Beratus-ratus tahun yang lalu, atau bahkan beribu-ribu tahun yang lalu, saking lamanya sampai dewa matahari saat ini tak bisa mengira kapan tepatnya, terjadi pertikaian besar di Takamagahara. Sebuah alam jauh di langit yang manusia sebut sebagai surga atau kahyangan.
Pasalnya, sang dewi matahari pertama, Amaterasu, satu-satunya sumber cahaya yang menyinari surga dan dunia, mengurung dirinya di balik sebuah batu setelah adiknya, Susanoo, mengacaukan kastil tempatnya tinggal. Saat itu juga, baik Takamagahara maupun Bumi di bawahnya diselimuti oleh kegelapan total.
Di era ini, hal yang serupa terulang kembali.
Amato, dewa matahari saat ini, geleng-geleng kepala kehabisan akal. Entah trik apa lagi yang harus ia lakukan demi membujuk putra semata wayangnya untuk keluar dari balik batu.
Sang penerus dewa matahari termuda, Hikari, tiba-tiba memutuskan untuk menutup diri selamanya di balik sebuah batu. Kalau ini berlangsung sampai masa pensiun Amato tiba nanti, siapa yang akan meneruskan tugasnya untuk menyinari kahyangan dan planet-planet di bawahnya?
.
.
.
.
.
.
Manten no Hoshizora no Mukou ni
-Di Seberang Langit Penuh Bintang-
"Even your tears that fell, I'll turn them into the stars of the night sky.
Your crybaby face will be a meteor soaring through the sky."
BoBoiBoy © Monsta
A BoBoiBoy fanfiction by akaori.
Perhatian! Fiksi penggemar ini mengandung poin-poin di bawah ini.
※ Perubahan nama karakter.
※ Perubahan usia karakter.
Cahaya sebagai Hikari
Daun sebagai Konoha
※ Penggunaan semesta berbeda.
Bagi Anda yang merasa tidak keberatan dengan poin-poin di atas, silakan lanjutkan membaca.
.
.
.
.
.
.
"Hikari-kun~ aku datang!"
Suara cempreng bersahut-sahut dari arah gerbang masuk Alam Cahaya. Samar-samar, dari balik kabut yang menyelimuti lorong depan berupa jalan setapak yang banyak ditumbuhi tanaman menjalar, terlihat sosok kecil mengenakan kinagashi hijau melambaikan tangan. Ia melompat-lompat kecil di atas awan putih yang membawanya.
Dewa-dewi penghuni Takamagahara tidak hanya bisa berjalan dengan kaki, mereka juga bisa terbang atau mengontrol sebuah obyek mati sebagai alas bagi mereka berpindah tempat. Seberapa cepat dan lama kekuatan terbang itu dipengaruhi oleh pengalaman mereka dalam bertransportasi. Bagi dewa-dewi yang masih muda, kebanyakan dari mereka baru bisa bertransportasi dengan kecepatan rendah yang masih mudah dikontrol.
Mendengar suara yang tak asing, untuk sesaat Amato mengalihkan perhatian dari gua batu yang tertutup. Senyumnya mengembang mendapati sosok keponakannya tiba dengan begitu semangat sampai ada ilusi yang membuatnya tampak mengedarkan cahaya meskipun bukan keturunan dewa matahari.
"Konoha! Selamat datang! Kau datang ke sini sendirian?" Amato berlutut, menyejajarkan tingginya pada sosok mungil yang belum genap tujuh tahun itu.
"Paman Amatooo!" Buk, Konoha lepas landas dari awan yang membawanya ketika sudah mendekati dataran berumput tempat pamannya berdiri. Untuk sesaat, mereka melepas rindu setelah beberapa minggu tidak bertemu.
"Konoha datang sendirian. Uuh, Yang Mulia Ayah suka kejam kalau kasih latihan!" Rengekan Konoha yang dihias bibir manyunnya membuat Amato tak tahan melepas tawa.
Konoha adalah putra dari Raja Maruta, penguasa Kastil Mitsurin yang dibangun di atas Gunung Fuji di Bumi. Itu benar; tidak semua dewa tinggal di Takamagahara. Salah satu dari mereka adalah leluhur Konoha, Ninigi, yang merupakan cucu Dewi Amaterasu. Mendampinginya adalah sang istri, Sakuya-hime, yang masih bisa dibilang sepupu dari Ninigi sendiri.
Keturunan mereka adalah Raja Maruta, dewa pengatur alam saat ini yang merupakan saudara jauh Amato. Dengan kata lain, Konoha dan Hikari adalah sepupu jauh.
"Hm! Kerja bagus atas latihanmu. Semakin banyak berlatih, semakin banyak tanaman yang tumbuh untuk menghijaukan Bumi." Amato tersenyum sehangat mentari.
Layaknya daun yang mendapatkan siraman cahaya, senyum Konoha ikut merekah setelah mendengar kata-kata itu. "Paman, di mana Hikari-kun? Konoha kangen main dengannya!"
Rambut cokelat Konoha bergoyang-goyang seiring ia melompat ke udara. Semangatnya untuk berjumpa lagi dengan teman semenjak bayi sekaligus sepupunya, Hikari, tak bisa ditampung tubuh kecil itu sehingga ia luapkan dengan melompat.
"Ah." Muka Amato berubah masam seketika, seperti kala ia mencicipi lemon ciptaan keponakannya yang entah bagaimana bisa jadi kesukaan Hikari. "Konoha, maafkan Paman, ya. Sepertinya Paman sudah membuat sepupumu ngambek."
"Ueh? Ngambek? Hikari-kun ngambek sama Paman?" Dengan berat hati, pertanyaan si dewa kecil dibalas anggukan.
Amato mengedarkan pandangannya ke arah batu besar di belakangnya. Konoha ikut melirik arah ke mana manik cokelat pamannya bergulir.
"Kenapa, Paman? Ada siluman di batu itu?"
"Bukan, Nak. Di batu itu …," wajah dewa brewokan itu masih masam ketika ia berbalik kembali untuk menghadap Konoha, "Hikari bersembunyi."
"Hiehh?! Jangan-jangan Hikari-kun gak bisa keluar? Oh, tidak! Kita harus bantu dia!" Wajah dewa cilik berubah horor, membayangkan hal yang tidak-tidak terjadi pada teman baiknya di dalam sana. "Hikari-kun, jangan khawatir, aku akan singkirkan batu ini!"
Upaya Konoha untuk memukul-mukul batu berujung nihil. Yang ada malah tangannya memar dan perlu dikibas-kibaskan. Setitik air menggenang di pelupuk mata Konoha, manik cokelatnya berbinar sendu. "Aduhhuee, tidak bisa~"
"Konoha, jangan sakiti dirimu." Amato mengusap tangan keponakannya, menghapus memar merah dan seset akibat gesekan yang terjadi antara kulitnya dengan permukaan batu. Amato melanjutkan, "Sayangnya, batu ini hanya bisa dibuka oleh yang mengunci dari dalam. Dengan kata lain, hanya Hikari sendiri yang bisa membukanya."
Seruan, "Ehhh?!" panjang yang melantun merdu sukses mengusir burung-burung yang tengah singgah di pepohonan. Disambung dengan rengekan si kecil yang bukan main memekakkan telinga. Bisa-bisa suaranya terdengar sampai ke alam sebelah.
Amato kini dihadapkan pada urusan sulit; membujuk dua dewa kecil ini agar berhenti merajuk sementara ia harus segera kembali ke langit untuk menyinari Bumi. Sungguh hari yang tidak beruntung bagi Dewa Matahari.
.
.
.
"Srottt! Oke! Konoha akan coba bujuk Hikari-kun!"
Putra semata wayang Dewa Tanaman itu tak repot-repot mencari kain untuk mengelap ingusnya. Buat apa pakai kimono lengan panjang kalau tidak dimanfaatkan.
"Apa Paman bisa percayakan Hikari padamu?" Amato sekali lagi berjongkok agar wajahnya sejajar dengan sang keponakan.
"Um! Paman jangan risau, serahkan pada Konoha! Lagipula, bukannya Paman harusnya kerja sekarang?" Kepala si hijau dimiringkan dengan polos.
