A/N: Hanyalah cerita karangan yang author buat karena author ngeship ama mereka berdua. Buat kalian yang tidak suka silahkan tidak perlu baca cerita ini.

©Harry Potter milik J.k.Rowling©

Ron X Pansy.

Sekali lagi ini hanyalah ide khayalan author maklum jika agak berbeda dengan di film asli Harry Potter

...

Dentingan alat makan terdengar di sunyinya ruangan tidak ada percakapan karena sudah peraturan yang diajarkan ketika saat makan tidak ada boleh suara selain peralatan makan. Pansy yang masih berumur lima tahun tidak senang dengan kesunyian di ruang makan.

Kenapa ayah dan ibunya saling diam tidak ada percakapan hangat seperti di buku yang dibacanya.

Pansy berpikir jika orang tuanya sedang bertengkar ia masih belum tahu jika ada peraturan seperti itu dalam keluarganya.

"Mom! Dad! Bisakah kalian membelikanku buku dongeng lagi! Buku-buku dongeng di rak buku sudah kubaca semua. Tolong belikan buku dongeng bergambar ya..." pinta Pansy dengan semangat ia mulai bercerita tentang buku-buku dongeng yang telah dibacanya pada ayah dan ibunya dengan semangat. Ruangan yang tadinya sunyi di isi oleh ocehan Pansy.

Tapi ayah Pansy tidak suka dengan keributan yang ditimbulkan oleh anaknya.

"Pansy" sang ayah memanggil nama Pansy dengan nada berat. Pansy bergidik takut melihat tatapan tajam dari sang ayah. Matanya beralih pada sang ibu tapi ibunya malah mengabaikannya tetap fokus pada makanan di piring.

"Di dalam keluarga Parkinson ada peraturan dimana ketika kita makan kita tidak boleh berbicara" jelas ayah Pansy sambil mengelap mulut dengan serbet.

Pansy menundukan kepala "Tapi dalam buku dongeng yang aku baca--"

Ayahnya dengan segera memotong ucapan Pansy, memanggil salah satu peri rumah. "Buang semua buku dongeng di kamar Pansy." perintah singkat dan mutlak.

Mata Pansy membulat ia turun dari kursi memegang tangan besar milik sang ayah.

"Kenapa? Kenapa ayah harus membuang buku-buku dongeng milik Pansy. Itu pemberian dari nenek."

Mata coklat milik Pansy berkaca-kaca menggoyang-goyangkan tangan sang ayah memohon agar ayahnya tidak melakukan hal itu. Buku-buku dongeng pemberian dari mendiang sang nenek yang dicintainya, satu-satunya kenangan yang dimiliki Pansy.

"Buku dongeng hanyalah buku tidak berguna. Membuat anak-anak berkhayal akan sesuatu yang tidak dapat dicapai."

Peri rumah itu merasa tidak tega melihat nona muda yang di layaninya menangis tersedu-sedu. Dia hanyalah anak kecil berumur lima tahun yang memiliki hobi yang sama dengan anak seumurannya.

Pansy menatap sendu peri rumahnya menggeleng kecil memohon agar peri rumahnya tidak menuruti perintah ayahnya. Tapi apa daya dirinya hanyalah seorang peri rumah. Jika ia menolak maka dirinya akan di siksa oleh tuannya.

Peri rumah tersebut memejamkan mata tidak ingin melihat wajah memelas milik Pansy, dengan berat hati ia menghilang dari ruang makan melaksanakan perintah dari tuannya.

Pansy melihat itu menangis dengan keras. Kaki kecilnya berlari meninggalkan ruang makan menuju kamarnya di lantai atas.

Di buka pintu bercat putih tersebut, Pansy masuk kedalam kamar ia menghampiri rak buku kayu yang sudah kosong. Semua buku-buku dongeng miliknya sudah tidak ada. Dimana letak kesalahan Pansy sebenarnya sampai-sampai ayahnya tega berbuat hal tersebut.

...

Di malam hari dengan suara hujan diluar, Pansy memeluk lututnya dengan kepala disandarkan di lipatan tangan. Matanya tak henti meneteskan airmata. Pansy memandang keluar jendela yang dimana gorden kamar miliknya masih belum di tutup. Langit malam tanpa bulan seakan sebagai latar dari kesedihan Pansy.

