Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Drama, romance

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fic ini maupun fic milik saya lainnya!

Selamat membaca!

Mr. Arrogant

Chapter 13 : Secret Love

By : Fuyutsuki Hikari

Pada awalnya Naruto sama sekali tidak menyangka jika Sasuke tidak keberataan saat ia mengatakan jika Ino sudah mengatur kencan buta untuknya. Walau nada bicara kekasihnya itu terkesan dingin, namun Sasuke tidak mengutarakan keberatannya.

Jujur saja, Naruto merasa sakit hati karena sikap tidak peduli Sasuke. Dalam hati ia berharap jika pria yang akan menjadi teman kencan butanya sama tampannya atau bahkan lebih tampan dari Sasuke, karena hanya dengan cara seperti itu ia bisa membalas sakit hatinya pada Sasuke.

Namun rencana tinggallah rencana. Teman kencannya memang menarik, tapi tidak cukup tampan untuk menandingi Sasuke. Terlebih pria itu sangat senang memuji dirinya sendiri, dan itu membuat Naruto merasa muak padanya.

"Jadi, bagaimana acara kencanmu?

Naruto tidak langsung menjawab, ia mengambil botol air mineralnya dari atas meja, membuka tutupnya lalu meneguk isinya dengan rakus.

"Dia sangat tampan bukan?" Ino kembali bertanya dengan rasa bangga yang terselip dalam suaranya. "Aku tidak asal memilih pria untukmu," tambahnya sembari menepuk tangan Naruto.

"Tampan apanya?" gumam Naruto ketus. Ia meletakkan botol minumannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya dan menyempitkan mata. "Jujur Ino, apa kau pernah bertemu dengan pria asing itu sebelumnya?"

Ino tersenyum kaku. "Aku hanya melihat fotonya," jawabnya jujur. "Dia tidak mungkin seburuk itu, kan?"

Tentu saja kurang tampan jika dibandingkan dengan Sasuke, batin Naruto sebal. "Pria itu membuatku muak, Ino," ujar Naruto membuat satu alis Ino terangkat tinggi.

Naruto menghembuskan napas keras. Mood buruknya semakin memburuk karena Ino terus mendesaknya untuk menceritakan pengalaman kencan butanya. "Dia terus mengatakan seberapa besar gajinya, seberapa mapan kehidupan ekonominya, bahwa keluarganya berasal dari keluarga terhormat, dan alasan kenapa ia masih menyendiri hingga saat ini adalah karena ia belum mendapatkan wanita yang cocok dan sesuai dengan status sosialnya yang tinggi."

Ino terbelalak, namun tidak mengatakan apa pun.

"Dia tidak memberiku kesempatan untuk bicara," keluh Naruto. "Dan yang paling membuatku kesal, dia mengatakan aku sangat beruntung jika seandainya dia memilihku untuk menjadi istrinya," lanjutnya sinis. "Dia benar-benar brengsek, Ino. Dan kau harus pastikan jika dia tidak mencariku lagi."

Ino menelan kering dan mengangguk cepat. Pada awalnya ia ingin mengatakan jika teman kencan Naruto tadi malam meminta untuk bertemu kembali, namun melihat reaksi Naruto saat ini rasanya akan lebih baik jika ia tidak mengatakannya.

"Pastikan saja dia tidak muncul di hadapanku untuk kedua kalinya, Ino!" Ino tersentak, kaget saat Naruto menggebrak meja makan dengan cukup keras hingga membuat beberapa karyawan yang tengah menyantap makan siang melirik ke meja mereka. "Karena jika tidak—" ia menjeda, memberi tatapan mengancam pada Ino. "Karena jika tidak, aku akan pastikan Sai tahu jika kaulah yang membakar semua koleksi majalah pornonya."

Ino tertawa kering. "Kau tidak mungkin melakukannya."

Naruto mengendikkan bahu. "Berani bertaruh?" tanyanya yang segera dijawab gelengan kepala oleh Ino.

.

.

.

Tidak ada yang lebih membuat mood Naruto lebih buruk sepanjang hari ini selain sikap cuek Sasuke. Pria itu bekerja seperti biasa. Memerintahnya ini dan itu, tanpa menatapnya, tanpa bertanya apa kencan butanya berhasil tadi malam?

Sasuke begitu tenang, terkendali, memastikan pekerjaannya tidak terganggu dengan kehidupan pribadinya, dan entah kenapa hal itu malah membuat Naruto sangat kesal.

"Apa hanya aku yang terpengaruh oleh hubungan kami?" gumamnnya nyaris tidak terdengar. Naruto melirik jam digital yang diletakkan di samping komputernya. Sudah hampir jam pulang, sungutnya.