Beruntung rengekan Konoha tidak berlangsung selamanya seperti bagaimana Hikari mengasingkan dirinya saat ini. Amato membujuknya dengan satu set wagashi penuh warna, kesukaan Konoha. Apalagi yang sakuramochi, warnanya secantik nenek moyangnya, Sakuya-hime, dan pohon sakura kesukaan beliau.
Barulah pelan-pelan Amato menceritakan ulang kronologi di mana ia membuat putranya ngambek sampai menutup diri secara harfiah. "Sebenarnya Paman juga tidak tahu apa yang jadi penyebabnya."
"Eehh?" Tak paham lagi dengan si paman, Konoha tak sadar sebutir dango bulan tergelincir jatuh dari tangannya.
Sebagai penerus dewa matahari, sudah sepantasnya Hikari mendapatkan pelajaran dini untuk menyinari langit dan seluruh semesta di bawahnya. Tadi pagi, Amato memang berniat mengangkat pembicaraan itu selagi mereka sarapan. Pada suatu titik, mata Hikari membelalak lebar setelah mendengar pernyataan sang ayahnya.
Amato sendiri tak yakin kalimat mana yang kemungkinan salah ia sampaikan sampai-sampai membuat sang putra sebegitu segan untuk menatapnya. Hikari lepas landas dari ruang makan lalu bersembunyi di sebuah gua batu kahyangan yang terletak dekat gerbang masuk Alam Cahaya.
Gua batu di Takamagahara itu unik. Nama mereka adalah ama-no-iwato yang artinya Gua Batu Kahyangan. Mereka hanya bisa dibuka dari dalam oleh yang bersembunyi di sana. Sangat cocok digunakan sebagai tempat persembunyian di kala main petak-umpet (meskipun praktik ini sering dilarang karena terlalu menyusahkan untuk dicari). Cocok juga bagi para penghuni kahyangan yang sekadar ingin memberikan ruang bagi dirinya bersemedi atau merenung.
Makanya, ketika Amato menyaksikan bagaimana putranya bersembunyi di sana dengan mata kepalanya sendiri, rasa deja vu itu menggelitik memori. Pasalnya, dahulu kala, nenek moyang mereka, Amaterasu sang dewi matahari pertama, pernah mengasingkan diri dengan cara yang sama.
Setelah mendapati adik laki-lakinya, Susanoo, sang dewa badai dan laut, memporak-porandakan kastil dan sawahnya, Amaterasu bersembunyi di sebuah ama-no-iwato. Seketika itu, seisi dunia, baik Bumi maupun kahyangan ditutupi kegelapan abadi.
Akan sangat mengkhawatirkan kalau Hikari merajuk begitu lama sampai tiba masa pensiun Amato dan tidak ada yang menggantikannya. Siapa yang akan menyinari dunia? Kalau matahari berhenti bersinar, maka seluruh kehidupan di perlahan akan mati dalam kegelapan dan kedinginan.
Bukan hanya itu, para penghuni kahyangan terutama teman-teman Hikari pasti akan berduka. Seperti salah satu teman kecilnya yang kini bertekad untuk membawanya kembali.
"Yosh, serahkan saja pada Konoha, Paman!" Entah dari mana, datang angin kencang yang mendramatisir pose keren Konoha.
Amato berkedip beberapa kali sebelum tersenyum. Di tangannya sudah ada tas berisi perlengkapannya untuk menjalankan tugas hari ini. Kepala keponakannya yang yang dibalut topi bergambar daun diusapnya.
"Tolong bantuannya, ya, Konoha. Coba ajak Hikari main, barangkali dia mau keluar kalau denganmu." Demikian pesan Amato sebelum ia memberikan lambaian sampai jumpa. Dalam sekejap, pijakannya berpindah turun ke langit, tempat ia biasa mengemban tugas untuk menyinari dunia.
Tinggalnya Amato menghasilkan cahaya menyilaukan yang membutakan, beruntung itu hanya sepersekian detik sehingga tidak ada mata yang terluka. Kini, Konoha berjalan kembali mendekati ama-no-iwato tempat sepupunya bersembunyi.
Jangan khawatir, Hikari-kun! Konoha tidak akan pulang sampai kamu keluar!
.
.
.
Tok, tok, tok, getaran kecil dari luar menyentuh punggung Hikari melalui dinding batu yang jadi sandarannya. Beberapa menit yang lalu sudah ada yang mengetuk dinding itu dengan sangat tidak santai. Proses merenungnya jadi terusik gara-gara si pengacau.
Anak itu mendengus singkat, kepalanya bersandar pada kedua lengan yang dilipat di atas lutut.
Ini semua salah Ayah.
Hikari ingat betul ia tengah menikmati sup miso hangat dan onigiri penuh potongan rumput laut yang sangat memanjakan lidah. Duh, jangan dibayangkan, Hikari, nanti kau lapar lagi. Semua berjalan baik seperti biasanya. Takamagahara terasa cerah dan hangat berkat bola cahaya besar di langit yang tidak lain tidak bukan dikuasai oleh ayahnya sendiri, sang dewa matahari.
Burung-burung berkicau, angin sepoi-sepoi menggoyangkan rumput hingga embun menetes dari dedaunan. Sebuah pagi yang sempurna; sangat cocok untuk membaca buku di perpustakaan kahyangan.
Semua berjalan lancar sampai ayahnya menjatuhkan sebuah bom.
Lagi-lagi Hikari mendengus pada udara kosong. Ia ingat kalimat Ayah yang membuat hatinya berdebur gemuruh seperti ombak laut pasang pada malam bulan purnama. Hikari sendiri belum pernah melihat bulan secara langsung, tetapi ia tahu, pastilah kuasanya begitu kuat sampai-sampai mempengaruhi pasang-surut air laut.
Alasannya apa; anak itu menolak berkata langsung. Masa bodoh dengan perasaan Ayah saat ini; toh, Ayah sudah menghancurkan perasaannya duluan. Hikari memutuskan akan lebih baik kalau ia bersembunyi di balik sebuah gua batu dekat pintu masuk kahyangan.
Tempat ini tidak begitu besar, tetapi cukup bagi anak seumurannya untuk tiduran atau sekadar lari-larian sejenak. Alas berumput di dalamnya juga kering—dan yang terpenting adalah tidak ada serangga-serangga aneh.
Di sini juga lumayan menenangkan. Ah, betapa Hikari berharap ia membawa buku-buku di yang belum sempat ia baca, mungkin ia tidak akan tak punya kerjaan begini.
Pilihan lainnya adalah belajar bermeditasi. Praktik ini dikatakan akan membuat tubuhmu segar kembali dan melupakan hal-hal buruk yang tengah menimpamu.
Hikari merubah posisi duduknya jadi bersila. Kedua tangannya berpangku di atas paha. Napas ditarik pelan-pelan lalu diembuskan kembali. Bagus, ia sudah bisa cukup fokus. Dengan begini mungkin akan—
"HIKARI-KUN, AYO KITA MAIN!"
—Ambyar sudah meditasinya yang belum ada lima menit. Tangannya yang tadi rileks kini terkepal di udara, sadar kalau ia gunakan untuk meninju dinding batu pastilah sakit. Hikari hendak membalas suara cempreng itu kalau saja ia tak segera sadar siapa pemiliknya.
"Konoha? Itu kau, Konoha?" Pipi bulatnya yang selalu putih kini merona bak buah persik. Hikari balik badan menghadap pintu keluar gua batu. Matanya berkelap-kelip dalam kegelapan.
"Benar! Aku sudah boleh main lagi dengan Hikari-kun!" Terdengar anggukan mantap dari luar.
Lutut berbalut hakama putih gading bergesekan dengan rumput ketika ia merangkak mendekat. "Sungguh? Kau akan menginap di sini?"
"Iya, dong!" Konoha terkikik. "Makanya, buka pintunya, ya, Hikari-kun!"
"Um!"
Senyum Hikari masih terpasang sampai akhirnya rontok akibat kalimat Konoha selanjutnya.
"Hihi, kita bisa main sepuasnya sampai Yang Mulia Ayah memanggilku pulang."
Jderr!