Suara ketukan pintu membuat Pansy segera menghapus airmata. Pintu kamarnya dibuka menampilkan peri rumah yang tadi ayahnya perintahkan untuk membuang semua buku-buku dongeng miliknya.

Peri rumah tersebut berjalan menghampiri kasur ia menjentikkan jari lalu muncul sebuah buku. Mata Pansy berbinar melihat sampul buku tersebut.

"Nona ini salah satu buku yang tidak saya buang."

Pansy mengambil buku yang di sodorkan oleh peri rumahnya tersebut. Diusapnya sampul buku dongeng itu oleh Pansy dengan air mata yang menetes.

"Maaf karena saya telah berani membuang buku-buku milik nona," peri rumah tersebut menunduk merasa bersalah.

"Terimakasih Wink, karena telah melindungi hadiah peninggalan nenek"

Wink peri rumah itu terkejut. Matanya berkaca-kaca melihat senyuman tulus dari Pansy.

...

Usia Pansy sekarang menginjak sembilan tahun sebentar lagi ia akan masuk ke sekolah sihir. Dirinya harus mempersiapkan diri.

Akhir-akhir ini ayahnya sering membahas jika tuannya akan segera bangkit dan membersihkan dunia sihir dari para penyihir-penyihir kotor.

Sebenarnya Pansy sendiri tidak terlalu mengerti dengan apa yang dimaksud ayahnya dengan para penyihir berdarah kotor dan darah pengkhianat (blood-traitor).

Pansy juga tidak peduli jika dirinya ini Pure-blood. Memang apa bedanya Pure-blood, Half-bloods,dan ...

Satu lagi entah apa namanya itu, Muggle--. Muggle. Agghhh! Pansy tidak tahu kepanjangannya! Yang jelas Pansy tidak peduli akan hal itu semua. Tapi ayahnya menjelaskan bahwa darah mereka adalah paling terhormat.

Keluarga Parkinson dan keluarga Malfoy adalah salah satu keluarga yang dihormati di dunia sihir. Selain itu status mereka sangat berpengaruh di kementrian sihir.

"Jika status darah kita lebih tinggi lalu kenapa kita harus menjadi bawahan dari 'tuan' yang dimaksud ayah itu?" cetus Pansy tanpa di sadari.

Lalu dengan keras ayahnya menggebrak meja kerja. Pansy berjengit kaget ia sadar apa yang diucapkannya adalah kesalahan.

Tubuh Pansy bergetar ketakutan ia tidak berani mengangkat wajahnya.

"Jangan pernah mengatakan hal itu! Atau tidak kau akan mati!" Desisnya dengan tajam. Pansy merasa sesak seakan sosok di depannya ini bukanlah ayahnya. Walaupun ayah selalu seenaknya terhadap urusan hidupnya tetapi tidak pernah mengancamnya seperti itu.

"Ma-maaf." cicit Pansy dengan tubuh bergetar.

"Bagaimana dengan tugas ayah berikan apakah kau sudah menghafal semua mantra sihir yang ku suruh?"

Pansy meneguk ludahnya dengan kelu. "I-itu terlalu sulit ayah, mantranya terlalu panjang dan setelah aku mencoba merapalkannya badanku semuanya sakit."

"Jadi kau masih belum menghafalnya." Tegasnya tidak peduli dengan alasan apapun yang diberikan oleh Pansy. Jika ayahnya bilang bahwa ia harus menghafal mantra sihir dalam waktu tiga hari tidak peduli itu sulit ataupun mengancam nyawa maka Pansy harus menuruti perintah sang ayah.

Tangan Pansy ditarik dengan kasar dirinya kaget ketika ia diseret dengan kasar keluar dari Manor menuju gelapnya hutan.

Pansy menggelengkan kepala. "Ayah, ayah aku mohon jangan hukum aku. Aku janji akan menghafalnya dengan cepat. Aku tidak akan mengeluh walaupun itu sakit."

Didorongnya tubuh Pansy kedalam hutan hingga terjatuh di tanah.

