Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Drama, romance

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

Selamat membaca!

Mr. Arrogant

Chapter 6 : Ciuman Memabukkan

By : Fuyutsuki Hikari

Naruto mengambil sebuah gelas plastik berisi pesanannya dari tangan pelayan. Sudah menjadi kegiatan rutinnya sejak dua minggu yang lalu; setiap pagi ia akan mampir di sebuah kedai penjual kopi di sebelah hotel untuk membelikan Sasuke satu gelas americano panas. Setelah membayar, ia pun bergegas menuju hotel tempatnya bekerja.

Ia pernah menanyakan perihal kebiasaan Sasuke ini pada sekretaris pribadinya, namun wanita itu menjawab jika biasanya Sasuke lebih suka membelinya sendiri. "Dia memang berniat untuk menyiksaku," gumam Naruto saat mendengar jawaban itu.

Dengan langkah panjang dia masuk melalui pintu karyawan di samping hotel. Beberapa pegawai hotel yang berpapasan dengannya menyunggingkan senyum ramah, walau sebenarnya ia tahu jika senyum itu hanya sebuah senyum simpati. Semua orang tahu jika Sasuke tidak menyukainya dan berkeinginan besar untuk menendangnya keluar. Oh, andai mereka tahu apa yang ada di otak Sasuke sebenarnya.

Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, sebuah napas lega terdengar keras, dia masih punya waktu sepuluh menit hingga atasan barunya itu sampai di kantor. Naruto membuka pintu ruang kerja Sasuke dan terpekik keras. "Oh, Tuhan!" ia sangat kaget saat mendapati atasannya sudah duduk dengan nyaman di atas kursi kerjanya. "Maaf, saya terlambat." Katanya setelah sedikit tenang. Naruto menutup pintu di belakangnya pelan, lalu berjalan tergesa menuju meja kerja Sasuke.

Sasuke hanya mendongak sekilas. "Kau tidak terlambat," katanya acuh. "Aku yang datang terlalu pagi," tambahnya tanpa menatap Naruto yang berdiri gugup di depan meja kerjanya.

Tersenyum kikuk, Naruto meletakkan gelas americano milik Sasuke di atas meja, lalu berdiri tegak, sedikit kaku, menunggu perintah atasannya. "Apa ada yang Anda butuhkan lagi, Sir?" tanyanya setelah terdiam beberapa waktu.

"Tidak." Jawab Sasuke singkat, masih tidak menatapnya.

Naruto mengelap tangannya yang berkeringat dingin pada roknya pensilnya, lalu membungkuk kecil sebelum berbalik, berjalan keluar dari ruangan itu.

"Tunggu!" kata Sasuke kemudian, membuat langkah Naruto berhenti seketika. Wanita itu membalikkan badan pelan, menatap wajah atasannya yang menatapnya lurus tanpa ekspresi. "Kamis besok aku harus ke Sapporo," ujarnya dengan suara baritonenya yang khas. "Aku ingin tahu jadwal penerbangan pagi dengan maskapai L, dan atur ulang semua jadwal rapatku di hari itu ke Senin depan. Mengerti?"

Naruto mengangguk pelan. "Kapan Anda pulang?" tanyanya setelah diam sejenak.

"Jumat sore atau malam. Aku belum tahu," jawab Sasuke sembari menyesap americanonya. "Hari ini, atur rapat dengan kepala department. Aku ingin mereka semua sudah berkumpul jam satu siang di ruang rapat!" Sasuke menatap lurus, ekspresinya tidak terbaca. "Jika ada satu saja diantara mereka terlambat, itu salahmu." Tambahnya penuh penekanan.

Naruto mengerjapkan mata. Ingin sekali dia memukul keras kepala Sasuke. Pasti ada yang salah di dalam otak bosnya itu, pikirnya masam. Namun dengan lihai ia meredam emosinya dan berkata ramah. "Apa ada yang harus saya siapkan untuk rapat tersebut, Sir?"

"Tidak ada." Jawab Sasuke pendek. "Aku sudah menyiapkan bahan rapatnya sendiri. Sekarang kembali ke mejamu dan kerjakan tugas dariku dengan baik!" katanya sembari menggerakan tangan sebagai tanda mengusir.

Naruto kembali membungkuk, memberi hormat sebelum meninggalkan ruangan tersebut.

"Dia sudah menyiapkan bahan rapatnya sendiri, lalu fungsiku apa?" gerutunya pelan, dengan gerakan bibir mencibir. Ia berjalan memutari meja lalu menghempas pantatnya keras- mendudukkan diri di atas kursi kerjanya.

Sepuluh minggu lagi. Dia hanya perlu bertahan bekerja bersama Sasuke selama sepuluh minggu.

Untuk kesekian kalinya Naruto menghela napas panjang, sementara tangannya menyalakan laptop. Tugas pertama; mencari penerbangan pagi ke Sapporo. Dengan cepat dia menulis jadwal penerbangan yang diminta oleh Sasuke di buku catatannya, lengkap dengan jam tiba serta harga tiketnya. Selesai melakukannya, Naruto kembali berjalan mantap menuju ruang kerja Sasuke.

