Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Drama, romance

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

Selamat membaca!

Mr. Arrogant

Chapter 7 : Lupa?

By : Fuyutsuki Hikari

Tuhan, beri aku keberanian saat bertemu dengannya.

Pagi ini Naruto terus merapal doa. Di atas kursi kerjanya ia duduk dengan gelisah. Demi apapun di dunia ini, ia tidak akan segelisah ini andai saja kakaknya tersayang-Namikaze Kurama tidak mengatakan jika ia muntah di dalam mobil milik Sasuke. Dan seolah belum cukup, Ino dan Kiba menghubunginya di Sabtu siang yang cerah, memberinya ceramah paling panjang dalam hidupnya. Mereka lalu bertanya; darimana keberaniannya datang? Bagaimana bisa dengan lancangnya ia memukul bagian belakang kepala seorang Uchiha Sasuke yang notabenenya atasan mereka? Mereka juga mengatakan jika mulutnya terus mengeluarkan ucapan-ucapan yang tidak sepantasnya diucapkan seorang bawahan kepada atasan.

Ya, Tuhan. Kenapa mereka menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya?

Ah, semua itu terjadi karena ia mabuk. Andai saja bisa, tentu ia akan memilih pulang dan tidak meminum minuman beralkohol itu.

Naruto mengaduh. Diletakkannya kepalanya di atas meja kerja. Ia menghela napas panjang, dengan perlahan ia mengangkat sebelah tangannya ke dada, berharap jantungnya bisa kembali berdetak normal apabila ia menempelkan tangannya disana.

Aku harus bagaimana? Tanyanya di dalam hati, meratap.

Naruto baru saja membenahi duduknya saat pintu lift terbuka. Dengan setenang mungkin ia berdiri setelah ekor matanya menangkap sosok Sasuke berjalan keluar dari dalam lift kemudian melangkah penuh wibawa ke arahnya.

Suara sepatu pria itu nyaris tak terdengar, teredam oleh tebalnya karpet yang terhampar di atas lantai hotel.

"Selamat pagi!" Naruto menyapa dengan sopan, kepalanya sedikit menunduk, sementara kedua tangannya dilipat di depan perut. Namun seperti biasa, tidak ada balasan dari mulut pria itu. Sasuke bahkan sama sekali tidak meliriknya. Dengan gaya angkuh pria itu melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya dan menutup pintu di belakangnya agak keras.

Naruto nyaris terlonjak kaget saat pintu di belakang Sasuke ditutup dengan keras. Dengan perlahan ia melepaskan napas yang sedari tadi ditahannya. Tangannya yang berkeringat kini sedikit bergetar, sementara matanya melirik resah ke arah pintu ruang kerja Sasuke yang tertutup rapat.

"Tenangkan dirimu!" gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. Namun tak butuh waktu lama hingga akhirnya ia mengerang dan kembali frustasi. "Tidak bisa seperti ini, Naruto!" ia masih bergumam, menegur dirinya sendiri. "Masuk dan minta maaf!" perintahnya.

Butuh waktu lima menit hingga akhirnya ia memiliki keberanian untuk mengetuk pintu ruang kerja Sasuke. Dengan perlahan ia membuka pintu, dan seperti anak kecil yang ketahuan berbuat nakal ia melangkah masuk ke dalam ruangan itu.

Naruto menundukkan kepala. Sesekali ia mengintip dari balik bulu matanya yang lentik. Atasannya itu terlihat santai di atas kursi kerjanya, tangannya terlihat lincah menari di atas keyboard laptopnya.

Ironis, pikir Naruto, karena berbanding terbalik dengan sikap tenang Sasuke, ia harus berdiri susah payah di hadapan pria itu dan berdoa agar tidak jatuh pingsan di tempat. Aish... jika terjadi, maka hal itu akan menambah panjang daftar hal-hal memalukan yang dilakukannya di depan Sasuke.

"Jika kau tidak ada keperluan denganku, sebaiknya kau pergi. Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan." Ucapan Sasuke itu dilontarkan dengan nada datar namun terkesan dingin dan mengusir.

