Semua karakter adalah milik Paman Kishimoto.
Purely fiksi dan imajinasi Author.
Selamat membaca!
Fools
Beberapa pekan terakhir, entah sudah keberapa kalinya Naruto sudah terlalu sering menolak ajakan Hinata. Bahkan untuk sekedar pulang bersama. Hanya berniat mengajaknya mampir ke toko buku misalanya, lalu sekalian berkencan, begitu rencananya. Akan tetapi, entah mengapa selalu saja pemuda itu memiliki segudang alasan masuk akal yang tak bisa Hinata bantah begitu saja.
Kadang ingin egois, tapi Hinata tentu tidak bisa melakukannya, sebab inilah konsekuensi dari memiliki pacar sebagai pengurus organisasi mahasiswa di kampusnya.
Dan, hari ini pun kembali terulang untuk yang kesekian kali. Hah. Lagi-lagi Naruto membatalkan janji yang ia buat sendiri. Padahal, ajakan kencan Kamis malam hari ini adalah upaya si pemuda untuk menebus rasa bersalahnya beberapa hari lalu.
Tepatnya dua hari lalu selepas mengikuti kelas siang, manakala Naruto memberitahu sang gadis hendak menyusulnya satu jam lagi di tempat biasa. Masih di area kampus, taman kecil di gedung sebelah barat, sebuah gazebo dekat kolam ikan. Sambil sesekali menyesap minuman lemonade yang dipesannya, sejak lima menit yang lalu Hinata juga telah sibuk bermain dengan keyboard laptopnya dan beberapa tumpukan buku tebal yang berada di pangkuannya. Menunggu dengan manis si pemuda yang kala itu masih ada kelas sembari ia menyicil tugas, begitu katanya. Tetapi, ah, dasar si keparat Naruto. Sudah hampir dua jam Hinata menunggu sampai tenggelam dengan tugas-tugasnya, ia malah menghilang tak ada kabar. Tidak ada pesan teks masuk. Tidak ada panggilan tak terjawab masuk. Hingga persis dua jam lima belas menit, sekonyong-konyong bunyi getar dari ponsel Hinata di sisi laptop memperlihatkan notifikasi pesan masuk dari Naruto.
"Astaga, Hinata. Maaf, Kakak lupa."
Brengsek!
"Aduh, sayang. Betulan, maaf ya. Kakak tadi keluar kelas langsung pergi ke markas masa."
"Eh, sekarang malah ditahan."
Brengsek kuadrat!
Hinata reflek mendengus, mengangkat ponselnya lalu sibuk mengetik pesan balasan, "Dasar, Kak Naruto. Masih tidak ada yang berubah, ya." Hinata juga menyelipkan emoji tertawa. Berharap Kak Narutonya di sana mengerti bahwa ia tidak sedang marah.
Ya, begitulah Hinata. Meski sudut bibirnya mengulas kurva manis, tak bisa dipungkiri dadanya tentu saja sempat berdenyut kecewa. Selalu berlindung dalam bisikan rasa percayanya pada Naruto dengan segala kebodohan, kesembronoan, serta kekonyolannya. Hinata jadi membatin lagi, "Pemuda ceroboh begitu kok bisa-bisanya diterima sebagai wakil ketua?"
Malam harinya, guna menebus kesalahannya tersebut, lagi-lagi Naruto menawarkan sebuah janji. Ada film bagus yang baru dirilis pekan lalu. Kebetulan mereka juga sudah lama tidak pergi menonton, pikirnya. Maka bermodal dengan dua tiket yang sudah dibelinya, besok lusa sepulang kuliah sore, tentunya juga setelah Naruto mengikuti pertemuan rapat organisasi, ia akan pergi menyusul dan bertemu langsung di ruang tunggu bioskop. Ya, Hinata memang pacar yang mandiri. Tidak perlu dijemput untuk pergi bersama, melainkan sepakat untuk bertemu di satu titik lokasi yang sama. Entahlah, atau sebenarnya Naruto saja yang tidak berguna.
.
.
"Wah! Sepertinya Hina yang duluan datang."
"Kak Naruto di mana? Hina tunggu di sini, ya."
Kurang lebih seperti itu pesan singkat yang dikirim oleh Hinata sejak dari empat puluh lima menit yang lalu. Iya, betul, kok, kamu tidak salah baca, benar empat puluh lima menit yang lalu. Miris, ya? Menunggu lagi. Menunggu lagi. Pesannya dibaca pun tidak, apalagi berharap Naruto segera membalas. Jadi jelas, wajar saja jika Hinata akhirnya memutuskan untuk mengabaikan ponsel miliknya sejak lima belas menit yang lalu. Oh, iya, omong-omong Hinata juga telah kehilangan satu jam pemutaran film, lho. Naruto apa sama sekali tidak ingat, ya? Dia sendiri yang mengatakan film akan dimulai pada pukul delapan tepat, bukan? Sekarang dia sendiri juga yang tak kunjung datang. Brengsek! Sialan memang. Tetapi, ah, sudah tahu begitu Hinata masih saja mau memaklumi. Berdalih mereka masih punya sisa waktu, kok, masih ada satu jam lagi sebelum film yang diputar benar-benar berakhir. Iya, itu kalau Naruto betulan datang dalam beberapa menit lagi. Tetapi, kalau masih lama? Aduhai, Hinata, Hinata. Tidak, ini bukan tentang bucin. Tetapi, soal kepercayaan yang berusaha gadis itu jaga dengan sebaik mungkin.
Hingga beberapa menit ketika Hinata bermain-main dengan kedua kakinya lalu bersandar pada dinding di belakang punggungnya, ponsel yang masih digenggamnya tiba-tiba terasa bergetar. Sederet nama dan pesan singkat sempat terbaca pada panel notifikasi.
"Hinata. Maaf. Hari ini batal lagi, ya. Benar-benar di luar rencana kalau rapatnya bakal molor, sayang."
Duh, Naruto. Mau jadi orang yang se-brengsek apa lagi sih kamu, hm?
Tapi, Naruto tidak sepenuhnya salah, sih. Memang benar bahwa semula pertemuan organisasinya dimulai sore dan harus berakhir tidak boleh lebih dari pukul delapan malam, itu kesepakatannya. Begitulah, terkadang segala hal memang tidak selalu sesuai rencana. Di luar kendali Naruto juga ia sampai tak mengecek waktu, dan Hinata jadi terlupakan begitu saja.
Pada tampilan layar ponsel yang masih belum berubah, muncul lagi satu kolom chat dari Naruto. "Sekarang di mana? Masih di bioskop atau sudah pulang?"
"Kakak jemput, ya?" tambahnya lagi.
Menatap lama pada layar ponsel, Hinata membisu. Menelan ludah getir. Rasanya seperti ingin marah pada segala kesibukan pacarnya tersebut yang seakan tiada habisnya. Dan kalau kemudian marah betulan, itu berarti sang gadis yang masih terduduk di ruang tunggu itu bukan Hinata. Sebab, Hinata yang asli adalah ia yang kemudian buru-buru memaksakan senyum sambil menyibukkan mengetik sebuah pesan balasan pada Naruto yang katanya masih berada di kampus nan jauh di sana.
"Ooh."
Hinata masih mengetik, namun Naruto membalas lagi. "Masih di sana, ya?"
"Sampai larut malam lagi, ya, Kak? Eum... ya sudah, tidak apa-apa."
"Kakak jemput sekarang, ya?" Seakan sedang tergesa, Naruto justru balik bertanya dan mengulang kalimat yang sama tanpa mengindahkan isi pesan yang baru saja Hinata kirimkan.
"Tidak. Tidak usah." Hinata cepat-cepat membalas. "Hina bisa pulang sendiri kok."
"Tapi kasihan kamunya, sayang. Mana sudah menunggu hampir sejam."
"Iya. Tapi, tidak apa-apa kok. Ini sudah mau pesan mobil."
"Betulan?"
"Iyaa."
"Ya sudah, kamu hati-hati pulangnya."
"Yups! Kakak juga nanti hati-hati. Terus jangan maksain. Kalau capek istirahat. Kasih tahu ke teman-teman Kakak juga di sana. Nanti sakit baru tahu rasa."
"Teman-teman Kakak tidak seperti kamu ya yang gampang sakit. Dasar. Pesan mobilnya sudah belum? Nanti makin malam, lho."
"Sudah."
"Hati-hati, ya."
"Kakak semangat! I love you."
"Iya, makasih ya. Love you more, sweetie."
Balasan terakhir dari Naruto lebih dari seperti yang Hinata harapkan. Diam-diam tersenyum sendiri, kedua pipi tembamnya turut pula bersemu merah muda. Manis sekali. Siapa yang tahu gadis mungil menggemaskan ini sudah berusia delapan belas tahun? Barangkali banyak orang di luaran sana malah mengira si Putri Hyuuga ini masihlah seorang siswa SMA tahun pertama. Namun masih, mengingat Naruto kembali memangkas euforianya karena betapa bahagianya ia beberapa saat lalu menyadari bahwa mereka hendak berkencan lagi setelah sekian lama, seraya beranjak dari tempat duduk, kedua sudut bibir Hinata yang semula mengulas senyum pun perlahan meredup. Helaan napas panjang sekali lagi menjadi satu-satunya upaya yang bisa ia lakukan demi meredam kekecewaan.
Ah, sudah berapa kali kira-kira ya Naruto membatalkan janji yang ia buat sendiri? Tidak lucu, tapi rasanya Hinata jadi ingin tertawa. Menertawakan segalanya biar tidak terlihat kalau sedang terluka. Haha.
