Sakit memenuhi seluruh tubuh Obito, dia merasa bagian-bagian dari setiap dirinya seperti ditusuki oleh ribuan jarum panas yang menyengat.
Terengah-engah, Obito menyadari bahwa dia sedang berbaring ditempat yang sangat empuk, lembab, dan juga berbau busuk.
Obito bangun, dan betapa ajaibnya, rasa sakit yang berada di tubuhnya juga sepertinya perlahan menghilang saat dia terus menggerakkan tubuhnya keatas.
Ketika membuka matanya, Obito melihat banyak objek-objek buram yang berlipat ganda ilusi, karena penglihatannya yang masih beradaptasi.
Setelah penglihatan dia menjadi normal kembali dan rasa sakit di tubuhnya menghilang sedikit. Obito tahu pada saat ini bahwa dia sedang berada di sebuah kamar juga di atas kasur yang terlihat sedikit kotor, bersama selimut yang menutupi sampai pinggangnya.
Dia tidak tahu dimana dia berada, yang dia ingat adalah dia sedang membuka-buka dimensi lain bersama Sakura yang mendukungnya untuk mencari Sasuke…
Apakah perang sudah berakhir? Obito bertanya-tanya.
Tanpa menunggu lebih banyak pikiran lagi, Obito turun dari tempat dia tidur dan duduki saat ini, lalu berjalan dengan linglung ke arah pintu kamar yang terbuka untuk keluar. Bajunya sudah hilang, hanya menyisakan celana hitamnya yang robek juga kusut.
Setelah keluar dari kamar dan melihat ruang tengah, Obito sudah tahu bahwa ini adalah ruang utama karena bangunannya yang sangat kecil, dan di luar dia juga bisa melihat bangunan-bangunan lain. Dia mengerutkan kening setelah melihat itu semua, karena dia merasa bahwa gaya arsitektur yang saat ini dia lihat, sangat berbeda daripada semua yang pernah dia lihat dalam ingatannya.
Ada banyak bangunan dua atau tiga tingkat di penglihatannya dan itu sangat kumuh. Dia juga bisa melihat beberapa menara tinggi di kejauhan dan juga beberapa tiang besi yang mengeluarkan asap, Obito berpikir bahwa itu mungkin dari sebuah pabrik.
Saat ini sore, namun kabut asap memenuhi langit dan membuatnya terlihat suram… tidak ada keindahan sama sekali disana.
Menghela napas dan mengalihkan wajah dari jendela, Obito meringis ketika merasakan kepalanya berdenyut-denyut kencang, dia berjalan sedikit ke arah kursi di meja makan dan duduk disana.
Dia tidak mungkin untuk keluar dari rumah pada saat ini, dan karena jelas dia tidak berada di Konoha atau tempat apapun yang dia kenal, Obito merasa dia lebih baik tetap berada disini terlebih dahulu.
Itu karena tubuhnya sakit dengan cara yang tidak karuan dan juga kehabisan tenaga.
lagipula siapapun yang membawa dia kesini tidak mungkin untuk memiliki niat jahat, jika orang itu memilikinya, dia sudah mati sekarang.
Merasakan rasa lapar yang menjalar di perutnya, Obito mengarahkan pandangan ke rak lemari yang menggantung di dinding tidak jauh darinya. Karena ingin mengobati rasa kelaparan, Obito segera kesana dan mengacak-acak untuk mencari apakah ada makanan.
Dia menemukan sepotong roti seukuran telapak tangan yang sudah terbelah. Itu sedikit berbau tidak sedap dan juga berjamur, namun itu lebih dari cukup untuk Obito, dia tidak takut keracunan makanan atau sebagainya… kemudian tanpa pikir panjang, dia segera memakannya sambil mengambil air untuk diminum.
Setelah kenyang dan tenaganya pulih sedikit demi sedikit, Obito menunggu sambil duduk di kursi dekat tembok tengah dan menatap pintu keluar, lalu dia bertanya-tanya lagi, kapan pemilik rumah ini akan segera pulang?
Obito sudah menunggu sekitar 4 jam sekarang, langit sudah menjadi gelap dan mulai banyak tikus, kecoa, dan serangga malam hari lainnya yang terlihat atau berbunyi dimana-mana.
Lalu dia mendengar pintu terbuka bersama suara juga teriakan kaget bernada bahagia, yang membuat Obito langsung bereaksi berdiri dan menolehkan kepalanya.
Saat ini Obito menatap pria berumur 30an yang berlari kedepannya sambil berbicara bahasa yang tidak dia mengerti dan membawa kantong kertas coklat yang Obito tidak tahu isinya apa itu.
"Aku berterima kasih padamu karena telah menyelamatkanku" Obito tersenyum, namun ketika Obito selesai berbicara, orang itu segera membuat ekspresi agak aneh dan berteriak lagi.
"%$&#- +!?" Orang itu berbicara dengan nada tanya sambil meninggikan suaranya, dan menaruh kantong kertas coklatnya di atas meja.