Pada kenyataannya, Hikari punya sepupu lain yang tinggal di Alam Angin dan Alam Petir. Letak mereka lumayan jauh, sengaja biar tidak kena serangan badai tiba-tiba kalau penguasa dunia sana sedang ada masalah. Namun, entah bagaimana, mendadak ada badai kencang melanda hatinya ketika kalimat itu terlontar dari mulut Konoha.
Brak! Konoha terjungkal ke belakang karena tak siap mendapati pintu gua tiba-tiba ditutup. Bisa-bisa tadi terjepit tangannya.
"Kalau kau mau pulang lagi, mending tidak usah ke sini sekalian!" sentak Hikari dari dalam, suaranya teredam tapi terdengar jelas galaknya.
"Tunggu, bukan itu maksudku! Maksudku, memang aku akan kembali, sih—eh, bukan! Hikari-kun, buka pintunya!"
Tidakkk! Konoha sama sekali tidak bermaksud membuat Hikari khawatir gara-gara ia akan kembali ke Bumi! Usahanya menenangkan teman sebayanya tidak berbuah manis seperti apel hijau kesukaannya.
Ada yang aneh. Memang benar kalau Hikari selalu memasang jurus pamungkasnya yang berupa wajah memelas mata blink-blink saat mereka harus berpisah di penghujung hari. Namun, wajah itu akan ditukar lagi dengan senyum cerah begitu ia mendengar Konoha berjanji akan datang lagi lain waktu.
Jam berapa sekarang? Ia ingat Paman Amato bilang kalau Hikari lari di tengah-tengah sarapan tadi. Mungkinkah ia masih lapar?
Itu dia; kali ini Konoha akan coba membujuknya dengan makanan, seperti bagaimana Amato memberinya satu set wagashi tadi. Anak itu bangkit dari duduknya lalu berlari ke dapur kahyangan.
"Tunggu aku, Hikari-kun! Aku akan menyelamatkanmu!"
.
.
.
.
Kruyuk~!
Baiklah, pada titik ini Hikari mulai berpikir kalau meninggalkan sarapan adalah pilihan buruk. Andai saja Ayah tidak mengangkat topik itu, mungkin ia bisa menghabiskan onigiri rumput laut dan beberapa buah jeruk kesukaannya. Sayang, Amato sudah membuat putranya kesal duluan sampai anak itu memutuskan bersembunyi dengan perut setengah kosong.
Kenapa ia sangat mudah lapar? Sangat lemah kalau dibandingkan dewa-dewa pendahulunya yang kini sudah pensiun. Kalau diingat-ingat, Nenek Amaterasu yang pernah bersembunyi dalam ama-no-iwato tahan mengasingkan diri berminggu-minggu tanpa makan. Sementara itu, dirinya, belum ada satu jam saja sudah lapar lagi. Apa karena makanan pada era ini begitu lezat?
Hikari suka makanan yang berkrim. Bukan hanya karena warnanya putih seperti kesukaannya; mereka juga lezat. Misalnya white stew yang berupa rebusan ayam, bawang, dan sayur-sayuran dimasak dalam krim putih. Namanya diambil dari bahasa luar sehingga terdengar asing, tapi yang terpenting adalah rasanya. Sesekali, ia juga akan meminta para koki kahyangan untuk memasakkan mochi bakar dalam rebusan susu dan tarako. Ah, mochi dan tarako ….
Entah apakah ini gara-gara perutnya sudah mulai meraung untuk diisi ulang atau karena hebatnya imajinasi otak, dari luar tercium aroma makanan yang ia tengah bayangkan disertai suara "pletak-pletok" bebakaran. Lambat laun, manik cokelat itu berkedip demi menyadarkan diri dan rupanya aroma itu masih tersisa di sana.
Apakah Bibi Koki membawakannya makanan? Kalau iya, maka itu berita bagus! Si dewa kecil mengambil posisi merangkak, pelan-pelan menggeser pintu batu dari dalam. Matanya yang bulat mengintip dari celah kecil.
"Hm~ hm~ mochi panjang enak~ aum!"
Ko-Konoha?!
Setelah ia pikir akan bisa mendapat sarapan sambungan, yang ia dapati malah sepupunya hijaunya yang sedang tak ingin ia jumpai. Masih teringat perkara tadi di mana ia dibuat kesal. Rupanya anak ini belum pulang juga. Mau apa dia sebenarnya?
Gyut, tanpa sempat menutup celah batu, mereka bertemu pandang. Konoha tengah mengunyah mochi yang ditarik dari ujung sumpit ke bibirnya, begitu panjang dan kenyal.
"Oh, Hikari-kun, akhirnya kamu keluar! Ayo sini, makan bersamaku!"
"Ugeh …."
Hikari tidak bodoh. Ia paham betul kalau Konoha berusaha mengumpannya keluar karena kejadian beberapa menit lalu. Kali ini pasti juga sama, hanya saja triknya berbeda.
Beraninya ia pakai makanan untuk menarik Hikari keluar! Dikiranya Hikari ini ikan?!
"Oho~ kalau tidak segera diambil akan kuhabiskan, loh. Hikari-kun yakin tidak mau?"
Sengaja, piring kecil ditadahkan di atas tangan. Di permukaannya terdapat mochi kenyal yang dibakar sempurna; tidak gosong tapi tidak sepenuhnya putih juga. Ada bekas bakaran yang kelihatan renyah di atas dan bawahnya. Bentuknya menggembung seperti selempang angin yang sepupunya di Alam Angin itu selalu bawa-bawa di pundak.
Ketika sadar, Konoha sudah tepat di depan mata dengan senyum lebar yang menjengkelkan. Ingin menapok muka itu rasanya. Tapi, tapi, tapi, mochi hangat yang disodorkan ke arahnya berhasil membuat Hikari menahan hasrat.
Mochi itu diapit di tengah sumpit, disodorkan dekat ke mulutnya. Tinggal geser batu ini sedikit, maka mulut Hikari yang mulai ngiler akan bisa meraihnya.
Sreg, sreg, pintu batu perlahan digeser seiring dengan keluarnya kepala mungil dibalut topi putih. Wajah itu antara mau dan mau; mau menampol.
Ohoho, tampaknya rencananya berjalan lancar kali ini. Sumpit kebesaran di genggamannya disodorkan lebih dekat ke mulut Hikari. Yang bersangkutan membuka mulut, sudah siap menerima mochi hangat renyah itu.
Plop, dan dalam sekejap sumpit itu berbalik arah, memasukkan mochi ke mulut Konoha.
Bocah itu cengengesan sementara saudara jauhnya melotot akan menyadari apa yang barusan terjadi. Bisa-bisanya ia kena tipu.
"Haha, tidak semudah itu! Kalau Hikari-kun mau mochi, kamu harus keluar dulu dari batu itu baru kita makan sama-sama~" goda Konoha dengan mulut disumpal kue nasi.
Konoha terlalu asyik tertawa sampai tidak siap akan kedatangan cahaya ilahi.
"GYAAA!"
Dalam sekejap, tungku mungil yang dipakainya membakar mochi lenyap sekaligus dengan mochinya. Kecap dan potongan rumput laut juga lenyap. Piring kecil di tangan Konoha juga lenyap.
Kepala si dewa tanaman berbalik patah-patah ke arah gua batu yang kembali tertutup erat. Ah, bagaimana bisa ia lupa.
Salah satu keahlian yang umum dimiliki para dewa matahari adalah kecepatan setara cahaya di mana mereka bisa berpindah tempat dalam hitungan kedip. Dalam kasusnya, Hikari sudah sanggup mencapai kecepatan itu di usia dini.
"Pulang, kau! Dasar pembohong! Aku benci Konoha! Pokoknya benci! Hmh!"
"T-tunggu, Hikari-kun, aku cuma bercanda! Uwahh, jangan benci aku!"
Bak senjata makan tuan, lagi-lagi Konoha termakan rencana sendiri. Ia hanya berniat usil sedikit biar Hikari mau keluar dari gua itu, tak apalah meskipun dengan cara kejar-kejaran. Ia tak menyangka kalau sepupunya akan mengambil alih makanan yang ia jadikan senjata dan memakan mereka sendirian.
Setelah itu, segala cara Konoha coba sebagai usaha membujuk sang penerus Takamagahara keluar dari gua batu. Baik itu lari-larian mengitari ama-no-iwato atau membuat parade kecil di mana ia memainkan koto (meski suaranya lebih mirip kucing kawin di malam hari).