Di tempatnya berdiri, Naruto mengepalkan kedua tangannya. Bagaimana pun dia bersalah dan harus meminta maaf. Titik.

"Maafkan saya!" Naruto membungkuk dalam, suaranya terdengar mantap dan penuh penyesalan. "Saya benar-benar menyesal." Tambahnya cepat.

Untuk sesaat jemari-jemari Sasuke berhenti menari di atas keyboard, pria itu tertegun, namun dengan cepat ekspresinya kembali terlihat datar. "Maaf untuk apa?" ia balik bertanya dengan nada bosan. Sasuke menyamankan posisi duduknya. Dengan tatapan menuduh ia menatap Naruto yang semakin gelisah di tempatnya berdiri.

Naruto menelan air liurnya dengan susah payah. Suaranya mendadak hilang dari tenggorokannya. Oh, kenapa suhu ruangan ini mendadak terasa panas. Dengan gugup ia melirik ke arah mesin pendingin ruangan yang terdapat di dalam ruangan ini. Ah, mesin itu bekerja normal, berarti yang salah adalah dirinya, bukan mesin itu, batinnya mulai meracau.

"Jadi?"

Naruto tersentak. Ekspresinya terlihat sangat lucu di mata Sasuke saat ini. Namun demi keriput Itachi, Naruto tidak akan pernah tahu jika ia menikmati kegugupan wanita itu saat ini. Ah, anggap saja ini sebagai hiburan serta obat untuk dua malam paling menyiksa dalam hidupnya.

"Maaf karena saya muntah di dalam mobil anda!" pekik Naruto membuat satu alis Sasuke terangkat. Pria itu tidak mengerti, Naruto muntah di dalam mobilnya? Kapan?

"Anda pasti kerepotan harus membersihkan muntahan saya yang menjijikan." Tambah Naruto tanpa bisa menatap langsung wajah Sasuke.

"Siapa yang mengatakannya?"

"Kakak saya," jawab Naruto pelan. Ia mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke lantai untuk menghilangkan rasa gugupnya yang semakin mencekik. "Demi Tuhan, saya tidak berniat untuk mengotori kendaraan anda." Ujar Naruto penuh penyesalan.

Sasuke memasang ekspresi datar, walau dalam hatinya ia tertawa geli. Kakak Naruto jelas tengah mengerjai wanita itu. Ck, kenapa wanita itu bisa begitu mudahnya dikelabui?

"Saya juga minta maaf untuk semua kelakuan saya. Saya benar-benar menyesal. Semua itu kecelakaan dan saya berharap tidak pernah terjadi." Tukas Naruto dengan mimik penyesalan. "Anda tidak akan memecat saya, kan?" tanya Naruto dengan sisa keberanian yang mengkhawatirkan.

"Kau berharap hal itu tidak terjadi?" tanya Sasuke dengan rahang mengeras. Naruto mengangguk cepat, kedua tangannya kembali basah oleh keringat. "Kalau begitu lupakan!" perintah Sasuke tegas.

Naruto memiringkan kepalanya ke satu sisi, heran saat melihat perubahan mood atasannya ini. Ada yang salah, pikirnya. Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan. Berusaha untuk mengenyahkan pertanyaan yang mengganggu pikirannya saat ini. "Anda memaafkan saya?" tanyanya dengan ekspresi tak percaya. Ia memekik senang, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

"Kembali ke ruanganmu dan jangan masuk ke dalam ruanganku jika aku tidak memanggil."

Kedua mata Naruto mengerjap saat telinganya menangkap nada tidak bersahabat dari atasannya ini. Sasuke benar-benar marah? Tapi kenapa? Bukankah pria itu yang meminta dirinya untuk melupakan apa yang sudah terjadi? Kedua alis wanita itu bertaut, bingung. Namun untuk saat ini ia tidak akan mempermasalahkannya. Dengan sopan ia membungkuk dalam, mengucapkan terima kasih dan dengan langkah panjang-panjang dan ekspresi bingung ia berbalik keluar dari dalam ruang kerja Sasuke.

