Hallo! Untuk yang minat koleksi e-book Golden Cage dan Under Cover versi SasuFemNaru sudah tersedia di google book/play ya. ^^
.
.
.
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Drama, romance
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fic ini maupun fic milik saya lainnya!
Selamat membaca!
.
.
.
Mr. Arrogant
Chapter 17. Deep Talk
By : Fuyutsuki Hikari
Ada yang aneh dengan Sasuke, pikir Naruto. Sejak kedatangannya tadi malam, Sasuke jadi tidak banyak bicara pagi ini. Bukan berarti selama ini pria itu banyak bicara, tapi pagi ini memang terasa sangat berbeda.
Sasuke lebih dingin dari biasanya. Dia memberikan pekerjaan seperti biasa, tapi tidak ada afeksi tambahan lainnya. Mereka seperti atasan dan bawahan pada umumnya saat ini.
Naruto merenung, berusaha mengingat apa dia ada salah bicara hingga kekasihnya itu merajuk? Namun, Naruto tidak menemukan ada yang salah.
Mereka berpisah dengan baik-baik tadi malam. Tidak ada pertengkaran berarti dan Sasuke masih memberinya ciuman selamat malam. Mereka juga masih bertukar pesan setelah Sasuke sampai ke apartemennya.
Namun, kenapa hari ini sikap kekasihnya berbeda?
Apa Sasuke sedang ada masalah?
Naruto mengernyit, terdiam lama hingga sebuah notifikasi di telepon genggamnya menyadarkan wanita itu dari lamunan pendek.
Dengan cepat Naruto membuka pesan isi pesan tersebut.
Hai, sudah lama kita tidak bertemu. Apa kabarmu? Bisa kita bertemu? Aku ada di Tokyo selama dua hari. Kuharap kita bisa bertemu hari ini.
Naruto pun mengetik balasan pesan itu dengan cepat. Wanita itu mengulum senyum saat tangannya sibuk mengetik, tanpa menyadari Sasuke tengah berdiri di depan mejanya dengan pandangan menelisik saat ini.
"Pesan dari siapa?" Pertanyaan bernada dingin itu mengagetkan Naruto. Pandangan keduanya bertemu. Naruto tidak langsung menjawab, alih-alih dia malah menyimpan telepon genggamnya ke dalam laci.
"Teman," jawabnya singkat. Perlahan Naruto mengangkat wajah, berusaha mencari tahu ekspresi kekasihnya saat ini, tapi nihil. Sasuke memasang ekspresi datar terbaiknya.
"Aku tidak bisa mengantarmu pulang hari ini."
Naruto mengerjap. "Kenapa?"
"Aku akan langsung pulang ke rumah orang tuaku," jelas Sasuke. Naruto tidak membalas. "Kau bisa pulang dengan Ino, kan?"
Naruto mengangguk. "Aku bisa pulang naik bus," jawabnya. "Jangan khawatir!" Namun, Sasuke tidak membalas. Pria itu memilih pergi meninggalkan Naruto dengan berbagai pertanyaan di dalam kepalanya.
.
.
.
Satu tangan Mikoto mengacungkan spatula, sementara satu tangan bebas lainnya berada di pinggang. Ekspresi tidak bersahabatnya turut menyambut kedatangan putra bungsu keluarga Uchiha, malam ini.
"Masih ingat pulang," sindir Mikoto yang tengah berdiri di depan pintu dapur kediaman mereka. Yang diajak bicara hanya memijat tengkuknya pelan, sembari berjalan menuju lemari es. Mikoto benar-benar kesal karena kedua putra mereka sangat jarang pulang ke rumah, dan jarang mengirim pesan.
Mikoto seperti ditinggalkan. Bahkan pesan berisi pertanyaan kabar saja jarang didapatkannya. Kedua putranya selalu sibuk dengan urusan masing-masing, hingga membuat Mikoto kesepian berada di rumah sebesar ini hanya dengan suaminya.
Sasuke membuka pintu lemari es, mengambil satu botol air mineral dingin dari dalamnya lalu meneguknya setelah duduk di kursi makan. Ia tidak mengatakan apa pun saat sang ibu terus menatapnya dengan ekspresi tajam.
"Tidak ada telepon, tidak ada pesan, tidak pulang ke rumah," desis Mikoto, melanjutkan. Itachi yang hendak mengambil air minum memilih mengurungkan niat dan kembali ke kamarnya di lantai dua. Rasa haus masih bisa menunggu pikir si sulung, daripada menjadi sasaran amarah ibu mereka saat ini.
