Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Drama, romance

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fic ini maupun fic milik saya lainnya!

Selamat membaca!

Mr. Arrogant

Chapter 11 : Rahasia dan Cemburu?

By : Fuyutsuki Hikari

Udara pagi yang dingin serta langit yang masih gelap sepertinya tidak lantas menyurutkan semangat Naruto hari ini. Sejak semalam wanita berumur dua puluh tiga tahun itu terus bergerak gelisah di atas tempat tidurnya, tersenyum seperti orang sintingdan terus berdoa dengan khusyuk agar pagi datang dengan cepat.

Dia terlalu antusias, tidak sabar untuk memulai rutinitas hariannya dengan cepat karena satu alasan; Sasuke.

Ia memerlukan waktu lebih lama untuk mandi pagi ini. Memastikan tubuh serta rambutnya wangi sebelum akhirnya ia merasa puas dan keluar dari bawah showeruntuk mengeringkan tubuh dan rambutnya dengan handuk. Tidak hanya itu, ia pun memerlukan waktu lebih lama untuk berdandan. Naruto harus memastikan jika penampilannya harus sempurna hari ini.

Wanita muda itu sama sekali tidak peduli jika dunia menganggapnya seperti gadis kecil yang baru pertama kali jatuh cinta. Oh ya, sikapnya saat ini memang seperti remaja tanggung yang tengah jatuh cinta. Ia hanya terlalu bahagia karena cintanya berbalas. Itu saja.

Naruto bersiul pelan saat menatap pantulan dirinya pada cermin riasnya. Ia lalu mengedipkan matanya genit setelah puas melihat dandanannya yang terlihat lebih memukau hari ini.

Ayolah, dia harus tampil memesona di depan kekasihnya bukan?

Kekasih? Ya, sejak tadi malam statusnya sudah resmi sebagai kekasih Sasuke.

Naruto menjerit di dalam hati, berjingkrak-jingkrak dengan hebohnya saat teringat ciuman tadi malam. Oh Tuhan, hanya dengan memikirkannya saja kedua pipinya sudah merona dengan hebatnya. Susah payah ia berusaha untuk meredakan debaran jantungnnya yang menggila. Perlahan ia menarik napas dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Diliriknya jam yang menggantung di dinding kamarnya, masih pukul enam pagi. Keningnya berkerut, terlihat kecewa karena ia masih harus menunggu satu jam hingga waktu keberangkatannya ke kantor.

Ah, atau mungkin tidak?

Naruto tersenyum karenanya dengan semangat ia membalikkan badan untuk menyambar jaket serta tas kerjanya yang diletakkan di atas kursi bacanya. Tidak ada salahnya jika ia datang lebih pagi bukan? Ujarnya di dalam hati, terlihat senang.

Wanita itu turun dengan tergesa, sama sekali tidak terkejut saat melihat dapur dan ruang makan masih sepi tanpa keberadaan Kurama yang memang biasa menyiapkan sarapan mereka pada pukul enam tiga puluh pagi.

"Aku bisa sarapan di kantor," ujarnya lirih masih dengan semangat yang sama. "Kak, aku pergi!" teriaknya tanpa menoleh sementara Kurama yang baru memasuki ruang dapur menatap punggung adiknya dengan sebuah kernyitan dalam.

"Apa kau sedang sakit?" tanya Kurama.

Naruto menoleh ke belakang, tersenyum cerah sementara kakinya sibuk mengenakan sepatu kulit berhak tinggi berwarna hitamnya. Ia mengetukkan ujung sepatunya ke lantai kayu yang diinjaknya dua kali, lalu menjawab dengan nada riang yang membuat Kurama mengernyit semakin dalam. "Aku baik-baik saja, Kak." Ia terdiam sejenak, melempar tatapannya keluar jendela dan kembali bicara, "Bukankah pagi ini sangat cerah?" ujarnya asal.

