menunggu kepulangan Kurama. Gadis itu tersenyum melihat kakaknya berjalan semakin cepat ke arahnya. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Kurama saat jarak keduanya hanya tinggal tiga meter.
"Boleh aku menginap?"
Kurama menatap wajah adiknya dengan sebelah alis terangkat. Dia mengeluarkan kunci dari dalam tas kerjanya dan membuka pintu. Naruto mengikuti Kurama masuk ke dalam rumah, dan dengan santai gadis itu mendudukkan diri di atas sofa nyaman di ruang tamu.
"Dalam rangka apa kau menginap disini?" tanya Kurama sedikit berteriak dari dalam dapur. Pria itu mengeluarkan dua kaleng jus apel dingin dari dalam kulkas dan membawanya ke ruang tamu. "Jadi?" tanya Kurama lagi, sambil menyodorkan satu kaleng jus apel di tangannya pada Naruto sementara tangan lainnya dipakai untuk melonggarkan dan membuka dasi yang dikenakannya.
"Apa aku tidak boleh menginap di rumah kakakku sendiri?" Naruto balik bertanya.
Kurama menatap lurus Naruto, dan menyesap minumannya nikmat sebelum kembali bicara dengan tenang. "Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan?"
Naruto mengerjapkan mata, menelengkan kepala dia menjawab cepat. "Tidak ada yang aku sembunyikan. Aku malas kembali pulang ke rumah kakek. Disana sepi, aku tidak suka."
Kurama menghela napas, "baiklah. Kau boleh menginap."
Naruto terlonjak mendengarnya dan memberi sebuah pelukan erat untuk Kurama. "Terima kasih," tukasnya ceria.
"Hm..." Sahut Kurama datar. Padahal, hatinya begitu senang karena dia bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Naruto dan hal itu membuatnya sedikit tenang. "Kau yang memasak makan malam hari ini?"
"Siap laksanakan, Kapten!" sahut Naruto semangat.
.
.
.
Kurama menggelengkan kepala saat melihat lampu kamarnya masih menyala. Perlahan dia membuka knop pintu dan mengintip ke dalam kamar. "Kau belum tidur?" tanyanya sambil melangkah masuk ke dalam kamar dan mendudukkan diri di atas tempat tidur yang sekarang dipakai adiknya itu.
Naruto melirik sekilas ke arah kakaknya. "Masih ada yang harus aku kerjakan," sahutnya dengan suara mengantuk.
Kurama berjalan ke belakang Naruto dan meletakkan tangannya di atas bahu adiknya itu. Kurama berdiri di sana untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh adiknya. "Kau membaca buku dongeng?" tanya Kurama, nadanya terdengar takjub setelah membaca salah satu judul buku yang menumpuk di atas mejanya. "Sejak kapan kau suka membaca buku dongeng?" selidik Kurama. "Apa hal ini berhubungan dengan kasus yang sedang kau selidiki?" desak Kurama lagi saat Naruto tidak menjawab pertanyaannya.
Naruto memutar tubuhnya, mendongak dan tersenyum lembut menatap kakaknya. "Apa yang bisa kusembunyikan dari kakak?" katanya begitu lirih.
"Banyak hal," sahut Kurama pahit. "Banyak hal yang kau dan kalian sembunyikan dariku."
"Kak?" Naruto merasa bersalah dibuatnya. Haruskah dia mengatakan semua kebenarannya? Pikirnya bingung.
Kurama menggelengkan kepala, "tidak! Jangan katakan jika kau tidak mau mengatakannya. Hanya saja-"
Naruto terdiam, menunggu kalimat yang akan diucapkan oleh Kurama.
"Hanya saja, tolong jangan berbohong padaku. Lebih baik kau tidak mengaakannya jika yang keluar dari mulutmu hanya kebohongan. Mengerti?" suaranya serak, parau.
Naruto mengangguk pelan. Kurama mengacak rambut Naruto dan mengecup keningnya sayang. "Bagus!" sahutnya pelan. "Tidurlah, kau perlu istirahat cukup, Naruto."
Keduanya kemudian terdiam, berpandangan, sibuk akan pikirannya masing-masing hingga akhirnya Naruto berkata lirih. "Selamat malam, Kak!"