.

.

.

Naruto bisa bernapas lega saat jam kerjanya sudah berakhir, dan semua pekerjaannya berhasil diselesaikannya tanpa harus lembur. Ia mengetuk daun pintu ruang kerja Sasuke pelan, lalu membukanya untuk pamit pulang pada atasannya itu. Sasuke hanya mengangguk acuh, membuat Naruto sedikit bingung karenanya.

Tanpa banyak bicara ia pun kembali menutup pintu. Sikap Sasuke saat ini terasa lebih mengganggunya. Natuto terus memikirkannya, membuatnya melamun sepanjang perjalanan pulang. Batinnya mengatakan jika ada yang salah. Ada hal penting yang dilupakannya terkait kejadian memalukan tiga hari yang lalu. Tapi apa? Keningnya ditekuk dalam saat ia mencoba mengingat apa yang sudah dilupakannya. Sial, aku lupa! Makinya di dalam hati.

"Aku pulang!" ujarnya pelan saat membuka pintu rumahnya, sementara dari dalam rumah-Kurama menyahut lantang, "Selamat datang!"

Naruto membuka sepatu berhak tingginya, menggantinya dengan sandal rumah lalu melangkah gontai menuju ruang keluarga. Ia merebahkan diri di atas sebuah sofa panjang yang nyaman, sementara matanya menatap lurus langit-langit rumahnya.

"Jangan bilang kau membuat masalah lagi!" Kurama masuk ke dalam ruang keluarga dengan dua mug besar coklat panas di tangan. "Mau?" tawarnya sembari menyodorkan satu mug ke depan wajah Naruto.

Naruto mengerang, mendudukkan diri dengan wajah ditekuk. "Siapa yang bisa menolak coklat panas yang nikmat?" ia balik bertanya dengan senyum masam. Naruto mengangkat mug ke depan wajahnya, menghirup aroma nikmat coklat yang menggiurkan. "Terima kasih!" ucapnya sesaat sebelum menyesap minuman itu.

"Jadi?" tanya Kurama santai. Dengan tatapan menyelidik ia mengamati gerak-gerik adiknya yang terlihat gelisah.

Sebuah helaan napas panjang terdengar keras. Naruto meletakkan mugnya di atas meja, lalu mendongakkan kepala untuk menatap Kurama yang balas menatapnya dengan satu alis terangkat. "Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi kurasa Sasuke-san marah besar padaku."

"Gara-gara kejadian malam Sabtu yang lalu?"

Naruto memutar kedua bola matanya dan menjawab ketus, "Tentu saja karena itu. Apa lagi?"

Kurama mengangkat bahu acuh. "Entahlah. Karena aku tidak akan heran jika kau membuat masalah baru."

"Apa aku semenyedihkan itu?" ratap Naruto dengan pandangan memelas.

"Kau ceroboh. Ingat?" ujar Kurama menohok. Naruto merengut, sementara Kurama tersenyum tipis, terlihat mengejek.

Keduanya terdiam. Kurama memilih mengamati Naruto sementara adiknya itu memilih untuk menikmati minuman coklat panasnya dengan wajah ditekuk.

"Aku sudah meminta maaf," tukas Naruto memutus keheningan panjang diantara keduanya. Ia mendesah pasrah. "Aku meminta maaf karena sudah berbuat tidak sopan dan muntah di dalam mobilnya," lanjutnya membuat Kurama nyaris tersedak oleh minumannya. "Kenapa ekspresimu seperti itu?" tanya Naruto saat Kurama terbelalak. "Oh, jangan katakan jika kau membohongiku!" pekiknya dengan nada satu oktaf lebih tinggi. "Aku tidak muntah di dalam mobilnya, kan?!"

Kurama menggeleng pelan. Pria itu mengerjapkan mata, sebelum akhirnya tawanya meledak dengan keras. Ia tertawa begitu keras, terpingkal-pingkal hingga perutnya terasa sakit.

