Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Drama, romance

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fic ini maupun fic milik saya lainnya!

Selamat membaca!

Mr. Arrogant

Chapter 12 : Sebuah Alasan

By : Fuyutsuki Hikari

Naruto melipat kedua tangannya di depan dada. Dalam hati dia berkata jika Sasuke harus memiliki alasan yang cukup kuat untuk menjelaskan hubungannya dengan Samui karena jika tidak, jika tidak maka Naruto tidak akan segan-segan untuk memutuskan hubungan seumur jagung mereka.

Ah, kenapa perasaan tidak rela itu malah muncul disaat seperti ini? Benar, Naruto memang tidak rela jika harus kehilangan Sasuke, namun ia akan merasa jauh lebih sakit hati apabila pria itu lebih memilih mantan kekasihnya daripada dirinya. Waktu akan menyembuhkan luka hatiku jika hubungan kami memang harus berakhir hingga di sini, pikirnya sedih. "Jadi?" tanyanya, terdengar tidak sabar.

Sasuke menghela napas berat, terlihat bingung untuk bicara jujur atau sebaliknya? Dengan berkata jujur maka ia akan menyelamatkan hubungan romantisnya dengan Naruto namun di sisi lain kejujurannya akan mengkhianati kepercayaan Samui padanya.

"Jadi…?" tanya Naruto lagi, semakin tidak sabar. Sasuke tidak langsung menjawab. "Sudahlah!" putus wanita itu kemudian. "Jika kau tidak bisa menjelaskannya, maka jangan menjelaskan apa pun padaku. Aku cukup tahu diri," katanya dalam satu tarikan napas. "Tapi sekarang bisakah kau mengantarku pulang untuk terakhir kalinya?" tanyanya tanpa menatap wajah Sasuke.

Ck, kenapa kedua matanya malah memanas saat ini? Kenapa air matanya tidak bisa diajak berkompromi? Naruto memeluk tubuhnya sendiri yang kini bergetar oleh rasa sakit hati yang menyerangnya dengan hebat. Tuhan, kenapa aku malah jatuh cinta pada pria ini? Tanyanya di dalam hati.

"Bisakah kau berhenti mengambil kesimpulan dan mendengarkan penjelasanku?" Sasuke balik bertanya dengan gemas. Ia memaksa Naruto untuk menatapnya, dan menahannya hingga pandangan mereka bertemu untuk beberapa waktu. "Aku dan Samui tidak memiliki hubungan apa pun."

"Tapi bukan itu yang kudengar—"

"Bisakah kau mempercayaiku dan berhenti mempercayai ucapan orang lain?" tuntut Sasuke terlihat sakit hati. "Bukankah aku kekasihmu? Sudah sewajarnya jika kau lebih mempercayaiku—"

"Mempercayai seseorang secara membabi-buta bukanlah sifatku." Naruto memotong dengan tajam. Tatapan dinginnya seolah mengunci tatapan Sasuke yang menuntut pengertian.

Entahlah, Sasuke tidak tahu apa dia harus merasa senang karena Naruto cemburu atau justru sebaliknya? "Aku tidak memintamu untuk mempercayaiku secara membabi-buta," balasnya dengan sikap tenang yang mengagumkan, bahkan Naruto dibuat sangat aneh karenanya. Pria yang tingkat emosinya seringkali tidak stabil itu bersikap begitu pengertian saat ini, namun hal itu justru membuatnya semakin mencium ketidakberesan. "Hei, kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Sasuke mulai jengah.

"Tidak biasanya kau bersikap seperti ini," tukas Naruto dengan bibir bergetar menahan isaka.

Demi Tuhan, kenapa Naruto begitu sensitif? Tanya Sasuke dalam hati. Ia mengerang pelan, untuk pertama kalinya ia merasa serba salah.

