"She's Mine" by Meltavi

Boboiboy © Animonsta Studios

Warn : AU, FaYi, Hurt/Comfort, Romance, OOC, gaje, dll.

Draft #3 : 11 April 2020

Happy Reading!

.

.

.


"Maaf ya, My. Aku memang hari ini nggak bisa temenin kamu ke toko buku," kata Fang, entah yang ke berapa kalinya ia meminta maaf pada gadis di depannya. Fang melirik ke belakang, tepat ke arah Ying yang sedari tadi diam tak berkutik semenjak adik kelas itu datang menghampiri kelas mereka saat bel pulang berbunyi nyaring.

Amy cemberut. "Yah, masa' nggak bisa lagi, sih?" Dia memainkan ujung rambutnya yang berwarna cokelat. "Apa jangan-jangan ... kak Fang sudah punya pacar, ya? Jadi nggak bisa jalan sama aku,"

"Eh?" Fang tersentak mendengar itu. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung ingin menjawab jujur apa tidak.

Masalahnya, ia dan Ying sudah sepakat untuk melakukan hubungan backstreet saja. Namun hubungan diam-diam seperti itu tidak semudah yang mereka bayangkan. Fang yang notabene-nya terkenal di sekolah ini menjadi incaran banyak siswi. Hal itu pasti membuat Ying sakit, meski gadis itu duluan yang mengusulkan hubungan ini.

"Kakak nggak punya pacar, kan? Yaudah, ayo temenin aku ke toko buku,"

Daripada semakin panas berada di sana, Ying memilih untuk melangkah keluar kelas, melewati Fang yang hampir saja memanggilnya. Ying tidak peduli lagi jawaban Fang atas ajakan adik kelas itu. Ia kesal pada fakta bahwa dirinyalah yang meminta hubungan seperti ini, tapi ia juga yang sakit. Ying menghela napas gusar, ia tak bisa mengelak bahwa ia menyesali keputusannya itu. Ia rasanya ingin cepat-cepat sampai rumah agar hatinya merasa lebih baik.

Ketika Ying berbelok setelah melewati gerbang sekolah, ranselnya ditarik sesuatu sehingga ia tidak bisa melangkah lagi. Berdecak kesal, gadis itu menoleh untuk memarahi pelaku yang sudah bisa ia tebak siapa.

"Lepas ah, mau pulang," protesnya, menggerak-gerakkan punggungnya agar tangan Fang melepaskan tarikan itu. Entah bagaimana cowok itu bisa mengejarnya, padahal Amy masih membujuknya tadi.

Fang menuruti perkataan Ying. Tangannya sudah terlepas dari ransel Yinh. Namun secepat kedipan mata, cowok itu sudah menempatkan dirinya di hadapan Ying, membuat si gadis tidak bisa kabur.

"Fang." ucap Ying tajam.

Bukannya takut, Fang malah membungkukkan badannya sedikit dengan kedua tangannya mendarat di bahu Ying. Jarak wajah mereka tinggal tersisa beberapa senti saja. Ying menelan ludahnya, gugup ditatap sebegitu intens oleh sang pacar.

"Cemburu, ya?" Entah itu pertanyaan atau godaan, Ying bingung karena suara cowok itu sangat lembut di pendengarannya.

Ying diam dan melarikan tatapannya ke arah lain agar tidak berpandangan dengan Fang. "Nggak." Satu kesalahan karena Fang sudah hapal gerak-geriknya saat berbohong.

Terkekeh, Fang kembali berdiri tegap tanpa melepaskan pandangannya dari gadis lucu berstatus pacarnya itu. "Aku tahu kamu cemburu." Ying meliriknya tanpa bersuara. "Kamu lucu kalo lagi cemburu," lanjutnya, menimbulkan semburat kemerahan di pipi Ying.

Fang menarik segaris senyuman. Satu tangannya terangkat, mengusap puncak kepala Ying yang masih tidak mau menatapnya.

"Kalau gitu ... besok kita umumin kalo kita udah pacaran," Ucapannya langsung membuat Ying menoleh kaget. "Oke?" tanya Fang tanpa memedulikan ekspresi terkejut sang gadis.

Fang merasa ini harus dilakukan agar Ying tidak terus-terusan ngambek karena selalu ada siswi yang mengajaknya jalan setiap hari. Tentu ia tidak mau Ying bersedih. Dan satu-satunya cara untuk mengatasinya ialah dengan mengumumkan hubungan mereka yang sebenarnya.

"Nggak, Fang. Aku–"

"Apa yang kamu takutin, Ying?" sela Fang. Tangannya berhenti mengusap surai hitam pacarnya dan turun di sisi tubuhnya. Ying bungkam. Fang mengambil kesempatan itu untuk melanjutkan. "Aku tahu kamu khawatirin sesuatu,"

Ying menunduk kala merasakan sentuhan tangan Fang di jemarinya. Perkataan Fang barusan sungguh tepat sasaran, karena Ying memang khawatir akan reaksi semua orang tentang hubungan mereka. Tapi ia tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.

"Ying." Pipinya dicubit pelan. "Jangan nunduk kalo aku lagi ngomong." ujar Fang membuat Ying akhirnya berani menatapnya. "Sekarang bilang sama aku. Apa yang kamu takutin kalo orang-orang tahu hubungan kita?"

Ying menggigit bibirnya. Rasa ragu terus menggorogotinya untuk berkata jujur pada Fang. Ia merutuki dirinya keras-keras karena sudah memperumit semua ini, dan juga merepotkan Fang. Belum genap sebulan mereka berpacaran, tapi ia sudah membuat masalah.

"Ying."

Helaan napas dikeluarkan. "Aku takut sama penilaian orang tentang kita, Fang." cicitnya. Ia menurunkan pandangan, tidak mau melihat Fang yang kini mengerutkan dahinya bingung. "Gimana... gimana kalo mereka bilang kita nggak cocok? Gimana kalo banyak yang benci kamu? Gimana–"

"Syut." Tiba-tiba saja tangan besar Fang mendarat di wajah Ying. Gadis itu langsung diam sambil memejamkan mata akibat sentuhan dadakan itu. "Kebiasaan, deh. Khawatirin yang nggak-nggak."

Ying menyingkirkan tangan Fang di wajahnya. "Bukan itu, Fang. Aku–"

"Udah, stop. Aku nggak mau denger lagi," potong Fang, membuat bibir Ying cemberut. Gemas, dicubitnya pipi gadis itu sambil menarik-nariknya ke samping dengan lembut. "Oke, anak kecil?"

"Aku bukan anak kecil!" protes Ying tidak terima dipanggil seperti itu. Fang terkekeh.

"Tapi kayak anak kecil ah," ujar Fang melepaskan cubitannya. "Lucu soalnya." Ying memutar matanya, sementara Fang tidak bisa lagi menahan senyumnya.

Setelah itu, Fang menurunkan ransel Ying dari pundak untuk ditentengnya dengan tangan kiri. Belum sempat Ying bereaksi, cowok itu sudah mengamit tangannya untuk digandeng. Menariknya pelan agar melangkah bersamanya.

"Ayo pulang. Nanti keburu sore."

Membuang napas, Ying akhirnya menurut, mengikuti langkah pacarnya itu.

Dan keesokan harinya, Fang benar-benar mengumumkan hubungan mereka.

.

.

.

.

finizh