Hallo! Aish... akhirnya ini fic bisa saya update juga. #GarukTanah Maaf sudah menunggu sangat lama. Untuk chap ini sengaja saya sisipkan beberapa paragraph dari chap sebelumnya, karena saya yakin pembaca sudah lupa sama isi cerita sebelumnya. #Nyengir
Beberapa pembaca ada yang bertanya, bahkan sedikit memaksa saya untuk melanjutkan cerita ini. Sebenarnya bukannya tidak ingin, namun karena beberapa alasan saya jadi malas melanjutkan fic ini.
Perbuatan beberapa oknum tidak bertanggung jawab membuat saya kehilangan mood untuk melanjutkan fic ini. Dalam pikiran saya—ngapain dilanjutin kalau beberapa orang tidak bertanggung jawab ngeklaim fic ini sebagai karya mereka?
Namun di sisi lain, saya memiliki kewajiban. Kewajiban pada diri saya sendiri untuk menyelesaikan apa yang sudah saya kerjakan. Beberapa bulan belakangan ini saya kembali berusaha mengembalikan mood untuk melanjutkan fic UC, dan alhamdulilah akhirnya bisa walau belum bisa panjang seperti chap2 sebelumnya. Semoga saja chap ini tidak terlalu mengecewakan kalian yang sudah menunggu sangat lama.
Terima kasih untuk semua review yang masuk. Terima kasih juga untuk semua yang sudah memberikan like dan follow fic ini. Dukungan kalian amat sangat berarti bagi saya.
Bersama ini saya juga ingin memberikan konfirmasi, dikarenakan ada beberapa pembaca yang menanyakan apakah boleh fic2 saya diganti chara dan mencantumkan credit cerita atas nama saya, setelah saya pertimbangkan, mohon maaf sebesar-besarnya saya tidak mengijinkan. Fic-fic yang saya buat saya dedikasikan khusus untuk pair SasuFemNaru, oleh karena itu untuk saya pribadi jelas akan terasa ada yang hilang jika fic2 yang saya buat diganti dengan chara lain. Sekali lagi saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga dapat untuk dimaklumi.
Enjoy!
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M
Genre : Crime, Action, Friendship, Romance, Angst
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo(s)
Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
Under Cover
Chapter 15 : Titik Terang Bag. 2
By : Fuyutsuki Hikari
Naruto tidak tahu kenapa tubuhnya mendadak susah bergerak, pria di depannya ini jelas bukan penjahat kelas teri. Aura membunuh dari pria itu membuat darah yang mengalir di nadinya seolah membeku. Seorang pria lain datang menghampiri dan membantu rekan yang sudah dirobohkan oleh Naruto untuk berdiri. Tatapan mereka bertemu, membuat Naruto untuk pertama kali merasakan sesuatu yang aneh menjalar di hatinya, takut. Rasa takut itu membuat dadanya sesak, membuatnya bertanya-tanya mengenai wajah serta identitas pria bertopeng di hadapannya ini.
Sementara itu, Masamune terlihat sangat kewalahan menghadapi tiga orang penjahat yang tersisa, sementara dua orang penjahat yang tersungkur sudah diamankan oleh rekannya yang lain. "Apa yang kalian tunggu?" ujar Masamune menantang. Tanpa menunggu lebih lama, dia kembali melayangkan pukulan keras ke arah rahang penjahat yang memiliki postur tubuh jauh lebih besar darinya. Masamune menangkis, terus menangkis pukulan lain dan meloncat ke belakang untuk menghindari tusukan pisau yang diarahkan ke dadanya.
Masamune terus bertarung tanpa memperdulikan luka menganga akibat sayatan pisau di bahu kanannya, tanpa memperdulikan luka sobek akibat pukulan keras di pelipis kirinya, tanpa memperdulikan retak pada tulang jari tangan kanannya. Dia sudah siap mati di tempat ini, di tanah leluhurnya, jika dia harus mati, biarlah dia mati sebagai pejuang- seperti leluhurnya.
Di balik tempat persembunyiannya, Utakata menyandarkan punggungnya pada batang pohon dan dengan susah payah mengokang pistolnya dengan tangan kiri dan dia pun menembakkan senjatanya ke arah musuh yang juga bersembunyi di balik pohon. Sial, musuh yang membawa senjata api tidak hanya satu orang, mereka jelas sengaja menunggu di tempat ini agar memudahkan untuk menyerang sekaligus bersembunyi untuk berlindung.