Ia segera merapikan map-map arsip yang tergeletak di mejanya, menyusunnya rapi pada sebuah lemari yang ada di belakang meja kerjanya.

Tidak perlu pamit pulang, pikirnya dengan delikan tajam ke arah pintu ruangan Sasuke yang tertutup rapat, namun suara dering telepon menyentaknya. Ia menghela napas keras saat melihat lampu line telepon yang berkedip saat ini.

"Untuk apa kau menghubungiku?" dengusnya walau pada akhirnya ia tetap mengangkat gagang telepon dan menjawab dengan nada profesionalnya, "Halo?!"

"Ke ruanganku!"

Naruto berdecak, meloto pada gagang telepon miliknya saat suara klik pelan terdengar di ujung sambungan. Wanita itu memang sudah terbiasa dengan nada perintah Sasuke, namun tetap saja hal itu seringkali membuatnya kesal setengah mati.

"Duduk!" perintah Sasuke saat Naruto menutup pintu ruang kerjanya. Tanpa banyak bicara Naruto segera duduk, menungu kekasihnya yang terlihat masih sibuk mememriksa beberapa laporan dari bagian food and beverage.

"Bagaimana kencan butamu semalam?"

Ah, akhirnya dia bertanya. Naruto mendengus, mencibir di dalam hati. "Berjalan dengan sempurna," jawabnya santai. Ia memalingkan wajah, menatap deretan piala yang berjejer rapi di lemari kaca di sudut ruangan.

Naruto menggigit bibir bawahnya, melirik lewat sudut matanya, menimbang-nimbang apa perlu ia berbohong demi menyelamatkan harga dirinya? Tidak ada salahnya, pikirnya naif. Lagipula Sasuke terlihat tidak peduli.

"Dia cukup tampan," puji Naruto dengan nada hangat. Ia tersenyum kecil, seolah-olah menikmati percakapannya dengan teman kencan butanya tadi malam. Sasuke tidak perlu tahu jika ia pulang menggunakan taksi bukan?

"Dia juga pendengar yang baik, dan jelas sangat ramah," lanjutnya. Naruto berdecak pelan, tertohok karena Sasuke tidak mengatakan apa pun.

"Benarkah?" tanya Sasuke datar.

Naruto mengangguk cepat. "Tentu saja benar." Ia menyipitkan mata. "Apa kau menuduhku berbohong?"

"Kenapa aku harus menuduhmu berbohong?" balas Sasuke cuek. Pria itu menyandarkan punggungnya pada punggung kursi kerjanya yang nyaman, sementara tangannya memainkan sebuah pulpen mahal yang tergeletak di atas meja. "Apa dia mengantarmu pulang?"

"Tentu saja," sambar Naruto cepat. Emosinya semakin tersulut oleh sikap Sasuke. Demi Tuhan, kekasihnya tidak terlihat cemburu. Apa Sasuke sudah tidak menyukainya lagi? Batinnya getir. "Dia bahkan mengantarku hingga depan pintu rumah," lanjutnya dengan dagu terangkat.

"Begitu?" beo Sasuke datar.

"Apa kau memanggilku hanya untuk menanyakan hal ini?"

Satu alis Sasuke terangkat tinggi. "Ya," jawabnya pendek.

"Kalau begitu lebih baik aku pulang," tukas Naruto. Ia bergerak untuk berdiri. Wajahnya memerah marah. Langkahnya terdengar sedikit menghentak sementara Sasuke tersenyum puas di kursi kerjanya.

"Jadi dia mengantarmu pulang, huh?"

Naruto terbelalak, saat indra pendengarannya menangkap nada geli dalam suara Sasuke. Dengan kening ditekuk ia membalikkan tubuhnya. "Apa maksudmu?"

Sasuke mengendikkan bahu. "Tidak ada."

"Bohong." Naruto mendesis. Ia kembali berjalan ke arah meja kerja Sasuke. "Kau terdengar mengejekku," katanya sinis.

Hening.

Naruto terkesiap. "Kau," tunjuknya tepat di wajah Sasuke. "Jangan katakan jika kau membuntutiku tadi malam."

Sasuke tidak menjawab. Pria itu hanya tersenyum tipis, menatap lurus wajah kekasihnya dengan binar geli.

"Jadi benar kau mengikutiku?"

Benar. Sasuke tidak mungkin bersikap setenang ini jika tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Logika itu membuat Naruto menipiskan bibirnya, geram karena kekasihnya secara terang-terangan tengah mengoloknya saat ini. "Sekarang kau puas?" desisnya dengan kedua tangan terkepal erat. "Kau sengaja memanggilku untuk menertawaiku bukan?"

