2. Hendery's New School

Hari ini waktunya Johnny dan Hendery mengunjungi rumah abu Irene. Ayah dan anak itu nampak tengah bersiap-siap sebelum pergi mengunjungi orang yang mereka cintai. Bahkan sejak pagi Hendery memilih sendiri pakaian yang akan ia kenakan sampai membuat lemarinya berantakan. Akhirnya bocah kecil itu memilih untuk mengenakan kaos polo berwarna biru muda yang dipadukan dengan celana jeans yang membingkai kaki mungilnya.

"Dery sudah tampan belum dad?" Tanya anak kecil itu. Johnny yang tengah mematut dirinya di depan cermin nampak tersenyum dan mulai berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Hendery yang berada di sebelahnya.

"Tentu saja anak daddy selalu tampan." Ucap Johnny bangga, ia memperbaiki tatanan rambut Hendery yang terlihat sedikit berantakan.

"Anak mama juga." Timpal Hendery seraya menunjukan deretan gigi putihnya.

"Mau pakai itu juga." Ucap Hendery, jemari kecilnya menunjuk ke arah gel rambut yang nampak baru saja Johnny kenakan beberapa menit yang lalu.

"Tidak boleh. Itu untuk orang dewasa." Ucap Johnny, ia kembali melanjutkan kegiatannya menyisir rambut Hendery yang berantakan.

"Kalau sudah sebesar daddy boleh?" Tanya anak kecil itu polos. Johnny hanya mengangguk seraya terkekeh, membayangkan betapa lamanya sampai akhirnya Hendery bisa menggunakan gel rambut untuk pertama kalinya.

Setelah selesai dengan penampilan mereka, Johnny dan Hendery berjalan beriringan ke arah mobil. Perlahan mobil mewah itu mulai melaju menuju tempat tujuan mereka, rumah abu Irene, seseorang yang paling Johnny dan Hendery cintai. Saat sampai di tempat tujuan, Hendery nampak turun dari mobil dengan semangat. Tangan kecilnya menggenggam bouquet bunga mawar putih yang merupakan bunga kesukaan Irene semasa hidupnya. Sebelah tangan Hendery yang bebas nampak menggenggam erat jemari Johnny dan mengajaknya untuk segera menemui orang yang mereka cintai.

"Mama dad…." Hendery terkekeh saat sampai di depan rumah abu Irene, ia menatap penuh kekaguman pada potret menawan sang mama yang terpajang indah disamping guci abu miliknya. Johnny hanya tersenyum sekilas menanggapi perkataan anaknya dan kembali fokus menatap lekat ke arah wajah cantik yang empat tahun lalu masih menyambutnya saat bangun tidur dan hari ini hanya bisa ia pandangi lewat bingkai kaca.

"Dery sayang mama." Ucap anak kecil itu, ia terlihat menempelkan stiker bentuk love di pintu lemari kaca tempat abu Irene diletakkan. Stiker itu jumlahnya terlihat makin bertambah kian hari, sebagai bukti banyaknya cinta yang Hendery berikan pada sang mama.

Johnny meletakkan bouquet bunga di samping guci abu milik istrinya. Ia nampak memejamkan matanya selama beberapa menit. Memanjatkan doanya dan selalu berharap Irene akan bahagia disana. Johnny berharap Irene akan selalu menyaksikan tumbuh kembang Hendery dari atas sana, melihat bagaimana pangeran kecil mereka tumbuh menjadi anak yang tampan dan menawan sampai hari ini.

"Daddy menangis lagi." Cicit Hendery, ia menyeka air mata yang turun dari manik indah sang ayah dengan jemari kecilnya.

"Daddy pasti merindukan mama." Ucap anak kecil itu. Johnny hanya tersenyum menanggapi perkataan anaknya itu.

"Dery juga rindu mama. Tapi kan Dery sudah janji sama daddy untuk jadi anak yang kuat." Ucapan yang lolos dari mulut Hendery berhasil meruntuhkan pertahanan Johnny, derai air mata semakin berdesakan untuk keluar. Johnny nampak mendekap erat sang anak dan membenamkan wajah Hendery ke ceruk lehernya.