Konoha capek. Ia kini rebahan di atas rumput dekat gua batu sambil mengatur napas. Rasanya ia mau menangis saja karena Hikari tak kunjung mau keluar dari tempat perasingannya.
Manik cokelat memandang ke langit tanpa batas. Berdasarkan perkiraan, sekarang pasti sudah sore di Bumi. Sore yang biasa Konoha saksikan lewat jendela kastil adalah langit jingga di mana matahari perlahan-lahan tenggelam di sisi barat bumi. Benar-benar indah menghabiskan waktu menyiram tanamannya di waktu itu.
Di Takamagahara, kondisinya berbeda. Tempat ini selalu diterangi sinar mentari. Namanya juga Alam Cahaya; ladang luas ini selalu mendapat cahaya dari dewa matahari.
Takamagahara merupakan tempat suci di langit yang terbagi dalam begitu banyak alam. Salah satunya adalah alam di mana Hikari dan ayahnya tinggal. Beberapa alam lain seperti Alam Petir dan Alam Angin bertempat agak jauh dari sini, tetapi mereka sering berkunjung untuk bermain dengan para sepupu di sana.
Meskipun banyak, tidak semua dewa tinggal di kahyangan. Konoha tinggal di Bumi, di Kastil Mitsurin yang hanya bisa dilihat dan disentuh oleh sesama dewa. Mungkin kalau kakek moyangnya, Ninigi, cucu Dewi Amaterasu tidak turun ke Bumi, keturunannya akan bisa menetap di Takamagahara.
Konoha percaya akan takdir. Makanya ia selalu kagum akan cerita bagaimana Kakek Ninigi bertemu dengan Nenek Sakuya-hime. Di pesisir pantai pula bertemunya, kurang romantis apa? Dengan demikian, lahirlah keturunan dewa di Bumi yang merawat seluruh tanaman di Jepang.
Karena tugasnya adalah untuk mencipta dan menjaga, Raja Maruta selalu memberinya pelatihan rutin untuk menciptakan jenis tanaman baru. Hal ini gampang-gampang susah, loh. Temuan terbarunya saja memakan waktu dua minggu.
Dua minggu, ya. Masih terekam jelas dalam ingatannya hari di mana Konoha harus mengucapkan salam sampai sampai jumpa pada Hikari untuk menjalankan latihan. Matanya berkaca-kaca, nyaris pecah kapan saja. Makanya Konoha memeluknya erat dan menepuk kepalanya.
"Nanti kalau aku berkunjung, aku janji akan bawakan temuan baruku untuk Hikari-kun!" begitu janji Konoha yang berhasil mengembangkan senyum Hikari yang sempat luntur.
Ah, itu dia.
Tangannya merogoh tas mungil di belakang hakamanya. Tali pengikat dilonggarkan, baru ia mengintip ke dalam. Ada dua buah berbentuk bundar di sana yang seukuran telapak tangan.
Konoha menghela napas panjang sembari ia merangkak lalu bersandar pada pintu batu. Pandangan mengawang ke langit biru berhias beberapa awan putih. Sebuah pemandangan yang selalu sama. Setiap hari, dari jarak ini, Hikari pasti selalu memandang langit yang sama.
Setiap waktu, sepupunya itu berkutat dalam perpustakaan kalau mereka tidak sedang bermain. Kalau tahu Konoha akan berkunjung, Hikari akan menunggu di gerbang depan sambil memandangi bentuk-bentuk awan yang lucu di langit.
Kemudian ia berbalik dan tersenyum lebar menyambut kedatangan Konoha dari Bumi.
"Hei, Hikari-kun, kamu masih marah? Maaf, ya, aku datang lama sekali padahal sudah janji tidak akan lama-lama. Coba tebak, aku membuat buah baru!"
Suara itu sampai ke dalam, meskipun teredam, masih terdengar cukup jelas. Piring dan alat pemanggang berserakan di tempatnya berlindung. Punggung kecil Hikari juga bersandar pada pintu batu. Mulutnya masih menolak dibuka, tetapi telinganya selalu mendengar apa yang coba kawan baiknya katakan di luar.
"Kamu ingat buah lemon yang aku berikan waktu itu? Rasanya kecut sekali! Hahaha, muka Hikari-kun lucu sekali saat mencobanya!'
Lemon, buah berbentuk oval seukuran tangan itu langsung membuatnya tertarik pertama kali Konoha menunjukkan itu padanya. Warnanya kuning cerah, warna kesukaannya Hikari selain putih.
Seperti yang Konoha katakan, rasanya kecut sekali sampai susah dikonsumsi dengan wajah datar. Ia mengaku kesulitan makan, tetapi itu juga yang membuatnya seru untuk dinikmati. Baru ketika Konoha mencampur jusnya menjadi teh lemon hangat, mata Hikari langsung berkilau segar.
Menyenangkan sekali mencicipi ciptaan sepupunya itu. Meskipun kadang bentuknya aneh-aneh, rasanya boleh juga. Tidak ada yang membuatnya lebih senang lagi saat Konoha bilang bahwa ialah yang pertama kali mencoba buah ciptaannya.
"Hei, Hikari-kun, aku membuat buah yang mirip lemon, loh! Rasanya juga kecut! Mau lihat?"
Setelah beberapa saat yang hening, hanya terdengar suara angin di luar, pintu batu bergeser. Sangat kecil, tapi cukup untuk menyelipkan buah itu masuk. Konoha mengambil kesempatannya untuk mendorong buah bundar itu masuk, menggelinding ke sisi Hikari.
"Aku menyebutnya jeruk nipis—lime!"
"Lime? Namanya mirip lemon." Kalimat itu terucap tanpa sadar.
Konoha tersenyum, kali ini tak mencoba menyerbu masuk tanpa izin seperti upaya gagalnya tadi. Ia hanya duduk anteng di sana, bersandar sambil menatap langit. "Kamu tahu, aku membuat lemon berdasarkan kamu, loh, Hikari-kun."
"Eh?"
"Lemon itu kuning, warna yang cerah dan membuatku tersenyum. Rasanya kecut, tapi kalau dicampur teh akan jadi sangat enak. Lemon juga baik untuk kesehatan. Sepertimu, Hikari-kun!
Lime ini juga sama; rasanya kecut tapi kalau dijadikan minuman sangat enak! Aku ingin membuat buah yang mirip lemon supaya ada temannya. Hikari-kun bisa lihat bedanya?"
"Warnanya hijau … sepertimu …."
"Um!" Cahaya dari luar terhalang kepala kecil berbalut topi terbalik yang mengintip dari celah batu. "Kalau Hikari-kun adalah lemon, maka aku adalah lime!"
"Ko-no … ha …."
Senyum kecil itu mengembangkan hingga lesung pipit pemiliknya terbentuk. Dada Konoha menjadi hangat saat sosok cahayanya menghambur memeluk. Bagai habis tak bertemu berminggu-minggu. Hei, itu tidak salah, sih.
Putra tunggal dewa tanaman tak berkata banyak; hanya menepuk-nepuk punggung Hikari yang terisak. Suaranya serak, tercekat karena tangis yang ia tahan semenjak tadi. Kerongkongan sudah panas semenjak mendengar kata-kata polos Konoha yang begitu lembut.
Pintu ama-no-iwato tempat Hikari bersembunyi kembali ditutup. Peralatan masak yang tadi sempat menjadi sandera juga sudah kembali ke tanah lapang. Hikari memiringkan kepala saat Konoha memintanya menunggu sembari menyiapkan sesuatu dengan tungku itu.
Dua gelas yunomi dibawakan, saat salah satu disodorkan, Hikari menyadari ada air hangat tersaji di sana. Aromanya seperti teh hitam dengan sedikit aroma asam yang bercampur. Konoha mengangkat gelasnya, mengajak bersulang meskipun isi gelas bukanlah minuman beralkohol yang sering diminum para orang dewasa. Hikari menurut, menyentuhkan gelas miliknya hingga terdengar dentingan pelan.
"!" Kelopak pucat yang sembab itu langsung terbuka setelah sang pemilik menyesap teh hangat yang diberikan si sahabat. "Ini enak! Seperti teh lemon … tapi sedikit beda! Tapi enak!"
