Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Drama, romance
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
Selamat membaca!
Mr. Arrogant
Chapter 5 : Naruto Jatuh Cinta?
By : Fuyutsuki Hikari
Udara yang panas tidak menghentikan Koyuki untuk mengenakan setelan pakaian musim dinginnya, siang ini. Mantel panjang, syal, masker, serta kacamata hitam membuatnya terlihat sangat janggal. Persetan dengan tatapan aneh orang-orang, pikirnya. Saat ini dia sedang dalam mode menyamar agar tidak dikenali oleh publik.
Koyuki mengetuk-ngetukkan ujung sepatu botnya ke atas lantai kayu dibawahnya. Dia mulai tidak sabar. Sudah lima menit dia menekan bel pintu kediaman Namikaze namun tidak ada satu orang pun yang datang untuk membukakan pintu.
Wanita itu berjalan, mencondongkan tubuhnya, mengintip lewat jendela rumah. Mulutnya mendesis saat melihat sepasang kaki terkulai di atas sofa. Dengan langkah lebar dia kembali berjalan menuju pintu rumah dan menekan bel tanpa henti.
Di dalam rumah, Kurama mengerjapkan mata. Tidur siangnya terganggu oleh suara berisik bel rumahnya yang tidak berhenti. Pria itu mendudukkan diri, segala macam sumpah serapah meluncur dari mulutnya. Rambut merahnya terlihat kusut, matanya masih setengah mengantuk saat dia menyeret kakinya menuju pintu masuk kediamannya.
Kurama mengernyit saat melihat sosok yang telah lancang mengganggu tidur siangnya lewat intercom. Dia tidak bisa melihat tamu tak diundang itu dengan jelas karena tamunya membelakangi kamera intercom.
Dengan kasar Kurama membuka pintu, membuat Koyuki membalikkan tubuhnya dengan cepat. Alis pria itu terangkat saat melihat penampilan tamunya siang ini. "Mencari siapa?" tanyanya dengan nada kurang bersahabat. Kurama memang bisa sangat menakutkan jika jam tidur siangnya terganggu.
"Apa ini kediaman Namikaze Naruto?" tanya Koyuki dengan suara lemah-lembut.
"Benar," jawab Kurama tanpa merubah ekspresi wajahnya.
Koyuki membuka kacamata hitamnya, memasang senyum menggoda yang memikat, namun sayangnya hal itu tidak berpengaruh pada Kurama. "Apa sekarang kau mengenalku?" tanyanya percaya diri.
Kurama berjengit, menatap heran tamu tak diundangnya yang aneh. Pria itu mendengus kasar dan sedetik kemudian ia membanting pintu tepat di depan wajah Koyuki yang terbelalak tak percaya.
Demi Tuhan, baru kali ini dia diperlakukan tidak sopan seperti ini. Koyuki berdeham, menarik napas untuk mengendalikan emosinya yang mulai labil. Dengan keras di mengetuk daun pintu rumah milik keluarga Namikaze.
"Apa?" tanya Kurama ketus saat dia membuka pintu rumahnya kembali.
"Aku mencari Namikaze Naruto," jawab Koyuki dengan nada sau oktaf lebih tinggi. Percuma bersikap sok manis pada pria menyebalkan di hadapannya ini, pikirnya. Toh sepertinya pria di depannya ini tidak mengenalinya.
"Adikku sedang pergi," balas Kurama tidak kalah galak. Emosinya masih labih karena jam tidur siangnya terganggu.
Oh, ternyata dia kakak dari Naruto, pikir Koyuki. "Kapan adikmu kembali?" tanya Koyuki lagi dengan nada sopan dipaksakan. Jika pria di depannya ini kakak dari orang yang sudah menolongnya, maka dia harus bersikap sopan. Iya, kan?
Sebelah alis Kurama terangkat saat matanya menatap penampilan Koyuki dari kepala hingga ke ujung kaki. Dimana Naruto mengenal wanita aneh ini, pikir Kurama.