Berjalan turun dengan menaiki eskalator, Hinata bohong soal pesan mobil untuk pulang. Biar tidak begitu merasa kecewa, berkeliling dan memanjakan mata sebentar—walaupun sendirian—bukan suatu ide yang buruk. Lagi pula, rasanya ia juga sudah lama tidak pergi berbelanja.
.
.
Angin musim gugur menyibak lembut surai nilanya begitu sang gadis tiba di lantai bawah. Senantiasa mengiringi langkah demi langkah manakala kakinya menapaki trotoar sempit di sepanjang jalan. Terima kasih, angin. Oh! Terima kasih juga pada scarf yang baru saja dibelinya. Sebab, entah bagaimana Hinata jadi sedikit bisa melupakan kekecewaan yang membelenggu hatinya.
Satu jam berkeliling sepertinya tidak menjadikan Hinata lelah maupun tak sampai membuat tungkainya perih. Buktinya, kini ia malah memilih pulang dengan berjalan kaki. Dan ya, lagi-lagi menurutnya pulang sembari menikmati udara malam termasuk salah satu upaya penyembuhan bagi hati rapuhnya yang masih meradang. Penyembuhan, ya? Ah, Hinata tidak tahu saja sesuatu bisa secara tak terduga menambah goresan di dalam dadanya—yang menyedihkannya tanpa ia sadari sudah penuh dengan luka menganga.
Oh, iya. Jangan khawatir. Rumah Hinata cukup dekat kok. Mungkin hanya butuh satu jam kurang sedikit kalau ditempuh dengan berjalan kaki.
Akan tetapi, sekian menit setelah melewati jalan besar serta dua persimpangan yang baru saja ia tinggalkan di belakangnya, Hinata seolah terkesiap saat dari kejauhan sebuah mobil hitam yang baru saja menepi dan berhenti persis di bawah lampu jalan, kini tengah memperlihatkan seorang pemuda berambut pirang yang lebih dulu keluar dari dalam mobil. Dalam seper sekon yang singkat, pemuda jangkung berkulit tan tersebut sukses membikin Hinata mengulas senyum dengan binar mata yang memancar cerah. Tetapi bahkan belum sampai dua detik, keceriaannya tersebut meredup seketika manakala dari pintu sebelahnya lagi presensi seorang gadis bersurai panjang yang memiliki warna senada—lebih muda sedikit dengan si pirang di sana—menyusul keluar.
Sebenarnya, dari awal sejak Hinata tersenyum itu sudah salah. Tempat tinggal si pemuda tersebut jelas tidak pernah melewati jalur di sekitaran sini kalau Hinata lupa. Oh, ayolah Hinata! Curiga sedikit begitu, lho.
Dan, ya, barangkali karena Hinata itu gadis yang terlampau lemah lembut dan baik hatinya, ia malah membatin berpikir bahwa wajar saja jika Narutonya di sana tengah mengantar rekan perempuannya pulang ke rumah. Sudah larut malam soalnya. Ah, Hinata jadi baru sadar. Apa ia tadi terlalu lama ya saat berkeliling, melihat-lihat, dan berbelanja? Kok, Kak Naruto sudah pulang saja? Lantas merogoh ponsel dari dalam saku blazer ungu muda yang ia kenakan, Hinata mengecek waktu. Oh! Sudah pukul sepuluh lebih dua belas menit ternyata. Hinata meringis, menggaruk kecil pelipisnya yang tak gatal.
Hinata kembali mengukir kurva, meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku dan berniat hendak mendatangi dua sosok di depan sana. Mendengar sang pemuda mendadak tertawa, Hinata praktis mengangkat wajah. Keduanya seperti baru saja membuat lelucon entah apa hingga membikin mereka berdua tertawa bersama. Bagi sebagian orang pemandangan tersebut jelas seperti tak ada hal yang perlu dibesar-besarkan. Hanya dua manusia yang saling bertukar suara dan tampak akrab. Tetapi entah, barangkali ada yang tidak beres dengan dirinya malam ini, maka Hinata jadi merasa sedikit gusar. Mungkin sesuatu yang orang-orang menyebutnya cemburu. Ah, klise sekali. Hinata mendengus, cepat-cepat menepis sederet kalimat yang tengah melayang-layang dalam benaknya.
Seraya masih tak lepas memandangi dari kejauhan, lalu sedikit membenarkan tali tasnya di sebelah bahu, Hinata lantas beranjak hendak menghampiri. Dan, hey! Hinata membeku. Mendadak berhenti. Tertahan sekali lagi, atau bahkan serasa tak sanggup menggerakkan kedua kakinya melangkah lebih banyak lagi. Tidak, tidak. Tidak mungkin. Rasanya masih belum percaya. Namun jelas, ia tentu tidak sedang salah lihat.
Menelan saliva sulit, hal yang sama sekali tak pernah terbayangkan oleh Hinata akan terjadi kini justru terekam jelas di depan mata. Ingin rasanya ia mampu mengusir rasa sakit yang membuatnya jadi mulai kesusahan untuk bernapas. Dadanya tiba-tiba begitu sesak. Terlalu menyakitkan. Kelopak matanya bahkan telah penuh entah sejak kapan. Kerongkongannya tercekat. Sakit sekali. Dan, perut rasanya seperti ikut melilit hebat.
She just ... kissed him.
In lips.
.
.
Naruto sontak mengerjap. Terkejut bukan main. Meski hanya sekilas, namun lima detik masih terhitung cukup lama untuk sebuah ciuman di bibir. Naruto akui ia sempat tak bisa berkutik selama sekian detik tersebut, membeku selama beberapa saat sebelum akhirnya membawa kedua tangannya mendorong tubuh Shion—sang gadis yang ia antar pulang—agar segera melepaskan ciuman sepihaknya yang terus terang sama sekali tak pernah ia harapkan.
"Apa yang baru saja kau lakukan, Shion?" Usai menetralkan keterkejutannya, Naruto bertanya khusyuk.
"Menciummu."
Di hadapannya, si pemuda Uzumaki lantas membuang napas pendek. "Aku tahu. Maksudku, kenapa kau melakukannya?"
"Karena ingin. Memangnya tidak boleh?" Lagi-lagi sang gadis blonde itu menjawab secara blak-blakan dan apa adanya. Sebelah alisnya ia naikkan. Ekspresi menuntut di wajahnya tersebut sama sekali tak mengurangi paras cantiknya. Dan jujur, asal tahu saja Naruto ini seringkali melihatnya sebagai Hinata dengan versi yang lebih bar-bar.
Mendengar hal itu, reflek saja Naruto memukul dahi sang gadis menggunakan jari telunjuk yang ia jentikkan cukup keras. Shion mengaduh kecil saat Naruto membalas gemas, "Ya, tidak boleh. Cium-mencium itu masih terbilang sakral. Tidak boleh ke sembarang orang."
"Ya, memang," sahut Shion cepat, sementara Naruto menahan napas.
"Tapi, untuk orang yang istimewa." Naruto meneruskan.
"Ya, aku tahu."
Naruto menautkan kedua alisnya heran. Tak habis pikir. Sudah tahu begitu, lantas kenapa malah tiba-tiba menciumnya?
Tak ada keraguan yang tersirat dari sepasang netra sang gadis saat membalas tatapan Naruto lurus-lurus. Seolah mengerti segala tanya yang ada dalam kepala si pemuda pemilik manik biru laut di hadapannya tersebut, ia justru semakin berani dengan bergerak selangkah lebih dekat.
"Kaulah orang yang istimewa itu. Karena aku menyukaimu," jelas Shion. Singkat, padat, dan sedikit biadab. Bukannya menjadi paham, Naruto malah makin dibuat sakit kepala. Tidak hanya sakit kepala, Naruto juga tak pandai menyembunyikan kekagetannya saat terkesiap dan nyaris tersedak saliva sendiri.
Terbukti 'kan, bar-barnya?
Sudah bar-bar, dan sekarang sepertinya juga agak sinting. Shion tentu tidak lupa kalau Naruto sudah punya Hinata, bukan? Kurang ajar betul memang.
"Shion, kau mabuk." Seraya memegang kedua bahu Shion serta menarik diri guna membuat jarak yang berarti, Naruto membalik pelan tubuh sang gadis, mendorong maju agar segera mengangkat tungkainya selagi ia berkata menambahkan, "Sudah malam. Sana cepat masuk."
"Mabuk apa sih?" Shion melawan. Menolak kedua tangan Naruto dan berbalik menghadap ke arahnya lagi. "Hanya minum air putih apanya yang membuat mabuk?"
"Maksudku kau sudah mengantuk. Bicaramu sudah melantur."
Naruto mencoba mendorongnya lagi. Membawa gadis itu berjalan mundur. Tetapi lagi-lagi terhenti, sebab Shion menaruh jari telunjuknya menahan, menekan di depan dada. Gadis itu masih saja bisa membalas penyangkalan Naruto tanpa kesulitan menggali-gali alasan. Dengan sederet kalimat pamungkas, umpan terakhir dari sekian umpan yang sudah ia gencarkan di awal. Yang sialnya entah bagaimana Naruto bisa termakan dengan sangat mudah. Tetapi, mungkin bukan tentang mudah atau tidaknya ia terpancing. Melainkan umpan tersebut adalah kebenaran yang tak ia sadari pernah menyembunyikannya jauh di dasar hati.
"Jangan naif, Naruto. Aku tahu kau sedikit tertarik padaku 'kan? Itu bagus. Aku juga menyukaimu." Shion berkata pasti. Intonasi yang bersih dari keragu-raguan.
Percaya diri sekali, ya. Tapi tidak apa, karena bisa jadi ia tidak sepenuhnya salah.
