Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Drama, romance
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fic ini maupun fic milik saya lainnya!
Selamat membaca!
Mr. Arrogant
Chapter 10 : Buku Bersampul Jingga
By : Fuyutsuki Hikari
Emosi Naruto terus turun-naik setengah hari ini. Sesekali dia melirik ke arah pintu ruangan Sasuke yang tertutup. Pria itu sepertinya sama sekali tidak terpengaruh akan apa yang terjadi diantara mereka dua malam yang lalu. Sasuke bekerja seperti biasa, memberinya perintah dengan nada serta ekspresi datar yang sama, sama sekali tidak menunjukkan sebuah penyesalan untuk perbuatannya terhadap Naruto.
Si brengsek itu pasti hanya ingin memberiku pelajaran, desis Naruto di dalam hati. Tanpa sadar ia meremas kertas laporan di tangannya hingga kusut, dan sobek, membuatnya terkesiap dengan kedua mata melebar setelah sadar dengan apa yang sudah dilakukannya.
Sial, hanya karena memikirkan pria itu, dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi hari ini.
Abaikan! Ujarnya pada dirinya sendiri. Dengan desahan napas berat dia membuang rasa frustasi yang bergelayut di dalam pikirannya, berusaha untuk menyingkirkan rasa pria itu di bibirnya, dan kembali menjalankan hidupnya seperti sebelumnya.
Tidak akan bisa! Naruto mengerang saat kenyataan itu menyusup masuk ke dalam pikirannya. Dengan ekspresi kesal dia memukul dahinya hingga beberapa kali, tanpa sadar jika pria yang tengah dipikirkannya kini berdiri tepat di depan meja kerjanya, menatapnya dengan tatapan tertarik dan satu alis terangkat.
"Berhenti memukul dirimu sendiri, kau mau membuat dirimu lebih bodoh lagi?"
Naruto mendongak, balas menatap Sasuke dengan tatapan bodohnya. Apalagi yang lebih memalukan selain ini? Tanyanya di dalam hati.
Mencium atasanmu saat kau mabuk?
Kedua bahu Naruto merosot, ia memalingkan muka, meringis dan mengumpat pelan tanpa sadar jika bibir Sasuke menipis membentuk sebuah senyum tipis.
Hening.
"Jadi, mana laporan yang kuminta?" tanya Sasuke kemudian dengan ekspresi dan nada datar andalannya.
Naruto mengerjap, kepalanya menunduk menatap kertas-kertas laporan yang ada di pangkuannya. Jantungnya berdebar cepat, karena rasa takut dan rasa bersalah yang menggerogotinya. Dengan ekspresi campur-aduk dia mengangkat kertas-kertas laporan itu ke hadapan wajah Sasuke, dan kembali meringis saat mendapat tatapan tajam dari atasannya itu.
Dengan sebuah hentakan kasar Sasuke merebut paksa kertas-kertas laporan itu dari tangan Naruto, tatapannya masih menyorot marah, walau bibirnya tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ah, bolehkah Naruto berharap bumi menelan dirinya saat ini juga?
"Kau tahu, kan aku memerlukan laporan ini untuk rapat siang ini?" Sasuke bertanya dengan nada tertahan, giginya gemeretuk, marah sekaligus kesal. "Dan kau, kau—" Sasuke menghela napas keras tanpa bisa melanjutkan kalimat yang sudah berada di ujung lidahnya.
Naruto menganggukkan kepala, dan menjawab pelan, "Saya akan segera mencetaknya kembali." Wanita itu menggigit bibir bawahnya, sementara tangannya sedikit bergetar saat ia menekan keybord laptopnya untuk kembali mencetak laporan yang sudah selesai dikerjakannya satu jam yang lalu itu.