Setelah mengetuk pelan, ia berjalan masuk lalu menyodorkan buku catatannya pada Sasuke. "Kau belajar dengan cepat yah." Ujar Sasuke tanpa bermaksud memuji. Matanya membaca cepat catatan yang diserahkan Naruto padanya.

Naruto tidak tahu, apa dia harus tersanjung atau sebaliknya saat ini. Dia sama sekali tidak merasa jika Sasuke tengah memujinya, sebaliknya, Naruto merasa pria itu tengah mengoloknya. Satu minggu yang lalu, Sasuke pernah meminta hal yang sama. Pria itu meminta jadwal penerbangan pagi menuju Osaka. Dengan penuh percaya diri, Naruto memberikan jadwal paling pagi menuju kota itu, namun yang didapatkannya malah bentakan keras Sasuke yang membuatnya merasa menjadi orang paling tolol sedunia.

"Hanya ini?" Sasuke bertanya dengan satu alis terangkat saat itu.

"Anda meminta jadwal penerbangan pagi menuju Osaka," jawab Naruto setenang mungkin.

Wanita itu tersentak ke belakang saat Sasuke menggebrak meja dengan keras dan berkata tajam. "Apa aku harus menjelaskannya secara detail, Nona Namikaze? Aku meminta jadwal pagi dan kau hanya memberiku jadwal penerbangan paling pagi?" tanyanya dengan gigi gemertuk keras. "Kenapa kau tidak bisa mencerna perintahku dengan baik?"

Naruto menunduk dalam, mengumpat di dalam hati, mengutuk kebodohannya. "Maksudnya Anda meminta semua jadwal penerbangan pagi?"

"Ya." Bentak Sasuke keras. "Aku meminta semua jadwal penerbangan pagi. Bukan hanya penerbangan paling pagi," tambahnya ketus. "Kenapa kau tidak bisa langsung mencerna perintahku?" Sasuke kembali melayangkan pertanyaan yang sama. "Apa kau yakin bisa bertahan dan membuatku terkesan, Namikaze? Ini bahkan belum satu minggu tapi kau sudah berhasil membuatku kesal setengah mati."

"Maafkan, saya!" timpal Naruto sembari membungkuk dalam. "Tidak akan terjadi lagi. Saya benar-benar minta maaf!"

"Berhenti meminta maaf! Kerjakan saja tugasmu dengan baik. Aku bisa gila jika memiliki sekretaris tidak kompeten sepertimu." Jawab Sasuke dingin membuat Naruto semakin tertohok. Rasa sakit hatinya itu bertahan hingga sisa hari. Di hari itu dia bahkan tidak berselera makan dan terlihat lesu, membuat Ino semakin khawatir melihatnya.

Naruto menggelengkan kepalanya pelan, mengusir kilasan kejadian yang terjadi satu minggu yang lalu. Wanita itu kembali memfokuskan diri, mendengarkan dengan seksama setiap perintah yang dikatakan oleh Sasuke.

"Aku menginginkan kursi dekat lorong. Hot seat. Mengerti?"

Kenapa tidak sekalian di belakang kursi pilot saja? Cibirnya di alam hati, namun kenyataannya ia hanya mengangguk pelan, sementara tangannya menerima catatan yang disodorkan oleh Sasuke. Dengan cermat dia membaca jadwal penerbangan yang sudah ditandai oleh Sasuke. "Tiket pulangnya, apa Anda akan memesannya sendiri?" tanyanya untuk memastikan. Lebih baik bertanya daripada membuat Sasuke kesal.

"Ya." Jawab Sasuke tanpa menoleh ke arah sekretarisnya.

Naruto pun kembali ke belakang meja kerjanya setelahnya. Ia memesan tiket pesawat sesuai dengan keinginan Sasuke, lalu memasukkan nomor kartu kredit atasannya itu untuk pembayarannya. Setelah selesai, ia membuka alamat email kantor yang dimilikinya setelah menjabat menjadi sekretaris sementara untuk Sasuke, lalu mencetak tiket pesawat milik Sasuke setelah sebelumnya mengirim soft copy tiket tersebut ke alamat email pribadi bosnya.

Pekerjaan selanjutnya masih menantinya. Dia mulai menulis daftar kepala department di hotel ini, untuk menghubungi mereka satu per satu. Mulutnya terus mengatakan hal yang sama pada setiap kepala dan ketika selesai melakukannya jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tepat pukul sepuluh pagi, biasanya atasannya itu akan berkeliling hotel untuk inspeksi. Benar saja, tidak lebih dari lima detik kemudian, Sasuke berjalan keluar dari ruangannya. Tanpa melirik ke arah Naruto, pria itu terus berjalan dengan langkah tegap.

Sebuah helaan napas lega terdengar keras setelah pria itu menghilang dari pandangannya.

