Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Drama, romance
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
Selamat membaca!
Mr. Arrogant
Chapter 3 : Kenapa?
By : Fuyutsuki Hikari
Itachi tahu betul jika adiknya; Sasuke, dibalik ekspresi datarnya itu tengah memikirkan sesuatu saat ini. Manik onyx adiknya itu terus terfokus pada layar telepon genggamnya, dan demi Tuhan, sesekali adiknya itu menghela napas keras. Hal yang sungguh ajaib dan amat sangat langka.
Sasuke tidak mungkin bersikap seajaib ini jika hanya memikirkan masalah pekerjaan. Pasti ada hal yang lebih besar dan lebih berat, pikir Itachi dengan sebelah alis terangkat. Itachi menggigit apel merah di tangannya, berdiri bersilang kaki, dengan kedua tangan dilipat di depan dada.
Cinta?
Senyum Itachi terlihat aneh saat pemikiran itu terlintas di otaknya. Itachi menggigit bagian dalam mulutnya, menahan tawa yang bahkan sudah tidak mampu ditahannya.
"Ibu tahu apa yang sedang kau pikirkan saat ini," ujar Mikoto tiba-tiba. Wanita paruh baya itu mengacungkan spatula di tangan kanannya tepat di depan hidung Itachi. "Jangan berani-berani mengganggu adikmu!" tegas Mikoto pada Itachi yang kini hanya menatap bingung ibunya. "Kau tidak bisa membohongiku dengan ekspresimu, Itachi!" kata Mikoto lagi dengan mata menyipit tajam.
"Bu, aku yakin Sasuke sedang jatuh cinta," kata Itachi setengah berbisik sembari mengekori Mikoto ke dalam dapur. "Ayolah, apa Ibu tidak penasaran?"
"Memangnya kenapa jika adikmu jatuh cinta?" Mikoto balik bertanya dengan suara tenang. Dia mengambil sebuah pisau lalu memotong-motong daging sapi dengan kekuatan yang sedikit berlebihan, hal itu tentunya membuat nyali Itachi sedikit ciut hingga memutuskan untuk mundur beberapa langkah. "Adikmu sudah cukup umur untuk menikah. Kalian kira berapa lama lagi kami bisa menunggu untuk bisa menimang cucu?" tambahnya dengan nada sedih yang nyata. "Kedua putraku tidak pernah berpikir hingga sejauh itu," keluhnya membuat Itachi memutar kedua bola matanya. Ah, keluh kesah ibunya ini pasti akan sangat, sangat, sangat panjang. "Kedua putraku sangat sibuk dengan pekerjaannya. Untuk pulang satu minggu sekali saja amat sangat sulit. Seharusnya aku memiliki satu orang anak perempuan agar bisa menemaniku di rumah, dan lihat ayah kalian, sudah waktunya dia pensiun, tapi dia memilih untuk mengabdi selama beberapa tahun lagi."
"Ayah sangat diperlukan di kesatuannya, Bu," ujar Itachi untuk membela sang ayah.
Brakkkkkk!
Mikoto memukul keras meja dapur lalu membalikkan badan dan mengacungkan pisau ke arah Itachi yang tersentak kaget dan menatapnya horor.
Tidak akan terjadi pertumpahan darah, kan? Pikir Itachi kalut.
"Ayahmu sudah tua, Itachi!" desis Mikoto penuh penekanan. "Sudah saatnya dia istirahat dan menikmati masa pensiunnya. Apa tidak ada orang lain untuk menggantikannya? Apa atasannya di kepolisian tidak bisa menemukan orang yang cocok untuk mengambil alih tugas-tugas ayahmu?"
"Tenang, Bu!" kata Itachi lembut, mencoba untuk menenangkan emosi ibunya yang tersulut. "Bukankah kita sedang membicarakan Sasuke? Sebaiknya aku mencari tahu, mungkin Ibu akan segera mendapat menantu dan cucu dari Sasuke," katanya dengan senyum dipaksakan.
"Kaulah yang seharusnya menikah lebih dulu, Itachi!" raung Mikoto keras saat Itachi berlari keluar dari dapur untuk melarikan diri. "Kau pikir berapa usiaku sekarang? Aku sudah tua! Mungkin sebentar lagi aku mati!" teriak Mikoto membuat Itachi merinding mendengarnya. Terkadang ibunya memang berlebihan jika sudah membahas pernikahan, menantu dan cucu.
"Hai, Sasuke?!" ujar Itachi sembari melirik takut ke arah pintu dapur. Napasnya sedikit terengah, bukan karena lelah, tapi karena rasa takut pada amarah ibunya. "Kusarankan kau jangan pergi ke dapur, Ibu sedang mengamuk," katanya lagi.
Sasuke hanya mendengus kasar, membuat Itachi berdecak karenanya. Tanpa harus Itachi peringatkan pun dia sudah tahu jika ibu mereka sedang marah besar saat ini, siapa juga yang tidak bisa mendengar teriakan keras ibunya di rumah sederhana berlantai dua ini. "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Itachi tidak mengidahkan peringatan Mikoto. "Wanita?" tanyanya lagi saat Sasuke tidak menanggapinya.
"Kau sudah bosan hidup?" Sasuke balik bertanya dengan nada dingin dan berbahaya. Namun hal itu malah membuat Itachi tersenyum lebar, terlau lebar hingga membuat bibirnya sakit.
