Setelah berbicara dengan anak-anak. Obito segera pergi menuju bar yang dia kunjungi kemarin, dia masih tidak memiliki hal yang ingin dilakukan hingga saat ini.
Dia naik kereta kuda sekarang, sehingga lebih terlihat seperti orang normal pada umumnya. Memang itu hanya menghabiskan uang karena dia bisa berlari lebih cepat daripada kuda atau berteleportasi, namun dia hanya merasa perlu berbaur dengan kehidupan barunya untuk saat ini.
Apalagi tidak cocok melakukan hal seperti itu terus-menerus setelah dia tahu, bahwa di dunia ini ada kekuatan yang tidak dia ketahui. Dia tidak ingin menghadapi mereka jika dia bisa menghindarinya.
Turun dari kereta kuda dan tiba di depan bar, Obito sedikit mengangkat alis karena disambut oleh kebisingan yang tidak jauh di depannya.
Itu disebabkan oleh wanita mungil berambut pirang, yang telah membuat dua orang lelaki babak belur dan juga terkapar di dinding.
"Jika kalian terus membuat masalah ditempat ini, aku tidak akan segan untuk menambahkan beberapa warna ungu lagi pada wajah kalian!"
Obito yang sedang memperhatikan mereka sebentar, dengan cepat kehilangan minatnya menjadi tidak peduli dan memasuki bar. Kemudian dia duduk di depan Bartender, lalu melihat papan menu lalu berkata.
"Beri aku satu bir Southville"
"Lima pence" Bartender paruh baya yang sudah ketiga kalinya melihat Obito berkata dengan tenang. Setelah menerima uang, dia segera menyiapkan bir malt-nya dan menyerahkan itu kepada Obito.
Obito menerima minuman yang berwarna emas transparan dengan banyak busa itu, kemudian menyesapnya. Dia jarang minum minuman beralkohol sebelumnya, terutama sake.
Namun rasa bir Southville yang dia rasakan tidak begitu buruk, itu manis setelah pahitnya menghilang, ketika dia meneguknya.
"Apa yang terjadi di luar? Sepertinya aku melihat sedikit keributan."
Bartender itu sedang membersihkan tangannya dengan sarung tangan saat ini, dia lalu menjawab dengan suara seraknya tanpa menatap mata Obito.
"Itu kejadian biasa yang telah dilakukan oleh orang-orang bodoh, mereka memasang taruhan pada permainan kartunya, dan ketika salah satu dari mereka kalah lalu kehilangan uangnya, mereka tidak terima, kemudian kekacauan terjadi
"Mungkin Xio tidak tahan setiap hal itu terjadi, lalu memberi mereka pelajaran ketika kata-kata tidak lagi begitu efektif. Heh, dia selalu ikut campur dengan setiap keributan, namun, aku senang karena dia melakukannya
"Aku selalu merasa kesal kepada orang-orang seperti itu, jika mereka sangat miskin, kenapa mempertaruhkan uang mereka dengan begitu berani?
"Apakah mereka hanya berpikir tentang kesenangan? Atau mungkin mereka benar-benar berpikir bahwa keberuntungan ada di sisi mereka."
Mendengar semua penjelasan pria itu, Obito mengangguk ringan.
"Memang, karena kesenangan sementara, telah banyak membuat orang-orang lupa diri. Kemudian ketika kesenangan itu berakhir, hanya akan ada penyesalan yang tersisa.
"Namun tentu saja mereka akan kembali melakukan hal itu lagi jika memiliki kesempatan, hanya untuk merasakan kesenangan sementara itu kembali."
Obito telah melihat banyak orang-orang seperti itu selama hidupnya, jadi dia mengucapkan apa yang ada dipikirannya, dan kemudian mereka berdua terdiam, setelah itu, Obito melanjutkan minum.
Setelah keheningan yang singkat, Bartender itu memperhatikan Obito dan kemudian berdehem dengan ringan.
"Apakah kamu memiliki misi yang sedang kamu kerjakan saat ini?"
Obito mengangkat alisnya.
