Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M

Genre : Crime, Action, Friendship, Romance, Angst

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo(s)

Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

Selamat membaca!

Under Cover

Chapter 16 : Duniaku Hancur

By : Fuyutsuki Hikari

Kurama sama sekali tidak memiliki firasat apa pun saat salah kepala sekolah memanggilnya di tengah jam pelajaran untuk menghadap ke ruangannya. Pria itu mengangguk pelan, memberi perintah pada murid-muridnya untuk menyelesaikan soal di halaman dua ratus satu setelah memastikan murid-muridnya itu untuk berjanji tidak berbuat kegaduhan yang bisa mengganggu kelas lain ia pun meninggalkan kelasnya dengan tergesa.

Namun ketenangannya seketika lenyap saat indra penglihatannya menangkap empat orang personel angkatan darat berseragam lengkap berdiri tegak di dalam ruangan kepala sekolah siang ini. Langkah kakinya pun terhenti tepat di depan pintu ruangan yang kini telah tertutup rapat.

Mulutnya mendadak kelu, napasnya tercekat. Kurama tidak bisa mengatakan apa pun selain menatap lurus wajah kepala sekolah yang memintanya untuk segera mendekat ke arahnya.

Empat orang anggota militer itu pun membalikkan badan dengan kompak, menyambut kedatangan Kurama dengan memberinya hormat ala militer. Kurama yang baru bergerak tiga langkah dari depan pintu kembali menghentikan langkahnya. Ada perasaan was-was menyerangnya saat ini, terlebih salah seorang diantara empat anggota militer itu berjalan mendekat ke arahnya, menundukkan kepala samar sebelum menyerahkan sebuah dogtag ke tangan Kurama.

Kurama bergeming, telapak tangan kanannya masih terbuka dengan sebuah dogtag berada di atasnya. Perlahan dia menunduk, mencoba mencari tahu pemilik dari dogtag yang kini berada di atas telapak tangannya yang bergetar.

Detik demi detik berlalu.

Ruang kerja nyaman itu mendadak hening,

Namikaze Naruto.

Ia membaca nama pemilik benda pipih itu di dalam hati. Rasa sakit langsung menghantam dadanya keras, menarik semua pasokan udara dari dalam paru-parunya hingga Kurama merasa jika ia akan segera mati karenanya. Kurama terus terdiam, membeku bahkan tidak bereaksi saat kepala sekolah menepuk bahunya untuk menyatakan rasa bela sungkawa dalam atas tewasnya Naruto.

Ini pasti hanya sebuah mimpi buruk yang lain, pikir Kurama. Ia mendongak, menatap kepala sekolah tanpa ekspresi. Dengan kekuatan yang tersisa ia membungkuk untuk memberi hormat, sebelum membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan gerakan pelan untuk kembali ke ruang kerjanya.

.

.

.

Itachi berlari di sepanjang lorong saat melihat dua buah mobil dinas angkatan darat terparkir rapi di depan gedung sekolah. Firasatnya mengatakan ada sesuatu buruk telah terjadi dan itu berhubungan dengan Naruto. Di dalam hati ia terus berboda, berharap jika firasatnya salah dan semua baik-baik saja.

Napas Itachi tersengal, ia membungkuk tepat di depan pintu ruang kerja Kurama, menarik napas dalam untuk mengisi paru-parunnya yang kosong dengan rakus sebelum merangsak masuk.

Wanita itu bahkan tidak mengetuk pintu untuk meminta izin masuk. Gerakan tangannya sejenak terhenti saat melihat Kurama duduk di atas kursi kerjanya, menatap kosong sebuah kalung berliontin perak yang tergeletak di atas meja kerja coklat milik pria itu. "Aku melihat mobil dinas angkatan darat di depan gedung sekolah." Itachi memberanikan diri untuk bicara setelah menutup pintu di belakangnya rapat. Dengan perasaan was-was ia kembali melangkahkan kaki, semakin mendekat ke arah Kurama yang masih bergeming di atas kursi kerjanya yang nyaman.

"Kurama?!" panggil Itachi lembut. Ia mencuri lihat ke arah kalung berliontin yang ternyata sebuah dogtag. Itachi terkesiap, tubuhnya mendadak kehilangan tenaga saat matanya membaca pemilik dogtag tersebut. Tidak mungkin! pikirnya berusaha untuk menyangkal. Pasti ada kesalahan di sini! Ujarnya lagi masih tidak mau menerima akan apa yang telah terjadi.