"Ah, ternyata tebakanku benar," katanya terdengar bangga pada dirinya sendiri. Itachi kembali menggigit apel di tangannya dan mengunyahnya tanpa terburu-buru, sama sekali tidak terpengaruh akan tatapan intimidasi adiknya ini. "Sepertinya kali ini kau dibuat tidak berdaya, Sasuke. Siapa dia? Model? Artis? Anak orang kaya? Atau mungkin rekan kerja?" selidiknya tenang. "Aish... rekan kerja rupanya," Itachi mengangguk dengan tenang, menikmati ekspresi kesal pada wajah Sasuke.
Sementara itu, Sasuke mengumpat di dalam hati, mengutuk kebodohannya yang dengan mudah terpancing oleh Itachi. Bagaimana bisa Sasuke lupa jika Itachi berprofesi sebagai jaksa, menginterogasi sudah merupakan hal biasa untuk Uchiha sulung.
"Syukurlah," kata Itachi dengan nada serius. "Setidaknya Ibu akan segera mendapat menantu dan cucu darimu," tambahnya, membuat Sasuke melotot marah ke arahnya. "Kenapa kau hanya menatap telepon genggammu? Apa kau tidak memiliki keberanian untuk menghubunginya?" oloknya menjadi-jadi, membuat Sasuke bertambah kesal. "Mau kemana?" tanya Itachi saat melihat Sasuke beranjak pergi. "Menghubunginya, huh?" oloknya lagi, dan lengkingan tawa puas Itachi pun terdengar keras dari ruang keluarga Uchiha, siang ini.
Di teras rumah, Sasuke berdiri, bimbang. Oh, ayolah, dia seorang pria berusia dua puluh delapan tahun dan merasa bimbang karena seorang wanita? Apa susahnya menghubungi wanita itu dan menanyakan kabarnya? Desak batinnya memberi semangat.
Sasuke menarik napas panjang, dan dengan tekad bulat akhirnya dia pun menghubungi Naruto.
Di lain pihak, siang ini Naruto masih bergelung di dalam selimutnya. Kepalanya terasa lebih berat, dan terus berdenyut sakit. Sudah tiga hari dia terkena flu berat, dan sudah tiga hari juga dia tidak masuk kerja. Kurama bahkan terpaksa pulang untuk menjaganya saat Naruto mengabari jika dirinya sakit.
Naruto mengumpat saat telepon genggamnya terus berbunyi karena panggilan masuk. Wanita itu menghela napas lega ketika telepon genggamnya berhenti berbunyi, namun ternyata hanya untuk sejenak dan telepon genggamnya kembali berbunyi nyaring.
Susah payah dia berusaha untuk mendudukkan diri di atas tempat tidurnya. Kepalanya tertunduk dalam saat rasa sakit itu kembali menyerangnya dengan hebat. Dia meringis menahan sakit yang tidak kunjung reda.
"Halo?!" sapanya ketus, tidak ramah. Wanita itu mengutuk siapa pun yang sudah dengan lancang menghubunginya saat ini. Terlebih lagi, dia tidak mengenali nomor yang menghubunginya saat ini. Aish... apa orang itu tidak tahu jika di dia memerlukan istirahat cukup untuk memulihkan stamina serta menghilangkan sakit kepalanya yang terasa semakin menyakitkan?
"Bagaimana keadaanmu?"
Naruto mengernyit dan menjawab kasar. "Kau siapa?" dia balik bertanya masih dengan nada ketus yang sama.
"Begitu caramu berbicara dengan atasanmu?" balas Sasuke dengan nada suara datar namun terdengar tajam.
Naruto melotot, serta merta merinding saat menyadari siapa pemilik suara berat itu. Alih-alih menjawab sopan, tanpa sadar dia malah melempar telepon genggamnya ke atas lantai berlapis karpet, sedikit keras hingga menyebabkan baterai serta penutup bagian belakang telepon genggamnya tercerai-berai di atas karpet.
"Ma-mau apa dia menghubungiku?" gumamnya terbata, hatinya mendadak risau. "Dan darimana dia tahu nomor telepon genggamku?" cicitnya semakin panik, sepertinya flu beratnya membuatnya lupa jika Sasuke memiliki akses mudah untuk melihat data pribadi karyawan.
"Ya, Tuhan!" pekiknya saat sadar akan ketidaksopanannya. "Jangan-jangan dia menghubungiku karena tersinggung sikap tidak sopanku saat dia mengantarku?" kedua bola matanya membulat karena panik. "Aku memang tidak mengucapkan terima kasih karena dia bersedia mengantarku, tapi aku 'kan sudah berterima kasih untuk makanan yang dia belikan. Apa itu saja tidak cukup?" cicitnya semakin ngawur. "Kenapa dia harus menggangguku? Apa jangan-jangan dia tidak percaya jika aku sakit? Bukankah Kak Kurama sudah mengantarkan surat dokter ke hotel? Kenapa dia tidak percaya jika aku sakit?" racaunya beruntun dengan suara tertahan. Ya, sepertinya flu benar-benar membuat otak wanita itu tidak bekerja terlalu baik.
Sementara itu, di teras rumah keluarga Uchiha, Sasuke hanya bisa menatap layar telepon genggamnya dengan wajah ditekuk dalam. Naruto berani menutup teleponnya dengan sangat kasar? Wanita itu benar-benar tidak tahu terima kasih, ujarnya di dalam hati. Dia bahkan berlalu begitu saja, sama sekali tidak mengatakan apapun saat Sasuke mengantarnya pulang tiga hari yang lalu.
"Dia tidak penting!" gumamnya datar. "Wanita aneh itu sangat tidak penting!" tambahnya penuh penekanan pada dirinya sendiri.
.
.
.
Hari pun berlalu dengan cepat setelahnya.
