Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M
Genre : Crime, Action, Friendship, Romance, Angst
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo(s)
Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
Selamat membaca!
Under Cover
Chapter 23. Menemukanmu
By : Fuyutsuki Hikari
.
.
.
Kurama tidak bisa menebak sudah berapa lama dia terkurung di tempat ini. Tidak ada jendela yang bisa menunjukkan hari masih siang atau gelap. Ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu hanya memiliki sebuah tempat tidur serta toilet serta sebuah mesin penghangat ruangan.
Namikaze sulung mengandalkan air penyiram toilet untuk mengganjal perut dan mengobati rasa hausnya. Kurama harus tetap memiliki tenaga untuk menghadapi situasi yang mungkin akan datang tidak terduga.
Derit pintu yang terbuka menarik perhatian Kurama. Dengan gerakan perlahan dia mengangkat wajah, menatap sosok yang berjalan melalui pintu itu dengan ekspresi tidak terbaca.
Oh, Orochimaru menyukai apa yang dilihatnya saat ini. Ketidaktakutan Kurama membuatnya semakin tertantang. Akan sangat menyenangkan jika pria berambut merah di hadapannya ini bisa bergabung ke dalam organisasinya.
Orochimaru memberi isyarat, sebuah perintah pada salah satu anak buahnya yang membawa nampan berisi makanan untuk masuk ke dalam ruangan dan meletakkannya di atas ranjang. "Makan!" ucapnya memutus keheningan yang menyelimuti ruangan itu.
Kurama bergeming. Wajahnya penuh tekad. Kedua tangan pria itu terkepal erat di sisi kiri dan kanan tubuhnya. "Apa yang kau inginkan?" pertanyaan itu meluncur mulus dari mulutnya. Masih dengan ekspresi sama dia menatap Orochimaru.
Orochimaru melipat kedua tangannya di depan dada. Pintu di belakangnya sudah tertutup rapat. Pria itu memiliki keberanian tinggi untuk tinggal bersama Kurama tanpa penjagaan. Dia memiringkan kepala ke satu sisi. Mulutnya menyunggingkan sebuah senyum yang terlihat keji. "Bekerjalah untukku!"
Ingin rasanya Kurama tertawa keras mendengar kalimat yang diucapkan dengan nada perintah itu. Namikaze sulung membuang muka, dengan tenangnya dia membuang napas. Untuk beberapa detik dia menundukkan kepala, ditatapnya lantai keramik yang menjadi pijakannya. "Aku tidak tahu apa yang kau harapkan dariku dan kenapa kau bisa berpikir jika aku mau bekerja sama denganmu."
Kurama menjeda, memilih kalimat dengan hati-hati. "Kau tidak bisa mendapatkan apa pun dariku. Aku memilih mati daripada harus bekerja untukmu."
Tawa keras Orochimaru menggema. Dia bertepuk tangan, mencemooh pendirian Kurama yang diyakini akan segera berubah. "Apa kau yakin?" tanyanya setelah tawanya berhenti.
Kurama tidak menjawab.
"Kau yakin tidak mau bekerja sama denganku walau nyawa adik dan pamanmu menjadi taruhannya?"
Di dalam pikirannya, Kurama entah kenapa berpikir jika pria yang menculiknya ini memiliki sebuah kartu yang bisa digunakan untuk menekannya. Namun, dia tidak menyangka jika pria di hadapannya akan menggunakan Naruto.
"Adik?" beo Kurama, mencemooh. "Adikku sudah tewas. Apa kau tidak tahu hal itu?"
Orochimaru menggeleng, ekspresinya dibuat suram. "Kau salah."
Jantung Kurama berdetak semakin cepat. Pria ini pasti sedang bercanda.
Orochimaru masih menggoyang-goyangkan jari telunjuk di depan wajah. "Mereka membohongimu," desisnya. Dia terlihat puas saat melihat perubahan ekspresi Kurama. Orochimaru menyukai ekspresi sakit hati pada wajah tawanannya. "Adikmu; Namikaze Naruto masih hidup," terangnya.