.

.

.

Naruto berdiri dengan gugup di samping pintu ruang rapat. Dia mulai mengabsen para peserta rapat yang sejak tiga jam lalu sudah dihubunginya. Hanya tinggal Kakashi-san. Batinnya semakin tidak tenang. Jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul dua belas lebih empat puluh lima menit.

"Kemana dia?" gumam Naruto pelan. Tubuhnya mendadak kaku saat Sasuke berjalan mendekat ke arahnya bersama Tsunade.

Ia membungkuk dalam, lalu kembali berdiri tegak. Dagunya sedikit terangkat, ekspresinya terlihat tenang. Tsunade tersenyum tipis ke arahnya sebelum masuk ke dalam ruangan mendahului Sasuke. Sementara Sasuke sejenak berdiri di depan pintu, tangannya terulur untuk membuka pintu. "Apa peserta rapat sudah lengkap?" tanyanya datar.

Menekan rasa gugupnya, Naruto menjawab tenang. "Tinggal Kakashi-san yang belum datang."

Sebelah alis Sasuke terangkat saat mendengarnya. Sebuah senyum samar terlukis di bibir seksinya, membuat Naruto harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak menerjang atasannya itu. Ya, ampun, kenapa perasaan itu kembali muncul disaat yang tidak tepat?

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sasuke membuyarkan lamunan erotis wanita muda di depannya. "Bukankah seharusnya kau mencari Kakashi?" tambahnya penuh penekanan.

Kedua mata Naruto membulat sempurna. Untuk kesekian kalinya melirik jam yang melingkar di tangannya. Dua belas menit lagi. Dia hanya punya waktu dua belas menit untuk menemukan Kakashi. "Saya segera mencarinya," katanya setelah kesadarannya kembali, sementara Sasuke menanggapinya dengan mengangkat bahu acuh lalu berjalan masuk ke dalam ruang rapat, meninggalkan Naruto yang segera berlari kesetanan untuk mencari Kakashi.

.

.

.

Naruto merasakan bilur kekecewaan saat tidak menemukan Kakashi dimana pun. Wanita itu nyaris putus asa. Delapan menit lagi rapat akan dimulai. Sialan. Atasannya pasti mengejeknya habis-habisan jika ia tidak bisa membawa Kakashi ke ruang rapat tepat waktu.

Apa mungkin Kakashi melakukannya hal ini dengan sengaja? Tanyanya di dalam hati sembari berlari melewati lorong hotel. Tidak. Itu tidak mungkin. Ini salahnya karena tidak mengingatkan semua peserta rapat kembali.

Berpikir, Naruto! Bentaknya di dalam hati. Beberapa pegawai yang berpapasan dengannya hanya bisa mengernyit melihat tingkah anehnya. "Kiba?!" teriaknya saat melihat punggung Kiba dikejauhan. Naruto menambah kecepatan larinya membuat Kiba terpukau karena kemampuan Naruto yang mampu berlari cepat menggunakan hak tinggi. "Apa kau melihat Kakashi-san?" tanyanya dengan napas putus-putus.

"Lima belas menit yang lalu aku melihatnya masuk ke dalam toilet pria di lantai lima." Jawab Kiba. Pemuda itu menundukkan kepala, menatap aneh kaki Naruto yang sedikit bergetar. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya terdengar khawatir.

Naruto menarik napas dengan rakus. "Aku bisa mendapat masalah jika tidak menemukannya." Jawabnya. "Terima kasih untuk informasinya," katanya cepat. Naruto menekan tombol lift, dan segera masuk setelah pintu terbuka. "Aku akan mentraktirmu minum jika berhasil menemukannya. Ok?"

Kiba pun hanya mengangguk pelan tanpa mengerti kenapa Naruto mencari Kakashi seperti orang gila. Pemuda itu pun akhirnya berbalik pergi setelah pintu lift yang membawa Naruto tertutup.

Di dalam lift, Naruto berdiri dengan tidak sabar. Perjalanan dari lantai tiga menuju lantai lima terasa seabad untuknya. Wanita muda itu hanya berharap jika Kakashi benar-benar ada di dalam toilet di lantai lima. Jika ia ada di sana, tidak perlu waktu satu menit untuk mencapai ke ruang rapat jika berlari.

Sesaat setelah pintu lift terbuka Naruto kembali berlari cepat. Dia baru saja akan masuk ke dalam toilet pria saat Kakashi keluar dari dalamnya, hampir menubruknya.

Kakashi mengernyit. Pria itu menoleh ke belakang untuk membaca tulisan "Toilet Pria". "Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya dengan nada geli.

Naruto membungkuk, terbatuk dan menjawab kurang jelas. "Rah-pat. Sehar-ang."

"Apa?" Kakashi mengernyit sembari mendekatkan kepalanya ke arah Naruto. Ucapan Naruto tidak terdengar jelas di telinganya.