Setelah cukup puas melepas rindu dengan orang yang mereka sayangi, Johnny nampak melajukan mobilnya ke sebuah taman kanak-kanak. Disana sudah ada Jaehyun dan Mark yang nampak menunggu mereka berdua di arena bermain. Hendery meloncat kegirangan saat mendapati Mark yang melambai ke arahnya. Rencananya hari ini Johnny dan Jaehyun akan mendaftarkan anak mereka ke taman kanak-kanak karena baik Mark ataupun Hendery telah memasuki umur lima tahun dan sudah waktunya bagi dua bocah kecil itu untuk mengenyam bangku pendidikan.

Awalnya Johnny sempat kebingungan memilih sekolah yang tepat untuk Hendery. Namun berterima kasihlah pada pasangan Jung yang dengan baik hati merekomendasikan satu sekolah pada Johnny. Jadi pemilik TK yang saat ini mereka datangi adalah Kim Junmyeon, pria tampan yang merupakan saudara sepupu Jaehyun. Jaehyun sendiri tidak menyangka jika kakak sepupunya itu akan melanjutkan pendidikannya dan berakhir memiliki sekolah seperti sekarang, apalagi yang Jaehyun dengar TK ini merupakan yang terbesar di Seoul.

Dari kejauhan nampak seorang pria dengan senyuman menawan yang telah menunggu kedatangan Jaehyun dan Johnny sejak tadi. Itu Junmyeon, ia tersenyum dan memeluk tubuh tegap sang adik sepupu setelah sekian lama tak bertemu.

"Kukira kau tak jadi datang hari ini." Ucap Junmyeon setelah melepaskan pelukannya dari Jaehyun.

"Tentu saja jadi, hanya saja ada sedikit masalah tadi." Balas Jaehyun seraya menggaruk bagian belakang kepalanya.

"Wah Mark sudah besar ya. Tampannya…." Ucap Junmyeon, ia membelai lembut surai hitam Mark, seingatnya terakhir kali mereka bertemu saat Mark masih di Amerika. Ia tentu mengingat dengan jelas tentang Mark yang menangis keras karena semangkanya dimakan oleh Jaehyun sang ayah.

"Mark rindu Jun samchon." Ucap Mark, ia berhambur ke pelukan Junmyeon menyisakan Hendery yang kebingungan dan terlihat mulai bersembunyi di balik kaki jenjang sang ayah.

"Dery, kenalkan ini Jun samchon. Samchon kesayangan Mark." Ucap Mark percaya diri. Perlahan Hendery mulai keluar dari tempat persembunyiannya. Mata bulatnya nampak mengerjap lucu dan menatap lekat ke arah Johnny yang hanya dibalas anggukan kepala oleh pria tinggi yang berstatus sebagai ayahnya itu.

"Aigo tampannya. Siapa namamu?" Tanya Junmyeon, ia nampak antusias saat melihat Hendery keluar dari persembunyiannya.

"De- Dery…." Ucap anak kecil itu malu-malu.

"Nama panjang Dery." Ucap Johnny mengingatkan anaknya.

"Hendery Seo, tapi lebih suka dipanggil Dery." Ucap Hendery kembali mengulang perkenalannya.

"Baiklah. Annyeong Dery, aku Junmyeon, samchon nya Mark." Ucap Junmyeon, ia terlihat begitu mudah berbaur dengan anak-anak, pantas saja TK nya sukses, pikir Jaehyun.

"Mau panggil samchon juga boleh?" Tanya Hendery hati-hati. Junmyeon nampak tersenyum teduh dan menganggukan kepalanya. Mark nampak meloncat gembira melihat reaksi Junmyeon atas perkataan Hendery beberapa menit yang lalu.

"Yeay…. Sekarang Jun samchon, samchon nya Dery juga." Ucap Mark semangat. Hendery mengangguk tak kalah semangatnya dan menunjukkan deretan gigi putihnya,

Johnny dan Jaehyun nampak berbincang dengan Junmyeon, menyisakan Mark dan Hendery yang tengah asyik menonton kartun kesukaan mereka tak jauh dari tempat para orang tua berbicara. Setelah cukup lama berbincang akhirnya Johnny dan Jaehyun berpamitan untuk pulang.