Satu alis Kurama terangkat, dengan malas ia menoleh ke arah jendela dapur, menatap ke atas langit pagi yang masih kelabu, ia bahkan berani bertaruh jika tidak lama lagi hujan akan segera turun. "Aku yakin ada yang salah dengan otakmu," ujarnya pelan tanpa maksud menyinggung perasaan adik semata wayangnya. Ayolah, siapa yang tidak akan heran jika adik yang biasanya sangat sulit untuk melakukan segala jenis aktifitas pagi tiba-tiba saja berubah seratus delapan puluh derajat dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam?

Kurama melipat kedua tangannya di depan dada, ekspresinya serius saat ia berkata, "Siapa kau? Apa yang kau lakukan pada adikku?" tanyanya beruntun membuat Naruto memutar kedua bola matanya malas.

"Aku mungkin pulang malam, ada banyak sekali pekerjaan menjelang musim panas ini. Kakak jangan menungguku untuk makan malam. Ok?" tukas Naruto mengabaikan pertanyaan Kurama yang masih mengerjap lucu, bingung.

Kurama tidak menjawab.

"Kak?!"

Kurama mendesah keras, lalu mengangguk pelan. "Jangan lupa sarapan, dan jangan lewatkan makan siang juga makan malam. Mengerti?" balasnya penuh perhatian. Naruto memang seringkali melewatkan makan siang dan makan malam jika tengah stres, atau sibuk. Kurama tahu betul hal itu, karenanya ia tidak pernah bosan untuk mengingatkan adiknya itu.

"Aku tahu," sahut Naruto dengan senyum secerah mentari. Ia berjalan beberapa langkah, mengikis jarak diantara keduanya untuk memberikan sebuah pelukan yang lagi-lagi membuat Kurama terbelalak, dan nyaris pingsan di tempat.

"Siapa kau?!" tanyanya lagi dengan mata terbelalak.

Naruto terkekeh pelan dan menjawab merdu, "Kau hanya perlu jatuh cinta untuk tahu, Kak," ujarnya sebelum berbalik pergi, keluar dari dalam rumah untuk memulai aktifitas hariannya lebih awal pagi ini, namun sayangnya apa yang diharapkannya sama sekali tidak seindah bayangannya.

Ia harus menelan pahit saat mendapati Sasuke sudah berada di kantor bersama seorang wanita muda berambut pirang yang terlihat sempurna dalam balutan dressselutut berwarna putih gadingnya yang elegant.

Naruto mulai menilai, menatap wanita itu dari ujung kaki hingga kepala dengan ekor matanya. Oh, cara dia tertawa saja begitu berbeda dengannya. Ah, apa dia sedang cemburu?

Tentu saja dia cemburu. Bagaimana tidak? Wanita asing itu bahkan berani mengalungkan tangannya pada tangan Sasuke, dan yang lebih membuatnya marah adalah; kenapa kekasihnya tidak menolaknya?

Brengsek! Maki Naruto di dalam hati.

Naruto bergegas berdiri, memasang wajah tanpa ekspresi saat keduanya keluar dari ruang kerja Sasuke, berjalan melewati meja kerjanya dengan santai, seolah-olah Naruto tidak berada di sana.

"Menyebalkan!" gumamnya kesal sembari mengangkat kepalanya dengan gerakan perlahan saat keduanya berbelok di ujung lorong. Naruto menghela napas keras, melirik sinis ke tempat keduanya berbelok, dalam hati ia bertanya-tanya, siapa wanita itu? Ia tidak pernah melihatnya sebelumnya. Pegawai baru? Atau jangan-jangan mantan kekasih Sasuke?

Kedua tangannya terkepal erat, dengan mantap ia membulatkan tekad untuk tidak memperlihatkan kecemburuannya pada Sasuke.

"Kau harus bersikap masa bodoh, Naruto!" tegasnya pada dirinya sendiri.

.

.

.

