Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Drama, romance

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fic ini maupun fic milik saya lainnya!

Source Pics : .com

Selamat membaca!

Mr. Arrogant

Chapter 8 : Pengakuan Naruto

By : Fuyutsuki Hikari

Sasuke tidak kuasa menahan sebuah senyum simpul yang seperkian detik mampir di wajah tampannya. Ahirnya dia bisa membalas semua kegelisahan yang dirasakannya selama beberapa hari ini pada Naruto. Lagi-lagi ia mengulum sebuah senyum simpul, tidak lama namun mampu mengundang kernyitan heran beberapa pegawai yang tidak sengaja berpapasan dengannya di koridor hotel.

Tatapan mereka segera berpindah pada Naruto yang mengekori Sasuke dengan kepala menunduk dalam.

Ada apa? Pikir mereka di dalam hati. Pasti ada masalah lagi, tebak mereka kompak. Mereka hanya bisa mengelus dada, dan bernapas lega karena bukan mereka yang harus berhadapan dengan General Manager mereka yang terkenal dengan sebutan lain Mr. Devil.

Tubuh wanita berambut pirang itu tersentak, saat tubuhnya menabrak bagian belakang tubuh Sasuke. Dengan perasaan was-was ia mendongak hanya untuk mendapati tatapan tajam dari atasannya. Naruto menelan kering sementara kedua telapak tangannya basah oleh keringat gugup kini terkepal erat. "Maaf…" Ujarnya terdengar seperti cicitan binatang lemah yang tidak berdaya di hadapan sang pemburu.

Sasuke masih menoleh lewat bahunya, memasang ekspresi dingin yang selalu berhasil membuat saingan maupun anak buahnya menciut takut. "Apa kau tidak memiliki kata lain yang bisa diucapkan selain 'maaf'?" tanyanya membuat Naruto mundur satu langkah ke belakang, lalu menggelengkan kepala pelan sebagai jawaban dari pria angkuh yang berdiri di depannya saat ini.

Oh, apalagi yang bisa dikatakannya selain kata 'maaf'? Tidak mungkin dia mengatakan terima kasih karena sudah menabrak punggung kokoh Sasuke, kan? Ya, punggung kokoh. Naruto menggigit bagian dalam mulutnya, andai saja ia bisa menyentuh otot-otot punggung itu secara langsung Eh…? Apa yang kupikirkan? Kedua bola matanya membulat sempurna, napasnya mulai tidak teratur, dengan gelengan kepala cepat ia mengenyahkan pikiran yang melayang terlalu jauh itu.

Ada yang salah dengan otaknya, batinnya ngeri. Bagaimana bisa ia memikirkan hal mesum seperti itu disaat genting seperti ini? Tuhan, tolong kembalikan kesucian pikiranku, ratapnya di dalam hati.

Naruto menekuk wajahnya, nyaris menangis, bahkan hampir saja menangis andai saja Sasuke tidak membangunkannya dari lamunan singkatnya. "Aku belum menjatuhkan hukuman padamu, kenapa kau sudah mau menangis?"

Wanita itu mengerjap. Rasa-rasanya dia ingin pingsan saat ini juga. Bolehkah dia berharap lantai di bawahnya terbelah dua dan menelannya agar tidak diharuskan untuk berhadapan dengan Sasuke? "Saya tidak menangis," jawabnya dengan nada suara tidak meyakinkan.

Sasuke mengamati air muka Naruto lurus, ekspresinya masih datar seperti biasa, namun jauh di dalam hatinya dia tertawa gembira. Ini yang aku rasakan beberapa hari ini, Naruto. Bukankah tidak menyenangkan dilliputi oleh perasaan gelisah dan was-was? Ia lalu menarik pergelangan tangan Naruto untuk kembali berjalan, karena tubuh wanita itu seperti terpaku di tempat, tidak bisa bergerak.