Tangan kanannya terjuntai lemas karena sakit yang hebat, sementara darah terus mengalir dari luka tembaknya yang menganga, terus menetes dari ujung-ujung jari tangan kanannya. Rasanya sangat panas dan berdenyut-denyut ngilu, Utakata meringis saat rasa sakit itu terus menyerangnya bertubi-tubi. Utakata melirik ke arah Naruto dan Masamune yang terus bertahan dari penjahat-penjahat yang menyerang membabi-buta dengan senjata tajam di tangan. "Brengsek!" makinya kesal. "Bagaimana bisa mereka mengetahui keberadaan kami saat ini?" gumamnya tidak mengerti.
.
.
.
Duka mendalam menyelimuti suasana upacara pemakaman Masamune—siang ini. Langit musim dingin terlihat kelabu, sementara sang angin bertiup membawa rasa dingin yang menusuk hingga tulang.
Naruto berdiri disana, raut wajahnya tidak bisa dibaca, sementara luka-luka sisa pertarungannya tiga hari lalu masih bisa dilihat dengan jelas di wajahnya. Jika bukan karena bala bantuan yang datang tepat waktu, ia yakin jika dirinya dan Utakata pun mengalami nasib yang sama seperti Masamune saat ini.
Ah… wanita itu terlalu sering menghadiri upacara pemakaman seperti ini. Ia sudah terlalu terbiasa melihat raungan seorang istri yang menangisi kepergian suaminya. Ia sudah terlalu terbiasa melihat seorang anak tertunduk dalam di sisi liang lahat dengan air mata yang mengalir deras dari kedua sudut mata mereka.
Namun apa yang dilihatnya saat ini begitu berbeda. Istri dari Masamune tidak meraung, menangisi jasad suaminya, begitupun dengan ketiga anak mereka yang malah berdiri dengan kepala tegak. Mereka berempat begitu tegar, membuat Naruto semakin merasa bersalah karenanya.
Andai aku tidak membawa Masamune-san serta bersama kami, batinnya menyesal.
Naruto melangkahkan kaki saat satu per satu pelayat mulai meninggalkan pemakaman. Wanita itu melangkah pelan, hingga akhirnya ia berdiri berhadapan dengan Nyonya Masamume. "Saya turut berduka cita!" ujar Naruto dengan suara bernada simpati. Ia kemudian membungkuk dalam, lalu kembali berdiri dengan tegak, sementara matanya mengamati wajah teduh wanita berusia empat puluh tahunan di depannya.
Raut wajah wanita di depannya berubah. Wanita itu memperhatikan seragam militer yang dikenakan oleh Naruto, sementara jari tangannya menyentuh sebuah luka dipelipis kanan Naruto. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya terdengar cemas. Keriput di wajahnya terlihat lebih banyak saat dia menautkan kedua alisnya.
"Eh?" kedua alis Naruto saling bertaut. Wanita di depannya ini tengah berduka, namun kenapa malah mengkhawatirkan keadaannya? Pikir Naruto tidak mengerti.
Nyonya Masamune tersenyum, seolah mengerti akan apa yang ada di benak Naruto. "Kami memang tengah berduka. Namun kami tidak bisa terus berduka. Bukankah sudah menjadi kodrat manusia untuk mati?" tanyanya membuat Naruto tertohok. "Kami memang sangat kehilangan dirinya, namun dia tewas sebagai seorang pejuang. Dalam suku kami, itu satu kehormatan. Suamiku pasti sangat bangga karenanya, oleh sebab itu kami sama sekali tidak menyesal atas kepergiannya."
"Nyonya?"
"Bukan salahmu," potongnya sembari membelai pelan punggung Naruto. "Bukankah kau juga sudah berjuang? Saat ini yang harus kau khawatirkan adalah kondisi rekanmu. Bukankah dia juga terluka parah?"
Naruto mengangguk pelan, berusaha keras untuk menahan laju air matanya yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.