Suasana hati Naruto masih belum kunjung membaik saat jam makan siang tiba. Ia menggelengkan kepala cepat, berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran negatif yang melintas di kepalanya tentang Sasuke. Kekasihnya yang baru dikencaninya kurang dari dua puluh empat jam itu tidak mungkin langsung berselingkuh, kan?

Ia pun mengerang, lalu meletakkan kepalanya yang terasa hampir meledak di atas meja kerjanya yang rapi. Naruto nyaris melakukannya sepanjang jam makan siang andai saja perutnya tidak mengkhianatinya. Suara perut yang terdengar nyaring membuatnya meringis dan dengan terpaksa ia pun menyeret kedua kakinya untuk melangkah, berjalan turun ke lantai satu dimana kantin untuk karyawan berada.

Naruto mengernyit, merasa aneh karena tidak seperti biasanya kantin terlihat lebih ramai siang ini. Para karyawan yang sudah selesai makan siang sepertinya enggan untuk beranjak dan memilih untuk berbincang di sana.

Sejenak ia berdiri di samping meja buffet, hanya untuk mencari sebuah kursi kosong untuknya duduk. Ia mengulas sebuah senyum tipis saat menemukan apa yang dicarinya, dan semakin lebar saat melihat siapa yang duduk tepat di depan kursi kosong yang akan ditempatinya. Ino, teman baiknya itu terlihat sibuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

"Hai...!" sapa Naruto saat meletakkan nampan berisi makan siangnya di atas meja. Ino mendongak, memberikan senyum lebar padanya sementara Naruto menarik kursi dan duduk di atasnya dengan malas.

Ino mengunyah dan menelan cepat, lalu meneguk air putih miliknya dengan rakus. "Naruto, apa kau sudah mendengar gosip terbaru?" tanyanya kemudian dengan ekspresi antusias berlebihan.

Naruto mengangkat bahu acuh, terlalu malas untuk bergosip saat ini. Ia hanya ingin menghabiskan makan siangnya dengan cepat lalu kembali ke meja kerjanya. Titik.

Ino menggelengkan kepala, lalu berdecak sembari menatap Naruto dengan kedua mata menyipit. "Kau, kan sekretarisnya, masa kau tidak mendengar apa pun?"

"Apa maksudmu?" Naruto balik bertanya dengan perasaan was-was. Tolong jangan katakan jika gosip terbaru kali ini tidak ada hubungannya dengan Sasuke, mohonnya di dalam hati.

"Sudah kuduga," desah Ino dengan gelengan kepala pelan. Ia kembali menyempitkan mata sembari melipat kedua tangannya di depan dada. "Kau terlalu sibuk bekerja hingga tidak menyadari keadaan di sekelilingmu," keluhnya sebal.

Lagi-lagi Naruto mengangkat bahunya ringan, mencoba untuk menyamarkan rasa ingin tahunya yang menggebu.

Ino melempar tatapannya ke segala penjuru sebelum mencondongkan tubuhnya dan berkata dengan suara pelan, nyaris tak terdengar, "Kemarin GM kita jalan bersama mantan kekasihnya."

Apa?! Teriak Naruto di dalam hati dengan kedua mata membola sempurna.

Ia sangat bersyukur, amat sangat bersyukur karena mampu menahan teriakannya itu di ujung lidahnya yang mendadak terasa kelu.

Ino terkekeh, mengambil kesimpulan salah atas ekspresi Naruto saat ini. "Aku tahu kau akan terkejut mendengarnya," katanya sembari melambaikan tangannya di depan wajah. "Kau juga pasti tidak akan menyangka jika GM kita pernah memiliki hubungan asmara, kan?" tebaknya asal, sementara Naruto mendesah kecil dan memasang sebuah senyum dipaksakan.

"Kudengar hubungan mereka kandas karena peraturan perusahaan yang melarang hubungan diantara sesama pegawai," terang Ino dengan ekspresi serius. "Nona Samui akhirnya mengundurkan diri dan bekerja di hotel lain, untuk menjaga hubungan mereka, sayangnya hubungan mereka tetap kandas karena masalah jarak."