"Jangan lupa sekolah dimulai seminggu lagi." Ucap Junmyeon sedikit berteriak saat dua pasang ayah dan anak itu mulai memasuki mobil mereka.

Di malam hari, Johnny nampak baru saja keluar dari ruang kerjanya. Ia mendapati Hendery yang tengah fokus mengamati buku cerita yang ia pegang sejak tadi. Saat dirasa Hendery melihat ke arah bukunya terlalu dekat dengan lembut Johnny membenahi letak buku tersebut dan menasehati Hendery penuh kasih sayang.

"Jangan dekat-dekat ya lihatnya." Ucap Johnny. Ia melepas kacamatanya dan menaruhnya di meja nakas. Hendery yang baru sadar dengan kehadiran sang ayah bergegas menutup bukunya dan berhambur ke pelukan Johnny, seolah tidak bertemu beberapa tahun lamanya. Padahal sepasang ayah dan anak itu hanya terpisah dua puluh menit yang lalu.

"Daddy sekolah itu apa? Jun samchon bilang Dery akan bersekolah. Tapi Dery bingung sekolah itu apa." Ucap Hendery polos.

"Sekolah itu tempat Dery bermain dan belajar." Ucap Johnny, ia mulai memeluk tubuh kecil Hendery yang berbaring di hadapannya.

"Tapi di rumah Dery juga bermain dan belajar dengan daddy." Balas anak kecil itu.

"Di sekolah Dery akan dapat banyak teman, orang-orang baru yang menyenangkan seperti Mark." Ucap Johnny. Hendery terlihat antusias hingga mulut kecilnya terlihat membulat lucu. Johnny mengusap gemas surai hitam anaknya dan mengecup lembut keningnya.

Setelah membacakan cerita dan mengelus lembut punggung pangeran kecil itu, akhirnya manik indah Hendery terpejam sempurna. Hendery terlihat begitu damai dalam tidurnya. Tanpa sadar Johnny tersenyum, entah sejak kapan memandang Hendery yang tertidur lelap adalah hal yang amat ia sukai, mungkin sejak ia resmi menjadi seorang ayah, pikirnya.

"Tas baru, kotak bekal, botol minum, buku, alat tulis, dan makanan. Kajja Dery ayo kita pergi." Ucap Johnny, ia baru saja melihat kembali catatan di ponsel canggihnya dan mengajak Hendery pergi ke mall untuk membeli kebutuhan sekolahnya.

"Mau kemana dad?" Tanya Hendery polos.

"Kita pergi ke mall. Kan Dery sebentar lagi masuk sekolah, kita harus beli peralatan baru." Ucap Johnny.

"Woah…. Dery mau coklat ya dad, please…." Ucap Hendery, ia mulai memohon dengan puppy eyes nya.

"Kan sudah beli kemarin." Ucap Johnny, ia mulai berjongkok di hadapan putra kecilnya itu.

"Dery mau belikan untuk Mark, dad. Untuk Jeno juga. Boleh ya dad?" Ucap Hendery dengan bibir yang mencebik lucu.

"Jeno masih terlalu kecil, belum boleh makan coklat. Kita belikan coklat untuk Mark dan makanan yang lain untuk Jeno, bagaimana?" Tanya Johnny berusaha bernegosiasi dengan Hendery.

"Hum. Untuk Dery juga ya dad…." Ucap anak kecil itu seraya terkekeh. Johnny hanya mengangguk dan menggandeng tangan anaknya itu, mereka bergegas menuju ke mobil yang selanjutnya melaju ke tempat tujuan mereka.

"Dad pegal…." Ucap Hendery, ia terlihat mulai kelelahan karena mengekori Johnny sejak tadi.

"Kan daddy bilang masuk saja ke troli." Ucap Johnny, ia mulai mengangkat Hendery dan mendudukkannya di troli belanjaan mereka.

"Dad biskuit untuk Jeno." Ucap Hendery jemari kecilnya terlihat menunjuk ke arah deretan biscuit dengan box bergambar bayi. Johnny mengambil biscuit tersebut dan memasukkannya ke troli.