"Hari ini terjadi penyerangan mengerikan di bandara Narita." Kurama bercerita tanpa ekspresi, sementara Itachi tidak bisa menutupi kesedihannya. Wanita itu terduduk di atas kursi, karena kedua kakinya yang bergetar sudah tidak mampu menopang beban tubuhnya. Energinya seolah ditarik paksa dari dalam tubuhnya, membuatnya lunglai dan nyaris pingsan di tempat.

Kurama terkekeh kering, sebelum kembali bicara dengan nada datar yang sama. "Dan seperti biasa," ia terdiam sejenak, tenggorokannya terasa tercekik saat ia hendak melanjutkan kalimatnya. "Dan seperti biasa," ulangnya, "Dia selalu berada di saat dan di tempat yang tidak tepat."

Itachi terdiam, sekuat tenaga menahan agar isakan itu tidak meluncur dari mulutnya walau air matanya sudah turun.

"Adikku. Naruto-ku selalu bertindak seperti seorang pahlawan," lanjut Kurama tanpa emosi membuat Itachi semakin sedih melihatnya. Akan lebih baik jika Kurama menangis, meraung, meluapkan kesedihannya dengan tindakannya daripada seperti ini, pikir Itachi sedih. "Tapi dia memang seorang pahlawan," ralat Kurama dengan sebuah senyuman getir. "Dia mengorbankan dirinya demi menyelamatkan orang-orang yang berlindung di dekatnya."

Kurama menarik napas panjang, kedua matanya kemudian mencari manik gelap milik Itachi. Pria itu mengulum sebuah senyum simpul yang rapuh dan berkata dengan santainya, "Aku harus menyiapkan prosesi kremasinya," terangnya. Kurama menepuk lengan kursi kerjanya, bersikap begitu tenangnya, hingga orang lain yang tidak tahu akan apa yang terjadi pasti menganggap tidak ada hal serius yang telah terjadi.

"Apa kau mau menemaniku?" tanyanya kemudian yang terdengar seperti sebuah permintaan. Itachi menelan isakannya, ia tidak mampu bicara dan hanya menanggapi permintaan kekasihnya itu dengan sebuah anggukan kecil. "Aku harus menyewa rumah duka dan krematorium untuk mengkremasi jenazah adikku." Kurama mendongakkan kepala, tersenyum tipis dan kembali berkata dengan nada biasa. "Si bodoh itu bahkan sudah mengatakan keinginannya untuk dikremasi jika dia meninggal dunia terlebih dahulu." Kurama mengadu, "Siapa sangka jika keinginannya akan terjadi jauh lebih cepat dari dugaanku." Kepala Kurama menoleh ke arah Itachi. "Kau tahu, Itachi, kukira akulah yang akan mati terlebih dahulu dari adikku," akunya menyebabkan tangis Itachi pecah seketika.

.

.

.

SMA Konoha mendadak gempar siang ini. Entah siapa yang memulai menyebarkan, namun video detik-detik Naruto tewas menyebar dengan cepat di internet. Pihak kepolisian yang mengetahui mengenai menyebarnya video itu pun segera bertindak cepat dengan memblokir situs-situs yang menanyangkan video rekaman CCTV bandara tersebut, namun usaha mereka sepertinya percuma, karena video itu menjadi viral dengan sangat cepat.

"Bukankah wanita di dalam video ini Naruto?" pekik Kiba terbelalak ngeri, membuat Neji dan Shikamaru yang duduk di hadapannya mendongak, menatapnya dengan kedua alis bertaut. "Ya, Tuhan!" pekik Kiba keras saat melihat bagaimana tubuh Naruto terlempar karena ledakan bom. Kiba mengangkat kepala, menatap kedua sahabatnya dengan ekspresi sedih, suaranya bergetar saat ia berkata, "Mereka membunuh Naruto," lapornya nyaris tak terdengar.

"Apa maksudmu?" Suara Sasuke terdengar dingin saat mengatakannya. Dengan gerakan perlahan Kiba menoleh ke arah sumber suara. Tanpa meminta izin dari sang pemilik Sasuke mengambil telepon genggam layar datar milik Kiba, lalu kembali memutar video yang Kiba maksud sementara Gaara yang datang bersama dengannya ikut mencuri lihat rekaman video itu.

