Disclaimer: Cuma minjam.
Warning:Bahasan kurang jelas. Typo. ImmortalNaru. DoujutsuNaru. KekkaiGenkaiNaru. Dll.
Chapter 2.
Uzumaki Naruto. Sang pahlawan zaman dahulu, yaitu pahlawan yang memperjuangkan perdamaian dunia dari musuh-musuh nya yang ingin menghancurkan dunia.
Kini hanya dapat terdiam dan penuh tidak percaya, saat mendengar cerita dari dua gadis didepannya.
Kota sihir? Dunia modern? Konoha City? Dan yang membuat dia kebih kaget adalah, pengguna chakra dipandang rendah sekarang.
Yang menurut nya alasan mereka cukup tidak masuk akal. Dan jika bukan pengguna chakra yang dulunya mati-matian melawan musuh yang diluar nalar manusia biasa. Apa yang akan terjadi pada dunia ini?
"Apa semua kota melakukan hal tersebut?" Tanya Naruto lemah.
Yah, dia saat ini merasa lemah. Dia mengingat perjuangan teman-temannya untuk perdamaian, tapi apa? Kini masa depan sama sekali tidak mengenang perjuangan mereka.
"Ha'i"
Naruto tersenyum aneh saat melihat anggukan dari dua gadis itu. Dia tertawa kecil, lalu melangkah kearah kuil.
Duaar! Braakhh.. Boommm..
Shion dan Hinata terperanjat kaget, saat tiba-tiba saja Naruto menghantam kan tinjuan nya ke kuil, sampai bangunan itu hancur.
"Sialan! Jadi perjuangan kami hanya di anggap angin lalu" Ujarnya lirih.
Hinata dan Shion menatap punggung Naruto sedih. Entah kenapa? Mereka dapat merasakan kesedihan sosok pahlawan didepan mereka ini.
"Tidak semua orang beranggapan seperti itu Naruto-sama.. Kami masih percaya akan perjuangkan Naruto-sama dan teman-teman anda"
"Benar, itulah mengapa kami selalu berdo'a supaya anda bangun kembali"
Naruto membalikkan badannya. Dia dapat melihat dua gadis itu kini berdiri dibelakangnya sambil tersenyum.
Naruto tersentak saat melihat bayangan istrinya dan juga Shion dahulu, ada dibelakang dua gadis itu juga ikut tersenyum.
Naruto menutup matanya lalu menghela nafas. Dia kembali tersenyum, mungkin ini memang takdir nya.
"Terimakasih" Ucapnya tersenyum menatap dua gadia itu.
Sedangkan kedua gadis itu hanya dapat memerah. Sungguh senyum Naruto membuat jantung mereka berdetak kencang.
"A-ano.. H-habis ini, anda a-akan pergi kemana?" Naruto tertawa kecil, saat Hinata bicara gugup.
"Aku juga tidak tau? Aku baru saja terbangun, dan aku sama sekali tidak tau apa-apa" Jawabannya.
"Bagaimana jika anda ikut dengan kami? Kebetulan kami hanya tinggal berdua" Tawar Shion tiba-tiba.
Tentu saja, itu membuat Hinata maupun Naruto kaget. Yah, kalau boleh jujur Hinata juga ingin menawarkan hal tersebut.
"Umm.. Bagiamana ya? Bukannya aku tidak mau.. Tapi apa kalian benar-benar tidak masalah dengan itu?" Tanya Naruto memastikan.
"Tentu saja! Aku yakin, Nee-chan juga tidak keberatan. Bukannya begitu.. Nee-chan?" Ujar Shion menyenggol lengan Hinata.
"Y-ya.. Aku tidak keberatan kok, lagian Naruto-sama adalah sosok penting bagi kami"
Naruto menggaruk tengkuknya. Dia merasa sedikit tidak nyaman saat Hinata atau Shion memanggil nya dengan sufik Sama.
"Um.. Maukah kalian memanggil ku dengan nama saja? Tanpa sufik Sama? Jujur saja aku tidak nyaman akan hal itu" Ujarnya jujur.
"Eh? Apa tidak apa-apa, kami memanggil nama anda saja?" Tanya Shion mewakili Hinata.
"Yah, aku lebih suka kalian memanggil nama ku saja"
"Baiklah.. Kami akan memanggil anda dengan Naruto-kun" Ucap Shion kegirangan.
"E-ehehe.. Itu lebih baik" Gumamnya sweatdrop.
.
.
"Wow.. Kita akan tinggal didalam gedung ini?" Tanya Naruto menatap gedung menjulang tinggi.