Mendengar itu, Obito menggelengkan kepalanya dan sedikit mengernyit, dia mengamati pria didepannya saat ini. Jelas pria itu memiliki fitur wajah yang berbeda dari setiap wajah yang pernah Obito temui, dia tidak bisa menjelaskannya bagaimana.
Pria itu berkulit putih, wajahnya persegi dan sedikit kurus dengan hidung yang mancung. Dia memiliki rambut hitam pendek juga janggut lebat yang sepertinya tidak terurus bersama dengan mata biru.
Pria itu mengenakan kemeja putih, dengan celana hitam panjang dan dua tali kecil tipis kiri kanan yang sampai ke pundaknya, dia juga memiliki topi kecil.
"Maaf, aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan, bisakah kamu berbicara bahasa Elemental?" Ketika Obito melihat pria itu terus mengoceh karena tidak mengerti apa yang dia katakan, Obito saat ini sudah menyadari seratus persen bahwa dia tidak berada di negara-negara elemental lagi.
Obito tidak tahu dimana dan sejauh apa dia dari sana, dia hanya bisa berasumsi bahwa ini sangat jauh, atau bahkan sudah berpindah dunia, lagipula pada saat itu dia bermain-main membuka gerbang dimensi dengan Mangekyo nya sebelum dia bangun disini.
Ini juga membuat banyak simpul yang lebih terjerat dihatinya, dia semakin bertanya-tanya apakah dia berhasil menemukan Sasuke pada saat itu, dan kemudian Naruto bersama yang lainnya berhasil menyegel Kaguya.
Menggertakkan giginya Obito masih mendengar pria itu berbicara lalu melihat dia melangkah maju menuju dirinya. Lalu dia juga memperhatikan bahwa pria itu hanya memiliki sedikit chakra, sedikit sekali sampai mungkin tidak terdeteksi. Walaupun merasa aneh karena bahkan bayi pun pasti memiliki lebih banyak dari itu, dia tidak menunggu lama sebelum mengaktifkan Mangekyo-nya dan menatap mata pria dihadapannya.
Pria itu segera menegang, dia berhenti melangkah, berdiri diam di sana, matanya melebar, dan lalu kembali normal lagi.
"-lain, maaf, aku tidak mengerti apa yang kamu katakan." Pria itu berkata dengan sedikit menyesal dan menggelengkan kepalanya. Obito sekarang sudah mengerti bahasa pria itu, dia sudah memasuki kepalanya tadi untuk menjelajahi atau menyalin ingatannya menggunakan genjutsu, lalu mempelajari bahasa.
Itu hanya membutuhkan waktu kurang dari satu detik di kenyataan.
"Tidak, maaf tadi aku sedikit pusing, terimakasih telah menyelamatkanku. Apakah kamu tahu aku berada dimana?" Obito mengatakan dengan bahasa yang disebut bahasa "Loen" dengan lancar, yang membuat mata pria itu sedikit melebar dan senyum memenuhi wajahnya.
"Jadi kamu bisa berbahasa Loen! Kamu berada di East Borough, aku menemukan kamu tergeletak di sebuah gang tidak jauh dari sini.
"Apa yang terjadi padamu?"
Setelah mengatakan rasa penasarannya, sekarang pria itu duduk di sisi kiri bangku sebelah meja dan menatap Obito dengan penasaran.
Biarpun Obito sudah melihat ingatan pria itu selama beberapa jam dan menyalin ingatannya, namun itu hanya terbatas pada bahasa karena itu semuanya adalah ingatan acak, lagipula dia melakukan itu untuk mempelajari cara untuk berkomunikasi, karena itu dia harus cepat.
Jadi dia juga mulai duduk kembali dan mencari alasan, lalu membuat seolah-olah dirinya berpikir sambil mengerutkan kening.
"Aku dirampok oleh sekumpulan orang, aku tidak tahu siapa itu, yang jelas mereka mengambil semua yang aku punya.
"Lihat? Pakaianku bahkan tidak bersisa" Obito mengatakan yang terakhir dengan nada sedih yang sedikit sarkastik, pria itu sepertinya menyadari sesuatu dan langsung berdiri.
"Ada banyak bajingan di East Borough, karena itu kita semua harus berhati-hati jika bertemu mereka. Sebentar aku akan mengambil pakaianku, tinggi dan badan kami hampir sama, itu seharusnya cocok!"
"Tungg-"
Obito ingin menyela, namun pria itu segera berlari ke kamarnya untuk mengambil pakaian dan kembali dengan itu.
"Pakai ini, maaf aku seharusnya segera memberi pakaian ketika aku melihatmu, apalagi dengan East Borough yang dingin…
"Sial! Ini adalah sifat burukku."
Mendengar perkataan yang sungguh-sungguh, Obito tidak menolak dan segera memakainya, lagipula disini memang dingin, dan juga tidak nyaman untuk terus tidak memakai pakaian.
Itu semua adalah setelan panjang, kemeja berwarna putih sementara celana berwarna hitam, namun mereka semua sangat tipis dan seperti terbuat dari bahan-bahan yang sangat murah.