Ino yang saat ini menjadi rekan kerja Naruto hanya bisa mengernyit dalam saat mendapati tingkah-polah Naruto yang tidak biasa siang ini. Dia tidak tahu kenapa temannya itu begitu sering menengok ke kanan dan ke kiri, sesekali ke arah belakang, seperti menghindari sesuatu, atau mungkin menghindari seseorang. "Katakan, sebenarnya apa yang sedang kau cari?" tanya Ino yang sudah kehabisan kesabaran menghadapi tingkah Naruto.
Naruto mengangkat sebelah alisnya saat menjawab dengan nada tidak mengerti. "Apa maksudmu?" dia balik bertanya, dan tanpa disadarinya dia kembali melirik lewat bahunya ke arah belakang sebelum keduanya masuk ke dalam salah satu kamar hotel yang harus mereka bersihkan.
"Kau melakukannya lagi!" Ino menimpal tajam dengan mata menyipit. "Siapa sebenarnya yang kau cari? Atau kau sedang melarikan diri dari seseorang?" ujarnya mulai menebak-nebak.
"Aku tidak mencari siapapun, dan aku tidak bersembunyi dari apapun," jawab Naruto bersikeras, walau sikapnya menyatakan hal yang sebaliknya.
"Apa kau masih demam?" tanya Ino sembari meletakkan telapak tangannya di dahi Naruto. "Suhu badanmu normal," ujarnya lega.
Naruto memutar kedua bola matanya dan menyahut sinis, "aku sudah katakan jika aku baik-baik saja." Naruto kemudian mendengus keras saat melihat kondisi kamar yang sangat berantakkan. "Kamar ini seperti kapal pecah!" ujarnya sebal, mengalihkan pembicaraan, sementara kedua tangannya mulai bekerja memunguti satu per satu bantal yang tergeletak di atas lantai. "Lihat, dia bahkan menumpahkan minuman di atas seprai. Aishhh... noda kopi ini pasti akan sangat sulit dihilangkan," Naruto terus menggerutu dengan dahi ditekuk dalam.
Namun seolah tidak peduli, Ino mengabaikan keluhan-keluhan Naruto dan kembali ke topik awal pembicaraan mereka. "Apa kau tidak sadar jika sikapmu sangat aneh?" ujarnya. "Sikapmu sangat aneh setelah absen sakit, apa kau yakin sudah sembuh?" tanya Ino beruntun.
Aku masuk kerja karena takut dipecat, batin Naruto menangis saat teringat telepon dari Sasuke, dua hari yang lalu. Wanita itu masih sangat yakin jika atasannya itu menghubunginya karena tidak percaya jika dia sakit.
"Aku sangat yakin kau menyembunyikan sesuatu dariku," kata Ino lagi, membuyarkan lamunan Naruto. "Ayolah, sebenarnya apa yang kau sedang sembunyikan?"
Naruto menghela napas panjang, untuk sesaat dia menatap lurus wajah penasaran Ino. "Aku sedang menghindarinya. Puas!" aku Naruto pada akhirnya. Wanita muda itu melipat seprai kotor di tangannya dan mengambil selembar seprai baru sebagai gantinya.
"Menghindari siapa?" tanya Ino polos sementara tangannya dengan terampil mengambil sisi lain dari kain seprai itu dan mulai memasangkannya sebagai pelapis kasur.
"Menurutmu siapa lagi," sahut Naruto datar sembari memasangkan selimut dan menata bantal-bantal yang sudah diganti sarungnya di atas tempat tidur. "Selain dia, siapa lagi yang ingin kuhindari di hotel ini."
"Maksudmu general manager?!" seru Ino yang kini sibuk mengosongkan isi tempat sampah.
"Hm..." jawab Naruto pura-pura tidak peduli.
"Apa kau sudah berbuat salah lagi?" Ino terkesiap kaget mendengarnya.
Naruto hanya bisa merengut, menangisi nasibnya.
"Kali ini apalagi yang kau perbuat?"
"Kurasa Uchiha-san tidak percaya jika aku sakit hingga absen hingga beberapa hari," kata Naruto dengan wajah memelas.
"Kau bercanda?!" kata Ino cepat. "Untuk apa Uchiha-san mengurusi masalah absensi karyawan seperti kita? Itu tugas bagian personil, bukan tugas general manager. Banyak hal yang jauh lebih penting untuk dikerjakannya. Kau takut untuk hal yang tidak penting!" Ino berkata panjang lebar sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Benarkah begitu?"
"Tentu saja," jawab Ino yakin.
Lalu untuk apa dia menghubungiku? Pikir Naruto tidak mengerti. Dia pun menggelengkan kepala cepat, berusaha untuk mengembalikan konsentrasinya, ia kemudian beranjak menuju kamar mandi yang sama berantakkannya. "Jorok sekali!" pekiknya kesal saat melihat handuk kotor berserakan di lantai, lantai yang becek, wastafel kotor oleh busa sabun, serta genangan air bekas mandi di bathub. "Aku bisa gila jika semua tamu di hotel bersikap seperti penghuni kamar ini," ujarnya kesal sementara tangannya terus bekerja untuk membersihkan wastafel, bathub dan mengepel lantai basah serta mengganti semua handuk kotor dengan yang bersih.
"Naruto, apa kau bisa membersihkan kamar ini seorang diri?" tanya Ino tiba-tiba dari depan pintu kamar mandi.
Naruto yang tengah berjongkok untuk mengepel lantai untuk sejenak menghentikan kegiatannya dan melirik ke arah belakang lewat bahunya. "Kau mau kemana?"