"Tidak, mengapa?" Obito yakin dia belum akrab dengan pria di depannya, karena itu dia mengangkat alisnya dengan penasaran.
"Begini, orang yang ku kenal sedang membutuhkan seseorang untuk melindunginya, aku tidak tahu berapa hari yang dia butuhkan untuk menyewa seorang pelindung itu, namun yang jelas hadiahnya cukup banyak.
"Ngomong-ngomong, namaku Greg Robertson"
Greg sudah melihat orang ini kemarin dengan cepat menangkap seorang pembunuh dan membuatnya pingsan setelah dia baru saja mengambil misinya. Dia sudah tahu bahwa orang di depannya mungkin telah menghadapi hal-hal sulit, karena itu dia kuat, itu bisa dilihat dari postur tubuhnya. Namun dia tidak menyangka misinya akan diselesaikan secepat itu.
Biasanya hanya orang yang berkelompok yang bisa melakukan itu. Namun jika orang itu bisa melakukannya sendirian, itu tandanya mungkin dia memiliki kekuatan diatas manusia biasa, Greg sudah pernah melihat mereka.
Tetapi tentu saja, itu bisa juga hanya karena sebuah keberuntungan, atau bisa jadi dia telah bekerja sama dengan si Steven, tapi itu adalah hal yang tidak mungkin.
"Kau bisa memanggilku Obito. Jika itu hanya melindungi seseorang aku bisa melakukannya, siapa itu?"
Mendengar perkataan Obito, Greg berpikir sejenak dan melihat ke arah pintu keluar lalu melanjutkan.
"Dia akan tiba tidak lama lagi, dia seorang wartawan, dan kamu juga tidak akan melindungi dia sendirian, Xio Derecha juga akan melakukannya."
Obito yang telah mendengar nama itu untuk kedua kalinya, tahu siapa yang disebutkan oleh Greg, dia adalah wanita pirang pendek yang tadi dilihatnya.
Lalu Obito terdiam sejenak, mengangguk, dan tidak mengajukan pertanyaan lagi, kemudian mulai menghabiskan birnya.
Setelah beberapa menit duduk dalam diam dan sesekali melakukan percakapan ringan bersama Greg, gelas Obito sudah kosong, kemudian suara langkah kaki mendekat terdengar di belakangnya.
"Itu dia orangnya, hai John." Greg berbisik, kemudian berkata kepada pria yang baru saja mendekat dan berdiri di belakang Obito, wanita pendek pirang yang tadi di luar bar, juga bersamanya.
John adalah pria yang sedikit lusuh berusia 40an, dia memakai jas hujan dan juga topi fedora, dan ekspresinya sedang gelisah saat ini.
Mereka dan juga Xio, lalu bercakap-cakap sebentar sambil berjalan ke ruang belakang, menghilang dari pandangan Obito. Setelah beberapa menit, Greg kembali dan meminta Obito untuk ikut bersamanya, dan dia tidak menolak.
Obito mengikuti Greg ke ruang belakang sambil memperhatikan beberapa dekorasinya, Greg membuka pintu dan sebuah ruangan yang cukup besar terlihat. Disana ada John juga Xio Derecha yang sedang duduk di sofa.
John yang terlihat seperti pria ramah, dan memiliki garis di kanan kiri bawah mata dekat hidungnya. Berdiri dan berjabat tangan dengannya sambil memakai senyum gugup.
Xio juga mengikuti berjabat tangan. Dan jika Obito memperhatikan lebih dekat, walaupun wanita itu memiliki tubuh yang pendek juga rambutnya yang sedikit acak-acakkan, anehnya dia terlihat bermartabat dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Setelah Obito duduk di samping Xio, Greg keluar ruangan. John sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan dan berkata dengan serius.
"Namaku John Rivers, Greg sudah memberitahuku namamu, dan aku percaya penilaian Greg pada kalian untuk melindungi hidupku.