Naruto menunjuk ke arah ruang rapat. Ia sudah tidak sanggup lagi. Paru-parunya terasa kosong hingga memaksanya untuk menghirup oksigen dengan rakus, mengisi penuh paru-parunya. "Rapat. Sekarang." Katanya setelah napasnya sedikit normal.

Kakashi tersenyum lebar hingga kedua matanya membentuk bulan sabit. "Tenang. Masih jam setengah satu," katanya santai sembari menepuk bahu Naruto. Senyum pria itu lenyap seketika saat melihat jam tangan di pergelangan tangan Naruto yang di angkat di depan wajahnya. Satu menit lagi rapat akan dimulai. Kakashi melirik jam miliknya sendiri. Jamnya tidak bergerak tepat di pukul dua belas lebih tiga puluh menit. "Brengsek. Jam tanganku mati rupanya." Makinya saat menyadari jam tangannya mati. Kakashi berlari kencang, sementara Naruto mengikuti langkahnya di belakang.

Mood Sasuke sebelum rapat berlangsung harus dijaga dengan baik. Atasannya itu tidak suka jika bawahannya tidak tepat waktu. Omelan tajamnya bisa terus terdengar sepanjang sisa rapat. Dan itu sama sekali tidak menyenangkan.

Naruto menunggu dengan was-was saat Kakashi masuk ke dalam ruangan. Telinganya masih bisa menangkap suara Kakashi yang meminta maaf karena terlambat.

"Aku baru akan memulainya." Jawab Sasuke samar dari dalam ruangan. Pintu ruang rapat pun tertutup rapat setelahnya. Kaki Naruto gemetar, memaksanya untuk menyandarkan punggung ke tembok di belakangnya. Ia akhirnya jatuh terduduk karena lelah bercampur lega.

Setelah mendapatkan kekuatannya kembali, ia bergegas kembali ke ruang kerjanya. Sepanjang lorong hotel ia terus tersenyum senang. Berhasil. Pekiknya di dalam hati dengan perasaan gembira yang membuncah. Dia baru saja berhasil keluar dari satu masalah yang bisa membuatnya terlihat tidak kompeten di mata Sasuke.

Beberapa saat kemudian senyumannya hilang. Keningnya ditekuk. Kalau dipikir-pikir, bukan salahnya jika seandainya Kakashi datang terlambat. Salahkan saja jam tangan pria itu yang mendadak mati di saat yang tidak tepat. Naruto menghela napas lelah, sementara tangannya memijat keningnya yang berkedut sakit. Sepulangnya nanti ke rumah, dia akan membutuhkan aspirin untuk mengobati sakit kepalanya.

Satu hal yang sangat diinginkannya saat ini; dia berharap hari Kamis datang dengan cepat.

.

.

.

Hari Kamis yang sangat ditunggu olehnya pun akhirnya datang. Naruto tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya saat ini. Setelah hari-hari yang membuat batin, otak serta fisiknya lelah, akhirnya dia bisa bekerja dengan lebih santai, tanpa tekanan dari Sasuke. Empat jam bekerja tanpa pengawasan tajam dan dingin Sasuke membuatnya terlihat lebih hidup.

Ino mengernyit dalam saat menatap wajah Naruto yang berseri-seri. Keduanya sedang menikmati makan siang di kantin khusus karyawan. "Apa aku boleh tahu kenapa kau terlihat sangat senang?"

Sebelah alis Naruto terangkat saat mendengar pertanyaan Ino. Ia melap mulutnya menggunakan tisu dengan sikap berlebihan. "Apa aku harus menjawab pertanyaanmu itu, Ino?" Naruto balik bertanya dengan senyum lebar.

Kening Ino ditekuk semakin dalam. Matanya seketika membola saat mengerti maksud dari pertanyaan teman karibnya itu. "Kau senang karena GM kita tidak ada di hotel, kan?" Naruto mengangguk dengan gerakan centil. "Kapan dia kembali?" tanya Ino membuat kegembiraan Naruto lenyap seketika. "Kenapa?" tanyanya lagi saat Naruto menghela napas berat.

"Dia akan kembali besok sore atau besok malam." Jawab Naruto terdengar tidak antusias.

"Lalu apa yang harus kau keluhkan?" tanya Ino lagi membuat Naruto mendongak, memiringkan kepalanya ke satu sisi- menatapnya tak mengerti. "Kau tetap tidak akan bertemu dengannya hingga hari Senin. Iya, kan?"

Mulut Naruto terbuka lebar. Benar. Besok dia masih bisa menikmati bekerja tanpa kehadiran Sasuke. Dia hanya perlu pulang tepat waktu untuk berjaga-jaga jika Sasuke ke hotel dulu setelah dari Sapporo. Sabtu dan Minggu libur. Dua hari libur seharusnya cukup membuat stresnya hilang untuk sementara. "Kau benar." Pekiknya senang. "Kita harus merayakannya, Ino."

