Haiiiii... Nggak kerasa lebih dari dua tahun ff ini belum diupdate. Maaf yah! Semoga masih ada yang menunggu kelanjutannya. ^^
.
.
.
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Drama, romance
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fic ini maupun fic milik saya lainnya!
Selamat membaca!
Mr. Arrogant
Chapter 16. Hold Me Close
By : Fuyutsuki Hikari
Perasaan Naruto masih tidak tenang walau Sasuke sering memberinya pengertian, tidak apa-apa jika hubungan mereka diketahui oleh pegawai lain. Sasuke berpikir jika itu bukan hal besar karena dia sangat yakin bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Namun, tidak dengan Naruto.
Benar, anggap saja Naruto berlebihan, tapi dia tidak bisa membayangkan berada di perusahaan berbeda dengan kekasihnya. Hubungan mereka masih sangat muda, dan hubungan terkendala jarak bukan menjadi pilihan saat ini.
Mengembuskan napas pelan, Naruto menatap sosok sahabatnya dari balik bulu mata lentiknya. Di seberang meja, Ino terlihat sangat menikmati menu makan siang yang tengah disantapnya, siang ini.
Pandangan Naruto diarahkan ke piring miliknya yang masih nyaris utuh. Sudah beberapa hari ini nafsu makannya menghilang entah kemana?
"Kenapa kau tidak makan?" Ino menunjuk sahabatnya dengan sumpit di tangan. Satu alis wanita itu diangkat tinggi, kedua matanya disipitkan. "Makan!" perintahnya tegas, tapi Naruto bergeming. Makanan membuatnya mual. Stres membuat asam lambung wanita itu naik.
Ino melepas napas dengan ekspresi khawatir. "Sebenarnya kau kenapa?" tanyanya nyaris berbisik. Meja di kanan kiri mereka baru saja kosong hingga Ino berani bertanya. Mereka masih memiliki setengah jam untuk istirahat siang sebelum memulai kembali pekerjaan mereka masing-masing.
"Apa kau masih khawatir orang lain mengetahui hubunganmu dengan—kau tahu." Ino mengedikkan bahu.
Kedua bahu Naruto merosot. Jelas sekali wanita itu tengah tegang saat ini. Bedak tipis yang dibubuhkan di wajah tidak bisa menutupi pucat di sana. Dengan malas Naruto mengaduk-aduk makanannya sebelum akhirnya menganggukkan kepala, lemas.
Melihat sikap Naruto saat ini membuat Ino yakin jika masalahnya tidak sesederhana itu. Ada hal lain yang mengganggu Naruto. "Apa lagi?"
Naruto mengangkat kepala. Pandangan keduanya bertemu. "Maksudmu?"
"Apa lagi yang mengganggumu selain hal itu?"
Ino bisa melihat keraguan dalam ekspresi Naruto saat ini. Lihat saja bagaimana dengan gugup sahabatnya itu menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. "Tidak perlu bicara jika kau tidak ma—"
"Menurutmu apa aku pantas untuknya?" potong Naruto membuat Ino mengatupkan mulut, rapat.
Ah, Naruto dan segala pikirannya yang berlebihan. Lama Ino lupa jika sahabatnya itu memiliki kecenderungan buruk. Naruto sering kali berpikir berlebihan yang tidak jarang membuatnya merasa rendah diri. Berbeda dengan sikap periangnya selama ini, Naruto memiliki sifat jelek yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekatnya.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
Naruto tidak langsung menjawab. Didorongnya piring miliknya ke tengah meja. Ia mengambil botol susu yang sudah tidak dingin lalu diteguknya cepat.
"Aku dan dia seperti langit dan bumi," ujar Naruto pada akhirnya. Ekspresi wanita itu berubah kusut. Mulutnya dicebikkan lucu hingga Ino berdecak, pelan. "Ino, aku masih tidak tahu kenapa dia bisa menyukaiku? Maksudku, lihat aku! Apa yang dilihatnya dariku? Aku hanya wanita biasa dari keluarga biasa. Aku juga tidak terlalu pintar dan sangat ceroboh," tukasnya dalam satu tarikan napas.