"Satu minggu, kau akan tinggal di hutan sambil menghafal mantra sihir ini. Tetapi jika kau menghafalnya dalam jangka waktu dekat aku akan datang menjemputmu lebih cepat dari satu minggu." Sebuah buku tebal berisi mantra sihir di lempar di hadapan Pansy.

Sosok paruh baya tersebut pergi meninggalkan Pansy seorang diri di dalam hutan walaupun ia berlari sekuat tenaga untuk keluar dari hutan tubuhnya akan langsung terpental ke belakang seperti ada sebuah dinding yang melingkari hutan tersebut. Seakan melarang diri Pansy untuk keluar dari hutan yang gelap gulita.

Pansy terpaksa berjalan dengan memeluk buku tebal itu. Ia tidak tahu ada apa saja di dalam sana karena tidak ada satupun yang pernah masuk kedalam hutan belakang manor parkinson tersebut.

Suara kicauan burung gagak yang mengerikan membuat Pansy memeluk lebih erat buku tersebut.

"Ibu, Ibu, Ibu, aku ingin pulang." Racau Pansy. Lelah karena berjalan kaki Pansy duduk di bawah pohon menyandarkan punggungnya ke batang pohon tersebut. Pansy memulai membuka buku ia mencoba untuk menghafal mantra-mantra sihir. Lebih cepat hafal maka Pansy akan keluar dari hutan dengan lebih cepat.

...

Sudah hari kedua Pansy berada di dalam hutan sekarang anak berusia sembilan tahun ini tengah mencari sesuatu benda dapat mengisi perutnya berupa makanan.

Pansy terkesiap ketika suara benda dari langit terjatuh dengan cepat. Pansy penasaran akan benda tersebut berlari menuju suara itu.

Ia melihat seperti sebuah sapu yang tersangkut diatas pohon dan seorang anak laki-laki tengah menepuk-nepuk jubah yang di pakainya.

"Sapu sialan" umpatnya sambil melihat sapu terbang miliknya.

"Ibu pasti akan membunuhku jika tahu hal ini." Tentu saja dengan susah payah Ron mengambil sapu terbang dengan diam-diam dan sekarang sapu itu malah tersangkut.

Merasa jika ada seseorang memperhatikan dirinya Ron berbalik kebelakang mendapati anak perempuan seumuran dengan dirinya tengah menatapnya.

"Oh ternyata ada orang syukurlah, apa kau tahu bagaimana cara menurunkan sapu terbang ku yang ada di atas pohon itu?"

... Pansy yang ditanya Ron hanya diam ia masih memperhatikan sapu sihir milik Ron.

"Hallo" Tidak ada tanggapan dari sang empu Ron mendesah tidak ada pilihan lain ia akan memanjat pohon tinggi itu.

Jubah milik Ron ditarik oleh Pansy membuat anak lelaki itu berbalik menengok ke arahnya.

"Nanti kau jatuh jika memanjat pohon itu."

Angin berhembus menggoyangkan daun-daun. Rambut hitam milik Pansy dan rambut merah milik Ron ikut bergoyang mengikuti arah angin.

"Lalu bagaimana caranya aku mengambil sapu terbangku itu jika tidak memanjatnya. Ibuku akan membunuhku jika tahu aku diam-diam menggunakan sapu terbang." Keluh Ron dengan wajah putus asa.

Pansy mengeluarkan sebuah tongkat lalu merapalkan mantra dan sapu terbang milik Ron mendarat dengan mulus di atas tanah.

Mata Ron membulat melihat tongkat sihir di pegang Pansy. Anak berumur sembilan tahun sudah memegang tongkat sihir. Memangnya boleh?

Tongkat sihir dapat digunakan ketika saat menginjak umur sebelas tahun karena umur tersebut adalah waktu yang pas untuk belajar menggunakan tongkat sihir.

Ron ingin bertanya tapi mengurungkan diri ia juga sadar umurnya masih belum cukup untuk mengendarai sapu terbang jadi tidak ada hak bagi Ron mengomentari Pansy yang menggunakan tongkat sihir.

Ron berlari mengambil sapu terbang miliknya. "Terimakasih"

Ron memperhatikan sekeliling "Apa kau sendirian disini?"

Pansy menganggukkan kepala.

