Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Drama, romance
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
Selamat membaca!
Mr. Arrogant
Chapter 4 : Benarkah?
By : Fuyutsuki Hikari
Sasuke memukul meja kerjanya keras setelah Naruto pergi dari ruangannya, merasa kesal pada dirinya yang tidak bisa mengendalikan emosinya dengan baik. Hatinya bekerja lebih cepat daripada otaknya. Ketakutannya yang berlebihan membuat emosinya meledak, meluap tak terkendali. Dan bukan keinginannya untuk bicara begitu keras pada Naruto. Tapi wanita itu, wanita itu selalu saja membuatnya khawatir, dan cemas. Sasuke sudah berusaha untuk mengedepankan sikap profesionalnya terhadap wanita itu, namun otak dan batinnya selalu saja tidak kompak jika sudah berhadapan dengan Naruto.
Tidak lama berselang, Gaara dan Iruka memasukki ruang kerja pria itu. Sasuke bersyukur karena dia masih mampu mengendalikan ekspresi wajahnya di depan kedua bawahannya ini.
"Mana Namikaze?" tanya Iruka, memutus keheningan mencekam di dalam ruangan itu. Gaara sudah menjelaskan apa yang terjadi di ruang kerja Iruka, dan menyampaikan perintah Sasuke agar Iruka sebagai kepala departemen personil ikut membantu menangani masalah yang dialami Naruto.
"Aku mengusirnya keluar," sahut Sasuke tanpa ekspresi, hal itu tentu membuat Iruka sedikit kaget dan merasa aneh, namun Iruka memutuskan untuk tidak memperpanjangnya. "Aku ingin hal ini dirahasiakan dari karyawan lain," kata Sasuke yang kini sudah duduk nyaman di kursi kerjanya. "Aku tidak akan segan-segan memecat siapapun yang dengan sengaja maupun tidak sengaja membocorkan peristiwa ini ke pihak luar," ancamnya serius. "Kau harus bisa menutup mulut anak buahmu, Sabaku!"
"Saya mengerti!" jawab Gaara dengan suara dalam. Gaara bersyukur di dalam hati karena sebelum diperintahkan oleh Sasuke, dia sudah lebih dulu mengancam anak buahnya untuk menutup mulut rapat, karena peristiwa ini bisa menjadi skandal besar yang bisa mencemarkan nama besar Hotel Zeus.
"Dan Umino, aku ingin kau menangani Namikaze. Aku rasa dia sangat syok, dan peringatan kerasku sama sekali tidak membuatnya lebih baik," kata Sasuke lagi tanpa nada bersalah. "Mungkin ada baiknya kita memberinya ijin beberapa hari untuk menenangkan diri?"
"Apa kebijakan itu harus diberikan, Uchiha-san?" Iruka balik bertanya dengan ekspresi serius. "Pegawai lain akan curiga jika tahu mengenai dispensasi yang diberikan perusahaan untuk Nona Namikaze."
"Kau hanya perlu meminta Namikaze untuk tutup mulut dan mengarang alasan lain untuk menutupi hal ini," jawab Sasuke dengan santainya.
Iruka terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk mengerti dan pamit undur diri untuk mencari Naruto, meninggalkan Sasuke dan Gaara dalam pembicaraan serius.
Di tempat lain, Naruto berjalan lesu menuju ruang loker karyawan. Jas berwarna biru tua milik Sasuke masih tersampir di pundaknya saat ini. Dia hanya bisa menghela napas lalu terduduk di lantai keramik yang dingin. Ia kemudian memeluk kakinya sendiri, punggungnya bersandar pada tembok yang sama dingin di belakangnya, kepalanya mendongak sementara tatapan matanya terlihat kosong- menatap lurus langit-langit.
Tanpa dia sadari, sebulir air mata mengalir dari sudut matanya.
Satu.
Dua.
Tiga.
Dan pada akhirnya menganak sungai. Bahunya bergetar hebat, hatinya sakit karena peristiwa yang beberapa saat lalu dialaminya, dan sikap Sasuke yang tidak peka itu seperti menaburkan garam di atas lukanya yang menganga.
Dia menangis, terus menangis hingga matanya bengkak, hidung dan kedua pipinya memerah seperti tomat. Ah, wanita itu terlihat sangat menyedihkan.
.
.
.
"Kau di sini rupanya!"
Naruto menoleh ke asal suara, sedikit kaget mendapati Iruka berdiri menjulang di depannya. "Kau baik-baik saja?" Iruka bertanya dengan suara lembut. Pria itu kemudian mengulurkan tangan kanannya, membantu Naruto berdiri untuk duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan itu.
"Tunggu di sini sebentar!" kata Iruka lagi sebelum beranjak pergi dan akhirnya kembali lima menit kemudian dengan satu poci teh panas di tangannya. Tanpa banyak bicara, Iruka menuangkan teh ke dalam cangkir, untuk diberikan kepada Naruto.
"Terima kasih," cicit Naruto sembari menerima cangkir yang disodorkan Iruka itu dengan tangan bergetar. Sesekali isakan itu terdengar, membuat keadaannya terlihat lebih menyedihkan di mata Iruka.
Keduanya terdiam cukup lama. Iruka sengaja memberikan waktu bagi Naruto untuk menenangkan diri.
Hening.
"Apa Anda datang untuk mengusirku pergi?" tanya Naruto setelah memiliki kekuatan untuk bertanya. Wanita itu melirik sekilas ke arah Iruka sebelum kembali menunduk, mengamati cangkir teh di tangannya.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Iruka balik bertanya.
Naruto mengangkat bahu, tanpa menjawab.
Iruka menghela napas panjang dan kembali bicara dengan nada simpati. "Maaf karena kau harus mengalami kejadian buruk ini."
Naruto mengangkat sebelah bahunya, melirik ke arah Iruka dan tersenyum pahit sebelum menjawab dengan nada biasa yang dipaksakan, "aku memang selalu bernasib sial!"
"Hal ini bisa terjadi pada siapa pun, dan aku bersyukur karena kau bisa melindungi diri," kata Iruka bijak.
