3. Hendery's School Life

Hendery nampak terduduk tenang dengan Mark yang berada di sebelahnya. Kedua anak kecil itu baru saja memasuki kelas mereka di hari pertama sekolah. Hendery dan Mark sama-sama terlihat antusias melihat orang baru yang ada di sekitar mereka. Tak lama kemudian seorang wanita cantik dengan rambut panjang nampak memasuki kelas mereka. Wanita itu nampak memperkenalkan diri di depan kelas dan memperkenalkan diri kepada murid-murid barunya. Anak-anak itu nampak begitu antusias dan bertepuk tangan setelah sang guru memperkenalkan dirinya.

"Nah setelah Yoona seonsaengnim memperkenalkan diri. Sekarang giliran kalian ya, silahkan sebutkan nama dan usia." Ucap Yoona sang guru cantik pada murid-muridnya.

Anak-anak bergiliran memperkenalkan diri mereka di hadapan Yoona, dan saat ini giliran Mark dan Hendery. Mark nampak telah berdiri, ia tersenyum secerah matahari dan mulai memperkenalkan dirinya.

"Annyeonghaseyo Mark Jung imnida. Umurku lima tahun." Ucap anak kecil itu.

"Annyeong Mark, sekarang giliran yang disebelah Mark." Ucap Yoona seraya menunjuk Hendery.

"Annyeonghaseyo Hendery Seo imnida. Umurku lima tahun." Ucap Hendery, ia membungkukkan sedikit tubuhnya seperti yang selalu Johnny ajarkan selama ini. Yoona tersenyum cerah dan terlihat gemas dengan tingkah Hendery saat itu.

Tak terasa semua murid sudah mulai memperkenalkan diri mereka. Saat ini Yoona tengah mengajak para murid bernyanyi bersama sebelum memulai pelajaran mereka. Tepat pukul sepuluh waktu istirahat yang ditunggu oleh anak-anak tiba. Hendery nampak keluar kelas bersama Mark dan teman-temannya. Tangan kecilnya nampak membawa kotak bekal yang sudah Johnny siapkan saat di rumah tadi. Para anak kecil itu nampak menikmati makanan mereka di meja bundar yang berada dekat dengan area permainan. Hendery mencebikkan bibirnya saat membuka kotak bekal miliknya. Bekal yang diberikan oleh Johnny hari ini terlihat begitu banyak, mungkin pria tinggi itu lupa jika Hendery agak sulit makan.

"Dery kenapa ditaruh di tempat Mark." Ucap Mark saat mendapati Hendery memindahkan potongan ayam ke kotak bekal miliknya.

"Daddy buatnya terlalu banyak, pasti tidak bisa Dery habiskan sendiri." Balas anak kecil itu.

"Woah bekal Dery banyak sekali, San mau coba boleh?" Ujar anak kecil yang berada tak jauh dari mereka berdua.

"Hum. San boleh ambil." Balas Hendery. Dengan semangat San mulai memindahkan potongan ayam di kotak bekal Hendery ke kotak bekal miliknya. Mata sipit San tampak membulat sempurna setelah mencoba makanan milik Hendery. Ia terlihat tersenyum cerah dan memuji orang yang membuat bekal untuk temannya itu.

"Woah, enak sekali. Pasti mamanya Dery pandai memasak." Ucap San. Hendery hanya menggeleng dengan mulutnya yang terlihat penuh dengan makanan.

"Bukan mama, tapi daddy." Balas Hendery setelah berhasil menelan makanannya.

"Memangnya mamanya Dery kemana?" Tanya anak kecil lain yang duduk disebelah San.

"Mama Dery sudah di surga. Daddy bilang mamanya Dery sudah jadi bidadari." Balas Hendery santai seraya menikmati potongan anggur miliknya.

Para anak kecil yang berada disana hanya menganggukkan kepala mereka, setelah itu tak ada lagi pembicaraan antara sekelompok anak kecil itu sampai akhirnya bel masuk kelas kembali berbunyi dan mereka mulai berhamburan berlari ke kelas masing-masing.