Kurama mengerjap, tersadar dari lamunanya dan menyahut pelan. "Selamat malam, Naruto!"
Naruto memejamkan mata setelah Kurama keluar dari dalam kamar. Kakaknya itu jelas khawatir, sangat khawatir akan keadaannya. Asuma mengatakan jika Kurama kembali merokok. Gadis itu tahu betul jika kakaknya merokok saat stres berat. Tapi, apa yang bisa dilakukan oleh Naruto? Mengatakan semua kebenarannya hanya akan membuat Kurama semakin stres. Tidak, aku tidak boleh mengatakan semua kebenarannya. Lagipula, bukankah kakak tidak memintaku untuk mengatakan semuanya? Pikir Naruto. Aku hanya tidak perlu berbohong, benar begitu, kan? Batinnya semakin gelisah.
.
.
.
Dilain tempat, Kabuto kembali bergerak, mengumpulkan kembali kekuatannya yang sempat terpecah. Dia sudah bersembunyi terlalu lama dan sudah saatnya dia mengambil kembali kepercayaan Orochimaru yang hilang karena gagalnya transaksi besar yang dipercayakan padanya.
Kabuto melempar gelas kristal berisi brendi mahal di tangannya hingga hancur berkeping-keping saat salah satu anak buahnya melaporkan jika Bos Besar menugaskan Zetsu untuk mengawal transaksi senjata yang akan datang.
"Brengsek?!" raungnya marah. Wajahnya memerah, marah. Mata Kabuto berkilat, menatap anak buahnya yang kini membungkuk dalam. "Penjilat itu berusaha mengambil kepercayaan Bos Besar saat aku tidak ada. Brengsek! Dasar brengsek!" teriak Kabuto lagi. "Apalagi yang kau dengar?"
"Aku dengar jika Tuan Zetsu menawarkan diri untuk mengawal transaksi ini karena Tuan Besar juga akan ikut, turun langsung ke lokasi."
"Penjilat!" teriak Kabuto. "Dia pikir aku tidak mampu menjaga keselamatan Tuan Besar, huh?" raungnya tidak terima. Empat orang anak buahnya itu menunduk semakin dalam, ketakutan. Ruangan sempit itu terasa semakin gelap, sesak dan mencekam karena amarah Kabuto.
"Besok, anda diminta untuk menghadap ke markas besar untuk membahas transaksi yang akan datang." Lapor anak buahnya lagi.
Kabuto menggeram, semakin murka. "Yamato?!" teriak Kabuto memanggil Yamato yang berjaga di luar pintu ruang kerja Kabuto.
Yamato segera masuk, berjalan cepat dan menunduk dalam, memberi hormat. "Siap menerima perintah!" kata Yamato masih dengan kepala menunduk.
"Kumpulkan orang-orang terbaik kita, besok kita akan yakinkan Tuan Besar jika kita mampu menangani transaksi itu tanpa bantuan Zetsu!" Yamato hanya mengangguk, menerima perintah Kabuto dan berbalik pergi untuk menjalankannya secepat mungkin.
Pagi datang dengan cepat, tepat pukul sembilan pagi, Kabuto tiba di markas besar beserta anak buah terbaiknya. Pria itu terlihat lebih tenang saat ini. Yamato, berjalan di sampingnya kembali mengingatkan bosnya agar dia bisa menahan diri, bersikap lebih tenang di depan Bos Besar.
"Semua demi kebaikan anda," kata Yamato dengan kepala menunduk beberapa saat sebelum mereka berangkat menuju markas besar.
Kabuto mengokang pistol di tangannya, bersiap menembakkannya tepat ke arah kepala Yamato. Berani sekali anak buahnya ini menceramahinya, pikirnya murka.
"Bos Besar tidak akan suka jika anda menentang keputusannya secara langsung, beliau bisa sangat murka." Tegas Yamato lagi. Pria ini sedang bertaruh saat ini. Jika Kabuto cerdas, tentu dia akan menerima masukan dari Yamato, namun jika ternyata sebaliknya, Yamato pasrah jika dia akan berakhir di dalam kantung mayat.
