"Elemental Favorit" by Meltavi

BoBoiBoy © Animonsta Studios

Warn : SemiAU, BoYa, TauYa, Romance Comfort, fluff(?), OOC, gaje, awas typo, dll.

Happy Reading!

.

.

.


"Sudah semua?"

Yaya mengangguk seraya memandangi buku tulis teman-temannya yang ditumpuk rapi. Ruang guru yang mereka tempati terlihat ramai, hanya meja sang wali kelas yang ditinggal oleh pemiliknya.

"Yuk, kita pulang." ajak Yaya pada Boboiboy.

Mereka berdua kemudian meninggalkan ruang guru setelah selesai mengumpulkan tugas teman-teman mereka. Ah, ralat. Lebih tepatnya Yaya yang disuruh oleh wali kelas mereka. Dan tanpa diminta, Boboiboy membantunya untuk membawakan buku-buku itu.

"Maaf ya, gara-gara aku kamu jadi lama pulangnya." ujar Yaya di tengah-tengah langkahnya. Boboiboy menoleh, senyum menghiasi wajah tampan itu. Dan dengan ringan, tangannya menepuk puncak kepala Yaya sekali.

"Ngapain minta maaf, sih? Aku 'kan pacar kamu, jadi nggak usah sungkan." balas Boboiboy. Meski sudah dua tahun mereka menjalin hubungan asmara, Yaya seringkali merasa tidak enak padanya. Padahal Boboiboy senang jika Yaya meminta tolong padanya. Itu membuat Boboiboy merasa dibutuhkan.

Yaya hanya terkekeh malu. Kebiasaannya itu memang sulit sekali dihilangkan. Akan tetapi, Boboiboy tetap sabar dan memakluminya.

Kini kaki mereka telah tiba di lantai kelas. Yaya tidak menemukan siapapun di sana, termasuk tiga sahabatnya yang lain. Pasti mereka sudah pulang duluan saat ia dan Boboiboy ke ruang guru tadi.

"Mau langsung pulang?" tanya Boboiboy, tangan kanannya meraih tasnya yang tergeletak di atas meja.

Yaya mengangguk setuju. Ia menenteng cardigan merah mudanya sebelum memakai tas. Namun baru saja tangannya ingin meraih tas, Boboiboy lebih dulu mengambilnya.

"Aku aja." Cowok itu kemudian berlalu dengan menenteng tasnya.

Yaya tersenyum dan mengikuti langkah Boboiboy. Sepasang kekasih itu melangkah beriringan melewati koridor sekolah yang masih ramai oleh siswa maupun siswi. Beberapa anak yang mengenal mereka menyapa dengan ramah, yang tentu dibalas mereka dengan ramah pula.

Setibanya di gerbang sekolah, Boboiboy tiba-tiba mengamit tangan Yaya. Gadis itu seketika terkejut, ingin mengeluarkan protes namun Boboiboy lebih dulu membuka suara.

"Mau gandeng. Boleh, ya?" tanya Boboiboy sedikit memohon.

Yaya meringis dalam hati. Ia sebenarnya masih belum terbiasa dengan ini, karena takut menjadi perhatian banyak orang. Tapi Yaya juga tidak tega melihat Boboiboy memohon seperti itu.

"Baiklah." putus Yaya akhirnya. Boboiboy langsung bersorak senang. "Tapi langsung dilepas sebelum sampai di Kedai Tok Aba ya," kata Yaya mengingatkan.

Boboiboy mengangguk mantap seraya bergaya hormat. Ia dengan hati gembira menggandeng tangan Yaya, menggoyangkan tautan tangan mereka ke depan dan ke belakang.

Yaya hanya tersenyum tipis mendapati Boboiboy seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. Kadang Boboiboy bisa menjadi sangat manja. Sifatnya itu hanya ditunjukkan saat berada bersamanya saja. Statusnya yang menjadi pahlawan super di kota mereka membuat cowok itu dituntut sebagai pribadi yang kuat dan tidak cengeng. Dan Yaya bersyukur karena Boboiboy masih mau menunjukkan semua sifat aslinya hingga tidak menutup diri darinya.