"Enak, kan~? Ehe-hem! Hikari-kun boleh tambah lagi kalau mau!"
Ah, lega sekali rasanya bisa melihat senyum cerah teman baiknya. Hikari pasti lelah habis menangis dan makan tanpa air, makanya Konoha memutuskan untuk membuat teh campur air jeruk nipis untuknya. Seperti sihir saja; teh jeruk ini menyembuhkan kerongkongan Hikari yang sakit!
Manik hazel di bawah bibir topi putih menyipit sendu. Genggaman pada gelas menjadi lemah seiring dengan perginya hawa panas teh yang dibawa angin.
"Konoha, aku … tidak mau sendirian."
"Hueh?"
"Aku …." Gelas yunomi diletakkan di atas rumput. Masih ada sisa sedikit di sana, nanti akan diminum lagi.
Hikari lagi-lagi duduk sambil memeluk lututnya. "Tadi pagi, Ayah mengajakku bicara. Kau tahu, kan, kalau aku—sebagai penerus dewa matahari akan bertugas menerangi langit suatu hari nanti saat Ayah pensiun? Ayah mengingatkan itu padaku.
Aku pikir, saat aku menggantikan posisi Ayah, aku akan terus bisa bermain denganmu. Dengan Kaminari dan Kaze juga. Pokoknya melakukan hal-hal yang kita suka. Tapi Ayah menggeleng.
Ayah bilang kalau dewa matahari bekerja sendirian di langit untuk menyinari Bumi dan Takamagahara. Sementara kalian, teman-temanku, akan turun ke Bumi untuk menjalankan tugas masing-masing. Itu artinya … kita tidak akan bertemu lagi. Dan aku akan jadi sendirian di langit.
Aku tidak mau sendirian, Konoha …. Aku mau main bersama kalian."
Bruk! Kelereng bulat Hikari yang tadinya nyaris tertutup langsung melebar sempurna saat seseorang mendadak memeluknya dari samping. Anak itu menyembunyikan wajahnya di bahu sang sepupu dan Hikari merasakan perih yang tak terkira ketika Konoha mengangkat wajahnya.
"Tidak … tidak mau! Konoha juga tidak mau Hikari-kun sendirian! Siapa yang akan menamaniku kalau tidak bersamamu? Huwaaaa!"
"Ko-Konoha?! Jangan … menangis …. Ukh … hwaaa!"
Tangisan dari dua bibir kecil mengudara hingga ke langit-langit kahyangan. Tangis yang tadi sempat reda menjadi tak terbendung ketika mereka memahami keadaan yang harus dihadapi; mereka tak bisa selamanya bersama.
Sebagai anak tunggal, dua dewa kecil ini adalah yang paling dekat dengan satu sama lain. Konoha lahir di sebuah musim semi yang indah dan Hikari lahir beberapa bulan kemudian di sebuah musim panas yang cerah. Pertama kali bertemu, mereka masih sangat bulat.
Karena kodratnya sebagai dewa tanaman yang erat dengan Bumi, sejak awal Konoha tinggal di planet itu bersama orangtuanya. Sementara itu, Hikari menghabiskan waktu belajar di Alam Cahaya untuk melatih diri menjadi penerus sang ayah.
Anak itu selalu memasang wajah cerah saat Konoha membawakan cerita tentang Bumi yang begitu ia sayangi. Katanya, Bumi itu mirip dengan Takamagahara, hanya saja banyak orang di sana karena tujuannya adalah sebagai tempat hidup manusia.
Kendati demikian, Hikari belum pernah meninggalkan Alam Cahaya seumur hidupnya yang belum lama dimulai. Amato pernah mengatakan bahwa akan tiba saatnya bagi sang putra untuk mengunjungi Bumi, tetapi entah kapan itu.
Tangis mereka perlahan reda, bukan karena pasrah menerima takdir, tetapi karena lelah menyuarakan isakan yang membuat kerongkongan panas. Di sepanjang sisa hari itu, Konoha dan Hikari bersandar di pintu ama-no-iwato dengan kedua tangan bergandengan.
"Aku akan meminta izin ke Yang Mulia Ayah dan Paman biar bisa menemani Hikari-kun di langit."
"Kedengarannya menyenangkan. Tapi, apa boleh?"
Mereka sama-sama menghela napas panjang. Tidak sadar bahwa semenjak tadi ada sosok tinggi mengenakan kimono merah mengawasi mereka dari jauh. Sebelum disadari, sepasang tangan yang hangat menepuk puncak kepala dua sekawan itu.
"Maaf, ya, Hikari. Ayah membuatmu sedih."
Hikari dan Konoha mendongak, mendapati sosok yang tidak asing. Detik selanjutnya, mulut mereka menganga maksimal.
"Ayah?!"
"Paman?!"
Keduanya berseru lantang, "Kenapa ada di sini?!"
"Sejak tadi. Ayah mengamati dari jauh sambil melihat Konoha berusaha membujuk Hikari keluar. Hikari, kamu ini memang keras kepala." Pria berjambang itu geleng-geleng dengan ekspresi campuran prihatin sekaligus pahit.
"Ehh?! Bukannya Paman bilang mau bertugas?" Konoha melangkah maju. Jelas-jelas tadi ia melihat pamannya meluncur dari tempat itu dengan kecepatan cahaya. Kemudian, semuanya menjadi silau dan—ah ….
Amato tersenyum melihat mulut keponakannya membentuk huruf "o" kecil pertanda ia telah menemukan sendiri jawaban dari pertanyaan itu. Matanya beralih pada sang putra yang masih memberinya mata membelo seakan bisa lepas dari sana kapan saja.
"Itu memang benar. Tapi bagaimana mungkin aku meninggalkan putraku yang sedang mengambek ini? Bisa gawat kalau kenapa-kenapa."
"Ayah …." Hikari tak mau langsung menatap sang ayah. Wajahnya jadi makin tertutup bayangan topi ketika ia menunduk.
Bukan sebuah halangan bagi seorang dewa matahari untuk menyinari semesta di negeri sakura itu untuk menyinari baik kahyangan maupun tanahnya. Cahaya yang Amato ciptakan akan terpancar begitu jauh hingga menyinari seluruh Jepang.
Eit, tapi bukan berarti cahaya bisa disalurkan tanpa kendala. Banyak hal yang memengaruhi kualitas cahaya matahari dan salah satunya adalah suasana hati.
Jika para manusia di bawah mendapat hujan dadakan tanpa mendung duluan, ada beberapa kemungkinan yang menjadi penyebabnya. Pertama, bisa jadi karena dewa matahari sedang gelisah. Kedua, ada pertengkaran "kecil" antara Alam Cahaya dan alam saudara mereka. Alasan Amato umumnya adalah yang pertama sedangkan alasan Hikari umumnya yang kedua. Lihatlah; hari ini, cahaya tidak terdistribusi dengan baik sehingga langit di Bumi tampak mendung seharian.
"Hikari, maafkan Ayah, ya. Ayah sudah membuatmu khawatir." Setelah menarik napas dalam, Amato berlutut untuk menyejajarkan tingginya dengan sang putra yang masih berpaling muka. "Tapi ini adalah sebuah langkah untukmu menjadi dewasa."
Melihat teman baiknya belum mau angkat bicara, Konoha menyela dengan mengambil tempat di antara keduanya. Alis cokelatnya menukik tajam. "Paman, apa benar Hikari-kun akan sendirian? Apa Konoha tidak boleh main lagi dengannya?"
Amato bungkam. Ia teringat kala di mana kedua anak ini menangis di pelukan masing-masing gara-gara pembicaraan mereka tadi. Jarang sekali ia melihat sosok keponakannya yang selalu ramah membuat wajah tegas itu.
"Tidak apa kalaupun tidak boleh main, yang penting Hikari-kun tidak boleh sendirian di langit!" tegas Konoha berapi-api, tangan Hikari disambar dalam genggamannya.
"Konoha …." Untuk sesaat, Hikari berhenti menatap tanah. Ini juga pertama kali baginya melihat wajah tegasnya.
Hei, susah juga lama-lama adu tatap begini. Namun, mau bagaimanapun, Konoha belum mau berhenti melayangkan tatapan tajam itu dengan wajah polosnya. Tidak sampai Paman Amato mengiyakan permintaan egoisnya.