"Seharusnya kau bisa lebih berhati-hati!" ujar Sasuke dingin membuat Naruto menelan kering tanpa bisa membantah ucapannya. Lagi pula ini memang kesalahannya, dia sangat teledor. Dia pantas untuk mendapat ceramah panjang dari Sasuke. "Kau tahu berapa banyak pohon yang ditebang untuk setiap kertas yang kau gunakan?" ujarnya dengan nada tertahan. "Belum lagi kau memboroskan waktu. Pekerjaanmu tidak efisien!" berondongnya tanpa ampun membuat Naruto merasa semakin kecil karenanya. "Kenapa aku harus terus memarahimu? Kenapa kau tidak bisa bekerja dengan benar?"
Hening.
Sasuke terdiam lama, lalu membuang napas dengan keras. Dia berusaha untuk tidak mencampuradukkan urusan pribadi dan urusan pekerjaannya, dia harus bisa bersikap tegas dan memperlakukan Naruto sama seperti bawahannya yang lain. Tidak ada kata istimewa di dalam kamusnya. Dia akan memperlakukan semua bawahannya dengan sama, walau tanpa disadarinya dia telah memperlakukan Naruto dengan istimewa.
"Bawa laporannya ke ruang rapat. Segera!" ujarnya kemudian dengan tegas sebelum berbalik pergi, meninggalkan Naruto yang merosot di atas kursi kerjanya—merasa bersalah.
.
.
.
"Tolong jangan katakan jika kau membuat masalah baru kali ini!" Ino berkata sembari menyempitkan mata. Dengan gerakan pelan dia mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin, memastikan jika tidak ada karyawan lain yang bisa mencuri dengar pembicaraannya dengan Naruto saat ini. "Kenapa kau terus menekuk wajahmu?" tanyanya lagi penasaran.
Sebenarnya bukan hal asing melihat Naruto menekuk wajahnya seperti saat ini, namun yang jadi pertanyaan Ino kali ini adalah—kebodohan apa lagi yang dilakukan Naruto sekarang?
Naruto menekuk wajahnya dalam sembari menusuk-nusukkan garpu di tangannya ke makanannya sendiri. "Kenapa kau berpikir jika aku melakukan kebodohan lagi?" tanyanya muram, sementara Ino hanya mengangkat bahunya ringan, dan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya pelan.
Keduanya terdiam untuk beberapa saat, hingga akhirnya Naruto mendesah keras, kehilangan selera makannya dan mendorong makanannya ke samping meja. "Aku memang melakukan kesalahan lagi, tapi bukan itu yang mengganggu pikiranku saat ini," keluhnya membuat Ino menaikkan sebelah alisnya.
Naruto kembali terdiam, menimbang-nimbang apa dia harus mengatakan apa yang tengah dipikirkannya pada Ino. "Ino, menurutmu apa alasan seorang pria mencium seorang wanita," ucapnya polos membuat Ino terbelalak, nyaris menyemburkan makanan yang tengah dikunyahnya ke wajah Naruto.
Demi Tuhan, dari semua orang, kenapa justru Naruto yang mempertanyakan masalah ini.
Sedikit gugup Ino mengelap mulutnya dengan serbet. "Seorang pria menciummu?" tanyanya dengan nada datar dipaksakan.
Naruto mengerjapkan mata, lalu menjawab dengan gerakan kikuk yang membuat Ino semakin yakin jika mereka tengah membahas masalah percintaan Naruto saat ini. Tapi siapa pria itu? Ino tidak pernah melihat Naruto pergi berkencan. Naruto selalu pulang sendirian, atau dijemput oleh Kurama, terkadang menumpang pada Kiba.
Kiba? Pekik Ino di dalam hati.
Kedua mata Ino kembali terbelalak. Dengan gerakan berlebihan dia menutup mulut dengan kedua tangannya. Apa Naruto berkencan dengan Kiba? Bagaimana jika pihak hotel tempat mereka bekerja mengetahuinya?
