Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M
Genre : Crime, Action, Friendship, Romance, Angst
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo(s)
Note : Dilarang copy paste sebagian atau keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
Under Cover
Chapter 19. Mengawasi Kurama
By : Fuyutsuki Hikari
ITACHItidak bisa menyembunyikan kekesalannya saat kembali ke ruang guru. Wanita itu menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Jika tahu akan terus melihat wajah Anko, dia tidak akan meminta dipindahkan ke ruangan guru dan meninggalkan ruangan yang telah disiapkan untuk dirinya.
Wanita itu merebahkan kepala di atas meja. Di samping mejanya bertumpuk ratusan kertas ujian bulanan murid yang harus segera diperiksanya.
Itachi menghela napas, terdengar lelah. Sikap ramah Anko pada Kurama dirasanya sangat berlebihan. Dengan satu kali tatap saja dia sudah tahu jika guru pengganti Kakashi itu tengah berusaha untuk menarik perhatian mantan kekasihnya.
Gigi Itachi gemeretak, tangannya menggenggam sebuah pensil erat hingga patah terbelah dua. Wanita itu mengerjapkan mata, ekspresi datarnya berubah menjadi masam saat melihat sosok pria yang tengah ada dalam pikirannya berjalan masuk ke dalam ruang guru dengan santai.
Beruntung ruang guru masih sepi, pagi ini. Jika tidak, mereka yang ada di dalam ruangan itu pasti akan memilih menyingkir saat melihat aura yang menguar dari diri Itachi.
Kurama menaikkan satu alisnya tinggi saat tatapan pria itu bersirobok dengan Itachi. Tanpa kata dia berjalan melewati meja kerja Uchiha sulung menuju ruang kerja pribadinya. Dia tidak mengatakan apa pun saat telinganya menangkap suara hak sepatu wanita yang beradu dengan lantai, di belakangnya.
Dengan ketenangan yang sama Kurama membuka pintu ruang kerjanya. Ekspresi pria itu berubah, penuh curiga saat mendapati Anko berada di sana, berdiri di depan jendela dengan tangan diletakkan di belakang punggung.
"Apa yang Anda lakukan disini?"
Itachi terlihat kaget saat Kurama tiba-tiba menghentikan langkah lalu mengeluarkan pertanyaan dengan nada sangat dingin. Dia menyentuh hidungnya yang menabrak punggung Kurama, lalu mencuri lihat lewat bahu pria itu.
Ekspresi Itachi sama masamnya, dia memandang penuh curiga pada Anko yang membalikkan badan dengan sikap anggun. Wanita itu mengulum sebuah senyuman manis pada Kurama.
"Aku menunggumu," kata Anko, tatapannya lalu beralih pada Itachi. "Ah, ada Guru Uchiha rupanya," sambungnya dengan nada manis berlebihan.
Itachi hanya mengangguk samar. Tangan kanannya secara spontan dikalungkan pada lengan Kurama. Wanita itu mengunci tatapan Anko.
Uchiha sulung menyipitkan kedua mata, merasa terancam saat Anko menyelipkan anak rambut ke belakang telinga dan tersenyum. Sial, kenapa senyumnya sangat manis? Itachi membatin. Dia semakin merapatkan diri pada Kurama. Itachi mengabaikan protes tanpa kata pria di sisinya itu, dan malah balik memberitan lirikan mematikan.
Kurama menghela napas panjang. Dengan kesabaran yang semakin menipis dia berusaha bersabar menghadapi Itachi yang sedang cemburu.
"Jadi rumor kalian sepasang kekasih itu benar?"
"Ya," jawab Itachi cepat. Tidak ada sedikit pun keraguan dalam nada bicaranya. Dengan gerakan pelan dan angkuh dia mengangkat dagunya tinggi. Secara terang-terangan dia mengatakan kepemilikannya atas Kurama. "Apa yang Anda lakukan di sini, Guru Atarashi?" Pertanyaan itu dilontarkan dengan nada tajam dan penuh selidik.
Keheningan pun menggantung untuk beberapa saat. Itachi kembali melemparkan delikan maut saat Kurama berusaha untuk melepaskan diri darinya.
Anko mengangguk samar, mengerti. Dia memasang topeng terbaiknya. "Tentu saja," ia mulai bicara, "pria setampan Guru Namikaze tidak mungkin belum memiliki kekasih."
Telinga Itachi memerah, panas mendengar pernyataan Anko. Wanita itu merasa semakin terancam. Anko secara terang-terangan mengatakan rasa sukanya pada Kurama.
"Tapi, aku tidak akan menyerah."
Kedua mata Itachi terbelalak. Dengan cepat dia melepas lengan Kurama dan mengambil satu langkah ke depan. Kedua tangannya dikepalkan erat. "Apa maksudmu?"