Wanita di hadapannya menoleh ke arah liang lahat yang sudah tertutup, lalu ia menatap satu per satu wajah anaknya yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri. Putra tertuanya berusia sembilan belas tahun—mewarisi rahang tegas ayahnya, sementara putri kedua yang berusia enam belas tahun serta putra bungsunya yang berusia lima belas tahun mewarisi warna kulit serta warna iris mata ibu mereka. "Suamiku selalu mengingatkan kami agar kami selalu siap jika harus kehilangan dirinya saat bertugas. Karena itu sudah sejak lama kami mempersiapkan hati." Ia tersenyum perih. "Oleh karena itu berhenti menyalahkan dirimu. Mengerti?"
Naruto mengangguk ragu. Berbincang dengan istri Masamune memberikan ketenangan tersendiri untuknya. Naruto kemudian menyalami anak-anak Masamune. Mereka menjabat tangan wanita itu dengan penuh kebanggaan, bangga karena ayah mereka tewas sebagai seorang pejuang, pahlawan yang berkorban untuk menyelamatkan nyawa orang lain.
.
.
.
Kondisi Utakata masih sama memburuknya saat Naruto kembali. Segala peralatan untuk menopang hidup pria itu terpasang pada tubuhnya, sementara Naruto hanya bisa menatapnya dalam diam.
Suara mesin detak jantung seolah menjadi melodi yang menenangkan untuk Naruto. Tenang karena suara mesin itu memberitahunya jika rekannya masih hidup saat ini.
Naruto mendongakkan kepala, menatap langit-langit di atasnya. Perasaan getir menyerangnya. Dia sudah banyak kehilangan rekan-rekan seperjuangannya, apa sekarang dia harus kehilangan Utakata juga? Tidak. Dia tidak bisa kehilangan Utakata setelah kehilangan Sai dengan begitu menyedihkannya. Dia tidak bisa kehilangan Utakata setelah kehilangan kakeknya—Sarutobi.
Misi keduanya memang berhasil. Mereka mendapatkan apa yang mereka cari dengan pengorbanan besar Masamune yang kehilangan nyawa serta Utakata yang kini terbaring koma. Naruto masih belum tahu apa arti dari buku diary itu karena buku diary yang dikubur oleh Tayuya itu kosong. Tidak ada apa pun di dalamnya. Apa ini setimpal? Tanya Naruto di dalam hati.
"Kau tidak boleh pergi, Utakata!" Naruto berkata dalam gumaman tidak jelas. "Kau harus hidup untuk menendang pantat orang-orang itu!" kelakarnya, berusaha untuk memutus ketegangan di dalam ruangan itu yang sayangnya masih tidak mampu untuk membuatnya tersenyum.
Wanita itu menarik napas dalam, sementara dahinya ditempelkan pada layar telepon genggammnya yang sedari tadi tidak berhenti bergetar karena panggilan masuk. Naruto membaca sekilas pemilik nomor telepon yang menghubunginya—Sasuke. Pemuda itu menghubunginya untuk yang kesekian kalinya.
Sasuke sepertinya tidak merasa cukup hanya dengan mendapat balasan email dari Naruto. Pemuda itu pasti bersikeras ingin mendengar suara Naruto untuk meyakinkan dirinya sendiri jika Naruto baik-baik saja.
"Dasar keras kepala!" gumam Naruto dengan senyum getir. "Halo!" sapa Naruto kemudian sembari menutup pintu kamar di belakangnya sementara dua orang polisi yang bertugas berjaga di depan pintu memberikan hormat padanya.
"Kenapa kau baru mengangkat teleponku?" suara Sasuke yang terdengar tidak sabar membuat Naruto tersenyum tipis. Wanita itu membungkuk sembari menopang tubuhnya ke dinding rumah sakit.
Naruto kembali terdiam, cukup lama hingga membuat Sasuke gemas karenanya. "Apa terjadi sesuatu?" Sasuke kembali bertanya kini dengan nada datar walau Naruto amat sangat yakin jika pemuda itu pasti tengah khawatir saat ini. Sasuke bisa menyembunyikan apa yang ada di dalam pikirannya dari orang lain, namun pemuda itu tidak akan pernah bisa menyembunyikannya dari Naruto.