Sialan, maki Ino di dalam hati. Dia harus memperingatkan Kiba masalah ini. Ini masalah serius, pikir Ino gusar. Berbeda dengan Kiba yang sudah menjadi karyawan tetap, status Naruto yang masih sebagai pekerja training dipertaruhkan saat ini. Ino merinding ngeri, Sasuke pasti tidak akan memberi Naruto pengampunan, pria tanpa hati itu pasti mengeluarkan Naruto dengan senang hati jika mengetahui masalah ini.
Ino mencondongkan tubuhnya, dan berbisik pelan, "Kiba menciummu?"
Naruto memutar kedua bola matanya malas, dan berdesis dengan kedua tangan dilipat di depan dada. "Kenapa harus Kiba yang menciumku?" tanyanya keras, membuat beberapa kepala menoleh ke arah meja mereka. "Kenapa?" Ia kembali bertanya dengan satu alis terangkat saat Ino mengangkat telunjuknya ke depan mulut, sama sekali tidak sadar jika ucapannya mengundang rasa ingin tahu beberapa karyawan yang tengah menikmati makan siang mereka di ruang kantin siang ini.
"Kecilkan suaramu, kau ingin semua karyawan tahu kau berkencan dengan Kiba?" desis Ino memperingatkan.
Naruto kembali memutar kedua bola matanya dengan malas dan menjawab dengan nada ketus, "Aku tidak berkencan dengan Kiba!" jawabnya sedikit agak keras. "Jangan melibatkan Kiba, dia sama sekali tidak terlibat dalam hal ini," tambahnya cepat, membuat Ino melepas napas yang sedari tadi ditahannya. "Kau mau dia mendapat masalah? Bagaimana jika pihak hotel mendengar kabar tidak benar ini?" tanyanya dengan tatapan sinis, sementara Ino hanya bisa mengelus dada, menyabarkan diri walau tangannya sangat gatal ingin memukul kepala teman baiknya itu dengan keras.
Ino menggelengkan kepalanya pelan, lalu mendesah lega.
Well, bagus, pikirnya merasa tenang, seolah beban berat di dalam hatinya hilang karena ucapanNaruto. Ino tidak mau jika Kiba mendapat surat peringatan sementara Naruto kehilangan pekerjaan hanya karena masalah asmara. Bagaimanapun juga keduanya sudah menjadi teman baiknya, teman berbagi suka dan duka selama mereka bekerja di tempat ini. Keduanya boleh jatuh cinta tentu saja, siapa yang bisa melarang seseorang untuk jatuh cinta? Namun tentu saja keduanya harus bisa bermain dengan cantik bukan?
"Jadi, siapa yang menciummu?" Ino kembali bertanya dengan ekspresi serius.
Naruto menelan kering, lidahnya mendadak kelu, ia terlalu gugup mendapat tatapan serius dari Ino. Oh, bagaimana caranya dia menghindar? "Aku hanya bertanya, bukan berarti aku yang mengalaminya," katanya dengan nada setenang mungkin. "Apa aku tudak boleh bertanya mengenai hal itu?" tanyanya lagi dengan mulut mengerucut lucu, berbanding terbalik dengan jantungnya yang berdebar semakin kencang karena gugup.
Di sisi lain, Ino tentu saja tidak langsung percaya dengan mudah. Untuknya sangat sulit mempercayai apa yang baru saja dikatakan oleh Naruto. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Naruto, pikirnya.
Ino menyeringai, di dalam hati ia merasa puas karena pada akhirnya Naruto bisa jatuh cinta juga, walau di sisi lain dia merasa sedikit kecewa karena Naruto belum mau bersikap jujur terhadapnya. "Baiklah," katanya kemudian disusul oleh desahan napas panjang. "Menurut pandanganku, seorang pria mencium wanita karena beberapa alasan." Ino berhenti sejenak saat Naruto mendengarkannya dengan ekspresi serius.
Oh, bolehkah dia tertawa sekarang? Dari ekspresinya saja dia bisa tahu jika wanita yang tengah dibahas oleh keduanya saat ini tidak lain adalah Naruto.
