Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M

Genre : Crime, Action, Friendship, Romance, Angst

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo(s)

Note : Dilarang copy paste sebagian atau keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

Under Cover

Chapter 21.

By : Fuyutsuki Hikari

WAJAH Naruto memucat seketika saat melihat gudang besar yang berdiri beberapa puluh meter di depannya nyaris habis dilalap oleh api. Wanita itu menoleh pada Bee yang terlihat sama terkejutnya. Pria di sampingnya mengumpat kasar sembari mengeluarkan sebuah telepon genggam dari dalam saku celana.

Bee berteriak keras saat Naruto berlari menuju gudang itu. "Apa yang kau lakukan?" bentaknya sembari menyentak pergelangan tangan wanita itu kasar. Mulut Bee kembali mengumpat, dia mengusap wajahnya. "Apa kau mau mati?"

Naruto tidak langsung menjawab. Tubuhnya menggigil. Alat pelacak Bee menunjukkan jika Kurama berada di dalam gudang sialan yang tengah terbakar. Bagaimana Naruto bisa berpikir dan bersikap tenang jika kemungkinan besar kakak sulung dan Sasuke terperangkap di dalam bangunan itu.

"Kita harus mencari mereka," ucap Naruto. Suaranya bergetar, frustrasi. Tangannya menunjuk ke arah gudang. Beberapa ledakan kembali terdengar. Asap pekat menyelimuti bangunan itu. Nyala api yang berkobar membuat sekitar mereka terang seperti siang. "Aku harus menyelamatkan mereka—"

"Naruto?" panggilan dari belakang punggung wanita itu bernada ketidakpercayaan. Naruto langsung berbalik saat mengenali pemilik suara yang memanggil namanya tadi. Tepat di belakang punggung wanita itu, Sasuke berdiri, menatap lekat Naruto dengan ekspresi yang sulit diartikan.

.

.

.

"Sasuke?" Naruto bergumam lirih. Keduanya saling berpandangan, tapi tidak mengatakan apa pun setelahnya. Satu tangannya diletakkan di depan dada. Ada banyak hal yang ingin diucapkan oleh Naruto, tapi lidahnya mendadak terasa kelu. Dia tidak bisa mengatakan apa pun. Penyesalan, rasa bersalah dan kelegaan bercampur aduk dalam ekspresinya saat ini.

Bee menjadi orang pertama yang bicara, memecah keheningan yang terasa menyesakkan. Pria itu berjalan ke arah Sasuke, mengamati dengan teliti sang Uchiha bungsu. Luka lebam dan lecet pada wajah dan leher Sasuke membuat Bee mengumpat pelan. "Kau tidak bersama Kurama?" tanyanya sembari menarik Sasuke dan Naruto untuk masuk ke dalam mobil.

Mereka harus segera pergi dari tempat ini.

Helikopter milik kepolisian terbang di atas mereka. Bee langsung melambaikan tangan, memberi isyarat jika dia bukan musuh. Suara sirine terdengar dari kejauhan. Pria itu segera masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya.

"Mereka tidak boleh tahu kau masih hidup," kata Bee merujuk pada Naruto. Wanita itu tidak menjawab. Kedua matanya mengawasi Sasuke dari kaca spion mobil.

"Mereka membawa Guru Namikaze," ucap Sasuke setelah terdiam lama. Mobil yang dikendarai Bee bergerak tidak mulus melewati jalan penuh kerikil untuk keluar dari komplek gudang tua itu. "Guru Namikaze menyembunyikanku saat puluhan orang pria tidak dikenal datang menyerang," sambungnya, tanpa ekspresi.

Sasuke menjeda, matanya terpejam beberapa detik. Rasa bersalah menghantuinya. Seharusnya dia tidak menuruti perintah Namikaze sulung dan ikut membantu melawan pria-pria berpakaian serba hitam tadi. "Mereka membawanya dalam keadaan pingsan."