Naruto benar-benar meragukan gosip yang tengah dibicarakan oleh Ino saat ini, namun ia kembali diingatkan akan ingatan yang dilihatnya pagi tadi. Bagaimana wanita berambut pirang yang kini diketahuinya bernama Samui, tanpa merasa canggung bergelayut di tangan Sasuke, sementara Sasuke... Sasuke terlihat tidak terganggu karenanya.

Brengsek! Maki Naruto di dalam hati, marah.

"Apa menurutmu hubungan mereka akan kembali terjalin?" Ino kembali bertanya dengan ekspresi serius.

Naruto mengerjapkan mata. "Apa maksudmu?"

"Kudengar hotel kita ini akan bekerjasama dengan hotel tempat Nona Samui bekerja, bukankah itu berarti keduanya akan kembali sering bertemu?"

Hening.

Lagi-lagi Ino menyempitkan kedua mata, memasang pose berpikir. "Hubungan mereka pasti akan kembali terjalin. Bagaimana menurutmu?" tanyanya sembari menatap Naruto lurus.

Naruto hanya menghela napas dan menjawab, "Entahlah, Ino, aku tidak tahu," tukasnya dengan senyum dipaksakan.

.

.

.

Tidak ada yang lebih membingungkan Kurama selain perubahan suasana hati Naruto yang labil. Adik semata wayangnya terlihat begitu ceria di pagi hari, namun berubah menjadi muram saat malam hari. Pria itu mengernyit, mengamati wajah Naruto yang ditekuk dalam. "Apa kau berbuat kesalahan lagi?" tanyanya hati-hati, tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan adiknya.

Naruto menggeleng pelan, membuat Kurama semakin bingung karenanya.

Apa ini masalah wanita? Tanyanya di dalam hati. Mungkin aku harus meminta bantuan Koyuki untuk hal ini, pikirnya lagi.

Kurama menyentuh tangan kanan Nartuto yang kini dipakai adiknya itu untuk menutup sebagian wajahnya. Keduanya duduk di atas sofa nyaman di ruang santai. Selama beberapa saat Kurama terdiam, seolah memberikan waktu bagi Naruto untuk bernapas.

Perlahan Naruto membuka mata, mengulum sebuah senyum tipis lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang kakaknya itu sebagai ucapan terima kasih atas perhatian yang selalu ditunjukkan Kurama untuknya. "Aku hanya lelah. Setumpuk pekerjaan untuk menyambut masa liburan musim panas membuat kepalaku nyaris meledak," jelasnya setengah berbohong.

Kurama mengangguk. "Kau tidak boleh memaksakan diri, Naruto, kau bisa jatuh sakit," ujarnya cemas.

"Maaf sudah membuat Kakak cemas," balas Naruto sembari memeluk Kurama erat. Ingin rasanya ia menumpahkan segala kegelisahan dan kecemasannya pada Kurama, namun ia tahu, kakaknya sudah memiliki beban lain yang harus ditanggungnya, ia tidak mungkin menambahnya dengan kisah asmaranya, bukan?

"Kau sudah makan malam?" tanya Kurama sembari mengelus rambut Naruto lembut. Naruto mengangguk dalam pelukannya. "Kalau begitu naik, lalu berendam di air hangat, stresmu bisa sedikit hilang," susulnya yang segera dijawab Naruto dengan antusias.

Naruto melepaskan pelukannya, dan setelah pamit untuk naik ke kamar ia pun segera berjalan pergi, menaiki anak-anak tangga menuju ke lantai dua dimana kamarnya berada.

.

.

.

Malam ini Naruto berendam cukup lama di dalam air hangat, benar apa yang dikatakan Kurama, stresnya sedikit hilang walau kegelisahannya masih bercokol di dalam hatinya. Naruto baru saja selesai mengeringkan rambut dan berganti pakaian saat telepon genggamnya bergetar menandakan panggilan masuk.

