1. Johnny's New Life
Seoul, 2005
Malam itu di tengah hujan deras yang mengguyur Kota Seoul, seorang pria nampak bergerak gelisah di depan ruang operasi. Itu Johnny, ia baru saja diberi kabar oleh kedua orang tuanya jika sang istri terjatuh di kamar mandi dan menyebabkan terjadinya pendarahan hebat. Dengan sangat terpaksa tim medis membantu kelahiran istri dari pria tampan itu tepat di bulan ketujuh kehamilannya. Johnny benar-benar kalut, ia berkali-kali mengutuk dirinya sendiri yang terlalu sibuk bekerja dan membiarkan Irene sendirian di rumah malam itu. Johnny benar-benar merasa tak tenang, ia sangat takut jika hal buruk akan terjadi pada orang yang amat dicintainya.
Samar-samar suara tangisan bayi yang lemah terdengar sampai ke depan ruangan. Tuan dan nyonya Seo yang sejak tadi ikut menunggu bersama Johnny nampak saling berpelukan, akhirnya cucu yang mereka dambakan selama ini benar-benar datang ke dunia. Johnny bangkit berdiri, ia begitu bahagia namun tetap merasakan sedikit kekhawatiran tentang bagaimana kondisi Irene istrinya. Dokter Kang yang membantu proses persalinan Irene terlihat keluar dari ruang operasi, wajahnya penuh akan tanda tanya. Jelas Johnny melihat gurat kesedihan yang terpancar di wajah tegas dokter cantik itu. Dengan perlahan Seulgi mendekati Johnny dan menyentuh lembut bahu pria tinggi itu. Seulgi tersenyum tipis, namun detik berikutnya air mata nampak mengalir dari manik tajamnya.
"Anak kalian laki-laki. Tapi maaf- aku tak bisa menyelamatkan Irene, ia mengalami pendarahan yang cukup hebat. Sekali lagi aku minta maaf." Ucap Seulgi dengan suara yang sedikit bergetar, ia menunduk dalam di hadapan Johnny yang terlihat masih mematung di tempatnya.
Tepat setelah Seulgi menyingkir dari hadapannya, Johnny jatuh terduduk. Kesedihan terpancar jelas di wajah tampannya, Seohyun yang menyadari kondisi adiknya segera mendekati Johnny dan detik berikutnya pria tampan itu mulai menangis meraung-raung dalam dekapan sang kakak. Tangisan Johnny terdengar begitu memilukan. Irene yang ia cintai dengan segenap hati dan jiwanya harus meninggalkan pria itu untuk selama-lamanya, dan jangan lupakan bayi kecil mereka yang bahkan tak mampu merasakan dekapan hangat ibunya setelah ia lahir ke dunia. Hari itu Johnny merasa dunianya runtuh seketika setelah Irene benar-benar pergi meninggalkannya.
Pemakaman Irene dilangsungkan di pagi harinya. Johnny dengan tatapan mata yang kosong nampak memeluk pigura yang membingkai indah wajah istri cantiknya. Jaehyun dan Yuta yang mendengar berita duka dari sahabatnya bergegas menemui Johnny malam itu juga dan menemani si tampan di sepanjang prosesi pemakaman. Jaehyun terlihat merangkul sahabatnya berusaha memberikan kekuatan meskipun ia tahu apa yang ia lakukan mungkin tak akan ada artinya untuk sahabatnya itu.
Sesuai pemakaman Johnny ditemani Seohyun kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan si kecil. Dari jendela tempat ruangan bayi Johnny bisa melihat dengan jelas bayi kecilnya yang nampak berbaring di inkubator, Seulgi bilang kondisi bayi kecil Johnny dan Irene masih belum stabil karena ia lahir lebih awal dari waktu kelahirannya. Oleh karena itu Seulgi memutuskan untuk menaruh bayi kecil itu di inkubator untuk menjaga kondisi kesehatannya. Johnny masuk ke dalam dengan pakaian hijau khas rumah sakit yang membingkai indah tubuh tegapnya. Pria yang baru saja menjadi ayah itu memasukan kelingkingnya ke inkubator dan membiarkan si kecil menggenggam tangannya.
"Annyeong Seo Hendery… cepat keluar dari sana. Daddy tidak suka sendirian." Ucap Johnny dengan suara parau yang jelas terdengar dan matanya yang mulai memanas karena air mata.