"Kenapa kau membohongiku?" raung Naruto sembari menerjang lalu mencubiti kedua tangan Kurama, meluapkan kekesalan serta kemarahannya. Dia tidak mengerti kenapa kakak tersayangnya itu masih bisa membohonginya? "Kakak membuatku malu di depan atasanku!" teriaknya marah. Naruto melanjutkan aksi balas dendamnya. Dengan bertubi-tubi ia memukul keras tangan serta punggung Kurama.

"Aku tidak percaya jika kau mempercayai ucapanku," balas Kurama sembari meringis karena serangan cubitan serta pukulan Naruto yang menyakitkan. "Kau sangat mudah dikelabui," tambahnya membuat Naruto semakin marah. "Baiklah... baiklah, kakak salah. Ampuni aku!" mohonnya sembari berusaha melepaskan diri dari serangan Naruto.

"Kakak jahat sekali." Rengut wanita itu kesal. Naruto melipat kedua tangannya di depan dada, sementara matanya mendelik ke arah Kurama yang tengah mengamati hasil karya Naruto di kedua tangannya. Naruto menghela napas. "Jika bukan karena aku muntah di dalam mobilnya, lalu alasannya apalagi? Aku bersikap tidak sopan karena mabuk. Sudah sewajarnya jika dia memakluminya, kan? Kenapa dia harus begitu marah?"

Lagi-lagi Kurama mengangkat bahunya acuh. "Mungkin ada sesuatu yang kau lupakan. Alasan lain yang membuatnya marah padamu."

"Tapi apa?"

"Mana kutahu," jawab Kurama datar. "Kau harus bertanya padanya, bukan padaku." Tambahnya sebelum beranjak pergi menuju kamarnya di lantai dua.

.

.

.

Semua itu kecelakaan dan saya berharap tidak pernah terjadi.

"Brengsek!" maki Sasuke sembari mengerang frustasi. Pengakuan Naruto pagi tadi padanya membuat pria itu kesal dan marah sepanjang hari. Perasan dongkol itu mencengkramnya dengan hebat. Ck, mungkin dia harus memberi ucapan selamat secara pribadi pada Naruto karena wanita itu adalah wanita pertama yang berhasil membuatnya gelisah dan kacau seperti saat ini.

Harus Sasuke akui, ciuman dengan Naruto merupakan ciuman yang paling sulit dilupakannya. Salahkan aja hormonnya yang membuat pria itu tidak bisa tidur nyenyak dan merasa tersiksa selama dua malam terakhir ini.

Pria itu memijat tengkuknya yang sama sekali tidak pegal, kepalanya mendongak, matanya terpejam. Di dalam hati ia mengutuk kebodohannya sendiri-dia bertepuk sebelah tangan? Sialnya lagi, secara terang-terangan Naruto mengatakan jika dia menyesali apa yang sudah terjadi diantara mereka. Yah, wanita itu dengan mudahnya mengatakan jika ia menyesali apa yang sudah terjadi. Sialan! Pikir Sasuke gemas.

Pria itu kembali terdiam lama. Tatapannya menerawang jauh hingga akhirnya ia tersenyum miris. Haruskah ia menyerah sekarang? Tidak. Tentu saja dia tidak akan menyerah dengan mudah. Dia harus menggunakan cara lain untuk menyadarkan otak bebal Naruto. Tapi apa?

Sasuke berpikir dengan ekspresi serius, lama hingga akhirnya ia kembali menyerah. Sejenak ia melirik ke arah telepon genggam miliknya yang tergeletak di atas sofa. "Tidak. Aku tidak boleh menghubunginya," ujarnya masam. Sasuke mendengus kasar, matanya kembali tertuju lurus pada layar televisi yang kini tengah menyiarkan berita malam.

Ia mencoba untuk mengalihkan pikirannya. Dengan seksama ia menatap siaran yang tengah ditontonnya. Namun apa harus dikata? Pikirannya tidak bisa diajak kompromi saat ini. Pikirannya terus berkelana, membayangkan seorang wanita naif berambut pirang yang bernama Namikaze Naruto.