"Itu terlihat bagus padamu. Sudah dua hari kamu berada di tempat tidur dan perutmu pasti lapar, aku sudah membeli beberapa sayuran, kentang dan juga roti, heh… dan tentu saja aku harus memasaknya terlebih dahulu.
"Jadi kamu duduk saja dulu, oh ya! namaku adalah Scott."
"Obito"
Obito menjawab dengan pelan sambil menatap Scott dengan tatapan sedikit aneh. Kesalahan masa lalu yang dia miliki sudah banyak melampaui batas, oleh karena itu dia tidak tahu, apakah dia masih pantas untuk mendapatkan kebaikan dari orang-orang disekelilingnya.
Aku seharusnya berada di neraka.
Obito mencerca dirinya sendiri.
"Jadi kamu kehilangan sebagian ingatanmu?"
Scott mengangkat alis kepada Obito, mereka selesai makan dua jam yang lalu, setelah makanan mereka habis, dan membereskan tempatnya, dia segera bertanya lebih banyak tentang Obito.
Scott tidak pernah bertemu seseorang yang kehilangan ingatan sebelumnya, namun itu lebih baik daripada kehilangan nyawa, pikir Scott.
Tentu saja itu semua masih tidak bisa ditoleransi, geng-geng itu sangat keterlaluan belakangan ini, mereka juga menjadi lebih aktif, apalagi banyak anak-anak atau orang-orang yang hilang, dan itu membuat Scott seratus persen yakin kalau itu adalah perbuatan mereka.
Namun tidak ada yang bisa dia lakukan, hati Scott sakit ketika memikirkan itu.
"Karena itu aku berterima kasih untuk semua kebaikanmu, aku akan pergi sekarang, namun aku akan membalas ini semua dimasa depan jika aku bisa." Obito mengangguk dan dengan cepat membuat keputusan, lagipula energinya sudah sangat pulih sekarang, dan dia juga sudah bertemu dan mengucapkan terimakasih dengan orang yang menyelamatkannya.
Kalau dia tidak melakukan itu, itu sama saja menjadi bajingan seperti yang dia lakukan di masa lalu.
Dia harus pulang sekarang untuk bertemu Naruto, Kakashi, Sakura, juga Sasuke. Membantu mereka mengalahkan Kaguya lalu jika mereka berhasil mengalahkannya, Obito bisa mendapatkan hukumannya.
Namun tetap saja yang membuat Obito cemas adalah karena itu sudah lebih dari dua hari, dan dia tidak tahu apa yang terjadi saat ini disana. Itu juga alasan lainnya kenapa dia tidak langsung mencari jalan pulang, selain dari karena energinya yang habis.
Tanpa mengucapkan lebih banyak lagi Obito membungkuk sedikit lalu berjalan keluar, yang membuat Scott segera berdiri dan mengejarnya.
"Hei tunggu Obito, tubuhmu masih lemah dan di luar sudah malam, Itu semakin berbahaya karena keadaanmu yang seperti itu!
"Kamu bisa tinggal disini sebentar dan pergi ketika sudah terang bukan?"
Scott khawatir pada Obito ketika berusaha menghentikannya, pria itu sangat babak belur ketika dia menemukannya, walaupun sekarang sudah lebih baik yang membuat Scott kagum pada penyembuhan tubuh alami Obito, namun itu masih tidak bisa memutar balikan fakta bahwa dia masih sangat lemah.
Obito berhenti ketika sampai di depan pintu kemudian berbalik untuk menatap Scott dan tersenyum menyakinkan.
"Tidak apa-apa, ada hal lain yang harus aku lakukan, aku takut menyesal jika terlambat untuk pergi kesana, senang mengenalmu… Scott."
Lalu Obito melanjutkan langkahnya, namun sekarang Scott tidak menghentikan dia, Scott hanya berdiri diam dan menatap orang itu yang semakin mengecil dipandangan ketika dia terus berjalan dengan sedikit perasaan khawatir.
Dia cemas jika sesuatu terjadi pada Obito. Karena setelah membawanya keluar dari gang, itu berarti dia adalah tanggung jawabnya sebelum dia pulih.
Dan jika seperti itu, semuanya akan menjadi salah Scott karena tidak bisa menyelamatkan orang lagi….
Di tengah angin sepoi-sepoi yang membawa hawa dingin kepada dirinya.
Scott hanya berharap, semuanya akan baik-baik saja.
Di dimensi gelap yang hanya terdiri dari
bebatuan kotak yang ditempatkan tidak menentu.
Kedua mata Obito mengeluarkan sedikit darah, dia terengah-engah juga putus asa.
Dia... tidak bisa menemukan jalan untuk kembali ke dimensi dunianya sendiri.
Obito tidak tahu mengapa, namun dia sudah merasa tidak terhubung dengan dimensi itu, sebelumnya ketika dia berada di dimensi Kamui, dia bisa mensimulasikan tempat apapun yang ada dipikirannya dan pergi kesana asalkan dia sudah pernah berada di tempat, melihat, atau mengingatnya.