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa empat tahun sudah Johnny menghabiskan waktunya untuk membesarkan Hendery di tengah hingar-bingar kesibukannya. Johnny merupakan salah satu petinggi di perusahaan otomotif ternama di Korea, di tengah kesibukannya dengan segudang pekerjaannya ia selalu menyempatkan waktu untuk menghabiskan waktu dengan anak tampannya. Apalagi semakin hari bocah tampan itu makin belajar tentang banyak hal. Dan hari ini Johnny berencana mengajak pangeran kecilnya untuk mengunjungi rumah Jaehyun yang baru saja tiba dari Amerika.
"Daddy kita mau kemana?" Tanya Hendery pada sang daddy yang sibuk mengemudikan mobilnya.
"Kita akan bertemu dengan Mark hari ini." Ucap Johnny, ia terlihat tersenyum saat memperhatikan wajah tampan anaknya yang tersaji di cermin.
"Woah…. Mark sudah datang dad?" Tanya bocah kecil itu semangat.
"Hum. Mark sudah sampai Korea, dan Mark punya kejutan untuk Dery." Balas Johnny.
"Jinjja? Woah Dery sudah rindu dengan Mark, Jae appa, dan Tae eomma." Ucap anak kecil itu semangat.
Tak lama mobil yang Johnny kendarai menepi di pekarangan luas rumah Jaehyun. Hendery nampak begitu bersemangat saat mengingat akan kembali berjumpa dengan Mark, teman kecil sekaligus tetangganya beberapa tahun silam. Hendery menggenggam erat tangan Johnny dan tersenyum cerah pada sang ayah, Johnny balas tersenyum lembut, senyuman Hendery selalu berhasil mengingatkannya akan sosok Irene yang telah berpulang beberapa tahun silam.
"Dery! Hua…. Mark rindu sekali dengan Dery." Ucap Mark, ia bahkan sampai berlari dan memeluk Hendery erat-erat.
"Dery juga rindu Mark." Ucap Hendery, ia mulai membalas pelukan Mark dan mengajak sahabatnya itu berputar kesana-kemari.
"Mark punya kejutan untuk Dery." Ucap anak kecil itu. Hendery terlihat cukup bingung, ia hanya menurut saat Mark membawanya ke sebuah kamar dengan baby box di dalamnya.
"Ini Jeno. Adiknya Mark." Ucap Mark semangat. Hendery hanya diam, ia tak tahu apa artinya adik, wajar saja selama ini ia hanya tinggal berdua dengan Johnny yang menemaninya setiap saat.
"Adik itu apa?" Tanya Hendery polos. Mata bulatnya nampak mengerjap lucu kala menatap Jeno yang tengah tertidur lelap.
"Adik itu anggota keluarga baru, Jeno lahir dari perut eomma. Jadi Jeno adiknya Mark." Ucap Mark semangat. Ketiga orang dewasa yang sejak tadi mengikuti dua anak kecil itu hanya tersenyum gemas mendengar penjelasan yang Mark berikan pada Hendery.
Hendery hanya terdiam namun beberapa detik kemudian matanya mulai berkaca-kaca dan menatap lekat ke arah Johnny yang ada di belakangnya. Detik berikutnya anak kecil itu mulai menangis dan berhasil membuat semua orang yang berada di dalam sana kebingungan. Bahkan Mark sampai mengerjap berkali-kali, apa ia salah bicara, pikirnya.
"Daddy…. Eomma dan appa punya anak lain. Dery tidak disayang lagi. Hiks…." Ucap Hendery dalam tangisnya. Johnny hanya tersenyum gemas, ia membawa Hendery dalam dekapannya dan mengelus lembut surai hitam Hendery yang serupa dengan miliknya.
"Appa dan eomma tetap sayang Dery. Jangan menangis begitu, mana ada pangeran tampan yang suka menangis." Ucap Taeyong, ia duduk di sebelah Johnny dan mulai mengambil alih Hendery dari dekapan pria tampan yang merupakan sahabat suaminya itu.
"Jeongmal? Hiks…." Lirih Hendery di sela tangisnya.