Setelah dirasa telah mendapatkan semua kebutuhannya, Johnny dan Hendery bergegas menuju ke kasir untuk membayar belanjaan mereka. Eksistensi mereka berdua cukup menyita perhatian banyak orang. Bayangkan saja Johnny dengan rupanya yang menawan ditambah tubuh tegapnya yang terlihat menggoda dan jangan lupakan Hendery yang hari ini terlihat begitu lucu dengan rambut jamurnya yang tertata rapi ditambah dengan pakaian senada yang dikenakan ayah dan anak itu.

"Daddy…. Baegopa…." Ucap Hendery pada Johnny yang tengah sibuk memasukkan belanjaan mereka ke tas belanja.

"Sebentar ya. Kita taruh belanjaan dulu ke mobil." Ucap Johnny, Hendery hanya mengangguk dan kembali melihat sekitar seraya menunggu Johnny merapikan belanjaan mereka.

Karena Hendery terus merengek sejak tadi, Johnny memutuskan untuk mengajak anaknya itu makan di salah satu restoran kalguksu yang biasa mereka kunjungi. Hendery nampak duduk terdiam dengan bibs yang membalut lehernya sedangkan Johnny sedang sibuk memperkecil ukuran mie supaya Hendery tidak tersedak dan lebih mudah menyantapnya. Setelah Johnny selesai dengan kegiatannya Hendery mulai menikmati makanannya, sesekali ia bertanya tentang banyak hal. Mulai dari kenapa Johnny selalu memotong mie yang ia makan sampai kenapa kalguksu rasanya enak. Johnny hanya menjawab seadanya, ia juga mulai menasehati Hendery untuk tidak berbicara saat sedang makan. Hendery hanya mengangguk saja entah benar-benar mengerti atau tidak.

Hendery dan Johnny telah tiba di rumah mereka setelah hampir seharian menghabiskan waktu di mall berdua. Johnny nampak tengah sibuk di dapur, ia tengah merapikan semua belanjaannya ke dalam kulkas. Hendery melangkah mendekati Johnny dan duduk di kursi meja makan. Ia menatap lekat ke arah Johnny yang sibuk bergerak kesana kemari.

"Daddy mau Dery bantu?" Tanya anak kecil itu. Johnny membalik tubuhnya dan menatap lekat anak semata wayangnya itu.

"Dery mau bantu apa?" Tanya Johnny, ia mulai duduk di hadapan Hendery.

"Tidak tahu. Dery bingung." Ucap anak itu polos.

"Bagaimana kalau cuci buah-buahan." Ucap Johnny, Hendery hanya mengangguk semangat dan mulai turun dari kursinya, ia mendekat ke arah wastafel yang telah Johnny beri bangku tambahan untuk mempermudah Hendery mencuci buah-buahan.

"Begini ya, nanti kalau sudah selesai Dery taruh disini." Ucap Johnny, ia menunjukan pada anaknya bagaimana cara mencuci buah hari itu.

"Dad, looks! It so cute." Ucap Hendery. Ia baru saja selesai mencuci buah dan menunjukan telapak tangannya yang terlihat keriput karena terlalu lama bermain air.

"Do I look like a titan?" Tanya Hendery, ia mulai terkekeh saat memperlihatkan jemari kecilnya pada sang ayah.

"No, you don't. It will come back again like before." Balas Johnny, pria tinggi itu nampak tengah mengeringkan jemari Hendery yang basah karena baru saja selesai mencuci buah-buahan.

Tepat sebelum tidur Hendery terlihat begitu sibuk. Anak tampan itu bergerak kesana kemari, ia mulai memasukkan beberapa buku dan alat tulis ke dalam tas yang sempat mereka beli beberapa hari yang lalu. Johnny yang baru saja keluar dari ruang kerjanya nampak terkekeh melihat Hendery yang sibuk sejak tadi. Bahkan anak kecil itu sudah menata sepatu dan kaos kakinya sejak tadi siang.

"Jadi besok Dery tidak makan siang bersama daddy?" Tanya anak itu dengan bibir yang mulai mengerucut lucu.

"Dery makan di sekolah dan daddy makan di kantor. Nanti kita bertemu lagi sepulang sekolah." Ucap Hendery berusaha memberikan pengertian pada sang anak.

