"Hal."

"Hm."

Halilintar mengunyah keripik balado buatan sang ibu tanpa mengalihkan pandangannya dari film A Quiet Place. Sementara Taufan berdiri di ambang pintu kamarnya, sebelah tangannya menggenggam kunci motor dengan gantungan petir merah.

"Aku pinjam motormu ya?"

"Buat?" Halilintar melirik adiknya sebentar sebelum kembali fokus pada film.

Taufan memutar kunci motor sang kakak sambil bersandar di sekat pintu. "Mau ke rumah Gopal bentar." katanya. Dalam hati Taufan berharap Halilintar mengizinkannya. Karena dalam sejarah keluarganya, Halilintar paling pelit jika meminjamkan barang miliknya.

Sang kakak hanya diam dengan tatapan masih pada layar laptop. Di tengah kebisuan itu, Taufan merapal doa dalam hati agar kakaknya diberikan hidayah kali ini. Motornya masih berada di bengkel karena menabrak tiang minggu lalu. Dan hanya motor Halilintar yang bisa Taufan andalkan sekarang.

"Yaudah."

"YESSS!" Taufan bersorak gembira. Namun mulutnya kembali terkatup rapat ketika mendengar suara Halilintar selanjutnya.

"Kalau kau sampai rusakin dia–" Tangan Halilintar memberi gestur memenggal kepala orang. Sudah jelas cowok penyuka film horor itu memberi ancaman pada adik satu-satunya jika membuat motornya rusak.

Meneguk ludah, Taufan menganggukkan kepala patah-patah. Ia langsung ngacir ke bawah setelah Halilintar mengusirnya.


"Worried" by Meltavi

Boboiboy © Animonsta Studios

Warn : AU, bro!HaliTau, BUKAN YAOI, Family, OOC, gaje, dll.

Happy Reading!

.

.

.


"Hali, adikmu ke mana?"

Permainan game online Halilintar terhenti ketika mendengar pertanyaan dari sang ibu. Ia mem-pause game-nya, memberikan seluruh atensinya pada wanita yang melahirkannya itu.

"Tadi sih bilangnya mau ke rumah Gopal," jawab Halilintar, matanya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore. Empat jam sudah Taufan pergi, padahal anak itu bilang hanya sebentar. "Ngayap dulu kali." lanjut Halilintar cuek seraya mengendikkan bahu.

Ibunya menghela napas. Langit di luar sana sudah menggelap, tanda hujan deras akan segera turun. Ia tentu tak tenang bila anaknya masih keluyuran di luar sana.

"Kamu telpon Taufan ya, suruh cepet pulang. Mau hujan soalnya." ujar sang ibu yang dibalas anggukan oleh Halilintar.

Setelah ibunya meninggalkannya sendiri di kamar, Halilintar meraih ponselnya di samping laptop. Mencari kontak sang adik untuk kemudian diteleponnya, sambil dirinya menyiapkan makian karena Taufan sudah membuat ibunya khawatir.

Tut... Tut... Tut... Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak bisa dihubungi...

Alis Halilintar terangkat. Tak biasanya Taufan tidak menjawab panggilan, apalagi dari orang rumah. Anak itu juga tidak pernah mematikan ponselnya. Ini sangat aneh. Halilintar mencoba menelepon Taufan lagi, namun lagi-lagi suara operator yang terdengar.

"Ke mana sih dia?" gerutu Halilintar kesal setelah kelima kalinya Taufan tidak mengangkat telepon.

Akhirnya Halilintar menghubungi Gopal, satu-satunya makhluk terakhir yang bersama Taufan sebelum bocah itu tidak bisa dihubungi. Dan jawaban Gopal hanya, dia sudah pulang sejam yang lalu, setelah itu aku tidak tahu dia dimana. Membuat Halilintar mendecak kesal karena tak dapat menemukan jawaban yang ia mau.

"Bodo ah! Nanti juga balik,"

Cowok itu memilih tidak peduli, dan kembali pada laptopnya. Palingan Taufan jalan-jalan sebentar, seperti kebiasaannya sehari-hari jika bosan berada di rumah. Halilintar mengendikkan bahu, kini perhatiannya sudah tidak pada sang adik lagi. Dengan santai, cowok itu melanjutkan lagi permainannya yang terhenti.