Naruto terkesiap, sama sekali tidak siap menghadapi kontak fisik yang kembali membuat jantungnya berdegup semakin liar. Ia menunduk, menatap pergelangan tangan kanannya yang masih digenggam oleh pria itu. Panas. Ada rasa panas yang menjalar dengan cepat ke seluruh tubuhnya saat ini dan hal itu hanya disebabkan oleh sentuhan Sasuke. Oh, yang benar saja? Pikirnya kalut.

Disisi lain, Sasuke bisa merasakan tangan Naruto bergetar di bawah tekanan jari-jarinya. Bagus, pikirnya senang. Ia yakin jika wanita itu akan terus memikirkannya sepanjang hari ini. Ia bahkan berani bertaruh jika Naruto akan sulit tidur karena memikirkannya malam ini. Balas dendam yang menyenangkan, kekehnya di dalam hati.

Suara debaman pintu membangunkan wanita itu dari lamunan singkatnya. Sasuke kembali menarik pergelangan tangan Naruto saat pintu pertama terbuka, memaksa wanita itu untuk berjalan di sampingnya menuju kantor pribadinya. Dengan langkah semakin cepat Sasuke berjalan melewati koridor pendek menuju ruangannya. Dia membuka pintu ruang kerjanya, melepas genggamannya dari pergelangan tangan wanita itu dan berjalan memutari meja untuk duduk di atas kursi kerjanya sementara Naruto berdiri gugup, layaknya seorang terdakwa yang tengah menunggu dijatuhkannya hukuman terhadapnya.

"Jadi, apa pembelaanmu, Nona Namikaze?" suara berat Sasuke membuat Naruto meringis, detak jantungnya yang sempat berdetak gila kini berdetak semakin cepat karena alasan berbeda.

Takut. Naruto merasa takut. Perlahan ia mengangkat wajahnya, berusaha memberanikan diri untuk balas menatap tatapan tajam atasannya.

Tidak! Jerit frustasi Naruto di dalam hati. Ia kembali menundukkan kepalanya jauh lebih dalam. Dia tidak bisa menatap langsung kedua bola mata kelam milik atasannya saat ini. Entah kenapa firasatnya mengatakan jika Sasuke bisa melihat jauh ke dalam pikirannya, dan bisa mengetahui kebohongan sekecil apapun yang akan diucapkannya untuk membela diri.

Naruto meremat kain roknya, memejamkan mata, kakinya bahkan nyaris goyah karena terlalu gugup. "Sa-saya tidak bisa mengatakan apapun selain maaf," katanya dengan suara bergetar.

"Kau sudah melecehkanku," ujar Sasuke membuat Naruto kembali meringis. Ucapan pelan dan datar pria itu menohoknya, membuatnya semakin resah. Ia menyempitkan mata, "Jangan-jangan kau pura-pura mabuk agar memiliki alasan untuk tindakan tidak bermoral-"

"Tidak!" pekik Naruto cepat. Kedua matanya terbelalak, dengan keras dia menggebrak permukaan meja kerja Sasuke. "Saya tidak melakukannya dalam keadaan sadar," tambahnya dengan napas putus-putus, menahan marah. Sasuke boleh mengatakan apapun, tapi pria itu tidak boleh menuduhnya tanpa bukti yang jelas. "Perbuatan saya tempo hari sama sekali bukan karena kesengajaan, Tuan Uchiha," jelasnya berapi-api, membuat satu alis hitam Sasuke naik karenanya. "Saya melakukannya dibawah pengaruh alkohol," tutupnya dengan suara keras.

Sasuke mendengus, nyaris tergelak mendengar pembelaan diri Naruto yang berapi-api. Dengan santai jari telunjuknya mendorong kening Naruto yang kini hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya. "Pembelaan diri yang sangat mengagumkan." Ia berkata sembari bertepuk tangan, menyunggingkan sebuah senyum sinis yang serta-merta membuat amarah Naruto kembali terpancing.