Dia menjeda, mengangkat kedua tangan, ringan. "Mereka memalsukan kematian adikmu." Orochimaru kembali menjeda, untuk memberi efek dramatis. Dengan lambat dia menggerakkan tangan di depan wajah. "Mereka semua membohongimu, bahkan adik kandungmu sendiri mengkhianatimu."
Pernyataan Orochimaru terasa bagai hantaman untuk Kurama. Pupil matanya bergerak dengan cepat. Dia terduduk dengan gelisah. Ucapan Orochimaru terus terngiang-ngiang di telinganya.
Apa benar? Pertanyaan itu berputar di dalam kepala Kurama. Tapi bagaimana jika itu hanya sebuah jebakan?
Kurama tetap memasang ekspresi tak acuh sekaligus tidak bersahabat. Walau begitu, dalam hati Kurama tidak bisa menampik jika dia bahagia andai berita yang dibawa musuhnya mengenai Naruto itu benar.
Lalu kenapa mereka memalsukan kematian adiknya? Itu yang tidak bisa dimengerti oleh Kurama. "Aku perlu bukti jika adikku masih hidup," ucap Kurama setelah mendapatkan pengendalian dirinya kembali. "Jangan menganggapku bodoh. Aku tidak akan mempercayai ucapanmu tanpa sebuah bukti, dan mengenai pamanku, aku yakin kau berbohong mengenai dirinya."
Orochimaru mencondongkan tubuh ke depan. Seringaiannya membuat Kurama merinding. "Kapten Hatake Kakashi," ucapnya menghantarkan udara dingin pada Kurama. "Mereka dengan bodohnya memasukkan pamanmu ke dalam organisasiku."
Hening.
"Dan dengan bodohnya mereka percaya jika aku cukup tolol hingga bisa menerima orang baru dan menyimpannya disisiku," sambung Orochimaru dengan nada jijik yang sama. Pria itu berdecak. Tawanya kembali menggema. Orochimaru menertawakan ketololan musuh-musuhnya yang masih tidak menyadari pengkhianat yang ada di dalam kelompok mereka.
Untuk beberapa detik menatap langit-langit ruangan yang berlapis alat peredam suara. "Apa kau tahu ... aku bisa saja dengan mudah membunuh pamanmu itu, tapi jika itu kulakukan akan terasa kurang menantang. Iya, 'kan?"
Kurama tidak menjawab. Manusia di hadapannya lebih jahat dari iblis.
"Aku menggunakan pamanmu untuk menyelesaikan pekerjaan kotorku," lanjut Orochimaru, menghela napas penuh simpati. "Apa kau tahu jika Kakashi yang menembak adikmu dan nyaris merengut nyawanya? Asal kau tahu jika aku jugalah yang secara tidak langsung menyebabkan kematian kakek angkatmu."
Kurama mempertahankan air mukanya. Dia menekan keterkejutannya dengan sempurna.
"Kakashi melakukannya dengan sempurna. Pekerjaannya lebih memuaskan dari pada salah satu tangan kananku." Orochimaru mengembuskan napas keras. Kepalanya digelengkan samar. "Sayangnya aku harus menghabisinya jika kau tidak mau bekerja denganku."
Ia kembali menjeda, berusaha membaca apa yang ada dalam pikiran Kurama, tapi nihil. "Keputusannya ada di tanganmu."
"Apa buktinya jika dia ada di dalam genggamanmu?" desis Kurama dari balik giginya yang gemeretak.
"Bukti?" gumam Orochimaru. Satu alisnya diangkat tinggi. "Kau mau aku membawa pamanmu ke sini?" oloknya. "Jika anak buahku tidak menyelamatkannya dari kobaran api, dia pasti sudah mati."
Kurama terdiam seribu bahasa. Rasa dingin menjalar dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tangannya mulai berkeringat. "Benar," sahut Kurama, tenang. "Buktikan jika ucapanmu bukan sekedar omong kosong." Dia mengangkat dagu, mengatakan dengan jelas jika Orochimaru tidak bisa memerintahnya dengan sesuka hati.
Orochimaru mengangguk. "Tidak masalah," gumamnya. "Pastikan saja kau memikirkan penawaranku tadi," sambungnya sebelum keluar dan membanting pintu di belakangnya dengan keras.
