6. Love Letter

Keesokan harinya saat di sekolah Yoona meminta kepada para muridnya untuk menuliskan surat kepada pasangan mereka di perayaan hari ibu kemarin dan akan memberikannya saat di rumah. Hendery nampak memandangi lembaran kertas yang ada di atas mejanya, berbeda jauh dengan Mark yang mulai sibuk menuliskan untaian kata di kertas miliknya. Yoona yang menyadari raut kebingungan di wajah muridnya bergegas menghampiri Hendery dan berjongkok di sebelahnya.

"Dery kenapa belum mulai menulis?" Tanya Yoona.

"Dery bingung ssaem. Boleh tidak Dery buat dua surat, satu untuk mama, satu untuk Seo imo yang menemani Dery kemarin." Ucap anak kecil itu polos.

"Tentu saja boleh." Ucap Yoona semangat.

"Woah terima kasih ssaem." Balas Hendery, ia tersenyum cerah dan mulai menulis di atas kertas miliknya.

Hari ini Johnny datang menjemput Hendery seperti biasa. Di depan sekolah ia bertemu dengan Taeyong yang nampak menggandeng tangan Mark. Bahkan si kecil sempat melambaikan tangannya pada Johnny hari itu. Johnny sedikit merendahkan tubuhnya saat mendapati Hendery berlari ke arahnya. Si kecil menciumi wajah Johnny dan berhasil membuat pria tinggi itu terkekeh karena kegelian. Saat di mobil tiba-tiba saja Hendery memaksa Johnny untuk menemaninya menemui Seohyun yang masih berada di rumah keluarga Seo. Dengan berat hati Johnny memutuskan untuk mengantarkan Hendery, dan saat disana si kecil bergegas masuk ke kamar Seohyun. Ia memberikan sepucuk surat yang ditempeli sebuah permen coklat tepat di amplopnya. Seohyun terkekeh gemas, entah kenapa hatinya terasa berdebar seolah mendapatkan surat cinta dari pujaan hatinya.

"Wah terima kasih Dery…." Ucap Seohyun, ia mulai menciumi pipi bulat keponakannya itu.

"Hum, tapi jangan bilang daddy ya imo. Ini rahasia." Ucap anak kecil itu. Seohyun terkekeh dan mengacak surai lebat Hendery. Sejak kapan anak kecil ini tahu tentang rahasia, pikirnya.

"Daddy…. Ayo pulang." Ucap Hendery, ia baru saja keluar dari kamar Seohyun.

"Eh, hanya begitu?" Tanya Johnny. Sejak tadi pria tinggi itu menunggu di ruang keluarga seraya memainkan ponselnya dan tiba-tiba saja Hendery mengajaknya untuk kembali pulang ke rumah.

"Iya. Sudah selesai." Ucap Hendery.

Saat sepasang ayah dan anak itu mulai menghilang dari kediaman keluarga Seo, Seohyun mulai membaca surat pemberian Hendery. Tak lupa ia menyantap permen coklat yang ditempel di amplop dengan lem seadanya itu. Seingatnya permen itu merupakan yang paling Hendery suka.

Untuk Seo imo….

Hum, selamat siang imo. Tadi di sekolah Yoona ssaem menyuruh Dery membuat surat untuk orang yang menemani di perayaan hari ibu kemarin. Dan Dery akan tulis untuk Seo imo. Tapi imo harus janji jangan beritahu daddy, nanti daddy marah karena Dery tidak buat juga untuk daddy. Dery tidak suka menulis banyak-banyak, tangan Dery jadi pegal.

Seo imo, terima kasih ya, sudah selalu menemani Dery saat daddy sedang sibuk. Seo imo juga tidak pernah marah saat Dery lupa beri makan kelinci Seo imo. Seo imo bisa kan mengajarkan Dery berlari, supaya bisa menang lagi di perlombaan tahun depan. Semoga di perayaan hari ibu berikutnya Seo imo tetap mau menemani Dery ya, daddy bilang Dery harus selalu pergi dengan Seo imo. Nanti sebagai hadiah daddy akan belikan Seo imo parfum-parfum bagus seperti yang beberapa hari lalu Dery tumpahkan.

Dery sayang sekali sama Seo imo, seperti Dery sayang daddy dan mama. Seo imo harus sayangi Dery juga ya, janji? Imo jangan lupa berikan anak kelincinya pada Dery ya, tapi jangan bilang daddy nanti daddy marah.

Dery

Seohyun mengusap matanya yang terasa panas. Entah mengapa membaca untaian kata sederhana dari keponakan tampannya bisa membuatnya menangis begini. Anak kecil itu benar-benar menggemaskan, sepertinya Johnny berhasil mendidiknya dengan baik selama lima tahun ini. Sungguh mengagumkan, pikir Seohyun.