"Yah," kata Sasuke pelan setelah tepukannya berhenti, membuat suasana di dalam ruangan itu kembali terasa berat dan mencekik untuk Naruto. "Kau bisa mengatakan pembelaan apapun, Nona Namikaze, namun disini, akulah yang dirugikan. Aku, seorang Uchiha Sasuke telah kau lecehkan. Di sini, akulah korbannya, jadi aku sangat berhak untuk mengetahui kebenarannya, kan?"

Tubuh Naruto kembali membeku, tidak langsung menjawab. "Ya, kurasa anda berhak," jawabnya setelah berhasil mengembalikan suaranya yang sempat tercekat di tenggorokan. Sekarang dalam keadaan terpojok di dalam ruangan atasannya yang terasa semakin panas membuatnya sadar jika ia harus bersikap lebih tenang, banyak berdoa di dalam hati agar Tuhan memberikan Sasuke kelapangan dada yang lebih besar, serta mengunci mulut kurang ajarnya dari kalimat-kalimat yang bisa membuat suasana semakin runyam.

Seolah belum merasa puas, Sasuke kembali bicara, "Kau menyerangku dengan buas. Aku bahkan tidak pernah berpikir jika kau bisa berperilaku seperti itu. Tidak perlu repot melihat jam, Nona Namikaze, sekarang sudah masuk jam makan siang, itu artinya aku memiliki waktu satu jam penuh untuk mendengar penjelasan darimu," tambahnya cepat seolah bisa membaca isi pikiran Naruto saat ini.

Naruto menarik napas dalam, lalu membuangnya perlahan, sekuat tenaga menekan emosinya yang kembali memuncak. "Saya sedang mabuk, Tuan Uchiha. Berapa kali saya harus mengatakannya?" ujarnya dengan gigi gemertuk. Ya, Tuhan, lagi-lagi aku terpancing, katanya di dalam hati. Ia memejamkan mata, menenangkan diri lalu menatap kedua manik gelap Sasuke lurus. "Apa yang telah terjadi diantara kita-"

"Terjadi padaku," potong Sasuke cepat dengan ekspresi serius.

Naruto menghela napas. "Yang terjadi pada anda," ralatnya pelan. "Diluar kontrol saya. Semua yang terjadi karena pengaruh alkohol."

Sasuke terdiam, memicingkan satu matanya.

"Anda tidak berpikir jika apa yang saya katakana adalah kebohongan, kan?" tanyanya kemudian dengan gerakan kikuk. Naruto menatap Sasuke dari balik bulu mata lentiknya, berharap ada perubahan pada ekspresi keras atasannya itu, namun nihil. Sasuke sama sekali tidak terpengaruh.

"Kau menikmatinya."

Kedua mata Naruto mengerjap lucu. Pasti ada yang salah dengan indra pendengarannya saat ini. "Apa?" tanyanya dengan wajah memucat.

"Kau menikmati apa yang telah kau lakukan padaku," lanjut Sasuke tenang.

Oh, adakah hal lain yang bisa membuat Naruto lebih malu selain ditembak dengan pertanyaan blak-blakan atasannya? Apa yang harus dikatakannya? Haruskah dia mengakuinya dengan jujur bahwa dia memang menikmati setiap detiknya? Menikmati gestur bibir pria itu di bibirnya. Menikmati rasa pria itu di mulutnya. Ia bahkan menikmati aroma maskulin yang menguar dari pria itu. Dia bahkan ingin merasakan kembali kelembutan helai rambut pria itu di tangannya.

Gila! Teriaknya di dalam hati. Dia tidak mungkin melempar semua kebenaran itu tepat di wajah Sasuke.

Rasa hormat pria itu yang memang sudah dibawah garis normal pada dirinya bisa hilang seutuhnya jika ia mengatakan kebenarannya. Lalu apa yang harus dikatakannya sekarang?

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Nona Namikaze."