Sasuke tidak menjawab. Pikirannya entah ada dimana. Kuping pria itu sama sekali tidak bisa menerima segala keluhan dan nasihat ibu kandungnya saat ini.
"Jika ibu sudah tidak ada baru kau akan menye—"
"Bu, maafkan aku!" Kalimat yang diucapkan Sasuke menghentikan ucapan Mikoto. Wanita paruh baya itu terbelalak untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia mendapatkan kesadarannya kembali. "Aku ingin menikah, dan aku takut jika anak-anakku akan sepertiku di masa depan. Mulai sekarang aku berjanji akan lebih sering pulang dan memberimu kabar."
Mikoto meletakkan spatula di atas meja, lalu duduk di seberang meja. Wanita itu kini duduk berhadapan dengan putra bungsunya. "Apa kau serius?"
Sasuke mengangguk. Ia menandaskan sisa air mineral di dalam botol dalam satu tegukan besar lalu kembali bicara, "Aku sangat serius," ujarnya. "Maaf karena aku tidak berbakti."
Ada jeda pendek sebelum Sasuke lanjut bicara. "Namun, aku tidak tahu apa Naruto bersedia menikah denganku dalam waktu dekat. Dia masih sangat muda. Naruto pasti memiliki mimpi yang ingin digapainya terlebih dahulu sebelum menikah. Aku harus bagaimana?"
Mikoto bisa menangkap kegelisahan dalam nada bicara putra bungsunya saat ini. Lihat saja, bagaimana Sasuke mengusap wajahnya dengan kasar lalu menggelengkan kepala. Baru kali ini Mikoto melihat putranya tidak percaya diri. Sungguh langka.
"Sudah berapa lama kau berkencan dengannya?"
"Hampir satu bulan," jawab Sasuke, diakhiri kekehan pelan saat ibunya kembali terbelalak.
"Hampir satu bulan?" beo Mikoto. "Bukankah hubungan kalian masih terlalu singkat?" tanyanya. "Sasuke, pernikahan bukan hal sepele. Kalian perlu saling mengenal terlebih dahulu, Sasuke. Bahkan mereka yang sudah lama saling mengenal pun terkadang baru mengetahui sifat asli pasangan mereka setelah menikah. Dan terkadang hal itu diluar ekspetasi pasangan masing-masing. Apa kau sudah siap?"
Sasuke mengangguk mantap. "Aku siap, tidak tahu Naruto. Aku tidak yakin jika dia menyukaiku sebesar rasa sukaku terhadapnya."
Mikoto tahu putra bungsunya sedang dalam mode sangat serius saat ini. Ia pun memilih beranjak dari kursi untuk mematikan kompor. Memasak makan malam masih bisa ditunda pikirnya. Lalu dengan cepat Mikoto membuatkan teh lemon panas untuk Sasuke dan membawanya ke meja makan.
Sodoran cangkir teh itu diterima Sasuke dengan ucapan terima kasih. Keduanya terdiam, mengizinkan keheningan menguasai ruang makan keluarga Uchiha untuk beberapa saat. Tidak lama berselang Fugaku turun dari lantai dua. Pria itu terdiam di depan pintu masuk ruang makan sebelum akhirnya ikut bergabung dan duduk di samping istrinya.
"Naruto masih sangat muda." Sasuke kembali bicara tanpa menatak kedua orang tuanya. Tatapan pria itu tertuju ke cangkir yang tengah digenggamnya. "Dia bahkan masih belum menyelesaikan masa pelatihannya di hotel, dan kami tidak bisa mengungkapkan hubungan secara terang-terangan karena peraturan perusahaan. Kemarin aku mengatakan kepadanya jika aku sangat serius dengan hubungan kami, tapi dia tidak mengatakan apa pun dan itu membuatku tidak nyaman."
"Apa kau sangat mencintainya?" Fugaku tiba-tiba bertanya. Pandangan yang lebih tua bertemu dengan pandangan putra bungsunya.
"Sangat." Tidak ada keraguan dalam suara Sasuke saat menjawab. "Aku terlalu mencintainya hingga membuatku ketakutan jika Naruto mungkin tidak menyukaiku lagi dan memilih mengakhiri hubungan kami. Aku tidak bisa, Ayah. Aku tidak bisa kehilangan dia. Apa yang harus aku lakukan tanpanya? Aku mencarinya sejak lama, tidak mungkin aku melepas Naruto setelah perjuangan dan penantianku selama ini."