Lain dengan reaksi Gaara yang lunglai dan jatuh terduduk, reaksi Sasuke setelah melihatnya sama seperti reaksi Kurama saat mendengar kabar kematian Naruto. Sasuke tidak memperlihatkan ekspresi apa pun, ia juga tidak mengatakan apa pun.

"Dia bukan Naruto," kata Sasuke datar, membuat semua orang yang berada di dalam ruang kantin itu terpaku, menatap ke arahnya dengan ekspresi berbeda-beda. "Si bodoh itu pasti sedang tertawa terbahak-bahak karena lelucon ini," tambahnya tanpa emosi. "Dia akan semakin senang jika tahu kalian semua tertipu," lanjutnya sebelum berbalik pergi.

"Biarkan dia sendiri!" ujar Shikamaru saat Neji bergerak, berniat untuk menyusul langkah Sasuke. "Dia perlu waktu untuk menerima kenyataan pahit ini," tambahnya murung.

.

.

.

"Sasuke tidak datang bersama kalian?" Itachi bertanya lirih, jejak air mata masih terlihat dikedua pipinya yang terlihat pucat. Hari ini sudah memasuki hari kedua upacara kematian Naruto, namun Sasuke masih tidak menunjukkan batang hidungnya.

Hati Itachi semakin teriris karena Sasuke masih terus menyangkal mengenai kematian Naruto, sementara di satu sisi, Kurama bersikap biasa, seolah tidak ada yang perlu ditangisinya. Kekasihnya itu terlihat begitu tegar dengan caranya, membuat Itachi semakin cemas karenanya.

Shikamaru menggelengkan kepala, meminta maaf karena ia dan teman-temannya yang lain hingga saat ini tidak berhasil meyakinkan Sasuke untuk datang dan memberi penghormatan terakhir untuk Naruto.

Di hari kedua suasana di rumah duka itu tidak seramai hari pertama, walau masih banyak anggota-anggota militer yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir, sementara seorang Kepala Militer Angkatan Darat Jepang terus berusaha meyakinkan Kurama agar Naruto dikebumikan secara militer, bukan kremasi.

Kurama menggelengkan kepala, tersenyum lemah namun menjawab dengan mantap. "Adikku pernah berwasiat, Jendral. Dia menginginkan kremasi bukan pemakaman militer."

"Tapi adikmu berhak untuk itu," sahut Jendral tua itu keras kepala. "Adikmu seorang pahlawan, dia layak mendapat penghormatan militer untuk jasa-jasanya."

"Saya mengerti," jawab Kurama dengan helaan napas panjang. "Tapi Jendral, selain wasiat, anda pasti tidak lupa bagaimana kondisi jenazah adik saya bukan?" Kurama mendongak, menatap lurus wajah sang jendral tua yang berekspresi muram. "Tubuhnya tercabik-cabik akibat bom sialan itu, Jendral. Tubuh Naruto tidak sempurna, bagaimana bisa saya tega mengebumikannya?"

Sang jendral tua tidak menjawab.

Kurama menghela napas panjang, memejamkan mata saat kembali bicara dengan nada getir, "Namun di atas itu, saya memang tidak bisa menentang keinginan terakhir adik saya, Jendral, dan Naruto tetap akan dikremasi besok."

"Kalau begitu, izinkan kami mengebumikan abunya, atau sebagiannya saja, terserah padamu," pinta Jendral tua itu setengah memohon. "Berikan izinmu dan aku akan mengatur sisanya," tambahnya mutlak sebelum memberikan penghormatan terakhir dan berbalik pergi.

.

.

.

Hari kremasi pun tiba. Kurama mengenakan pakaian serba putih, berdiri dengan tubuh kaku sementara peti jenazah Naruto sudah diletakkan pada rantai penarik yang akan membawanya ke ruang pembakaran.

Kurama dan beberapa pelayat yang datang menyalakan dupa, memberikan penghormatan terakhir sebelum akhirnya peti dimasukkan ke dalam ruang pembakaran.

"Waktu baik -nya sudah tiba, Tuan Namikaze," ujar seorang pria paruh baya. "Silahkan menekan tombolnya untuk menyalakan tungku," pintanya pelan.