Merasa kesal, Koyuki menjentikkan jarinya di depan wajah Kurama. "Jadi adikmu kemana dan kapan dia pulang?" tanyanya lagi saat Kurama tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Aku bukan pengasuhnya, dan aku bukan peramal. Mana aku tahu dia pulang jam berapa," jawab Kurama dingin. Ia baru saja akan menutup pintu rumahnya kembali, namun gerakannya kalah cepat karena Koyuki mengganjal pintu dengan sepatu botnya.
"Aku belum selesai bicara!" Koyuki memprotes. Dengan tangannya yang terawat dia mendorong pintu rumah Kurama, membuat pria yang berdiri di belakang pintu itu terjengkang ke atas lantai dengan suara keras.
"Berani sekali kau mendorongku!" bentak Kurama membuat Koyuki berkacak pinggang, menatapnya tanpa rasa takut. "Pergi! Atau aku akan telepon polisi untuk menagkapmu karena sudah mengganggu."
"Coba saja kalau kau berani!" balas Koyuki, menantang.
"Kau-"
"Ada apa ini?" tanya Naruto dari belakang Koyuki menghentikan ucapan Kurama. Koyuki berbalik, lalu tersenyum pada Naruto yang menatap heran pada kakak dan wanita yang berdiri di depannya. "Nona Koyuki?" ujar Naruto saat mengenali tamunya.
"Selamat siang!" sapa Koyuki pada Naruto dengan sikap sopan.
Melihat hal itu Kurama memutar kedua bola matanya dan bertanya ketus. "Kau mengenalnya?" tanyanya pada Naruto sembari menunjuk Koyuki dengan dagunya.
Naruto mengangguk pelan. Melihat penampilan kakaknya saat ini Naruto bisa menebak jika Koyuki sudah mengganggu jam tidur siang kakaknya. "Dia tamuku. Kakak harus bersikap sopan," tegur Naruto pelan. Kurama mendesis saat Koyuki melempar senyum penuh kemenangan ke arahnya. Dengan sikap tidak bersahabat Kurama membalikkan badan, meninggalkan Koyuki dan Naruto untuk kemudian naik lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya.
"Silahkan masuk!" ujar Naruto setelah Kurama pergi. "Maaf, kakakku memang seperti itu jika jam tidur siangnya terganggu. Emosinya menjadi labil," jelasnya dengan senyum tipis.
Koyuki tersenyum kecil, sementara jemari tangannya menyelipkan rambut ke belakang telinganya. Ia menjadi begitu gugup saat ini. "Aku juga bersalah karena tidak bersikap sopan," akunya kemudian dengan suara lirih. "Apa kakakmu selalu bersikap seperti itu jika tidurnya terganggu?"
"Hanya jika tidur siangnya terganggu saja," jawab Naruto. Ia membungkuk, sementara tangannya yang sehat mulai memunguti satu demi satu buku milik Kurama yang tercecer di atas lantai di ruang tamu yang juga berfungsi sebagai kantor kedua Kurama jika berada di rumah. "Silahkan duduk!" tawar Naruto pada Koyuki. "Maaf berantakan. Kakakku lebih suka bekerja di ruang tamu dari pada di ruang kerjanya saat libur."
"Apa profesi kakakmu?" tanya Koyuki menekan rasa canggung di dalam dirinya. Dengan gerakan anggun dia mendudukkan diri di atas sofa nyaman yang sudah bersih dari buku milik Kurama.
"Kakakku guru SMA," jawab Naruto. Setelah merapikan buku-buku dan alat tulis milik kakaknya dia pun berjalan ke dapur untuk membawa minuman dingin.
Dua menit kemudian dia kembali dengan segelas jus jeruk dingin di tangannya. Dengan sopan dia meletakkan gelas itu di atas meja. "Silahkan minum!" katanya sopan.
Koyuki mengucapkan terima kasih lalu meneguk minuman yang disuguhkan untuknya dengan nikmat.
"Jika boleh saya tahu, ada keperluan apa Anda datang ke rumah saya?" tanya Naruto langsung pada pokok pembicaraan.
Koyuki meletakkan kembali gelas di tangannya di atas meja. Ia bergerak gelisah, bingung harus mulai dari mana.
"Jika Anda datang untuk minta maaf, maka Anda tidak perlu mengatakannya. Apa yang terjadi murni kecelakaan," kata Naruto seolah bisa membaca isi pikiran Koyuki.