"Sebagai seorang wartawan tugasku adalah membawa berita, empat hari yang lalu aku menemukan jejak-jejak penculikan orang atau anak-anak dari East Borough. Itu dilakukan oleh Travis Barker dan para bawahannya
"Aku langsung menyelidiki mereka, setelah menemukan lebih banyak bukti, aku melaporkannya kepada polisi, lalu mereka ditangkap, namun sebagian melarikan diri, dan itu termasuk Travis Barker.
"Aku gelisah selama lebih dari dua hari sekarang, selalu merasa ada yang menatapku dari kejauhan, dan aku percaya bahwa aku akan menjadi target dari balas dendam."
John menghela napas sambil memijat pelipisnya. Xio mengerutkan kening setelah mendengar penjelasannya, dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Jadi… kamu ingin kami melindungimu hanya karena kamu memiliki firasat akan hal bahaya?"
Obito juga merasa aneh, namun dia tetap diam, lagipula ini adalah pekerjaan. Tetapi dia juga tidak akan menyangkal bahwa firasat terkadang akan benar, dan terutama ada banyak hal yang dia belum ketahui tentang dunia ini.
Mengangguk ringan John sedikit terkekeh.
"Kalian mungkin akan bertanya-tanya mengapa aku melakukan itu? Percaya pada firasat? Bukankah aku gila?
"Kalian bisa menganggap aku begitu, namun firasatku tidak pernah salah, aku beberapa kali diselamatkan oleh itu.
"Dan terkadang aku juga bisa melihat hal-hal yang belum pernah terjadi sebelumnya… karena itu aku tidak bisa melapor kepada polisi, aku tidak memiliki bukti dan mereka tidak akan percaya.
"Firasatku juga berkata, bahwa kalian bisa melindungiku dari mereka. Jika kalian menerima pekerjaan ini aku akan memberi kalian berdua seratus lima puluh pound, lima puluh pound sehari, bagaimana?"
Ini adalah setengah tabungan John, sebagai seorang wartawan yang berpengalaman dan memiliki koneksi luas, dia bisa mengumpulkan sejumlah uang itu.
Mendengar penjelasan John, Xio memiliki banyak pikiran yang ada di benaknya, dan sebagai seseorang yang dilahirkan sebagai Arbiter, dia mulai percaya pada perkataannya, walaupun masih ada sedikit keraguan.
Apakah dia sama sepertiku? Orang tuanya adalah Beyonder, namun dia tidak menyadarinya? Ya, jika dia menyadari hal itu, dia mungkin akan menyewa beyonder lain untuk melindunginya, namun tentu saja itu mungkin karena dia juga kekurangan uang. Tapi itu tidak mungkin! Tiga ratus pound bukanlah jumlah yang kecil.
Memutuskan untuk berbicara, Obito berdehem ringan, lalu terkekeh kecil.
"Melindungi atau bertarung adalah keahlianku, kapan kamu ingin ini dimulai?"
Xio mengangkat alis kepada Obito karena kepercayaan dirinya, tapi John yang memiliki ekspresi senang sekarang, mengangguk dengan cepat.
"Itu dimulai hari ini, dan Nona Xio, bagaimana denganmu?"
Pertanyaan John membuat Xio berpikir sejenak, meskipun uangnya cukup besar, dia tidak tahu siapa pembunuhnya, dan dia juga berpikir apakah pembunuhnya benar-benar ada… lagipula John hanya memiliki sebuah firasat, meskipun dia punya spekulasi bahwa John adalah seorang beyonder seperti dia, itu belum terbukti.
Namun jika benar-benar ada pembunuh, itu akan membuat John dalam bahaya, lagipula masalah ini ada karena John berhasil menyelamatkan banyak orang… akhirnya Xio mengangguk.
"Baiklah, aku menerima pekerjaan ini"
John menghela napas lega.
"Terimakasih. Jadi kalian akan mengikutiku hari ini ke lingkungan kelas bawah East Borough, dimana ada banyak tunawisma di sana, aku akan melakukan sedikit wawancara kepada mereka"
Walaupun Obito sudah tidak asing dengan lingkungan seperti East Borough, namun itu masih mengejutkan Obito betapa banyaknya orang-orang yang tidur di pinggir jalan.
