Blessing
.
.
Toji Fushiguro with Megumi AU
appreciation fanfic for Papa Toji.
.
.
"Selamat, putra Anda sudah lahir."
"Dokter, lalu bagaimana dengan istriku?"
.
.
Hari terhancurku, ketika diriku benar-benar harus kehilangan salah satu cahaya terbesar dalam hidupku. Satu-satunya wanita yang berhasil masuk dalam kehidupanku dan mengubah suasana hatiku. Cakrawala mulai terlihat, pertanda bahwa sebentar lagi malam hari akan tiba. Kaosku lepek terkena keringat, begitupun badanku yang bau sedikit asam karena seharian terkena sinar matahari.
Sejujurnya aku tidak yakin, apakah putraku tidak akan rewel ketika berada dalam gendongan Ayahnya sore ini. Kakiku berhenti didepan sebuah daycare tempat biasa aku menitipkan putraku, Fushiguro Megumi. "Ah, Toji-san!" pemilik daycare pasti langsung mengetahui jika aku berdiri didepan daycare.
Aku selalu menjadi seseorang yang paling terakhir dalam menjemput Megumi, mengingat pekerjaanku tidak tentu. Ku bungkukkan badanku ketika sang penjaga membawa putraku yang terlelap untuk kembali pulang. "Dia sangat rewel hari ini. Tadi saya lihat, giginya sedang tumbuh," aku mengerti. Rasa tidak nyaman mungkin akan mengganggu Megumi beberapa hari.
"Terima kasih," kataku sambil membawa Megumi dalam pelukan. Dalam gendongan, bocah copyanku ini sama sekali tidak terusik bahkan ketika aku melewati banyak orang yang sedang berbicara keras-keras. Setelah membeli susu dan beberapa makanan, aku kembali berjalan menuju flat murah yang disewakan ditepi kota. Badanku lengket, rasanya ingin segera mandi dan makan malam.
"Tunggu disini. Ayah akan mandi terlebih dulu," kataku pada Megumi yang tertidur lelap diatas kasur. Segera mungkin aku mandi, takut jika anakku terjatuh jika tidak ada aku disampingnya. Mengingat minggu lalu, Megumi terbentur tembok ketika aku sedang membuatkan sebotol susu.
Sejak istriku pergi, aku selalu menjadikan Megumi sebagai alasanku tetap ada. Rasa traumatisku yang kembali tumbuh ketika Megumi hadir, rasanya begitu menyesakkan. Ketika keluargaku bahkan tidak pernah menganggapku sebagai sebuah kebanggaan dan aku berhasil kabur meskipun Ibuku sempat menyumpahi bahwa aku akan jadi gelandangan jika melawan, setidaknya saat ini aku benar-benar tidak jadi gelandangan meskipun hanya hidup seadanya.
Zenin Toji, rasanya cukup aneh hingga aku memilih untuk memakai nama marga istriku. Fushiguro Toji, bukankah itu terdengar lebih keren? Terlalu lama aku melamun, bahkan kini air shower terasa lebih dingin daripada disaat awal aku mandi.
Suara tangisan Megumi membuyarkan lamunanku, ketika dengan segera aku mematikan shower dan menyambar handuk untuk keluar dari kamar mandi. Putraku sedang menangis, tangan dan kakinya bergerak gelisah sambil menggapai udara kosong. "Hei," aku bersuara, membuat Megumi menoleh dan menangis semakin kencang.
"Ayah disini. Apa gigimu sakit?" Megumi mengusal pada leherku, sesekali menggigit bahuku mungkin karena gigi susunya gatal. Dengan terpaksa aku berganti sambil menggendong Megumi karena bocah itu enggan lepas. "Lihat? Ayahmu sudah tampan, jadi berhentilah menangis, oke?" aku tidak yakin bahwa Megumi paham.
Tetapi ia langsung berhenti menangis.
Aku membuatkannya bubur bayi yang sempat dikirimkan oleh Gojo Satoru selaku atasanku sebagai hadiah ulang tahun Megumi. Aku tidak tahu mengapa bosku jadi sering menempel padaku, apalagi ketika di lapangan. Dia bilang bahwa Megumi sangat lucu. Aku jadi berpikir, apakah dia ingin merebut Megumi dariku?
