Hello! Maaf lama nggak update.
.
.
.
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M
Genre : Crime, Action, Friendship, Romance, Angst
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo(s)
Note : Dilarang copy paste sebagian atau keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya! Yang bandel saya kutuk ngejomblo seumur hidup!
.
.
.
Under Cover
Chapter 18 : Misi Anko
By : Fuyutsuki Hikari
ANKO memasang ekspresi profesional terbaiknya saat melangkah masuk ke dalam ruang guru. Bau harum ruangan itu masih sama seperti yang diingatnya. Wanita itu membetulkan letak kacamatanya sembari menyisir ruangan yang sudah ditinggalkannya hampir selama hampir satu tahun.
"Senang sekali kau bisa bergabung kembali bersama kami." Guru Guy mengatakannya dengan keharuan yang berlebihn. Seperti biasa, pria itu mengenakan setelah pakaian olahraga ketat berwarna hijau tua yang terlihat mencolok dengan potongan rambutnya yang khas. Dia lalu menjabat tangan Anko dengan semangat lalu membawa wanita itu hingga meja kerja yang akan ditempatinya.
"Setelah Anda pergi, ada guru baru yang mengisi posisi Anda, sayangnya dia memiliki urusan keluarga hingga terpaksa izin dalam kurun waktu lama."
Penerangan dari Guy membuat Anko menekuk keningnya, heran. "Pihak sekolah memberi izin lama untuk seorang guru?"
Guy menganggukkan kepala, saat berjalan kembali menuju meja kerjanya. Pria itu membereskan beberapa buku di meja, tanpa menatap Anko dia menjawab, "Kepala sekolah sangat puas dengan cara mengajar Guru Hatake, karena itu beliau memberikan izin padanya untuk menyelesaikan masalah keluarganya dan kembali setelah siap."
Aneh, pikir Anko. Namun, wanita itu bersikap untuk tidak menunjukkan ekspresi tertariknya. Dengan acuh tak acuh dia kembali bertanya pada Guy untuk mengorek informasi, "Berapa lama Guru Hatake mengajar di sini?"
"Hanya beberapa bulan," jawab Guy, tanpa memiliki pikiran aneh pada pertanyaan yang dilontarkan oleh Anko. Menurutnya pertanyaan wanita itu sangat wajar. "Aku harus kembali mengajar," katanya, kemudian. "Guru-guru yang lain pasti akan sangat senang melihatmu lagi," sambungnya, tersenyum ramah.
"Saya akan mengajar di kelas 2-2 setelah jam pelajaran kedua," jawab Anko, balas tersenyum ramah.
Guy mengangguk sebelum pergi untuk mengajar di gedung olahraga, meninggalkan Anko yang langsung menanggalkan topeng ramahnya setelah ruangan itu sepi.
"Eh, kau guru pengganti itu?"
Pertanyaan itu membuat Anko memasang topengnya kembali. Dia bergerak, berdiri dari tempat duduknya dan menoleh ke arah sumber suara. Di belakangnya, Itachi berjalan bersama Kurama.
"Halo, saya Atarashi Anko, guru yang akan mengajar Bahasa Inggris," terangnya.
Itachi mengulurkan tangan dan menjawab sopan, "Uchiha Itachi." Wanita itu tersenyum saat Anko membalas uluran tangannya. Ia lalu menyikut pelan perut Kurama yang bersikap cuek. "Ini Guru Namikaze, dia mengajar matematika di kelas tiga," terangnya.
Anko menekuk kening, pura-pura heran melihat Kurama. Ia mengulurkan tangan lalu menariknya kembali setelah Kurama menjabatnya, singkat. "Saya belum pernah melihat Anda berdua sebelumnya."
"Ah aku lupa jika Anda pernah mengajar di sini sebelumnya," kata Itachi setelah menepuk pelan dahinya. "Dia sama seperti aku; kami guru baru di sini."
Anko menganggukkan kepala. Ia kembali menekuk keningnya, dalam. "Anda berdua tidak mengajar?"
"Kami mengajar kelas 3," terang Itachi, "sekarang sudah masuk waktu ujian masuk universitas, jadi tidak ada kelas mengajar kelas 3." Ia menjeda, mengamati buku-buku yang sudah ditata rapi di atas meja Anko. "Anda tidak mengajar?"
"Saya mengajar di jam ketiga," jawabnya, pendek.
Itachi mengangguk, samar sebelum pamit pergi dengan menyeret Kurama bersamanya. Dari belakang punggungnya, Anko mengamati sosok Kurama dan putri sulung keluarga Uchiha dengan tatapan menilai.