Penampilan mereka sangat kotor seperti tidak mandi selama beberapa hari lamanya. Mereka juga sangat kurus, sehingga tulang mereka tercetak pada kulit.
Pada saat Obito memakai topeng Tobi, mungkin dia kelihatan kejam, tak bermoral, dan juga haus darah. Namun tetap saja semua itu dilakukannya untuk mewujudkan Mugen Tsukuyomi, agar semua orang bisa bahagia, walaupun semua itu hanyalah ilusi dalam mimpi belaka.
"Sebagian orang disini dulunya adalah pengusaha yang cukup sukses, namun karena beberapa alasan yang berbeda, mereka mengalami kebangkrutan.
"Tetapi sebagian orang juga merupakan orang biasa yang hanya bisa bekerja sebagai buruh, ketika pabrik-pabrik mengalami penurunan, mereka harus menerima dengan lapang dada untuk diberhentikan secara paksa.
"Karena tidak menemukan pekerjaan terus-menerus, uang mereka habis secara bertahap karena kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu mereka tidak punya pilihan lain, selain tidur di pinggir jalan."
Xio yang sudah akrab dengan daerah ini memutuskan untuk berbasa-basi, agar perjalanan tidak terlalu sepi.
"Penduduk di sini terlalu banyak, walaupun orang dermawan di Backlund juga Loen tidak sedikit, tetap saja itu tidak mungkin untuk membantu mereka semua.
"Yang bisa kita harapkan hanyalah ada lebih banyak lowongan pekerjaan di kerajaan di masa depan."
"Mungkin akan butuh waktu cukup lama, untuk mencapai saat itu."
Obito mengangguk ringan sambil membalas, dan mengikuti langkah John di belakang bersama Xio.
Sementara itu, John sedang memotret dan menulis hal-hal, yang menurut dia bisa dijadikan berita dalam koran.
Menoleh kesamping dan tidak menyembunyikan rasa penasarannya, Xio bertanya.
"Apakah kamu baru tiba di Loen? Aksen dan wajahmu sangat berbeda dari kebanyakan orang."
Obito tersenyum mendengar itu, lalu menjawab sambil tertawa ringan. "Kau punya pengamatan yang bagus, aku memang bukan dari Loen, aku berasal dari tempat yang sangat jauh, dan aku ragu kamu bisa mengetahuinya."
Wajahnya sedikit agak mirip dengan anggota-anggota yang berada dalam Gereja Storm, namun kebanyakan dari mereka memiliki rambut berwarna biru. Karena Obito menjawab seperti itu, Xio berasumsi bahwa dia tidak ingin membagikan informasi apapun tentang dirinya, jadi dia hanya mengangguk dan terus berjalan.
Setelah beberapa jam berlalu dan tidak ada kejadian yang melibatkan pembunuhan, langit sudah mulai menjadi oranye, kemudian gelap. Lalu John mengajak kedua pelindung itu ke rumahnya.
Rumah itu berukuran sedang, dan istri John sudah meninggal, jadi dia hanya tinggal di sini sendirian.
Mereka berdua makan malam, dengan makanan yang cukup enak di meja makan, Obito juga tidak lupa untuk menciptakan Kage Bunshin dan mengirim Bunshin itu kepada Dean untuk menyerahkan uang sebesar 3 soli.
Kemudian mereka berkumpul kembali ke sofa ruang tamu, John berencana tidur di sini malam ini, agar para pelindung itu tidak kehilangan kontak mata dengannya.
"Biasanya di jam seperti ini, aku akan terus mencatat dan mengedit beberapa bagian berita, dan karena aku baru saja mendapatkan cukup banyak narasumber, kalian duduk saja, sementara aku menulis.
"Minuman dan makanan ada di dapur, kalian bisa mengambilnya sendiri jika mau."
John yang memiliki wajah lelah, dengan santai memberitahu, kemudian dia mulai menulis. Sementara Obito dan Xio hanya duduk diam.