Letusan peluru terdengar keras dari dalam ruangan itu. Ya, Kabuto melepaskan tembakannya, namun bukan pada Yamato. Kabuto melepaskannya untuk mengeluarkan amarah yang berkecamuk di dalam hatinya saat ini. "Kau benar," sahut Kabuto setuju. "Zetsu akan bersorak senang jika aku berani menentang keputusan Bos Besar."
Kabuto menatap tajam pada Kabuto. "Kali ini aku harus mengikuti saranmu, Yamato." Kabuto berjalan ke arah Yamato yang masih menundukkan kepala. Kabuto menepuk bahu anak buahnya itu pelan, "kita pergi!"
.
.
.
Kelompok Kabuto berpapasan dengan kelompok Zetsu di pintu masuk ganda menuju ruang pertemuan. Kedua pria itu saling melempar tatapan dingin, terlihat jelas jika keduanya saling tidak menyukai satu sama lain. Keduanya bersaing untuk mendapat kepercayaan Orochimaru, yang berarti kekuasaan tak terbatas.
Dilain sisi, tatapan Yamato dan Kakashi bertemu, keduanya menatap dingin satu sama lain, menatap seolah keduanya orang asing, menatap seolah keduanya musuh karena berada dalam dua kelompok yang berbeda. Aura disekitar mereka semakin berat setiap detiknya. Kedua ketua kelompok itu jelas saling membenci satu sama lain.
"Kukira kau tidak akan datang." Zetsu menjadi orang pertama diantara keduanya yang membuka suara. "Kau yakin sudah sehat?" tanyanya tidak terdengar khawatir tapi lebih terdengar seperti sebuah sindiran yang membuat telinga Kabuto memanas karenanya.
Kabuto tersenyum kecil menanggapinya, hatinya memang panas mendengar sindiran itu, namun sekuat tenaga dia bersikap tenang saat ini. Benar kata Yamato, reputasinya dipertaruhkan saat ini. "Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja."
Zetsu tentu tidak menyangka jika Kabuto menanggapi sindirannya dengan tenang. Kabuto terkenal mudah tersulut emosi, aneh rasanya melihat Kabuto bersikap tenang. Zetsu menyeringai kecil, meremehkan. "Otakmu sepertinya menjadi lebih baik sekarang? Mungkin kau membutuhkan satu tembakan lagi agar otakmu semakin tenang." Zetsu terkekeh senang melihat perubahan pada raut wajah saingannya.
Kabuto mendesis, dengan gerakan cepat dia mencengkram kerah kemeja yang dikenakan oleh Zetsu. Suasana yang sudah panas itu semakin panas, pistol teracung, terarah lurus pada kelompok lawan.
"Apa yang kalian lakukan?" suara berat Orochimaru memutus ketegangan di antara dua kubu itu. Semua orang yang berada di sana membungkukkan badan dalam, memberi hormat pada Orochimaru yang berdiri marah. "Kalian masih ada waktu untuk bertarung satu sama lain?"
"Maafkan saya!" Kabuto mengambil inisiatif untuk meminta maaf. "Seharusnya saya bisa mengendalikan diri."
"Musuh kita ada di luar!" raung Orochimaru murka. "Tapi disini, kalian malah sibuk untuk membunuh satu sama lain?" teriaknya mebungkam mulut semua orang yang ada di sana. "Aku akan membunuh kalian dengan tanganku sendiri jika hal ini kembali terjadi! Mengerti?!"
"Kami mengerti!" jawab semuanya kompak. Orochimaru tidak pernah main-main dengan ucapannya. Pria itu tidak akan segan membunuh anak buahnya hanya karena kesalahan kecil. Zetsu dan Kabuto patut bersyukur karena Orochimaru sedang dalam mood yang baik pagi ini, jika tidak, dipastikan keduanya pulang tanpa nyawa hari ini.
.
.
.
Baru saja Naruto selesai membaca buku keempat saat Utakata datang ke kantor markas besar. "Masih belum menemukan petunjuk?" tanya Utakata sambil menggatung jaket musim dinginnya di gantungan jaket. "Di luar, anginnya sangat dingin." Keluh Utakata beranjak ke mesin pembuat kopi dan menuangkannya ke dalam cangkir untuknya sendiri. "Kau mau?" tawar Utakata.
