4. Hendery's First Fight

Hari ini Hendery demam, sejak kemarin anak kecil itu mengeluh pusing dan merasa tubuhnya seperti terbakar. Johnny tengah menghubungi Junmyeon dengan ponsel canggihnya dan berniat mengabarkan pada kakak sepupu Jaehyun itu jika Hendery tidak dapat datang ke sekolah hari ini. Sejak semalam anak kecil itu nampak rewel, memang kebiasaan Hendery jika tengah demam pasti ia akan menangis dalam tidurnya dan itu selalu berhasil membuat Johnny terbangun saat itu juga.

Setelah selesai menghubungi Junmyeon, Johnny mendekat ke kasur dan mengecek Hendery yang nampak bergelung dengan selimut tebalnya. Dahinya nampak dihiasi plester penurun demam. Dengan perlahan Johnny menggendong Hendery dan mengelus lembut punggung anaknya itu. Dari ceruk lehernya, Johnny dapat merasakan dengan jelas napas Hendery yang terdengar berat dan memburu. Ia paling benci jika harus melihat Hendery yang melemah seperti hari ini. Akan lebih baik bagi Johnny melihat Hendery yang berlarian kesana kemari dan bertanya tentang ini dan itu sekalipun akan menguras banyak energinya sebagai orang tua.

"Pusing dad…." Lirih Hendery. Bocah kecil itu mulai membenamkan wajah tampannya ke ceruk leher Johnny sejak tadi.

"Tunggu sebentar ya, kita ke dokter setelah itu ke rumah halmeoni." Ucap Johnny.

"Tidak mau ke dokter. Dery takut disuntik." Ucap anak kecil itu, ia mulai merengek dan siap untuk menangis.

"Iya sudah ya, jangan menangis lagi." Ucap Johnny, ia mengecup pucuk kepala Hendery yang terasa hangat.

Johnny baru saja mengelap tubuh Hendery dengan air hangat dan memakaikan anaknya itu pakaian yang nyaman. Saat ini mereka berdua tengah bersiap-siap pergi ke rumah sakit. Johnny cukup panik karena demam Hendery hari ini tidak seperti biasanya. Sesampainya di rumah sakit Johnny menunggu giliran untuk pemeriksaan Hendery yang bersandar manja seperti koala. Saat sesi pemeriksaan Hendery, Johnny dan para perawat agak cukup kesulitan karena Hendery menolak untuk disuntik hari itu. Bahkan si kecil sempat berteriak cukup kencang dan itu berhasil membuat Johnny terkejut.

"Cup cup…. Sudah ya, jangan menangis lagi." Ucap Johnny, saat ini ia tengah berjalan menuju mobil dengan Hendery yang berada dalam gendongannya.

"Daddy nakal. Dery kan tidak mau disuntik dad, sakit…. Hiks…. Hiks…." Bocah kecil itu kembali merengek dalam dekapan Johnny.

"Sudah ya, jangan menangis. Kita ke rumah halmeoni ya. Seohyun imo menunggu Dery di rumah halmeoni." Ucap Johnny, ia berusaha merayu anaknya yang masih sibuk menangis.

"Jinjja? Seo imo ada disana?" Tanya anak kecil itu, ia mendongak dengan mata yang memerah karena menangis.

"Hum. Seohyun imo sudah sangat merindukan Dery. Halmeoni dan harabeoji juga sangat rindu Dery." Ucap Johnny. Perlahan Hendery mulai berhenti menangis, hanya menyisakan suara sesegukan yang perlahan mulai ikut mereda.

Setelah Hendery berhenti menangis, Johnny mendudukan anaknya itu di baby car seat nya dan mulai melajukan mobilnya ke rumah kedua orang tuanya. Jika diingat lagi sudah cukup lama Johnny tak berkunjung ke rumah orang tuanya itu. Terlebih sejak Hendery masuk sekolah, Johnny semakin tenggelam dengan kesibukannya. Bahkan orang tua Johnny sudah berkali-kali meminta kepada anak mereka itu untuk tinggal bersama. Supaya Johnny dapat fokus dengan pekerjaannya dan Hendery mendapatkan perhatian dari banyak orang. Namun Johnny menolak karena menurutnya akan lebih baik jika Hendery berada di bawah pengawasannya, lagi pula menjaga Hendery bukan hal yang melelahkan untuknya.