Senyum wanita itu terkembang, "Kau akan bekerja untuk Bos Orochimaru, Tuan Namikaze, dengan atau tanpa persetujuanmu," desisnya, menatap jahat.
.
.
.
Itachi memukul bahu Kurama saat mereka sudah berada di dalam ruang kerja pria itu. Sudah sejak satu bulan yang lalu Kurama mendapatkan ruang kerja terpisah dari rekan-rekannya yang lain. "Kenapa sikapmu seperti itu? Dia bisa salah mengira kau sombong!"
Kurama tidak langsung menjawab. Dia berjalan ke arah jendela, menatap langit biru di kejauhan. Warna langit mengingatkannya pada warna iris mata Naruto. "Aku tidak menyukainya."
Itachi menoleh lewat bahunya, keningnya ditekuk dalam. Ia kembali memusatkan perhatiannya pada teko listrik yang sedang diisi untuk memanaskan air. Wanita itu akan membuat dua cangkir kopi untuk menemani obrolan ringan mereka di cuaca dingin ini.
"Firasatku tidak pernah salah," kata Kurama. Tatapannya masih tertuju pada langit biru di kejauhan. "Ada sesuatu yang tidak aku suka dari wanita itu, dan jika Naruto ada, dia pasti akan berpendapat sama sepertiku," ujarnya, yakin.
Penuturan Kurama membuat hati Itachi terenyuh. Pria itu pasti tengah merindukan Naruto saat ini. Ia tidak mengira Kurama akan bekerja seperti biasa setelah upacara pemakaman adiknya selesai. Pria itu bersikap profesional seperti biasa, sama sekali tidak terlihat jika dirinya sedang berduka.
"Dia terlihat baik," Itachi buka suara. Ia menuangkan air panas ke dalam dua cangkir kopi lalu mengaduknya pelan sebelum membawanya ke meja kerja Kurama. "Jangan berpikir buruk pada seseorang yang tidak kau kenal, Kurama. Itu tidak baik," tegurnya, tanpa bermaksud menggurui.
Kurama menyisirkan jemari ke rambutnya yang belum dicukur. Ia lalu membalikkan badan, berjalan menuju kursi. Aroma harum kopi menariknya untuk menikmati rasa khas dari minuman itu. Keduanya tidak bicara untuk beberapa saat. Di atas kursinya, Kurama duduk bertopang kaki, sementara tangannya menggenggam cangkir kopi erat.
Pada akhirnya ia melepas napas panjang. "Kau benar," ujarnya, "tidak seharusnya aku menilai seseorang saat pertama bertemu." Itachi tersenyum simpul mendengar pengakuan Kurama. "Omong-omong, bagaimana keadaan Sasuke?" tanyanya, terselip nada khawatir dalam suaranya saat mengatakan hal itu.
Itachi menggelengkan kepala. "Masih sama," sahutnya, tersenyum miris. "Dia semakin pendiam. Sasuke bahkan tidak mau membicarakan masalah Naruto denganku."
"Aku akan mencoba bicara dengannya nanti." Kurama meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Ia menurunkan kakinya, lalu menepuk pelan punggung tangan Itachi, penuh pengertian. "Maaf, seharusnya aku bisa bicara dengannya lebih cepat."
"Kau juga mengalami masa berat, Kurama, aku tidak bisa menyalahkanmu untuk itu."
Kurama mengangguk, pelan. Napas pria itu terdengar berat saat dilepasnya.
"Apa ada hal lain yang mengganggumu?"
Kurama terlihat meragu saat akan menjawab pertanyaan Itachi, tapi pada akhirnya dia bersedia membadi kekhawatirannya itu. "Aku masih belum bisa menghubungi Paman Kakashi," terangnya.
Ia menjeda, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Kantung matanya menghitam karena kurang tidur. "Paman Asuma juga tidak tahu kemana Paman Kakashi pergi. dia menghilang tanpa jejak dan itu membuatku sangat khawatir."
"Apa kau sudah bertanya pada atasannya?"
Kurama mengangguk. "Jawaban yang kuterima dari mereka sama; pamanku sedang dalam misi dan tidak bisa diganggu."
"Bahkan saat keponakannya meninggal dunia?"
Ekspresi Kurama berubah serius. "Itu yang membuatku curiga," katanya. "Aku curiga Paman Kakashi tengah menyamar hingga tidak bisa muncul di pemakaman Naruto. Jika bukan karena alasan itu, lalu apa lagi?" Kurama mengangkat kedua tangannya ke udara. "Aku pasti akan menghajarnya jika dia pulang dan tidak memiliki jawaban yang bisa membuatku puas. Lihat saja, Itachi, aku benar-benar akan menghajarnya," janji Kurama dengan ekspresi serius.