"Oh iya, aku pernah nanya ini nggak sama kamu?" tanya Boboiboy. Cowok itu menghadap ke arahnya dan berjalan mundur dengan tangan mereka masih bertaut.

"Nanya apa?" Yaya mengernyitkan dahi. "Hati-hati Boboiboy, nanti kamu bisa jatuh," kata Yaya memperingatkan.

Boboiboy kembali menghadap ke depan. Namun tatapannya kini diberikan sepenuhnya pada sang kekasih. "Kamu lebih suka elementalku yang mana?"

Ditanya begitu membuat Yaya mengangkat alisnya. Langkahnya memelan diikuti Boboiboy. "Kenapa tiba-tiba nanya begitu?" tanya Yaya tak langsung menjawab. Tumben sekali pahlawan super Pulau Rintis ini bertanya hal di luar dugaannya.

"Nggak pa-pa, iseng aja. Aku mau tahu pendapat kamu soal sifat-sifat elementalku." balas Boboiboy seraya menaik-turunkan alisnya. Terlihat jelas binar excited di mata cowok itu.

Yaya terkekeh. Ia menggelengkan kepalanya pelan karena sikap sang kekasih. Karena tidak mendapat jawaban langsung, Boboiboy menggoyangkan tautan tangan mereka.

"Ayolah, pasti ada, 'kan?"

"Aku takut diamuk."

Boboiboy tergelak. "Sama siapa?"

"Sama dua elemental kamu yang lain, lah." jawab Yaya sambil cemberut. Ia tidak bisa membayangkan ketiga elemental Boboiboy akan bertengkar lagi hanya karena ia memberitahu siapa elemental favoritnya.

Boboiboy menggeleng cepat. Ia menghentikan langkahnya, membuat Yaya mengikuti hal sama.

"Nggak kok. Kamu bilang aja, nggak pa-pa."

"Hm, aku suka semuanya."

"Paling suka sama siapa?"

Yaya akhirnya menjawab. "Kalo yang paling aku suka sih, Taufan."

Boboiboy tersenyum. "Kenapa Taufan?"

Yaya mengendikkan bahu. Kakinya berjalan lagi, Boboiboy kembali mengikuti sambil mempertahankan gandengan tangan mereka.

"Jawab, dong."

"Aku takut Halilintar marah, Boboiboy."

"Oh, kamu takut sama Halilintar, ya?"

Yaya menatapnya tajam. "Nggak!"

"Masa' sih? Bagaimana kalau kita tunjukkan?" Boboiboy mengerling jahil. Ia melepaskan genggamannya, membuat Yaya memelotot kaget karena sudah mendapatinya pasang gaya andalan jika ingin berubah. "Kuasa Elemental! Boboiboy–"

"Jangan!" Yaya dengan cepat menarik tangan Boboiboy, hingga cowok itu keluar dari lingkaran formasi yang selalu terbentuk jika ingin berubah.

Boboiboy menahan senyumnya. Tatapannya kini berubah menjadi jahil, persis seperti Taufan. "Jadi? Kamu beneran takut sama Halilintar, ya?"

"Bukan takut ... "

"Lalu?"

Yaya melipat bibirnya. Ia mengalihkan pandangannya ke atas untuk menghindari tatapan Boboiboy yang sangat membuatnya gugup.

"Aku hanya segan padanya." kata Yaya. "Dia itu ... sangat menyeramkan jika marah." Yaya murni jujur. Ia kembali teringat saat Boboiboy mendapat kuasa Halilintar. Bagaimana sikap cowok itu berubah drastis, dan hanya aura dingin yang mengitari cowok itu. Yaya bahkan tidak bisa mengenalinya.

Boboiboy terkekeh. Yaya sangat lucu jika sedang jujur.

"Kalau Gempa?"

"Kalau Gempa ... dia baik. Bijaksana, terus berpikiran panjang. Dia sangat hati-hati kalau lagi bikin strategi. Lalu, sifatnya sangat protekfif pada orang yang dia sayang."

Boboiboy mengangguk membenarkan. "Kalau Taufan?"

Yaya diam sejenak. Sebenarnya ia sudah mempunyai alasannya, hanya saja Yaya bingung cara mengungkapkannya dengan kata-kata.