Di rumah Johnny dan Hendery mereka berdua baru saja selesai makan malam. Saat ini Johnny sedang mengawasi Hendery yang tengah menyikat giginya. Anak kecil itu masih harus dipantau saat menyikat gigi karena beberapa bulan yang lalu pasta gigi yang ia gunakan malah sengaja ia telan, katanya rasanya manis seperti stoberi. Setelah selesai menyikat giginya Hendery bergegas naik ke kasur dan meminta Johnny membacakan buku cerita untuknya.

Johnny mulai membacakan cerita untuk Hendery, tak seperti hari-hari sebelumnya. Malam ini anak kecil itu sudah terlihat terlelap bahkan sebelum ceritanya selesai. Johnny bergegas merapikan selimut Hendery dan mengecup kening anaknya. Dengan perlahan ia bangkit dari kasur, melangkahkan kaki jenjangnya ke ruang belajar Hendery yang berada di sebelah ruang kerjanya. Sejak tadi ada yang mengganggu pikirannya, setelah menjelajah ruang belajar Hendery akhirnya ia menemukan apa yang ia cari. Sepucuk surat dengan amplop berwarna putih yang digambar bunga di depannya. Jelas Johnny tahu jika itu adalah gambar Hendery. Di amplop surat itu tertulis "untuk mama" Johnny tersenyum sekilas dan mencoba melihat apa yang ada di dalamnya.

Untuk mama….

Hello mama, ini Dery….

Yoona ssaem bilang Dery harus buat surat untuk orang yang menemani Dery di perayaan hari ibu kemarin. Jadi Dery sudah buat untuk Seo imo, tapi Dery ingin buat untuk mama juga. Mama jangan bilang-bilang daddy ya, nanti daddy iri karena Dery tidak tulis surat untuk daddy.

Daddy selalu bilang mama yang sudah membawa Dery ke dunia, terima kasih ya ma. Karena mama Dery jadi bisa coba berbagai macam permen coklat yang rasanya lezat walaupun harus sembunyi dulu dari daddy.

Mama tahu tidak daddy selalu merindukan mama. Apa saat daddy menangis di depan rumah baru mama sering terdengar? Daddy sangat cengeng kalau mengunjungi mama. Padahal daddy selalu bilang sama Dery untuk jadi big boy. Tapi daddy malah seperti cry baby.

Mama tahu tidak, setiap malam daddy selalu bacakan Dery cerita. Daddy sangat pandai mendongeng. Daddy juga kadang bernyanyi untuk Dery, tapi suara daddy sangat besar, berbeda sekali dengan suara Yoona ssaem yang lembut. Kalau suara mama seperti apa?

Minggu lalu daddy ajari Dery main piano ma, ternyata daddy sangat hebat. Daddy tidak hanya tahu soal hot wheels tapi juga musik. Daddy sudah seperti superman untuk Dery ma, sebenarnya Dery tidak tahu apa itu superman. Tapi Mark bilang superman bisa melakukan apa saja. Seperti daddy yang bisa melakukan apa saja untuk Dery. Daddy bisa memasak, bekerja, bermain music, mendongeng, bermain dengan Dery, dan bantu Dery buat PR.

Waktu itu Dery berkelahi dengan San. Dery sangat marah karena San hancurkan gambar Dery. Jadi Dery pukul San pakai botol minum yang daddy belikan. Dery sangat takut dimarahi daddy, tapi ternyata daddy tidak marah. Daddy peluk Dery erat-erat dan cium kening Dery. Kalau pelukan mama rasanya seperti apa ya, Dery tidak tahu?

Tapi Dery sudah baikan dengan San. Kami jadi sahabat, bersama Mark. Mark dan San selalu jaga Dery dari anak-anak jahat. Mereka seperti daddy dan Seo imo yang selalu jaga Dery.

Mama, sudah ya. Tangan Dery pegal karena menulis terlalu banyak. Semoga mama selalu bahagia ya, kata daddy mama bisa lihat Dery dari atas sana? Memangnya begitu ya? Tapi kok saat Dery lihat ke atas hanya ada awan putih.

Sudah dulu ya ma, nanti suratnya Dery masukan ke rumah baru mama. Semoga mama baca surat Dery.

Dery sayang mama….

Ah iya daddy juga sangat sayang mama….

Dery

Johnny kembali melipat surat pemberian Hendery untuk Irene dan memasukkannya ke amplop seperti semula. Johnny nampak menyeka air mata yang berdesakan keluar dari manik tajamnya. Surat tulisan Hendery memberikan begitu banyak pengaruh di hatinya. Satu sisi hatinya jadi hangat, namun seolah ada rasa kesedihan yang terpancar jelas. Setelah puas menangis Johnny memutuskan untuk keluar dari ruang belajar Hendery dan kembali ke kamar mereka. Di atas kasur Johnny menatap lekat wajah Hendery yang tertidur lelap. Bayi kecil yang beberapa tahun lalu Irene hadiahkan untuknya telah tumbuh menjadi anak kecil yang berhasil membawa kebahagiaan bagi banyak orang. Untuknya, untuk Irene, dan keluarganya.