Ah, sungguh Sasuke tidak menyangka akan mengutarakan ketakutannya kepada kedua orang tuanya. Selama ini pria itu selalu memendam perasaannya, tapi entah kenapa untuk masalah Naruto, dia merasa perlu mendapatkan nasihat dari yang sudah berpengalaman.
"Apa kau meragukan perasaan kekasihmu?" tanya Fugaku lagi, lebih menelisik kali ini saat Mikoto beranjak dari tempat duduknya menuju dapur untuk membuatkan suaminya minuman hangat.
Sasuke menggelengkan kepala. Ia menyesap teh hangatnya pelan sebelum menjawab, "Bukan begitu, hanya saja Naruto masih sangat muda. Perasaannya belum stabil. Aku hanya takut dia bertemu seseorang yang dirasa lebih cocok untuknya lalu meninggalkan aku. Karena itu, sebelum hal itu terjadi aku ingin menikahinya. Aku ingin membuatnya tidak bisa lepas dariku. Entahlah, Ayah, aku sangat posesif jika itu berhubungan dengan Naruto."
"Nak, jangan sampai perasaanmu itu membuat hubungan kalian berdua tidak sehat," nasihat Fugaku, bertepatan dengan Mikoto yang kembali dengan dua gelas teh hangat di tangan. "Kau harus bisa meyakinkan dirimu sendiri jika pikiran-pikiranmu itu tidak benar. Kau harus yakin jika dirimu pantas untuk... siapa namanya tadi?"
"Naruto," jawab Sasuke, pelan.
"Ya, Naruto," kata Fugaku. "Mencintai terlalu berlebihan bisa membuat hubungan tidak sehat," tambahnya. "Ketakutanmu yang terlalu berlebihan bisa membuat kekasihmu tidak nyaman, dan kau tidak bisa menebak-nebak perasaan kekasihmu seperti itu. Tidak adil jika kau meragukan perasaannya karena kau bukan dia."
Mikoto mengangguk setuju. "Ibu tidak pernah melihatmu menyukai hingga seperti ini."
Sasuke terkekeh lagi. Lebih pelan kali ini. "Aku pun tidak," akunya membuat kedua orang tuanya tersenyum. "Jadi, lebih baik jika aku menjalani hubungan ini terlebih dahulu?" tanyanya, ingin meyakinkan.
Mikoto dan Fugaku tersenyum. "Ya, setidaknya hingga kau bisa bersikap lebih dewasa," kata Fugaku. "Maksud ayah dewasa dalam hubungan kalian," tegasnya. "Ayah tidak mau kau gagal dalam pernikahan, Sasuke, jadi lebih baik kau belajar menata perasaanmu sejak sekarang."
Sasuke mengerang. Kedua tangannya menutup wajahnya yang kini terlihat kacau. "Ayah, aku benar-benar ingin menikahinya. Aku sangat yakin jika dia wanita tepat untuk menjadi istri dan calon anak-anak kami di masa depan."
"Ayah mengerti," sahut Fugaku, menenangkan. "Kekasihmu tidak akan kemana-mana jika dia memang sudah jodohmu. Ingat, pekerjaan menjadi seorang suami dan ayah itu bukan hal mudah. Ayah ingin kau belajar memperbaiki dirimu sebelum mengemban tugas berat itu."
"Bagaimana jika aku berhasil memperbaiki diri dalam waktu dekat?"
"Ayah dan ibumu akan mendukung apa pun keputusanmu." Fugaku tersenyum tipis. Tangannya menggenggam tangan sang istri erat. Keduanya akan menunggu hingga putra bungsunya benar-benar siap untuk melangkah ke jenjang lebih serius, karena pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan saja, tapi juga saling menerima dan menyelaraskan perbedaan yang ada serta saling melengkapi satu sama lain.
.
.
.
"Hei, apa kau baik-baik saja?" Itachi bersandari di daun pintu kamar Sasuke. Yang lebih tua mengamati sosok adiknya yang tengah duduk di atas sebuah sofa berwarna gelap dengan sebuah gelas minuman keras di tangan.
Itachi mengembuskan napas panjang setelah mendapat jawaban berupa anggukan kepala dari adiknya. Uchiha sulung langsung masuk ke dalam kamar sang adik yang didominasi warna gelap lalu mendudukkan diri disisi kosong sofa.