"Dimana ayah dan ibumu?" pertanyaan Ron berhasil membuat Pansy menundukan kepala dengan sedih. "Hanya ada aku disini sendirian. Ayah sedang menghukumku."

Alis Ron terangkat apa anak perempuan di depannya ini membuat kesalahan besar sehingga dihukum ditinggalkan sendirian di hutan luas ini.

Tetapi jika Ron membuat masalah ibu atau ayahnya juga akan menghukumnya tapi tidak sekejam ini.

"Buku apa itu?" Ron mengalihkan percakapan ia mulai tertarik dengan buku dipegang Pansy.

"Buku mantra sihir ayah menyuruhku untuk menghafalnya."

Ron menganggukan kepala ia melihat ke sekeliling hutan. Matahari terik di atas langit membuat perut Ron keroncongan. Begitu pula dengan suara perut Pansy.

"Sebelum aku terjatuh aku melihat sebuah sungai mungkin saja ada ikan di sana. Ayo kita pergi melihatnya." Ron menggapai tangan Pansy tangan mereka berdua saling bertautan. Wajah Pansy tiba-tiba memerah mungkin efek dari cahaya matahari yang membakar kulit putihnya atau ada alasan lain yang membuat wajah gadis cilik itu memerah.

"Oh ngomong-ngomong perkenalkan nama ku Ronald Weasley. Kau bisa memanggilku Ron" Ron memperkenalkan diri pada Pansy.

"Pansy Parkinson." Balas Pansy memperkenalkan diri.

"Baik Pansy ayo kita cari ikan di sungai." Ron menarik tangan Pansy menyuruh anak itu ikut berlari.

...

Pansy tertawa ketika melihat Ron terjatuh saat menangkap ikan membuat pakaian anak lelaki itu basah. Pansy yang memilih duduk di atas batu hanya memperhatikan Ron begitu berusaha dengan keras mengambil ikan-ikan di sungai.

"Berhenti tertawa dan bantu aku Pansy" rajuk Ron merasa kesal karena Pansy sedari tadi hanya tertawa.

"Tugas ku hanya menyiapkan api unggun. Dan menangkap ikan itu tugasmu Ron" jawab Pansy. Ron mendengus sebal ia kembali fokus menangkap ikan.

Pansy tersenyum tipis ia menekukan lutut menumpukan dagu terkekeh kecil ketika Ron merasa kesal ketika ikan yang didapatkannya kembali lepas. Hari ini Pansy merasa bahagia pertemuannya dengan Ron membuat hati Pansy menjadi tenang.

"Lihat, aku sudah banyak menangkap ikan. Saatnya kita memakannya." Ron menunjukan ikan hasil tangkapannya cukup dengan kayu runcing Ron dapat menghasilkan sepuluh ekor ikan.

Api unggun membakar ikan itu hingga matang. Pansy mulai memakan ikan hasil dari kerja keras Ron.

"Enak!" ujar Pansy sungguh-sungguh padahal ikan yang dibakar ini tanpa di lumuri bumbu atau penyedap tapi kenapa terasa lezat di mulut. Ron merasa senang mendengar hal itu.

Setelah selesai makan ikan bakar Ron berpamitan untuk pulang karena hari sudah sore.

"Semoga hukuman mu segera selesai Pansy. Tinggal sendiri di hutan sangat mengerikan."

Pansy mengangguk. "Kau pun hati-hati Ron jangan sampai terjatuh lagi dari sapu"

Ron menganggukan kepala ia menaiki sapu terbang lalu pergi meninggalkan hutan.

...

Ini sudah malam hari Pansy sudah berdiri di dekat pembatas menunggu kehadiran ayahnya.

Sosok lelaki paruh baya datang menghampirinya. "Bagaimana?"

"Aku hanya baru hafal beberapa mantra ayah. Jika mantra yang lainnya aku hanya perlu melancarkannya saja"

"Jadi selama tiga hari ini kau masih belum hafal semua mantra di dalam buku ini." Hardik sang ayah membuat Pansy tidak ada pilihan selain menggelengkan kepala tidak ada cara selain jujur. Jika berbohong Pansy akan langsung ketahuan oleh ayah karena beliau memiliki semacam sihir pendeteksi kebohongan.