"Berhenti menganggap dirimu rendah!" pinta Ino, lembut. Tangannya mengelus punggung tangan Naruto yang diletakkan di atas meja kayu. "Berhenti berpikir yang tidak-tidak!" lanjutnya. "Kau bukan hanya cantik, lebih dari itu, hatimu sangat lembut dan baik. Kau selalu membuat orang-orang di sekitarmu nyaman, jadi tolong berhenti merendahkan dirimu sendiri. Kau special, Namikaze Naruto."
Bibir Naruto bergetar mendengar penuturan Ino. Sekuat tenaga ia menahan air mata yang hendak meloloskan diri dari kedua pelupuk matanya. "Ino, kenapa kau tidak menjadi kekasihku saja?"
"Hei?" Ino berdecak sembari mengibaskan tangan ke udara kosong. "Sai bisa pingsan jika mendengarmu bicara seperti ini karena dia tahu aku pasti akan memilihmu daripada dirinya," terangnya bercanda dan tawa keduanya pun terdengar setelahnya.
.
.
.
Namun, bukan Ino jika dirinya hanya duduk diam melihat kesedihan sahabatnya. Benar, Ino mungkin berhasil membuat kepercayaan diri Naruto kembali, tapi tetap saja dia harus memastikan apakah Sasuke pria yang tepat untuk menjadi kekasih sahabatnya itu?
Posesif? Ya, Ino memang sedikit posesif terhadap Naruto. Pengalaman membuatnya seperti itu. Saat masih SMA, Ino tidak berhasil menjaga Naruto dari patah hati parah, karena itu kali ini dia memutuskan untuk tidak berdiam diri.
Ino berdiri di belakang sebuah pilar basement, sore ini. Jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Ino sengaja menunggu Sasuke untuk bicara serius mengenai Naruto. Ia bahkan mengatakan kepada Sai untuk pulang terlebih dahulu tanpa memberitahu alasannya.
Satu jam sudah berlalu. Ino akhirnya memilih berjongkok. Kedua kakinya mulai terasa pegal. Suara pintu lift yang terbuka membuat wanita itu berdiri, mendongakkan kepala untuk melihat ke arah sumber suara.
"Uchiha-san, bisa kita bicara?" Ino menanggalkan rasa gugupnya dalam-dalam. Wanita itu mengingatkan diri jika hal ini dilakukan demi sahabatnya.
Sasuke masih memasang ekspresi datar sebelum akhirnya ia menganggukkan kepala, dan mengundang Ino untuk masuk ke dalam kendaraannya. "Aku akan mengantarmu pulang!" kata Sasuke sembari berjalan menuju kendaraannya diparkir.
Untuk beberapa saat Ino tercenung. Ia sempat meragu hingga akhirnya dengan langkah cepat wanita itu berjalan menyusul atasannya dan duduk di kursi penumpang dengan perasaan gugup.
Sedikit gemetar Ino memasang sabuk pengaman sementara Sasuke memanaskan mobilnya sebelum menjalankan kendaraannya keluar dari basement. Dengan cepat Ino mengatakan jika dia masih memiliki acara lain setelah ini dan meminta diturunkan di Halte Y sebagai tolakan halus Sasuke yang berniat mengantarnya untuk pulang.
"Jadi, apa yang ingin kautanyakan?" Sasuke bertanya tanpa melirik lawan bicaranya yang sudah berkeringat dingin di tempat duduknya. Ino menelan dengan susah payah. Perjalanan yang seharusnya singkat ini entah kenapa terasa sangat panjang dan lama.
Untuk kesekian kalinya Ino menegaskan kepada dirinya sendiri jika ini demi kebaikan sahabatnya. "Saya tahu Anda memiliki hubungan romantis dengan Naruto."
"Oh, lalu?"
Santai sekali, pikir Ino. Dia tidak menyangka jika reaksi atasannya akan sesantai ini. Lihat saja bagaimana cara pria itu membelokkan kendarannya di ujung jalan. Atau Sasuke pandai menyembunyikan emosinya? Ino mulai bertanya-tanya di dalam hati.
"Apa kau menungguku hanya untuk mengatakan hal itu?" Sasuke bertanya, memutus keheningan yang sempat tercipta.
"Apa Anda tidak takut jika saya membocorkan masalah ini ke manajemen?" Ino mengatakannya dalam satu tarikan napas. Dia harus mengatakan hal itu sebelum keberaniannya menguar ke udara.