"Yyahhh...yyahhh!" celoteh bayi berusia delapan bulan didepanku sambil tersenyum. Aku mendengus geli saat giginya terlihat jelas, dia masih ompong. "Ayo makan!" aku menyuapi Megumi dengan telaten. Meskipun baru pertama kali memiliki seorang anak, aku belajar otodidak dari melihat acara di tv ataupun membacanya di majalah.
Megumi tumbuh dengan baik, bahkan gizinya terpenuhi meskipun sebagian gajiku harus kugunakan hanya untuk putra semata wayangku. Biaya flat sudah dibayarkan oleh perusahaan tempatku bekerja karena kontrak kerja. Setelah makan malam, aku membawa Megumi kembali ke kasur. Sudah pukul delapan malam, waktunya ia tidur. Bau minyak telon menusuk hidungku, membuatku dengan gemas langsung menghujani Megumi dengan ciuman kasih sayang.
Hidup berdua, rasanya bukanlah sesuatu yang sulit. Ini jauh lebih baik dari yang aku pikirkan. Ingatanku kembali pada beberapa bulan lalu, ketika aku berniat untuk gantung diri meninggalkan Megumi seorang diri dengan sepucuk surat yang entah akan dibaca oleh siapa.
Namun tangisan Megumi membawaku kembali sadar, bahwa disana masih ada pria kecil yang butuh topanganku sebagai orangtua yang tersisa, setidaknya sampai aku mati karena usia ataupun suatu hal tanpa embel-embel bunuh diri. Aku masih bisa melihat Megumi nantinya sekolah, kuliah, atau bahkan jika Tuhan berkehendak bahwa Megumi akan menjadi seorang Presiden atau Perdana Menteri.
Air mataku menetes bersamaan dengan kesadaranku yang mulai memudar. Megumi telah terlelap, begitupun denganku yang perlahan-lahan mulai masuk kedalam alam mimpi.
Megumi, Ayah benar-benar menyayangimu.
...
"Bagaimana, Toji?" aku terdiam, kedua orang tua didepanku menunggu jawaban. Sore itu, mereka datang tanpa pemberitahuan. Membuatku yang sedang mengganti pakaian Megumi sedikit terkejut akan kehadiran mereka yang tiba-tiba. "Putramu akan lebih mujur hidup bersama keluarga Zenin. Bukan begitu, Fushiguro Toji?" Ayahku berkata sedikit menyindir, mengingat fakta bahwa pria itu tidak suka aku mengganti nama dan memilih keluar klan.
"Setidaknya jika Ayahnya tidak berguna, anakmu masih bisa diharapkan," kata Ibuku. "Menjadi seorang duda di usia muda dan bekerja dengan gaji pas-pasan, bukankah itu hanya akan menyulitkanmu dengan merawat Megumi?"
Megumi hanya diam dalam pangkuanku, memainkan jemari kecilnya tak peduli bahwa kami tengah berdiskusi mengenai nasibnya. Pandanganku menyendu, memang benar bahwa jika hidup denganku Megumi hanyalah anak yang hidup dibawah garis kemiskinan. Namun menitipkan pada keluarga Zenin, sama saja aku merusak masa depan putraku dalam klan menyedihkan itu.
"Toji."
"Baiklah, 2 atau 3 tahun lagi. Setidaknya beri aku waktu hingga aku benar-benar siap melepas Megumi jauh dariku."
Entah apa yang aku katakan, hanya saja kalimat itu yang muncul dari pikiranku. Aku terlalu khawatir pada masa depan Megumi, karena uanglah yang akan membuat Megumi menjadi seseorang yang bahagia. Sebatang rokok menjadi temanku untuk bersantai di balkon belakang. Mungkinkah aku harus menemukan seseorang yang tepat, atau aku harus mencari pekerjaan lain untuk menutupi hutang dan mendapatkan gaji besar?
...