Ino melambaikan tangan di depan wajahnya. "Apa ini tidak terlalu berlebihan?" katanya sembari memasukkan potongan wortel rebus ke dalam mulutnya. "Maksudku, perjalananmu masih panjang, Naruto. Setelah benar-benar lepas darinya, baru kau bisa merayakan kebebasanmu."

"Aku tahu," desah Naruto. "Tapi waktu sepuluh minggu itu terlalu lama, Ino. Lagipula kita tidak tahu hasilnya nanti. Mungkin hasilnya tidak sesuai dengan harapanku, karena itu, kenapa kita tidak merayakan keberuntungan kecilku ini?" Naruto berhenti sebentar. "Empat hari tidak bertemu dengannya merupakan berkah besar untukku."

"Oh, baiklah. Baiklah." Kata Ino kemudian, mengalah. "Kau yang membayar perayaan kecil ini, kan?"

"Ya. Tentu saja." Sahut Naruto. "Aku juga akan mengajak Kiba serta. Aku sudah berjanji mentraktirnya minum. Apa kau tahu tempat makan sekaligus tempat minum yang enak?

Ino terlihat berpikir. "Ah, aku tahu." Pekiknya girang setelah berpikir lama. "Ada restoran yakiniku baru di seberang hotel. Harganya bersahabat karena masih minggu promosi. Bagaimana?"

Naruto menggigit apel dan memandang Ino. "Tidak masalah. Kapan kita pergi?"

"Besok?"

"Bagaimana dengan Kiba?"

"Dia satu shift denganku," jawab Ino. "Shift kami berakhir pukul tujuh malam."

"Kita bertemu disana?" tanya Naruto. "Aku harus pulang tepat waktu, berjaga-jaga jika GM kita yang tampan itu pulang ke hotel."

"Ok." Sahut Ino dengan kikikan pelan.

"Aku tidak suka kikikanmu." Naruto menyempitkan matanya. "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya sembari meletakkan garpunya di atas piring makannya yang isinya sudah setengah kosong.

"Jujur padaku, Naruto. Apa kau sama sekali tidak tertarik pada GM kita itu?"

Pertanyaan bernada serius Ino nyaris membuatnya menyemburkan air yang tengah diminumnya tepat ke wajah Ino. "Kau pasti bercanda." Katanya sembari melap mulutnya dengan punggung tangan.

Ino mengangkat bahu ringan, mendorong pringnya ke depan lalu melipat kedua tangannya di atas meja. Ia melirik ke kanan dan ke kiri. Memastikan tidak ada pegawai lain yang bisa mendengar pembicaraan mereka. "Ayolah, Naruto. Kau harus mengakui jika dia tampan. Sangat tampan."

"Ingat Sai."

Ino memutar kedua bola matanya. "Aku tidak mengkhianatinya hanya karena mengatakan pria lain tampan." Ino terdiam sebentar. "Jadi?"

"Apa?"

"Jadi menurutmu GM kita bagaimana?" Ino bertanya gemas.

Naruto menekuk wajahnya. Sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan Ino. "Harus kuakui, Ino," katanya setelah terdiam sejenak. "Dia memang tampan. Aku memang sempat menyukainya-"

"Itu dia!" pekik Ino sembari memukul meja dengan sendok di tangannya. "Rasanya aneh jika wanita normal tidak tertarik dengannya. Dia terlalu tampan untuk diabaikan."

"Ino...!" gumam Naruto, menegur.

"Aku hanya berkata jujur," balas Ino dengan satu alis terangkat.

"Sekarang tidak lagi." Kata Naruto cepat tanpa memberikan waktu pada Ino untuk melanjutkan ucapannya. Naruto tersenyum masam. "Aku sudah tidak menyukainya lagi. Hingga detik ini aku masih bertanya kenapa aku sempat menyukainya."

"Cinta itu rumit."

"Aku tahu," jawab Naruto sembari meringis. "Aku hanya berharap waktu cepat berlalu," tambahnya dengan helaan napas panjang. "Dan aku bisa segera mendapatkan kejelasan mengenai statusku di hotel ini. Kau beruntung, Ino. Statusmu sudah jelas." Naruto tersenyum tipis. "Jika aku tidak terlambat di hari pertama kerja, mungkin statusku sudah jelas sepertimu dan Kiba."

"Tidak ada yang perlu kau sesali," hibur Ino. "Kau hanya perlu bersabar lebih lama."

"Ya. Aku hanya perlu bersabar lebih lama."

.

.

.

Keesokan harinya pesawat yang ditumpangi Sasuke mendarat di Bandara Narita tepat pukul tujuh malam. Pria itu menarik kopernya menuju mobil kantor yang sudah menunggunya di luar bandara.

Seorang supir membantu memasukkan kopernya ke dalam bagasi sementara Sasuke masuk ke dalam mobil. "Tolong antar aku ke hotel," katanya datar pada supir yang sudah duduk di kursi pengemudi sembari memasang sabuk pengaman. Supir itu mengangguk pelan dan segera menjalankan mobil menuju Hotel Zeus.