"Biasanya kau membentakku." Naruto menyeka air mata dengan punggung tangannya, sementara tangannya yang lain mengambil tissue dari dalam tasnya untuk membersit hidungnya. "Kau tidak pernah bersikap sebaik ini," tuduhnya membuat Sasuke mengerang frustrasi.

Sasuke memijat tengkuknya yang mendadak terasa pegal. "Apa aku sejahat itu dimatamu?" Ia kembali mengerang saat Naruto menganggukkan kepalanya dengan cepat. Sasuke menghela napas dalam, mengetuk-ngetukkan jarinya di atas stir mobil. "Jadi dimatamu aku hanya seperti itu?" bisiknya membuat Naruto mengerjapkan mata, tidak mengerti. Ia mendengus lalu melirik sekilas ke arah kekasihnya yang masih sibuk menyeka air matanya yang tidak kunjung berhenti mengalir. "Kumohon, tolong berhenti menangis, kau membuatku semakin merasa bersalah."

"Kalau begitu antarkan aku pulang!" pekik Naruto nyaris menjerit. Ia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Rasa sakit hatinya nyaris meledak karena Sasuke. Saat ini yang diinginkannya hanya berbaring di atas tempat tidurnya dan menangis hingga ia merasa puas.

"Samui dan aku memang pernah memiliki hubungan—"

"Dan apalagi yang ingin kau jelaskan?" bentak Naruto kesal. Ia mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuannya. "Apa ini yang ingin kau jelaskan?" tanyanya lagi, gemetar. "Jika hanya ini yang ingin kau jelaskan maka aku tidak mau mendengar kelanjutannya. Cukup, Sasuke. Aku mau pulang!"

"Hubungan kami hanya untuk menutupi penyimpangan seksual Samui," tutur Sasuke pada akhirnya. Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Menutupi kebenaran dari Naruto hanya akan membuat hubungan mereka berakhir, dan dia tidak siap untuk kehilangan Naruto saat ini atau di masa yang akan datang.

"Oh, jadi hubungan kalian hanya untuk menutupi penyimpangan seksual Samui?" beo Naruto mencemooh.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Naruto mengerjapkan mata, mengolah informasi itu ke dalam otaknya. "Apa?" tanyanya terlihat terkejut sementara Sasuke mengusap wajahnya dengan kasar. "Apa maksudmu?" tanyanya lagi, terlihat menuntut. "Maksudmu Samui menyukai wanita?"

"Hn."

"Jangan bercanda!" balas Naruto masih dengan nada tidak percaya yang sama. Rasanya sangat keterlaluan jika Sasuke mengatakan hal ini hanya untuk membohonginya. Tapi Sasuke bukan tipe pria seperti itu. Rasa-rasanya sangat sulit untuk percaya jika kekasihnya itu rela mengorbankan temannya sendiri hanya untuk menyelamatkan hubungannya.

Sasuke mendesah, terlihat merasa sangat bersalah. "Aku tidak berbohong, dan karenamu aku harus mengkhianati kepercayaan Samui padaku.

Naruto kembali mengerjapkan mata, air matanya mendadak berhenti dengan cara menakjubkan. "Aku tidak akan membocorkan hal ini pada siapa pun."

Sasuke menyempitkan mata. "Kenapa perasaanku malah tidak tenang saat kau mengatakannya?"

"Aku sungguh-sungguh tidak akan membocorkannya pada siapa pun," janji Naruto, sementara tangannya sibuk membentuk isyarat mengunci mulutnya rapat.

Sasuke kembali mendesah berat. "Saat itu Samui menjalin hubungan dengan salah satu pegawai hotel," terangnya dengan tatapan menerawang. "Suatu hari hubungan mereka nyaris diketahui oleh salah seorang pegawai, dan untuk menutupinya, Samui datang memohon padaku untuk menutupi gossip yang beredar di dalam hotel dengan hubungan rekayasa kami."

"Apa berhasil?"

Sasuke mengangkat bahunya ringan. "Tentu saja. Gosip itu segera hilang setelah salah satu pegawai memergoki kami pergi makan malam."