Tidak sepenuhnya salah? Ya. Karena jika apa yang dikatakan Shion betulan salah semua, Naruto jelas tak akan merasa kesulitan hanya untuk menyangkal hal sepele semacam itu. Tak akan mengunci semua pergerakan. Tak akan tertegun. Dan, tak akan hanya terdiam dalam kegamangan.
Naruto, kau bercanda 'kan? Kau ini sudah brengsek, lho, karena sering mulupakan janji dengan Hinata. Jangan malah naik pangkat jadi bajingan seperti itu, dong! Jangan hanya karena Shion mirip dengan Hinata, lalu kau diam-diam menyimpan perasaan padanya, begitu? Yang benar saja. Jadi, benar ya apa yang sering digembor-gemborkan oleh kaum wanita di luaran sana. Semua laki-laki itu sama saja.
Tunggu sebentar, pelan-pelan. Kalau kita tidak berusaha untuk melihat dari sudut pandang yang lain, sudah tentu semua orang akan berpikiran yang sama—seperti yang sudah dijabarkan.
Sebenarnya, Naruto boleh jadi tidak pantas mendapatkan kalimat-kalimat penghakiman yang terdengar mengerikan itu. Tidak sama sekali, jawab Naruto andai ia ditanyai di depan mata. Tidak ada sedikit pun niatan untuk mengkhianati Hinata, sungguh. Akan tetapi, alasan mengapa ia hanya bungkam dan atensinya yang terjerat oleh kedua iris pucat milik sang gadis, barangkali satu-satunya jawaban jujur yang bisa ia berikan adalah adanya sebuah pengakuan.
Dan perihal tertarik, itu benar. Tapi, itu dulu. Sudah lama terjadi begitu saja. Kau tahu, segala hal yang berhubungan dengan pandangan pertama.
Naruto mengenalnya sebagai teman seper-organisasian. Mereka menjadi dekat sejak ia memuji kehebatan Shion saat sang gadis menunjukkan kemampuannya menjadi kepala divisi. Tidak hanya Naruto, sejak saat itu semua teman laki-lakinya juga setuju kalau Shion itu adalah gadis cantik yang cerdas. Dan, di situlah semua bermula. Hampir semua teman laki-lakinya pernah menyimpan rasa seperti dirinya—jujur saja, sampai sekarang banyak yang ingin menjadi pacarnya, tetapi ia tidak mengerti kenapa gadis itu malah memilih menjalin pertemanan dekat dengannya. Dulu, Naruto sendiri bahkan tidak percaya sampai membuat yang lain jadi merasa iri. Sampai kemudian, belakangan hari ia pun menyadari bahwa perasaan tersebut hanya sebatas kagum. Sebab beberapa minggu setelahnya, ia baru mengerti arti dari perasaan cinta yang sebenarnya setelah menemui penyesalan di depan Hinata yang tak tahu apa-apa. Gadis manis yang menjadikannya sebagai satu-satunya sandaran dan bagian dari kisah hidupnya. Gadis dengan hati yang bersih dan ketulusan yang murni. Gadis nyaris sempurna yang membuatnya berani berikrar sebagai manusia paling beruntung di dunia karena bisa memilikinya. Ia akan menjadi manusia paling bajingan jika berani mengkhianatinya.
Kalau begitu ceritanya, maka satu lagi, selain karena adanya sebuah pengakuan, umpan satu kalimat pertanyaan yang Shion lemparkan beberapa saat lalu, siapa yang tahu bahwa hal tersebut juga berdampak pada memori perasaannya dulu yang kini perlahan kembali ke permukaan.
Jelas, alasan kedua yang paling mungkin tengah menguasai Naruto sampai tak mampu berkutik apa-apa. Mari kita mengutip sedikit dari ucapan Shion saat berujar mengatai Naruto. Jangan berlagak naif, katanya. Benar, akui saja bahwa setiap manusia itu lemah. Bayangkan saja, teman cantikmu dulu, yang pernah menarik perhatianmu, tanpa tedeng aling-aling sekonyong-konyong menyatakan perasaannya dengan gencar dan tanpa memberi jeda untuk mencerna. Ini bukan lagi soal hati, tapi isi kepala dan segenap hormon di dalam tubuh yang berusaha mengendalikan inangnya.
Maka ketika Naruto mendapati kegamangan dan telah sampai pada satu titik membingungkan seperti ini, kebodohan tak disengaja yang amat fatal pun terjadi. Bak gayung bersambut, tak ada penolakan saat tiba-tiba sang gadis meraih wajahnya dan mempertemukan sekali lagi bibir penuh itu dengan miliknya.
Shion kembali menciumnya, dan Naruto memyambut dengan hati-hati.
.
.
Bugh!
Air mata sudah tak terbendung ketika Hinata tanpa sadar menjatuhkan paperbag ukuran sedang yang semula ia kaitkan di ujung jari.
Keheningan yang begitu lengang rupanya menjadikan keributan kecil yang dibuat oleh Hinata beberapa detik lalu sukses membangunkan sepasang manusia yang saling berciuman nan jauh di depannya untuk segera tersadar dan saling melepaskan diri demi berpaling mengikuti dari mana suara itu berasal.
Hinata sudah tidak mau peduli. Kalaupun Naruto menemukan keberadaannya di sini, biar saja. Ia tidak sedang melakukan kesalahan, jadi apanya yang harus ditakutkan? Lagi pula, dalam posisi ini ia yang menjadi korban, ia yang telah dipermainkan, lalu mengapa ia juga yang harus bersembunyi?
Di sisi lain, Naruto lagi-lagi mengerjap. Ia seolah baru saja kembali dari kesadarannya yang telah diambil paksa entah ke mana, lalu lekas menarik diri secepat yang ia bisa. Dan ia juga bersumpah, tak sampai hati ia terlena oleh kehendak isi kepala dan menuruti keteledoran yang dibuatnya tanpa perlawanan yang bermakna.
Ini salah. Ini salah, Naruto. Sekalipun kau pernah lalai, tidak pernah sama sekali kau merasa menjadi seburuk ini.
Sementara itu, alih-alih kesal, Shion justru menyeringai. Tersenyum puas. Merasa gemas sendiri, kendati ia sadar benar Naruto seperti tak segan-segan mendorong tubuhnya kuat, seakan pemuda itu baru saja dihinggapi penyesalan yang teramat sangat. Karena ia tetap menyukainya. Maka dari itu, ia tidak peduli manakala ditatap penuh frustrasi. Sebab, ia lebih peduli pada suara berisik yang telah berani mengacaukan aksi ciuman manisnya.
Detik yang sama ketika Shion memalingkan wajah, Hinata menunduk dalam. Kedua pipinya yang basah tak sedikit pun mengurangi rasa sakit yang menghujam hatinya yang rapuh seperti kaca. Rasanya seperti ia baru saja dipecahkan sehancur-hancurnya. Kepingan demi kepingan saling berserakan seolah tak lagi bisa disatukan kembali.
Hinata makin terisak. Sebelah tangannya meremas kuat ujung bajunya di depan dada. Hingga seper sekon sebelum Shion sempat mengenalinya dari kejauhan, Hinata merasakan seseorang tengah menarik lengannya ke belakang, dan dalam sekejap ia sudah berada dalam dekapan. Kalaupun orang itu tak mengatakan ia siapa atau apapun setelah berhasil membawanya ke dalam rengkuhannya, percayalah Hinata juga tak akan memberontak. Tak ada waktu untuk itu. Tenaganya sudah dibabat habis. Ia hanya ingin menangis. Sudah, itu saja.
"Kenapa tidak pergi saja? Bukannya akan semakin runyam kalau tetap berada di sini?" Suaranya memiliki karakter yang jernih. Meski terdengar dingin, namun Hinata bisa merasakan adanya ketulusan dalam kehalusan intonasi suaranya. Dia adalah Sasuke, pemuda bermanik sehitam jelaga dan bersurai gelap. Yang entah dari mana dan sejak kapan ia sudah menunggui sang gadis nila persis di belakangnya.
Hinata tak menjawab. Ia makin terisak. Malu, mengapa di saat dirinya kacau dan berantakan seperti ini malah dihadapkan pada seseorang yang memiliki titel sahabat lama dengan kekasihnya sendiri. Sahabat sejak kecil. Orang yang diam-diam menjadi sosok yang paling mengenalnya setelah Naruto.
Hinata tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi. Ia hanya tahu Sasuke makin mempererat dekapannya, menyuruhnya untuk tetap bersandar. Ia juga merasakan pemuda itu sesekali mengusap bahu menenangkannya.
"Setelah ini aku akan menghajarnya," geramnya.
Hinata tidak tahu jika ucapan bernada rendah, intonasi yang sarat akan amarah, adalah sebuah kalimat peringatan yang dilontarkan dengan tidak main-main oleh Sasuke tepat saat sepasang iris legamnya menangkap pergerakan si perempuan yang tengah menarik pergelangan tangan Naruto dan membawanya masuk ke dalam rumah dengan tidak tahu malu.
"Ayo pulang." Sasuke membuka rengkuhan kedua tangannya, lalu membungkuk sedikit guna mengambil paperbag yang Hinata jatuhkan beberapa saat lalu.
"Maaf, ya. Aku tidak bawa saputangan," sambungnya lagi seraya mengusap dengan ibu jari sudut mata serta wajah Hinata yang masih menyisakan air mata.
Hinata benar-benar tak membuka suara sedikit pun. Ia hanya mengangguk. Takut jika ia berbicara satu kata saja, ia sudah pasti akan menangis lagi. Ia akan menyusahkan pemuda itu lagi. Maka menurut saja begitu tangan Sasuke menggenggam jemarinya, ia pun berjalan mengekor di belakang sebelum kemudian ikut masuk ke dalam mobilnya.
.
.
"Sudah makan?"