.
.
.
Di tempat lain, Bee berlari saat mendapat kabar jika Naruto sudah sadarkan diri. Pria itu nyaris menabrak seorang perawat dengan tubuh besarnya. Dengan cepat dia membungkukkan badan sebagai tanda meminta maaf lalu kembali berjalan, lebih cepat.
Dia menunggu dengan tidak sabar di depan pintu lift yang tertutup. Rumah Sakit Militer masih terlihat sama dengan kesibukannya, siang ini, tapi di mata Bee tempat ini terlihat berbeda karena sekarang napasnya tidak lagi sesak oleh penyesalan karena Naruto terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit.
Sekarang Naruto sudah siuman. Ia mengatakan hal itu di dalam hati untuk menyemangati dirinya. Bocah nakal itu tidak lama lagi akan kembali bergabung dan membuat rusuh. Hangobie dan Sanbi akan bisa dikendalikan lagi oleh Naruto, sementara Fuu tidak akan terus berekspresi sedih karena ketidakberadaan Utakata dan Naruto.
Jujur saja, Bee merindukan pertengkaran Fuu dan Hangobie yang akhir-akhir ini mendadak harmonis dan sangat pendiam. Divisinya tidak ada bedanya seperti kuburan setelah Naruto dan Utakata tidak ada.
Bee bernapas lega saat pintu besi itu terbuka di hadapannya. Dia masuk dengan tergesa, lalu menekan tombol bertuliskan angka sepuluh. Giginya gemeretak tidak sabar saat pintu lift terbuka di lantai lima, tujuh dan delapan. Bee menunggu dalam ketidaksabaran hingga pintu lift kembali tertutup rapat dan naik ke lantai yang ditujunya.
Kedatangan Bee sudah ditunggu oleh Raikage, siang ini. Bee memberi salam ala militer pada Raikage lalu mengikuti langkah kakaknya itu masuk ke dalam ruang dokter yang bertanggungjawab atas pengobatan Naruto.
"Jadi, bagaimana dengan kondisi Naruto?" Bee bahkan belum duduk saat pertanyaan itu meluncur dari mulutnya. Pria itu sudah tidak sabar ingin melihat kondisi Naruto.
"Letnan Namikaze mengalami perkembangan kesehatan yang luar biasa," jelas dokter paruh baya, menjelaskan dengan tenang. Pria itu membuka map arsip yang mencatat perkembangan kesehatan Naruto. "Peluru yang bersarang di tubuhnya tidak mengenai organ vital, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan," lanjutnya.
"Berapa lama waktu pemulihannya?"
"Paling cepat sekitar satu bulan," jawab dokter. "Kami harus terus memantaunya, Jenderal Raikage." Ia menjeda, mengambil napas dalam dan melepasnya pelan. "Yang perlu kita awasi bukan kondisi fisiknya, tapi kondisi mentalnya."
Raikage dan Bee saling melempar tatapan. "Maksud Anda apa?"
"Sepertinya Letnan Naruto mengalami trauma berat saat kejadian itu terjadi, dan kita harus memastikan dia sembuh dari trauma itu sebelum kembali bertugas."
Raikage bisa mengerti jika Naruto akan trauma. Bagaimana tidak? Pamannya sendiri yang menembak dan menyerangnya hingga nyaris mati. "Boleh kami menemuinya?"
"Pasien sedang tidur karena pengaruh obat saat ini," terang dokter disambut helaan napas kecewa Bee. "Anda bisa menemuinya dua atau tiga jam lagi," sambungnya, meminta pengertian dari dua anggota militer di hadapannya.
.
.
.
Bee masih menekuk wajahnya saat mereka kembali ke markas besar, siang ini. Dia melempar topi yang dikenakannya asal ke meja Raikage lalu menghempaskan tubuh pada sofa terdekat. "Sekarang apa yang akan kau katakan pada Naruto?" tanyanya, menekan nada bicaranya untuk tetap tenang.
Raikage berjalan menuju sofa lain dan duduk dengan tenang. "Mengatakan yang sebenarnya pada Naruto, tentu saja. Apa lagi?"
Bee memijat pangkal hidungnya pelan, lalu menghitung di dalam hati. Dia tidak menyangka kakaknya masih bisa bersikap setenang ini setelah dokter mengatakan jika Naruto mengalami trauma kejiwaan. "Apa semudah itu?" tanyanya, setelah terdiam lama. "Apa kau akan menjelaskannya dengan sikap santai seolah itu bukan hal penting untuknya?"