"Apa itu kencan?" Naruto menyempitkan mata. Nada suaranya yang menyiratkan ketidaksukaan itu tidak luput dari pendengaran Sasuke. Pria itu tersenyum lalu mencubit gemas kedua pipi kekasihnya. "Kenapa aku tidak suka mendengarnya?" Naruto kembali bicara dengan nada tajam. "Kenapa aku harus cemburu saat kau mengatakannya? Apa kau merasa tidak bersalah saat mengatakannya padaku?"

Sasuke tersenyum tipis, begitu tipis hingga nyaris tak terlihat. "Apa kau cemburu?"

Pertanyaan macam apa itu? Tanya Naruto di dalam hati, terlihat sebal. Tentu saja dia merasa cemburu saat mendengar jika kekasihmu pergi berkencan dengan wanita lain walau hal itu dilakukan untuk suatu alasan mulia, namun tetap saja Naruto tidak bisa menerimanya. "Jangan tertawa, Tuan Muda, kau membuatku tersinggung!" desis Naruto penuh ancaman, namun Sasuke bergeming, alih-alih merasa takut, pria itu malah mencondongkan tubuhnya untuk mencium ringan bibir Naruto. Begitu singkat, begitu ringan hingga membuat Naruto mengerucutkan bibir karenanya.

"Ah, aku senang sekali karena kau merasa cemburu," tukas Sasuke dengan santainya. "Jadi kau bisa merasakan bagaimana perasaanku saat melihatmu diantar pulang oleh Inuzuka."

"Kau mengintip?" pekik Naruto seraya menutup mulut dengan telapak tangannya. "Kau memata-mataiku?" tuduhnya membuat Sasuke mendelik ke arahnya tajam. "Aku dan Kiba tidak ada hubungan apa pun."

"Tentu saja tidak ada hubungan apa pun," sahut Sasuke terdengar kesal. "Aku tidak akan segan-segan memberinya pelajaran jika dia berani mendekatimu atau tertarik padamu."

Hening.

"Ada ada yang salah dengan perkataanku?" tanya Sasuke saat Naruto menatapnya lurus.

Naruto tidak menjawab.

"Kau menatapku seolah-olah aku sudah bersikap berlebihan."

"Kau memang berlebihan," ujar Naruto. "Kiba tidak tertarik padaku."

"Hn…, tolong katakana itu pada pria yang tidak pernah berkedip saat menatapmu," ejek SAsuke pelan.

"Kau bilang apa?"

"Tidak ada," elak Sasuke cepat. "Dan tolong pastikan kau menjaga rahasia ini dengan baik, Naruto. Jangan mengatakannya pada siapa pun, terlebih pada Yamanaka Ino, Haruno Sakura dan Uzumaki Karin!"

.

.

.

Ino berencana makan siang saat melihat Naruto melangkah ke arahnya dengan wajah berseri-seri, siang ini. Aneh, pikirnya dengan kening ditekuk dalam. Kemarin Naruto terlihat berbeda sembilan puluh derajat dengan hari ini, sahabatnya itu bersikap seolah-olah tengah menanggung beban paling berat di dunia. Kemarin Naruto bersikap seperti seorang gadis yang tengah patah hati, namun sekarang? Sekarang dari ekspresi wajahnya saja Ino bisa menebak jika sahabatnya itu tengah bahagia setenga mati.

"Katakan padaku, apa yang menyebabkanmu begitu bahagia!" Ino meletakkan nampan makan siangnya di atas meja, lalu mendudukkan diri tepat di sebrang meja Naruto. Ia memutar kedua bola matanya. "Jangan menatapku seolah-olah kau tidak mengerti dengan maksud pertanyaanku."