.

.

.

Ino meletakkan bakinya di atas meja makan, lalu duduk dengan tenang di sebrang meja Naruto. Suasana kantin hotel siang ini terlihat lebih sepi dari biasanya, hal itu mungkin dikarenakan manajemen mengeluarkan peraturan baru mengenai pembagian jam makan siang.

Kedua alis Ino saking bertaut, ia bertanya di dalam hati-masalah apa lagi yang kini dihadapi oleh Naruto hingga teman baiknya itu terlihat murung sepanjang hari?

Ino mengetukkan sendoknya ke atas piring beberapa kali, mencoba menarik perhatian Naruto, namun sayangnya wanita itu harus menelan kekecewaan karena Naruto tak kunjung merespon. Saat ini Naruto terlalu larut dalam lamunannya.

Mendesah panjang, Ino lalu menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Naruto.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali, dan akhirnya Naruto merespon, wanita itu mengerjapkan mata kemudian menatap Ino dengan tatapan terkejut. "Sejak kapan kau disini?" tanyanya sembari menusuk-nusuk makanan di atas piring dengan malas.

Ino mencebik, "Sejak satu tahun yang lalu," jawabnya membuat Naruto memutar kedua bola matanya-bosan. "Ekspresimu saat ini terlihat seperti seseorang yang tengah menanggung beban paling berat sedunia." Ino berkata lagi dengan saru alis terangkat. Mulutnya mengunyah pelan, sementara matanya mengamati Naruto yang kini tertunduk lesu. "Jadi, masalah apa lagi yang kau buat sekarang?" tanyanya serius.

Naruto mengangkat kedua tangannya ke udara. "Kenapa orang-orang berpikir jika aku membuat masalah baru? Kemarin kakakku, sekarang kau." Ujarnya terlihat tersinggung.

"Karena kau sering melakukannya. Ingat?"

"Aku tidak seceroboh itu," balas Naruto dengan kening ditekuk.

"Jadi, kau benar-benar tidak membuat masalah baru?" tanya Ino serius, sama sekali tidak terpengaruh oleh delikan tajam Naruto.

"Tidak. Aku tidak membuat masalah baru," jawab Naruto dengan gigi gemertuk. "Kenapa kau terus bertanya hal itu?"

Ino mengangkat bahu. "Penasaran saja," jawabnya ringan. "Setelah apa yang kau lakukan di restoran tempo hari, aku tidak akan terkejut seandainya kau melakukan hal gila lainnya."

Ucapan Ino membuat Naruto mengerang tidak nyaman. Ia mendorong piringnya yang isinya sama sekali belum disentuhnya. Saat ini selera makannya menguap entah kemana. "Aku sudah minta maaf untuk kejadian tempo hari."

"Lalu?" tanya Ino dengan ekspresi tertarik. Ia pun mendorong piringnya, mendengar cerita Naruto sepertinya jauh lebih menarik saat ini.

"Sikapnya menjadi berbeda," jawab Naruto sembari merenung. "Dia menjadi lebih dingin."

Kedua alis Ino saling bertaut mendengarnya. "Bukankah sifatnya memang seperti itu?"

"Berbeda," jawab Naruto cepat. "Sikapnya saat ini membuatku tidak nyaman. Dia menjauhiku, Ino."

"Setelah apa yang kau lakukan tempo hari kurasa sudah sewajarnya jika dia menjaga jarak," katanya tenang. "Bagaimana jika pegawai lain tahu mengenai kejadian tempo hari? Walau bagaimana pun dia atasan kita, Naruto."

"Aku sama sekali tidak sadar saat melakukannya," balasnya untuk membela diri. Naruto memandang Ino. "Aku mabuk. Ingat?" tambahnya pelan. Naruto menarik napas panjang, walau mulutnya berusaha untuk mengeluarkan alasan-alasan untuk membela diri, tetap saja hati kecilnya mengatakan jika semua itu merupakan kesalahan yang seharusnya tidak terjadi. "Apa yang harus kulakukan Ino?" tanyanya kemudian, terlihat putus asa. "Aku tidak mau kehilangan pekerjaanku karena hal ini."