Tanggapan dari Amato tiba juga, tetapi bukan jawaban yang mereka dapatkan. Sosok tertua di antara ketiganya malah memberi mereka senyum penuh arti. "Konoha, bagaimana menurutmu kalau Hikari berkunjung ke Bumi?"
"Eh?" Keduanya bergumam. Tidak satupun menerka kalimat itu akan keluar dari bibir Amato saat itu juga. "EHHH?!"
Detik selanjutnya, tubuh mungil Hikari diguncang. Yang merangkul erat lengannya adalah si hijau yang kini melompat-lompat di atas tanah. Kalau tidak mengantisipasi dengan pasang kuda-kuda, mereka pasti sudah terguling-guling sekarang.
"Yang benar?! Hikari-kun boleh ke Bumi SEKARANG? Iyeei! Ayo, Hikari-kun, biar aku tunjukkan semuanya!"
Ajakan itu langsung disanggah si korban peluk, "Tu-tunggu! Ayah, bukannya aku hanya boleh turun ke Bumi setelah usiaku belasan tahun?"
Berbeda dengan kebanyakan dewa lain yang diperbolehkan turun ke Bumi, atau bahkan tinggal di sana semenjak lahir, para penerus dewa matahari diwajibkan tinggal di kahyangan selama beberapa tahun pertama hidupnya untuk membiasakan diri. Menyinari Bumi itu bukan pekerjaan mudah, apalagi menyinari seisi semesta Jepang! Karena itulah Hikari sampai sekarang belum pernah mengunjungi Bumi meskipun ia ingin sekali memijak tanah planet yang ditinggali sahabat baiknya.
"Ayah memberimu izin khusus. Ini juga bagian dari pembelajaranmu sebagai seorang dewa matahari." Seakan mendukung senyum sehangat mentari yang ia pancarkan, angin berembus lagi melambai-lambaikan surai cokelat Amato. "Ayo, kita turun sama-sama."
Dengan mulut masih menganga dan mata membelo, punggung Hikari didorong sepupunya yang masih melompat-lompat. Tiga sosok itu meninggalkan gerbang Alam Cahaya yang lambat laun ditutup oleh awan.
.
.
.
"Ini ...?"
"Hikari-kun, ini namanya Ame-no-ukihashi! Jembatan yang menghubungkan Takamagahara dengan Bumi. Setiap ke sini, aku naik lewat jembatan ini," jelas Konoha, mengayun-ayunkan kedua lengan yang menunjuk pada jembatan kayu di hadapannya.
Ame-no-ukihashi—jembatan yang Konoha sebut-sebut tersusun dari kayu berwarna kemerahan. Pegangannya juga berwarna merah, tampak begitu kontras dengan sungai di bawahnya yang memantulkan warna biru langit. Sejauh mata memandang, Hikari hanya melihat kekosongan di ujung jembatan. Sampai mana jembatan ini terbentang?
"Apa tidak capek? Bukannya jarak Bumi ke sini jauh?" Hikari berdecak tanpa mengalihkan pandangannya.
"Euh—itu tidak salah, sih. Tapi! Ada cara cepat kalau kita mau turun ke Bumi! Lihat ini!"
Untuk beberapa detik, Konoha merogoh lengan kimononya sampai ia menemukan sebuah lempengan kayu berbentuk segilima yang seukuran dengan telapak tangan. Diposisikan benda itu di ujung pegangan jembatan dan dalam sekejap, bentuk jembatan yang lurus berubah jadi lantai spiral yang landai.
"Jembatannya berubah jadi seluncuran!?"
"Hehe, hebat, kan? Konoha gitu, loh!"
Konoha membusungkan dada dan tersenyum puas ketika Hikari menghujaninya pujian. Hikari belum tahu kalau lempengan kayu yang orang-orang sebut ema itu adalah bentuk izin transportasi melalui jembatan. Di sana tertulis nama Raja Maruta, ayah Konoha. Dengan benda ini, ia bisa bebas berpindah-pindah antara Bumi dan Takamagahara. Amato diam saja sambil geleng-geleng, tak mau merusak "sihir" yang keponakannya buat.
Dengan mata yang tak berhenti berbinar, anak itu menoleh dan melempar celetuk polos, "Paman, kita mau turun ke mana?"
"Karena ini pertama kalinya Hikari turun ke Bumi, ayo kita turun ke Kuil Besar Ise," pandu Amato seraya menyentuhkan ema miliknya dengan pegangan jembatan seperti yang Konoha barusan lakukan.
"Siap~!" Tanpa basa basi lagi, tangan Hikari yang malang ditarik tanpa persetujuan pemiliknya. Kali ini benar-benar tanpa persiapan sehingga ia tergelincir pasrah. "Ayo, Hikari-kun, kita lompat!"
"He—ah? Sekara—AHH!?"
"IYEEEI!"
Yang selanjutnya terdengar adalah jeritan cempreng Hikari dan gelak puas Konoha. Yang lebih muda menolak membuka mata ketika sosok yang ia peluk menepuk-nepuk pundaknya supaya rileks. Hei, ia memang biasa berpindah tempat dengan kecepatan tinggi, tetapi beda kasus kalau caranya begini! Rasanya seperti mereka akan jatuh sebelum sempat ngerem. Jika itu benar terjadi? Entahlah, mungkin akan ada kepingan badan dewa kecil yang menyusul Nenek Izanami ke Yomi sana.
"AAH! AYAH! SELAMATKAN AKU!"
"Hikari-kun!"
"AKU BELUM MAU MATI!"
"Hikari-kun!"
"AKU BELUM HABISKAN SISA MONAKA KEMARIN!"
"Hikari-kun!" Konoha menangkup kedua sang adik sepupu hingga ia membuka mata. "Kita sudah sampai!"
"Eh ...?"
Mata yang tadi tertutup erat berkedip beberapa kali sebelum dibuka. Eh? Rasa-rasanya mereka barusan melalui perjalanan begitu jauh dari kahyangan ke Bumi, tetapi begitu membuka mata, mereka sudah sampai di sebuah ruangan gelap yang diduga sebagai tempat tujuan yang Amato sebutkan tadi.
"Eh? Bukannya tadi kita—"
"Nyaris mati? Mana ada! Kita sudah sampai, Hikari-kun. Kita di Ise Jinguu!"
Lagi-lagi tawa puas itu menggelegar sementara Hikari masih berpikir keras berusaha memahami apa yang barusan terjadi. Sebelum ia sempat memecahkan teka-teki itu, Amato yang menyusul muncul di belakang mereka dari sebuah portal cahaya yang sedetik kemudian hilang ditelan kegelapan.
Gelap. Ya, gelap. Kegelapan yang mirip seperti yang menyelimutinya ketika ia bersembunyi dalam ama-no-iwato beberapa jam lalu. Ke manapun mata mengarah, yang terlihat hanyalah ruangan berbahan dasar kayu yang remang-remang. Lambat laun, muncullah pendar kekuningan dari tubuh Hikari dan sang ayah.
"Uwahh, Hikari-kun, lihat! Tubuhmu bersinar!"
"Eh? Ehh, benar juga!" Hikari menunduk, memindai tubuhnya yang memancarkan sinar temaram yang menembus kain kimononya. Lantas ia mendongak, mendapati tubuh sang ayah yang memancarkan cahaya yang sama. "Tubuh Ayah juga! Bagaimana bisa?"
Cecar Hikari membuat gemas Amato. Ia tak lantas menjawab; sambil mendorong dua wujud kecil di depannya, ia menceritakan sejarah singkat kuil yang mereka pijaki ini.
"Hikari, ini adalah Ise Jinguu—Kuil Besar Ise. Kuil ini terdiri dari banyak kuil kecil yang berpusat pada dua kuil utama, Naikuu dan Gekuu. Sekarang ini, kita berdiri di dalam Kotai Jinguu yang terletak di bagian Naikuu." Amato menerangkan pelan-pelan, dibalas anggukan kecil dari putranya. "Kuil ini didirikan karena Nenek Amaterasu menyukai Ise sebagai tempat untuk tinggal. Hingga sekarang, kuil ini menjadi tempat paling suci bagi para manusia yang ingin berdoa dan memberikan persembahan."