Dengan kasar buku setebal kamus itu dilempar hingga mengenai pelipis Pansy. Kepalanya langsung terasa sakit.

"Tidak berguna! Sudah ku berikan waktu cukup lama dan kau hanya hafal setengah!" Cacarnya, membuat Pansy menggigit daging bibir bagian dalam itu demi menahan agar tidak menangis.

"Itu terlalu banyak ayah. Kata-katanya sulit dimengerti sehingga membuat ku susah untuk menghafalnya."

"Berhenti beralasan!" Pansy semakin menundukkan kepala.

"Kau akan tetap diam disini sampai benar-benar hafal semua isi dalam buku itu." lelaki paruh baya tersebut membalikan badan. "Kenapa juga aku harus memiliki anak yang tidak berguna. Dasar anak cacat." hinaan keluar dari mulut ayahnya membuat sosok Pansy terguncang ia terjatuh diatas tanah menangis tersedu-sedu.

...

Hari itu Ron sedang kembali mencoba sapu terbangnya saat ia melewati hutan kemarin Ron melihat sosok Pansy yang tengah tertidur dengan buku terbuka. Ron mengarahkan sapu terbangnya untuk turun kebawah.

Disandarkannya sapu terbang itu di batang pohon. Ron berjalan menghampiri Pansy ia berjongkok memperhatikan wajah Pansy yang bengkak seperti habis menangis. Tangan Ron terangkat mengusap pelipis Pansy, warna biru kehijauan menarik perhatian Ron seperti terbentur suatu benda keras.

"Uhh" erengan Pansy yang merasa terganggu tidurnya membuat Ron malah tersenyum merasa terhibur. Kelopak mata Pansy terbuka awalnya penglihatan Pansy terasa buram maka dari itu ia kembali mengerjapkan mata lalu membukanya secara perlahan.

Pansy melihat rambut berwarna merah dan wajah lelaki jaraknya tidak terlalu jauh dengannya.

"Ron" lirih Pansy dengan suara serak memanggil nama anak lelaki itu. Pansy mengucek kedua matanya sekarang sosok Ron terlihat jelas.

"Kamu masih disini Pansy. Apa hukuman mu belum selesai?"

Pansy menggelengkan kepala lesu. Ron sebenarnya bingung kenapa juga Pansy dihukum oleh orang tuanya.

'Kruyuk' suara perut berbunyi membuat wajah Pansy memerah.

"Kau belum makan?" tanya Ron dengan alis mengernyit walaupun sedang di hukum setidaknya orang tua Pansy memperhatikan pola makan anaknya.

"Tunggu disini."

Pansy hanya memperhatikan Ron berlari menuju sapu terbang miliknya lalu pergi entah kemana.

Sepuluh menit, Pansy masih duduk di tempat sosok Ron baru kembali dengan tangan membawa sesuatu di bungkus.

Ron membuka paper bag ia mengeluarkan sesuatu yang harum.

Itu Mince pie.

"Ibu membuat ini. Makanlah"

Pansy masih belum mau mengambilnya ia masih ragu-ragu. Karena Pansy bergeming sedari tadi Ron mengambil satu Mince Pie lalu menyodorkan di depan mulut Pansy menyuruh anak gadis itu menggigitnya.

Pansy membuka mulut menggigit Mince Pie tersebut. Ini enak, sudah dua gigitan Pansy makan.

"Apa ibumu tahu jika kau membawa Mince Pie sebanyak ini Ron?" dilihat dari jumlahnya yang banyak sepertinya nyonya Weasley membuat Mince Pie untuk satu keluarga.

Ron meringis kalau boleh jujur Ron mengambil Mince Pie tanpa sepengetahuan ibunya.

"Hahaha, tentu saja ibu tahu dia bilang aku boleh mengambil semuanya." Bohong Ron sambil terkekeh kecil.

"Ibumu sangat baik ya Ron" Pansy menurunkan pandangan melihat potongan Mince Pie bekas gigitannya. Ia cukup iri pada diri Ron bahkan ibunya saja tidak mengunjunginya atau melindunginya dari amarah ayahnya. Pansy merasa ia hidup sendirian di dunia ini.