Hendery terlihat begitu dramatis saat mengetahui keluarga Jung memiliki anggota keluarga baru. Wajar saja, sejak kecil Hendery sangat dekat dengan keluarga Jung terlebih rumah mereka saat itu bersebelahan. Taeyong juga merupakan ibu susu Hendery, sehingga ikatan batin ibu dan anak itu terlihat begitu kuat. Mark juga sangat senang dan sama sekali tak marah saat Hendery muncul di tengah keluarga kecilnya karena Mark selalu ingat pesan sang eomma. Taeyong bilang kita harus berbagi apa yang kita punya pada orang lain, dan Mark memilih untuk membagi kedua orang tuanya pada Hendery, membiarkan bocah tampan itu ikut memanggil eomma dan appa pada kedua orang tuanya.
"Eomma dan appa tetap sayang Dery. Bukankah Dery senang punya anggota keluarga baru? Nanti Mark dan Dery bisa bermain dengan Jeno saat sudah besar." Ucap Jaehyun, ia mulai mengelus lembut surai anak sahabatnya itu. Hendery hanya mengangguk, namun ia terlihat masih menangis sesegukan. Mark pun berinisiatif mendekati sahabatnya itu, mengelus lembut punggungnya dan membiarkan tangisan Hendery mereda.
"Hendery tumbuh dengan baik." Ucap Taeyong. Wanita cantik itu terlihat baru saja menyuguhkan jus jeruk dan beberapa kudapan untuk Johnny dan Jaehyun yang nampak tengah mengawasi Mark dan Hendery.
"Dia bahkan jadi sangat tampan." Ucap Jaehyun. Johnny hanya tersenyum samar, ia memilih untuk menikmati jus buatan Taeyong seraya memandang ke arah Hendery yang nampak tengah tertawa bersama Mark.
"Kau tak berniat menikah lagi?" Tanya Taeyong.
"Tidak tahu." Balas Johnny.
Jaehyun hanya tersenyum seraya menatap lekat sahabatnya itu. Ia jelas sudah mengenal bagaimana sosok Johnny berkat pertemanan mereka yang telah terjalin bertahun-tahun lamanya. Kepergian Irene beberapa tahun lalu merupakan pukulan terberat untuk Johnny. Pria tampan yang dulunya cukup egois dan mementingkan hidupnya sendiri itu kini telah menjelma menjadi sosok ayah yang bijaksana, berterima kasihlah pada Hendery, bayi kecil yang lahir ke dunia beberapa tahun silam itu memaksa Johnny mengerti bagaimana caranya menjadi ayah yang baik untuk pangeran kecilnya.
"Hendery tak pernah meminta?" Tanya Jaehyun.
"Sejauh ini tidak, ia selalu bilang Dery bahagia hanya berdua dengan daddy. Anak kecil memang begitu polos bukan?" Ucap Johnny.
Taeyong dan Jaehyun hanya tersenyum sekilas. Mereka kembali fokus ke arah Mark dan Hendery yang nampak asyik bermain. Sepertinya bocah kecil itu saling merindukan satu sama lain setelah sekian lama tak berjumpa.
Menjelang sore Johnny dan Hendery bergegas berpamitan dari kediaman keluarga Jung. Awalnya Hendery menolak. Ia bersikeras ingin bermain dengan Mark sampai malam menjelang, namun setelah segala penjelasan dari Johnny dan Taeyong akhirnya Hendery mau pulang ke rumah sekalipun diwarnai drama tangisan karena tak ingin dipisahkan dari Mark. Di sepanjang perjalanan pulang, Hendery terlihat sibuk menahan kantuknya. Johnny yang melihat anaknya dari cermin bergegas menepikan sejenak kendaraannya, ia mulai memasang bantal leher pada Hendery supaya tidurnya menjadi lebih nyaman. Setelah selesai pria tampan itu kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah mereka.
Hendery nampak terbangun saat Johnny membawanya masuk ke dalam rumah. Bocah kecil itu menggeliat saat dirasa seseorang mengangkat tubuhnya.
"Daddy…." Lirih anak kecil itu. Johnny dengan sigap mengelus punggung Hendery dan kembali berjalan ke kamar mereka.
Johnny yang tengah sibuk menyiapkan makan malam menghentikan kegiatannya kala suara tangisan Hendery terdengar sampai ke penjuru dapur. Dengan cepat Johnny melangkahkan kaki jenjangnya menaiki anak tangga dan mendapati Hendery yang tengah terduduk seraya mengucek kedua matanya. Anak kecil itu bergegas merentangkan kedua tangannya saat mendapati kedatangan Johnny.
"Daddy darimana? Dery takut." Ucap anak kecil itu, ia mulai membenamkan wajahnya di ceruk leher Johnny.