"Panggilan alam," jawab Ino yang kini meringis sembari memegang perutnya. "Perutku sakit sekali," tambahnya dengan wajah semakin memucat.
"Di sini saja," usul Naruto yang kini sudah berdiri, untuk mempersilahkan Ino masuk ke dalam kamar mandi.
"Tidak!" tolak Ino, menggelengkan kepala cepat. "Bagaimana kalau tamu kamar ini datang? Aku tidak mau ambil resiko-" dan Ino pun langsung berlari keluar kamar tanpa mampu menyelesaikan kalimatnya, meninggalkan Naruto yang hanya bisa menggeleng pelan melihatnya.
Lima belas menit kemudian, Naruto akhirnya selesai membersihkan serta merapihkan kamar itu. Bau linen bersih tercium dari seprai dan sarung bantal, handuk bersih dilipat rapih di dalam lemari penyimpanan di kamar mandi, wastafeldan bathub sudah mengilat bersih, gelas-gelas kotor untuk minum pun sudah dicuci dan ditata dengan rapih di atas nampan. Persediaan kopi, teh dan gula sudah diisi kembali, beberapa botol air mineral kosong untuk minum pun sudah diganti dengan yang baru.
Naruto menghela napas panjang, sementara tangannya mengelap keringat pada dahi dan leher jenjangnya. Dia memang kesal, tapi hatinya tetap bersyukur karena tidak semua tamu di hotel ini bersikap seenaknya. Setelah memastikan hasil pekerjaannya untuk terakhir kali, dia pun mendorong troli peralatan kerjanya keluar kamar, lalu mengunci kamar itu lagi sebelum melanjutkan pekerjaannya di kamar lain.
.
.
.
Sasuke baru saja selesai memberikan pengarahan pada petugas keamanan di ruang kontrol cctv saat sosok Naruto muncul di salah satu layar. Wanita itu tengah membersihkan kamar-kamar di lantai empat belas rupanya. Kenapa dia melakukannya seorang diri? tanya Sasuke di dalam hati.
Pria itu sangat yakin jika Naruto tengah menghindarinya saat ini. Wanita itu bahkan berbelok dan mengambil jalan lain saat tidak sengaja mereka bertemu di lorong hotel. Naruto bahkan memilih lift yang lain saat melihat Sasuke ada di dalam lift tersebut.
Aku bisa gila! Pikir Sasuke yang mulai frustasi oleh sikap Naruto yang mengesalkan.
"Lihat, bukankah itu Zaku?" seru salah satu petugas keamanan seraya menunjuk ke arah layar. "Bagaimana kalau kita bertaruh? Zaku pasti menggoda anak baru itu. Siapa namanya? Ah, Naruto. Iya, kan?" ujarnya lagi dengan ringan, seolah lupa akan keberadaan Sasuke di dalam ruangan itu.
Ruangan itu seketika hening. Pria yang bernama Juugo itu langsung menutup mulutnya rapat saat ingat jika Sasuke masih berada di dalam ruangan itu. Juugo sekilas melirik ke arah Sasuke yang hanya menatap datar sebuah layar yang menampilkan keadaan di lorong lantai lima belas.
Matanya menyempit saat melihat Zaku Abumi mulai berjalan mendekat ke arah Naruto yang mendorong troli berisi peralatan kebersihanya. Sasuke tidak bisa melihat apa yang dilakukan oleh Zaku, namun dia yakin pria itu melakukan hal yang sangat tidak pantas hingga Naruto berbalik dan menendang pria itu tepat di kemaluannya, dan hal itu sukses membuat Sasuke berbalik pergi dengan senyum tipis di bibirnya.
"Sekali lagi kau berani menyentuhku, aku pastikan kau tidak akan punya keturunan, Zaku Abumi!" bentak Naruto dengan gigi gemertuk karena marah. Berani sekali pria kurang ajar ini meremas pantatnya. Naruto sudah begitu sabar menghadapi ucapan-ucapan tidak pantas seniornya ini terhadapnya, dan pada pegawai wanita yang lain, tapi bukan Naruto namanya jika hanya akan berdiam diri saat mendapat pelecehan seksual secara fisik seperti saat ini.
"Kenapa dengannya?" tanya Ino dengan napas putus-putus, karena berlarian sepanjang lorong untuk menyusul Naruto. "Apa dia mengganggumu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Ino yang terlihat lebih khawatir pada Naruto, padahal sudah jelas jika Zaku yang tidak dalam kondisi baik saat ini.
"Si brengsek ini meremas pantatku," jawab Naruto dengan berapi-api sembari menunjuk ke arah Zaku dengan tatapan beringas, sementara pria yang ditunjuknya itu hanya bisa berguling di atas lantai, matanya terpejam erat, mengerang kesakitan akibat tendangan yang dilayangkan Naruto.
Ino melotot dan membentak kasar. "Kau harus tahu dimana tempat untuk meletakkan tanganmu, Senior! Kau pikir semua anak baru di sini akan terus diam?" Ino mendesis, berkacak pinggang. "Ayo, Naruto. Sebaiknya kita pergi dan menyelesaikan pekerjaan kita," tambahnya lagi. Dan keduanya pun pergi meninggalkan Zaku yang masih mengerang kesakitan di tempatnya.
"Kau benar-benar hebat, Naruto!" puji Ino saat keduanya memasukki kamar lain untuk dibersihkan. "Bagaimana bisa kau menghadapinya seorang diri?" tanya Ino dengan binar kagum. "Apa kau tidak merasa takut?"