Anko mengabaikan pertanyaan Itachi. Tatapan wanita itu terarah pada Kurama. "Aku akan kembali datang untuk mendiskusikan masalah pesta perpisahan dengan Anda nanti," katanya, penuh penekanan ada kata akhirnya. "Sampai jumpa, Guru Namikaze!"
Kurama tidak menjawab. Pria itu memeluk perut Itachi yang seperti sudah siap menerjang dan menjambak rambut Anko yang berjalan melewatinya dengan senyum penuh kemenangan. "Ada apa denganmu?" tanyanya setelah Anko berlalu pergi dan pintu ruangan Kurama kembali ditutup rapat.
Ia menjeda, melepas pelukannya lalu menghela napas panjang. "Tidak biasanya kau bersikap seperti ini," sambungnya. Kurama berjalan melewati Itachi, dia meletakkan buku yang dibawanya di atas meja kerja, menarik kursi lalu duduk di sana dengan sikap tenang.
Sikap biasa Kurama menambah kekesalan Itachi yang sudah siap meledak. Wanita itu menggertakkan gigi. Kedua tangannya dilipat di depan dada. "Kenapa kau terlihat tidak terganggu dengan keberadaannya?"
Kurama tidak menjawab.
"Apa kau menyukainya?"
Hening. Tidak ada satu orang pun yang berbicara untuk beberapa waktu hingga keheningan menguasai ruangan itu. Sepi membuat suasana menjadi semakin canggung.
"Jadi kau menyukainya?" tuduh Itachi, suaranya gemetar, menahan kesal.
Hanya desahan Kurama yang terdengar setelahnya. Pria itu menatap Itachi dari balik bulu matanya. "Kenapa kau harus semarah itu? Apa aku terlihat menyukainya?"
Itachi tidak menjawab.
"Dia datang karena akan mendiskusikan masalah pesta perpisahan denganku. Itu saja."
Itachi berjalan cepat menuju meja Kurama. Kedua tangannya bertumpu di atas meja. "Dia masuk ke dalam ruanganmu tanpa izin. Kenapa kau tidak merasa curiga?"
"Aku berniat menanyakan masalah itu padanya tadi, tapi kau menggangguku." Kurama memasang ekspresi terganggu saat menatap Itachi. "Aku akan menanyakan padanya nanti—"
"Tidak perlu!" Itachi memotong ucapan Kurama, cepat. Wanita itu menegakkan tubuhnya kembali. "Aku yang akan menanyakannya."
"Kenapa?"
Kurama tersentak kaget saat Itachi menggebrak meja lalu menarik dasi yang dikenakan pria itu. "Karena kau milikku!" sahut Itachi. Ia memiringkan kepala ke satu sisi, dan dikecupnya ringan bibir pria itu yang sedikit terbuka. "Kau harus mengingatnya Namikaze Kurama!" perintah Itachi setelah melepas bibir Kurama yang masih terlihat terkejut. Wanita itu menaikkan satu alistinggi, merapikan rok kerjanya yang sedikit naik lalu berbalik pergi, meninggalkan Kurama yang hanya bisa menggelengkan kepala di belakang punggungnya.
Di luar ruangan, Anko masih mempertahankan air muka biasanya. Wanita itu masih terlihat sangat terkejut saat mendapati foto salah satu anggota divisi khusus yang tewas di tangan Kakashi. Dengan langkah tergesa dia berjalan meninggalkan ruangan. Secepatnya dia harus mencari tahu hubungan antara Kurama dan wanita di dalam foto tadi.
Senyumnya terkembang cerah saat melihat sosok Guy yang baru saja keluar dari gedung olahraga. Anko membungkuk hormat, memberi salam dengan sopan lalu berjalan di samping salah satu guru seniornya.
"Guru Guy, boleh aku bertanya sesuatu?"
Guy menoleh singkat ke arah Anko. "Apa yang mau Anda tanyakan?"
"Tentang Guru Namikaze."
Mulut Guy membentuk huruf 'O' besar setelah mendengar penuturan Anko. Dia tidak menyangka Kurama bisa menarik perhatian guru muda cantik seperti Anko. "Apa yang ingin Anda tahu tentangnya?"
Anko tidak langsung menjawab. Wanita itu memilih pertanyaan dengan hati-hati. "Saya melihat foto seorang wanita di dalam ruangan Guru Namikaze. Siapa dia?"
Guy menatapnya menuh arti lalu menggoyang-goyangkan telunjuk di depan wajah Anko. "Apa Anda merasa tersaingi?" Ia balik bertanya. Guy sudah melihat foto di dalam ruangan itu. "Wanita itu bukan kekasihnya."
