7. Johnny's Birthday
Hari ini Johnny gemas sekali dengan Hendery. Anak kecil itu sangat sulit untuk makan. Bahkan seingat Johnny, Hendery hanya memakan tiga suap makanannya lalu pergi begitu saja. Rasanya begitu frustasi menghadapi tingkah polah Hendery yang makin ajaib. Saat ini Johnny tengah duduk di sofa ruang keluarga, ia nampak tengah mengawasi Hendery yang sedang bermain dan mewarnai gambarnya. Tiba-tiba saja anak kecil itu menghentikan kegiatannya, ia menoleh kesana-kemari dan belum menyadari kedatangan Johnny. Dari kantung celananya si kecil mengeluarkan beberapa butir permen coklat dan mulai memakannya satu persatu. Johnny tersenyum dan mulai mendekati Hendery, pantas saja akhir-akhir ini anak kecil itu sangat sulit makan, ternyata sudah dibuat kenyang oleh permen-permen miliknya.
"Hayo…. Dery sembunyikan apa dari daddy?" Tanya Johnny, ia berpura-pura tak melihat kejadian permen beberapa menit lalu.
"Tidak. Dery tidak sembunyikan apapun." Ucap anak kecil itu, namun ia menghindari tatapan mata Johnny. Itu merupakan salah satu kebiasaan Hendery saat sedang berbohong kepada ayahnya.
"Ya Sudah, jangan silahkan daddy kalau nanti malam jadi pinokio." Ucap Johnny, ia tahu cerita dongeng itu merupakan kelemahan Hendery. Johnny berniat bangkit dan meninggalkan Hendery di ruang keluarga namun anak kecil itu menahan tangan besar Johnny dan mulai merogoh saku celananya.
"Maaf daddy, Dery sembunyikan permen coklat." Ucap anak itu, ia nampak menunduk dengan bibir yang mengerucut. Johnny sedikit terkejut karena permen yang Hendery sembunyikan berjumlah cukup banyak sekitar sepuluh butir. Selama ini memang Johnny selalu menyiapkan cemilan kesukaan Hendery namun selalu membatasi anak kecil itu agar tidak terlalu banyak makan cemilan.
"Kok Dery tidak bilang, kan biasanya selalu daddy berikan untuk Dery?" Tanya Johnny.
"Dery suka permen coklat." Ucap anak kecil itu.
"Daddy tahu Dery suka coklat tapi tidak baik kalau makan terlalu banyak, nanti Dery bisa sakit gigi. Nanti kalau Dery sakit daddy yang sedih." Ucap Johnny, ia membawa Hendery dalam pangkuannya dan mengelus lembut surai hitam putranya itu.
"Maaf dad, Dery janji tidak sembunyikan permen lagi." Ucap Hendery, ia mulai memeluk Johnny dan membenamkan wajahnya di ceruk leher pria tinggi itu.
"Janji ya? Setelah ini Dery harus bilang sama daddy kalau mau makan cemilan." Ucap Johnny ia mengulurkan kelingkingnya yang disambut baik oleh kelingking kecil Hendery.
"Hum. Dery janji." Ucap anak kecil itu.
"Ini untuk Dery karena sudah jujur, sisanya daddy simpan ya." Ucap Johnny, ia menaruh dua butir permen coklat di telapak tangan Hendery dan berhasil membuat si kecil kembali tersenyum cerah.
Hari-hari berlalu seperti biasa, Johnny pergi mengantar Hendery ke sekolah dan menghabiskan waktunya di kantor. Siang ini Johnny terlihat begitu sibuk karena ada beberapa rapat yang harus ia datangi. Karena merasa tidak dapat menjemput Hendery, Johnny meminta tolong pada Seohyun selagi wanita cantik itu masih berada di Seoul. Dengan senang hati Seohyun mengiyakan permintaan Johnny dan berjanji akan menjemput keponakannya itu sepulang sekolah.
Seohyun baru saja sampai di TK, ia bergegas masuk ke dalam dan mendapati Hendery yang tengah duduk di kursi panjang yang ada di depan kelasnya. Seohyun menghampiri keponakannya itu dan mengelus surai lebatnya. Hendery cukup terkejut karena biasanya Johnny yang akan datang menjemputnya. Si kecil nampak menatap ke sekeliling bangunan dan mencari keberadaan Johnny namun ia tak menemukan ayahnya itu.
"Dery ayo kita pulang." Ucap Seohyun, ia mulai menggandeng tangan keponakan kecilnya.
"Tapi daddy bilang Dery hanya boleh pulang dengan daddy, imo." Ucap si kecil. Seohyun terkekeh, apa Hendery menganggapnya orang asing, pikirnya.
Seohyun mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi sang adik. Dari seberang sana mulai terdengar suara besar Johnny. Seohyun menyerahkan ponselnya pada Hendery dan membiarkan sepasang ayah dan anak itu berbicara satu sama lain.