Kedua tangan Naruto terkepal erat mendengarnya. Tidak salah lagi, orang-orang itu pasti anak buah Orochimaru yang diperintahkan untuk menculik Kurama.

"Jangan mengatakan apa pun lagi, Sasuke," ucap Bee, bersikap tenang. Dia langsung menghubungi markas besar untuk melaporkan jika Sasuke berhasil mereka temukan dengan selamat. "Mengenai Naruto ..." Ucapannya menggantung. Bee melirik singkat ke arah Sasuke lewat kaca spion mobil. "Kau bisa bertanya mengenai Naruto pada ayahmu," sambungnya tidak menyadari punggung Sasuke yang berubah kaku dan tegang.

.

.

.

Tidak ada satu pun kalimat yang meluncur dari mulut Sasuke untuk Naruto. Pria itu bahkan terlihat enggan untuk melihat wajahnya. Naruto bisa maklum jika Sasuke kecewa dan marah. Pria itu memerlukan waktu untuk sendiri.

Bee membawa kendaraannya menuju markas militer pusat dengan kecepatan penuh. Sepanjang perjalanan kendaraanya sangat sepi, hingga udara di sekitarnya terasa berat dna mencekik. Pria itu menatap Naruto yang memilih menatap keluar jendela dengan penuh

perhatian, lalu tatapannya beralih pada Sasuke yang juga memilih menatap keluar jendela mobil.

Pria itu membuang napas keras. Untuk pertama kalinya dia merasa sangat canggung dan ingin perjalannya ini segera berakhir. Bee menarik napas panjang dan melepas penuh kelegaan saat komplek markas besar militer terlihat. Dengan cekatan dia membelokkan kendaraannya masuk ke gerbang setelah sebelumnya dia mengeluarkan tanda pengenal pada penjaga pintu gerbang.

Dia melempar sebuah jaket berkerudung lebar agar Naruto bisa menyembunyikan sebagian besar wajahnya saat masuk. Ketiganya berjalan bersama-sama menuju ruang kerja Raikage.

Di depan pintu, Obito berjaga bersama dua orang pengawal pribadi Fugaku. Ekspresi pria itu terlihat lega saat melihat Sasuke. Dia memeluk keponakannya singkat, menepuk bahu Sasuke lalu membuka pintu ruang ekrja Raikage setelah sebelumnya mengetuk daun pintu beberapa kali.

Fugaku langsung berbalik, bangkit dari kursi. Dipeluknya putra bungsunya erat. Kelegaan terlihat jelas pada wajahnya yang lelah dan kacau. Dia menjauhkan tubuh putranya untuk mengamati kondisi Sasuke. "Kau baik-baik saja, 'kan?"

Sasuke hanya mengangguk samar tanpa mengatakan apa pun.

Ekspresi putra sulungnya memberi Fugaku isyarat jika Sasuke meminta sebuah penjelasan darinya. Tatapan pria itu untuk sekejap bersirobok dengan Naruto. "Kita akan membicarakannya nanti."

Sasuke masih tidak menjawab.

Fugaku kembali menegakkan punggungnya. Ditatapnya Bee lekat. "Selain Sasuke, apa ada orang lain yang tahu jika Naruto masih hidup?"

Bee menggelangkan kepala.

"Apa kau yakin?" Fugaku menyipitkan kedua mata saat bertanya. Mereka tidak bisa mengambil risiko saat ini. Ada banyak nyawa yang dipertaruhkan jika rencananya gagal.

"Sangat yakin, Pak," jawab Bee tegas.

Fugaku menganggukkan kepala, terlihat puas. Dia kembali mengarahkan pandangannya pada Raikage. "Kita akan membahas masalah Namikaze Kurama malam ini juga," tukasnya. Tatapannya melayang pada Naruto. "Kita pasti menyelamatkan kakakmu." Itu sebuah janji. Naruto hanya mengangguk samar menanggapinya. "Pamanmu akan mengantarmu kembali ke asrama," ucap Fugaku. "Ingat Sasuke, kau harus menutup rapat mengenai Naruto serta peristiwa yang terjadi malam ini. Apa kau mengerti?"