Helaan napas panjang Anko disalahartikan oleh Guy. Wanita itu sengaja melakukannya untuk mengelabui lawab bicaranya saat ini. "Dia adiknya."
Sebuah kesiap halus meluncur dari mulut Anko. "Adiknya sangat cantik," puji wanita itu. Kali ini tidak ada kebohongan. Dia memang berpendapat jika adik Kurama itu cantik dan menarik, sekaligus berbahaya. Sayang sekali Naruto seorang anggota divisi khusus. Wanita itu tidak akan mati jika tidak mengenal dunia hitam yang dikendalikan oleh seorang Orochimaru.
Guy mengangguk, setuju. Tatapannya menerawang, menatap langit kelabu di kejauhan. Pria itu merapatkan mantel yang dia kenakan, lalu mengangkat satu tangan menjawab salam dua orang murid yang berpapasan dengannya di lorong. "Namanya Namikaze Naruto."
Pria itu menjeda, tersenyum tipis. "Sebuah nama unik untuk seorang wanita cantik sepertinya." Kekehan Guy terdengar hangat sekaligus miris. Ia lalu menghela napas, terlihat muram saat kembali bicara. "Adik Guru Namikaze sudah tewas."
"Tewas?" Anko membeo, pura-pura terkejut. "Kenapa?" tanyanya setelah Guy menganggukkan kepala.
"Tewas saat bertugas."
Keheningan menggantung diantara mereka untuk beberapa saat. Keduanya terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Anko merasa heran karena sepertinya Guy mengenal dengan baik adik dari Kurama.
"Tewas karena tugas?" gumam Anko sembari menekuk kening dalam. "Memangnya apa pekerjaannya?" tanyanya. "Jika melihat dari foto, kurasa dia masih sangat muda ... ehm, seperti siswi SMA."
Guy tidak langsung menjawab. Pria itu berjalan dengan berpunggung tangan. "Dia memang tidak terlihat seperti wanita berusia dua puluh tiga tahun," sahutnya, setuju. "Naruto ... dia anggota militer." Pria itu menoleh singkat pada Anko, mengulum senyum tipis penuh kebanggaan. "Kau pasti menyukai Naruto jika mengenalnya."
Anko tertawa di dalam hati. Menyukai wanita itu? Yang benar saja. Hidupnya akan berada dalam masalah jika bertemu dengan Naruto, batinnya. Kehidupan mereka saling bertolak belakang.
"Dia tewas saat bertugas."
"Anda terdengar seperti mengenalnya dengan baik," sambar Anko, menekan nada bicaranya agar terdengar biasa. "Bukankah Guru Namikaze juga masih baru di sini? Tapi, kenapa Anda bisa mengenal adiknya?"
"Karena Naruto pernah sekolah di sini," jawab Guy, tenang. "Dia tidak pernah merasakan duduk di bangku SMA sebelumnya, oleh karena itu dia menyamar menjadi murid dan sekolah di sini bersama murid lainnya."
"Hingga sejauh itu?" Anko lagi-lagi bertanya. Rasa ingin tahunya semakin membesar. Naruto; seorang anggota divisi khusus tidak mungkin masuk dan menyamar menjadi murid SMA hanya karena ingin merasakan menjadi murid SMA. Alasannya terlalu sederhana, batin Anko. Dia tidak mungkin bergerak sendiri, pikirnya, pasti ada orang lain yang membantu Naruto.
"Bisakah kita tidak membicarakannya lagi?" pinta Guy, setengah memohon. Ada nasa sedih yang terselip dalam nada bicaranya saat mengatakan hal itu. "Guru Atarashi, jika boleh aku sarankan; sebaiknya jangan menaruh hati pada Guru Namikaze," kata Guy, setelah mendapatkan ketenangannya kembali.
Pria itu mengulum senyum tipis saat melihat ekspresi terkejut sekaligus ingin tahu Anko. "Dia kekasih Guru Uchiha. Jangan merusak hubungan mereka!" pintanya lagi, sembari menepuk bahu kanan Anko dan berlalu pergi setelahnya.
Di tempat lain, Kakashi tidak bisa melakukan sesuatu untuk menghubungi markas besar. Kegelisahan sekilas terlihat pada wajahnya, tapi ekspresi itu segera berlalu, digantikan oleh ekspresi keji saat dia mematahkan leher seorang anggota Hebi. Pria yang menjadi korbannya kali ini telah mengkhianati Orochimaru dengan menjual barang milik tuannya itu lalu mengambil sepertiga hasil penjualan untuk masuk ke dalam kantung pribadinya.
Muu tersenyum miring, cukup terkesan oleh pekerjaan Kakashi yang rapi dan efisien. "Aku menginginkan kepalanya!"