Setelah satu jam berkutat dengan macet, Sasuke harus menelan kekecewaan saat mendapati kursi kerja Naruto sudah kosong. Ia melirik ke arah jam yang tergantung di dinding. Sudah jam delapan malam. Pantas Naruto sudah pulang. Pikirnya masam.

Ia berbalik, berjalan sembari menarik kopernya, berniat untuk pulang saat bertemu dengan Kakashi di lobby hotel. "Anda sudah kembali?" tanya Kakashi sembari berjalan mendekat. "Aku mau makan malam, mau ikut?" tawarnya.

Sasuke menimang-nimang. Dia memang ingin pulang cepat, tapi perutnya yang lapar juga tidak bisa diajak kompromi. "Dimana?" tanyanya datar.

"Ada restoran yakiniku di sebrang hotel," sahut Kakashi. "Menurut kabar, rasanya lumayan. Mau bergabung?" tawarnya lagi dengan senyum ramah.

"Siapa saja yang ikut?" tanya Sasuke. Sebenarnya dia tidak suka jika terlalu banyak orang saat makan malam. Terlalu bising.

Kakashi tersenyum lebar dan menjawab. "Hanya aku."

Sasuke mendengus. "Aku ikut."

Kakashi melempar tatapannya pada koper yang dibawa oleh Sasuke. "Anda mau membawa itu?" ia menunjuk ke arah koper.

"Aku akan menyimpannya di mobil," jawab Sasuke. "Sebaiknya aku bawa mobil saja agar bisa langsung pulang setelah makan."

"Ah, kalau begitu aku pergi duluan saja," sahut Kakashi. "Restorannya selalu penuh. Aku akan mencari meja dulu."

"Hn," jawab Sasuke sembari berjalan pergi.

.

.

.

Restoran yakiniku bergaya Jepang tradisional itu sangat penuh oleh pengunjung saat Kakashi datang. Setiap meja diisi oleh pengunjung yang asyik bercengkrama sembari menikmati makan malam mereka. Sial. Makinya di dalam hati. Dia sudah bisa membayangkan delikan tajam dan dengusan kasar dari Sasuke. Kakashi menghampiri meja kasir, menanyakan apa masih ada meja yang kosong. Namun kekecewaan harus ditelannya, semua meja terisi penuh bahkan beberapa meja sudah dipesan untuk jam berikutnya.

Kakashi baru saja akan melangkah pergi saat ia melihat Naruto, Kiba dan Ino duduk di meja paling pojok. Wajah kusutnya seketika sumringah karenanya. Kakashi berjalan cepat menghampiri meja milik Naruto. "Hei, kalian. Boleh aku bergabung?" tanya Kakashi tanpa basa-basi.

"Eh, Kakashi-san. Apa yang Anda lakukan disini?" Kiba bertanya dengan satu alis terangkat.

Tanpa menunggu dipersilahkan, Kakashi menarik sebuah kursi kosong dan duduk di atasnya. "Aku akan mentraktir kalian semua jika kalian mengijinkanku untuk bergabung." Tambahnya sembari menenggak bir dari botol milik Kiba.

"Anda tidak perlu mengeluarkan uang." Kata Ino. "Naruto yang akan mentraktir kita malam ini."

"Benarkah?" tanya Kakashi bertambah girang. "Jadi aku boleh bergabung?" tambahnya terdengar basa-basi.

"Bukankah Anda sudah bergabung?" Naruto tersenyum kecil, namun senyumnya seketika hilang saat matanya beradu pandang dengan mata milik Sasuke. Dia tidak berniat makan disini, kan? Ujarnya di dalam hati, mulai panik.

"Sasuke-san?" Ino bergumam pelan, membuat Kakashi dan Kiba menengok ke arah belakang.

"Aku datang bersamanya," ujar Kakashi dengan senyum polos. Kakashi melambaikan tangan, memanggil Sasuke, lalu menepuk sebuah kursi kosong di sampingnya untuk Sasuke duduk. "Semua meja penuh, jadi aku memohon pada mereka agar diijinkan untuk bergabung," lapornya saat Sasuke duduk di sebelahnya. "Tidak usah sungkan. Di luar kantor, kita ini sama. Iya, kan?" tanyanya pda Sasuke yang hanya menjawab dengan anggukan pelan.

Meja yang diduduki Naruto mendadak sunyi. Suasananya terasa canggung. Bagaimana bisa mereka bersikap biasa jika sang GM tengah duduk diantara mereka.

"Naruto akan membayar semua tagihan," lapor Kakashi lagi pada Sasuke.

"Dalam rangka?" Sasuke bertanya dengan tatapan datar, lurus ke arah Naruto yang duduk gelisah tepat di seberang mejanya. "Jangan-jangan kau merayakan kepergianku selama dua hari, Namikaze?" katanya kemudian, nyaris membuat Ino dan Sai tersedak hebat sementara Naruto tertawa kering. "Maksud Anda apa?" ia balik bertanya lalu menenggak bir miliknya hingga tandas.