"Yaaahhh..." Ron menggaruk tengkuk leher. Tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. "Ibuku memang baik tapi, ketika ia marah tanduk di kepalanya akan muncul" canda Ron. Ia terdiam ketika tangan Pansy menyodorkan Mince Pie kearahnya.

"Kau pun harus makan juga" ucap Pansy menatap wajah Ron. Ron tersenyum ia membuka mulut memakan Mince Pie di tangan Pansy.

...

Sudah lima hari Ron bermain dengan Pansy di hutan. Mereka berdua berlarian mengejar kumbang berwarna hitam. Begitu banyak jenis serangga di temui di hutan ini.

"Pansy aku menangkap satu disini"

Pansy berlari menghampiri Ron "Benarkah"

"Lihat, ini adalah kumbang badak"

Pansy beringsut mundur ketika kumbang itu seperti ingin menggigit.

"Sebaiknya kamu melepaskannya Ron. Nanti kamu digigit olehnya."

Wajah Ron mengerut, "Tapi aku berniat memakannya."

Pansy meringis jijik. "Tidak boleh! nanti kamu kenapa-kenapa, sudah lepaskan saja."

Ron menghela napas ia menuruti perintah dari Pansy melepaskan kumbang tersebut.

"Bukankah kamu berjanji akan mengajak ku menaiki sapu terbang Ron"

Ron menepuk jidat "Itu benar maaf aku melupakannya ayo aku akan mengajakmu mengendarai sapu terbang."

Ron mengambil sapu terbang duduk bagian depan dan Pansy duduk di belakang Ron. "Pegangan yang erat" seru Ron lalu sapu terbang tersebut terbang membawa mereka berdua ke atas. Tangan Pansy memeluk pinggang Ron dengan erat.

"Lihat ke bawah Pansy." Pansy menurut ia melihat kebawah jarak hutan dan dirinya lumayan jauh. Pohon-pohon di hutan terlihat kecil. Hembusan angin membelai wajah mereka.

"Pelan-pelan Ron." Pansy semakin mempererat pelukannya ketika Ron menambah kecepatannya dalam mengendarai sapu terbang.

"Bukankah ini menyenangkan Pansy..." Teriak Ron sambil berseru kegirangan.

"Kau tau suatu hari aku akan ikut dalam team Quidditch dan memenangkan turnamen"

Pansy hanya tersenyum mendengar impian Ron.

"Saat aku benar-benar lolos masuk Quidditch dan mengikuti turnamen bisakah kamu mendukungku dan menyemangatiku" Lanjut Ron dibandingkan permintaan Ron seperti benar-benar berharap saat masuk sekolah Hogwarts Pansy akan mendukungnya suatu hari nanti.

Ron tersenyum dengan lebar ketika merasakan sebuah anggukan kepala dari Pansy. "Baiklah saatnya kita terbang lebih tinggi."

"Ronnn~ Kita akan jatuh..."

Ron hanya tertawa ringan mendengar kepanikan Pansy.

...

Pansy sudah mulai hafal mantra-mantra sihir dalam buku. Tidak terasa satu minggu hampir tiba untung saja ia ditemani dengan Ron sehingga Pansy tidak terlalu kesepian.

Pansy sedang berteduh dibawah pohon sedari tadi hujan tidak berhenti. Pansy melihat Ron tengah berlari menghampirinya tidak peduli jika dirinya basah karena tetesan hujan. Ron tetap berlari menerobos hujan menghampiri Pansy.

"Ron! Apa yang sedang kamu lakukan disini! Lihat pakaianmu semuanya basah." ujar Pansy panik.

Ron terengah-engah "Aku khawatir jika kamu belum makan."

Ron menyodorkan kotak bekal. Pansy terharu dengan perhatian diberikan oleh Ron. Nasi hangat dengan isi lauk pauk yang sederhana tetap terasa nikmat.

Hujan deras berganti menjadi rintik-rintik.

'Cit-cit-cuit!' suara anak burung menarik perhatian dua anak yang tengah makan itu.

Ron dan Pansy menghampiri asal suara anak burung itu. "Dia jatuh dari atas pohon sana" ucap Pansy sambil menunjuk pohon tinggi dimana sarang burung itu berada.