Sasuke masih tidak menjawab.

Fugaku menghela napas berat. Dia meletakkan kedua tangannya di atas bahu putranya. "Akan jadi masalah besar jika hal ini bocor. Tolong pastikan teman-temanmu melakukan hal yang sama," pintanya. "Kakakmu tidak boleh tahu jika Kurama diculik. Apa kau mengerti?"

"Kak Itachi terlalu pintar untuk bisa dibohongi," ada nada sindiran dalam suaranya. Sasuke masih memasang ekspresi dan sauara datar andalannya walau kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuh. "Sampai kapan Ayah akan merahasiakannya?" Dia memandang ayahnya dengan pandangan menyelidik.

"Hingga kondisi terkendali," jawab Fugaku tidak membuat Sasuke senang.

Tanpa banyak bicara Sasuke memberi salam pada Raikage dan ayahnya lalu berbalik, berjalan menuju pintu dan membukanya pelan. Dia bahkan tidak memiliki keinginan untuk menatap Naruto. Perasaannya kacau saat ini. Sasuke merasa lega karena wanita itu ternyata masih hidup, tapi disisi lain dia merasa dikhianati.

Masih segar dalam ingatannya bagaimana Kurama histeris saat prosesi kremasi Naruto. Kenapa wanita itu bisa begitu kejam?

Ah, Sasuke lupa satu hal; Naruto tentu melakukan itu atas perintah atasannya dan dalam hal ini atas perintah seorang Uchiha Fugaku, ayah kandung Sasuke sendiri.

.

.

.

Di tempat lain, Orochimaru tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat Zetsu dan Ken membawa Kurama bersama mereka ke markas besar. Tawanya menggema, merobek keheningan yang sempat tercipta.

Zetsu memasukkan Kurama ke dalam sebuah kamar khusus yang hanya memiliki sebuah ranjang dan toilet. Tidak ada jendela di dalam ruangan itu. Dinding-dindingnya dilapisi oleh bahan khusus untuk meredam suara.

Pintu pun kembali dikunci dari luar. Ekspresi Zetsu berubah keras setelahnya sementara Ken pamit undur diri untuk melihat kondisi Kakashi. "Muu mati," lapor Zetsu membuat tawa Orochimaru lenyap seketika.

Kedua mata Orochimaru terbelalak. Dia mendesis, mencengkram kerah kemeja Zetsu lalu menarik ke arahnya. "Apa maksudmu?"

"Muu mati terbakar di dalam gudang," jelas Zetsu. "Kami hanya bisa menyelamatkan Fang dari sana."

Orochimaru melepas cengkramannya dari kerah kemeja Zetzu. "Fang?" beonya setengah berbisik. Pria di hadapannya menundukkan kepala sembari merapikan jas dan pakaiannya yang sedikit kusut.

"Dia mengalami luka bakar serius pada punggungnya," terang Zetsu mengusap wajah kasar. "Dia pasti mati jika kami tidak datang tepat waktu untuk menyelamatkannya."

"Bagaimana bisa?" bentak Orochimaru, marah. Dia melempar semua benda yang ada di atas meja kerjanya, lalu membanting sebuah botol wiski hingga hancur berkeping-keping. Orochimaru tidak bisa kehilangan Muu; seorang algojo terbaiknya. Muu salah satu anak buahnya yang memegang peranan penting dalam organisasi. "Kenapa Muu mati? Siapa yang membunuhnya?"

"Anak buah Kabuto," jawab Zetsu. Ada perasaan senang menyelinap ke dalam hatinya saat mengatakannya. Dengan berita ini dia yakin Orochimaru pasti akan langsung memerintahkan anak buah terbaiknya untuk menghabisi Kabuto.