Reaksi Sasuke lagi-lagi mengejutkan Ino. Pria itu mengangkat bahu tak acuh. "Aku sudah pernah mengatakannya kepada sahabatmu—Naruto, aku sama sekali tidak masalah jika hubungan kami diketahui oleh pihak manajemen. Aku bisa keluar dan bekerja di tempat lain," jawabnya, ringan.
Ino tergugu. Naruto belum menceritakan perihal itu kepadanya. "Lalu kenapa Naruto? Kenapa tiba-tiba Anda memilihnya? Bukankah pada awalnya Anda tidak menyukai Naruto?"
"Siapa bilang?"
"Eh?"
"Siapa yang bilang jika pada awalnya aku tidak menyukai Naruto?"
Ino sedikit mengubah duduknya. Ditatapnya lekat wajah sang atasan dengan ekspresi penuh selidik. "Anda sering membuatnya bekerja hingga larut malam."
"Dengan alasan jelas," jawab Sasuke, tenang. Jawabannya berhasil membuat Ino bungkam. "Apa ada lagi yang ingin kautanyakan?"
Ino merasa kalah. Ia mengembuskan napas panjang sembari meremat jemari tangannya yang saling bertaut. "Naruto, dia selalu berpikir berlebihan," terangnya, tersenyum miris. "Ah, dia pasti akan menghajarku jika tahu saya mengatakan hal ini kepada Anda, tapi saya yakin hanya Anda yang bisa membuatnya berhenti berpikir belebihan."
Untuk pertama kali setelah keduanya bicara, Ino bisa melihat kedutan di kening atasannya. Sasuke terlihat sedikit gelisah mendengar penuturan Ino. "Apa yang dia pikirkan?"
"Naruto merasa tidak pantas menjadi kekasih Anda."
Lagi-lagi Ino dibuat terkejut. Sasuke mengeratkan genggaman tangannya pada setir mobil. Rahang pria itu mengeras. Hening menyapa untuk beberapa saat hingga Ino kembali merasa tidak nyaman.
"Sahabatmu itu sempurna."
Ino melirik, ekspresi terkejut wanita itu terlihat sangat lucu.
"Naruto sangat sempurna. Dan aku tidak melihat kekurangan dari dirinya."
Hanya itu yang ingin didengar oleh Ino dari mulut Sasuke. Perasaannya perlahan merasa ringan. Aneh karena hanya dalam waktu sekejap Sasuke berhasil membuatnya yakin untuk memberikan tangan Naruto kepada laki-laki itu.
"Naruto tidak memiliki alasan untuk berpikir rendah mengenai dirinya sendiri."
Ino mengangguk setuju. "Sepertinya kedepannya menjadi tugas Anda untuk meyakinkannya."
Senyum tipis Sasuke terkembang. Itu sebuah janji, dan pria itu bersumpah akan menepati janjinya. Namun, sebelum itu ada satu hal yang harus dipastikannya terlebih dahulu.
.
.
.
Naruto baru saja selesai mandi dan berganti pakaian saat bel pintu rumahnya berbunyi. Dengan tergesa wanita itu turun dari lantai dua, menuruni satu per satu anak tangga dengan tergesa untuk membuka pintu.
Wanita itu berharap kakaknya pulang lebih awal. Rumah terasa sangat sepi dengan tidak adanya Kurama. Namun, alangkah terkejutnya Naruto saat mendapati kekasihnya berdiri di depan pintu rumahnya dengan ekspresi tidak terbaca.
Sebuah pelukan erat dilabuhkan Sasuke. Pria itu meletakkan kepalanya di ceruk leher sang kekasih. "Aku rindu."
Naruto memutar kedua bola matanya dengan gerakan malas. Ayolah, mereka baru berpisah selama dua jam dan sekarang Sasuke mengatakan jika dia rindu?"
"Ayo masuk!" kata Naruto. Wanita itu merasa sedikit risih karena keduanya masih berada di depan pintu. Ketiadaan jawaban membuat Naruto mengulum sebuah senyum maklum. Kedua lengannya bergerak, memeluk pinggang kokoh sang kekasih. "Ayo masuk!" ucap Naruto, sementara tangannya sibuk mengusap punggung Sasuke dengan gerakan pelan.
"Boleh aku tidur di sini?" Sasuke bicara di leher Naruto, terlihat tidak ada niat untuk bergerak dari tempatnya berdiri saat ini.