"Tapi itu salahku," ujar Koyuki terlihat sangat menyesal. "Apa yang terjadi padamu seharusnya tidak terjadi jika aku tidak bodoh dalam mencintai seorang pria. Ah, kau pasti sudah menonton dan membaca gosip mengenai diriku, kan. Mereka mengatakan aku pelacur perebut suami orang." Ujarnya dengan senyum getir dipaksakan.
"Nona Koyuki?"
"Sungguh, aku tidak tahu jika calon suamiku masih berstatus suami orang. Dia mengatakan jika sudah bercerai dengan istrinya. Dia bahkan menunjukkan surat cerainya. Aku tidak tahu jika itu palsu. Mungkin aku memang sangat bodoh hingga bisa dibutakan oleh cinta." Koyuki menundukkan kepala, menekuri kuku-kuku jarinya yang terawat baik. "Tapi aku bukan pelacur yang sengaja merebut suami orang," tambahnya dengan mata berkaca-kaca. "Jika aku tahu dari awal, mungkin kejadian yang menimpamu tidak akan terjadi."
"Nasi sudah menjadi bubur," balas Naruto tenang. "Seharusnya Anda bersyukur karena topeng calon suami Anda terbongkar sebelum Anda menikahinya."
Koyuki terdiam. Kepalanya menunduk semakin dalam. Air matanya mulai jatuh membasahi tangannya yang bertaut di atas pangkuannya.
"Akan jauh lebih menyakitkan jika semuanya terbongkar setelah Anda menikah," lanjut Naruto mencoba menenangkan.
"Tapi kau ikut menjadi korban," balas Koyuki sakit hati. "Bisa saja kau menjadi cacat karena kebodohanku."
"Tapi aku tidak cacat," ujar Naruto cepat. "Aku memang terluka tapi itu tidak membuatku cacat."
"Maafkan aku!" ujar Koyuki parau.
"Sudah saya katakan untuk tidak meminta maaf."
"Tapi ini salahku," balas Koyuki, keras kepala. "Setidaknya ijinkan aku untuk membayar semua biaya pengobatanmu," tambahnya, memohon. "Tolong..." Mohonnya lagi saat Naruto terdiam, terlihat bingung. "Hanya dengan itu rasa bersalahku akan sedikit berkurang."
Naruto menghela napas panjang, tersenyum tipis dan akhirnya menjawab dengan berat hati, "baiklah, jika itu bisa membuat Anda merasa lebih baik."
.
.
.
"Wanita itu sudah pergi?" tanya Kurama yang kini berdiri di anak tangga paling dasar.
Naruto memutar kedua bola matanya dan menjawab ketus. "Bukankah kakak menguping obrolan kami sejak tadi? Kenapa pura-pura tidak tahu jika Nona Koyuki sudah pergi?" tanya Naruto menyindir.
Kurama mengangkat bahunya ringan dan menjawab santai. "Basa-basi."
"Dasar menyebalkan!" ujar Naruto saat Kurama mendudukkam diri tepat di sampingnya.
"Jadi dia penyebab kau terluka?" tanya Kurama dengan ekspresi serius.
"Ini kecelakaan," ralat Naruto.
"Tadinya aku berniat turun dan memarahinya saat tahu dia orang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi padamu," ujar Kurama lagi, masih dengan ekspresi serius yang sama. "Tapi aku berubah pikiran saat dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi padamu."
Naruto membuang napas panjang, dan berkata prihatin. "Terkadang kita tidak bisa memilih pada siapa kita jatuh cinta."
Keduanya terdiam cukup lama setelahnya, menyisakan keheningan panjang di dalam ruangan itu.
"Ngomong-ngomong, apa kau sudah menemuinya?" tanya Kurama, memutus keheningan di dalam ruangan itu. "General managermu," jelasnya saat Naruto melirik ke arahnya dengan tatapan tak mengerti. "Lalu apa katanya? Apa benar bunga itu dari dia?" tanya Kurama penasaran saat Naruto mengangguk pelan menjawab pertanyaan pertamanya.