"Kabuto?" Orochimaru kembali membeo. Dia mendudukkan diri dengan keras di atas kursi kerjanya. Kedua tangannya saling menangkup di atas meja. Ekspresi keji pria itu membuat bulu kuduk Zetsu berdiri karena ngeri.

Orochimaru menyandarkan tubuh di kursinya. "Apa hubungannya dengan Kabuto?"

"Dia tahu Anda mencari Kurama," jawab Zetsu dengan nada bicara senormal mungkin. Udara di dalam ruangan itu terasa turun dengan drastis. "Kabuto bergerak diam-diam di belakang Anda, dia memerintahkan anak buahnya untuk membayar pembunuh bayaran untuk menghabisi Kurama."

Orochimaru terlihat tidak senang mendengar laporan Zetsu. Ditatapanya Zetsu lekat. "Kenapa kau tidak melaporkan hal ini sejak awal?"

Zetsu menundukkan kepala dalam. "Aku tidak memiliki bukti untuk menuduh Kabuto," jawabnya dengan suara gemetar. "Anda tahu hubungan kami sangat tidak baik, karena itu aku harus memiliki bukti untuk melaporkan hal ini."

Dia menjeda, menelan dengan susah payah. "Anak buahku berhasil menangkap salah satu tangan kanan Kabuto yang tengah membayar beberapa pembunuh bayaran untuk menghabisi Kurama.

Dari mulutnya aku tahu jika Kabuto sengaja merencanakan ini untuk membunuh Kurama."

Orochimaru menggertakkan gigi. Untuk kesekian kalinya Kabuto melakukan kesalahan fatal, dan kali ini kesalahannya sudah tidak bisa dimaafkan. Pria itu mendesis tidak suka saat pintu ruang kerjanya tiba-tiba dibuka dari luar tanpa permisi. "Kau mau mati?" tanya penuh penekanan.

Zabuza memberi hormat takzim. Kepalanya menunduk dalam. "Bos, baru saja aku menerima laporan jika Kabuto melarikan diri."

Orochimaru menggebrak meja keras. "Temukan dia dan bawa ke hadapanku!" perintahnya tegas.

Zetsu dan Zabuza langsung undur diri setelahnya. Keheningan kembali meraja, menguasai ruang kerja milik Orochimaru yang minim cahaya. Pria itu menyunggingkan senyum lebar saat seorang pria dengan tubuh dibalut kain perban keluar dari sebuah pintu rahasia.

"Rencana Anda berhasil, Tuan."

Orochimaru tertawa renyah. Pria itu menghela napas keras lalu melirik ke arah Muu yang berdiri di samping meja kerjanya. "Jika mereka bisa memalsukan kematian seseorang, kenapa aku tidak?" Dia mengatakannya penuh kebanggaan.

"Tapi aku harus kehilangan salah satu anak buah terbaikku," ucap Muu, terdengar kesal. Anak buahnya yang mati dalam ledakan itu merupakan salah satu anak buah terbaiknya. Dia memiliki postur tubuh sama dan gaya serta nada bicara yang mirip dengannya. Orang-orang tidak akan bisa membedakan mereka jika mengenakan pakaian yang sama.

Namun, Orochimaru yakin jika orang-orang akan langsung mengenali Muu palsu jika dia berkelahi menggunakan pedang. Gaya bertarung yang dimiliki Muu sangat khas dan sulit untuk ditiru.

"Aku harus membersihkan organisasiku dari para pengkhianat busuk," kata Orochimaru. Ekspresinya berubah geram. Kemarahan

menyala-nyala dikedua matanya yang berkilat tajam. "Zetsu sudah berani bermain di belakangku," dengkusnya. "Dia pikir aku tidak akan tahu saat dia menjual barang-barang tanpa sepengetahuanku?"