Dan jika dia tidak pernah melakukan semua itu, paling-paling dia hanya akan berteleportasi biasa dengan hanya mengandalkan instingnya.
Dan sekarang itu semua diblokir dengan cara yang tidak dia ketahui, dia sudah berusaha sekuat tenaga namun tetap tidak menghasilkan apapun.
Keluar dari dimensi Kamui, Obito saat ini berada di dekat Sungai Tussock dan hari sudah pagi, ada jembatan di atas bersama rel kereta uap. Obito tadi memilih untuk memasuki dimensinya disini, dimana tidak akan ada orang yang melihatnya.
Dia sudah mengetahui sedikit dari ingatan Scott Winters, dan juga orang lain yang dia temui dalam perjalanan, bahwa orang-orang disini tidak memiliki kemampuan seperti dirinya, Obito juga sudah menduga itu ketika melihat orang-orang disini hampir tidak memiliki chakra.
Menghela napas, sekarang Obito berpikir apa yang harus dia lakukan, dia tidak memiliki tujuan, tujuannya sudah direnggut ketika dia tidak bisa kembali ke dimensi dunianya sendiri.
Obito berjalan tanpa arah dan mengamati lingkungannya, bangunan disini sangat berbeda dari dunianya dan pakaian orang-orangnya juga. Kebanyakan dari mereka akan menggunakan topi dan membawa tongkat kemana-mana.
Dan dia juga memperhatikan satu hal bahwa, kereta kuda sangat mendominasi di jalanan.
Tidak lama setelah itu Obito melihat perpustakaan umum, perpustakaan itu tidak kecil, namun juga tidak besar. ya dia bisa membaca karena menyalin ingatan dari ingatan orang lain, lagipula membaca itu adalah hal yang mudah.
Ketika dia masuk perpustakaan, ada beberapa orang yang berada disini dengan satu penjaga wanita muda mengenakan kacamata yang sedang duduk dibalik meja.
Obito tidak menghiraukan mereka, dan lalu mencari-cari buku apa yang harus ia baca, dia mengambil bagian sejarah terlebih dahulu, lalu duduk sambil membacanya.
Sudah lebih dari lima jam Obito di perpustakaan, dia banyak sekali membaca sejarah dunia ini, mitos penciptaan, kerajaan, atau bahkan tentang gereja-gereja.
Sekarang Obito tahu lebih detail bahwa semua orang disini memiliki imannya masing-masing kepada dewa mereka, itu membuat Obito mengerutkan kening karena sebelumnya dia hanya pernah percaya pada dewa ketika masih kecil.
Lalu harapannya kepada semua dewa pupus ketika dia melihat Rin mati.
Mengalihkan pikirannya Obito keluar dari perpustakaan, dia memutuskan untuk mencari uang dan mendapatkan makanan. Walaupun dia mempunyai sel Hashirama yang terus menguatkan daya tahan tubuhnya dan tahan lapar lebih daripada manusia normal, itu masih perlu diisi dengan nutrisi.
Karena beberapa ingatan orang lain yang dia lihat sebelumnya, dia tahu bahwa disini ada sebuah bar yang menyediakan misi kepada para "Pemburu Bayaran" untuk mendapatkan uang, siapapun bisa mengambil misi itu dan menerima hadiah asalkan misi selesai.
Menangkap orang-orang dan membunuh adalah pekerjaan yang Obito paling kuasai, asalkan orang-orang itu merupakan bajingan keji, jadi mengapa tidak?
Tidak butuh waktu lama bagi Obito untuk menemukan bar kecil yang dia ingat dan memasukinya, di dalam ada banyak sekali suara bising ataupun bau minuman alkohol yang tersebar di udara. Obito mengamati mereka sebentar lalu berjalan ke banyak kertas yang terpampang di dinding.
Misi-misi itu adalah menangkap seorang pembunuh, pencuri, dan juga termasuk melindungi seseorang.
Obito sedikit kaku saat ini, karena semua yang terpampang di sana jelas adalah misi yang membutuhkan waktu berhari-hari, dia tidak bisa melacak mereka begitu saja, lagipula dia tidak tahu caranya. Dan itu berarti dia tidak akan mendapatkan uang dalam waktu dekat.
Namun Obito berhasil menenangkan dirinya, dia mungkin masih bisa mendapatkan sedikit uang dengan cara menghancurkan beberapa geng yang berkeliaran di East Borough nanti, atau mencari pekerjaan yang layak, namun untuk waktu ini ambil saja misinya, dan kemudian dapatkan uang.
Dia mengambil misi yang baru ditugaskan saat ini, karena selain masih baru, targetnya mungkin belum pergi jauh, dan hadiahnya adalah 30 pound.
Itu adalah seorang pembunuh bernama Steven Roger berumur sekitar pertengahan 20an, dia membunuh tiga tetangganya di Cherwood Borough kemarin tanpa alasan yang jelas, menurut petunjuk oleh salah satu korban selamat dan beberapa warga, dia mungkin lari ke St. George Borough.