Semua itu cocok dengan apa yang Hikari baca di buku. Melihat gambaran kuil ini di atas kertas memang menyenangkan, apalagi untuk menghabiskan waktu di perpustakaan: tetapi berada di dalamnya langsung merupakan pengalaman yang sangat berbeda.
"Konoha sering ke sini?" Hikari menoleh pada sepupunya yang belum berhenti cengar-cengir.
"Lumayan. Hikari-kun tahu tentang Nenek Toyouke? Beliau adalah dewi agrikultur dan padi. Hebat, kan? Makanya aku beberapa kali mengunjungi tempat ini. Dan aku pernah bertemu Nenek Toyouke di Gekuu untuk berguru!"
"Hoo …."
Terlepas dari perangainya yang suka bermain dan membuat jebakan, Konoha tidak pernah melewatkan pelajaran. Terlebih lagi kalau itu menyangkut tanaman-tanaman yang dirawatnya. Dengan begitu, ia jadi tahu cara-cara menumbuhkan tanaman yang baik dan bereksperimen untuk membuat jenis buah atau sayuran baru.
Selagi keduanya berbincang, Amato melangkah ke ujung ruangan berlantai kayu. Sudut bibirnya terangkat. Di hadapannya teraji lengkap berbagai macam bahan makanan seperti buah-buahan, sayuran, beras, ikan, dan beberapa macam sake. Tangannya melambai kecil, mengisyaratkan dua dewa kecil di belakang untuk mendekat.
"Hikari, Konoha, makanlah. Ini persembahan dari para manusia untuk kita."
"Ueh? Apa Konoha boleh makan ini? Konoha, kan, bukan dewa matahari …."
"Tentu saja boleh. Semua ini dipersembahkan untuk Nenek Amaterasu dan semua keturunannya. Tidak terkecuali dewa cilik hebat sepertimu." Topi hijau Konoha diacak-acaknya, membuat sang pemilik terkekeh.
"Kalau begitu, Konoha mau apelnya!"
"Aku mau jeruk …."
"Sini, biar kubantu mengupasnya!"
Ruangan gelap ini tidak terlalu kusam saat mereka duduk berkeliling di dalamnya. Sebagai fakta umum, Konoha adalah anak yang nyaris tak pernah berhenti tersenyum. Hanya saja senyumannya kali ini begitu lebar sampai otot bibirnya agak kaku—tapi itu bukan masalah. Kehadiran Hikari di sini membuatnya betah tersenyum lama-lama.
Tangan kecil mereka menyentuh lantai kayu yang menyerap suhu tubuh. Konoha membuka mulutnya lebar-lebar saat Hikari menyodorkan potongan jeruk. Sebagai balasan, potongan apel hijau balik disodorkan ke mulut anak si cahaya. Mereka terkikik, bersandar di bahu satu sama lain dengan mulut penuh buah-buahan manis.
Meletakkan sakazuki merah yang ia habis gunakan untuk meneguk sake, Amato menghela napas pelan. Pria itu bangkit, membuat lantai kayu berderit dan sepasang sahabat yang masih asyik berbagi makanan mendongak.
"Hikari, ayo kita keluar. Ayah ingin kau melihat langit dari Bumi," ajaknya.
"Waah, aku juga ingin Hikari-kun melihatnya! Hikari-kun, langit malam itu sangat indah, loh. Ah, tapi Hikari-kun harus tutup matamu dulu!" Sambil cekikikan, Konoha menurunkan topi putih Hikari sampai matanya terhalang. Semuanya jadi gelap lagi.
"Gehh?! Apa-apaan ini, Konoha! Aduh, jangan terlalu kencang!"
Mereka menuntun si Hikari yang memberontak minta dilepaskan, melalui hutan rimbun yang mengelilingi Kuil Ise. Angin malam yang sejuk menerpa kulit siapa saja yang berjalan dalam kegelapannya.
.
.
.
"Duh, sudah sampai belum? Aku pusing kalau berjalan dengan mata ditutup begini!"
"Kufufu, kita sudah sampai, kok!"
Yang bisa Hikari rasakan adalah tubuhnya dituntun untuk duduk di atas permukaan yang agak tajam—sepertinya ini adalah ladang rumput. Tempatnya terasa lumayan tinggi, terbukti dengan beberapa puluh anak tangga yang tadi mereka pijaki dan beberapa kali Hikari nyaris tersandung karena harus menapak tanpa melihat keadaan di sekeliling.
Ditambah lagi, angin malam yang lumayan kencang makin menjadi-jadi di atas sini. Yang bisa ia lihat hanyalah kegelapan di bawah kubah topinya, sedikit-sedikit ia mencuri pandang ke celah yang tersisa, sayangnya celah itu langsung ditutup Konoha.
"Konoha, bukalah topi Hikari. Kita sudah sampai." Kehadiran Amato yang duduk di belakang keduanya membuat suhu di antara mereka menjadi hangat.
"Oke! Hikari-kun, saksikanlah," topi putih Hikari ia letakkan kembali di kepalanya dengan lidah miring ke kiri, "kita di bawah langit malam!"
"...!"
Mulut kecil itu menganga. Matanya tak berkedip untuk beberapa saat ketika ia menangkap jutaan kelipan kecil yang berkilauan di langit indigo. Sejauh mata memandang, tidak ada satupun bagian langit yang tidak tertutup oleh taburan putih bak gula pasir itu.
"A-Ayah! Apa itu? Mereka bersinar di langit yang gelap!" Napas anak itu tertahan. Netranya mengedar ke segala arah, mengabsen setiap titik cahaya yang hadir malam itu di langit Ise.
"Hikari, Ayah yakin kau pernah belajar tentang kanji, kan. Coba Ayah tanya; apa arti kanji hoshi?"
Masih belum terpecahkan apa hubungannya pelajaran kanji dengan fenomena ini, tetapi Hikari tahu jawaban dari pertanyaan itu, "Hoshi artinya planet. Seperti Bumi."
"Benar sekali. Nah, apa Hikari tahu arti lain dari kanji hoshi?"
"Eh?" Pertanyaan Amato langsung dibalas kedipan mata dan raut berpikir yang kembali terpasang di wajah putranya. "Ada arti lainnya?"
"Ehehe, ada, dong!" Konoha menepuk pundak sepupunya lantas menunjuk langit tempat para titik cahaya itu berada. "Hoshi juga berarti bintang, Hikari-kun!"
"Bintang …?"
"Benar! Cahaya-cahaya kecil itu namanya bintang!"
"Ooh …." Gumaman kecil lolos dari kekaguman yang disimpannya pada kelipan itu. "Mereka indah."
Jadi begitu, ya. Rupanya kanji hoshi juga berarti bintang! Kumpulan cahaya indah di langit yang berkelap-kelip. Mereka memenuhi angkasa dengan warna putih mereka yang mirip taburan gula di atas cheesecake.
Perhatian Hikari berpindah pada satu sumber yang paling besar dibandingkan bintang yang lain. "Hei, kenapa bintang yang itu besar sekali?"
"Itu Bulan, Nak. Tempat yang dikuasai oleh Kakek Tsukuyomi. Ayah sudah pernah cerita, kan?"
"Ooh! Jadi itu bulan! Indah sekali!"
Senyuman kecilnya mengembang begitu lebar. Hikari menoleh ke segala arah, melihat bagaimana cahaya-cahaya itu menghias langit dan Bumi yang diselimuti kegelapan. Dengan adanya mereka, Bumi jadi tidak gelap saat malam. Hebat!
"Sekarang kau paham, kan. Di Takamagahara, kita selalu dikelilingi cahaya sampai tak bisa melihat cahaya sendiri. Sekarang kau bisa melihatnya, Hikari, kau adalah cahaya yang akan menjadi penerang seluruh semesta ini."
Mendengar kalimat ayahnya ia menunduk, mengamati pendar kekuningan yang datang dari tubuhnya sendiri. Rasanya hangat ketika disentuh; Hikari menyadarinya saat Konoha sengaja rapat-rapat duduk di sampingnya untuk mendapatkan kehangatan dari si dewa matahari kecil.
"Hikari, apa kau tahu ke mana perginya para dewa matahari yang sudah pensiun?"
Pertanyaan itu belum pernah terpikirkan oleh yang ditanyai. "Ke mana, Yah?"