Suara gertakkan gigi milik Orochimaru terdengar sangat keras. Andai saja Kabuto tidak terlalu ceroboh dan tidak merugikan organisasi, Orochimaru pasti akan mempertahankannya. Sayangnya dia sangat bodoh. Beberapa petinggi organisasi Hebi yang memiliki peranan penting terpaksa bersembunyi karena mata-matanya mengatakan jika pihak militer memiliki salinan buku harian gadis sialan itu.

"Brengsek!" maki Orochimaru sembari menggebrak meja. "Kita akan buat Zetsu melenyapkan Kabuto, dan setelah itu akan kupastikan Zetsu mati di tangan anggota divisi khusus sialan itu!" katanya penuh kebencian. Dalam hidupnya, Orochimaru sangat membenci satu hal; pengkhianat.

"Bagaimana dengan Kakashi?" tanya Muu, geram. Dia terpaksa bersikap bersahabat pada mata-mata pihak militer itu atas perintah Orochimaru. Kejadian yang terjadi di dalam organisasi selama beberapa bulan terakhir ini membuat organisasi kacau. Kepercayaan diantara anggota semakin menipis. "Bos, dia mata-mata musuh." Pria itu berusaha mengingatkan tuannya. Sangat berbahaya memelihara binatang buas. Ya, Kakashi tidak ada bedanya dengan binatang buas yang bisa kapan saja balik menyerang.

Orochimaru melipat tangan di atas meja. Ekspresinya terlihat puas saat bicara, "Aku sudah memiliki kartu untuk memaksanya bekerja untukku."

"Maksud Anda; Namikaze Kurama?"

Orochimaru menganggukkan kepala. Dia mengubah posisi duduknya, menyandarkan tubuh pada kursi. "Kurama dan Kakashi pasti akan bekerja untukku," ucapnya sangat yakin.

Kedatangan Sasuke disambut penuh syukur oleh keempat sahabatnya. Mereka memeluk Uchiha bungsu dengan perasaan lega. "Ada apa?" tanya Shikamaru, merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Sasuke. Dia mengamati Sasuke dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Guru Namikaze pasti akan ditemukan, 'kan?"

Sasuke tidak langsung menjawab. Dia mendudukkan diri di atas sofa sementara keempat sahabatnya menunggu dengan tidak sabar. "Mereka masih belum bisa menemukan jejaknya."

"Jangan cemas!" Neji menimpali, berusaha membesarkan hati sahabatnya. "Dia pasti kembali."

Sasuke terdiam lama. Luka-luka di wajah dan lehernya sudah diobati sebelum pulang ke asrama. Di jalan, Obito menegaskan untuk kesekian kalinya jika dia harus merahasiakan masalah penculikan Kurama. Kejadian di tempat perkara pun sudah ditutupi oleh pihak militer. Mereka harus melakukannya agar masyarakat tidak panik.

"Sebaiknya kalian kembali ke kamar!" kata Sasuke, mengusir secara lembut. "Ingat, kejadian malam ini tidak boleh bocor!"

Neji menjadi orang pertama yang berdiri. Dia sudah berjanji pada dua anggota militer untuk merahasiakan kejadian malam ini. Dalam hati Neji bertanya; apa yang akan dikatakan oleh pihak sekolah mengenai ketidakberadaan Kurama? Terlebih sebentar lagi sudah mulai masuk ujian masuk universitas.

"Sebaiknya kita tidur!" kata Shikamaru. Wajahnya yang biasa terlihat mengantuk kini berekspresi cemas. Namun, walau begitu mereka tidak bisa terus mengganggu Sasuke. Diantara mereka, Sasuke adalah orang yang paling mengkhawatirkan kondisi Kurama. Bagaimanapun pria itu kakak dari Naruto; wanita yang disukainya.

Gaara dan Kiba menyusul berdiri. Mereka melepas napas keras dengan kompak, kedua tangannya berada di dalam saku celana. "Selamat malam, Sasuke!" ucap keduanya kembali kompak.