"Sebenarnya dia tidak mengaku," jawab Naruto dengan helaan napas panjang. "Tapi aku tahu jika bunga itu dari dia, karena dia tidak sengaja mengatakan jenis bunga yang kuterima, padahal aku tidak mengatakan jenis bunga itu padanya."
"Pancingan yang bagus," ujar Kurama kagum akan kepandaian adiknya. "Lalu, apa yang terjadi setelahnya?"
"Aku mengucapkan terima kasih untuk semua kebaikannya," jelas Naruto lagi. "Setelah itu aku pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi." Naruto menggigit bagian dalam mulutnya, merasa bersalah karena sudah menutupi sesuatu dari kakaknya ini. Tapi dia terlalu malu untuk mengatakan kebenarannya. Naruto takut jika nanti Kurama malah menertawakannya jika tahu kebenarannya.
"Jadi kau tidak mencari tahu mengenai perasaanya terhadapmu?"
Naruto menggelengkan kepalanya dengan keras.
"Kenapa kau tidak melakukannya?" erang Kurama terlihat kecewa.
"Karena itu tidak pantas," jawab Naruto cepat. "Kedudukan kami berbeda terlalu jauh, Kak. Lagipula di dalam peraturan hotel menyebutkan jika diantara pegawai tidak boleh memiliki hubungan romantis."
"Itu selama jam kerja saja, kan?" tanya Kurama yang dijawab anggukan pelan dari Naruto. "Kalau begitu, diluar jam kerja sesama pegawai boleh memiliki hubungan romantis."
"Tapi jika menikah, salah satunya harus berhenti bekerja di Jotel Zeus," terang Naruto.
"Apa kau ingin menikah dengannya?" tanya Kurama tiba-tiba.
Naruto mengerjapkan mata. Mulutnya kembali tertutup saat melihat seringai menjengkelkan di wajah kakaknya.
"Kau benar-benar mudah ditebak," ujar Kurama sembari mengacak rambut Naruto sayang. "Kau menyukainya, Naruto. Tanpa sadar kau sudah jatuh cinta padanya.
"Itu tidak benar!" elak Naruto keras.
"Itu benar..." Balas Kurama dengan nada mengejek.
"Tidak benar!"
"Benar."
"Tidak benar!" elak Naruto lagi dengan wajah yang semakin memerah. Entah karena malu atau karena marah. Kurama tertawa keras melihatnya, setelah puas menjaili adiknya, pria itu pun kembali naik ke lantai dua untuk melanjutkan tidur siangnya yang terganggu.
.
.
.
Sore harinya, Naruto dikejutkan oleh kunjungan Kiba, Ino, Sakura dan Karin. Keempatnya membawa satu keranjang besar berisi buah-buahan segar sebagai buah tangan untuk Naruto. Ino, Sakura dan Karin bercerita penuh semangat mengenai kondisi hotel setelah pertengkaran Koyuki dan Shion yang menyebabkan Naruto terluka parah.
"Wartawan terus berkumpul tiap hari di depan lobby," terang Sakura dengan berapi-api. "GM kita sampai kewalahan menghadapi mereka," tambahnya dengan gelengan kepala.
"Apalagi setelah Koyuki mengumumkan tentang pembatalan pernikahannya." Ino menimpali dengan semangat, membuat Kiba yang duduk paling pinggir merasa berada di tempat lain. Bukankah mereka datang untuk menjenguk Naruto? Lalu kenapa malah membahas apa yang terjadi di hotel dan pada Koyuki? Bukankah seharusnya mereka menanyakan keadaan Naruto? Hah, Kiba sungguh tidak mengerti dan memutuskan memejamkan mata selama keempat wanita itu mengobrol. Lumayan pikirnya, sejenak dia bisa istirahat karena hari ini dia bertugas shift malam.
"Wartawan-wartawan itu terus bertanya kepada pegawai hotel mengenai alasan sebenarnya Koyuki membatalkan pernikahannya," timpal Karin membuat Naruto terbelalak. "Tentu saja GM kita sudah mengantisipasinya. Dia membuat peringatan pada semua karyawan untuk menutup mulut atau dipecat."