Sabar! Ujar Ino pada dirinya sendiri. Dia merasa sangat yakin jika Naruto akan terbuka jika waktunya tiba.
"Pertama," ucapnya sembari mengangkat satu jarinya ke udara, "karena pria itu menyukainya," jawabnya membuat Naruto mengerjap lucu. "Yang kedua," ia kembali terdiam sejenak untuk menghasilkan efek dramatis, "pria itu hanya mencari keuntungan dari wanita yang diciumnya," tegasnya membuat kening Naruto tertekuk dalam.
Ah, Naruto pasti tidak menyukai alasan kedua yang diutarakannya barusan. "Seorang pria akan mencium wanita dengan salah satu alasan tadi," tegasnya sungguh-sungguh. "Pria itu mencintainya, atau mengambil keuntungan saja."
"Begitu?" Naruto masih menekuk keningnya dalam, berusaha meresap jawaban yang diberikan oleh Ino. Alasan Sasuke menciumnya pasti karena alasan kedua, pikirnya kesal. Pria itu hanya mencari keuntungan untuk membalas dendam. Naruto mendengus, memperlihatkan wajah kesalnya pada Ino. "Aku yakin dia melakukannya untuk mencari keuntungan," desisnya dengan tangan terkepal erat.
Satu alis Ino terangkat, "Apa maksudmu?"
Naruto menggelengkan kepala. Lalu menarik sudut mulutnya membentuk sebuah senyum dipaksakan. "Tidak ada. Aku hanya berpikir jika alasan seorang pria mencium seorang wanita lebih banyak didasari oleh alasan yang kedua."
"Ah, belum tentu," jawab Ino sembari mengibaskan tangannya di udara. "Bisa jadi dia melakukannya karena alasan pertama. Yang harus kau lakukan hanya menanyakannya secara langsung. Tanya padanya, kenapa dia menciummu?"
Naruto tertegun, kembali memikirkan ucapan Ino dengan serius. Ah, tidak perlu ditanyakan, pikirnya miris, karena Sasuke dengan jelas sudah mengatakannya, dia menciumnya sebagai balasan karena Naruto menciumnya paksa saat tengah mabuk.
.
.
.
Naruto kembali berjalan menuju meja kerjanya dengan langkah gontai. Wanita itu mengehntikan langkahnya sejenak saat berpapasan dengan Kakashi yang berjalan ke arahnya dengan langkah tergesa-gesa. Naruto membungkuk, memberi hormat sementara Kakashi hanya mengangguk lalu menepuk bahu kanan wanita itu pelan sembari berlalu.
"Tumben," kata Naruto pelan, merasa sedikit takjub karena Kakashi terlihat sangat tergesa. Dari semua atasan yang dikenalnya hanya Kakashi yang terlihat begitu santai dan tenang dalam menghadapi apa pun, ah, terkecuali saat menghadapi Sasuke, pikir Naruto dengan kedua mata menyipit sempurna.
Seorang Sasuke bisa membuat Kakashi berlarian sepanjang koridor agar tidak datang terlambat saat rapat, prestasi yang harus diberi pujian tinggi, ringisnya sembari merinding ngeri.
Sasuke dan kepribadiannya yang menyeramkan, sungguh satu perpaduan yang sempurna dan kau malah menyukai tipe pria seperti itu? Naruto kembali meringis saat kenyataan yang tidak disukainya menghantam pemikirannya dengan keras. Tapi Sasuke bisa juga bersikap manis, ujarnya untuk membela diri. Pria itu bahkan mengirimkan satu buket bunga ukuran besar saat dia dirawat di rumah sakit, dan tanpa diminta pria itu menemaninya di rumah sakit setelah kecelakaan kerja itu terjadi.
Sasuke bahkan tidak pernah mengatakannya, atau menyombongkan diri karenanya. Bukankah itu manis? Tanyanya di dalam hati.