Sasuke tidak menjawab, walau binar geli itu masih belum hilang dari kedua netra gelapnya.

Naruto membusungkan kepala, mengangkat dagunya tinggi. "Lihat saja, untuk kencan buta selanjutnya aku pasti menemukan pria yang jauh lebih tampan darimu."

Sasuke menyipitkan mata. "Aku tidak suka leluconmu."

"Siapa bilang aku bercanda?" balas Naruto sengit.

"Berhenti, Namikaze Naruto!" bentak Sasuke membuat Naruto berhenti melangkah. "Berhenti atau kau akan menyesali kekeras kepalaanmu itu," ancamnya membuat Naruto untuk sekejap diam di tempat. Sayangnya amarahnya terlalu besar saat ini, hingga ia memutuskan untuk kembali berjalan dan membanting pintu di belakangnya keras.

.

.

.

Mungkin Naruto harus mulai menerima bahwa segala sesuatu tidak bisa selamanya berjalan sesuai dengan keinginannya. Niat untuk membalas dendam pada Sasuke sementara ini harus ditekannya kuat. Tekad membara yang diperlihatkannya sebelum pulang tadi harus kembali meredup dengan menyedihkan.

Keberaniannya tidak cukup besar untuk meminta Ino mencarikan seorang pria lain untuk kencan butanya. Ia tidak mungkin menelan kembali ucapannya yang dengan tegas meminta Ino untuk berhenti mencarikannya pasangan.

Ia juga tidak mungkin meminta pada Koyuki untuk mengenalkan dirinya dengan salah satu koleganya.

Naruto menunduk, menatap pakaian tidur sederhana berwarna putih bergaris kuning cerah yang dikenakannya.

Ah, artis mana yang mau dengan wanita kekanakkan seperti dirinya?

Ego Sasuke pasti akan semakin melambung tinggi jika tahu Naruto dicampakkan oleh teman kencan butanya yang lain.

"Tidak boleh terjadi!" tegas wanita itu pada dirinya sendiri. Cukup kali ini saja Sasuke menertawainya. Ia tidak akan mengizinkan pria itu untuk menghinanya dilain waktu.

Naruto harus cukup puas dengan keadaannya saat ini. Well, setidaknya tidak ada satu orang pun yang melihatnya menangis. Untuk mendramatisir keadaan ia sengaja memutar sebuah drama percintaan lama yang memiliki alur tragis. Setidaknya ia memiliki alasan lain untuk menangis malam ini.

Kegiatannya sejenak terhenti saat telinganya mendengar suara bel pintu. Naruto mengernyit, melirik jam yang tergantung di dinding. Siapa yang datang bertamu semalam ini? Pikirnya.

Kakaknya—Kurama tidak mungkin pulang, kan? Seharusnya dia masih ada di Sapporo saat ini. Dengan perasaan was-was Naruto berjalan menuju pintu rumahnya. Ia mengintip lewat lubang kecil di pintu. Ekspresinya berubah masam saat mengenali sosok yang kini berdiri di depan pintu rumahnya.

Dengan kesal ia membuka pintu, lalu menjulurkan kepalanya ke luar. "Ada urusan apa kau datang?" tanyanya tidak bersahabat. "Apa kau tahu sudah jam berapa sekarang?"

Sasuke tersenyum tipis, mengabaikan nada sinis dalam suara kekasihnya. "Jam Sembilan kurang sepuluh menit," jawabnya cuek. "Boleh aku masuk?" tanyanya. "Setidaknya tawari aku secangkir kopi," lanjutnya saat Naruto menyipitkan mata padanya.

"Masuk!" undang Naruto seraya membuka lebar pintu rumahnya. "Kenapa?" tanyanya sebal saat Sasuke menyipitkan mata dengan tangan bersidekap. "Kau mengajakku bertengkar lagi?"

"Apa kau selalu membuka pintu dengan pakaian seperti itu?" desis Sasuke.

Naruto memutar kedua bola matanya. Pada awalnya ia tidak berniat membuka pintu lebar, sementara tubuhnya tersembunyi dengan baik di belakang pintu. Kalau Sasuke tidak memintanya untuk masuk dan menikmati secangkir kopi, tentu pria itu tidak akan melihatnya dengan pakaina tidur, kan? Jadi ini salah Sasuke, pikirnya kesal.

Ah, seharusnya ia tidak mengundang Sasuke masuk, pikirnya menyesal.