Mobil sudah melaju seperempat jalan. Sasuke tahu bahwa jenis spesies yang bernama wanita ini, kalau sedang tidak enak hati itu rasanya sangat sulit dimengerti. Ada yang menjadi tak terkontrol dan banyak bicara, ada pula yang cukup mendiamkannya sampai wanita itu sendiri yang mau memuntahkan isi kepala yang sudah membuatnya menderita. Satu lagi, ada yang hanya ingin menangis tanpa mau bercerita apa-apa. Jelas, Sasuke tahu benar Hinata adalah tipikal yang kedua dan ketiga. Namun masih, barangkali kau belum tahu, sebenarnya Sasuke sangat tidak menyukai aturan-aturan semacam itu.
Maka dalam hening yang perih mengisi sudut-sudut di dalam mobilnya yang hangat dan beraroma lembut, Sasuke tak berhenti mencoba meleburkan suasana.
"Pasti belum," katanya lagi. "Mau beli makan dulu?"
Hinata menggeleng. Posisinya tak ada yang berubah dari arah pandangannya yang menatap keluar jendela. Tidak, buka ia ingin memusuhi Sasuke. Akan tetapi, ia hanya masih tak bisa memercayai apa yang baru saja dilihatnya. Ingatannya pada Naruto yang berciuman dengan perempuan lain seakan bertransformasi menjadi kaset DVD yang ia putar berulang-ulang, sekalipun ia tak menginginkannya karena amat sangat menyiksa. Jadi diam-diam kembali menangis tanpa suara, Hinata tak pernah tahu bahwa ternyata menahan diri agar tak lagi membendung banyak air mata akan se-menyakitkan ini. Ada yang mengganjal dalam kerongkongannya manakala hendak menelan ludah. Sesak sekali.
Sasuke tidak cukup bodoh untuk segera menyadarinya. Kedua bahunya yang bergetar serta hela napasnya yang terdengar berat sudah cukup membuktikan. Maka pada detik itu juga ia akhirnya menyerah. Memang belum saatnya mengajaknya berbicara, monolognya dalam hati.
Dasar, si kepala batu Sasuke!
Untungnya dia menyediakan tisu di dalam mobil. Jadi sementara satu tangannya memegang setir, tangan kanannya yang bebas berusaha menggapai kotak tisu yang ada di balik kemudi. Meletakkannya dengan hati-hati di atas dashboard di depan Hinata tanpa bicara sepatah kata.
Sekitar sepuluh menit, atau kira-kira sudah separuh jalan mobilnya membawa Hinata. Tak seperti yang dikatakannya beberapa waktu lalu akan mengantar gadis tersebut pulang ke rumah, Sasuke justru memutar setir dan menepikan mobilnya di sebuah jembatan panjang di sisi kota. Kemudian mematikan mesin mobil, ia juga tak bilang apa-apa lagi sebelum beranjak selain, "Aku akan ke luar sebentar."
Kalau Hinata boleh menilai, Sasuke itu sosok pemuda berhati dingin, tapi sekaligus hangat. Dia adalah sosok yang paling peka dan responsif terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya, jika dibandingkan dengan Naruto. Selalu tahu apa yang harus dilakukan tanpa harus dijelaskan panjang kali lebar kali tinggi barulah dia akan tahu berapa hasil dari volume bangunan sebuah persegi panjang. Sasuke tidak memerlukan sesuatu yang seperti itu. Benar, Sasuke memang aslinya hangat, dia dingin hanya karena tak mau kelihatan saja.
Sok keren sekali memang.
Jadi jelas, tak perlu dijelaskan lagi mengapa Sasuke ke luar dari mobil hanya untuk bersantai dan setengah duduk di atas kap mesin, bukan? Tapi hanya ingin menegaskan, bahwa ia berharap agar Hinata tak harus menahan diri. Membiarkannya menangis sebanyak-banyaknya tanpa harus takut dibilang lemah ataupun terlihat rapuh. Lagi pula, menangis itu bukan berarti lemah. Tapi, mereka hanya tidak tahu saja bagaimana cara mengutarakan apa yang mereka rasakan. Itulah mengapa air mata menyimpan banyak cerita yang tak terkatakan.
Di sisi lain, berselang lama setelah Sasuke melebur bersama angin malam. Tampak dari arah yang berlawanan, tepatnya dari jalur yang berbeda, Naruto juga baru saja menepikan mobilnya. Pemuda tersebut juga keluar dari dalam mobil, lalu tampak tergesa saat menyeberang jalan. Lompat dari pembatas besi, seraya kemudian suaranya yang serak dan berat seketika menyadarkan si pemuda Uchiha dari lamunan tatkala ia berteriak keras, "Oy, Sasuke! Kenapa? Mogok?"
Sejenak merasa terkejut, Sasuke lantas berpaling dan bergerak ogah-ogahan menegakkan punggung. Alih-alih membalas senyum, ia malah berdiri menantang. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. Selagi memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri, kau tahu, seperti seorang yang sedang melemaskan otot leher sebelum bersiap untuk berkelahi? Persis seperti itu sembari membatin, "Baguslah. Ia jadi tak perlu jauh-jauh mendatangi rumah si bodoh itu untuk menghajarnya."
Naruto datang bersama senyum lebar. Bahkan ketika sudah semakin dekat dan mengangkat sebelah tangannya sebagai salam jumpa, si pirang yang ternyata betulan bodoh itu benar-benar tak menyadari bahwa sepasang netra yang menyorotnya tajam di sana tengah menyimpan murka. Atau mungkin, karena Sasuke tak pernah benar-benar bisa mengubah ekspresi wajahnya menjadi berbeda. Tidak peduli dia marah ataupun sedang bahagia, ya sama saja. Sama-sama dingin dan datar. Kalau memang seperti itu, pantas saja Naruto tak menaruh curiga.
Lalu diam-diam berpaling melihat ke arah mobil, Sasuke berharap Hinata tidak mengetahui kedatangan si brengsek ini. Sebab kalau tahu, sudah pasti gadis itu akan menahannya untuk berhenti menghajarnya. Jadi biar Hinata tidak tahu, ia pun lekas beranjak menjauh. Buru-buru menyeret lengan Naruto—lengan yang sedari tadi masih terangkat menunggu Sasuke membalasnya, tetapi akhirnya malah ditarik dan dibawa paksa menjauh dari mobil entah kenapa. Naruto baru akan membuka mulut ingin bertanya, tiba-tiba Sasuke tanpa ragu melepas lengannya kasar, dengan gesit menarik kerah bajunya, dan sebuah pukulan keras di wajahnya seketika membuat tubuhnya terjengkang dan nyaris terjerambab di atas aspal.
Kepala Naruto masih dipenuhi tanya selagi punggung tangannya mengusap hidung. Sial! Pukulan Sasuke tidak main-main, batinnya mengumpat saat mendapati goresan darah menempel di kulitnya. Belum lagi rasa sakitnya sungguh luar biasa. Tepat di hidung, kau tahu? Bayangkan saja ngilunya seperti apa. Pada saat ini, detik ketika ia masih mengerjapkan kedua matanya menahan sakit, kemudian benaknya yang berusaha memahami situasi macam apa yang sedang terjadi, tahu-tahu Sasuke kembali dengan langkah tergesa dan lagi-lagi menarik kerah bajunya untuk meluncurkan pukulan kedua. Lalu, ketiga. Keempat. Tanpa sedikitpun ia mencoba melawan. Memang sengaja tak ingin memukulnya balik sebelum ia tahu alasan sebenarnya mengapa sahabatnya tersebut tiba-tiba menghajarnya.
Brengsek, Sasuke! Sakit tahu!
Pada pukulan kelima, Naruto sudah muak. Dan lagi, wajah tampannya kini pasti jadi jelek sekali. Jadi sebelum kepalan tangan Sasuke kembali mengenai wajahnya, ia dengan tangkas menangkisnya dan menahan dalam genggaman tangan. Sasuke pasti kecewa sekali karena kali ini pukulannya tak mendarat dengan benar.
"Masih belum puas? Aku sudah bonyok begini." Naruto akhirnya berkata. "Kenapa? Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba me—AHKK!"
Naruto sama sekali tak mengira Sasuke akan menendang perutnya. Sontak saja ia terbatuk. Terdorong kasar, seiring dahinya mengernyit dalam. Perih sekali.
Sayangnya, Sasuke tetep bungkam. Pemuda tersebut malah kembali mendekati Naruto dan berniat memukulnya lagi. Akan tetapi urung, saat sebuah suara memanggilnya nyaring beriringan dengan suara langkah kaki yang berlarian dari arah belakang.
Pada saat yang sama Naruto juga berteriak keras, "YA! SASS—"
"Sasuke-kun!"
Naruto mengerjap. Terdiam sesaat dan menggulirkan irisnya cepat demi menemukan keberadaan pemilik suara manis nan lembut, suara yang sudah mendominasi setengah dari bagian hidupnya selama ini.
Dalam detik yang amat bermakna tersebut, Sasuke seolah memberi waktu. Memberinya jeda waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya sosok gadis yang terbayang di dalam kepala secara nyata muncul tak jauh di belakang Sasuke yang diam-diam juga ikut menengok ke belakang. Menatap sang gadis tanpa rasa bersalah. Bahkan tatapan itu seolah berkata, "Oh. Ayolah, Hinata! Si pirang brengsek ini sesekali harus dihajar karena kesalahannya."
Sementara itu, meski bertanya-tanya mengapa tiba-tiba gadisnya ada di sana, Naruto tetap mengulas senyum. Ingin menyerukan namanya sedikit lebih keras, namun yang lolos dari mulutnya hanya bisikan tertahan.
"H-Hinata?"