Untuk pakaian yang mereka gunakan bukan yang tadi lagi. Untuk Hinata dia mengenakan pakaian kaos putih dibalut jaket berwarna lavender. Lalu bawahannya celana jeans hitam dan sepatu.
Untuk Shion, dia mengenakan kaos kuning, untuk bawahan dia mengenakan celana jeans biru diatas lututnya lalu sepatu berwarna hitam.
Dan untuk Naruto, mereka tadi sempat ke toko pakaian untuk membelikan Naruto beberapa pasang pakaian.
Contohnya yang dia pakai sekarang, dia mengenakan kaos oranye dibalut jaket hitam, dengan kancing dibuka. Lalu jeans abu-abu dan sepatu berwarna hitam.
"Ya, kita akan tinggal di hotel ini" Sahut Hinata.
"Walaupun hanya malam ini saja" Lanjut batin nya.
Mendengar apa yang dikatakan Hinata, Naruto tersenyum senang. Tanpa menunggu lama, dia langsung berlari kecil masuk kedalam.
Hinata dan Shion hanya dapat menepuk jidat, saat melihat kelakuan Naruto. Walaupun Naruto seorang pahlawan, tapi dia sangat konyol.
"Ayolah, sebelum dia membuat masalah"
Shion mengangguk setuju. Mereka langsung mengikuti Naruto yang sudah masuk lebih dulu.
"Kalau kau berjalan itu hati-hati anak bodoh!"
Hinata dan Shion membulatkan mata, baru saja masuk mereka disuguhkan sesuatu yang tidak ingin mereka lihat.
Terlihat kini kerah Naruto di tarik oleh seorang pemuda berbadan besar, surai oranye dengan model punk didepan meja Resepsionis.
Naruto menatap pemuda yang menarik kerahnya itu. Padahal dia tadi hanya tidak sengaja menabraknya, pemuda yang berdiri dibelakangnya.
Terlihat dibelakang pemuda surai oranye itu, ada seorang pemuda surai biru keputihan menatap mereka malas.
"Jirobo sudahlah.. Lagian aku tidak kenapa-napa" Ujar pemuda itu.
"Maaf tuan muda. Tapi aku tidak akan membiarkan bocah kurang ajar ini semena-mena!" Ujarnya menatap Naruto tajam.
Bukannya takut, Naruto malah menaikkan alisnya bingung. Apa Jirobo berusaha mencari perhatian pemuda dibelakangnya ini?
"Hahh~ Terserah kau saja. Tapi cepatlah, aku ak-"
Whus! Brakh!
Baru saja membalikkan badan, pemuda itu melihat tubuh Jirobo terbang lalu menabrak meja Resepsionis dengan keadaan pingsan.
"Kyaaa..."
Para wanita yang menjadi Resepsionis terlihat berjongkok ketakutan.
Pemuda itu kembali membalikkan badannya. Dan dia dapat melihat Naruto sedang menepuk-nepuk bajunya.
"Kau keberatan?" Tanya Naruto santai.
Pemuda itu langsung tersenyum melihat hal tersebut. Namun sebelum dia buka suara, ada yang lebih dulu bicara.
"Mitsuki-sama. Tolong ampuni dia, Naruto orang baru disini jadi dia tidak tau apa-apa"
Mitsuki menaikkan alisnya, saat melihat dua gadis kini berdiri didepan pemuda yang bernama Naruto itu.
Hinata menyesal membiarkan Naruto masuk lebih dulu. Dia lupa ini adalah hotel dari salah satu guru disekolah mereka, dan dia pernah mendengar anak dari gurunya itu sangat kejam.
"Hum.. Kalian tidak perlu khawatir, tadi itu adalah salahnya sendiri. Padahal Naruto-san tidak sengaja menabrak ku, tapi dia membesar-besarkan nya" Balas Mitsuki tersenyum sampai matanya terpejam.
Shion dan Hinata menatap pemuda itu tidak percaya. Padahal mereka pernah melihat Mitsuki menghajar murid yang tidak sengaja menabraknya.
Tapi ini apa? Dia seakan tidak peduli akan hal tersebut. Mereka yakin ada yang diinginkan oleh pemuda itu.
"Oh iya, nama ku Mitsuki, anak dari pemilik hotel ini" Ucapnya menyodorkan tangannya.
"Naruto" Balasnya menyambut salaman Mitsuki.
"B-baiklah Mitsuki-sama.. Kami pergi ke kamar kami dulu" Ucap Shion.
Pemuda itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Tangan Naruto langsung ditarik Hinata, supaya ikut dengannya.