Naruto menundukkan kepalanya semakin dalam, dadanya terasa sesak, sedikit tersengal dia menjawab, "jika Uchiha-san tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku bisa saja melukai tamu itu untuk melindungi diri."
Dan aku malah berkata kasar pada Sasuke, sesal Naruto di dalam hati.
"Kau korbannya, Namikaze! Ingat itu!" ujar Iruka serius. "Berhenti menyalahkan dirimu!"
"Nama baik hotel bisa tercemar jika tamu itu benar-benar melayangkan tuntutan, aku harus bagaimana?" tanyanya parau. "Dan aku sudah dipecat." Suaranya semakin hilang saat mengatakannya. Naruto menyeka air matanya keras, melap ingusnya dengan saputangan yang disodorkan oleh Iruka, lalu melepas napas lelah.
"Siapa yang memecatmu?"
Naruto mengerjapkan mata, tidak mengerti. Bukankah Sasuke sudah memecatnya? Kenapa Iruka sebagai kepala departemen personil tidak mengetahui tentang hal ini? Apa Sasuke belum mengatakannya? "Uchiha-san tidak mengatakannya pada Anda?" tanya Naruto, menyelidik.
"Aku hanya ditugaskan untuk menenangkanmu, dan memberimu libur beberapa hari untuk menenangkan diri."
"Tidak mungkin!" pekik Naruto kaget, jelas tidak percaya. "Aku tidak dipecat? Aku masih boleh bekerja?" tanyanya lagi, memastikan.
"Apa kau ingin dipecat?" tanya Iruka dengan mata menyipit.
"Tidak!" kata Naruto, menggelengkan kepala keras. "Tentu saja tidak! Aku masih ingin bekerja."
Iruka tersenyum tipis dan kembali bicara dengan ekspresi serius. "Tapi kau harus ingat, Naruto. Kejadian ini tidak boleh diketahui oleh orang lain, baik itu pegawai, terlebih orang luar. Mengerti?!" tanyanya penuh penekanan.
"Tapi bagaimana jika tamu itu melayangkan tuntutan? Hal ini pasti akan diketahui oleh umum," balas Naruto takut.
"GM kita akan menangani hal itu, jadi kau tidak usah khawatir. Sekarang ganti pakaianmu, aku menunggumu di luar, dan aku yang akan mengantarmu pulang."
"Saya bisa pulang sendiri," kata Naruto, meyakinkan.
"Ini tugasku," sahut Iruka sebelum beranjak pergi keluar ruangan, meninggalkan Naruto untuk berganti pakaian.
Dua jam berlalu setelah kejadian itu, Sasuke kembali berjalan penuh percaya diri menuju kamar 1505. Di dalam kamar itu, Yosuke sudah menunggu kedatangan Sasuke dengan sikap pongah, sementara pengacara pribadinya pun sudah duduk dengan sikap profesional di dalam ruangan itu.
"Aku sudah menunggumu begitu lama, Uchiha! Kukira kau tidak berani menampakkan batang hidungmu di hadapanku lagi," olok Yosuke dengan nada mencemooh.
Pengacara yang duduk di samping pria tua itu berdeham, mencoba mencairkan suasana dan dengan gerakan cepat dia berdiri, mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri pada Sasuke.
Sasuke menyambut uluran tangan itu, lalu dengan tenang dia mendudukkan diri di atas sofa nyaman di depan Yosuke yang menatapnya tidak suka.
"Klien saya mengajukan keluhan atas ketidaknyamannya selama menginap di hotel ini, Tuan Uchiha," ujar pengacara yang bernama Ken itu dengan nada suara tenang. "Tuan Yosuke mengeluhkan ketidaksopanan Anda yang merangsak masuk ke dalam kamarnya tanpa ijin serta berniat menuntut seorang karyawati hotel ini yang telah menyerangnya," jelas Ken panjang lebar sementara Yosuke menyesap wiskinya dengan nikmat.
Sasuke tersenyum tipis, dan menyalakan laptop yang dibawanya untuk diperlihatkan pada Yosuke dan Ken. "Rekaman ini jelas mengatakan hal yang sebaliknya, Tuan Ken," ujar Sasuke, bertopang kaki. Dia sangat menikmati perubahan warna pada wajah Yosuke yang langsung memucat seketika.
"Kau memata-mataiku!" raung Yosuke marah, tidak terima.
Sasuke menggelengkan kepala dan menjawab dengan nada datar, "mungkin Anda lupa jika hotel kami dilengkapi kamera cctv untuk keamanan hotel. Dan sepertinya dalam kejadian ini justru saya yang harus menuntut Anda atas tindakan pelecehan terhadap beberapa karyawati hotel kami."
"Kau tidak akan berani melakukannya!" raung Yosuke sembari menggebrak meja kopi di hadapannya dengan keras. "Kau tidak bisa melakukannya tanpa bukti-bukti!" tambahnya marah. Pria itu meraih laptop milik Sasuke lalu dilemparnya ke tembok hingga hancur.
Sasuke tersenyum tipis dan berkata tenang, "saya masih memiliki rekaman aslinya, Tuan Yosuke, saya bahkan bisa memberikan Anda salinan video itu jika Anda menghendakinya."
"Berani sekali kau menjebak dan mengancamku!" teriak Yosuke keras di depan wajah Sasuke.
Namun Sasuke menanggapinya dengan sikap tenang. "Aku akan melupakan semuanya jika Anda mau bekerja sama."
"Kau-"
"Tenang, Tuan Yosuke!" Ken menengahi dengan bijak. Dia tahu jika kliennya ini akan kalah telak jika tuntutan Sasuke sampai di meja hijau. "Apa yang Anda inginkan, Tuan Uchiha?"
"Saya menginginkan Tuan Yosuke keluar dari hotel ini, hari ini juga, tanpa keributan tentu saja," ujar Sasuke penuh penekanan pada kalimat terakhirnya. "Batalkan tuntutan Anda terhadap salah satu karyawati kami, dan hal memalukan yang Anda lakukan selama di hotel ini akan kami anggap tidak pernah terjadi," tambahnya dengan ekspresi datar.