"Daddy memasak sebentar. Jangan takut lagi ya, daddy disini sekarang." Balas Johnny, ia mengecup pucuk kepala sang anak dan memeluknya dengan sayang.
"Dery mau makan sekarang?" Tanya Johnny, Hendery sejak tadi masih terlihat rewel karena baru saja terbangun dari tidurnya.
"Mau mandi." Balas anak kecil itu. Dengan sigap Johnny bangkit berdiri dan membawa si kecil menuju ke kamar mandi sesuai ucapannya beberapa detik yang lalu.
Johnny dan Hendery nampak keluar dari kamar mandi dengan bathrobes yang membalut tubuh mereka. Hendery terlihat begitu bersemangat dan nampak bermain dengan bebek karet yang ia pegang sejak tadi, Johnny hanya terkekeh gemas melihat tingkah sang anak. Ia nampak sibuk mencari pakaian Hendery dan bersiap memakaikannya ke tubuh kecil pangerannya itu.
"Enak daddy, Dery suka." Ucap Hendery penuh semangat. Saat ini sepasang ayah dan anak itu tengah sibuk menyantap makan malam mereka. Johnny menyajikan pasta malam ini, entah kenapa saat di rumah Jaehyun tadi ia tiba-tiba saja terpikir tentang makanan Italia.
"Kalau begitu harus dihabiskan." Ucap Johnny, ia baru saja menyendok pasta dan meletakkannya di piring Hendery. Anak kecil itu mengangguk semangat dan tersenyum cerah, menampilkan deretan gigi putihnya, senyuman itu adalah senyuman yang sama yang selalu berhasil membuat hati Johnny menghangat.
Selesai makan malam Johnny kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Pria itu nampak duduk di kursi besarnya dengan Hendery yang duduk di pangkuannya. Biasanya anak kecil itu akan menggambar atau menonton kartun kesukaannya saat Johnny bekerja namun malam ini berbeda, Hendery terlihat lebih manja dari biasanya, bahkan ia tak ingin lepas dari Johnny sejak tadi. Anak kecil itu nampak bermain dengan hot wheels miliknya, sepertinya ia terlihat mulai bosan namun masih tak mau lepas dari dekapan Johnny.
"Daddy…." Panggil anak kecil itu.
"Hum? Dery mengantuk?" Tanya Johnny. Hendery hanya menggeleng menjawab pertanyaan ayahnya.
"Daddy bekerja terus. Memangnya tidak lelah?" Tanya Hendery, ia mengerjapkan mata bulatnya seraya menatap lekat ke arah Johnny. Yang ditatap nampak tertegun, untuk pertama kalinya pertanyaan seperti itu keluar dari mulut anaknya dan itu berhasil membuat Johnny terkejut.
"Tidak, karena daddy suka dengan pekerjaan daddy." Balas Johnny, ia tersenyum dan menatap lekat ke arah netra bulat milik sang anak yang terlihat serupa dengan milik mendiang istrinya.
"Seperti Dery suka bermain?" Tanya Hendery.
"Tentu." Ucap Johnny, matanya nampak fokus ke layar komputernya yang menyala sejak tadi.
"Tapi daddy selalu bilang pada Dery kalau bermain harus ingat waktu supaya tidak sakit. Bukankah daddy juga harus begitu?" Ucap Hendery polos. Lagi-lagi Johnny nampak tertegun, ia mengangkat tubuh kecil Hendery dan mendudukkan anaknya di atas meja kerjanya membuat pandangan mereka saling bertemu saat itu.
"Daddy bekerja terus. Nanti kalau sakit bagaimana? Nanti siapa yang akan memandikan Dery dan buatkan Dery makanan enak? Dery tidak suka daddy sakit." Hendery kembali berucap dengan bibir yang mencebik lucu. Netra tajam Johnny mulai berkaca-kaca, ia menatap lekat ke arah sang putra dan mulai membawanya dalam dekapannya.
"Kalau daddy lelah pasti istirahat. Dery jangan khawatir ya." Ucap Johnny, ia mendekap dan membelai lembut punggung Hendery, detik itu juga Johnny merasakan kepala Hendery yang mengangguk sebagai balasan atas perkataannya.
"Sekarang tidur ya. Ayo daddy bacakan cerita." Ucap Johnny, ia bergegas mematikan komputernya dan membawa Hendery ke kamar mereka.