Setelah kepergian Naruto dan yang lainnya. Senyum Mitsuki langsung lenyap, dia mengalihkan pandangan pada Jirobo.
"Bawa dia.. Dan cari informasi tentang pemuda tadi!" Perintahnya.
Setelah itu, muncul beberapa orang yang langsung membawa tubuh Jirobo pergi dari sana.
"Naruto ya.. Kelihatannya aku menemukan sesuatu yang hebat" Gumamnya tersenyum aneh, lalu pergi keluar dari hotel tersebut.
.
.
.
Dugh!
"Aduh! Kenapa kau tiba-tiba memukul ku?" Protes Naruto.
Baru saja masuk ke kamar mereka. Hinata tiba-tiba saja langsung memukul kepala Naruto.
"E-eh? I-itu karena salah Naruto-sama.. Kenapa anda baru tiba langsung mencari masalah" Tau karena dia kelepasan, Hinata langsung mengalihkan pandangannya.
Naruto yang mendengar alasan Hinata menghela nafas. Yah, mau bagaimana lagi dia hanya melindungi diri.
"Ya, maaf.. Habisnya dia yang cari masalah lebih dulu" Balasnya.
Shion hanya dapat menghela nafas, dia tidak menyangka kakaknya itu berani memukul Naruto.
"Naruto-kun, kau tau dia tadi adalah anak dari Orochimaru. Dia adalah guru di sekolah kami" Naruto sama sekali tidak terkejut mendengar hal tersebut. Karena dia memang mengenal pemuda tadi.
"Dan yang kami tau, dia biasanya sangat kejam. Aku yakin dia pasti menginginkan sesuatu dari Anda, sampai-sampai melepaskan anda dengan mudahnya" Jelaskan Shion.
Naruto mengibaskan tangannya pertanda tidak perlu khawatir. Tanpa Shion katakan pun, Naruto tadi dapat merasakan niat buruk dari Mitsuki.
"Tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja" Balas nya, lalu dia langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur ukuran besar itu.
Hinata yang melihat kelakuan Naruto menjadi kesal. Shion yang menyadari nya langsung memegang bahu Hinata.
"Lebih baik kita mandi. Biarkan Naruto-sama istirahat"
Mau tidak mau, Hinata mengangguk setuju. Mereka berdua langsung berjalan ke arah kamar mandi meninggalkan Naruto yang tiduran.
Setelah mendengar suara pintu di tutup. Naruto langsung bangkit dari posisi tidurnya.
"Bagaimana menurut kalian?" Tanyanya entah pada siapa.
"Hum? Kau menanyakan hal apa?" Tanya suara berat.
"Hahh~ Ya, tentu saja kota ini? Bahkan aku hanya dapat merasakan pengguna chakra sangat sedikit" Jelasnya.
"Hahh~ Kami juga merasakan nya, bahkan pemuda tadi memiliki chakra yang cukup besar" Balas suara berat lainnya.
Naruto mengangguk setuju, dia juga dapat merasakan Chakra pemuda tadi. Hampir sama persis dengan Chakra pemuda itu dahulu.
"Tapi Chakra pemuda tadi tidak sebesar milik dua Ojou tadi"
"Yah, Rubah busuk ini benar. Chakra dua Ojou tadi bahkan hampir seperti Uzumaki" Balas suara cempreng.
"Rakun jelek, siapa yang kau panggil Rubah busuk ha?"
"Kyakyakya... Tentu saja kau!"
"Berani-"
Naruto langsung memutus link alam bawah sadarnya. Jika dia terus mendengar, bisa-bisa sampai malam pun perdebatan dua di antara partner nya itu tidak akan selesai.
Tanpa mengatakan apapun, terlihat iris Naruto yang tadinya biru berubah menjadi lavender dengan guratan.
Itu adalah Doujutsu dari salah satu klan terkenal terdahulu, yaitu Byakugan. Naruto terus mencari pemuda tadi.
"!?"
Naruto tersentak, saat melihat disalah satu gang pemuda tadi kini sedang mencekik seorang gadis surai hitam sebahu.
Namun itu hanya beberapa saat, karena terlihat dia kembali melepaskan cekikikan nya pada gadis itu.
Naruto dapat melihat Mitsuki terlihat berbicara dengan nya, lalu dia pergi menjauh gadis yang terduduk itu.
"Hahh~ Tidak aku sangka, bahkan Sarada ada dizaman ini" Gumamnya menghilangkan Byakugan nya.