Tepat setelah Naruto berhasil menemukan Hinata, semua pergerakan terjadi begitu cepat. Sasuke kembali memukul. Wajahnya, perutnya, wajahnya. Memukul sebanyak yang ia bisa, tanpa memedulikan Hinata yang sedari tadi sudah mulai meneriakinya untuk berhenti.
"Sasuke-kun, sudah cukup. Aku mohon."
Naruto baru saja terpental jauh sambil memegangi perut ketika Sasuke mengusap sudut bibir. Pemuda bersurai gelap itu akhirnya ikut merasakan amis darah setelah Naruto sempat satu kali membalas pukulannya.
"Tidak, Hinata. Aku tidak mengizinkanmu mendekatinya." Sebelah tangan Sasuke terangkat saat Hinata diam-diam bergerak menambah langkah hendak menghampiri Naruto yang meringis kesakitan.
Tapi, Hinata tetaplah Hinata. Gadis yang terlampau lembut hatinya, yang tak pernah bisa melihat sang kekasih terluka meski telah menyakitinya begitu banyak. Maka Hinata pun kembali berjalan tergesa.
Awalnya Hinata berniat ingin membantu Naruto yang tengah berusaha beranjak bangun. Namun setelah melihat Sasuke ikut mengejarnya dan hampir meraih sebelah tangannya, Hinata cepat-cepat menepis. Berdiri menghadang tepat di depan Naruto, sengaja ingin menghalangi agar Sasuke menghentikan aksinya untuk menghajar kekasihnya lagi.
Sasuke menghela napas panjang. Menahan diri untuk tidak menarik paksa sang gadis dari sana dan semua akan selesai dengan cepat.
"Hinata, kalau kau tetap berada di sana, aku takut kau juga akan ikut terluka." Sasuke membujuk dengan hati-hati. Namun sia-sia, Hinata menggeleng. Sorot matanya bahkan seakan berkata ia tidak akan pergi ke mana-mana. Tidak akan.
"Dia harus diberi pelajaran, Hinata."
Sasuke sempat menatap tak percaya ketika tiba-tiba Hinata menyahut cepat, "Iya, Sasuke-kun benar. Tapi, mau sampai seperti apa? Sampai Kak Naruto hilang kesadaran?"
Suaranya terdengar bergetar. Sasuke yakin sekali gadis tersebut mati-matian memberanikan diri untuk melawan. Sorot matanya yang menyimpan begitu banyak derita, kini dibalut oleh ketulusan murni dari kekhawatiran yang tak dibuat-buat.
Sasuke kembali menarik napas panjang. Tidak ada lagi yang harus dilakukan. Ia sudak kalah telak. Sekali lagi, Hinata tetaplah Hinata. Dan, ia jelas bukanlah gadis itu yang akan dengan mudah memaafkan Naruto sekalipun dia adalah sahabatnya. Mungkin ia akan menghajarnya lagi esok hari.
Sementara itu, Naruto masih berusaha bangkit berdiri dan menanti dengan antrian pertanyaan yang sama sekali tak mendapatkan petunjuk apapun.
"Jadi, sekarang bagaimana? Kalau kau ikut bersama Naruto, aku pergi sekarang. Tak ada urusan lagi aku di sini."
Hinata tertegun. Keputusan terbaik saat ini tentu saja adalah ikut bersama Sasuke. Hal tersebut semata-mata demi menjaga kesehatan hatinya sekalipun sudah dikoyak dengan cara paling menyakitkan sampai tak bersisa. Namun masih, ia tak bisa meninggalkan Naruto begitu saja, karena hal tersebut hanya akan semakin banyak menimbulkan tanya.
Bahkan dalam keadaannya yang masih minim kepastian begitu, masih saja mencemaskan perasaan si keparat kuning itu. Hinata, Hinata.
Hinata berbalik, kekhawatirannya makin bertambah tatkala melihat ada beberapa lebam di wajah sang Uzumaki—pemuda di hadapannya yang hendak membuka mulut ingin bertanya ada apa, apa yang telah terjadi, tetapi rupanya Hinata sengaja membungkam mulutnya lagi manakala gadis tersebut buru-buru berkata, "Kak Naruto masih bisa menyetir?"
Naruto mengangguk. "Hanya luka kecil, sayang. Kamu kok bisa ada di sini? Bukannya tadi—"
"Kak, tunggu sebentar." Hinata menahan lengan Naruto yang bermaksud ingin memeluk bahunya. Ia kembali berbalik, berjalan pelan menghampiri Sasuke.
"Sasuke-kun." Hinata membuka tas, sejenak mengambil obat salep luka dari sana sebelum mengulurkannya pada lawan bicara di depannya. "Untuk mengobati lukamu. Dan, aku akan ikut bersama Kak Naruto. Maaf. Tidak apa-apa, kan?"
"Kalaupun aku melarang, kau akan tetap pergi, kan? Kenapa pakai bertanya segala." Sembari menerima salep luka yang Hinata berikan, Sasuke membalas sarkas. Gemas, sekaligus menatap kasihan. Ia juga menyempatkan mengusap puncak kepalanya sekilas sebelum kemudian berujar mengakhiri, "Hati-hati."
.
.
Hinata sudah berada di dalam mobil Naruto sejak beberapa menit lalu. Mereka juga telah melaju melewati jembatan, sesaat setelah Sasuke mengendarai mobilnya pergi lebih dulu.
Sepanjang perjalanan, Hinata jadi lebih banyak diam. Tidak sekalipun mengawali obrolan selain hanya menjawab beberapa pertanyaan dari Naruto yang dengan gencar menanyai bagaimana ia bisa bersama dengan Sasuke, bertanya dari mana saja, mengapa sampai jam segini masih di jalan padahal sudah dari satu jam yang lalu Naruto memintanya untuk segera pulang. Hinata menceritakan semuanya tanpa terkecuali—mungkin melewatkan sedikit hal-hal rumit yang terlalu rawan untuk di ceritakan. Entah, Hinata sendiri tidak tahu mau sampai berapa lama ia memendam ingatan bak mimpi buruk itu tanpa kejelasan.
Ada hening yang cukup lama setelah Naruto sepenuhnya kembali fokus mengemudikan mobil. Merasa cukup lega ketika kepingan demi kepingan puzzle yang berceceran di kepalanya perlahan mulai menemukan teori gembok dan kunci satu sama lain. Barangkali hanya kurang satu. Sasuke. Tidak, masih ada lagi. Kepingan milik Hinata juga rasanya belum menyatu dengan sempurna. Padahal Hinata sudah memberitahu semuanya. Tetapi, kenapa ya, rasanya masih ada yang ganjil. Keheningan ini harusnya tetap hangat karena cukup sering terjadi. Tapi, tidak untuk hari ini. Hinata sedikit berbeda, tidak seperti biasanya. Kalau Naruto ingat lagi, entah hanya perasaannya atau memang Hinata belum tersenyum sama sekali sejak naik ke dalam mobilnya? Sedari tadi atensinya tak sedikit pun beranjak dari jalanan depan.
Sesekali berpaling memperhatikannya, Naruto jadi sedikit khawatir. Apakah ada hubungannya dengan Sasuke yang tiba-tiba menghajarnya begitu saja? Tapi, apa?
"Hinata?"
"Hm?" Hinata menoleh. Naruto baru sadar raut wajahnya tampak sedikit pucat entah sejak kapan.
"Kamu lagi sakit? Tidak enak badan?"
Hinata menahan punggung tangan Naruto yang ingin memeriksa saat ia membalas pelan, "Tidak, Kak. Hina baik-baik saja."
"Tapi, kamu tidak seperti biasanya. Ada apa? Apa ada hubungannya dengan Sasuke? Atau kamu tahu kenapa Sasuke sampai memukuli Kakak begitu?"
Hinata kembali tertegun. Lama.
Jadi, benar ya, ada hubungannya?
Naruto kembali mengangkat sebelah tangannya, mengusap lembut surai Hinata seraya berkata lirih, "Kamu kelihatan lelah. Kita bisa bicarakan nanti. Sekarang istirahat saja. Tidur, tidak apa. Nanti Kakak bangunkan."
Jika Sasuke adalah sosok yang dingin tetapi aslinya hangat, maka Naruto adalah sosok pemuda yang sepenuhnya hangat. Luar dan dalam. Sosok yang apa adanya, tulus, dan sederhana. Mungkin beberapa faktor tersebut yang terkadang membuatnya jadi suka sekali ceroboh. Mungkin kadar kepekaannya terbilang rendah, tapi bukan berarti ia acuh terhadap segalanya. Di saat-saat kritis, atau di saat ia sangat dibutuhkan, sosoknya adalah satu-satunya yang paling bisa diandalkan, paling tahu apa yang harus dilakukan. Dan, sosok yang amat sangat bisa dipercaya. Itu ... dulu, mungkin. Sebelum kejadian tak terduga membunuh perlahan rasa kepercayaan Hinata padanya.
"Mungkin ..." Hinata tiba-tiba bersuara, pelan sekali. Mengabaikan niat baik Naruto, karena barangkali keputusan terbaik saat ini adalah mengutarakan semuanya.
Naruto memalingkan wajahnya, menunggu. Ia juga tidak akan memaksa Hinata untuk mendengarkan ucapannya.
"Karena Sasuke-kun sempat melihat Kak Naruto bersama perempuan lain."
Deg!
Naruto seketika membeku. Jantungnya seperti baru saja merosot jatuh. Mendadak makin diliputi berbagai ketakutan manakala ingatannya me-reka ulang kejadian demi kejadian penuh penyesalan beberapa waktu lalu. Ia hampir-hampir kehilangan fokus kalau saja tidak ingat bahwa Sasuke bukan tipikal orang yang akan mengadukan mentah-mentah apa yang telah dilihatnya. Ia sangat mengenalnya. Bagaimanapun, Sasuke pasti akan menemuinya dulu, membicarakannya, lalu bersama-sama mencari solusi yang paling baik seperti apa. Sasuke tidak ceroboh seperti dirinya.