"Huum…" Jawabnya tidak jelas. Wanita itu memejamkan mata, dan tanpa disadarinya ia mulai menangis dalam diam. Naruto tidak tahu sejak kapan dia menjadi selemah ini. Kenapa dia begitu rapuh saat bicara dengan Sasuke? Seorang wanita sepertinya seharusnya bisa menahan diri dan bersikap tegar, bukan malah membuka diri dan memperlihatkan kelemahannya di depan orang lain.
Tapi Sasuke bukan orang lain, hati kecilnya mengingatkannya. Pemuda itu adalah pria yang kucintai. Ya. Naruto tidak bisa memungkirinya lagi jika ia mencintai putra bungsu keluarga Uchiha itu. Jangan tanya sejak kapan ia mencintainya, karena Naruto sendiri tidak tahu sejak kapan perasaan romantis itu hadir di dalam hatinya.
"Menangislah hingga kau merasa puas," hibur Sasuke membuat Naruto menangis semakin hebat dan alih-alih mengakhiri sambungan teleponnya, Sasuke menunggu, terus menunggu hingga Naruto puas menangis malam itu.
.
.
.
"Apa kalian sudah dengar, kelompok kita berhasil menghabisi dua anggota pasukan khusus."
Percakapan ringan diantara anggota kelompok Zetsu itu menghentikan langkah Kakashi untuk sejenak. Kakashi sengaja berdiri lama di balkon, menyalakan sebatang rokok lalu menghisapnya nikmat sementara telinganya dipasangnya dengan baik untuk mendengarkan pembicaraan kelompoknya.
Suara gelak tawa itu terasa menusuk bagi Kakashi, namun pria itu sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi apa pun saat ini. Dengan sikap tenang dia menyandarkan tubuhnya pada pagar besi, lalu mendongakkan kepala menatap langit siang yang kelabu. Salju sepertinya akan kembali turun, pikir Kakashi muram.
"Jika terus seperti ini, kita pasti bisa segera melenyapkan Kitsune!" ujar salah satu penjahat itu yang diakhiri oleh tawa memuakkan. "Bos memang sangat hebat, dia selalu bisa membaca langkah-langkah mereka," pujinya penuh kekaguman
Mereka kembali tertawa. "Tentu saja," pekik salah seorang penjahat dengan suara mabuknya. "Bagaimana tidak, dia memiliki mata-mata di dalam tubuh kepolisian."
"Jaga bicaramu!" bentak Kakashi membungkam percakapan itu. Kakashi memasang ekspresi dingin, sorot matanya terlihat memperingatkan.
"Kau anak baru." Penjahat yang mabuk itu tertawa sinis, memandang Kakashi dari ujung kaki hingga kepala dengan sikap merendahkan. "Kau tidak tahu apa pun mengenai kelompok kami," tambahnya puas.
Kakashi mendesis, bergerak cepat sembari mengambil pistol dari ikat pinggangnya. "Jaga mulutmu atau kau mau mati di tanganku?" tanyanya dingin sembari menekankan moncong pistolnya ke pelipis penjahat bertubuh tinggi itu. "Apa pun yang kau ketahui seharusnya bisa kau simpan sendiri!" desisnya.
"Kau benar, Kakashi!" timpal sebuah suara dari belakang tubuh Kakashi. Lima orang penjahat itu seketika berdiri, sementara Kakashi menarik kembali pistolnya.
Kakashi membungkuk dalam, "Maafkan atas kelancangan saya, Tuan Zetsu!" ujarnya penuh penghormatan.
Zetsu tersenyum lebar, lalu menepuk bahu pria yang masih membungkuk itu hingga beberapa kali lalu mengambil pistol itu dari tangan Kakashi. "Ucapanmu tidak salah, Kakashi. Apa yang kau katakan memang benar adanya," ucapnya dengan suara ringan namun mampu membuat suasana ruangan itu menjadi gelap dan menyesakkan.
Penjahat bertubuh tinggi itu jatuh berlutut, berkeringat dingin, tubuhnya gemetar ketakutan. Pria itu yakin jika Zetsu akan membunuhnya, namun tidak ada salahnya jika dia memohon untuk nyawanya bukan? "Maafkan saya, Tuan! Saya mabuk," cicitnya ketakutan. Pria itu bahkan menciumi sepatu Zetsu beberapa kali, mendongak untuk memohon pengampunan Zetsu atas kebodohannya, hal yang justru membuat Zetsu merasa semakin jijik.