Naruto mengehla napas kasar, lalu kembali melangkah dan kembali mundur saat hak tinggi sepatunya menginjak sesuatu. Sebuah buku?
Satu alis Naruto terangkat. Hanya satu orang yang selalu membawa-bawa buku bersampul jingga itu di hotel ini—buku yang tergeletak di atas karpet tebal itu pasti milik Kakashi. Naruto menoleh lewat bahunya, lalu membungkuk untuk mengambil buku bersampul jingga itu. Dia akan mengembalikannya saat bertemu dengan Kakashi, pikirnya tanpa tahu isi sebenarnya buku yang dibawanya saat ini.
.
.
.
Jam-jam berikutnya berlalu dengan sangat lambat untuk Naruto. Dia mengerang, lalu menggeliat untuk melenturkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Diliriknya jam yang menggantung di dinding, sudah pukul tujuh malam, pantas saja perutnya berbunyi nyaring, belum lagi dia tidak menghabiskan makanannya siang tadi.
Hah, seharusnya hal semacam ini tidak mempengaruhi nafsu makannya, sekarang dia harus bersabar hingga pekerjaannya selesai lalu pulang dan mampir ke restoran cepat saji untuk mengisi perutnya.
"Pekerjaanmu masih banyak?"
Suara berat Sasuke mengembalikan Naruto dari lamunan pendeknya. Wanita itu tidak memperlihatkan wajah bersahabat, dan menjawab hanya dengan satu anggukan pelan. Naruto bahkan tidak mau melihat wajah Sasuke, ia masih sangat kesal, amat sangat kesal hingga ingin rasanya ia menendang kemaluan Sasuke dengan keras.
Andai aku bisa melakukannya, keluhnya di dalam hati sementara Sasuke memperhatikannya dengan satu alis terangkat.
Tatapan Sasuke segera teralih pada sebuah buku bersampul jingga yang tergeletak di atas meja kerja Naruto. Dengan senyum tipis dia mengangkat buku itu, lalu membuka halaman demi halamannya dengan gerakan pelan. "Aku tidak tahu jika kau suka membaca buku seperti ini," ujarnya membuat perhatian Naruto teralih.
Kedua alis wanita itu bertemu, sedikit terganggu mendengar nada geli di dalam suara Sasuke.
"Sepertinya kau terlalu dekat dengan Kakashi hingga ketularan sifat mesumnya," olok Sasuke membuat Naruto semakin bingung. Sasuke mendengus, lalu memukulkan buku di tangannya ke atas kepala Naruto dengan pelan. "Pantas saja kau sangat brutal saat menciumku, ternyata kau memiliki buku ini sebagai pegangan, huh?"
Naruto terlihat semakin bingung, sementara tangannya diusapkan ke atas kepalanya yang baru saja dipukul pelan oleh Sasuke.
"Jadi, sudah sejauh mana kau belajar?" Sasuke kembali bertanya. "Apa kau sudah membaca hingga proses pembuatan bayi?" tanyanya lagi dengan ringannya, sementara Naruto terbelalak, mulutnya terbuka dengan lebar.
Apa yang sedang dibicarakan oleh Sasuke saat ini? Kenapa Naruto sama sekali tidak paham akan apa yang ditanyakan oleh Sasuke? Proses pembuatan bayi apa?
"Maaf, maksud anda apa?" Naruto akhirnya buka suara.
Sasuke menaikkan satu alisnya, lalu mengangkat buku di tangannya ke depan wajah Naruto. Dengan tenangnya dia membuka halaman yang memperlihatkan sebuah gambar yang membuat Naruto syok dan membeku di tempat. "Maksudku ini," ujar pria itu dengan santainya.
"Ke-kenapa ada gambar jorok di sana?" Naruto terpekik, terkejut sekaligus merasa malu. Ah, wajahnya pasti memerah seperti kepiting rebus saat ini. Naruto sama sekali tidak bisa menahan malu atas kesalahpahaman Sasuke. "I-itu bukan milikku," kata Naruto terbata, berusaha untuk membela diri dan membersihkan namanya di depan Sasuke.