Ino menyentuh tangan Naruto, berusaha untuk menenangkannya. "Kurasa akan lebih baik jika kau bersikap biasa, Naruto." Ujarnya dengan senyum hangat. "Lakukan pekerjaanmu dengan baik. Kurasa alasannya bersikap seperti itu padamu karena egonya terluka. Apalagi kau melakukannya di depan kami-bawahannya. Beri dia waktu. Aku yakin beberapa hari ke depan moodnya akan membaik."

"Kau yakin?"

"Sangat," jawab Ino yakin. "Sekarang makan, kau butuh energi untuk menghadapinya sepanjang sisa siang ini, kan?"

Naruto mengangguk. Ia lalu tersenyum. Keduanya kembali menyantap makan siang mereka dengan lahap.

.

.

.

Di hari ketiga, sikap Sasuke sama sekali tidak berubah. Naruto bisa merasakannya dengan lebih jelas saat ini, pria itu menjaga jarak dengannya. Mungkin apa yang dikatakan Ino benar, ego pria itu terluka. Tapi kenapa Sasuke harus bertingkah seperti anak kecil yang tengah merajuk? Apa mungkin ada hal lain yang terjadi saat Sasuke mengantarku pulang? Naruto mengernyit saat pertanyaan itu melintas di dalam kepalanya.

Naruto menarik napas. Ia setengah melamun saat pintu lift terbuka. Wanita itu mundur satu langkah ke belakang saat satu orang pria dan satu orang wanita asing masuk ke dalam lift. Naruto memalingkan muka, berusaha melihat kearah lain saat pasangan di depannya mulai berciuman dengan panas.

Brengsek, apa mereka harus melakukannya disini? Saat aku berada di dalam lift? Tidak bisakah mereka menunggu hingga masuk ke dalam kamar? Naruto menggerutu di dalam hati. Kedua pipinya mulai memerah karena malu saat wanita asing di depannya mulai mengeluarkan erangan gairah.

Sejenak ia melirik ke arah tombol lift, lantai lima. Tamu asing itu menuju lantai lima. Demi Tuhan, kenapa lift ini bergerak begitu lambat saat ini? Atau hanya perasaannya saja?

Naruto menghembuskan napas lega saat kedua tamu asing yang masih berpagutan panas itu keluar dari dalam lift. Naruto tidak yakin sejak kapan wanita asing itu melingkarkan kedua kakinya disekeliling pinggul pasangannya. Rona merah kembali menjalar dari wajah hingga telinga Naruto saat otaknya mulai membayangkan kejadian berikutnya yang akan terjadi di dalam kamar tamu asing itu.

Pintu lift kembali tertutup. Lift bergerak semakin ke atas, sementara di dalam lift Naruto mulai mengipasi wajahnya dengan kedua tangannya. Udara di dalam lift terasa lebih panas untuknya.

Melihat kejadian seperti tadi bukanlah hal yang luar biasa, karena ia sudah sering melihatnya. Namun tetap saja hal itu sama sekali tidak membuatnya terbiasa. Dan detik selanjutnya kedua mata Naruto membulat sempurna. Mulutnya terbuka lebar. Sekarang dia mengingatnya. Mengingat hal bodoh lainnya yang dilakukannya saat ia mabuk. Dia mencium Sasuke.

Kedua kaki Naruto terasa lemas. Ia bahkan harus menyandarkan tubuhnya ke lift. Kepalanya mendadak pusing. Itu tidak mungkin! Elaknya di dalam hati. Naruto memejamkan mata, mencoba untuk mengingat keseluruhan kejadian itu dengan lebih jelas.

"Tidak...!" ringisnya penuh penyesalan. Dia bukan hanya mencium atasannya itu, ia juga menggoda serta memagut bibir Sasuke seperti wanita liar. "Bagaimana bisa?" ratapnya nyaris menangis. Bibir Sasuke sangat lembut, pikirnya mulai melantur. Naruto terbelalak, dengan frustasi ia menjambak rambutnya sendiri saat pemikiran itu mampir di kepalanya. Kenapa dia malah memikirkan hal itu saat ini?