"Maafkan saya! Mohon maafkan saya!"
Zetsu memiringkan kepalanya ke satu sisi, menyeringai keji dan detik berikutnya suara tembakan terdengar, menulikan pendengaran orang-orang yang berdiri di dalam ruangan itu. Zetsu hanya tersenyum tipis saat melihat darah segar mengotori sofa putih dan lantai yang diinjaknya. Satu alisnya terangkat saat dengan angkuh dia mengendikkan kepala, memerintah salah satu anak buahnya untuk membersihkan sepatu hitam mengkilatnya yang terkena cipratan darah anak buahnya yang baru saja dibunuhnya tanpa berkedip.
Pria yang mendapat perintah itu langsung berlutut, membuka jas hitam yang dikenakannya untuk membersihkan noda darah di sepatu bosnya. Pria itu bahkan tidak berhenti saat noda darah itu sudah hilang sepenuhnya. "Buang mayatnya ke laut!" ujar Zetsu dingin. Pria itu menatap tanpa emosi pada tubuh kaku yang tergeletak di atas lantai. Kepala pria bertubuh tinggi itu kini memiliki lubang mengerikan akibat timah panas, sementara darah terus mengalir, mengeluarkan bau anyir yang memenuhi seperempat ruangan dengan cepat.
Zetsu membalikan badan, dengan langkah ringan dia berjalan melewati Kakashi, lalu terdiam sejenak dan kembali bicara dengan suara tenang. "Entah kenapa kau selalu berhasil mengambil kepercayaanku, Kakashi," pujinya membuat Kakashi kembali membungkuk hormat. "Pekerjaanmu selalu efisien dank au tidak banyak bicara seperti mereka," tambahnya membuat keempat anak buahnya yang berada di dalam ruangan itu berdiri berjajar, menunduk dan bergetar ketakutan hanya karena suara dinginnya.
Ia menghela napas panjang, melirik sekilas ke arah Kakashi sebelum kembali bicara, "Mulai hari ini kau bertugas menjadi bodyguardku.
Kakashi bergeming, sama sekali tidak menyangka jika dia akan mendapat kenaikan jabatan dengan begitu mudahnya.
Zetsu menyeringai. "Tentu saja dengan satu syarat," ujarnya tenang.
"Saya siap menjalankan perintah," jawab Kakashi dengan ketenangan yang sama.
"Aku menginginkan nyawa Kitsune sebagai bukti pengabdianmu," ujarnya membuat Kakashi tercengang.
Sementara itu, kantor pusat militer terlihat sangat sibuk siang ini. Bee terlihat kacau dari biasanya. Bagaimana dia tidak kacau jika dua hari yang lalu dia mendengar kabar buruk mengenai misi yang diemban oleh Naruto dan Utakata gagal total. Naruto terluka, sementara Utakata terbaring koma. Belum lagi Bee mendapat kabar jika polisi yang bertugas mengantar-jemput kedua anak buahnya itu tewas saat bertugas.
Brengsek! Umpat Bee marah. Kedua tangannya terkepal erat. Kegagalan misi Naruto dan Utakata kali ini kembali meyakinkannya jika ada pengkhianat di dalam tubuh militer atau kepolisian. Tidak mungkin misi yang diemban oleh anak buahnya itu bocor jika tidak ada orang dalam yang membocorkannya.
Bee menggeram, frustasi. Ia bahkan meninju dinding ruangannya berkali-kali untuk menyalurkan amarahnya. Belum masalah Naruto dan Utakata selesai, sekarang dia harus berhadapan dengan Fuu yang terus memaksa untuk diberangkatkan ke Sapporo. Bee tahu jika Fuu memiliki perasaan khusus terhadap Utakata, hal yang membuat masalah ini menjadi semakin rumit karenanya.
Pria itu menghela napas berat, lalu mengurut pangkal hidungnya. Tapi siapa pengkhianat itu? Tanya Bee di dalam hati. Pria itu tidak pernah merasa sefrustasi ini sebelumnya. Dia tidak akan mempermasalahkan jika dalam hal ini hanya nyawanya yang menjadi taruhan, namun masalahnya, justru nyawa anak buahnyalah yang tengah menjadi incaran saat ini.