Itu sebuah perintah. Tanpa kata, Kakashi mengambil pedang yang diulurkan oleh Muu lalu memenggal kepala korban yang baru saja tewas di tangannya itu. Kepala pun terpisah dari badan. Dengan enteng dia menjambak rambut dan mengangkat kepala di tangannya ke depan wajah Muu.
Apa yang dilakukan Kakashi mengundang tawa Muu. Suara tawa pria itu menggema, memantul pada dinding ruang penyiksaan yang dibangun Orochimaru khusus untuk memberi pelajaran pada anak buahnya yang berkhianat. Tidak ada satu pengkhianat yang bisa keluar dari ruangan itu hidup-hidup. Akhir cerita mereka selalu sama; berakhir di dalam kantung mayat.
Sesekali terdengar raungan kesakitan dari arah lain. Namun, hal itu tidak mengusik kegembiraan Muu. Dia menepuk pundak Kakashi, mengambil kepala dari tangan pria itu lalu melemparnya ke sudut ruangan. "Aku akan menjadikanmu seperti diriku," ujarnya, penuh keyakinan.
Tawa kerasnya kembali terdengar. "Tuan Orochimaru tidak hanya akan memiliki diriku saja sebagai algojo, tapi kau pun akan menjadi algojo, sama seperti diriku."
Kakashi tidak menjawab. Pria itu hanya mengangguk hormat, sebagai ucapan terima kasih atas penghargaan tinggi yang diberikan Muu padanya.
Sementara itu, Kabuto masih tidak bisa duduk dengan tenang. dia sudah mendengar jika Anko disusupkan kembali ke Konoha High School. Pria itu menggertakkan gigi. Hampir satu tahun yang lalu Anko dimasukkan ke sekolah elit itu untuk melenyapkan Tayuya, tapi sekarang apa alasan Orochimaru memasukkan Anko ke tempat yang sama?
"Yama?" panggilnya keras. "Yama?" Ia kembali memanggil saat Yamato tidak kunjung datang pada panggilan pertamanya. Kabuto melempar gelas vodka di atas meja ke arah Yamato saat pria itu datang terburu-buru ke dalam ruangan minim cahaya yang ditempati oleh Kabuto.
"Apa kau tuli?" tanyanya, mengancam.
Darah menetes dari pipi kiri Yamato yang terkena pecahan gelas vodka yang dilempar oleh Kabuto. "Maaf, Bos, aku tidak mendengar panggilan Anda!" ujarnya, dengan sikap dan nada tenang mengagumkan.
Kabuto mendecih, meludah sembarangan untuk menunjukkan kekesalannya. "Apa kau sudah mendapatkan semua yang kuminta?" tanyanya, tidak basa-basi. Kabuto sudah tidak memiliki banyak waktu lagi sekarang ini.
"Aku sudah membawa sejumlah uang dari dalam brankas rumah Anda," jawab Yamato.
"Apa masih banyak polisi yang mengawasi rumahku?"
Yamato mengangguk, tidak menjawab lebih lanjut. Dia merasa beruntung karena Kabuto mengizinkannya keluar hingga Yamato memiliki sedikit kesempatan untuk menghubungi Bee dan mengatakan jika Orochimaru memasukkan seorang mata-mata ke dalam Konoha High School.
Tawa Kabuto menyentak Yamato dari lamunan pendeknya. Pria itu memukul pahanya pelan. Dia berpendapat lebih baik jika rumahnya dikepung oleh polisi daripada dikuasai oleh Orochimaru. Setidaknya polisi tidak bisa menemukan ruang rahasia tempatnya membuat obat-obatan terlarang serta menyimpan uang dalam jumlah besar.
Ah, dengan uang yang berhasil dibawa oleh anak buahnya dia bisa pergi, bersembunyi untuk beberapa waktu saat Orochimaru tidak menginginkannya lagi. Kabuto menekuk keningnya dalam. Tapi, dia tidak perlu bersembunyi jika tahu siapa yang sedang diincar oleh Orochimaru. Dengan begitu, bosnya tidak akan memiliki seseorang yang bisa menggantikan posisi Kabuto di dalam organisasi.
"Aku menginginkan nyawa siapa pun yang tengah diincar oleh Orochimaru di dalam sekolah itu."
Permintaan Kabuto hanya ditanggapi Yamato dengan ekspresi datar. Dia tidak mengatakan apa pun, dan memilih untuk mendengarkan penuturan Kabuto hingga selesai. Siapa pun yang menjadi target Orochimaru benar-benar sial. Dia mungkin akan mati di tangan Kabuto, atau dipaksa menjadi anggota Hebi oleh Orochimaru. Dan Yamato tidak bisa memikirkan kesialan apa yang lebih menakutkan daripada dua hal tadi?
.
.
.