Ia menjeda, menatap lekat kakaknya yang masih memasang ekspresi biasa. "Kakashi menembaknya, Kak. Bukan orang lain, tapi Kakashi!" pekik Bee, menggertakkan gigi. "Lalu apa yang akan kau katakan tentang kakaknya?"
Raikage masih tidak menjawab. Dia menunggu hingga Bee bisa tenang dan mengeluarkan semua kekesalan hatinya.
"Apa kau akan mengatakan bagaimana kakaknya meraung histeris saat pemakaman karena mengira adiknya telah tewas?"
Keheningan kembali menguasai ruang kerja Raikage yang luas dan nyaman itu. Suara detak jarum jam dan deru napas memburu menjadi dua suara yang terdengar di dalam ruangan itu untuk beberapa saat.
Hingga detik ini Bee masih menyimpan rasa bersalah karena menyembunyikan tentang kematian palsu Naruto. Dia bahkan mengatakan kebohongan itu pada Utakata. Raikage mengatakan jika Utakata memerlukan pemacu untuk berjuan sembuh, dan kematian Naruto bisa menjadi alasan bagus untuk itu.
"Kau sangat keji, Kak!"
"Ini untuk kebaikan mereka," jawab Raikage, berekspresi dingin. "Selain kau, tidak boleh ada yang tahu mengenai keberadaan Naruto," tegasnya, mutlak.
Ia terdiam sejenak, beranjak dari kursinya dan berjalan menuju meja kerja untuk mengambil sebuah arsip yang tersimpan di dalam brankas yang tersembunyi di bawah mejanya. Raikage lalu membawanya kembali pada Bee.
"Apa ini?" tanya Bee saat arsip itu berpindah tangan padanya.
"Utakata mengambil foto setiap halaman pada buku catatan yang ditinggalkan oleh Tayuya dan aku sudah mencetak semua isinya."
Kedua mata Bee terbelalak. Dia tidak percaya akan apa yang didengarnya hingga matanya membaca apa yang ada di dalam map itu. "Lalu, foto siapa ini?"
"Bos Besar," jawab Raikage, tenang. "Kakashi berhasil mendapatkan foto itu dan memberikannya padaku."
"Jadi dia bos dari Kelompok Hebi?" Bee tertawa, hambar. Tangannya menunjuk sosok yang ada di dalam foto itu. "Dia salah satu pengusaha besar di negara ini," ejeknya. "Selama ini dia tidak banyak disorot dan jarang bersosialisasi karena sangat tertutup. Desas-desus mengatakan jika dia sakit keras, ternyata itu bohong?"
Raikage menganggukkan kepala. "Karena itu kita harus berhati-hati, Bee. Walaupun Orochimaru sangat tertutup, tapi banyak pejabat yang dekat dengannya dan kita tidak tahu siapa diantara mereka yang berkhianat?"
Bee mengumpat di dalam hati. Perusahaan yang dipimpin oleh Orochimaru selama ini dikenal karena kedermawanannya. Namun, wakil pria itu mengatakan jika bosnya tidak bisa memberikan secara langsung karena sakit parah. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, Orochimaru hanya dua kali terlihat di publik setelah itu kembali menghilang.
Raikage menghela napas panjang sebelum kembali bicara, "Sebelumnya Kakashi pernah mengatakan jika Bos Besar yang menjadi pemimpin Hebi adalah Orochimaru, tapi aku tidak bisa mempercayainya tanpa adanya bukti."
"Kenapa kau tidak langsung mempercayainya?" Bee mengangkat kedua tangannya ke udara. "Masalah ini tidak akan terjadi jika kau mempercayainya."
"Kita tidak bisa melakukan apa pun tanpa bukti kuat, Bee. Kau tahu itu."
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?"
Raikage tidak langsung menjawab. Ekspresi seriusnya membuat Bee mengurungkan niat untuk bicara. "Kita masih memiliki waktu hingga transaksi senjata dimulai," katanya. "Hingga saat itu tiba, perintahkan anggota divisimu untuk mengadu domba anak buah Zetsu dan Kabuto, tapi akan lebih baik jika mereka juga membunuhnya."
"Anggota divisiku bukan mesin pembunuh." Bee protes keras.
"Ingat, Bee; anggota divisi khusus dilatih untuk itu," ujar Raikage, mengingatkan dengan dingin.
.
.
.