Naruto menghela napas panjang, sebelum menjawab dengan nada kesal saat teringat perlakuan Zaku padanya. "Aku masih bisa menahan diri saat mulut lancangnya merayuku dengan ucapan tidak senonoh, tapi meremas pantat? Bayangkan Ino, meremas pantat!" seru Naruto semakin jengkel. "Dia akan kembali melakukannya jika aku hanya pasrah dan menerima perlakuannya itu. Hei, bukankah kau juga membentakknya tadi?"
Ino tersenyum lebar dan menjawab polos, "aku melakukannya karena ada kau," katanya membuat Naruto memutar kedua bola matanya. Ino tersenyum semakin lebar dibuatnya, dan kembali bicara namun kini dengan nada serius. "Selama ini tidak ada satu pegawai wanita pun yang berani melawannya. Sementara pegawai laki-laki malah menjadikan perilaku Zaku sebagai bahan taruhan. Mereka bertaruh apakah Zaku mampu bertahan untuk tidak menggoda pegawai wanita selama satu hari. Bukankah itu konyol?"
"Mereka melakukannya?" pekik Naruto tidak percaya sementara tangannya sibuk membersihkan lantai kamar, lalu mengelap perabotan di dalam kamar itu. "Bagaimana jika pelecehan itu terjadi pada ibu, istri, atau saudari mereka?" tanyanya gemas.
Ino mengangkat bahu dan menjawab dengan nada sedih, "yang kutahu, tidak banyak pegawai pria di sini berpikir hingga sejauh itu. Mereka mungkin lupa jika mereka dilahirkan oleh seorang wanita. Sementara sebagiannya lagi terlalu takut untuk bertindak karena Zaku merupakan pegawai senior. Jika mereka peduli, mereka pasti sudah memperingatkan atau setidaknya menegur Zaku sejak lama. Benarkan?!" tukasnya meminta pembenaran. "Dan kau, mulai sekarang kau harus lebih berhati-hati, Naruto! Aku takut Zaku sakit hati karena tindakanmu tadi," ujarnya dengan ekspresi serius, sementara Naruto hanya mengangguk kecil.
Dan kabar mengenai Naruto menghajar Zaku pun menyebar secepat kilat, hari itu.
.
.
.
Naruto kembali pulang larut malam, hari ini. Beruntung Kiba menawarinya tumpangan untuk pulang, jika tidak, dia terpaksa harus naik bis untuk pulang. Naruto melepas napas lelah, sedikit tidak sabar karena Kiba memerlukan waktu lama untuk mengeluarkan motornya dari tempat parkir karyawan. "Kenapa lama sekali?" keluhnya sembari melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Maaf menunggu lama," tukas Kiba yang datang dan duduk manis di atas sepeda motornya, ia menyerahkan sebuah helm yang segera dikenakan oleh Naruto.
"Kukira kau pingsan di tempat parkir," ejek Naruto dengan senyum simpul.
"Aku bertemu dengan Sakura dan Karin tadi, sepertinya Zaku menjadi topik hangat hari ini."
"Kau menguping pembicaraan mereka?" ujar Naruto, sedikit kesusahan saat memasang pengait helm di bawah dagunya. "Tolong bantu aku!" katanya pada Kiba.
"Bukan menguping," sanggah Kiba cepat sementara tangannya sibuk membantu Naruto untuk memasang pengait helm. "Mereka berdua berbicara cukup keras, jadi aku bisa mendengarnya." Keduanya tidak sadar jika posisi mereka saat ini bisa menyebabkan kesalahpahaman jika dilihat dari arah belakang, dan itu terjadi pada Sasuke yang mengendarai mobil melewati keduanya.
"Terima kasih," kata Naruto, kemudian dengan cekatan dia naik di jok belakang sepedah motor Kiba. "Lalu, apa yang mereka bicarakan?" tanya Naruto kemudian.
"Mereka bilang kau menghajar Zaku. Benar begitu?" tanya Kiba untuk memastikan.
"Bagaimana bisa mereka mengetahuinya?" Naruto balik bertanya dengan nada tak percaya.
"Gosip sangat cepat menyebar di sini," balas Kiba. Pria itu kemudian menjalankan sepedah motornya dengan kecepatan sedang untuk keluar dari halaman hotel menuju jalan raya untuk perjalanan pulang. "Dan apa kau tahu jika Zaku diskors selama satu minggu?" Kiba kembali bertanya, sedikit berteriak untuk mengimbangi suara mesin motornya.
"Benarkah?" balas Naruto tidak kalah keras. "Kenapa dia diskors?"
"Tidak tahu. Yang jelas, Sasuke-san memanggilnya secara pribadi siang tadi."
.
.
.
Keesokan harinya, Sasuke duduk di dalam ruang kerjanya, menatap muram tumpukan dokumen yang harus segera dipelajari dan diselesaikannya. Sementara Fuu, Gaara dan Kakashi, ketiganya duduk di depan meja kerja pria itu, menunggu dengan sabar.
"Nona Koyuki meneleponku tadi," lapor Fuu setengah malas.
"Apa yang diinginkannya kali ini?" Sasuke balik bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari dokumen yang tengah dibacanya.
"Dia meminta space backstage untuk ruang ganti penari."
"Jika hanya masalah itu, kau harus membahasnya dengan dekorator yang menangani dekorasi pernikahannya, aku tidak mau pusing memikirkannya," jawab Sasuke datar, pria itu jelas masih kesal karena apa yang dilihatnya tadi malam.
"Masalahnya, panggung yang diperlukan untuk panggung pelaminan sangat lebar hingga memakan jarak ke belakang panggung."
