5. How to Spend Mother's Day

Seminggu telah berlalu sejak kejadian Hendery yang berkelahi dengan San. Kedua anak kecil itu sudah berbaikan, Hendery memberikan sekotak bekal berisi ayam goreng pada San yang disambut antusias oleh anak kecil itu. Dan keesokan harinya San membawakan Hendery berbagai macam puding buatan mamanya. Tentu saja Hendery sangat bahagia apalagi ia merupakan penyuka makanan manis. Bahkan saat ini San dan Hendery hampir tak terpisahkan. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama, tentu saja dengan tambahan Mark yang tidak rela Hendery diambil orang lain.

Hari ini para murid TK nampak baru saja selesai berolahraga. San, Hendery, dan Mark nampak tengah bermain di salah satu jungkat jungkit. Sebenarnya hanya San dan Mark saja yang bermain sejak tadi. Hendery memilih berjongkok dan bermain dengan pasir yang ada di dekat jungkat-jungkit.

"Dery jangan main pasir. Nanti Mark adukan pada John samchon kalau Dery main di tempat kotor." Teriak Mark. Hendery mencebikkan bibirnya mendengar perkataan Mark dan memilih untuk duduk di ayunan.

Entah kenapa sejak jam istirahat tadi Hendery nampak terdiam. Bahkan san dan Mark telah bersusah payah menggoda anak tampan itu namun tetap saja Hendery tak banyak bicara. Sangat jauh berbeda dengan Hendery yang terkenal begitu cerewet di kelas. Bel tanda pulang berbunyi semua murid TK di kelas Hendery nampak berhamburan untuk mengambil barang-barang mereka.

"Dery, cepat sudah waktunya pulang." Teriak San. Mark nampak menarik tangan anak kecil itu untuk segera mengambil barang-barang mereka. Dengan malas Hendery turun dari ayunan dan masuk ke dalam kelas, ia pusing sendiri kenapa sejak tadi San dan Mark sangat suka berteriak padanya, pikir anak kecil itu.

Semua murid TK telah kembali ke rumahnya masing-masing, termasuk Mark dan San. Kedua anak kecil itu telah dijemput oleh ibu mereka sejak beberapa menit yang lalu. Hendery nampak duduk di bangku panjang yang berada di pekarangan TK, bocah kecil itu sejak tadi sibuk menendang-nendang ke arah tanah sehingga menimbulkan bekas dan berakhir dengan sepatu putihnya yang sedikit kecoklatan.

Yoona yang baru saja keluar dari ruang kelas, menemukan Hendery yang tengah menunduk di bangku panjang. Guru cantik itu bergegas menghampiri muridnya dan mengajaknya berbicara. Hendery cukup terkejut saat mengetahui Yoona duduk di sebelahnya, namun setelahnya Hendery hanya diam dan hanya mengangguk atau menggeleng untuk menanggapi perkataan Yoona.

"Nah itu daddy nya Dery sudah datang." Ucap Yoona. Hendery bangkit berdiri dan sedikit membungkuk pada gurunya sebelum akhirnya menghilang dari hadapan Yoona.

"Jangan lupa sampaikan suratnya pada daddy ya Dery." Ucap Yoona sedikit berteriak.

Di sepanjang perjalanan Johnny dibuat bingung oleh tingkah Hendery yang tiba-tiba saja aneh. Anak kecil itu sibuk berdiam diri dan menatap lekat ke arah gedung pencakar langit yang membelah Kota Seoul. Padahal biasanya ia akan banyak bicara saat pulang sekolah. Menceritakan tentang banyak hal yang ia alami di sekolah, namun hari ini bocah kecil itu diam seribu bahasa tanpa berniat membuka mulutnya.