"Mereka menyusupkan mata-mata ke dalam sekolah—" Bee tidak melanjutkan kalimat yang sudah berada di ujung lidah saat melihat tamu yang sedang berkunjung di dalam ruang kerja Raikage. Pria itu langsung memberi hormat ala militer saat melihatnya.
Danzo menganggukkan kepala, sekilas dia melirik ke arah Raikage lalu kembali menatap Bee. "Apa yang membuatmu begitu tergesa-gesa, Kapten?"
Pertanyaan itu dilontarkan dengan nada tenang, tapi penuh penekanan. Bee tidak langsung menjawab. Ingin rasanya dia menenggelamkan diri ke dalam lautan.
"Jadi?" Danzo kembali bertanya saat tidak mendapat jawaban dari Bee. Ia berjalan, menepuk pundak Bee pelan dan kembali bicara dengan nada dan ekspresi yang sama, "Aku baru saja menanyakan sesuatu hal pada Jenderal Raikage," sambungnya, "beberapa anak buahmu, mantan anggota divisi khusus terlihat dibeberapa klub malam milik Hebi, Kapten Bee."
Ia menjeda, membalikkan badan dalam satu gerakan. "Boleh aku tahu kenapa mereka bisa berada di sana?"
Bee menatap lekat Raikage yang masih memasang ekspresi datar. Mereka dalam masalah jika rencana Uchiha Fugaku tercium dan terbongkar. "Sayangnya aku tidak tahu apa yang mereka lakukan di sana, Jenderal," jawab Bee, tenang.
Dia berbalik untuk menatap langsung Danzo dan tersenyum muram. "Mereka bukan anak buahku lagi," sambung pria itu dengan ekspresi menyesal berlebihan. "Aku tidak bisa mengawasi mereka."
Danzo terlihat tidak terkesan dengan jawaban yang diberikan oleh Bee. Jawaban sang kapten sama persis seperti yang dikatakan oleh Raikage tadi. Namun, walau begitu dia tidak berusaha untuk bertanya lebih lanjut. "Aku berhak tahu semua rencana yang kalian susun," katanya, setelah terdiam beberapa saat.
Ia menjeda, ditatapnya Raikage dan Bee bergantian. "Kedudukanku sama denganmu, Jenderal Raikage. Masalah keamanan negara menjadi tanggung jawabku juga," tekannya. "Aku tidak akan memiliki muka dihadapan kaisar, perdana menteri dan menteri pertahanan jika teror yang dilakukan oleh Hebi terus mengancam negara ini."
Raikage dan Bee tidak menjawab. Keduanya diam membisu.
"Untuk saat ini aku tidak akan bertanya lebih jauh pada kalian." Danzo kembali bicara, memutus keheningan yang sempat tercipta. "Ingat; sebaiknya kalian jangan bermain dengan api!" tegasnya sebelum undur diri.
"Bagaimana dia bisa tahu?" tanya, Bee setelah Danzo pergi. Ekspresinya terlihat sangat serius. Mata hitamnya mentap tajam mata Raikage. "Apa mungkin salah satu anggota kita mata-mata Danzo?"
Raikage melepas napas panjang. "Kita tidak bisa menarik kesimpulan dengan cepat," ucapnya. "Dia memiliki banyak mata-mata yang tersebar jadi wajar saja jika dia mulai mengendus rencana kita."
"Sebenarnya dia lawan atau kawan?" Bee bertanya gemas.
"Kita tidak bisa menebaknya dengan sembarangan," jawab Raikage. Dia menuang kopi dari dalam teko ke dalam cangkir. Kopinya sudah dingin, tapi pria itu tetap menikmati setiap tetesannya dengan nikmat.
"Bagaimana jika dia mata-matanya?"
Raikage meletakkan cangkir kopi di atas meja lalu mengangkat satu bahu. "Mata-mata itu bisa siapa saja," ucapnya, "mungkin dia, aku atau kau. Kita semua bisa menjadi tersangka, Bee."
Bee terdiam, tidak langsung menjawab. "Tapi dia sudah mendengar informasi yang ..." Ia menjeda, terlihat khawatir. "Yang tidak sengaja kukatakan," sambungnya setelah menemukan suara kembali. Keteledorannya bisa merusak rencana mereka. "Omong-omong, apa kau sudah tahu masalah mata-mata yang disusupkan Orochimaru ke dalam sekolah?"
Raikage mengangguk, ekspresinya berubah dingin. "Aku sudah menemukan mata-mata itu."
Ucapan Raikage disambut helaan napas lega Bee. "Apa kau tahu siapa yang memasukkan mata-mata itu ke dalam sekolah?"
Raikage mengangguk dan menjawab, "Salah satu kolega Orochimaru," terangnya. "Dengan kekayaan yang mereka miliki, mereka bisa dengan mudah mengubah identitas seseorang dan menggunakannya untuk kepentingan kelompok mereka."