Naruto menelan makanan di dalam mulutnya setelah mengunyahnya dengan tenang. "Aku memang tidak mengerti dengan apa yang kau katakan." Ia mencondongkan tubuhnya, berbisik, "Apa aku terlihat sebahagia itu hingga membuatmu heran?"

"Aku tidak akan bertanya jika sikapmu tidak terlihat sangat ganjil," sahut Ino dengan desisan tajam. Ia kembali meletakkan sendok dan garpu di atas nampan makan siangnya. "Apa kau sedang jatuh cinta?"

Naruto tersedak hebat, nyaris menyemburkan makanan di dalam mulutnya ke wajah Ino andai saja ia tidak tepat waktu menutup mulut dengan telapak tangannya. Wanita itu meneguk air putih miliknya dengan cepat, lalu memukul dadanya pelan, berharap makanan yang ditelannya segera turun dari tenggorokannya. "Jangan bercanda Ino. Jika managemen mendengar berita ini, aku bisa dipecat."

Ino mengerjapkan mata, mencondongkan tubuhnya dan kembali bertanya dengan nada serius. "Jadi benar kau sedang jatuh cinta?"

Hening.

"Apa kau sudah gila?" tanyanya dengan nada cemas. "Tolong katakan jika kau tidak mencintai salah satu pegawai di hotel ini," ucapnya setengah memohon. Ino hanya terlalu menyayangi Naruto hingga rasanya tidak rela jika sahabatnya itu harus dikeluarkan hanya karena mencintai salah satu pegawai di hotel mereka bekerja saat ini. "Aku lebih baik mendengar berita jika perasaanmu itu hanya bertepuk sebelah tangan."

Naruto kembali tidak menjawab. Lidahnya mendadak kelu. Ia tidak terbiasa berbohong, dan memutuskan jika Ino boleh mengambil kesimpulan apa pun mengenai kisah cintanya. Yang terpenting hubungannya dengan Sasuke tidak tercium, bukan?

"Jadi benar perasanmu hanya bertepuk sebelah tangan?"

Naruto masih tidak menjawab.

Ino mendesah, telihat menyesal sekaligus lega. "Maaf jika aku malah merasa lega mendengarnya," ujarnya membuat Naruto merasa bersalah karenanya. "Aku tahu jika hal ini pasti berat untukmu, tapi kau tahu sendiri jika kita dilarang memiliki hubungan romantis dengan sesame pegawai di tempat kita bekerja," terangnya terlampau dramatis. "Tapi kenapa kau terlihat sangat bahagia? Yang kuingat kau begitu sedih saat aku—" Ino menghentikan ucapannya. Ia terbelalak lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Naruto. "Kau menyukai Tuan Uchiha?"

Oh, Naruto nyaris mendapatkan serangan jantung karena ucapan Ino. Kenapa? Bagaimana bisa sahabatnya itu menebak dengan sangat tepat? Ini tidak bisa dibiarkan. Ia harus melakukan sesuatu agar Ino melupakan pemikirannya itu.

"Kau merasa bahagia hanya dengan menatap wajahnya, kan?" Ino kembali bertanya dengan nada sedih yang sama sekali tidak disembunyikannya. Ia menggelengkan kepala pelan. "Naruto, kau hanya menyakiti dirimu sendiri," tegurnya dengan nada halus. Ino melayangkan pandangannya ke segala penjuru, memastikan tidka ada orang lain yang mendengar ucapannya. "Akan lebih baik jika kau menyukai pria seperti Kiba misalnya," usulnya membuat Naruto nyaris tersedak hebat.

Ino terdiam sejenak, memasang pose berpikir. "Tapi, tidak," ralatnya cepat. "Jangan menyukainya, menurut gosip yang kudengar ia tengah mengincar wanita lain saat ini. Jadi lupakan dia dana hapus dari agendamu."

Naruto hanya bisa menyeringai di dalam hati. Siapa juga yang menyukai Kiba? Dia dan pria itu hanya teman baik, seperti hubungannya dengan Ino, tidak lebih.

