Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Drama, romance
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fic ini maupun fic milik saya lainnya!
Selamat membaca!
Mr. Arrogant
Chapter 14 : I Wanna Be With You
By : Fuyutsuki Hikari
"Puji Tuhan!" Naruto mengangkat kedua tangannya ke udara. Ia sangat bersyukur karena Sasuke akhirnya bersedia untuk pulang. Pria itu berbahaya, pikirnya sembari menyandarkan punggungnya pada pintu di belakangnya.
Naruto menoleh, mengintip lewat jendela rumahnya. Ia memastikan Sasuke untuk masuk ke dalam mobilnya dan berlalu pergi.
Sebuah helaan napas lega kembali terdengar. Ia harus mencari cara untuk kebal dari pesona pria itu. Tapi bagaimana caranya?
Naruto menggigit bibir bawahnya. Sekarang ia benar-benar merasa bingung. Pesona pria itu terlalu kuat untuk dilawannya. Namun ia tidak bisa terus diam dan terus dipermainkan oleh Sasuke. Iya, kan?
Tapi bagaimana caranya? Naruto berjalan pelan menuju ruang santainya. Dengan keras ia menghempaskan diri di atas sofa nyamannya. Wanita itu menarik napas dalam, lalu memeluk sebuah bantal kursi yang masih beraromakan wangi khas Sasuke.
Naruto terbelalak. Dengan cepat ia melempar bantal di tangannya ke atas lantai. Bagaimana bisa ia menghadapi pesona pria itu jika hanya dengan mencium sisa-sisa aroma tubuhnya saja ia sudah begitu terhipnotis?
"Menyebalkan!" erangnya frustrasi.
Naruto mengacak rambutnya. Bagaiman jika hal ini hanya terjadi padanya saja? Bagaimana jika Sasuke tidak menyukainya seperti ia menyukai pria itu?
Naruto menekuk keningnya dalam. Bukankah pria itu memintanya untuk percaya padanya?
"Arghhh… bagaimana aku bisa percaya jika Sasuke selalu dikelilingi wanita-wanita cantik?" erangnya kesal. Senyum wanita itu merekah saat sebuah ide melintas dalam benaknya. Ya. Ia tidak perlu mencemaskan wanita lain, karena yang harus dilakukannya hanya satu; membuat Sasuke terus menatapnya hingga melupakan wanita cantik selain dirinya.
.
.
.
Ino menyipitkan mata, menatap lekat Naruto yang duduk dan menyantap makan siangnya dengan tenang di sebrang mejanya. "Kau terlihat berbeda," ujar wanita berambut pirang itu, menyuarakan apa yang ada di dalam benaknya. Sebenarnya Ino sudah merasakan perbedaan itu saat melihat penampilan Naruto tadi pagi, tapi ia baru merasa benar-benar yakin setelah berada begitu dekat dengan sahabatnya itu.
Wanita itu mengendus udara di sekitarnya, mengabaikan Naruto yang memasang ekspresi kesal. "Kau memakai parfum merk lain," ujarnya. "Kau juga mewarnai kuku-kuku tanganmu." Ino menunjuk kuku jari tangan Naruto yang diberi cat kuku bewarna merah muda lembut.
"Apa terlihat bagus?" tanya Naruto seraya menyodorkan jari tangannya tepat di depan hidung Ino. "Seseorang memberiku beberapa cat kuku dengan warna-warna cantik," terang Naruto tanpa memberitahu secara spesifik jika yang memberinya cat-cat kuku itu adalah Koyuki. "Bukankah terdengar tidak sopan jika aku tidak menggunakan barang pemberiannya?"
Kedua alis Ino saling bertaut. "Dan parfum ini…" ujarnya sembari mengendus dengan eras. "Ini parfum bermerk, kan? Harganya pasti sangat mahal."
Naruto mengangkat bahunya acuh. "Entahlah," akunya jujur. "Seseorang memberikannya padaku jadi kupakai saja."
"Oh, Tuhan…" Ino terbelalak dengan mulut terbuka lebar. "Apa sekarang kau memiliki seorang ibu peri?" tanyanya dengan kekaguman yang tidak ditutupi. "Aku bahkan harus menabung selama beberapa bulan untuk bisa membeli parfum dengan merk yang kaupakai saat ini," keluh Ino terdengar kesal.
Ino berhenti sebentar. Matanya mengawasi keadaan sekitarnya. "Apa pacarmu yang membelikannya untukmu?" tanyanya setengah berbisik hingga membuat Naruto tersedak hebat.