"Kau sudah cukup umur untuk membacanya, kenapa harus merasa malu?"
Naruto berjengit. "Sungguh, buku itu bukan milikku," sahutnya cepat. "Buku itu milik Pak Kakashi, saya akan mengembalikannya saat bertemu dengannya."
Sasuke mengangguk. "Ah, jadi kau meminjamnya dari Kakashi?"
"Bukan!" pekik Naruto keras. Aish… kenapa kesalahpahamannya malah melebar? Pikirnya miris. "Saya tidak meminjamnya, saya memungutnya karena Pak Kakashi tidak sengaja menjatuhkannya," tambahany dengan napas memburu.
"Tidak perlu merasa malu, Namikaze," balas Sasuke santai. Pria itu meletakkan kembali buku bersampul jingga itu di atas meja. "Tapi sebaiknya kau tidak membawanya ke tempat kerja," ujarnya datar. "Dan jangan katakan jika kau tidak konsentrasi kerja karena ingin menyelesaikan membaca buku ini—"
"Tidak!" potong Naruto cepat. Wanita itu kembali kesal karena lagi-lagi Sasuke menyimpulkan sesuatu dengan seenaknya. "Saya katakan sekali lagi, buku itu bukan milik saya," ujarnya berapi-api. "Saya hanya menemukannya dan akan segera mengembalikannya kepada pemilik aslinya," ucapnya dalam satu tarikan napas sementara Sasuke bersidekap, menatapnya dengan tatapan tidak percaya. "Yang kedua, bukan buku itu yang membuat saya tidak bisa berkonsentrasi."
Sasuke menyeringai, "Lalu apa?"
"Anda!" tunjuk Naruto dengan berani. Ia sudah kehilangan kesabarannya, dan dia berharap Sasuke mau mendengarkannya untuk kali ini saja. "Sikap anda membuat saya tidak bisa berkonsentrasi," tambahnya membuat Sasuke menatapnya tajam. Naruto memalingkan wajah, keberaniannya kembali menguap hanya karena satu tatapan tajam dari Sasuke.
Sial! Kenapa pria itu selalu berhasil membuatnya mati kutu?
"Sikapku yang mana yang membuatmu tidak bisa berkonsentrasi?" tantangnya dengan sikap angkuh.
Naruto mengepalkan kedua tangannya, berusaha untuk mengumpulkan keberaniannya yang tersisa. "Kenapa Anda menciumku? Kenapa?" tanyanya penuh emosi.
"Kita bahas ini di luar," ujarnya dingin, lalu berbalik pergi untuk masuk ke dalam ruangannya kembali, mematikan lampu ruang kerjanya lalu kembali keluar dengan tas serta jas kerjanya di tangan. "Apa yang kau tunggu? Masalah ini tidak boleh dibahas di sini. Mengerti?"
Naruto menggelengkan kepala keras. "Tidak. Saya tidak mengerti," ujarnya keras kepala.
"Bereskan barang-barangmu dan ikut denganku!" perintah Sasuke tegas.
Naruto bergeming, membuat Sasuke kehilangan kesabaran hingga memutuskan untuk berjalan memutar ke arah meja kerja Naruto, mengambil alih posisi Naruto untuk menyimpan semua data yang tengah dikerjakan oleh sekretarisnya itu sebelum mematikan laptopnya. Dengan gerakan cepat dia menyambar tas tangan serta mantel milik Naruto dan menyerahkannya pada wanita muda itu.
"Kita akan membahasnya di luar jam kerja!" putus Sasuke mutlak, pandangannya sama sekali tidak tertebak, hal yang semakin menganggu pikiran Naruto. Wanita itu hanya bisa menghentakkan kaki, kembali kesal karena sikap Sasuke.