"Dery pulang dengan Seo imo dulu ya. Hari ini pulang ke rumah halmeoni nanti daddy akan menyusul Dery." Ucap Johnny.
"Daddy janji ya? Harus susul Dery." Ucap anak kecil itu.
"Iya janji. Bye Dery, daddy love you…." Balas Johnny.
"Love you too…." Panggilan telepon diakhiri dan dengan berat hati Hendery ikut pulang bersama Seohyun sore itu.
Di sepanjang perjalanan Hendery nampak bercerita banyak hal pada Seohyun. Sesekali wanita cantik itu nampak terkekeh menanggapi perkataan keponakannya yang begitu polos dan menggemaskan. Tiba-tiba saja Hendery mengeluarkan buku catatannya, disitu ada tanggal yang Hendery lingkari dengan spidol warna kuning.
"Imo hari ini daddy ulang tahun. Dery sudah tandai tanggalnya supaya tidak lupa." Ucap anak kecil itu. Seohyun membelalakkan matanya, ia baru ingat jika hari ini adik laki-lakinya itu berulang tahun.
"Dery mau buat kejutan untuk daddy. Tapi Dery tidak tahu caranya." Ucap anak kecil itu lagi. Seohyun terkekeh dan tersenyum teduh, berung sekali adik kecilnya dikaruniai anak semanis Hendery, pikirnya.
"Bagaimana kalau kita belikan kue untuk daddy nya Dery. Lalu Dery tulis surat untuk daddy seperti yang Dery tuliskan untuk imo waktu itu." Usul Seohyun. Hendery nampak mengangguk setuju namun detik berikutnya bibirnya terlihat menekuk kebawah.
"Tapi Dery tidak punya uang banyak untuk beli kue, hanya ada ini." Ucap si kecil ia memperlihatkan empat lembar uang seribu won yang ada di dompet kecilnya.
"Nanti imo yang belikan kuenya sebagai hadiah karena Dery mau pulang bersama imo hari ini." Tawar Seohyun pada keponakan kecilnya.
"Woah, terima kasih imo." Ucap anak kecil itu, ia tersenyum cerah dan menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi.
Seohyun dan Hendery menepi sejenak ke toko kue yang biasa didatangi oleh wanita cantik itu. Seohyun menggandeng tangan Hendery dan mengajaknya memilih kue yang akan mereka beli. Seohyun menawarkan untuk membeli kue dengan ukuran yang cukup besar, namun Hendery menggeleng. Ia malah menunjuk slice cake coklat dan red velvet yang ada di toko kue tersebut.
"Dery yakin mau beli yang ini?" Tanya Seohyun memastikan.
"Hum. Daddy tidak suka makanan manis imo, kita beli yang kecil saja." Ucap anak kecil itu. Seohyun mengangguk dan memutuskan untuk membayar kue pilihan mereka.
Sesampainya di rumah keluarga Seo, Hendery berlari ke kamar dan meminta Seohyun mengganti pakaiannya. Si kecil bergegas mengeluarkan alat gambar miliknya dan mulai menulis surat untuk Johnny. Saat selesai menulis surat, Hendery memutuskan untuk mencoba slice cake yang sempat ia beli. Senyuman indah nampak terpatri di wajah tampannya kala rasa manis dari slice cake menyatu dengan lidahnya.
Hari semakin larut, jam telah menunjukan pukul sepuluh malam. Telah lewat dari jam tidur Hendery namun Johnny belum juga menunjukan batang hidungnya. Seohyun memutuskan untuk menghampiri Hendery yang tengah sibuk menahan kantuknya dengan slice cake dan surat yang berada tak jauh darinya. Saat Seohyun menghampiri anak kecil itu, Hendery benar-benar sudah memejamkan matanya. Si kecil sepertinya sudah mengantuk. Seohyun membenahi letak selimut Hendery dan menyamankan tidur keponakannya itu, dalam hati ia mengutuk Johnny yang tak kunjung pulang padahal sudah larut malam.
Johnny sampai di rumah tepat pukul sebelas malam. Rumah besar keluarganya nampak telah sepi, sepertinya seluruh anggota keluarga sudah terlelap. Johnny melonggarkan dasi yang sejak tadi melilit leher jenjangnya dan memasuki kamarnya. Disana ia mendapati Hendery yang telah tertidur lelap. Johnny memutuskan untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Saat keluar dari kamar mandi ada satu hal yang mengalihkan perhatiannya. Ia mendapati slice cake coklat dan red velvet yang telah termakan setengahnya dan sepucuk surat dengan tulisan tangan Hendery di sampingnya. Johnny meraih surat tersebut dan membukanya, ia mulai membaca untaian kata yang tersaji di kertas putih yang Hendery siapkan untuknya itu.
Untuk daddy….
Daddy selamat ulang tahun….