Naruto memalingkan wajahnya, menatap kemana pun asal tidak pada wajah pria itu. "Bolehkah saya pergi dari sini, please!" ujarnya tanpa menatap langsung wajah Sasuke, memohon.

Sasuke tersenyum kecil, lalu menopang dagu dengan kedua tangannya. "Kau boleh pergi setelah menjawab pertanyaanku, Naruto."

Jantung Naruto kembali berdegup cepat. Atasannya memanggilnya dengan nama kecilnya, bukan nama keluarganya. Dan kenapa suara pria itu terdengar begitu seksi di telinganya? Ya, ampun, aku pasti benar-benar sudah tidak waras, batinnya merana.

"Jadi benar kau menikmatinya," seru Sasuke sembari menggebrak meja kerjanya keras, mengagetkan.

Naruto terlonjak, kedua tangannya diletakkan di depan dada. "Anda juga menikmatinya," serunya tidak kalah keras. Ia bahkan mengucapkannya tanpa berpikir terlebih dahulu. "Anda mengerang saat saya memperdalam ciuman kita. Anda membalas ciuman saya dengan sama antusiasnya. Kita sama-sama menikmatinya, jadi kenapa anda harus merasa keberatan sekarang?"

Oh…tidak! Pekik Naruto ngeri, di dalam hati. Dia menutup mulut dengan kedua tangannya, matanya terbelalak, saat Sasuke melotot ke arahnya.

Bodoh. Dia benar-benar bodoh. Bagaimana bisa dia mengatakan hal memalukan seperti itu? Pria mana yang tidak akan tergoda jika seorang wanita melempar diri dengan sukarela? Sasuke juga pria biasa, dia pasti menanggapi semua godaan yang diberikan setiap wanita dengan reaksi yang sama.

Sasuke bergerak, berjalan memutari meja kerjanya, berjalan dengan dagu terangkat, mendekat ke arah wanita muda yang kini hanya bisa menatapnya dengan kedua bola mata bulatnya yang memesona.

Naruto mundur selangkah, hanya untuk mendapati tubuhnya tertahan oleh meja kerja pria itu. Ia menarik tubuhnya ke belakang saat Sasuke mencondongkan tubuhnya, memerangkap tubuhnya diantara meja dan tubuh kokohnya.

Wanita itu mulai panik, mencari cara untuk membebaskan diri dari kurungan pria di hadapannya saat ini. "Kita sedang bekerja," ujarnya tanpa bernapas. Bagaimana dia bisa bernapas jika wajah Sasuke begitu dekat dengan wajahnya.

"Aku meminta pertanggungjawabanmu," balas Sasuke tenang, namun menuntut.

"Aku…" Naruto menelan untuk menenangkan suaranya. "Bisakah anda berhenti main-main, Tuan Sasuke?" tanyanya dengan wajah semakin memucat. "Saya tahu saya bersalah. Tapi bisakah anda memberi saya hukuman lain selain menggoda saya dengan…dengan hal ini?" tanyanya hati-hati.

Pria itu menaikkan satu alisnya, lalu mengukir sebuah senyum sinis di wajahnya. "Hukuman lain? Hukuman seperti apa, Naruto?" tanyanya dengan nada seksi yang membuat Naruto merinding. "Hukuman apa yang sesuai untuk pelecehan seksual?"

"Saya tidak sengaja melakukannya," rengek Naruto frustasi. Dia bahkan harus mengepalkan kedua tangannya, menjaga agar tidak lepas kendali dan melayangkan sebuah kepalan tinju ke arah wajah atasannya ini.

"Tapi kau menikmatinya."

Mulut Naruto terkatup rapat. Dari jarak sedekat ini dia bisa mencium aroma mint dari napas Sasuke. Aroma yang membuatnya hampir lepas kendali dan melumat bibir itu.

Tuhan… aku benar-benar mesum, ratapnya di dalam hati.