"Kau harus bisa melupakan Tuan Uchiha dengan cepat, Naruto!" bisik Ino lagi masih dengan nada serius yang sama. "Dan jalan keluar untuk itu hanyalah kencan buta."

"Apa?!" pekik Naruto terlihat ketakutan. Tidak. Sungguh itu sebuah usulan yang amat sangat terdengar konyol di telinga Naruto. Kencan buta? Sasuke bahkan berniat memberi pelajaran pada Kiba yang menurutnya memiliki ketertarikan khusus pada Naruto, dan Naruto sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi pria itu saat mendengar usulan Ino tadi.

Ino menepuk-nepuk punggung tangan Naruto. "Aku tahu akan sangat sulit untuk menemukan pria sekelas General Manager kita," tukasnya penuh pengertian. "Tapi tidak ada salahnya untuk berusaha melupakannya, bukan?"

Hening.

"Kau tidak usah cemas, aku akan mengatur semuanya untukmu," tukas Ino serius.

.

.

.

"Jadi kenapa kau harus seresah ini mendengar ide—" Koyuki terdiam sejenak, terlihat berpikir keras untuk mengingat nama sahabat Naruto.

"Ino," sahut Naruto gemas.

"Ah, ya, Ino," beo Koyuki sebelum memasukkan sebuah potongan keripik kentang ke dalam mulutnya sementara ekor matanya terus mengikuti pergerakan Naruto yang masih berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. "Apa salahnya dengan pergi kencan buta?" ia balik bertanya membuat Naruto mendelik ke arahnya.

Koyuki memiringkan kepala ke satu sisi. "Kau tidak perlu memberitahu Sasuke mengenai hal ini, kan?"

Hening.

"Lagi pula ini kau lakukan demi menutupi hubungan kalian."

Koyuki kembali memasukkan potongan demi potongan keripik kentang ke dalam mulutnya. Sepertinya kedatangannya malam ini ke rumah Naruto memang sebuah keputusan yang tepat. Setidaknya adik angkatnya itu memiliki sebuah tempat untuk berbagi masalah. Well, walaupun Kurama ada di rumah, namun seorang wanita akan lebih mudah untuk menceritakan masalah pribadinya pada saudarinya daripada pada kakak laki-lakinya. "Ayolah, kau tidak sedang mengkhianatinya saat ini," ujar Koyuki dengan mulut penuh makanan.

"Bisakah kau berhenti makan?" ujar Naruto saat melihat remah-remah keripik berserakan di atas tempat tidurnya. "Kau membuat tempat tidurku kotor," sungutnya yang hanya dibalas senyuman lebar Koyuki. Ia kembali mendesah, sebelum menarik kursi bacanya ke sisi ranjangnya, lalu mendudukkan diri dengan keras. "Jujur saja, aku sangat takut jika Sasuke mendengar mengenai hal ini," ujarnya terlihat bingung.

Koyuki mengangguk pelan. "Apa dia semenakutkan itu?"

"Entahlah," jawab Naruto sembari mengangkat sebelah bahunya. "Sungguh aku tidak mau tahu mengenai hal itu."

"Kenapa kau tidak jujur saja padanya?"

"Dan membuat Ino dalam masalah besar?" tanyanya dengan mata terbelalak, takut. Ia menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak. Itu bukan ide bagus," ujarnya merinding ngeri.

Oke. Lupakan mengenai kejujuran, pikir Koyuki seraya meletakkan toples keripiknya ke atas nakas, lalu ia berdiri, mengangkat selimut untuk membersihkannya dari remah-remah yang berserakan. "Jadi apa yang akan kau lakukan?" Ia kembali bertanya dengan nada tenang seteah selesai menyingkirkan remah-remah makanan dari atas selimut milik Naruto. "Mungkin kau hanya perlu berpura-pura sakit."