Naruto kembali membaringkan tubuhnya, dia sebenarnya penasaran siapa yang membuat pengguna chakra dibenci.
Karena lelah atau apa, perlahan Naruto menutup matanya. Tidak beberapa lama terdengar suara dengkuran halus disana.
Hinata dan Shion yang telah selesai mandi, terlihat keluar dari sana. Mereka tersenyum kecil saat melihat wajah damai pemuda surai silver itu.
"Hahh~ Dia terlihat seperti anak-anak saat tidur" Gumam Hinata.
"Hum, kau benar Nee-chan" Setuju Shion.
Setelah itu mereka juga memutuskan untuk tidur, mereka mengambil posisi dikanan dan kiri Naruto, membuat pemuda itu ditengah mereka.
.
Skip Day
.
"Ano? Kalian mau kemana?"
Baru saja bangun dari tidurnya, Naruto dibuat heran melihat kini Hinata dan Shion telah mengenakan seragam, atasan hitam dengan garis biru lalu rok berwarna biru dengan pita di leher mereka.(Bayangin aja seragam Raizen Academy)
"Ah, sebenarnya hari ini kami mulai masuk sekolah lagi Naruto-kun, jadi kita akan tinggal di asrama lagi" Jawab Shion.
Memang sebenarnya Hinata dan Shion tinggal di hotel ini karena tidak memiliki rumah lagi, saat mereka libur panjang.
Jadi mereka tinggal di hotel, mau bagaimana pun mereka telah pisah dengan keluarga mereka.
"Eh? Jadi apa kalian akan meninggalkan ku?" Tanya Naruto.
Yah sebenernya dia tidak masalah jika di tinggal, dia bisa mencari pekerjaan dan menyewa sebuah apartemen.
"Tidak, kami telah mendiskusikan tadi malam, Naruto-kun akan ikut bersama kami ke Academy"
"Tapi? Aku bukanlah murid disana, apa mungkin aku dikasi masuk?" Tanyanya bingung.
Mau bagaimana pun, Academy selalu untuk murid pasti orang asing dilarang masuk.
"Kami akan membuat rekomendasi anda jadi murid pindahan" Jelaskan Hinata.
"Murid pindahan?"
"Ha'i.. Tapi anda akan di tes terlebih dahulu bisa masuk atau tidak, karena Academy Konoha adalah sekolah elit"
Naruto mengangguk paham, dia sebenarnya tidak suka bersekolah lagi.Tapi demi melindungi dua gadis yang masih percaya padanya ini harus dia lakukan.
"Baiklah, aku mandi terlebih dulu"
"Ha'i"
.
.
.
Setelah melakukan perjalanan setengah jam menggunakan taksi, akhirnya Hinata, Shion dan Naruto telah sampai di gerbang Academy.
"Wow"
Itulah yang Naruto katakan saat melihat para murid yang cukup banyak memasuki gerbang itu.
"Ayo Naruto-kun" Ajak Hinata menggandeng tangannya.
Naruto menyadari, saat mereka baru saja melewati gerbang. Banyak mata yang menatap mereka, bahkan dia dapat merasakan perasaan benci disekitar nya.
Dia juga merasakan genggaman tangan Hinata mengerat, saat dia menoleh pada wajah gadis itu Hinata hanya menunduk tidak berani menatap murid lainnya.
Begitu juga Shion, mereka terlihat enggan menatap murid lainnya. Dia menghela nafas panjang, dia tidak menyangka akan ada yang merasakan seperti dia rasakan dulu.
"Jangan takut, selama aku bersama kalian tidak akan ada yang bisa menyakiti kalian" Ujar Naruto.
Hinata dan Shion tersentak mendengar apa yang Naruto katakan. Mereka tidak menyangka Naruto menyadari ketakutan mereka.
Walaupun sudah memasuki gerbang, Naruto tidak menyangka wilayah sekolah ini luas sekali.
Dia juga dapat melihat beberapa bangunan besar, dan yang satunya mungkin adalah sekolah mereka karena banyak murid ke arah sana.
Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, akhirnya kini mereka ada didepan kantor kepala sekolah.
Tanpa berlama-lama Shion langsung mengetuk pintu tersebut, setelah itu terdengar suara menyuruh mereka masuk.
"Permisi" Ucap mereka membuka pintu tersebut.
Sebenarnya Naruto sekarang ingin berteriak kaget, saat melihat di balik meja cukup besar dengan berkas duduk seorang kakek tua.
Wajah kakek itu sangat mirip dengan Sandaime yang mengurus dia waktu kecil. Dan kini dia ada didepan nya, tentu saja dia kaget.