"Dia melakukan itu?" tanya Naruto nyaris tak percaya karena Sasuke mengambil tindakan pencegahan hingga sejauh itu.
"GM kita terkenal sangat sadis," dengus Karin dengan cibiran kesal. "Dia bahkan melarang pegawai mengatakan apa yang terjadi di hotel pada keluarga. Kita tidak boleh mengatakan kejadian di hotel pada keluarga kita sendiri," tambahnya terdengar kesal.
"Mungkin dia takut jika salah satu keluarga kita tanpa sengaja membocorkannya pada publik," ujar Naruto mencoba menengahi.
Ino menyempitkan mata, menatap Naruto dengan ekspresi tanda tanya. "Kenapa sekarang kau malah membelanya?" tuduhnya yang langsung didukung oleh Sakura dan Karin. "Bukankah selama ini GM selalu membuatmu susah?"
Naruto menelan air liurnya dengan susah payah. Mendapat tatapan menuduh dari tiga orang sekaligus sungguh bukan suatu hal mudah untuk dilawan. "Apa aku terdengar seperti membelanya?" ia balik bertanya dengan ekspresi sepolos mungkin, berharap jika aktingnya bisa mengelabui tiga orang wanita yang dikenal sebagai ratu gosip di tempatnya bekerja.
"Ya." Sahut Ino, Karin dam Sakura kompak.
"Kalau begitu anggap saja aku tidak mengatakan apapun," ujar Naruto dengan senyum dipaksakan.
.
.
.
Waktu pun berlalu dengan sangat cepat setelahnya. Pagi ini Sasuke harus menahan diri agar tidak tersenyum seperti orang gila saat Iruka melaporkan jika Naruto sudah kembali bekerja. Tanpa terdengar antusias, Sasuke memerintahkan Iruka agar menyuruh Naruto menghadap kepadanya. "Saya harap Anda memberi kelonggaran pada Namikaze," ujar Iruka yang hampir saja membuat Sasuke tergelak. Memang apa yang dipikirkan oleh Iruka? Bahwa Sasuke akan memecat Naruto? Yang benar saja! Setelah hampir dua minggu mereka tidak bertemu sejak kedatangan Naruto ke apartemennya, tentu saja Sasuke harus mencari alasan pas agar bisa bertemu, kan? Tapi, tentu saja Iruka dan orang lain tidak perlu mengetahui alasan yang sebenarnya. "Bukan salah Namikaze jika dia terpaksa harus ijin selama tiga minggu," lanjut Iruka seolah berusaha merubah keputusan Sasuke.
"Namikaze hanya karyawan training. Absennya tidak bagus." Sasuke menjawab datar.
"Tapi hal itu bukan keinginanya," jelas Iruka mencoba untuk membela. "Pekerjaannya sangat rapi," tambahnya cepat. "Kepala departemen Food and beverage, serta house keeping memuji kecakapannya bekerja. Saya bermaksud untuk mengajukannya sebagai karyawan tetap."
Sasuke menaikkan sebelah alis saat Iruka mengatakannya. Pria itu terlihat masa bodoh dan tidak tertarik pada penjelasan Iruka. "Aku akan mempertimbangkan pengajuanmu ini. Sebenarnya Kakashi dan Tsunade juga memintaku agar tidak memecatnya. Selain itu, pemilik hotel juga terkesan akan keberaniannya. Kalian membuatku berada diposisi sulit. Aku harus tetap bersikap adil, kan?"
Iruka mengangguk pelan.
Sasuke mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, memasang pose berpikir. Ia lalu menghembuskan napas pendek dan kembali bicara dengan ekspresi serius. "Tapi aku ingin karyawan training itu menghadap kepadaku. Aku harus memperingatkannya untuk berhenti bersikap konyol!" ujarnya tegas. "Setelah ini, apapun keputusanku, kalian tidak boleh ikut campur!"
Iruka segera berdiri, menundukkan kepala untuk memberi hormat dan tanda mengerti, sebelum berbalik pergi meninggalkan ruangan Sasuke.