Perintah itu sudah dua kali dilontarkan, namun Kurama masih bergeming di tempatnya. Telinganya seolah-olah tuli, atau memang pada dasarnya ia tidak mau mendengar dan mengabulkan permintaan itu. Tidak bisa, ia tidak mungkin bisa melakukannya, namun di sisi lain jika bukan dirinya lalu siapa yang akan menekan tombol itu?

Hati Kurama diliputi kegamangan, apa ia akan tega saat api melalap tubuh adiknya hingga menjadi debu?

"Kurama?!" Itachi memanggil pelan di belakangnya. Wanita itu menyentuh bahu kokoh yang kini terlihat rapuh milik Kurama. "Sudah waktunya," bisiknya parau, tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya.

Dan Kurama pun bergerak pelan menuju tombol merah itu berada. Tangan kanannya terangkat di udara, hingga akhirnya dengan mantap ia menekan tombol itu, mengoperasikan tungku, dan tangis keras pria itu pun akhirnya pecah.

Kurama terduduk, menangis keras meluapkan kesedihan yang selama beberapa hari ini ditekannya kuat.

Kesedihan yang selama beberapa hari ini berusaha untuk diabaikannya.

Kesedihan yang selama beberapa hari ini disembunyikannya dengan sangat baik.

Air matanya turun deras mewakili kesedihan serta rasa sakit hatinya. Kurama menatap kedua tangannya yang kini bergetar hebat. Tangan yang beberapa saat lalu digunakannya untuk membakar tubuh tak bernyawa adiknya.

"Narutooo…?!" teriaknya histeris, membuat beberapa pelayat yang ikut menyaksikan proses kremasi itu ikut menangis karenanya. Sementara Fuu yang datang bersama rekan-rekannya yang lain hanya bisa menahan tangis dan memberikan salam penghormatan pada jasad Naruto.

Sementara di tempat lain, di satu ruangan rahasia rumah sakit militer di Tokyo, Bee berjalan dengan tergesa, sementara matanya menatap sosok wanita yang disangkanya telah meninggal dunia kini terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan segala peralatan medis menempel di tubuhnya.

"Apa-apaan ini?" tanyanya dari balik gemertuk giginya. "Kalian memalsukan kematian Naruto?" Bee berjalan cepat, lalu mencengkram kerah seorang pria yang tak lain merupakan kakak kandungnya sendiri. "Apa maksudmu ini, Jendral?" tanyanya lagi dengan kedua mata menyalang marah.

Pria yang dijuluki 'Raikage' itu mengangguk pelan, meminta tanpa kata agar Bee mau mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. "Kakashi menghubungiku beberapa hari yang lalu," terangnya membuat kedua alis Bee bertaut. Bee melepas cengkramannya lalu mengacak rambutnya dengan kasar, sementara mulutnya terus mengumpat, mengutuk kebodohannya karena dengan mudahnya ia tertipu oleh rencanan kakaknya ini.

"Kakashi mendapat perintah untuk melenyapkan Naruto," lanjutnya berhasil menarik perhatian Bee kembali. "Mereka sudah mengetahui jati diri Naruto, dan satu-satunya jalan untuk menyelamatkannya dan orang-orang yang dikenal olehnya hanya dengan cara ini."

"Dengan cara memalsukan kematiannya?" teriak Bee tepat di depan wajah Raikage.

"Benar," Raikage mengangguk pelan. "Hanya ini satu-satunya jalan," tambahnya tegas.

Bee mengerang, terlihat marah namun ia tidak bisa menampik jika ini memang jalan keluar yang terbaik untuk masalah mereka. "Tapi seharusnya kau mengkolsultasikan mengenai hal ini denganku dulu," serangnya sengit. Bee menyipitkan mata, menunjuk batang hidung kakaknya dengan kurang ajar. "Aku hampir gila karena satu dari anak buahku kritis di rumah sakit sementara satu lainnya meninggal dunia. Aku bahkan tidak bisa menatap mata Kurama saat menyampaikan berita buruk ini padanya!" raungnya kesal.

Bee mengusap wajahnya kasar, mengumpat keras lalu kembali menunjuk Raikage, "Kau seharusnya melihat bagaimana kondisi Kurama!" cecarnya marah. "Aku juga tidak memiliki muka saat bertemu dengan Azuma, sementara kau menyembunyikan hal ini untuk dirimu sendiri? Lalu mayat yang berada di dalam peti itu? Siapa dia?"