Limabelas menit kemudian, Halilintar terlonjak kaget karena tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan terpaksa cowok itu menghentikan permainan serunya, meraih ponselnya yang menjerit sambil menggerutu kesal. Namun mata Halilintar melebar kala menemukan nama si penelepon di sana.

"Halo?! Kau kemana saja, sih! Ditelepon nggak diangkat-angkat. Ibu mengkhawatirkanmu, tau?!" semprot Halilintar langsung tanpa aba-aba. Dahinya berkerut kesal, dan dari wajahnya keliatan sekali ia ingin melahap Taufan sekarang.

Hening. Tak ada suara apapun dari seberang sana. Kerutan di dahi Halilintar semakin tercetak jelas. "Taufan?" panggil Halilintar pelan. Ia sampai menatap layar ponselnya lagi demi memastikan bahwa yang meneleponnya adalah Taufan. Mendadak, hatinya dihampiri rasa khawatir.

"Fan! Kau kena–"

"Hal ... "

Halilintar langsung diam ketika mendengar suara adiknya itu. Suaranya terdengar sangat pelan, membuat Halilintar kebingungan. Kemudian, Taufan kembali mengucapkan sesuatu.

"Aku ... Aku kecelakaan,"

"HAH?!" Halilintar tanpa sadar berteriak. "Kau dimana sekarang?! Taufan!"

"Aku di rumah sakit. Tapi–"

Tut.

Telepon tiba-tiba terputus. Halilintar dengan panik menelepon kembali Taufan, namun suara operator memberitahunya bahwa ponsel Taufan mati. Cowok itu mengacak rambut frustasi, dan kekhawatiran langsung menghampirinya.

Taufan, kecelakaan. Dari kata itu saja sudah membuat Halilintar berpikiran negatif. Ia dengan cepat menyambar jaket dan topinya, lalu melangkah keluar kamar tanpa mematikan laptop. Halilintar berjalan hati-hati menuju pintu rumah dengan mata mengawasi ibunya yang tengah berkutat di dapur. Setelah memastikan sang ibu tidak menyadari keberadaannya, Halilintar langsung menyelinap keluar untuk menyusul Taufan ke rumah sakit.

Ketika berada di dalam taksi, Halilintar tak henti-hentinya mencoba menghubungi Taufan lagi meski suara operator kembali menyapa telinganya. Jantung Halilintar berdegup cepat, dan hatinya sungguh tidak tenang. Meskipun Taufan sering membuatnya emosi, namun Halilintar tetap merasa cemas jika adiknya kenapa-kenapa. Apalagi Taufan memberi tahu bahwa dia kecelakaan. Bagaimana Halilintar tidak panik?

Taksi yang ia naiki melaju kencang di jalanan sepi itu. Halilintar menatap jendela di sampingnya, menemukan tetes-tetes air di sana. Hujan turun dengan deras. Halilintar semakin tak tenang dan ingin berlari saja rasanya.

Setelah tiba di rumah sakit, Halilintar langsung berlari ke meja resepsionis. Ia tidak peduli beberapa pasang mata menatapnya aneh karena penampilannya yang acak-acakan. Pikirannya hanya tertuju pada Taufan.

"Suster, apa ada pasien bernama Taufan?" tanya Halilintar pada resepsionis.

"Taufan?"

"Ya. Boboiboy Taufan."

Resepsionis itu tampak mengecek kertas di papan jalannya. "Tidak ada pasien dengan nama itu."

Halilintar mengernyit. "Dia pasien dari kecelakaan motor hari ini." katanya lagi, berharap resepsionis itu salah.

"Pasien kecelakaan motor?" Halilintar mengangguk. "Dia sedang berada di ICU, kondisinya kritis."

Deg!

Halilintar membeku di tempatnya. Ia menggeleng tak percaya. "Tidak mungkin ..."

"Apa Anda keluarganya?"

Halilintar tak menjawab pertanyaan resepsionis itu. Tubuhnya seperti kehilangan fungsi, ia hanya bergeming di tempat dan perkataan resepsionis itu terus terputar di otaknya.