Sebuah ketukan di pintu membuat Sasuke turun dari atas ranjang dan berjalan menuju pintu kamarnya. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut saat mendapati Kurama berdiri di depan pintu kamar asramanya. Keterkejutannya berubah menjadi harapan. Ia melirik lewat bahu Kurama, berharap menemukan sosok lain yang dirindukannya berdiri di sana dengan senyum bodoh khasnya.
"Boleh aku masuk?"
Pertanyaan Kurama mengembalikan Sasuke dari lamunan pendeknya. Uchiha bungsu memiringkan tubuh, mempersilahkan sang guru sekaligus kakak dari wanita yang dicintainya untuk masuk ke dalam kamar.
"Mau kopi?" tawar, Sasuke dengan nada datar. Ia menutup pintu kamar pelan lalu mengekori Kurama masuk ke dalam kamar. Sasuke beranjak ke dapur kecil setelah mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Aroma kopi menguar saat Sasuke kembali. Dia meletakkan cangkir kopi untuk Kurama di atas meja. "Apa yang membuat Anda datang mengunjungiku?" tanya Sasuke, tanpa basa-basi.
Kurama menarik napas dalam-dalam. Untuk sesaat kalimat yang sudah disiapkannya lenyap tak bersisa. Kesedihan masih terlihat pada ekspresi Sasuke walau sang Uchiha bungsu berusaha untuk menyembunyikannya. "Tentang Naruto." Ia memulai dengan nada biasa.
Ekspresi Sasuke berubah saat nama itu meluncur dari mulut Kurama. Harapannya kembali membumbung. Bolehkah jika dia berharap Naruto masih hidup?
"Sudah saatnya kau melanjutkan hidup!"
Kalimat Kurama berikutnya membuat harapan Sasuke hilang, menguap seperti embun terkena sinar matahari. Ah, memangnya apa yang diharapkannya?
"Naruto sudah tidak ada, dan aku harap kau tidak terus larut dalam kesedihan—"
"Bagaimana dengan Anda?" Sasuke memotong ucapan Kurama, cepat. Tubuh Kurama menegang. "Yang kulihat, Anda pun masih belum bisa sepenuhnya melepas kepergian Naruto."
Ia menjeda, menciptakan sebuah keheningan mengganggu. "Dari semua orang, Anda yang paling tahu jika sulit untuk bisa bersikap seolah semua akan sama, karena semua yang berjalan tidak akan pernah sama lagi." Penegasan Sasuke menohok hati Kurama. Tentu saja dia tahu, karena hal itu juga yang dirasakannya setelah kematian Naruto.
Sasuke menelan dengan susah payah, tatapannya terarah pada telepon genggam dengan latar belakang foto dirinya dan Naruto. "Aku memiliki sebuah janji pada adikmu," kata Sasuke, senyum tipisnya terkembang saat mengingat janji yang diucapkannya pada wanita itu. "Aku pernah berjanji akan datang untuk melamarnya setelah aku pantas."
Kurama terdiam, ikut merasakan perasaan Sasuke saat ini. Dia tidak menyangka perasaan Uchiha bungsu pada Naruto akan sedalam dan seserius ini. Kurama berpikir akan memerlukan waktu lama untuk Sasuke sembuh, lalu membuka hati untuk wanita lain.
Desahan napas Sasuke menyentak Kurama kembali ke dunia nyata. "Walau adikmu sudah tidak ada, aku tetap akan mewujudkan mimpiku. Aku akan membuat diriku bangga hingga dia tidak memiliki celah untuk menertawaiku di sana."
"Sepertinya tidak ada yang perlu kukhawatirkan tentangmu," kata Kurama. Ia menepuk lututnya pelan, seketika ekspresinya berubah serius hingga nyali Sasuke mendadak ciut. "Jangan pikir aku tidak tahu jika kau sering keluar asrama, Sasuke!"
Sasuke menelan kering. Ia berusaha untuk tersenyum, tapi gagal. Kenapa kakak perempuannya menyukai laki-laki menyeramkan seperti Kurama, batinnya, gagal paham. Itachi jelas memiliki selera aneh untuk pria.
Ia berdeham, memastikan nada bicaranya terdengar normal saat bicara, "Aku hanya memerlukan waktu untuk menyendiri. Itu saja," terangnya, tidak mengubah ekspresi Kurama yang masih menyipitkan mata, tidak percaya. "Aku tidak akan melakukannya lagi," janjinya, tanpa bisa menatap Kurama secara langsung.