"Aku tidak berniat untuk mengundanmu masuk, ingat?" katanya setelah menutup pintu lalu berjalan melewati lorong pendek menuju ruang tengah. "Duduk di sini saja," tukasnya pada Sasuke sementara ia kembali berjalan menuju dapur.

"Setelah minum kau harus pulang!" ujar Naruto saat meletakkan secangkir kopi di atas meja. Ia menghempaskan diri di sudut terjauh sofa, berusaha untuk menjaga jarak dengan Sasuke.

Sasuke mengendikkan bahu, terlihat tidak peduli. "Mana kakakmu?" tanyanya setelah terdiam beberapa saat. Ia melirik ke arah Naruto, satu alisnya kembali terangkat. "Warna baju tidurmu cantik," ujarnya dengan seringai menyebalkan.

Naruto menghela napas kasar. Meraih sebuah bantal santai untuk menutup pahanya yang terkespos. "Kakakku sudah tidur." Jawabnya kaku.

"Aku tidak melihat mobilnya," balas Sasuke setelah menyesap kopinya nikmat.

"Kau memata-mataiku?"

Sasuke menggelengkan kepala pelan, meletakkan gelas kopinya di atas meja lalu menggeser tubuhnya untuk mendekat pada Naruto yang semakin tersudut. "Tidak," jawabnya tenang. "Aku hanya sedikir mengintip ke dalam garasimu."

"Sama saja," bentak Naruto kesal. "Kau benar-benar mengesalkan."

"Aku tahu," jawab Sasuke dengan seringai menyebalkan. "Dan aku bangga karenanya."

Naruto diam sejenak sebelum kembali bicara.

"Sebenarnya apa maksudmu datang ke rumahku?"

"Aku mau menginap," godanya dengan kerlingan sensual penuh janji.

Naruto terbelalak. Ia nyaris tersedak hebat mendengar nada bicara kekasihnya. "Kau pasti bercanda," ujarnya yang dengan segera meraih sebanyak-banyaknya bantal kursi untuk menutup tubuhnya. "Jangan macam-macam atau aku akan teriak!"

Sasuke tergelak, lalu membuka jas dan melonggarkan dasinya, sementara Naruto hanya bisa menyaksikannya dengan tatapan horror. "Andai aku menginap sekalipun bukankah aku bisa tidur di tempat lain?" katanya. "Kenapa kau berpikir jika aku akan tidur di kamarmu?"

"Karena pria tidak bisa dipercaya," balas Naruto sengit. "Terlebih pria sepertimu."

"Seperti aku?" beo Sasuke. Ia memiringkan kepala ke satu sisi. "Memangnya apa yang bisa kulakukan?" tanyanya dengan nada polos. "Ah, benar. Aku harus menghukum kekasihku yang bandel. Bukan begitu?"

Naruto menelan kering. "Bandel? Aku?" beonya. "Kau pikir aku anak kecil?"

"Benar, kau gadis kecil yang harus kuhukum," balas Sasuke. "Bagaimana bisa kau dengan santainya mengatakan akan mencari pria lain untuk menjadi teman kencan butamu?"

Naruto tidak menjawab. Ia menarik salah satu bantal yang coba direbut oleh Sasuke, namun gagal. Dengan santai pria itu melempar bantal yang berhasil direbutnya ke sembarang arah.

"Kau bahkan nekat datang ke acara kencan buta itu," lanjut Sasuke dengan nada tenang namun mengancam.

"Ta-tapi kau tidak melarangku," ujar Naruto membela diri.

Sasuke menyeringai. Satu alisnya terangkat. "Tapi bukan berarti kau bisa bebas memutuskan untuk datang," kilahnya. "Kau bahkan tidak bisa menangkap apa yang kuinginkan." Sasuke kembali merebut sebuah bantal kursi dari tangan Naruto, terus bergerak untuk mengikis jarak diantara keduanya.

"Seharusnya kau tahu jika aku tidak mungkin mengizinkanmu untuk menemui pria lain," desis Sasuke. "Aku bahkan sudah siap menghajar pria itu tadi malam, andai aku tidak melihat bagaimana bosannya dirimu saat bicara dengannya."

"Dan itu menjadi hiburan tersendiri untukmu?"

Sasuke mengangguk. "Ya. Itu memberikanku sebuah ide untuk menggodamu," terangnya membuat Naruto gemeretak, kesal. Ia menarik tengkuk Naruto, menatap wanita itu penuh arti lalu mengulum mulut Naruto yang terkesiap kaget.

.

.

.

TBC

Sampai jumpa dichap selanjutnya! ^^

#WeDoCareAboutSFN