Sasuke hanya mengangguk pelan, dia bangkit dari kursi berjalan menuju pintu kamar lalu menguncinya setelah keempat sahabatnya keluar.

.

.

.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Pertanyaan itu dilontarkan dengan nada sinis. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, tapi Sasuke masih belum bisa memejamkan mata. Kamarnya yang gelap tidak menyulitkannya untuk mengenali siapa tamu tidak diundang yang masuk ke dalam kamarnya lewat jendela kamar.

Naruto berjalan pelan menuju arah ranjang. Kedekatan wanita itu membuat Sasuke bisa mencium aroma jeruk yang menguar dari tubuh Naruto. "Kita perlu bicara."

"Tidak ada yang perlu kita bicarakan," jawab Sasuke, datar. Dia bergerak, mendudukkan diri di sisi ranjang lalu menyalakan lampu mejanya. Ditatapnya Naruto lekat. Wanita yang disangkanya telah tewas benar-benar berdiri di hadapannya. Naruto masih bernapas dan terlihat sehat.

Dalam hati Sasuke bersyukur karena teorinya mengenai kematian Naruto benar-benar terbukti. Mereka sengaja memalsukan kematian wanita itu untuk keperluan misi. Lalu kenapa Sasuke masih merasa sakit hati? Terlebih setelah dia tahu jika ayah kandungnya sendiri yang merencanakan semua ini.

"Pulanglah!" ucap Sasuke masih dengan nada bicara yang sama. Di hadapannya Naruto bergeming, jari-jari tangan wanita itu saling bertaut. "Kau harus fokus untuk menemukan kakakmu," sambungnya.

"Aku tahu," Naruto menjawab setelah melepas napas yang terdengar berat. Ekspresinya begitu muram. "Kami sedang mencarinya." Dia menyambung. Tatapan wanita itu berpindah pada meja belajar milik Sasuke. "Aku berhutang permintaan maaf padamu."

Sasuke menarik satu sudut mulutnya ke atas, tipis. Dia memalingkan muka untuk beberapa detik. "Kau berhutang permintaan maaf pada banyak orang," ucapnya mengoreksi Naruto.

Naruto terdiam. Sasuke mendongakkan kepala untuk menatap lekat wanita berambut pirang di hadapannya. "Kau tidak perlu mengatakan alasan kenapa terus berbohong padaku." Ucapan Sasuke seolah menampar Naruto. Wanita itu tidak bisa membela diri karena memang itu yang selalu dilakukannya pada Sasuke; berbohong.

Naruto menatap ke samping, menghindari tatapan mata Sasuke.

"Kau bebas melakukan apa pun yang kau inginkan," ucap Sasuke. Pria itu mengangkat kedua tangannya tinggi. "Aku tidak berhak melarang atau meminta penjelasan darimu."

Hening.

Perasaan bersalah itu datang kembali, menyelimuti diri Naruto. Jauh di dalam hatinya dia sudah tahu jika reaksi Sasuke akan seperti ini, tapi kenapa tetap terasa sakit?

"Seperti yang pernah kau katakan padaku sebelumnya; suatu hari nanti aku akan menemukan wanita lain," ucap Sasuke. Dia terenyum tipis. "Kurasa ucapanmu benar. Waktu akan membuatku melupakanmu. Jadi mulai hari ini kita akan berjalan masing-masing. Terima kasih karena kau sudah pernah mengisi hatiku, Namikaze Naruto!"

Naruto menggeleng. "Apa kau tidak bisa memaafkanku?"

Sasuke tersenyum. "Aku sudah memaafkanmu," jawabnya, lembut. Ada jeda singkat sebelum dia kembali bicara. "Hanya saja jalan kita terlalu berbeda," Sasuke kembali menyambung, "saat ini aku tidak memiliki keberanian untuk meraihmu. Kau terlalu jauh di atasku, Namikaze Naruto."