Bee mengerang, terlihat lelah. Kedua matanya terpejam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia kembali berdiri, bergerak dan melangkah dengan langkah cepat menuju kantor kakaknya yang berada di lantai lima. Dia harus bisa membujuk kakaknya agar mempercepat proses pemindahan Utakata ke rumah sakit militer. Akan lebih baik jika Utakata berada dekat dengan mereka, pikirnya. Selain itu dia juga harus bisa memastikan agar Naruto kembali pulang ke Tokyo dengan selamat.
.
.
.
"Apa kau yakin dengan pilihanmu, Sasuke?" Fugaku kembali bertanya untuk yang ketiga kalinya. Sebenarnya dia sama sekali tidak heran saat mendengar jika putra bungsunya berniat melanjutkan pendidikannya di akademi militer, namun entah kenapa dia merasa tidak bisa memepercayai indra pendengarannya saat ini. Sasuke mengangguk kecil, membuat Fugaku menghela napas berat karenanya.
Pria paruh baya itu melirik ke arah istrinya yang sedari tadi tidak mengucapkan sepatah kata pun. Di satu sisi Fugaku yakin jika istrinya merasa sangat keberatan karena putra bungsunya memilih untuk berkarir militer, namun di sisi lain, Fugaku yakin jika Mikoto menghormati keputusan Sasuke. "Apa yang membuatmu memilih untuk melanjutkan pendidikanmu ke akademi militer?" Fugaku kembali bertanya dengan sikap tenangnya.
Apa ini ada hubungannya dengan Naruto? Tanya Fugaku di dalam hati.
Ia tahu jika Sasuke menaruh hati pada Naruto, namun lagi-lagi Fugaku tidak menyangka jika perasaan Sasuke bisa seserius ini pada Naruto.
Sasuke tidak langsung menjawab. "Ada seseorang yang ingin kukejar, Ayah," jawabnya dengan sebuah senyum simpul. "Selama ini aku tidak pernah mengerti kenapa dia bisa begitu mencintai pekerjaannya, dan karenanya aku ingin tahu alasannya. Apa yang hebat dari pekerjaannya."
Mikoto terkesiap. Dia menoleh ke arah suaminya yang hanya memberinya sebuah senyum penuh pengertian.
"Pekerjaan Naruto bukanlah pekerjaan biasa, Sasuke," balas Fugaku. "Pekerjaannya menuntutnya untuk siap sedia meregang nyawa demi kehormatan Negara."
"Aku tahu." Sasuke menghela napas getir. "Karena itu aku akan mengikuti jejaknya. Aku akan jauh lebih bersinar daripada wanita itu, Ayah," tambahnya dengan seringai penuh percaya diri. "Dengan hal itu aku baru memiliki kepercayaan diri untuk bersanding dengannya."
Mikoto menelan kering. Kepalanya menunduk menatap jari-jari tangannya yang saling bertaut di atas pangkuannya. "Tapi, Sasuke. Alasanmu itu?" Ia tersiam sejenak, tercekat. "Kenapa harus Naruto?" tanyanya parau. "Kau bisa mendapatkan wanita mana pun yang kau sukai, tapi kenapa kau malah memilih Naruto?"
"Karena aku menginginkan Naruto, Bu." Sasuke menjawab dengan nada mutlak. "Tidak bisa wanita lain. Aku hanya menginginkan wanita itu di dalam hidupku."
Mikoto terdiam.
"Dan apa ibu lupa?" Sasuke kembali bicara, membuat Mikoto menatapnya dengan pandangan penuh tanya. "Apa ibu lupa jika Naruto sudah berulang kali menyelamatkan nyawa kedua anak ibu serta suami ibu dari usaha pembunuhan?"
Mikoto kembali terdiam. Wanita itu menutup mulutnya yang terisak kecil dengan telapak tangannya. Benar. Bagaimana bisa dia melupakan fakta itu, Naruto sudah berkali-kali menyelamatkan nyawa keluarganya. Hutang budinya terhadap wanita itu begitu besarnya. Bagaimana bisa dia menolak Naruto sebagai menantunya?
"Bu?!" panggil Sasuke parau. Pemuda itu berlutut di depan ibunya, sementara ibu jarinya mengusap aliran air mata yang mengalir deras di kedua pipi Mikoto. "Ibu boleh memegang janjiku. Apa pun kesulitan yang akan kualami nanti, aku akan berusaha untuk bertahan hidup demi ibu."