Maka dengan suara yang ia buat se-biasa mungkin, Naruto bertanya hati-hati. "Dia bilang begitu?"
"Mm."
Naruto menatapnya lama. Ia tidak salah. Hinata memang kehilangan secercah kehangatannya. Rasanya ia makin kelimpungan dan tak sanggup membayangkan jika Hinata mengetahui apa yang berusaha ia sembunyikan.
"Baiklah. Kalau itu Kakak punya alasan yang bisa dijelaskan. Nanti, ya, kalau sudah sampai rumah." Naruto mengukir senyum, mencoba membujuk. Sepertinya ia sudah bisa menguasai emosinya lagi.
"Tapi, Kak, bagaimana kalau ternyata Hina sendiri yang melihatnya. Tadi, saat pulang dari bioskop."
Naruto bukan lagi membeku. Ia seperti kehilangan separuh fungsi dari setiap raganya yang masih utuh. Rasanya seperti tak tahu lagi bagaimana harus bersikap di depan Hinata jika sudah seperti ini. Sastu-satunya pilihan terbaik yang masih bisa ia lakukan saat ini hanyalah lekas membanting setir ke sisi jalan, memarkirkan mobilnya di dekat trotoar, lalu mematikan mesinnya entah sampai berapa lama yang ia butuhkan untuk meredakan segala kegelisahan, ketakutan, serta pikiran-pikiran tentang kemungkinan buruk yang berkecamuk di dalam kepala.
Meski masih kesulitan mengatur napas, setidaknya Naruto sudah berani menarik atensi pada gadisnya yang tak banyak berubah dari posisi duduknya. Manik kecubung pucat yang terlukis di kedua netranya seolah tak lepas menatap sendu jauh di balik kaca pelindung di depannya. Sebelum akhirnya ia mendapati bibir tipisnya yang perlahan bergerak kembali membuka suara, seiring wajah pucatnya mempertemukan dengan miliknya dan bertanya pelan, "Kenapa ... Kak Naruto mencium perempuan itu?"
Naruto tak lagi terkejut. Tak lagi terkesiap mendengar pertanyaan paling mengerikan sebab ia sudah menduga pasti akan terjadi. Mungkin, beberapa saat yang singkat ia masih mencemaskan perasaannya sendiri. Tetapi untuk sekarang, jelas tidak. Masalahnya bukan pada perasaannya, namun bagaimana perasaan Hinata. Kira-kira sudah sehancur apa sejak saat dia menyaksikannya bersama Shion beberapa waktu lalu. Seberapa menyakitkannya ketika dia harus berpura-pura kuat dan mampu mempertahankan ketenangannya sampai detik ini, sampai pertanyaan tersebut berani dia utarakan.
Naruto kentara sekali telah kehilangan separuh cahaya. Setitik keceriaan yang masih tersisa kini disapu habis. Tergantikan oleh kekalutan yang akhirnya membalut mereka berdua dalam kepahitan yang menunggu titik terang—yang barangkali ingin memperlihatkan bahwa masih memungkinkan bagi mereka untuk menemukan setitik asa.
Naruto bergerak lambat mengulurkan sebelah tangan. Berusaha menggapai wajah pucat sang gadis yang menunggu jawaban, namun tak menghasilkan apa-apa sebab tangan hangatnya hanya melayang di udara. Hinata sengaja menghindarinya. Kalau ada yang bertanya rasa sakit apa yang paling membuatnya menderita, dengan yakin ia akan menjawab, ditolak Hinata; diabaikan Hinata; ditinggalkan Hinata.
Menarik kembali uluran tangannya yang tak bersambut, Naruto berucap lirih, "Itu yang bikin kamu nangis sampai matanya sembab begitu?"
Hinata hanya bergeming. Berpaling muka berpura-pura memperhatikan ke luar jendela, namun sebenarnya hati dan pikirannya bercabang tak tentu arah. Tidak, bukan ia membenci si pemuda—mungkin sedikit. Tapi, alasan sebenarnya bukan itu. Ia hanya takut akan menangis lagi. Ia hanya tak mau menatap iris safir itu lagi, atau air matanya benar-benar tumpah tanpa bisa dicegah.
"Kalau Kakak punya penjelasan untuk menjawab pertanyaan itu, apa kamu mau dengar?"
Hinata memejamkan matanya kuat. Lagi-lagi Naruto mendapatkan jawaban senyap. Kecuali, satu titik peluh yang diam-diam menyembul keluar dari sudut mata. Juga isakan tertahan yang membawa air mata itu turun membasahi wajahnya.
Melihat hal tersebut, Naruto tak kuasa untuk tidak segera melepas seatbelt dan begitu saja menghambur memeluk Hinatanya erat-erat.
"Hinata. Kakak minta maaf." Naruto makin dijejali tanpa henti oleh perasaan bersalah manakala merasakan kedua bahu Hinata bergetar pertanda isakannya makin mengeras. Tangannya mengusap-usap kepala dan tak bisa berkata apa-apa lagi selain mengulang kalimat yang sama.
"Kakak minta maaf, Hinata."
Keduanya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk saling menenangkan diri. Sampai akhirnya Hinata memberi isyarat, mengartikan sebuah dorongan kecil dari sang gadis bahwa ia sudah bisa melepaskan pelukannya.
"Untuk sekarang, Kakak cuma bisa minta maaf." Naruto belum benar-benar bisa melepaskannya. Jemarinya tertahan di sela-sela anak rambut sementara ibu jarinya mengusap lembut sudut mata sang gadis yang masih menyisakan basah.
"Tapi, ada satu yang mau Kakak yakinkan sama kamu." Naruto melanjutkan. "Kakak sama sekali tidak pernah berniat untuk menyakiti kamu. Tidak pernah dan tidak akan mengkhianati kamu, sayang. Percaya sama, Kakak."
Masih terlalu dini untuk memaafkan. Masih terkesan buru-buru juga untuk mengembalikan kepercayaan. Tidak ada salahnya untuk tetap berhati-hati dan memasang perisai agar tidak kembali tersakiti jika pada kenyataannya tak seperti apa diharapkan. Ya, sebanyak itulah yang Hinata peringatkan pada dirinya sendiri sebelum memberanikan diri mengangkat wajah, saling menatap iris masing-masing. Naruto dengan segala harap dan penyesalannya. Sementara, Hinata dengan segala rasa sakit serta ketakutannya untuk memilih mana yang harus ia percaya dan mana yang tidak, semata-mata hanya karena ia tak mau terluka oleh kesalahan yang sama.
.
.
Sepanjang perjalanan sejak Naruto kembali menyalakan mesin mobil dan mengendarainya untuk mengantar Hinata pulang ke rumah, pemuda tersebut sama sekali tak ingin melepaskan genggaman tangannya pada Hinata. Jadi sepanjang ia mengendarai mobilnya di jalan raya hingga tiba di depan rumah Hinata saat ini, ia menyetir hanya dengan satu tangan kiri. Barangkali Naruto masih enggan melepaskan kalau bukan karena terpaksa, sebab ia tak mungkin meminta Hinata untuk keluar dari pintu mobil yang sama dengannya.
Namun, usai Naruto membantu Hinata melepaskan seatbelt-nya, dan baru akan menekan tombol di sudut kursi guna melepaskan miliknya sendiri, sang gadis yang masih belum berniat keluar dari mobil, entah kenapa tiba-tiba menahannya.
"Kak ..." Hinata memberi jeda. Menanti si pemuda menghadap ke arahnya. "Kita bicarakan besok saja, ya. Kak Naruto tidak usah mengantar turun."
Naruto cepat-cepat balik menahan pergelangan tangannya. "Hinata?"
"Sudah larut malam. Tidak baik juga jam segini bertamu ke rumah orang."
"Ke rumah orang? Kamu bukan orang lain, Hinata. Kamu—"
"Kak ..." Hinata memohon. Naruto bisa melihat kedua matanya yang sembab seakan penuh lelah.
Mungkin benar tidak harus hari ini. Melihatnya seperti itu juga membuatnya jadi tak tega. Akan tetapi, jujur, dari relung hati terdalamnya, rasanya ingin sekali ia egois sedikit. Tak mau menundanya sampai esok hari, terlalu lama. Ia ingin memberitahukan kebenarannya saat ini juga. Sebentar saja, Hinata. Sebentar saja. Sayangnya, suara-suara tersebut hanya mampu Naruto utarakan di dalam kepala. Pada akhirnya ia tak mampu berkata apa-apa, dan mau tak mau perlahan ia pun melonggarkan cengkeramannya di pergelangan tangan.
Hinata pun akhirnya beranjak turun. Di belakangnya, diam-diam Naruto juga menyusul—tidak peduli meski Hinata melarangnya.
Awalnya Naruto berniat akan mengantarnya saja sampai Hinata masuk ke dalam rumahnya. Akan tetapi, setelah tangan kanannya lagi-lagi menahan lengan sang gadis dan membawanya berbalik menghadap ke arahnya, ia jadi berubah pikiran.
"Hinata, sebentar saja."
Hinata mengambil tangan Naruto yang menahan lengannya, menggenggamnya di kedua tangan. "Kak, jangan khawatir. Hina cuma sedang lelah, bukan bermaksud menghindar."
"Bohong."
Hinata hanya tersenyum. Tidak peduli Naruto menyimpulkannya seperti apa, Hinata tetap pada keputusannya. Lantas melepaskan genggamannya, Hinata berbalik. Menyeret kakinya lambat dengan sisa tenaga yang ia punya.