Mereka saling berpandangan.

Naruto menjadi orang pertama yang memutus kontak mata mereka. Wanita itu memaksakan diri untuk tersenyum sembari

memeluk dirinya sendiri. "Maaf sudah mengecewakanmu!" ucapnya sebelum berbalik pergi meninggalkan Sasuke seorang diri.

.

.

.

Pagi datang dengan cepat. Sekolah terlihat ramai seperti biasa. Salju masih turun di pertengahan bulan Januari. Sebentar lagi ujian masuk universitas akan dimulai, semua anak didik yang duduk di kelas akhir tengah sibuk menyiapkan diri untuk ujian itu.

Di sudut ruangan perpustakaan, Sasuke duduk seorang diri. Soal-soal ujian dalam bahasa Inggris tergeletak begitu saja di atas meja. Pikirannya menerawang, dia tidak bisa fokus. Kondisi Kurama tengah menjadi pikirannya saat ini.

"Apa sudah ada kabar?"

Sasuke menatap Shikamaru dengan terkejut. Sahabat dengan rambut model nanas itu mengambil tempat di seberang meja, duduk dengan gerakan pelan. Dengan berat hati Sasuke menggelengkan kepala. "Belum ada."

Shikamaru melepas napas berat. Dia menggeleng. Pihak berwajib tidak akan mengatakan apa pun pada mereka walau sudah memiliki titik terang mengenai keberadaan Kurama.

Keduanya terdiam lama, larut dalam lamunan masing-masing. Shikamaru dan Sasuke sama sekali tidak terkejut saat kepala sekolah datang ke kelas untuk memberi mereka materi yang telah disiapkan untuk mengisi mata pelajaran yang harusnya diberikan oleh Kurama.

Saat Tenten bertanya kemana Kurama, kepala sekolah hanya mengatakan jika guru barunya itu diminta untuk membantu lembaga

negara. Mereka yang tidak tahu alasan sebenarnya langsung bersiul, bertepuk tangan. Sangat membanggakan karena salah satu dari guru mereka bisa dipercaya oleh pemerintah untuk membantu negara.

Keduanya terlalu larut dalam lamunan hingga tidak menyadari kedatangan Kiba yang terlihat sangat tergesa-gesa. "Ada yang aneh dengan Guru Atarashi," ucap Kiba setengah berbisik. Dia meletakkan tiga buah buku tebal berisi latihan soal ujian masuk universitas di atas meja.

Sasuke menatapnya dengan mata hitam tajam yang jernih. "Apa maksudmu?"

Kiba tidak langsung menjawab. Dia melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada yang mendengarkan pembicaraan mereka saat ini. "Dia terlihat sangat murung," katanya sembari memberi isyarat dengan tangan. "Apa mungkin dia tahu tentang sesuatu?"

Sasuke dan Shikamaru saling memandang.

"Rasanya tidak mungkin," timpal Neji ikut bergabung. Dia menggelengkan kepala. Kedua tangannya dilipat di depan dada. Neji menyandarkan tubuh pada sandaran kursi. "Kecilkan suaramu!" tegurnya pada Kiba. "Kau ingin semua orang di dalam ruangan ini tahu?"

Gaara mengangguk, menyetujui Neji. Pria berambut merah itu menampar pelan lengan atas Kiba hingga sang korban meringis kecil. "Suaramu terdengar hingga rak buku ketiga."

Kiba menelan dengan susah payah. Dia menelan kembali kalimat yang sudah berada di ujung lidah hingga keheningan pun menguasai setelahnya.

Gaara mencondongkan tubuh, ekspresinya ebrubah serius. "Menurut kalian apa penyebab perubahan Guru Atarashi?" tanyanya, setengah berbisik, tapi masih bisa ditangkap dengan baik oleh keempat sahabatnya.

Sasuke tidak menjawab sementara Shikamaru mengendikkan bahu ringan.