Dan disana juga ada gambar hitam putih bersama tulisan karakteristik warna rambut hitam dan mata hijau.
Obito juga tidak lupa melihat dan mengingat semua target lainnya yang tertempel di dinding, karena mungkin saja dia akan melihat mereka.
Setelah itu Obito menuju ke sebuah bartender untuk menanyakan beberapa hal.
"Steven Roger, berapa banyak orang yang mencarinya saat ini?" Obito bertanya dengan kepada bartender itu ketika dia duduk.
Bartender yang memiliki umur pertengahan 50an dan garis rambut tipis, mengangkat alisnya ketika dia melihat Obito tiba-tiba bertanya, dengan aksen yang berbeda dari penduduk Loen.
"Yang pasti ada banyak orang memburu dia, hadiahnya cukup besar dari rata-rata misi. Heh, aku tidak pernah melihat dirimu sebelumnya, baru tiba di Backlund?"
"Ya, beberapa hari yang lalu"
Obito mengangguk tidak menyangkal apapun, kemudian berdiri, berjalan menuju pintu keluar.
Bartender itu ingin berteriak untuk mengingatkan Obito bahwa berbahaya menyelidiki pembunuh seorang diri, namun dia dengan cepat menghentikan gagasan itu, karena sepertinya dia terlihat cukup veteran, lalu dia hanya sedikit menggelengkan kepalanya ketika melihat Obito sudah keluar.
Di luar, Obito segera pergi ke gang terpencil lalu menggunakan teleportasi Kamui nya, dan menuju ke St. George Borough.
Seperti yang diduga Obito, melacak tidak mudah apalagi target tidak memiliki chakra, dia sudah melakukan itu selama beberapa jam sekarang dan mulai bosan.
Dia sudah berkeliling di jalanan seperti orang bodoh dan kadang-kadang akan menggunakan Kamui untuk memasuki ke kediaman orang lain, namun sampai pada detik ini, itu tidak berhasil.
Obito tidak kesal karena gagal hari ini, dan dia mempertimbangkan dengan serius apakah harus benar-benar mencari pekerjaan biasa dan melupakan semua ini lalu hidup dengan normal, dia bisa menebang kayu lalu menjualnya, menjadi pelindung bagi orang lain, atau sebagainya…
Lagipula saat ini tidak ada cara untuk pulang, bukan?
Ketika dia memikirkan hal itu dan hatinya kembali melonjak sedih. Dia masih melaju dari satu rumah ke rumah sambil menggunakan genjutsu tidak terlihat, dia lalu merasakan indranya menjadi sensitif dan menengok ke samping gudang dengan banyaknya kotak kayu.
Disana Steven Roger sedang duduk dengan ekspresi mata merah dan panik bersama tangannya yang gemetar.
Obito memperhatikan dia sebentar memastikan bahwa itu benar-benar dia. Setelah beberapa detik berdiam diri, dia kemudian berlari tanpa mengeluarkan suara atau jejak debu.
Ketika dia mengarahkan tinjunya kepada Steven Roger untuk membuat dia sekali pingsan, Steven menghindar dengan cepat kesamping.
Itu membuat Obito sedikit terkejut, karena dia benar-benar sedang menggunakan Genjutsu tidak terlihat!
"Siapa?!" Steven berteriak, sambil mengeluarkan belati yang menggantung dari pinggangnya, belati itu memiliki ilusi seperti petir dan banyak pola simbol aneh di ukir disana.
Melihat itu, Obito merasakan dadanya mengencang, itu bukan karena datang dari Steven, namun belati itu, sepertinya dia telah salah tentang dunia ini. Dunia ini mungkin memang tidak memiliki chakra, namun dia memiliki hukum yang berbeda!
Tetapi perasaan itu dengan cepat diatasi dan Obito lalu menggunakan tangan kanannya dan mengeluarkan sulur kayu untuk melilitkan Steven.
Steven tidak memiliki waktu bereaksi, kecepatannya sangat lambat jika dibandingan dengan serangan Obito, segera setelah itu Obito menatap mata Steven dan menggunakan Genjutsu kepadanya, dalam sekejap dia berada di pikiran Steven, dan ada banyak memori yang mengalir disini…
Steven rupanya merupakan seorang penggila mistisme, dia percaya bahwa di dunia ini ada kekuatan yang bisa membuat manusia lebih kuat melewati imajinasi.
Dia berkenalan dengan orang-orang yang minat sama dan lalu menemukan banyak pertemuan Beyonder selama bertahun-tahun, namun karena dia tidak memiliki banyak uang, dia hanya bisa melupakan membeli resep salah satu dari 22 jalur untuk menjadi Beyonder. Dan sebagai gantinya dia membeli senjata, dan itu adalah Belati Petir miliknya yang seharga 150 pound.
Belati dengan banyaknya pola itu bisa mengeluarkan petir ilusi dan menyetrum lawan, dan sebagai akibatnya lawan akan mengalami mati rasa sementara, dan belati itu juga memberikan efek tambahan kepada pengguna, seperti menjadi lincah bersama serangannya menjadi lebih kuat.