Kurama jatuh terduduk setelah kepergian Orochimaru. Berita mengenai Naruto yang masih hidup serta Kakashi yang ada di tangan penjahat itu membuat kepalanya seperti dihantam. "Apa yang harus kulakukan?" gumamnya lirih, tertunduk pilu.
.
.
.
KEN terlihat sangat panik saat empat orang anak buat Orochimaru datang ke apartemen yang ditinggalinya bersama Kakashi lalu membawa pria berambut perak itu bersama mereka. "Kalian mau membawanya kemana?"
"Sebaiknya kau tidak ikut campur, Ken!" ucap salah satu anak buah Orochimaru dengan ekspresi penuh peringatan. Mereka menyeret tubuh Kakashi yang masih belum pulih dengan sangat kasar. "Bos Besar menginginkannya!"
Ken menutup mulut rapat. Pria itu berusaha untuk bersikap tenang setelah menangkap kode yang diberikan Kakashi padanya. Ken langsung berbalik menuju kamar Kakashi setelah orang suruhan Orochimaru itu keluar dari apartemennya.
Dia melangkah cepat, masuk ke dalam kamar Kakashi untuk mencari petunjuk. Ken mengobrak-abrik kamar pria itu. Melihat cara rekannya dibawa, Ken yakin Orochimaru memiliki niat tidak baik. Tapi apa?
Bukankah Fang anak buah favorit Bos Besar saat ini?
Ken menggelengkan kepala. Dia tidak bisa menebak-nebak tanpa adanya bukti. Pria itu menahan napas saat menemukan sebuah buku catatan yang disamarkan menjadi buku telepon. Dengan tidka sabar dia membuka halaman demi halaman buku itu.
Aku tahu bisa mempercayaimu.
Kalimat itu ditulis sendiri oleh Kakashi. Ken membaca hingga habis, tatapannya tertuju pada nomor telepon yang tertulis di sana. Fang memintanya untuk menghubungi nomor itu dan menjelaskan kondisinya.
Siapa Fang sebenarnya? Pertanyaan itu melintas di dalam pikiran Ken. Dia terlihat meragu. Ken mendudukkan diri di sisi ranjang, menutup wajah dengan kedua tangannya.
Sudah saatnya kau untuk keluar dari lingkaran terkutuk ini!
Ken seperti mendengar ucapan Fang yang dikatakan padanya jauh sebelum hal ini terjadi. Dia menelan dengan susah payah. Ken tahu jika saat ini setiap gerak-geriknya pasti tengah diawasi oleh anak buah Orochimaru.
Setelah berpikir lama, akhirnya Ken mengambil sebuah keputusan; dia harus keluar dari lingkaran hitam ini. Dia tidak bisa terus bersama mereka dan menunggu kematian datang. "Aku harus mencari tahu kemana mereka membawa Kakashi," gumamnya sebelum berdiri dan memasukkan buku catatan berukuran kecil itu ke dalam saku jasnya.
.
.
.
Naruto tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya saat melihat keberadaan Yamato di dalam ruang kerja Raikage, siang ini. Naruto membuka topi militer yang dia kenakan, lalu mengepitnya di ketiak. Sesaat tatapan wanita itu beralih pada sang jenderal untuk memberi hormat ala militer.
"Duduk," ucap Raikage. Ekspresi serius dan wajah gelapnya membuat Naruto berpikir ada sesuatu tidak beres yang terjadi.
"Senang bisa melihatmu lagi, Kapten," kata Naruto pada Yamato. Dia berusaha mengurai ketegangan di dalam ruangan. Namun, gagal. Dari ujung matanya dia mengamati interaksi Raikage dan Yamato. "Ada apa?" pertanyaan itu akhirnya meluncur dari mulut Naruto.
Raikage menyatukan jemari tangannya di atas meja. Kedua bahunya terlihat sangat tegang. "Kabuto sudah mati."
Untuk beberapa detik yang terasa seabad, Naruto memandang sang jenderal dengan mulut terbuka lebar. "Benarkah?" tanyanya setelah berhasil mengendalikan diri. "Kapten Bee berhasil membunuhnya?" Keningnya ditekuk dalam. "Kenapa dia tidak mengatakan apa pun padaku?"