Sesampainya di rumah besar keluarga Seo, Seohyun nampak telah berdiri di depan pintu utama dengan senyum yang terpatri di wajah cantiknya. Ia mengambil alih Hendery dari gendongan sang adik dan meraba kening keponakannya itu, cukup panas, pikir Seohyun. Seohyun mengecup sekilas pipi bulat Hendery dan membawanya masuk ke dalam meninggalkan Johnny yang tengah sibuk dengan barang-barangnya.

"Aigoo sayangnya halmeoni sedang sakit." Ucap nyonya Seo saat Seohyun menidurkan Hendery di kasur king size yang berada di kamar lama Johnny.

"Tubuhnya cukup panas eomma." Ucap Seohyun.

"Hum. Johnny tadi pagi menelpon katanya Dery rewel semalaman." Balas nyonya Seo ia nampak membelai lembut kening Hendery yang tertutupi poninya yang mulai memanjang.

"Hua…. Lelahnya…." Itu suara Johnny, pria tinggi itu nampak berbaring di sofa ruang keluarga, ia meregangkan tubuhnya yang terasa pegal setelah seharian menggendong Hendery.

"Jadi masih mau merawat Dery seorang diri?" Ucap Seohyun, ia baru saja meletakkan segelas jus jeruk di meja yang berada di dekat sofa tempat Johnny berbaring.

"Hum. Dery hanya rewel hari ini, biasanya tidak begitu noona. Ngomong-ngomong Kyuhyun hyung masih di London?" Tanya Johnny.

"Hum. Ia baru akan kembali ke Korea minggu depan." Balas Seohyun.

"Kenapa tiba-tiba Dery demam John?" Tanya nyonya Seo, ia mulai bergabung dengan kedua anaknya di ruang keluarga.

"Kemarin Dery bermain hujan-hujanan di TK. Padahal aku sudah siapkan jas hujan, tapi anak kecil itu tetap tergoda saat melihat hujan yang turun begitu derasnya." Ucap Johnny seraya terkekeh, jika diingat-ingat cukup gemas juga melihat Hendery yang menyambutnya di TK dengan baju yang basah kemarin.

"Kau tak berniat menikah lagi?" Tanya nyonya Seo.

"Eomma sama saja seperti Jaehyun. Selalu saja menanyakan hal itu." Ucap Johnny, lama-lama ia kesal juga ditanyakan hal seperti itu oleh orang-orang terdekatnya.

"Benar kata eomma dan Jaehyun. Lagipula kau masih cukup muda untuk menikah lagi." Ucap Seohyun menimpali omongan sang eomma.

"Mungkin wanita di luar sana bisa menerimaku dengan mudah, tapi belum tentu mereka mau menerima Hendery. Kau tahu kan noona seperti apa wanita zaman sekarang." Ucap Johnny.

"Eiy…. Kau pikir kau pria zaman kapan?" Balas Seohyun, lama-lama kesal juga menanggapi adiknya itu.

"Eomma, buatkan aku bulgogi ya." Ucap Johnny, ia mulai bergelayut manja di lengan nyonya Seo. Pikirnya biarkanlah sehari saja ia bermanja pada sang eomma sebelum kembali sibuk merawat Hendery yang rewel.

"Yak. Kau tak pantas begitu. Menjijikan…." Ucap Seohyun. Ia melempar adiknya dengan bantal sofa dan berlalu ke lantai dua untuk menemani keponakan kecilnya yang masih tertidur lelap.

"Aigoo. Eomma kira kau sudah sepenuhnya dewasa saat memutuskan untuk merawat Dery selama lima tahun lamanya." Ucap nyonya Seo, ia mulai membelai surai hitam Johnny dengan sayang. Putra bungsunya itu nampak bersandar manja di bahu sempit nyonya Seo yang mulai menua.

"Bagaimana rasanya?" Tanya nyonya Seo pada putra bungsunya.

"Cukup melelahkan. Tapi Hendery sama sekali tidak merepotkan sejauh ini, ya kecuali saat dia masuk ke ruang kerjaku diam-diam dan memaksaku tidur." Ucap Johnny.

"Itu artinya Dery peduli pada daddy nya yang gila kerja ini." Balas nyonya Seo.