"Tidak biasanya kau minum selarut ini," kata Itachi sembari menuangkan minuman berwarna keemasan itu ke dalam gelas kosong yang lain.
Hanya ada keheningan yang menyapa untuk beberapa waktu setelahnya. Kedua putra keluarga Uchiha itu terdiam, larut dalam lamunan masing-masing.
"Maaf jika kakak terlalu ikut campur, tapi kau tidak pernah seperti ini sebelumnya, Sasuke." Itachi melirik singkat ke arah sang adik yang masih terdiam. "Aku tidak pernah melihatmu begitu tidak percaya diri saat berhadapan dengan pasanganmu. Kenapa? Apa yang membuatmu khawatir?"
Itachi menjeda, mengerutkan kening saat menatap bibir gelasnya yang masih terisi sepertiganya, "Atau lebih tepatnya, apa yang membuatmu takut?"
Sasuke masih tidak menjawab. Tatapan nanarnya membuat perasaan Itachi tidak tenang. Rasa ingin tahu sang kakak menjadi menggebu, perihal siapa yang sudah mencuri hati adiknya hingga menjadi seperti ini?
"Kak, ingat kecelakaan yang kualami enam tahun yang lalu?" ucap Sasuke tiba-tiba.
Tuhan, siapa yang bisa melupakan peristiwa itu? Batin Itachi, meringis. Diletakkannya gelas minuman keras itu ke atas meja lalu dalam satu gerakan Itachi mengubah posisi duduknya hingga menyamping, untuk bisa melihat adiknya lebih jelas.
"Bagaimana bisa aku lupa?" katanya. "Aku sempat berpikir akan kehilangan kau, Sasuke." Kalimat itu diucapkan Itachi dengan suara lirih, nyaris tersendat saat ingatannya memutar kembali kejadian itu, terlalu menyakitkan.
Enam tahun yang lalu Sasuke sengaja mengambil cuti dari tempat bekerjanya di Swiss untuk kembali ke Jepang dan berlibur bersama keluarganya di Sapporo. Siapa yang menyangka Sasuke akan mengalami kecelakaan fatal di malam bersalju dan nyaris tewas di tempat andai saja tidak ada seseorang yang berhasil menariknya dari dalam mobil tepat waktu sebelum kendaraannya meledak hebat.
"Naruto, dia yang menolongku saat itu," ungkap Sasuke, parau. Ia menunduk, mengamati gelas minumannya lalu mengembuskan napas yang terdengar berat. Di sampingnya, Itachi terbelalak menatap sang adik.
"Apa kau yakin?" tanya Itachi. "Maksudku saat itu kondisi terlalu gelap, dan kondisimu setengah sadar, jadi bagaimana bisa kau yakin jika penolongmu itu Naruto?"
Sasuke tidak langsung menjawab. Pikirannya melayang jauh. Peristiwa itu masih menari-nari di dalam ingatannya, seolah baru saja terjadi.
Dia tidak akan melupakan sepasang mata yang basah oleh air mata itu. Sepasang tangan yang gemetar dan bahu ringkih yang menjadi tempat tumpuan Sasuke untuk menjauh dari kendaraannya yang terbalik lalu meledak.
Tidak, Sasuke tidak akan melupakan suara itu. Suara yang dengan tegas menolak permintaan temannya untuk meninggalkan Sasuke di sana. Suara yang dengan lembut mengatakan jika Sasuke akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja. Dan Sasuke tidak akan melupakan genggaman tangan wanita remaja itu.
Dia—Sasuke masih mengingatnya dengan jelas. Dan wanita penolongnya tidak lain adalah Naruto, remaja yang selama bertahun-tahun dicarinya.
"Aku melihatnya sebelum jatuh tidak sadarkan diri," kata Sasuke kemudian. Dia menyesap minuman kerasnya sebelum kembali bicara, "Aku tidak salah mengenali seseorang."
Itachi mengembuskan napas keras sembari memijat tengkuknya. "Sasuke, apa kau benar-benar menyukainya atau semua itu hanya dilandasi oleh perasaan hutang budi?"
Satu alis Sasuke diangkat naik. "Kenapa Kakak bicara seperti itu?" Ia balik bertanya dengan nada tersinggung. "Aku menyukainya sejak pertama kali kami berjumpa. Dalam setengah ketidaksadaranku aku ingin sekali bicara jika aku akan baik-baik saja dan meminta maaf karena sudah membuatnya khawatir dan menangis."