Ia menoleh sekilas, terlihat tidak tertarik saat telepon genggamnya kembali bergetar. Dengan malas ia mengambil telepon genggam layar datarnya itu yang tergeletak di atas ranjangnya.

Sasuke?

Ada tiga puluh panggilan tak terjawab. Semuanya dari nomor ponsel Sasuke.

Naruto mendesah, menarik napas dalam sebelum menerima panggilan yang ke tiga puluh satu.

"Halo?!" sapanya dengan nada datar. Naruto mengehmpaskan tubuhnya ke atas ranjang, memejamkan kedua matanya sementara tangan kanannya menggenggam telepon genggamnya di telinga kanannya.

"Aku menghubungimu dari tadi," sahut Sasuke dari ujung sambungan.

"Aku baru selesai mandi," jawab Naruto pendek.

Naruto bisa mendengar suara desahan berat Sasuke, namun wanita itu memilih diam tanpa bermaksud menjelaskan lebih rinci. Tidak perlu, pikirnya masam.

"Aku mencarimu saat jam pulang." Sasuke kembali bicara setelah jeda singkat. "Kau pulang naik bus?" tanyanya lagi.

Naruto tidak langsung menjawab. Kedua kelopak matanya terbuka saat ia menjawab dengan nada biasa yang dipaksakan, "Aku pulang dengan Kiba."

"Kiba?"

Naruto bersumpah jika ia bisa mendengar nada kesal dalam suara Sasuke saat ini. Ia mendengus pelan, kenapa Sasuke harus kesal hanya karena ia pulang dengan Kiba?

"Hm..." jawab Naruto tidak jelas membuat emosi Sasuke semakin tidak stabil.

"Kenapa tidak menungguku?" Sasuke kembali bertanya dengan nada mendesak.

"Bisakah kita membahasnya lain waktu?" ujar Naruto tenang. "Aku lelah, mataku sudah mengantuk," tambahnya beralasan sebelum mengakhiri panggilan telepon itu untuk kemudian mematikan powertelepon genggamnya dan pergi tidur.

Lebih baik aku menghadapi kemarahan Sasuke besok, pikirnya lelah.

.

.

.

Hubungan keduanya masih tidak kunjung membaik setelah beberapa hari berlalu. Sasuke menyadari jika sikap Naruto berbeda padanya belakangan ini, kekasihnya itu hanya menjawab seperlunya, pulang tanpa mau menunggunya dan menjawab panggilan teleponnya dengan nada acuh.

Sasuke juga seringkali harus menahan diri untuk tidak lepas kendali saat Naruto dengan santainya mengatakan jika ia pulang dengan Kiba atau pegawai pria lain yang kebetulan satu arah dan menawarinya tumpangan untuk pulang.

Bukannya Sasuke tidak percaya pada Naruto, namun sebagai pria dia jelas mengerti betul jika seorang pria seringkali memberikan perhatian lebih pada wanita yang dianggapnya menarik.

Dan lagi-lagi Naruto membuatnya kesal setengah mati malam ini. Sasuke berjalan mondar mandir di dalam ruang kerjanya, sementara tangan kanannya menggenggam telepon genggamnya erat.

"Kau dimana?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Di dalam bus," jawab Naruto singkat.

"Turun di halte berikutnya!" perintah Sasuke mutlak. Sasuke menyambar jas armaninya serta tas kerjanya, berjalan tergesa meninggalkan ruang kerjanya setelah mematikan lampu. "Turun, Naruto atau aku akan menggedor pintu rumahmu!" ancamnya.

"..."

"Bagus," balas Sasuke saat Naruto bersedia melakukan apa yang dimintanya. "Tunggu aku di halte, aku akan mengantarmu pulang!" putusnya mutlak.

.

.

.

Naruto harus menelan kekesalannya saat Sasuke memerintahnya untuk turun di halte berikutnya. Ia duduk dengan ekspresi tidak bersahabat di sana, menunggu dengan rasa kesal yang semakin menumpuk setiap detiknya.