"Karena bukan dia atau anggotanya yang berhasil melumpuhkan Kabuto," jawab Raikage. Nada bicaranya terdengan aneh bahkan untuk indra pendengarannya sendiri.
Naruto mengangkat satu alisnya tinggi. "Lalu siapa?"
"Zetsu."
Naruto langsung menoleh pada Yamato yang memasang ekspresi tidak terbaca. "Zetsu?" beonya, tidak percaya. "Bukankah Kabuto tengah melarikan diri dari Orochimaru? Bukankah Kapten Bee ditugaskan untuk meringkusnya setelah mendapat informasi dari Kapten Yamato? Lalu bagaimana bisa Zetsu menemukan pria itu dengan cepat?" tanyanya beruntun dalam satu tarikan napas.
Raikage tidak langsung menjawab. Untuk beberapa detik dia memejamkan mata. "Mata-matanya ada diantara kita."
"Anda mencurigai seseorang, 'kan?"
"Aku masih belum memiliki bukti," jawabnya, tenang. "Mata-mata itu akan menjadi urusanku," sambungnya masih dengan nada dan ekspresi yang sama. Raikage terdiam untuk beberapa saat, tangannya menarik handle laci lalu mengeluarkan sebuah dokumen rahasia dari dalamnya. "Di dalam dokumen itu terdapat beberapa tempat yang diketahui Yamato sebagai tempat persembunyian Orochimaru," terangnya.
Naruto tidak menjawab. Matanya sibuk membaca setiap kalimat di dalam dokumen itu. Dia mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalamnya yang telah dilengkapi keterangan serta alamat lengkap keberadaannya.
"Yamato yakin kakakmu disekap di salah satu tempat itu."
Naruto masih tidak menjawab. Kedua matanya tiba-tiba terbelalak. "Bagaimana dengan Kapten Kakashi?" tanyanya. Tenggorokannya tersumbat. Detak jantung wanita itu menggila karena was-was dan cemas. "Jika mata-matanya orang kita, itu berarti Orochimaru sudah tahu identitas pamanku dari awal?"
Raikage mengangguk. Untuk sesaat dia melirik pada Yamato. "Dia juga tahu siapa Yamato sebenarnya."
"Kita harus bergerak secepatnya." Naruto bergerak resah di atas kursi. Tangan wanita itu menggenggam erat dokumen hingga kusut dan nyaris robek. "Orochimaru sangat gila hingga bisa membiarkan musuh berada di dalam markasnya untuk waktu yang lama," tambahnya setelah menemukan kembali suaranya yang sempat tercekat di tenggorokan.
"Kau benar," timpal sang jenderal menyetujui. Kegilaan Orochimaru terkesan tidak masuk akal. "Dia pasti sudah memiliki rencana hingga mengizinkan Kakashi dan Yamato menyelinap masuk ke dalam organisasinya dengan mudah." Raikage terdiam, merubah posisi duduknya. "Kau, Fuu dan Sanbi akan bertugas untuk mengawasi kediaman Orochimaru di daerah utara, sementara Yamato dan Gobi mengawasi kediaman Zetsu di daerah selatan. Kita akan mengawasinya untuk mencari tahu dimana Orochimaru berada saat ini. Dengan uang yang dimilikinya, dia bisa berada dimana pun."
"Bagaimana dengan Yugito?"
"Dia tidak akan ikut dalam pengawasan kali ini. Aku sudah memberinya tugas lain; membujuk Anko untuk buka mulut," terangnya menutup pembicaraan serius, siang ini.
.
.
.
Zetsu tidak memiliki firasat apa pun saat melangkah masuk ke dalam sebuah klub malam dengan dada dibusungkan serta ekspresi sombong. Beberapa pria berjas hitam dengan dandanan mencolok langsung memberi hormat padanya. Kalung emas sebesar rantai sepeda menjuntai melewati dada, kacamata hitam bertengger dia atas hidung seolah menjadi property wajib yang harus mereka kenakan agar terlihat keren.
Music menghentak keras seperti biasa. Udara di dalam klub dipenuhi oleh asap rokok serta bau alkohol menyengat. Zetsu langsung berjalan menuju tempat khusus yang disediakan untuknya. Meja dan kursi sudah dibersihkan dan siap dipakai saat dia sampai di lantai dua.