Yosuke mendengarkannya dengan wajah tegang, rahang mengeras dan gigi gemertuk karena marah. Bagaimana bisa Sasuke malah balik mengancamnya. Sialan! Makinya di dalam hati.
"Keputusannya saya serahkan pada Anda, Tuan Yosuke," lanjut Sasuke dengan tenangnya. "Jika Anda tidak setuju, maka pertemuan kita berikutnya akan terjadi di ruang sidang."
Pertemuan itu pun berakhir lima belas menit kemudian dengan Sasuke yang tersenyum penuh kemenangan di setiap langkahnya.
.
.
.
Andai saja Sasuke tahu jika bertemu dengan Naruto sama dengan masalah, maka sedari awal dia pasti akan berusaha untuk menghindari wanita itu. Atau mungkin tidak? Yah, sejujurnya dia memerlukan sedikit sentuhan warna di dalam kehidupannya yang abu-abu. Atau tidak? Sasuke merengut, melenguh panjang saat otaknya mulai berpikir yang tidak perlu.
Seringkali dia bertindak di luar kebiasaannya saat berhadapan dengan Naruto yang keras kepala. Bagaimana bisa wanita itu membuatnya begitu marah namun dalam waktu bersamaan membuatnya ingin menciumnya ganas? Apa yang harus dilakukannya agar wanita itu berhenti melakukan hal-hal yang membuatnya cemas dan khawatir?
Sasuke tahu betul jika dia memiliki perasaan romantis terhadap Naruto, namun statusnya sebagai general manager di hotel ini tentu akan membuat situasi Naruto tidak nyaman jika wanita itu mengetahui perasaannya, terlebih jika Naruto tidak memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
Brengsek! Maki Sasuke di dalam hati. Pria itu kemudian tersenyum simpul, ketidakberadaan wanita itu pun masih mampu membuatnya melakukan hal di luar kebiasaannya, seperti saat ini. Bagaimana bisa dia sibuk memikirkan perasaannya di saat dia harus fokus pada pekerjaannya yang menggunung. "Kau memang biang masalah, Namikaze Naruto!" gumamnya tidak jelas.
Sebuah ketukan pelan di pintu kerjanya membuyarkan lamunan Sasuke, pria itu melirik ke arah sekretarisnya yang kini berdiri di depan pintu ruang kerjanya. "Nona Koyuki membuat masalah lagi, Uchiha-san," lapor sang sekretaris dengan ekapresi datar.
"Apa yang terjadi?" tanya Sasuke.
"Nona Koyuki enggan turun dari kendaraannya jika tidak disambut layaknya selebritis terkenal."
Sasuke menghela napas keras, lalu mengeluarkan telepon genggamnya untuk menghubungi Shikamaru yang bertugas sebagai Chief Concierge. "Berikan apa yang dia inginkan," ujar Sasuke tanpa basa-basi.
"Dia ingin karpet merah digelar saat dia berjalan masuk ke dalam hotel," ujar Shikamaru terdengar kesal.
"Kau atur dengan baik, Nara!" kata Sasuke dengan suara tegas. "Jika mobilnya terus berada di depan pintu lobby, kendaraan lain yang datang akan tersendat, aku tidak ingin ada kekacauan. Mengerti?"
"Segera saya laksanakan!" jawab Shikamaru sebelum memutus hubungan telepon itu.
"Bahan rapat hari ini?"
"Sudah saya siapkan, ada beberapa catatan yang harus Anda pelajari, Tuan Sasuke, dan jangan lupa, Tuan Jiraiya meminta Anda menemuinya di kediamannya tepat pukul tujuh malam ini," jawab sekretaris Sasuke dengan nada profesional. "Semua vendor pernikahan Nona Koyuki sudah berkumpul di ruang meeting, semua menunggu kehadiran Anda serta Nona Koyuki. Selain itu, chef melaporkan jika menu untuk test food akan siap dihidangkan setelahtechnical meeting selesai. Banquet sales manager juga melaporkan jika rangkaian-rangkaian bunga, aksesoris serta peralatan makan untuk mockup pun sudah disiapkan di restoran."
"Aku akan mengecek persiapannya terlebih dahulu sebelum ke ruang rapat," kata Sasuke. "Tahan semua telepon masuk untukku, aku tidak mau diganggu hingga rapat mengenai pernikahan Koyuki selesai. Mengerti?!"
Wanita yang menjadi sekretaris Sasuke pun mengangguk mengerti. Dengan cepat dia menyerahkan bahan-bahan rapat untuk Sasuke dan kembali ke meja kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan atasannya itu.
Dan keputusan Sasuke untuk mengecek semua persiapan itu memang sangat tepat, setelah rapat berakhir, Koyuki dengan dagu terangkat berjalan ke arah restoran, dan duduk di meja yang sudah disiapkan dengan sikap bossy.
Semoga pestanya segera datang dan segera berlalu! Doa Fuu, Kakashi, serta Sasuke kompak di dalam hati. Persiapan pernikahan artis terkenal memang menguras tenaga.
"Lumayan," seru Koyuki saat melihat rangkaian bunga yang diletakkan di tengah meja makan bulat yang nantinya dipakai untuk meja VIP. "Tapi aku lebih suka jika filler bunganya menggunakan baby breath, aku mau bunga impor, bukan lokal dan tentu saja aku akan membayar biaya tambahannya. Kalian harus memastikan jika peoni-peoni pada pestaku nanti seindah ini," tuturnya seraya menatap rangkaian bunga di tengah meja.
Koyuki lalu mengalihkan perhatiannya pada gelas-gelas kristal yang diletakkan apik di atas meja. "Tuan Uchiha, aku menginginkan semua piring dan mangkuk di meja VIP terbuat dari keramik kualitas nomor satu. Sendok, garpu, dan pisau harus terbuat dari perak, aku ingin perjamuan terbaik," kata Koyuki panjang lebar sementara Sasuke hanya mendengarkannya dengan ekspresi tenang. "Aku akan memakai gelas-gelas kristal milikku untuk gelas anggur. Karena itu Tuan Uchiha, aku ingin Anda membentuk tim khusus untuk serah terima gelas-gelas tersebut. Anda tahu, gelas-gelas itu berharga sangat mahal," ujarnya dengan ekspresi berlebihan.