Ia terdiam sejenak, jemari tangannya diketuk-ketukkan ke atas meja. "Yang perlu kita tahu; apa tugas mata-mata itu di sana?"
Bee ikut memasang pose berpikir. "Bukankah Yamato mengatakan jika Kabuto berpikir Orochimaru sedang mencari penggantinya?" Pria itu mengatakannya dengan penuh penekanan. Bee kesal karena divisinya masih belum diberi perintah untuk menangkap Kabuto. Raikage berpikir jika Kabuto belum boleh ditangkap karena akan dijadikan pion untuk menghancurkan Hebi dari dalam tubuh mereka sendiri.
Raikage menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam. "Sepertinya apa yang dipikirkan Kabuto benar; Orochimaru sedang mencari pengganti kedudukan Kabuto." Dia menggertakkan gigi, mengabaikan tatapan Bee yang memandangnya dengan kening ditekuk dalam. "Siapa pun yang diincarnya, harus bisa kita amankan, Bee."
"Tapi siapa yang mereka cari?" Ia melepas napas panjang, lalu menyusurkan jemari tangan ke rambut yang belum dipotong selama tiga minggu. "Kita tidak bisa bertaruh saat ini," ucapnya. Bee menyesal karena Yamato juga tidak tahu siapa yang tengah diincar oleh Orochimaru di dalam sekolah.
Namun, ekspresi wajah Raikage membuatnya heran. Dia mengangkat satu alisnya tinggi. "Kenapa kau berekspresi seperti itu?"
"Awasi Kurama!" perintah Raikage, membuat Bee terkesiap. Benar, jika Orochimaru mencari seorang jenius untuk menggantikan tugas Kabuto maka Namikaze sulung adalah orang yang sangat tepat.
Bee mengangguk paham. "Aku akan mengutus Hangobi dan Fuu untuk mengawasinya secara rahasia," ucapnya lalu undur diri untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Raikage.
.
.
.
Waktu yang berlalu seolah menelanjangi jiwa Naruto. Wanita berambut pirang itu terduduk di depan jendela ruang inap tempatnya dirawat selama hampir dua minggu ini. Ia tercenung, menatap jauh ke luar jendela kamarnya yang tertutup rapat. Luka-luka di tubuh terasa tidak ada bandingannya dengan luka hati yang kini dia rasakan.
Selama ini dia terlihat seperti wanita tegar, tangguh, cerewt, keras kepala dan selalu mampu menyelesaikan setiap persoalan dan terkesan tak acuh. Dengan benteng yang dibangun tinggi dia mampu menyembunyikan kerapuhan diri. Namun, sekarang saat duduk seorang diri, dia merasa takut.
Tanpa bisa ditahan air mata wanita itu turun dari ujung-ujung mata. Kilasan masa lalu datang silih berganti di dalam kepalanya. Setelah kematian kedua orang tuanya, Kurama menjadi pilar sekaligus penyemangat bagi Naruto untuk melanjutkan hidup, begitu juga sebaliknya. Walau Kurama menyembunyikan beberapa hal darinya pun sebaliknya, mereka tetap saling menyemangati dan melindungi satu sama lain.
Rasa sakit menarik wanita itu dari lamunannya. Naruto menghela napas, terdengar lemah dan lelah. Sudah beberapa hari ini dia tidak bisa tidur dengan nyenyak tanpa bantuan obat tidur. Kondisi Kurama menjadi pikirannya. Siapa yang akan memberi kakaknya penghiburan?
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hati Kurama hancur saat berita kematian Naruto disampaikan padanya. Namun, wanita itu tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi kakaknya saat tahu jika kematian Naruto hanya sebuah kebohongan.
Wanita itu takut, sangat takut jika kakaknya akan membenci Uchiha Fugaku. Bagaimanapun rencana ini disusun oleh sang menteri pertahanan. Bagaimana jika Kurama menyalahkannya atas kejadian ini? Bagaimana jika hal itu memengaruhi hubungan kakak sulungnya dengan Itachi?
Naruto menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Bayangan Sasuke melintas dalam benaknya. Reaksi Uchiha bungsu pasti sama dahsaytnya seperti Kurama. Dia tidak tahu, apa Sasuke akan bersyukur karena Naruto masih hidup, atau sebaliknya; membenci atas kebohongan yang dilakukannya?
Sudah terlalu banyak kebohongan yang dikatakan Naruto pada Sasuke. Dan entah sudah berapa kali pria itu memaafkan dan melupakan semua kebohongan yang dilakukan oleh Naruto.
"Apa kali ini kau akan memaafkanku?" Ia bergumam lirih, terdengar penuh harap. Sebuha harapan yang berusaha dipertahankannya dalam diri.