Namun mengingat Hinata dan Shion juga ada, jadi Naruto dapat mengontrol emosi nya.
"Maaf mengganggu anda Kepala sekolah, kami datang ingin mendaftarkan sepupu kami menjadi murid pindahan" Jelaskan Hinata atas kedatangan mereka.
"Dan ini berkasnya" Lanjut nya menyerahkan berkas yang mereka buat. Bersyukurlah zaman modern ini mereka jadi dengan mudah membuat nya.
Pria itu tidak langsung menjawab, dia memperhatikan Naruto dari atas sampai bawah, lalu melihat data yang mereka berikan.
"Naruto.. Tanpa klan, dan kekuatan tidak diketahui?" Gumamnya.
"Hinata, Shion.. Kalian bisa pergi ke kelas terlebih dahulu, aku akan mengurus sisanya" Ujar pria tua itu menyimpan berkas Naruto.
"Ha'i.. Kami mohon undur diri kepala sekolah"
Mereka membungkuk sebentar, lalu keluar dari ruangan tersebut. Kini disana hanya ada Naruto dan kepala sekolah tersebut.
"Pertama-tama perkenalkan, namaku Sarutobi Hiruzen, kepala sekolah disini"
"Saya Naruto, sepupu dari Hi-"
Naruto membulatkan matanya saat merasakan bahaya dari belakangnya, dengan cepat dia berputar dan memberikan tendangan sapuan.
Duagh! Whus! Brakh!Tendangan Naruto dengan mulus mengenai pinggang seorang pria surai silver, dia mengenakan masker di wajahnya.
Pria itu tersandar kedinding dengan keras, akibat serangan Naruto. Naruto tidak kaget lagi saat melihat wajah yang kini mirip dengan gurunya dahulu.
"Apa maksudnya ini!" Tanya Naruto datar, dia menatap kepala sekolah itu dingin.
Tubuh pria tua itu terlihat menegang, saat iris biru itu menatapnya dingin. Padahal tadi dia hanya ingin mencoba sedikit kemampuan pemuda itu.
"Ugh.. Tadi itu sakit sekali"
Mereka mengalihkan perhatian pada pria yang kini mulai berdiri kembali. Dia terlihat meregangkan tubuhnya di beberapa bagian.
"Maaf Naruto, aku tadi hanya ingin melihat kemapuan mu. Tidak aku sangka hanya satu tendangan kau bisa membuat Kakashi seperti itu" Ujar kepala sekolah tersebut.
Naruto kembali mengalihkan pandangan pada pria tua itu, dia tau mereka hanya ingin melihat apa dia pengguna chakra atau tidak.
Tok! Tok..Terdengar suara ketukan pintu dari luar, setelah itu masuklah seorang wanita surai pirang panjang dengan tanda didahi nya.
"Sensei kenapa kau memanggilku?" Tanya wanita itu.
"Maaf Tsunade, aku ingin kau membawa murid pindahan ini ke ruang tes" Jelaskan Hiruzen.
Wanita itu memperhatikan Naruto dari atas sampai bawah, dia tau pemuda itu adalah orang yang biasa.
"Ta-"
"Dan lakukan pertarungan kecil dengan nya" Lanjut nya.
Wanita itu menaikkan alisnya, yang benar saja. Bisa-bisa dia mencelakai pemuda itu, padahal Kepala sekolah tau dia adalah seorang yang memiliki fisik super.
"Haa~ Terserah padamu saja... Ayo Gaki, kau ikut dengan ku" Ujarnya meninggalkan ruangan tersebut, disusul Naruto dibelakangnya.
Terjadi keheningan setelah kepergian mereka, Hiruzen melirik salah satu guru disekolah nya ini.
"Kau tidak apa-apa Kakashi?" Tanyanya saat melihat pria itu dari tadi memegang pinggang nya.
"Ugh.. Anda tidak mengatakan dia memiliki kekuatan yang mengerikan, jadinya beberapa tulang ku patah" Ujarnya walaupun masih dengan senyumnya.
Hiruzen yang mendengar nya tertawa kaku, padahal dia tadi hanya ingin melihat apa pemuda itu mengeluarkan kekuatan yang tabu untuk banyak orang.
T.B.C
Yo.. Akhirnya chap 2 bisa aku update. Yah smoga kalian suka dengan chap ini, walaupun aku tidak menyangka cukup bnyak yang menyukai konsep kayak gini :)
Aku mengharapkan saran-saran dari kalian, siapa tau itu bisa membuat ku meluaskan imajinasi ku:)