Aku tidak pernah terpikirkan oleh suatu hal, dimana pada akhirnya aku benar-benar berada pada titik terendah dan aku menjadi seorang pejudi serta seseorang pembunuh bayaran. Hanya dua kali dalam seminggu, Megumi dan aku bertemu. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di tempat Satoru yang dengan senang hati merawatnya. Satoru tidak bertanya banyak, mungkin karena aku hanya bilang bahwa sekarang aku bekerja diluar kota.
Dia menyayangkan kepindahanku dari pekerjaanku sebagai seorang pekerja proyek dibawah perusahaannya. Dibawah komando seorang Ryomen Sukuna yang seorang pimpinan organisasi gelap, aku menjadi salah satu tangan kanannya dalam membabat habis musuh-musuhnya.
Malam ini, dua orang berhasil aku habisi. Sepasang suami istri yang memiliki hutang besar namun berfoya-foya sedikit membuat Ryomen-sama naik pitam. Seorang bayi tak luput dari pandanganku, dia menangis mendengar teriakan Ibu dan Ayahnya yang telah tergeletak tak jauh darinya. Aku hendak menusuk kerongkongannya, ketika akhirnya bayang-bayang Megumi menghentikanku.
Rasanya seperti... aku akan membunuh Megumi.
"Tch," akhirnya kuputuskan membiarkannya hidup, lantas membawanya keluar pergi dan membakar rumah mereka. Kuletakkan bayi itu di gang sempit dekat perkotaan, berharap seseorang mau mengadopsinya. "Maaf," kataku sebelum akhirnya pergi.
"Saya telah melaksanakan tugas saya, Ryomen-sama," aku membungkuk hormat pada pria bersurai merah muda didepanku. Dipangkuannya ada seorang pria kecil yang sangat mirip dengannya, Yuuji. "Baiklah, ini bayaranmu," dia menggeser satu amplop coklat yang sedikit tebal.
"Kerjamu sangat bagus."
"Terima kasih," ujarku.
"Kau boleh pulang. Akan kupanggil sewaktu-waktu jika aku membutuhkanmu," katanya. Aku membungkuk lagi dan segera keluar dari ruangannya. Sekelebat bayangan Megumi kembali hadir di pikiranku. Aku menatap amplop coklat milikku, kemudian dengan sumringah segera bergegas untuk menjemput Megumi.
Kuganti jas hitamku dengan baju lusuh certa celana hitam yang biasa kupakai, setelah sebelumnya juga mencuci tangan dan membersihkan noda dikulitku.
"Ah, Megumi! Lihat siapa yang datang," Satoru tengah berdiri dihalaman rumahnya bersama Megumi yang memegang sebuah biskuit. Aku tersenyum, lantas mendekat dan mengambil alih Megumi. "Maafkan aku telah merepotkanmu," kataku pada Satoru.
"Tidak masalah. Tapi Megumi merindukan Ayahnya," kami melirik Megumi yang menepuk-nepuk pipiku sambil tertawa kecil. Dia benar-benar merindukanku. "Kau benar-benar merindukan Ayahmu, eh?" Megumi hanya terkikik kecil sambil membawa boneka dinosaurus biru, sepertinya Satoru membelikannya hari ini.
"Baiklah, terima kasih sudah menjaga Megumi hari ini. Maaf merepotkanmu sekali lagi," aku membungkuk dan segera membawa Megumi pergi. Niatnya, aku akan membelikan Megumi beberapa helai pakaian baru dan juga menyetok susu yang mulai menipis. Kami masuk ke toko swalayan sambil aku mendorong troli sementara Megumi berada dalam gendonganku. Beberapa wanita menatap gemas pada Megumi, sesekali terkikik ketika bocah ini meracau didepanku ketika melihat sesuatu yang menarik.
"Kasus pembunuhan kembali terjadi menimpa keluarga dari keluarga Michimaru..." telingaku menangkap suara dari tv LCD yang terpasang di swalayan. Kasus pembunuhan yang baru saja kuselesaikan telah tercium polisi. Beberapa orang berbisik, menghina pembunuh keji yang menghabisi keluarga sebaik mereka. Aku segera menyelesaikan transaksi dan membawa Megumi pergi.