Sesampainya sepasang ayah dan anak itu di kantor Johnny, si kecil tetap tak berbicara. Bahkan ia tak banyak mengeluh saat Johnny menggantikan pakaiannya siang itu. Hendery bergegas masuk ke tempat bermainnya dan mulai bermain dengan buku gambarnya, mewarnai semua gambar yang ada disana. Setelah Johnny selesai dengan semua urusan kantornya, Johnny menghampiri Hendery yang nampak tertidur dengan kepala yang bertumpu pada buku gambar miliknya. Johnny bergegas membawa Hendery ke rumah dan berniat berbicara dengan anaknya itu malam nanti.

Hendery tertidur cukup lama, ia terbangun tepat saat jam makan malam. Bocah kecil itu masih diam dan tak berbicara. Johnny bahkan sudah berniat menelepon Mark atau orang tua San untuk menanyakan apa yang terjadi pada Hendery di sekolah tadi. Johnny baru saja mengganti pakaian Hendery dengan piyama tidurnya, ia bergegas pergi ke ruang kerjanya untuk mengambil ponselnya dan berniat menghubungi Taeyong. Namun tiba-tiba saja Hendery masuk ke dalam ruangannya, membawa boneka unicorn miliknya dan sebelah tangannya nampak menyodorkan surat pada Johnny.

Johnny sedikit terkejut dengan kedatangan Hendery, ia meraih surat itu dan mulai membacanya. Setelah selesai Johnny membawa Hendery dalam pangkuannya dan mulai berbincang dengan putra kecilnya itu.

"Jadi Dery diam seharian karena ini?" Tanya Johnny. Hendery hanya mengangguk dan sibuk memeluk boneka unicorn nya.

Surat yang baru saja Johnny baca adalah undangan perayaan hari ibu di sekolah TK. Para murid harus datang bersama ibu mereka dan merayakan hari ibu bersama, akan diadakan berbagai macam perlombaan sebagai bentuk kekompakan antara ibu dan anak.

"Dery tidak mau datang." Ucap Hendery, akhirnya ia buka suara malam ini.

"Kenapa begitu? Kan bisa datang dengan daddy." Ucap Johnny.

"Daddy bukan mamanya Dery." Balas Hendery, bibirnya mulai mengerucut dan matanya terlihat berkaca-kaca. Sedikit perih memang mendengar kenyataan yang keluar dari mulut kecil Hendery, pikir Johnny.

"Tapi nanti Dery tidak akan dapat bintang kalau membolos. Nanti kalau Yoona ssaem marah bagaimana?" Ucap Johnny, ia masih berusaha bernegosiasi dengan Hendery.

"Pokoknya Dery tidak mau datang dad." Ucap anak kecil itu. Ia turun dari pangkuan Johnny dan bergegas berlari ke kamar mereka, bahkan pintu ruangan Johnny sedikit terbanting karena Hendery menutupnya terlalu keras.

Johnny menghela napas panjang, ia mengusap wajahnya dan menutup surat undangan yang sempat diberikan Hendery beberapa menit yang lalu. Pria tinggi itu bergegas menyusul sang anak yang tampak telah menyembunyikan dirinya dibalik selimut tebal yang biasa digunakan. Samar-samar Johnny mendengar suara tangisan Hendery dari balik selimut. Johnny membuka selimut tersebut dan menemukan Hendery yang tengah menangis seraya memeluk erat boneka kesayangannya.

"Hei kenapa menangis…." Ucap Johnny, ia membawa Hendery dalam dekapannya malam itu.

"Coba sini cerita sama daddy. Masa jagoan daddy menangis terus." Ucap Johnny, ia mulai menghapus lelehan air mata yang mengalir dari manik hitam Hendery.

"De- Dery hiks…. Tidak bisa merayakan hari ibu hiks…." Ucap anak kecil itu, suaranya terdengar terbata karena masih sibuk menangis.

"Siapa bilang? Dery bisa ikut merayakannya kok." Ucap Johnny, ia mengelus lembut pundak Hendery yang nampak naik turun dengan teratur.

"Tapi Dery tidak punya mama, dad." Ucap anak kecil itu.

"Dery punya mama kok." Ucap Johnny seraya mengecup pucuk kepala anaknya.