Ah, seandainya saja bisa, Fuu pasti sudah membekap mulut Koyuki untuk membuatnya diam. Fuu tidak mengerti bagaimana bisa Koyuki terus bicara tanpa merasa lelah.
"Aku senang karena menu yang kupilih sama sekali tidak mengecewakan, aku akan sangat kesal jika menu yang kupilih ternyata tidak sesuai dengan harga yang sudah kubayar dengan mahal," tambah Koyuki penuh penekanan pada Sasuke.
"Koki yang kami miliki memiliki reputasi yang sangat baik, Anda tidak akan kecewa, Nona Koyuki!"
"Syukurlah kalau begitu," ujar Koyuki sembari mengangkat sebelah bahunya ringan. "Ah, aku ingin melihat kamar yang akan kugunakan nanti. Apa aku bisa melihatnya setelah ini?" tanya Koyuki.
"Sayangnya kamar yang akan Anda gunakan sedang dipakai oleh tamu lain, saya harap Anda bersabar hingga tamu kami pulang," jawab Sasuke tenang.
Koyuki kembali mengangkat sebelah bahunya dan menyahut dengan nada kecewa, "sayang sekali!" Koyuki terdiam beberapa saat, lalu kembali bicara dengan semangat. "Bagaimana jika aku menginap beberapa hari di kamar itu setelah tamu itu pergi, bukankah itu ide bagus?" ujarnya dengan senyum mengembang. "Aku memerlukan seorang pelayan wanita untuk melayaniku selama menginap di sini, apa Anda bisa mengaturnya, Tuan Uchiha."
"Tentu saja," jawab Sasuke singkat.
"Bagus," pekik Koyuki. "Hubungi aku jika kamarku siap. Selamat siang, semuanya!" ujarnya sebelum melenggang pergi.
.
.
.
Naruto memutuskan untuk kembali bekerja keesokan harinya. Iruka memang memberinya waktu istirahat selama tiga hari untuk menenangkan diri, namun wanita itu berpikir jika rekan-rekannya yang lain pasti akan curiga jika dia kembali tidak masuk kerja selama itu.
Aku harus kuat! Tukasnya di dalam hati saat menatap refleksi dirinya pada cermin besar di kamarnya. Naruto segera turun ke ruang makan dan mendapati Kurama yang mengernyit heran melihatnya. "Kau yakin mau masuk kerja?"
"Aku harus mencari tahu kelanjutan kasusku, Kak," ujar Naruto parau. "Setidaknya aku tidak akan terlalu kaget jika tamu itu benar-benar melakukan apa yang diancamkannya kemarin."
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu," tolak Naruto halus. "Aku naik bis saja, terima kasih untuk tawarannya," ujarnya sebelum berbalik pergi.
Iruka yang melihat kedatangan Naruto pagi ini juga sama terkejutnya. "Kenapa kau memaksakan diri?" tegurnya heran.
"Saya tidak bisa menunggu di rumah dengan perasaan was-was," sahut Naruto dengan wajah memelas.
Iruka menghela napas panjang dan menepuk bahu kanan Naruto, "kau yakin sudah bisa kembali bekerja?"
Naruto mengangguk cepat.
"Baiklah kalau begitu," ujar Iruka mengalah. "Mengenai kejadian kemarin, kau tidak perlu memikirkannya karena Uchiha-san sudah mengurusnya."
"Benarkah?" pekik Naruto takjub. "Ba-bagaimana bisa?"
"Kau tidak perlu tahu bagaimana caranya, yang terpenting untuk saat ini, masalah kemarin sudah selesai, dan ingat kejadian kemarin tidak boleh diketahui oleh rekanmu yang lain. Mengerti?!"
"Aku mengerti," sahut Naruto serak.
"Bagus. Cepat ganti pakaianmu, dua puluh menit lagi breafing pagi akan dimulai. Jangan sampai terlambat!" tambah Iruka dengan mata menyipit.
"Siap!" ujar Naruto dengan sikap siap sedia, membuat Iruka yang melihatnya menggelengkan kepala pelan.
Naruto segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Iruka, setengah berlari dia menuju ke ruang loker dan berganti pakaian dengam cepat. Dengan langkah panjang-panjang dia berjalan menuju ruang pelatihan untuk breafing pagi.
Di tengah jalan wanita itu kembali bertemu dengan Sasuke yang sepertinya juga akan turun menuju ruang pelatihan. Naruto membungkukkan badan untuk memberi hormat pada Sasuke, namun pria itu sama sekali tidak mengatakan apapun untuk menanggapinya.
Dengan cuek Sasuke berjalan menuju lift, dan tanpa menunggu Naruto dia menutup pintu lift untuk turun. Naruto yang mulai panik akhirnya memutuskan menggunakan tangga darurat untuk turun.
Naruto membuka sepatu hak tingginya dan berlari menuruni tangga dengan sekuat tenaga, hanya satu harapannya saat ini, dia tiba di ruang pelatihan sebelum Sasuke.
"Kau masuk kerja?" tanya Ino yang tercengang melihat Naruto berdiri di sampingnya dengan napas putus-putus. "Kau yakin sudah sehat? Keringatmu banyak sekali, napasmu juga tidak normal," ujar Ino cemas.
"Aku baik-baik saja," jawab Naruto. "Senju-san dan Uchiha-san belum datang?"
"Kau bisa lihat sendiri, keduanya belum datang," sahut Ino sembari memutar kedua bola matanya, sementara Naruto hanya tersenyum lega mendengarnya.
Naruto tidak tahu apalagi yang bisa membuatnya lebih senang setelahnya. Sudah satu minggu ini pekerjaannya berjalan dengan baik, senior-senior wanitanya sudah bisa menerimanya, dan Zaku sudah tidak berani mengganggunya lagi. Ah, betapa indahnya dunia, pikir Naruto saat ini.