Namun sebagai efek negatifnya itu akan menimbulkan emosi pengguna menjadi lebih kuat.
Dan lalu Steven yang selalu membawa belati ini kemana-mana, menemukan sebuah benda seperti kristal jeli aneh yang indah di sebuah reruntuhan kastil terbengkalai, Steven mengambil itu dan menatap benda itu selama sehari, dia memiliki perasaan bahwa jeli itu ajaib, dan dibawa oleh emosi yang dikuatkan oleh belati, dia memakan benda itu dengan sekali suapan.
Pada saat itu, dia mendengar suara-suara aneh, pikirannya menjadi kacau, hampir gila.
Ketika suara itu selesai, Steven merasakan bahwa dia mempunyai kemampuan supranatural, tubuhnya lebih kuat, dia bisa menggunakan api aneh dan lainnya.
Karena rasa senang dan emosinya yang menjadi tidak stabil, Steven akan mencoba sedikit kemampuannya, oleh karena itu selama dua hari dia terus tinggal di dalam kamar, dia juga sekali-kali akan membayangkan bagaimana jika orang-orang dapat merasakan kekuatan barunya.
Lalu dalam waktu semakin lama, emosi haus akan pembunuhan juga semakin menguasai dirinya, dia tidak tahan lagi dan keluar waktu malam, memasuki rumah tetangganya dengan paksa dan membunuhnya.
Realisasi memasuki indranya saat dia selesai melakukan itu, dia takut, dan bergetar hampir gila, takut oleh bahwa pasukan khusus gereja akan datang. Dia segera berlari menuju ke sini, ke tempat gudang yang sudah tak terpakai sejak lama.
Obito mengerutkan kening ketika melihat itu, dan dia juga menyadari setelah melihat ingatan Steven bahwa, di dunia ini ada 22 jalur ramuan dengan kemampuan berbeda, dan manusia bisa mendapatkan kekuatan hanya dengan meminum itu.
Setiap ramuan mempunyai 9 level, 9 terendah dan 1 tertinggi, dan seseorang juga tidak bisa meminum ramuan dari jalur lain atau dia akan menjadi gila.
Namun, mengapa orang ini bisa mendapatkan kekuatan hanya dengan memakan benda seperti jeli itu? Apakah ada kekuatan lagi selain dari ramuan? Obito bingung saat ini. Namun keadaan dia segera menjadi tidak stabil pada saat itu, pikirannya sudah tidak rasional, dia hampir kehilangan kendali…
Obito berpikir mungkin benda seperti jeli itu adalah hal yang berbahaya dibandingkan dengan ramuan, oleh karena itu informasinya tidak disebarluaskan, yang membuat Steven tidak mengetahuinya.
Keluar dari Genjutsu dan kepala Steven, Obito menatap Steven yang sedang tidak sadarkan diri dan terikat dengan sulur kayu.
Apakah aku harus menyerahkan dia sekarang untuk mendapatkan uang? Namun dia membunuh orang secara tidak sengaja, tidak, pada dasarnya dia sudah menjadi gila karena pengaruh jeli itu.
Obito juga yang sudah tahu banyak informasi dari ingatan Steven, tahu bahaya kehilangan kendali oleh ramuan, pada dasarnya orang-orang akan dengan pasti menjadi monster yang haus darah, dan Steven jika dibiarkan dan tidak ditemukan oleh Obito, mungkin akan segera menjadi seperti itu.
Namun jika aku menyerahkannya sekarang, bagaimana jika Steven mengamuk disana?
Tetapi berdasarkan ingatan Steven, ada Beyonder resmi di gereja juga polisi, jadi itu mungkin tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
Pada dasarnya, jika Obito menyerahkan Steven saat ini, dia akan langsung diserahkan kepada polisi, jadi Steven akan langsung dipantau oleh mereka.
Menggelengkan kepalanya, Obito melepaskan sulur kayu dari tubuh Steven dan menggeledah dirinya, dia mendapatkan kantong benda-benda herbal dan minyak yang bisa digunakan untuk ritual, uang tunai 13 pound, dan Belati Petir.
Obito mengambil semua itu, lalu menaruh Belati Petir yang bisa meningkatkan emosinya di dimensi Kamui.
Setelah itu tubuhnya dan juga Steven tersedot ke lingkaran kecil yang muncul di mata kanannya, kemudian mereka menghilang.
Obito telah berteleportasi.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali, setelah menerima 30 pound karena menyerahkan Steven dan cukup tidur di dimensi Kamui. Obito pergi membeli 3 kemeja lengan panjang, 2 rompi, 2 jas, 2 celana panjang dan sepatu.
Obito hanya membeli yang termurah dan karena itu dia hanya menghabiskan kurang dari 2 pound, kemudian memakai itu, dan menaruh semua pakaiannya yang belum terpakai di dimensi Kamui.
Lalu dia datang ke sebuah kedai makanan di East Borough dan memakan sebuah pai apel seharga 3 pence di meja luar toko, sambil menatap para pejalan kaki.