"Kau harus mengingat janjimu itu, Sasuke!" balas Namikaze sulung. "Aku akan menjadi wakil Naruto untuk mengawasimu!"
Sasuke beringsut, menaikkan kaki ke atas sofa. Tawa keringnya terdengar, memantul diantara tembok-tembok kamarnya. "Kak, apa kau belum mengantuk?"
"Kak?" beo Kurama, merinding lalu menyipitkan mata. "Sejak kapan aku menjadi kakakmu?"
"Bukankah kau akan jadi kakak iparku?" balas Sasuke, menekan rasa takut karena aura gelap yang dikeluarkan oleh Kurama. "Itachi tidak akan melepasmu," ujarnya berupa gumaman tdak jelas. "Aku sudah mengantuk." Ia kembali bicara, berharap tamu tidak diundangnya segera pergi dari kamarnya.
Kurama beranjak dari kursi yang didudukinya. Ia mencondongkan tubuh, mengulurkan tangan untuk mengambil cangkir kopi dari atas meja. "Terima kasih untuk kopinya!" ujarnya, menegakkan tubuh. Matanya kembali disipitkan, "Awas jika kau lupa akan janji yang kau ucapkan tadi!" desisnya sebelum berbalik pergi, meninggalkan Sasuke yang akhirnya bisa melepas napas lega setelah kepergian tamu istimewanya, malam ini.
.
.
.
Itachi menunggu dengan gusar di depan pintu dinas Kurama. Wanita itu berjalan mondar-mandir di sana, lalu berlari menyambut kedatangan pria yang ditunggunya dengan ekspresi gelisah. "Bagaimana? Apa dia mau mendengar ucapanmu? Apa Sasuke baik-baik saja?" cecarnya. Wajah Itachi yang terlalu dekat membuat Kurama sedikir risih.
Pria itu mengangkat tangannya, lalu memundurkan kening Itachi untuk menjauh dengan jari telunjuknya. Dengan tenang Kurama berjalan melewati Itachi. Ia merogoh saku celana, mengeluarkan kunci untuk membuka pintu.
Gerakannya terhenti saat ingat Itachi masih berdiri di belakangnya. Kurama menoleh, menatap Itachi lalu berdeham. "Duduklah!" ujarnya.
"Kau tidak mempersilahkan aku masuk?" Kening Itachi ditekuk dalam. "Setidaknya kau harus menawariku minuman hangat."
Kurama menyodorkan gelasp kopi ditangannya pada Itachi. "Aku belum meminumnya," kata pria itu, setelah berdeham, pelan. "Kau boleh memilikinya," sambungnya membuat Itachi memutar kedua bola matanya, jengah.
"Jadi bagaimana—"
Kurama mengangkat satu tangan tinggi untuk menghentikan ucapan Itachi. "Boleh aku bicara?" tanyanya, sopan. Itachi mengangguk sembari mendudukkan diri dengan nyaman di kursi rotan yang ada di teras rumah Kurama.
Wanita itu sedikit menggigil saat udara malam berembus, menyapu wajahnya. Kurama yang tidak tega akhirnya menghela napas, membuka pintu dan mempersilahkan Itachi untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Tidak perlu membuatkan air!" seru Itachi saat Kurama beranjak menuju dapur untuk menyeduh teh panas. "Aku bisa meminum kopimu," sambung wanita itu.
"Jangan meminumnya!" balas Kurama dari dalam dapur. Itachi membulatkan mata, menelan air kopi yang sudah terlanjur diseruputnya. Dengan hati-hati wanita itu menghapus bekas bibirnya pada permukaan cangkir. "Sasuke membuatkan kopi itu untukku," kata Kurama saat berjalan kembali ke ruang tamu.
Itachi memasang ekspresi polos, ia mengangguk pelan dan berterima kasih saat Kurama menyodorkan air teh hijau panas untuknya. Wanita itu berusaha menyembunyikan senyuman karena Kurama menyeruput kopi dingin itu tepat pada bekas bibir Itachi berada. Ia bisa tahu karena jejak lipstiknya masih sedikit tersisa di sana.
"Kenapa kau berekspresi seperti itu?" pertanyaan Kurama membuat Itachi tersenyum canggung. Wanita itu mengibaskan tangan di depan wajah, berusaha untuk mendinginkan dirinya yang untuk seperkian detik terasa panas.
"Jadi bagaimana?"
Itachi mengumpat di dalam hati, kenapa Kurama melakukan hal itu lagi? Pria itu sengaja berlama-lama menyeruput kopinya, dan lagi-lagi tepat di bekas bibir Itachi. "Kurama bisakah kau berhenti minum dan mengatakan apa yang terjadi saat kau menemui Sasuke?"