"Boleh," sahut Naruto kembali membuka buku lain untuk dibacanya, sejauh ini dia memang tidak menemukan petunjuk apapun.
"Ini," Utakata menyodorkan cangkir berisi kopi panas untuk Naruto dan kemudian menggenggam cangkir miliknya sendiri. "Terima kasih," kata Naruto.
"Hm." Utakata menyeruput kopinya dan kembali bertanya. "Jadi, masih belum menemukan petunjuk lain?"
Naruto menghela napas dan menggeleng pelan. "Sayangnya belum," sahutnya terdengar lelah. "Kau tidak ke sekolah?" tanya Naruto saat sadar jika siang ini giliran Utakata yang bertugas berjaga di sekolah.
"Sanbi bersikeras untuk bertukar jadwal denganku," jawabnya.
Naruto menatap pria itu dengan alis terangkat. Utakata berdecak dan kembali menjawab dengan cepat. "Sanbi kembali bertengkar dengan Fuu, jadi dia bertukar jadwal denganku agar besok tidak bertugas dengan Fuu." Jelasnya panjang lebar membuat Naruto menggeleng pelan.
"Kapan mereka berhenti bertengkar?"
"Jika orang menyebalkan itu meminta maaf padaku!" timpal Fuu tiba-tiba dari ambang pintu. Wajahnya cemberut, kesal, marah bercampur menjadi satu, dia bahkan menutup pintu di belakangnya keras.
"Boleh aku tahu alasan kalian bertengkar kali ini?" tanya Naruto hati-hati. Ditutupnya buku di tangannya, tatapannya terfokus pada Fuu.
Fuu menghempaskan pantatnya dengan kasar di samping Naruto dan tanpa permisi dia menyeruput kopi milik Naruto. "Aku hanya mengingatkannya agar tidak terlalu memaksakan diri, itu saja." Sungutnya, cemberut. "Dia terluka parah, kalian tahu betul hal itu, kan? Tapi dia terus bersikeras jika dia baik-baik saja dan malah membentakku karena aku cerewet mengingatkan tentang kesehatannya."
Naruto dan Utakata saling melempar tatapan penuh arti. Sepertinya ada pasangan baru, pikir keduanya kompak. Namun mereka hanya menyimpan pikiran itu di dalam hati, sepertinya bukan saat yang tepat untuk mengganggu Fuu saat ini.
Fuu terus menggerutu tidak jelas, sementara Naruto memilih untuk membaca sisa buku yang belum dibacanya, sedangkan Utakata memilih untuk memeriksa laporan dari Gobi dan Yugito mengenai ditemukannya enam jenasah korban pembunuhan.
"Pembunuhan lagi?"
Fuu akhirnya berhenti menggerutu dan menjawab pertanyaan Utakata. "Ya, mayat keenamnya ditemukan tadi malam. Mengambang tidak jauh dari lokasi mayat dokter itu ditemukan."
"Apa mereka ada hubungannya?" tanya Utakata penasaran.
"Sepertinya begitu," sahut Fuu serius. "Keenamnya memiliki tato kelompok Hebi."
"Sialan!" umpat Utakata kesal.
"Kapten, Gobi dan Yugito sedang menunggu laporan dari forensik untuk melengkapi laporan di tanganmu. Mungkin sore nanti sudah ada kabar." Jelas Fuu lagi. "Kapten ingin kita berempat fokus pada keamanan sekolah, dan untuk kasus baru ini, Kapten akan menyelidikinya sendiri bersama Gobi dan Yugito."
"Aku yakin semua peristiwa yang terjadi belakangan ini saling berkaitan sati sama lain."
"Kau benar," sahut Utakata menyetujui pemikiran Naruto begitu pun dengan Fuu.
"Kita harus segera menangkap penjahat-penjahat itu, semakin lama kita menangkap mereka, semakin banyak korban akan berjatuhan." Naruto berkata dengan dingin, buku-buku jarinya memutih akibat tangannya yang terkepal erat.
Ketiganya terdiam lama setelahnya. Tantangan di depan mereka semakin berat. Dan mereka pun sadar betul akan konsekuensi terburuk yang akan mereka terima nanti. Kematian!
.
.
.
TBC
Sampai jumpa dichap selanjutnya!
#WeDoCareAbout SFN