Namun ada satu hal yang membuatnya merasa terganggu, Sasuke sama sekali tidak mau melihatnya lagi. Pria itu bersikap sangat acuh, dingin dan cenderung menghindar. Dia benar-benar tidak mau melihatku, kenapa hal itu malah mengangguku? Ujarnya di dalam hati.
Naruto terus mendorong troli makanannya menuju kamar yang ditempati Koyuki, sedikit gugup karena harus berhadapan dengan seorang artis terkenal. Wanita itu melirik ke arah troli berisi makanan yang dipesan khusus oleh Koyuki.
Dengan perasaan campur aduk dia menekan bel kamar yang ditempati oleh Koyuki. Sejujurnya dia merasa terlalu antusias untuk menemui artis idolanya itu. Namun rasa antusiasnya itu langsung sirna saat melihat Ino yang membuka pintu kamar Koyuki.
"Kenapa kau yang membukakan pintu?" rengut Naruto tidak suka.
"Itu tidak penting," ujar Ino yang terlihat panik. "Bantu aku melerai mereka. Kumohon!"
Tanpa banyak bicara, Naruto mendorong troli makanannya, mengikuti Ino yang masuk ke dalam kamar. Naruto terkejut saat melihat Koyuki tengah beradu argumen dengan seorang wanita di dalam kamar itu.
Kedua mata Naruto membulat sempurna saat kedua wanita itu mulai saling menjambak rambut, menendang, mencakar dengan membabi-buta. "Cepat panggil keamanan dan Uchiha-san!" seru Naruto pada Ino yang berdiri mematung, bingung.
"Dasar pelacur perebut suami orang!" teriak wanita dengan dandanan super heboh itu pada Koyuki.
Naruto segera menengahi, dengan sekuat tenaga dia mencoba melerai perkelahian keduanya. Jika wartawan mencium pertengkaran ini, tentu hal ini akan menjadi skandal besar. Napas Naruto memburu saat berhasil melerai keduanya. Dengan sengit dia memperingatkan kedua wanita lain yang berada di dalam ruangan itu untuk bisa menahan diri.
"Jangan ikut campur urusan kami!" raung wanita bernama Shion itu pada Naruto. "Pelacur ini merebut suamiku!" ujarnya dengan nada putus asa.
"Kalian sudah bercerai saat kami berkencan. Aku tidak merebut suami siapapun," sanggah Koyuki membela diri.
"Kami belum bercerai saat kalian berdua pacaran!" teriak Shion tidak terima. "Kenapa kalian berdua sangat tega menyakitiku? Menyakiti kedua anakku? Bagaimana bisa kalian mengumbar kemesraan kalian di depan umum sementara statusnya masih menjadi suamiku?"
"Aku tidak tahu," ujar Koyuki yang terlihat sama terguncangnya. "Dia memperlihatkan surat perceraian kalian sebelum kami berkencan."
"Bohong!" teriak Shion keras. "Kalian berdua pembohong!" raungnya dengan suara putus asa. Tanpa berpikiran jernih, Shion mengambil benda apapun di dekatnya untuk dilempar ke arah Koyuki. Amarah dan rasa putus asanya membuatnya gelap mata hingga dia tidak menyadari jika tangannya melempar sebuah teko listrik berisi air mendidih ke arah Koyuki.
Naruto yang melihatnya langsung bergerak cepat, menjadikan tubuh bagian belakangnya sebagai tameng bagi Koyuki. Koyuki yang melihat Naruto tersungkur di atas lantai, menjerit sejadinya, sementara Shion yang juga terguncang hanya bisa menatapnya dengan tatapan kosong.
Ino yang kembali dengan membawa Sasuke serta Gaara langsung berlari setelah mendengar jeritan Koyuki dari lorong kamar.
"Panggil ambulans!" ujar Sasuke pada Gaara. "Ambil linen bersih, Yamanaka!" tambahnya pada Ino yang mulai menangis melihat kondisi rekan kerjanya
Sasuke berlutut, mengecek kondisi Naruto yang setengah sadar. Dengan cekatan dia membopong tubuh Naruto dan membawanya ke dalam kamar mandi. Dengan lembut dia menurunkan Naruto ke dalam bathtub. Sasuke menyalakan air shower, dan dengan hati-hati menyiram tubuh Naruto yang terkena air panas itu dengan air dingin.
"Jangan pingsan!" ujar Sasuke menjaga agar Naruto tidak jatuh pingsan. "Bangun! Kau tidak boleh tidur!" tambahnya dengan suara cemas yang terdengar jelas.
"Ini kain linen bersihnya," ujar Ino yang menyerahkan kain linen itu dengan tangan bergetar.
"Buka seragamnya dan ganti dengan linen!" seru Sasuke pada Ino. "Pastikan daerah yang terkena air panas terus disiram oleh air dingin!"
"Ba-baik," jawab Ino terbata, sementara Sasuke keluar dari kamar mandi untuk menyelesaikan kekacauan yang terjadi di dalam kamar Koyuki.
.
.
.
Butuh waktu hampir setengah hari bagi Sasuke untuk menyelesaikan kekacauan yang terjadi dan akhirnya bisa pergi ke rumah sakit dengan leluasa. Kenapa peristiwa buruk terus saja terjadi pada Naruto? Hal itu membuat Sasuke tidak mengerti. Mungkin wanita itu harus dibawa ke kuil untuk dibersihkan agar terhindar dari nasib sial?
Sasuke menggelengkan kepala pelan, dan berjalan dengan terburu-buru menuju kamar inap Naruto. Iruka mengatakan jika Ino mengalami syok ringan karena melihat kondisi Naruto dan sudah diantar pulang setelah diperiksa dokter, sementara kakak Naruto sedang berada di luar kota dan dalam perjalanan pulang ke Tokyo.
"Anda yakin akan menunggu hingga kakak Naruto datang?" tanya Iruka.