Si kecil nampak bingung memilih buku cerita yang akan Johnny bacakan malam ini. Di samping tempat tidur mereka Johnny menyiapkan lemari khusus untuk koleksi buku-buku Hendery, pria tampan itu juga sangat rajin membacakan cerita pengantar tidur untuk sang anak.
"Yang ini dad, kisah si pohon apel. Dery mau dengar ceritanya." Ucap Hendery. Ia menyerahkan buku ceritanya pada Johnny dan bergegas naik ke kasur besarnya yang biasa ia tiduri bersama sang ayah.
Johnny mulai bersandar di kasur dan membiarkan Hendery bersandar di dada bidangnya. Anak kecil itu terlihat begitu serius mendengar cerita yang Johnny bacakan. Saat Johnny membaca dengan nada sedih, Hendery akan ikut mencebikkan bibirnya dan saat Johnny membacanya dengan nada bahagia, Hendery akan tersenyum girang. Tentu saja hal itu berhasil membuat Johnny gemas.
"Aku hanya membutuhkanmu sebagai tempat beristirahat untuk tempat tinggal abadiku. Aku memilih tempat ini di dekatmu karena kau adalah teman terbaikku. Tamat…." Johnny baru saja selesai membacakan ceritanya. Hendery terlihat menatap lekat ke arah Johnny dan tiba-tiba berucap.
"Dery mau jadi teman terbaiknya daddy." Ucap anak itu, ia mulai memeluk tubuh besar Johnny dan membenamkan wajahnya di dada bidangnya.
"Tentu saja harus begitu, daddy juga teman terbaiknya Dery." Ucap Johnny seraya mengecup pucuk kepala Hendery.
"Tapi Dery sudah punya Mark, dad." Ucap anak kecil itu polos, Johnny hanya terkekeh mendengar perkataan anaknya itu.
"Sekarang ayo tidur, sudah malam." Ucap Johnny.
"Sebentar dad, Dery lupa belum bercerita sama mama." Ucap anak kecil itu polos. Hendery mengubah posisinya menjadi duduk dan mengambil album foto berukuran sedang yang berada di atas meja nakas. Jemari kecilnya nampak membuka album foto yang menampilkan potret menawan Irene di dalam sana.
"Mama, hari ini Dery bertemu lagi dengan Mark. Mark sudah punya adik tapi Tae eomma dan Jae appa bilang Dery tetap anak mereka, Dery jadi bingung. Hari ini daddy masak pasta, rasanya lezat sekali, mama pasti akan suka kalau mencobanya. Hari ini daddy juga sudah janji sama Dery supaya tidak terlalu lelah. Dery tidak mau daddy sakit nanti tidak ada yang memandikan dan buatkan Dery masakan enak. Pokoknya hari ini Dery bahagia, mama juga harus bahagia ya disana, Dery rindu mama. Dery dan daddy pasti akan mengunjungi mama lagi, tunggu Dery dan daddy ya, ma." Setelah bercerita panjang lebar, Hendery nampak mencium potret cantik sang mama dan kembali menutup album foto itu.
Johnny yang sejak tadi memandangi sang anak nampak menghapus air matanya yang terasa keluar begitu saja. Rutinitas seperti tadi telah anak kecil itu lakukan sejak sebulan yang lalu. Setelah Johnny menjelaskan kemana perginya Irene pada sang anak. Meskipun awalnya cukup berat untuk Hendery namun nyatanya anak kecil itu bahkan bisa lebih kuat dari Johnny dalam menjalani harinya setelah kepergian Irene.
"Daddy…. Puk puk…." Ucap Hendery manja, ia mulai memejamkan matanya dan meminta Johnny menepuk lembut bokongnya seperti yang biasa dilakukan setiap malam.
Empat tahun lalu Johnny mungkin merasa roda kehidupannya berhenti berputar, namun saat melihat Hendery yang berjuang seorang diri di incubator membuat Johnny tersadar masih ada nyawa lain yang membutuhkannya. Sejak saat itu Johnny mencurahkan segalanya untuk Hendery. Johnny yang mulanya tidak peduli dengan orang lain berubah drastis setelah Hendery hadir dalam hidupnya. Hendery kecil yang secara tidak langsung mengajarkan padanya tentang banyak hal. Tentang menjadi dewasa dan bagaimana caranya menghargai apa yang kita punya.