"Eomma benar. Dery bahkan terlalu manis untuk anak seusianya, kadang aku ingin menangis mendengar semua perkataan polos yang keluar dari mulut Dery." Ucap Johnny. Ia tersenyum sekilas dan membayangkan saat Hendery tengah berbicara panjang lebar.

"Apa eomma selelah ini juga saat merawatku dan Seohyun noona?" Tanya Johnny.

"Tidak juga. Kan ada appa, tentu saja kita membagi beban berdua." Ucap nyonya Seo.

"Benar juga." Timpal Johnny.

"Eomma tak akan memaksamu menikah lagi, jika kau pikir masih lebih nyaman hanya berdua dengan Dery, eomma sama sekali tak masalah." Ucap nyonya Seo, ia membelai lembut pipi putra bungsunya dan memandang lekat wajah tampannya yang sarat akan gurat lelah yang tak terbaca.

"Eomma, appa, Seo noona, dan Kyu hyung akan selalu membantumu. Jadi jangan sungkan." Ucap nyonya Seo, ia mengecup lembut kening Johnny dan meraba bahu kokonya sebelum akhirnya meninggalkan Johnny seorang diri di sofa ruang keluarga. Johnny hanya tersenyum memandang kepergian nyonya Seo, sungguh beruntung bisa dibesarkan ditengah keluarga yang hangat seperti ini, pikir Johnny.

"John, Dery mencarimu…." Suara teriakan Seohyun berhasil membuyarkan lamunan indah Johnny dan detik itu juga pria tinggi itu melangkahkan kaki jenjangnya bergegas menemui Hendery yang terdengar mulai menangis.

Setelah makan malam dan meminum obatnya Hendery terlihat sedikit bertenaga daripada sebelumnya. Saat ini bocah kecil itu tangah berada dalam pelukan Johnny, entah kenapa seharian ini ia sangat betah menempel pada sang ayah bagaikan perangko dan suratnya. Johnny nampak tengah memainkan ponselnya, ia baru saja menghubungi sekretarisnya dan membahas soal pekerjaan hari ini, sebelah tangannya yang bebas nampak mengelus lembut surai hitam Hendery. Sedangkan si kecil sibuk membenamkan wajahnya ke ceruk leher Johnny sejak tadi.

"Dery belum mengantuk?" Tanya Johnny, ia baru saja mematikan ponselnya dan meletakkannya di meja nakas. Si kecil hanya menggelang tanpa bersuara, sepertinya masih cukup lelah setelah menangis seharian.

"Coba sini lihat daddy, Dery jangan diam terus." Ucap Johnny, ia berusaha mengubah posisi Hendery dan membuat ayah dan anak itu saling berhadapan.

"Dery rindu mama, dad." Ucap anak kecil itu, bibirnya mulai mencebik lucu dan matanya terlihat mulai berkaca-kaca.

"Dery harus sembuh dulu, baru nanti kita kunjungi mama." Balas Johnny. Si kecil hanya mengangguk namun detik berikutnya ia menabrak dada bidang Johnny dan mulai menangis disana.

"Jangan menangis ya, Dery sudah menangis seharian. Memangnya tidak lelah?" Ucap Johnny seraya membelai lembut surai hitam Hendery.

"Sini lihat daddy, daddy akan tunjukan foto-foto mama. Tapi Dery janji harus berhenti menangis dulu." Ucap Johnny. Hendery hanya mengangguk dan berusaha menghapus air mata yang nampak masih membasahi pipi bulatnya.

Johnny meraih ponselnya dan mulai membuka galeri, menunjukan semua potret menawan Irene yang ada di dalam sana. Mulai dari pertemuan pertama mereka sampai akhirnya maut harus memisahkan dua insan dimabuk asmara itu.

"Mama cantik ya dad." Ucap Hendery, mata bulatnya terlihat berbinar saat melihat foto Irene yang terpampang di layar ponsel Johnny.

"Tentu." Ucap Johnny, ia terlihat tersenyum saat melihat Hendery yang kembali ceria.

"Ini apa dad?" Tanya Hendery. Saat ini layar ponsel Johnny menampilkan gambar sonogram yang dipenuhi warna hitam.

"Ini Dery." Jawab Johnny.

"Ih Dery jelek sekali, padahal mama sangat cantik, daddy juga tampan." Ucap bocah kecil itu polos.

"Ini waktu Dery masih di perut mama." Ucap Johnny.