"Tidakkah pembunuh itu berpikir jika suatu saat hal itu menimpa keluarganya?"
"Bagaimana jika dia mempunyai putra? Tch, Ayah yang buruk."
Cemoohan mereka menjadi beban pikiran padaku yang memang merupakan tipikal pria yang sedikit berpikir keras ketika sesuatu mengusikku. Meskipun terkenal tenang dan percaya diri, dibelakang aku hanyalah pria yang punya rasa traumatis besar karena omongan orang-orang disekitarku. "Yahhh?" Megumi menyadarkanku dari lamunan, ketika aku sadar bahwa sekarang kami sudah berdiri didepan pintu flat.
Kami masuk, kemudian aku segera mendudukkan Megumi untuk menyiapkan air. Kami akan mandi bersama, setidaknya untuk menghemat waktu karena aku ingin segera beristirahat karena kepalaku pusing. Setelah mandi dan menyiapkan susu, akhirnya aku bisa berbaring dengan Megumi yang menyedot botol susunya sambil bermain dengan dua boneka yang dimilikinya.
Apa aku Ayah yang buruk?
Kusibak rambut hitam jabrik milik Megumi yang menurun dari Ibunya. Tatapanku menyendu, kembali terpikirkan jika saja Ibunya melihat dari atas bahwa aku membesarkannya dengan uang dari hasil menghabisi nyawa orang lain. "Yah!" Megumi menunjukkan bonekanya padaku, mungkin bermaksud supaya aku ikut bermain.
"Baiklah. Aku Dinosaurus akan menculik Megumi! Rawwrr" kekehan keluar dari mulutku ketika tawa Megumi mengalun indah bak melodi. Kami bermain bersama setidaknya sampai pukul sembilan malam. Aku membawa Megumi agar tertidur dengan nyaman. Entah apa yang menungguku esok hari, tapi aku yakin bahwa Megumi akan tumbuh menjadi anak yang kuat.
...
"Zenin? Maksud Anda?"
"Aku ingin kau menghabisi seluruh anggota keluarga Zenin. Apa kau keberatan, Fushiguro Toji?" Ryomen-sama menatapku yang kali ini sedikit ragu. Aku memang tidak pernah menuliskan riwayat keluargaku sebagai seorang Zenin pada kontrak kerjaku. "Baik, akan saya lakukan," kataku.
Lagi-lagi aku berpikir dangkal.
Aku menjanjikan Megumi untuk dua sampai tiga tahun kedepan pada keluarga Zenin. Namun Ryomen Sukuna malah menyuruhku membabat habis sisa keluarga Zenin yang masih bertahan hingga sekarang. Ada sedikit rasa janggal ketika aku melangkah memasuki gerbang Zenin, melihat dua orang penjaga yang mengawasiku dari jauh.
Apakah aku harus kembali? Ataukah aku harus maju dan menghabisi semua anggota keluargaku termasuk Ayah dan Ibu? Namun pikiranku kembali melayang pada Megumi. Setidaknya jika Zenin hilang, aku bisa hidup lebih lama bersama Megumi.
CRASSHHH!
Akhirnya kuputuskan untuk membabat habis keluarga Zenin sebagai bentuk perlindungan pada putraku. Satu persatu tumbang, dengan katana maupun pistol yang aku bawa. Aku meringis mendapati bahwa aku bahkan harus membunuh adik-adikku yang sekarang terkapar bersama dengan darah dibawah mereka. Satu ruangan lagi, di rumah utama keluarga Zenin yang aku yakini bahwa Ibu dan Ayah tengah duduk disana.
"Itukah kau, Toji?" suara pria itu mengalun di telingaku dan membuatku melepas topeng yang aku kenakan. Aku menggigit bibirku, kemudian berjalan mendekat.
"Ya! Ini aku, Zenin Toji," kataku lantang padanya. Aku menatap raut wajah Ayahku yang terpantul dari kaca didepan kami. Dia tersenyum, "Tak kusangka bahwa kau memilih untuk bersekutu dengan Ryomen Sukuna dan menghabisi keluargamu sendiri," kata Ayahku.