"Woah, kau jago minum juga yah?" Kakashi terlihat terkejut saat Naruto mengambil botol bir milik Ino dan mulai menenggaknya hingga habis. Dua botol. Naruto menghabiskan dua botol bir hanya dalam hitungan menit. "Sepertinya kita harus memesan beberapa botol bir lagi," kata Kakashi. Ia memanggil seorang pelayan pria untuk memesan beberapa botol bir dan tambahan daging untuk meja mereka.

Daging terus dibakar, membuat aroma sedap menguar kuat di ruangan itu. Kakashi, Ino dan Kiba mengobrol santai, mengabaikan Sasuke yang asyik menikmati makanannya sementara Naruto sibuk menghabiskan isi botol bir yang ke sepuluh.

"Hentikan, Naruto!" kata Ino tegas. Ia merebut botol bir ditangan Naruto. Naruto sudah mabuk, dan Ino bisa menebak alasannya. "Sebaiknya kita pulang," ujar Ino namun Naruto menolaknya, ia menepis tangan Ino dan mendengus kasar ke arah Sasuke.

"Kau benar." Kiba menimpali. Sumpitnya diletakkan di atas meja. "Aku akan mengantarmu pulang."

"Tidak!" tolak Naruto keras. Wanita itu berdiri, sedikit terhuyung saat kepalanya berdenyut sakit. "Semuanya karena dia!" ia menunjuk ke arah Sasuke yang menatapnya datar, tak berekspresi. "Kenapa dia ada disini?" Naruto menghentakkan kaki. "Bukankah seharusnya aku tidak bertemu dengannya hingga hari Senin?"

Ino yang ditatap oleh Naruto tersenyum kikuk. Ujung matanya melirik ke arah Sasuke yang masih tak berekspresi. Ia tidak bisa membiarkan Naruto terus mengoceh tak karuan, terlalu berbahaya. "Sebaiknya kita pulang, Naruto."

"Tidak!" tolak Naruto. Ia berjalan sempoyongan menuju Sasuke lalu tanpa sempat dicegah tangannya terulur, menampar bagian belakang kepala Sasuke dengan keras.

Sasuke menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Sementara Kakashi, Kiba dan Ino menatap Naruto dengan ekspresi horor. Naruto pasti sudah gila, pikir mereka kompak.

Naruto mengela napas berat. "Kau benar-benar menyebalkan!" katanya kesal. "Sikap aroganmu membuatku muak. Apa aku harus menendang rambut pantat ayammu itu agar kau bisa bersikap baik?" Naruto mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya dengan wajah Sasuke.

Di kursinya, Kakashi memberi kode pada Kiba untuk menarik Naruto pergi, namun sepertinya Kiba terlalu takut untuk bergerak. Dia bahkan tidak bisa mengangkat wajahnya untuk sekedar mengintip ekspresi Sasuke.

"Kehidupanku yang tenang berubah sembilan puluh derajat sejak bertemu dengannya." Lanjut Naruto. "Beberapa hari ini hampir setiap malam aku memikirkannya, berharap dan berdoa agar aku bisa selamat dari sikap sinis atau cibiran tajamnya setiap kali aku berbuat kesalahan."

"Naruto?" cicit Ino takut, melihat ekspresi kalem Sasuke.

"Kau menyebalkan, mengesalkan, dan mengganggu!" raung Naruto membuat Sasuke berdiri dari kursinya lalu mengamit pergelangan tangan kirinya. "Kenapa kau begitu membenciku?" raungnya, mengundang perhatian beberapa pengunjung ke arahnya.

Sasuke menatap Ino dan Kiba bergantian. "Dimana alamat rumahnya?" tanyanya, pura-pura tidak tahu. Naruto bukan hanya mempermalukan dirinya sendiri saat ini, wanita itu juga mempermalukan Sasuke. Ia tidak bisa membayangkan kekacauan yang ditimbulkan oleh Naruto jika tetap berada di tempat ini. Naruto harus dipaksa pulang. Tegasnya di dalam hati.

"Biar saya saja yang mengantarnya," kata Kiba setengah takut. "Saya bawa motor."

"Terlalu bahaya jika dia diantar naik motor," kata Sasuke yang entah kenapa malah membuat Kiba dan Ino malah semakin khawatir karena harus mempertaruhkan nyawa teman mereka di tangan Sasuke. Sungguh pikiran yang terlalu berlebihan.

"Lebih baik saya saja yang mengantarnya menggunakan taksi," timpal Ino yang merasa berkewajiban menyelamatkan Naruto dari Sasuke.

"Bagaimana jika dia pingsan? Kau yakin bisa memapahnya jika itu terjadi?" tanya Sasuke tajam, membuat Ino tidak bisa menjawab. "Jadi, tolong, katakan saja dimana alamatnya?" kata Sasuke lagi penuh penekanan dan tak terbantahkan, membuat Ino dengan berat hati mengatakan alamat yang diminta oleh Sasuke.