"Korban kecelakaan yang tidak diketahui identitasnya." Raikage menjawab dengan tenang. "Kami memilih postur yang menyerupai Naruto lalu merusak bagian wajah menembak bagian dadanya dan membuat tubuhnya terluka oleh pecahan bom yang sengaja kami ledakkan agar lukanya mirip dengan luka-luka yang diderita oleh Naruto."

Bee mengerjapkan mata, kedua tangannya terkepal erat, menahan marah.

"Aku terpaksa melakukannya," ujar Raikage tenang. "Selain itu aku juga sudah mendapatkan izin mengenai hal ini langsung dari Tuan Uchiha Fugaku."

"Apa?!"

"Beliau mengendus ketidakberesan di dalam tubuh kepolisian, Bee. Karenanya beliau memutuskan untuk menyetujui rencanaku ini," terangnya tenang. "Perihal pemalsuan kematian Naruto ini hanya diketahui oleh beberapa orang saja demi terjaminnya kerahasiaan. Selain itu," Raikage terdiam sejenak untuk menarik napas dalam. "Selain itu Kakashi memberi informasi jika salah satu petinggi kepolisian merupakan mata-mata dari bos besar."

"Sialan!" maki Bee keras. Wajahnya yang kusut karena kurang tidur dan stress terlihat semakin kusut. "Lalu, siapa mata-mata sialan itu?"

"Kita belum tahu," jawab Raikage terdengar menyesal. "Namun satu yang bisa kupastikan, Kakashi berhasil mendapatkan kepercayaan dari bos besar atas keberhasilannya ini."

"Lalu bagaimana keadaan Naruto?" tanya Bee khawatir. Ia meringis pelan saat melihat luka-luka di wajah serta tangan dan pundak Naruto yang masih tak sadarkan diri.

Raikage menghela napas berat. "Luka tembaknya tidak mengenai alat vital, namun hal itu tidak bisa membuat kita tenang," terangnya.

"Apa Kakashi sengaja menembaknya?"

Raikage mengangguk. "Ya," jawabnya parau. "Karena hanya itu satu-satunya cara untuk memastikan Naruto tetap hidup."

.

.

.

Orochimaru tergelak senang, terlihat puas saat empat orang wanita berpakaian minim itu menari di atas panggung bulat berukuran kecil. Penari-penari itu meliuk-liukkan tubuh mereka, menggoda pria-pria yang berkumpul di dalam ruangan berpenerangan redup itu.

Asap rokok mengepul, suara tawa terdengar sahut menyahut, berikut siutan tidak senonoh. Botol-botol minuman keras berserakan di atas meja, sebagian sudah kosong, sementara sebagian lainnya masih terisi setengahnya.

Orochimaru sangat senang atas keberhasilan yang dibawa oleh Kakashi—buku harian sialan itu kini berada di tangannya. Kesenangannya berlipat saat ia melihat rekaman video detik-detik Kitsune mati. Hal itu membuatnya senang dan memutuskan untuk mengadakan perayaan selama beberapa hari untuk merayakan kematian salah satu musuhnya.

"Anak buahmu tidak pernah mengecewakanku, Zetsu," puji Orochimaru. Tawa kerasnya terdengar keras dan puas sementara Zetsu mengembangkan senyum tipis, terlihat mencemooh ke arah Kabuto yang sejak kedatangannya terlihat tidak bersahabat. "Kitsune sudah mati, dan sekarang buku harian sialan itu sudah berada di tanganku," ujar Orochimaru menohok Kabuto dengan keras. "Aku sudah mengatakan padamu agar kau berhati-hati, Kabuto!" ucapnya dengan nada mengancam. "Jika Kakashi tidak berhasil membawa buku ini, bisa dipastikan organisasi kita dalam bahaya besar!"

Kabuto terdiam, sama sekali tidak bisa menjawab ucapan yang dikatakan dengan nada mengancam itu. Kabuto cukup sadar diri jika ia cukup beruntung karena Orochimaru tidak langsung membunuhnya atas keteledorannya. Atau belum? Kabuto mengumpat di dalam hati. Andai saja dulu ia tidak menyelamatkan Orochimaru saat bos besarnya itu terluka akibat luka tembak musuh mereka, mungkin ia sudah lama mati untuk menebus keteledorannya ini.