Sesaat Naruto tertunduk, sebelum akhirnya Sasuke mendongakkan kepala wanita itu dengan menggunakan ibu jarinya.

"Kita berada di kantor," ujar Naruto untuk mengingatkan.

"Kita tidak mengganggu jam kerja," balas Sasuke sinis. "Sekarang masih jam makan siang," tambahnya. "Kau berhutang satu ciuman panjang padaku, Naruto."

Naruto terbelalak. Nyaris saja tawanya meledak hebat. Sasuke meminta satu ciuman darinya?

"Aku akan menagihnya nanti, dengan begitu kita akan impas, bukan?"

Ia mengerjap. Kenapa tidak sekarang saja? Pikir Naruto melantur. Ia bahkan tidak sanggup bergerak saat Sasuke melepaskan kurungannya dan membalikkan badan untuk keluar dari dalam ruangannya.

"Masih ada waktu tiga puluh menit untuk makan siang," ujar Sasuke saat membuka pintu ruang kerjanya. "Sebaiknya kau segera turun untuk makan siang, Nona Namikaze," lanjutnya sebelum menutup pintu di belakangnya, meninggalkan Naruto yang terduduk lemas dan nyaris menjerit keras.

"Dasar brengsek!" makinya pelan dengan detak jantung yang berdebar heboh.

.

.

.

Sore datang dengan cepat. Sebentar lagi jam makan malam. Kurama tengah sibuk berkutat di dalam dapunr saat bel rumahnya berbunyi beberapa kali. Ia melirik ke jam dinding yang tergantung di atas kulkas. Tidak mungkin Naruto. Adiknya biasanya pulang tepat pukul tujuh malam. Siapa yang datang? Tanyanya di dalam hati.

Tanpa melepaskan celemek bermotif rubah yang dikenakannya dia berjalan cepat menuju pintu depan. Apa yang dilakukan Koyuki disini? Tanyanya di dalam hati saat mengenali sosok tidak diundang itu lewat kaca kecil pintu rumahnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya lewat intercom.

"Bisakah kau membuka pintu? Aku Koyuki," jawab wanita berambut gelap itu sembari membuka kacamata hitamnya. "Aku sudah memiliki janji dengan Naruto" tambahnya cepat. Koyuki sesekali melihat ke belakang, terlihat was-was. Dia takut jika ada wartawan yang mengikutinya ke rumah ini. "Ayo cepat buka!" tukasnya tidak sabar, takut jika pennyamarannya ada yang mengenali.

Dengan berat hati Kurama membuka pintu, keningnya ditekuk dalam saat Koyuki masuk dengan membawa satu buah kotak besar yang diletakkan di atas lantai. "Apa itu?" tanyanya menujuk dengan dagunya ke arah kotak besar yang didorong masuk oleh Koyuki. Kotak itu terlihat berat, Koyuki bahkan harus menggunakan kedua tangannya untuk mendorong kotak itu masuk ke dalam rumah.

Koyuki menghela napas lega saat kotak yang dibawanya sudah berada di dalam rumah. Ia lalu membuka jaket tebal mencolok serta scarf yang mengitari lehernya dan menggantungnya di gantungan baju yang terletak di samping pintu masuk. "Aku dan Naruto akan pesta piama malam ini," jelasnya sembari menatap lurus Kurama dengan sebuah senyum lebar.

"Kau pasti bercanda."

Koyuki menggelengkan kepala cepat. "Tidak," jawabnya sembari membuka penutup kotak dan mengeluarkan isinya di atas lantai. "Aku akan menyiapkan semua perlengkapannya. Bukankah sebentar lagi Naruto pulang?"

Kurama mengangguk pelan.

"Kalau begitu aku harus bekerja lebih cepat," ujar Koyuki tanpa tahu perubahan aura Kurama yang semakin menggelap.

"Kau tidak bisa masuk ke dalam rumahku dengan seenaknya, Nona."