Dengan cepat Naruto meneguk minumannya lalu melotot dan balas menjawab pertanyaan Ino dnegan nada ketus, "Tentu saja tidak. Kakak angkatku yang memberikannya padaku," terangnya membuat rasa penasaran Ino semakin bertambah besar.
"Kakak angkat?" beo Ino sembari mengetuk-ngetukkan jari di atas meja makan. "Aku tidak pernah tahu jika kau memiliki kakak angkat," ujarnya. "Kau bahkan tidak pernah memperlihatkan foto keluargamu yang lain selain Kak Kurama," sambungnya dengan satu alis terangkat.
Naruto mengelap mulut dengan serbet. "Kakak angkatku tidak ada di Tokyo. Dia berada di luar kota karenanya kami jarang bertemu," jawabnya berbohong. Naruto tidak mungkin mengatakan jika Koyuki adalah kakak angkatnya. Lagipula ia yakin jika Ino tidak akan mempercayainya jika ia mengatakan hal itu. "Karena hal itu juga kau tidak pernah bertemu dengannya," lanjutnya tenang.
Naruto menghela napas. Ia menggeser kursi makannya lalu bergerak untuk berdiri sembari membawa nampan makan siangnya yang sudah habis. "Aku akan memberikan dua buah cat kuku-ku hanya jika kau berjanji tidak menanyakan hal ini lagi," tukasnya membuat Ino menyipitkan mata—memasang pose berpikir.
"Deal!" pekik wanita itu dengan senyum terkembang. Ino menengadahkan tangan diudara. "Jadi mana?"
"Ck, aku akan membawanya besok," balas Naruto sengit.
"Baiklah," balas Ino dengan sikap hormat berlebihan. "Apa pun demi cat kuku mahal," sambungnya membuat Naruto memutar kedua bola matanya dan berlalu pergi meninggalkan Ino yang semakin lahap menghabiskan jatah menu makan siangnya.
.
.
.
Kakashi tersenyum saat melewati meja kerja Naruto, sementara Sasuke—seperti biasanya, pria itu selalu menganggap wanita itu sebagai makhluk astral saat jam kerja. "Eh…?" Kakashi mengernyit lalu kembali ke meja Naruto dan mengendus udara di sekitar wanita itu.
"Kau ganti parfum?" tanyanya to the point.
Naruto mengerjapkan mata. Ia sama sekali tidak menyangka jika aroma wangi yang dikeluarkan parfumnya bisa tercium tajam. Dengan ragu ia menganggukkan kepala. Naruto berusaha untuk memusatkan pandangannya pada Kakashi saat merasakan aura gelap yang menguar dari tubuh kekasihnya.
Kakashi kembali mengendus. "Aromanya begitu seksi," pujinya membuat Naruto tersenyum kaku. "Aku menyukainya. Kau sudah dewasa rupanya!" ujarnya seraya menepuk bahu Naruto yang terlihat semakin gugup di kursi kerjanya.
"Terima kasih!" kata Naruto masih dengan senyum kaku sementara Kakashi mengalihkan tatapannya pada Sasuke yang menatap Naruto tanpa ekspresi.
"Tuan GM, sebaiknya kau berhati-hati," tukas Kakashi membuat satu alis Sasuke terangkat naik, tidak mengerti. Kakashi terdiam beberapa saat sementara telunjuknya menunjuk tepat pada Naruto. "Sekretaris sementaramu ini ternyata seorang wanita dewasa," ujarnya tanpa beban. "Dia bukan anak kecil. Hat-hati, kau bisa dibuat jatuh cinta olehnya."
Sasuke tidak menjawab.
Kakashi menggelengkan kepala. "Pantas saja banyak pegawai pria yang diam-diam menaruh hati pada Namikaze," lanjutnya membuat Naruto menelan ludahnya dengan susah payah.
Dari sudut matanya Naruto bisa melihat tatapan Sasuke yang terlihat mengancam dan marah.
Sial. Lagi-lagi ia salah mengambil strategi.
.
.
.
Naruto melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir jam tujuh malam, pantas badannya terasa sangat pegal. Ia mendesah keras. Pekerjaan hari ini terasa lebih melelahkan daripada hari-hari biasanya. Ia mengernyit. Tumben Sasuke tidak memerintahkannya untuk masuk ke dalam ruangannya untuk mengambil atau menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan oleh pria itu.
Apa dia benar-benar marah?
Naruto menggelengkan kepala dengan cepat. Ia berusaha untuk mengenyahkan pikiran buruk itu. Mungkin apa yang dilihatnya tadi hanya sebuah kebetulan saja. Mungkin Sasuke memang sangat sibuk. Bukankah sebentar lagi musim liburan? Pihak managemen pasti sangat sibuk menyiapkan segala persiapan untuk menyambut musim liburan, pikirnya.