"Toji," kali ini Ibuku bersuara.
"Ibu tidak pernah berpikir bahwa Anakku akan tumbuh menjadi seorang pembunuh yang dibayar. Bahkan menghianati keluarganya sendiri. Bukankah begitu, anata?"
Badanku gemetar, katanaku bahkan sudah siap untuk menebas keduanya kapanpun aku mau. "Tapi kami paham, bahwa disini kami yang salah padamu. Toji, aku yakin jika dirimu tidak mungkin langsung menyetujui untuk membunuh kami dalam waktu yang singkat, benarkan?" tanya Ibuku.
"H–ha'i, kaa-sama."
"Kau hanya ingin melindungi putramu, karena kami ingin mengambilnya darimu. Sejak kecil dirimu tidak sepandai saudara-saudaramu yang lain, maka kami menekanmu dengan kata-kata menyakitkan. Katakan, Toji. Apa kau benar-benar membenci kami?" tanya Ayahku. Aku hanya bisa terdiam. Disatu sisi aku membenci mereka yang terus menerus mengatur kehidupanku, namun disatu sisi aku tidak akan pernah lupa bahwa aku pernah besar dan mendapat kasih sayang disini meskipun tidak sebesar yang saudaraku dapatkan.
"Aku sangat menyayangimu, Toji. Meskipun aku tidak pernah mengatakan secara langsung bahwa aku benar-benar menyayangimu sebagai putra sulungku. Aku hanya ingin kau menjadi putra yang berhasil membawa nama Zenin," Ayahku tersenyum. "Lakukanlah. Sudah terlalu banyak beban yang kau tanggung, bahkan setelah istrimu pergi. Maaf aku baru mengatakannya, tapi kamilah yang membunuh istrimu pasca-melahirkan," mataku membulat ketika Ayahku mengatakannya.
Jadi, istriku tidak mengalami pendarahan?
"Kenapa? Kenapa Ayah dan Ibu tidak pernah membiarkan aku bahagia barang sedetikpun?" air mataku mengalir saat aku meneriakkan kalimat-kalimat itu. "Aku pikir jika Ayah dan Ibu tidak akan pernah mengusikku lagi setelah aku pergi dan keluar dari Zenin. Nyatanya, satu persatu apa yang aku punya kalian ambil, bahkan Megumi untuk dua atau tiga tahun lagi. Jika aku membiarkan Zenin tetap ada, apakah aku akan bahagia? Hanya Megumi..." aku mencengkeram katana milikku.
"...Hanya Megumi alasanku untuk hidup sampai saat ini."
"Lakukan, Toji. Kami patut membayar semua yang kami lakukan padamu."
CRASHHHH!
Aku memandang tubuh kaku didepanku. Semuanya habis, tidak bersisa. Tubuhku lemas bahkan kakiku menjadi seperti jelly.
Megumi tidak sepantasnya mendapatkan ayah seorang pembunuh yang bertangan kotor. Dia bayi kecil yang suci dan patut mendapatkan segalanya. Bayaranku kali ini cukup tinggi, namun pandanganku kosong saat menerima uang yang selama ini aku idam-idamkan. Kakiku melangkah jauh, bahkan aku tidak berbelok menuju rumah Satoru. Tujuanku hanya satu, aku harus meminta maaf pada mendiang istriku.
"Hei, apakabar?" tanyaku pada istriku. Kutaruh satu buket bunga yang selalu ia suka semasa hidupnya dulu. Lily putih, aku lantas berjongkok dan mengusap namanya dengan lembut. "Megumi telah tumbuh menjadi anak baik dan sehat. Tapi kau tau apa kebimbanganku? Aku bukanlah sosok Ayah baik yang bisa ada kapanpun anak kita butuh. Aku bukanlah sosok Ayah yang baik yang sempat menjual anakku pada keluarga sendiri. Kau tau? Aku membunuh Ibu dan Ayahku yang membunuhmu. Maafkan aku, aku hanya pria bobrok yang berusaha menjadi Ayah yang baik," hujan turun dengan deras, bak paham dengan isi hatiku sekarang.