Sasuke mengangguk dan menjawab datar, "harus ada seseorang yang menjelaskan apa yang terjadi pada keluarganya. Kau tidak perlu cemas, aku akan menanganinya."
"Anda tidak perlu repot, Uchiha-san. Saya bisa menjaga Naruto dan menjelaskan kejadiannya pada keluarganya nanti."
"Sebaiknya kau pulang," sahut Sasuke tenang. "Kau sudah berada di sini lebih dari setengah hari. Ini juga kewajibanku. Aku hanya perlu menunggu keluarga dari Namikaze datang, setelah itu aku akan pulang."
"Baiklah kalau begitu," ujar Iruka yang sudah terlihat sangat lelah. "Terima kasih untuk pengertian Anda. Saya permisi pulang," tambahnya penuh terima kasih sementara Sasuke hanya mengangguk menjawabnya dan menunggu hingga Kurama datang, tiga jam kemudian.
.
.
.
Dua hari berlalu dengan cepat setelahnya.
"Aku sama sekali tidak menyangka jika kau memiliki penggemar, Naruto," kata Kurama saat masuk ke dalam kamar inap Naruto dengan sebuah buket besar bunga matahari di tangan. Jujur saja, dia juga terkejut saat melihat seorang kurir bunga berdiri di depan pintu kamar inap Naruto. Dan untuk meyakinkan, dia bahkan bertanya hingga tiga kali pada kurir, takut ada kekeliruan pada nomor kamar dan nama penerima bunga.
"Itu untukku?" tanya Naruto, dengan ekspresi tidak percaya. "Benarkah bunga itu untukku?" tanyanya lagi untuk meyakinkan.
"Ini untukmu, nama penerimanya jelas diperuntukkan untukmu," jawab Kurama tanpa mengatakan jika pada awalnya pun dia sama sekali tidak percaya. Dia pun memberikan kartu yang terselip diantara bunga-bunga itu pada Naruto. "Apa isi ucapannya?" tanyanya penasaran.
"Get well soon!" jawab Naruto yang kini menatap kakaknya dengan wajah bertanya-tanya. "Kira-kira siapa yang mengirimnya? Di kartu tidak tertulis nama pengirimnya."
"Penggemar rahasia?" goda Kurama dengan senyum lebar, sementara Naruto menanggapinya dengan memutar kedua bola matanya.
"Jangan bercanda, Kak!" kata Naruto cemberut.
"Kau seharusnya bahagia, karena ada orang lain selain aku yang rela mengeluarkan uang untuk membelikanmu bunga," kata Kurama lagi terdengar mengolok. "Woah, adikku ternyata sudah dewasa."
"Kakak hanya satu kali memberiku karangan bunga," jawab Naruto ketus. "Dan itu pada saat hari wisudaku," tambahnya dengan wajah masam.
Kurama terkekeh mendengarnya, sebelum akhirnya dia kembali bicara dengan ekspresi serius. "Mungkin pria itu yang mengirimnya."
"Pria?" beo Naruto dengan kedua alis saling bertaut.
"Apa aku belum mengatakannya kepadamu?" Kurama malah balik bertanya, membuat Naruto semakin bingung. "Ada seorang pria yang menungguimu saat kau tidak sadarkan diri. Aku tidak tahu berapa lama dia berada di sini, yang jelas saat aku datang dia hanya menjelaskan apa yang terjadi padamu lalu membungkuk dan pergi tanpa memperkenalkan diri."
"Bagaimana ciri-cirinya?" tanya Naruto yang sangat yakin jika pria yang dimaksud oleh kakaknya ini masih pegawai hotel tempatnya bekerja.
"Penampilannya berkelas," jawab Kurama dengan ekspresi serius. "Kulitnya agak pucat, matanya tajam dan dia memiliki gaya rambut yang aneh."
"Maksud, Kakak?"
"Rambutnya seperti pantat ayam," jawab Kurama tanpa bisa menyembunyikan rasa gelinya. "Apa kau memiliki teman dengan ciri-ciri seperti itu di tempat kerja? Ada?" tanya Kurama lagi saat Naruto terbelalak dengan mulut terbuka lebar. "Jadi pria itu rekan kerjamu? Siapa dia?"
"Dia pasti Uchiha Sasuke," pekik Naruto. "Dia general manager di hotel tempatku bekerja. Aku pernah menceritakan dia pada Kakak, kan."
"Benarkah itu dia?" ujar Kurama dengan sebelah alis terangkat.
"Sepertinya itu memang dia," gumam Naruto lirih. "Tapi rasanya sangat tidak masuk akal. Kenapa dia bersedia menjengukku di tengah kesibukannya? Benar-benar tidak masuk akal," kata Naruto dengan gelengan kepala cepat. "Tidak mungkin dia datang menjengukku, terlebih memberikan karangan bunga ini untukku, dia terlalu angkuh, arogan, dan yang terpenting lagi, dia tidak memiliki alasan untuk melakukannya."
"Mungkin dia melakukannya atas dasar kewajiban, atau mungkin dia memang benar menyukaimu."
"Sudah kukatakan jangan bercanda!" desis Naruto kesal.
"Bukankah dia orang yang mengantarmu pulang saat kau sakit, beberapa waktu yang lalu?" tanya Kurama lagi dengan suara tenang.
"Benar," jawab Naruto pendek.
"Kau juga mengatakan padaku jika dia membelikanmu makan malam."
"Ya."
"Dia juga yang menyelamatkanmu saat kasus pelecehan itu terjadi?"
"Tapi setelahnya dia sangat marah, bahkan berteriak keras, dia memecatku."
"Buktinya kau masih bekerja di hotel itu," sahut Kurama masih dengan nada tenang yang sama. "Dia berkata seperti itu karena kesal. Apa kau tidak berpikir bagaimana sulitnya agar kasus yang menimpamu tidak bocor keluar? Kau mengatakan jika rekan-rekanmu yang lain tidak mengetahui tentang masalah ini?"
Naruto terdiam.
"Dia pasti melakukan sesuatu hingga membuat tamu kurang ajar itu membatalkan niatnya untuk menuntutmu dan memilih untuk keluar dari hotel hari itu juga."