Dery ingat loh kalau hari ini daddy ulang tahun, tapi Dery lupa ulang tahun yang keberapa. Dua puluh berapa ya dad? Berarti umur daddy sudah banyak ya? Dery bisa tidak ya punya umur sebanyak daddy?
Hari ini Seo imo ajak Dery beli kue untuk daddy, tapi karena daddy tidak suka kue makanya Dery pilih yang Dery suka. Coklat dan red velvet.
Daddy terima kasih ya sudah rawat Dery sampai sebesar ini. Tae eomma bilang dulu Dery juga sekecil Jeno, lalu daddy merawat Dery dengan baik sampai Dery sebesar ini. Dery sudah jadi big boy loh dad, di sekolah Dery bisa ikat tali sepatu sendiri, Dery juga ke toilet sendiri tidak seperti San yang masih ditemani Yoona ssaem.
Dery sangat suka lihat daddy bekerja, daddy sangat keren saat bertemu mobil-mobil itu. Mobilnya seperti hot wheels tapi bisa dinaiki, keren sekali. Dery juga mau satu tapi kaki Dery tidak sepanjang daddy
Tapi walaupun Dery suka lihat daddy bekerja, Dery tidak mau daddy bekerja terlalu lama. Dery bosan menunggu, daddy selalu diamkan Dery kalau sedang bekerja. Dery juga takut daddy sakit. Nanti kalau daddy sakit yang memandikan Dery siapa? Nanti kalau Dery telan pasta gigi lagi bagaimana? Dery juga belum bisa kancingi baju Dery sendiri. Sulit sekali, Dery benci kancing baju.
Dery sangat suka tinggal bersama daddy, bermain bersama, dan menghabiskan waktu berdua. Daddy juga tidak pernah marah sama Dery, padahal Dery nakal sering makan coklat sembunyi-sembunyi. Terima kasih ya daddy, sudah mau besarkan Dery dan selalu buat makanan enak.
Dery sayang daddy, daddy juga harus sayang Dery ya….
Dery hanya butuh daddy, tidak butuh orang lain.
I love you daddy….
Dery
Johnny mengusap matanya yang basah dengan air mata. Semua surat dari Hendery selalu berhasil membuatnya menangis, padahal anak kecil itu menuliskan banyak kata-kata keceriaan di dalam sana. Johnny tersenyum melihat slice cake yang hanya bersisa setengah dan membaca sticky note yang tertempel di piringnya.
Daddy maaf, Dery sudah makan kuenya.
- Dery
Johnny terkekeh, Hendery benar-benar penuh ide, pikirnya. Johnny bergegas pergi tidur dan memeluk Hendery yang sudah terlelap sejak lama. Mulut kecilnya sedikit mengerut dan berhasil membuat Johnny gemas sendiri. Johnny mengecup lembut kening anaknya dan mulai ikut memejamkan mata. Menyusul Hendery yang nampak asyik dengan alam mimpinya.
Johnny terbangun di pagi hari karena tepukan kecil di wajahnya. Saat membuka mata ia mendapati Hendery yang telah terbangun dengan boneka unicorn di tangannya, ia tersenyum cerah dan mulai menghujani Johnny dengan ciuman.
"Daddy selamat ulang tahun, semalam Dery tunggu daddy sampai mengantuk." Ucap anak kecil itu, bibirnya nampak mengerucut lucu dan berhasil membuat Johnny gemas.
"Woah benarkah? Dery tunggu daddy sampai malam?" Tanya Johnny, sebenarnya ia sudah tahu dari Seohyun jika semalaman anaknya itu menunggunya pulang.
"Hum. Tapi Dery akhirnya ketiduran." Balas anak kecil itu.
"Ini untuk daddy, tapi maaf Dery tidak punya kado. Uang Dery tidak cukup, Dery juga tidak punya kartu hitam yang biasa daddy gesek." Ucap anak kecil itu, ia menyodorkan surat tulisannya yang telah Johnny baca semalam.
"It's okay. Dery sudah seperti kado untuk daddy." Ucap Johnny, ia memeluk erat anaknya yang dibalas tak kalah erat oleh Hendery.
"Dery sayang daddy." Ucap anak kecil itu, ia mengecup bibir sang ayah kemudian terkekeh gemas.
"Daddy lebih sayang Dery. Kajja kita turun ke bawah, Seo imo sudah siapkan makanan kesukaan Dery." Ucap Johnny, ia menggendong anaknya dan bersiap untuk sarapan.
Nyatanya apa yang Johnny katakan tentang Hendery beberapa menit lalu bukan bualan semata. Bocah kecil itu adalah kado terbaik yang Irene berikan dalam hidupnya. Bocah kecil yang selalu berhasil membuatnya tertawa dan melupakan semua kesedihan yang pernah terjadi dalam hidupnya beberapa tahun silam.
