Disclaimer : Naruto Shippuden Own Masashi Kishimoto
Character : Uzumaki Naruto, Hyuga Hinata
Pair : Naruto x Hinata (NaruHina)
Rating : T
Genre : Fluff, Romance
Tag : Alternative Universe, Royalty Kingdom, OOC, Typo[s, etc.
"Kencan?" Raut Naruto mengerut keras. Persis sembelit setelah mengganyang banyak sambal. Hinata tidak bisa tidak terkekeh melihatnya. Diamitnya jemari pemuda itu dengan jemarinya sendiri. Menggoyangkannya main-main ke arah depan dan belakang. "Kau tahu besok hari Minggu bukan?"
Hinata mengangguk. Tahu benar hari apa esok. Dia sudah meluangkan jadwalnya untuk seharian penuh. Menitipkan sebagian pekerjaan yang sekiranya masih bisa ditangani oleh Hanabi. Adik perempuannya menggerutu sebal. Hinata menjanjikan pertunjukan seni teater musim gugur di balai kota dan tambahan iming-iming latihan berkuda tiga hari berturut-turut.
"Aku harus menanam labu."
Senyumnya luntur. Naruto meneguk ludah. Jelas 'menanam labu' tidak ada dalam daftar hal-hal yang berpotensi menghalangi kesuksesannya acara menghabiskan waktu berdua dengan sang terkasih. Meski sudah memasuki musim pergantian tanaman, Hinata tidak mengharapkan pemuda itu akan menjadi begitu sibuknya seperti ini. "Tidak ada kencan?"
Nadanya pasti terdengar sangat sedih karena Naruto segera menangkup wajahnya dan menyejajarkan mata mereka. "Kau tidak ingin Hanabi mengomel karena tidak ada sup labu untuk seminggu ke depan 'kan, Nona Muda?"
Hinata terkikik. Menepuk pelan bahu pemuda pirang. Jika tahu penyebab hilangnya menu khas sup labu dari meja makan istana adalah Hinata, tidak perlu selidik bagi Hanabi untuk menemukan pelakunya. Anak itu bahkan langsung tahu saat persediaan pasokan bawang menipis tajam di dapur istana. Hinata berpura-pura menikmati hidangannya dengan khidmat.
Naruto ikut tersenyum. Jarinya tergerak menyelipkan helaian yang keluar dari bagiannya ke belakang cangkang telinga gadisnya. "Padahal Minggu adalah waktu senggangku." Hinata menghela nafas. Dia sudah bersemangat empat lima perjuangan. Tidak sabar menantikan hari yang bergulir terasa lambat.
"Bagaimana dengan menemaniku berkebun?"
Sekilat itu Hinata menghambur ke pelukan kekasih petaninya. Membuat Naruto terlonjak kaget dan nyaris terjungkal ke belakang. Matanya berbinar penuh harap. "Tapi akan ada pengawal yang mengawasi," desisnya terlalu antusias. Gelinya, Hinata justru tampak lebih tertarik pada ide terpergok penjaga istana merayap-rayap di sekeliling kebun belakang istana.
"Yah," Naruto mengedik, "Jangan sampai ketahuan kalau begitu," sahutnya usil.
"Janji?"
Hinata menyodorkan jari kelingkingnya. Naruto memutar mata tapi tak membiarkan jari itu menganggur dan mengapitnya dengan jari kelingkingnya sendiri.
Hinata memang bukan orang penanam. Satu-satunya tanaman yang diajari sang ibu cara menumbuhkannya langsung kepadanya adalah mawar putih dan tulip kuning. Ada di taman khusus dalam kastil. Pun hanya orang-orang tertentu yang diizinkan masuk untuk berkunjung. Hanabi bukan bakatnya. Kalau ingin dandelion yang gosong meranggas dijadikan contoh, sebaiknya jauhkan si bungsu itu dari berbagai macam jenis bunga.