"Aku akan mencoba mengembalikannya dengan tongkat sihir."

Pansy merapalkan mantra tetapi gagal sehingga anak burung tersebut kembali ke tanah. Pansy merasa kecewa ia sudah berusaha keras belajar kenapa tetap saja sihirnya selalu gagal.

"Tidak apa-apa aku akan memanjat pohon dan mengembalikannya." Ron berjalan mengambil anak burung tersebut.

"Tapi sarang burungnya terlalu tinggi Ron." Protes Pansy tidak setuju jika Ron memanjat pohon tinggi tersebut.

"Jika aku kembali ketempat asal kita untuk mengambil sapu terbang itu tidak akan sempat. Lihat anak burungnya sudah kedinginan ia harus kembali ke sarang sesegera mungkin." Jelas Ron, Pansy tahu jarak mereka sekarang dengan asal tempat mereka tadi jaraknya agak lumayan jauh.

"Tenanglah Pansy aku ini ahli dalam hal memanjat" Ron mulai berjalan memanjat pohon. Setelah sampai di sarang burung Ron menyimpan anak burung itu kembali di rumahnya. "Jangan sampai terjatuh lagi ya."

Sekarang Ron hendak turun. Pansy yang memperhatikan dibawah terus merasa was-was. Saat Ron ingin menginjak salah satu ranting pohon sialnya ranting itu patah dan membuat Ron terjatuh dari atas pohon.

Nafas Pansy tersendat ketika tubuh Ron terjatuh dengan bebas.

"RON!"

Tubuh Ron membentur tanah dengan keras belakang kepalanya terbentur batu sehingga mengakibatkan pendarahan yang begitu hebat.

Pansy yang panik setengah mati membawa tubuh Ron menuju sapu terbang. Tak hentinya Pansy menangis. Hujan rintik-rintik menerpa mereka berdua.

"Pansy…" Lirih Ron kesadaran anak lelaki itu hampir menipis.

"Ron jangan tidur! Kamu harus tetap terjaga!" Pansy sudah tidak peduli dengan bajunya ikut terkena darah. Pansy sudah tidak peduli jika ayahnya akan marah dan kembali menghukumnya karena telah melanggar perintah.

Hutan ini di pasang dinding pelindung agar Pansy tidak bisa keluar jika terbang dengan sapu pun jarak ketinggiannya tidak terlalu jauh dengan hutan ini. Pansy membuka buku mantra ia menemukan bagaimana cara menghancurkan dinding pelindung tersebut. Dirapalkannya mantra tersebut. Yakin jika dinding itu sudah menghilang Pansy mulai menaiki sapu terbang dengan Ron di belakang. Satu tangan Pansy memegang tangan Ron agar tetap memeluk pinggangnya dan lelaki itu tidak terjatuh.

….

St. mungo's hospital salah satu rumah sakit di dunia sihir berada, Pansy tergopoh-gopoh membawa tubuh Ron dengan susah payah. Beberapa healer melihat Pansy yang kesusahan ketika membawa Ron ikut membantunya.

"Miss biar saya saja yang membawa orang itu anda silahkan untuk duduk menunggu."

Pansy menurut ia memilih untuk duduk dekat dengan ruang perawatan Ron dalam hati ia terus berdoa akan keselamatan Ron. Salah satu Healer yang merawat Ron datang menghampiri Pansy.

"Nona keluarga korban sudah saya hubungi. Mereka akan segera sampai apakah anda ingin diam menunggu atau anda ingin pulang? Jika anda ingin pulang saya akan memberikan surat pada Mr.Parkinson agar menjemput anda."

Tentu Healer itu akan langsung tahu bahwa Pansy itu dari keluarga Parkinson karena dirinya pernah muncul di daily prophet. Dan siapa lagi di dunia sihir memiliki rambut merah selain keluarga Weasley tentu saja Healer itu akan langsung menghubungi ayah dan ibunya Ron.

"Aku ingin tetap disini" jawab Pansy dengan menatap ruangan di depan dengan gamang.

Healer itu menghela nafas. Sebenarnya ia cukup terkejut ketika melihat putri tunggal keluarga Parkinson datang bersamaan dengan anak keenam dari keluarga Weasley itu.