Naruto menutup mulutnya rapat, sementara otaknya memikirkan ucapan Kurama dengan serius.
"Apa ada hal lain yang dilakukannya untukmu selain hal-hal yang kusebutkan?"
"Hah, apa?" tanya Naruto bingung.
"Jangan hanya melihat dengan mata saja, Naruto, karena terkadang kebaikan seseorang itu tak terlihat."
Naruto kembali terdiam, bergeming, sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Ya, sudahlah!" kata Kurama kemudian saat tidak mendapat tanggapan dari adiknya. "Sebaiknya aku mencari vas untuk meletakkan bunga-bunga ini," ujarnya sebelum beranjak pergi dari ruangan itu.
Ruangan itu kembali sunyi setelah kepergian Kurama. Naruto kembali jatuh ke dalam lamunanya. Kemarin, Ino mengatakan jika Sasuke bertindak cepat, memberikan pertolongan pertama pada Naruto setelah kecelakaan itu terjadi. Dia tentu saja tidak percaya, karena setelah kecelakaan itu, dia tidak sadar sepenuhnya.
Yang diingatnya hanya suara tegas seorang pria yang memerintahkan seseorang untuk memanggil ambulans, memerintahkan seseorang agar tubuh Naruto yang tersiram air panas itu disiram oleh air dingin secara terus menerus. Suara itu juga memerintahkan seseorang untuk membuka kemeja kerjanya lalu kemudian ditutup dengan kain linen bersih.
Naruto memejamkan mata, mencoba mengingat suara yang didengarnya samar, malam itu. Benar, suara itu seperti suara milik Uchiha Sasuke. Tapi, benarkah? Dan kesimpulan yang diambilnya diperkuat oleh pernyataan Ino tempo hari. Rekannya itu datang dengan berderai air mata dan mengatakan jika bukan karena Sasuke, luka bakar yang dialami oleh Naruto pasti berbekas dan terlihat mengerikan.
"Tidak mungkin Inoberbohong mengenai hal itu. Apa untungnya?" gumamnya lirih. "Lalu, benarkah dia menjagaku hingga Kak Kurama datang?"
Naruto kembali memejamkan mata, meratapi ketidakpekaannya. Dia bahkan tidak mengucapkan terima kasih saat pria itu mengantarnya pulang. Dia juga dengan lancangnya memaki pria itu. Ini sangat memalukan, pikir Naruto yang tidak tahu apakah dia mampu menghadapi pria itu dengan sikap normal jika bertemu.
Naruto akhirnya diijinkan keluar dari rumah sakit- tiga hari kemudian. Tatapannya terlihat kosong saat dia duduk di kursi penumpang di samping Kurama yang dengan cekatan mengendarai mobilnya untuk pulang. Ucapan Kurama mengenai kebaikan Sasuke masih terngiang-ngiang di telinganya hingga hari ini.
"Apa yang membuatmu melamun akhir-akhir ini?" tanya Kurama tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. Naruto melirik sekilas ke arah kakaknya lalu tersenyum simpul, tanpa mengatakan apapun. "Kau masih memikirkan ucapanku beberapa hari yang lalu, iya 'kan?" tebak Kurama tepat sasaran.
"Ucapanmu membuatku merasa bersalah, Kak," aku Naruto setengah berbisik dengan kepala menunduk dalam, sementara jari-jarinya saling bertaut di atas pangkuannya. "Aku seperti tidak tahu terima kasih," lanjutnya saat Kurama tidak menyahut. Naruto menghela napas panjang dan kembali bicara dengan nada menyesal, "aku bahkan berkata kasar padanya."
"Kau bukan tidak tahu terima kasih," sahut Kurama dengan suara berat, "kau kurang ajar!" tambahnya cepat membuat Naruto menundukkan kepala semakin dalam. "Bagaimana bisa kau berkata kasar pada atasanmu?" tegur Kurama. "Setelah dia menyelamatkanmu dan kau malah berkata kasar padanya?"
"Dia memecatku tanpa mendengarkan penjelasanku, Kak. Karena itu aku berkata kasar padanya," ujar Naruto membela diri. "Andai dia mau mendengar penjelasanku saat itu, tentu aku tidak akan berkata kasar padanya."
"Kau tetap bersalah!" kata Kurama penuh penekanan. "Di dalam lingkup ruang kerja, antara atasan dan bawahan, sedekat apapun, tetap ada batasan yang tidak boleh dilanggar, namanya etika. Seharusnya kau tahu mengenai hal itu!"
"Saat itu aku tidak terpikir mengenai etika," sergah Naruto yang mulai kesal karena Kurama seperti memihak Sasuke. "Bagaimana aku bisa memikirkam tentang etika jika dia membuatku sangat marah? Dia sangat arogan, mengesalkan, menyebal-"
"Dia melakukan itu untuk kebaikan hotel," kata Kurama memotong ucapan Naruto. "Bukankah jelas terlihat jika ucapan dan tindakannya sama sekali tidak selaras? Ah, kau belum mampu membaca sifat seseorang rupanya, Naruto."
"Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Naruto ketus.
Kurama menggelengkan kepala dan menyahut dengan nada lebih lembut, "kau sudah besar untuk mencari tahu jawabannya."
.
.
.
Tidak ada hal lain yang lebih mengagetkan Sasuke selain melihat Naruto berdiri di depan pintu apartemennya, siang ini. Wanita itu jelas belum sembuh total, tangan kanannya masih dibalut oleh kain kasa.
"Boleh saya meminta waktu libur Anda selama sepuluh menit?" ujar Naruto saat Sasuke menatapnya dengan sebelah alis terangkat.
"Kenapa aku harus memberikan waktu berhargaku untukmu?" tanya Sasuke dengan ekspresi dingin.
"Karena saya memohon pada Anda," jawab Naruto dengan senyum canggung.
Sasuke melepas napas berat, dengan enggan dia mempersilahkan Naruto untuk masuk.