"Dan memberi alasan bagi Ino untuk mengatur kencan buta lainnya?" Naruto mengangkat kedua tangannya ke udara saat mengatakannya. "Ino bukan tipe wanita yang cepat menyerah. Dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya."

"Tapi dia melakukan hal itu untuk menghiburmu." Koyuki mengingatkan, membuat Naruto melepas napas berat saat teringat alasan Ino menyusun rencana konyol itu. "Kusarankan kau untuk merundingkan masalah ini dengan kekasih keras kepalamu itu," usul Koyuki serius. "Dan jangan menungunya hingga berlarut-larut, Naruto, karena aku tidak yakin sebesar apa kemarahan Sasuke jika dia mendengar masalah ini dari mulut orang lain."

.

.

.

Naruto menarik napas lagi, terlihat tidak fokus saat dia membawa beberapa dokumen penting ke ruangan Sasuke, siang ini. Ucapan Koyuki tadi malam terus menari-nari di dalam kepalanya, membuatnya sama sekali tidak bisa mengerjakan pekerjaannya dengan baik selama seharian ini. Dan Naruto tidak kaget saat mendapat teguran keras dari Sasuke karena kecerobohannya itu.

"Apa kau sakit?" tanya Sasuke tanpa mengalihkan perhatian dari dokumen yang tengah dipelajarinya. Ia mengangkat wajahnya, menatap Naruto datar lalu menunjuk sebuah kalimat pada dokumen yang tengah dibacanya. "Kau membuat kesalahan lagi!" ujarnya masih dengan nada datar yang sama namun penuh penekanan.

"Maaf!" tukas Naruto. Ia menghela napas berat, membuat Sasuke menyempitkan mata dan menatapnya dengan tajam. "Duduk!" perintahnya tegas.

Dengan gerakan pelan Naruto mematuhi perintah itu. Ia menundukkan kepala, menatap jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuannya. "Saya akan segera memperbaiki kesalahan pada dokumen itu," ujarnya pelan.

"Tidak perlu," tukas Sasuke dingin. Ia melirik ke arah jam yang tergantung di dinding ruang kerjanya. Sudah jam lima sore. Itu berarti jam kerja Naruto sudah selesai, dan sekarang mereka bisa membicarakan masalah pribadi. Jujur saja, Sasuke sudah menahan diri sejak pagi untuk membahas masalah pribadi dengan Naruto. Ia sangat yakin jika kekasihnya itu tengah memiliki masalah, dan itu berhubungan dengannya.

Sasuke menyandarkan punggungnya dengan nyaman pada punggung kursi kerjanya. "Katakan, apa yang menganggumu hingga kau tidak bisa konsentrasi bekerja hari ini!"

Naruto tidak langsung menjawab. Ia kembali dibuat bingung. Apakah ia harus jujur atau mengelak dari pertanyaan Sasuke tadi. Ah, mungkin ini yang dirasakan Sasuke saat ia mencecarnya dengan pertanyaan demi pertanyaan mengenai hubungan pria itu dengan Samui.

"Naruto, aku masih menunggu penjelasanmu." Sasuke kembali berkata dengan nada tenang yang sama.

Naruto berdeham, menatapnya, berusaha untuk bersikap senormal mungkin di bawah tatapan intimidasi kekasihnya. "Aku hanya sedikit sakit kepala hari ini," jawabnya lembut. "Maaf karena sudah membuatmu khawatir," lanjutnya.

"Senyumanmu tidak akan berhasil untukku," tukas Sasuke membuat Naruto membelalakkan mata namun dengan cepat ia kembali menguasai dirinya. "Kau sedang berbohong padaku," lanjut Sasuke seraya mengetukkan jemarinya ke atas meja kerjanya yang mengkilap.

Hening.

"Aku masih menunggu, Naruto!"