Wanita itu terus mengutuk kebodohannya. Bagaimana bisa dia melupakan hal sepenting itu? Apa alasan ini yang membuat Sasuke menjaga jarak darinya? "Ya, Tuhan...!" ratap Naruto pilu. Ia sama sekali tidak sadar jika pintu lift terbuka dan Sasuke masuk ke dalam lift itu dengan satu alis terangkat.

"Kau baik-baik saja?"

Naruto terpekik, menggeser tubuhnya hingga ke sudut kanan belakang lift. Kenapa Sasuke bisa berada di dalam lift ini? Tanyanya panik. "Kenapa Anda berada disini?"

Satu alis Sasuke terangkat, "Lift ini bukan milikmu."

Naruto terdiam. Tubuhnya membeku.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke lagi untuk kedua kalinya. Kedua matanya kini menyipit, menatap Naruto tajam.

Dengan gerakan kaku Naruto menggelengkan kepala, lalu dengan cepat ia kemudian menganggukkan kepala.

"Aku rasa ada yang salah denganmu, Namikaze. Kau terlihat aneh dan wajahmu merah. Kau sakit?" ujar Sasuke tanpa ekspresi.

Aku tidak sakit. Ratap Naruto di dalam hati. Aku hanya baru mengingat apa yang pernah terjadi diantara kita, tambahnya masih di dalam hati.

Sasuke mendengus, lalu membalikkan tubuhnya, membelakangi Naruto. "Sebaiknya kau pulang jika sakit."

"Sa-saya baik-baik saja," jawab Naruto terbata. Dengan susah payah ia berusaha untuk berdiri tegak. Naruto berusaha untuk bersikap santai, namun ia kembali menunduk saat matanya terarah pada cuping telinga Sasuke.

Oh, tidak. Jangan sekarang. Pikir Naruto frustasi. Sengatan gelombang aneh merayap di dalam perutnya saat kenangan itu menari-nari di dalam kepalanya. Malam itu, Naruto mencium pria itu dengan liar. Ia bahkan berani memagutnya mesra. Entah keberanian dari mana hingga ia dengan berani menyusurkan lidahnya di bibir Sasuke, merayap ke pipi hingga cuping telinga pria itu.

Naruto kini bisa mengingat dengan jelas bagaimana tubuh Sasuke bergetar akibat ulah nakalnya. Pria itu bahkan mengeluarkan suara erangan tertahan saat Naruto menggigiti cuping telinganya dengan berani.

Dia pasti berpikir jika aku ini wanita murahan, ringis Naruto di dalam hati.

"Kau yakin baik-baik saja?" tanya Sasuke dengan sorot cemas. Pria itu menatap refleksi Naruto pada dinding lift yang terbuat dari bahan stainless.

Naruto mengangguk. "Saya baik-baik saja," dustanya tidak meyakinkan. "Atau tidak. Saya tidak baik-baik saja."

Sasuke menoleh. "Kau sakit?"

Naruto menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Kau yakin?" tanya Sasuke. Pria itu menekan tombol lift, menghentikan benda itu di lantai sepuluh. "Wajahmu merah, kau demam?" tanyanya lagi.

Naruto mengatupkan bibirnya. Berada sedekat ini dengan Sasuke membuat aroma khas pria itu tercium oleh indera penciumannya. Naruto semakin tegang. Jantungnya berdetak semakin hebat sementara tatapan Sasuke mengunci pergerakannya. Wanita itu kaget dengan respon dirinya. Dia tidak mungkin menginginkan pria ini, kan? "Maafkan, aku!" bisik Naruto parau dengan mata terpejam. Saat ini dia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menatap langsung Sasuke.

"Maaf?" Sasuke balik bertanya dengan nada tenang. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang lift. Entah kenapa instingnya mengatakan jika akan ada hal menyenangkan yang akan terjadi setelah ini.