"Lalu?" tanya Sasuke lagi yang kini fokus mendengarkan laporan Fuu yang menjabat sebagai banquet sales manager.
"Pihak dekorator meminta ruang servis sebagai pengganti backstage."
"Tidak bisa!" tolak Kakashi keras. "Pekerjaan anak buahku akan kacau jika ruang servis digunakan untuk ruang ganti atau ruang tunggu. Kami tidak akan leluasa mengerjakan pekerjaan kami. Tidak. Aku tidak bisa menyetujuinya."
"Lalu bagaimana?" Fuu mengernyit. "Pernikahan artis dan orang-orang terkenal selalu saja merepotkan!" keluhnya. "Koyuki meminta panggung pelaminan juga berfungsi sebagai panggung show. Dua puluh lima penari akan pentas di atas panggung, mengisahkan awal pertemuan mempelai hingga keduanya menikah. Mereka memerlukan ruang ganti serta ruang tunggu, tidak ada ruangan lain yang bisa digunakan untuk ruang ganti."
"Bagaimana dengan ruang anak? Kita bisa menjadikannya sebagai ruang ganti," usul Kakashi.
Fuu melepas napas panjang dan mendelik ke arah Kakashi sebelum menyahut dengan gemas, "ruang anak dialih fungsikan menjadi ruang press conference. Aku tentu tidak akan meminta pendapat jika bisa menggunakan ruang anak sebagai ruang ganti," tukasya membuat Kakashi bungkam.
"Sekat ruang servis menjadi dua bagian," timpal Sasuke tegas. "Kita tidak memiliki pilihan lain, Kakashi," tambahnya saat Kakashi hendak memprotes keputusannya. "Kecuali kau bisa membujuk Koyuki untuk membatalkan pertunjukkan di atas panggung pelaminan, yang kuyakini tidak mungkin terjadi, ruang servis akan menjadi ruang ganti," tegas Sasuke. "Apa ada masalah lain?"
"Koyuki meminta properti baru untuk kamar yang akan disewanya sebagai kamar pengantin," lapor Fuu lagi. "Aku belum menyetujuinya, dan dia meminta jawaban dari pihak hotel hari ini juga."
"Penuhi selama itu masuk akal," jawab Sasuke santai. "Dan pastikan semuanya masuk ke dalam tagihannya!"
"Ah, baiklah kalau begitu," kata Fuu mengangguk puas. "Satu hal lagi, Sasuke-san. Koyuki meminta Anda dan manager-manager hotel yang menangani pesta pernikahannya untuk hadir saat technical meeting besok."
"Kenapa dia tidak sekalian meminta pemilik hotel ini untuk turut hadir juga?" ejek Kakashi dengan senyum palsu. "Kenapa setiap tahun kita selalu mendapat klien-klien aneh seperti Koyuki?" keluhnya seraya melepas napas berat.
"Besok pasti banyak wartawan yang datang untuk mencari berita. Gaara, kau harus meningkatkan keamanan hotel, tapi ingat, kenyamanan tamu harus tetap menjadi prioritas utama!"
Gaara hanya mengangguk tenang menjawab perintah dari Sasuke itu.
"Dan Fuu, satu jam lagi kumpulkan semua manager di ruang meeting. Aku akan membahas beberapa hal untuk persiapan besok." Sasuke mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, terlihat berpikir keras. "Gaara, tamu 1505?"
"Dia sudah check in pukul delapan, pagi ini," jawab Gaara tenang. "Saya sudah menjalankan perintah Anda dengan baik. Perkiraan Anda tidak meleset, tua bangka itu bahkan berani melakukan pelecehan pada Karin saat check in, pagi tadi. Begitu pun dengan beberapa karyawati yang berpapasan dengannya."
"Kau merekamnya dengan baik?" tanya Sasuke dengan gigi gemertuk.
"Kamera yang dipasang di belakang meja penerima tamu merekam kejadian itu dengan sangat jelas, begitu pun dengan kamera yang dipasang di lorong dan lift," lapor Gaara.
"Bagus," Sasuke berujar puas. "Dan Kakashi, pastikan untuk pelayanan makanan ke kamar 1505 dilakukan oleh pegawai pria, aku tidak mau hal yang tidak diinginkan terjadi. Mengerti?!"
"Memangnya kenapa dengan tamu di kamar itu?" tanya Fuu dengan kening mengernyit dalam. "Apa tamu itu lebih merepotkan daripada Koyuki?"
"Sangat merepotkan dalam hal yang berbeda," jawab Gaara datar. "Reputasinya sangat terkenal di beberapa hotel berbintang. Reputasi buruk tentu saja. Sayangnya dompetnya terlalu tebal untuk diabaikan."
"Tua bangka itu sangat suka menggoda wanita muda, dan melecehkannya," sambung Kakashi yang kembali kesal karena harus mendapat tamu menyusahkan lainnya. "Aku sudah perintahkan anak buahku agar mengirim pegawai pria saja sebagai untuk servis makanan ke kamar itu. Bagaimana dengan departemen housekeeping? Bukankah lantai empat belas hingga enam belas dikerjakan oleh pegawai training? Dan seingatku semuanya wanita."
"Aku juga akan membahas hal ini di rapat nanti," kata Sasuke mengakhiri rapat singkat mereka. Fuu, Gaara serta Kakashi pun segera pergi dari ruangan itu untuk mengerjakan tugasnya sebelum rapat selanjutnya dimulai.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul dua siang saat Naruto selesai mengerjakan pekerjaannya di lantai lima belas. Atasannya memberi perintah dengan tegas agar dia dan Ino menghindari kamar 1505 selama satu minggu ke depan. Naruto tidak mengerti kenapa, namun dengan patuh dia mematuhi perintah itu.