"Kau sepertinya sudah lama menjadi pemburu hadiah Nona Xio?" Obito melirik lampu gas yang menyala dan menatap sekeliling karena bosan.
Dia pernah memiliki misi seperti ini ketika masih seorang Genin, itu adalah untuk mengawal seorang pedagang agar sampai dengan selamat ke desanya.
Tentu saja pada saat itu dia memiliki Minato-sensei, Kakashi, juga Rin yang bisa dia ajak bicara dan bercanda.
Dia juga masih bodoh dan banyak bicara, sehingga mengganggu mereka terus-menerus.
"Ya cukup lama, telah banyak misi yang ku ambil, karena itu aku cukup akrab dengan seluk-beluk kota Backlund."
Xio mengusap kepalanya sambil berpikir. Itu benar, dia telah lama menjadi seorang pemburu hadiah, terutama ini juga karena untuk mencari tahu informasi sebab dan akibat kematian ayahnya.
Dia sangat kesal ketika memikirkan itu, karena sampai saat ini dia masih belum menemukan satupun petunjuk, tentu saja itu juga karena dia selama ini hanya bermain di kelas menengah kebawah, sementara ayahnya adalah seorang bangsawan yang memiliki gelar cukup tinggi.
Obito sedikit menegakkan tubuhnya karena kata-kata Xio. "Itu mengesankan. Karena aku juga baru tiba disini, aku juga perlu untuk mengetahui informasi semacam itu.
"Bisakah kamu membagikan sedikit informasi yang kamu ketahui? Tentu saja aku akan membayar."
Biarpun telah mempekerjakan Dean dan yang lainnya, namun itu hanya terbatas pada mengamati lokasi saja. Karena itu Obito bersedia membayar untuk informasi yang lebih terperinci
Terutama Obito akan menerima 50 pound malam ini, jadi dia memiliki uang, dan dia tidak berpikir informasi semacam itu akan sangat mahal.
"Jika itu hanya sebatas pada lokasi-lokasi penting, dan tempat untuk mengumpulkan intelijen yang ku tahu, aku bisa memberitahumu. Dan kamu harus membayar… dua puluh pound!"
Xio tidak menolak tawaran Obito, karena dia juga membutuhkan uang, lagipula dia hanya akan memberikan informasi dasar bagi para pemburu hadiah saja.
"Sepakat, kamu bisa memberikan informasi itu setelah pekerjaan ini selesai." Obito tersenyum lembut, lalu dia menoleh ke arah John "Tn. Rivers, aku perlu buang air kecil sebentar"
John mendongkak karena namanya disebut, lalu dia menunjuk ke arah dapur "Lurus saja ke arah dapur, dan kamu akan menemukan pintu di sebelah kanan, itu adalah kamar mandinya."
Setelah mengucapkan terimakasih, Obito berjalan ke kamar mandi dan duduk ke toilet untuk buang air, setelah beberapa menit dia selesai, kemudian mencuci kedua telapak tangannya.
Lalu dia memperhatikan wajahnya di depan cermin, dan Obito menyadari bahwa kerutan di wajahnya sekarang hampir tidak terlihat.
Dia senang jika itu benar-benar hilang, karena tanda itu selalu mengingatkan Obito pada kegagalannya di masa lalu.
Mungkin jika dia tidak tidak tertimpa batu itu kehidupannya akan berbeda, atau jika dia benar-benar mati saat itu, itu lebih baik daripada dicuci otak oleh Madara.
Mata Obito segera membalak ketika indranya merasakan sesuatu dari arah ruang tamu, dia segera berlari keluar dengan kecepatan tinggi.
Di sana Xio sedang berdiri di depan John sambil memegang belati tajam dan mengkilap, dia mengerutkan kening dan memiliki ekspresi kebingungan, melihat pria berjas yang memakai topeng di depannya itu.
Benar-benar ada pembunuh! Xio sekarang yakin 100% dengan firasat John, dia juga sedikit cemas kali ini karena pembunuhnya merupakan seorang beyonder, yang kemungkinan urutan tinggi.