Orochimaru mengibaskan tangannya. Meminta seorang pengawalnya untuk menggiring wanita-wanita penghibur itu untuk masuk ke dalam sebuah kamar yang telah disiapkan.

Ketiga wanita itu tersenyum lebar, melayangkan sebuah senyum genit disertai dengan gekaran sensual yang menggoda. Mereka berharap akan mendapat bayaran sangat mahal untuk pekerjaan yang tengah mereka kerjakan saat ini, karena induk semangnya mengatakan jika klien yang tengah mereka servis sangat kaya, dan berpengaruh, tanpa sadar jika hidup mereka tengah dalam bahaya.

"Pilih wanita yang kau sukai, Kakashi!" ujar Orochimaru dengan mata memerah karena mabuk. "Kau bahkan boleh memiliki mereka semua," tambahnya dengan senyum jahat. "Gunakan mereka hingga kau puas," Orochimaru terdiam sejenak, tersenyum keji, "kau bahkan boleh membunuh mereka jika kau mau!"

.

.

.

"Jadi kau anak buah kesayangan Zetsu yang baru?" Anko mengerling nakal saat Kakashi memasuki kamar yang telah disiapkan oleh anak buah Zetsu untuknya. "Namaku Anko. Namamu Kakashi, bukan? Aku sering mendengar Tuan Zetsu memuji kemampuanmu."

Kakashi tidak menjawab membuat Anko menekuk keningnya dalam, lalu memperbaiki posisi duduknya di atas ranjang. Wanita itu mengamati pria berambut perak itu dalam diam, pria ini tidak seperti pelangganku-pelangganku yang biasanya, katanya di dalam hati.

Anko mengerucutkan bibir, sementara mulutnya sibuk mengunyak permen karet yang bahkan sudah tidak berasa. Anko biasa mengunyah permen karet untuk menyibukkan diri hingga melupakan kenyataan jika ia harus melayani pria-pria yang bahkan nyaris tidak dikenalnya.

"Jadi, kau mau bermain langsung atau blowjob?" tanya Anko lagi saat Kakashi memilih untuk duduk di atas sebuah sofa yang terletak di sudut kanan ruangan. Pria itu mengeluarkan sebatang rokok dari dalam saku kemejanya, menyalakannya dan menikmatinya dengan khidmat.

Hening.

Anko mendecih, benar-benar tidak suka karena untuk pertama kalinya ia tidak dianggap oleh pelanggannya. Dia jual mahal ruapanya, batin Anko kesal. Wanita itu mengeluarkan permen karet dari mulutnya, membuangnya ke dalam tempat sampah di sisi ranjang sebelum akhirnya turun, melucuti satu per satu pakaian minimnya hingga akhirnya ia berdiri telanjang bulat di hadapan Kakashi.

"Aku sudah siap," bisik Anko merayu. "Apa kau akan tetap diam di sana dan mengabaikanku?" ujarnya menekan kekesalannya yang semakin menggebu.

Kakashi menghela napas panjang, dengan gerakan malas ia melirik ke arah Anko. "Aku tidak berminat untuk menidurimu," terangnya menohok Anko. Harga diri wanita itu terluka dengan cepat. Demi Lucifer sang iblis, Anko belum pernah ditolak seperti ini. Pelanggannya bahkan seringkali memohon untuk diservis olehnya yang seringkali ditolak oleh Anko dengan sejuta alasan yang ampuh.

Dan pria ini, pria berambut perak di hadapannya ini secara terang-terangan menolaknya, bahkan ketika ia sudah telanjang bulat di hadapannya? Oh, yang benar saja!

Anko berdeham, memalingkan muka dan mendesah keras. "Apa kau memiliki penyimpangan seksual?" tanyanya membuat Kakashi tersenyum samar. "Katakan jika kau memang memiliki penyimpangan seksual, dengan begitu harga diriku tidak akan terlalu terluka!" ucapnya panjang lebar.

"Apa aku kurang cantik?" tanya Anko saat Kakashi tidak kunjung bicara, bahkan terlihat enggan untuk menatapnya.

Hening.