Wanita itu merapikan kembali dokumen-dokumennya yang sudah sebenarnya sudah rapi, sebelum akhirnya ia meraih blazer berwarna hitamnya dan mengenakannya. Sekarang sudah bukan jam kerja, jadi tidak apa jika ia datang menemui Sasuke dan bertanya hal pribadi, kan?
Naruto mengetuk pintu pelan, lalu menjulurkan kepala untuk melihat ke dalam ruangan kerja kekasihnya. Seperti biasa, Sasuke masih berkutat dengan pekerjaannya. "Aku mau pulang," ujarnya setelah masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu di belakangnya pelan.
Sasuke tidak menjawab. Pria itu masih fokus pada layar laptop-nya.
"Kau mau pulang jam berapa?" tanya Naruto saat Sasuke tidak kunjung buka suara. Wanita itu mendesah panjang. "Mau kubuatkan kopi?" tawarnya dengan nada merdu. Ia berusaha untuk mencairkan kecanggungan diantara mereka. Ah, atau lebih tepatnya mencairkan kecanggungannya.
Naruto menjeda. Wanita itu masih menungu tanggapan dari Sasuke tapi nihil.
"Kalau begitu aku pulang," ujarnya sembari berbalik.
"Tunggu!" ujar Sasuke saat Naruto hendak membuka pintu. "Aku belum mengizinkanmu untuk pulang," sambungnya membuat Naruto menghela napas panjang.
Sabar, batin Naruto. Ia berbalik dengan gerakan pelan. "Apa ada hal lain yang bisa saya bantu, Pak?" tanyanya penuh penekanan pada kata terakhirnya.
Hening.
Naruto mengepalkan kedua tangannya dan setengah menyentakkan kaki saat Sasuke memerintahkannya untuk duduk di depan meja kerjanya. Pria itu bahkan hanya memerintah dengan gerakan tangannya. Benar-benar tidak sopan, batin Naruto geram. Namun lagi-lagi ia hanya bisa menelan kemarahannya itu dalam dada.
"Sebentar lagi aku selesai," tukas Sasuke. "Aku akan mengantarmu pulang."
Naruto mengerjapkan mata. "Tapi ini masih sore."
"Lalu?" balas Sasuke dengan pandangan menusuk. "Apa aku tidak boleh pulang bersama kekasihku sendiri?" tanyanya dengan lirikan dan nada sinis.
"Kalau begitu aku tunggu di sebrang jalan," usul Naruto yang segera ditolak keras oleh Sasuke.
Pria itu tersenyum sinis. "Kau mau menungguku di pinggir jalan dengan penampilan dan aroma parfum yang kau pakai saat ini?" cibirnya membuat Naruto memiringkan kepala ke satu sisi, tidak mengerti. "Kau mau pria lain memujimu seperti yang dilakukan Hatake tadi?"
Kedua mata Naruto membola. Jadi Sasuke cemburu? Tapi tetap saja perkataan yang diucapkan dengan nada ketus itu membuat kemarahan Naruto semakin menjadi. Bagaimana bisa Sasuke menuduhnya dengan tuduhan seperti itu?
"Kau menuduhku meminta perhatian pria lain?" desis Naruto tidak terima. "Apa kau tidak sadar kenapa aku melakukan hal ini?" sambungnya dengan napas terengah karena marah. "Aku melakukannya untukmu, Uchiha Sasuke!"
Naruto menggebrak meja kerja Sasuke keras. Lalu berdiri dan mencondongkan tubuhnya pada pria itu.
Keheningan meraja.
Sasuke yang masih diliputi oleh rasa cemburu, menulikan pendengarannya. Ia balas menatap Naruto lekat hingga membuat kemarahan kekasihnya itu semakin memuncak.
"Aku berpenampilan menarik hanya untukmu, Sasuke!" tukas Naruto setengah memekik. Ia menarik dasi yang dikenakan Sasuke hingga pria itu maju ke arahnya.
Naruto bernapas keras. Wajahnya hanya berjarak beberapa centi dari wajah pria di hadapanya. "Aku mengganti parfumku untuk menarik perhatianmu, bukan untuk menarik perhatian pria lain."
"Sayangnya pria lain pun ikut tergoda," balas Sasuke dingin. Ia menangkup wajah Naruto dengan kedua telapak tangannya. "Kau milikku, aku tidak suka pria lain memujimu atau menikmati kecantikanmu. Apa kau masih tidak juga mengerti jika aku cemburu?"