"Hinata," panggil Naruto lagi. Kali ini ia bersimpuh dengan menekuk kedua lututnya terduduk di atas lapisan beton yang melapisi tanah. "Kakak tahu ini egois. Dan, kesalahan yang sudah Kakak lakukan terlalu sulit untuk dimaafkan. Kakak tidak memaksa kamu buat memaafkan. Tapi, tolong Hinata, percaya sama Kakak. Apa yang Kakak katakan tadi itu tidak main-main, sungguh." Naruto menunduk dalam. Setengah tidak peduli Hinata akan mendengarnya atau tidak, tapi separuhnya lagi ia setengah mati berharap Hinata masih ada di sana, di depannya, mendengarkannya dengan seksama.
Diluar dugaan, sepasang sepatu bersama pemiliknya yang berhenti tepat di depan kedua lututnya lebih dari seperti yang Naruto harapkan. Andai Hinata tahu, ia sungguh lega luar biasa. Lantas mengangkat kepala, Naruto bisa melihat gadis manis bersurai nila yang masih terlihat pucat itu ikut merendahkan tubuhnya. Saling memandang satu sama lain, sebelum kemudian ia bisa merasakan tangan kecil serta jari-jemari lentik sang gadis bergerak menangkup wajahnya. Mengusap pelan dan hati-hati sudut bibirnya yang mengalami luka. Sementara atensi Hinata terfokus pada luka, antara bayangan Naruto sendiri, atau memang gadisnya ini sedang tersenyum padanya? Meski tipis sekali.
Berbekal senyum tipis yang hanya berlangsung selama satu detik itu, Naruto merasakan dadanya perlahan menghangat.
"Ayo, Kak. Kita obati dulu lukanya." Hinata meraih tangan Naruto begitu saja. Lalu, menariknya agar berjalan mengikutinya masuk ke dalam rumah.
.
.
"Ini Kakak, Hanabi. Jangan bikin kegaduhan, nanti Ayah bangun."
Selagi melepas sepatu yang kemudian disusul oleh Naruto di belakangnya, Hinata berkata pelan sendiri sembari sibuk mengurai tali sepatu. Naruto segera saja mendongak. Rupanya benar, adik perempuan Hinata yang cantiknya sebelas-dua belas dengan kakaknya tersebut-ah, tidak, cantikan Hinata sedikit, Naruto meralat-sedang melongok ke bawah memperhatikan mereka berdua dari lantai atas.
Naruto mendengar Hanabi berbisik-tapi berbisik yang terdengar agak dikeraskan. "Iya, iya. Lagian, Kak Hina kok tumben pulang larut malam sekali? Mana bawa-bawa Kakak Ipar lagi."
Merasa nama panggilannya yang dibuat oleh adik Hinata ini disebut-sebut, Naruto jadi mendongak sekali lagi. Sambil tersenyum, mulutnya mengatakan sesuatu tanpa suara. "Halo, Hanabi."
Sementara itu, Hinata sama sekali tak mengindahkan pertanyaan adik perempuannya. Gadis tersebut malah menjawil Naruto agar mengikutinya menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Kita ke kamar Hina saja, Kak," ajaknya.
Maka kemudian langsung menaiki tangga dan tak berselang lama tiba di lantai atas, Hanabi yang sengaja masih menunggui mereka buru-buru berjalan mendekati Naruto.
"Wah! Sudah jadi mahasiswa masih saja suka berkelahi," ledek Hanabi sembari ikut berjalan beriringan. Naruto melirik sekilas, namun tak mau menggubris.
"Marahi dong, Kak. Atau, Hanabi saja yang memberinya pelajaran. Oke."
Hinata berjalan di depan, memimpin mereka. Dan sama seperti Naruto, ia juga tidak mau peduli, terlalu lelah. Hanabi tidak tahu saja, Kamis malam hari ini terasa amat begitu panjang bagi Hinata. Banyak hal tak terduga telah terjadi. Jangankan raganya yang tak sabar ingin melelapkan diri dalam gelungan selimut tebal, lebih-lebih lagi jiwanya serasa sudah tak memiliki daya yang tersisa. Bahkan ketika sesaat kemudian ia mendengar Naruto mengaduh kesakitan di belakangnya, ia juga diam saja. Ia jelas tahu itu adalah ulah Hanabi, biar dia yang mengurusnya.
Jadi, oke yang dimaksud Hanabi adalah menyikut tulang rusuk Naruto dengan sekuat tenaga. Tolong jangan lupa, ia juga mendapatkan tendangan beberapa saat lalu di lokasi yang sama.
"AKKH!" Naruto sontak saja mangaduh dan nyaris berteriak keras. Ia dengan cepat meredamnya dengan membungkam mulut sendiri. Ia juga mengumpat kasar dalam hati. Oh, Hanabi! Anak itu! Sialan memang.
"Sakit, Hanabi. Kakak Ipar bikin salah apa sih sama kamu?" Naruto tak terima.
"Ya, tidak ada."
"Terus kenapa main pukul begitu."
"Kakak Ipar, sih. Sudah dewasa kok masih suka gelut."
"Kakak yang gelut kok kamu yang pusing? Memangnya bikin kamu jadi bodoh di sekolah?"
"Ya, tidak."
"TERUS?" Naruto murka saking gemasnya.
Naruto geram dan sedikit mengeraskan suaranya. Sementara Hinata yang mendengar pertengkaran jenaka itu pun jadi ikut gemas. Lantas ia pun lekas berbalik.
"Ssst! Kalian berdua! Sudah Kak Hina bilang jangan bikin ribut, Hanabi. Kamu juga, Kak." Hinata menunjuk Naruto. "Nanti Ayah bisa bangun. Kasihan."
"Adik kamu yang urakan itu yang mulai duluan, sayang." Naruto merengek.
"Iiih! Tidak usah sayang-sayangan di depan Hanabi. Bikin mual tahu." Hanabi bergidik geli.
Naruto praktis tersenyum miring. Rasanya puas sekali setelah mendapat bahan baru untuk membalas ledekan adik Hinata yang ia bilang urakan itu karena tak memiliki orang yang bisa disayang. Kasihan jomblo. Namun ketika ia baru membuka mulut, Hinata malah mendorongnya masuk ke dalam kamar.
"Hanabi, kamu juga segera masuk ke kamar. Tidur. Besok masih ada sekolah."
"Sebentar, Kak." Hanabi bergerak menggeser tubuh Hinata dan memasukkan kepalanya mengintip ke dalam kamar. Tatapannya tertuju pada Naruto saat berkata lagi-tak lupa gadis kecil ini dengan sengaja mengubah volume suaranya jadi lebih manis.
"Kak, mana oleh-olehnya? Biasanya juga selalu bawa makanan kalau main ke rumah." Sambil menodongkan telapak tangan.
Sebelum Naruto sempat menjawab, Hinata segera menarik Hanabi dari pintu kamarnya dan menukas lebih cepat. "Tidak sempat beli. Sudah malam sekali. Sudah, ya. Kakak mau masuk ke kamar. Kamu juga, Hanabi."
"Kak Hina sebentar, ih!" Hanabi tak kalah cepat menahan lengan sang kakak. "Kakak kenapa? Tidak seperti biasanya." Lalu mengalihkan pandangannya ke arah Naruto, ia berkata curiga. "Kalian habis bertengkar, ya?"
Naruto yang telah menunggu di balik pintu seketika mengerjap, tetapi kemudian cepat-cepat menggeleng.
"Awas saja kalau Kakak Ipar berani menyakiti Kak Hina, aku yang akan turun tangan," ancam Hanabi sambil memasang kuda-kuda.
Hanya sekadar informasi, Hanabi ini sudah pernah ikut kejuaraan taekwondo—meski masih setingkat kota—dan berhasil meraih jadi juara satu. Pantas saja Naruto langsung bergidik ngeri. Bahaya. Nyawanya terancam.
Akan tetapi, lamunan Naruto segera terpecahkan begitu ia mendengar Hinata berkata mengoreksi, "Masih calon kakak ipar, Hanabi. Belum menjadi kakak ipar betulan. Sudah, ya, kamu cepat kembali ke kamar.
Usai memutar paksa tubuh sang adik, Hinata juga langsung masuk ke dalam kamar. Di depannya, ia melihat Naruto seperti baru saja beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan pelan menuju tempat tidur. Mendaratkan dirinya duduk di tepi, Hinata bisa merasakan atmosfer hangat yang dibawa oleh Hanabi beberapa saat lalu seolah hilang dalam sekejap persis ketika ia melihat pemuda di hadapannya menundukkan wajahnya dalam.
Hanabi tidak tahu apa-apa. Maka tidak sepatutnya melibatkannya dalam permasalahan mereka. Naruto dan Hinata sama-sama tahu tindakan apa yang mesti mereka lakukan.
Di sisi lain, Naruto telah hanyut dalam pikirannya sendiri. Terpaku oleh ucapan Hinata yang terakhir kali. Rasanya seperti ia sedang diingatkan bahwa hubungan di antara mereka barangkali akan ada sedikit kerenggangan yang berarti. Tak terlihat, namun bisa dirasakan. Ia menyadarinya dengan jelas. Hinata itu tidak pernah lagi sekali pun mempersoalkan mengenai panggilan yang dibuat khusus oleh Hanabi-kau tahu, Kakak Ipar-padannya, benar kecuali waktu awal-awal dulu.
Inilah alasan mengapa ia kembali tertegun. Selain tahu bahwa persoalan hati mereka yang belum terselesaikan, tetapi juga upayanya memutar otak, memikirkan berbagai cara apa yang bisa dilakukannya untuk sekali lagi meyakinkan Hinata.