Dari tempatnya duduk saat ini dia bisa mengawasi seluruh lantai dansa yang berada di lantai satu. Tidak lama berselang empat orang wanita berjalan ke arahnya dengan botol minuman keras di tangan serta makanan ringan untuk menyenangkan sang tuan.
Mereka sudah tahu jika Zetsu resmi menjadi satu-satunya tangan kanan Bos Besar saat ini. Sikap hormat mereka berlipat setelah tahu Kabuto sudah tewas kemarin. Gosip menyebar dengan cepat di dalam lingkungan mereka.
"Bos, kau akhirnya datang mengunjungi kami," ucap seorang wanita yang memiliki paras paling cantik. Rambut pendeknya ditata modis, begitu serasi dengan pakaian ketat yang dia kenakan malam ini.
Zetsu menyeringai, melingkarkan tangan pada pinggang wanita itu lalu menariknya untuk duduk di atas lengan kursi. "Sekarang aku akan sering berkunjung," jawab pria itu penuh janji. Dalam otaknya sudah terbayang banyaknya uang yang akan dia dapatkan setelah transaksi senjata dengan mafia dari Rusia itu selesai.
Satu minggu lagi, batin Zetsu. Pria itu tidak tahu jika ada seseorang yang tengah mengawasinya dari balik kegelapan. Kabuto menyeringai, terlihat sangat puas setelah selesai meletakkan gas beracun Sarin di beberapa titik.
Kabuto sudah meminum obat anti racun sebelumnya hingga dia bisa duduk tenang, terlihat nyaman menikmati pertunjukan yang sebentar lagi akan dimulai. Klub malam ini dilengkapi oleh pintu otomatis anti peluru dan ledakan yang bisa dikendalikan oleh Zetsu apabila terjadi serangan dari luar.
Pengamanan itu digunakan oleh Kabuto. Dia meretas sistem keamanan klub, lalu menekan tombol enter dan pintu yang seharusnya mengamankan Zetsu itu pun kini berubah fungsi menjadi kuburan untuk orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.
Zetsu menegakkan punggung saat mendengar suara alarm peringatan. Kedua matanya terbelalak saat beberapa pengunjung kub malamnya mulai berjatuhan, pingsan di atas lantai dansa. "Apa yang terjadi?"
"Bos, ada seseorang yang meretas sistem keamanan kita," lapor salah satu anak buah Zetsu. Ekspresinya begitu panik. Rasa mual melandanya hingga dia muntah ditempat, sesak napas lalu jatuh tidak sadarkan diri.
Ada yang aneh, pikir Zetsu. Dengan cepat dia mengeluarkan sebuah saputangan dari dalam saku jasnya untuk membekap dirinya sendiri. Orang-orang di sekelilingnya sudah jatuh pingsan, musik yang menghentak pun sudah berhenti dimainkan.
Kepanikan menjalar dengan cepat. Pengunjung klub malamnya semakin panik karena tidak menemukan jalan keluar untuk menyelamatkan diri. Seorang wanita menjerit ketakutan setelah melihat darah keluar dari mulut, telinga dan mata teman kencan prianya.
Kabuto tertawa lantang, tawanya menyaru bersama jeritan panik orang-orang di sekitarnya. Zetsu berada di ruang keamanan saat ini. Dia berusaha membuka sistem keamanan untuk membuka pintu pelindung, tapi gagal karena Kabuto sudah mengubah semua kode keamanan di tempat itu.
Kedua kaki Zetsu sudah tidak mampu menopang tubuhnya. Pria itu terhuyung hingga menabrak kursi dan meja. Napasnya mulai terdengar berat dan putus-putus. Pandangan Zetsu mulai mengabur, dia tidak bisa mefokuskan pandangan saat suara langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya.
"Bagaimana rasanya dikhianati oleh rekanmu sendiri?"
Zetsu terdiam, berusaha menelaah keadaan. "Kabuto?" gumamnya, lemah. Zetsu terbatuk hebat, dadanya terasa terbakar.