"Tapi mama tidak bisa datang bersama Dery hiks…." Air mata kembali berdesakan untuk keluar dari manik indah Hendery malam itu.

Johnny hanya terdiam, sepertinya upayanya untuk menenangkan Hendery tak membuahkan hasil sama sekali, Hendery malah semakin menangis deras. Johnny bangkit berdiri dan membawa Hendery dalam gendongannya, ia mengelus lembut punggung Hendery dan berusaha menenangkan anaknya itu. Johnny mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada sang kakak, mungkin saja wanita cantik itu bersedia menemani Hendery di perayaan hari ibu nanti. Johnny tersenyum teduh saat membaca balasan dari sang kakak, wanita itu terlihat antusias dan mengiyakan ajakan Johnny untuk menemani Hendery di perayaan hari ibu.

"Dery coba lihat daddy sebentar." Ucap Johnny, Hendery menatap lekat ke netra tajam sang ayah dengan mata yang masih berkaca-kaca.

"Kalau perginya dengan Seo imo bagaimana?" Tanya Johnny. Hendery hanya terdiam, namun detik berikutnya si kecil mulai berucap.

"Tapi kan Seo imo bukan mamanya Dery dad." Ucap anak kecil itu.

"Seo imo kan sangat menyayangi Dery, sama seperti mama dan daddy menyayangi Dery. Bagaimana mau tidak?" Ucap Johnny. Hendery nampak memasang pose berpikir dengan bibir yang mengerucut lucu.

"Memangnya Seo imo ada di Korea?" Tanya Hendery, seingatnya beberapa bulan lalu imo kesayangannya itu berada di London.

"Hum. Imo ada di rumah halmeoni." Ucap Johnny.

"Yasudah dad, Dery pergi dengan imo saja." Ucap Hendery final. Johnny nampak tersenyum dan mengecupi pipi bulat Hendery, akhirnya ia bisa bernapas lega karena berhasil membujuk Hendery yang rewel sejak tadi.

Hendery nampak menghabiskan akhir pekan dengan ceria di rumah keluarga Seo. Anak kecil itu datang untuk menginap di hari sabtu dan minggu karena Johnny harus pergi sementara ke Daegu untuk menemui rekan bisnisnya. Awalnya Hendery sempat menolak ditinggal oleh Johnny dan memaksa untuk ikut, namun dengan segala tipu daya yang nyonya Seo dan Seohyun berikan akhirnya Hendery bersedia untuk menginap sekalipun pada akhirnya Seohyun harus selalu menghubungi Johnny atas permintaan Hendery.

Hendery tengah bermain dengan kelinci putih yang berada di taman belakang rumah besar keluarga Seo, ia nampak memberikan wortel pada kelinci putih yang terlihat cukup berisi hari itu. Seohyun yang melihat Hendery dari kejauhan bergegas menemui sang keponakan dan duduk disampingnya. Seohyun membelai lembut surai lebat Hendery, pikirannya melayang jauh pada kejadian kemarin yang cukup membuat hati Seohyun teriris. Johnny bilang Hendery menangis karena ia pikir ia tak akan bisa datang ke perayaan hari ibu di sekolahnya dan dengan sukarela akhirnya Seohyun menawarkan diri untuk mendampingi Hendery, lagipula ia sudah menganggap Hendery sebagai anaknya sendiri.

"Imo, Yoona ssaem bilang nanti akan diadakan lomba lari berpasangan di sekolah. Dery berpasangan dengan imo kan?" Tanya anak kecil itu antusias.

"Hum. Nanti Dery berpasangan dengan imo." Balas Seohyun.

"Daddy bilang imo pandai berlari karena saat kecil sering mengejar layang-layang." Ucap Hendery polos. Dalam hati Seohyun sudah mengutuk adiknya itu, bagaimana bisa ia mengatakan hal yang mengada-ngada pada Hendery, ya walaupun ada benarnya juga.

"Urusan lari imo juaranya. Dery tenang saja, kita pasti menang." Ucap Seohyun sedikit menyombongkan diri.