Naruto berdiri dengan sabar di depan pintu lift, sesekali dia menoleh ke belakang, mencari keberadaan Ino. Sepertinya Ino terserang sakit perut, hari ini bahkan lebih parah dari kemarin. Naruto bahkan harus rela bekerja sendirian karena Ino terus bolak-balik ke toilet.
Setelah beberapa saat menunggu, pintu lift pun terbuka. Di dalam lift itu berdiri seorang pria yang Naruto tebak berusia di akhir lima puluhan. Naruto tidak suka bagaimana cara pria itu menatapnya saat ini, dengan sopan Naruto membungkuk dan menepi untuk memberi jalan untuk tamu hotel itu.
Betapa kagetnya dia saat tiba-tiba pria di dalam lift itu terduduk sembari memegang bagian dada kirinya.
Naruto berlari masuk ke dalam lift, menekan tombol agar pintu lift tetap terbuka. "Tuan, apa Anda baik-baik saja?" tanyanya panik.
"Tolong bawa aku ke kamar," pria itu menyahut lirih namun masih bisa didengar jelas oleh telinga Naruto.
"Saya akan memanggil bantuan," seru Naruto.
"Tidak," tolak pria itu. "Aku hanya perlu meminum obatku di kamar. Tolong bantu aku ke kamar," katanya lagi.
Karena panik, Naruto akhirnya membopong pria itu dengan susah payah. "Dimana kamar Anda, Tuan?" tanyanya saat mereka sudah keluar dari lift.
"1505."
Jantung Naruto berdetak semakin cepat saat mendengarnya. Itu adalah kamar yang dengan tegas tidak boleh dimasukki oleh karyawan wanita selama satu minggu ke depan. Naruto begitu dilema, di satu sisi dia tidak mau melawan perintah atasannya, tapi di sisi lain, tamu yang tengah dibopongnya ini sangat membutuhkan bantuannya. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada tamu ini dan dia disalahkan karena tidak memberikan bantuan seperti yang seharusnya dia lakukan.
Sementara itu, Juugo yang melihat kejadian itu di layar cctv langsung menghubungi Gaara.
"Ada apa?" tanya Sasuke pada Gaara yang berekspresi cemas.
"Sepertinya seorang tamu sakit, dan tengah dibantu oleh salah satu karyawati dari bagian housekeeping."
"Parah?"
"Belum ada laporan lagi," jawab Gaara. Namun beberapa detik kemudian telepon genggamnya kembali bergetar. "Namikaze yang membantu tamu itu," lapor Gaara dengan wajah memucat.
Sasuke menoleh dengan sebelah alis terangkat. "Kamar?"
"1505," sahut Gaara serak.
Tanpa harus diberi aba-aba, keduanya berlari cepat menuju lantai lima belas. Panik menjalar cepat pada Sasuke. Dia sangat yakin jika si Tua Yosuke itu hanya berakting untuk menjebak karyawati hotel, dan mangsanya saat ini adalah Naruto. Brengsek! Brengsek! Umpat di dalam hati.
Di lantai lima belas, tamu itu tersenyum tipis, gembira karena Naruto masuk ke dalam perangkapnya. Siapa sangka jika siasat busuknya ini berhasil menjerat seorang karyawan wanita yang terlihat sangat polos.
Pria itu bernapas putus-putus, dengan tangan gemetar dia mengambil sebuah kunci berbentuk kartu untuk membuka kamarnya. Hal itu tentu saja hanya akting untuk mengelabui Naruto.
.
.
.
"Kita bisa mendapat masalah jika masuk tanpa ijin," kata Gaara saat dia dan Sasuke berdiri di depan pintu kamar 1505. Namun tanpa banyak bicara, Sasuke mengeluarkan sebuah kunci berbentuk kartu dari balik jasnya, kunci yang bisa digunakannya untuk membuka pintu kamar manapun di hotel ini.
"Dasar pelacur! Berani sekali kau menamparku!" suara raungan pria itu terdengar jelas oleh Sasuke dan Gaara yang kini menyerbu masuk ke dalam kamar.
Sasuke dengan ekspresi dingin menarik tubuh pria itu dari Naruto yang terlentang di atas tempat tidur dengan rambut acak-acakan dan kemeja seragam kerjanya yang koyak.
Tubuh Naruto bergetar hebat karena syok saat Sasuke membantunya berdiri dan memakaikan jas miliknya dibahu Naruto.
"Dia menggodaku!" raung Yosuke untuk membela diri. "Dan dia juga menyerangku!" tambahnya, begitu jahat.
"Bukan itu yang kami lihat!" balas Sasuke tajam, menakutkan. "Anda melecehkan karyawati hotel ini."
"Itu tidak benar. Itu tidak benar," teriak pria itu keras. "Aku akan menuntut karena kalian masuk ke dalam kamarku tanpa ijin. Dan aku akan menuntut wanita ini karena sudah menyerangku!"
"Saya akan dengan senang hati menghadapi tuntutan Anda, Tuan Yosuke," kata Sasuke dengan nada suara datar, sama sekali tidak terlihat takut. "Panggil pengacara Anda, saya akan dengan senang hati menemuinya," tambahnya dengan tenang, membuat Yosuke terkejut dibuatnya.
Dengan dagu terangkat Sasuke membawa Naruto keluar dari kamar itu, Gaara pun mengikuti dari belakang. Dengan pelan Gaara menutup pintu di belakangnya dan bicara dengan nada serius. "Apa perintah Anda selanjutnya?"