Jam pulang sekolah telah tiba. Para orang tua murid nampak berkumpul di depan kelas dan bersiap untuk menjemput anak-anak mereka. Hendery nampak keluar kelas bersama dengan Mark. Tak jauh dari sana nampak Taeyong yang tengah melambaikan tangannya ke arah mereka berdua.

"Dery mau pulang bersama Mark dan eomma?" Tanya Taeyong pada Hendery.

"Aniya, daddy bilang Dery hanya boleh pulang dengan daddy." Balas Hendery. Taeyong hanya tersenyum lembut dan mengecup gemas rambut jamur Hendery.

"Kalau begitu eomma dan Mark pulang dulu ya. Dery tunggu disini sampai daddy datang. Jangan kemana-mana, mengerti?" Ucap Taeyong kembali menasehati Hendery.

"Hum." Balas anak kecil itu.

"Annyeong Dery sampai jumpa besok." Ucap Mark, ia terlihat melambaikan tangannya pada sahabatnya itu. Dery membalas lambaian tangan Mark dengan semangat seraya tersenyum cerah.

Hendery telah duduk di ayunan sekitar sepuluh menit dan menanti kedatangan daddy nya. Bibirnya mulai mengerucut lucu saat tak mendapati kedatangan Johnny. Padahal anak kecil itu telah menghabiskan susu pisang dan sepotong roti yang sempat Johnny bawakan tadi pagi namun sang ayah belum juga menunjukkan batang hidungnya. Junmyeon yang baru saja keluar dari ruangannya nampak terkejut saat mendapati salah satu muridnya tengah duduk di ayunan seorang diri. Pria dengan senyuman menawan itu bergegas menghampiri Hendery yang terlihat mencebikkan bibirnya dengan muka yang mulai memerah karena kepanasan.

"Astaga Dery, kenapa masih disini." Ucap Junmyeon.

"Jun samchon." Lirih Hendery. Junmyeon mulai masuk ke ayunan dan duduk di hadapan Hendery.

"Kenapa tidak masuk ke dalam? Daddy nya Dery belum jemput ya?" Tanya Junmyeon seraya menyeka keringat yang mulai berjatuhan dari kening Hendery. Junmyeon jelas tahu tentang kondisi keluarga Hendery dari Jaehyun adik sepupunya, ia terlihat mulai mengerti tentang Johnny yang harus membagi waktunya untuk mengurus pekerjaan dan Hendery dalam waktu yang bersamaan.

"Tae eomma bilang Dery harus tunggu disini sampai daddy datang." Ucap Hendery, mata bulatnya nampak mengerjap berkali-kali. Junmyeon hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi perkataan salah satu muridnya itu.

"Nah itu daddy nya Dery." Ucap Junmyeon seraya menunjuk ke arah mobil mewah yang baru saja memasuki pekarangan sekolah. Hendery nampak tersenyum cerah dan mulai turun dari ayunan. Setelah Johnny keluar dari mobilnya, bocah kecil itu berlari kencang dan berhambur ke pelukan sang daddy yang ia tunggu sejak tadi.

"Ah terima kasih hyung sudah menemani Dery." Ucap Johnny, ia sedikit membungkuk saat menyadari eksistensi Junmyeon yang berada tak jauh dari mereka.

"Santai saja, lagipula aku sedang senggang." Balas pria tampan itu. Johnny hanya mengangguk dan terlihat tersenyum seulas.

"Kalau begitu kami pamit dulu. Dery pamit dulu pada Jun samchon." Ucap Johnny pada sang anak yang berada dalam gendongannya.

"Annyeong samchon Dery pulang dulu ya, terima kasih sudah menemani Dery." Ucap Hendery. Junmyeon tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya. Tak lama setelah itu mobil Johnny mulai menghilang dari pekarangan sekolah.

Hendery tengah berada di kantor Johnny. Pria itu memang menyulap sebagian kecil ruangannya sebagai tempat bermain Hendery mengingat bocah kecil itu hampir setiap hari datang kemari. Bahkan semua pegawainya nampak telah mengenal Hendery dengan baik. Sesampainya mereka berdua di ruangan Johnny, pria tinggi itu berjongkok di hadapan sang anak yang nampak berkeringat dengan muka yang memerah.