Naruto berjalan mengekori pria itu, dalam hati dia memuji kebersihan dan kerapihan apartemen milik Sasuke. Apartemen itu terlalu besar untuk ditinggali satu orang, pikir Naruto saat melihat betapa luasnya ruang tamu yang bersatu dengan ruang santai.
"Aku tidak mengira kau berani datang untuk menemuiku," kata Sasuke sembari berjalan lalu mendudukkan diri di salah satu sofa nyaman berwarna hitam. "Bukankah aku sudah mengatakan dengan sangat jelas, bahwa aku tidak mau melihatmu lagi!" Sasuke kembali berkata dengan suara dingin tanpa menatap wajah Naruto yang berdiri canggung di depan pria itu. Sasuke bahkan tidak mau repot mempersilahkan Naruto untuk duduk di sofa.
Dengan santai pria itu mengambil sebuah buku yang tergeletak di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya pada punggung sofa untuk melanjutkan kegiatan bacanya yang sempat tertunda akibat suara bel pintu tadi.
"Saya datang untuk berterima kasih," sahut Naruto dengan sikap lebih tenang. Dia harus mengatakannya saat ini juga, saat dimana keberaniannya timbul walau selemah cahaya lilin yang hampir padam. Dia memerlukan beberapa hari untuk memantapkan diri datang ke apartemen Sasuke, karena itu dia tidak akan pulang tanpa mengutarakan maksud kedatangannya.
Sasuke mendengus, menutup buku di tangannya dan kembali meletakkannya di atas meja. Pria itu pun mendongak, dengan dagu diangkat dan sikap angkuh dia menatap lurus wajah Naruto. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan nada datar, terdengar tidak tertarik.
Naruto mengambil napas panjang, menundukkan kepala sebelum kembali memberanikan diri untuk menatap Sasuke. "Terima kasih karena Anda menolong saya saat saya jatuh pingsan, Anda bahkan bersedia mengantar saya pulang dan membelikan saya makan malam."
Hening.
"Terima kasih karena Anda bersedia menghubungi saya untuk menanyakan kabar, walau dengan sangat tidak sopannya saya malah memutusnya," sambung Naruto yang masih menatap Sasuke dengan senyum tipis dipaksakan.
"Terima kasih karena Anda menyelamatkan saya pada kasus pelecehan itu. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib saya jika Anda tidak datang tepat waktu," ujar Naruto pahit. Dia berhenti sejenak untuk mengambil napas dan menormalkan detak jantungnya yang semakin memburu. "Anda bahkan harus bekerja keras agar tamu itu tidak melayangkan tuntutan kepada saya, untuk hal itu saya juga mengucapkan terima kasih."
Sasuke masih tidak bereaksi, dia hanya diam membisu mendengarkan penuturan yang disampaikan oleh Naruto.
"Terima kasih karena Anda tidak jadi memecat saya. Terima kasih karena Anda memberikan pertolongan pertama pada saat incident tempo hari. Jika bukan karena Anda, luka bakar ini pasti berbekas," jelas Naruto dengan senyum tipis.
Hening.
"Terima kasih karena Anda bersedia meluangkan waktu untuk menjenguk saya di rumah sakit. Terima kasih juga untuk kiriman bunganya-"
"Aku tidak mengirimkan bunga matahari untukmu," sanggah Sasuke cepat, bahkan terlalu cepat.
"Saya tidak mengatakan jika bunga yang saya terima adalah bunga matahari," tukas Naruto dengan senyum manis. Andai saja Sasuke bisa melihat ekspresi dirinya sendiri saat ini, dia pasti tidak akan mengenalinya. "Terima kasih untuk semua perhatian yang Anda berikan. Walau saya yakin Anda melakukannya hanya sebagai kewajiban, saya tetap sangat, sangat berterima kasih," tambahnya yang kemudian membungkuk dalam untuk memberi hormat.
Naruto kembali menegakkan badannya dalam gerakan lambat, kemudian ia pun kembali bicara, dengan suara sedikit bergetar. "Mungkin Anda akan menertawakan permintaan saya ini. Saya mohon Uchiha-san, tolong berhenti melakukan hal-hal yang bisa membuat saya salah paham. Saya benar-benar takut jika nanti saya salah mengartikan kebaikan Anda. Saya cukup tahu diri, hingga tidak berani bermimpi tinggi. Dan tolong maafkan jika saya sering bersikap kurang ajar dan menyalahgunakan kebaikan yang Anda berikan," katanya panjang lebar. Naruto kembali membungkuk dalam sebelum akhirnya berbalik pergi meninggalkan Sasuke yang kebingungan.
.
.
.
TBC
Heiho... Apa kabar pembaca tersayang?! #KedipImut
Untuk chap ini nunggunya nggak sampe lumutan, kan? Paling sampe jamuran doang. :D
Mau curcol dikit, boleh yah...
Sebenarnya dific ini saya ingin menggambarkan sosok pria yang sulit untuk mengekspresikan perasaannya. Terlihat dingin di luar namun begitu lembut di dalam. Terlihat tidak peka padahal sangat peka. Terlihat acuh padahal peduli. Terlihat menyebalkan padahal baik hati. Tipe2 ksatria dalam bayanganlah, pokoknya tipe yang seperti itu. Tapi malah jadinya begini. #NangisBombay #MulaiNgelantur #Abaikan #CurhatSelesai
Oh, iya, dichap2 sebelumnya banyak pembaca yang sebel sama sifat Sasuke, nah, kalau dichap ini bagaimana? Masih sebel juga, kah? :3
Terima kasih untuk semua yang sabar menunggu kelanjutan fic ini dan fic saya lainnya. Karena kesibukan di dunia nyata, saya tidak bisa menjanjikan fic saya lainnya untuk update cepat. Terlebih udah beberapa hari ini kesehatan saya nggak terlalu baik. Saya tipe orang yang jarang sakit, tapi sekalinya sakit suka lama... hahaha! Tolong doain saya cepet sembuh yah! Terima kasih! ^-^
Sampai jumpa dichap selanjutnya!
#WeDoCareAboutSFN