"Taufan itu ... "

"Iya, aku kenapa?"

"Astaghfirullah!"

Yaya terlonjak kaget mendapati Boboiboy kini sudah berubah wujud. Topi yang biasanya dipakai terbalik berubah posisi menjadi gaya menyamping. Pakaian cowok itu berubah warna biru dan putih. Dan ekspresinya yang ceria serta tanpa beban menunjukkan sekali bahwa di depannya kini adalah Boboiboy Taufan.

"Boboiboy! Sejak kapan kamu berubah?!" tanya Yaya dengan sisa keterkejutannya. Ia tidak habis pikir dengan pacarnya itu.

Boboiboy –atau Taufan– terkekeh. Dengan hoverboard andalannya, cowok itu melayang-layang di depan Yaya. "Sejak kamu diem tadi, aku berubah deh." katanya. Yaya menatapnya datar. Boboiboy Taufan terkekeh–lagi, lalu tengkurap di atas hoverboard-nya dan menopang dagu seraya menatap Yaya. "Jadi? Kamu suka padaku karena apa?" tanyanya dengan kedipan mata beberapa kali.

"Aku suka semua elemental. Bukan kamu aja." balas Yaya. Ia berusaha mengabaikan tatapan Taufan yang membuatnya salah tingkah.

"Lho? Kok beda lagi? Tadi katanya suka sama aku?" Taufan, yang tadinya diterbangkan tinggi, kini seolah dihempas ke bumi oleh pacar cantiknya ini.

"Uh ... iya, aku suka kamu!" seru Yaya tanpa sadar. Sedetik kemudian, matanya membola karena tersadar apa yang telah diucapkannya. "Eh, maksudnya semua elemental!" koreksinya panik.

Taufan yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Yaya terkikik geli. Ia kemudian merendahkan hoverboard-nya hingga menyentuh tanah. Dan tanpa berkata apapun, Taufan menarik tangan Yaya hingga menempel padanya dan membuat posisi gadis itu berada di atas hoverboard.

"T-taufan, k-kamu ngapain?!" Yaya tentu saja kaget. Mereka hampir tidak ada jarak, Yaya bahkan bisa merasakan hembusan napas Taufan menabrak kulitnya.

Taufan menurunkan pandangannya agar bisa menatap Yaya. Gadis itu sudah mendongakkan kepala sebab terlalu gugup jika terus berada di jarak sempit dengan tempat jantung cowok itu berdetak. Senyum manis Taufan terbit. Ia mengeratkan pegangannya pada kedua lengan gadis itu.

"Aku mau ngajak kamu terbang." ucap Taufan. Mata Yaya membelakak. "Pegangan yang kuat, ya."

"Taufan–"

Ucapan Yaya terputus ketika Taufan dengan seenak udel menerbangkan hoverboard-nya. Yaya menutup mata, ia tanpa sadar melingkarkan tangannya pada pinggang Taufan dan berteriak di sana. Bisa dirasakannya Taufan tertawa, membuat Yaya ingin sekali menonjok elemental satu ini.

"TAUFAANNN!"

"Iya, apa sayang?"

"AKU TAKUT! HUWAAAAAA!"

Taufan semakin tergelak dan memelankan laju hoverboard-nya. Ia dengan lihai menggerakkannya dengan tangan masih memegangi Yaya. Pengendali angin itu menunduk sedikit hanya untuk menemukan Yaya memeluknya begitu erat.

"Coba buka mata kamu, deh."

"Nggak mau!"

"Nggak pa-pa, aku nggak bakal ngelepas kamu." ujar Taufan mencoba meyakinkannya. Perlahan, pelukan Yaya melonggar dan gadis itu membuka matanya sesuai yang ia minta.

Taufan tersenyum. Dengan masih menjaga Yaya dalam kukungan tangannya, cowok itu mengarahkan Yaya ke depan sehingga posisi Yaya menjadi membelakanginya.

"Lihat. Bagus, 'kan?"