"Hadap ke sini sedikit, Kak."
Naruto sedikit dikagetkan oleh kedatangan Hinata saat tahu-tahu gadis tersebut sudah ada di sebelahnya dengan membawa kotak P3K. Sejenak sibuk mengeluarkan dua jenis salep luka dari sana, Naruto berkedip lambat manakala pandangan mereka kembali bertemu. Jadi bertanya-tanya ketika menyadari Hinata malah terdiam seperti sedang mengabsen luka di seluruh wajahnya, ia jadi tergoda menyeletuk asal. "Muka Kakak jadi jelek, ya?"
Hinata hanya menghela napas. Kedua tangan yang sudah ia bersihkan kembali sibuk dengan salep luka, sebelum membawa jemarinya mengolesi perlahan memar yang ada di bawah matanya sembari menjawab dengan ledekan.
"Makin jelek. Kan, awalnya sudah jelek."
"Jahat." Naruto merajuk.
Dasar, Naruto. Hinata masih mending jahat bohongan. Kamu? Jahat betulan.
Kemudian menunggu Hinata yang tak kunjung menyahuti ucapannya, Naruto tentu tidak cukup bodoh untuk segera menyadari bahwa Hinata masih belum bisa berbicara banyak. Dengan begini, mudah saja bagi keheningan untuk menyelinap masuk di antara kekosongan tanpa suara kecuali hanya deru napas teratur serta detik jarum jam yang menemani keduanya dengan kesibukan masing-masing. Hinata yang dengan telaten mengobati luka, sedangkan Naruto yang betah berlama-lama menatap lamat paras cantiknya.
Memperhatikannya dengan jarak sedekat ini, sulit rasanya membayangkan jika mereka akan berakhir hanya karena ia yang sangat ceroboh. Memikirkannya, Naruto diam-diam jadi menyesal telah menawarkan diri untuk mengantar Shion pulang beberapa waktu lalu. Shion, bisa-bisanya, mengapa ia tidak tahu kalau selama ini gadis bar-bar itu telah menyimpan perasaan kepadanya. Tahu begitu pasti ia akan sedikit menjaga jarak. Ah, sial! Mau disesali bagaimanapun juga tidak akan ada yang berubah.
"Kak, buka bajunya sebentar."
"Huh?" Naruto mengerjap, takut ia salah dengar.
"Buka baju, Kak. Sudah menurut saja."
"I-iya."
Naruto lantas membuka bajunya meski malu-malu. Tanpa sadar pipinya bersemu merah saat bertanya lagi. "Semuanya?"
Hinata mengangguk biasa saja.
Naruto tidak mengerti. Biasanya, tidak sengaja melihat ia bertelanjang dada saat main ke rumahnya saja langsung menutup muka. Sekarang malah disuruh buka baju.
"Ini sakit?"
Naruto seketika menahan napas. Jari telunjuk Hinata yang tiba-tiba menekan dadanya tepat di bawah tulang selangka-persisnya lagi di bagian bekas luka memar kecoklatan-agak sedikit membuatnya terkesiap. Oh, masih karena luka-luka yang diperolehnya dari habis berkelahi tadi, rupanya.
Naruto menatap lembut. "Tidak sakit."
"Belum mungkin, ya."
"Mungkin..."
Lagi-lagi konversasi berakhir hanya sampai sekelumit itu saja. Kembali hening. Kembali sunyi. Dan, kembali mengagumi Hinata yang berujung mengumpati diri sendiri.
Hinata. Dia begitu saja menyingkirkan semua ego hanya demi luka kecil yang tak seberapa. Dia tidak pura-pura lupa 'kan, mana luka yang sebenarnya harus diobati? Hanya karena luka itu tak terlihat. Luka itu tak mengeluarkan darah. Maka tak harus diprioritaskan, atau, malah tak perlu diobati, begitu?
Memandang sendu, secara sistematis jemari Naruto bergerak menyelipkan surai nila Hinata yang jatuh ke depan tatkala sang gadis merendahkan wajahnya guna menggapai luka di perut bawahnya.
"Mau Kakak bantu ikatkan rambut kamu?" Naruto bukannya bermaksud meledek. Ia melihat Hinata seperti sedikit terganggu akibat rambutnya yang selalu jatuh ke depan, ia hanya berniat membantu betulan. Namun, Hinata menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Hinata." Tiba-tiba Naruto berkata lagi. Suara beratnya terdengar dalam dan sulit. Ia melanjutkan, "Perempuan itu adalah teman Kakak di organisasi."
"Bicaranya nanti saja, Kak." Hinata membalas enggan.
"Sampai apa? Habis mengobati memar Kakak? Kakak tahu, pasti nanti kamu akan berkata seperti itu lagi."
Naruto bisa merasakan jemari Hinata sempat terhenti. Namun ia tetap berkata lagi, "Kamu hanya sengaja menghindar. Kenapa? Tidak berani menghadapi kenyataan? Hinata, apa yang kamu takutkan itu hanya angan yang kamu ciptakan sendiri. Kakak mohon kamu percaya, Hinata." Naruto beralih menangkap wajahnya. Menuntunnya untuk menghadap ke arahnya.
"Kakak sama sekali tidak berniat untuk menyakiti kamu, sayang."
"Mm. Hina tahu Kak Naruto tidak bohong. Hanya saja ..." Hinata tercekat. Sepasang irisnya yang indah secara perlahan berkaca-kaca. "...meski nanti ceritanya akan berbeda dengan apa yang Hina pikirkan, tetap saja tidak mengubah fakta bahwa Kak Naduto menciumnya. Bukan hanya kebenaran ceritanya, tapi Hina juga butuh waktu untuk menerima apa yang ada di depan mata."
Naruto terdiam. Lidahnya kelu. Selama ini ia pikir ia sudah sangat memahami bagaimana perasaan Hinata, ternyata sedikit saja pun tidak.
.
.
"Kakak memang sangat ceroboh. Lain kali Kakak memang harus belajar dari kamu untuk bisa berhati-hati."
Naruto sudah selesai bercerita. Tak ada yang ditambah ataupun dikurangi. Tidak juga dibagi dan dikali. Semuanya tanpa terkecuali, tanpa ada yang di sembunyi-sembunyikan. Termasuk pengakuannya yang pernah tertarik pada Shion, namun buru-buru meralat bahwa ternyata hanya perasaan kagum. Oh, iya, Naruto juga sudah mengenakan bajunya lagi kalau kau bertanya-tanya.
Lalu, jika berbicara tentang keadaan mereka, keduanya sudah terlihat lebih baik. Jauh lebih baik. Baik Naruto maupun Hinata, masing-masing seolah telah menemukan kehangatannya sedikit demi sedikit. Namun masih, mereka hanya berpegang pada kenyataan bahwa dalam sebuah hubungan, berlama-lama untuk saling diam; saling dingin; dan saling menahan diri, itu tidak pernah berakhir baik. Maka dari itu, keduanya sedang mencoba untuk saling terbuka dengan luka masing-masing sekalipun terdengar pahit.
"Perempuan bernama Shion itu pasti cantik." Hinata sengaja merecoki.
"Mirip kamu. Malah cantikan kamu banyak-banyak."
"Tidak baik membandingkan fisik seperti itu, Kak."
Naruto mendelik. "Eh? Bukan begitu maksudnya."
Hinata yang melihat Naruto merasa serba salah, jadi terkekeh kecil. "Pantas Kak Naruto pernah suka," godanya lagi.
"Itu dulu, sayang. Dan, bukan suka. Hanya kagum." Naruto menggeser tubuhnya lebih dekat. Tangannya dengan lembut mengusap puncak kepala Hinata saat kembali melanjutkan, "Sudah bercandanya, ya."
Hinata cepat mengerti. Kurva lebar di bibirnya perlahan berubah jadi senyuman lembut. "Terima kasih sudah berkata jujur, Kak."
"Kakak tahu masih sulit untuk menerima semuanya. Tidak apa-apa, pelan-pelan. Kakak juga tidak akan memaksa kamu untuk memaafkan sekarang. Karena Kakak tahu tidak akan bisa secepat itu."
Hinata memalingkan wajahnya. Memandangi sosok di hadapannya dalam-dalam. Barangkali sebagian dari dirinya kini sudah kembali nyaman dengan keberadaan sosok tersebut di dekatnya. Walaupun sebagian yang lain seakan masih tertinggal jauh di belakang.
Lantas kemudian menarik sebelah tangan Naruto dan menggenggam jari-jemarinya di kedua tangan, Hinata memberanikan diri berkata, "Benar, Kak, terima kasih sudah memberi pengertian sebanyak itu. Mungkin satu lagi, bukan hanya tentang kapan Hina bisa memaafkan. Tetapi, setiap luka juga butuh waktu untuk disembuhkan."
"Benar. Makanya Kakak juga bilang untuk pelan-pelan. Sekarang pun, Kakak sudah memilih untuk percaya dan menerima apapun keputusan yang kamu buat." Naruto memberikan senyum hangat pada kalimat terakhirnya. Sebelah tangannya yang masih bertengger di atas kepala sang gadis bergeser sedikit ke bawah dan menekan lembut.
Hinata bisa merasakan dadanya berdenyar. Ada sedikit kehangatan yang meluap. Kemudian mengeratkan genggamannya, ia sudah memutuskan. Ia juga sudah yakin apa yang harus ia katakan.
"Mari berfokus pada penyembuhan luka masing-masing. Tidak perlu memutuskan hubungan. Mungkin hanya perlu saling memberi ruang."
Naruto langsung menghambur. Memeluknya erat sekali.
.
.
.
Fin.
Semoga suka, ily.