Rasa pai apel ini manis juga lembut, yang membuat Obito menyukainya. Dia tidak ingat kapan terakhir kali menikmati makanan, mungkin itu adalah ketika dia masih seorang Chunin.
Obito ingat pada saat dia masih kecil, dia akan selalu membantu orang-orang tua membawa bahan belanjaan atau barang bawaannya di jam-jam seperti saat ini, lalu sebagai hadiah dia akan diberi permen oleh mereka.
Bukannya dia meminta imbalan atau apa, namun tetap saja Obito menerimanya karena mereka memaksa, dan juga rasa permen itu sangat manis dan menyegarkan.
Memakan sepotong demi sepotong pai sampai habis, Obito lalu meminum air es lemon untuk menghilangkan rasa tidak enak yang tertinggal di tenggorokannya.
Berdiri dan membeli beberapa makanan seperti mie, daging ayam dan lainnya untuk dibawa, Obito berjalan-jalan di area kumuh.
Daerah ini benar-benar mengingatkan Obito kepada Amegakure yang memiliki banyak tunawisma akibat perang, dia ingat bertemu Yahiko, Nagato, Konan, yang sedang berjuang untuk keluar dari situasi mereka dan menciptakan perdamaian.
Namun, Obito menggagalkan semua itu, dan dia akan selamanya menyesal karena telah melakukannya.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Obito untuk melihat 4 anak-anak berusia 12-15 tahun, yang sedang berkumpul di gang sambil menyalakan api.
Mereka yang sedang dengan tenang bercakap-cakap mendiskusikan sesuatu, tiba-tiba waspada saat melihat Obito mendekat.
"Hei, kawan." Obito duduk di tembok batu pendek yang kosong dekat mereka, dia bertindak seperti seseorang yang akrab.
Anak-anak kecil yang kumuh itu lalu saling menatap satu sama lain, dan yang tertua memutuskan untuk maju.
"Tuan, apakah kamu membutuhkan sesuatu?"
Anak lelaki yang berusia 15 tahun dan memiliki rambut coklat, mata hitam, juga paling tenang itu, bertanya dengan sedikit bingung juga waspada.
Dia tidak tahu mengapa seseorang pria dewasa ini tiba-tiba menghampiri mereka dan lalu segera duduk di sana. Mereka saat ini sedang mendiskusikan sesuatu, sebelum dia akan pergi ke Daily News untuk mengantarkan koran.
"Santai saja, apakah kalian semua ingin makanan? Sepertinya kalian semua lapar, aku membeli beberapa, ini seharusnya cukup untuk kalian semua." Obito mengangkat kantong kertas yang dia bawa sambil mengarahkannya kepada mereka, itu mengeluarkan bau yang sedap dan menggiurkan. Obito tersenyum, dia bisa melihat mata semua anak-anak itu langsung tertuju pada yang dia pegang.
"Tuan, apa yang sebenarnya kamu inginkan?" Mendengar anak-anak lain menelan ludah mereka, yang paling tua dari mereka segera bertanya lagi dengan sedikit mengerutkan kening.
Sejujurnya memang sering ada yang membagikan makanan secara gratis di East Borough, namun itu biasanya hanya dilakukan oleh organisasi, dan setiap orang hanya akan mendapatkan satu.
Tetapi jika seorang pria acak membagikan sesuatu secara tiba-tiba kepada mereka, mungkin dia memiliki maksud tertentu, jadi anak itu tidak membiarkan anak-anak lain untuk langsung mengambil kantong kertas Obito.
Melihat mereka seperti itu, Obito tertawa ringan, dia tahu mengapa mereka tidak segera mengambilnya dan memutuskan untuk menjelaskan.
"Siapa namamu?"
"Dean"
"Nah Dean, sejujurnya aku memang membutuhkan bantuanmu termasuk juga teman-temanmu, aku baru tiba di Backlund beberapa hari yang lalu dan pekerjaanku sebelumnya adalah pemburu hadiah, kau pasti tahu apa itu bukan?"
Obito mengatakan perkataan acaknya. Setelah menerima total 43 pound dari menangkap Steven, dan mendapatkan benda Belati Petir seharga 150 pound yang bisa Obito jual nanti di pertemuan para beyonder, dia berpikir bahwa pekerjaan ini tidak buruk, dia bisa menggunakan ini sebagai pekerjaan sampingan untuk mendapatkan uang.
Jadi sebagai pemburu hadiah, dia mungkin perlu mendapatkan informasi setiap harinya, termasuk melihat misi layak yang akan terpampang di dinding-dinding banyak bar tertentu.
Namun karena dia ingin lebih masuk ke lingkaran beyonder, dia tidak bisa melakukan itu setiap hari. Jadi mempekerjakan seseorang merupakan pilihan terbaik, pekerjaan ini juga tidak berbahaya, jadi anak-anak seperti mereka bisa melakukannya.