"Imo jjang!" Ucap Hendery seraya memberikan dua ibu jarinya

Hari yang ditunggu Hendery akhirnya tiba juga, bocah kecil itu nampak berdiri di depan pintu gerbang sekolahnya dengan Johnny yang menggandeng tangannya. Si kecil bergegas melambaikan tangannya saat mendapati kedatangan Seohyun pagi itu. Hendery memeluk erat sang imo dan berpamitan pada Johnny. Akhirnya sepasang bibi dan keponakan itu siap memulai hari mereka.

Berbagai macam perlombaan telah dilakukan dan benar apa kata Johnny beberapa hari lalu. Jangan meragukan Seohyun soal urusan berlari, buktinya hari ini ia dan Hendery berhasil membawa pulang piala. Si kecil nampak tersenyum cerah seraya menatap wajah cantik Seohyun. Ia menggenggam erat piala miliknya dan berucap bangga sejak tadi. Seohyun terlihat begitu menikmati harinya di sekolah Hendery, terlebih saat bertemu dengan ibu San yang nyatanya adalah temannya semasa sekolah dulu. Seohyun sedikit terkejut ia pikir temannya itu belum menikah nyatanya sudah memiliki anak yang seusia Hendery.

Setelah menghabiskan hari-hari yang panjang akhirnya para murid TK diizinkan untuk pulang. Hari ini Johnny tidak menjemput Hendery karena si kecil akan pulang bersama Seohyun. Hendery sama sekali tak masalah lagipula Seohyun sudah janji akan membelikannya es krim sepulang sekolah. Di rumah Hendery tak henti-hentinya memamerkan pialanya pada semua orang, bahkan halmeoni dan harabeoji nya sampai gemas. Hendery bahkan meminta Seohyun melakukan panggilan video dengan Kyuhyun hanya untuk memamerkan piala miliknya.

Johnny yang datang ke rumah keluarganya nampak tersenyum teduh saat Hendery berlari ke arahnya dengan sebuah piala. Rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya, Johnny begitu bahagia melihat Hendery yang ceria seperti hari ini. Menghilangkan Hendery yang terlihat sendu seperti beberapa hari lalu, hanya karena sebuah surat yang nyatanya memberikan harapan kosong bagi anak kecil itu.

Sore harinya Johnny mengajak Hendery pergi ke rumah abu Irene, dengan bouquet bunga mawar putih di tangannya. Hendery nampak menempelkan stiker di depan pintu kaca rumah abu Irene seperti yang ia lakukan. Anak kecil itu nampak tersenyum cerah dan bercerita panjang lebar pada Irene tentang apa saja yang telah ia lakukan dengan Seohyun hari ini. Johnny berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan sang putra, ia menggenggam erat tangan Hendery yang berada di hadapannya.

"Dery dengar ya, mulai hari ini Dery selalu bisa ikut perayaan hari ibu dengan Seo imo setelah itu kita harus selalu mengunjungi mama dan bawakan apa yang mama suka, Dery mengerti?" Ucap Johnny.

"Hum. Dery sayang daddy dan mama." Ucap anak kecil itu ia mengangguk dan mulai memeluk Johnny. Johnny tersenyum dan mulai membalas pelukan anak kecil itu, pelukan kecil yang selalu berhasil membuat hati Johnny menghangat. Pelukan yang rasanya sama seperti pelukan yang selalu Irene berikan beberapa tahun silam.

Nyatanya indikator kebahagiaan bagi tiap orang jauh berbeda. Seperti Hendery, impiannya begitu sederhana, hanya ingin datang ke perayaan hari ibu bersama sang mama. Namun ia paham keinginannya hanya angan-angan yang hanya akan membuat putus asa. Dan lagi-lagi Johnny berhasil menghibur sang putra dengan apa yang mereka punya, sekalipun menurut sebagian orang tak bermakna namun nyatanya berhasil membuat Hendery bahagia.