"Tapi cemburumu keterlaluan!" pekik Naruto keras. Ia melepaskan genggaman telapak tangan Sasuke pada wajahnya lalu mendengus keras. "Kau bahkan sudah tahu jika aku tidak mungkin berpaling darimu."
Sasuke tidak langsung menjawab. "Bagaimana jika kau merasa muak dan bosan padaku?" tanyanya.
Kedua mata Naruto membola. Ia sama sekali tidak menyangka jika pria itu akan menayakan pertanyaan bodoh itu.
"Kau pasti bisa mendapatkan pria manapun yang kau inginkan," sambung Sasuke tajam.
"Tapi yang kuinginkan hanya kau," sahut Naruto gemas. Ia kembali mencondongkan tubuhnya lalu mendaratkan sebuah kecupan kecil di bibir Sasuke. "Hanya kau. Bukan yang lain." Naruto menghela napas. Ia memberikan waktu pada Sasuke untuk mengendalikan perasaan cemburunya. "Sekarang apa kau masih mau mengantarku pulang atau tidak?"
Sasuke mengangguk.
"Kalau begitu aku tunggu di tempat biasa," kata Naruto sebelum berbalik pergi.
.
.
.
Ino tersenyum lebar saat menatap hasil pekerjaannya malam ini. Oh, Tuhan, akhirnya ia bisa pulang juga. Wanita itu melepas napas lelah, bahunya terlihat lesu. Saat ini ia hanya ingin pulang dan berendam lama dalam air hangat. Pasti menyenangkan, pikirnya.
Dengan semangat Ino bergegas menuju loker karyawan, berganti pakaian lalu mengambil tas tangannya yang disimpan dalam loker.
Ino menyempatkan diri melihat pantulan dirinya pada sebuah cermin duduk yang disimpan dalam lokernya. Setelah memulaskan lipstick berwarna peach ia pun menutup kembali loker dan bergegas meninggalkan ruang ganti karyawan yang sangat sepi saat ini.
Akan sangat menyenangkan jika ia punya teman pulang saat ini, ujarnya dalam hati. Ino mengangkat wajahnya, menatap langit yang sudah gelap. Sayang sekali Sai tidak bisa menjemputnya.
Ino mendengus keras, sementara kakinya menendang apa pun yang bisa ditendangnya. Sesaat ia berdiri di samping jalan. Mungkin akan lebih baik jika ia pulang naik taksi walaupun ongkosnya jauh lebih mahal dari bus. Tapi itu satu-satunya jalan agar ia bisa sampai di rumah dengan cepat.
Wanita itu pasrah jika malam ini harus merogoh isi dompetnya lebih dalam.
Ino kembali menunggu dengan tidak sabar. "Ayolah…" bisiknya semakin tidak sabar. Wanita itu melambaikan tangannya untuk memberhentikan taksi, tapi sepertinya ia kurang beruntung karena setiap taksi yang melewatinya sudah memiliki penumpang.
"Kenapa banyak sekali godaan dalam hidupku?" tanyanya sebal. Ia kembali menunggu. Sejenak ia meragu apa sebaiknya ia langsung pulang atau mampir di restoran terdekat untuk membeli makan malam? Ino menimbang-nimbang hingga akhirnya rasa lapar mengalahkannya.
Wanita itu kembali berjalan hingga zebra cross, dan menyebrang saat lampu untuk pejalan kaki berubah warna menjadi hijau. Suasana mala mini sedikit lenggang. Mungkin karena udara semakin dingin di penghujung bulan ini, pikirnya.
Ino merapatkan coatcoklat panjang yang dikenakannya, lalu menarik syal merah hingga menutupi sebagian wajahnya. "Eh, bukankah itu Naruto?" ujarnya pada dirinya sendiri.
Ia baru saja akan memanggil nama sahabatnya itu saat sebuah mobil sedan yang dikenalnya dengan sangat baik berhenti tepat di depan Naruto.
"Tuan Uchiha?" gumam Ino nyaris tidak percaya akan apa yang dilihatnya saat ini. Oh Tuhan, seorang Uchiha Sasuke tersenyum lembut dan membukakan pintu mobil untuk Naruto?
Ino terkesiap kaget dan menjambak rambutnya sendiri.
Aku pasti sedang bermimpi, tukasnya dalam hati seraya memperhatikan kendaraan Sasuke yang melaju pergi dengan membawa Naruto di dalamnya.
.
.
.
TBC
Sampai jumpa dichap selanjutnya! ^^
#WeDoCareAboutSFN