Setelah mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetnya Sasuke menyeret paksa Naruto untuk keluar restoran menuju tempat mobilnya di parkir.

"Aku yakin kali ini Naruto tidak akan selamat," kata Kiba setelah Sasuke dan Naruto pergi. Ia kehilangan selera makan karena membayangkan sesuatu buruk yang akan menimpa Naruto. "Menurut kalian, apa Naruto akan dipecat?" tanyanya khawatir.

Ino mendesah. "Kuharap dia tidak sampai dipecat." Ino menenggak birnya, berharap bisa menghilangkan stres dadakannya. "Naruto selalu bicara melantur saat mabuk." Tambahnya. "Sial. Seharusnya aku bisa memaksanya pulang sebelum hal ini terjadi."

Kakashi memijit pangkal hidungnya, lalu bersidekap. "Kita berdoa saja, semoga Naruto tidak mati di tangan Sasuke. Saat ini itu yang terpenting." Katanya sama sekali tidak melegakan hati Ino dan Kiba.

Sementara itu di dalam mobil Sasuke, Naruto terus mengoceh, menggerutu dan memprotes sikap Sasuke terhadapnya selama ini. Kekesalan yang disimpannya di dalam hati dikeluarkan tanpa beban. Sasuke bahkan harus mengelus dada saat Naruto menaikkan kedua kakinya dan duduk bersila di atas kursi penumpang. "Duduk yang benar, Naruto!"

"Aku tidak mau!" jawab Naruto ketus. Ia tertawa, bertepuk tangan lalu menangkup wajah Sasuke saat pria itu berusaha memakaikannya sabuk pengaman.

Waktu seolah berhenti berputar saat pandangan mereka bertemu. Naruto mengamati iris gelap mata Sasuke, mulutnya yang mengoceh tiba-tiba terdiam. Pandangannya mengamati dengan intens kedua alis pria itu, hidungnya yang mancung, sampai mulut Sasuke yang terkatup rapat.

Sasuke bahkan harus menahan napas saat ibu jari wanita itu menyentuh bibirnya dengan lancang. "Bibirmu halus," ujar Naruto mencengangkan, syarat pujian. Iris safirnya kembali menatap iris milik Sasuke. "Boleh tidak aku mencicipinya?" tanyanya polos. Naruto memiringkan kepalanya ke satu sisi, bersikap seperti anak kecil yang merengek dibelikan mainan baru.

"Kau mabuk." Kata Sasuke tenang. "Kau akan menyesal saat mengingat semua ini."

"Aku mau mencicipinya!" cicit Naruto kesal. Dia merengut, kedua alisnya bertaut saat Sasuke mencoba melepaskan diri. "Aku ingin mencicipinya. Titik!" ujarnya lagi sembari mengalungkan tangannya di leher Sasuke lalu menariknya semakin mendekat.

Sasuke mengerang, terlihat sangat frustasi saat Naruto menggigit bibir bawahnya sendiri. Untuk pertama kalinya dia dibuat bingung. Di dalam hati ia mencatat untuk menjauhkan Naruto dari apapun yang mengandung alkohol.

Di sisi lain, Naruto tersenyum seksi saat hidung mereka saling beradu. Matanya masih tertuju lurus pada iris gelap Sasuke, tanpa menunggu persetujuan dari pemiliknya, ia memagut bibir pria itu dengan kasar, mencumbunya, menggodanya dalam satu ciuman panas, lama dan memabukkan yang sama sekali tidak pernah terbayangkan oleh Sasuke.

.

.

.

TBC

Hello, dalam rangka merayakan 3 tahun saya menulis di FFN, hari ini saya publish beberapa fic secara bersamaan. Yah, walau terlambat 1 bulan dari tanggal perayaan sebenarnya, gpp-lah yah, daripada tidak sama sekali. Sesuai dengan makna dari tanggal 14 February, hari ini saya mau tebar cinta dan tebar fic SFN di FFN untuk kalian para pembaca setia, untuk yang suka neror buat update, untuk para silent readers, dan untuk haters. #Uhuk #Nyengir #Ngelantur #Abaikan

Ehmmm... Sebenarnya jumlah fic yang saya publish hari ini tidak mencapai target yang saya harapkan. Kesel banget, karena kemampuan saya ternyata hanya sebatas ini, tapi kalau dipaksakan publish menunggu TBWY sama UC selesai, udah keburu ganti bulan kali yah. Jadi hanya 6 bh fic ini saja yang bisa saya publish. Otak dan tangan saya keburu capek waktu ngetik Secret, dan hanya mampu menyelesaikan setengahnya saja. Nanti kalau sudah mood saya lanjutkan dan publish chap barunya yah. #Nangis

Ok, deh, sampai jumpa dichap selanjutnya yah! ^-^

#WeDoCareAboutSFN

#FuyuTebarCinta

#Merayakan3TahunMenulisDiFFN