"Ah, aku harus menjemput Megumi sekarang. Mungkin nanti aku akan kembali."
Seperti biasa, aku membawa Megumi pulang setelah menjemputnya. Hanya saja Megumi memang sedikit tenang hari ini, mungkin dia tau bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. "Kau anak baik," dia telah terlelap. Hari ini bonekanya dibiarkan tergeletak.
"Bagaimana jika aku meninggalkanmu?" tanyaku.
"Bagaimana jika aku bertahan dan kau tau bahwa Ayahmu dan keluarganya membuatmu menjadi anak yang tumbuh tanpa Ibu? Bagaimana... bagaimana jika suatu saat kau tau Ayahmu adalah buronan polisi? Begitu banyak pertanyaan dalam kepalaku yang menyangkut soal dirimu."
"Megumi... kau tau arti namamu? Hahahaha, aku sangat berterima kasih karena kau lahir ke dunia. Kau benar-benar menjadi alasanku untuk bertahan sampai sekarang."
Jika suatu hari memang aku harus mati, setidaknya aku bisa menitipkan Megumi pada orang-orang baik yang mungkin lebih mapan dariku. "Maksudnya? Kau tidak akan kembali dalam waktu yang lama?" akhirnya, keputusanku adalah dengan menitipkannya pada Satoru. Aku berbohong bahwa diriku akan berkelana jauh setelah berita keluarga Zenin dibabat habis menggema ke seluruh kota.
"Aku mohon, jagalah Megumi setidaknya untukku. Aku tidak bisa membawanya, pekerjaanku terlalu berbahaya," kataku. Satoru menyendu, kemudian menatap Megumi yang rewel karena sepertinya ia tau bahwa aku harus pergi sebentar. Atau mungkin, selamanya?
"Jaga dirimu, Megumi-chan. Ayah akan segera kembali dan membawa uang yang banyak!" kataku. Aku melambai ketika keluar dari pekarangan rumah, Megumi berkaca-kaca dan sesekali memanggilku hendak menangis. Aku berlari dan sebisa mungkin tak menghadap ke belakang. Jika saja takdirku mujur, mungkin hingga Megumi besar aku akan tetap berdiri dibelakangnya sebagai seorang Ayah.
Aku mengaku bahwa aku adalah anggota Zenin pada Ryomen Sukuna. Dia memang salah satu musuh klan Zenin sejak dahulu, turun temurun sejak beberapa generasi. Awalnya dia tertawa, mengira bahwa aku melawak dan tertekan karena membunuh satu keluarga sekaligus. Tapi akhirnya dia percaya, kemudian memukulku hingga babak belur, menusukku di dada, dan mungkin aku sekarat.
Asuransi kerja sudah aku ajukan pada Ryomen Sukuna dan ia menyetujuinya mau bagaimanapun karena aku adalah salah satu tangan kanan terbaiknya. Nafasku berat, hujan mulai turun mengenai tubuhku yang sudah remuk didalam karena hantaman benda tumpul. Pandanganku sedikit blur, namun senyuman dan tawa Megumi berhasil membuatku sedikit tersenyum.
Jika saja memang sekarang aku harus mati, hal yang patut aku syukuri bahwa Megumi telah bersama orang yang tepat. Satoru adalah pria mapan dengan kekayaan yang berlipat-lipat jauh diatasku. Tidak ada catatan kriminal, dia hanyalah seorang bos dari perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi. Megumi pasti akan senang, meskipun ia tidak akan tau bahwa Ayah kandungnya adalah seorang kriminal.
"Toji-kun?" aku menoleh, mendapati wanita cantik yang berdiri sepuluh meter di hadapanku. "Terima kasih sudah menjadi Ayah yang baik," katanya.
Aku tersenyum tipis. Benarkah aku adalah Ayah yang baik?
"Senang bertemu denganmu lagi."
...
Megumi, terima kasih dan maaf.
Salam sayang,
Ayahmu, Fushiguro Toji.