Sasuke menjeda untuk meletakkan gelas di atas meja. Jemarinya saling bertaut setelahnya. "Mungkin terdengar aneh, tapi hatiku menjatuhkan pilihan kepada Naruto sejak malam itu. dan setelah bertahun-tahun pencarian, akhirnya dia datang kepadaku. Dengan sosoknya yang lebih dewasa tentu saja. Saat itu aku mengatakan kepada diriku sendiri jika aku harus mendapatkannya. Benar, aku seegois itu. Kak, aku sadar jika egoku ini salah dan bisa membuatnya terluka. Karena itu aku takut Naruto membenciku karena perasaanku terlalu besar untuknya. Sikap posesifku mungkin akan melukainya suatu hari nanti."
Hening.
Sungguh Itachi tidak menyangka adiknya akan berkata sebanyak itu dalam satu tarikan napas. Itachi sudah membuka mulutnya saat sadar jika dia lupa akan kalimat yang ingin dikatakannya. Yang lebih tua terlalu terkejut bahkan untuk memberi penghiburan saat ini.
"Aku bisa gila jika Naruto meninggalkanku." Sasuke menutup wajah dengan kedua tangannya yang gemetar. "Namun, aku juga tidak bisa memaksanya untuk segera menikah denganku. Aku ingin Naruto menyukaiku secara perlahan dan yakin dengan perasaannya sebelum menikah denganku."
Itachi mengangguk, pelan. Tangan kanannya sibuk menepuk-nepuk bahu adiknya yang terlihat lesu. "Jika dia memang sudah ditakdirkan untuk bersamamu, kalian pasti akan menemukan jalan untuk bersama. Jangan seperti ini, Sasuke! Jika kau tidak bisa mengendalikan emosimu, bagaimana bisa kau meyakinkan Naruto?"
Perlahan Sasuke mengangguk. "Terima kasih sudah bersedia mendengarkan keluh-kesahku!" Senyum tipis terukir di wajah yang lebih muda. "Kenapa?" tanyanya saat melihat Itachi merinding.
"Tolong bersikap seperti biasa!" ujar Itachi. "Kau membuatku ketakutan," tambahnya sembari menyodorkan tangannya ke depan wajah Sasuke. "Lihat! Lihat! Kau membuatku merinding," oloknya yang segera diakhiri tawa yang terdengar renyah keduanya.
.
.
.
Hari berlalu dengan cepat. Siang ini Ino pergi ke mall di pusat kota untuk belanja bulanan seorang diri karena Naruto tidak bisa menemaninya dengan alasan akan pergi berkencan dengan Sasuke.
Tidak ada pertanyaan lain yang diajukan oleh Ino karena selama ini Naruto tidak pernah menolak ajakannya untuk pergi bersama jika tidak ada alasan yang lebih penting.
Ino akhirnya memilih untuk memanjakan diri terlebih dahulu sebelum pergi berbelanja. Dengan ekspresi datar dia menaiki tangga berjalan menuju lantai dua sebelum melanjutkan ke lantai tiga tempat salon langganannya berada.
Namun, tiba-tiba saja Ino dikejutkan oleh pemandangan yang membuatnya terbelalak hingga tidak bisa berkata-kata. Dengan cepat Ino mengeluarkan telepon genggamnya untuk menghubungi sang sahabat.
Ino bersembunyi dibalil sebuah pilar, sementara kedua matanya menatap lekat ke arah sebuah restoran cepat saji. Tidak, Ino tidak salah lihat. Itu Naruto, tapi dia tidak bersama Sasuke. Ayolah, sejak kapan Sasuke memiliki rambut berwarna perak?
Jantung Ino berdebar sangat kencang hingga wanita itu yakin orang lain bisa mendengar suaranya saat ini. Keringat dingin membasahi telapak tangan Ino yang sedikit gemetar saat mencari nama Naruto di daftar panggilannya.
Dengan gugup Ino menempelkan benda pipih itu di telinga setelah sebelumnya menekan tombol hijau di nomor panggilan Naruto. Was-was serta rasa takut menyerangnya saat dia netranya menangkap wajah lawan bicara Naruto saat ini.
Tidak, jangan dia! Jangan bedebah sialan itu lagi! Batin Ino di dalam hati. Naruto membohonginya untuk bedebah sialan itu?