Itu karena orang di depannya tiba-tiba keluar dari api yang berada di perapian! Untung saja Xio cepat bereaksi, jika tidak John sudah mati.
Melihat itu, Obito segera menggunakan Shunshin untuk berada di belakang si pembunuh, dan memukulnya dengan sangat keras, pembunuh itu juga bereaksi dengan cepat, namun kecepatannya kalah dari Obito, lalu dia terpental ke dinding.
Xio dan John terkejut melihat adegan yang tiba-tiba, namun itu hanya sesaat, dan mereka segera mendekati Obito. Yang perlu Xio lakukan saat ini adalah melindungi John, jadi lebih baik jika dia berkumpul.
Pembunuh itu segera pulih dari pukulan Obito, lalu dia berdiri dengan gaya aneh, anggota badannya terlihat sangat lentur.
Dia lalu membuat jari ditangan kanannya bergaya seperti pistol dan mengarahkannya ke kepala John.
Bang!
Peluru udara yang terdengar sangat keras tertembak, namun Obito yang sudah mengaktifkan Sharingan-nya segera melindungi John, dan sebagai gantinya lengan dia tertembak
Tapi karena tubuhnya yang lebih kuat dari pada manusia biasa, itu hanya sedikit berdarah dan tidak menyakitkan.
Menggunakan Shunshin lagi, Obito segera tiba di belakang si pembunuh, memegang kepalanya dan memutar itu, si pembunuh tidak mempunyai kesempatan bereaksi dan segera kehilangan kesadarannya, lalu dia jatuh ke lantai.
Dengan suara gedebuk, ruangan itu sunyi sekarang, tubuh John yang dari tadi sedikit gemetar akhirnya mulai tenang saat melihat itu, namun juga sedikit ngeri melihat kepala yang diputar.
Untungnya karena pekerjaan sebagai wartawan dia telah melihat hal-hal seperti itu, jadi dia tidak mengalami sakit di perutnya karena melihat pembunuhan. Namun tetap saja, melihat hal-hal yang tidak masuk akal hari ini sudah melelahkan tubuh juga pikirannya.
Sementara itu Xio tercengang karena masalahnya diselesaikan kurang dari 10 detik, namun dia tetap diam dan tidak menunjukan reaksinya.
"Suara tembakan tadi cukup keras apakah akan ada yang menyadarinya?" Xio melihat ke arah John lalu Obito.
"Suaranya memang cukup keras, namun karena tembok yang menghalangi, suaranya akan cukup diredam, ditambah hari sudah malam, kebanyakan orang sudah tidur….Tapi apa itu tadi?"
Karena tempat tinggalnya cukup jauh dari para tetangga, John dengan cepat memberi penjelasan berdasarkan logika meskipun dia sedang bingung.
Mendengar itu, Xio tidak menanggapi, dan segera memeriksa denyut nadi si pembunuh, dia ingin tahu apakah dia benar-benar mati.
"Bagaimana kita menyingkirkan mayatnya? Kita tidak bisa menyerahkan dia ke polisi"
Dia tidak ingin berurusan dengan polisi, jika mereka tahu dia merupakan seorang beyonder liar, hidupnya akan terancam.
Tentu banyak sekali beyonder yang menjadi seorang pemburu hadiah, namun polisi atau gereja tidak akan bisa menangkap mereka begitu saja, karena mereka tidak memiliki bukti sama sekali. Namun disini ada mayat seorang beyonder berurutan tidak rendah, itu merupakan bukti yang cukup untuk segera menangkapnya.
Lalu Xio segera menatap Obito, Dia adalah beyonder yang kuat! dia pasti memiliki cara 'kan?
Merasakan suasana tegang itu, Obito mengangkat kerah mayat dengan satu tangannya, lalu dia segera berjalan ke arah John.
"Apakah kamu memiliki ruangan kosong? beri aku beberapa menit untuk menyingkirkan dia." Obito ingin mengirim mayat ke Dimensi Kamui, namun dia tidak bisa melakukannya disini, lagipula itu juga alasan mengapa dia tidak langsung menghabisi si pembunuh dengan lebih cepat, walaupun dia bisa melakukan itu.