"Aku ingin rekaman sejak dia masuk ke dalam hotel ini, bawa ke kantorku secepat mungkin!" perintah Sasuke tegas.
"Saya akan segera kerjakan," sahut Gaara sebelum berbalik pergi.
.
.
.
Apa kau tidak mendapatkan perintah untuk menghindari kamar 1505 selama satu minggu ke depan?" desis Sasuke dingin sementara Naruto hanya menundukkan kepala, terlalu takut menghadapi kemarahan atasannya ini. "Jawab!" bentaknya marah. "Kenapa kau diam?" tambah Sasuke dengan nada lebih rendah namun tetap terdengar menakutkan. "Apa kau sengaja melawan perintah atasanmu? Untuk kau ketahui, aku bisa mengeluarkanmu karena itu!"
"Maaf..." kata Naruto dengan suara bergetar. Dia menunduk semakin dalam, bingung, tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan kesalahpahaman ini. Keduanya berada di dalam ruang kerja Sasuke saat ini. Harus Naruto akui, kejadian tadi membuatnya sangat takut, tapi menghadapi kemarahan Sasuke membuatnya jauh lebih takut.
"Maaf?" dengus Sasuke. "Mudah sekali kau mengatakannya. Apa kau tidak berpikir bagaimana jika aku terlambat datang dan sesuatu terjadi padamu? Apa kau tidak bisa berpikir hingga sejauh itu?"
"Tolong maafkan saya. Saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," ujar Naruto, sedikit tercekat menahan tangis.
"Kau tidak akan melakukan kesalahan yang sama, Nona Namikaze!" ujar Sasuke dingin. "Karena aku akan memecatmu hari ini juga," tambahnya, membuat Naruto mendongak dan menatap pria di depannya lurus, dengan ekspresi tak percaya.
"Anda tidak bisa mengeluarkan saya!" balas Naruto masih
dengan ekspresi tidak percaya.
Sasuke menyempitkan mata dan menatap angkuh, "benarkah?" ejeknya tajam.
Kedua tangan Naruto terkepal erat mendengarnya. Dia tidak bisa diam saja. Kesalahpahaman ini harus diluruskannya, dan jika pria di depannya ini tidak bersedia mendengarkan penjelasannya, maka dia akan memaksa pria itu untuk mendengarkannya. "Anda tidak bisa seenaknya memecat saya. Saya hanya melakukan hal yang seharusnya."
"Jangan membual, Nona Namikaze! Hari ini dengan tegas aku memerintahkan setiap manager di hotel ini untuk menjauhkan semua pegawai wanita dari kamar 1505. Alasan apa lagi yang akan kau utarakan? Atasanmu tidak menyampaikan perintah dariku?"
"Tolong dengarkan dulu penjelasan saya!" mohon Naruto lirih.
"Tidak!" tolak Sasuke tegas. "Keputusanku sudah final, sebaiknya kau mulai merapihkan barang-barangmu!"
"Dasar brengsek!" maki Naruto membuat kedua bola mata Sasuke membulat karenanya.
"Apa?"
"Kau benar-benar brengsek, Uchiha Sasuke!" ujar Naruto tanpa rasa takut, kesopanannya menguap karena marah. "Aku hanya menolong tamu yang sakit. Bagaimana bisa aku tahu jika dia berbohong atau tidak," jelasnya berapi-api. "Aku juga tidak tahu jika dia tamu yang menginap di kamar 1505. Kau pikir aku tidak bimbang saat akhirnya tahu jika dia tamu di kamar itu. Aku ketakutan setengah mati saat dia menyentuhku, kenapa kau tidak berpikir jika aku korban di sini? Kenapa kau malah berpikir untuk memecatku?"
Wajah Sasuke mengeras, kedua tangannya terkepal erat.
"Kenapa kau menjadikan hal ini sebagai alasan untuk memecatku?" tanya Naruto dengan nada lebih rendah. "Seharusnya kau tidak menerimaku jika sejak awal kau tidak menyukaiku bekerja di sini."
"Keluar! Keluar dari ruanganku!" kata Sasuke dengan gigi gemertuk. "Dan jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapanku lagi!" tambahnya saat Naruto berbalik, memunggunginya.
.
.
.
TBC
Halo...!
Updatean chapter ini saya khususkan, spesialkan, dedikasikan #LengkapBener... untuk Ichirukilover30 sebagai hadiah karena bisa menjawab pertanyaan kuis yang saya berikan di fic Secret dengan benar. Hutang saya lunas yah, Nak! Maaf memakan waktu dua minggu dari waktu yang saya janjikan, bulan-bulan ini pekerjaan saya sangat padat dan menguras energi, jadi harap maklum. Dan untuk pemenang kedua, hadiahnya menyusul yah. (;
Kapan-kapan saya bikin kuis lagi deh, hadiahnya tetep sama; 2 orang penjawab pertama dengan jawaban benar, akan mendapatkan hak khusus untuk memilih salah satu dari 8 fic saya yang belum selesai agar diupdate cepat. Apa ada yang berniat ikutan lagi? ^-^
Semoga chap ini tidak mengecewakan kalian semua yang sudah menunggu lama. Romance dichap ini... ngaak ada yah, disimpan untuk chap depan. Hehehe... Dan untuk pembaca baru, selamat datang! Selamat bergabung! ^-^
Terima kasih untuk semua dukungannya, dan sampai jumpa dichap selanjutnya! (:
#WeDoCareAboutSFN