"Tolong tekan tombol liftnya. Untuk apa Anda menghentikan lift?" tanya Naruto gugup. Dia harus keluar dari tempat ini secepatnya. Berada di dalam ruang sempit dengan Sasuke sama sekali tidak baik untuk kesehatan jantungnya.

"Bukankah kau tadi meminta maaf padaku?" tanya Sasuke, mengabaikan permintaan Naruto. "Katakan, untuk kali ini untuk apa kau meminta maaf?" lanjutnya dengan ekspresi datar.

Hening.

"Maaf karena saya menggoda Anda," tukas Naruto dalam satu tarikan napas, memutus keheningan berat diantara keduanya. "Saya baru mengingatnya. Saya menyesal tidak langsung minta maaf mengenai hal ini, tempo hari. Saya mabuk dan tidak sadar akan apa yang tengah saya lakukan," tambahnya malu.

Jadi, Naruto baru mengingatnya? Tanya Sasuke di dalam hati. Bibirnya membentuk seringai seksi. "Ah, kau sudah ingat rupanya," katanya penuh penekanan.

Naruto meringis, dengan kekuatan tersisa ia melangkah maju untuk menekan tombol lift. Lift kembali bergerak. Sasuke masih menyeringai, sementara Naruto seperti pencuri mencoba untuk berada sejauh mungkin dari pria itu.

"Sebaiknya kita membahas hal ini di ruanganku, Nona Namikaze," ujar Sasuke saat melangkah keluar dari dalam lift. "Dan aku harap kau memiliki alasan masuk akal dibalik sikapmu yang hm... diluar dugaan?" tambahnya penuh penekanan pada dua kata terakhirnya. Dengan langkah santai ia berjalan menuju ruangannya. Moodnya kembali membaik dengan cepat saat ini. Jadi apa yang dikatakan Naruto tempo hari tidak ada kaitannya dengan ciuman mereka? Sasuke menyeringai semakin lebar, sementara Naruto membuntutinya masuk ke dalam ruangannya dengan kepala menunduk dalam.

Alasan apa lagi yang bisa kukatakan selain 'mabuk? Batin Naruto miris. Dia pasti akan mempersulitku, pikirnya. Tapi hal itu sepadan. Setidaknya aku sudah pernah mencicipi bibir lembut milik Sasuke.

Kedua bola mata Naruto kembali terbelalak lebar. Sementara kedua tangannya membekap mulutnya yang terbuka lebar. Ia mengumpat di dalam hati. Ini tidak mungkin, batinnya kacau. Dia tidak mungkin tertular kemesuman Kakashi, kan?

.

.

.

TBC

Hai...hai... Adakah yang kangen sama fic ini? Ayo, angkat tangannya! ^-^ Lama juga saya nggak update fic ini yah, apalagi fic yang ntu #LirikUC

Maaf kalau banyak jebakan typo(s), nggak sempet ngecek ulang. Udah keburu capek euy! #AlasanKlise

Oh, iyah, mudah-mudahan setelah ini saya akan kembali teratur mempublish min. 1 fic dalam 1 minggu. Doain saja yah, semoga diberi kelancaran untuk idenya, waktu nulisnya ada dan diberi kesehatan juga.

Btw, untuk beberapa pembaca yang suka ngeluh SFN sepi, atau kurang asupan fic SFN-lah, daripada nunggu penulis lain update, kenapa nggak coba bikin fic sendiri dan publish? Hayoh... talk less do more! Kalau ngandelin orang lain doang mah nggak akan rame-rame dong fic SFN-nya. #Nyengir

Makasih untuk semua yang masih bersedia nunggu updatean fic2 saya yang masih berlanjut. Semoga nggak bosen untuk menunggu. Ayoh... Kalau nunggu jodoh aja bisa sabar banget, apalagi cuman nunggu updatean fic. #WejanganKhususUntukParaJomblo

Sampai jumpa dichap selanjutnya yah!

#WeDoCareAboutSFN