Ekspresi marahnya tidak memudar saat Sasuke datang menjemputnya. Kekasihnya itu dengan baik hati membukakan pintu penumpang untuknya, memasangkan sabuk pengaman sebelum menutup pintu penumpang dan berjalan memutar menuju kursi pengemudi.

Naruto terdiam, terlihat enggan untuk membuka suara selama perjalanan sementara Sasuke hanya bisa menggelengkan kepala dan mengehela napas keras karenanya.

"Sekarang tolong katakan, apa yang membuat sikapmu berubah padaku belakangan ini," ujar Sasuke dengan nada terkendali. Pria itu membawa Naruto ke tempat dimana mereka secara resmi menjadi sepasang kekasih beberapa hari yang lalu.

Ia memaksa Naruto untuk menatapnya lurus. Sasuke memutuskan untuk tidak menunda permasalahan diantara mereka lebih lama. Demi Tuhan, hubungan mereka bahkan belum genap seumur jagung, namun permasalah yang datang sudah sepelik ini? Yang benar saja! Ujarnya di dalam hati.

Naruto mendesah pelan, terlihat lelah namun penuh tekad. "Aku hanya merasa lelah," ujarnya dengan nada sedikit bergetar membuat kedua alis Sasuke bertemu karenanya. Perlahan ia melepas pegangan kedua tangan Sasuke di kedua bahunya, tanpa memutus tatapannya ia kembali bertanya, "Aku sudah memikirkannya." Naruto menelan kering, menghitung di dalam hati untuk membulatkan tekadnya. "Kita akhiri saja."

Wanita itu langsung memeluk tubuhnya sendiri saat mendapati rasa sakit yang menyerbu dadanya dengan hebat sesaat setelah kalimat itu meluncur mulus dari mulutnya. Ia merinding, bukan oleh udara dingin yang menyapu wajahnya, namun lebih karena tatapan tajam dari manik hitam kekasihnya saat ini.

Untuk beberapa waktu keduanya hanya terdiam. Sibuk dalam pikiran mereka masing-masing.

Naruto berdeham pelan, memutuskan untuk memutus keheningan yang setiap detiknya semakin menyiksanya. Ia bahkan harus berusaha setengah mati untuk tidak meneteskan air mata di hadapan Sasuke saat ini. Ah, ia hanya ingin segera pulang lalu menangis di atas ranjangnya hingga merasa puas.

"Apa kau sedang bercanda?" tanya Sasuke kemudian nyaris tanpa emosi.

Untuk sekilas Naruto bisa melihatnya. Amarah yang dengan segera dapat disembunyikan oleh Sasuke dengan memejamkan kedua matanya. Pria itu lalu mendesah, memalingkan wajah dan mengulas sebuah senyum sinis sebelum kembali melemparkan tatapan tajamnya pada Naruto yang tertunduk. "Pernyataanmu sama sekali tidak lucu!" tambahnya dengan rahang mengeras dan gigi gemertak.

Sasuke mengerang, mengumpat di dalam hati, kedua tangannya terkepal dengan erat. Ingin sekali ia meninju benda mati untuk melampiaskan kekesalannya saat ini. Pernyataan Naruto yang terdengar begitu ringan membuatnya benar-benar marah sekaligus frustasi. "Apa kau menyukai pria lain?" tanyanya dengan suara tertahan.

Sungguh ia tidak akan pernah melepas Naruto untuk alasan itu. Ia tidak pernah melepaskan wanita yang dicintainya untuk pria lain.

Egois?

Benar, Sasuke memang egois jika sudah menyangkut apa yang disukainya.

"Tidak ada pria lain," jawab Naruto parau. Jika Sasuke mengira ucapannya hanya menyakiti pria itu, maka dia salah besar, karena pada kenyataannya ucapan yang dikatakannya justru lebih menyakiti dirinya sendiri.