Gemertak, Ino menggertakkan gigi setelah tahu siapa yang menjadi teman makan siang Naruto saat ini. Dengan marah Ino mematikan panggilan teleponnya lalu berjalan masuk ke dalam restauran dengan ekspresi tidak enak dipandang.
"Oh, jadi ini kekasihmu?" kata Ino tiba-tiba membuat Naruto langsung berdiri karena kaget. Gugup, terlihat jelas jika sahabatnya tengah gugup saat ini. "Sejak kapan kekasihmu memiliki rambut perak, Namikaze Naruto?" sindir Ino tanpa mengalihkan pandangannya dari pria berambut perak di hadapannya.
"Ino, aku bisa jelaskan—"
"Hakmu untuk pergi dengan siapa pun, tapi tidak seharusnya kau berbohong kepadaku seperti itu!" potong Ino, tegas. Ia kembali mengalihkan pandangannya kepada pria di hadapannya. "Apalagi yang kauinginkan dari Naruto? Sahabatku sudah memiliki kekasih yang jauh lebih baik darimu jadi jauhi dia!" tandasnya.
Pria di hadapannya terkekeh, berdiri lalu menyodorkan tangan kanannya dengan sopan kepada Ino. Mendapat sambutan dingin, pria itu akhirnya menarik kembali tangannya lalu memasukkan telapak tangannya ke dalam saku celana jeansnya.
"Kau masih galak seperti biasa," canda pria itu, berusaha mencairkan suasana, tapi gagal. Ino malah mendengkus dan menyipitkan kedua matanya, seram.
Pria itu menggedikkan bahu. "Aku hanya ingin bertemu dengan Naruto, tidak ada niat untuk mengganggu hubungannya yang baru," ungkapnya.
Ia menjeda untuk mengambil napas panjang. "Aku cukup tahu diri."
"Bagus, karena kau tidak pantas untuk Naruto!" ujar Ino, dingin. Di sampingnya, Naruto berdiri dengan perasaan campur aduk. Awalnya dia tidak berniat membohongi Ino, tapi kebencian Ino terhadap mantan kekasih Naruto yang ini membuat wanita itu tidak memiliki pilihan lain.
"Untuk apa kau menemuinya lagi?" desis Ino. Ingin rasanya dia melayangkan tinju ke wajah mantan kekasih sahabatnya ini. Ah, demi Tuhan, kenapa Naruto masih bersedia bertemu dengan pria sialan ini? Batin Ino, tidak mengerti.
Pria itu tidak langsung menjawab. Senyum tipisnya terlihat getir. "Aku hanya ingin meminta maaf dengan benar. Apa aku tidak diizinkan untuk melakukannya juga?"
"Bukankah sudah sangat terlambat?"
Pria itu mengangkat kedua bahunya. "Naruto masih bersedia menemuiku."
"Karena hatinya terlalu baik," desis Ino. "Jangan menemuinya lagi! Aku serius!" ancam Ino. "Jangan menemui Naruto lagi atau aku akan mengadukan hal ini kepada Kak Kurama."
Pria di hadapannya hanya bisa mengangkat kedua tangannya tinggi. "Ancamanmu tidak enak di dengar."
"Harus jika itu menyangkut dirimu," tandasnya sebelum menarik pergelangan tangan kanan Naruto secara paksa.
Ino masih diam saat keduanya masuk ke dalam toilet. Mengerjapkan mata, Ino berdiri dengan satu tangan di pinggang sementara satu tangan yang lain berpegangan ke wastafel di belakangnya. "Kau berbohong demi pria itu?"
Naruto menundukkan kepala. "Bisakah kita bicara di tempat lain?" pintanya dengan suara gemetar.
Hening.
Keduanya terdiam untuk beberapa saat hingga suara Ino menginterupsi, "Kau bahkan berbohong kepadaku demi laki-laki itu? Apa kau tidak takut dia akan menyakitimu lagi? Pria itu hanya memberikan dampak buruk untukmu, kenapa kau tidak mengerti?"
Naruto tidak menjawab. Jemari tangannya meremat gaun musim seminya hingga kusut.
"Apa kau lupa bagaimana dia memperlakukanmu di masa lalu?" serang Ino tidak memberi ampun. "Apa kau sudah lupa bagaimana jahatnya dia yang terus memerasmu demi membeli obat-obatan terlarang? Apa aku harus mengingatkan semua perilaku jahatnya terhadapmu?"