Naruto tertawa hambar, lalu mengayunkan telapak tangannya di depan wajah. "Kenapa kau menuduhku berbohong?" ujarnya ringan. Oh, kenapa ruangan ini mendadak terasa panas? Tanyanya di dalam hati. "Untuk apa aku berbohong?" tanyanya lagi tanpa bisa menatap wajah Sasuke secara langsung.

Hening.

"Ah, sudah lebih dari jam lima. Sebaiknya aku pulang dan istirahat—"

"Aku belum mengizinkanmu untuk pulang," desis Sasuke saat Naruto berdiri dari kursinya dan hendak berbalik untuk meninggalkan ruangan itu. "Dan jangan pernah berpikir untuk bisa membohongiku dengan mudah, Namikaze Naruto!"

Naruto menelan kering, terlihat semakin gugup hanya dengan nada dingin yang dilontarkan oleh Sasuke saat ini. Demi Tuhan, apa yang harus dilakukannya sekarang? Berkata jujur hanya akan membuat Ino dalam masalah besar, namun ia pun tidak bisa melupakan apa yang dikatakan oleh Koyuki tadi malam—Sasuke akan marah besar jika mendengar mengenai masalah ini dari mulut orang lain, dan mengingat sikap Sasuke, Naruto yakin betul jika kekasihnya itu akan bersikap berlebihan menanggapinya.

Ia kembali duduk. "Bisakah kau mendengarkan penjelasanku dengan tenang dan tidak memotong ucapanku hingga aku selesai bicara?"

Sasuke menaikkan satu alisnya.

"Aku serius Sasuke, bisakah kau berjanji untuk melakukannya?"

Sasuke mengangkat bahunya, "Aku belum mengatakan apa pun, Naruto," sahutnya ringan, namun entah kenapa ketenangan pria itu justru membuat Naruto semakin gugup dibuatnya. "Apa kau berselingkuh?"

Naruto melotot. "Tentu saja tidak!" bentaknya dengan napas memburu. Bagaimana bisa Sasuke berpikir hingga sejauh itu? Pikirnya kesal.

"Syukurlah," desah Sasuke lega. "Aku merasa tenang mendengarnya," lanjutnya. "Tapi sikapmu membuatku bertanya-tanya, Naruto, apa yang kau lakukan hingga segugup ini saat bicara denganku."

Naruto tidak langsung menjawab. "Sebenarnya ini ada hubungannya dengan hubungan kita," jawabnya kemudian. Ia menarik napas dalam, menggigit bagian dalam mulutnya saat Sasuke kembali menghujaminya dengan tatapan tajam, penuh intimidasi. Ia menelan kering. "Ino menyangka jika aku menyukaimu," terangnya.

"Lalu apa masalahnya?" tanya Sasuke terdengar santai. "Tidak ada salahnya jika dia berpikiran seperti itu," lanjutnya. "Lagi pula, akan terdengar sangat aneh jika kau tidak tertarik padaku." Sasuke menyeringai puas saat melihat ekspresi terkejut Naruto. "Pesonaku terlalu besar untuk kau tolak," lanjutnya.

"Kau terlalu besar kepala!" desis Naruto, melupakan kegugupannya tadi. "Dan asal kau tahu, Ino berpendapat jika gagasan aku menyukaimu merupakan suatu masalah besar."

Sasuke mengatupkan mulutnya rapat. Ekspresinya kembali terlihat serius. Entah kenapa dia merasa jika dia tidak akan menyukai apa yang akan dikatakan oleh Naruto selanjutnya, terlebih saat Sasuke melihat Naruto kembali bergerak gugup di kursinya.

"Ino merencanakan sebuah kencan buta untukku," cicit Naruto kemudian.

"Apa?"

Jantung Naruto berdebar heboh saat mendengar nada dingin dari suara kekasihnya. Ia bahkan nyaris lupa bernapas saat dengan polosnya ia kembali bicara, "Ino merencanakan sebuah kencan buta untukku."

.

.

.

TBC

Sampai jumpa dichap selanjutnya! ^^

#WeDoCareAboutSFN