"Jadi Dery keluar dari perut mama dad? Seperti Jeno keluar dari perut Tae eomma?" Tanya bocah kecil itu polos. Johnny hanya tertawa, ia mengangguk seraya mengelus lembut surai hitam anaknya.

"Daddy sayang mama ya?" Tanya anak kecil itu, saat ini ia tengah melihat foto pernikahan Johnny dan Irene tepat saat Johnny mencium kening wanita cantik itu.

"Sangat." Ucap Johnny, netra tajamnya terasa mulai memanas setelah mendengar semua perkataan Hendery sejak tadi.

"Dery juga sayang mama. Sayang daddy juga." Ucap anak kecil itu, ia mulai bangkit dan mengecupi wajah tampan Johnny. Tentu saja Johnny semakin gemas dengan tingkah anaknya itu.

"Dery mengantuk dad…." Ucap anak kecil itu seraya menguap sesekali.

"Kajja! Kita tidur." Johnny kembali mematikan ponselnya dan membenahi letak selimut Hendery.

Tak butuh waktu lama si kecil terlihat mulai memejamkan mata dengan jemari kecilnya yang menggenggam erat tangan besar Johnny, seolah tak membiarkan ia pergi kemanapun dan selalu meminta si pria tampan untuk berada di sampingnya.

Setelah kurang lebih dua hari beristirahat di rumah, hari ini Hendery kembali diizinkan masuk sekolah karena demamnya sudah benar-benar sembuh. Anak kecil itu nampak begitu antusias karena akan kembali bertemu dengan teman-temannya. Johnny mengantarkan Hendery sampai ke depan pintu gerbang TK dan detik berikutnya si kecil mulai melambaikan tangannya dan berlari ke dalam kelas, meninggalkan Johnny yang terlihat tersenyum teduh pagi itu.

Kedatangan Hendery disambut antusias oleh para penghuni kelas. Mereka bergegas mengerubungi meja Hendery saat si tampan baru saja duduk di kursi kecilnya. Gerombolan anak kecil itu terlihat begitu khawatir saat mendengar kabar Hendery tengah sakit beberapa hari lalu. Bahkan Mark sampai menangis karena tak suka duduk seorang diri. San juga terlihat sedih, apalagi ia sudah sangat merindukan bekal makan siang Hendery yang selalu terlihat lezat.

Saat Yoona memasuki kelas, para anak kecil tersebut mulai berhamburan ke meja masing-masing. Mark yang sejak tadi menatap Hendery tiba-tiba saja memeluk sahabatnya itu.

"Dery jangan sakit lagi ya, Mark sedih kalau Dery sakit." Ucap anak kecil itu. Hendery menatap lekat ke arah sahabatnya itu.

"Hum…. Dery janji tak akan sakit lagi." Ucap anak kecil itu, bahkan mereka berdua sampai melakukan pinky promise untuk mengikat janji mereka.

"Jeno sudah mulai berjalan. Dery mau lihat tidak?" Tawar Mark.

"Woah. Jinjja? Mau…. Dery rindu sekali dengan Jeno." Ucap Hendery semangat.

"Kalau begitu nanti Dery ikut Mark ke rumah ya." Ucap Mark tak kalah semangat.

"Tapi Dery belum bilang daddy." Ucap Hendery seraya mencebikkan bibirnya. Mark hanya diam, dia juga bingung bagaimana caranya mengabari daddy nya Dery, mungkin nanti Tae eomma yang akan mengurus semuanya, pikir anak kecil itu.

Setelah seharian beraktivitas di sekolah akhirnya jam pulang yang ditunggu oleh anak-anak telah tiba. Hendery nampak melambai ke arah teman-temannya yang berlari menuju orang tua mereka yang sudah datang menjemput. Tak lama kemudian Hendery tersenyum cerah saat mendapati Johnny yang berlari ke arahnya. Hendery bahkan nampak melompat saat melihat kedatangan Johnny.

"Dad, Dery boleh main ke rumah Mark?" Tanya anak kecil itu.

"Memangnya kenapa kalau main dengan daddy? Dery bosan?" Tanya Johnny. Sebenarnya ia mengizinkan Hendery pergi ke rumah Mark, lagipula bocah kecil itu sudah seperti saudara untuk Hendery. Namun ia ingin mendengar penjelasan dari anak kesayangannya itu.