Taufan ... tidak mungkin Taufan ...

"Hali!"

Merasa namanya dipanggil, Halilintar membalikkan badan. Ia melebarkan mata ketika melihat sosok adiknya berdiri di sana, dengan tongkat medis yang terselip di ketiaknya. Kaki kanannya, tepatnya dari tumit hingga telapak, dibalut oleh gips tebal. Halilintar dengan segera menghampirinya. Ia menatap keseluruhan kondisi adiknya dengan seksama.

"Kau, bukannya kau kritis?"

Ditanya begitu oleh sang kakak membuat Taufan cengo. "Hah? Aku kritis?"

"Iyaa! Tadi suster itu bilang,"

Perlu beberapa saat Taufan mencerna ucapan Halilintar. Sampai akhirnya, ia mengerti dan tertawa keras.

"Itu pasien lain, bukan aku." kata Taufan. Halilintar menatapnya sangsi, seolah masih belum percaya. "Lagipupa, kalo aku kritis, aku tidak akan bisa meneleponmu."

Benar juga. Halilintar seketika malu dan mengusap belakang kepalanya yang tidak gatal. Namun ekspresinya kembali garang ketika otaknya teringat sesuatu.

"Terus, kenapa kau langsung memutuskan teleponnya begitu saja?!" sentak Halilintar.

Taufan menyengir kuda. "Tadi ponselku kehabisan baterai, jadi tidak sempat menjelaskan detailnya, hehe, maafkan aku, Hali."

Halilintar menatap adiknya dengan tatapan datar. Andai Taufan tahu betapa kalutnya ia sepanjang perjalanan setelah mendapat telepon darinya. Halilintar sudah membayangkan kondisi Taufan yang terluka parah. Rasanya Halilintar ingin memites Taufan jadi kutu jika saja kaki dia baik-baik saja sekarang.

"Terus? Kenapa kakimu bisa seperti itu?" tanya Halilintar sambil menunjuk kaki Taufan dengan dagunya. Taufan ikut melihat kakinya yang dibalut gips tebal.

"Ah, itu. Aku ditabrak oleh motor lain,"

"Siapa?"

"Mana kutahu," Taufan mengendikkan bahu. "Dia kabur begitu saja, untungnya aku ditolongin oleh orang-orang di sana." lanjut Taufan, mengingat kembali kejadian ia ditabrak tadi. Beruntung yang terluka hanya kakinya, yang bengkak karena ia sempat menahan motor Halilintar sebelum benar-benar ambruk ke aspal. Jika tidak, mungkin Taufan akan mendapat luka lebih banyak.

Halilintar ingin marah ketika mendengar pelaku itu tidak bertanggung jawab sama sekali. Namun berhasil ia tahan karena ingat mereka sedang di rumah sakit.

"Oh iya soal motormu," Taufan menatap takut sang kakak yang kini memandangnya dengan alis terangkat. Selama diberi pertolongan pertama tadi, Taufan sudah memikirkan akan semarah apa Halilintar nanti jika tahu motornya sedikit penyok di bagian depan.

"Lupakan itu." ucap Halilintar. Taufan terkejut mendengar sang kakak seperti tidak mempermasalahkan motornya.

"Eh?"

"Yang penting kau baik-baik saja." kata Halilintar. Ia benar-benar tidak memusingkan hal itu. Kekhawatirannya cuma tertuju pada Taufan, dan Halilintar sangat lega mengetahui adiknya tidak terluka parah.

Taufan tersenyum lebar, membuat Halilintar menunjukkan wajah jijiknya.

"Ayo pulang. Dasar merepotkan." katanya dengan wajah masam. Kemudian ia berlalu melewati Taufan.

Sambil tertawa, Taufan mengikuti Halilintar dengan tertatih-tatih. Dapat Taufan tangkap Halilintar sengaja mengambil langkah pelan agar dirinya tak tertinggal.

"Kau khawatir padaku, ya?"

"Tidak sama sekali."

"Jangan malu begitu dong, Hali."

"Diam atau kutendang kakimu."

Taufan tertawa mendengarnya.

.

.

.

.

.

finizh