.
.
.
Naruto mengenakan rambut palsu, dan mengenakan seragam sekolah SMA puteri untuk penyamarannya. Setelah pemindahan Utakata ke Tokyo kemarin sore sukses, siang ini dia dijadwalkan untuk pulang kembali ke Tokyo, namun demi keamanannya, Bee memintanya untuk menyamar. Wanita muda itu menghempaskan tubuhnya yang ramping ke kursi penumpang. Ia mendapat tempat duduk di sisi jendela pesawat, sementara kursi disebelahnya ditempati seorang wanita gemuk serta seorang pria separuh baya yang diyakini Naruto sebagai suami wanita gemuk berpenampilan mencolok itu.
Ia melepas napas lelah, terlihat cuek dengan pasangan yang duduk di sebelahnya sementara matanya terlihat fokus membaca sebuah novel di tangannya. Seharusnya perjalanan ini tidak akan memakan waktu lama, pikirnya mulai bosan mendengar pertengkaran kecil di sampingnya.
Pikiran Naruto melayang. Ia tidak tahu kenapa Bee merasa sangat yakin jika ia tengah menjadi target sasaran berikutnya. Jari tangannya kembali membalikkan halaman buku yang sama sekali tidak dibacanya. Apa mungkin Bee sudah tahu siapa pengkhianat itu? Tanyanya di dalam hati. Tapi jika Bee tahu, tentu atasannya itu akan memberinya peringatan, bukan? Ah… entahlah.
Perjalanan udara dari Sapporo ke Tokyo itu memakan waktu selama satu jam lebih empat puluh menit. Pesawat yang ditumpangi oleh Naruto mendarat mulus di landasan bandara Narita, Tokyo saat jarum jam pendek menunjuk angka dua. Naruto menutup buku bacaannya, lalu berdiri untuk mengambil tas gendongnya dari dalam kabin.
Suasana di gate kedatangan bandara Narita ramai seperti biasanya. Dengan tenang Naruto terus berjalan, sementara beberapa polisi yang bertugas menjaganya berdiri tidak jauh di belakangnya. Naruto tidak memiliki firasat apa pun saat berondongan peluru terarah kepadanya saat ia berjalan keluar bandara untuk menunggu mobil jemputannya.
Sial. Ternyata dugaan Bee memang benar. Penjahat itu sama sekali tidak berniat untuk melepaskannya.
Seketika jeritan panik menguasai seisi Bandara. Orang-orang yang sudah bersiap keluar dari bandara segera mengurungkan niat mereka dan berlari masuk kembali ke dalam bandara, sementara Naruto dan beberapa orang yang sudah terlanjur berada di luar bandara segera mencari tempat perlindungan yang paling dekat.
Naruto mengedarkan pandangannya, memastikan semua orang sudah berada di tempat yang aman sebelum ia memutuskan untuk berlindung di balik taksi yang kebetulan tengah berhenti untuk menaikkan penumpang. Peluru kembali ditembakkan secara membabi buta dari dalam tiga buah mini van berwarna hitam, peluru-peluru itu jelas diarahkan ke tempat dimana Naruto bersembunyi saat ini.
Naruto melepas napas yang sedari tadi ditahannya. Ia kalah jumlah. Persenjatan yang dibawanya saat ini tidak cukup untuk melindungi orang-orang yang tidak berdosa yang kini berlindung di sekitarnya. Polisi yang bertugas di bandara pun tidak akan cukup tangguh untuk melawan terror mengerikan ini. Ia menoleh ke arah samping, matanya mengerjap saat melihat seorang ibu tengah berusaha untuk menenangkan bayi berusia sembilan bulan yang terus menangis di dalam pelukannya. "Aku harus pergi dari sini. Keberadaanku hanya membuat nyawa mereka terancam," gumam Naruto pelan.
Wanita itu memutar otaknya dengan cepat. Berusaha mencari cara untuk mencari jalan keluar yang paling cepat, dan berdoa agar pasukan khusus segera datang untuk mengamankan keadaan. Dia tidak bisa terus bertahan seperti ini, dia bisa mati jika terus diam.