"Ya, ini aku," jawab Kabuto. Dengan tenang dia berjalan ke arah meja pengawas dimana seluruh keamanan klub malam milik Zetsu dikendalikan. Di lantai dansa, mayat-mayat tergeletak, jumlahnya mencapai ratusan. "Mereka mati karena kau," ucap Kabuto tanpa ada perasaan bersalah.
Dia menjeda, berbalik, menyandarkan tubuh pada meja di belakangnya. Kabuto melipat kedua tangannya di depan dada. "Kau pikir aku sudah mati?" Dia memiringkan kepala ke satu sisi. Senyumnya terlihat sangat puas.
Kabuto mengalihkan pandangan untuk beberapa saat. Jari-jarinya yang lihai mengetik seuatu di atas keyboard komputer. Dia memasukkan kode pengaman baru untuk membuka pintu pengaman klub.
"Matilah bersamaku!" ucap Zetsu bersamaan denganKabuto yang melirik ke arahnya. Pria itu sudah menarik pelatuk pistolnya dansuara letusan pun terdengar keras setelahnya. Darah mengotori meja, tubuhKabuto ambruk, lubang besar menganga di dada kirinya sementara diluar, puluhanorang berlarian, berharap Tuhan menyelamatkan nyawa mereka.
.
.
.
Tubuh Kakashi mengejang saat luka bakar pada punggungnya disiram oleh cuka. Kedua kakinya seolah kehilangan kekuatan, tapi kedua tangan yang terikat pada langit-langit ruangan memaksanya untuk tetap berdiri. Dengan sisa kekuatan yang ada, Kakashi mengangkat wajah. Dia memfokuskan pandangan. Kedua matanya terbelalak saat melihat sosok yang dia kira sudah mati. Ya, Muu berdiri tidak jauh dari tempatnya bersama Orochimaru yang duduk dengan ekspresi puas.
"Bagaimana rasanya, Kapten Kakashi?"
Kakashi tidak menjawab. Napasnya terdengar berat. Sial, sejak kapan Orochimaru tahu mengenai jati dirinya?
"Terkejut?" ujar Orochimaru, tenang. "Kau terkejut karena aku tahu siapa dirimu yang sebenarnya, atau kau terkejut karena Muu masih hidup?" dia menunjuk pembunuh nomor satunya dengan penuh kebanggaan. "Kau pikir kalian sangat cerdas hingga bisa membodohiku?"
Kakashi tidak menjawab.
Orochimaru bertopang kaki, satu tangannya menggenggam gelas vodka. "Rasanya sangat menyenangkan melihat musuh menyusup masuk ke dalam rumahku dan berpikir jika rencana mereka berjalan mulus." Tawanya menggema beberapa saat kemudian. Orochimaru tertawa sangat puas, ekspresinya mengejek.
Dia memberi isyarat pada dua orang anak buahnya yang berdiri di belakang Kakashi untuk menyiram cuka. Tanpa ekspresi, mereka menyiram cuka di dalam ember kecil pada punggung Kakashi.
Kakashi melengkungkan badan, rasa sakit itu menyengatnya hebat. Pria itu terbatuk, peergelangan tangannya mengeluarkan darah karena tubuhnya yang merosot tertarik oleh rantai yang mengikat kedua pergelangan tangannya.
"Kau pikir bisa membunuh salah satu anak buah terbaikku?"
Kakashi masih tidak menjawab.
"Jangan membenciku," ucap Orochimaru. "Aku hanya mengikuti cara kalian," desisnya, penuh penekanan.
Dia menjeda untuk meletakkan gelas vodka ke atas meja. "Bagaimana jika kau bekerja untukku?" tawarnya terdengar merdu. Orochimaru mengangkat kedua tangannya ke udara. "Aku bisa memberimu kekayaan yang tidak bisa kau bayangkan sebelumnya." Dia menyambung ucapannya dengan penuh janji yang terdengar sangat manis.
"Persetan!" desis Kakashi.
Orochimaru merentangkan satu tangan saat Muu hendak berjalan ke arah Kakashi dengan sebuah pedang di tangan. "Kita masih membutuhkan dia hidup," ujarnya tenang. dengan gigi gemeretak menahan amarah, Muu akhirnya mundur, kembali ke posisinya semula.