"Apa aku kurang seksi?" tanyanya lagi yang masih disambut oleh keheningan panjang. "Apa kau merasa jijik untuk menyetubuhi seorang pelacur sepertiku?" tanya Anko dengan kedua tangan terkepal di kedua sisinya. Ada sorot terluka di kedua bola matanya yang berkilat marah. Bukan keinginannya untuk terjebak di dalam lubang dosa seperti ini. Apa yang bisa dilakukan seorang anak berusia lima belas tahun yang ditinggalkan di sisi jalan setelah diperkosa oleh ayah tirinya? Sementara ibunya dengan terang-terangan menyalahkannya karena menganggap jika Anko-lah yang telah menggoda suami barunya itu.

Anko nyaris mati kelaparan jika tidak diselamatkan oleh Orochimaru—sepuluh tahun yang lalu, walau pada akhirnya penyelamatnya itu malah menjerumuskannya ke dalam dunia pelacuran ini.

Yah, setidaknya Anko bisa makan dengan teratur. Memiliki barang mewah yang dibayarnya dengan menjajakan tubuhnya. Tapi itu bukan masalah besar untuknya, karena kehidupannya bersama keluarganya jauh terasa seperti di neraka.

Anko menghentakkan kaki, lalu bergerak ke depan Kakashi, berjongkok dan nekad untuk menggoda Kakashi. Pria normal mana yang tidak akan tergoda oleh seorang wanita yang sudah telanjang bulat? Aku hanya perlu sedikit usaha, pikirnya keras kepala.

"Sudah aku katakan, aku tidak berminat untuk menidurimu!" Kakashi berkata dingin, tangan kanannya mencengkram pergelangan tangan kanan Anko yang berniat untuk membuka ritsleting celana jeansnya.

Anko memiringkan kepalanya ke satu sisi, tersenyum menggoda sementara tangan kirinya yang bebas kini mulai bergerak, menyentuh pusat kejantanan Kakashi. "Apa kau yakin?" tanyanya menggoda sembari menggigit bibir bawahnya.

Wanita itu masih kukuh dengan pendiriannya, ia tidak pernah ditolak dan malam ini Kakashi tidak akan lolos dari pesonanya. Anko berdiri, dengan sengaja menempelkan payudara telanjangnya di mulut Kakashi. "Kau boleh melakukan apa pun terhadapku, malam ini aku milikmu," ucapnya setengah mendesah.

"Jangan buat aku marah!" bentak Kakashi membuat Anko mundur beberapa langkah. Tubuh wanita itu bergetar takut, hingga ia memeluk dirinya sendiri lalu berjongkok di sisi ranjang dengan kepala menunduk dalam. "Brengsek, aku tidak bermaksud membentakmu," ujar Kakashi sembari mengusap wajahnya kasar. "Tapi kau benar-benar menggoda batas kesabaranku!" tambahnya dengan nada serak, marah.

Ia tidak bisa memikirkan hal lain karena yang ada dalam pikirannya saat ini adalah keadaan Naruto. Perasaan bersalah menekannya dengan kuat. Selama beberapa hari ini Kakashi terus berpikir, bagaimana jika tembakannya meleset dan mengenai organ vital Naruto?

Kakashi bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Kurama saat ini. Keponakannya itu pasti hancur hingga titik memprihatinkan sementara dirinya tidak bisa berada di sana untuk menjelaskan semuanya.

Bagaimana bisa Kakashi mengatakan pada Kurama jika Naruto baik-baik saja jika ia sendiri masih belum tahu kondisi terakhir keponakan kecilnya itu.

"Sialan!" Maki Kakashi getir.

Kakashi bergerak, berdiri, mengambil langkah panjang-panjang. Wanita ini bersedia diperlakukan seperti apa pun, maka Kakashi dengan senang hati akan melakukan hal itu untuknya. Ia akan menggauli wanita itu untuk menyalurkan rasa frustasinya. Berkali-kali hingga wanita itu tidak sadarkan diri.

Wanita itu, pelacur itu akan menyesali kekeraskepalaannya, janjinya sebelum menyeret Anko ke atas ranjang.

.

.

.

Di dalam kamarnya di asrama putra, Sasuke duduk termenung di atas ranjangnya. Kedua matanya menatap lantai ber-vinyl coklat, mengamatinya seolah-olah ada hal yang menarik di sana.

Pelan ia melirik ke arah meja belajarnya, dimana sebuah kalender duduk diletakkan. Hari ini adalah hari pemakaman Naruto.

Sasuke terkekeh pelan, begitu singkat sesingkat kedatangannya.