"Tidak. Dery suka main dengan daddy. Tapi Mark bilang Jeno sudah mulai berjalan. Dery mau lihat Jeno." Ucap Hendery.

"Baiklah, kita ke rumah Mark sekarang. Nanti sore daddy jemput Dery, bagaimana?" Tanya Johnny.

"Yeay. Terima kasih daddy…." Ucap Hendery seraya tersenyum cerah.

"Sama-sama anak tampan." Ucap Johnny.

Seharian penuh Hendery menghabiskan waktunya bermain di rumah Mark. Bahkan Mark memamerkan semua mainan miliknya dan tak lupa dua bocah kecil itu terlihat senang sekali mengganggu Jeno. Taeyong terlihat tersenyum cerah saat mengawasi Mark dan Hendery bermain. Sebenarnya sudah sejak lama ia menawarkan pada Johnny untuk menitipkan Hendery padanya sepulang sekolah. Namun si pria tinggi itu selalu menolak dengan alasan Hendery akan membuat Taeyong semakin repot karena terkadang bocah tampan itu kelebihan energi. Padahal Taeyong senang-senang saja jika Hendery bermain bersama Mark seharian.

Hari begitu cepat berganti. Hari ini para murid TK kembali memasuki kelas menggambar dan mewarnai. Hendery terlihat bersemangat apalagi Johnny baru saja memberikannya crayon baru beberapa hari yang lalu. Saat Hendery tengah sibuk mewarnai tiba-tiba San terlihat menghampirinya, bocah kecil itu terlihat mengacak set crayon milik Hendery sehingga membuat si pemilik menatap tajam ke arahnya.

"San kenapa sih, dari tadi mengganggu Dery terus." Ucap anak kecil itu.

"San mau lihat gambar Dery. Ini jadi lebih bagus jika ditambah warna kuning." Ucap San, ia mulai menggoreskan crayon kuning ke hasil gambar milik Hendery. Hendery yang kesal mulai bangkit berdiri dan mencoret gambar milik San. Perdebatan antara dua anak kecil itu pun mulai pecah. San terlihat menggigit tangan Hendery sampai si tampan menangis keras. Hendery yang kesal memukul kepala San dengan botol minum miliknya yang tergeletak di atas meja. Bahkan sekarang dua anak kecil itu mulai saling menjambak rambut satu sama lain. Mark yang terlihat bingung akhirnya memilih untuk berlari dan menemui Yoona yang nampak tengah berada di ruangan Junmyeon.

"Ssaem, Dery dan San berkelahi." Ucap Mark, napasnya nampak terengah-engah karena ia berlari cukup kencang dari ruang kelas menuju ke ruangan Junmyeon.

Yoona dan Junmyeon bangkit dan mengikuti Mark menuju ruang kelas. Disana sudah ramai anak-anak yang mengelilingi San dan Hendery yang tengah sibuk menjambak rambut satu sama lain. Yoona sedikit kesulitan memisahkan dua anak kecil itu karena keduanya sama-sama dikuasai oleh amarah yang memuncak. Junmyeon pun ikut turun tangan. Ia menarik Hendery dan Yoona menarik San. Hendery terlihat mulai menangis berbeda dengan San yang masih berusaha menggapai rambut jamur Hendery.

"Dery nakal makanya mama Dery diambil oleh Tuhan." Teriak San saat itu. Yoona terkejut bukan main dengan perkataan yang keluar dari mulut San, ia bergegas menutup mulut San dan membawanya keluar kelas. Disusul oleh Junmyeon yang mengikutinya dari belakang. Pria tampan itu nampak berusaha menenangkan Hendery yang menangis keras.

Johnny nampak berlari di lobby perusahaannya. Ia baru saja mendapat telepon dari Junmyeon jika Hendery terlibat perkelahian dengan teman kelasnya dan masih menangis sampai saat ini. Johnny tak peduli dengan para pegawainya yang menatap keheranan sejak tadi. Yang ia pikirkan saat ini hanya Hendery, bagaimana bisa bocah kecil itu terlibat perkelahian, pikirnya.