"Naruto sudah memberiku ijin," sahut Koyuki mendongak dengan dagu terangkat. "Lebih baik kau mengurus masakanmu," tambahnya dengan lirikan geli pada celemek yang digunakan Kurama saat ini. Wanita itu mengibaskan tangan di depan wajahnya dengan berlebihan. "Aku mencium bau hangus."

"Brengsek!" umpat Kurama yang langsung melesat ke arah dapur, meninggalkan Koyuki yang tertawa puas di belakang punggungnya.

Kurama tidak tahu sejak kapan adiknya menjadi sangat akrab dengan artis yang penuh sensasi ini. Dia tahu jika adiknya sering mendapat telepon dari Koyuki, mereka bahkan bisa mengobrol satu jam untuk membahas masalah seputar wanita. Tapi Koyuki menginap di kediaman Namikaze? Sepertinya hal itu terlalu berlebihan.

Dengan ekspresi masam dia mematikan kompor listrik, kemudian menata hidangan makan malam yang sudah selesai dimasaknya di atas piring lalu meletakkannya di atas meja makan. Sebentar lagi Naruto pulang. Mungkin tidak ada salahnya dia melihat apa yang dilakukan Koyuki saat ini di dalam kamar adik semata wayangnya.

Dia bahkan tidak akan segan mengusir Koyuki jika artis terkenal itu berani membuat kekacauan di dalam rumahnya.

.

.

.

Kurama bersandar pada daun pintu kamar Naruto yang terbuka dan menyulangkan kakinya. Satu alisnya terangkat tinggi saat melihat hasil pekerjaan Koyuki yang menurutnya menakjubkan. "Aku tidak mengira kau bisa menyulap kamar adikku dalam waktu sesingkat ini."

Koyuki menoleh, terlihat bangga. "Aku selalu memimpikan hal ini pesta piyama bersama sahabat wanitaku."

"Bukankah kau memiliki banyak teman wanita?" tanya Kurama.

Koyuki terduduk, matanya menyisir hasil pekerjaan singkatnya. Ia terdiam sejenak sebelum menjawab dengan senyum pahit. "Aku tidak memiliki banyak teman," akunya jujur. "Mungkin kau tidak tahu, tapi aku sudah dicap artis menyebalkan dan sombong. Sangat sedikit yang mau menjadi temanku, walaupun ada, mereka melakukannya untuk mencari keuntungan dariku."

"Dan menurutmu adikku berbeda?"

"Tentu saja," balas Koyuki dengan satu nada lebih tinggi. "Naruto sangat manis dan jujur-"

"Polos," potong Kurama mengoreksi. "Kalian sama cerobohnya hingga bisa menjadi teman baik yang cocok satu sama lain."

Koyuki memutar kedua bola matanya. "Terima kasih untuk pujianmu," balasnya ketus. Ia lalu tersenyum kecil. "Benar, lebih tepat jika dikatakan polos. Dia menerimaku apa adanya. Dia tidak banyak bertanya, dan tidak peduli mengenai status keartisanku. Hal itu membuatku merasa nyaman berada di dekatnya." Wanita itu terdiam sejenak, memijit tengkuknya yang tidak pegal. "Ah, tidak biasanya aku mengatakan hal ini pada orang asing," katanya terdengar malu.

"Seharusnya aku merekam ucapanmu tadi," ujar Kurama dengan nada serius. "Akan jadi berita menghebohkan jika wartawan mengetahui tentang hal ini; Koyuki, artis terkenal yang kesepian dan sering dimanfaatkan oleh rekan-rekan artis lainnya." Ia menganggukkan kepala pelan setelahnya. "Aku bercanda," ujarnya cepat saat Koyuki menyempitkan mata dan menatapnya tajam. "Cepat turun, sebentar lagi Naruto pulang. Aku juga sudah menyiapkan makan malam yang cukup untuk kita bertiga," perintahnya yang entah kenapa malah membuat Koyuki merasa senang. Rasanya sangat menyenangkan, ia merasa diterima dan mendapat seorang kakak dan keluarga hangat yang selama ini tidak pernah dimilikinya.