"Dia pasti sedih karena tidak bisa melihat Guru Namikaze."

Sasuke terlihat tidak sependapat dengan Neji. Jari-jarinya diketuk-ketukkan ke atas meja. "Aku yakin ada sesuatu yang—"

"Guru Atarashi dijemput polisi!" seru Sakura tiba-tiba datang dengan napas terengah-engah. Laporannya memotong ucapan Sasuke. Wanita berambut merah muda itu membungkuk, tangannya terulur ke arah belakang. Ditariknya napas dalam-dalam untuk menetralkan napas. "Apa kalian menyembunyikan sesuatu?" Dia bertanya setelah mendapatkan kembali napas dan suaranya.

Sakura menegakkan tubuh, melipat kedua tangan di depan dada. Dia menyapu wajah lima orang siswa yang duduk, bergantian. "Aku tahu kalian pergi bersama Guru Namikaze tadi malam." Matanya disipitkan, "Kalian berempat kembali bersama dua orang asing, sementara Sasuke menyusul pulang beberapa jam kemudian."

Wanita itu mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya pada lantai keramik yang diinjaknya. Dia menunggu jawaban kelimanya dengan ekspresi serius. "Apa yang sedang kalian sembunyikan?" tanyanya. "Aku bahkan melihat kakakmu menangis di toilet tadi," ucapnya pada Sasuke. "Apa yang sedang kalian sembunyikan?" tanya Sakura bersikeras.

"Lupakan apa yang kau ketahui!" ujar Sasuke. "Jangan mengatakan apa pun, Sakura. Kau harus menutup mulut dan bersikap tidak tahu apa-apa. Apa kau mengerti?"

Sakura menipiskan mata, terlihat tidak setuju walau pada akhirnya dia hanya bisa menyerah. Jika Sasuke mengatakannya dengan penuh peringatan itu berarti sangat serius. Mereka tidak akan bersikap semisterius ini jika sesuatu yang besar tidak terjadi. "Aku hanya berharap Guru Namikaze baik-baik saja," katanya setelah jeda singkat.

Dia mengangkat satu bahunya. "Aku mulai menyukai caranya mengajar," akunya jujur. "Beliau juga kakak dari Naruto jadi aku tidak mungkin tidak peduli, 'kan."

Ekspresi Sasuke berubah. Dia bertanya dalam hati; bagaimana rekasi mereka jika tahu Naruto masih hidup?

"Baiklah, aku tidak akan mengganggu lagi," ucap Sakura. Dia mengulum senyum tipis sebelum berbalik dan berjalan pergi meninggalkan kelima siswa di belakangnya.

"Sasuke, kakakmu pasti mencium sesuatu yang tidak beres," kata Kiba setelah kepergian Sakura. Perasaan mual semakin menggumpal di dalam perutnya. Kejadian tadi malam kembali melintas di dalam kepalanya. Dia pasti sudah mati jika Kurama tidak menolongnya dari tangan penyerang itu tadi malam.

"Kemungkinan besar kakakmu sudah mengetahui ada yang tidak beres, Sasuke." Shikamaru menimpali dengan sikap tenang. "Dia pasti curiga karena Guru Namikaze tidak bisa dihubungi, dan kita tidak mengatakan apa pun mengenai kejadian kemarin padanya. Kakakmu hanya tahu Guru Namikaze pergi bersama kita, 'kan? Jadi aneh jika tiba-tiba dia pergi karena pemerintah membutuhkan tenaganya."

"Sebaiknya kita fokus untuk ujian," kata Sasuke. "Masalah Guru Namikaze serahkan pada kepolisian dan militer. Mereka tidak akan tinggal diam, 'kan?"

Neji menggeleng. "Kenapa kau bisa sesantai ini, Sasuke?"

"Karena tidak ada yang bisa kita lakukan," jawabnya, ringkas.

.

.

.

TBC