Apalagi Obito tahu, bahwa anak-anak ini kekurangan makanan, itu bisa dilihat dengan jelas di mata siapapun, pekerjaan yang akan dia tawarkan bisa membantu mereka. Karena itu kecil kemungkinan mereka akan menolak.
Dean mengangguk mendengar perkataan Obito, dia tahu apa itu pemburu hadiah, Dean suka melihat mereka ketika datang ke Bar untuk mengantarkan koran, namun dia hanya tahu sedikit saja.
Melihat dia mengangguk Obito melanjutkan.
"Bagus, jadi aku ingin memberimu tugas, ini bukan tugas yang sulit, hanya memperhatikan jalanan di East Borough dan sekitarnya saja setiap hari, ingat kamu harus memperhatikan hal secara terperinci peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi setiap harinya
"Namun jangan pergi ke tempat yang menurutmu berbahaya seperti: tempat para geng berkumpul atau yang berhubungan dengan itu
"Dan kalian juga bisa ke bar-bar di sekitar sini yang mempunyai misi untuk para pemburu hadiah, jika kalian bisa menulis atau membaca, catat saja semuanya, aku akan memberimu alat tulis nanti… apakah kamu bisa membaca?"
Dean menyerap semua perkataan Obito.
"Jika hanya membaca atau menulis kami bisa melakukannya, dan apa saja yang akan kami dapatkan sebagai bayaran untuk semua itu?"
Dia tidak berbohong, walaupun Dean dan teman-temannya adalah anak terlantar, mereka masih bisa bekerja mengumpulkan uang beberapa pence atau soli sehari, dan lalu mereka akan menghadiri sekolah yang diadakan oleh Gereja Dewi Evernight.
Dean juga merasa bisa melakukan semua tugas yang Obito katakan, jika tidak sampai melibatkan geng-geng itu, itu mudah. Apalagi mereka juga sedang mendiskusikan tentang mencari lebih banyak uang sebelumnya, terutama untuk Ben.
Namun tentu saja bayarannya harus sepadan, lagipula hal yang Obito perintahkan akan memakan banyak waktu, jika bayarannya terlalu sedikit, dia dan teman-temannya, lebih baik mencari pekerjaan sampingan lain.
Tersenyum lembut Obito mengeluarkan uang pound dan juga soli dari sakunya. dia hanya memiliki 39 pound 17 soli tersisa saat ini.
"Aku bisa membayarmu 3 soli sehari untuk setiap informasi yang kamu dapatkan, aku aku akan kemari setiap hari setelah matahari terbenam, apakah kamu menerimanya?"
Obito bisa menggunakan Kamui untuk berteleportasi, jadi dia memang bisa menemui mereka setiap hari, dan dia juga tidak mengatakan bahwa dia bisa saja memberi bonus jika mereka bisa mendapatkan informasi berharga, lagipula keuangannya ketat, namun meski begitu dia tidak takut untuk kehabisan uang.
Dean, Ben, Layla, juga Edward yang dibelakangnya saling memandang, 3 soli sehari! Jika benar itu adalah 3 soli sehari, dan jika pria di depan mereka tidak bercanda, itu bisa sangat membantu mereka berempat, perlu diketahui bahwa Dean yang melakukan pengiriman surat dan perkerjaan acak sehari paling banyak hanya akan menerima 15 pence.
Dan penghasilan mereka semua jika disatukan sehari, rata-rata hanya akan mendapatkan 1 soli 17 pence.
Pada saat itu Ben yang berusia 13 tahun memutuskan untuk berbicara, dia lebih sedikit malu-malu daripada Dean.
"Tuan, aku bisa melakukannya, kalian juga 'kan?" Ben bertanya untuk mengkonfirmasi kepada teman-temannya, setelah mereka mengangguk, dia melanjutkan.
"Kapan kami mulai bisa bekerja untukmu?"
Memisahkan uang dan mengambil lima soli Obito menyerahkannya kepada mereka, yang segera membuat mata mereka melebar.
"Besok kalian bisa mulai mendapatkan informasi-informasi itu untukku, ini adalah uang muka, dan dua soli-nya adalah untuk membeli kertas juga alat tulis kalian"
"Tetapi kami belum mulai bekerja…" Dean berbisik, namun menerima apa yang Obito berikan kepadanya dengan erat, lalu dia meninggikan suaranya. "Oh, ya, kami harus memanggilmu apa tuan?"
Mendengar itu Obito tertawa karena lupa menyebutkan namanya, lalu dia mengacak-acak rambut Dean, yang membuatnya tidak nyaman, walaupun begitu Obito tidak peduli dan segera mengangkat kantong kertasnya.
"Panggil saja aku Obito,
"Nah! Karena kalian sudah resmi menjadi informan untukku, mari rayakan ini dengan makanan yang sudah kubeli. Jangan ditunda lagi, jika makanan menjadi dingin, rasanya akan kurang enak"
Pada saat itu Dean bersama teman-temannya tidak menolak, mereka tersenyum bahagia, meskipun dengan cuaca pagi yang begitu dingin, mereka memakan makanan yang hangat itu dengan lahap juga penuh syukur.