"Lalu apa? Apa alasanmu?" Sasuke kembali bertanya dengan nada lebih rendah. Ia kembali mengumpat di dalam hati saat melihat kedua mata Naruto mulai berkaca-kaca. Oh, demi apa pun di dunia ini, menyakiti Naruto adalah hal yang paling tidak diinginkannya.

Naruto tidak langsung menjawab. Ia mengambil napas panjang lalu melepasnya secara perlahan. "Aku ingin mengakhirinya, karena kurasa kau sama sekali tidak menginginkanku," jawabnya nyaris tak terdengar.

"Apa?" Sasuke tersentak. Bagaimana bisa kekasihnya berpikir seperti itu? Tanyanya di dalam hati, tidak mengerti.

Naruto mengangkat kepalanya dengan perlahan, hanya untuk mendapati tatapan kecewa Sasuke, membuat dadanya yang sesak semakin terasa sakit karenanya. Wanita itu menggigit bibir bawahnya, sementara tangan kanannya dengan gugup menyelipkan rambut pirangnya yang tertiup angin malam ke belakang telinga lalu mengangkat bahu kanannya samar. "Entahlah, aku hanya merasa kau tidak menginginkanku."

Sasuke masih menutup mulutnya rapat dengan sejuta emosi yang kini bergelayut di kedua bola matanya.

Naruto tersenyum miris. "Aku merasa kau menjauh dariku," tambahnya pilu.

"Sekarang aku yakin jika kau sedang bercanda," balas Sasuke masih tanpa ekspresi.

Naruto mendongak, mengerjap dengan kening ditekuk dalam.

Sasuke menyisirkan jemari ke rambutnya. "Selama ini sudah cukup sulit bagiku untuk tidak menyentuhmu saat kau berada dekat denganku," katanya serak. Ia terkekeh miris, melempar tatapannya ke langit gelap tanpa bintang yang menaungi mereka. "Kendali diriku nyaris roboh setiap kali aku melihatmu, namun aku selalu berusaha mengendalikannya karena kau tahu alasannya."

"Aku tidak tahu alasannya," balas Naruto keras kepala.

"Demi Tuhan, Naruto, kau jelas tahu betul alasannya!" Sasuke membentak kesal, membuat Naruto mundur satu langkah karena kaget. "Maaf!" ujar Sasuke saat Naruto menatapnya dengan sorot terluka. "Aku tidak bermaksud untuk membentakmu, tapi kau benar-benar membuatku kesal setengah mati," tambahnya terdengar penuh penyesalan.

Sasuke mengepalkan kedua tangannya erat, menahan diri untuk tidak merengkuh tubuh Naruto ke dalam pelukannya. Belum saatnya, pikirnya gelisah. "Kau jelas tahu peraturan di perusahaan tempat kita bekerja yang melarang pegawai menjalin hubungan percintaan," katanya mengingatkan.

Naruto membisu.

"Apa kau lupa?"

Naruto menghirup napas dan menggelengkan kepala pelan.

"Jika kau tidak lupa, kenapa kau bersikap seperti ini?" tanya Sasuke parau. "Kau bukan hanya menyakitiku, tapi kau juga menyakiti dirimu sendiri. Apa kau sadar akan hal itu?" Ia terdiam, menunggu Naruto meresapi ucapannya. "Bagus jika kau sadar akan hal itu," tambahnya saat Naruto mengangguk samar. "Sekarang masalah kita sudah selesai, kan? Aku anggap permintaan putus darimu tidak pernah terucap."

Kepala Naruto mendongak. "Siapa bilang?" tantangnya membuat kelopak mata Sasuke berkedut karena kesal. "Kita akhiri saja!" ulangnya tegas.

Sasuke membeku, lidahnya kelu. Ingin sekali rasanya ia mengguncang tubuh Naruto kuat untuk menyadarkan wanita yang dicintainya itu.

Naruto kembali memeluk tubuhnya. "Aku memang kekasihmu, namun entah kenapa aku merasa jika aku tidak bisa memilikimu seutuhnya."