Di luar, salju turun dengan deras. Naruto mengulurkan tangan, menghapus embun pada jendela kamarnya. Senyumnya terkembang lemah, ia kembali menghela napas lelah. "Kuharap kau baik-baik saja Uchiha Sasuke!" doanya tulus.
.
.
.
Orochimaru menatap layar telepon genggamnya dengan ekspresi datar. Tanpa menunggu lebih lama dia menerima sambungan telepon itu. Sambungan itu diterimanya dari nomor sebuah telepon umum yang ada di pinggiran Kota Tokyo. "Berita apa yang kau bawa?" ekspresinya berubah dingin. Nada kejam tidak bisa disembunyikan oleh pria itu dalam suaranya.
"Aku sudah tidak bisa bergerak bebas sekarang. Mereka mengawasi semua orang."
Orochimaru memutar kursi putarnya untuk melihat keluar jendela. Salju turun sangat deras di luar.
"Kau harus segera menyingkirkan mata-mata yang mereka kirim."
"Jangan memerintahku!" sahut Orochimaru dingin. Ucapannya disambut keheningan berat setelahnya. "Kakashi sangat penting untukku. Kemampuan membunuhnya sama seperti Muu." Dia menjeda, menyunggingkan senyum tipis yang terlihat jahat. "Akan sangat menyenangkan jika aku bisa memaksanya untuk bekerja padaku."
Geraman berat terdengar di ujung sambungan telepon. "Kau memelihara binatang liar. Kita tidak tahu kapan binatang itu akan menggigit tuannya."
Orochimaru tertawa mendengar peringatan yang diucapkan oleh salah satu mata-mata terbaiknya. "Kau tidak perlu memikirkan aku. Yang perlu kau lakukan hanya satu; singikirkan semua orang yang menghalangi rencana kita!" perintahnya dengan nada tegas. "Aku ingin semua mereka mati!"
Sambungan telepon pun terputus setelahnya. Ekspresi Orochimaru berubah dengan cepat. Pria itu berekspresi datar, tapi kedua matanya berkilat penuh tekad. Sebuah ketukan pada pintu ruang kerjanya mengembalikan dia dari lamunan pendeknya.
"Bos Besar, Bos Zetsu meminta izin untuk menghadap," kata seorang pria yang kini berdiri di depan pintu ruang kerjanya yang setengah terbuka.
Orochimaru hanya mengangguk samar menjawab ucapan itu. Dia menggeliat di atas kursi, mencari posisi yang lebih nyaman saat dua orang pria lain berjalan masuk ke dalam ruangannya dan memberi hormat.
Zetsu langsung memberikan laporan tanpa berbasa-basi. Ekspresinya terlihat sangat terganggu setelah selesai bicara.
Orochimaru menguap lebar, mengabaikan tatapan kedua anak buah yang terarah padanya, menunggu jawaban. Laporan Zetsu beberapa saat yang lalu tidak membuatnya kaget, sebaliknya dia sudah mengira jika hal itu akan terjadi.
"Beberapa anak buahku melihat Anko menyelinap masuk ke dalam apartemen yang ditempati oleh Fang," lapor Zetsu kembali bicara setelah terdiam lama. "Wanita itu sudah berani bertindak tanpa persetujuanmu, Bos." Dia terus memanas-manasi Orochimaru.
Zetsu menggertakkan gigi. Ruangan berubah hening untuk beberapa saat. "Aku tahu dia salah satu pelacur nomor satu milikmu, tapi tindakan Anko sudah diluar batas, dia menggoda Fang, atau mungkin sudah jatuh cinta padanya." Dia mengangkat bahu tak acuh, "Aku tidak tahu, hanya saja hubungan Anko dan Fang jelas akan membuat konsentrasi Fang terpecah."
Dia menjeda, menunggu jawaban dari Orochimaru. Kedua mata tajamnya mengamati lekat gerak-gerik tuannya. "Anda harus melakukan sesuatu untuk memisahkan mereka," pintanya, dengan ketenangan mengagumkan.
Orochimaru tidak langsung menjawab. Seorang wanita yang sedang jatuh cinta akan berubah menjadi sangat keras kepala. Anko sudah seperti anaknya sendiri, dia mengambilnya dari jalanan dan membesarkannya hingga Anko bisa menjadi bagian dari kelompoknya, tapi itu dulu, sebelum wanita itu menambatkan hati pada seorang pria. Sepertinya Anko sudah lupa jika pelacur milik Orochimaru tidak boleh jatuh cinta. Terlebih pada seorang pria seperti Kakashi. "Setelah tugasnya selesai segera singkirkan Anko!"