.

.

.

Tidak lama kemudian Naruto pulang dengan wajah ditekuk. Dia nyaris menghambur ke dalam pelukan Koyuki dan menangis keras di bahu teman barunya itu. Dengan suara halus Koyuki menenangkannya, memintanya untuk menyantap makan malam yang sudah disiapkan oleh Kurama sebelum naik ke lantai dua dan menyiapkan telinga untuk mendengar semua keluh kesah Naruto.

"Jadi kau sudah mengingat semua kejadian saat kau mabuk?" Koyuki berkata dengan tenang. Keduanya sudah berada di dalam kamar Naruto saat ini.

Naruto mengangguk, mengerang pelan lalu membenamkan wajahnya pada bantal lembut di tangannya. Ingin rasanya ia menangis keras, mengutuk kebodohan serta kecerobohannya. Sepanjang siang hingga sore ini dia bahkan harus menahan diri untuk tidak terlonjak kaget tiap kali Sasuke memanggilnya masuk ke dalam ruangannya untuk membahas masalah pekerjaan. Ia benar-benar ingin melarikan diri dan bersembunyi. Naruto terlalu malu untuk menghadapi pria itu.

"Lalu apa yang dikatakannya?" tanya Koyuki hati-hati.

Naruto mendongak. Air mukanya kembali berubah. "Dia mengatakan jika aku sudah melecehkannya," jawabnya membuat Koyuki terkesiap dan menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangannya.

Koyuki berdeham pelan. Membetulkan posisi duduknya lalu kembali bertanya dengan nada lebih serius. "Apa kau menyesali ciuman itu?"

Naruto menekuk keningnya lalu menggelengkan kepala pelan.

"Jadi kau menyukai ciuman itu?" pekik Koyuki girang, sementara Naruto tersenyum malu dan mengangguk pelan.

"Rasanya aku seperti wanita mesum saja," akunya lirih. Naruto meninju pelan bantal di tangannya, lalu melirik ke arah Koyuki yang tersenyum penuh arti. "Aku tidak bisa mengenyahkan Sasuke dari pikiranku."

Naruto berhenti sejenak. "Kau tahu, kurasa aku menyukainya, dan itu membuatku merasa kikuk setiap kali berada di dekatnya."

Koyuki mendengarkan dengan sungguh-sungguh. "Bukankah beberapa perusahaan besar melarang pegawainya menjalin hubungan romantis? Apa peraturan di hotel Zeus pun sama?" tanyanya penasaran.

Naruto mengangguk. "Kami memiliki peraturan yang serupa," jawabnya dengan tatapan menerawang. "Tapi bukan berarti Sasuke memiliki perasaan yang sama denganku," tambahnya cepat. "Sejak awal kami bertemu dia sudah menyatakan dengan sangat jelas jika dia tidak menyukaiku."

Koyuki memasang pose berpikir. Apa mungkin ini hanya perasaannya saja? Kenapa dia malah berpikir jika Sasuke pun memiliki perasaan yang sama terhadap Naruto? Apa karena posisi keduanya yang menyebabkan pria itu tidak berani mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya?

Wanita itu melirik ke arah Naruto yang kini berguling-guling tidak karuan dia atas tempat tidurnya.

Atau mungkin Naruto terlalu polos hingga tidak bisa menangkap sinyal yang diberikan oleh Sasuke? Ia melepas napas keras. Sepertinya kemungkinan yang kedua lebih masuk akal daripada yang pertama. Mungkin aku harus ikut campur. Koyuki masih bicara di dalam hati. Tapi, bagaimana jika tebakanku meleset? Salah langkah sedikit saja bisa membuat posisi Naruto terpojok. Teman barunya itu bisa mendapat masalah besar karenanya. "Bagaimana jika ternyata Sasuke menyukaimu?