Naruto menggigit bibir bawahnya yang mulai gemetar. Kedua matanya terasa panas oleh desakan air mata yang siap keluar kapan saja.
"Dia bahkan nyaris menculikmu. Apa kau tidak takut dia melakukan hal yang sama?"
"Kimimaro hanya ingin meminta maaf," cicit Naruto tanpa bisa menatap Ino. Dadanya terasa sesak karena merasa sangat bersalah. Naruto tahu sikap keras Ino saat ini karena terlalu khawatir, dan Ino memiliki alasan jelas karenanya.
"Bukankah setiap manusia bisa berubah?" lanjut Naruto. "Aku hanya ingin memberikan kesempatan itu kepadanya. Hanya itu, tidak ada yang lain."
"Bagaimana dengan Sasuke?"
Naruto mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata. Kedua matanya terbelalak mendengar pertanyaan itu. "Kenapa dengannya?"
"Apa dia tahu?" Ino balik bertanya dengan kesabaran yang semakin menipis. "Apa dia tahu kau bertemu mantan kekasihmu?"
Naruto menggelengkan kepala.
"Kenapa kau tidak memberitahunya?"
Tidak menjawab, Naruto tidak bisa menjawabnya.
"Apa kau menghargai Sasuke sebagai kekasihmu?"
Naruto mengangguk.
"Jika benar seperti itu, kau tidak akan pergi menemui mantan kekasihmu tanpa sepengetahuannya, terlebih dengan daftar kejahatan yang sudah dilakukan Kimimaro terhadapmu di masa lalu," tegas Ino, mengingatkan.
Ino menggelengkan kepala yang tiba-tiba diserang oleh rasa sakit. "Sasuke berhak tahu, tapi jika kau berjanji tidak akan menemui Kimimaro lagi maka aku bisa pastikan Sasuke tidak akan tahu tentang peristiwa hari ini."
"Jangan memberitahunya!" pinta Naruto, memohon. "Aku tidak mau Sasuke marah atau mengambil kesimpulan salah. Antara aku dan Kimimaro sudah selesai, aku hanya ingin menerima maafnya secara langsung karena yakin jika manusia bisa berubah. Itu saja."
Ino mengurut keningnya. Rasanya menjengkelkan saat berhadapan dengan kenaifan Naruto. Sahabatnya yang tengah dalam mode naif sangat keras kepala hingga sulit rasanya menghancurkan kebatuan pemikiran Naruto dalam mode seperti ini.
"Bagaimana jika Kimimaro merusak hubunganmu dengan Naruto?" tembak Ino membuat Naruto terbelalak ngeri. "Apa perasaanmu terhadap Sasuke tidak sebesar perasaanmu terhadap Kimimaro?" tanyanya lagi.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" pekik Naruto. "Aku pernah menyayangi Kimimaro, tapi itu dulu. Sekarang aku sangat menyayangi Sasuke, perasaanku terhadapnya nyata. Aku menerimanya menjadi kekasihku karena aku mencintainya. Saat ini hatiku penuh olehnya, jadi jangan bicara seperti itu!"
Ino beranjak untuk memeluk tubuh Naruto yang gemetar. Ada sedikit sesal menyelinap ke dalam hati Ino karena berbicara terlalu frontal. Namun, hanya dengan cara seperti ini sahabatnya akan mengerti jika ada hati yang harus dijaga olehnya.
"Maaf karena aku terlalu keras kepadamu!" ucap Ino terdengar lembut. Telapak tangannya yang bebas membelai rambut pirang Naruto, pelan. "Aku tidak mau kau menyesal dikemudian hari," tambahnya. "Aku tahu kau sudah dewasa, tapi terkadang kita masih memerlukan seseorang untuk mengingatkan. Jangan menangis!"
Naruto mengangguk dan perlahan senyumnya terkembang saat Ino menghapus jejak air mata di kedua pipinya. "Maaf sudah membohongimu!" cicitnya, parau. "Aku tidak akan melakukannya lagi, dan maaf karena sudah membuatmu khawatir!"
"Apa kau masih lapar?"
Naruto mengangguk sembari mengusap perutnya.
"Baiklah, aku akan mentraktirmu makan ramen," ujar Ino membuat senyum lebar kembali menghiasi wajah Naruto yang awalnya terlihat murung.
.
.
.
TBC
Sampai jumpa dichap selanjutnya! ^^
#WeDoCareAboutSFN