Johnny sampai di ruangan Junmyeon dengan penampilan yang sedikit berantakan. Ia dikejutkan dengan kedua orang tua San yang sudah berada di dalam sana. Johnny bahkan sempat menunduk dalam saat melihat sepasang suami istri itu. Johnny cukup terkejut, ternyata ayah San adalah orang yang sempat ia temui beberapa hari lalu, jadi perusahaan mereka baru saja menjalin kerja sama. Setelah mendengar kronologi langsung dari Yoona yang ia dapat dari Mark, para orang tua terlihat mulai maklum dan saling meminta maaf atas kelakuan anak-anak mereka. San sudah terlihat lebih baik, ia berdiri diapit oleh ibu dan ayahnya, berbeda dengan Hendery yang sibuk membenamkan wajahnya di ceruk leher Johnny sejak tadi.

Setelah semua masalah terselesaikan baik San maupun Hendery sama-sama berpamitan dengan orang tua mereka. Di sepanjang perjalanan Hendery terlihat tetap menangis dan sama sekali tak menunjukkan tangisnya akan mereda. Johnny terlihat mengacak rambutnya, ia cukup pusing hari ini. Belum lagi dengan masalah di kantornya yang menumpuk.

"Dery sudah ya jangan menangis terus. Nanti matanya sakit." Ucap Johnny, ia memandang wajah Hendery dari cermin mobilnya. Hendery terlihat menggeleng dengan tangis sesenggukan yang tak kunjung mereda.

Sepasang ayah dan anak itu telah sampai di kediaman mereka. Johnny berjongkok di hadapan Hendery yang nampak duduk di sofa ruang keluarga. Anak kecil itu masih sibuk menangis sejak tadi padahal Yoona sudah mengobati luka di tangannya saat di sekolah.

"Dery kenapa? Sudah dong jangan menangis terus." Ucap Johnny, ia membelai surai hitam Hendery yang terlihat berantakan hari itu.

"Hiks…. San bilang mama diambil Tuhan karena Dery nakal dad hiks…. Dery tidak nakal kan dad?" Ucap anak kecil itu bahkan tangisnya terlihat lebih kencang dari sebelumnya.

Johnny merasa ada sesuatu yang patah di hatinya saat mendengar ucapan Hendery. Detik itu juga ia membawa Hendery dalam dekapannya dan mengecup lembut pucuk kepala anaknya. Niat hati ingin menenangkan Hendery malah berakhir dengan matanya yang ikut berkaca-kaca setelah mendengar ucapan anak kecil itu.

"Dery coba lihat daddy…." Ucap Johnny, Hendery nampak menatap sang ayah dengan mata yang memerah karena sibuk menangis sejak tadi.

"Kalau Dery pergi ke kebun bunga, Dery akan cabut bunga yang seperti apa?" Tanya Johnny.

"Yang can- cantik hiks…. Dan harum…." Ucap anak kecil itu dengan suara yang sedikit terbata.

"Begitupun Tuhan, karena mama orang yang baik makannya Tuhan memilih mengambil mama lebih dulu. Dery sudah pasti anak baik, tapi Tuhan masih mau Dery bermain bersama daddy disini." Ucap Johnny, Hendery terlihat mulai berhenti menangis dan menatap lekat ke arah Johnny.

"Be- berarti San yang nakal dad, San jahat sudah bilang Dery anak nakal." Ucap anak kecil itu.

"Bukan begitu. San pasti kesal karena Dery sudah coret gambarnya dan pukul kepalanya dengan botol minum. Makanya San bilang begitu pada Dery." Ucap Johnny.

"Karena Dery anak baik, Dery mau kan memaafkan San? Mama pasti senang jika Dery jadi anak yang pemaaf." Ucap Johnny lagi.

"Hum." Jawab anak kecil itu seraya menganggukan kepalanya.

"San suka masakan daddy, besok bawakan yang banyak ya dad. Dery mau berbagi dengan San." Ucap anak kecil itu final. Johnny hanya mengangguk dan mengecup lembut kening Hendery hari itu.

Mungkin hari ini adalah pengalaman yang cukup menyedihkan untuk ayah dan anak itu. Sekalipun perkataan tadi hanya terucap dari mulut seorang anak kecil namun tentu saja tepat membuat hati Johnny teriris. Rasanya mulai hari ini Johnny harus lebih sering memberikan pengertian pada Hendery tentang kenapa mamanya pergi lebih dulu meninggalkan mereka berdua. Juga tentang semua pertanyaan lain yang mungkin saja akan terucap dari mulut anak kecil itu nantinya.