Ditempat lain, jantung Naruto berdebar semakin cepat saat Iruka memerintahkannya untuk menghadap ke kantor Sasuke. Apa yang harus kukatakan? Batinnya nelangsa. Ia bisa merasakan tatapan prihatin dari rekan-rekan kerjanya saat ini. Iruka bahkan menatapnya dengan ekspresi sedih? Ya, Tuhan. Apa hari ini dia akan dipecat? tanyanya di dalam hati. Bisik-bisik diantara rekan kerjanya semakin mengeras saat dia meninggalkan ruang pelatihan.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Tsunade pada Iruka.
"Keputusanya ada pada GM," ujar Iruka. "Apapun keputusannya nanti, dia meminta kita untuk tidak ikut campur."
Tsunade hanya bisa mendesah dan bergumam pelan. "Kuharap Naruto cukup beruntung untuk menghadapi Uchiha Sasuke."
Iruka mengangkat bahu dan menjawab lirih, "aku harap juga begitu."
.
.
.
Sembari melap tangannya yang mulai berkeringat pada kain rok seragam di atas lututnya, Naruto hanya mampu menelan air liurnya dengan susah payah untuk menyingkirkan perasaan was-was, takut serta perasaan malu akibat pertemuan akhir mereka. Ia menggeleng pelan setelah apa yang dilakukannya itu berakhir sia-sia. Jantungnya masih berdebar begitu kencang laksana genderang perang yang ditabuh.
Perlahan dia mengetuk pintu, menunggu jawaban dari balik pintu yang tertutup di depannya, dan setelah diijinkan untuk masuk dengan gugup ia membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu dengan kaki yang nyaris kehilangan kekuatannya. Melihat sosok Sasuke yang duduk di kursinya dengan tatapan cuek ke arahnya membuat hati Naruto mencelos. Mungkin dia terlalu berpikiran jauh sehingga menganggap pria itu akan membahas perilakunya saat berkunjung ke apartemen milik Sasuke. "Anda memanggil saya, Pak?" tanya Naruto terdengar seperti cicitan ketakutan.
Sasuke memperbaiki posisi duduknya. Ia menyilangkan kaki, sementara matanya menatap Naruto dengan sikap bossy. "Bagaimana lukamu?" tanyanya dengan nada suara datar.
"Sudah pulih sepenuhnya," jawab Naruto terdengar seperti sebuah laporan. Wanita itu berdiri dengan gelisah. Sepertinya kakinya bisa kehilangan tenaga kapan saja saat ini.
Dari tempatnya duduk, Sasuke masih menatap Naruto lekat. Hatinya tertawa saat melihat kegelisahan di dalam bahasa tubuh wanita itu. "Apa kau tahu alasanku memanggilmu?"
"Anda akan memecat saya?" jawab Naruto dengan kepala menunduk dalam. Tuhan, setelah ini aku harus mencari pekerjaan lagi. Keluh Naruto di dalam hati.
"Jadi kau mau aku pecat?" tanya Sasuke dengan satu alis terangkat.
"Tentu saja tidak," kata Naruto cepat. Dia menggigit lidahnya saat sadar sudah bicara dengan nada keras pada atasannya ini. "Maaf!" ujarnya kembali gugup.
Sasuke pura-pura menghela napas lelah. Dengan ekspreai serius dia kembali bicara. "Sudah berapa kali kau membuat keributan selama bekerja?"
Naruto menunduk semakin dalam.
"Apa aku harus mengatakannya satu per satu?" ejek Sasuke membuat Naruto menggelengkan kepala pelan. "Absensimu juga sangat buruk," tambah pria itu semakin mengecilkan harapan Naruto untuk bisa tetap bekerja di tempat ini. "Kau tidak layak untuk tetap bekerja disini."
"Jadi saya benar-benar dipecat?" tanya Naruto dengan suara nyaris tak terdengar. Kenapa dia harus sesial ini?
"Jika mengikuti keinginanku, tentu saja aku ingin sekali memecatmu," ujar Sasuke membuat Naruto semakin terpojokkan. "Tapi beberapa atasanmu membelamu mati-matian," dengusnya, pura-pura tidak suka. "Bahkan pemilik hotel memberikan tepuk tangan atas keberanianmu dalam melindungi keselamatan tamu, yang tentu saja aku menganggap tindakan yang kau lakukan itu sangat konyol."