Dia harus berhati-hati untuk tidak terlalu menunjukkan lebih banyak kekuatannya, kecuali jika dia tidak memiliki pilihan lain.
"Y-ya! Ayo, akan ku tunjukan" John tidak menanyakan apa yang ingin Obito lakukan dengan mayat itu, dia juga tidak ingin tahu, dan segera memimpin mereka ke salah satu gudang
Mengunci ruangan, Obito melepaskan cengkraman pada mayat itu, dan segera dia mulai menggunakan kamui, kemudian mayat itu menghilang.
Menunggu beberapa menit, dia lalu keluar dari kamar dan melihat kedua orang itu sedang menunggu dengan wajah sedikit cemas, lalu Obito tersenyum untuk mencairkan suasana.
"Sudah selesai sekarang, dia tidak akan pernah ditemukan lagi."
John melirik kamar dan melihat bahwa tidak ada mayat dimanapun, Dia ingin menanyakan apa yang telah terjadi, namun dia hanya menekan perasaan itu, dan memutuskan untuk percaya orang kuat di depannya.
Sementara itu, Xio juga merasakan kebingunan, lalu menatap mata Obito dan merasakan kengerian yang melonjak di jiwanya.
Apa yang telah dia lakukan pada mayat itu?
Dia tidak membuang itu lewat jendela 'kan?
Namun tidak ada jendela disana!
Menenangkan dirinya, Xio merasa dia harus membuat informasi yang lebih terperinci tentang Backlund, yang di minta oleh Obito. Agar tidak membuat dia marah…
Tiga hari berlalu secara cepat, John meminta untuk tetap dilindungi biarpun pembunuhnya sudah teratasi, dia hanya ingin berjaga-jaga.
Setelah menerima bayaran, dan membayar 20 pound kepada Xio. Obito hanya memiliki 168 pound tersisa.
Sedikit menguap, Obito sedang berada di tempat Dean sekarang, lebih tepatnya itu adalah sebuah gubuk kecil di dalam gang.
Obito sudah mengirim Bunshin ke sini setiap matahari terbenam ketika dia menjalankan misinya, dia juga telah banyak mengobrol bersama Dean dan teman-temannya.
Itu juga hal yang baik bahwa belakangan ini mereka mulai banyak menceritakan kehidupan pribadi mereka, itu membuat Obito merasa lebih akrab dengan mereka dari hari ke hari.
Dia pernah mempunyai keinginan untuk menyuruh mereka agar pindah dari tempat ini, tetapi dia juga berpikir bahwa lebih baik mereka bekerja sendiri, dan sebagai hasilnya, itu akan membuat masa depan mereka lebih cerah.
Lagipula anak-anak ini sangat ceria dan optimis walaupun tinggal ditempat yang begitu suram. Itu… sangat mengesankan.
"Tn. Obito apakah kamu pernah pergi ke laut?" Layla yang memiliki rambut merah cerah dan mata biru, bertanya dengan penasaran sambil memegang sebuah koran di tangannya.
Layla adalah seorang anak berusia 12 tahun, dia adalah yang termuda dari kelompok Dean, dia biasanya bekerja mencuci baju dari orang-orang, dan kemudian mendapatkan uang.
Dean dan juga yang lainnya sedang berada di luar saat ini, jadi sekarang hanya ada Layla.
"Aku pernah, mengapa kau menanyakan hal itu?" Obito tidak berbohong, dia pernah berkali-kali berlayar di laut menggunakan kapal, walaupun dia sudah memiliki Kamui-nya.
Lagipula menikmati pemandangan lautan, selalu membuat dia sedikit memiliki perasaan yang menenangkan.
"Koran ini mengatakan bahwa Raja Bajak Laut Agalito menggila lagi! Dan ia membunuh orang-orang yang tak berdosa di sebuah kapal, betapa kejamnya...
"Jika Tn. Obito pernah pergi ke laut, apakah anda pernah bertemu dengannya? Atau salah satu dari Raja Bajak Laut itu?"