Kurama menaikkan satu alisnya tinggi. "Ini kopiku, rumahku, sofaku, mulutku, kenapa kau harus repot mengurusinya?"
Penuturan Kurama membuat Itachi menghela napas panjang. Dia berjanji dalam hati akan membalas perbuatan Kurama jika mereka sudah menikah nanti. Senyum wanita itu melebar hingga Kurama merinding, ngeri.
"Itachi, sepertinya kau sakit."
"Eh?" Itachi mengerjapkan mata lalu dengan cepat menggelengkan kepala. Dia berusaha untuk fokus. Namun, bagaimana bisa fokus jika bibir Kurama terus menempel pada bekas bibirnya? Seketika Itachi ingin menjadi cangkir kopi itu.
Hei, apa sehat cemburu pada sebuah cangkir? Tanyanya, di dalam hati.
"Sasuke baik-baik saja, Itachi," jawab Kurama setelah meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Ia terdiam sejenak, terlihat ragu sebelum akhirnya bicara dengan nada dan ekspresi serius. "Aku tidak emnyangka adikmu sangat serius menyukai Naruto."
Itachi melepas napas panjang, kedua tangannya dilipat di depan dada. "Anak kecil saja bisa tahu kalau Sasuke sangat mencintai adikmu, Kurama," sahutnya, gemas. "Nuntuk kau tahu; Naruto cinta pertama adikku."
Ia menjeda, menggelengkan kepala, samar. "Karena alasan itu aku sangat mengkhawatirkan Sasuke. Selain kau, adikku yang paling terpukul atas kematian Naruto."
Kurama mengangguk, akhirnya paham. "Aku dengar adikmu mengajukan aplikasi untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Apa benar?"
Itachi mengangguk. Ia menyeruput teh hijaunya pelan setelah meniupnya.
"Bukankah Sasuke akan melanjutkan ke akademi militer sebelumnya?"
Itachi mengangguk lagi, lalu meletakkan cangkir tehnya di atas meja. "Ya, tapi Sasuke berubah pikiran setelah Naruto tewas. Dia mengatakan pada orang tua kita—"
"Kita?" potong Kurama, membeo."
"Maksudku, orang tuaku," jelas Itachi setelah berdeham. Dia memaki dalam hati. Kesal karena mulutnya selalu keseleo di hadapan Kurama. "Dia mengatakan jika dia akan bersinar seperti Naruto dengan caranya sendiri."
Kurama menelan kembali kalimat yang sudah berada di ujung lidahnya saat bel pintu rumahnya berbunyi. Dia dan Itachi saling melempar tatapan. "Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini?" tanyanya, dengan malas dia mengangkat pantatnya lalu berjalan untuk membuka pintu. "Guru Atarashi?"
Itachi menegakkan punggung saat indra pendengarannya menangkap nama yang disebut oleh Kurama. "Kenapa dia datang menemui Kurama di malam buta?" Mengikuti kata hatinya, Itachi berjalan untuk menyusul Kurama.
Anko terlihat terkejut mendapati Itachi berada di kediaman Kurama saat ini. "Aku datang untuk meminta gula," ujarnya, dengan ekspresi meyakinkan. "Apa aku mengganggu?"
Sangat mengganggu, batin Itachi. Jika hanya perlu gula, kenapa tidak meminta pada Itachi yang kediamannya lebih dekat daripada Kurama. Well, sebenarnya rumah mereka saling berdampingan. Tapi, tetap saja jarak rumah Anko dan Kurama lebih jauh daripada jarak rumah Anko dan Itachi.
Itachi mencium sesuatu yang tidak beres. Namun, ia memaksakan diri untuk tersenyum. "Sebentar akan kuambilkan untukmu," ujarnya. Wanita itu bersikap seolah sudah hapal betul isi rumah Kurama.
Ia terlihat sedikit panik sekaligus kikuk saat berada di dapur Kurama. "Dimana dia menyimpan gula?" bisiknya sembari membuka satu per satu lemari makanan di dalam dapur. Sebuah tepukan di bahu membuatnya tersentak. Di belakangnya Kurama tersenyum tipis lalu menunjuk ke arah sebuah lemari yang berada persis di samping lemari pendingin.
"Aku yang akan membawa ke depan," kata Itachi dengan mata disipitkan.