"Dery mau bawa buah anggur ya dad besok?" Ucap anak kecil itu.

"Tentu. Besok akan daddy siapkan bekal untuk Dery. Sekarang ayo kita gosok gigi lalu tidur." Ucap Johnny, ia mulai menggendong Hendery dan membawanya ke kamar mandi.

Johnny tentu saja telah mempersiapkan banyak hal sebelum Hendery masuk sekolah. Ia juga telah memikirkan sejak jauh-jauh hari untuk bekal sekolah Hendery karena selama ini ia selalu memasakkan semua makanan untuk Hendery, selain itu Johnny juga melarang Hendery untuk makan makanan cepat saji. Bahkan Hendery sempat merengek saat mendengar cerita Mark yang bilang ia memakan pizza saat berada di Amerika. Tiga hari yang lalu Johnny sempat berkonsultasi pada sang kakak Seohyun tentang bekal untuk anak sekolah. Seohyun tentu saja dengan senang hati mengajarkan adiknya itu. Seohyun benar-benar merasa kehadiran Hendery membawa pengaruh yang amat besar pada hidup adiknya itu.

Johnny terbangun karena suara alarm dari ponsel miliknya. Setelah melakukan peregangan, ia bangkit dari kasur secara perlahan untuk mencegah Hendery terbangun dari tidurnya. Hari ini Johnny terbangun sedikit lebih pagi dari biasanya, pasalnya pria tampan itu harus menyiapkan bekal makanan untuk Hendery mulai hari ini. Setelah dirasa semuanya telah siap ia bergegas kembali ke kamarnya dan membangunkan Hendery yang terlihat tidur dengan posisi yang telah berubah. Johnny hanya terkekeh melihat posisi tidur anaknya, terkadang ia berpikir apa saja yang Hendery lakukan dalam mimpinya sehingga tidurnya seperti itu.

"Dery…. It's time to wake up." Ucap Johnny, ia mulai mengecupi pipi bulat Hendery yang nampak masih damai dalam tidurnya.

"Humm…. Still sleepy daddy." Ucap Hendery, ia mulai meregangkan anggota tubuhnya.

"Did you forget today you are going to school?" Tanya Johnny. Detik itu juga mata bulat Hendery membola sempurna dan ia segera bangkit dari tidurnya.

"Ayo dad kita harus mandi." Ucap anak kecil itu dengan semangat.

"Didn't you forget something?" Ucap Johnny seraya menatap lekat ke arah sang anak. Hendery melangkahkan kaki kecilnya mendekati Johnny dan mulai mencium wajah tampan ayahnya itu.

"Good morning daddy." Ucap Hendery.

"Good morning son. Let's take a shower." Balas Johnny. Morning kiss merupakan rutinitas sepasang ayah dan anak itu dan Johnny tak akan membiarkan Hendery melupakannya.

Pagi ini Hendery terlihat begitu rapi dengan seragam sekolahnya dan jangan lupakan tas yang telah ia gendong di punggungnya sejak tadi. Saat ini sepasang ayah dan anak itu nampak tengah berjalan bergandengan di pekarangan sekolah baru Hendery. Beberapa murid seperti Hendery terlihat datang dengan orang tua mereka, sepertinya hanya Hendery yang datang bersama ayahnya, mengingat sejak tadi Johnny hanya mendapati para ibu muda di sekitarnya.

"Jangan nakal ya, Dery harus menurut sama seonsaengnim. Nanti siang daddy akan jemput Dery. Jangan pulang dengan orang lain selain daddy ya, mengerti?" Ucap Johnny panjang lebar di depan pintu kelas sang anak.

"Hum. Dery akan jadi anak baik dan tidak akan pulang dengan orang lain selain daddy." Ucap anak kecil itu mengulang perkataan sang ayah.

Setelah memberikan kecupan di kening Hendery dan melihat anaknya masuk ke dalam kelas, Johnny kembali masuk ke dalam mobil dan menuju ke kantornya. Seulas senyuman nampak terukir di wajah tampannya. Tak terasa lima tahun sudah ia hidup berdua dengan Hendery dan hari ini anak tampannya itu telah memulai sekolahnya. Bukankah waktu terasa begitu cepat.