Ucapan Orochimaru membuat Zetsu tersenyum tipis. Dia terlihat sangat puas mendengar putusan yang dikeluarkan oleh tuannya. Konsentrasi Fang tidak boleh pecah hanya karena seorang wanita. Oleh karena itu, sebelum semuanya terlalu jauh, mereka harus menyingkirkan Anko, pikir Zetsu.
"Musuh bisa menggunakan Anko sebagai kelemahan Fang," ucap Orochimaru, memasang ekspresi serius. Dia menopang dagu dengan kedua tangan, ekspresinya terlihat keji dan serius. "Dia akan kujadikan algojo, sama seperti Muu," sambungnya tenang. "Kelompok kita memerlukan banyak anggota yang memiliki kemampuan seperti Muu dan Fang. Aku tidak bisa kehilangan Fang hanya karena seorang wanita."
Ia menjeda, tatapannya beralih pada Muu. "Lenyapkan Anko segera setelah misinya berakhir!" perintahnya, tegas. "Lalu perintahkan Fang untuk melenyapkan Kabuto."
Orochimaru tersenyum tipis. di dalam kelompoknya hanya yang paling kuat yang akan bertahan. Perubahan Kabuto bisa membuat seluruh organisasi hancur, oleh karena itu sebelum penyakit menyebar luas, Orochimaru memilih untuk menyingkirkan akar penyebab penyakit itu. Singkirkan hingga semua terbabat habis tak bersisa. Kematian Kabuto pasti akan membawa ketenangan di dalam organisasinya. Semua orang harus patuh pada perintah, danpada akhinya anggota yang tertinggal hanyalah siapa yang bisa bertahan dan berguna untuk kelompok mereka.
Di tempat lain, Hangobi dan Fuu sudah bersiap di tempat untuk mengawasi Kurama. Mereka menempati posisi paling strategis di sekolah ini; menara sekolah untuk mengawasi gerak-gerik Anko yang setiap hari terlihat jelas terus berusaha menempel pada Kurama.
Fuu meneguk minuman kaleng bersodanya. Satu tangannya memegang sebuah teropong. Bibirnya mendesis saat menangkap gerakan manja Anko yang bergelayut manja pada tangan kiri Kurama. "Dasar tidak tahu malu!" gumamnya. Ada nada tidak suka terselip dalam nada bicaranya.
Mendadak Fuu ingin sekali keluar untuk menemui mereka lalu menjambak rambut Anko. Wanita ular itu harus diberi pelajaran. Berani sekali dia menggoda Kurama? Fuu bertekad akan melindungi Kurama dari perangkap Anko.
"Kenapa ekspresimu seperti itu?" Gobi bertanya dengan nada menyindir. Dia meneguk kopi panasnya pelan, menikmati setiap tetesnya dengan khidmat. "Tatapan matamu bisa membunuhnya ..." Gobi berdeham, tidak melanjutkan ucapannya. Hubungan keduanya sedikit membaik setelah mereka harus kehilangan Naruto dan Utakata. Mereka berusaha saling mengisi, bekerjasama untuk membalas kematian Naruto yang mereka mengira sebuah kebenaran.
"Jika Naruto tahu dan masih hidup, dia pasti akan menembak mati wanita ular itu," ucap Fuu, mendesis. Matanya masih melihat jauh lewat teropong di tangan. "Aku akan membunuhnya terlebih dahulu sebelum dia melakukan sesuatu pada Kurama."
Gobi mengerti apa yang dirasakan oleh Fuu saat ini. Keduanya langsung setuju saat Bee memberi perintah untuk mengawasi Kurama. Mereka tidak perlu berpikir lama untuk menerima pekerjaan itu. Kurama orang paling penting bagi Naruto, dan itu berarti dia juga penting untuk mereka.
"Aku akan keluar untuk mengawasi Anko," ucap Gobi.
Fuu menoleh, menurunkan teropongnya. "Kau harus berhati-hati! Seseorang bisa mengenalimu."
Gobi mengangguk, paham. Dia mengenakan sebuah topi jerami ke kepalanya lalu mengacungkan sebuah gunting rumput tinggi. "Jangan khawatir, aku tidak akan membuat mereka curiga."
"Siapa yang akan memotong rumput di cuaca seperti ini?" keluh Fuu, geram. "Gurauanmu tidak lucu." Dia menekan nada bicaranya, berusaha untuk tidak tersulut oleh pria yang kini melempar senyuman lebar ke arahnya.
Gobi hanya mengangkat satu bahunya ringan. Dia membuka topi jeraminya, meletakkan gunting rumput di atas meja terdekat, lalu merapatkan jaket musim dinginnya. "Awasi kamera pengintai dengan seksama!" perintahnya tegas sebelum berjalan pergi untuk mengawasi Anko.
.
.
.
TBC
Sampai jumpa dichap selanjutnya! ^-^
#WeDoCareAboutSFN