Naruto berhenti berguling, lalu bersila dan tertawa keras. "Itu tidak mungkin," ucapnya namun ada nada harap yang terselip disana dan hal itu tidak lolos dari pendengaran tajam Koyuki. "Dia tidak mungkin menyukai wanita ceroboh sepertiku," tambahnya dengan wajah ditekuk.

"Mungkin kau harus memaksanya untuk jujur."

"Maksud kakak apa?" Naruto balik bertanya dengan kedua alis terangkat.

"Sesekali membuatnya cemburu kurasa ada bagusnya."

Naruto mengernyit, terlihat enggan. "Aku tidak memiliki teman pria yang bisa membuatnya cemburu," ujarnya dengan desahan napas berat. "Dan bagaimana jika ternyata dia tidak cemburu dan malah menganggapku wanita gampangan?"

Koyuki tersenyum penuh arti. "Seorang pria yang tengah jatuh cinta akan kehilangan logika saat melihat wanita yang disukainya bersama pria lain, walau hanya sekedar bicara dan tertawa," sahutnya yaki. "Dan aku akan mengajarimu cara berakting yang baik, Sayang. Uchiha Sasuke tidak akan bisa menyembunyikan perasaannya terhadapmu jika rencananku ini berhasil."

"Itupun jika dia memiliki perasaan yang sama denganku," ralat Naruto cepat.

Koyuki mengangkat bahunya ringan. "Kita akan segera mendapat jawabannya Naruto. Segera."

.

.

.

TBC

Hai… selamat liburan semuanya…! #TeriakCantik

Hari ini saya datang bawa chap terbaru dari MA. Hm… apa masih ada yang penasaran sama chap selanjutnya? Penasaran sama sikap menyebalkan Sasuke dan sifat ceroboh Nona Namikaze yang seringkali ngebuat saya ngikik saat menulisnya. Kira-kira rencana Koyuki bakal berhasil nggak yah? Atau justru jadi senjata makan tuan untuk Naruto?

Hahaha! Tunggu dichap selanjutnya yah. ((:

Bagi pembaca yang mengharapkan adegan 'M' dific ini kayaknya harus nyari fic lain. Fic ini ratednya 'T' yah, jadi nggak bakalan ada adegan ikkeh2 kimochi-nya. #Upssss #IngetLagiPadaPuasaEuy

Untuk pembaca baru, selamat bergabung, teman-teman! Semoga tidak dibuat bête dan bosan sama cerita yang saya suguhkan. Maaf tidak semua review yang masuk saya balas satu per satu. Namun sebagian besar mengatakan senang dengan fic ini yah, saya ikut bahagia karenanya. ((:

Dan untuk beberapa pembaca yang ingin bikin fic SasuFemNaru tapi nggak punya lappy, hm… saya juga pernah mengalaminya; PC rusak, lappy nggak ada, jadi untuk beberapa waktu saya nulis dan publish dari hp. Selalu ada jalan kalau kita memang kita niat. Bisa juga nulis di note fb dulu atau di buku, yang penting idenya sudah ditulis dan tersimpan, supaya nggak hilang. ^^

Btw, bentar lagi lebaran yah. Mohon maaf lahir dan batin yah. Maaf selama ini saya sering nge-php pembaca. Jarang update, updatean molor mulu, jalan cerita nggak sesuai dengan harapan pembaca, dll. Pun saya memaafkan kalian yang sering neror untuk update cepet, maksa bikin sekuel, dll. #EdisiCurhat

Saya juga maafin kalian yang suka nebar flame nggak jelas. Jangan galak-galak loh, nanti balik jatuh cinta sama saya baru tahu rasa. #Ehhh… XD

Pokoknya mah saya cinta kalian semua, dari pembaca setia sampe kalian flamer2 tercinta. #Lope2DiUdara

Sampai jumpa dichap selanjutnya yah!

#WeDoCareAboutSFN