Peluru kembali ditembakkan, kini mengarah pada kaca bandara yang disyukuri Naruto anti peluru. Sialan! Naruto tidak tahu sampai kapan jendela anti peluru bandara ini bisa bertahan jika terus dihujani oleh ratusan peluru setiap detiknya. Berapa banyak peluru yang mereka bawa? Tanya Naruto di dalam hati.
Lalu, bagaimana dengan orang yang bersembunyi tidak jauh dari tempatnya saat ini? Dia tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja. Dia memiliki kewajiban untuk melindungi mereka.
Yang diincar oleh penjahat-penjahat itu adalah dirimu, Naruto. Mereka yang tidak berdosa tidak akan jadi korban jika mau mengorbankan diri. Wanita itu tersenyum simpul, membulatkan tekad. Dia akan menyelamatkan orang-orang yang tidak berdosa ini, namun ia pun akan tetap berusaha untuk bertahan hidup.
Dia hanya perlu bertahan hingga pasukan khusus datang dan mengambil alih kendali. Naruto melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sepuluh menit sudah berlalu sejak penyerangan pertama. Seharusnya lima menit lagi pasukan khusus itu tiba, dan Naruto pun melakukan aksi gilanya. Ia keluar dari tempat persembunyiannya, berlari dengan sangat cepat, berlari sejauh mungkin dari kerumunan orang-orang yang berlindung di dekatnya.
Dan rencananya pun berhasil. Dua buah mini van berlalu pergi, sepertinya mereka tahu berapa banyak waktu yang mereka miliki untuk mengacau di tempat publik seperti ini, sementara satu mini van lainnya melaju dengan kecepatan sangat cepat untuk mengejar Naruto yang kini berlindung di balik sebuah pilar kokoh.
Naruto bernapas dengan keras. Paru-parunya terasa kosong, dengan rakus ia terus bernapas untuk mengisi kembali paru-parunya. Wanita itu kini menatap sebuah senjata api yang digenggamnya, sebuah senjata yang sama sekali tidak sebanding dengan Ak-47 yang digunakan oleh penjahat-penjahat itu. Naruto mengintip, berusaha untuk melumpuhkan mobil van yang kini melaju cepat ke arahnya.
Ia harus bisa menembak pengemudi kendaraan itu, atau melumpuhkan kendaraan itu dengan menembak bannya.
Berhasil.
Naruto berhasil menembak pengemudi mobil van mini itu. Kendaraan itu kini berjalan tidak tentu arah, hingga akhirnya berhenti tidak jauh dari tempatnya bersembunyi saat ini. Naruto menghela napas lega. Keberhasilannya pasti memaksa penjahat-penjahat yang berada di dalam kendaraan itu untuk keluar dan menyelamatkan diri. Benar saja, tidak lama kemudian sebuah mini van yang sudah melaju jauh di depannya kembali untuk membawa rekan-rekannya serta.
Wanita itu menahan napas saat pintu mini van terbuka. Kekhawatirannya bahkan belum mereda saat sebuah granat dilempar ke arahnya oleh seorang penjahat yang berjalan dengan penuh percaya diri ke arahnya. Naruto terbelalak, dia berlari sekuat tenaga, berusaha untuk menghindari pecahan granat yang dilemparkan oleh penjahat itu.
Sayangnya gerakan Naruto kurang cepat. Tubuh wanita itu terpental, menubruk dinding pilar kokoh lain yang berada tidak jauh dari tempatnya bersembunyi.
Naruto mengerang, berusaha untuk tetap sadar saat tubuhnya merasa kebas. Rasa nyeri yang amat sangat itu membuatnya merasa jika organ-organ lain di dalam tubuhnya mati rasa. Wanita itu mengerjapkan mata, menatap seorang pria yang kini berdiri menjulang di hadapannya. Kenapa sosok pria ini terasa tidak asing? Pikir Naruto.
Paman Kakashi? Panggil Naruto di dalam hati. Pria yang memakai topeng ini memiliki postur tubuh seperti pamannya. Apa benar dia pamannya? Naruto kembali bertanya saat kesadarannya nyaris diambang batas.
"Maaf!" bisik pria itu getir sebelum melepaskan dua buah tembakan ke arah Naruto yang terbaring tak berdaya.
.
.
.
TBC
Sampai jumpa dichap selanjutnya ya! ^-^
#WeDoCareAboutSFN