Mulut Yaya menganga takjub melihat pemandangan laut di depan mereka. Angin sepoi-sepoi menyapa wajahnya pelan, dan suara ombak yang menderu tenang di sana membuat dirinya tidak bisa berkata apa-apa. Jauh dari tempat mereka terbang, matahari terlihat terbenam di ufuk barat dan menampilkan semburat warna jingga di langit. Yaya menatapnya tanpa berkedip. Membiarkan dirinya tenggelam dalam pemandangan yang sungguh memanjakan mata.

Taufan tersenyum. Ia memegangi kedua lengan Yaya dan mendaratkan dagunya di bahu kecil gadis itu. Meski posisinya sedikit membungkuk, Taufan tidak peduli karena aroma tubuh Yaya begitu memabukkannya. Ia juga memandangi matahari di depan mereka sama seperti yang Yaya lakukan.

"Cantiknya," kata Yaya kagum.

"Kamu sama cantiknya." bisik Taufan. Yaya tersenyum malu mendengarnya. Keduanya terdiam, membiarkan suara angin dan ombak menguasai. Sampai kemudian, Taufan kembali membuka suaranya. "Kamu belum kasih tahu aku lho, kenapa suka sama aku."

Yaya terkekeh. Iar tidak menyangka Taufan masih belum menyerah menanyakan itu. "Aku suka semua elemental."

"Tapi aku elemental favorit kamu, 'kan?"

Yaya menahan senyumnya dan mengangguk kecil.

"Kenapa?" Taufan memajukan wajahnya demi bisa melihat Yaya. Yaya balas menatapnya, lalu kembali pada sang Raja Langit di depan mereka.

"Karena kamu Taufan."

"Jawaban macam apa itu?"

Yaya tergelak. Membiarkan Taufan misah-misuh di belakangnya.

Sebenarnya jawaban itu sama dengan yang ia lontarkan atas pertanyaan Boboiboy saat mereka jadian dua tahun lalu. Boboiboy bertanya alasan mengapa ia menyukai cowok itu, dan Yaya menjawabnya 'Karena kamu Boboiboy.'

"Pasti karena aku lebih ganteng, 'kan?" tebak Taufan percaya diri.

"Wajah kalian sama, Taufan. Jadi kalian sama-sama ganteng." ujar Yaya membuat Taufan menyengir malu.

"Tapi makasih lho." ucap Taufan tiba-tiba. Yaya menatapnya tanya. "Karena udah jadiin aku elemental favorit kamu. Aku jadi baper."

Yaya tergelak seraya menggelengkan kepalanya pelan. Taufan dengan kejujurannya, dan sifat lebaynya itu benar-benar sangat menghiburnya.

"Nanti aku pamer ah ke Halilintar sama Gempa."

"Jangan buat keributan lagi, Taufan." tegur Yaya. Ia tentu tidak mau kejadian saat Taufan dan Halilintar bertengkar kembali terulang.

"Nggak pa-pa. Lagipula aku kangen berduel dengan mereka."

Yaya memutar matanya malas. "Kalian sama-sama Boboiboy. Jadi aku menyukai kalian semua, oke?"

"Tapi aku yang terfavorit." balas Taufan tersenyum lebar.

Yaya mencibir namun tak lama ia tertawa pelan. Mereka berdua kembali memandangi langit jingga di atas sana dengan senyuman di wajah masing-masing.

Namun satu hal mengingatkan Yaya hingga gadis itu tersentak.

"Taufan, tas aku mana?"

"Oh iya! Ketinggalan di jalan!"

"TAUFAAANNN!"

.

.

.

.

finizh


a/n :

Halow halow

Ohya, disini aku buat Yaya nggak punya jam kuasa. Jadi cuma Boboiboy aja. Terus kuasa dia cuma Halilintar, Taufan, sama Gempa. Karena kalo lebih dari itu aku bingung buat ceritanya gimana /plak

Ide ini tiba-tiba muncul pas aku mau tidur kemaren. Akhirnya langsung ditulis, ngalir aja kayak air dan taraaa~ jadilah ff ini. Gatau deh fluffnya dapet apa ngga, karena daridulu ngebayangin BoYa dan TauYa di cerita yang sama, tapi bingung cara realisasiinnya(?) gimana.

Untung aja ide ini keluar wakakakak. Walaupun gaje sih sebenernya /dibuang

Okee itu aja ya ges ya. Thank you udah nyempetin baca. Have a nice day!