"Dery tidak makan makanan lain selain yang daddy bawakan kan?" Ucap Johnny memastikan. Hendery mengangguk semangat mendengar perkataan Johnny saat itu.

"Dery kepanasan karena menunggu daddy terlalu lama. Tae eomma bilang dery tidak boleh pergi kemana-mana sampai daddy datang. Yasudah Dery duduk di ayunan sampai kepanasan." Ucap anak kecil itu panjang lebar. Johnny hanya terkekeh dan mengacak lembut surai hitam sang anak yang terlihat mulai lepek karena keringat.

"Ayo kita periksa, apa bekalnya dihabiskan?" Ucap Johnny, ia mulai mengecek tas sang anak.

"Wah susu pisang dan rotinya habis." Ucap Johnny saat menemukan sampah susu pisang dan roti yang berada di plastic klip di dalam tas Hendery. Si kecil tersenyum bangga dan menunjukan deretan gigi putihnya.

"Bekalnya juga habis. Dery pintar." Ucap Johnny, ia mulai mengecup kening Hendery dan terlihat tersenyum bangga.

"Tapi bukan Dery yang menghabiskan dad. Teman-teman Dery bantu habiskan, mereka bilang masakan daddy enak. Daddy choego." Ucap Hendery bangga, ia memberikan dua ibu jarinya pada Johnny yang berada di hadapannya.

"Lain kali harus Dery habiskan sendiri ya, Dery harus makan yang banyak supaya jadi kuat dan besar." Ucap Johnny dengan senyuman teduh yang terpatri di wajah tampannya.

"Kalau jadi besar berarti bisa pakai gel rambut seperti daddy, kan?" Tanya anak kecil itu.

"Hum. Nanti Dery bisa pakai punya daddy." Ucap Johnny, ia hanya terkekeh yang penting Hendery mau menghabiskan makanannya sekalipun misinya adalah mengenakan gel rambut miliknya, pikir pria itu.

"Sekarang Dery main dulu ya, daddy mau selesaikan pekerjaan dulu. Nanti sore kita pulang ke rumah." Ucap Johnny, ia baru saja selesai mengganti pakaian Hendery dengan kaos yang lebih nyaman. Hendery hanya mengangguk dan berlari ke tempat bermainnya untuk mengisi waktu luang seraya menunggu Johnny menyelesaikan pekerjaannya.

Saat Johnny selesai dengan semua pekerjaannya ia bergegas menghampiri Hendery, anak kecil itu nampak tertidur lelap dengan tangan yang masih menggenggam mainan tyrannosaurus miliknya. Dengan perlahan Johnny mengangkat tubuh kecil sang anak dan bergegas membawanya pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan menuju basement tak jarang Johnny dan Hendery menjadi pusat perhatian. Bayangkan saja seorang sajangnim tampan yang kaya raya nampak tengah menggendong anaknya yang tertidur hari itu. Semua orang di perusahaan Johnny mengetahui jika pria tampan itu pernah menikah enam tahun lalu namun yang mereka tahu sang istri telah lama wafat setelah mengalami pendarahan hebat saat melahirkan putra kecil mereka. Yang membuat mereka semakin kagum, bahkan Johnny tak terpikir untuk menikah lagi sampai hari ini. Bagi pria tampan itu yang penting saat ini hanya Hendery, si anak tampan yang hampir setiap hari datang menemani sang daddy.

Tepat sebelum tidur Hendery terlihat masuk ke ruang kerja Johnny dengan boneka unicorn kesukaannya. Ia nampak mengucek matanya dan bergelayut manja di kaki Johnny.

"Daddy, ayo tidur. Dery mengantuk." Ucap anak kecil itu, Johnny mengangkat Hendery dan membawanya dalam pangkuannya malam itu.

"Jadi anak daddy sudah mengantuk?" Tanya Johnny, ia nampak sibuk mengusap pipi bulat Hendery.