Hinata, yah, bukan bakat namun ketekunannya merawat bunga masih bisa dijadikan pertimbangan. Maka dari itu, oleh tangan-tangan handal kekasihnya dalam urusan bercocok tanam, Hinata bertekad ingin belajar bagaimana lebih baik menghadapi satu dari dua sumber pangan rakyat terutama masyarakat kerajaan.
"Love."
Naruto tidak punya riwayat penyakit jantung, tapi mungkin sekarang dia bisa memilikinya. "Sabar, aku masih membersihkan ini."
Naruto tidak tahu apakah harus menyesali keputusan membawa Putri Kerajaannya ikut berkebun di kebun istana adalah ide yang buruk. Sangat buruk. Penyamaran itu juga tidak terlalu berguna. Buktinya, salah satu pengawal menyaksikan berkeringat dari pinggir tanah bajakan, putri mereka bergulat hebat dengan akar-akar ubi yang membelilit.
Menatap ngeri dan dibebani antara dua pilihan; melapor ke istana yang bisa saja sewaktu-waktu sang putri kehilangan nyawa dan dia akan dijanjikan hukuman penggal atau nekat ikut bergabung di lahan tani demi menolong sang putri yang pada akhirnya akan disogok balik dengan kayu penyangga tanaman merambat. Naruto mengasihaninya tulus.
"Tidak perlu khawatir! Ini bukan masalah besar."
... Dan tubuhnya telah terlilit separuh.
Naruto meletakkan cangkulnya. Menghampiri gadisnya yang dalam kesusahan nyata. "Oke, berhenti di sana," perintahnya sembari menggenggam pergelangan tangan Hinata yang meronta di udara. Hinata menurut. Menurunkan tangannya setelah menyadari usahanya hanya membuat ikatan semakin sulit dibuka.
Naruto menekan puncak kepalanya dan secara otomatis Hinata merunduk, berhasil melewatkan beberapa lilitan. Saat Naruto menyuruhnya berbalik, Hinata memutar, merentangkan tangan dan berdiri tegak. Samar-samar mendengar Naruto menggumam, "Kau ingin terbang atau apa."
Saat berhasil meloloskan diri, Hinata diam tak bergeming menatapinya. Naruto menaikkan alis penasaran. "Kau marah padaku?" Pertanyaannya terdengar sungguh-sungguh diucapkan.
Naruto mendengus. Mengibaskan dedaunan kering yang lancang menempel di mahkota biru sang putri. "Agak sebenarnya," jawabnya.
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu."
Naruto diam. Iris tak berpupil menatap langsung ke safirnya pun, dia setia membisu. Dia tidak akan mengurutkan; panas, kotor, bau, dan gadisnya masih mengatakan ingin mendampinginya. Meski guna hadirnya juga Naruto masih tidak tahu. Tapi...
"Ya?" Wajahnya memenuhi visi Naruto.
"Aku hanya khawatir."
"Tentangku?"
"Tentang kewarasanku."
Bukan pengawal, melainkan Naruto yang menjadi korban sogok tongkat penyangga di kebun. Tapi kalau ingin jujur, dia menghabiskan waktu menyenangkan seperti yang diharapkan. Bukan gemerlap cahaya menunjangkan romantisme. Juga bukan malam berbintang diselingi godaan manis. Cukup tempat sederhana seperti kebun belakang istana.
Ada kekasihnya ikut sedia membantu–tidak akan Naruto bilang tidak membantu sama sekali. Pengawal di seberang yang terlihat lebih lega dan rupanya senang saat harus membawakan mereka makan siang. Labunya berhasil ditanam. Hanabi tidak akan mengeluh untuk seminggu ke depan.
Dan Naruto mencuri kecupan kecil di bibir sang putri kerajaan, gadisnya.
Cal nge-ship banget sama pair ini huhu. satu-satunya ship saya yang canon di dunia perfanfiksian.
–Cal.