Segerombolan anggota keluarga Weasley berlari di koridor mencari ruang perawatan milik Ron.

"Nyonya dan tuan Weasley." panggil healer itu.

Molly Weasley menghampiri Healer tersebut dengan nafas terengah-engah. "Bagaimana keadaan putra ku?"

"Dia sudah melewati masa kritis. Kalian bisa menjenguknya. Asalkan tidak ribut." Healer tersebut memberikan izin pada keluarga Weasley. Sepertinya mereka tidak menyadari kehadiran Pansy mereka langsung masuk ke dalam ruangan begitu saja.

Healer tersebut melirik pada Pansy "Anda tidak ikut masuk?"

Pansy ingin masuk. Tapi ia ragu bagaimana jika keluarga Ron tidak menyukainya secara gara-gara dirinyalah Ron terjatuh dari pohon. Jika saja ia benar-benar berhasil dalam merapalkan mantra sihir ia yakin Ron tidak perlu memanjat pohon.

"Bisakah anda menjelaskannya keadaannya saja." Minta Pansy. Healer itu melirik Pansy lalu melihat keluarga Weasley di dalam tengah berbincang dengan Ron.

"Tengkorak bagian belakang kepala retak. Ada kemungkinan jika dia hilang ingatan bahkan saat pertama kali sadar pun ia berpikir bahwa sekarang masihlah satu bulan yang lalu." penjelasan dari Healer tersebut membuat Pansy menundukan kepala sedih.

"Tapi sepertinya ia masih mengingat orang-orang terdekatnya. Apa kau ingin mencoba berbicara dengannya?."

Pansy menganggukan kepala "Maaf merepotkan."

Healer itu pergi masuk ke dalam berbicara sesuatu dengan anggota keluarga Weasley. Lalu mereka semua keluar dari ruangan membawa anggota keluarga Weasley menjauh dari ruangan Ron. Ini kesempatan Pansy untuk masuk kedalam.

Anak gadis itu bergegas masuk setelah perhatian semua orang teralikan.

….

Langkah pelan kaki Pansy berjalan menuju brankar dimana Ron tengah berbaring. Mata Ron sedari tadi melihat keluar jendela teralihkan ketika mendengar suara langkah kaki.

"Ron." panggil Pansy parau menahan tangis.

"Oh hai" Alis Ron mengernyit ketika orang asing itu memanggil namanya. "Apa kau tersesat?" tanya Ron memastikan barangkali anak gadis di depannya ini juga pasien disini dan tersesat.

Pansy sudah dapat menebak dari bagaimana cara Ron yang tidak lagi memanggil namanya bisa dapat dipastikan jika Ron telah melupakannya.

"Ah ya aku tersesat saat ingin kembali keruangan ku." Pansy mencoba untuk tersenyum walaupun setiap kali ia mencoba rasanya ia ingin menangis.

Ron memperhatikan penampilan Pansy yang acak-acakan. Rambut terlihat kusut, wajah bengkak seperti habis menangis, lalu gaun tidur yang kotor dan ada bercak merah di sana. Pansy yang merasa diperhatikan seperti itu merasa tidak enak, pasti penampilannya sekarang begitu jelek dimata Ron.

"Kau baik-baik saja?"

Pansy ditanya hanya tersenyum kecil. "Bagaimana dengan keadaanmu?" tanya Pansy mengalihkan pembicaraan.

"Aku baik-baik saja walaupun sedikit sakit di kepala. Kata dokter aku terjatuh. Aku tidak ingat aku terjatuh dari apa." Ron mengangkat bahunya.

"Tapi entah kenapa aku seperti kehilangan sesuatu." gumam Ron dapat didengar oleh Pansy. Dada Pansy terasa sesak ia ingin menghambur tubuh Ron dan memeluk tubuh lelaki itu.

"Ngomong-ngomong tadi kau memanggil nama ku kan? Apa kita sempat saling mengenal?"

Pansy ingin menjawab pertanyaan dari Ron tapi tidak jadi ketika mendengar sebuah suara mendekat.

"Aku rasa aku harus pergi." tanpa mendengar ucapan dari Ron lagi Pansy segera keluar dari ruangan.