"Hum. Ayo dad, sudah malam. Jangan bekerja terus nanti Dery adukan pada mama." Ucap anak kecil itu. Johnny tersenyum sekilas dan bangkit dari duduknya. Mengadu di depan rumah abu Irene merupakan aktivitas rutin yang Hendery lakukan sejak lama, terkadang ia bahagia mendengar semua cerita Hendery namun tak dipungkiri tetap ada rasa kesedihan apalagi setelah mengingat jika Hendery tak pernah merasakan kasih sayang sang mama.

"Tadi Dery berkenalan dengan banyak teman baru dad. Mereka seru dan sangat baik seperti Mark. Dery suka. Yoona ssaem juga sangat cantik, suaranya juga bagus dad." Ucap anak kecil itu. Jadi malam ini Johnny meniadakan sesi dongeng malam dan digantikan dengan Hendery yang bercerita tentang pengalamannya di hari pertama sekolah.

"Jinjja? Kalau begitu Dery harus baik sama teman-teman. Harus menurut juga ya dengan Yoona ssaem. Dery harus jadi anak baik." Ucap Johnny, ia membelai lembut surai hitam Hendery dan mulai menyamankan posisi sang anak. Sepertinya bocah kecil itu sudah sangat mengantuk, pikirnya.

Tak lama berselang suara dengkuran halus mulai menggema di kamar mereka, Johnny menatap Hendery yang telah memejamkan matanya. Tangan kecil Hendery nampak memeluk erat boneka unicorn miliknya. Boneka yang sama yang bahkan telah Irene persiapkan sebelum kelahiran Hendery beberapa tahun lalu. Johnny mengecup lembut kening Hendery dan mulai mengikuti jejak sang anak berlabuh ke alam mimpi.

Tak terasa enam bulan sudah Hendery menikmati masa sekolahnya. Hari ini bocah kecil itu nampak bergembira karena Johnny sang daddy menjemputnya tepat waktu dan berjanji akan membelikan anak kecil itu es krim sepulangnya mereka dari kantor Johnny nanti. Sepulangnya mereka berdua dari kantor Johnny, Hendery nampak berlari dengan semangat ke kamarnya. Ia menaruh tas punggungnya dan menunjukan maha karyanya hari ini pada Johnny.

"Daddy lihat. Dery dapat nilai seratus di kelas menggambar." Ucap anak kecil itu, ia sedikit berteriak dan melangkahkan kaki mungilnya untuk menghampiri Johnny yang nampak tengah membuat menyiapkan sereal untuk Hendery di dapur.

"Woah hebatnya anak daddy. Dery gambar apa hari ini?" Ucap pria tampan itu, ia mengajak Hendery untuk duduk di sofa ruang keluarga.

"Dery gambar kita berdua." Ucap anak kecil itu.

"Ini apa?" Tanya Johnny, ia melihat gambar seperti kupu-kupu namun ukurannya terlihat terlalu besar untuk hewan tersebut.

"Ini mama. Kan daddy bilang mama sudah jadi bidadari. Bidadari kan bersayap dad, seperti tinkerbell." Ucap anak kecil itu polos. Johnny tersenyum lembut, ia membawa Hendery ke dalam pangkuannya dan membelai lembut surai hitam anaknya.

"Hum. Bahkan mama Dery lebih cantik dari tinkerbell." Ucap Johnny.

"Hum. Mama yang paling cantik." Ucap Hendery, ia tersenyum cerah dan memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.

Mungkin pemandangan hari ini terlihat begitu menyakitkan bagi sebagian orang, tentang seorang anak kecil yang menggambarkan ibunya sebagai bidadari yang cantik jelita. Namun peristiwa malam ini mampu membuat hati Johnny menghangat, entah akan jadi seperti apa hidupnya jika Irene tak menghadiahinya Hendery hari itu. Hendery yang selalu ceria dan tak pernah mengeluh sekalipun hanya harus hidup berdua dengan dirinya. Hendery yang selalu tersenyum cerah dan senyumannya selalu berhasil meluruhkan segala beban Johnny setelah lelah dengan kerasnya kehidupan.