"Masuk dulu!" Kali ini Naruto meminta dengan penuh kesabaran. Sikap Sasuke malam ini seperti bayi besar yang meminta perhatian penuh darinya. Setelah merasa Sasuke bersedia bergerak, ia menuntun pria itu masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu dan menguncinya.
"Jangan pergi!" Sasuke memeluk Naruto dari belakang saat melihat wanita itu berbalik. "Di sini saja!"
"Aku mau membuatkan teh panas untukmu," kata Naruto berusaha sabar. "Sasuke, sebenarnya ada apa?" Ia masih berdiri dengan posisi kekasihnya memeluk erat dari belakang.
"Naruto, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku!"
Naruto menekuk wajah. "Apa kau sengaja mengatakan itu untuk mendapat seks gratis?"
"Hah?" Tentu saja bukan itu yang ingin di dengar oleh Sasuke dari Naruto. Ayolah, kenapa kekasihnya bisa berpikir seperti itu tentangnya?
Naruto berkacak pinggang setelah Sasuke melepas pelukannya. Kaki wanita itu dihentak-hentakkan pelan ke atas lantai kayu. Tatapan penuh selidik Naruto membuat Sasuke terkekeh pelan hingga akhirnya pria itu memilih mendudukkan diri di atas sofa.
"Apa ada yang lucu?"
Sasuke tidak menjawab. Kekehannya berubah menjadi sebuah tawa yang berhasil membuat kekasihnya merasa kesal.
"Apa yang lucu?" Naruto kembali bertanya dengan nada kesal.
"Kenapa kau bisa berpikir aku menginginkan seks gratis?"
"Memangnya tidak begitu?"
"Tidak salah juga," sahut Sasuke yang segera melindungi dirinya saat Naruto melempar sebuah bantal sofa ke arahnya. "Tapi bukan itu alasanku datang ke rumahmu, malam ini."
"Lalu apa?" Naruto yang kesal akhirnya duduk di samping Sasuke. Wanita itu masih menekuk wajah dengan ekspresi kesal karena yang lebih tua terus tertawa setiap kali pandangan mereka bertemu. "Jangan tertawa!"
"Kau benar-benar lucu," ucap Sasuke. Itu sebuah pujian, tapi Naruto menganggap sebaliknya. Dia berpikir Sasuke tengah mengejeknya saat ini. Perubahan ekspresi Naruto tidak lepas dari pandangan tajam Sasuke. Dengan gerakan cepat pria itu merengkuh sang kekasih ke dalam pelukannya.
"Sasuke, kenapa kau bisa menyukaiku?" Pertanyaan itu dilontarkan Naruto dengan keberanian yang tersisa. Tangannya meremat kemeja putih Sasuke hingga kusut.
"Karena kau Namikaze Naruto," jawab Sasuke. "Aku menyukaimu karena alasan itu."
Naruto mengembuskan napas pelan yang terdengar berat. "Kau bisa mendapatkan wanita yang sepadan denganmu," cicitnya, mengabaikan perasaan sedih yang menyelinap masuk ke dalam hati.
"Aku tidak menginginkan wanita yang katamu sepadan itu jika dia bukan kau. Sekarang apa kau mengerti?" Dengan gerakan lembut Sasuke menangkup wajah kekasihnya dengan kedua tangan. Pandangan serius pria itu menegaskan kepada yang lebih muda jika dia tidak main-main dengan ucapannya.
"Tetap saja—"
"Aku mencintaimu Namikaze Naruto. Jadi tolong jangan berpikir yang tidak-tidak! Beri aku kepercayaan dalam hubungan kita."
Naruto tidak menjawab. Keraguan masih menari-nari di kedua matanya.
"Kalau kau masih ragu, ayo kita menikah saja! Aku akan meminta izin kakakmu dan mengenalkanmu kepada keluargaku."
Ada sebuah jeda singkat sebelum Sasuke kembali bicara dengan nada serius yang sama. "Bagaimana jika besok kau bertemu dengan keluargaku?"
Mulut Naruto terbuka lebar. Kedua matanya terbelalak. Ringan sekali Sasuke bicara mengenai hal sepenting itu, pikirnya.
"Aku ingin kau tahu kemana aku menginginkan hubungan kita. Aku tidak main-main, Naruto. Jadi tolong jangan meragukan perasaanku terhadapmu!"
.
.
.
TBC
Sampai jumpa dichap selanjutnya! ^^
#WeDoCareAboutSFN