Kenapa aku harus jatuh cinta pada pria ini? Tanyanya di dalam hati, merasa marah pada dirinya sendiri.
.
.
.
"Aku tidak suka membahas masalah pribadi saat jam kerja," ujar Sasuke dingin, memecah kesunyian diantara mereka. Dengan cepat Sasuke mengendarai mobilnya, membawanya membelah jalanan Kota Tokyo yang lenggang malam ini, dan menghentikannya di sisi Teluk Tokyo menatap keindahan Tokyo Bridge Gate di malam hari.
Sasuke menurunkan jendela kaca mobilnya, membuat udara dingin menyerbu masuk, mengantarkan hawa musim dingin yang menusuk. "Jadi, apa yang mengusikmu?" tanyanya dengan nada lebih bersahabat, sementara Naruto memalingkan wajah, menatap jembatan indah yang terbentang gagah, jauh di depannya, mengaguminya dalam diam.
"Naruto?!" panggil Sasuke. Ada nada tidak sabar saat ia mengatakannya. Pria itu membuka sabuk pengamannya, agar lebih bebas bergerak, lalu mengangkat tangannya, memaksa Naruto untuk menatapnya. "Kemana keberanianmu yang tadi? Bukankah kau tadi mengatakan jika sikapku membuatmu tidak bisa konsentrasi saat bekerja? Sekarang katakana, sikapmu yang mana?"
Naruto terdiam, berusaha melepaskan wajahnya dari tangan Sasuke, namun gagal. Pria itu memaksanya untuk balas menatap lurus.
"Katakan!" perintah Sasuke tegas.
"Kenapa Anda menciumku?" tanyanya parau, nyaris menangis. Ya Tuhan, dari semua pria di dunia ini kenapa dia harus mencintai Sasuke? Seorang pria yang sepertinya sangat mustahil untuk memiliki perasaan yang sama dengannya.
Sasuke terdiam, melepaskan wajah Naruto walau masih menatap wanita itu lurus.
"Sikap Anda itu membuat saya merasa tidak nyaman," tambah Naruto membuat gigi Sasuke gemertuk dan tertawa kasar.
"Tidak nyaman?" olok Sasuke dengan sikap mencemooh. "Jika aku tidak salah ingat, kau membalas ciumanku, Nona Namikaze!" serangnya, membuat Naruto menudukkan kepala, menatap jari-jari tangannya yang bergetar karena gugup. "Kau memprotes hal itu?" tanyanya datar. "Apa kau lupa jika kau yang memulai semuanya?"
"Aku tahu," balas Naruto menanggalkan sikap formalnya. "Namun sikap Anda membuatku berharap sangat tinggi. Apa Anda tidak mengerti?" ujarnya membuat Sasuke menegakkan tubuh, berusaha mencerna maksud Naruto. Wanita itu terdiam lama, kembali mengalihkan tatapannya pada jembatan Tokyo.
Sasuke memiringkan kepala, tersenyum tipis dan hanya bisa bertaruh, berharap tebakannya benar. "Aku melakukannya karena aku menyukaimu," tukasnya membuat Naruto kembali menoleh ke arahnya dengan ekspresi tak percaya. Sasuke mengangkat bahunya ringan, "Aku hanya mencari-cari alasan agar bisa menciummu." Sasuke tersenyum setelah mengatakannya, sementara jemarinya mengangkat dagu Naruto dengan gerakan pelan. "Boleh aku menciummu lagi?" tanyanya serak sebelum menyatukan bibir mereka dalam satu ciuman manis yang memabukkan.
.
.
.
TBC
Maafkan untuk typo(s) yang merajalela. #Nangis.
Dan ouch... kali ini Sasuke duluan yang ngutarain perasaan. Xixixi... XD
Nggak manis sih, tapi ya... begitulah. #NgorekTanah
Sampai jumpa dichap selanjutnya! ^^
#WeDoCareAboutSFN