Naruto membisu, tangannya terkepal erat di sisi kiri dan kanan tubuhnya. Telinganya semakin memanas mendengar cemoohan Sasuke terhadap dirinya.
"Mereka mengajukan agar kau diangkat menjadi pegawai tetap," jelas Sasuke membuat Naruto terbelalak tak percaya. Harapannya untuk tetap bekerja di hotel ini kembali meningkat tajam namun sayangnya kembali terhempas saat Sasuke kembali bicara. "Tentu saja aku akan menghalangi keinginan mereka."
"Maksud Anda apa?" tanya Naruto menahan diri untuk tidak berteriak.
"Aku memiliki perjanjian dengan pemilik hotel. Dalam tiga bulan ke depan kau akan menempati posisi kosong sebagai sekretaris pribadiku. Jika kau belum tahu, sekretarisku cuti melahirkan saat ini." Terang Sasuke. "Jika kau bisa bekerja dengan baik selama menjadi sekretarisku, setelah tiga bulan kau akan ditempatkan sesuai dengan pendidikanmu, tapi jika tidak-" Sasuke sejenak terdiam untuk memberi kesan dramatis. "Jika kau tidak bisa bekerja dengan baik, maka kau harus mencari pekerjaan di tempat lain."
Naruto membeku di tempatnya berdiri saat ini. Pilihan yang diajukan oleh Sasuke bagai buah simalakama. Dia tidak mau dipecat, tapi dia juga tidak mau bekerja di bawah Sasuke langsung. Dia bisa mati berdri. Berat badannya bisa turun drastis. Sasuke bisa membunuhnya dengan perlahan. Bagaimana cara dia menghadapi Sasuke setiap harinya?
"Jika kau tidak sanggup, kau bisa berhenti saat ini juga." Ujar Sasuke dengan nada mencela. Pria itu jelas terlihat meremehkan kemampuan Naruto saat ini.
"Saya terima tantangan Anda, Pak." Jawab Naruto tegas. Ucapan Sasuke barusan melukai harga dirinya. Dia memutuskan dengan tegas jika dia akan membuat Uchiha Sasuke menelan kembali perkataannya. Dia tidak akan kalah dalam peperangan ini.
Sasuke tersenyum senang di dalam hati. Dengan cara licik ini dia akan tetap bisa melihat Naruto setiap harinya. Ia akan memastikan Naruto untuk bekerja dengan baik. Dengan cara seperti ini pegawai lain akan bersimpati tanpa mencurigai maksud di belakang rencana Sasuke.
Kau sudah masuk perangkapku, Namikaze Naruto. Kita lihat apa kau bisa melarikan diri atau malah terikat semakin dalam bersamaku. Batinnya penasaran.
.
.
.
TBC
Hai...hai... hayoh, siapa yang kesel baca huruf 'TBC'? Angkat tangan. Angkat tangan untuk yang kesel. :D
Seperti biasa, saya updatenya ngaret, sampe pada lumutan, sampe ada yang ngedoa supaya saya segera dapet ilham untuk lanjutin lagi. Makasih untuk doanya yah teman-teman, akhirnya si ilham datang juga dan kebetulan waktu untuk ngetiknya ada. ^^
Oh, iyah, saya mau sapa Broke. Halo... Broke! Terima kasih sudah mampir dan baca. (:
Dan untuk pembaca baru, jangan heran kalau saya updatenya lamaaaaaaaa... Tanyain aja sama pembaca lama, saya sering ngaret, sampe pada lumutan, sampe yang jomblo punya pasangan atau yang punya pasangan jadi jomblo lagi, begitu terus siklusnya sangking lamanya saya untuk update satu cerita. Tapi saya bersyukur karena kalian sabar menunggu. Sungguh, kecantikan dan ketampanan kalian jadi berlipat kalau sabar. #Modus
Udah yah, fic ini sudah saya update. Walau sangat pendek, semoga tidak mengecewakan dan bisa mengobati yang sudah kangen sama kelanjutan fic ini. Sampai jumpa dichap selanjutnya! (":
#WeDoCareAboutSFN