Sasuke masih menutup mulutnya rapat, memutuskan untuk mendengarkan penjelasan konyol Naruto.

"Aku begitu cemburu, saat dia, mantan kekasihmu itu kau izinkan untuk merangkul tanganmu dengan begitu bebasnya, sementara aku..." Naruto terdiam sejenak untuk mengambil napas, menghirupnya rakus untuk mengisi paru-parunya yang mendadak terasa kosong. "Sementara aku hanya bisa menatap punggungmu, dan bersikap seolah-olah kau hanya orang asing untukku. Bersikap jika hubungan diantara kita hanya antara atasan dan bawahan," lanjutnya dengan senyum miris dan air mata yang mengalir tanpa bisa dihentikannya.

"Aku marah. Marah pada diriku sendiri karena harus merelakan orang lain bergelayut padamu, sementara aku hanya bisa diam tanpa bisa mengatakan pada mereka jika kau adalah milikku. Kekasihku."

Naruto memejamkan mata saat ingatan menyakitkan itu kembali melintas di dalam kepalanya. "Kenapa aku tidak bisa meneriakkan pada orang-orang jika kau adalah kekasihku?" tanyanya kemudian terdengar sakit hati.

Sasuke menghela napas, mengambil satu langkah ke depan untuk mengikis jarak diantara mereka. Dengan lembut ia mengusap jari-jarinya pada bahu Naruto yang bergetar. "Apa kau pikir hanya kau yang terluka?" tanyanya dengan suara tenang memabukkan. "Apa kau pikir hanya kau yang terganggu? Apa menurutmu memutuskan hubungan kita untuk alasan ini tidak akan mengganggumu?" tanyanya lagi masih dengan nada tenang yang sama.

"Bukankah aku sudah menjelaskan padamu jika aku harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyentuhmu?"

Naruto memalingkan muka, menggigil, bukan karena udara malam yang semakin menusuk, namun lebih karena nada dingin suara Sasuke.

"Apa aku harus menambahkan jika setiap detiknya aku ingin meneriakkan pada semua orang, mengatakan jika kau milikku?" tambahnya dengan suara kepemilikan mutlak. "Aku bahkan harus mengepalkan kedua tanganku saat pegawai-pegawai pria itu menatapmu dengan penuh pemujaan," katanya dengan gigi gemertuk, terlihat kesal, namun detik berikutnya ia menghela napas dalam untuk menekan emosinya. "Tolong bersabarlah!" pintanya kemudian dengan nada memohon. "Kita pasti mendapatkan jalan keluarnya," tambahnya yakin.

Untuk sesaat pandangan mereka bertemu, dan entah kenapa Naruto menemukan ketulusan di di sana. Ah, kenapa kebulatan tekadnya perlahan hancur hanya karena hal ini? Tanyanya di dalam hati. Naruto pun memutuskan untuk memalingkan muka, terlihat gelisah dan semakin tidak yakin. Wanita itu bergeming saat Sasuke merengkuh tubuhnya ke dalam pelukannya.

Pria itu memeluknya dengan hati-hati, lalu mengecup puncak kepalanya lama sebelum akhirnya meletakkan pipinya di sana, dan bergumam lirih, "Kumohon jangan mengakhirinya, Sayang, karena perpisahan hanya akan menghancurkan kita."

Sasuke terdiam sejenak untuk mengambil napas dalam. "Dan mengenai Samui, aku bisa menjelaskannya," tambahnya tenang.

.

.

.

"Sometimes, the biggest secrets you can only tell a stranger."
― Michelle Hodkin The Evolution of Mara Dyer

.

.

.

Maafkan untuk typo(s) yang merajalela. #Nangis.

Ck... baru jadian udah ada masalah lagi? Hahaha...!

Dan ouch chapter ini ada yang lagi galau... putus/nggak, putus/nggak?

Xixixi... #Puk2Naruto

Sampai jumpa dichap selanjutnya! ^^

#WeDoCareAboutSFN