Kurama hanya mengendikkan bahu, mempersilahkan Itachi untuk melenggang keluar dapur dengan gula di tangan. "Ini gula yang kau minta," kata Itachi, tersenyum ramah pada Anko yang masih menunggu di luar pintu. Uchiha sulung itu terlihat senang karena Kurama tidak mengizinkan Anko untuk masuk ke dalam rumah.
Anko mengangguk, samar, senyumnya terkembang. "Maaf jika aku mengganggu waktu kalian," tukasnya, memasang ekspresi bersalah. "Tadi aku mengetuk pintu rumahmu, tapi tidak ada jawaban."
Itachi mengibaskan tangan di depan wajah. "Tidak masalah! Selamat malam, Guru Atarashi!" ujarnya, lalu menutup pintu pelan.
"Apa?" kata Kurama saat Itachi menatapnya tajam, persis seperti seorang istri yang marah karena memergoki suaminya berselingkuh dengan wanita lain. "Aku tidak mengundangnya datang ke rumahku," sambungnya. Ia berjalan melewati lorong pendek untuk kembali menuju ruang tamu. "Bukankah sudah saatnya kau pulang?"
Itachi bergeming, masih menatap Kurama tajam. "Kau selingkuh!"
"Siapa yang selingkuh?" Kurama berbalik cepat lalu berjalan ke arah Itachi dan mendorong punggung wanita itu untuk pergi dari kediamannya.
"Jangan pernah membuka pintu rumahmu untuk wanita selain aku!" Itu sebuah perintah dan Itachi mengatakannya dengan sangat tegas.
"Selamat malam, Nona Uchiha!"
Itachi masih cemberut saat berdiri di depan pintu rumah Kurama. Pria itu masih menatapnya, meminta Itachi pergi dengan isyarat tangan. "Sudah malam," tegas Kurama. Ekspresi pria itu berubah saat Itachi menghambur ke arahnya, memeluknya erat lalu mendaratkan sebuah kecupan ringan di pipi sebelum menghambur pergi, berlari untuk melarikan diri.
"Kau tidak berubah," gumam Kurama, senyum tipisnya terkembang, malam itu dan pintu pun ditutup rapat setelahnya.
.
.
.
Anko menaikkan satu alisnya tinggi. Dari balik tirai jendela rumahnya dia mengamati Itachi yang berlari masuk ke dalam kediamannya. "Jadi Kurama memiliki hubungan khusus dengan Itachi?"
Ia tersenyum sinis, kepalanya dimiringkan ke satu sisi saat tangan lincahnya mengetik di atas layar telepon genggam untuk melaporkan hasil pengamatannya, setengah hari ini. "Akan lebih mudah jika aku menculik Itachi untuk mengancam Kurama," desisnya setelah menekan tombol kirim.
Anko menaikkan satu alisnya tinggi saat melihat nomor tidak dikenal di layar telepon genggamnya. Ia terlihat malas walau pada akhirnya mengangkat sambungan telepon tidak dikenal itu. Anko baru saja akan menyapa saat bentakan terdengar dari ujung sambungan telepon.
Kening wanita itu ditekuk semakin dalam. Suara itu milik Fang, 'kan? Dia tidak mungkin salah mengenali suara. "Kenapa kau tiba-tiba menanyakan keberadaanku?" tanya Anko. Ia tersenyum tipis, satu tangannya yang bebas memainkan rambut pendeknya.
"Aku bertanya kau dimana?" suara Kakashi terdengar sangat mendesak.
Anko tidak langsung menjawab. Wanita itu mendudukkan diri di atas sofa, kedua kakinya dinaikkan ke atas sofa. "Merindukan tubuhku?" Wanita itu mendengkus saat mendengar geraman tertahan Kakashi. Entah sejak kapan dia memiliki hobi baru; menggoda Fang.
Keheningan dari ujung sambungan akhirnya membuat Anko tidak tahan. "Aku sedang dalam misi," katanya. "Tapi aku akan kembali jika kau memerlukan kehangatan dariku."
"Kembali sekarang!" ujar Kakashi.
Anko menegakkan tubuhnya. "Sekarang?" beonya. Wanita itu menggigit bibir bawah, terlihat ragu. Akan jadi masalah besar jika Orochimaru tahu dia kembali saat misi berjalan.
"Aku tidak bisa," katanya. Dia terlalu takut pada kemarahan tuannya. Sambungan telepon yang terputus membuatnya semakin serba salah. Anko tidak bisa berpikir jernih, dia langsung menyambar kunci mobilnya dan melesat keluar untuk menemui Kakashi.
.
.
.
TBC
Sampai jumpa dichap selanjutnya ya! ^-^
#WeDoCareAboutSFN