Layla mengatakan dengan sedikit sedih pada kalimat pertama, namun pada kalimat yang kedua, dia mengatakannya dengan nada penasaran dan sedikit bersemangat.
Pada pertanyaan ini Obito tidak bisa menjawab, lagipula dia belum pernah pergi ke laut yang ada di dunia ini, dia bahkan tidak tahu "Raja Bajak Laut" apa yang dibicarakan Layla.
Dengan sedikit terkekeh dia lalu membuat jawaban acak.
"Aku tidak pernah bertemu mereka semua, tapi di laut ada banyak hal yang tidak bisa kau temukan di darat.
"Misalnya jika ada sedikit awan, langit akan terpantul dalam air, itu merupakan pemandangan yang menakjubkan, angin sepoi-sepoi yang sedikit hangat, atau bahkan ikan-ikan yang sesekali melompat ke udara….
"...
".."
Obito menjelaskan yang dia ketahui mulai dari pulau-pulau yang dia lewati, burung-burung berterbangan, dan juga yang lainnya selama beberapa menit. Kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Ada banyak lagi hal yang menarik, tetapi tentu saja jika kamu mabuk laut, semua itu akan sia-sia."
Mata Layla melebar ketika mendengar sedikit cerita Obito, lalu dia menyodorkan tubuhnya lebih dekat sambil tersenyum gembira.
"Jika aku sudah dewasa, aku ingin mencoba berpetualang seperti itu!" Lalu dia tiba-tiba menjadi gugup "Aku hanya berharap aku tidak mabuk laut, aku akan berdoa kepada dewi agar tidak memilikinya."
Di Dimensi Kamui, Obito menatap gelang yang dia temukan dalam kotak besi si pembunuh bernama Fabian Doyle.
Ya, sebelum Obito memutar leher si pembunuh, Obito telah menggunakan Genjutsu untuk memasuki pikirannya lagi, karena menurutnya, pengetahuan adalah kunci agar memahami lebih banyak tentang dunia ini.
Rupanya gelang ini adalah barang mistis, yang dibuat dari "Karakteristik Beyonder", karakteristik beyonder adalah benda seperti jeli yang dapat ditemukan pada mayat, setelah seseorang menjadi beyonder.
Sekarang Obito sudah tahu mengapa Steven segera memiliki sifat kehilangan kendali seperti itu, rupanya memang berbahaya memakan karakteristik beyonder secara langsung, karena selain kita tidak tahu urutannya, itu juga tanpa bahan-bahan pelengkap seperti yang ada dalam resep.
Gelang yang sedang dipegangnya adalah gelang yang cocok dipakai oleh lelaki maupun perempuan, itu terlihat seperti gelang tebal hitam biasa, namun ada kristal kecil berwarna ungu yang terpampang disana.
Gelang ini akan membuat penggunanya memiliki peningatan indra mereka, mata yang lebih tajam, dan langkah seringan bulu.
Namun karena efek negatifnya, setelah benda ini dipakai selama lebih dari 40 menit, dia akan di serang demam, dan efek negatifnya akan meningkat jika dipakai terus-menerus.
Menurut ingatan Fabian, benda ini bisa dijual seharga lebih dari 600 pound, ini cukup mahal, aku akan mencari cara untuk menjualnya nanti…
Obito menghela napas dan menaruh benda itu kembali dalam kotak besi. Obito melemparkannya secara acak. Dia lalu mengusap rambutnya yang berwarna putih salju dan berpikir apakah akan menjadi seorang Beyonder.
Dia telah mendapatkan resep beyonder dari ingatan Fabian.
Itu adalah: Seer, Clown, Magician, Bard, dan juga Spectator.
AN : Iseng bikin fic ini, tadinya buat dinikmatin sendiri karena tahu kalau LotM kurang populer di Indonesia, tapi ternyata ada yg review, wkwkwk.
Makasih yg udah baca, ini belom diedit, jadi jika ada kata-kata yang salah mohon koreksi.