"Aku akan membunuh Kurama jika kau tidak bersedia menjadi kaki tanganku." Orochimaru kembali tertawa melihat perubahan ekspresi Kakashi. "Tenang, Hatake Kakashi, untuk saat ini dia masih aman," ucapnya. Dia lalu mengangkat satu bahunya tak acuh, ketidakberdayaan lawan menjadi kepuasan tersendiri untuk Orochimaru. "Kau memiliki waktu dua puluh empat jam untuk berpikir," sambungnya setelah jeda singkat. "katakan apa yang ingin aku dengar atau dia mati," ucapnya penuh penekanan lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan.
Kakashi tidak bisa berpikir. Dia berharap bisa segera lepas dari tempat ini dan mencari keponakannya itu. Orochimaru tidak main-main dengan ucapannya. Kurama pasti disekap di tempat ini juga, pikir Kakashi sebelum jatuh tak sadarkan diri.
.
.
.
"Apa-apaan ini?" Gobi menatap bangunan klub malam di hadapannya dengan pandangan nanar. Pemandangan itu terlalu mengerikan. Puluhan petugas dengan seragam khusus masuk ke dalam gedung dan kembali dengan puluhan korban yang sebagian besar tidak sadarkan diri sementara sebagian besar keluar dari dalam gedung dalam kantung mayat. Mereka ditugaskan untuk memata-matai kediaman Zetsu, tapi malah dikejutkan oleh pembunuhan masal.
Pengunjung dan anggota organisasi Hebi menyaru. Sama-sama terlihat menyedihkan. Fugaku yang menjabat sebagai menteri pertahanan pun ikut datang untuk melihat kondisi korban.
Suara sirine mobil polisi, pemadam kebakaran dan ambulans mengoyak keheningan malam. Suasana mencekam menyelimuti lingkungan sekitar. Pihak militer susah menutup hingga sejauh seratus meter dari lokasi untuk mencegah jatuhnya korban lain.
"Siapa pelakunya?" Fugaku langsung pada tujuan. Dia berjalan, langkahnya terburu saat Raikage menyambut kedatangannya dengan ekspresi sama seriusnya.
"Kabuto," jawab Raikage. Terselip nada penuh penyesalan salam suaranya.
"Bukankah dia sudah mati?" Fugaku kembali bertanya. Baru beberapa hari yang lalu dia mendapat laporan jika salah satu tangan kanan Orochimaru itu mati di tangan rekannya sendiri, tapi malam ini dia justru mendapat sebuah kejutan tidak menyenangkan karena otak dari kejahatan keji ini tidak lain seorang Kabuto.
Raikage mengangguk. "Kami pikir juga begitu, tapi ternyata dia berhasil selamat dan merencanakan pembalasan dendam ini dalam waktu singkat."
"Dan sangat keji," Fugaku menambahkan, geram. Kedua tangannya terkepal erat. Dia berhenti berjalan, menatap lekat sang jenderal. "Bagaimana dengan Orochimaru?"
Raikage melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada yang menangkap pembicaraan mereka saat ini. "Saya sudah mengirim laporannya pada Anda, Pak," ucapnya bernada serius. "Kita akan bergerak, malam ini."
"Aku menginginkan orang itu dalam minggu ini, Jenderal. Kita tidak bisa menunggu hingga jatuh korban lebih banyak," putus Fugaku berupa sebuah perintah tegas.
Sementara itu di tempat lain, Ken mengelap keringat dingin di keningnya. Rasa takut dia tekan sedemikian rupa. Ken hanya memiliki sedikit waktu untuk mengeluarkan Fang dari ruang penyiksaan. Ah, siapa yang menyangka jika ternyata Fang yang dikenalnya adalah Hatake Kakashi, seorang kapten angkatan darat.
Kakashi benar-benar pintar, puji Ken di dalam hati. Dia sudah menyiapkan rencana cadangan jika sesuatu tidak terduga terjadi padnaya. Kakashi memasang alat pelacak yang ditanam di tangan kanannya dan menyambungkan pada telepon genggam pribadi. Dia sudah menuliskan secara detail pada buku catatan yang telah dipelajari oleh Ken, hingga akhirnya rekannya itu bisa mengetahui dimana keberadaan Kakashi sekarang.