Amato mendongak, menunjuk para bintang. "Mereka akan berpindah ke sana, menetap sebagai bintang yang menerangi angkasa."
"Eh? Benarkah begitu?"
"Yap. Dan kau harus tahu; kalau kita tidak menerangi langit sendirian. Semua bintang yang lain akan hadir menemani kita di langit untuk menyinari Bumi. Kenapa hanya Matahari yang terlihat sangat pagi? Itu karena Matahari adalah bintang yang paling dekat dengan Bumi yang kita cintai."
"Sungguh …?"
"Benar, Hikari-kun! Kamu mungkin tidak menyadarinya, tapi bintang itu ada setiap waktu, loh! Aku juga belum lama tahu tentang itu. Mereka hanya sedang tidur siang kalau pagi karena cahaya Matahari sangat menyilaukan!" Konoha menggelayut ke lengan Hikari, membuat tubuh mereka oleng sampai terbaring di rerumputan.
Hikari terkikik, mengusap setitik air yang menggenang di ujung matanya. Manik cokelat Konoha yang berbinar seperti bintang membuat hatinya hangat sampai meleleh menjadi air mata.
"Paman." Untuk sesaat, Konoha berbalik ke arah pamannya dan mengambil duduk bersimpuh. "Konoha mau terus menemani Hikari-kun. Jauh pun tak apa, Konoha akan mengarungi langit sekalipun untuk menemaninya!"
"Konoha …," Napas tertahan, anak bertopi putih menyusul bangkit untuk duduk. Pipi putihnya kini dihias dengan semburat merah yang hangat.
"Tentu saja. Memang itu tujuan Paman." Amato menepuk kepala Konoha hingga lepas dari posisinya. "Saat besar nanti, Paman titip Hikari padamu, ya."
Bintang di malam itu mungkin adalah yang paling terang semenjak beberapa tahun terakhir ini. Tidak ada awan gelap yang menutupi, bagaikan angkasa tengah menyerukan sambutan dari para dewa pendahulu yang telah purna tugas kepada cahaya kecil yang akan menjadi penerus mereka untuk menyinari semesta.
"Konoha, jangan tinggalkan aku, ya."
"Jangan takut, Hikari-kun. Aku akan selalu mengamatimu dari sini!"
.
.
.
.
.
.
Soshite taiyou mo hitori bocchi. Nemurenai hibi ga tsudzuku—
Ah, maaf. Aku hanya teringat akan lagu yang sering muncul di awal iklan YouTube yang beberapa waktu lalu sering muncul. Lagu yang bagus.
Halo, mungkin ini pertama kali Anda bertemu diriku dalam wujud ini. Namaku Kaori. Kalau terlalu panjang, panggillah Ori, kalau terlalu pendek, panggillah Oriflame.
Sebagai orang yang lahir di Negeri Matahari Terbit, kisah-kisah mitologi Dewa-Dewi Shinto sangat membangkitkan minat dan mendorongku untuk menuliskan adaptasi ini. Perubahan nama tokoh yang Anda baca diambil dari sebuah headcanon yang aku kompilasikan dalam sebuah catatan. Di bawah ini aku tuliskan lagi agar Anda tidak lupa.
Cahaya sebagai Hikari
Daun sebagai Konoha
Amato sebagai Dewa Amato
King Balakung sebagai Raja Maruta
Angin sebagai Kaze
Petir sebagai Kaminari
Aku memiliki keinginan untuk mengembangkan cerita ini menjadi sebuah serial suatu hari nanti. Ah, tolong jangan sungkan kalau Anda juga ingin membuat fanfiksi BoBoiBoy dengan tema Jepang dan menggunakan nama-nama di atas. Suatu kehormatan bagiku.
Cerita ini ditulis untuk sosok kesayanganku, kARImu, dengan harapan agar bisa menjadi pengingatnya di malam yang sepi; bahwa aku akan selalu di sini betapa jauh pun dirimu berada.
Sekarang, mari kita simak penjelasan dari istilah-istilah dan tokoh-tokoh asing yang muncul dalam cerita ini.
Amaterasu: Anak tertua dari dewa-dewi pencipta, Izanagi dan Izanami. Ia adalah dewi matahari yang dipercaya merupakan leluhur dari kaisar pertama Jepang. Dua adiknya yang lahir dari raga sang ayah adalah Susanoo dan Tsukuyomi.
Susanoo: Saudara laki-laki Amaterasu yang merupakan dewa badai dan lautan. Karena ulahnya yang telah memporak-porandakan tempat tinggal kakaknya, ia diusir dari kahyangan.
Tsukuyomi-no-Mikoto: Saudara laki-laki Dewi Amaterasu yang merupakan dewa bulan. Karena telah membunuh Dewi Ukemochi yang menjamunya, Amaterasu tak lagi sudi untuk melihat wajahnya. Karena itulah malam dan siang tak pernah bisa bersatu.
Izanagi dan Izanami: Orangtua dari Amaterasu, Susanoo, dan Tsukuyomi. Keduanya adalah kami yang menciptakan pulau-pulau di Jepang. Izanami meninggal ketika melahirkan putra terakhir mereka, sang dewa api, Kagutsuchi. Kematiannya membuat Izanagi murka sehingga ia membunuh Kagutsuchi.
Ninigi-no-Mikoto: Cucu dari Dewi Amaterasu yang turun ke Bumi. Ia menikah dengan Sakuya-hime dan merupakan kakek buyut dari kaisar pertama Jepang, Kaisar Jimmu.
Konohanasakuya-hime: Sakuya-hime adalah dewi dari Gunung Fuji dan dewi dari seluruh gunung berapi di Jepang. Keponakan Dewi Amaterasu yang merupakan putri dari salah satu saudaranya, Ooyamatsumi. Ia menikah dengan Ninigi di Bumi dan melahirkan tiga anak mereka, Hoori, Hosuseri, dan Hoderi.
Kimono: Pakaian tradisional Jepang yang secara harfiah berarti "barang yang dipakai". Berupa mantel yang melekat di badan dan bentuknya mirip hufur "T".
Kinagashi: Sejenis kimono yang dipakai tanpa hakama. Hakama sendiri adalah bawahan berupa kain yang menyerupai rok dengan banyak lipatan. Karena lebih praktis, kinagashi sering digunakan dalam acara informal maupun kehidupan sehari-hari.
Wagashi: Kue dan permen empuk Jepang. Umumnya terbuat dari tepung beras dan pasta kacang. Salah satunya adalah sakuramochi yang berwarna merah muda seperti bunga ceri. Monaka adalah wagashi yang berupa biskuit sandwich dengan pasta kacang di tengahnya.
Tarako: Kantong telur ikan cod yang sudah diasinkan dan dibungkus dalam membran tipis.
Koto: Alat musik tradisional Jepang yang mirip kecapi.
Baiklah, itu saja untuk sekarang. Terima kasih telah membaca karya one-shot yang lumayan panjang ini. Aku akan sangat menghargai setiap dukungan berupa fav atau review mengenai karya ini. Kunjungi juga Twitter kami di (_akaori) jika Anda tertarik mengikuti kelanjutan cerita kami yang lain.
Sampai bertemu lagi.
【】Kaori
.
.
.
.
.
.
Whusss, rasa-rasanya angin mendadak bertiup kencang barusan. Padahal detik sebelumnya biasa-biasa saja. Dari langit, tampak sesuatu berkelap-kelip dengan kecepatan tinggi melalui lorong spiral yang begitu panjang.
"Waah, apa itu yang disebut bintang jatuh? Ah, aku harus membuat permohonan!"
Anak laki-laki itu mendongak, mulutnya menganga mendapati fenomena langka yang ia pikir hanyalah mitos. Kedua tangannya ditangkupkan. Tanpa melepas pandangan kagum pada bintang jatuh yang meluncur ke Bumi, ia membisikkan sebuah doa.
"Oh, Bintang, kalau kau mendengar doaku, tolong jagalah Bumi dari segala kebencian dan datangkanlah ketenangan bagi para penduduknya."
Bintang jatuh lenyap dalam kegelapan malam Ise. Anak itu melempar senyum entah kepada siapa sebelum kemudian berbalik menuju ke jalan pulang.