Mereka mengatakan jika Naruto tewas demi menyelamatkan nyawa penduduk sipil yang tidak berdosa. Naif! Pikirnya getir.

Apa yang didapatkan Naruto dengan mengorbankan nyawa seperti ini? Tanyanya di dalam hati.

Sebuah pemakaman dengan penghormatan ala militer?

Medali penghormatan sebagai tanda jasa?

Atau sebuah kebanggaan yang dibawanya hingga ke liang kubur?

Selama empat hari ini Sasuke menunggu, terus menunggu Naruto untuk menghubunginya, mengatakan jika dia baik-baik saja di suatu tempat dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, namun penantiannya sia-sia. Wanita itu tidak menghubunginya. Wanita itu tidak muncul di hadapannya dengan senyum bodohnya. Tidak ada.

Setelah memantapkan hati, Sasuke akhirnya menggerakkan tubuhnya menuju lemari pakaian. Ia mengambil satu stel pakaian dari dalam lemari. Pertama-tama ia mengenakan kemeja berwarna putih bersih berlengan panjang, lalu mengenakan celana panjang linen berwarna hitam, dan melengkapi penampilannya dengan sebuah jas berwarna sama dengan celana panjang dikenakannya.

Sasuke melihat cermin untuk melihat penampilannya, merapikan rambutnya dengan cepat dan tersenyum tipis. Naruto pasti senang melihat penampilanku hari ini, pikirnya, dan ia pun melangkah pergi meninggalkan kamar.

Di luar, salju turun, tidak turun terlalu deras namun mampu membuat siang di Kota Tokyo dingin dan kelabu.

Sasuke merapatkan mantelnya, terus melangkah hingga kedua kakinya membawanya ke tempat yang ditujunya.

Hampir satu tahun yang lalu ia juga pergi ke tempat ini. Dan sekarang ia kembali datang untuk mengucapkan selamat tinggal? Sasuke menggelengkan kepala pelan. Ia tidak datang untuk mengucapkan selamat tinggal.

Naruto tidak akan pernah pergi dari hidupnya. Wanita itu akan tetap ada di dalam hatinya, mengisinya hingga Sasuke menutup kedua mata untuk selama-lamanya.

Suasana di pemakaman itu sudah sangat sepi. Sasuke terdiam sejenak, berusaha untuk mengusir rasa sakit yang terus menghantam dadanya. Tenggororkannya tercekat, kedua matanya mulai memanas. Tuhan, tolong jangan katakana jika ia akan menangis sekarang?

Sasuke melepas napas yang sedari tadi ditahannya, rasa dingin yang menusuk tulang dihiraukannya. Ia kembali berjalan, setengah menyeret kakinya melewati jalan setapak yang sedikit licin karena salju yang telah membeku.

Pemuda itu bisa melihatnya—sebuah makam baru, tempat yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Naruto?

Dan ia pun terduduk, kepalanya menunduk saat membaca pemilik batu nisan yang berdiri dingin di hadapannya.

Naruto.

Sasuke berharap ia tengah bermimpi. Mimpi buruk yang akan segera hilang setelah ia terbangun nanti, dan ia berharap akan melupakan semua mimpi buruknya itu saat ia terbangun nanti.

"Semua orang mengatakan jika kau telah pergi," bisiknya disambut oleh desiran angin musim dingin yang perkasa. "Mengapa mereka mengatakan hal sejahat itu padaku?" tambahnya masih dengan kepala menunduk dalam. "Aku tahu semua ini hanya mimpi buruk. Iya, kan?"

Hening.

"Mereka mengatakan jika aku harus menerima kenyataan buruk ini, Naruto, tapi bagaimana bisa aku menerimanya?" tanyanya parau. "Kau bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal, jadi bagaimana bisa aku melepasmu pergi dengan sukarela?"

Kedua bahu Sasuke bergetar, angin musim dingin masih berhembus, membawa udara basah dan dingin yang menusuk tulang tapi Sasuke bergeming. Kedua tangannya terkepal erat di atas rumput yang tertimbun salju tipis.

"Apa kau begitu membenciku hingga pergi dengan cara seperti ini?" tanyanya, sakit hati. "Kau sangat bodoh Naruto!" bisiknya lagi diselingi isak tangis yang tak mampu dibendungnya lagi.

.

.

.

TBC

Sampai jumpa dichap selanjutnya ya! ^-^

#WeDoCareAboutSFN