Dengan susah payah Ken menelan air liurnya. Dia berjanji setelah ini akan segera tobat dan kembali ke jalan yang benar, meninggalkan dunia gelap. Ken akan lebih mudah melakukannya karena Kabuto dan Zetsu sudah mati, setidaknya itu yang tengah diberitakan di televisi nasional saat ini; dua anggota utama Organisasi Hebi tewas mengenaskan. Pria itu berharap penerima pesannya segera bertindak dan mengepung tempat ini secepatnya. Ken memanfaatkan kelengahan penjaga kediaman Orochimaru yang mendadak sibuk, mencari kebenaran berita mengenai kematian Zetsu dan Kabuto.
Raungan murka Bos Besar terdengar hingga lantai bawah, membuat suasana semakin mencekam. Zetsu masih sangat berguna untuk Orochimaru saat ini, terlebih karena transsaksi senjata dengan mafia Rusia hanya tingga menunggu hari.
Ken baru menginjakkan kaki di tempat ini, dia memutar otak untuk mengelabui penjaga. Senyumnya terkembang, Ken bergegas mencari dapur untuk mengambil makanan yang ada lalu meletakkannya di atas nampan.
"Mau kemana?" tanya seorang penjaga sata melihat Ken membawa sebuah nampan.
Ken memasang ekspresi tenang terbaiknya. "Aku diperintahkan membawa makanan untuk profesor," ucapnya mencoba keberuntungannya. Dia yakin ruang tempat menyekap Kurama tidak jauh dengan ruang penyiksaan tempat Kakashi berada. Dia bisa mengeluarkan keduanya jika cukup beruntung.
Penjaga itu mengamati Ken dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Aku belum pernah melihatmu di sini."
"Aku baru ditugaskan di sini," jelas Ken. "Sebelumnya aku anak buah Bos Zetsu."
Ekspresi pria di hadapannya pun langsung berubah. Dia menepuk bahu Ken penuh simpati. "Bosmu sudah mati."
Ken mengangguk. "Aku tahu," jawabnya dengan helaan napas berat. "Ah, aku harus mengantar makanan ini atau Bos Besar akan mecincangku. Kau tahu betapa pentingnya profesor itu untuk Bos Orochimaru setelah Kabuto mati."
"Aku akan mengantarmu," tawar pria berbadan besar itu, terdengar baik hati.
Sementara itu, di kaki bukit, beberapa van dan mobil polisi terparkir, cukup jauh dari jalan raya untuk menyembunyikan diri.
"Bagaimana?" Fuu bertanya pada Naruto yang baru saja kembali setelah mengawasi lokasi yang dikirimkan lewat telepon genggam milik Kakashi yang diterimanya siang tadi.
Naruto tidak langsung menjawab. Dia membuka peta yang dibawa olehnya lalu meletakkannya di atas meja. Mereka berada dalam sebuah mobil van berukuran besar saat ini. Dengan rencana singkat Raikage merencanakan penyerangan malam ini untuk melumpuhkan Orochimaru beserta anak buahnya.
"Apa mungkin laporan yang dikirim dari Kapten Kakashi itu palsu?"
Naruto menggeleng. "Laporan itu asli walau aku yakin bukan dikirim oleh pamanku," jawabnya tanpa menoleh pada Sanbi. "Mereka menyekap kakakku dan Paman Kakashi di rumah itu."
"Penjagaannya sangat ketat," timpal Fuu. "Kita tidak bisa merangsak masuk begitu saja tanpa bukti yang kuat."
Yamato yang sejak tadi diam ikut menengahi. "Kita tidak memiliki waktu untuk itu. Menteri Fugaku sudah bersedia memasang badan untuk hal terburuk. Operasi kita malam ini sangat rahasia, kita harus melenyapkan mereka tanpa suara."
"Kapan kita mulai bergerak?"
"Satu jam lagi," Yamato menjawab pertanyaan Fuu tanpa menduga jika penyerangan malam ini akan mengubah kehidupan orang-orang di sekelilingnya, lagi.
.
.
.
TBC
